This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 19 Agustus 2022

Berbakti kepada orang tua haruslah mengindahkan dua kaidah syar’iyyah

Berbakti kepada orang tua haruslah mengindahkan dua kaidah syar’iyyah

Dalil-dalil dalam Al Quran dan As Sunnah yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Dan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang agung kedudukannya dalam Islam, serta durhaka kepada orang tua adalah dosa yang besar.

Namun pembaca yang budiman, rahimakumullah, bukan berarti taat dan berbakti kepada orang tua itu tanpa batasan. Tidak berarti orang tua adalah pihak yang harus kita taati dalam segala hal dan segala keadaan. Pada bahasan kali ini akan kami paparkan batasan-batasan berbakti kepada orang tua.

Kaidah pertama:

حب الله و رسوله أعظم

“Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya itu yang paling besar (dari yang lain)”

Betapapun cinta kita kepada orang tua, betapapun besarnya bakti kita kepada orang tua, tidak boleh melebihi cinta dan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih besar dari yang lain. Sehingga tidak boleh kita dalam berbakti kepada orang tua malah melakukan hal-hal yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ولا يُؤمِنُ أحَدُكم حتى أكونَ أحَبَّ إليه من وَلَدِهِ، ووَالِدِهِ والنَّاسِ أجْمعينَ

Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku (Rasulullah) menjadi yang paling dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia (HR. Bukhari no. 15, Muslim no. 44).

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ طَعْمَ الإيمانِ: مَن كانَ يُحِبُّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، ومَن كانَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِواهُما، ومَن كانَ أنْ يُلْقَى في النَّارِ أحَبَّ إلَيْهِ مِن أنْ يَرْجِعَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ اللَّهُ منه

Tiga jenis orang yang jika termasuk di dalamnya maka seseorang akan merasakan lezatnya iman: orang yang mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya paling ia cintai daripada selain keduanya, dan orang yang dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada ia kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan ia dari kekufuran” (HR. Bukhari no. 6041, Muslim no.43).

Kaidah kedua:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.”

Maka taat kepada orang tua itu tidak mutlak dalam segala perkara dan setiap keadaan. Ketaatan kepada orang tua hanya dalam perkara yang ma’ruf. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di:

المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

“Al ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

Maka jika orang tua memerintahkan perkara yang membahayakan diri orang tua, atau membahayakan diri sang anak, atau bukan perkara yang dianggap bagus oleh akal sehat, perkara yang memalukan, perkara yang menjatuhkan wibawa, dan semisalnya ketika itu tidak wajib taat kepada orang tua.

Beberapa perkara yang bukan durhaka kepada orang

Jika telah dipahami dua kaidah agung di atas, maka ketahuilah ketika seorang anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tua karena terjadi pelanggaran pada dua kaidah di atas, ini bukanlah durhaka kepada orang tua. Berikut ini beberapa contoh kasus yang banyak disangka sebagai durhaka kepada orang tua, namun bukan kedurhakaan dalam pandangan syariat.

1. Tidak taat orang tua ketika diperintahkan maksiat

Tidak boleh seorang anak taat kepada orang tuanya dalam perkara maksiat. Ketika seorang anak tidak taat ketika itu, tidak dianggap sebagai durhaka kepada orang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Maksudnya, jika kedua orang tua berupaya sepenuh tenaga untuk membuatmu mengikuti agama mereka yang kufur, maka jangan ikuti mereka berdua. Namun hal ini tidak boleh menghalangimu untuk tetap mempergauli mereka dengan ma’ruf di dunia, yaitu dengan baik. Dan tetaplah ikuti jalannya kaum yang beriman.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Ayat di atas turun terkait dengan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu. Ummu Sa’ad (ibunya Sa’ad) bersumpah tidak akan berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa’ad murtad dari ajaran Islam. Ummu Sa’ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya berkata, “Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini”. Kemudian selama tiga hari Ummu Sa’ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa’ad untuk kufur. Sebagai seorang anak Sa’ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. Namun turunnya ayat tersebut semakin menambah keimanan Sa’ad dan semakin jauhnya ia dari kemurtadan. Dan ia pun tetap berbuat baik kepada ibunya hingga akhirnya ibunya mau kembali makan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Mendengar dan ta’at (kepada penguasa) itu memang benar, selama mereka tidak diperintahkan kepada maksiat. Jika mereka memerintahkan untuk bermaksiat, tidak boleh mendengar dan ta’at.” (HR. Bukhari no.2955).

Ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf. Perkara ma’ruf adalah perkara yang dianggap baik oleh akal sehat, atau adat istiadat dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam sebuah hadits dari ‘Ali radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu pasukan dan mengangkat seorang laki-laki sebagai panglima mereka. Kemudian panglima itu menyalakan api dan berkata (kepada pasukannya): “Masuklah kamu ke dalam api!” Sebagian pasukan berkehendak memasukinya, orang-orang yang lain mengatakan,”Sesungguhnya kita lari dari api (neraka),” kemudian mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau bersabda kepada orang-orang yang berkehendak memasukinya, “Jika mereka memasuki api itu, mereka akan terus di dalam api itu sampai hari kiamat”. Dan beliau bersabda kepada yang lain,”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

2. Meninggalkan ta’ashub jahiliyah

Diantara ta’ashub jahiliyah adalah fanatik golongan; membela keluarga, suku, marga, trah, walaupun di atas kesalahan. Ketika seseorang tidak ikut membela, maka itu bukan durhaka kepada orang tua. Namun karena takut kepada Allah dan mengharap ridha-Nya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata:

– كنا في غزاة – قال سفيان مرة : في جيش – فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال الأنصاري : يا للأنصار ، وقال المهاجري : يا للمهاجرين ، فسمع ذاك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : (ما بال دعوى جاهلية ) . قالوا : يا رسول الله ، كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال : (دعوها فإنها منتنة)

Suatu ketika di Gaza, (sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku).’ Orang muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian karena yang demikian adalah perbuatan busuk.’” (HR. Al Bukhari no.4905).

Dari Jundub bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قُتِلَ تحتَ رايةٍ عميّةٍ ، يدعو عصبيّةً ، أو ينصُر عصبيّةً ، فقتلةٌ جاهلية

Barangsiapa yang mati di bawah bendera fanatik buta, ia mengajak pada (ashabiyyah) fanatik golongan, atau membantu untuk berfanatik golongan, maka ia mati secara Jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 1850).

Dari Watsilah bin Al Asqa’, ia mengatakan:

سألْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقلْتُ: يا رسولَ اللهِ، أَمِنَ العصَبيَّةِ أنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَومَه؟ قال: لا، ولكنْ مِنَ العصَبيَّةِ أنْ يَنصُرَ الرَّجُلُ قَومَه على الظُّلْمِ

Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “wahai Rasulullah apakah termasuk ashabiyyah (fanatik golongan) jika seseorang mencintai kaumnya?”. Nabi menjawab: “Tidak demikian, namun ashabiyyah itu kalau dia membela kaumnya di atas kezaliman.”” (HR. Ahmad no.16989, dihasankan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Al Musnad).

3. Bersaksi kebenaran yang memberatkan orang tua

Ketika seorang anak menjadi saksi atas tuduhan yang dijatuhkan kepada orang tuanya, maka wajib baginya untuk tetap jujur dalam bersaksi. Ketika persaksiannya justru memberatkan orang tua, maka tidak dianggap sebagai durhaka kepada orang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An Nisa: 135).

Selain itu, persaksian palsu itu merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30).

As Sa’di menjelaskan: “Maksudnya, jauhi semua perkataan yang haram karena semua itu termasuk perkataan dusta, dan termasuk di dalamnya persaksian palsu.” (Tafsir As Sa’di).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ

“dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu.” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Kaidah ini juga berlaku ketika menyelesaikan persengketaan antara orang tua dan orang lain.

4. Tidak taat orang tua ketika diperintahkan untuk menceraikan istri

Apakah seorang suami wajib menceraikan istrinya jika orang tuanya memerintahkan untuk menceraikan istrinya?

Jawabnya, perlu dirinci. Jika orang tuanya adalah orang yang shalih dan alasan mereka memerintahkan untuk bercerai adalah alasan yang dibenarkan syari’at, maka wajib untuk ditaati.

Diantara dalilnya adalah kisah Nabi Ismail dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam Shahih Bukhari: “Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk mengetahui kabarnya, namun dia tidak menemukan Ismail. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada istri Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Istri Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya; “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk yang tinggal di sekitar itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah. Setelah itu, Ibrahim datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?” Dia bertanya kepada istrinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup.” Istri Ismail juga memuji Allah. Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?” Istri Ismail menjawab, “Daging.” Ibrahim bertanya lagi, “Apa minuman kalian? Istri Ismail menjawab, “Air.” Maka Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”.

Ibrahim selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya”.

Ketika Ismail datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya.” Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu.” (HR. Bukhari).

Namun jika orang tua bukanlah orang yang shalih, atau alasan permintaan cerai mereka bukan alasan yang dibenarkan syari’at maka tidak wajib menaatinya. Dan ini bukan durhaka kepada orang tua. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al Kahfi: 28).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya mengenai lelaki yang sudah menikah, punya beberapa anak, namun ibunya tidak suka dengan istrinya dan memintanya untuk menceraikan istrinya. Maka Ibnu Taimiyah menjawab: “tidak halal baginya untuk menceraikan istrinya sekedar karena perintah ibunya. Namun wajib baginya untuk tetap berbuat baik pada ibunya, namun bukan dengan cara menceraikan istrinya.” (Majmu Al Fatawa, 33/112).

5. Tidak taat orang tua dalam masalah pemilihan calon pasangan

Orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anaknya dalam masalah pemilihan calon pasangan. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari – Muslim).

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadits ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).

Demikian pemaparan yang singkat ini, semoga Allah ta’ala merahmati orang tua kita semua dan memberikan kita hidayah untuk bisa berbakti kepada mereka dengan baik.

QS. Al-Baqarah [2] : 124`Ibn Katsir

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Kementrian Agama : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Referensi : Berbakti kepada orang tua haruslah mengindahkan dua kaidah syar’iyyah

Ancaman Allah Swt Untuk Orang Dzalim

Ilustrasi : Ancaman Allah Swt Untuk Orang Dzalim

Ancaman Allah untuk Orang Dzalim. Salah satu tanda akhir zaman adalah kejahatan yang semakin merata dan kedzoliman yang semakin merajalela. Hati manusia seakan tak memiliki penghalang untuk menindas sesama. Apa yang telah terjadi? Apa yang sebenarnya dicari? Tidak semua orang berniat untuk mendzolimi atau menyakiti seseorang, tapi mereka yang menjadi korban selalu merasakan. Lalu, apa ancaman Al-Qur’an kepada orang-orang yang dzolim?

Apa ancaman Allah kepada mereka?

Membencinya

وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ -٥٧-

“Dan Allah tidak menyukai orang zalim.” (Ali Imran 57, 140 dan Asy-Syura 40)

Memusuhinya

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ -١٨-

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.” (Huud 18)

Ancaman Neraka

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ -٢٢-

(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (Ash-Shaffat 22)

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَباً -١٥-

“Dan adapun yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahannam.” (Al-Jinn 15)

Mengharamkan Syafaat Bagi Mereka

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ -١٨-

“Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya).” (Ghofir 18)

Ancaman dengan Siksaan di Dunia

 فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا -٥٢-

“Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka.” (An-Naml 52)

وَسَكَنتُمْ فِي مَسَـاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ -٤٥-

“Dan kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah Berbuat terhadap mereka.” (Ibrahim 45)

Sulitnya Sakaratul Maut

 وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ -٩٣-

“(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” (Al-An’am 93)

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً -٢٧-

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (Al-Furqon 27)

Allah Tidak Akan Melupakan Perbuatan Mereka Walau Tidak Langsung Menurunkan Siksaan.

 وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ -٤٢-

“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah Menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Ibrahim 42).

Referensi : Ancaman Allah Swt Untuk Orang Dzalim



Janji Allah Swt Terhadap Orang Zalim, Menjadi Peringatan dan Ancaman

Ilustrasi Ceramah : Janji Allah Swt Terhadap Orang Zalim, Menjadi Peringatan dan Ancaman

Janji Allah Terhadap Orang Zalim, Menjadi Peringatan dan Ancaman. Janji Allah terhadap orang zalim tentunya menjadi warning bagi kita. Karena janji Allah tersebut berada dalam Al-Qur’an.

Pada setiap kehidupan umat manusia, kenyataannya kezaliman selalu hadir serta tidak bisa kita lepaskan ketika melakukan interaksi terhadap sesama.

Meskipun menjadi suatu hal yang dilarang, tetapi dalam kehidupan sekarang ini perbuatan tersebut seolah sudah menjadi kebiasaan.

Padahal sebenarnya zalim merupakan perbuatan yang Islam larang. Meskipun sudah mempunyai akal daripada ciptaan Allah yang lainnya, hal tersebut seolah menjadi titik kebodohan manusia.

Mengapa demikian? Karena terkadang manusia mengetahui bahwa hal tersebut menjadi sesuatu yang sifatnya terlarang. Namun, tetap saja melakukannya.

Agama Islam merupakan agama yang sempurna. Apa yang kita lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi, dari hal kecil sampai besar, memiliki aturan yang harus benar-benar kita perhatikan.

Tanpa memperhatikan tersebut, akan menjadikan kehidupan kita tidak tertata atau tak sesuai dengan syariat Islam.

Tidak hanya itu saja, melainkan bisa menyebabkan kita menjadi penghuni neraka. Ketahuilah ternyata salah satu tanda akhir zaman itu ialah adanya kejahatan serta kezaliman yang merajalela.

Seakan hati manusia tidak mempunyai penghalang guna menindas sesama. Jika mereka sudah berbuat demikian, tahukah Anda apa yang sebenarnya mereka cari?

Apa juga yang akan terjadi kepada mereka? Padahal mereka itu sama-sama Islam. Bukankah sesama muslim itu bersaudara?

Tapi ternyata Allah tidak diam saja melihat perbuatan umatnya. Sebab, Allah juga mempunyai janji kepada orang-orang yang suka berbuat zalim. Apabila Anda belum mengetahui janji-janji tersebut, berikut ini penjelasan lengkapnya.

Allah Membenci

Untuk janji terhadap orang zalim yang pertama, bersiaplah bahwa Allah akan membenci kita.

Apabila kita berbuat zalim terhadap sesama, seakan tidak memiliki rasa terimakasih kepada Allah yang sudah memberikan segala kehidupan serta kebutuhan di dunia ini. Padahal kita sendiri terkadang kepada orang lain saja mempunyai sifat tidak enakan.

Lantas, paham dan mengetahui jika zalim merupakan perbuatan yang terlarang, untuk apa kita masih melakukannya?

Mungkin ketika di dunia, hal tersebut menguntungkan. Tapi ingatlah bahwa CCTV Allah berada dimana-mana dan terus mengintai perbuatan kita tanpa jeda.

Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 57 juga menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim.

Selain janji Allah, hal ini juga menjadi kerugian yang akan menimpa kita. Apabila Allah saja sudah membenci kita, siapa yang akan mengabulkan doa-doa kita?

Neraka Jahanam

Janji Allah terhadap orang zalim selanjutnya yaitu akan mendapatkan balasan berupa neraka. Terkadang kita mendengar bahwa neraka merupakan tempat paling hina.

Di dalamnya terdapat api yang menyala-nyala dan tidak akan padam. Tidak hanya itu saja gambaran tentang neraka. Bahkan bahan baku yang menyebabkan api tersebut menyala-nyala adalah manusia.

Hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang sifatnya sangat mencekam, menakutkan, serta menyeramkan. Jika ditanya, tidak ada satu pun manusia yang ingin menjadi penghuni neraka bukan?

Bila memang tidak ada satu pun orang yang ingin menjadi penghuni neraka, tetapi mengapa sampai saat ini masih berbuat zalim kepada saudara sendiri?

Terkadang manusia juga susah untuk dipercaya. Buktinya saja, mulutnya mengatakan tidak ingin menjadi penghuni neraka, tetapi niatnya malah menzalimi saudaranya.

Sebagaimana dalam Al-Quran surat As Saffat ayat 22-23. “Allah memberikan perintah kepada malaikat, Kumpulkanlah orang-orang yang berbuat zalim serta teman sejawat mereka. Dan tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka”.

Memusuhi Orang Zalim

Janji Allah terhadap orang zalim sudah bisa kita lihat dalam Al-Quran surat Hud ayat 18. Artinya adalah “Ingatlah bahwa laknat Allah akan ditimpakan kepada mereka yang berbuat zalim”.

Dengan begitu, sekolah kita dengan Allah sudah membuka pintu permusuhan. Kita juga terlalu bodoh karena sudah melakukan perbuatan yang terlarang.

Syafaat Haram

Untuk Anda yang berbuat zalim, jangan harap syafaat. Sebab dalam Al-Quran surat Ghafir ayat 18, termasuk dalam janji Allah terhadap orang yang zalim.

Arti surat tersebut adalah “Tidak akan ada seorang teman setia bagi mereka yang berbuat zalim, dan tidak ada pula bagi mereka seorang penolong yang diterima pertolongannya tersebut”.

Nantinya orang zalim tidak akan mendapatkan syafaat dari siapapun. Hal tersebut sudah menjadi ketetapan dan janji Allah terhadap orang zalim.

Referensi : Janji Allah Swt Terhadap Orang Zalim, Menjadi Peringatan dan Ancaman



Rasulullah bahkan menjelaskan keutamaan mengucapkan sesuatu yang hak di hadapan penguasa zalim

Ilustrasi :

Kezaliman penguasa sudah bermetamorfosa dalam abad modern ini. Jika dahulu para raja gemar menindas rakyatnya lewat penyiksaan bahkan pembunuhan, di era terkini kezaliman itu muncul dalam bentuk yang malu-malu. Penguasa tampak ingin agar area itu tetap menjadi syubhat dan abu-abu sehingga bisa mendapatkan pembenaran. Kezaliman bisa muncul dalam berbagai bentuk kebijakan. Belakangan ini, kita melihat kezaliman bertubi-tubi mengisi ruang publik.

Zalim merupakan kosa kata yang diambil dari bahasa Arab. Kitab suci menyebut kata zalim sebanyak 315 kali. Menurut Maizuddin M Nur dalam Perspektif Alquran tentang Manusia dan Kezaliman, zalim menurut Alquran merupakan seluruh perilaku menyimpang dan bertentangan dengan aturan-aturan Alquran atau aturan yang dapat diterima.

Karena itu, Alquran memandang zalim dengan arti yang amat luas. Zalim bisa berarti kejahatan, kekerasan, pelanggaran hak hingga melawan hukum yang bisa diterima. Zalim bisa berarti kejahatan, kekerasan, pelanggaran hak hingga melawan hukum yang bisa diterima. Layaknya perbuatan dosa, zalim pun memiliki gradasi dari yang paling tinggi hingga terendah. Karena itu, para mufasir memberi batasan zalim dengan pengertian menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Menurut al-Raghib al Ashfahani, suatu perbuatan yang dinyatakan sebagai ketidaksetaraan, ketidakharmonisan, ketidakadilan, kekacauan, dan perselisihan dapat disebut kezaliman. Pelakunya pun bukan cuma penguasa. Zalim bahkan bisa dilakukan oleh seorang ahli ibadah yang tak peduli terhadap hak-hak tubuhnya demi menunaikan shalat dan puasa. 

Dalam konteks penguasa, Fir’aun menjadi tokoh yang kerap menjadi personifikasi dari perbuatan zalim. Dia berbuat sewenang-wenang dan menindas rakyatnya dengan amat kejam. Sang raja tak ragu menyembelih anak lelaki masyarakat Mesir demi memberantas benih-benih pemberontak yang muncul dalam mimpinya.

"Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya." Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.

“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS al-Qashash: 4).

Referensi : Rasulullah bahkan menjelaskan keutamaan mengucapkan sesuatu yang hak di hadapan penguasa zalim

Doa Nabi Yunus untuk Mendapatkan Kekuatan Menghadapi Cobaan

Ilustrasi ceramah : Doa Nabi Yunus untuk Mendapatkan Kekuatan Menghadapi Cobaan

Doa Nabi Yunus untuk Mendapatkan Kekuatan Menghadapi Cobaan. Banyak sekali doa-doa dari para nabi yang akan membantu kita untuk menjalani hidup yang lebih baik. Salah satunya doa Nabi Yunus. Seperti apa doa Nabi Yunus? Berikut ulasannya.

Manusia tentunya diuji dengan berbagai permasalahan. Ada banyak tantangan yang akan menguji keberanian emosional seseorang, misalnya penyakit, rasa sakit, pekerjaan, kesedihan, rasa takut, perceraian, bahkan kematian.

Dibutuhkan banyak keberanian untuk dapat melaluinya dengan baik. Namun, jika masih berada dalam keterbatasan akal, pikiran buntu, hati yang gundah, maka sudah saatnya untuk memanjatkan doa yang penuh harap kepada Allah SWT.

Ternyata, masalah besar pernah dihadapi juga oleh seorang Nabi, yaitu oleh Nabi Yunus. Saat Nabi Yunus ditelan ikan besar, beliau merasakan kesulitan yang sangat berat, yakni merasakan gelapnya dalam perut ikan dan kesulitan bernafas, serta gelapnya di dalam lautan dan tidak mampu melihat apa-apa.

Saat itu, Nabi Yunus berdoa dengan sangat khusyuk kepada Allah. Selain itu, beliau juga banyak berdzikir selama berada di dalam perut ikan. Beliau berpasrah diri bahwa ini semua adalah ujian dalam jalan dakwahnya yang harus dihadapi.

“Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin” artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya,”.

Bahkan, dzikir ini begitu penting hingga Allah SWT mengabadikannya dalam Alquran: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:

‘Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan, dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya’: 87-88).

Rasululah SAW pun menyebutkan bahwa doa dzikir Nabi Yunus ini dapat membantu mengatasi berbagai kesulitan hidup atas izin Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin.”

(Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya,” (HR At-Tirmidzi).

Doa Nabi Yunus disebut-sebut sangat mustajab karena berisi pengakuan pada ketauhidan Allah SWT, pengakuan akan ke-Mahasuci-an Allah, serta pengakuan terhadap setiap dosa, kesalahan dan kedzaliman yang diperbuat oleh diri sendiri.

Manusia adalah makhluk uang lemah di hadapan Allah SWT dan hanya Dia-lah memiliki kuasa untuk mengampuni dosa dan mengabulkan doa. Allah SWT berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati-(Nya).” (QS An-Naml: 62).

Seperti banyak doa lainnya, akan ada banyak manfaat yang dimiliki jika rutin membaca doa ini. Apalagi jika seseorang sedang berada dalam kesulitan dan tidak berdaya untuk mendapatkan pertolongan. Beberapa keutamaan doa Nabi Yunus di antaranya:

  1. Pujian kepada Allah SWT. Tujuan utama dari doa adalah pernyataan tentang kekuatan Allah SWT, tidak ada kekuasaan yang bisa dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT adalah sang maha pencipta yang berhak mendapatkan puja dan pujian umat manusia sebagai bentuk penghambaan. Allah SWT menyukai makhluk-Nya yang selalu berdoa.
  2. Mendapatkan ampunan Allah SWT. Selain untuk memuja Allah, doa Nabi Yunus berisi taubat dan permohonan ampunan atas semua dosa-dosa yang pernah diperbuat, serta berharap mendapatkan ampunan dari Allah.
  3. Mendapat kekuatan dalam menghadapi cobaan. Hidup di dunia ini tidak akan terlepas dari cobaan, musibah dan ujian. Dan manusia memiliki batasan, dan tidak ada orang muslim yang mampu melewati berbagai macam cobaan tanpa bantuan Allah SWT.
  4. Dikeluarkan dari kesulitan. Doa Nabi Yunus akan menjadi sumber kekuatan bagi manusia untuk mengatasi cobaan dan dapat keluar dari berbagai masalah dan kesulitan. Allah SWT tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuannya. Doa Nabi Yunus ini juga sering dipanjatkan sebagai doa keselamatan jika sedang menghadapi kesulitan.
  5. Dikabulkan hajat atau permintaan. Selama berada dalam perut ikan, nabi Yunus berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Melihat penyesalan yang ditunjukkan oleh nabi Yunus, Allah SWT kemudian mengabulkan permintaannya. Itulah mengapa doa ini juga bisa digunakan ketika seseorang memiliki permintaan atau hajat kepada Allah SWT.
Saat memanjatkan doa Nabi Yunus, hendaknya dilakukan dengan menjalankan adab berdoa yang benar, penuh kekhusukan dan juga berdoa di beberapa waktu mustajab.

Referensi : Doa Nabi Yunus untuk Mendapatkan Kekuatan Menghadapi Cobaan




Memahami Cara Bertahan Hidup Saat Terombang-Ambing di Laut Lepas

Ilustrasi : Memahami Cara Bertahan Hidup Saat Terombang-Ambing di Laut Lepas

Memahami Cara Bertahan Hidup Saat Terombang-Ambing di Laut Lepas. Seringkali untuk menikmati liburan, kita lebih memilih untuk pergi ke pantai berlibur bersama keluarga. Selain pantai menyuguhkan pemandangan yang elok, tetapi pantai-pantai di Indonesia pada umumnya memiliki air laut yang bersih dan jernih sehingga mengundang keinginan untuk bermain air. Baik itu aktivitas berenang, berselancar air (surfing), wahana permainan air (water sport) seperti banana boat, ataupun snorkling bersama keluarga.

Tetapi, ada baiknya bagi kita untuk memahami keselamatan yang perlu diperhatikan sebelum ke pantai atau beraktivitas di laut lepas. Hal ini perlu dipahami karena mengantisipasi kemungkinan terburuk seperti terseret arus air laut sehingga tenggelam saat berlibur. Begitu juga bagi para pekerja lepas pantai dan pekerja diatas kapal, juga perlu memahami keselamatan dan cara bertahan hidup di laut lepas jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kapal karam, dan tenggelam karena kecelakaan pekerjaan.

Berikut tips dan cara bertahan hidup yang perlu dipahami saat terombang ambing di laut lepas :

  1. Tenangkan diri
    Saat terseret air laut atau jatuh ke air laut lepas, maka hal pertama yang harus ditekankan adalah menenangkan diri. Dengan menenangkan diri, akan membuat Anda mengatur ritme pernafasan di dalam air. Jika panik tentu akan membuat Anda tenggelam atau kehilangan keseimbangan untuk mengambil posisi berenang ke atas permukaan laut. Jadi, cobalah untuk tenangkan diri meskipun terombang ambing di laut lepas.

  2. Pilih gaya berenang yang tepat
    Dalam menghadapi situasi darurat di dalam air laut, maka tentukan cara bergerak di dalam air seperti menentukan gaya berenang. Gaya berenang yang dipilih akan menentukan kekuatan diri Anda bertahan di dalam air. Untuk air yang tenang, maka gunakan gaya renang punggung sehingga membuat tubuh sedikit rileks untuk bernafas secara teratur. Jika dalam ombak, maka perlu gunakan gaya renang dengan perut seperti gaya dada.
    Cari sesuatu yang mengapung dan dapat membantu
    Ketika berenang, usahakan diri Anda untuk mencari sesuatu yang mengapung di permukaan laut yang dapat membantu Anda naik dan bisa bertahan untuk sementara, sebelum pertolongan datang. Jika posisi Anda tidak terlalu ditengah laut, gunakan barang yang mengapung dan giring secara perlahan menuju ketepian.

  3. Jaga Pakaian
    Pakaian penting dalam menjaga tubuh saat terombang ambing di laut lepas, untuk itu kepada alat apung, jangan lepaskan pakaian Anda. Karena jika siang hari, sengatan sinar matahari akan berbahaya saat kondisi di tengah laut. Apabila dalam keadaan setengah telanjang, usahakan mencari sesuatu yang dapat menutupi tubuh dari paparan sinar matahari.

  4. Tentukan apa yang dapat dimakan
    Untuk bisa bertahan hidup di laut, tentu tubuh membutuhkan asupan makanan. Maka dari itu, tentukan apa yang bisa di makan. Seperti, menangkap rumput laut atau ikan kecil yang terjebak dalam pancingan sederhana yang dibuat dari kaleng untuk kail dan renda.

  5. Berikan tubuh asupan cairan
    Sebenarnya, air jauh lebih berguna bagi tubuh daripada makanan. Air akan memberikan ion pada tubuh sehingga cairan tubuh terpenuhi. Di tengah laut lepas, usahakan untuk tidak meminum air laut ya, minumlah air hujan yang bisa dikumpulkan dalam wadah kaleng atau apapun yang bisa digunakan untuk menampung air hujan

  6. Selamatkan diri dengan benar
    Pertimbangkan keselamatan diri Anda dengan cermat. Jangan terburu-buru masuk ke air jika melihat kapal dari kejauhan karena tentu akan membahayakan diri. Jangan berikan isyarat saat kondisi penampungan sementara atau rakit tempat Anda mengapung tidak dalam kondisi baik dan stabil.

  7. Tetap optimis akan keselamatan diri
    Hal yang perlu ditekankan adalah optimis selamat dalam keadaan terombang-ambing dilaut lepas. Jangan berputus-asa dalam mengusahakan keselamatan atau menunggu pertolongan. Tetap positive thinking dan ingat bahwa keputusasaan adalah musuh yang paling berbahaya dalam kondisi darurat.

Cara cara bertahan hidup saat terombang-ambing di laut lepas diatas bisa diajarkan kepada keluarga dan kenalan Anda. Hal ini juga perlu diketahui setiap orang, karena bisa jadi kemungkinan buruk seperti ikut dalam pesawat yang jatuh di laut misalnya. Tetap utamakan keselamatan diri dan lakukan pencegahan sedini mungkin.

Dengan mengetahui tips dan cara-cara diatas, setidaknya kita mengetahui cara bertahan hidup di laut lepas meskipun dengan teknik yang sederhana (Basic Sea Survival). Semoga informasi yang dibagikan oleh Synergy Solusi ini bermanfaat ya, bagi kita.

Referensi : Memahami Cara Bertahan Hidup Saat Terombang-Ambing di Laut Lepas

Kapal Kehidupan

Ilustrasi : Kapal Kehidupan
Mampu menerima kondisi sebagaimana adanya hidup adalah kunci untuk mengurangi kerisauan hidup. Kadang hidup itu seperti sebuah kapal di tengah lautan, dimana kadang harus menghadapi pasang surut nya air laut, ombak, angin badai dan kadang butuh waktu untuk mengisi bahan bakar demi melanjutkan rute perjalanannya.

Jika hidup manusia di ibaratkan seperti kehidupan kapal, maka kita akan menyadari bahwa hidup ini akan selalu menghadapi duka maupun suka yang datang silih berganti seperti air laut yang mengalami pasang surut.

Hidup ini kadang juga harus menghadapi tantangan, rintangan maupun pergumulan hidup yang membuat kita seakan-akan berada dalam situasi cemas, panik dan takut sehingga kita dapat belajar mengontrol perasaan maupun pikiran kita terhadap situasi seperti ombak yang selalu siap kapan saja untuk mengoyahkan kapal.

Hidup ini kadang juga harus menghadapi cacian, fitnah atau gosip yang membuat kita hampir saja terjatuh dalam keterpurukan dan kadang juga kita bisa terlena dalam berbagai pujian yang menghanyutkan sama seperti angin badai yang kadang kala hampir membuat kapal kehilangan keseimbangan.

Hidup ini kadang juga butuh beristirahat sejenak, mengisi energi serta mengasah diri sebelum melanjutkan perjalanan hidup masa depan seperti kapal yang butuh waktu untuk mengisi bahan bakar demi melanjutkan rute perjalanannya.

Sadar bahwa segala sesuatu terjadi hanyalah pengkondisian sementara. Sadar bahwa segala sesuatu akan terus berubah seiring berjalannya waktu. Sadar bahwa segala sesuatu terjadi karena adanya sebab dan akibat. Sadar bahwa segala sesuatunya tidak akan terjadi jika bukan karena kita dan untuk kita.

Ketika kita belajar memahami bahwa segala sesuatu adalah bagian proses dari hidup kita, tentu kita akan mengerti bahwa segala sesuatu harus kita terima dan jalani sebagaimana mestinya tanpa menyalahkan pihak subjektif namun lebih mengacu pada pribadi kita yang mau terus selalu belajar untuk instropeksi diri serta mengasah diri agar menjadi semakin baik dan berkualitas.

Referensi : Kapal Kehidupan

5 Tanda Hubungan Akan Perahu Akan Karam

Ilustrasi : Tanda Hubungan Akan Perahu Akan Karam

5 Tanda Hubungan Akan Perahu Akan Karam. Menjalani hubungan memang diselimuti pasang surut. Beberapa orang mampu bertahan, namun tidak sedikit pula yang memutuskan untuk berakhir. 

Ya, pasti ada masanya hubungan seperti kapal yang akan tenggelam. Mungkin beberapa dari kamu tidak sadar atas realitas tersebut. 

Biasanya kamu dalam fase tetap bersama tetapi sebenarnya sudah tidak sejalan. Nah, berikut adalah kondisi yang perlu diwaspadai dan menandakan hubungan kamu dan pasangan sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja :

1. Saling acuh

Ketika cinta merekah, kamu dan pasangan saling memikirkan satu sama lain. Ada fase di mana pacar atau pasangan akan menyemangati dan memberi kedamaian ketika kita mengalami hari yang buruk. Begitu pula sebaliknya.

Apakah kalian masih melakukan hal semacam ini dan bersikap bijaksana satu sama lain? Jika tidak, itu bisa menjadi tanda bahwa segala sesuatunya telah berubah.

2. Tak lagi menjadi prioritas

Ketika sesuatu yang besar terjadi pada kamu baik atau buruk, apakah pacar atau pasanan adalah orang pertama yang Anda hubungi? Apakah dia menelepon kamu lebih dulu ketika dia mendapat kabar bahagia? Jika tidak lagi, hubungan kalian memang sudah diambang kehancuran.  Berada dalam suatu hubungan berarti kamu ingin selalu menjadikannya orang yang pertama untuk diberi tahu kabar baik maupun buruk.

3. Berubah drastis

Salah satu kapal akan karam yakni ketika kalian berubah terutama dalam sikap dan perilaku terhadap satu sama lain. Kalian mungkin menuju perjalanan yang berbeda dalam hidup.

4. Tidak saling menghormati

Akhir-akhir ini kamu sering berdebat dan berujung pada pertengkaran? Itu  pertanda ada sesuatu yang tidak beres. Kamu tidak hanya memiliki kesamaan tujuan lagi, dan lebih buruk dari itu, kamu dan dia tidak lagi memiliki rasa hormat terhadap sudut pandang satu sama lain.

5. Merasa baik ketika jauh

Kamu selalu merasa sedih dan tertekan saat berada di dekat pacar? Sementara itu, ketika kamu pergi sendiri untuk hangout dengan teman-teman atau melakukan sesuatu yang disukai, kamu merasa bersemangat tentang kehidupan. Ini adalah tanda besar bahwa hubungan kamu tidak memberi kamu  tingkat kepuasan dan kebahagiaan yang sama seperti yang dulu.

Referensi : 5 Tanda Hubungan Akan Perahu Akan Karam


Tafsir Atas Hadits Rasulullah SAW Soal Para Pembocor Perahu

Ilustrasi Ceramah : Tafsir Atas Hadits Rasulullah SAW Soal Para Pembocor Perahu

Tafsir Atas Hadits Rasulullah SAW Soal Para Pembocor Perahu. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan para pembocor perahu. Rasulullah Muhammad SAW memberikan peringatan kepada umat Islam dengan memberikan perumpamaan sebuah perahu dengan para penumpangnya. 

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, di bab "Memerintahkan pada Kebaikan dan Melarang dari Kemungkaran" terdapat sebuah hadis dari An Nu'man bin Baysir yang dia berkata, Nabi SAW bersabda,"Kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah perahu. Nantinya, ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah perahu tersebut. Yang berada di bagian bawah ketika ingin mengambil air, tentu dia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, "Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita."Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu."(HR Imam Bukhari no. 2493).

Terkait hadis di atas, Ibnu Hajar al-'Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari memberikan beberapa pendapat, hadis tersebut berisi beberapa pelajaran, yaitu: Pertama, hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum disebabkan meninggalkan inkarul mungkar  (mengubah kemungkaran), kedua, seorang yang berilmu bisa memberikan penjelasan dengan membawakan permisalan, ketiga, wajib bersabar terhadap kelakuan tetangga jika khawatir tertimpa bahaya yang lebih besar, dan keempat hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. 

Perahu adalah perumpamaan dari agama Islam dan umat Islam adalah para penumpang perahu tersebut. Di antara para penumpang perahu, ada yang berakhlak mulia dan alim, menguasai ilmu agama. Namun, ada pula penumpang yang masih bodoh dan mudah sekali tergoda berbuat kemungkaran. Ketika perahu tengah berada di tengah "lautan kehidupan" dan sering diterjang gelombang, sudah seharusnya para penumpang saling menjaga agar perahu tetap dalam keseimbangan.

Para penumpang itu juga harus ada yang mau berada di bagian bawah perahu dan yang lainnya berada di atas perahu sehingga seimbanglah perahu serta tidak menyempitkan penumpang satu dengan lainnya. 

Selain itu, jika di dalam perahu tersebut ada salah seorang yang hendak melakukan sebuah kemungkaran dengan membocorkan perahu, maka harus ada yang mencegahnya, dan melarangnya berbuat kemungkaran supaya semua penumpang yang ada di dalam perahu selamat. Namun, jika tidak ada yang mencegahnya, maka binasalah semuanya, perahu dan para penumpang pun tenggelam di "lautan kehidupan". 

Dengan kata lain, akibat tidak adanya pencegahan kemungkaran terhadap orang-orang Islam yang melakukan kemungkaran, maka seperti perumpamaan yang diberikan Rasulullah SAW tersebut, Islam dan umat Islam akan tenggelam, tidak lagi dirasakan sebagai rahmat bagi umat manusia. Bahkan, keberadaannya bisa saja dianggap laknat dan tidak pernah lagi diharapkan.

Cahaya dan kebenaran Islam menjadi terhijab, terhalangi, oleh umat Islam yang melakukan kemungkaran dan juga oleh umat Islam yang tidak mencegah terjadinya kemungkaran tersebut. Para pembocor perahu, yaitu orang-orang Islam yang yang gemar melakukan kemungkaran,selalu hadir di tubuh umat Islam sepanjang zaman.

Referensi : Tafsir Atas Hadits Rasulullah SAW Soal Para Pembocor Perahu