This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 18 Agustus 2022

Taubat Nasuha Adalah Sebenar-banarnya taubat dan hapuskan dosa

Ilustrasi ceramah : Taubat Nasuha Adalah Sebenar-banarnya taubat dan hapuskan dosa

Taubat Nasuha Adalah Sebenar-banarnya taubat dan hapuskan dosa. Beberapa waktu lalu kami telah menulis artikel tentang keutamaan istighfar yang dapat membuka pintu rezeki. Pada kesempatan kali ini kami akan coba membahas tentang taubat.

Setiap manusia pasti pernah terjerumus ke dalam perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Salah satu langkah untuk memohon ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang kecil adalah dengan istighfar.

Di sisi lain, dosa besar tidak dapat diampuni oleh Allah hanya dengan istighfar saja. Melainkan harus dengan cara taubat, yaitu untuk memohon ampunan kepada Allah terhadap dosa-dosa besar yang mungkin pernah kita lakukan.

Beberapa contoh dosa besar adalah zina, membunuh manusia tanpa alasan yang haq, mencuri, meminum khamr dan termasuk pula sering meninggalkan shalat fardhu. Ini hanya beberapa contoh saja, masih banyak bentuk dosa besar lainnya.

Allah telah berfirman:

وَمَن يَعۡمَلۡ سُوٓءًا أَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهُۥ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا .

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 110).

Lalu jika kita bertaubat, apakah Allah akan mengampuni seluruh dosa kita? Jawabannya adalah iya, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat.

قُلۡ يٰعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ اللَّهِۚ إِنَّ اللَّهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ الۡغَفُورُ الرَّحِيمُ  ٥٣

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ayat ini adalah pemberitahuan bahwa Allah mengampuni semua dosa bagi yang mau bertaubat kepada-Nya meskipun dosanya sebanyak buih di lautan, termasuk pula dosa syirik. Karena dosa syirik tidak mendapatkan ampunan selama pelakunya tidak bertaubat dari kemusyrikannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Katsir juga mengambil hadits riwayat Imam Ahmad dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tsauban berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا بِهَذِهِ الۡآيَةِ : « يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسۡرَفُوا عَلَى أَنۡفُسِهِمۡ » إِلَى آخَرِ الۡآيَةِ ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَمَنۡ أَشۡرَكَ ؟ فَسَكَتَ النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ قَالَ: ” أَلَا وَمَنۡ أَشۡرَكَ ” ثَلَاثَ مَرَّاتٍ .


“Aku tidak suka bila diberikan kepadaku dunia dan seisinya sebagai ganti dari ayat ini, yaitu: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri…” hingga akhir ayat. Lalu ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan orang musyrik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diam, lalu bersabda, “Ingatlah, dan juga terhadap orang musyrik,” sebanyak tiga kali.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (tunggal).

Ada pula sebuah hadits qudsi dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ اللَّهُ يَا ابۡنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوۡتَنِي وَرَجَوۡتَنِي غَفَرۡتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابۡنَ آدَمَ لَوۡ بَلَغَتۡ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسۡتَغۡفَرۡتَنِى غَفَرۡتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابۡنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوۡ أَتَيۡتَنِى بِقُرَابِ الۡأَرۡضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشۡرِكُ بِي شَيۡئًا لَأَتَيۡتُكَ بِقُرَابِـهَا مَغۡفِرَةً .

Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

(H.R. At-Tirmidzi No. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadits lain juga disebutkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diceritakan dari Allah ‘Azza wa Jalla,

أَذۡنَبَ عَبۡدٌ ذَنۡبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغۡفِرۡ لِي ذَنۡبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذۡنَبَ عَبۡدِي ذَنۡبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغۡفِرُ الذَّنۡبَ وَيَأۡخُذُ بِالذَّنۡبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذۡنَبَ فَقَالَ أَيۡ رَبِّ اغۡفِرۡ لِي ذَنۡبِي. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبۡدِي أَذۡنَبَ ذَنۡبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغۡفِرُ الذَّنۡبَ وَيَأۡخُذُ بِالذَّنۡبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذۡنَبَ فَقَالَ أَيۡ رَبِّ اغۡفِرۡ لِي ذَنۡبِي. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذۡنَبَ عَبۡدِي ذَنۡبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغۡفِرُ الذَّنۡبَ وَيَأۡخُذُ بِالذَّنۡبِ وَاعۡمَلۡ مَا شِئۡتَ فَقَدۡ غَفَرۡتُ لَكَ .

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia berkata ‘Allahummagfirli dzanbi’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah ampuni dosanya), kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu dia berkata, ‘Ay rabbighfirli dzanbi’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah ampuni dosanya), kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu dia berkata, ‘Ay rabbighfirli dzanbi’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.” (H.R. Muslim No. 2758).

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘beramallah sesukamu’ bermakna selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

An-Nawawi juga mengatakan, “Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/75).

  • Taubat Nasuha

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى اللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسٰى رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا الۡأَنۡهٰرُ … ٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Seluruh ulama sepakat bahwa taubat nasuha adalah bertaubat dari perbuatan dosa dan tidak mengulanginya lagi untuk selamanya. Ibnu Katsir juga telah mengumpulkan seluruh riwayat yang menjadi dasar dari pendapat tersebut dalam menafsirkan ayat ini.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan bahwa Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Zur bin Hubaisy tentang taubat nasuha. Ubay bin Ka’b menjawab bahwa ia juga pernah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab bahwa taubat nasuha adalah:

هُوَ النَّدَمُ عَلَى الذَّنۡبِ حِينَ يَفرطُ مِنۡكَ فتستغفرُ اللَّهَ بِنَدَامَتِكَ مِنۡهُ عِنۡدَ الۡحَاضِرِ ثُمَّ لَا تَعُودُ إِلَيۡهِ أَبَدًا .

“Penyesalan atas perbuatan dosa yang telah kamu kerjakan, lalu kamu memohon ampunan kepada Allah dengan penyesalanmu itu di waktu seketika, kemudian kamu bertekad untuk tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya.”

Dalam tafsir Jalalain juga disebutkan bahwa taubat nasuha adalah:

صَادِقَة بِأَنۡ لَا يُعَاد إلَى الذَّنۡب وَلَا يُرَاد الۡعَوۡد إلَيۡهِ .

“Taubat yang jujur, yaitu dia tidak kembali melakukan dosa dan tidak bermaksud mengulanginya.” (Tafsir Jalalain, 1/753).

Malik bin Dinar berkata, “Menangisi dosa akan menghapus dosa tersebut sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.” (Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam hlm. 203, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424H).

Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

النَّدَمُ تَوۡبَةٌ .

“Penyesalan adalah taubat.”

Jika disimpulkan, maka yang dimaksud dengan taubat nasuha adalah:

Menyesali dosa yang lalu, menghindari dosa untuk saat ini, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.

bahwa bila dosa yang dilakukan itu berkenaan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya dengan pihak yang terkait.

  • Batas Waktu Diterimanya Taubat

Ada dua batas waktu yang menjadi batas akhir diterimanya taubat. Artinya, jika kita telah sampai pada batas waktu tersebut, maka taubat kita tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Sebelum ajal menjemput

وَلَيۡسَتِ التَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ السَّيِّ‍َٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّي تُبۡتُ الۡـَٰٔنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمۡ كُفَّارٌۚ أُوْلٰٓئِكَ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا  ١٨

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18).

Ayat ini menjelaskan bahwa seseorang yang hidup dalam kekafiran, lalu ia bertaubat sebelum ajalnya datang, maka in sya Allah taubatnya akan diterima. Namun jika ia mati dalam keadaan kafir dan belum sempat bertaubat, maka Allah sediakan siksa bagi mereka.

Dalam hadits dari Abdullah bin Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقۡبَلُ تَوۡبَةَ الۡعَبۡدِ مَالَمۡ يُغَرۡغِرۡ .

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya (ruhnya) belum sampai tenggorokan.” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan Beliau berkata hadits ini hasan).

Salah satu contoh orang yang bertaubat ketika ajal sudah menjemput adalah taubatnya Fir’aun. Hal ini Allah kisahkan dalam ayat berikut:

… حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدۡرَكَهُ الۡغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلٰهَ إِلَّا الَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ  ٩٠

“… Hingga bila Fir’aun telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Aku beriman bahwa tidak ada Ilah selain Ilah yang diimani (dipercayai) oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.” (QS. Yunus [10]: 90).

Fir’aun baru beriman di saat ajalnya sudah tiba, sehingga membuat keimanannya tidak lagi berguna baginya. Oleh sebab itu Allah pun menjawab perkataan Fir’aun tersebut melalui firman-Nya:

ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِينَ  ٩١

“Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus [10]: 91).

    2. Sebelum matahari terbit dari barat

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنۡ تَابَ قَبۡلَ أَنۡ تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ مِنۡ مَغۡرِبِـهَا تَابَ اللهُ عَلَيۡهِ .

“Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya maka Allah akan menerima taubatnya.” (H.R. Muslim No. 2703).

Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزَالُ التَّوۡبَةُ مَقۡبُولَةً حَتَّى تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ مِنَ الۡمَغۡرِبِ فَإِذَا طَلَعَتۡ طُبِعَ عَلَى كُلِّ قَلۡبٍ بِمَا فِيۡهِ وَكُفِيَ النَّاسُ الۡعَمَلَ .

“Senantiasa taubat diterima sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya (arah barat), maka jika matahari terbit dari barat akan ditutup setiap hati dengan apa yang ada di dalam hatinya (saja) dan cukuplah bagi manusia amalannya.” (H.R. Ahmad No. 1581).

  • Syarat Diterimanya Taubat

Berdasarkan uraian di atas, termasuk juga dari penjelasan Ibnu Katsir, syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak bertaubat adalah sebagai berikut:

  1. Taubat dengan ikhlas, murni hanya mengharap ampunan dan keridhaan Allah.
  2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
  3. Segera berhenti dari perbuatan dosa tersebut.
  4. Jika terkait dengan hak orang lain, maka harus diselesaikan.
  5. Taubat dilakukan sebelum sakaratul maut atau sebelum matahari terbit dari barat.

 

  • Amalan-amalan dalam Proses Taubat
  1. Membaca Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنۡتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنۡتَ خَلَقۡتَنِي وَأَنَا عَبۡدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهۡدِكَ وَوَعۡدِكَ مَا اسۡتَطَعۡتُ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ شَرِّ مَا صَنَعۡتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعۡمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنۡبِي فَاغۡفِرۡ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنۡتَ .

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” (H.R. Al-Bukhari No. 6306).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنۡ قَالَهَا مِنۡ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنۡ يَوۡمِهِ قَبۡلَ أَنۡ يُمۡسِيَ فَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ وَمَنۡ قَالَهَا مِنۡ اللَّيۡلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبۡلَ أَنۡ يُصۡبِحَ فَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ

“Jika ia membacanya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (H.R. Al-Bukhari No. 6306).

  1. Doa Abu Bakr As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

Doa lain yang bisa diamalkan adalah doa meminta ampunan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

عَلِّمۡنِي دُعَاءً أَدۡعُو بِهِ فِي صَلَاتِي .

Ajarkanlah aku suatu doa yang bisa kubaca saat shalat.” Maka Beliau pun berkata, “Bacalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي ظُلۡمًا كَثِيرًا وَلَا يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنۡتَ فَاغۡفِرۡ لِي مَغۡفِرَةً مِنۡ عِنۡدِكَ وَارۡحَمۡنِي إِنَّكَ أَنۡتَ الۡغَفُورُ الرَّحِيمُ .

“Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(H.R. Al-Bukhari No. 834 dan Muslim No. 2705).

  1. Shalat Taubat

Hal ini dianjurkan oleh imam 4 madzhab berdasarkan hadits dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنۡ عَبۡدٍ يُذۡنِبُ ذَنۡبًا فَيُحۡسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكۡعَتَيۡنِ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ . ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ « وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوا أَنۡفُسَهُمۡ ذَكَرُوا اللَّهَ » إِلَى آخِرِ الآيَةِ .

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat 2 raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah…” hingga akhir ayat.”

(H.R. Abu Daud No. 1521, At-Tirmidzi No. 406, Ibnu Majah No. 1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ayat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah QS. Ali Imran [3]: 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ اللَّهَ فَاسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلٰى مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ  .

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135).

Referensi : Taubat Nasuha Adalah Sebenar-banarnya taubat dan hapuskan dosa







3 Bentuk Kezaliman

Ilustrasi ceramah : 3 Bentuk Kezaliman

Seorang mukmin seharusnya memiliki kepribadian yang mulia, baik terhadap dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Karena itu, Allah swt melarang orang yang beriman dengan seruan yang harus mendapat perhatian serius, maksudnya agar kehidupan pribadi dan kemasyarakatan dapat berlangsung dengan baik. Bila larangan ini tetap dilakukan, maka hal ini merupakan suatu kezaliman, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujurat [49]:11).

Dari ayat di atas, ada tiga larangan Allah swt kepada kita orang yang beriman, menjadi penting untuk kita kaji pada kesempatan yang singkat ini. Pertama, mengolok-olok atau meremehkan orang lain. Memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar mengomentari ayat ini dengan menyatakan: “Inilah peringatan yang halus dan tepat sekali dari Allah. 
Mengolok-olok, mengejek dan menghina tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Maka, dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.” (Jilid 8, hal 425). 
Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Dzilalil Quran menyatakan: “Masyarakat unggul yang hendak ditegakkan Islam dengan petunjuk Al Quran ialah masyarakat yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarakat itu, setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh. Ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok-olok individu manapun berarti mengolok-olok pribadi umat. Sebab seluruh jamaah itu satu dan kehormatannya pun satu.” Perbuatan ini merupakan salah satu bentuk kesombongan yang sangat dibenci oleh Allah swt, dalam satu hadits, Rasulullah saw mendefinisikan atau menjelaskan tentang apa itu sombong, beliau bersabda:

اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR. Muslim).
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, yang dilarang oleh Allah swt adalah mencela diri sendiri, hal ini karena setiap orang harus menjaga harkat dan martabat dirinya, jangan ia jatuhkan dirinya dengan mencela atau menghina diri sendiri. Bagaimana mungkin ia akan menghormati orang lain bila dirinya sendiri saja ia hinakan atau ia cela. 

Larangan mencela diri sendiri sebenarnya kelanjutan dari larangan mencela dan menghina orang lain, karena melakukan penghinaan kepada orang lain berdampak buruk kepada diri sendiri, ini berarti menghina orang lain sama saja dengan menghina diri sendiri, merendahkan orang lain sama saja dengan merendahkan diri sendiri. Karena itu, kita dapati berapa banyak orang yang berbicara dalam rangka mencela orang lain, tapi celaan itu justeru berbalik kepada dirinya meskipun kadang tidak ia sadari. Padahal sudah menjadi rahasia umum bila banyak orang tidak suka kepadanya. 
Karena itu, manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, yang dilarang oleh Allah swt adalah memberi gelar yang buruk kepada orang lain. Memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. 
Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justeru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. 
Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk. Pada ayat di atas disebutkan bahwa seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, ini berarti ketika seseorang sudah beriman mestinya tidak memanggil atau tidak dipanggil dengan panggilan yang bertentangan dengan nilai-nilai keimanan, bila masih saja demikian, maka itu merupakan suatu kezaliman yang seharusnya ditinggalkan dengan cara bertaubat dan memperbaikinya. Karena itu, Rasulullah saw mencontohkan dengan mengganti nama atau panggilan orang yang namanya bermakna buruk menjadi yang bermakna baik. 
Misalnya ada yang namanya Qalil (sedikit) lalu diganti dengan Katsir (Banyak), nama Aswad (hitam) diganti dengan Abyad (putih), nama Aashiyah (Pendurhaka) menjadi Jamilah (Indah), nama Hubab (Salah satu nama syaitan) diganti menjadi Abdullah (Hamba Allah) dan sebagainya. Satu hal yang harus kita sadari bahwa ayat ini ditutup dengan kalimat barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Padahal zalim itu identik dengan syirik atau kemusyrikan. 
Itu artinya, sangat tidak pantas bila orang sudah menyatakan dirinya beriman, tapi masih saja tidak menunjukkan akhlak yang mulia dalam bergaul dan bermasyarakat, karena masih mencela dan merendahkan serta memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk.
Referensi : 3 Bentuk Kezaliman 






Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal)

Ilustrasi : Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal)

Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal). Allah SWT berfirman: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”(Al Baqarah ayat 36)

Indahnya Al Qur’an akan dirasakan oleh siapapun yang  senantiasa melakukan tadabbur. Karena dengan tadabbur seseorang akan menikmati surat cinta Allah SWT kepada hamba Nya. Allah SWT berfirman”  Tidak adalah bagi manusia, bahwa Allah bercakap-cakap dengan dia, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir, atau Dia utus seorang utusan(malaikat) lalu utusan itu mewahyukan dengan izinNya apa-apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana.” (QS. Asy Syuro, 42 : 51)

Jadi tidaklah mungkin seorang manusia dapat bercakap-cakap dengan Allah SWT. Jadi bagaimana jika kita ingin curhat kepada Allah? Seorang ulama menyebutkan “ Jika kita ingin berbicara kepada Allah, berdo’alah/sholatlah. Dan jika kita ingin mendengar Allah maka bacalah Alquran.” Karena sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha melihat, Maha mengetahui yang Nampak dan yang tersembunyi.”

Tadabbur adalah cara terbaik untuk mendengarkan Kalam Allah SWT, disitulah akan terbangun rasa keintiman dengan Allah SWT, sehingga bahagia yang tak terhingga hadir dalam jiwa perindu Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka menadaburi (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shad [38]: 29).

Dalam tafsirnya tentang ayat ini, al-Sa’di menjelaskan, pada Alquran terdapat kebaikan dan ilmu yang sangat banyak. Di dalamnya terdapat petunjuk dari kesesatan, obat dari penyakit, cahaya untuk menerangi kegelapan, setiap hukum yang diperlukan manusia.

Alquran juga memuat dalil tegas tentang segala yang diinginkan, sehingga menjadikannya semulia-mulia kitab yang diturunkan Allah. Selanjutnya, beliau menjelaskan, hikmah diturunkannya Alquran ini agar manusia menadaburi ayat-ayatnya, menggali ilmunya, dan merenungkan rahasia dan hikmahnya.

Hanya dengan menadaburi ayat-ayatnya, merenungkan maknanya, serta memikirkannya, seseorang akan mendapatkan berkah dan kebaikan yang ada dalam Alquran. Kita harus menyadari, Alquran itu  kitab penuh berkah dan mengandung mutiara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Secara bahasa, tadabur berarti melihat dan memperhatikan kesudahan segala urusan dan bagaimana akhirnya. Al-Alusi dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani menjelaskan, pada dasarnya tadabur berarti memikirkan secara mendalam kesudahan sesuatu urusan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Ibnu al-Qayyim juga menjelaskan, yang dimaksud dengan menadaburi suatu perkataan adalah melihat dan memperhatikan perkataan itu dari awal dan akhir perkataan kemudian mengulang-ulangi hal itu.

Adapun yang dimaksud dengan tadabur Alquran adalah menggunakan ketajaman mata hati lewat proses perenungan mendalam secara berulang-ulang agar dapat menangkap pesan-pesan Alquran yang terdalam dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.

Demikianlah seharusnya seseorang yang memiliki iman kepada Al Qur’an mengaktifkan logika imanya untuk merenungkan Al Qur’an dengan optimal, mengambil faidah dan menghadirkan dalam kehidupan.

Yang pertama, Post Truth Iblis dan Era Modern

Surat Al Baqarah ayat 36 adalah kelanjutan dari ayat 35 yang menyatakan bagaiamana Adam tergoda oleh iblis dan mendekati pohon kezaliman. Akhirnya akhir dari tipuan iblis ini, pengkaburan iblis ini Adam dan hawa tergelincir dan keluar dari surga. Ini akibat prilaku tasywih (pengkaburan) istilah kedzaliman dirubah dengan kekekalan (khuldi).  Istilah modern saat ini disebut post Truth.

Post truth adalah era di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Caranya? Dengan memainkan emosi dan perasaan kita.

Kemaren saya diskusi panjang akan hal ini bersama Dr. Edi Ribut H, M.H, tentang era post truth ini. Di mana kebenaran sudah menjadi ilusi, bahwa muncul anggapan bahwa pernah terjadi era kebenaran (truth).

Hakikatnya izlal atau penggelinciran syetan inilah yang sebut post truth, sehingga Allah sebut dengan kalimat :

{فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا}

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu. (Al-Baqarah: 36)

Kalimat azalla dalam bahasa Arab di maknai sebagai inkhiraf ‘an showab artinya menyimpangkan dari kebenaran. Seakan benar, tapi sebenarnya salah. Analoginya seperti lantai yang mengkilat tetapi ternyata sangat licin, karena sulitnya membedakan antara bersih dan licin. Inilah karakter post truth yang menggelincirkan Adam dan hawa dari surga.

Hakikatnya post truth sudah lama dilakukan oleh para retoris dan politikus Yunani dalam mempengaruhi manusia. Kecanggihan retorika mereka, mengaduk emosi manusia, sehingga mereka mampu menyuguhkan racun dengan cara terbaik, sehingga manusia merasa disuguhi susu, akhirnya mereka semua rusak dan hancur.

Pada Republik Romawi Kuno, misalnya, orasi-orasi populis dalam senat lebih mementingkan kelincahan retorika daripada ketepatan data. Bahkan di era modern, hoaks dan sentimen telah menjadi bensin konflik terbesar sepanjang sejarah: propaganda Nazi dalam Perang Dunia Kedua.

Artinya era “kebenaran” bisa dibilang tidak pernah ada. Prasangka, emosi, dan kepercayaan sejak dulu lebih mudah mendominasi pendapat publik daripada rasio.

Sehingga kondisi hari ini adalah kondisi seperti Adam dan hawa digelincirkan Iblis, ketika seluruh umat manusia digiring oleh media informasi yang begitu cerdas menggiring opini, bahkan dengan istilah buzzer dan lainya, membuat manusia dibenturkan antara dunia fakta dan ilusi mereka.

Jika ini dibiarkan maka manusia akan benar-benar dikeluarkan dari konsistensi ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga manusia akan menjadi tidak stabil, dan mudah dipermainkan oleh retorika orang-orang yang memiliki kepentingan.

Yang kedua, permusuhan dan perpecahan efek post truth

{وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ}

dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang dilentukan. (Al-Baqarah: 36)

Inilah efek Adam as dan hawa ketika melanggar ketaatan, akhirnya harus keluar dari surga. Banyak perdebatan para ulama, apakah ini surga diakhirat atau surga di dunia. Tetapi bagi saya cukup menikmati dialektika ilmu tersebut, karena hakikatnya Allah SWT yang mengetahui.

Dalam konteks tadabur, ayat ini adalah efek izlal (penggelinciran) syetan, maka Adam harus keluar dari surga, dan akhirnya harus bermusuhan satu sama lainya.

Pekerjaan syetan memang memecah belah, dan menjauhkan manusia dari persaudaraan. Dan inilah yang terjadi era saat ini. Post truth yang menyebabkan perpecahan umat dan bangsa, bahkan satu agama bisa berperang, satu bangsa bisa berseteru, dan bahkan dunia bergejolak dengan satu statemen post truth yang dibangun legitimasi nya oleh lembaga otoritas.

Kondisi permusuhan inilah yang terus dipupuk oleh media, sehingga rupiah terus mengalir di kantong mereka, tapi Umat semakin hancur, buzzer mendapatkan rupiah begitu banyak, tetapi umat harus saling caci maki. Para tokoh membuat pernyataan seakan tidak menggunakan Pengetahuannya, hanya Asal bunyi dan mendapatkan trending Twitter dan subcriber, akibatnya umat semakin terbelah.

Sungguh tipu daya iblis sampai hari kiamat, melalui wujud modern yang sangat menipu dan ilusionis.

Sebagian mereka mendapatkan kenikmatan dari perpecahan ini, mendulang dolar dan rupiah melalui keributan sosial, bahkan menggelontorkan proyek begitu besar tanpa diketahui umat, tetapi mereka lupa bahwa ada waktu yang ditentukan Allah SWT.

Insan profetis adalah mereka yang mampu memahami kondisi post truth ini, bahwa kondisi ini bukan kondisi yang baik, sehingga mereka memiliki sensor dakwah dan perubahan, bagaiamana menyelam umat dan bangsa dari izlal iblis dan post truth yang menipu ini.

Tugas nabi adalah melakukan permusuhan abadi dengan syetan, maka insan profetis harus berani melanjutkan ini, agar ilusi syetan manusia dapat dilawan dan dirubah menjadi realitas tauhid.


Referensi : Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal)