Kezaliman dan Ketidakadilan, Dosa Besar yang Membawa Kehancuran. ketidakadilan alias kezaliman makin nyata terasa. Terjadi di mana-mana. Terjadi hampir dalam semua perkara. Dari mulai ketidakadilan/kezaliman di bidang ekonomi hingga ketidakadilan/kezaliman di bidang hukum. Di bidang ekonomi, misalnya, selama ini sebagian besar sumber daya alam milik rakyat dikuasai oleh segelintir orang. Terutama aseng dan asing. Sebaliknya, sebagian besar rakyat hanya menikmati sebagian kecilnya.
Orang-orang kaya diberi pengampunan pajak. Sebaliknya, orang-orang kecil terus dikejar-kejar tagihan pajak. Orang-orang kaya diistimewakan dengan pembebasan pajak atas mobil mewah. Sebaliknya, orang-orang kecil malah makin dibebani oleh ragam dan jenis pungutan pajak. Termasuk rencana pajak sembako.
Padahal jelas, sembako adalah kebutuhan dasar rakyat. Saat ini saja, ketika daya beli masyarakat makin menurun, banyak yang kesulitan membeli sembako. Apalagi jika harga sembako naik sebagai konsekuensi pemberlakuan pajak sembako.
Yang paling kasat mata adalah ketidakadilan atau kezaliman di bidang hukum. Di dalam sistem sekular yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini, keadilan hukum menjadi semacam barang mewah. Sulit dirasakan oleh rakyat kecil dan lemah. Keadilan hukum seolah hanya milik para pejabat dan mereka yang punya duit.
Di negeri ini rakyat kecil yang mencuri benda senilai beberapa rupiah saja bisa dijerat hukuman berat. Sebaliknya, para pejabat yang punya kuasa atau mereka yang punya duit, meski mengkorupsi miliaran hingga triliunan uang rakyat, bisa bebas melenggang dari jeratan hukuman.
Hari ini mereka yang pro rezim tetap aman. Tak tersentuh hukum. Padahal mereka berkali-kali melakukan tindakan kriminal: menghina Islam, menista ulama dan santri, dan sebagainya. Sebaliknya, hanya karena kesalahan kecil, asal dari pihak yang sering kritis terhadap rezim, mereka dijerat dengan hukuman berat.
Itulah pengadilan di dunia. Sebuah pengadilan semu. Bahkan palsu. Pengadilan dunia sering menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil. Hukumannya pun tidak akan mampu menghapus dosa-dosa para kriminal.
Para penegak hukumnya acapkali bermental bobrok. Tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Mudah dibeli. Mereka gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya.
Ketidakadilan atau kezaliman adalah dosa besar. Kezaliman adalah musuh agama dan musuh umat. Bahkan Allah SWT telah mengharamkan kezaliman bagi Diri-Nya. Karena itu Allah pun mengharamkan kezaliman antar sesama hamba-Nya. Di dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman:
Rasulullah saw. mengingatkan kaum Muslim akan besarnya bahaya kezaliman yang kelak akan dihadapi pelakunya pada Hari Kiamat:
Di antara kezaliman yang termasuk dosa besar adalah tidak memberlakukan hukum-hukum Allah SWT seraya memberlakukan hukum-hukum buatan manusia. Allah SWT berfirman: Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’âlim at-Tanzîl, mengutip Ikrimah, menjelaskan maksud ayat tersebut, “Siapa saja yang tidak memutuskan hukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan karena mengingkarinya maka dia sungguh telah kafir. Siapa saja yang mengakui hukum Allah, namun tidak menjalankannya, maka dia zalim dan fasik.”Kezaliman akibat mencampakkan hukum Allah telah menimbulkan ragam kezaliman yang lain kepada sesama manusia. Pengambilalihan sumberdaya alam milik umum,
Demikian pula rusaknya kehormatan. Hilangnya harta dan tumpahnya darah kaum Muslim tanpa ada peradilan yang adil dan sanksi hukum yang tegas. Ragam kezaliman ini adalah akibat hukum Islam terkait hudud tidak dijalankan. Yang diberlakukan adalah hukum-hukum buatan manusia. Sudah begitu, diterapkan secara suka-suka. Hukum berlaku bak pisau. Tumpul ke atas, tetapi tajam ke bawah.
Ketidakadilan atau kezaliman semacam ini pasti membawa kehancuran. Demikian sabda Rasulullah saw. Sebagaimana dituturkan Aisyah ra., pernah orang-orang Quraisy membicarakan perkara seorang perempuan dari suku Makhzumiyah yang mencuri. Mereka berkata, “Siapa yang bisa menegosiasikan hal ini kepada Rasulullah saw.?” Mereka berkata, “Siapa lagi yang bisa melakukan itu selain dari Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah.” Lalu Usamah berbicara kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian bersabda, “Apakah engkau meminta keringanan dalam pelaksanaan had (hukum) di antara hukum-hukum Allah?” Beliau lalu berdiri dan berkhotbah seraya berkata:
Sungguh telah binasa orang-orang sebelum kalian. Pasalnya, jika di tengah-tengah mereka ada orang terkemuka mencuri, mereka biarkan (tidak dihukum). Sebaliknya, jika di tengah-tengah mereka ada orang lemah mencuri, mereka tegakkan (hukum) atas dirinya. Demi Allah, andai Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang akan memotong tangannya (HR al-Bukhari).
Secara tersurat, sabda Baginda Rasulullah saw. di atas menegaskan, bahwa saat hukum diberlakukan secara tidak adil, hanya berpihak kepada yang kuat dan cenderung menzalimi yang lemah, maka kehancuran masyarakat pasti akan terjadi.
Keadilan hanya mungkin terjadi saat Islam ditegakkan. Islam hanya mungkin bisa tegak dengan kekuasaan. Karena itu dalam Islam, kekuasaan tentu amat penting. Tidak lain untuk menegakkan Islam. Berikutnya demi menegakkan keadilan sekaligus menolak kezaliman. Pentingnya kekuasaan sejak awal disadari oleh Rasulullah saw. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya: وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (TQS al-Isra’ [17]: 80).
Imam Ibnu Katsir, saat menjelaskan frasa “waj’allii min ladunka sulthân[an] nashîrâ” dalam ayat di atas, dengan mengutip Qatadah, menyatakan, “Dalam ayat ini jelas Rasulullah saw. menyadari bahwa tidak ada kemampuan bagi beliau untuk menegakkan agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah beliau memohon kepada Allah kekuasaan yang bisa menolong, yakni untuk menerapkan Kitabullah, memberlakukan hudûd Allah, melaksanakan ragam kewajiban dari Allah dan menegakkan agama Allah…” (Tafsîr Ibn Katsîr, 5/111).
Karena itu tepat ungkapan para ulama saat menjelaskan pentingnya Islam berdampingan dengan kekuasaan: اَلدِّيْنُ وَ السُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ وَ قِيْلَ الدِّيْنُ أُسٌّ وَ السُّلْطَانُ حَارِسٌ فَمَا لاَ أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَ مَا لاَ حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah fondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak berpondasi bakal hancur. Apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap (Abu Abdillah al-Qali, Tadrîb ar-Riyâsah wa Tartîb as-Siyâsah, 1/81). Imam al-Ghazali juga menjelaskan: اَلدِّيْنُ وَ الْمُلْكُ تَوْأَمَانِ مِثْلُ أَخَوَيْنِ وَلَدَا مِنْ بَطْنٍ وَاحِدٍ Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar, seperti dua saudara yang lahir dari satu perut yang sama (Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulk, 1/19). Apa yang dinyatakan oleh Imam al-Ghazali setidaknya menegaskan apa yang pernah dinyatakan sebelumnya oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz di dalam surat yang beliau tujukan kepada salah seorang ‘amil-nya. Di dalam surat tersebut antara lain beliau mengungkapkan: وَ الدِّيْنُ وَ الْمُلْكُ تَوْأَمَانِ فَلاَ يَسْتَغْنِي أَحَدُهُمَا عَنِ اْلآخَرِ Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Tidak cukup salah satunya tanpa didukung oleh yang lain (Abdul Hayyi al-Kattani, Tarâtib al-Idâriyah [Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah], 1/395).
Alhasil, meraih kekuasaan sangatlah penting. Namun, yang lebih penting, kekuasaan itu harus diorientasikan untuk menegakkan, memelihara dan mengemban Islam.
Dengan kata lain, penting dan wajib menjadikan orang Muslim berkuasa, tetapi lebih penting dan lebih wajib lagi menjadikan Islam berkuasa, yakni dengan menjadikan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur negara, bukan yang lain. Hanya dengan syariah Islamlah akan tercipta keadilan di tengah-tengah manusia. Saat keadilan tercipta, kezaliman pun pasti sirna.
WalLahu a’lam bi ash-shawwab. Allah SWT pun berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, sebagai para saksi Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat kalian. (TQS an-Nisa’ [4]: 135).
Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas Diri-Ku. Aku pun telah mengharamkan kezaliman itu di antara kalian. Karena itu janganlah kalian saling menzalimi (HR Muslim).
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat (HR al-Bukhari dan Muslim).
Cepat atau lambat, kezaliman akan dibalas Allah dengan malapetaka, karena kezaliman merupakan tindakan melanggar sunatullah. “Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, dan mereka tak akan bisa melepaskan diri” (Q.S. Azzumar(39) : 51) Malapetaka dan sumber malapetaka– bagi umat manusia adalah kezaliman, yaitu perbuatan melanggar hukum-hukum Allah. Diterangkan, “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim “. (Q.S. Al Baqarah(2) : 229) “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.(Q.S. Al Maidah(5) : 45).
Kezaliman merupakan perilaku yang tidak lagi dibangun atas dasar kebenaran, melainkan didasarkan pada kepentingan hawa nafsu ; perilaku yang tidak lagi mengacu pada batasan halal dan haram. Allah swt pencipta alam semesta dan segala isinya tak akan pernah menzalimi ciptaan-Nya. Sejak dini Allah menegaskan hal ini, namun manusialah yang sebenarnya menzalimi dirinya sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak berbuat Zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri sendiri”. (Q.S. Yunus(10) : 44) Allah mengatur segala wujud di alam ini sedemikian rapi, teratur, dan bersistem yang disebut dengan sunatullah.
Tak ada satu makhluk ciptaan-Nya yang terbebas dari sunatullah ini ; bumi, matahari, dan galaksi bergerak pada porosnya yang telah ditetapkan oleh Allah. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.(Q.S. Yaasin (36) : 40) Bila semua benda di galaksi tadi keluar sedikit saja dari porosnya, niscaya dunia akan hancur. Sebuah aturan yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Demikian pula, Allah telah menetapkan aturan untuk kepentingan umat manusia : aturan bagaimana manusia menjalani hidupnya.
Allah, untuk itu, mengutus nabi-nabi pembawa risalah untuk mengajarkan pedoman hidup. Muhamad (saw) nabi akhir zaman, Allah Swt mewahyukan-nya Qur’an sebagai pedoman kehidupan di setiap tempat dan zaman. Dengannya, Allah hendak menunjukkan keadilan kepada ciptaanNya yang bernama manusia. Namun, kebanyakan manusia menzalimi dirinya : mengabaikan pedoman hidup yang sudah Allah berikan ; tak ada aturan kecuali hukum rimba, siapa yang kuat memangsa yang lemah. Perlahan manusia menjadi binatang, dan ketika manusia telah menjadi binatang, maka kerusakan dunia sedang dimulai.
Hari-hari ini, semakin sering dan semakin banyak kita menyaksikan kezaliman di muka bumi ini. Semakin sulit dan kabur untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, termasuk di bumi Iraq kita menyaksikan kezaliman yang tak terbantahkan. Cepat atau lambat, kezaliman akan dibalas Allah dengan malapetaka, karena kezaliman merupakan tindakan melanggar sunatullah. “Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, dan mereka tak akan bisa melepaskan diri” (Q.S. Azzumar(39) : 51) “Apakah kamu tak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Aad ?.
Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. Dan kaum Tsamud yang mampu menembus batu-batu besar di lembah (untuk dibuat rumah-rumah mereka). Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak militer yang banyak yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat kerusakan di negeri itu. Karena itu tuhanmu menempakan cemeti azab kepada mereka. Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi”. (Q.S. Al Fajr(89) : 6-14).
Pentingnya Adil terhadap Diri Sendiri. Keadilan dalam hidup selama ini seolah-olah sulit didapat. Berita di berbagai media, baik online mau online banyak memuat tendensi menguatnya ketidakadilan di masyarakat.
Namun demikian sebenarnya yang terlihat dalam pandangan mata tersebut adalah keadilan yang sepertinya tidak dijalankan dengan baik oleh manusia dalam lingkup makro.
Namun jika kita melihat secara keseluruhan alam semesta, keadilan yang disediakan oleh Allah SWT, Dia Yang Maha Adil, tetap terus berjalan hingga kini. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan akibat terjadinya kebaikan atau kejahatan yang dilakukan oleh manusia.
Orang yang melakukan kebaikan, seperti bersedekah akan mendapatkan balasan kebaikan. Sebaliknya orang yang melakukan keburukan, kejahatan akan mendapatkan balasan setimpal. Masalahnya, balasan terhadap kebaikan dan kejahatan ini tidak mesti setelah dilakukannya perbuatan. Balasan akan terjadi kapan waktunya adalah hak Allah SWT. Bisa esok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, beberapa bulan lagi, beberapa tahun lagi, atau ketika usia tua.
Seorang muslim dituntut berbuat adil. Karena orang berbuat adil sesungguhnya salah satu ciri orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman dalam Alquran yang artinya “Dan janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat kamu tidak mampu berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maidah: 8).
Sebelum seseorang berlaku adil kepada orang lain, ia arus terlebih dahulu berlaku adil kepada dirinya sendiri. Selama ia tidak mampu berlaku adil kepada dirinya, maka ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)
Penggunaan kata takwa ditujukan hanya kepada umat Islam. Namun kita bisa juga melihat bahwa tidak sedikit orang-orang yang bukan Islam ternyata mampu berlaku adil kepada dirinya sendiri dan juga kepada orang lain. Sikap sportif dalam olahraga adalah contohnya. Negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim justru mampu menerapkan keadilan kepada penduduknya sehingga dengan keadilan yang diterapkan menjadikan negara dan mayarakatnya mencapai level kemakmuran yang baik.
Berlaku adil kepada diri sendiri adalah dengan siap meminta maaf kepada manusia maupun hewan jika berbuat salah dan juga siap memohon ampunan kepada Allah SWT jika hati nurani sudah memberitahu kesalahan diri yang diperbuat.
Jika kita tidak mampu berbuat demikian, maka kehidupan kita juga akan mengalami ketidakadilan. Sebabnya karena ternyata kita sendiri yang melakukan kezaliman kepada orang lain dan juga diri sendiri. Oleh karena kita tidak berbuat adil kepada diri sendiri akibat kezaliman yang kita lakukan maka akhirnya kita yang akan mendapat balasan dari perbuatan tersebut.
Jika seperti demikian halnya maka kita pun akan sulit untuk berperilaku adil kepada orang lain. Karena tidak mampu berperilaku adil kepada orang lain, hidup yang kita jalani pun akan mengalami ketidakadilan. Dan yang akan memberikan hukumannya adalah Allah SWT.
Kenapa seseorang tidak bisa bersikap adil kepada dirinya sendiri? Karena ego pribadi yang terlalu tinggi. Sehingga hatinuraninya dikalahkan oleh ego tersebut. Fitrah sebagai manusia yang memiliki hatinurani pun juga tertutupi.
Jika diri sendiri mampu berlaku adil kepada diri sendiri maka kenyamanan hidup insya Allah akan didapat. Apalagi jika mampu berlaku adil kepada orang lain ataupun makhluk hidup lainnya. Meskipun terjadi ketidakadilan di tengah masyarakat.
Maka berlaku adil kepada diri sendiri adalah modal hidup yang utama dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebelum menjadi Nabi, Rasulullah SAW sudah ikut berdagang dengan pamannya dan meraih untung. Cara beliau berdagang menunjukkan bahwa beliau telah berlaku adil kepada diri sendiri dan juga orang lain. Maka keuntunganpun datang.
Rasulullah SAW sebelum menjadi Nabi sudah dikenal sebagai orang yang dipercaya. Hingga setelah beliau menjadi Nabi dan menjelang hijrah, harta yang dititipkan oleh mayarakat Mekah beliau kembalikan. Meskipun ketika menjadi Nabi dan masih dipercaya memegang barang amanah masyarakat, ejekan dan cemoohan terhadap beliau karena menyampaikan ajaran Islam tidak mengurangi kepercayaan orang kepada beliau.
Kepercayaan orang bisa didapat karena beliau berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain. Inilah salah satu ajaran Nabi SAW yang perlu kita tiru dalam hidup sehingga hidup kita semakin berkualitas dan kebahagiaan lahir batin bisa didapat.
Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat. Rasulullahshallallahu alaihi wa sallampernah bersabda,
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para ulama menerangkan, dengan berpatokan pada hadits di atas, bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya yang akan membuatnya tidak bisa lagi menentukan arah/jalan yang akan dituju pada Hari Kiamat; atau bisa juga ia akan menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim, 16/350; Tuhfatul Ahwadzi, “Kitab al-Birr wa Shilah an Rasulillah”, “Bab Ma Ja`a fiz Zhulum”)
Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya: apa yang dimaksud dengan zalim?
Dalam bahasa Arab, zhalim bermakna ‘meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Asal kata zhalim adalah ‘kejahatan, melampaui batas, dan tidak bersikap adil’. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits, “Bab azh-Zha’ ma’a al-Lam”).
Disadari atau tidak, kita sangat sering berbuat zalim, padahal ia bukanlah perkara yang remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya. Dia Yang Mahasuci berfirman dalam hadits qudsi,
“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku mengharamkannya pula di antara kalian; maka janganlah kalian salingmenzalimi.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, dalam artikel ini kita akan mencoba membahas seluk-beluk kezaliman. Semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat.
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian telahdiharamkanatas kalian (untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar); sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengubah syariat Allah
Mengganti (bongkar-pasang) syariat yang telah diturunkan dari atas langit, dengan aturan rendahan yang dibuat oleh manusia, adalah kezaliman yang terbesar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengancam orang-orang yang tidak mau berhukum dengan syariat-Nya,
“Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yangdikurungnya hingga mati. Wanita tersebut masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makanan, tidak diberinya minum, dan tidak pula dilepaskannya hingga ia bisa memakan serangga/hewan yang ada di tanah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Said bin Jubair rahimahullah berkata,
“Suatu ketika, saat aku sedang bersama Ibnu Umar radhiallahu anhuma, kami melewati anak-anak muda atau sekumpulan orang yang menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan anak panah yang dilemparkan.
Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu Umar, mereka bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu Umar radhiallahu anhuma lantas berkata, “Siapa yang melakukan hal ini? Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti ini.” (HR. al-Bukhari)
Membedakan manusia dalam penerapan hukum berdasarkan status sosialnya (nepotisme)
Perbuatan seperti ini sama artinya dengan membuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hal ini akan menumbuhkan kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat yang status sosialnya jelas berbeda-beda. Semua ini hanya akan menyebabkan kebinasaan, sebagaimana keadaan umat terdahulu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan,
“Perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan mereka. Apabila ada orang terpandang di kalangan mereka yang mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum). Namun, jika yang mencuri adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukum had atasnya.” (HR. Ahmad, dinilai sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2344)
Allah Mahasuci dari Berlaku Zalim
Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zalim dan Dia mensucikan diri-Nya dari sifat tersebut.
وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِيدِ
“Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”(Ali Imran: 182)
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍۖ
“Sesungguhnya Allah tidak akanmenzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.”(an-Nisa: 40)
Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Akan tetapi, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”(al-Ahzab: 72)
Cukuplah dua ayat ini menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat zalim. Karena itu, kita harus berusaha mencari obat dari tabiat tersebut. Bukankah Allah telah memerintah kita untuk membersihkan jiwa dari perkara yang mengotorinya?
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”(asy-Syams: 9 - 10)
Penyucian jiwa dilakukan dengan memaksanya agar mau tunduk dan menerima manhaj/aturan Allah subhanahu wa ta’ala.
Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Zalim
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh membersihkan jiwa mereka dari perbuatan rendahan, baik berupa kezaliman, sombong, hasad, maupun selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan menunjukkan jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian (menyucikan jiwa) karena mengharapkan wajah-Nya.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”(al-Ankabut: 69)
Berikut ini beberapa perkara yang dapat membantu seseorang agar terhindar dari berbuat zalim:
Bertakwa kepada Allah
Takwa merupakan wasiat Allah subhanahu wa ta’ala kepada seluruh hamba-Nya dari awal sampai yang akhir. Ia juga adalah asas agama ini. Dengan takwa, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, hendaklah setiap jiwa berusaha merealisasikan takwa serta mengetahui keagungan dan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”(az-Zumar: 67)
Seseorang yang berbuat zalim, seandainya ia benar-benar mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana mestinya, niscaya ia akan menahan diri dan berhenti berbuat zalim.
Tawadhu (rendah hati)
Dalam sabdanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan penekanan agar seseorang senantiasa bersikap tawadhu.
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepadaku (untuk menyampaikan) agar kalian bersikap tawadhu; hingga seseorang tidak akan berlaku zalim kepada orang lain dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. Muslim)
Tawadhu adalah obat kezaliman. Adapun kesombongan, ia merupakan pemicu seseorang untuk berbuat zalim. Seseorang bisa memperoleh sifat tawadhu dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu.
Menjauhi sifat hasad
Sebab, hasad sendiri merupakan sebab kezaliman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari berbuat hasad.
وَلاَ تَحَاسَدُوْا
“Dan janganlah kalian saling hasad.” (HR. Muslim)
Menyemangati jiwa untuk meraih janji Allah untuk orang-orang yang berlaku adil
“Sesungguhnya orang-orang yang adil akan ditempatkan, di sisi Allah, di atas mimbar-mimbar cahaya di sebelah kanan tangan kanan ar-Rahman; dan kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim)
Berdoa dengan tulus kepada Allah
Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa, sebagaimana firman-Nya,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
“Rabb kalian telah berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian.’” (Ghafir: 60)
Maka dari itu, hendaklah seorang hamba senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, agar dirinya dijauhkan dari perbuatan zalim.
Referensi : Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat
Kisah Raja Namrud yang Diazab Allah Swt karena Sombong. Sifat sombong menjadi salah satu sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Bahkan, karena sifat itu, seorang raja yang hidup di masa Nabi Ibrahim, yakni Raja Namrud diazab oleh Allah.
Raja Namrud dikenal karena memiliki harta karun yang luar biasa. Cadangan makanannya berlimpah, bala tentaranya banyak, serta istana yang megah bersama menara babel Raja Namrud.
Dengan semua nikmat dan kekayaan tersebut, ia berperilaku sombong. Sifat tersebut ternyata membuat ia lupa diri dan mengaku sebagai Tuhan. Ia juga meminta pengakuan kepada seluruh rakyatnya.
Setiap orang yang datang ke istananya untuk meminta makanan akan ditanya "Siapakah Tuhanmu?" Maka, mereka semua menjawab "Engkau wahai rajaku." Raja Namrud pun memberikan makanan kepada mereka.
Suatu ketika Nabi Ibrahim datang ke hadapan Raja Namrud, ditanya lah "Siapakah Tuhanmu?" Nabi Ibrahim pun menjawab "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan."
Raja Namrud kembali mengatakan "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan," Maka, Nabi Ibrahim meminta Raja Namrud untuk menerbitkan matahari dari Barat seperti yang dilakukan oleh Allah SWT. "Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkan lah ia dari Barat."
Kisah tersebut jelas difirmankan oleh Allah SWT dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 258 yang berbunyi:
Latin: a lam tara ilallażī ḥājja ibrāhīma fī rabbihī an ātāhullāhul-mulk, iż qāla ibrāhīmu rabbiyallażī yuḥyī wa yumītu qāla ana uḥyī wa umīt, qāla ibrāhīmu fa innallāha ya`tī bisy-syamsi minal-masyriqi fa`ti bihā minal-magribi fa buhitallażī kafar, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn
Artinya: Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," dia berkata, "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat." Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.
Mendengar Nabi Ibrahim menjawab itu, Raja Namrud hanya terdiam dan mengusirnya. Nabi Ibrahim pun pulang dengan membawa tangan kosong.
Namun, Allah SWT memberikan rezeki tak terduga kepada Nabi Ibrahim. Ia mengubah sebuah kantong pasir menjadi makanan lezat dengan berbagai macam pilihan.
Setelah hari itu, Raja Namrud pun gelisah. Allah SWT pun mengutus malaikat dan mengajaknya untuk beriman kepada Allah. Hanya saja, lagi-lagi sifat sombongnya membuat ia lupa diri.
Ia menyangkal kekuasaan Allah dengan berkata, "Memangnya ada Tuhan selain diriku?" Malaikat utusan Allah pun datang hingga dua kali tetapi Raja Namrud tetap tak mau beriman.
Pada kali ketiga malaikat datang dan ditolak oleh Raja Namrud. Malaikat pun berkata "Kumpulkan lah seluruh bala tentaramu hingga tiga hari."
Ia pun mengumpulkan seluruh tentaranya, lalu Allah mengazabnya dengan mengirim jutaan nyamuk menuju bala tentara Raja Namrud. Saking banyaknya, sinar matahari pun tertutup oleh gerombolan nyamuk.
Nyamuk tersebut menghisap seluruh darah bala tentara Raja Namrud. Melihat itu, Raja Namrud pun lari dan bersembunyi ke ruangan khusus tetapi satu nyamuk mengikutinya dan masuk ke kepalanya melalui lubang hidungnya.
Ia menyiksa Raja Namrud selama 400 tahun atau selama ia berkuasa dengan sifat sombongnya. Raja Namrud pun meninggal dunia dengan keadaan dzalim.
Referensi : Kisah Raja Namrud yang Diazab Allah Swt karena Sombong