This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Mengelola Rasa Kecewa dan Penyesalan

Mengelola Rasa Kecewa dan Penyesalan

Bayang-bayang kekecewaan, kegagalan, dan aneka pengalaman buruk pada masa lalu kerap merontokkan eksistensi dan kondisi kesehatan seorang manusia, fisik maupun mental. Alih-alih menyongsong masa depan yang lebih baik, dia malah terhanyut dengan beragam ketakutan yang tidak lagi beralasan. Bahkan, bayang-bayang masa lalu itu tidak jarang membuatnya merasa ketakutan menghadapi masa depan.

Bagaimana menyikapi hal semacam ini? Ada sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau yang Mahaawal, yang tidak ada sesautu pun sebelum Engkau.” (HR Muslim). “Sabbahâllillâhi mâ fissamâwâti wal ardh” ... maka bertasbihlah apa yang yang ada di langit dan juga di bumi karena Allah-lah Zat Yang Maha Menghidupkan, Mematikan, Berkuasa dan memiliki kendali penuh atas segala sesuatu, Dia pulalah Yang Maha Mengawali, Maha Mengakhiri, Yang Zahir, Yang Bathin, dan Maha Mengatahui segala yang ada.

Berdasarkan kenyataan ini, sebuah awal adalah sebuah pengingat yang semestinya menohok kesadaran kita sebagai manusia bahwa tidak ada satu pun di alam ini yang mampu mengubah apapun yang telah berlalu, kecuali Allah Ta’ala. Maka, kita pun semestinya merenungi keberadaan diri yang masih mendapat kesempatan, amanah, untuk menyambung hidup dan peluang untuk menginisiasi atau mengawali kebaikan dan mengonstruksi struktur kebahagiaan. Sebab, apapun yang telah berlalu hanya akan mampu untuk kita kenang, kita petik hikmahnya, bahkan lebih ironis lagi, kerap hanya kita sesali dan warnai dengan keluh kesah.

Terkait hal ini, saya ingin mengutip sebuah hasil penelitian dalam bidang neurosains yang sangat menarik. Tim peneliti dari University of Michigan yang dipimpin oleh Dr. Umemori melakukan suatu proses rekayasa genetika untuk mendeaktivasi 40 persen sel-sel neuron di hipokampus. Hipokampus adalah pusat pengolahan memori dan pembentukan persepsi. Manusia dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan jika hipokampusnya bekerja dengan baik. Proses deaktivasi yang dilakukan ternyata mendorong sejumlah sel mikroglia yang merupakan bagian dari sistem imunitas untuk memutuskan sinap-sinaps konektivitas yang berasal dari sel-sel yang tidak aktif itu.

Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa sel-sel yang aktif akan dipertahankan konektivitasnya melalui metode seleksi karena adanya persaingan dengan sel yang tidak aktif. Artinya, sekumpulan orang malas akan terlibas oleh orang-orang yang rajin dan suka bekerja keras.

Maka, mari kita bayangkan apabila kita kerap menyesali dan bersikap penuh keluh kesah terhadap apa yang telah kita lalui, kemudian kita senantiasa mencemaskan hal-hal yang belum terjadi, berapa banyak koneksi kebahagiaan kita yang tereliminasi?

Dengan demikian, ketika kita cemas terhadap masa depan serta terjebak dalam penyesalan pada masa lalu, hal tersebut menjadi cerminan dari sikap ragu dan tidak yakin akan keberadaan dan peran Zat yang bersifat Dzul Jalâli wal Ikrâm, mata air dan sumber kemuliaan. Allâhu shamad, hanya kepada-Mu ya Allah sesungguhnya tempat untuk bergantung. Keikhlasan total kepada Allah Ta’ala akan mengaktifkan area prefrontal corteks di otak manusia yang akan menumbuhkan visi berperspektif luas. Sebuah visi yang akan menghantarkan teraihnya mimpi untuk merengkuh bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Ketika kita terbenam dalam ketakutannya, setidaknya ada lima respons fisiologis yang berlangsung di dalam tubuh. Pertama, terjadi penurunan kadar hormon serotonin. Hormon serotonin ini apabila terdapat dalam jumlah yang memadai (tidak kurang dan juga tidak lebih) akan menghadirkan kedamaian, ketenangan, dan kelembutan perasaan. Kedua, terjadi penurunan kadar endorfin alias hormon kegembiraan dan kesenangan. Ketiga, terjadi penurunan kadar hormon oksitosin dan vasopresin alias hormon cinta. Keempat, terjadi peningkatan kadar hormon kortisol alias hormon kecemasan dan kegelisahan (hormon stres). Adapun yang kelima, terjadi peningkatan kadar hormon adrenalin dan hormon sejenisnya.

Dengan kondisi fisiologis seperti itu apa yang akan terjadi? Seseorang akan selalu merasa resah dan gelisah, sulit untuk merasa gembira, sulit untuk menyayangi orang lain dan berempati, selalu merasa tertekan, mudah sakit-sakitan, dan bersifat tergesa-gesa, bahkan melakukan perbuatan yang melampaui batas.

Pada akhirnya, kondisi itu akan bermuara pada sifat senang “berkeluh kesah” atau menyesali diri. Tandusnya rasa gembira di hati ini akan mendorong seseorang untuk memperoleh kegembiraan dan kebahagiaan yang bersifat artifisial, sementara, dan hanya memperturuti hawa nafsu belaka. Biasanya seseorang akan menjadikan materi dan kenikmatan duniawi lainnya seperti makanan enak, pakaian bagus, hotel mewah, tempat berlibur spesial, dan “dugem” sebagai “obat” yang mereka anggap mampu menawarkan racun kesedihan dan kesepian. Dalam kondisi seperti itu social quotient juga akan melorot tajam. Mengapa? Karena ketidakbahagiaan akan memfokuskan seseorang untuk sekadar berpikir dan mengerahkan segala daya dan upayanya hanya bagi kepentingannya semata. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya kadar hormon cinta yang menjamin kelangsungan semangat kebersamaan (relationship) dan kepedulian terhadap sesama.

Pada sisi lain, sistem pertahanan tubuhnya (imunitas) akan menurun dengan drastis. Dia pun akan mudah sakit dan dalam jangka panjang akan lebih rentan terhadap penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner. Selain penyakit jantung, kanker juga akan mengancam yang bersangkutan. Mengapa? Karena kanker dapat terjadi akibat adanya kegagalan sistem pertahanan tubuh dalam mengendalikan faktor pemicu tumbuhnya sel ganas. Faktor-faktor itu antara lain virus, bahan polutan, dan juga berbagai hormon yang kadarnya tidak seimbang.

Hal lain yang juga perlu dicermati adalah terjadinya peningkatan adrenalin atau hormon yang tergolong ke dalam jalur simpatomimetik alias menstimulasi sistem saraf simpatis. Pada kondisi takut dan cemas naiknya kadar adrenalin dimaksudkan sebagai respons untuk mempertahankan tubuh. Dengan demikian orang akan menjadi lebih agresif dan lebih mengedepankan pendekatan yang bersifat fisik (motorik).

Ciri dari dominannya adrenalin di sistem pengambilan keputusan adalah sifat keputusannya yang acapkali diambil secara tergesa-gesa, kurang perhitungan, dan pendekatannya bersifat egosentrik alias mengedepankan kepentingan diri sendiri. Maka, kita jangan heran apabila seseorang yang terbenam di dalam rasa takut dan cemasnya sendiri seringkali mengalami sindroma “menyelesaikan masalah dengan masalah”. Masalah yang sedang dihadapi diselesaikan dengan cara tercepat, tidak sesuai dengan batas kemampuan, dan mau menangnya sendiri. Akibatnya cara penyelesaian masalah seperti itu justru akan menjadi masalah tersendiri (masalah baru).

Mari, kita lihat berbagai berita di infotainment; seorang artis bermasalah dengan bisnisnya kemudian “ribut” dengan istrinya (gagal berkomunikasi karena kehilangan kemampuan berempati), bercerai, dan akhirnya sibuk bertengkar untuk memperebutkan hak asuh anak. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa seorang yang tegang karena cemas dan takut, adrenalinnya tidak semata mendorongnya menjadi bersifat agresif, melainkan juga menempatkan dirinya senantiasa berada dalam kondisi “alert” atau waspada.

Akibatnya segenap ototnya akan terus menerus berada dalam keadaan siaga alias siap berkontraksi kapan saja, jantungnya terus berdetak kencang, dan yang paling parah adalah semua inderanya menjadi sangat peka. Dia menjadi sulit tidur (insomnia), tidak tahan mendengar suara-suara di sekitarnya, sulit menikmati rasa makanannya, dan peka terhadap perubahan suhu di lingkungan yang sedang ditempatinya. Sungguh, inilah hidup yang tidak nyaman. Perlu diingat pula bahwa semua ini biasanya diawali oleh sebuah “rasa bersalah”. Rasa bersalahlah yang kemudian menumbuhkan ketakutan dan kecemasan.

Dengan melihat efek buruk yang ditumbulkan dari ketakutan tersebut, tidak ada cara lain yang dapat kita tempuh selain ”menghadapi ketakutan tersebut, terus menerus dan dengan tekun sampai kita menjadi terlatih”.

Berikut ini ada beberapa tips tentang bagaimana mengolah rasa takut menjadi energi yang memberdayakan.

  • Berlatihlah untuk mengelola ketakutan dengan melakukan “tantangan-tantangan” yang bersifat ekstrem (extreme challenge). Apa sajakah yang termasuk ke dalam extreme challenge? Dalam konteks pribadi, extreme challenge ini dapat berupa melakukan aktivitas traveling yang tidak biasa, menekuni ilmu baru, bergaul dengan lingkungan atau orang-orang baru, melakukan inovasi dalam melakukan amal kebaikan yang manfaatnya bisa dirasakan banyak orang, dan sebagainya.
  • Berlatihlah untuk mengukur kemampuan dalam proses “risk taking” (mengambil risiko). Keberanian mengambil risiko dapat mencerminkan suatu kemampuan analitik dan kepekaan kesadaran yang menempatkan diri kita untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil yang optimal memiliki indikator berupa keseimbangan antara upaya (effort) dengan dampak yang ditimbulkannnya. Tentunya dampak yang sesuai dengan yang diharapkan.
  • Kedua kegiatan di atas hendaklah mengedepankan manajemen kendali berbasis intelektualitas (kognisi), emosi, lingkungan, dan variabel sosial. Dengan demikian, setiap aktivitas “games” yang kita lakukan manfaatnya tidak terlepas dari impact yang diterima oleh keempat faktor tersebut.
  • Syarat terpenting yang harus menjadi aturan main utama extreme challenge games ini adalah: jangan melampaui batas.

  • Refererensi : Mengelola Rasa Kecewa dan Penyesalan


Penyesalan Selalu Datang Terlambat. Benarkah?

Kalimat yang sudah tidak asing lagi didengar. Terutama oleh anak-anak muda yang dinasihati orang tuanya ketika mereka merasakan akibat kenakalan mereka. Penyesalan selalu datang terlambat. Begitu nasihat orang tua atau sahabat kita. Yang jadi pertanyaannya adalah benarkah, selalu terlambat?

Penyesalan adalah suatu perasaan yang muncul setelah kita membuat keputusan. Penyesalan cenderung bernuansa negatif. Artinya yang tidak kita harapkan. Misalnya, Aku menyesal telah mengikuti sarannya. Hal ini menunjukkan bahwa aku sudah mengambil keputusan untuk ikut sarannya dan sudah terjadi. Apa mungkin penyesalan terjadi sebelum ikut sarannya? Kalau terjadi itu namanya bukan penyesalan. Jadi, penyesalan pertama-tama merujuk pada sesuatu (akibat) yang kita alami sesudah kejadian atau keputusan.

Kata terlambat selalu mengandaikan adanya yang tepat waktu. Hari ini aku bisa saja terlambat, tetapi mulai besok aku akan tepat waktu. Artinya, selalu terbuka kemungkinan untuk adanya perbaikan. Terlambat - tepat waktu. Soal aku selalu terlambat atau tepat waktu tidak menjadi masalah lagi. Yang penting bisa terjadi perubahan.

Saya tidak begitu setuju bila dikatakan penyesalan selalu datang terlambat. Malahan sebaliknya. Penyesalan itu selalu datang tepat waktu. Ia datang saat aku tidak naik kelas dan aku menyadari bahwa aku selama ini tidak belajar sungguh-sungguh. Ia datang saat aku menyadari aku terlampau gemuk karena selama ini aku makan tidak teratur. Ia datang saat aku melihat bahwa banyak orang miskindan aku baru sadar bahwa uang yang kudapat adalah uang mereka.

sudah saatnya kita sadar bahwa tidak ada penyesalan yang datang terlambat. Ia selalu on time, karena memang itulah kodrat penyesalan. Mustahil aku menyesal sebelum aku korupsi. Mustahil aku menyesal sebelum aku belajar. Penyesalan itu sesuatu yang selalu disiplin, apapun situasi dan kondisinya.

Referensi : Penyesalan Selalu Datang Terlambat. Benarkah?



Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat, Maka Bijaklah dalam Mengambil Keputusan

Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat, Maka Bijaklah dalam Mengambil Keputusan. Terburu-buru dalam mengambil keputusan memang bisa menimbulkan kegalauan. Merasa tepat atau tidak dan apakah akan menimbulkan penyesalan diakhirnya. Sulit memang dilakukan, tapi kalau tidak dicoba tentu belum tahu bagaimana hasilnya.  Semua pasti pernah mengalami penyesalan dalam hal apapun. Kadang ingin memperbaiki untuk ke depannya, namun tidak jarang malah kembali jatuh di lubang yang sama. Jika sudah demikian, tentu hanya bisa mengerutu dan mengumpat. Bahkan memaki karena merasa hidup tidak adil. Padahal semua bisa saja diperbaiki asal tahu hal mana yang perlu diubah.  Contoh nyata saja adalah merasa bosan bekerja di tempat yang saat ini, mengharapkan perubahan dan kenaikan gaji, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Namun, mencari pekerjaan bukanlah hal gampang. Lowongan pekerjan memang banyak, tapi layaknya jodoh jadi cocok-cocokan. Kita cocok bekerja di tempat itu, gaji yang diberikan belum tentu cocok dengan kita. Calon atasan cocok dengan kita, bisa saja kita tidak cocok dengan pekerjaan yang harus di lakukan. Maka, hanya bisa menyesal mengapa diri ini tidak mudah untuk memperoleh hal yang diingikan. Lalu apa yang perlu di lakukan?  Semua orang punya porsinya masing-masing dalam kehidupan ini. Jika memang belum menemukan yang cocok, maka coba lah kenali diri kalian sendiri. Setiap langkah yang diambil untuk mengambil keputusan, pastikan bahwa itu sudah sesuai dengan diri kalian sendiri. Mungkin awalnya akan merasa tidak nyaman. Hal itu sangat wajar sebab itu perubahan yang terjadi. Belajar untuk berdamai dengannya dan mau menjalani sewajarnya. Tidak perlu merasa harus bisa ini dan itu dalam waktu cepat. Misalnya, mengambil keputusan dalam tempo singkat. Perlahan dan berusaha untuk pelan tapi pasti. Bukan terburu-buru dan malah menyesatkan.  Mengantisipasi penyesalan yang mungkin saja timbul, berusahalah untuk bisa mengenali kondisi yang sedang di alami. Ambil waktu singkat dan mulailah berpikir. Keluar dari segala sesuatu yang membuat kamu menjadi terkurung di dalam kotak. Sebab di luar kotak masih ada hal lain yang bisa membantu. Tidak ada salahnya juga untuk meminta bantuan ke orang lain. Siapa tahu hasil akhir menjadi indah dan di luar dugaan.  ika memang sudah terlanjur terjadi kesalahan, maka ikhlaskanlah dan terimalah sebagai bagian dari perjalanan yang memang harus dilakukan. Mungkin belum saatnya, namun akan tiba masanya. Semua tidak bisa berjalan spontan dan cepat. Tentu ada langkah yang diambil dan diterapkan. Penyesalan bukanlah akhir dari hidup, namun hanya sebagian kecil tim unik yang membuat hidup menjadi berbeda.  Referensi : Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat, Maka Bijaklah dalam Mengambil Keputusan

Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat, Maka Bijaklah dalam Mengambil Keputusan. Terburu-buru dalam mengambil keputusan memang bisa menimbulkan kegalauan. Merasa tepat atau tidak dan apakah akan menimbulkan penyesalan diakhirnya. Sulit memang dilakukan, tapi kalau tidak dicoba tentu belum tahu bagaimana hasilnya.


Semua pasti pernah mengalami penyesalan dalam hal apapun. Kadang ingin memperbaiki untuk ke depannya, namun tidak jarang malah kembali jatuh di lubang yang sama. Jika sudah demikian, tentu hanya bisa mengerutu dan mengumpat. Bahkan memaki karena merasa hidup tidak adil. Padahal semua bisa saja diperbaiki asal tahu hal mana yang perlu diubah.


Contoh nyata saja adalah merasa bosan bekerja di tempat yang saat ini, mengharapkan perubahan dan kenaikan gaji, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Namun, mencari pekerjaan bukanlah hal gampang. Lowongan pekerjan memang banyak, tapi layaknya jodoh jadi cocok-cocokan. Kita cocok bekerja di tempat itu, gaji yang diberikan belum tentu cocok dengan kita. Calon atasan cocok dengan kita, bisa saja kita tidak cocok dengan pekerjaan yang harus di lakukan. Maka, hanya bisa menyesal mengapa diri ini tidak mudah untuk memperoleh hal yang diingikan. Lalu apa yang perlu di lakukan?


Semua orang punya porsinya masing-masing dalam kehidupan ini. Jika memang belum menemukan yang cocok, maka coba lah kenali diri kalian sendiri. Setiap langkah yang diambil untuk mengambil keputusan, pastikan bahwa itu sudah sesuai dengan diri kalian sendiri. Mungkin awalnya akan merasa tidak nyaman. Hal itu sangat wajar sebab itu perubahan yang terjadi. Belajar untuk berdamai dengannya dan mau menjalani sewajarnya. Tidak perlu merasa harus bisa ini dan itu dalam waktu cepat. Misalnya, mengambil keputusan dalam tempo singkat. Perlahan dan berusaha untuk pelan tapi pasti. Bukan terburu-buru dan malah menyesatkan.


Mengantisipasi penyesalan yang mungkin saja timbul, berusahalah untuk bisa mengenali kondisi yang sedang di alami. Ambil waktu singkat dan mulailah berpikir. Keluar dari segala sesuatu yang membuat kamu menjadi terkurung di dalam kotak. Sebab di luar kotak masih ada hal lain yang bisa membantu. Tidak ada salahnya juga untuk meminta bantuan ke orang lain. Siapa tahu hasil akhir menjadi indah dan di luar dugaan.


ika memang sudah terlanjur terjadi kesalahan, maka ikhlaskanlah dan terimalah sebagai bagian dari perjalanan yang memang harus dilakukan. Mungkin belum saatnya, namun akan tiba masanya. Semua tidak bisa berjalan spontan dan cepat. Tentu ada langkah yang diambil dan diterapkan. Penyesalan bukanlah akhir dari hidup, namun hanya sebagian kecil tim unik yang membuat hidup menjadi berbeda.


Referensi : Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat, Maka Bijaklah dalam Mengambil Keputusan