This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 18 Agustus 2022

Kezaliman, Dosa Besar yang Harus Ditumpas

Kezaliman, Dosa Besar yang Harus Ditumpas

Kezaliman, Dosa Besar yang Harus Ditumpas. Zalim adalah perbuatan tercela yang berbuah dosa. Bahkan dosa besar. Karenanya, Allah menyediakan hukuman di dunia bagi pelaku kezaliman, di akhirat juga terancam siksa.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 24)

Dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنِّى حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِى الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِى فَلاَ تَظَالَمُوا

“Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diriku dan aku jadikan kezaliman itu haram atas hamba-hambaKu maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, keadilan adalah sifat dan esensi ajaran Islam. Dalam berbagai sisi ajarannya Islam mengandung keadilan. Islam adalah ajaran yang pertengahan antara sikap meremehkan dan berlebihan, Islam adalah ajaran yang menyeimbangkan antara keyakinan, hukum, akhlak dan ibadah, antara dunia dengan akhirat.

Penyebab penyimpangan manusia bersumber pada dua hal; kezaliman dan kebodohan.  Jika manusia menyimpang atau melanggar batasan aturan Allah secara sadar dan tahu, maka ia zalim. Jika manusia menyimpang atau melampaui batas karena ketidaktahuannya, maka itulah kebodohan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Sesungguhnya kami menawarkan amanat kepada langit dan bumi namun mereka enggan untuk memikulnya karena takut. Lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi bodoh.” (QS.Al-Ahzab: 72)

Zalim kepada Diri Sendiri

Setiap maksiat yang dilakukan oleh seorang muslim kecil maupun besar, adalah bentuk kezaliman kepada dirinya sendiri. Sebab akibat perbuatan dosa tersebut akan kembali kepada dirinya.

Oleh karena perbuatan dosa akan memberi dampak buruk pada diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat, maka pelakunya disebut sebagai orang yang zalim kepada dirinya sendiri. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ

…dan ada di antara mereka yang zalim kepada diri mereka sendiri…” (QS. Fathir: 32)

Menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa zalimun linafsih adalah orang yang mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan, orang yang terkadang meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan.

Zalim kepada Orang Lain

Bentuk kezaliman lainnya adalah zalim kepada orang lain, bersikap melampui batas dan melanggar hak orang lain.

Kezaliman kepada orang lain, menurut Imam Ibnu Jauzy, mengandung dua unsur maksiat,

Pertama, melanggar hak orang lain; dan

Kedua, melanggar perintah Allah dengan bermaksiat dan menyelisihi syariatNya.

Beliau menjelaskan, dosa perbuatan zalim lebih berat daripada selainnya karena biasanya yang menjadi sasaran adalah orang-orang lemah yang memang tidak berdaya untuk melawan.

Menurut beliau, kezaliman bermula dari hati yang gelap, karena seandainya jiwa benderang dengan cahaya petunjuk, niscaya ia akan bisa mengambil pelajaran.

Seandainya orang-orang zalim itu bisa mencapai cahaya yang diraih oleh orang-orang bertakwa dengan ketakwaannya, niscaya mereka akan berhenti dari kezalimannya karena menyadari kezaliman sama sekali tidak menguntungkan dirinya.

Akibat Perbuatan Zalim di Dunia

Syaikh Muhammad Hassan menceritakan kisah yang mengingatkan kita akibat kezaliman kepada sasama. Kisah nyata yang diceritakan oleh orang yang mengalami sendiri kejadiannya.

Sebuah keluarga kaya memiliki seorang pembantu. Pembantu yang baik dan rajin; Semua pekerjaan rumah ia selesaikan dengan baik. Namun kesombongan dan kezaliman telah membutakan mata majikannya.

Sedikit kesalahan yang ia lakukan akan berbuah perkataan yang kasar, suara yang meninggi, bahkan hukuman fisik yang sungguh tak seharusnya ia dapatkan.

Sang pembantu tiada mengubah kebaikan dan pelayanannya. Demikian pula kezaliman tidak berhenti ia hadapi. Sampai suatu hari ia menderita sakit yang mengakibat ia kehilangan penglihatannya. Buta.

Sang pemiliki rumah pun menyuruhnya pergi karena dianggap sudah tidak lagi berguna. Sang pembantu pun pergi dengan membawa kesedihan tak terperi.

Waktu terus belalu. Keluarga mereka bahagia. Sudah tidak ada kenangan yang tersisa dari pembantu yang malang itu. Hingga anak-anak mereka yang sudah dewasa sudah menyesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Tak lama berselang anaknya mereka menikah.

Singkat cerita kebahagiaan keluarga besar ini semakin lengkap dengan lahirnya seorang bayi laki-laki yang mungil. Kebahagiaan mereka pun merekah. Namun tiba-tiba kebahagiaan itu berubah menjadi tangis. Bayi laki-laki yang lahir ternyata mengalami kebutaan.

Segala upaya sudah dilakukan. Mereka bolak balik rumah sakit, mendatangi dokter spesialis untuk berkonsultasi. Sudah tak terhitung biaya yang mereka keluarkan untuk mengobati sang buah hati.

Tiba-tiba mereka teringat dengan pembantu yang dahulu tinggal bersama mereka. Allah seperti menuntun ingatan mereka kepadanya. Teringatlah mereka dengan perlakukan buruk yang telah mereka berikan kepadanya. Kesadaran bahwa keadaan sang cucu adalah akibat dari kezaliman yang telah mereka lakukan. Kezaliman yang telah hampir mereka lupakan.

Akirnya dengan segala cara mereka mencari tahu keberadaan sang pembantu. Hingga mereka menemukannya di sebuah rumah sederhana di tengah kampung yang jauh.

Mereka menangis mengemis maaf kepada mantan pembantu yang buta. Sang pembantu tampak tabah sabar dan ceria, dengan hati yang mulia menyambut kedatang keluarga yang dulu sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.

Akibat Perbuatan Zalim di Akhirat

Ketika manusia hanya berharap kepada kasih sayang Allah.

Ketika manusia hanya berharap amal baiknya diterima oleh Allah dan dosa-dosanya diampuni.

Ketika tidak beranfaat lagi harta benda sepenuh bumi dan anak keturunan yang banyak.

Setelah manusia melintasi sirath, maka dilakukanlah peroses qishash; semacam penyelesaian terakhir terhadap segala persoalan yang terjadi antar sesame manusia yang belum terselesaikan di dunia.

Karena sudah tidak ada pengembalian berupa harta, dan tiada lagi orang punya waktu untuk meminta dan memberi maaf, maka yang digunakan sebagai alat penyelsaian adalah amal baik maupun buruk.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dalam sabda beliau,

“Jauhilah oleh kamu sekalian perbuatan zalim, karena kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (Muttafaq alaih)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kita menyelesaikan segala urusan dan tanggungan dunia dengan sesame, agar kelak tidak dihisab karena perkara yang belum selesai.

Beliau bersabda,

مَنْ كَانَتْ ‌عِنْدَهُ ‌مَظْلِمَةٌ ‌لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Siapa yang memiliki kezaliman kepada saudaranya baik kezaliman terhadap kehormatannya, atau sesuatu yang lain, maka hendaknya ia meminta agar dihalalkannya, sebelum tiba hari tiada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shalih maka amal shalih itu akan diambil darinya sesuai dengan kadar kezalimannya, jika ia tidak memiliki amal shalih maka dosa maksiat orang yang dizaliminya akan diambil dan ditimpakan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534)

Melawan Kezaliman itu Bagian dari Syariat

Jika telah jelas bahwa tindakan zalim dan semena-mena adalah perbuatan dosa besar, maka mencegah dan melawannya adalah bagian dari syariat Islam.

Mencegah dan melawan kezaliman adalah merupakan bagian dari nahi munkar, bagian dari dakwah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada yang kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104)

Dalam Islam, mencegah dan menghentikan kemungkaran adalah bagian dari sikap peduli dan empati kepada sesama manusia umumnya dan sesama muslim khususnya. Karena semua kemungkaran pastilah berujung keburukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tolonglah saudaramu baik ia berbuat zalim maupun terzalimi.”

Para shahabat bertanya, “Menolong orang yang terzalim sudah tentu wahai Rasulullah, lalu bagaimana menolong orang yang berbuat zalim?”

Rasulullah menjawab, “Yaitu dengan menahannya dari berbuat zalim.” (HR. Al-Bukhari)

Jika orang-orang yang berbuat zalim adalah kelompok manusia yang memiliki kekuatan atau kekuasaan, maka syariat menyediakan jalan jihad untuk menghilangkannya. Oleh karena itu di antara bentuk jihad adalah jihad melawan orang-orang zalim.

Jika kaum muslim lemah tak memiliki kekuatan, maka jihad dengan kata-kata dalah pilihannya, jihad melalui lisan maupun tulisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‌أَفْضَلُ ‌الْجِهَادِ ‌كَلِمَةُ ‌عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang aniaya.” (HR. Abu Dawud No. 4344; HR. At-Tirmidzi No. 2174; HR. Ibnu Majah No. 4014. Hadits shahih).

Referensi : Kezaliman, Dosa Besar yang Harus Ditumpas











Kezaliman Merajalela, Inilah Janji Allah Swt di dalam Al-Qur’an

Ilustrasi : Kezaliman Merajalela, Inilah Janji Allah Swt di dalam Al-Qur’an

Kezaliman Merajalela, Inilah Janji Allah di dalam Al-Qur’an. Pada setiap masa umat manusia, kezaliman selalu hadir dan tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah dilakukan manusia terhadap sesamanya.  Allah subhanahu wa ta’ala merekam peristiwa kezaliman di dalam Al-Qur’an:

“kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (TQS. Al-Fajr: 10-14)

Ayat di atas memperlihatkan kepada kita mengenai gambaran bahwa semua bentuk kezaliman yang mereka lakukan pasti ada akhirnya. Semua dilihat oleh Allah dimana pun berada.  Allah maha melihat dan mengetahui segala bentuk perbuatan zalim yang telah diperbuat.

“Orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS. Asy-Syu’ara: 227)

Akan tetapi, kebanyakan orang selalu menginginkan serta mengharap bahwa hukuman dan siksaan kepada orang zalim haruslah segera datang. Padahal tidak demikian.

Pertama, Allah sengaja membiarkan orang-orang zalim untuk melakukan praktiknya. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada mereka agar mau bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar.

“Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh rencana-Ku amat tangguh dan terencana, kuat, dan tidak ada yang menandinginya.” (TQS. Al-A’raf: 183)

Kedua, adanya Istijrad. Maknanya adalah naik sedikit demi sedikit, dari bawah ke atas. Hal tersebut terjadi dalam masalah kenikmatan, kemudahan dan kemewahan, sehingga semakin membuat para pelaku zalim menjadi lalai dan jauh dari Allah.

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka.” (TQS. Al-An’am: 44)

Betapa mengerikannya rencana Allah bagi orang-orang yang berbuat kezaliman karena Allah sudah mempersiapkan balasanya bagi mereka.

Akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (TQS. Al-A’raf: 182)

Ketiga, munculnya Tazyin. Merupakan perbuatan buruk yang terlihat indah. Para pelaku kezaliman sudah tidak merasa sedikit pun bahwa perbuatannya itu tercela, namun terlihat baik-baik saja. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka.” (TQS. Al-‘Ankabut: 38)

Keempat, Akhdz, yakni siksa dan azab Allah. Ini merupakan fase terakhir yang akan Allah berikan kepada pelaku kezaliman.

“Begitulah siksa Tuhanmu jika Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (TQS. Hud: 102)

Inilah beberapa fase sebagai cara Allah dalam membalas perbuatan orang-orang zalim. Sungguh semuanya pasti akan berakhir dan tidak ada yang abadi selamanya kecuali Allah Swt.

Referensi : Kezaliman Merajalela, Inilah Janji Allah Swt di dalam Al-Qur’an 





Akhir Tragis Orang-Orang Zalim yang Diabadikan Al Qur'an

Ilusrasi : Orang-Orang Zalim yang Diabadikan

Akhir Tragis Orang-Orang Zalim yang Diabadikan Al Qur'an. Setiap kezaliman pasti akan berakhir dengan kehancuran. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ

"Wala tahsabannallaha ghaafilan 'an maa ya'maluzh zhalimuun (Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim)." (QS Ibrahim 42). 

Silakan orang-orang zalim itu melakukan segala cara untuk membentengi kezalimannya, Allah pastikan itu akan musnah.

Sebab, semua kezaliman tidak hanya melanggar syariatullah, tetapi juga sunnatullah. Apa pun kekuatan itu, jika melanggar ketentuan-Nya pasti akan hancur. 

Masih kurang apa kekuatan firaun pada masa itu? Ternyata berakhir dengan cara yang sangat mengenaskan. Allah menenggelamkannya di Laut Merah. Kaum Aad dan Tsamud juga dihancurkan dengan hukuman yang pedih. 

Kaum Tsamud dihancurkan dengan thaagiah (suara yang sangat keras), sedangkan kaum Aad dihancurkan dengan badai angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari 

فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

"Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum  Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.

Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (QS Al Haqqah 5-8). Itu pelajaran supaya tidak ada lagi setelah itu orang-orang yang berbuat zalim. 

Dalam surat Al Fajr: 6-14, setelah menyebutkan kaum-kaum terdahulu yang diazab, Allah SWT menggambarkan urutan mengapa azab itu menimpa mereka. 

Pertama, karena melakukan penyimpangan thagha. Dari penyimpangan ini muncullah yang kedua, banyaknya kerusakan, seperti zina, korupsi, pembunuhan, dan sebagainya. Lalu terjadilah yang ketiga, yaitu turunnya azab Allah SWT:

 فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ 

"Fashabba alaihim rabbuka sautha azaab". 

Di sini Allah SAW memastikan bahwa sekecil apa pun perbuatan zalim itu tetap dalam pantauan-Nya: 

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ 

"Inna rabbaka labil mirshaad". Artinya, orang-orang beriman yang berada dalam kebenaran optimislah selalu akan datangnya sebuah kemenangan, teruslah bersabar dalam ketaatan, lakukan ikhtiar semaksimal kemampuan. 

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ  

"Wal aaqibatu lilmuttaqiin" (kemenangan kelak pasti akan berpihak kepada siapa yang benar) (QS Al Araf 128). 

Ayat ini sejatinya bagian dari nasihat Nabi Musa kepada kaumnya agar tetap bersama Allah dan bersabar pada saat dikejar-kejar firaun dan setelah itu mereka menyaksikan langsung bagaimana Allah memenangkan mereka dan menenggelamkan firaun dengan sehina-hinanya. 

Referensi : Akhir Tragis Orang-Orang Zalim yang Diabadikan Al Qur'an






Senin, 15 Agustus 2022

Allah Swt Tidak Ridho kepada Orang yang Putus Asa

Allah Swt Tidak Ridho kepada Orang yang Putus Asa

Allah Swt Tidak Ridho kepada Orang yang Putus Asa. kebiasaan orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt adalah berjalan-jalan di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai sebuah perenungan. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.

Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.

“Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas oleh Abu Hanifah. “Agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?”

Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridho kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.

Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.

Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu terdengar lagi. Masih orang itu juga. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku,” ratapnya.

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, lalu dia pun meneruskan perjalanannya.

Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan dalam kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. 

Sungguh tidak ridho Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil.”

Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.

Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telah memberikan nasihat itu.

Referensi : Allah Swt Tidak Ridho kepada Orang yang Putus Asa




Allah Swt Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa

Allah Swt Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa

"Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS az-Zumar: 53- 54).

Dalam dua ayat Alquran ini, Allah memberikan jaminan kepa da seluruh umatnya untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat- Nya. Ayat ini membawa kabar gem bira bahwa Allah akan me ngampuni setiap dosa hamba- Nya baik yang besar maupun ke cil. Asalkan ia mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Ustaz Banu Muhammad, pengisi kajian di Masjid Universitas Indonesia (UI) Depok, mencontohkan sebuah kisah sahabat Nabi, yaitu Abu Mihjan. Seorang jagoan di medan perang, tetapi memiliki kecanduan untuk meminum khamar. Di beberapa riwayat bahkan men ce ritakan Abu Mihjan ini lebih dari empat kali terkena hukuman cam buk 40 jilid akibat kecanduannya ini.

Berulang kali ia ingin berhenti dan bertobat, tetapi berkali-kali ia terjerumus dalam masalah yang sama. Hingga akhirnya pada suatu waktu pecahlah Perang Qaadisiyyah, sementara ia dalam kondisi mabuk dan masih belum sadar sepenuhnya. Singkat cerita, Abu Mihjan tetap dibawa oleh pang lima perang saat itu, Sa'd Maalik Abi Waqqaash radhiyallahu 'anhu, ke medan perang da lam keadaan terikat.

Setelahnya, karena merasa menyesal akibat kebiasaannya meminum khamar dan mendapati ada perang hebat saat ia tidak sepenuhnya sadar, Abu Mihjan pun bertaubat. Dia menghentikan kebiasaannya minum khamar selama-lamanya.

"Dari kisah ini, yang bisa di petik adalah selevel sahabat Nabi pun, tidak mudah untuk keluar dari kebiasaan buruk. Tidak mudah menghentikan kebiasaan itu, namun kita juga jangan ber pu tus asa untuk bertobat dan me mohon ridha Allah SWT. Allah akan menyediakan pintu bagi orang-orang yang istiqamah," ujar Ustaz Banu kepada para jamaah.

Ustaz Banu pun menyebut ada beberapa cara agar tobat dan jalan umat tetap dalam rahmat Allah SWT. Pertama, sebagai umat jangan pernah keluar dari barisan orang-orang yang baik, seburuk apa pun perilaku dan sebanyak apa pun dosa yang telah dilakukan. Menurut dia, ini sya rat pertama yang harus dilakukan agar semangat kita untuk ber ubah menjadi lebih baik tetap terjaga dengan baik.

Cara kedua yaitu biasakan memiliki setidaknya satu amalan yang baik dan kita suka untuk melakukannya. Amalan baik ini bisa banyak bentuknya dan pilih satu yang tidak membuat kita merasa terbebani. Bisa dengan menjaga shalat Qiyamul lail atau shalat Tahajud, puasa Daud, pua sa Senin-Kamis, atau wirid. Iba dah yang kita jaga ini juga akan menjaga kita dari perbuatan-perbuatan buruk.

Terakhir atau cara ketiga, ya kinlah bahwa Allah selalu membukakan pintu tobat bagi umat- Nya yang ingin kembali kepada- Nya. Meski dosa yang kita miliki sudah bertumpuk, kita menjauh dari kebaikan, yakinlah bahwa Allah selalu membuka pintu rah mat bagi umat-Nya.

Referensi : Allah Swt Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa








5 Kisah Orang yang Putus Asa Karena Kesulitan Hidup

5 Kisah Orang yang Putus Asa Karena Kesulitan Hidup

Banyak orang yang putus asa karena kesulitan hidup. Tekanan dan ujian membuat hidup semakin terpojok hingga berbuah keputusasaan. Apakah anda juga mengalaminya ?

Dalam hidup, ada bagian-bagian yang harus kita lewati. Ada bagian bahagia, susah dan banyak lagi. Hidup tidak akan seluruhnya senang, dan tidak juga selalu berisi kesedihan. 

Setiap perjalanan hidup adalah pelajaran, dan setiap pelajaran adalah untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya.

Oleh sebab itu, sebagai muslim kita dianjurkan untuk tidak berputus asa. Sebab berputus asa adalah salah satu tanda kurangnya bersyukur. Sebab orang yang bersyukur akan memiliki asa dan dirahmati oleh yang maha kuasa. 

Berikut adalah beberapa kisah orang putus asa karena kesulitan hidup, ada yang bangkit dan ada juga yang memilih meratapi;

1. Putus Asa, Ingin Bunuh Diri (Pendiri KFC)

Siapa yang tidak tau dengan KFC, ayam goreng renyah ini sangat terkenal hingga keseluruh penjuru dunia. Namun, tahukah anda bahwa ada kisah menarik dibalik pendiri KFC?!!

Hidupnya teramat pilu sebelum ia sukses. Sempat jatuh bangun, membuat Sanders beberapa kali harus mengganti status kependudukannya. 

Saat usianya menginjak 40 tahun, tabungannya masih terbilang sangat sedikit. Sanders merasa putus asa karena di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia belum juga meraih kesuksesan.

Masa paling menyedihkan dalam hidupnya adalah kerika ia  dipecat dari tempat kerjanya lantaran membangkang kepada atasan. Kemudian, tak berselang lama, istrinya meninggalkan Sanders dan membawa kedua putrinya. 

Karena merasa hidupnya sangat hancur, Sanders pun berpikiran untuk bunuh diri. Ia merasa amat putus asa, hidup nya bagaikan sampah yang tidak berguna, padahal ia sudah tua. Untungnya, ia bangkit dan suskses. Meski suskes itu baru datang setelah usia 65 tahun. 

Buat sobat yang merasa belum juga sukes, coba renungkan kisah ini pendiri KFC ini ya. Supaya termotivasi.

2. Rating Buruk Dipecat, Kisah Oprah Winfrey 

Salah satu acara talk show yang menjadi kiblat talk show di berbagai dunia adalah The Oprah Winfrey Show. Acara tersebut juga terbilang sangat sukses karena ratingnya sangat tinggi. 

Sosok Oprah lah yang menjadi kunci. Namun dibalik kesuksesan itu, dulu ia pernah amat putus asa dan diambang kehancuran.

Saat usia 22 tahun ia pernah dipecat kantornya karena rating acaranya rendah, saat itu ia menjadi pembaca berita. 

Ia sempat meratapi hingga putus asa, namun untunya ia terus mengevaluasi diri dan juga berkembang. Ia pun bangkit dan kini menjadi orang yang sangat kaya dan terkenal.

Gak nyangka kan, orang se pamor itu pernah gak laku dan bahkan dipecat. Jika dirimu merasa gagal, mungkin memang sedang dalam fase dibawah, yakinlah bahwa hari esok kau akan berada diatas.

3. Putus Asa Karena Orang Tua

Ia tak mau disebutkan namanya, namun ia sangat mau jika ceritanya disebutkan. Pemuda 19 tahun yang masuk kuliah dengan segala keterbatasan. Keterbatasan itu teramat makin pedih tat kala kedua orangtuanya lepas tanggungjawab. 

"Nak, kamu udah banyak utang karena kuliahmu. Kami gak sanggup lagi nak" ucap orang tuanya. Seketika itu membuat si pemuda terpuruk.

Selama ini ia tak pernah minta neko-neko. Tapi nyatanya orangtuanya berasalan habis uang banyak karena menguliahkan anak. 

"Habis kemana uang mereka, setauku aku tak pernah minta lebih, aku selama ini hidup amat sederhana. Bahkan uang makan bulanan pun aku tak minta" si pemuda terbenak.

Aku tak apa putus kuliah, tapi jangan kalian beralasan uang habis karenaku. Coba kalian berkata jujur, uang kalian habis untuk apa?" si pemuda itu akhirnya marah, menanyakan kejelasan. 

Namun orang tua tetap berdalih bahwa uangnya habis untuk mengirimi ia kuliah. Hal ini membuat si pemuda menjadi kecewa. Ia kecewa dan putus asa lantaran orang tuanya berbohong, ia tau benar bahwa orang tuanya berbohong padanya.

Peristiwa ini membuat pemuda putus asa. Ia pun minggat dari rumah dan memutuskan tak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya selama bertahun-tahun. 

Pemuda ini memilih merantau ke Jakarta, mengadu nasib ditengah lautan manusia. Kemudian beberapa tahun kemudian ia pulang dengan kesuksesan, namun kepulangan itu tetap bersama dengan kekecewaanya.

4. Bunuh Diri 

Kesulitan hidup membuat banyak orang melakukan bunuh diri. Mereka memilih mengakhiri hidup lantaran sulitnya bertahan atau mengembangkan hidupnya. 

Bunuh diri adalah masalah yang sangat mengejutkan. Perlu diketahui bahwa terdapat sekitar 1,5 juta kematian tidak wajar setiap tahun di dunia, 800 ribu di antara karena bunuh diri. 

Dengan angka tersebut, dapat diartikan bahwa setiap 40 detik ada 1 orang yang melakukan bunuh diri di dunia,  laporan WHO. 

Waw, amat banyak ya. Semoga kita dan orang-rang disekitar kita dijauhkan dari hal ini. Amin

5. Hadapi Masa Sulit, Budi Doremi Akui Sempat Ingin Bunuh Diri

Budi Doremi pernah menceritakan mengenai masa-masa sulitnya. Masa sulit itu lantaran dirinya tidak percaya diri di lingkungan sekitarnya hingga mengalami depresi.

Karena permasalahaan itu  Budi seakan merasa mati rasa. Ia tak bisa merasakan dicintai dan mencintai hingga akhirnya ia sempat terpikir untuk melakukan bunuh diri. Waw, ada yang megalami hal sama ?

Sobat, deretan kisah kisah tentang orang yang putus asa karena kesulitan hidup nya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita tidak tenggelam dalam keputus asaan. 

Percayalah bahwa masa sulit itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani. Masa sulit itu terkadang tak bisa dihindari karena tuhan mengirimkannya sebagai ujian pendewasaan bagi diri kita.

“Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar: 53).


Mengenal Putus Asa dan Cara Mengatasinya

Mengenal Putus Asa dan Cara Mengatasinya

Apakah kalian pernah merasa putus asa? Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalami hal tersebut. Terkadang merasa tidak berdaya karena adanya variabel kehidupan yang tidak bisa kita kontrol menyebabkan sebuah kejadian yang mungkin tragis.

Pengertian Putus Asa

Jika kita larut dalam kejadian itu, maka bisa saja hal tersebut bisa menyebabkan stres. Ketika stres tersebut terjadi secara terus-menerus, kita akan merasa lelah dan mungkin saja terkena gangguan depresi. Dalam kasus tersebut, ada kemungkinan kita bisa mengalami gangguan depresi mayor. Gangguan depresi mayor atau GDM adalah kondisi klinis yang sangat lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari (Kessler dkk., 2005). Dalam konteksnya, depresi menjadi salah satu penyebab dari kasus yang cukup membebankan di dunia (World Health Organization, 2008).

Dari berbagai model kognitif depresi yang ada, ada satu yang cukup menonjol dalam pembahasannya yaitu teori depresi keputusasaan (Abramson dkk., 1989). Awalnya teori ini berasal dari model yang menyatakan bahwa paparan berulang terhadap lingkungan yang tidak mudah untuk dikendalikan dan rasa tidak nyaman akan memberikan rasa terjebak dan putus asa ketika berada dalam situasi tersebut. Akibat dari keputusasaan tersebut, akhirnya menyebabkan depresi. Namun model ini tidak dapat menjelaskan secara detail mengapa individu tersebut menjadi depresi ketika dihadapkan dengan paparan stres yang tidak dapat dikendalikan sementara yang lainnya tidak (Abramson, Seligman, & Teasdale, 1978).

Aspek Putus Asa

Akhirnya pembentukan dari teori keputusasaan tersebut dibentuk ulang dengan membentuk sebuah atribusi kausal yang terdiri dari tiga dimensi yaitu dari ‘internal’ ke ‘eksternal’, ‘stabil’ ke ‘tidak stabil’, dan dari ‘umum’ menjadi ‘spesifik’. Jika tiga atribut tersebut mengalami kejadian negatif dalam hal yang bersifat internal, stabil, dan umum dapat menyebabkan depresi. Contoh mudahnya adalah ketika kalian mengalami quarter life crisis, atau permasalahan dengan teman kamu, maka ada kemungkinan bahwa dirimu akan melihat bahwa kejadian tersebut adalah akibat dari lemahnya kemampuanmu untuk mengendalikan diri (internal), dan kamu percaya bahwa sifatmu tidak dapat diubah (stabil) sehingga menyebabkan pengaruh negatif dalam setiap interaksi sosial yang kamu lakukan (umum).

Lalu Apa yang Perlu Kita Dilakukan?

Mengalami kondisi putus asa memanglah cukup menguras mental dan energi yang ada dalam diri kita. Memang mengalami rasa putus asa bisa membuat pandangan kita terhadap hidup menjadi lebih tidak berarti dan terkadang membuat perasaan kita lebih buruk dari sebelumnya. Tetapi tidak perlu takut, kamu bisa mencari cara menguatkan mental ketika merasa putus asa agar kamu bisa tetap merasa lebih baik apapun kejadian yang menimpa dirimu.


1. Coba Berpikir bahwa Pikiranmu sedang Mencoba Mengelabuimu

Merasa insecure, menjelekkan diri sendiri, atau bahkan menjelekkan sifatmu sendiri. Cara tersebut merupakan hal yang klise oleh pikiran kita saat mengalami putus asa yang dapat menyebabkan kita merasa gagal atau mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan berubah selamanya. Tapi jangan langsung menganggap hal tersebut benar, karena proses berpikir yang ada dalam diri kita juga bisa salah saat melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

2. Bantah Pikiranmu dengan Pendapat yang Berlawanan

Ketika pikiran negatif mulai merasuki diri kita, cobalah untuk merenung sejenak selama beberapa menit tentang cara berpikir kita dan mencoba untuk melawan argumen negatif yang ada di pikiranmu dengan kemungkinan positif yang ada saat mengalami kejadian tersebut.

3. Mencari Hikmah saat Mengalami Putus Asa

Kedengarannya aneh namun cara tersebut bisa menjadi dorongan untuk keluar dari perasaan putus asa. Mungkin kalian pernah secara tidak sengaja menemukan bahwa rasa putus asa menjagamu dari perasaan kecewa. Karena rasa putus asa, kamu tidak memiliki ekspektasi apa-apa sehingga kamu tidak perlu merasa khawatir untuk dikecewakan oleh suatu keadaan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi jangan menjadikan cara tersebut sebagai alasan untuk tidak mempunyai impian atau ekspektasi ya.

4. Memikirkan Apa yang Bisa Kamu Petik Jika Mengembangkan Harapan

Kebalikan dari poin sebelumnya, mempertimbangkan apa yang terjadi jika kamu lebih berharap bisa menjadi salah satu cara terhindar dari rasa putus asa. Contohnya seperti, jika saja kamu berharap, mungkin kamu lebih mudah untuk pergi bertemu orang-orang baru atau inisiasi mencari hobi atau pekerjaan baru. Melakukan semua hal tersebut meskipun dalam keadaan tidak berharap. Terkadang kita harus mengubah sikap kita menjadi berharap baru nanti perasaan kita ikut menjadi lebih berharap.

5. Mengikutsertakan Pemecahan Masalah

Selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah atau mengubah perasaan yang ada dalam dirimu, tidak terkecuali dalam hal putus asa. Menghabiskan waktu untuk berpikir dan mencoba untuk mencari resolusi dari permasalahan tersebut. Jika kamu tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara konvensional mungkin kamu bisa mengubah suasana dari perasaan kamu seperti melakukan me time, istirahat dari pekerjaanmu sejenak, mengendalikan emosi, dan berbagai macam hal lainnya yang bisa meningkatkan mood.

6. Bicarakanlah Perasaanmu Terhadap Orang atau Keluarga yang Kamu Percaya

Jika kamu memiliki kesulitan setelah beberapa poin yang penulis berikan, mungkin kamu bisa untuk mengidentifikasi masalah yang ada bersama dengan teman atau keluarga yang kamu percaya. Bisa saja mereka dapat membantu kamu untuk melihat masalah dengan perspektif yang baru atau bahkan memberikan usulan yang berbeda dari rencana awalmu dan lebih efektif. Menceritakan pengalaman yang sedang menimpa dirimu memanglah berat, tetapi becerita kepada seseorang bisa menjadi kunci agar kamu bisa lebih berharap terhadap situasi yang sedang kamu alami.

7. Cobalah untuk Mengembangkan Rencana

Setelah bercerita dan mendapatkan wawasan dari apa yang kamu evaluasi sendiri atau bersama dengan orang yang kamu percaya, cobalah untuk mengembangkan rencana tersebut. Perlu diingat bahwa jika rencana kamu gagal sekalipun kamu masih bisa membuat rencana baru atau plan B dan seterusnya jadi tidak perlu merasa murung. Anggap saja kita sedang melakukan eksperimen untuk mencari cara efektif dari apa yang kita lakukan.

8. Mengambil Tindakan

Sebuah rencana tanpa ada tindakan adalah hampa, maka dari itu setelah adanya rencana kita segera merealisasikan rencana tersebut. Rasanya tidak mungkin jika kamu hanya berdiam diri akan mendapatkan secercah harapan. Kamu akan mendapatkan harapan ketika kamu mulai menaruh dirimu sendiri di luar sana untuk mulai mengambil tindakan dan mulai melihat apa yang bisa kamu lakukan terhadap dirimu sendiri. Mulai dengan melakukan mindfulness untuk meningkatkan kualitas pikiran.

9. Cari Bantuan dari Orang yang Profesional

Pada akhirnya, rasa putus asa juga bisa menjadi gejala dari masalah kesehatan mental seperti depresi. Jika kamu merasakan perasaan putus asa lebih dari dua minggu atau jika kamu merasa khawatir dengan kesehatan mentalmu, cobalah untuk berbicara terhadap seseorang.

Orang yang profesional dalam bidang kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater bisa menilai kebutuhan mentalmu dan mendiskusikan pilihan perawatan yang ingin kamu lakukan seperti terapi atau pengobatan. Kebanyakan dari masalah kesehatan mental bisa diobati.

Referensi : Mengenal Putus Asa dan Cara Mengatasinya






14 Cara Mengatasi Rasa Putus Asa dan Depresi

14 Cara Mengatasi Rasa Putus Asa dan Depresi

14 Cara Mengatasi Rasa Putus Asa dan Depresi. Emosi yang paling menantang yang dirasakan oleh setiap orang berbeda – beda. Pada beberapa orang tertentu, keputus asaan adalah emosi yang paling menyulitkan. Perasaan bahwa diri sedang mengalami suatu hambatan, terantuk dan tidak mengalami perubahan dari hari ke hari hingga merasa esok hari tidak akan menjadi lebih baik seringkali dialami oleh orang yang sedang depresi. Perasaan demikian membuat seseorang harus bergulat hanya untuk menjalani hidupnya sehari – hari dan merasa tidak ada jalan lain lagi untuk hidupnya.

Keputus asaan dapat menghabiskan seluruh waktu dan energi Anda untuk hidup, sehingga tidak lagi mempunyai gairah dan semangat untuk melanjutkan. Rasa putus asa berbeda dengan kemarahan, yang dapat memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Putus asa akan cenderung membuat orang menyerah terhadap kehidupannya sendiri, merasa kekurangan energi dan merasa tidak berguna. Untuk itu, orang yang sedang putus asa biasanya juga akan kekurangan kemampuan mengekspresikan diri, dan tanpa itu emosi yang dirasakan akan berlangsung lebih lama.

Mengatasi Keputusasaan yang Berbahaya

Rasa putus asa merupakan bagian dari depresi yang dialami oleh seseorang. Salah satu cara dalam menangani depresi adalah dengan membaginya menjadi bagian – bagian yang berbeda. Untuk kebanyakan orang, lapisan teratas dari depresi tersebut adalah rasa putus asa. Cara mengatasi rasa putus asa yang dapat dilakukan sebagai bagian dari pengobatan untuk masalah depresi yaitu:

1. Mengambil napas

Ketika perasaan sedang mencapai dasarnya, Anda perlu mengambil kesempatan untuk menarik napas. Diam sejenak dan mengambil napas akan berguna untuk menenangkan diri dan memfokuskan pikiran. Walaupun tampaknya terlihat mustahil, akan ada hari – hari yang lebih baik di masa depan. Namun untuk dapat mencapainya Anda perlu ingat untuk tetap mengambil kesempatan menenangkan diri, agar dapat menjauhkan diri dari ciri – ciri orang ingin melakukan bunuh diri.

2. Pecahkan polanya

Hal pertama yang harus dilakukan pada pola negatif apapun adalah untuk menghentikan yang sedang Anda lakukan. Untuk mengubahnya, Anda harus mendobrak pola yang terbentuk. Ini berarti memisahkan diri secara emosional dari situasi yang dialami untuk cara menguatkan mental diri sendiri. Mengambil waktu sejenak akan berguna. Jika tidak memungkinkan, temukan tempat tenang dimana Anda dapat berpikir sendirian diantara waktu luang.  Katakan kepada diri sendiri bahwa Anda akan meninggalkan semua kekhawatiran dan akan Anda temui nanti ketika diinginkan.

3. Bebaskan pikiran

Selama waktu luang Anda, jangan berpikir mengenai cara pemecahan masalah apapun. Fokus kepada istirahat, penyembuhan, dan menganugerahi diri Anda dengan pikiran yang positif, sehat dan berbagai pengalaman baru. Ubah aktivitas harian dari segala macam pengalihan dan gangguan kepada minat yang menenangkan. Jernihkan pikiran dengan kesunyian yang akan melakukan keajaiban kepada pikiran – pikiran Anda dan membantu untuk lebih terpusat pada saat yang baik.

4. Tentukan poin – poin pikiran Anda

Ketika pola sudah pecah, tentukan masalah inti yang membuat Anda susah dan temukan sumber berkualitas untuk memulai mengumpulkan ide atau buah pikiran Anda. Apakah hubungan yang dijalani membuat Anda putus asa? Membutuhkan pemulihan spiritual? Apakah masalah Anda adalah depresi, dan memerlukan waktu untuk menumbuhkan pikiran positif, manajemen stress atau manajemen waktu? Banyak sumber yang bisa Anda cari seperti internet, buku, grup meeting dan lain sebagainya.

5. Jangan mengabaikannya

Kalau Anda menganggap bahwa waktu dapat menghilangkan masalah Anda, dan rasa putus asa tersebut akan hilang seiring waktu maka sebaiknya pikirkan lagi. Perasaan Anda tidak akan hilang sepenuhnya, dan sesekali pasti masih akan dirasakan pada suatu waktu di masa depan. Apabila Anda tidak melakukan sesuatu untuk mengatasinya sedini mungkin, misalnya melakukan cara mengatasi rasa putus asa sejak awal maka bisa jadi perasaan itu akan terpendam dan menjadi bom waktu yang siap meledak. Anda bisa jadi tidak dapat melanjutkan hidup dan selalu terkenang akan masa lalu. Maka jangan mengabaikan rasa sakit apapun yang Anda rasakan, namun cobalah untuk mencari cara agar Anda dapat mengatasinya sebab mengatasi tidak sama dengan mengabaikan.

6. Kuatkan diri Anda

Cara mengatasi rasa putus asa dapat dilakukan jika Anda dapat menguatkan diri sesuai kondisi yang terjadi. Apabila Anda mengalami cobaan dalam hidup, bersedih atau berduka adalah respons yang normal. Anda dapat merasakan penderitaan tersebut seperlunya, kemudian berusaha untuk bangkit kembali karena cepat atau lambat Anda akan harus berhenti meratapi apa yang sudah hilang. Terlalu lama berduka akan menghasilkan perasaan mengasihani diri sendiri yang akan berujung kepada keputusasaan. Ketika saatnya tiba, melangkahlah maju dan jangan terus berkubang dalam masa lalu dan lakukan cara mendewasakan diri dalam menghadapi masalah .

7. Hindari membuat keputusan besar

Putus asa dapat menimbulkan salah satu gejala sakit jiwa ringan yang bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. Terkadang Anda mungkin akan sangat tergoda untuk langsung membuat keputusan ketika melihat jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari masalah yang sedang dialami. Keinginan untuk segera mengakhiri semua kesusahan dapat membutakan akal sehat dalam membuat keputusan. Namun ingatlah, waktu untuk mengambil keputusan yang terbaik adalah ketika Anda sedang tidak merasa terluka dan dapat berpikir jernih.

8. Memiliki harapan yang realistis

Waktu tidak dapat diputar ulang kembali dan begitu pula dengan kesalahan atau peristiwa yang telah kita alami. Terimalah bahwa apa yang telah dilalui merupakan kejadian yang mengubah kehidupan Anda sehingga kehidupan Anda sekarang mungkin akan sangat berbeda dengan yang dulu. Lanjutkan hidup dan melangkah kedepan adalah cara yang paling bijak untuk kembali menorehkan sejarah kehidupan Anda seterusnya, dan menghindari ciri – ciri depresi ringan. Berusaha mempertahankan harapan yang realistis mengenai kehidupan bisa menjadi cara mengatasi frustrasi dalam psikologi.

9. Mengingat perjuangan Anda

Mengingat seperti apa perjuangan dan pergelutan yang dilakukan ketika mengalami saat – saat terendah dalam hidup bukan berarti Anda tidak melanjutkan hidup. Melupakan tidak sama dengan mengambil pelajaran dari kesulitan Anda. Mungkin apa yang terjadi dulu sama sekali bukan hal yang baik, namun Anda telah berhasil melaluinya dan selamat untuk melanjutkan hidup. Peristiwa yang telah terjadi turut membuat Anda menjadi seseorang seperti saat ini, dan jangan pernah melupakan hal tersebut ketika sedang merasa putus asa.

10. Melakukan pemusatan pikiran

Ide – ide baru dan segar akan didapat dari pemusatan pikiran yang Anda lakukan. Cobalah untuk berpikir dalam otak Anda lebih dulu mengenai kemungkinan yang ada dalam pemecahan masalah yang sedang dialami. Usahakan agar proses berpikir Anda dapat berjalan lancar dan tanpa gangguan, karena itu carilah tempat dimana Anda bisa berpikir dengan tenang dan memikirkan ide – ide untuk cara mengatasi rasa putus asa dengan tepat. Ketahui apa saja gejala awal orang depresi dan gejala depresi terselubung.

11. Mengubah cara pandang

Ketahuilah bahwa sebenarnya tidak ada hal yang terlalu berarti kecuali Anda yang memberikan makna terhadap hal tersebut. Anda tidak akan merasa terlalu menderita apabila tidak terlalu memberikan banyak perhatian kepada masalah yang sedang dialami, atau menganggapnya sebagai suatu halangan yang teramat berat. Bagaimana kita menghadapi suatu masalah akan tergantung kepada sudut pandang yang kita berikan kepada masalah tersebut, dan akan menentukan apakah kita sanggup mengatasinya atau justru berkubang dalam keputus asaan karena merasa tidak dapat melaluinya. Usahakan untuk melihat berbagai masalah dengan proporsional dan objektif agar Anda tidak tersesat dalam kesalahan persepsi dan salah melakukan cara mengatasi rasa putus asa dalam diri.

12. Mengevaluasi situasi

Mengubah aspek lain dalam kehidupan Anda seringkali menjadi cara paling baik untuk mengatasi keputus asaan. Namun untuk membuat perubahan tersebut menjadi permanen, sangat penting untuk memilih dan mempertimbangkan dengan hati – hati aspek dalam diri anda. Kenali pikiran atau tindakan yang menghasilkan permulaan situasi Anda saat ini. Carilah sumber yang menyebabkan Anda merasa terpojok dan tidak dapat berbuat apa – apa lalu pikirkan apa solusi yang paling tepat.

13. Berpikir realistis

Sekali pikiran Anda sudah jernih, menyerap masukan – masukan dari sumber terpercaya, dan mulai terbiasa dengan pikiran tersebut maka Anda dapat memulai beberapa perubahan dalam hidup Anda. Ketika telah terlihat situasi yang menjanjikan, mendapatkan jawaban maka mulailah memikirkan detilnya. Mungkin Anda akan menemukan bahwa saran yang ditemukan terasa kurang bermanfaat namun untuk merubah hidup Anda dengan sukses maka ide-ide baru tersebut perlu dipraktekkan. Pikirkan langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengikuti saran – saran tersebut.

14. Meyakini prosesnya

Tidak ada tombol otomatis untuk cara mengatasi rasa putus asa. Alam bawah sadar Anda yang berisi pikiran kreatif dan cara memecahkan masalah akan membutuhkan waktu untuk berproses secara layak. Sabarlah karena Anda tidak memerlukan jawaban  yang instan melainkan solusi yang akan memecahkan masalah Anda secara keseluruhan dan memperbaiki situasi Anda. Anda hanya membutuhkan percikan ide untuk membuat otak bekerja dan mencari ide-ide lainnya. Mengetahui jawaban yang benar akan membutuhkan waktu karena proses berpikir yang harus mengabaikan semua tekanan.

Ingatlah bahwa selalu ada harapan dan tidak peduli bagaimana buruknya hidup Anda kelihatannya, cara mengatasi rasa putus asa selalu mungkin untuk dilakukan. Kita semua perlu memulihkan diri, jadi cobalah untuk mendobrak pola Anda. Ambil waktu untuk merenung pada apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup dan apa yang harus dilakukan untuk kembali pada jalur kehidupan yang benar. 

Jawabannya kerap kali sederhana dan tertutup oleh perasaan putus asa yang Anda rasakan sendiri dan kehilangan fokus pada apa yang paling penting. Tetaplah bersama keluarga dan teman-teman untuk menghilangkan perasaan kesepian yang berujung pada keinginan menyakiti diri sendiri dan cari pertolongan ahli jika kondisi Anda sudah tidak tertahankan.

Referensi : 14 Cara Mengatasi Rasa Putus Asa dan Depresi