This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 24 Agustus 2022

Tiga Macam Kezaliman yang Dilarang Allah SWT

Tiga Macam Kezaliman yang Dilarang Allah SWT

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنْ  مَّنَعَ  مَسٰجِدَ  اللّٰهِ  اَنْ  يُّذْكَرَ  فِيْهَا  اسْمُهٗ  وَسَعٰـى  فِيْ  خَرَا بِهَا   ۗ اُولٰٓئِكَ  مَا  كَا نَ  لَهُمْ  اَنْ  يَّدْخُلُوْهَاۤ  اِلَّا  خَآئِفِيْنَ   ۗ لَهُمْ  فِى  الدُّنْيَا  خِزْ يٌ  وَّلَهُمْ  فِى  الْاٰ خِرَةِ  عَذَا بٌ  عَظِيْمٌ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 114).

“melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya” mudah mudahan ini hanya kebetulan dengan adanya viral gangguan dengan suara adzan.

Secara bahasa, zalim memiliki arti kejam, tidak adil, dan berbuat sewenang-wenang.

Allah SWT akan memberi azab bagi orang yang zalim.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya surat Al-Furqan ayat ke-19: وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيرًا “Barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar.”

Kendati demikian, seperti apa bentuk kezaliman yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya? Berikut tiga macam kezaliman yang dilarang Allah SWT:

1. Kezaliman hamba kepada Rabb-nya

Kezaliman manusia kepada Penciptanya adalah dengan kufur kepada Allah, seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 254: وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.”

Ayat lain dalam Alquran juga menyebut kezaliman seorang mahluk juga ditandai dengan berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan zat lain. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 13: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

2. Zalim terhadap diri sendiri

Kezaliman seorang hamba adalah dengan mengotori dirinya dengan berbagai bentuk dosa, pelanggaran dan keburukan berupa kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 57 yang artinya: وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ “Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

3. Kezaliman kepada sesama manusia

Menzalimi atau berbuat aniaya kepada sesama manusia juga merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Perbuatan seperti menyinggung kehormatan orang lain, menyakiti tubuh atau hati orang lain hingga mengambil harta orang tanpa alasan yang benar adalah perilaku yang dimurkai Allah.

Allah menyebut akan mengambil amalan orang yang berbuat zalim dan diberikan kepada orang yang dizalimi. Bahkan akan menimpakan dosa orang yang dizalimi kepada orang yang menzalimi. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ كَانتْ عِنْدَه مَظْلمَةٌ لأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيتَحَلَّلْه ِمِنْه الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمتِهِ، وإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سيِّئَاتِ صاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yang lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. Jika ia punya amal salih, maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia zalimi itu dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari).

Zalim terhadap sesama, termasuk zalimnya penguasa/pemimpin

Rasulullah SAW pernah bersabda :

”ada dua golongan manusia dari kalangan ummatku yang tidak akan pernah mendapatkan syafaatku, yakni penguasa yang zalim yang menipu (rakyatnya) dan terlebih-lebih dalam agama.”.

Rasul pun bersabda:

“manusia yang akan mendapatkan azab yang paling keras pada hari kiamat adalah penguasa yang zalim.”

(Adz-Dzahabi, Al-Kabair, I/25).

Lalu bagaimanakah sikap yang harus kita ambil sebagai ummat Islam ? jelas kita tidak boleh membiarkan para penguasa zalim seperti ini. Jika kita membiarkan mereka maka kitapun akan diancam Oleh Rasul SAW sebagaimana sabdanya :


“akan ada penguasa yang fasik dan zalim, siapa saja yang membiarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, dia bukanlah termasuk golonganku dan akupun bukan termasuk golongan dia.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang orang zalim.

يٰۤـاَيُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  لَا  تَتَّخِذُوا  الْيَهُوْدَ  وَا لنَّصٰرٰۤى  اَوْلِيَآءَ  ۘ بَعْضُهُمْ  اَوْلِيَآءُ  بَعْضٍ   ۗ وَمَنْ  يَّتَوَلَّهُمْ  مِّنْكُمْ  فَاِ نَّهٗ  مِنْهُمْ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  لَا  يَهْدِى  الْقَوْمَ  الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 51)

Doa supya diselamatkan dari orang orang dzalim ;

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Rabbi najjini minal qaumidhalimin. “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim.” (QS al-Qashash: 21)

Referensi : Tiga Macam Kezaliman yang Dilarang Allah SWT




Nasip Tragis Orang-orang Zalim

Nasip Tragis Orang-orang Zalim


Zalim dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung makna kejam, tidak adil, aniaya, sewenang-wenang, bengis dan penindasan. Perbuatan tercela ini bisa muncul dari individu dan lebih banyak oleh kelompok dan penguasa. Sebab, kezaliman hanya akan ada ketika ada kekuatan. Dan kekuatan itu biasanya ada saat berkelompok atau berkuasa.

Sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa memang kekuasaan cenderung berlaku zalim, arogan dan sewenang-wenang. Raja dan penguasa di berbagai belahan dunia, sangat identik dengan penindasan, kekejaman dan pembantaian. Raja Nambrut, Fir’aun, Abrahah, Kaisar Wu Zetian dari Tiongkok, Raja Jhon Lackland dari Inggris, Ghenghis Khan dari Mongol, Adolf Hitler dari Jerman, Benito Mussolini dari Italia, dan lain-lain yang mereka bergelimang darah dan berhutang nyawa ribuan sampai ratusan ribu anak manusia.

Perbuatan zalim adalah perbuatan yang haram secara syariat. Pelakunya berdosa besar dan terkutuk disisi Allah SWT. Perbuatan ini tidak saja Allah haramkan kepada makhlukNya. Melainkan juga Dia haramkan terhadap diriNya sendiri. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا.

Artinya: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR Muslim).

Karena itu, para pelaku kezaliman akan mendapatkan hukuman (balasan) yang berat di dunia apalagi di akhirat. Diantara bentuk hukuman Allah bagi mereka adalah:

Pertama, orang-orang zalim tidak akan pernah menang di dunia maupun di akhirat. Walaupun lahirnya kelihatan menang, namun batinnya mereka tidak dalam ketenangan. Walaupun kesannya sangat hebat dan digdaya, namun jiwa mereka rapuh, hatinya digerogoti penyakit. Allah berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ.

Artinya: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya (zalim) itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS Al An’am: 21).

Kedua, orang-orang zalim tidak akan mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah. Maka hidupnya akan bergelimang dosa dan tenggelam dalam kesesatan. Hatinya tidak mendapatkan cahaya sehingga menjadi hitam pekat. Kalaupun ia berusaha untuk berbuat baik atau beribadah, maka itu semua hanyalah kepura-puraan dan lipstik belaka. Allah SWT telah menegaskan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS Ash Shaf: 7).

Ketiga, Allah menimpakan berbagai musibah kepada kaum yang zalim. Musibah itu bisa berupa kemiskinan, kekurangan harta, kehilangan anak dan keluarga, penyakit dan lain sebagainya. Bahkan musibah ini juga bisa menimpa orang-orang baik yang mendiamkan kezaliman tersebut. Allah berfirman:

فَكَاَيِّنۡ مِّنۡ قَرۡيَةٍ اَهۡلَكۡنٰهَا وَهِىَ ظَالِمَةٌ فَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَبِئۡرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصۡرٍ مَّشِيۡدٍ‏.

Artinya: “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).” (QS Al Hajj: 45).

Keempat, mereka akan terkutuk dan terlaknat di dunia dan akhirat. Maksudnya adalah mereka dijauhkan Allah dari rahmat dan kasih sayangNya. Dan di akhirat kelak mereka sama sekali tidak akan punya penolong dan tidak akan mendapatkan syafaat. Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

Artinya: “yaitu dihari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.” (QS. Al Ghaafir: 52).

Allah SWT juga berfirman:

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْءَازِفَةِ إِذِ ٱلْقُلُوبُ لَدَى ٱلْحَنَاجِرِ كَٰظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ حَمِيمٍۢ وَلَا شَفِيعٍۢ يُطَاعُ.

Artinya: “Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolongpun yang diterima (pertolongannya).” (QS. Al Ghaafir: 18).

Kelima, diakhirat kelak orang-orang zalim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya penyesalan dan kekecewaan. Namun apalah gunanya penyesalan disana, karena itu tidak akan menyelamatkan mereka sama sekali. Di hadapan mereka telah menanti adzab yang pedih dan siksaan yang dahsyat yang tidak tertahankan. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِى ٱلْأَرْضِ لَٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Dan kalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS Yunus: 54).

Allah juga berfirman:

فَٱلْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍۢ نَّفْعًۭا وَلَا ضَرًّۭا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّتِى كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ.

Artinya: “Maka pada hari ini sebagian kamu tidak kuasa (mendatangkan) manfaat maupun (menolak) mudarat kepada se-bagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulu kamu dustakan.” (QS. Saba’: 42).

Betapa tragisnya nasib orang-orang yang zalim di dunia dan di akhirat kelak. Mereka sama sekali tak akan lolos dari hukuman Allah. Bisa jadi mereka itu diulur-ulur oleh Allah untuk kebinasaan yang hina. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ثُمَّ قَرَأَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}.

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Tapi apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: “Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.” (HR Muslim).

Sebaliknya orang-orang yang dizalimi (dianiya) akan mendapatkan perlakuan khusus oleh Allah SWT, yaitu doa-doanya tidak terhalang sama sekali kepada Allah. Termasuk kalau yang dizalimi itu orang Kafir, tetap mendapat perlakuan khusus tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

Artinya: “Hati-hatilah dari doa orang yang terzalimi, meskipun dia kafir. Karena tidak ada hijab (penghalang kepada Allah).” (HR Ahmad).

Begitulah nasib mereka yang buruk dan hina. Rata-rata mereka mati dalam keadaan mengenaskan dan suul khatimah. Namun seringkali manusia tidak mengambil pelajaran.Zalim dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung makna kejam, tidak adil, aniaya, sewenang-wenang, bengis dan penindasan. Perbuatan tercela ini bisa muncul dari individu dan lebih banyak oleh kelompok dan penguasa. Sebab, kezaliman hanya akan ada ketika ada kekuatan. Dan kekuatan itu biasanya ada saat berkelompok atau berkuasa.

Sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa memang kekuasaan cenderung berlaku zalim, arogan dan sewenang-wenang. Raja dan penguasa di berbagai belahan dunia, sangat identik dengan penindasan, kekejaman dan pembantaian. Raja Nambrut, Fir’aun, Abrahah, Kaisar Wu Zetian dari Tiongkok, Raja Jhon Lackland dari Inggris, Ghenghis Khan dari Mongol, Adolf Hitler dari Jerman, Benito Mussolini dari Italia, dan lain-lain yang mereka bergelimang darah dan berhutang nyawa ribuan sampai ratusan ribu anak manusia.

Perbuatan zalim adalah perbuatan yang haram secara syariat. Pelakunya berdosa besar dan terkutuk disisi Allah SWT. Perbuatan ini tidak saja Allah haramkan kepada makhlukNya. Melainkan juga Dia haramkan terhadap diriNya sendiri. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا.

Artinya: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR Muslim).

Karena itu, para pelaku kezaliman akan mendapatkan hukuman (balasan) yang berat di dunia apalagi di akhirat. Diantara bentuk hukuman Allah bagi mereka adalah:

Pertama, orang-orang zalim tidak akan pernah menang di dunia maupun di akhirat. Walaupun lahirnya kelihatan menang, namun batinnya mereka tidak dalam ketenangan. Walaupun kesannya sangat hebat dan digdaya, namun jiwa mereka rapuh, hatinya digerogoti penyakit. Allah berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ.

Artinya: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya (zalim) itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS Al An’am: 21).

Kedua, orang-orang zalim tidak akan mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah. Maka hidupnya akan bergelimang dosa dan tenggelam dalam kesesatan. Hatinya tidak mendapatkan cahaya sehingga menjadi hitam pekat. Kalaupun ia berusaha untuk berbuat baik atau beribadah, maka itu semua hanyalah kepura-puraan dan lipstik belaka. Allah SWT telah menegaskan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS Ash Shaf: 7).

Ketiga, Allah menimpakan berbagai musibah kepada kaum yang zalim. Musibah itu bisa berupa kemiskinan, kekurangan harta, kehilangan anak dan keluarga, penyakit dan lain sebagainya. Bahkan musibah ini juga bisa menimpa orang-orang baik yang mendiamkan kezaliman tersebut. Allah berfirman:

فَكَاَيِّنۡ مِّنۡ قَرۡيَةٍ اَهۡلَكۡنٰهَا وَهِىَ ظَالِمَةٌ فَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَبِئۡرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصۡرٍ مَّشِيۡدٍ‏.

Artinya: “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).” (QS Al Hajj: 45).

Keempat, mereka akan terkutuk dan terlaknat di dunia dan akhirat. Maksudnya adalah mereka dijauhkan Allah dari rahmat dan kasih sayangNya. Dan di akhirat kelak mereka sama sekali tidak akan punya penolong dan tidak akan mendapatkan syafaat. Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

Artinya: “yaitu dihari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.” (QS. Al Ghaafir: 52).

Allah SWT juga berfirman:

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْءَازِفَةِ إِذِ ٱلْقُلُوبُ لَدَى ٱلْحَنَاجِرِ كَٰظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ حَمِيمٍۢ وَلَا شَفِيعٍۢ يُطَاعُ.

Artinya: “Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolongpun yang diterima (pertolongannya).” (QS. Al Ghaafir: 18).

Kelima, diakhirat kelak orang-orang zalim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya penyesalan dan kekecewaan. Namun apalah gunanya penyesalan disana, karena itu tidak akan menyelamatkan mereka sama sekali. Di hadapan mereka telah menanti adzab yang pedih dan siksaan yang dahsyat yang tidak tertahankan. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِى ٱلْأَرْضِ لَٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Dan kalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS Yunus: 54).

Allah juga berfirman:

فَٱلْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍۢ نَّفْعًۭا وَلَا ضَرًّۭا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّتِى كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ.

Artinya: “Maka pada hari ini sebagian kamu tidak kuasa (mendatangkan) manfaat maupun (menolak) mudarat kepada se-bagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulu kamu dustakan.” (QS. Saba’: 42).

Betapa tragisnya nasib orang-orang yang zalim di dunia dan di akhirat kelak. Mereka sama sekali tak akan lolos dari hukuman Allah. Bisa jadi mereka itu diulur-ulur oleh Allah untuk kebinasaan yang hina. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ثُمَّ قَرَأَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}.

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Tapi apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: “Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.” (HR Muslim).

Sebaliknya orang-orang yang dizalimi (dianiya) akan mendapatkan perlakuan khusus oleh Allah SWT, yaitu doa-doanya tidak terhalang sama sekali kepada Allah. Termasuk kalau yang dizalimi itu orang Kafir, tetap mendapat perlakuan khusus tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

Artinya: “Hati-hatilah dari doa orang yang terzalimi, meskipun dia kafir. Karena tidak ada hijab (penghalang kepada Allah).” (HR Ahmad).

Begitulah nasib mereka yang buruk dan hina. Rata-rata mereka mati dalam keadaan mengenaskan dan suul khatimah. Namun seringkali manusia tidak mengambil pelajaran.

Referensi : Nasip Tragis Orang-orang Zalim


Kesengsaraan Orang-orang yang Zalim

Kesengsaraan Orang-orang yang Zalim. Orang yang zalim itu hidupnya jauh dari keberkahan dan sebaliknya dekat dengan kesengsaraan bahkan kebinasaan

Abuya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah menyampaikan sebuah kisah tentang seorang raja yang zalim dalam memerintah. Satu hari si raja kena batunya. Ia jatuh sakit yang membuatnya tidak bisa buang air besar. Para dokter dan tabib istana dikerahkan untuk mengobati dan menyembuhkan sakitnya. Tapi tak kunjung menuai hasil.

Alhasil, dibuatlah sayembara berhadiah sangat wah bagi siapa saja yang sanggup menyembuhkan raja. Datanglah seorang tabib yang alim memenuhi undangan sayembara. Ia mengklaim bisa mengobati penyakitnya, dengan izin Allah, asal raja mau memenuhi syaratnya. Raja bertanya, “Apa syarat yang kamu ajukan?” Tabib menjawab, “Jika saya berhasil mengobati dan menyembuhkan raja, maka berikan separo kekuasaan kepada saya.”

Permintaan si tabib ditolak mentah-mentah. Sayembara terus berlanjut tapi tidak juga memberi kabar gembira bagi raja dan seisi istana. Justeru sakit raja semakin parah. Sudah sekian lama raja tidak bisa buang air besar. Tentu keadaan ini teramat menyiksa.

Terpaksa, tabib alim tadi diminta datang kembali ke istana. Raja menyetujui syaratnya. Namun, tabib malah meminta syarat yang lebih berat. Dia minta semua kekuasaannya diberikan kepadanya. Karena tidak ada jalan lain, dengan berat hati raja mau memenuhi permintaannya.

Singkat kisah, atas izin Allah raja dapat sembuh seperti sedia kala. Kotoran dalam perutnya keluar, tentu dengan bau yang sangat menyengat karena sudah sekian lama tidak buang air besar. Akhirnya raja memenuhi janjinya tapi ternyata ditolak oleh tabib. Sebagai gantinya tabib hanya meminta kepada raja agar tidak melakukan kezaliman kepada siapa saja. Kata tabib, “Lihatlah, nilai kekuasaan dan hartamu hanya senilai kotoran yang keluar dari perutmu.”

Kisah di atas mengandung pelajaran yang begitu berharga dan patut kita jadikan renungan untuk setiap manusia yang beriman. Kezaliman seseorang akan berbuntut panjang. Bisa saja orang yang zalim tampak menikmati kehidupannya, masih bisa tertawa terbahak-bahak. Tapi pada satu titik kezaliman yang ia lakukan akan berbalik menjadi hantaman kuat yang menghancurkannya, kalau tidak di dunia maka pasti di akhirat kelak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) zalim berarti bengis, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, kejam. Orang zalim adalah orang yang melakukan perbuatan aniaya terhadap orang lain atau dirinya sendiri.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Berikut ini adalah bentuk-bentuk sanksi yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melakukan penganiayaan (kezaliman). Pertama, orang yang zalim itu tak akan mendapatkan pertolongan di akhirat dari siapa saja, bahkan dari orang-orang yang saat di dunia tampak menjadi teman yang setia. Allah ﷻ berfirman :

مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zalim itu tidak mempunyai sahabat setia dan penolong yang dipatuhi.” (QS. Al-Mu’min: 18)

وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

“Orang-orang yang menganiaya itu tidak mempunyai penolong.” (QS. Al-Hajj: 71)

Kedua, perbuatan zalim menyebabkan kegelapan di hari akhir. Di saat umat manusia membutuhkan naungan dari terik panasnya matahari yang jaraknya sangat dekat, pelaku kezaliman dipastikan tidak akan mendapatkan fasilitas naungan sama sekali.

Mereka menjalani masa-masa kehidupan di hari kemudian itu dalam keadaan payah dan lelah sebab jalan yang mereka lalui gelap gulita, menjadi tanda kesengsaraan yang menyiksa.

Rasulullah ﷺ :

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah kaliam -hindarkanlah dirimu semua- dari perbuatan zalim, sebab kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Ketiga, orang yang zalim itu hidupnya jauh dari keberkahan dan sebaliknya dekat dengan kesengsaraan bahkan kebinasaan. Sekali lagi, orang zalim dijauhkan dari kenikmatan dan rahmat Allah ﷻ.

Oleh karena itu, mari kita merenung sejenak, apa bisa kita mencari berkah dari rezeki yang Allah ﷻ berikan, jika tindak-tanduk kita sarat dengan kezaliman?  Padahal Allah SWT berfirman :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

“(yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.” (QS. Al-Mu’min : 52)

Dan mari kita kembali bertanya kepada diri kita, apa mungkin kita merasakan ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan sehari-hari, jika ada harta milik orang lain yang kita rampas, sekalipun berupa setangkai kayu? Mustahil hal tersebut bisa terwujud. Rasul ﷺ bersabda :

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ الأرْضِ طُوِّقَهُ منْ سَبْعِ أَرَضِينَ

“Barang siapa menganiaya dengan mengambil sejengkal tanah, tanpa izin pemiliknya, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis bumi sebagai siksanya pada hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari-Muslim).

Jemaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Inilah sejumlah keterangan tentang azab bagi pelaku kezaliman. Maka hendaknya kita waspada dan ekstra hati-hati dari perbuatan semacam ini. Jangan sampai diri kita menjadi pelaku kezaliman yang berakibat fatal baik di dunia mau pun di akhirat.

Referensi : Kesengsaraan Orang-orang yang Zalim





5 Dampak Menjadi Perantara Perbuatan Zalim, Jangan Sampai Terjadi Pada Kamu

5 Dampak Menjadi Perantara Perbuatan Zalim, Jangan Sampai Terjadi Pada Kamu

5 Dampak Menjadi Perantara Perbuatan Zalim, Jangan Sampai Terjadi Pada Anda. Sengaja atau tidak, entah dengan niat bercanda atau tidak, pernah menjadi perantara dalam menzalimi orang lain. Perlu kita ketahui, perbuatan zalim merupakan salah satu perbuatan yang akan merugikan diri kita sendiri. Meskipun bukan kita yang mengerjakan perbuatan zalim tersebut, namun jika kita ikutl menjadi perantara perbuatan zalim, maka kita pun juga akan merasakan balasan dari Allah. Orang-orang yang membantu perbuatan zalim, dosanya sama besar dengan orang yang berbuat zalim itu sendiri.

Dalam QS. Al-Maidah : 45, Allah SWT sudah berfirman; “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”  

Oleh karenanya, jangan libatkan diri kita menjadi perantara perbuatan zalim dari seseorang, sekalipun itu hanya melalui perkataan.Akan tetapi dari perkataan itulah, yang menggerakkan seseorang untuk berbuat zalim.

Al-Quran dan hadits telah memperingatkan kita tentang dampak berbuat zalim, diantaranya adalah:

1. Mendapatkan Azab yang Besar

Berbuat zalim bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan azab yang besar dari Allah. Hal ini telah Allah jelaskan dalam QS. Al-Furqan : 19 ; “Dan barangsiapa diantara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.”

2. Dijauhkan Dari Nikmat

Perbuatan zalim kepada Allah dan orang lain, bisa menjadikan pelakunya jauh dari kenikmatan dan rahmat Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Hal ini Allah tegaskan dalam firmanNya yang tertuang dalam QS. Ghafir : 52 ; “(Yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim, dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.”

3. Sulit Terkabulnya Doa

Apabila kita pernah menzalimi orang lain, dan yang kita zalimi mengadu kepada Allah, maka doanya akan langsung dikabulkan oleh Allah, sekalipun doa keburukan.

Rasulullah SAW pernah bersabda; “Dan berhati-hatilah terhadap doa orang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh sebab itu, hendaklah kita menjauhi perbuatan zalim ini, sekalipun kita hanya menjadi perantaranya.

4. Bangkrut di Hari Kiamat

Orang yang terus berbuat zalim ataupun orang yang menjadi perantara kezaliman, maka di hari kiamat kelak orang tersebut akan mengalami kebangkrutas amal yang dikerjakannya semasa di dunia.

Hal ini sebagaimana sabda dari Rasulullah SAW, yakni : “Barangsiapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia), sebelum datang hari, yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham.” (HR. Bukhari)

5. Mendatangkan Azab Allah

Seseorang yang berbuat zalim atau menjadi perantara orang lain berbuat zalim, maka insya Allah, Allah akan mendatangkan bencana dan malapetaka bagi orang tersebut.

Hal ini Allah tegaskan dalam firmanNya yang tertuang dalam QS. Al-Hajj :

“Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, karena (penduduk) nya dalam keadaan zalim sehingga runtuh bangunan-bangunannya. Dan betapa banyak pula sumur yang telah ditinggalkan, dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).”

Referensi : 5 Dampak Menjadi Perantara Perbuatan Zalim, Jangan Sampai Terjadi Pada Kamu

Azab Allah Swt Akan Datang Bagi Orang Zalim yang Aniaya Orang Lain

Azab Allah Swt Akan Datang Bagi Orang Zalim yang Aniaya Orang Lain

Azab Allah Swt Akan Datang Bagi Orang Zalim yang Aniaya Orang Lain. Pelaku tidak mengamalkan ajaran Islam untuk melawan hawa nafsunya, amarah. Sebab, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus saja tetapi juga mampu mengendalikan diri tidak marah-marah agar tidak mengurangi nilai ibadahnya. Bagaimana pandangan Islam terkait menganiaya orang.

Seorang muslim diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan zalim atau aniaya kepada orang lain dan bagi dirinya sendiri. Allah Swt bahkan menyebut akan memberi azab bagi orang yang zalim.

 
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya surat Al-Furqan ayat ke-19:  "Barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar." 

Kendati demikian, seperti apa bentuk kezaliman yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya? Berikut tiga macam kezaliman yang dilarang Allah SWT: 

1. Kezaliman hamba kepada Rabb-nya

Kezaliman manusia kepada Penciptanya adalah dengan kufur kepada Allah, seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 254:  "Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim." 

Ayat lain dalam Alquran juga menyebut kezaliman seorang makhluk juga ditandai dengan berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan zat lain. 

Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 13:  "Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."

2. Kezaliman kepada sesama manusia

Menzalimi atau berbuat aniaya kepada sesama manusia juga merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT. 

Perbuatan seperti menyinggung kehormatan orang lain, menyakiti tubuh atau hati orang lain hingga mengambil harta orang tanpa alasan yang benar adalah perilaku yang dimurkai Allah.

Allah menyebut akan mengambil amalan orang yang berbuat zalim dan diberikan kepada orang yang dizalimi. Bahkan akan menimpakan dosa orang yang dizalimi kepada orang yang menzalimi. 

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yang lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. 

Jika ia punya amal saleh, maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia zalimi itu dibebankan kepadanya." (HR Bukhari)

3. Zalim terhadap diri sendiri

Kezaliman seorang hamba adalah dengan mengotori dirinya dengan berbagai bentuk dosa, pelanggaran dan keburukan berupa kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Allah berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 57 yang artinya: "Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." 

Tiga perbuatan zalim ini hendaknya dijauhi setiap muslim agar terhindar dari murka Allah SWT.

Referensi : Azab Allah Swt Akan Datang Bagi Orang Zalim yang Aniaya Orang Lain


Pengertian Zalim dan Macam-Macamnya yang Wajib Diketahui Seorang Muslim

Pengertian Zalim dan Macam-Macamnya yang Wajib Diketahui Seorang Muslim

Pengertian Zalim dan Macam-Macamnya yang Wajib Diketahui Seorang Muslim. Zalim adalah tabiat dan watak yang ada dalam diri manusia. Ini merupakan akhlak yang tercela dan sifat buruk yang dapat merusak agama, menghilangkan kebaikan, dan mendatangkan keburukan, bahkan bisa memutus tali silaturahmi.

secara bahasa zalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Orang disebut zalim jika melakukan sesuatu yang tidak wajar dari apa yang telah digariskan Allah dan rasul-Nya sehingga merugikan orang lain.


Semua manusia memiliki potensi untuk berbuat zalim. Itu karena manusia memiliki hawa nafsu. Contoh perbuatan zalim adalah seorang penguasa yang selalu menekan bawahannya agar tetap pada posisinya.


Zalim adalah salah satu perbuatan yang diharamkan oleh Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadist Qudsi berikut :
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan zalim atas diri-Ku. Dan, aku jadikan perbuatan harap di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling berbuat zalim.”
Zalim juga ada macam-macamnya. Untuk mengetahuinya lebih lanjut, simak ulasan berikut.


Macam-Macam Zalim
Masih dari sumber yang sama, secara garis besar, zalim terbagi menjadi dua bentuk, yaitu menzalimi diri sendiri dan menzalimi orang lain. Menzalimi diri sendiri bisa dalam bentuk syirik dan perbuatan dosa atau maksiat. Sementara menzalimi orang lain yaitu menyakiti perasaan atau tidak menunaikan hak orang lain.
Namun, menurut Abdul Aziz ibn Fauzan ibn Shalih dalam buku Fikih Sosial Tuntunan dan Etika Hidup Bermasyarakat, zalim digolongkan menjadi tiga macam, yakni:

1. Zalim seorang manusia dengan menyekutukan Allah
Bentuk zalim ini merupakan zalim yang dianggap paling buruk oleh Allah. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 13 yang berbunyi:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya,“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Orang yang menyekutukan Allah disebut dengan syirik. Itu merupakan perbuatan dosa yang sangat besar.

Rasulullah SAW pernah ditanya, “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab, “Mempersekutukan Allah, padahal Dia adalah Dzat yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seluruh dosa dapat diampuni Allah SWT, kecuali syirik. Hal tersebut dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 48 yang berbunyi:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."

2. Zalim seorang manusia dengan berbuat maksiat kepada Allah
Semua hamba wajib menyembah Allah SWT, mengesakan-Nya, menaati peraturannya, dan tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Jika melanggar hal tersebut, mereka termasuk orang-orang yang zalim.
Allah SWT berfirman dalam surat Ath-Talaq ayat 1 yang artinya: “Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Engkau tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah hal yang baru."
Allah SWT adalah yang Maha Kaya. Dia tidak membutuhkan manfaat dari ketaatan manusia. Perbuatan maksiat manusia tidak akan membahayakan-Nya. Manfaat dan mudharat itu akan kembali kepada masing-masing manusia.

Seperti yang dijelaskan dalam Alquran surat Al-Fusshilat ayat 46.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔
Artinya: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya)."
3. Zalim seorang manusia kepada sesama
Bentuk zalim ini lebih berat dari sebelumnya. Allah tidak akan membiarkan seorang yang zalim terhadap sesama. Seseorang tidak akan terhindar dari dosa zalim ini dengan hanya sekedar berhenti dan menyesali pebuatan yang dilakukan.

Diriwaatkan dari Abu Bakar Al-Warraq, dia berkata, "Perkara yang banyak menyebabkan terlepasnya iman dalam hati adalah berlaku zalim terhadap sesama manusia."
Allah SWT telah memperingatkan untuk tidak saling berbuat zalim antarsesama dalam hadist Qusdy, “Wahai hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman terhadap diriku dan menjadikannya di antara kalian dilarang , maka janganlah kalian menzalimi.” (HR Muslim)

Maksut dari hadist ini adalah tidak diperbolehkan bagi siapa pun menzalimi orang lain, baik menyakiti atau memberikan mudharat antarsesama. Karena sesungguhnya, orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling berguna untuk orang lain dan memberikan kebaikan bagi orang lain.
Referensi : Zalim dan Macam-Macamnya





Mimpi saat Cemas dan Artinya Menurut Para Ahli

Mimpi saat Cemas dan Artinya Menurut Para Ahli

Rasa cemas bukan hanya perkara perasaan waspada setiap saat. Rasa cemas memengaruhi banyak hal, termasuk pola tidur. Tak heran jika mimpi buruk kerap muncul saat cemas. 
Saat tidur, otak melakukan sebuah proses pada seseorang, ingatan disaring dan disimpan, ada ruang yang dikosongkan untuk belajar, menyelesaikan persoalan, dan sederet hal lain.

"Setiap mimpi menyampaikan apa yang dipecahkan atau dikerjakan otak setiap waktu," ujar ahli kejiwaan Alex Dimiatri. Mimpi saat cemas, kata dia, berhubungan dengan otak yang sedang mencoba memecahkan masalah yang sedang mengganggu.


1. Terjatuh
Terjatuh adalah mimpi yang paling umum terjadi saat cemas. Anda bisa saja bermimpi terjatuh dari gedung tinggi atau dari tempat-tempat lain yang tak diketahui.

Psikolog Arooj Najmussaqib mengatakan, mimpi terjatuh bisa timbul karena ada perasaan negatif atau ketakutan terhadap sesuatu yang buruk.

Mimpi seperti ini juga menandakan perasaan grogi atau gugup atas situasi tertentu dalam hidup seperti putus cinta.

2. Kehilangan sesuatu
Mimpi kehilangan sesuatu atau ada yang dicuri menjadi tanda akan hilangnya motivasi dalam diri.

Pada mimpi kehilangan mobil, misalnya. Najmussaqib mengatakan, kunci mobil merepresentasikan kendali Anda dan kehilangan kendaraan bisa benar-benar membuat Anda stres.

3. Bencana alam
Mimpi berada di tengah situasi bencana alam bukan berarti Anda akan terkena musibah. Mimpi ini menandakan bahwa Anda mulai kewalahan dalam menghadapi situasi hidup.

Anda perlu menemukan apa yang membuat Anda kewalahan karena mimpi umumnya tak menawarkan petunjuk lain. Beberapa hal berpotensi menjadi penyebabnya seperti memulai pekerjaan baru, kehilangan pekerjaan, kematian, perceraian, atau keputusan-keputusan lain yang dibuat.

4. Telanjang
Mimpi kerap menawarkan adegan-adegan aneh seperti telanjang di depan umum. Kondisi ini menandakan perasaan malu Anda terhadap sesuatu.

Atau, mimpi ini juga menandakan bahwa Anda tidak dapat menyembunyikan apa pun tentang diri Anda, bahkan hal jelek sekalipun. Anda memiliki rasa takut untuk terekspose.

5. Dikejar
Rasa cemas terkadang memanifestasikan dirinya dalam mimpi dikejar-kejar. Sensasi atau perasaan dikejar ini, kata Najmussaqib, menandakan bahwa Anda sedang melarikan diri dari sesuatu dalam hidup.

6. Ketinggalan pesawat
Tak hanya pesawat, Anda juga mungkin mengalami mimpi ketinggalan bus, kereta api, atau moda transportasi lain. Mimpi ini menandakan ketakutan Anda akan tenggat waktu dalam hidup.

7. Mengemudi tanpa tujuan
Psikolog Deidra A Sorrel mengatakan, mimpi ini bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu dalam hidup yang berada di luar kendali Anda.

Dalam sesi terapi, mimpi ini memiliki dua interpretasi. Salah satunya, mengidentifikasi hal-hal di luar kendali seperti hubungan, pekerjaan, dan keuangan.

Referensi : Mimpi saat Cemas dan Artinya Menurut Para Ahli






Apa yang Bisa Dilakukan Jika Orang Terdekatmu Mengatakan “Aku Ingin Mati”?

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Orang Terdekatmu Mengatakan “Aku Ingin Mati”?

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Orang Terdekatmu Mengatakan “Aku Ingin Mati”?  Kali ini cukup sensitif tapi penting untuk dibahas loh! Pernahkah teman atau orang terdekat kamu berpikir atau mencoba bunuh diri? Saat itu respon kamu bagaimana? Kalau saat itu kamu bingung, itu wajar karena kamu berhadapan dengan kondisi kritis. Binusian tahu tidak? Bunuh diri masih menjadi salah satu penyumbang kematian paling banyak di dunia ini. Bagaimana tidak? Karena menurut data WHO tahun 2016, setiap tahunnya diperkirakan jumlah kematian akibat bunuh diri mendekati 800.000 kasus di seluruh dunia yang artinya hampir setiap 40 detik akan ada 1 tindakan bunuh diri. Di Indonesia sendiri pada tahun 2016 terjadi 8978 kasus bunuh diri dan menjadikan Indonesia negara ke 4 dengan kasus bunuh diri tertinggi di regional Asia Tenggara. Hem..  kasusnya cukup tinggi ya teman-teman. Nah, dari angka tersebut menunjukkan bahwa kamu sudah perlu aware nih terhadap hal-hal yang mendorong tindakan bunuh diri. Bukan tidak mungkin pun loh pikiran atau tindakan bunuh diri dialami oleh orang-orang terdekat kamu.

Bunuh diri merupakan suatu upaya atas rasa putus asa untuk melepaskan diri dari penderitaan atau beban yang tidak tertahankan. Individu yang berpikir untuk bunuh diri dipenuhi oleh rasa menyalahkan diri sendiri, rasa tidak berdaya, putus asa dan terisolasi. Orang yang ingin bunuh diri merasa tidak dapat menemukan jalan keluar terbaik dari penderitaan yang mereka alami sehingga mereka merasa bahwa tindakan bunuh diri adalah cara paling tepat untuk keluar dari penderitaannya. Meskipun sebelum mereka benar-benar melakukannya, akan ada konflik di dalam diri mereka untuk mencari alternatif jalan keluar, namun mereka sulit untuk menemukan jalan keluarnya.  Maka dari itu, penting bagi kamu untuk memiliki informasi atau wawasan tentang bunuh diri, agar kamu memiliki peran untuk melakukan pencegahan tindakan bunuh diri. Kira-kira apa saja tanda-tanda seseorang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri?

Perhatikan tanda-tanda mengarah bunuh diri :

Jika Binusian lebih peka atau lebih memperhatikan lagi, ternyata banyak individu sebelum melakukan tindakan bunuh diri yang menunjukkan tanda-tanda tertentu loh! Meskipun setiap orang menunjukkan tanda-tanya yang berbeda, namun berikut ini adalah tanda-tanda paling umum yang ditunjukkan oleh individu yang mengarah pada tindakan bunuh diri :

Berbicara atau menuliskan keinginan bunuh diri, membahas tentang keinginan menyakiti diri atau bahkan sering membahas tentang kematian.

Individu menunjukkan rasa tidak berdaya (hopeless) seperti tidak memiliki minat terhadap banyak hal dan mengatakan bahwa tidak memiliki harapan/tujuan hidup lagi.

Mengucapkan kalimat perpisahan

Menunjukkan perilaku merusak diri seperti meningkatnya meminum alkohol, menggunakan narkoba, melakukan self-harm.

  1. Menarik diri dari lingkungan sosial
  2. Ada riwayat melakukan percobaan bunuh diri
  3. Memberikan barang-barang berharga miliknya ke orang terdekat
  4. Adanya perasaan sendiri atau kesepian
  5. Apa yang dapat dilakukan oleh orang terdekatnya?

Nah sekarang kamu sudah tahu kan tanda-tanda individu yang ingin bunuh diri?  Berarti sekarang kamu sudah siap untuk ke tahap selanjutnya, karena tahap awal sebelum kamu bisa membantu mereka adalah dengan lebih aware atau peka terhadap emosi, pikiran dan perilaku yang mereka tunjukkan. Apa saja yang dapat kamu lakukan?

1. Tanyakan langsung mengenai pikiran bunuh dirinya

Tentu pada awalnya kamu berpikir jika membahas pemikiran bunuh dirinya dapat meningkatkan risiko agar mereka melakukan bunuh diri, nyatanya tidak loh! Kamu dapat menanyakan “apakah kamu memiliki pemikiran bunuh diri?” Atau “Apakah kamu memikirkan  untuk mengakhiri hidupmu?”. Dengan menanyakan langsung pemikiran bunuh dirinya itu dapat membantu kamu dan individu tersebut mengetahui alasannya ingin melakukan tindakan bunuh diri. Paling penting adalah tidak menanyakan pertanyaan yang menghakimi seperti “kamu kenapa bisa berpikir seperti itu? Tidak pantas berpikir demikian loh”, hal tersebut justru membuat mereka tidak nyaman dan menyalahkan diri sendiri.

2. Cari Tahu Tingkat Risiko Bunuh Dirinya

Jika ada orang di sekitar kamu yang mengatakan bahwa ia ingin bunuh diri atau menunjukkan tanda ingin bunuh diri, segera periksa dan tentukan tingkat resikonya. Jangan berpikir bahwa mereka sedang mencari perhatian. Mereka yang memiliki tingkat risiko bunuh diri dalam waktu dekat memiliki “rencana” untuk bunuh diri, “Sarana” untuk melakukan bunuh diri, “Set Waktu” untuk melakukannya, dan “Niat” untuk eksekusinya. Oleh karena itu, pertanyaan berikut ini dapat membantu kamu dalam menilai risiko bunuh diri :

  • Niat : Apakah kamu memiliki keinginan bunuh diri?
  • Rencana : Apakah kamu sudah memiliki rencana untuk melakukan bunuh diri?
  • Sarana : Dengan cara apa kamu ingin mengakhiri hidupmu?
  • Waktu: Kapankah waktu yang kamu tentukan untuk mengakhiri hidupmu?

3. Tunjukkanlah bahwa kita peduli

Individu yang akan bunuh diri sebenarnya  cenderung sulit menyadari bahwa kamu peduli dengan mereka. Lalu, bagaimana ya cara agar mereka benyadari bahwa kamu peduli dengan mereka? Caranya adalah tanyakan bagaimana kondisi mereka saat ini. Lalu, menjadikan diri kita sebagai tempat cerita yang aman dan nyaman untuk mereka dengan menjadi pendengar yang tidak terburu-buru dalam memberikan saran. Dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan yang mereka rasakan dan mereka pikirkan itu dapat memberikan rasa lega dan menghilangkan rasa sepi, serta perasaan-perasaan negatif yang terpendam. Jadi pada saat mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan, sebisa mungkin untuk tidak judgemental.

4. Diskusikan harapan dan motivasi

Binusian tahu tidak kalau salah satu penelitian pernah menyatakan dari beberapa indikator yang diukur untuk mengetahui penyebab bunuh diri yang paling besar ternyata adalah kehilangan harapan (hopeless). Oleh karena itu, membicarakan tentang harapan dapat membantunya dalam menemukan kembali arti hidupnya. Yakinkan mereka bahwa bantuan selalu ada dan perasaan bunuh dirinya itu bersifat sementara. Dengan kamu hadir untuk mereka, itu bisa dijadikan salah satu harapan untuk mereka keluar dari kondisi tersebut. 

5. Temani mencari bantuan professional dan beri dukungan

Jika kamu sudah cukup melakukan hal di atas dan mendapatkan kesimpulan bahwa memang individu tersebut ingin bunuh diri, maka selanjutnya adalah tawarkan untuk mencari tenaga professional sesegera mungkin seperti ke Psikolog atau Psikiater. Kamu dapat menawarkan mereka untuk menemani ke tenaga professional agar mereka merasa aman dan nyaman. Yakinkan mereka bahwa dengan menghubungi tenaga professional merupakan salah satu Langkah terbaik untuk membantunya dan meyakinkan bahwa selalu ada harapan untuknya keluar dari kondisi tersebut. Jika mereka setuju untuk ke mencari bantuan ke tenaga professional, selanjutnya kamu tetap perlu temani treatmen yang sedang berlangsung agar mereka menyadari bahwa memang masih ada orang yang peduli dengannya.

Itulah hal-hal yang dapat kamu lakukan jika di sekitarmu atau ada orang terdekat yang memiliki keinginan bunuh diri. Eh tapi Jangan lupa untuk memperhatikan diri kamu juga, karena memberikan dukungan dan bantuan kepada orang yang ingin bunuh diri juga membutuhkan kesiapan mental loh. Oleh karena itu, penting untuk menjaga Kesehatan fisik dan Kesehatan mental dirimu sendiri ya sebelum membantu orang lain.

Referensi : Apa yang Bisa Dilakukan Jika Orang Terdekatmu Mengatakan “Aku Ingin Mati”?