This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 19 Agustus 2022

Doa Yang Tidak Akan Tertolak Allah Swt

Ilustrasi : Doa Yang Tidak Akan Tertolak Allah Swt

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi, Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman: Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.” (Hadis Hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) 

Penjelasan Hadis

Hadits ini menjelaskan tiga kelompok orang yang doanya tidak tertolak, yaitu: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan orang yang terzhalimi. 

Kalimat “Tiga orang yang doanya tidak tertolak” menjelaskan faktor-faktor dan ciri-ciri orang yang doanya cepat terkabul, baik berdoa untuk diri sendiri maupun orang lain. Faktor pengabulan doa disebabkan kebaikan yang melekat pada diri mereka, atau karena ketundukan kepada Allah ketika berdoa. Para ulama hadis menjelaskan bahwa penyebutan bilangan “tiga” tidak menunjukkan pembatasan jumlah tetapi hanyalah keterangan di antara orang-orang yang doanya cepat terkabul.

Pertama: Pemimpin Yang Adil

Yang dimaksud kalimat “pemimpin yang adil” adalah penguasa wilayah yang mengurusi segala urusan manusia dan ia berlaku adil, mentaati perintah Allah dengan meletakkan sebuah kebijakan sesuai tempatnya. Penyebutan “pemimpin yang adil” didahulukan karena keumuman manfaat serta nilai kehadirannya berkaitan dengan kepentingan publik dan hajat hidup rakyat. 
Menurut Ibn Mandhur dalam kamus Lisan Arab, adil adalah sesuatu yang hawa nafsu tidak mempengaruhi untuk menyimpang/lalim dalam suatu keputusan. Adil merupakan putusan dengan jalan yang benar atau memutuskan dengan benar (Lisanul Arab, XI: 430). Menurut Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, pemimpin yang adil ini adalah ia yang mematahkan ‘duri’ orang-orang zalim dan pelaku kriminal. Ia menjadi sandaran kaum dhuafa dan orang-orang miskin. Dengan kehadiran pemerintah yang adil, urusan publik terselesaikan sehingga mereka merasa aman dan terjamin jiwa, harta, dan nama baiknya.

Kedua: Orang Yang Berpuasa

Kalimat “orang yang berpuasa sampai ia berbuka” meliputi orang-orang yang berpuasa sunnah maupun wajib, khususnya puasa di bulan Ramadhan. Terkabulnya doa orang yang berpuasa disebabkan kuatnya unsur kedekatan diri kepada Allah SWT, mengosongkan jiwa dari perkara mubah dan godaan syahwat. 

Ibadah “lapar” tersebut menghasilkan kolaborasi kuat antara nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga mereka terjaga dari perbuatan dosa dan maksiat. 

Oleh karena itu, orang yang berpuasa hendaklah memanfaatkan moment berpuasa untuk memperbanyak do’a dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT dengan keyakinan terkabulnya doa. Kalimat “sampai ia berbuka” menunjukkan masa terkabulnya doa tidak terikat dengan waktu-waktu tertentu, tetapi detik-detik waktu sepanjang berpuasa sejak terbit fajar sampai matahari terbenam merupakan waktu mustajab. 

Dalam kondisi darurat pandemik Covid 19 saat ini misalnya, doa orang-orang yang berpuasa Ramadan dapat menjadi upaya batin guna melewati wabah ini.Allah yang menguji kualitas syukur dan sabar manusia dengan musibah, maka Dia pula yang mengangkatnya. Allah yang menguji manusia dengan rasa takut, maka Dia pula yang mengangkatnya. Manusia hanya berusaha secara lahir dan bathin, namun hasil usaha milik Allah semata. Untuk itu, umat Islam hendaklah menajamkan usaha dengan doa, karena tidak ada yang dapat menolak turunnya wabah atau melenyapkannya kecuali doa.

Dalam sebuah hadis dari Salman al-Farisi, Rasulullah SAW bersabda, 

“Tidak ada yang dapat menolak qadha' kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah (kualitas) usia kecuali ketaatan.” (Hadis Shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Ramadan adalah momentum umat Islam untuk bersatu melawan Covid 19 dengan doa dalam berbagai kesempatan, secara individu maupun berjemaah. Berdoalah selepas shalat, berdoalah selepas tilawah, berdoalah dalam munajatmu di malam hari, berdoalah bersama keluarga setiap berbuka puasa dan sahur. 

Karena Allah SWT memiliki sifat al Hayyu yang artinya malu, dimana Dia merasa malu jika hamba-Nya mengangkat kedua tangan seraya berdoa kepada-Nya namun Dia tidak mengabulkannya. 

Dalam sebuah hadits dari Salman al-Farisi, Rasulullah SAW bersabda, 

Sesungguhnya Allah Maha Pemalu. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (Hadis Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah) 

Ketiga: Orang Yang Terzalimi

Kalimat “dan doa orang yang terzalimi” merupakan peringatan keras dan ancaman bagi para pelaku kezhaliman baik individu maupun kolektif. Doa orang teraniaya atau yang terzalimi termasuk salah satu doa yang mudah diijabah oleh Allah SWT. Berhati-hatilah, karena diantara dirinya dengan Allah tidak ada hijab. Sumpah, cacian dan kata-kata buruk adalah doa yang didengar Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa: 148)

Oleh karena itu, marilah kita menajamkan usaha dengan berdoa sepanjang bulan suci Ramadhan ini agar Allah SWT segera melenyapkan Covid 19 dari bumi Indonesia khususnya, dan seluruh penjuru dunia pada umumnya. Sekian, semoga bermanfaat. 

Referensi : Doa Yang Tidak Akan Tertolak Allah Swt





Menangis dalam Islam (Bisa Datangkan Pertolongan Allah Swt di Akhirat)

Menangis dalam Islam Bisa Datangkan Pertolongan Allah Swt di Akhirat. Menangis dalam Islam adalah seseuatu yang sama sekali tidak dilarang. Menangis merupakan salah satu ekspresi emosi manusia. Setiap orang bisa menangis, entah itu karena mereka merasakan bahagia, haru ataupun sedih. Ungkapan ekspresi dalam bentuk menangis juga berbeda untuk setiap orang.

Beberapa orang ada yang perlu usaha keras untuk menangis sedangkan yang lainnya sangat mudah menitikkan air mata hanya dengan melihat sesuatu yang iba atau mengharukan.

Pengalaman hidup dan kepribadian seseorang juga sangat mempengaruhi orang dalam mengungkapkan ekspresi menangisnya.

Menangis dalam Islam tidak dilarang. Bahkan, ada hal baik yang akan kita dapatkan jika menangis karena teringat akan dosa-dosa.

Tangisan yang timbul karena takut kepada Allah, bergetar hatinya karena nama Allah, berguncang jiwanya ketika mengingat maksiat dan dosa yang ia lakukan, oleh karena itu inilah tangisan keimanan, tangisan kebahagiaan dan tangisan hanifnya jiwa.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

قال لي النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : ” اقْرَأْ علَّي القُرآنَ ” قلتُ : يا رسُولَ اللَّه ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ ، قالَ : ” إِني أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي ” فقرَأْتُ عليه سورَةَ النِّساء ، حتى جِئْتُ إلى هذِهِ الآية : { فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً } [ النساء / 40 ] قال ” حَسْبُكَ الآن ” فَالْتَفَتَّ إِليْهِ ، فَإِذَا عِيْناهُ تَذْرِفانِ)

“Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”.

Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’.

Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” Rasulullah yang sudah dijamin surga pun menangis ketika mendengar firman Allah Azza Wajalla.  

Adalah suatu musibah bagi kita yang tidak bisa menangis karena mengingat dosa kepadaNya. Ini menunjukkan hatinya keras, tidak bisa tersentuh oleh kebaikan dan hanifnya iman.


Kita perlu tahu bahwa menangis dalam Islam justru sangat dianjurkan karena bisa mendatangkan pertolongan dari Allah SWT di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan, ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah SWT pada hari Kiamat, ketika tiada lagi pertolongan selain pertolongan dari-Nya.

salah satunya adalah orang yang menangis di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, “Takutlah engkau akan doa (termasuk air mata) orang-orang yang dizalimi, sesungguhnya tiada lagi jarak pemisah antara Allah dengan orang tersebut.” (HR At Tirmidzi).

Itulah sebabnya, Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan air mata sebagai “bahasa sehari-hari” tatkala berinteraksi dengan Allah SWT. Tiada sehari pun yang mereka lewatkan tanpa menangis.

Menangis dalam Islam dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat. Mereka bukan menangis karena tak punya harta, kehilangan harta, atau sesuatu yang terkait dengan urusan duniawi.

Mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Tuhannya. Cinta yang bersumber dari kuatnya raja’ (harapan akan ridha dan kasih sayang Allah) yang terpadu dengan khauf (rasa takut akan murka Allah).

Karena efeknya yang sangat dahsyat, mereka pun sangat menjaga sikap dan tingkah lakunya, agar jangan sampai menzalimi orang lain.

Mereka sangat takut jika air mata orang-orang yang terzalimi mendatangkan murka Allah kepadanya. Boleh jadi, inilah yang memotivasi Khalifah Umar bin Khathab untuk memanggul sekarung gandum dari Baitul Mal, ketika dia melihat seorang ibu dan anak-anaknya, yang notabene adalah rakyatnya, kelaparan. Begitu hebat efek dari air mata.

Dilihat dari perspektif ini, tak heran jika menangis dalam Islam dijadikan barometer untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang mengungkapkan keutamaan menangis.

Dalam Alquran misalnya, Allah menyifatkan orang-orang yang berilmu sebagai mereka yang apabila dibacakan ayat-ayat Allah, menyungkurkan muka mereka (bersujud) sambil menangis dan bertambah khusyuk (QS Al Israa’ [17]: 109).

Dalam ayat yang lain, Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis (QS Maryam [19]: 58).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Setiap mata akan menangis di hari kiamat kelak, kecuali mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Allah, serta mata yang berjaga di Jalan Allah.

Tidak salah jika kita mencucurkan air mata. Namun ketahuilah, air mata yang paling berkualitas, adalah air mata yang keluar karena harap dan takut kepada Allah SWT. Menangis dalam Islam yang baik disebabkan takut akan dosa kepada Allah SWT.

Jadi, menangis dalam Islam bukanlah hal yang tercela. Justru jika dilakukan untuk mengingat dosa dan bertaubat kepada Allah SWT, menangis dalam Islam dapat mendatangkan pertolongan Allah SWT.

Referensi : Menangis dalam Islam (Bisa Datangkan Pertolongan Allah Swt di Akhirat)







Air mata Orang Yang Teraniaya

Ilustrasi : Air mata Orang Yang Teraniaya

Mungkin air mata orang yang teraniaya hanyalah air biasa dimata orang yang dzalim. Namun dimata Allah air mata itu bukanlah hal yang remeh. Doa dan air mata mereka adalah petir dan air bah yang akan menenggelamkan orang-orang dzalim.
Allah subhanahu wa ta'ala Berfirman,
وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim.” (Ibrahim: 42)
Setiap mukmin yang memiliki iman dihatinya tidak pernah merasa pesimis dan takut dengan kondisi apapun. Sebesar apapun kedzaliman dan kekejian yang menimpa mereka, tidak akan pernah memalingkan hati mereka dari keimanan kepada Allah. Mereka terus optimis dalam berusaha dan menanti pertolongan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Karena mereka begitu yakin bahwa Allah Swt tidak akan Membiarkan kedzaliman terus berkuasa diatas bumi-Nya. Dan Allah tidak akan Melupakan apa yang telah diperbuat oleh orang-orang yang dzalim.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً
“Dan Tuhan-mu tidak lupa.”(Maryam: 64)

Referensi : Air mata Orang Yang Teraniaya



Air Mata Orang yang Teraniaya

Ilustrasi : Air Mata Orang yang Teraniaya

Mungkin air mata orang yang teraniaya hanyalah air biasa dimata orang yang dzalim. Namun dimata Allah air mata itu bukanlah hal yang remeh. Doa dan air mata mereka adalah petir dan air bah yang akan menenggelamkan orang-orang dzalim.

Allah Swt Berfirman,

وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ 

“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim.” (QS.Ibrahim:42)

Setiap mukmin yang memiliki iman dihatinya tidak pernah merasa pesimis dan takut dengan kondisi apapun. Sebesar apapun kedzaliman dan kekejian yang menimpa mereka, tidak akan pernah memalingkan hati mereka dari keimanan kepada Allah. Mereka terus optimis dalam berusaha dan menanti pertolongan dari Allah swt. Karena mereka begitu yakin bahwa Allah tidak akan Membiarkan kedzaliman terus berkuasa diatas bumi-Nya. Dan Allah tidak akan Melupakan apa yang telah diperbuat oleh orang-orang yang dzalim.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً

“Dan Tuhan-mu tidak lupa.” (QS.Maryam:64). Sayyidina Ali bin Abi tholib pernah berkata, “Berhati-hatilah dengan doa orang yang teraniaya. Karena ia sedang meminta haknya kepada Allah, dan Allah pasti menjawab (doa) orang yang meminta haknya.”

Referensi : Air Mata Orang yang Teraniaya



Air Mata Muslim yang Mengantarkannya ke Allah dan Surga-Nya

Ilustrasi : Air Mata Muslim yang Mengantarkannya ke Allah Swt dan Surga-Nya

Air Mata Muslim yang Mengantarkannya ke Allah dan Surga-Nya. Air mata tangisan hamba karena takut kepada Allah SWT berbuah surga. Air mata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan Tuhannya. Betapa tidak, tetesan air mata di jalan Allah SWt bisa memadamkan kobaran api neraka.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah.”

Air mata bisa mendatangkan pertolongan Allah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah pada hari Kiamat, ketika tiada lagi pertolongan selain pertolongan dari-Nya. 

Salah satunya adalah orang yang menangis di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, “Takutlah engkau akan doa (termasuk air mata) orang-orang yang dizalimi, sesungguhnya tiada lagi jarak pemisah antara Allah dengan orang tersebut.” (HR At Tirmidzi).  

Itulah sebabnya, Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan air mata sebagai “bahasa sehari-hari” tatkala berinteraksi dengan Allah SWT. Tiada sehari pun yang mereka lewatkan tanpa menangis.

Menangis bukan karena tak punya harta, kehilangan harta, atau sesuatu yang terkait dengan urusan duniawi. Mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Tuhannya. Cinta yang bersumber dari kuatnya raja' (harapan akan ridha dan kasih sayang Allah) yang terpadu dengan khauf (rasa takut akan murka Allah).

Karena efeknya yang sangat dahsyat, mereka pun sangat menjaga sikap dan tingkah lakunya, agar jangan sampai menzalimi orang lain. 

Mereka sangat takut jika air mata orang-orang yang terzalimi mendatangkan murka Allah kepadanya. Boleh jadi, inilah yang memotivasi Khalifah Umar bin Khathab untuk memanggul sekarung gandum dari Baitul Mal, ketika dia melihat seorang ibu dan anak-anaknya, yang notabene adalah rakyatnya, kelaparan. Begitu hebat efek dari air mata.

Dilihat dari perspektif ini, tak heran air mata menjadi dijadikan barometer untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang mengungkapkan keutamaan menangis. 

Dalam Alquran misalnya, Allah menyifatkan orang-orang yang berilmu sebagai mereka yang apabila dibacakan ayat-ayat Allah, menyungkurkan muka mereka (bersujud) sambil menangis dan bertambah khusyuk (QS Al Israa' [17]: 109).

Dalam ayat yang lain, Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis (QS Maryam 19: 58).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Setiap mata akan menangis di hari kiamat kelak, kecuali mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Allah, serta mata yang berjaga di Jalan Allah Swt.

Tidak salah jika kita mencucurkan air mata. Namun ketahuilah, air mata yang paling berkualitas, adalah air mata yang keluar karena harap dan takut kepada Allah SWT.

Referensi : Air Mata Muslim yang Mengantarkannya ke Allah Swt dan Surga-Nya



Perkataan Baik/Bijak Untuk Orang Yang Menzalimi Orang Lain

Ilustrasi : Perkataan Baik/Bijak Untuk Orang Yang Menzalimi Orang Lain

Sebaik apapun kita, pasti akan ada saja orang yang tidak suka karena begitulah hidup selalu ada hitam dan putih. Kita tidak akan bisa mengendalikan persepsi orang tentang kita, tetapi kita bisa mengendalikan diri kita untuk tidak terlalu bereaksi lebih tentang bagaimana orang menilai kita lewat kata bijak untuk orang yang menzalimi kita. Orang yang zalim terkadang hanya iri dengan apa yang orang lain miliki. Sehingga, ia akan menyebarkan berita-berita negatif untuk membuat orang membenci kita.

Hal-hal ini tentu sering membuat seseorang kecewa, sakit hati dan sedih. Bahkan, rasanya sulit untuk memberikan reaksi terhadap hal buruk yang orang lain lakukan pada kita. Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak perlu membalas perbuatannya dengan hal yang sama. Tetapi, kita bisa mencoba menyadarkan mereka lewat kata bijak untuk orang yang menzalimi kita. Nah, berikut adalah beberapa kumpulan kata bijak sebagai. Balasan menzalimi orang lain :

1. Lebih baik direndahkan karena kejujuran daripada dibanggakan dengan kebohongan.

2. Memaafkan, Kadang-kadang bukan karena kita terlalu baik tetapi kerana hati tak mampu lagi diisi dengan kebencian. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan buruk sangka sesama kita.

3. “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu.” Ali bin Abi Thalib.

4. Jangan sesekali belajar melupakan. Cobalah ganti dengan memaafkan; bonusnya biasanya lupa begitu saja tanpa direncanakan.

5. “Memaafkan orang yang telah mendzalimi dan menyakiti kita adalah menolong diri kita sendiri agar kita bisa melepaskan diri dari rasa maraha, kecewa, benci dan dendam.” – Muhamad Agus Syafii

6. “Ketika kita memaafkan oranglain, sesungguhnya kita telah membiarkan luka hati kita sembuh dengan lebih cepat.” – Daudantonius

7. Memaafkan adalah kunci untuk memutuskan rantai kebencian.

8. Kamu memaafkan seseorang bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu cukup kuat tuk tahu bahwa tak ada yg sempurna, mereka bisa lakukan salah. 

9. “Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kau harus bersabar dengan apa yang Kau benci.” – Imam Ghazali.

10. “Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.” -Abu Bakar Sibli.

11. Bukan masalah benar atau salah. Masalahnya adalah kamu yang merasa paling benar sendiri.

12. Teman dan musuh itu memang terkadang tidak ada perbedaan, ada kalanya dia mendukungmu tapi juga ada kalanya dia justru menusukmu dari belakang”.

13. Hati-hati dengan mereka yang tak pernah sesuai antara ucapan dan tindakan.

14. Jika ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Kamu pasti orang paling bahagia di planet ini.

15. Jadilah orang kecil yang berpikir besar. Jangan jadi orang besar yang selalu berpikir kecil dan sempit.

16. Kamu terdengar lebih baik dengan mulut tertutup.

17. Aku lebih baik tidak memiliki teman daripada aku punya teman, tetapi mereka diam-diam membenciku.

18. Jika karma tidak memukulmu, dengan senang hati aku akan melakukannya.

19. Sekali-kali bolehlah menjadi orang yang jahat karena menjadi orang baik terus malah dimanfaatin sama teman sendiri.

20. Kurasa aku butuh kacamata. Ke manapun aku memandang, orang-orang selalu terlihat punya dua wajah.

21. Ketika ada seseorang yang dengan sengaja mengkhianati kita di masa lalu. Ketika ia datang kembali untuk meminta maaf. Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya.

22. Cara terbaik menghukum orang yang telah melakukan kesalahan terhadap kita ialah dengan berbuat baik kepadanya.

23. Jangan sesekali belajar melupakan. Cobalah ganti dengan memaafkan; bonusnya biasanya lupa begitu saja tanpa direncanakan.

24. Bersukurlah jika ada yang memberi luka dan air mata, karena dari merekalah kita belajar memaknai arti ketuluan dalam mengampuni dan melupakan.

25. Memaafkan memang takan mengubah MASA LALU, tapi pasti akan mempermudah MASA DEPAN.

26. Memaafkan adalah bentuk cinta terbaik. Ia memerlukan pribadi yang kuat untuk mengatakan maaf dan seorang pribadi bahkan lebih kuat untuk mengampuni.

27. Sesungguhnya memaafkan adalah perilaku membebaskan dirimu sendiri dari perasaan dan pikiran buruk.

28. Memaafkan adalah proses pembangunan kekuatan. Maafkanlah orang yg telah melukaimu, jadilah keperibadian yang kuat dan penyayang.

Kata bijak untuk orang yang menzalimi kita ini sangat cocok kalian jadikan balasan bagi mereka yang membenci. Tidak perlu ikut membalas dengan hal yang sama seperti mereka. Cukup doakan dan sadarkan mereka untuk bisa lebih bijak dan dewasa dalam bersikap. Dengan begini, hidup kalian pun akan lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh dengan opini orang lain.

Referensi : Perkataan Baik/Bijak Untuk Orang Yang Menzalimi Orang Lain


Allah Swt Hukum Orang Zalim Sejak di Dunia dengan Kegelapan Hati

Ilustrasi ; Allah Swt Hukum Orang Zalim Sejak di Dunia dengan Kegelapan Hati

Allah Swt Hukum Orang Zalim Sejak di Dunia dengan Kegelapan Hati. Banyak orang karena kekuasaan dan kemampuannya menjadi zalim terhadap sesama, bahkan banyak orang yang berkuasa menjadi seenaknya memanfaatkan kekuasaannya menzalimi rakyatnya.

Biasanya, orang atau penguasa yang zalim secara tidak sadar terus melakukan kezalimannya kepada rakyatnya. Mereka sebenarnya sedang memupuk hatinya dengan tirai kegelapan  yang semakin tebal sehingga akan semakin zalim.

Ketahuilah orang yang berbuat zalim sudah dihukum Allah di dunia dengan kegelapan yang hakiki. Yaitu kegelapan hati yang membuat hati itu buta, dimana ia melihat perkara yang mungkar menjadi ma’ruf, yang ma’ruf menjadi mungkar, tidak menerima nasehat, tidak bisa mengambil manfaat dari petunjuk Allah & Rasul-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنﱠ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ   

“Jagalah diri kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat”.(Hadits Shahih, Riwayat Ahmad. Lihat Shahiihul jaami’ No.101).  Hadist ini berisi peringatan dan bahaya perbuatan zalim sekaligus anjuran untuk berbuat adil (lawan dari zalim).  Definisi zalim adalah memposisikan sesuatu bukan pada tempatnya. Perlu diketahui -- Islam tidak mengajarkan kezaliman. Akan tetapi Islam mengajarkan keadilan.

Sebagaimana firman Allah  :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(QS. An-Nahl: 90).

Bahkan Allah menafikkan sifat zalim pada diriNya dan melarang hambaNya dari hal tersebut. Sebesar-besar zalim adalah perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman:13).

Dan sebesar-besar perbuatan adil adalah mentauhidkan Allah, baik dalam hal Rububiyah, Uluhiyah, maupun Asma wa Sifat. Disini kita bisa simpulkan bahwa para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mengajarkan keadilan  (yaitu tauhid) bukan kezaliman (yaitu syirik.).

Termasuk larangan adalah berbuat zalim terhadap orang lain. Mungkin di dunia si pelaku bisa bebas berbuat zalim karena merasa memiliki kekuatan dan kemampuan. Namun, di akhirat kelak, kekuasaan dan kekuatan secara mutlak hanya milik Allah semata.

Allah Swt lah yang akan menegakkan keadilan diantara hamba-hambaNya yang berbuat zalim. Yaitu dengan mengurangi pahala amalannya dan dipindah ke amalan pihak yang dizalimi sebagai balasan atas perbuatannya. Bila masih kurang, amalan buruk orang yang dizalimi akan berpindah padanya. Sungguh betapa gelap perasaannya di saat hal itu terjadi. 

Referensi : Allah Swt Hukum Orang Zalim Sejak di Dunia dengan Kegelapan Hati


5 Wasiat Rasulullah Muhammad SAW tentang Larangan Berbuat Zalim

Ilusrasi : 5 Wasiat Rasulullah Muhammad SAW tentang Larangan Berbuat Zalim

Wasiat Rasulullah SAW tentang Larangan Berbuat Zalim. asulullah SAW mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan zalim. Umat Islam telah dilarang untuk berbuat zalim agar tak merugikan dirinya dan orang lain. Hal ini juga telah diperingatkan Nabi Muhammad ﷺ.

Pertama:  

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Seorang Muslim dengan Muslim yang lain adalah bersaudara. Dia tidak boleh berbuat zalim dan aniaya kepada saudaranya yang Muslim. 

Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan seorang Muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak." (HR Muslim).

Kedua: 

 أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ رواه مسلم

“'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan sholat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun dia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. 

Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Ketiga:  

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

"Hindarilah kezaliman, karena kezaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." (HR Muslim)

Keempat:

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ "Siapa yang pernah berbuat aniaya sejengkal saja (dalam perkara tanah) maka nanti dia akan dibebani (dikalungkan pada lehernya) tanah dari tujuh bumi." (HR Bukhari)

Kelima:

 قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

"Allah Ta'ala berfirman, “Ada tiga jenis orang yang aku berperang melawan mereka pada hari kiamat, seseorang yang bersumpah atas namaku lalu mengingkarinya, seseorang yang berjualan orang merdeka lalu memakan (uang dari) harganya dan seseorang yang mempekerjakan pekerja kemudian pekerja itu menyelesaikan pekerjaannya namun tidak dibayar upahnya." (HR Bukhari).


Referensi : 5 Wasiat Rasulullah SAW tentang Larangan Berbuat Zalim



Allah Swt Tak Akan Pernah Melupakan Tindakan Orang Zalim

Allah Swt Tak Akan Pernah Melupakan Tindakan Orang Zalim

Allah Swt Tak Akan Pernah Melupakan Tindakan Orang Zalim. DI sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. 

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Sangat disayangkan, nyawa seorang muslim harus hilang untuk sesuatu yang sangat tidak jelas.

Semua bisa memberikan keterangan apapun mengenai kejadian yang sedang ramai di masyarakat, namun kita perlu menyadari, semua disaksikan oleh Allah. Kami tidak bisa memberikan nasehat apapun selain ingin kami sampaikan, “Allah tidak pernah melupakan tindakan orang dzalim.”

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Dan bisa jadi, hukuman itu Allah segerakan di dunia…

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, disamping masih ada hukuman di akhirat, selain dosa dzalim dan memutus silaturrahmi. (HR. Turmudzi 2700, Abu Daud 4904 dan dishahihkan al-Albani), wallahu a’lam.

Referensi : Allah Swt Tak Akan Pernah Melupakan Tindakan Orang Zalim




Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi

Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi

Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi. Dalam kitab al-Shumt wa Adab al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya mencatat sebuah riwayat tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan seorang yang mengadu kepadanya. Berikut riwayatnya: 

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَيُّوبَ، حَدَّثَنَا ضَمْرَةُ، عَنِ ابْنِ شَوْذَبٍ، قَالَ: دَخَلَ رَجُلٌ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَجَعَلَ يَشْكُو إِلَيْهِ رَجُلًا ظَلَمَهُ، وَيَقَعُ فِيهِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّكَ إِنْ تَلْقَى اللَّهَ وَمَظْلَمَتُكَ كَمَا هِيَ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ وَقَدِ انْتَقَصْتَهَا

Ibrahim bin Sa’id bercerita kepadaku, Musa bin Ayyub bercerita, Dlamrah bercerita, dari Ibnu Syaudzab, ia berkata:

 “Seseorang masuk ke (kediaman) Umar bin Abdul Aziz radliyallahu ‘anhu, lalu mengadu kepadanya bahwa ada seseorang yang menzaliminya. Ia pun mencaci maki orang yang menzaliminya tersebut.”

Umar bin Abdul Aziz radliyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya jika kau berjumpa Allah dalam keadaan terzalimi lebih baik daripada kau berjumpa dengan-Nya dalam keadaan mencaci maki orang (lain) yang menzalimimu.” (Imam Ibnu Abi Dunya).

Cara pandang kita saat mengalami kezaliman perlu diubah, apalagi jika kezaliman itu kita laporkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita sering mendengar doa orang terzalimi itu mustajab, tapi dalam melakukannya kita harus tetap berpegang teguh pada akhlak. Karena kita sedang berdoa kepada Allah, Tuhan yang Mahabaik, yang dalam salah satu firman-Nya mengatakan (QS. Al-Hujarat: 11): 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mencemooh (mengolok-ngolok) kaum lainnya, bisa jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka, dan janganlah sekumpulan wanita mencemooh kumpulan wanita lainnya, bisa jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ayat di atas adalah etika pergaulan sosial yang dikehendaki Allah untuk manusia. Jangan saling mencemooh, mencela, memaki, mengolok-olok dan mengejek, karena kita tidak tahu kedudukan mereka di sisi Allah. Jangan pula memanggil dengan panggilan yang mengandung ejekan. Bagi Allah, panggilan tersebut adalah seburuk-buruknya panggilan, dan Allah menghendaki mereka bertobat jika terlanjur melakukannya. Jika tidak, mereka termasuk orang-orang yang zalim. 

Artinya, ketika seseorang mengadukan orang yang menzaliminya kepada Allah, lalu mencaci makinya, ia telah terlepas dari rambu-rambu etika yang dikehendaki Allah. Karena itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa risih saat mendengar aduan rakyatnya. Karena dalam aduannya, ia memasukkan cacian dan makian, meski yang diadukan adalah orang yang menzaliminya. Oleh sebab itu, ia mengatakan, “sesungguhnya jika kau berjumpa Allah dalam keadaan terzalimi lebih baik daripada kau berjumpa dengan-Nya dalam keadaan mencaci maki orang yang menzalimimu.”

Hal penting lainnya adalah, sebelum kita menganggap diri kita terzalimi, kita harus periksa diri kita terlebih dahulu. Kita harus amati rangkaian peristiwa yang kita anggap kezaliman itu. Kita perlu mempertanyakan, apakah kezaliman yang menimpa kita murni karena kezaliman pelakunya, atau kita turut berperan serta dalam rantai kezaliman tersebut. Karena manusia itu makhluk perasa yang sering tak merasa, seakan-akan perasaan hanya berguna ketika dizalimi, tapi tidak ketika menzalimi. Kita lebih mampu merasakan hinaan kepada kita daripada hinaan kita kepada orang lain.

Belum lagi jika kebencian sudah merasuk, hinaan dan cacian akan berkembang sedemikian rupa menjadi fitnah dan laknat. Jika itu sudah terjadi, hati kita akan gelap, tidak bisa lagi memandang kebaikan orang yang kita benci. Kita hanya bisa melihat kesalahan dan keburukannya. Tentu saja ini berbahaya, karena kita perlahan-lahan lupa bahwa yang sedang kita pandang adalah manusia biasa, bukan nabi yang maksum. Artinya, ada kebaikan yang pernah dilakukannnya, dan ada pula keburukan yang pernah dilakukannya. Tapi, ketika kita sudah dibutakan oleh benci, kebaikan dilihat dengan curiga, dan keburukan dilihat dengan selera. Pada akhirnya, laknat terlempar dengan sengaja. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat melarangnya. Beliau bersabda (HR. Imam Abu Dawud dan Imam al-Tirmidzi):

 لا تَلاعنُوا بلعنةِ اللَّه، ولا بِغضبِهِ، ولا بِالنَّارِ

“Janganlah kalian saling laknat-melaknati dengan menggunakan (ucapan) laknat Allah, jangan pula dengan (ucapan) murka Allah, dan jangan pula dengan (ucapan) masuk neraka.”

Di samping itu, jika kita bicara pengamalan agama dalam tataran ideal, orang yang terzalimi memiliki peluang amal yang tidak dimiliki orang lain, yaitu memaafkan meski belum dimintai maaf. Menggunakan cara pandang ini, orang yang sedang dizalimi laiknya orang yang berdiri di depan pintu amal. Ia memiliki kesempatan yang tidak semua orang punya. Tergantung ia mau memasukinya atau tidak. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Abi Dunya): 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan (di surga), dan diangkat derajatnya, hendaklah ia memaafkan orang yang menzaliminya, memberi orang yang membakhilinya, dan menyambung silaturahmi pada orang yang memutuskannya.” (Imam Ibnu Abi Dunya, Makârim al-Akhlâq, h. 332).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda (HR. Imam Ibnu Syahin):

 إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ: أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ

 الْجَنَّةَ “Di saat hari kiamat kelak, ada pemanggil yang (tugasnya) menyeru, lalu ia berkata: 'Di manakah para pemaaf yang memaafkan orang lain?' Kemarilah menuju Tuhan kalian, ambillah pahala kalian. Dan (sudah menjadi) hak setiap muslim jika ia memaafkan, Allah akan memasukkannya ke surga.” (Imam Ibnu Syahin, al-Targhîb fî Fadlâ’il al-A’mâl wa Tsawâb Dzalik, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2004, h. 149) 

Artinya, kita memiliki pilihan ketika dizalimi, mengadukannya kepada Allah dengan berdoa, atau memberi maaf. Semuanya berada di tangan kita. Yang terpenting adalah, kita harus menghindari cacian, makian, dan celaan dalam menjalankannya. Sebelum membuat pilihan, kiranya perlu kita renungkan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini (HR. Imam al-Tirmidzi): 

لَيْس المؤمِنُ بِالطَّعَّانِ، ولا اللَّعَّانِ ولا الفَاحِشِ، ولا البذِيِّ 

“Bukanlah orang yang beriman, (karena) sebab kesukaannya mencela (orang lain), melaknat (orang lain), berbuat keji, dan berkata kotor.” 

“Bukanlah orang yang beriman, (karena) sebab kesukaannya mencela (orang lain), melaknat (orang lain), berbuat keji, dan berkata kotor.” Semoga kita terselamatkan dari kebencian yang membabi buta.

Referensi : Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi