This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 15 Agustus 2022

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat.  Beberapa ayat di Alquran mengisahkan tentang mereka yang menyesal di akhirat. Beberapa ayat di dalam Alquran yang sangat menyentuh hati dan sering kita baca mengisahkan tentang orang-orang yang menyesal kelak di akhirat. Dalam surah al-Munafiqun ayat 10, misalnya, Allah SWT menggambarkan penyesalan kelompok tersebut.


Selama di dunia, mereka disebutkan tidak mau berbagi dan menginfakkan sebagian dari hartanya. Tatkala masuk ke dalam alam barzakh, mereka pun berkata, “Rabbi law laaa akhkhartaniii ilaaa ajalin qariibin fa ashshaddaqa wa akum minashshaalihiin,” ‘Ya Tuhanku, seandainya Engkau berkenan menunda (kematian) aku sedikit waktu lagi, aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’

Penyesalan seperti ini pasti terjadi bagi mereka yang bakhil, tetapi kemudian sudah meninggal dunia. Informasi tentang keadaan mereka datang dari Allah, Zat yang Mahabenar. Beruntunglah kita yang masih hidup mendapatkan “bocoran” informasi tersebut.

Dengan demikian, semoga kita tidak melakukan perbuatan yang sama dengan mereka. Maka dari itu, kita mesti pula menyimak pesan sebelumnya yang berbunyi, “Berinfaklah sebelum datang kematian kepadamu.”

Dalam surah al-Mu’minun ayat 99-100, digambarkan adanya penyesalan yang lain lagi. Seseorang begitu telah meninggal dunia teringat akan masa hidupnya yang penuh kesia-siaan. Ia tersadar pada saat di alam barzakh, amal saleh merupakan bekal satu-satunya menuju akhirat. Dalam firman Allah Ta’ala itu terekam pengharapannya, “Rabbir ji'uuni la'alliii a'malu shaalihan fiimaa taraktu,” “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’

Sayangnya, penyesalan tersebut hanyalah percuma. Sebab, dunia sudah berakhir. Tidak ada lagi tempat beramal. Dan, akhirat bukanlah tempat beramal, melainkan menuai apa-apa yang sudah diamalkan selama di dunia dahulu. Akhirat bukanlah tempat beramal, melainkan menuai apa-apa yang sudah diamalkan selama di dunia dahulu. Sungguh, seandainya kelak ada seseorang yang berkata, “Ya Allah, berikanlah aku kesempatan membaca Alquran satu ayat saja atau shalat satu rakaat saja,” niscaya permintaan itu akan dijawab dengan penolakan.

Sebab, tempat beramal hanyalah di dunia. Dikatakan, “Ad-dunya daaru ‘amalin wa laa jazaa’, wal akhiratu daaru jazaain wa laa amal,” ‘dunia tempat beramal tanpa ada balasan, adapun akhirat tempat menuai balasan tanpa amal.’

Inilah makna jawaban Allah atas angan-angan di atas pada ayat berikutnya, “Kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa`iluhaa,” ‘Itu tidak mungkin terjadi, apa yang ia ucapkan hanyalah angan-angan kosong.’

Dalam surah an-Naba’ ayat 40 diungkapkan penyesalan orang-orang kafir di akhirat. Mereka berangan-angan ingin menjadi debu saja agar terbebas dari siksa neraka. Mereka berkata, “Yaa lay tanii kuntu turaaba.”

Pasalnya, mereka menyaksikan bahwa binatang-binatang langsung dimusnahkan menjadi tanah (kuntu turaaba tanpa dihisab sama sekali. Dalam kondisi demikian, seketika muncul angan-angan dalam diri mereka, ingin menjadi seperti binatang itu. Namun, tentu saja tidak bisa.

Mereka sudah telanjur menjadi manusia. Maka, semua penyesalan itu tinggal menjadi angan-angan. Tidak ada jalan keluar. Mereka tetap mendekam di dalam neraka untuk selama-lamanya.

Hari kiamat merupakan yaum al-hasrah, hari penyesalan. Kaum kafir dan fasik saat itu menyesal. “Dan berilah mereka peringatan (Muhammad) tentang hari penyesalan (yaum al-hasrah), (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman” (QS Maryam: 39).

Referensi : Jangan Sampai Menyesal di Akhirat






Penyesalan yang terlambat

Penyesalan yang terlambat

Saya pernah membaca tulisan ustadz Rosyid Shobari dalam bukunya Menata Hati Muliakan Diri. Pada salah satu artikelnya, yang berjudul “Andaikan aku hanyalah seonggok tanah.” Pada tulisannya, ia menjelaskan tentang gambaran tentang betapa banyaknya orang-orang kafir, yang melakukan penyelasan kelak di yaumul akhir.
“Duhai, andaikan aku dahulu hanyalah tanah,” begitulah kalimat yang keluar dari orang-orang kafir. Penyesalan karena mereka akan mendapatkan azab yang sangat dahsyat akibat kekufuran mereka. Penyesalan orang-orang kafir ini merupakan kepastian yang dikabarkan oleh Allah di akhir surat An Naba’ ayat 40.
Sungguh, telah banyak firman Tuhan yang telah menegaskan kepada kita tentang kepastian kehidupan akhirat. Tentang dahsyatnya kenikmatan surga dan pedihnya siksa api neraka. Kita pun telah tahu dan cukup mengerti tentang hal itu sebab firman Allah dalam Alquran telah menjelaskannya. Sungguh, firman Tuhan adalah kebenaran. Sesuatu yang semestinya kita yakini, tanpa keraguan sedikitpun.
Betapa pedih siksa Allah. Betapa dahsyat bara api neraka. Kesengsaraan hidup, yang sungguh teramat sangat. Kehinaan tempat kembali, yang sungguh tak berarti. Ya Rabb, lindungi kami dari siksa api neraka.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa: 56).

Merenungkan kembali firman Allah di akhir surat An Naba, ’“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya, seandainya dahulu aku jadi tanah.” Memunculkan rasa gelisah yang sangat dahsyat. Jangan-jangan, meskipun tidak separah orang-orang kafir, namun aku merasa terlalu banyak berbuat kemaksiatan selama ini.

Aku merasa masih jauh dari rajin beribadah. Hatiku masih jauh dari tautan ke masjid. Panggilan suara azan, tak lantas membuatku bergegas ke masjid. Jangankan aktif shalat berjamaah lima waktu. Shalat sendiri saja, terkadang tak tepat waktu. Aku bisa berjam-jam meluangkan waktu untuk sekedar bermain HP dan khusuk memainkannya. Namun sangat berbeda, jika harus berlama-lama membaca Alquran. Aku merasa sedekahku sangat kurang, terlalu banyak pertimbangan, jika harus mengeluarkan uang untuk berzakat. Tentu saja, sangat berbeda, jika uang itu, aku keluarkan untuk pergi ke mall, membeli baju, buku dan berbagai keperluan hidup lainnya. Sungguh, serasa mudah, lancar dan tanpa pertimbangan sedikitpun.

Ya Rabb, hambamu ini telah banyak berbuat dosa. Betapa banyak mulut ini berucap yang terkadang sering menyakitkan orang tua, menyakitkan anak, saudara, tetangga, istri dan orang-orang lainnya. Mata ini, terlalu mudah tuk berbuat maksiat. Melihat yang haram, yang tak halal bagiku. Telinga ini, kerap sangat suka mendengarkan lantunan musik, daripada lantunan ayat suci Alquran.

Ngobrol kesana kemari, sungguh mengasyikkan. Namun ngobrol urusan Alquran sungguh menjemukan. Membicarakan aib orang lain, kerap kulakukan. Padahal kualitas diri, penuh keterbatasan. Berprasangka buruk tentang orang lain, sering tak terelakkan. Bahkan suudhon terhadap-Mu, terkadang pula sering aku lakukan.

Sungguh banyak nikmat yang telah kurasakan, namun sedikit sekali lisan ini gemar bertutur syukur. Lisan ini lebih suka mengaduh, mengeluh, dan berharap lebih dari apa yang telah kumiliki. Selalu saja, merasa kurang saat melihat teman hidup serba kecukupan. Selalu saja, iri hati, saat melihat orang lain bertabur kenikmatan, padahal diri sudah cukup bertabur kenikmatan. Ya Allah, hamba macam apa diriku ini. Tak pernah merasa puas atas apa yang sudah Engkau beri.

Sejenak kuterhenyak, ketika membaca kisah tentang Umar Al Faruq. Beliau yang telah mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saja, suatu hari masih bisa berkata, “Seandainya aku dahulu sehelai rambut di dada Abu Bakar, seandainya ibu Umar tidak melahirkan Umar.” Umar yang sedemikian besar jasanya terhadap Islam, bahkan masih begitu takut dan sangat terguncang akan ancaman pedihnya siksa akhirat.

Lantas, bagaimana dengan diriku, yang masih kotor berlumur dosa ini?. Seorang hamba, yang tak punya jasa sedikitpun terhadap Islam, bahkan sering bermaksiat, terlalu cinta dunia hingga menyepelekan shalat. Bukankan aku yang seharusnya, lebih pantas berkata, “Ya Rabb, seandainya saja, dahulu aku tidak terlahirkan ke dunia ini?”

Ya Allah, Sang pemilik jagat raya. Ayat terakhir surat An Naba’ itu, sungguh sangat menakutkan. Jangan-jangan aku pun akan menghadap-Mu dengan penuh penyesalan. Menyesal sebab ibadah yang masih kurang, menyesal sebab shalat yang tak pernah khusuk, menyesal sebab sedekah yang masih kurang dan angin-anginan, menyesal sebab puasa sunnah yang sering terabaikan, menyesal sebab sering menyakiti hati orang tua, menyesal sebab sering lalai menepati janji, menyesal sebab tak gemar bangun tengah malam, menyesal sebab suka berbohong dan ribuan sebab-sebab penyesalan yang lainnya yang mungkin Engkau tanyakan kepadaku kelak di padang mahsyar. Masyaallah, 

Sungguh diri ini keras kepala. Sungguh diri ini, tak mudah menerima hidayah. Bukankan peringatan dan nasehat telah banyak Engkau berikan agar diri ini kembali ke jalan lurus-Mu. Bukankan nasehat kematian sudah sering aku lihat pada kawan, keluarga, handai taulan yang masih sangat muda usianya. Namun Allah telah memanggilnya. Bukankah kematian, tak mengenal usia, waktu, kapan dan sedang apa kita.

Mungkin saja, hari ini adalah waktu terakhir kita menghirup udara. Mungkin saja, malaikat Izroil telah bersiap-siap beberapa menit lagi untuk mengambil nyawa kita meski kita sehat, dan muda sekalipun. Ingatlah, sesungguhnya kematian adalah kepastian dan bisa datang menjemput kita.

Referensi : Penyesalan yang terlambat








Kematian Pasti akan Datang Menjemputmu (Matinya Orang Beriman)

Kematian Pasti akan Datang Menjemputmu (Matinya Orang Beriman)

Kematian Pasti akan Datang Menjemputmu, `Matinya Orang Beriman. Sudah kodrat manusia dari tanah kembali ke tanah. Manusia hidup di dunia hanyalah sementara dan dituntut hanya untuk menyembah Tuhan-Nya yaitu Allah SWT. dan beramal baik kepada sesamanya. Sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” (Q.S adz-Dzariyaat ayat 56).

Hal yang tidak bisa kita nafikkan adalah ketika badan masih segar bugar kita sering lupa akan kematian, lupa akan kewajiban kita sebagai orang muslim. Bersenang-senang, bervoya-voya, berlomba-lomba mencari harta duniawi sehingga lupa akan kehidupan akhirat. Kebanyakan manusia ingat pada kehidupan akhirat ketika sudah bau tanah (tua). Namun, adakalanya meskipun sudah tua tetap berusaha menghindari kematian yaitu orang kafir.

Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229).

Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah ta’aala: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64).

Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.

”Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR. Ahmad 21886).

Penulis produktif Sukardi menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut serta tidak mungkin bisa lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dengan Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.” Tak terkecuali orang-orang yang masih segar (orang yang masig muda). Kematian tidak memandang usia, bayi, anak-anak, bahkan remaja pun bisa mati kapan saja apabila Allah telah berkehendak mecabut nyawa hamba-Nya lewat malaikat Israil.

Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umar pun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dalam keadaan seperti itu ia tidak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbunallah wa ni’mal wakil. ”Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yang telah menikamku?” ”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.

Dari tanda-tanda orang mati syahid ialah mati dalam keadaan mencari ilmu, mencari nafkah, sedang shalat, dalam keadaan hamil dan melahirkan, disantet dan ada yang mengatakan bahwa orang yang meninggal karena sakit dalam diantaranya sakit perut merupakan orang yang mati syahid. Dari tanda-tanda yang telah dijelaskan, orang yang meninggal karena sebab-sebab tersebut dikatakan orang yang meniggal dalam keadaan membawa iman.

Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut, beliau mengambil secarik kain dan menaruhnya di wajah beliau karena parahnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu beliau berdoa: “Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut itu buatku.” (HR Bukhary-Muslim).

Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa: ”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut”.

Saudaraku se-Islam seiman, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada seorangpun yang tidak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185) Marilah saudaraku, tebalkan iman kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan segera bertaubat memohon ampunan dan rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab Israil itu sungguh sangat menakutkan bagi orang-orang yang ketika nyawanya akan dicabuttidak membawa iman. Begitulah kematian orang kafir. Suatu bentuk kematian yang diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100).

Alhaakumut takaatsuru hattaa zurtumul maqabir; bermegah-megahan telah melalaikan kalian hingga kalian sampai di alam kubur ( Q.S. At-Takatsur, 102:1-2)

Referensi : Kematian Pasti akan Datang Menjemputmu (Matinya Orang Beriman)









Iklas Dalam Perspektif Al Qur'an

Iklas Dalam Perspektif Al Qur'an

Ikhlas merupakan kesucian hati dalam beribadah atau beramal untuk menuju kepada Allah. Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah.Terdapat lima aspek penting dalam ikhlas, yaitu 

  1. ikhlas dalam arti pemurnian agama 
  2. ikhlas dalam arti pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang; 
  3. ikhlas dalam arti pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi; 
  4. ikhlas dalam arti pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, kata-kata buruk, dan kata-kata bualan, serta 
  5. ikhlas dalam arti pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Tuhan.

 Penelitian ini merupakan penelitian kualitaif dengan pendekatan semiotik bayaniyah melalui studi terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan ikhlas.Peneltian dilaksanakan dengan menggali makna-maknayang mendekati bahkanyang tepat untuk mnemukan hakikat makna ikhlas. Beberapa litertur tafsir digunakan untuik mendukung penulisan ini.

Al-Quran adalah risalah yang hidup dan selalu urgen hingga hari akhir, oleh karena itu pintu penafsiran al-Quran harus selalu dibuka dan jangan pernah ditutup. Sisi lain al-Quran sebagai sumber dan penggerak kaum muslimin dalam pengaplikasian ajaran serta tuntunan hidup mereka, memotifasi munculnya penafsiran di setiap masa merupakan keniscayaan yang tak terelakkan. Penafsiran secara tematik merupakan suatu metode yang masih belum banyak dibahas kaidah, corak, dan tahapan-tahapan oleh mufassirin terdahulu, walaupun di era sekarang sudah banyak yang mengkaji dan memberi arahan-arahan dalam penulisan tafsir . 

Artikel ini membahas konsep ikhlas dengan pendekatan tafsir tematik. Di dalamnya dikaji tentang pengertian ikhlas serta klasifikasi ayat-ayat tentang ikhlas berdasar pada makna lafadz, periodisasinya (Makkiyah dan Madaniyah), asbabun nuzulnya, serta perubahan lafadz yang memberikan makna yang berbeda pada setiap ayat. Dengan beberapa penjelasan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang konsep ikhlas berdasar pada perspektif al-Quran dengan pendekatan tafsir tematik. 

Dari definisi diatas, ikhlas merupakan kesucian hati dalam beribadah atau beramal untuk menuju kepada Allah. Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah. Dengan satu pengertian, ikhlas berarti ketulusan niat untuk berbuat hanya karena Allah. Seseorang dikatakan memiliki sifat ikhlas apabila dalam melakukan perbuatan, ia selalu didorong oleh niat untuk berbakti kepada Allah dan bentuk perbuatan itu sendiri dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya menurut hukum syariah. Sifat seperti ini senantiasa terwujud baik dalam dimensi fikiran ataupun perbuatan. 

Dalam pandangan ilmu tasawuf, ikhlas mempunyai tingkatan-tingkatan tersendiri. Pertama, Ikhlas Awam, yaitu dalam beribadah kepada Allah, karena dilandasi perasaan rasa takut terhadap siksa Allah dan masih mengharapkan pahala. Kedua, Ikhlas Khawas, yaitu beribadah kepada Allah karena didorong dengan harapan supaya menjadi orang yang dekat dengan Allah, dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan sesuatu dari Allah SWT. Ketiga, Ikhlas Khawas alKhawas yaitu beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Allah-lah Tuhan yang sebenar-benarnya. 

Referensi : Iklas Dalam Perspektif Al Qur'an








Menyesal saat Sakaratul Maut

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA : 
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat Rasul SAW  lainnya. Ada suatu kebiasaan unik darinya yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah ia selalu beritikaf di pojok depan masjid.Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tidak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tidak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA.

Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA..?

Namun tak ada seorangpun yang menjawab. Nabi bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA..? Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.Perjalanan dengan jalan kaki cukup. 
Lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.  Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Nabi Shalallahu alaihi wasallam mengucapkan salam.Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut. “Benarkah ini rumah Sya'ban ?” Nabi bertanya.  “benar ya Rasulullah, saya istrinya” jawab wanita tersebut.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid ?” Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab: “Beliau telah meninggal tadi pagi..” Rasulullah dan para sahabatnya mengucapkan; “Innalilahi wainna ilaihi roji'un. Masya Allah, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya”. Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rosul Shalallahu alaihi wasallam :
“Ya Rasulullah, ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya."  “Apa saja kalimat yang diucapkannya ?” tanya Rasul.  Di masing-masing teriakannya ia berucap kalimat:
“Aduh kenapa tidak lebih jauh..” “Aduh kenapa tidak yang baru” “Aduh kenapa tidak semua” Lalu Nabi menjelaskan dari perkataan yg keluar dari lisan Sya’ban sebelum sakaratul maut. Nabi pun melantunkan ayat Al Qur'an yang terdapat dalam surat Qaaf 50 ayat 22 :  “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanallah wa ta'ala. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain. 

Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.  Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:

“Aduuh kenapa tidak lebih jauh..?” Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.  Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.

Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya.  Jadi dia memakai dua buah baju.Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan sholat dengan baju yang lebih bagus. Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah. Sya’ban pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.

Kemudian dia berteriak lagi: “Aduuuh kenapa tidak yang baru...?”  Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru. Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. 
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis didepan pintu yg meminta diberi sedikit roti karenan sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi 2 roti sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu dengan porsi yg sama. 

Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah.  Demi melihat itu diapun berteriak lagi: "Aduh kenapa tidak semua..?”  Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah , Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa ia tidak optimal.

Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakaratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia.  Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:

“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”    “Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam .” “Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.” Namun lihatlah, masjid tetap saja lengang.

Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah.  Mengapa demikian ? Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanallah wa ta'ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.Mata kita tertutupi oleh suatu hijab. Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tidak pernah meleset. Allah akan membuka hijab itu pada saatnya. Kisah Sya’ban RA telah menginspirasi kita, bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanallah wa ta'ala.

Sudahkah kita semua berhitung siap menghadapi apa yang akan pasti kita hadapi yaitu sakaratul maut, atau masih sibuk dengan urusan dunia yang pasti kita tinggalkan...?
Semoga kita semua selalu bisa mengoptimalkan kebaikan-kebaikan disetiap kesempatan. Sumber: Sirah Nabawiyah.
Referensi : 



Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan

Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan

Hadis: Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.     

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قُلتُ: يَا رسُولَ الله، أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا».  

Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?' Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, 'Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.'

Abu Żar mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhususkan nasehat untuknya mengenai kepemimpinan dan jabatannya. Hal ini terjadi ketika dia - raḍiyallāhu 'anhu- meminta kepada beliau agar mengangkatnya sebagai gubernur. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya engkau orang yang lemah." Sabda ini mengandung semacam ketegasan, akan tetapi amanah itu harus dijelaskan kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu; jika dia kuat, maka ia akan kuat (mengembannya), dan jika dia lemah, maka lemah pula (dalam mengembannya). 

Ini mengandung dalil bahwa syarat berkuasa itu harus orang yang kuat dan terpercaya (amanah) karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya kekuasaan itu amanah," Jika seseorang itu kuat dan terpercaya maka inilah sifat-sifat yang membuatnya berhak menjadi pemimpin dan penguasa. Jika ia kuat tapi tidak terpercaya atau terpercaya tapi tidak kuat atau lemah tidak terpercaya, maka ketiga macam orang ini tidak selayaknya menjadi seorang pemimpin. Atas dasar itu, kita harus mengangkat pemimpin yang kuat, karena dia orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya manusia itu membutuhkan kekuasaan dan kekuatan. 

Jika kekuasaan tidak dibarengi kekuatan, apalagi dengan kelemahan agama, maka segala hal akan hilang. Hadis ini merupakan dasar yang agung dalam menghindari kekuasaan, apalagi bagi orang yang memiliki kelemahan untuk melaksanakan tugas-tugas kekuasaan ini. Adapun kehinaan dan penyesalan yang disebutkan dalam hadis, dalam sabdanya, "Sesungguhnya kepemimpinan itu pada hari kiamat adalah kehinaan dan penyesalan," adalah bagi orang yang tidak layak untuk menerima kekuasaan atau layak berkuasa tetapi tidak berlaku adil dalam kekuasaannya. Dengan demikian, Allah Swt menjadikannya hina pada hari kiamat dan membuka aibnya sehingga dia pun menyesali apa yang telah dilakukannya. Adapun orang yang layak untuk berkuasa dan adil dalam kekuasaannya, maka tidak termasuk dalam ancaman ini. 

Karena itulah, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi pengecualian, "Kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya." Sebab, orang yang mengambil kekuasaan dengan hak, baginya keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis sahih, seperti hadis mengenai tujuh orang yang dinaungi Allah dalam naungan-Na, disebutkan diantara mereka adalah "pemimpin yang adil", dan hadis bahwa orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, dan sebagainya.

Referensi : Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan








11 Penyesalan Manusia setelah Mati di Alam Kubur

Penyesalan selalu datang terlambat. Begitu pun penyesalan manusia setelah mati di alam kubur. Mereka meminta dispensasi kepada Tuhan berharap bisa kembali ke dunia untuk beriman dan menjalankan perintah-Nya serta beramal baik.  Setelah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalan yang bisa dilakukan dunia, kecuali anak sholeh yang mendoakan orang tuanya, ilmu bermanfaat dan amal jariyah. Kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada manusia selama masih berada di dunia ini ternyata merupakan anugerah terbesar yang jarang disyukuri.  Karena itu, harus memanfaatkan selagi masih hidup dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta beramal baik sebagai bekal menuju keabadian agar tidak timbul penyesalan.  1. Tak Beriman Orang yang tidak beriman ketika diazab dalam neraka sebagaimana disebutkan dalam AL Quran Surat Fathir ayat 37, mereka meminta agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal perbuatan yang berlainan dengan yang telah mereka kerjakan di masa lalu.  Namun, Allah Swt telah mengetahui bahwa seandainya mereka di­kembalikan ke dunia lagi, pastilah mereka akan kembali mengerjakan apa yang dilarang bagi mereka melakukannya. Sesungguhnya mereka benar-benar dusta dalam pengakuannya itu. Karena itu, Allah Swt. tidak memperkenankan permintaan mereka.  Baca juga : Tak Semua Sayur Baik Untuk Bumil, Ini Daftarnya  2. Menolak Kebaikan Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur berikutnya tidak mau mendengar nasihat kebaikan. Terkadang sebagai manusia selalu menolak dalam hatinya ketika dinasehati seakan menganggap orang yang menasehati kita akan menjerumuskan ke dalam keburukan.  3. Mengingkari Hari Kiamat Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur selanjutnya yakni tidak memercayai Hari Kiamat atau hari kebangkitan.  4. Kikir Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur yakni tidak sempat bersedekah. Karena hal yang terus mengalir hingga di alam kubur yaitu amal jariyah yang pernah dilakukan semasa hidup. Sebagai, muslim sudah semestinya selalu bersedekah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya baik di kala lapang maupun sempit.  5. Meninggalkan Sholat Penyesalan manusia setelah mati di alam kubur berikutnya tidak mengerjakan sholat yang telah diwajibkannya sebanyak lima waktu sehari. Bagi manusia yang menyia-nyiakan hidupnya apalagi masa mudanya maka pasti akan merasa merugi.  6. Memutus Silaturahmi Hal yang akan disesali manusia ketika sudah meninggal itu ketika orang tersebut tidak sempat memaafkan dan memutus tali silaturahmi kepada teman atau saudaranya, hal tersebut akan merugikan manusia itu sendiri ketika sudah di alam kubur.  7. Orang Kafir Minta Jadi Tanah Penyesalan manusia setelah mati di alam kubur yakni tidak beriman kepada Allah. Seandainya saja mereka tidak dijadikan wujud manusia dan berupa tanah tentu mereka berpikir tidak akan ditimpa azab pedih. Orang kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk serta tidak dikeluarkan ke alam wujud.  Demikian itu terjadi ketika dia menyaksikan azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis amal perbuatan, yang semuanya mulia lagi bertakwa. Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa.  8. Tidak Pernah Mengajak Kebaikan Penyesalan manusia di alam kubur lainnya yakni tidak pernah mengajak kebaikan atau dakwah kepada manusia lain. Dakwah juga tidak selalu harus berdiri di depan podium, namun bisa dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan seruan yang kita lakukan tidak melenceng dari aturan Allah SWT.  Dakwah juga bisa diartikan sama dengan menolong agama Allah SWT, maka barangsiapa yang tidak pernah melakukannya akan menyesal ketika sudah tidak ada di dunia.  9. Adu Domba Penyesalan bagi manusia yang sudah mati di alam kubur yakni semasa hidupnya suka mengadu domba dengan menyebarkan kabar bohong atau hoaks hingga memicu pertengkaran antarsesama.  10. Munafik Orang-orang munafik yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya menjadi manusia yang menyesal ketika sudah mati di alam kubur nanti. Mereka awalnya beriman namun ingkar.  11. Kencing Sembarangan Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan salah satunya etika dalam membuang air kecil atau kencing. Orang yang kencing sembarangan dan tidak bersuci setelah membuang hajatnya akan mendapat siksa di alam kubur.

11 Penyesalan Manusia setelah Mati di Alam Kubur. Penyesalan selalu datang terlambat. Begitu pun penyesalan manusia setelah mati di alam kubur. Mereka meminta dispensasi kepada Tuhan berharap bisa kembali ke dunia untuk beriman dan menjalankan perintah-Nya serta beramal baik.

Setelah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalan yang bisa dilakukan dunia, kecuali anak sholeh yang mendoakan orang tuanya, ilmu bermanfaat dan amal jariyah. Kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada manusia selama masih berada di dunia ini ternyata merupakan anugerah terbesar yang jarang disyukuri.

Karena itu, harus memanfaatkan selagi masih hidup dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta beramal baik sebagai bekal menuju keabadian agar tidak timbul penyesalan.

1. Tak Beriman

Orang yang tidak beriman ketika diazab dalam neraka sebagaimana disebutkan dalam AL Quran Surat Fathir ayat 37, mereka meminta agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal perbuatan yang berlainan dengan yang telah mereka kerjakan di masa lalu.

Namun, Allah Swt telah mengetahui bahwa seandainya mereka di­kembalikan ke dunia lagi, pastilah mereka akan kembali mengerjakan apa yang dilarang bagi mereka melakukannya. Sesungguhnya mereka benar-benar dusta dalam pengakuannya itu. Karena itu, Allah Swt. tidak memperkenankan permintaan mereka.

Baca juga : Tak Semua Sayur Baik Untuk Bumil, Ini Daftarnya

2. Menolak Kebaikan

Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur berikutnya tidak mau mendengar nasihat kebaikan. Terkadang sebagai manusia selalu menolak dalam hatinya ketika dinasehati seakan menganggap orang yang menasehati kita akan menjerumuskan ke dalam keburukan.

3. Mengingkari Hari Kiamat

Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur selanjutnya yakni tidak memercayai Hari Kiamat atau hari kebangkitan.

4. Kikir

Penyesalan manusia yang sudah mati di alam kubur yakni tidak sempat bersedekah. Karena hal yang terus mengalir hingga di alam kubur yaitu amal jariyah yang pernah dilakukan semasa hidup. Sebagai, muslim sudah semestinya selalu bersedekah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya baik di kala lapang maupun sempit.

5. Meninggalkan Sholat

Penyesalan manusia setelah mati di alam kubur berikutnya tidak mengerjakan sholat yang telah diwajibkannya sebanyak lima waktu sehari. Bagi manusia yang menyia-nyiakan hidupnya apalagi masa mudanya maka pasti akan merasa merugi.

6. Memutus Silaturahmi

Hal yang akan disesali manusia ketika sudah meninggal itu ketika orang tersebut tidak sempat memaafkan dan memutus tali silaturahmi kepada teman atau saudaranya, hal tersebut akan merugikan manusia itu sendiri ketika sudah di alam kubur.

7. Orang Kafir Minta Jadi Tanah

Penyesalan manusia setelah mati di alam kubur yakni tidak beriman kepada Allah. Seandainya saja mereka tidak dijadikan wujud manusia dan berupa tanah tentu mereka berpikir tidak akan ditimpa azab pedih. Orang kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk serta tidak dikeluarkan ke alam wujud.

Demikian itu terjadi ketika dia menyaksikan azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis amal perbuatan, yang semuanya mulia lagi bertakwa. Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa.

8. Tidak Pernah Mengajak Kebaikan

Penyesalan manusia di alam kubur lainnya yakni tidak pernah mengajak kebaikan atau dakwah kepada manusia lain. Dakwah juga tidak selalu harus berdiri di depan podium, namun bisa dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan seruan yang kita lakukan tidak melenceng dari aturan Allah SWT.

Dakwah juga bisa diartikan sama dengan menolong agama Allah SWT, maka barangsiapa yang tidak pernah melakukannya akan menyesal ketika sudah tidak ada di dunia.

9. Adu Domba

Penyesalan bagi manusia yang sudah mati di alam kubur yakni semasa hidupnya suka mengadu domba dengan menyebarkan kabar bohong atau hoaks hingga memicu pertengkaran antarsesama.

10. Munafik

Orang-orang munafik yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya menjadi manusia yang menyesal ketika sudah mati di alam kubur nanti. Mereka awalnya beriman namun ingkar.

11. Kencing Sembarangan

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan salah satunya etika dalam membuang air kecil atau kencing. Orang yang kencing sembarangan dan tidak bersuci setelah membuang hajatnya akan mendapat siksa di alam kubur.

Waktu (dalam : Pandangan Ulama)

Ilustrasi Waktu (dalam : Pandangan Ulama)

Definisi waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “seluruh rangkaian saat yang telah terdahulu, sekarang, maupun yang akan datang”.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Karena setiap nafas yang berhembus, setiap detik yang berdetak, terlalu berharga untuk disia-siakan dan berlalu begitu saja tanpa ada kemanfaatan yang diperbuat.

Dalam Al-Qur’an, kata waqt (waktu) ditemukan sebanyak tiga kali, hanya saja konteks penggunaan dan makna yang dikandungnya tidak sama dengan apa yang disampaikan di atas. Kata tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan tentang masa akhir hidup di dunia ini (QS 7:187, 15:38, dan 38:81). Dari sini dan setelah menelusuri seluruh bentuk kata lain yang mengakar pada kata waqt, para pakar akhirnya menyimpulkan bahwa waqt adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja.

Waktu, menurut Syekh Yahya bin  Hubairah adalah sesuatu yang paling berharga untuk dimiliki sekaligus sesuatu yang paling mudah untuk disia-saikan. Orang yang menyia-nyiakan waktunya, sama artinya ia telah menyia-nyiakan hidupnya. Dan jika hidupnya telah tersia-siakan maka tak ada arti apapun bagi hidupnya di dunia ini. Dan jika  hidupnya sudah tidak memiliki arti, maka tak ada bedanya antara kehidupan dan kematiannya. Karena keduanya sama-sama tak berguna. 

Setiap orang memiliki jatah waktu 24 jam sehari semalam untuk melakukan aktivitas. Walaupun jatah waktunya sama, tetapi hasil yang diperoleh berbeda-beda. Setiap orang juga berbeda dalam mamaknai dan merasakan jalannya jarum jam dari menit ke menit. Ada yang merasa waktu berlalu dengan cepat, ada juga yang merasa lambat, dengan demikian, rentang waktu ternyata bukan sekedar jumlah dan akumulasi hitungan menit, melainkan sangat berkaitan dengan suasana kejiwaan seseorang. Bagi orang yang sibuk dan bergairah dalam menjalani pekerjaan sehari-hari, waktu pasti akan terasa pendek dan bahkan kurang.


Bagaimana Mengatur Waktu?

Dalam kitab Qimatuz Zaman dijelaskan ada beberapa poin-poin penting yang bisa kita ambil agar waktu yang kita miliki berkualitas, merujuk kepada cara para ulama yang produktif dalam menghasilkan karya dan dari buah karya (kitab dan buku) mereka yang banyak memberi manfaat dari masa ke masa.

Pertama, hendaknya kita memanfaatkan waktu yang kita miliki sesuai dengan bidang-bidang ilmu yang kita pelajari berdasarkan tingkat penting dan kesulitannya. Sebab, sebagian ilmu ada yang mudah dibaca dan difahami dalam berbagai kondisi dan kapanpun, tetapi ada juga ilmu-ilmu tertentu yang sulit untuk dipahami sehingga memerlukan waktu khusus dan tempat yang khusus untuk bisa menyelami dan memahaminya.

Kedua, setelah kita petakan tingkatan ilmu berdasarkan tingakat kesulitannya, dalam arti setelah kita ketahui ilmu-ilmu mana yang sulit dan memerlukan waktu khusus, maka waktu terbaik untuk memahami ilmu-ilmu yang rumit agar bisa memahaminya dengan baik adalah waktu-waktu menjelang subuh, waktu subuh dan pagi hari. Selain itu, waktu malam juga disebut sebagai waktu yang baik untuk belajar, karena pada malam hari situasi dan kondisi kita tenang, sehingga bisa menyiapkan diri dengan sempurna untuk sepenuhnya berkhidmah kepada ilmu dengan mempelajari dan memahaminya.

Ketiga, tempat yang terbaik untuk belajar dan muthalaah adalah kamar yang tidak bising dan jauh dari hiruk pikuk keramaian. Karena itu para ulama ketika mencari ilmu lebih suka berkhalwah (menyendiri) dari keramaian orang, karena khalwah bisa membantu menjernihkan pikiran. Jika pikiran sudah jernih, maka ia bisa masuk pada tema-tema yang penting dan berat, sehingga bisa memecahkan persoalan-persoalan yang sulit, serta bisa menemukan inspirasi-inspirasi yang cemerlang.

Keempat, terkadang di sebagian waktu yang dimiliki, seseorang yang sedang muthalaah (mengkaji/ belajar) merasa bosan  dan kurang semangat, sehingga pada saat kondisi dalam keadaan seperti ini ia perlu mensiasati dan segera mencari cara agar mood-nya bisa segera kembali dan semangat lagi dalam muthalaah. Di antara hal yang direkomendasikan para ulama untuk menghilangkan rasa jenuh adalah dengan membaca kitab-kitab sejarah (sirah) para tokoh, dengan membaca biografi para tokoh akan memotivasi dan membangkitakan semangat kita dalam mencotoh apa yang mereka tempuh dalam mencapai puncak kesuksesan.

Kelima, manfaatkanlah waktu-waktu berharga yang kita miliki untuk mempelajari dan memahami ilmu-ilmu yang penting dan abaikan saja ilmu-ilmu yang kurang penting bagi diri kita, baik yang berkaitan dengan kehidupan agama, dunia dan akhirat kita. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Al-Khatib Al-Bahgdadi, ilmu-ilmu itu sangat luas seluas lautan yang tak bertepi, sangat dalam seperti lautan yang paling dalam, seperti tambang yang tidak akan habis untuk ditambang, karena itu raihlah hal-hal yang terpenting dari ilmu-ilmu itu, karena ilmu-ilmu itu tidak terbatas, sedangkan waktu dan umur yang kita miliki sangat terbatas.

Maka dari itu, ada tiga hal yang menjadi kebiasaan para ulama dalam hal berpacu dengan waktu mereka, yaitu1). Membaca dengan cepat 2). Menulis dengan cepat dan 3). Berjalan dengan cepat. Para ulama yang haus ilmu biasanya jalannya sangat cepat agar mereka bisa menyerap banyak ilmu dari banyak guru-guru yang mereka datangi. Bahkan, lebih dari itu, ada ulama yang makan dengan cepat, agar tidak menyita banyak waktu sehingga bisa langsung kembali menikmati sajian-sajian yang tertuang dalam kitab-kitab yang mereka pelajari.

Betapa mereka sangat menghargai waktu lebih mahal dari apapun yang ada di dunia ini, karena mereka menyadari sepenuhnya bahwa waktu yang mereka miliki adalah hanya saat ini, sedangkan yang sudah berlalu tak mungkin kembali lagi, dan waktu yang akan datang tidak dijamin masih dipersiapkan untuk mereka.


Seberapa Mahal Waktu bagi Ulama?

Sayyidina Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat senior Nabi Muhammad Saw. adalah salah seorang sahabat yang sangat menghargai waktu, diantara statement yang beliau sampaikan adalah” Tak ada penyesalan yang lebih mendalam dibandingkan penyesalanku atas hari yang mataharinya telah terbenam, dan umurku menjadi berkurang, namun amal yang aku lakukan tidak bertambah”.

Imam Hasan Al-Bashri seorang tabi’in terkemuka menyampaikan,” Wahai anak Adam, engkau adalah hari-hari. Jika sebagian hari telah hilang, maka hilang pula sebagian dari dirimu”.

Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar Alamin Nubala menceritakan tentang profil seorang ahli Hadis, Ubaid bin Ya’isy, salah seoran guru Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Bahwa Ammar bin Raja’ mengatakan:”Aku mendengar Ubaid bin Ya’isy berkata: “Selama tiga puluh tahun, aku tidak pernah makan malam dengan tanganku sendiri. Saudariku yang menyuapi aku makan malam, sedangkan aku menulis Hadis”.

Di akhir tulisan ini penulis sampaikan sebuah apresiasi seorang ulama terhadap waktu yang luar biasa. Dan barangkali sangat sulit untuk dicari padanannya sampai hari ini, yaitu kisah yang ditempuh oleh kakek Ibnu Taimiyah, Majduddin Abu Al-Barakat Abdussalam bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali (590 -653 H). dalam menghargai waktu dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya.

Dalam kitab Dzaili Thabaqatil Hanabilah, Al-Hafidz Ibnu Rajab  Al-Hanbali ketika menulis biografi kakek Ibnu Taimiyah itu mengatakan: “ Kakek Ibnu Taimiyah adalah seorang ahli fikih, qiraah, hadis, usul fiqih dan nahwu, Syaikh Islam dan ahli fikih di zamannya. Syaikh Abu Abdullah bin Qayyim mengatakan, saudara dari guru kami, Abdurrahman bin Abdul Halim bin Taimiyah, berkata: “Jika Syekh Majduddin Abu Al-Barakat masuk ke WC, beliau bilang kepadaku “bacakan kitab ini dengan keras, agar aku bisa mendengarkannya dari dalam WC”.

Ibnu Rajab mengakatan:”Hal itu menunjukkan betapa kuatnya kegemaran beliau kepada ilmu dan betapa hebatnya beliau dalam menjaga dan memanfaatkan waktu dengan baik”.