This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 12 Agustus 2022

Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan

Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan

Mengapa Allah menakdirkan keburukan? 
Jawaban:

Pertama, agar kebaikan dapat dikenal. Kedua, supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala. Ketiga, supaya manusia bertaubat kepada-Nya (setelah ia berbuat dosa).


Betapa banyaknya manusia yang terdorong untuk membaca zikir-zikir siang dan malam dikarenakan ia takut dari keburukan makhluk yang akan menimpanya. Karenanya, Anda dapatkan orang seperti ini senantiasa rajin membaca wirid supaya ia selamat dari gangguan-gangguan. Maka keburukan yang ada pada makhluk ini memiliki hikmah bagi terdorongnya seseorang untuk senantiasa berzikir dan membaca wirid dan semisalnya. Ini tentunya merupakan suatu kebaikan.


Kita misalkan lagi dengan contoh yang lain. Seseorang memiliki anak yang sangat ia sayangi. Si anak kebetulan tertimpa sakit sehingga harus diobati dengan cara dibakar dengan besi yang panas. Tentunya hal ini akan menyakitkan anaknya. Namun karena ia berpikir ada kemaslahatan yang besar, maka dengan cara ini ia rela melakukannya. Padahal pengobatan dengan menggunakan besi panas sendiri adalah sesuatu yang buruk, namun berakibat kebaikan. (CATATAN: Dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir rahimahullah membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kai adalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan, red.)


Jika engkau yakin bahwa semua perbuatan Allah Ta’ala adalah kebaikan, maka hatimu akan merasa tenteram terhadap semua yang ditakdirkan Allah Ta’ala. Engkau pun akan pasrah menerima sepenuhnya. Engkau akan menjadi seperti yang difirmakankan Allah Ta’ala,

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Alqamah berkata, “Apabila seseorang ditimpa musibah lalu merasa yakin bahwa hal itu dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan menerima.”

Bila seorang manusia ridha dengan sepenuhnya terhadap ketentuan Allah Ta’ala, maka ia akan terbebas dari perasaan sedih dan sikap gelisah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,


اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, (namun) pada keduanya ada kebaikan (karena keimanan keduanya). Bersemangatlah terhadap segala sesuatu yang mendatangkan manfaat untukmu. Mohonlah pertolongan kepada-Nya dan janganlah lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah engkau katakan, ‘Jikalau aku berbuat ini dan itu, maka tentunya akan beigni dan begitu.’ Dikarenakan kata ‘seandainya’ membuka amalan setan.


Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk terus bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Kemudian, jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan sebelumnya, maka katakanlah hal ini telah ditakdirkan-Nya, dan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.


Maksud hadits di atas adalah: Yang paling utama bukanlah kuatnya otot-otot atau badangnya, namun yang dimaksud adalah mukmin yang kuat dalam keimanannya, sebab betapa banyak orang yang kuat badannya tapi tidak banyak berbuat manfaat, namun sebaliknya.


Dalam kesempatan ini juga sekaligus saya tekankan bahwa apabila Anda menulis hadits ini dengan tulisan yang besar, kemudian anda tempelkan di lapangan olahraga, supaya dipahami bahwa mukmin yang kuat itu adalah yang kuat ototnya, maka hal ini hukumnya tidak boleh.


Ringkasnya, keburukan atau kejelekan itu tidak dinisbatkan kepada Allah, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ


… Dan keburukan bukan berasal dari-Mu.”


Akan tetapi, kejelekan itu hanya disandarkan pada makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ


Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.’” (Qs. al-Falaq: 1–2)


Maka, keburukan hanya disadarkan kepada makhluk. Muncul pertanyaan, “Apakah dalam mentakdirkan makhluk-makhluk yang jahat terdapat hikmah?”

Jawabnya, “Ya, di dalamnya terdapat hikmah yang agung.” Kalaulah bukan karena sebab adanya makhluk yang jahat ini, tentunya kita tidak akan mengenal manfaatnya makhluk yang baik. Serigala misalnya, walaupun badannya kecil, bila dibandingkan dengan unta, tapi ia mampu memakan manusia, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Yusuf melalui lisannya Nabi Ya’qub ‘alaihis salam,


وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ


Dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala.” (Qs. Yusuf: 13)

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama pula, bahwa seekor unta tidak mungkin makan manusia. Bahkan seekor unta yang kuat dan besar badannya pun akan tunduk kepada perintah anak kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَاماً فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ. وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ


Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka. Maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan.” (Qs. Yasin: 71–72)


Amatilah hikmah yang sangat agung pada unta ciptaan Allah Ta’ala, yang memiliki badang besar. Allah telah memerintahkan kita untuk bertadabbur (merenungkan dan mengambil pelajaran) terhadapnya, sebagaimana firman-Nya,


أَفَلاَ يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan.” (Qs. al-Ghasyiyah: 17)


Selain itu, Allah pun menciptakan serigala dan selainnya yang membahayakan manusia, sehingga  kita dapat mengetahui betapa agungnya kekuasaan Allah Ta’ala, dan bahwa segala urusan berada di tangan-Nya.


Referensi : Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan  









Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar

Ilustrasi : Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar

Tujuan yang dicapai pada penelitan ini mendeskripsikan: 1.) Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial anak; 2.) Dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar anak; 3.) Langkah-langkah pemulihan perkembangan psikososial anak akibat perceraian orang tua; dan 4) langkah-langkah pemulihan prestasi belajar anak akibat perceraian orang tua. Penelitian ini berlokasi di kecamatan Oebobo, kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan yang bercerai dengan orang, keluarga, tetangga, anak, dan guru wali kelas, yang berjumlah 35 orang. Hasil penelitian yang diperoleh: 1.) Perceraian (cerai hidup) membawa dampak yang negatif terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar anak; 2.) Emosi atau perasaan anak sangat mempengaruhi aktivitas belajar di sekolah maupun di rumah, baik perasaan sedih, gembira, aman, marah, cemas, takut dan lain sebagainya; 3.) Adanya komunikasi antara orang tua dan anak setelah bercerai memperkecil pengaruh negatif dari perceraian. Kasih sayang dari keluarga kedua belah pihak dan bantuan guru dalam mengasuh anak korban perceraian di rumah dan sekolah, membuat anak kuat dan tegar menghadapi masalah keluarganya; dan 4.) Langkah pemulihan prestasi belajar yakni bersifat mendidik, misalnya memberikan pujian, hadiah, dan lain sebagainya yang mengandung nilai edukatif.

Referensi : Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar









 

Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak

Ilustrasi : Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak

Generasi berkualitas lahir dari keluarga yang berkualitas, kehidupan rumah tangga yang harmonis, serta ditunjang oleh lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang peduli terhadap proses pertumbuhan dan pengembangan anak. Disinilah peran penting keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas dengan kepedulian pada tumbuh kembang anak dalam segala aspek, termasuk perkembangan fisik, intelektual, emosi, moral, kepribadian dan spiritual. Kebutuhan akan kelekatan psikologis, kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental memerlukan perhatian yang sangat besar dari  orang  tuanya,  serta  kebutuhan  rasa  aman  merupakan  kebutuhan  dasar  yang  harus dipenuhi bagi anak agar dapat mencapai tumbuh kembang optimal.

Desain penelitian menggunakan desain fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi  partisipatif,  wawancara  tidak terstruktur  dan  dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak yang orang tuanya bercerai. Sedangkan informan dalam penelitian ini adalah orang tua yang bercerai. Dalam penelitian ini menggunakan informan tambahan untuk mendukung dan melengkapi data yang diperoleh dari subjek dan informan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari data collection, data reduction, data display, dan Conclution Drawing/Verification. Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Gorontalo dengan lokus Kampung KB Desa Motinelo Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo. Hasil hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor yang menjadi sumber timbulnya masalah perceraian, yaitu pengaruh internet/media sosial, pernikahan dini/nikah muda, minuman keras dan kekerasan dalam rumah tangga, perilaku/gaya hidup, dan faktor ekonomi. Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak yaitu fisik, sosial dan psikologis.

Referensi : Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak









Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Ilustrasi : Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak. Faktanya sebelum kita dan pasangan sah bercerai dan menjelaskan perpisahan, anak sudah merasakan ‘kehancuran’ itu, kok. Kita perlu mengakui, anak memang lebih pintar dari apa yang kita bayangkan.  Mereka pasti bertanya-tanya. Kok Ayah dan Ibu marah terus? Kok mereka menjauh ya? Kenapa Ayah udah nggak pernah mau makan bareng lagi? Ibu cuek banget sama Ayah. Dan berbagai pertanyaan lainnya yang terkait dengan perselisihan dalam rumah tangga. 

Melihat kondisi keluarga yang membingungkan, si Kecil nggak berani untuk bertanya. Takut kena marah karena Ayah dan Ibu sering bertengkar, nggak tahu mulai nanya dari mana. Sampai akhirnya anak memendam rasa bingung dan sedihnya sendirian. 

Iya, sendirian. Belum lagi pada umumnya saat konflik rumah tangga terjadi, orang tua mulai kurang memberikan perhatian. Nggak hadir sepenuhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua.

Melansir VeryWellFamily, anak-anak mengalami kesulitan yang paling berat bahkan dalam waktu beberapa tahun setelah perceraian orang tua. Dampak besar ini, lebih dialami oleh anak-anak yang berusia 7 sampai 14 tahun, sebab mereka sudah mulai mengenal pola hubungan manusia. 

Sedangkan emosional akibat perceraian orang tua belum mempengaruhi anak usia di bawah 7 tahun. Ini dikarenakan usianya yang masih kecil dan belum mengenal tentang hubungan. 

Sering kali kita menganggap, yaudah anak masih kecil belum ngerti urusan orang tua. Ya, mereka nggak ngerti, tapi mereka punya perasaan.

Psikolog Roslina Verauli menjelaskan, bahwa ada berbagai tahap yang akan dilewati si Kecil saat kita bercerai. Maka itu, Parents harus memahaminya supaya anak nggak terlantar dan terkena psikis saat kita dalam proses cerai. 

Bumin rangkum berdasarkan penjelasan Mbak Vera ya, tentang menjelaskan perceraian pada anak, beserta tahapannya. 

Sebelum perceraian 

Tadi Bumin sempat kasih bayangan, seperti apa yang dirasakan si Kecil ketika orang tuanya mulai memasuki tahap perceraian. Menurut Mbak Vera sapaan akrabnya, di saat itu orang tua sedang nggak bisa mengendalikan emosinya. 

Biasanya dua tahun sebelum perceraian akan ada banyak konflik dalam hubungan. Kita paham ketika hubungan ada masalah, rasanya sulit untuk fokus dengan apa yang dikerjakan, termasuk dalam mengurus dan memberi perhatian si Kecil. 

perceraian

Jadi memberikan penjelasan apa yang sedang terjadi itu perlu, tujuannya supaya anak nggak merasa kebingungan dan terjebak dalam keluarganya sendiri. Mereka bisa ngerti, bahwa Ayah dan Ibu sedang berada di situasi yang kurang baik. 

Ajak si Kecil diskusi, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, lalu perbolehkan anak untuk bertanya. Sebagai anak, ia berhak untuk mendapatkan penjelasan mengenai hubungan orang tuanya baik itu menyenangkan atau menyedihkan. 

Usahakan menjelaskan hal ini dengan pasangan, nggak hanya Ayah atau Ibu aja. Kalau memang hubungan sudah memburuk sampai nggak ingin bertemu lagi, setidaknya berjuanglah untuk memberikan penjelasan pada anak secara bersama-sama. 

Transisi pasca perceraian 

Setelah bercerai bukan berarti masalah selesai seperti dihempas angin, ya. Kita dan keluarga harus beradaptasi lagi dengan kondisi baru. Yang tadinya dekat sama keluarga pasangan terus jadi berjarak, yang tadinya di rumah ada sosok Ayah/Ibu sekarang nggak ada. 

Menurut Mbak Vera, umumnya di masa transisi itu, masing-masing pasangan menunjukkan respons yang berbeda. Biasanya Ibu (perempuan) akan menampilkan respons emosional seperti kelihatan banget depresi, stres berkepanjangan, suka marah dan nangis seharian. 

Sedangkan Ayah (laki-laki) lebih menampilkan behaviour. Ayah menjauh dari anak, lebih memilih untuk sibuk bekerja, pokoknya apapun yang menunjukkan perubahan sikap. 

Terus, di fase ini anak-anak gimana? Perceraian pada anak pun nggak kalah menyakitkan, melihat orang tua yang berubah jadi saling menjauh bahkan sampai menghujat.

Nggak menutup kemungkinan si Kecil akan ikut emosional dan stres, sebab pada akhirnya anak akan bingung harus bersama Ayah/Ibu. Apalagi kalau perceraian nggak berjalan mulus, pasangan saling menjelekkan di depan anak. 

Belum lagi kalau adanya perebutan hak asuh. Setelah itu, si Kecil diberikan ultimatum untuk memilih mau ikut Ayah/Ibu. Setelah itu, anak nggak akan pernah mendapatkan perhatian dari salah satu orang tuanya. Misalnya Ayah nggak pernah hadir lagi meski dalam momen penting. 

Berdasarkan pengalaman praktik Mbak Vera, banyak anak yang dijadikan alat untuk balas dendam karena perceraian. Anak yang paling disayang Ayah ‘diambil’ oleh Ibunya dan nggak boleh bertemu lagi. Ada juga yang sampai putus sekolah, akibat Ayah nggak memberikan nafkah karena Ibu nggak kasih izin untuk Ayah dan anak bertemu. 

Belum lagi kalau sampai harus pindah sekolah. Bayangin si Kecil harus berpisah sama teman-teman baik lamanya, orang tua berpisah, lalu dia harus bisa adaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi kalau mengalami kemerosotan ekonomi setelah orang tua bercerai. 

Dampak jangka panjang 

Pada umumnya, anak-anak yang orang tuanya bercerai akan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Tapiii, nggak semua kayak gitu kok. Justru anak-anak dianggap lebih mudah menyesuaikan keadaan usai perceraian asalkan diberikan support yang tepat. 

Meskipun ada yang masih merasa terganggu atas perceraian, kemungkinan dalam waktu satu sampai dua tahun sudah bisa kembali menyesuaikan diri. Alasannya, anak-anak belum memiliki nalar yang cukup panjang terutama si Kecil yang masih di bawah umur. 

perceraian

Berbeda, kalau Ibu / Ayah bercerai pasti udah banyak banget yang dipikirin. Dari mulai status sosial, menghapus kenangan bersama pasangan, kehidupan ke depannya, dan masihh banyak lagi. 

Menurut Mbak Vera, berdasarkan dari beberapa data menunjukkan kalau anak-anak lebih tangguh dalam perceraian. Memang ada juga anak-anak yang emosionalnya kerasa banget, sampai nggak mau sekolah dan nggak ada rasa semangat hidup. 

Perceraian bukan kita dan pasangan aja yang hancur tetapi juga keluarga termasuk anak. Ingat ‘kan, katanya kalau menikah itu artinya kita juga menikah dengan pasangan dan keluarganya. Begitu juga dengan perceraian. 

Anak sebagai “buah” pernikahan akan menjadi hasil dari kebahagiaan atau kehancuran rumah tangga yang kita bangun dengan pasangan. Bercerai bukan satu-satunya solusi, tapi terkadang ini menjadi jalan keluar yang paling baik. 

Banyak ya, orang bilang, bercerai itu tanda nggak sayang dan nggak mikirin anak. Jangan salah, daripada anak ngeliat Ayah dan Ibunya bertengkar, KDRT, saling selingkuh, lebih baik bubar untuk melindungi anak. 

Walaupun sebenarnya perasaan anak sudah terluka, setidaknya nggak tersayat terlalu dalam ya, Parents. Setelah bercerai, semua sudah dijelaskan, dan sudah tahu anak akan ikut dengan siapa, selanjutnya kita perlu memastikan kesehatan mental anak. 

Berikut Bumin sebutin yaa.. Mudah-mudahan ini bisa menjadi perhatian para Parents bila akan mengalami perceraian. 

Masalah perilaku 

Seperti yang tadi sempat dijelaskan Mbak Vera, nggak semua anak korban perceraian memiliki masalah dalam mental dan perilakunya. Tetapi pada umumnya, si Kecil akan mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebaya atau menjadi pribadi yang cenderung negatif. 

Menurunnya prestasi akademik

Mbak Vera sempat jelasin juga nih, kalau pasca perceraian prestasi akademik si Kecil bisa menurun drastis. Apalagi kalau sampai anak harus pindah sekolah karena terpaksa mengikuti salah satu orang tuanya. 

Bayangin, udah orang tua berpisah, dia juga harus berpisah sama teman-teman dekatnya, dan harus memulai lingkungan baru dengan suasana hati yang berantakan. Sebuah penelitian pada 2019, anak-anak dari keluarga bercerai cenderung menurut secara prestasi akademik, 

Perilaku berisiko 

Ini biasanya terjadi pada anak yang mulai remaja, Parents. Remaja dengan orang tua yang bercerai lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penggunaan narkoba bahkan sampai aktivitas seksual dini. 

Setelah kita bahas soal perceraian yang memberikan efek negatif ke si Kecil dari mulai tahapan perceraian sampai ke masalah perilaku. Memang perceraian itu sebaiknya dihindari, tapi bagaimana kalau kita sudah nggak bisa bertahan lagi? 

Mengatakan tidak pada anak

Ada rasa nggak tega anak ngeliat kita bertengkar sama pasangan, si Kecil ikut tersakiti terus padahal nggak tahu apa-apa. Sampai akhirnya bercerai jadi jalan yang terbaik. 

Sebelum memutuskan untuk bercerai, banyak hal yang harus dipikirkan. Namun usahakan untuk mengutamakan kesehatan mental kita, terutama si Kecil. Sehingga proses perceraian bisa berjalan dengan tenang dan nggak memberikan luka yang lebih dalam. 

Apa saja yang harus kita lakukan pada si Kecil saat akan proses cerai? Berikut penjelasan dari psikolog Roslina Verauli. 

Edukasi anak tentang perceraian 

Parents harus bersikap terbuka pada anak, ceritakan alasan apa yang sampai membuat sampai bercerai, namun menggunakan ucapan sederhana yang dimengerti si Kecil, yah. Misalnya nggak dijelaskan dengan baik atau orang tua berbohong, tentu akan mempengaruhi dampak negatif pada psikis anak. 

Meminta maaf ke anak sama seperti memberi simpati terhadap kondisi yang dia alami. Kita minta maaf karena ia nggak punya keluarga yang harmonis dan lengkap. Tapiii, kita bisa berikan komitmen kok, kalau kita akan tetap selalu sayang dan memberikan si Kecil perhatian. 

Orang tua peka pada perubahan emosional & perilaku anak

Pasca perceraian memang kita dirundung dengan perasaan sedih yang dalam. Berikan waktu itu beberapa hari untuk Parents, namun pastikan si Kecil nggak merasakan kesedihan itu juga. Maka ada baiknya anak dititipkan ke Nenek dan Kakek atau kerabat dekat yang kita percaya. 

berbicara pada anak 

Setelah memberikan waktu pada diri sendiri, kita harus move on untuk memastikan anak dalam kondisi dan perilaku yang stabil. Nggak merasa kekurangan setelah orang tuanya bercerai, pastikan kita selalu hadir dalam hari-harinya dan saat anak membutuhkan perhatian. 

Jadi sebelum peka terhadap perubahan emosional dan perilaku anak, selesaikan dulu diri kita dari kesedihan. Kuatkan hati demi kesehatan psikis si Kecil untuk masa depannya. 

Orang tua meminimalisir perubahan kehidupan pada anak 

Dari yang tadinya punya pasangan, terus nggak punya itu rasanya beda banget yah. Kadang ada pikiran untuk cari pelarian baik itu dengan punya pasangan baru, lebih banyak bekerja, bahkan sampai ke mengonsumsi alkohol. 

Parents, pikirkan lagi anak, anak, dan anak. Kita nggak mau ‘kan jadi orang tua yang menghancurkan hidup anak? Perceraian padaSudah cukup dengan ia mempunyai orang tua yang berpisah, jadi jangan ditambah lagi bebannya. 

Setelah bercerai, tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan anak, menemaninya sekolah, jadi teman bermain. Ini akan membuat si Kecil merasa apa yang terjadi nggak mengganggu orang tuanya, ia tetap merasa penuh dan bahagia. 

Bayangin kalau misalnya tiba-tiba Parents udah bawa pasangan baru, kelihatan kusut, nggak ada semangat hidup. Si Kecil akan merasa bahwa kehadirannya ‘ditolak’ oleh orang tuanya, merasa perceraian ini disebabkan dirinya, selain itu ada rasa ingin kabur dari kehidupan yang ada. 

Orang Tua, sekarang udah paham yah, apa aja yang harus kita pikirin saat akan bercerai dan sesudahnya. Bukan hanya harta gono-gini aja, tapi juga kesehatan mental anak, setiap anak itu berhak bahagia apapun kondisi keluarganya.

Ketika transisi akan bercerai, ajak si Kecil untuk ngobrol mengenai hubungan Ayah dan Ibunya yang akan berpisah, pastikan anak akan mendapat kasih sayang yang sama dari sebelum perceraian. Sesudah bercerai, tepati janji yang kedua tadi, dan kurangi perubahan sikap di depan anak. 

Mudah-mudahan si Kecil akan lebih mudah menerima keadaannya yang baru. Menurut penelitian, anak lebih tangguh dalam menghadapi perceraian orang tuanya, tetap dengan adanya dukungan lingkungan, ya. 

Kalau semuanya terasa beraaaat bangeet dan nggak sanggup jalaninnya untuk tetap kasih perhatian buat si Kecil, kita konsultasi ke psikolog aja, yuk. Supaya luka batin yang ada pelan-pelan bisa sembuh dan nggak memberikan dampak ke anak. 

Referensi : Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak











Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi. Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi di antara sepasang suami istri.

Karena perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa dirundingkan dan disepakati bersama. Banyak pertanyaan dari orangtua mengenai pada usia berapakah perpisahan dan perceraian orangtua memiliki dampak buruk yang minim bagi anak? Benarkah justru di usia balita paling baik, karena anak belum banyak terpapar pada kehidupan orangtuanya? Jawabannya secara umum adalah tidak ada usia terbaik. Namun demikian, sesungguhnya dampak perceraian pada anak-anak bervariasi sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan psikologis mereka. Orangtua perlu memahami dampak dan kebutuhan yang berbeda dari anak-anak mereka.

Tinjauan  Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:

  1. Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
  2. Anak merasa terjepit di tengah-tengah. Karena dalam hal ini anak sulit sekali memilih papa atau mama.
  3. Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
  4. Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.

  1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah di luar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:

  • Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.
  • Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar.

Namun kemarahan juga bisa muncul karena :

  • Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam
  • ketegangan.
  • Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
  • Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.

Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

Referensi : Tinjauan  Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua




Perceraian Orang Tua, Waspadai Dampak Psikologis pada Anak

Ilustrasi : Perceraian Orang Tua, Waspadai Dampak Psikologis pada Anak

Perceraian orang tua memberikan dampak psikologis kepada anak. Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak berjuang paling keras selama satu atau dua tahun pertama setelah orang tua mereka berpisah. Mereka cenderung mengalami kesusahan, kemarahan, kecemasan, dan ketidakpercayaan. Sebagian anak tidak pernah benar-benar kembali ke normal. Persentase kecil anak-anak ini mengalami masalah yang berkelanjutan, bahkan seumur hidup setelah perceraian orang tua mereka, meski, banyak anak-anak yang bisa bangkit kembali. Mereka terbiasa dengan perubahan dalam rutinitas harian dan merasa nyaman dengan pengaturan hidup mereka. Perceraian menciptakan kekacauan emosional bagi seluruh keluarga. 

Tetapi untuk anak-anak, situasinya bisa sangat menakutkan, membingungkan, dan membuat frustrasi . Anak kecil sering kesulitan memahami mengapa mereka harus pergi di antara dua rumah. Mereka mungkin khawatir jika orang tua mereka bisa berhenti saling mencintai suatu hari nanti dan akan berhenti mencintai mereka. Anak-anak sekolah dasar merasa khawatir bahwa perceraian adalah kesalahan mereka. 

Mereka mungkin takut melakukan kesalahan atau menganggap mereka melakukan sesuatu yang salah. Sedangkan pada remaja, menjadi sangat marah tentang perceraian dan perubahan yang ditimbulkannya. Mereka menyalahkan satu orang tua untuk perpisahan atau membenci satu atau kedua orang tua untuk pergolakan dalam keluarga. Dalam keadaan ekstrem, seorang anak mungkin merasa lega dengan perpisahan karena perceraian berarti lebih sedikit pertengkaran dan lebih sedikit stres. 

Perceraian membuat anak-anak kehilangan kontak sehari-hari dengan satu orangtua dan paling sering ayah. Kontak yang menurun mempengaruhi ikatan orang tua anak dan menurut sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2014, para peneliti telah menemukan banyak anak merasa kurang dekat dengan ayah mereka setelah perceraian. Perceraian juga memengaruhi hubungan anak dengan orang tua asuh, paling sering ibu. 

Pengasuh primer sering melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi terkait dengan pengasuhan tunggal. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2013 menyarankan bahwa ibu sering kurang mendukung dan kurang penuh kasih sayang setelah perceraian. Selain itu, disiplin mereka menjadi kurang konsisten dan kurang efektif. Bagi beberapa anak, perceraian orang tua bukanlah bagian yang paling sulit. Sebaliknya, stresor yang menyertainya adalah yang membuat perceraian menjadi yang paling sulit. 

Mengubah sekolah, pindah ke rumah baru, dan tinggal dengan orang tua tunggal yang merasa sedikit lebih lelah hanyalah beberapa stres tambahan yang membuat perceraian menjadi sulit. Kesulitan keuangan juga umum terjadi setelah perceraian. Banyak keluarga harus pindah ke rumah yang lebih kecil atau mengubah lingkungan dan mereka sering memiliki sumber daya material yang lebih sedikit. Perceraian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Terlepas dari usia, jenis kelamin, dan budaya, anak-anak dari orang tua yang bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis. (Baca juga: Lima Aktivitas Seru bersama Keluarga agar Tetap Bugar dan Sehat ). Perceraian dapat memicu kelainan penyesuaian pada anak-anak yang sembuh dalam beberapa bulan. Tetapi, penelitian juga menemukan tingkat depresi dan kecemasan lebih tinggi pada anak-anak dari orang tua yang bercerai. Anak-anak dari keluarga yang bercerai mengalami lebih banyak masalah eksternalisasi, seperti gangguan perilaku, kenakalan, dan perilaku impulsif daripada anak-anak dari keluarga dua orang tua. 

Selain masalah perilaku yang meningkat, anak-anak juga mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebaya setelah perceraian. Anak-anak dari keluarga yang bercerai tidak selalu memiliki prestasi akademis yang baik. Namun, sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2019 menyarankan anak-anak dari keluarga yang bercerai cenderung memiliki masalah dengan sekolah jika perceraian itu tidak terduga, sedangkan anak-anak dari keluarga di mana perceraian kemungkinan tidak memiliki hasil yang sama. 

Di sisi lain, remaja dengan orang tua yang bercerai lebih cenderung terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penggunaan narkoba dan aktivitas seksual dini. Di Amerika Serikat, remaja dengan orang tua yang bercerai minum alkohol lebih awal dan melaporkan lebih tinggi alkohol, ganja, tembakau, dan penggunaan narkoba dibandingkan teman sebayanya. Dilansir dari Verrywell Family, berita baiknya adalah, orang tua dapat mengambil langkah untuk mengurangi efek psikologis perceraian pada anak-anak. Beberapa strategi pengasuhan yang mendukung dapat membantu anak-anak menyesuaikan diri dengan perubahan yang disebabkan oleh perceraian.

Referensi : Perceraian Orang Tua, Waspadai Dampak Psikologis pada Anak





Beda Dampak Perceraian bagi Anak Perempuan dan Laki-laki

Ilustrasi : Beda Dampak Perceraian bagi Anak Perempuan dan Laki-laki

Perselisihan orang tua yang berujung pada perceraian seringkali menjadikan anak-anak sebagai korban. Mereka secara langsung ataupun tidak bakal merasakan imbas perpisahan kedua orang tuanya.  Efek langsung yang dialami anak adalah perasaan kehilangan salah satu sosok orang tua yang biasanya mereka jumpai setiap hari. Lalu, dampak lain pun akan muncul perlahan-lahan. Ini dapat terlihat pada kesehatan mental anak.  Sebuah penelitian yang dilakukan oleh profesor dari Unversity of Montreal, Jennifer O'Loughlin, menunjukkan anak-anak remaja yang menghadapi perceraian orang tua biasanya akan mengalami gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, seperti stres, cemas, dan depresi. 

Tentu saja gangguan tersebut tidak boleh dibiarkan. Anak-anak membutuhkan dukungan untuk mencegah peningkatan depresi dan gangguan kesehatan mental lain.  "Salah satu yang kita ketahui tentang perceraian adalah bahwa hal itu mengganggu perkembangan normal dalam kehidupan anak-anak," ujar Profesor Family Social Science di University of Minnesota, Steven Harris. "Misalnya, (perceraian) mengakibatkan anak menjadi tidak fokus dengan studinya atau hubungan dengan teman sebayanya."

Lebih jauh lagi, Harris menjelaskan, bahwa anak-anak yang tidak terpapar soal konflik rumah tangga orang tuanya, biasanya tidak akan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap pernikahan orang tua.
"Mereka [anak-anak] hanya akan berpikir soal makanan di atas meja, masalah harian mereka, pekerjaan rumah," katanya. "Tapi kemudian ketika Anda menambahkan pikirannya dengan perceraian. Maka itu dapat membuat anak akan memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak ia pikirkan."
Para ahli juga menuturkan bahwa tingkat depresi setiap anak berbeda-beda. Namun, kata Harris, gender pun agaknya mempunyai peran pada respon anak menghadapi perceraian.
Selain itu, efek perceraian pada remaja perempuan cenderung akan membuat mereka lebih tertekan dan terisolasi.
"Mereka akan menutup diri. Sedangkan anak laki-laki cenderung meluapkannya. Mereka akan mengeskpresikan kemarahan mereka dengan cara yang berbeda," ujarnya.

Kesedihan dan kemarahan itu muncul dikarenakan banyaknya hal yang harus dihadapi anak-anak. Seorang psikolog di Austin, Carl Pickhardt, mengatakan, anak-anak pasti akan patah semangat karena merasa kehilangan. "Mereka merasa telah kehilangan keluarga utuh," katanya.

"Anak berasumsi bahwa orang tua mereka akan terus bersama dan keluarganya akan utuh. Sekarang orang tua mereka justru memutuskan untuk berpisah. Maka akan ada begitu banyak perubahan untuk menyesuaikan diri," jelas Pickhardt.

Walau demikian, Pickhardt menilai, respon tersebut wajar adanya. "Jadi yang harus diperhatikan adalah bagaimana sang anak menghadapi kecemasan, kemarahan dan stres mereka."
Salah satu cara yang bisa dilakukan, dikutip dari U.S.News, adalah dengan membuat rutinitas baru untuk anak sesegera mungkin. Misalnya, dengan menulis daftar aturan baru, seperti jadwal kunjungan untuk anak-anak.

"Semakin cepat Anda memberikan struktur keluarga yang baru untuk anak-anak, maka akan semakin baik," ujar Pickhardt. Hal itu bertujuan untuk membuat anak-anak merasa nyaman dengan sistem terbaru.

Orang tua dapat menentukan di mana anak akan tinggal dan bersekolah. Namun juga harus memiliki waktu yang fleksibel agar anak dapat menghubungi dan berbicara dengan orang tuanya kapan saja.
Untuk itu, menurut Pickhardt, penting bagi pasangan yang akan bercerai untuk membaca buku soal perceraian ataupun mendatangi pakar konseling pernikahan.

Referensi : Beda Dampak Perceraian bagi Anak Perempuan dan Laki-laki






Kamis, 11 Agustus 2022

Anak Rawan Mengalami Dampak Psikis Akibat Perceraian di Usia Ini

Anak Rawan Mengalami Dampak Psikis Akibat Perceraian di Usia Ini

Perceraian orang tua sering kali ditenggarai sebagai penyebab berbagai masalah psikis pada anak. Namun, rupanya dampak perceraian berbeda pada kelompok anak berbeda umur.

Studi yang dilakukan terhadap 6.245 anak dan remaja di Britania Raya menunjukkan, perceraian orang tua tidak selalu meninggalkan bekas trauma dan gangguan kesehatan mental lain seperti kecemasan dan depresi pada anak. Dalam penelitian disebutkan perceraian orang tua paling besar dampaknya pada psikis anak ketika berusia 7 hingga 14 tahun.

Pada kelompok anak usia 7-14 tahun, ketika menyaksikan perpisahan orang tua, mereka mengalami peningkatan masalah emosional sebesar 16 persen dan peningkatan masalah perilaku sebesar 8 persen.

Emla Fitzsimons, profesor Institut Pendidikan Universitas College London, Inggris, yang terlibat dalam penelitian ini menyebutkan, "Perpecahan keluarga yang terjadi di usia anak 7-14 tahun dapat merusak kesehatan mental. Salah satu kemungkinan alasannya adalah karena pada periode usia tersebut anak sudah lebih sensitif terhadap dinamika hubungan orang tua."

Sementara anak-anak di bawah usia 7 tahun kemungkinan belum mampu memahami dan mencerna apa yang terjadi di antara orang tuanya. Selama orang tua bisa terus menjaga hubungan baik dan mencurahkan kasih sayang yang dibutuhkan, tidak ada masalah yang akan mengguncang kesehatan mental anak.

Sebaliknya, anak-anak yang saat orang tuanya bercerai masih berusia 3 hingga 7 tahun umumnya tidak mengalami masalah tersebut secara signifikan, termasuk ketika mereka menginjak usia 14 tahun.

Referensi : Anak Rawan Mengalami Dampak Psikis Akibat Perceraian di Usia Ini









Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak

Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak

Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak. Di awal tahun 2021 banyak timbul isu mengenai perceraian di kalangan selebriti maupun masyarakat Indonesia. Hal ini seakan-akan menjadi sebuah fenomena yang sudah lazim dan juga sering terjadi. Padahal perceraian termasuk salah satu perbuatan yang diperbolehkan tetapi juga perkara yang sangat dibenci Allah SWT (Riami, 2020). Namun, masih banyak pasangan suami istri yang memilih jalan ini untuk menyelesaikan masalah dalam rumah tangganya. Dalam Islam sebenarnya tidak diperkenankan adanya perpisahan karena banyak pihak yang terlibat akhirnya tersakiti. Orang tua mungkin sudah siap secara mental maupun fisik untuk menjalani hidup mereka setelahnya, tetapi anak akan sulit menyesuaikan dan mengerti akan situasi tersebut. 

Keluarga layaknya rumah yang nyaman bagi mereka yang memiliki keluarga harmonis. Tumbuh kembang anak senantiasa berasal dari keluarga. Khususnya orang tua yang memiliki peran penting untuk mengembangkan dan menjaga kestabilitasan psikologis anak mereka. Menjadi seorang figure yang baik untuk anak bukanlah perkara yang mudah. Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh cara orang tua mendidik dan memberikan contoh. Namun, masih banyak anak yang kurang beruntung karena hubungan kedua orang tuanya yang tidak lagi harmonis. Oleh karena itu memiliki orang tua yang harmonis dan peka terhadap tumbuh kembang anak merupakan sebuah anugerah. 

Secara psikologi perceraian dapat memberikan dampak yang buruk kepada anak, seperti membuat anak merasa tidak aman (insecurity), ditolak oleh keluarga, marah terhadap keadaan, sedih, kesepian, dan menyalahkan diri sendiri (Sarbini & Wulandari, 2014). Anak bisa saja menjadi trauma untuk berhubungan dengan lawan jenis. Tetapi untuk orang tua yang bercerai akan cenderung mudah berapdaptasi. Mereka sudah memiliki persiapan sebelumnya karena saat proses bercerai diperlukan pemikiran yang panjang dan juga matang. 

Rasa tidak aman (insecurity) akan timbul pada anak korban perceraian karena kurangnya perhatian dari kedua orang tua. Pada aspek ini anak merasa tidak aman perihal finansial dan masa depan. Jarak yang memisahkan mereka dengan orang tua setelah bercerai akan membuat mereka seakan-akan dikhianati dan menimbulkan persepsi berbeda mengenai lingkungan. Sehingga anak-anak cenderung akan menutup diri dari lingkungan sosialnya karena mereka menganggap hal lain di luar mereka membahayakan 

Orang tua yang bercerai akan menimbulkan dampak bagi hubungan suami istri, keluarga, dan juga anak. Adanya rasa penolakan dari keluarga dapat terjadi karena sikap orang tua yang berbeda. Apalagi disaat orang tua sudah mendapatkan pasangan (suami atau istri) yang baru. Pasti ada rasa yang kurang mengenakan antara anak dengan ibu atau ayah tiri mereka. Penolakan juga bisa datang dari keluarga besar ayah ataupun ibu. Anak akan merasa diasingkan atau dijauhi. Hal ini memungkinkan timbulnya ketidakstabilan cita diri (disoreder personality) pada anak (Sarbini & Wulandari, 2014). 

Emosi yang tidak stabil akan membuat anak merasa marah terhadap keadaan. Anak akan cepat menilai mengenai sesuatu. Penilaian ini akan membentuk tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh anak, misalnya bersikap temprament sebagai wujud dari ketidakterimaan mereka terhadap perceraian orang tuanya. Tindakan seperti ini mengarah pada aspek perasaan dari emosi yang terjadi karena sering melihat ayah dan ibunya bertengkar. 

Kebiasaan orang tua yang melampiaskan amarahnya di depan anak akan membuat pikiran bawah sadar anak secara terus menerus mengingat atau merekam kejadian tersebut. Perilaku yang tidak seharusnya diperlihatkan didepan seakan mengundang anak untuk melakukan hal yang sama. Ketika anak meluapkan amarahnya kepada orang lain dengan perilaku mereka yang agresif dan juga temperament, itu merupakan contoh yang diberikan orang tua. Perubahan tingkah laku anak akan terlihat seiring dari dampak perceraian 

Dilihat dari sudut pandang biopsikologi, (Santrock, 2007) mengungkapkan bahwa perkembangan otak mempengaruhi aktivitas pemrosesan informasi berkaitan dengan emosi. Saat anak sudah mulai memasuki usia remaja pemrosesan informasi akan bersifat emosional, bagian amigdala memperlihatkan aktivitas otak yang lebih besar dibandingkan dengan lobus frontal. Hal ini berarti bahwa remaja cenderung merespon dengan reaksi emosi terhadap stimuli yang bersifat emosional (Santrock, 2007). Santrock (2007) juga mengungkapkan bahwa meskipun remaja memiliki emosi yang kuat, tetapi korteks prefrontal belum cukup memadai dalam mengontrol gairah. Artinya kematangan emosi yang dimiliki oleh anak remaja berada pada level sedang, tidak tinggi dan juga tidak rendah (Natalia & Lestar, 2015). 

Kenyamanan yang diberikan orang tua semasa masih memiliki hubungan yang harmonis akan menimbulkan kesedihan yang mendalam pada anak saat orang tuanya sudah bercerai. Luka batin yang anak dapat karena kejadian ini akan membuat ia stres, sulit tidur atau insomnia, dan bahkan kehilangan nafsu makan. Sangat wajar anak bersedih dengan keadaan yang sudah menimpa mereka apalagi anak yang ditelantarkan orang tuanya dan berakhir tinggal bersama kakek atau nenek mereka (Sarbini & Wulandari, 2014). Di kehidupan yang akan datang, kesedihan anak akibat perceraian akan memberikan dampak bahkan bisa saja menjadi trauma. Peristiwa yang sangat traumatis seperti ini akan disimpan pada memori jangka panjang. Ingatan yang permanen nampaknya tersimpan dan diproses dalam cerebral cortex. Informasi dari mata dan telinga dilewatkan ke visual cortex dan auditory cortex, memori jangka panjang yang bertipe visual dan audiotori juga disimpan di lokasi tersebut (Bhinnety, 2008). Inilah yang menyebabkan ingatan-ingatan yang terlalu berkesan (sangat membahagiakan ataupun sangat menyedihkan) akan sulit dilupakan oleh seorang anak. 

Anak membutuhkan bimbingan dari orang tua untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Ketidakharmonisan di keluarga akan membuat rasa kesepian (loneliness) muncul karena kasih sayang dan perhatian orang tua yang sudah tidak sama seperti dulu. Percerian yang menimbulkan berubahnya perilaku orang tua terhadap anak biasanya saja terjadi akibat ego orang tua yang terlalu tinggi, orang tua yang sudah mendapatkan pasangan baru, dan perasaan tidak mau menerima anak karena buah hasil dengan mantan suami atau istrinya (Sarbini & Wulandari, 2014). 

Rasa tidak aman (insecure), merasa ditolak oleh keluarga, perasaan marah, sedih, dan kesepian merupakan faktor-faktor yang menyebabkan disorder personality yang gejalanya adalah pada saat anak mualai menyalahkan diri sendiri. Sebab terjadinya hal tersebut karena salahnya pola pengasuhan. Faktor utama dalam pola pengasuhan anak yaitu orang tua dan saudara, dalam pola asuh biasa disebut dengan significant others. Orang tua yang bercerai menyebabkan terjadinya pola asuh salah oleh golongan significant others yang berdampak pada terganggunya psikologis anak. Sering menyalahkan diri sendiri akan memberikan dampak buruk terhadap psikologis anak, sehingga timbul schizophrenisa, fobia, bipolar, dan lain sebagainya. Gangguan psikologis yang berbahaya berawal dari perasaan menyalahkan diri sendiri. 

Referensi : Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak









Dampak Perceraian Terhadap Kondisi Psikologis Keluarga

Perceraian memiliki dampak terhadap mantan pasangan suami istri dan anak. Akan tetapi dalam uraian ini akan dibahas dampak perceraian yang akan dialami oleh anak. Menurut Leslie (1967), reaksi anak terhadap perceraian orang tua sangat tergantung pada penilaian mereka sebelumnya terhadap perkawinan orangtua mereka serta rasa aman di dalam keluarga.

Diketahui bahwa lebih dari separuh anak yang berasal dari keluarga tidak bahagia menunjukkan reaksi bahwa perceraian adalah yang terbaik untuk keluarganya. Sedangkan anak-anak yang berasal dari keluarga bahagia lebih dari separuhnya menyatakan kesedihan dan bingung menghadapi perceraian orang tua mereka.

Mengemukakan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai sering hidup menderita, khususnya dalam hal keuangan serta secara emosional kehilangan rasa aman di dalam keluarga.

Dampak perceraian lain yang terlihat adalah meningkatnya “perasaan dekat” anak dengan ibu serta menurunnya jarak emosional terhadap ayah. Ini terjadi bila anak berada dalam asuhan dan perawatan ibu. Selain itu anak-anak dengan orang tua yang bercerai merasa malu dengan perceraian tersebut. Mereka menjadi inferior dengan anak-anak lain.

Oleh karena itu tidak jarang mereka berbohong dengan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak bercerai atau bahkan menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang perceraian orang tua mereka.

  1. Dampak perceraian yang di rasakan oleh anak
  2. Anak memiliki perasaan perasaan ketika orang tuanya bercerai, hal ini terlihat antara  lain :
  3. Tidak aman (insecurity)
  4. Tidak diingikan atau ditolak oleh orang tuanya yang pergi
  5. Sedih
  6. Kesepian
  7. Marah
  8. Kehilangan
  9. Merasa bersalah dan menyalahkan diri

Dampak perceraian tersebut dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku :

  1. Suka mengamuk, menjadi kasar dan tindakan agresif
  2. Menjadi pendiam, tidak lagi ceria dan tidak suka bergaul
  3. Sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi disekolah cenderung menurun
  4. Suka melamun terutama mengkhayalkan orang tuanya akan bersatu lagi.

Perceraian memiliki dampak terhadap mantan pasangan suami istri dan anak. Akan tetapi dalam uraian ini akan dibahas dampak perceraian yang akan dialami oleh anak. Menurut Leslie. reaksi anak terhadap perceraian orang tua sangat tergantung pada penilaian mereka sebelumnya terhadap perkawinan orangtua mereka serta rasa aman di dalam keluarga.

“Dampak Perceraian Terhadap Kondisi Psikologis Keluarga (Studi Deskriptif Analitis di Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya)”. Pada dasarnya keluarga dibentuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan, namun membangun sebuah rumah tangga bukanlah hal yang mudah, terkadang berbagai masalah dapat muncul dalam sebuah keluarga. Masalah rumah tangga terkadang dapat diatasi dan diselesaikan dengan baik, namun terkadang sulit diselesaikan sehingga semakin hari semakin berlarut-larut dan tidak jarang yang akhirnya berujung dengan perceraian. 

Perceraian merupakan berakhirnya suatu pernikahan diantara kedua pasangan yang tidak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab perceraian dalam sebuah keluarga dan bagaimana dampak perceraian terhadap kondisi psikologis masing-masing anggota keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis yaitu suatu penelitian dengan mengumpulkan data, selanjutnya dianalisa serta ditarik kesimpulan. 

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara, dengan sampel penelitian terdiri dari tiga keluarga yang bercerai di Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya. Hasil penelitian menunjukkan perceraian disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah ekonomi keluarga, tidak memiliki keturunan, ketidaksetiaan salah satu pasangan hidup dan kekerasan dalam rumah tangga. Perceraian juga meninggalkan dampak bagi semua anggota keluarga baik terhadap pasangan yang bercerai maupun anak seperti perasaan kecewa, kesedihan, stress, marah, trauma, menurunnya prestasi, menyalahkan diri sendiri dan orang tua, dan putusnya tali silaturahmi diantara keluarga kedua belah pihak.


DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA PADA REMAJA DAN COPING STRES SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK

DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA PADA REMAJA DAN COPING STRES SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK

Dalam kehidupan berkeluarga ada dua pengalaman yang amat menyedihkan dan menekan perasaan (stressfull), yaitu kematian dan perceraian orang tua. Pada artikel ini, saya akan sedikit berbagi pengalaman perilaku abnormalitas yang pernah saya alami di masa perkembangan remaja, yaitu pada usia 13 tahun. Perilaku abnormalitas yang saya alami adalah stress dan depresi yang disebabkan oleh perceraian orang tua, terlebih hal itu terjadi pada tahap remaja yang merupakan tahapan menuju kematangan fisik maupun psikis.

Pada umumnya, para orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Perceraian mungkin adalah salah satu keputusan yang sangat berat dan menyakitkan bagi kedua belah pihak, seperti orang tua yang mengalami kesedihan yang dalam karena perceraian, saya sebagai anak juga memiliki perasaan sedih, marah, penyangkalan, takut, bersalah yang sama dan mungkin reaksi lain yang akan timbul akibat perceraian tersebut seperti adanya rasa luka, rasa kehilangan, dan terlebih lagi perceraian orang tua akan berdampak pada kesulitan penyesuaian diri dalam bentuk masalah perilaku, kesulitan belajar, atau penarikan diri dari lingkungan sosial. Dan perasaan-perasaan tersebut saya manifestasikan dalam bentuk perilaku seperti menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul, sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi di sekolah cenderung menurun, suka melamun, terutama mengkhayalkan orangtua akan bersatu kembali.

Tidak banyak anak yang berhasil dalam proses adaptasi untuk menerima kenyataan yang ada, mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika meneruskan kehidupannya ke masa perkembangan selanjutnya, tetapi bagi anak yang gagal beradaptasi, maka ia akan membawa hingga dewasa perasaan ditolak, tidak berharga dan tidak dicintai. Perasaan-perasaan ini dapat menyebabkan anak tersebut, setelah dewasa menjadi takut gagal dan takut menjalin hubungan yang dekat dengan orang lain atau lawan jenis. Menurut saya, saya termasuk kedalam kategori anak yang mampu beradaptasi menerima kenyataan perceraian orang tua. Selama lima tahun setelah perceraian proses adapatasi tetap saya lakukan, beradaptasi dan berusaha menerima kenyataan bahwa orang tua tidak lagi hidup bersama. Mengingat kenangan-kenangan dan moment-moment penting kebersamaan keluarga adalah hal yang membuat saya sedih karena hal tersebut sudah tak mungkin teerulang lagi.

Kenangan yang paling membuat saya sedih dan sulit dilupakan adalah ketika kami sekeluarga (ayah, ibu, dua kakak saya, dan saya sebagai anak terakhir) melakukan solat maghrib berjamaah di mushola rumah, kemudian hingga malam menjelang kami membaca Al Quran bersama dan kemudian saling berbagi cerita. Itu adalah moment kelurga yang ingin saya ulangi.  Saya tidak tahu pasti hal apa yang menyebabkan perceraian orang tua saya bisa terjadi. Ketika saya berusia 13 tahun, kedua orang tua saya sering bertengkar, walaupun saya adalah anak laki-laki tapi kala itu saya menangis dan menyendiri di kamar.  Stres yang saya alami juga menimbulkan kecemasan pada diri saya, seperti kecemasan terhadap perubahan sikap teman-teman saya apabila mereka mengetahui permasalahan dalam keluarga saya. Kecemasan lain seperti kecemasan tidak dapat bertemu dengan ayah lagi, sehingga membuat kesedihan yang mendalam.

Saat saya menempuh perguruan tinggi di STKS Bandung saya mempelajari psikologi perkembangan dan abnormalitas, saya menyadari perceraian orang tua yang terjadi pada tahap remaja awal, yang mana pada tahap perkembangan ini bukan hanya membentuk kematangan fisik saja (pubertas) akan tetapi juga mengarah ke arah kematangan social-psikologis, antara lain menuju kedewasaan dan kemandirian, sehingga pada tahap ini diperlukan atau dibutuhkannya sosok figure orang tua yang mungkin akan selalu siap dalam memberikan arahan atau bimbingan. Pertengkaran orangtua, apapun alasan dan bentuknya, membuat saya merasa takut. Saya tidak pernah suka melihat orang tua bertengkar, karena hal tersebut hanya membuat saya merasa takut, sedih dan bingung. Kalau sudah terlalu sering melihat dan mendengar pertengkaran orangtua, saya merasa kehidupan di keluarga menjadi hancur dan penuh masalah serta menimbulakan rasa ketidakamanan dan ketidaknyamanan dalam diri saya. Rasanya separuh “diri” saya telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua bercerai dan harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Saya harus memendam rasa rindu yang mendalam trhadap ayah yang tiba-tiba tidak tinggal satu rumah bersama saya. Hal tersebut tentu menjadi beban dan mempengaruhi kondisi psikis saya.  

Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba. Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. Selain itu, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh. Dalam jangka panjang, perceraian dapat menyebabkan anak menjadi apatis saat memulai hubungan dengan lawan jenisnya. Anak cenderung merasa takut untuk berkomitmen dan menganggap bahwa hubungan dengan lawan jenis itu tidak penting dan hanya berujung pada perpisahan

Strategi Coping Remaja menghadapi stres perceraian orang tua

Coping stres dapat diartikan sebagai penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, mengurangi dan bertoleransi dengan tuntutan-tuntutan yang ada yang mengakibatkan stres. Lazarus (dalam Radley, 1994) mengungkapkan bahwa setiap individu melakukan cara coping yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi yang menekan dari lingkungan, mekanisme atau cara coping ini bisa meliputi kognitif (pola pikir) dan perilaku (tindakan).

1.     Coping stress pada pola pikir

Saya menggunakan cara menyangkal atau bertingkah seakan-akan tidak adanya permasalahan dalam diri seperti tidak adanya keinginan untuk mencampuri urusan perceraian orangtua dan mencoba lebih banyak tidak terlalu memikirkan permasalahan orangtua. Pada waktu itu saya merasa bentuk pengalihan perhatian yang negatif seperti menghindar adalah cara terbaik, dan bentuk pengalihan perhatian seperti main bareng temen adalah cara yang paling baik. Walau pada dasarnya juga merasakan kesedihan pasca perceraian orangtua, dan perlunya mengontrol perasaann dengan menentramkan hati juga mengatur perasaan agar tidak terlalu dalam kesedihan dan dari diri sendiri berusaha untuk memiliki pengaturan suasana bathin yang baik. Saya merasa ada sisi positif dari perceraian orangtua yaitu adanya kepasrahan dan keyakinan akan nasib yang diberikan Tuhan YME kepada saya. Bentuk dukungan moril atau simpati dari orang lain adalah hal yang saya sangat butuhkan pada waktu itu. Lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan, karena saya meyakini buah-buahan yang segar dapat memberikan energi positif

2.     Coping stress pada perilaku (tindakan)

Yaitu dengan cara mengisi waktu luang dengan hobby yang diminati, seperti bersepeda di sore hari dan berolahraga. Banyak menambah teman, dengan menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman, saya rasa dapat mengurangi tekanan pada stres, sehingga membantu dalam proses beradaptasi dengan lingkungan keluarga yang baru. Namun beberapa remaja melakukan coping stress yang bersifat destruktif/ merugikan seperti merokok, minum alkohol, narkoba, clubing, dll. Hal tersebut harus dihindari dengan melakukan coping stress yang bersifat positif.

REFERENSI : DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA PADA REMAJA DAN COPING STRES SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK