This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 22 Agustus 2022

Ciri-ciri Rumah Tangga Diganggu Sihir dan Setan Dasim?Jin Perusak Rumah Tangga (Salah Satunya Tak Bisa Khusuk Ibadah)

Ilustrasi : Ciri-ciri Rumah Tangga Diganggu Sihir dan Setan Dasim?Jin Perusak Rumah Tangga (Salah Satunya Tak Bisa Khusuk Ibadah)

Ciri-ciri Rumah Tangga Diganggu Sihir dan Setan Dasim?Jin Perusak Rumah Tangga (Salah Satunya Tak Bisa Khusuk Ibadah). Eksistensi sihir dan setan yang mengganggu rumah tangga, dalam Islam telah diakui sebagaimana Allah firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 102 bahwa sihir dapat mencelakaan seseorang dan mendatangkan manfaat atas izin Allah Swt. Di antara beragam sihir ini, ternyata ada jenis sihir yang dapat merusak kehidupan rumah tangga seseorang, bahkan dapat memicu keretakkan sampai perceraian dalam rumah tangga tersebut.

Jenis sihir pengganggu rumah tangga ini ada tiga macam, yakni sihir tafriq, sihir rabth dan sihir al-Jalb wa al mahabbah (di Indonesia dikenal sebagai sihir pelet).

Dinukil dari kitab 'ash-Shaarimul Battaar fit-Tashaddiy lissahaaratil asyraar dan as-Showaa’iq al-Haariqah', Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa sebab terjadinya perceraian antara suami dan istri (akibat sihir) adalah karena hal-hal yang dibayangkan secara khayal (halusinasi yang dibuat-buat bangsa jin) oleh suami atau istri terhadap pasangannya. Oleh karena itu, kita harus waspada ada sihir bertujuan suami istri bisa cerai.

Sifat buruk apabila suami/istri saling memandang, atau perilakunya yang seakan-akan itu adalah kejelekan yang benar-benar menghinakan (padahal perilakunya biasa-biasa saja), atau hal-hal lainya yang mengakibatkan terjadinya perceraian.

Akibat dari sihir ini antara lain:

  1. Dapat memisahkan seseorang dengan ibunya, ayahnya, saudaranya, temannya dan tetangganya
  2. Memisahkan dua orang yang menjalin akad dalam hubungan jual beli, pernikahan, dll.
  3. Paling berbahaya akibat sihir (sihir tafriq) tersebut adalah memisahkan atau menceraikan antara suami dan istri.

Ciri-ciri Rumah Tangga Terkena Sihir

  1. Terjadi perubahan yang drastis, yang semula mencintai kemudian membenci dan munculnya keraguan serta kecurigaan di antara keduanya.
  2. Membesarnya sebab-sebab perselisihan meskipun hanya pada hal-hal yang sepele
  3. Berubahnya perangai suami di mata istrinya, dan berubahnya perangai istri di mata suaminya, sehingga seorang suami selalu melihat istrinya dalam wajah dan rupa yang jelek dan demikian pula sebaliknya.
  4. Orang yang terkena sihir menjadi tidak suka terhadap setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, demikian juga tempat dimana dia duduk di situ.
  5. Sangat sulit terjadinya rangsangan di antara pasutri karena sebab kebencian antara mereka berdua. Inilah beberapa sebab sihir bertujuan suami istri bisa cerai. Maka kita harus waspada.

Lantas bagaimana sihir tersebut dapat terjadi, Seseorang yang menyihir biasanya mengambil nama orang yang akan disihirnya dan nama ibunya, demikian juga dia mengambil benda-benda yang menempel pada tubuhnya atau sesuatu yang dipakainya seperti rambut, baju, sapu tangan, dan lain-lain. Dengan syarat, bukan baju baru dan belum dicuci serta ada bau badan orang yang akan disihir.

Apabila dengan cara ini tidak berhasil, maka dia akan menggunakan cara lain yaitu dengan meniupkan sihirnya ke dalam air kemudian dia berupaya agar orang yang akan disihirnya itu melangkah di atas air tersebut atau agar air yang sudah ditiup dengan sihirnya itu diletakkan dalam makanan dan minumannya.

Ada juga, yang menuliskan mantra-mantranya di sebuah kertas yang dilarutkan di air lalu dicampur pula dengan darah haid untuk diminumkan ke orang yang akan disihir atau untuk dicampurkan pada makanannya. Kadang juga disiramkan di sekitar rumah si korban.

Selain itu, ada yang menggantungkan jimat di atas pohon agar tertiup angin. Dan ada juga yang ditaruh di sayap burung agar orang yang disihir pergi meninggalkan suami/istrinya ke tempat burung itu terbang. Biasanya burung merpati putih.

Diganggu Setan Dasim

Selain sihir, kadang perceraian yang tidak masuk akal dapat disebabkan oleh ulah bangsa jin (khususnya setan dasim) yang jatuh cinta terhadap seseorang. Sehingga mereka cemburu dan berusaha untuk memisahkan korban dari suami/istrinya. Dilansir dari berbagai sumber, berikut tanda atau ciri-ciri rumah tangga seseorang yang diganggu oleh setan Dasim. Di antaranya:

1. Suasana rumah selalu penuh dengan emosi
2. Istri ataupun suami kerap berpikiran negatif
3. Di dalam rumah selalu ada kemaksiatan
4. Sulit khusuk ketika beribadah

Referensi : Ciri-ciri Rumah Tangga Diganggu Sihir dan Setan Dasim?Jin Perusak Rumah Tangga (Salah Satunya Tak Bisa Khusuk Ibadah).





Cara Mengusir Jin dari Rumah

Cara Mengusir Jin dari Rumah

Cara Mengusir Jin dari Rumah

1. Beribadah

cara mengusir jin dari rumah dengan beribadah Beribadah adalah salah cara paling baik untuk mengusir jin dari rumah. Jin pengganggu tidak akan menyukai manusia yang dekat dengan Sang Pencipta.

2. Menanam Pohon Bidara 

Salah satu cara mengusir jin dari rumah yang ampuh menurut beberapa kepercayaan adalah menanam pohon bidara. Hal ini juga tidak lepas dari disebutkannya nama pohon ini di beberapa surat dalam ayat suci Al-Quran.

3. Berhenti Maksiat

Salah satu alasan jin menyukai tinggal di sebuah rumah adalah karena penghuninya kerap melakukan hal yang terlarang dalam agama. Beberapa di antaranya adalah melakukan kemaksiatan dan berbuat syirik. Jin tentu sangat senang jika manusia melakukan hal-hal yang tidak baik dalam agama.

Referensi : Cara Mengusir Jin dari Rumah




Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin Dan Cara Mengusirnya (jangan dekati maksiat)

Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin Dan Cara Mengusirnya (jangan dekati maksiat)

Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin Dan Cara Mengusirnya (jangan dekati maksiat). Harus waspada karena jin yang mengganggu manusia ini kerap tinggal di dalam rumah. Gangguan jin di dalam rumah bisa jadi hanya sekadar usil atau bisa membuat penghuni rumah menjadi tidak betah. Tidak jarang, jin pengganggu juga menunjukkan wujudnya kepada manusia,Ingin tahu apa saja tanda rumah dihuni jin. Melansir dari berbagai sumber, berikut ini ciri ciri rumah ada gangguan jin serta cara mengusirnya. 

1. Penghuni Merasa Diawasi

Ciri ciri rumah ada gangguan jin yang pertama adalah semua penghuni merasa tidak nyaman saat berada di dalam hunian. Ketidaknyamanan ini karena mereka merasa selalu ada yang mengawasi di rumah tersebut. Jika merasakan hal ini, bukan tidak mungkin rumah kamu berisi jin serta makhluk mistis. 

2. Tercium Bau Busuk

Jika mencium bau busuk di dalam rumah, bisa jadi tanda bahwa hunian kamu merupakan tempat tinggal jin. Bau tersebut adalah salah satu bentuk gangguan jin di dalam rumah untuk membuatmu tidak betah. Untuk membedakan bau busuk biasa dengan bau busuk jin, periksalah semua bagian rumah.  Apakah di rumah kamu ada bangkai binatang atau sampah yang tidak kamu buang dalam waktu lama. Jika tidak ada sampah atau bangkai binatang, berarti sumber bau busuk tersebut tidak jelas. Sumber bau busuk yang tidak jelas inilah yang bisa jadi pertanda bahwa jin menimbulkannya. 

3. Ada Suara Aneh

Ciri ciri gangguan jin selanjutnya adalah ada suara misterius dari sumber tidak jelas. Suara tersebut bisa berupa orang berdeham, suara langkah kaki, orang menangis, dan lain sebagainya. Jika mendengar suara tersebut, sebaiknya kamu mesti waspada karena bisa saja rumah sedang mendapat gangguan jin. 

4. Penghuni Rumah Sakit Tidak Jelas

Apakah ada anggota keluarga yang tiba-tiba sakit tanpa jelas penyebabnya.  Bisa jadi hal itu karena gangguan jin yang ada di dalam rumah. Ciri ciri sakit karena gangguan jin adalah dokter menyatakan bahwa secara medis kondisi tubuh anggota keluarga baik-baik saja. Namun ketika kembali ke rumah ia selalu merasakan rasa sakit yang sama terus-menerus. Jadi jika kondisi anggota keluarga kamu tidak kunjung membaik, bisa jadi itu adalah penyakit yang bersumber dari gangguan jin.

5. Penghuni Rumah Sering Bertengkar

Ciri ciri rumah ada gangguan jin selanjutnya adalah seringnya pertengkaran suami dan istri.  Sebenarnya pertengkaran tersebut adalah hal yang biasa, tapi ketika masalah kecil tiba-tiba menjadi pertengkaran yang besar, bisa jadi jinlah yang menyulut pertengkaran tersebut.  Pertengkaran bisa terjadi antara suami dengan istri, kakak dengan adik, atau anak dengan orang tua. Rutinlah beribadah agar jin tidak lagi mengganggu keluarga kamu.

7. Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin Sering Munul Penampakan

Salah satu ciri rumah ada gangguan jin adalah sering munculnya penampakan makhluk halus. Jika ada jin yang menampakkan diri pada kamu atau anggota keluarga, itu merupakan pertanda bahwa jin sedang mengganggu kamu dan keluarga. Kemungkinan lainnya, penampakan itu menunjukkan bahwa jin terganggu dengan keberadaan penghuni rumah.

8. Anjing Sering Menggonggong di Sekitar Rumah

Kamu punya anjing di rumah dan tiba-tiba sering mengonggong tidak jelas. Tahukah kamu bahwa anjing dipercaya memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus. Bisa jadi gonggongan tersebut disebabkan anjing kamu melihat keberadaan makhluk halus, termasuk jin. 

9. Penghuni Enggan Menikah

Ciri ciri ada gangguan jin di rumah selanjutnya adalah ketika ada anggota keluarga yang masih lajang enggan menikah. Ada mitos yang mengatakan bahwa jin dapat memanipulasi penghuni rumah agar tidak mau menikah. Kemungkinan lainnya, jin sangat menyukai anggota keluarga kamu yang masih lajang itu dan tidak ingin dia dimiliki orang lain.

10. Jin Tidur di Samping Penghuni Rumah

di rumah ada gangguan jin saat tidur Jika jin menyukai salah satu penghuni rumah, dia akan selalu mengikuti penghuni rumah tersebut ke manapun dia pergi.  Bahkan, jika penghuni rumah sedang tidur, jin akan tidur di sampingnya. Biasanya penghuni juga akan merasakan bahwa ada yang selalu mengikutinya ke manapun.

11. Penghuni Rumah Sering Menyendiri

Jika ada anggota keluarga lebih senang menyendiri dan menghindari bersosialisasi dengan tetangga, bisa jadi tanda rumah dihuni jin. Salah satu misi jin pengganggu adalah menyesatkan manusia, sehingga tidak heran jika jin tidak menyukai penghuni rumah berhubungan baik dengan tetangga.

12. Tidak Mau Mendengarkan Hal Baik

Ciri ciri terakhir adanya gangguan jin di rumah adalah penghuni rumah yang enggan mendengarkan hal baik.  Jin dapat memanipulasi manusia agar dia membenci hal-hal baik, semisal nasihat, suara azan, atau bacaan ayat suci.

Referensi : Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin Dan Cara Mengusirnya (jangan dekati maksiat).










Penjelasan Jin Dasim, Setan Perusak Rumah Tangga dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi : Penjelasan Jin Dasim, Setan Perusak Rumah Tangga dan Cara Menghindarinya

Penjelasan Jin Dasim, Setan Perusak Rumah Tangga dan Cara Menghindarinya. Fenomena keberadaan setan atau jin perusak rumah tangga diungkap suami Tasyi Athasyia, Syech Zaki Alatas. Setan tersebut, kaya Syech, bernama Jin DasimMenurut Zaki, setan tersebut memiliki semangat luar bisa untuk membuat pasangan suami istri berseteru, yang dalam agama Islam keduanya sama-sama sedang beribadah. "Yang namanya setan dalam pernikahan luar biasa semangatnya, dan sampai dia punya nama sendiri disebutnya (Jin) Dasim," ujar Zaki.
Ia juga menambahkan bahwa setan atau jin yang bertugas saat lelaki dan perempuan berpacaran, beda dengan setan perusak rumah tangga. "Kalau pacaran setannya ini berusaha supaya laki-laki dan perempuannya bersatu. Kalau di pernikahan, setannya ini berusaha suami dan istrinya ini pisah," jelasnya lagi. Jin Dasim masuk ke dalam satu dari lima keturunan iblis yang pernah dijelaskan dalam Kitab Tafsir At-Thabari, bahwa setan atau jin adalah keturunan iblis yang bersatu untuk misi menggoda manusia. Adapun Jin Dasim dalam kitab tersebut bernama asli shahib al-buyut atau jin penggoda di rumah. 
Kebiasaan Jin Dasim ini, yakni kerap mengikuti orang yang masuk ke rumah, tanpa menyebut nama Allah atau orang yang tidak mengucapkan salam saat masuk ke rumah. Hasilnya, jin ini berhasil masuk dan terlibat dengan semua aktivitas di dalam rumah, seperti makan, minum, tidur, bahkan bisa ikut saat suami istri berhubungan intim. Inilah sebabnya Rasulullah mengajarkan doa untuk menghalau Jin Dasim, selain adab masuk rumah dengan salam yaitu mengucap : "Aku berlindung kepada Allah, yang maha mendengar dan maha melihat, dari setan yang terkutuk, baik dari godaan, tiupan, maupun dari sihirnya,". 

Referensi : Penjelasan Jin Dasim, Setan Perusak Rumah Tangga dan Cara Menghindarinya


Ciri-ciri Rumah Tangga Diganggu Sihir dan Setan Dasim (Perusak Rumah Tangga)

berikut tanda atau ciri-ciri rumah tangga seseorang yang diganggu oleh setan Dasim. Di antaranya:


Eksistensi sihir dan setan yang mengganggu rumah tangga, dalam Islam telah diakui sebagaimana Allah firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 102 bahwa sihir dapat mencelakaan seseorang dan mendatangkan manfaat atas izin Allah. Di antara beragam sihir ini, ternyata ada jenis sihir yang dapat merusak kehidupan rumah tangga seseorang, bahkan dapat memicu keretakkan sampai perceraian dalam rumah tangga tersebut. Jenis sihir pengganggu rumah tangga ini ada tiga macam, yakni sihir tafriq, sihir rabth dan sihir al-Jalb wa al mahabbah (di Indonesia dikenal sebagai sihir pelet). Dinukil dari kitab 'ash-Shaarimul Battaar fit-Tashaddiy lissahaaratil asyraar dan as-Showaa’iq al-Haariqah', Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa sebab terjadinya perceraian antara suami dan istri (akibat sihir) adalah karena hal-hal yang dibayangkan secara khayal (halusinasi yang dibuat-buat bangsa jin) oleh suami atau istri terhadap pasangannya. Oleh karena itu, kita harus waspada ada sihir bertujuan suami istri bisa cerai. 
Contohnya, sifat buruk apabila suami/istri saling memandang, atau perilakunya yang seakan-akan itu adalah kejelekan yang benar-benar menghinakan (padahal perilakunya biasa-biasa saja), atau hal-hal lainya yang mengakibatkan terjadinya perceraian. Akibat dari sihir ini antara lain: 
  • Dapat memisahkan seseorang dengan ibunya, ayahnya, saudaranya, temannya dan tetangganya
  • Memisahkan dua orang yang menjalin akad dalam hubungan jual beli, pernikahan, dll. 
  • Paling berbahaya akibat sihir (sihir tafriq) tersebut adalah memisahkan atau menceraikan antara suami dan istri.
Berikut tanda atau ciri-ciri rumah tangga seseorang yang diganggu oleh setan Dasim. Di antaranya:
  1. Suasana rumah selalu penuh dengan emosi 
  2. Istri ataupun suami kerap berpikiran negatif 
  3. Di dalam rumah selalu ada kemaksiatan 
  4. Sulit khusuk ketika beribadah 

Diganggu Setan Dasim Selain sihir, kadang perceraian yang tidak masuk akal dapat disebabkan oleh ulah bangsa jin (khususnya setan dasim) yang jatuh cinta terhadap seseorang. Sehingga mereka cemburu dan berusaha untuk memisahkan korban dari suami/istrinya. Dilansir dari berbagai sumber, berikut tanda atau ciri-ciri rumah tangga seseorang yang diganggu oleh setan Dasim. Di antaranya: 
  1. Terjadi perubahan yang drastis, yang semula mencintai kemudian membenci dan munculnya keraguan serta kecurigaan di antara keduanya. 
  2. Membesarnya sebab-sebab perselisihan meskipun hanya pada hal-hal yang sepele 
  3. Berubahnya perangai suami di mata istrinya, dan berubahnya perangai istri di mata suaminya, sehingga seorang suami selalu melihat istrinya dalam wajah dan rupa yang jelek dan demikian pula sebaliknya. 
  4. Orang yang terkena sihir menjadi tidak suka terhadap setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, demikian juga tempat dimana dia duduk di situ. 
  5. Sangat sulit terjadinya rangsangan di antara pasutri karena sebab kebencian antara mereka berdua.

Inilah beberapa sebab sihir bertujuan suami istri bisa cerai. Maka kita harus waspada. Lantas bagaimana sihir tersebut dapat terjadi? Seseorang yang menyihir biasanya mengambil nama orang yang akan disihirnya dan nama ibunya, demikian juga dia mengambil benda-benda yang menempel pada tubuhnya atau sesuatu yang dipakainya seperti rambut, baju, sapu tangan, dan lain-lain. 
Dengan syarat, bukan baju baru dan belum dicuci serta ada bau badan orang yang akan disihir. Apabila dengan cara ini tidak berhasil, maka dia akan menggunakan cara lain yaitu dengan meniupkan sihirnya ke dalam air kemudian dia berupaya agar orang yang akan disihirnya itu melangkah di atas air tersebut atau agar air yang sudah ditiup dengan sihirnya itu diletakkan dalam makanan dan minumannya.

Ada juga, yang menuliskan mantra-mantranya di sebuah kertas yang dilarutkan di air lalu dicampur pula dengan darah haid untuk diminumkan ke orang yang akan disihir atau untuk dicampurkan pada makanannya. Kadang juga disiramkan di sekitar rumah si korban. 

Selain itu, ada yang menggantungkan jimat di atas pohon agar tertiup angin. Dan ada juga yang ditaruh di sayap burung agar orang yang disihir pergi meninggalkan suami/istrinya ke tempat burung itu terbang. Biasanya burung merpati putih. Dan yang terpenting selalu berdoa kepada Allah untuk terhindar dari gangguan Setan Dasim dan gangguan sihir ini.

Pertanda Ular Masuk Rumah

Mitos Ular Masuk Rumah, Tanda Ada. Bagi sebagian orang, masuknya ular ke dalam rumah dianggap salah satu pertanda buruk. Mitos tersebut bahkan sudah dipercaya secara turun temurun. Meski tak bisa dibuktikan kebenarannya, namun mitos satu ini tak boleh diabaikan begitu saja, khususnya bagi orang Jawa. Dinukil dari beberapa sumber, ini mitos ular masuk rumah: 1. Bakal Kehilangan Salah Satu Anggota Keluarga 2. Pengingat Janji 3. Rezeki dan Kesehatan Penghuni Rumah Terganggu 4. Pertanda Bahaya Konon, seekor ular yang masuk rumah secara tuba-tiba dipercaya sebagai isyarat bakal kehilangan salah satu anggota keluarga. Maksud dari kehilangan sendiri tak hanya dapat diasosiasikan dengan meninggal dunia, tetapi dapat juga berarti pergi jauh. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, nah orang Jawa percaya ular yang masuk rumah dianggap sebagai peringatan. Biasanya mengingatkan si pemilik rumah bilamana punya janji yang belum ditepati. Tapi, tak semua ular yang masuk rumah dianggap sebagai pengingat. Namun, ada kriteria ular tertentu yang harus dipenuhi, yakni ular yang tak terlalu besar dan juga tidak berbisa. Selanjutnya arti ular masuk ke rumah juga merujuk pada masalah rezeki hingga kesehatan dari si penghuni. Namun, untuk mengantisipasi hal ini, maka bisa mengusir ular tersebut tanpa harus membunuh. Ular yang masuk rumah juga dimitoskan sebagai pengingat, bahwa penghuni rumah harus waspada terhadap bahaya. Misalnya bakal terjadi perampokan, pembunuhan atau lain sebagainya. Kalau Anda percaya dengan mitos ini sebaiknya lebih mawas diri dan usahakan meningkatkan keamanan dalam rumah. Jangan lupa untuk minta pertolongan pada Tuhan. (Allah Swt)

Mitos Ular Masuk Rumah, Tanda Ada. Bagi sebagian orang, masuknya ular ke dalam rumah dianggap salah satu pertanda buruk. Mitos tersebut bahkan sudah dipercaya secara turun temurun. Meski tak bisa dibuktikan kebenarannya, namun mitos satu ini tak boleh diabaikan begitu saja, khususnya bagi orang Jawa. Dinukil dari beberapa sumber, ini mitos ular masuk rumah:

1. Bakal Kehilangan Salah Satu Anggota Keluarga

2. Pengingat Janji

3. Rezeki dan Kesehatan Penghuni Rumah Terganggu

4. Pertanda Bahaya

Konon, seekor ular yang masuk rumah secara tuba-tiba dipercaya sebagai isyarat bakal kehilangan salah satu anggota keluarga. Maksud dari kehilangan sendiri tak hanya dapat diasosiasikan dengan meninggal dunia, tetapi dapat juga berarti pergi jauh. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, nah orang Jawa percaya ular yang masuk rumah dianggap sebagai peringatan. Biasanya mengingatkan si pemilik rumah bilamana punya janji yang belum ditepati. Tapi, tak semua ular yang masuk rumah dianggap sebagai pengingat. Namun, ada kriteria ular tertentu yang harus dipenuhi, yakni ular yang tak terlalu besar dan juga tidak berbisa. 

Selanjutnya arti ular masuk ke rumah juga merujuk pada masalah rezeki hingga kesehatan dari si penghuni. Namun, untuk mengantisipasi hal ini, maka bisa mengusir ular tersebut tanpa harus membunuh. Ular yang masuk rumah juga dimitoskan sebagai pengingat, bahwa penghuni rumah harus waspada terhadap bahaya. Misalnya bakal terjadi perampokan, pembunuhan atau lain sebagainya. Kalau Anda percaya dengan mitos ini sebaiknya lebih mawas diri dan usahakan meningkatkan keamanan dalam rumah. Jangan lupa untuk minta pertolongan pada Tuhan. (Allah Swt)


Cara Manajamen Waktu Dalam Islam

Cara Manajamen Waktu Dalam Islam

Cara Manajamen Waktu Dalam Islam.  Waktu adalah salah satu nikmat yang Allah harus kita syukuri, karena dengan dengan adanya waktu dan ridha dari Allah kehidupan ini dapat terus berjalan. Sejatinya waktu ada untuk mengantarkan manusia menuju tujuan penciptaan manusia dalam Islam, dan waktu adalah sesuatu yang abstrak, tidak dapat ditangkap dengan indra. Dan pengatur waktu atau masa adalah Allah SWT.

Allah menciptakan waktu agar manusia dapat menghargai setiap hal yang terjadi dan setiap hal yang dia miliki dalam hidupnya. Dan dalam Islam, kita diajarkan agar senantiasa menghargai waktu yang ada dengan rajin melakukan ibadah kepada Allah SWT., misalnya dengan menunaikan shalat lima waktu, melakukan shalat sunnah seperti shalat dhuha dan shalat tahajjud, dan ibadah yang lainnya. Mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah dan berbuat kebaikan merupakan salah satu cara meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Namun, manusia seringkali tidak mensyukuri waktu yang telah Allah berikan kepadanya dan seringkali menyia-nyiakan waktu tersebut dengan perbuatan atau hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan berikut ini ada beberapa tips dalam mengatur atau memanajemen waktu menurut Islam.

Sebagai muslim, kita harus bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya sebagai salah satu cara mensyukuri nikmat Allah. Dan waktu merupakan nikmat Allah yang tidak dapat diulang atau didapatkan kembali, karena waktu sejatinya selalu berjalan maju, tidak dapat diputar ataupun diperbaiki. Dan manusia seringkali menjadi orang yang rugi karena telah menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan, padahal dalam sumber syariat Islam, ada salah satu firman Allah yang memperingatkan agar kita senantiasa menggunakan waktu dengan baik.

Dalam (QS. Al-‘Asr ayat 1-3) Allah berfirman : “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa orang yang rugi adalah mereka yang tidak beriman dan melakukan kebajikan dalam hidupnya serta tidak menasihati orang yang berada dalam kesesatan dan tidak menasihati agar orang-orang saling bersabar dalam menjalani kehidupan ini.

Berikut adalah beberapa tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi :

Hilangkan kebiasaan menunda-nunda
Perbuatan suka menunda tidaklah baik, namun bila menunda suatu pekerjaan untuk melakukan ibadah wajib kepada Allah seperti shalat, maka hal tersebut diperbolehkan. Dalam Sya’ir Arab disebutkan : “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”
Jangan sering menunda-nunda sesuatu, terlebih jika hal yang ditunda adalah dalam perihal ibadah dan amalan baik lainnya, karena dikhawatirkan umur kita tidak sampai pada detik berikutnya. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hambanya kembali, oleh karena itu sebaiknya jangan menunda-nunda sesuatu yang merupakan amalan baik, terlebih amalan yang merupakan ibadah.

Dahulukan yang wajib
Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bertakwa kepadanya, dan ketakwaan tersebut berada pada perbuatan yang diwajibkan dan diharamkan oleh Allah. Dan untuk menjadi orang yang tidak merugi, alangkah baiknya jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim. Apabila amalan-amalan yang wajib telah terpenuhi, barulah kita boleh mengerjakan amalan-amalan sunnah dan mubah lainnya yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kita.

Selesaikan pekerjaan tepat waktu
Jika kita memiliki sebuah pekerjaan yang waktu penyelesaiannya dapat diselesaikan pada saat itu juga, maka akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut diselesaikan tepat waktu, dan tidak mengulur-ulur waktu penyelesaiannya.

Buat batasan waktu
Untuk mengatur waktu yang ada agar tidak sia-sia, maka sebaiknya buat batasan waktu pada setiap kegiatang yang dilakukan. Misalnya : tidur dari jam sekian hingga jam sekian, belajar berapa jam dalam sehari dan pada jam berapa saja, dan lain sebagainya.

Meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, bagi seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya : menonton tv secara berlebihan, bermain ponsel seharian, tidur seharian, dan lain-lainnya. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut sebaiknya dikurangi dan dihilangkan karena masih ada banyak hal bermanfaat lainnya yang dapat kita lakukan.

Membuat jadwal kegiatan
Agar waktu yang kita miliki dapat berguna dan terisi dengan hal yang bermanfaat, ada baiknya jika kita membuat daftar kegiatan tentang apa saja yang harus kita lakukan setiap hari.

Kurangi bersantai-santai
Allah akan memberikan manusia hasil kehidupan berdasarkan pada usaha hambanya. Apabila ia berusaha dengan keras dan giat, maka Allah akan memberikan hasil yang setimpal dengan perbuatannya. Namun apabila seseorang hanny bersantai-santai sepanjang waktu yang dia miliki, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahanya.

Jangan terjebak dalam masa lalu
Seseorang yang tidak ingin waktunya sia-sia, maka ia harus terus berjalan kedepan dan tidak terjebak pada masa lalunya.

Belajar fokus pada sesuatu
Apabila seseorang mempunyai banyak target dalam hidupnya, maka ia haruslah fokus pada satu hal dahulu, agar apa yang telah didapatkannya tidak terlepas dan waktu yang dia miliki tidak terbuang sia-sia.

Niatkan berubah menjadi yang lebih baik
Untuk menjadi orang yang dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka yang paling pertama adalah adanya niat dari orang tersebut. Apabila tidak ada niat dan keinginan untuk berubah, maka bagaimana bisa orang tersebut mengatur waktunya dan menjalankannnya dengan bermanfaat.

Jadi, sebagai muslim yang baik kita haruslah senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar kelak kita tidak menjadi orang yang merugi. Karena sesungguhnya, orang yang merugi dapat kehilangan kesempatan untuk menempati surga milik Allah SWT.

Referensi : Cara Manajamen Waktu Dalam Islam






Apakah Allah Swt Menerima Taubat Seorang Hamba, Setiap Kali Berdosa Bertaubat, Meskipun Tal Tersebut Terus Berulang Kali

Ilustrasi : Apakah Alllah Swt Menerima Taubat Seorang Hamba Setiap Kali Berdosa Bertaubat Meskipun Tal Tersebut Terus Berulang Kali

Pertanyaan : Sampai kapan Allah memaafkan hambaNya yang berdosa, kalau bertaubat dan beristigfar dari dosanya dan kembali melakukan dosa yang sama sekali lagi. Kemudian kembali (bertaubat), beristigfar dan berdosa setelah beberapa waktu dengan dosa yang sama dan begitulah. Maksud saya, apakah Allah Ta’al megampuninya atau hal itu termasuk tidak jujur kepada Allah Ta’la. Apalagi kalau kembali lagi berbuat dosa dalam selang waktu sebentar akan tetapi dia tidak meninggalkan istigfar. 

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Allah Ta’ala berfirman:

( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ) آل عمران: 135, 136.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” SQ. Ali Imron: 135-136.

Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar: “FimanNya ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول : ( إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ فَاغْفِرْ لِي فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ أَوْ أَصَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا قَالَ قَالَ رَبِّ أَصَبْتُ أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاثًا ....الحديث )

رواه البخاري (7507) ومسلم ( 2758

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berdosa terkadang mengucapkan terjerumus dalam dosa maka dia mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, saya berdosa. Terkadang mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, maka dia mengatakan, ‘Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, mengatakan, ‘Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, Terkadang mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Tiga kali.. Al-Hadits. HR. Bukhori, 7507 dan Muslim, 2758.

An-Nawawi rahimahullah membuat bab untuk hadits ini dengan mengatakan ‘Bab Diterima Taubat Dari Dosa-dosa, Meskipun Dosa-dosa dan Taubat terulang-ulang’.

Beliau mengatakan dalam penjelasannya, ‘Permasalahan ini telah (dijelaskan) pada permulaan kitab Taubah, hadits ini nampak dari sisi dalalahnya, bahwa meskipun dosa terulang seratus, seribu kalau atau lebih dan bertaubat setiap kali. Maka taubatnya diterima, gugur dosanya. Kalau dia bertaubat dari semua (dosa) dengan bertaubat sekali setalah semua (dosa0) maka taubatnya sah.’ Syarkh Muslim, 17/75.

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, ‘Umar bin Abdul Azizi berkata, ‘Wahai manusia barangsiapa yang berkubang dalam dosa, maka beristigfarlah kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali (berdosa), maka memohonlah ampun kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali lagi, hendaknya beristigfar dan bertaubat. Karena sesungguhnya ia adalah kesalahan-kesalahan dibelitkan di pundak seseorang. Sesungguhnya kebinasaan ketika terus menerus (melakukannya).

Makna ini adalah bahwa seorang hamba seharusnya melakukan apa yang telah ditentukan dosa kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

كُتب على ابن آدم حظه من الزنا فهو مدرك ذلك لا محالة

“Ditetapkan kepada Bani Adam bagiannya dari zina, dia mendapatkan hal itu tidak dapat disangkalnya.’

Akan tetapi Allah menjadikan seorang hamba jalan keluar dari dosa. Dihapus dengan taubat dan istigfar. Kalau dilaksanakan, maka akan terlepas dari kejelekan dosa. Kalau terus menerus melakukan dosa (tanpa bertaubat) maka dia akan hancur.’ ‘Jami’ Ulum Wal Hikam,, 1/165.

Sebagaimana Allah Ta’ala marah dengan kemaksiatan dan diancam dengan dosa. Karesa sesungguhnya (Allah) tidak menyukai hamba-Nya yang putus asa dari Rahmat-Nya Azza Wajalla. Dia senang orang yang bermaksiat meminta ampunan-Nya dan bertaubat kepadaNya. Syetan berkeinginan kalau seseorang hamba jatuh dalam keputusasaan agar terhalangi dari taubat dan kembali (kepada-Nya).

Dikatakan kepada Hasan Al-Basri, ‘Apakah salah satu diantara kami tidak merasa malu dari Tuhan-Nya, memohon ampunan dari dosa-dosanya kemudian diulangi lagi, beristigfar kemudian dialangi lagi? Beliau mengatakan, ‘Syetan berharap kalau menang dari kamu semua dengan ini, maka jangan bosa dengan istigfar. 


Referensi : Apakah Allah Swt Menerima Taubat Seorang Hamba, Setiap Kali Berdosa Bertaubat, Meskipun Tal Tersebut Terus Berulang Kali



Sebelum Adam, AllahSwt Telah Menciptakan Manusia & Dunia Semesta

Ilustrasi : Sebelum Adam, AllahSwt Telah Menciptakan Manusia & Dunia Semesta

"Dan Dialah yang memulai penciptaan itu, kesudahan Beliau mengembalikannya/mengulangi kembali ciptaan itu, dan mengulangi itu lebih mudah bagi-Nya. Beliau memiliki sifat Yang Mahatinggi di langit dan bumi, dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana".  
(Q.S. Ar-Ruum [30] : 27)

"Katakanlah, "Adakah di selang sekutumu yang bisa memulai penciptaan, kesudahan mengulanginya kembali?". Katakanlah, "Allah memulai penciptaan, kesudahan Beliau mengulanginya (mengembalikannya). Maka bagaimana kamu dipalingkan (menyembah selain Allah) ?". (Q.S. Yunus [10] : 34)

"(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. Akad yang pasti kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya.". (Q.S. Al-Anbiya' [21] : 104) 

"Sungguh, Beliau mulai menciptakan, dan Beliau mengulangi (kembali)".  (Q.S. Al Buruuj [85] : 13).

Selama ini, kita sering menganggap bahwa dunia semesta ini hanya satu kali dibentuk Allah, menjadi bertambah sempurna, dan hancur di hari kiamat, dan SELESAI. Lalu disambung kehidupan rohani tidak berkesudahan di kehidupan setealh didunia.

Anggapan ini terlalu linier dan rasanya boleh ditinjau lagi. Toh, tidak termasuk Rukun Iman yang dilarang dipikirkan lagi.  Jikalau kita renungkan, terdapat isyarat (petunjuk) dalam ayat2 di atas bahwa Allah mengulangi penciptaan APA PUN, tentunya termasuk penciptaan dunia semesta juga. Pernyataan itu diulang dalam beberapa ayat, selain di atas, juga di Surat An-Naml (27) ayat 64, Surat Al Ankabuut (29) ayat 19, Surat Ar-Ruum (30) ayat 11. 

Dalam ayat2 itu, Allah menegaskan bahwa Beliau mencipta lalu mengulang mencipta. Kenapa kita membatasi kekuasaan Allah bahwa Beliau hanya boleh mencipta dunia sekali saja? Allah mampu mengulanginya sampai jumlah tak terbatas. Mudah sekali bagi-Nya. Beliau mampu membikin dunia kembar, dunia paralel. Beliau Mahakuasa membikin duplikat sampai bermiliar Bumi beserta isinya yang sama persis atau pun yang lain. 

Dalam ilmu ilmu, kita mengenal teori penciptaan dunia semesta yang dikata "Big Bang", yang mencetuskan bahwa permulaan segalanya yaitu ledakan akbar, lalu mengembang sambung-menyambung. Juga berlaku teori "Big Crunch", bahwa setelah mengembang luas miliaran tahun, daya kembangnya selesai. Lalu mengkerut lagi menjadi satu titik singularitas dan musnah. 

Kesudahan berlaku teori "Oscillating Universe", bahwa titik itu akan meledak lagi mengembang cepat mengulangi perihal sahnya permulaan dahulu. Lalu mengkerut lagi. Kesudahan mengembang lagi.
Teori-teori ini, kok persis seperti firman2 Allah tadi. Sebetulnya, tanpa menunggu satu kiamat pun. Allah saat ini mungkin sudah menciptakan banyak dunia semesta lain. Masing-masing dunia semesta, 

Memiliki kelahiran dan kiamatnya sendiri-sendiri.
Lalu, bagaimana dengan dunia akhirat? Nggak berlaku persoalan. Setiap kali suatu dunia kiamat, pengadilan berlanjut. Yang saleh dan baik masuk surga, yang jahat masuk neraka. Menurut aku, surga dan neraka yang diperhatikan Rasulullah saw, waktu Mi'raj sudah diisi dengan makhluk2 dunia semesta lain (sebelum dunia semesta kita), yang sudah kiamat terlebih dahulu.  Dunia semesta yang dibentuk berikutnya diisi Allah dengan makhluk baru lagi, dengan syariat baru, dan nanti berlaku kiamatnya sendiri. Berulang-ulang pun untuk Allah sangat mudah. Konsep Tauhid yaitu meyakini hanya Allah SWT Yang Maha Esa, selain Allah tidak berlaku yang tunggal, sah yang tunggal hanyalah Allah SWT. 

Referensi : Sebelum Adam, Allah telah Menciptakan Manusia & Dunia Semesta



Salat Tanpa Bersuci Dalam genealogi Hukum Islam

Salat Tanpa Bersuci Dalam genealogi Hukum Islam

Terpapar virus Corona  dan ada pula akibat kelelahan. Belum lagi, persoalan alat pelindung diri (APD) yang membatasi gerak-gerik mereka. Data ini menunjukkan bahwa petugas medis seharusnya diperlakukan berbeda dengan orang lain, termasuk  dalam hal peribadatan. Dari kondisi yang menyulitkan ini, Islam hadir untuk memberikan keringanan dalam ibadah ritual mereka.

Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih yang dikenal dengan shahih al-Bukhari, terdapat sebuah hadis yang bercerita tentang beberapa Sahabat Nabi saw yang ditugaskan untuk mencari kalung hilang Sayyidah ‘Aisyah yang dipinjam dari Asma’.  Kemudian, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk mencari kalung tersebut.  Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukannya. Namun, saat itu waktu salat hampir habis, sementara tidak ada air untuk berwudhu dan belum ada ayat perintah untuk melakukan tayamum. Akhirnya, mereka tetap salat tanpa bersuci dan kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah. Nabi pun merespon kejadian tersebut dengan tidak menyalahkan salat para Sahabat dan tidak pula menyuruh mereka mengulangi salat. Inilah kisah yang menjadi penyebab turunnya (asbābun nuzūl) ayat perintah untuk melakukan tayammum (QS. Al-Maidah ayat 6).

Berdasarkan hadis ini, para ulama Fiqih kemudian membuat iftiradhī atau kemungkinan dan gambara-gambaran yang serupa dengan hadits ini. Mereka pun membuat beberapa contoh orang yang termasuk dalam kategori Fāqidu ath-Thahūrain atau Hilangnya dua media bersuci berupa air dan tanah. Fāqidu ath- Thahūrain itu bukan hanya seseorang  yang tidak bisa bersuci dengan air dan tanah, tetapi juga posisi bersuci atau thahārah termasuk syarat sah salat. 

Sehingga, Siapapun Muslim yang ketika masuk waktu salat,  namun beberapa syarat sah salat tidak terpenuhi,  seperti menghadap kiblat,  suci dari hadas,  suci tubuh, pakaian dan tempat dari najis, dan menutup aurat, termasuk kategori Fāqidu ath- Thahūrain. Orang-orang yang masuk ke golongan ini adalah orang yang dipenjara, orang dipasung yang tidak bisa bergerak, apalagi tayamum dan berwudhu, orang sakit yang sekujur tubuhnya dijejali selang infus atau sejenisnya yang jika dilepas dapat membahayakan keselamatan dirinya, orang yang berkendara di pesawat yang  tidak memungkinkan untuk bersuci, atau orang yang hendak salat, tetapi ruangan salat tidak memadai sehingga  tidak bisa rukuk dan sujud secara sempurna. Persoalannya adalah  bagaimana Hukum Salat Fāqidu ath- Thahūrain? Bagaimana pendapat para ulama mazhab dalam kondisi seperti ini? Apakah wajib salat atau tidak? kalaupun tetap salat, apakah harus diulang untuk menggugurkan kewajiban? 

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Pertama, Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang-orang yang tergolong Fāqidu ath-Thahūrain tidak wajib salat, tapi wajib qadha (mengganti). Dalil mereka bahwa syarat sah itu adalah bersuci (thaharah). Jika tidak suci, salatnya menjadi tidak sah. Namun kewajiban salatnya tidak  gugur karena tidak  bersuci, sehingga menurut mereka tetap harus melaksanakan salat meskipun statusnya qadha. Kedua, Mazhab Maliki berpendapat bahwa  orang-orang yang tergolong Fāqidu ath-Thahūrain tidak wajib salat dan  tidak pula wajib qadha. Berbeda dengan mazhab sebelumnya, Imam Malik  justru tidak mewajibkan salat dan tidak perlu diqadha (diganti). 

Dalilnya adalah keadaan tidak suci tidak termasuk syarat sah salat, tetapi syarat wajib. Sehingga  ketika syarat wajib tidak terpenuhi, kewajibanpun tidak ada. Ketiga, Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa wajib salat dan wajib qadha. Mazhab inilah yang memperkenalkan istilah shalat lihurmatil waqt (untuk menghormati waktu salat). Mazhab ini mewajibkan orang-orang yang tergolong Fāqidu ath-Thahūrain untuk tetap salat dengan kondisi semampunya dan wajib diqadha dalam kondisi normal. Alasan mereka karena kondisi seperti ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan salat dan tetap diharuskan qadha karena shalat lihurmatil waqt tetap dihukumi tidak sah secara hukum karena syarat sah salat tidak terpenuhi.

Keempat Mazhab Hanbali berpendapat bahwa  wajib salat dan  tidak wajib qadha.  mazhab Hanbali  mewajibkan salat  dalam keadaan fāqidu ath-thahūrain  berdasarkan dalil al-Quran surah At-Tagabun Ayat 16 “Bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu”. Dan tidak perlu mengganti salat setelah kondisi normal. Alasannya adalah karena kewajibannya telah gugur, berbeda dengan mazhab Syafi’i yang tetap mewajibkan pengulangan.

Jika kita mencoba menelisik genealogi transformasi hukum orang-orang yang tergolong Fāqidu ath-Thahūrain mulai dari kondisi ketika ayat tayammum belum turun dan setelah turunnya, ada semacam pergeseran hukum yang lahir  karena perbedaan kondisi dan konteks. Dalam penerapan produk Fiqhi, hal  ini menjadi lumrah. Dalam kondisi pandemik covid-19, MUI mengeluarkan fatwa yang membedakan kondisi Fāqidu ath-Thahūrain dan pakaian yang terkena najis. Mayoritas ulama memasukkan kategori suci hadas dan najis ke dalam syarat sah salat. 

Di dalam fatwa MUI tentang pedoman salat tenaga kesehatan yang memakai alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien Covid-19 bahwa dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci, seperti wudhu atau tayamum, ia boleh melaksanakan salat dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi salatnya (point 8). Dan dalam kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, ia boleh melaksanakan salat dalam kondisi tidak suci dan mengulangi salat (i’adah) setelah bertugas (poin 9). 

Fatwa yang dikeluarkan MUI ini membedakan kondisi hadas dan kondisi pakaian yang terkena najis. Dalam kondisi hadas [poin 8], MUI mengikuti pendapat yang terkuat dalilnya menurut an-Nawawi, sebagaimana yang beliau kemukakan sendiri dalam syarh shahih muslim [Juz 2, h.103], yakni salatnya tidak perlu diulang. Sedangkan kondisi pakaian terkena najis [poin 9], MUI mengikuti pendapat mayoritas dalam mazhab Syafi’i yaitu salatnya harus diulang usai bertugas atau dalam kondisi normal.

Hal ini berarti bahwa  pelaksanaan  ibadah ritual dalam Islam selalu memiliki sisi toleransi dan untuk itu, janganlah terlalu memperdebatkan persoalan hukum. Penerapan hukum Islam tidak selamanya berorientasi pada hal-hal yang ideal, tetapi selalu ada beberapa pertimbangan khusus yang mengakibatkan terjadinya keringanan, seperti dalam kondisi penyebaran penyakit SARS CoV Bahkan, kebutuhan sekunder terkadang dikategorikan sebagai kebutuhan primer. 

Ini bertujuan  untuk memudahkan umat melaksanakan perintah agama dan mencegah bahaya yang ditimbulkan. Berbagai kondisi yang menunjukkan situasi umum balwa (musibah umum yang sulit terhindarkan)  berdampak pada perubahan hukum yang pada akhirnya dapat ditolerir dan dimaafkan. Keadaan berat dan sulit pun atau masyaqqah dan haraj mempunyai otoritas yang besar terhadap transformasi produk hukum fiqhi. 

Referensi : Salat Tanpa Bersuci dalam genealogi Hukum Islam

Saat Kita Lupa dan Ragu Jumlah Rakaat Shalat, Ini yang Harus Dilakukan

Saat Kita Lupa dan Ragu Jumlah Rakaat Shalat

Saat Kita Lupa dan Ragu Jumlah Rakaat Shalat, Ini yang Harus Dilakukan. Lupa adalah sifat bawaan manusia seperti bunyi maqolah al-insan mahallul khatha’ wan nisyan. Begitu akutnya lupa bagi manusia, sehingga fiqih pun memberikan ruang istimewa bagi mereka yang benar-benar lupa. Misalkan lupa makan atau minum ketika berpuasa, maka hal itu dianggap sebagai rezeki dan tidak membatalkan puasa. Hadits Rasulullah saw mengatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا فَلَا يُفْطِرْ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ رَزَقَهُ

Barang siapa yang lupa, lalu makan atau minum ketika berpuasa, maka janganlah membatalkan puasanya, karena hal itu adalah rezeki yang Allah berikan kepadanya. Bahkan dalam Lubbul Ushul Imam Zakariya Al-Anshari dalam muqaddimahnya mengatakan bahwa:

وَالأَصَحُّ إِمْتِنَاعُ تَكْلِيْفِ الْغَافِلِ وَالْمُلْجَأِ، لاَ الْمُكْرَهِ.

Demikianlah syariat memberikan jalan keluar bagi mereka yang lupa. Lupa biasa terjadi pada sesuatu yang sering dilakukan. Begitulah manusia, semakin sering melakukan sesuatu semakin tinggi kemungkinan terjadi lupa. Karena jika tidak melakukan sesuatu pastilah ia tidak lupa, begitu logikanya. Hanya orang yang melaksanakan shalatlah yang lupakan rukuk atau sujud. Dan hanya orang yang wudhu yang akan terancam lupa membasuh muka atau tangan.

Lalu bagaimanakah jika hal ini benar-benar terjadi? Jikalau memang seseorang benar-benar lupa mengerjakan satu rukun tertentu, dan ia sama sekali tidak ingat dan tidak ada orang yang mengingatkannya maka ibadah itu hukumnya tetap syah.

Namun jika ia teringat kembali dan meyakini adanya kelalaian itu hendaklah ia memperbaikinya. Misalkan seseorang lupa meninggalkan satu atau dua rakaat dalam shalatnya, sedangkan ia telah mengucap salam sebagai tanda finish dalam shalat. Maka jikalau ingatan itu datang dalam waktu dekat hendaklah ia menambah rakaat yang ditinggalkannya dan mengakhirinya dengan sujud sahwi. Tetapi jikalau ingatan itu baru datang setelah beberapa lama (misalkan baru teringat setelah baca dzikir) maka orang tersebut wajib mengulangi shalatnya kembali.  Begitu keterangan dalam Majmu’

اذا سلم من صلاته ثم تيقن انه ترك ركعة او ركعتين اوثلاثا او انه ترك ركوعا اوسجودا اوغيرهما من الاركان سوى النية وتكبرة الاحرام فان ذكر السهوقبل طول الفصل لزمه البناء على صلاته فيأتى بالباقى ويسجد للسهو وان ذكر بعد طول الفصل لزمه استئناف الصلاة

Apabila seseorang telah salam (usai shalatnya) kemudian ia baru teringat bahwa ia telah melupakan (meninggalkan) satu atau dua atau tiga rakaat atau ia lupa telah meninggalkan rukuk atau sujud atau rukun lainnya kecuali niat dan takbiratul ihram, maka ia cukup menambahi (menyusuli) apa yang telah dilupakannya itu dengan sujud sahwi, jikalau ingatan itu segera datang. Tetapi jikalau ingatan itu datangnya setelah beberapa lama maka hendaklah ia mengulangi shalatnya kembali.

Berbeda ketika seseorang lupa meninggalkan satu rukun tertentu (ruku’ atau baca Fatihah) maka ketika ia ingat dan ia belum melakukan rukun yang sama pada rekaat setelahnya, hendaklah ia segera mengganti rukun yang ditinggalkan itu. Dan apabila ia lupa, maka itulah apapun yang dilakukannya sudah cukup dan dianggap sah karena memang lupa. Begitu keterangan dalam Fathul Mu’in Hamisy I’anathut Thalibin

ولو سها غير مأموم فى الترتيب بترك ركن كأن سجد قبل الركوع أو ركع قبل الفاتحة لغا مافعله حتى يأتي بالمتروك فان تذكر قبل بلوغ مثله أتى به والا فسيأتى بيانه… وإلا أي وان لم يتذكر حتى فعل مثله فى ركعة أخرى أجزأه عن متروكه ولغا ما بينهما هذا كله ان علم عين المتروك ومحله… 

Ragu di tengah-tengah Shalat

Lupa berbeda dengan ragu-ragu. Jikalau yang terjadi adalah keragu-raguan, maka perlu meninjau masalahnya secara detail. Ketika seseorang mengalami keraguan di tengah-tengah shalatnya, apakah dia sudah melakukan satu fardhu tertentu (ruku,misalnya) atau belum. Maka masalah ini perlu diperinci lagi, jika keraguan terjadi sebelum orang itu melakukan fardhu yang ditinggal (ruku’) tersebut pada rakaat setelahnya, maka ia harus kembali untuk melakukan fardhu yang ditinggal (ruku’).

Namun jika keraguan itu datang setelah ia melakukan fardhu yang sama yang ditinggalkannya (ruku’) pada rakaat setelahnya, cukuplah baginya meneruskan shalat dan menambah satu rakaat lagi, sebagai pengganti satu rukun yang ditinggalkannya itu. Begitu keterangan dalam Fathul Mu’in Hamisy I’anathut Thalibin

… أو شك هو أي غير المأموم فى ركن هل فعل أم لا كأن شك راكعا هل قرأ الفاتحة أوساجدا هل ركع أواعتدل أتى به فورا وجوبا ان كان الشك قبل فعله مثله أي مثل المشكوك فيه من ركعة أخرى

Ragu Setelah Shalat Selesai

Begitu juga ketika terjadi keraguan setelah shalat, apakah shalat yang telah dikerjakan itu telah lengkap ataukah ada rukun tertentu yang tertinggal, maka shalat semacam itu secara fiqih tetap dianggap syah dan tidak perlu mengulanginya kembali. Kitab Khasiyah Qulyubi wa Umairah menjelaskan

ولوشك بعد السلام فى ترك فرض لم يؤثر على المشهور – لان الظاهر وقوع السلام عن تمام

Jikalau setelah salam (selesai shalat) seseorang ragu dalam meninggalkan/ melaksanakan satu fardhu tertentu, maka hal itu tidak berpengaruh (tetap sah) menurut pendapat yang mashur. Karena dalam kenyataannya ia telah melakukan salam dan (shalat dianggap) sempurna.

Dengan kata lain, lupa dan ragu adalah dua hal yang berbeda. Begitu pula cara penyelesaiannya. Hukum lupa segera dicabut ketika datang ingatan. Selama seseorang dalam kondisi lupa ia akan terbebas dari tuntutan syariah, dan ketika ia teringat kembali, maka orang tersebut kembali terkena tuntutan syariah.

Seperti contoh berpuasa, ketika seseorang lupa bahwa ia sedang menjalankan puasa, maka ia terbebas dari tuntutan syari’ah boleh makan dan minum. Namun ketika ia teringat kembali bahwa ia puasa, maka ia wajib menahan semuanya dan kembali berpuasa. Sedangkan ragu-ragu bisa hilang karena adanya keyakinan. Dan tidak ada keraguan yang dibarengi dengan keyakinan.

Referensi : Saat Kita Lupa dan Ragu Jumlah Rakaat Shalat