This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 12 Agustus 2022

Mengapa Perceraian Dibenci Allah SWT

Mengapa Perceraian Dibenci Allah SWT

Tak selamanya bahtera rumah tangga berarus tenang. Kadang kala, badai menerpa. Tak jarang pula beragam masalah itu memantik kata “cerai” begitu cepat. Biasanya, rentan menerpa pasangan dengan usia pernikahan di bawah lima tahun.  Maka, imbau Kepala Pusat Litbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama Prof Dedi Djubaedi, sebisa mungkin pasangan suami istri menghindari perceraian. Perkara ini memang halal, tapi mengandung dampak negatif alias kerusakan bagi kelanggengan silaturahim dan masa depan anak.

Dedi menyatakan, segala macam bentuk konflik dalam berumah tangga memiliki dampak negatif. “Termasuk perceraian,” paparnya. Keluasan dampak perceraian menjadikan alasan mengapa Allah SWT marah atau membencinya meskipun itu halal. Yang halal sekalipun, termasuk perceraian, tetap dibenci karena dampaknya adalah mafsadah.

Mantan Rektor STAIN Maluku ini menyatakan, Allah pantas untuk marah. “Bukankah Allah tidak suka orang-orang yang merusak (mufsidin),” imbuhnya.

Menurutnya, kehidupan berumah tangga harus berorientasi pembinaan moral dan spiritual. Pasangan suami istri itu harus penuh tanggung jawab dan memiliki spiritualitas. “Nikah bukan hanya pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan ibadah,” papar Dedi.

Dalam banyak ayat Alquran, manusia dijelaskan sebagai ciptaan yang paling sempura, mampu memimpin, dikaruniai akal, sehingga bisa membedakan mana kebaikan dan mana sebaliknya. Manusia memiliki sifat ciptaan lainnya, seperti malaikat dan setan serta hewan. Manusia memilki hubungan Ilahiah dan insaniah yang memilki bermacam macam hawa nafsu dan instrumen penting lainnya untuk menjalani kehidupannya.

Namun, kesempurnaan yang luar biasa itu masih tetap berpotensi untuk terjebak pada persoalan yang bisa memosisikannya pada kualitas terburuk dari sebuah penciptaan. “Setara dengan binatang atau bahkan lebih rendah,” tuturnya.   

Untuk kompleksitas kemanusiaan itulah Allah SWT ciptakan aturan yang juga sempurna dan luar biasa sampai pada aturan perkawinan. Allah gariskan bahwa tujuan perkawinan itu adalah kenyamanan atau “litaskunu ilaiha”. Batasannya berorientasi pada tujuan, seperti harus saling mengenal, mengerti, menyayangi, tepo seliro, peduli, dan menguatkan. “Pasutri harus saling menjaga,” katanya.   

Sayangnya, jelas Dedi, sifat-sifat kemanusiaan yang kontra produktif untuk hidup sakinah itu begitu kuat. Bangunan keluarga sakinah itu runtuh. Di situlah Allah mengatur tensi manusia dengan fleksibilitas yang sarat dengan muatan moral dan spiritual. Pasutri yang bermoral dan berspiritual akan tangguh dan kokoh. Sebesar apa pun permasalahan yang ada, akan meyakini, jika tidak ada lagi jalan yang lapang dan terang, masih ada lorong yang sangat kecil dan lurus. Pada ujungnya, ada istana bahagia, jalan itu adalah kearifan

Referensi : Mengapa Perceraian Dibenci Allah SWT








Waspada dengan Sikap Mencela Takdir

Ilustrasi : Waspada dengan Sikap Mencela Takdir

Waspada dengan Sikap Mencela Takdir. Kebanyakan yang menggelincirkan kaki manusia adalah berkaitan dengan penentangan terhadap takdir , mencelanya, tidak ridha terhadapnya, mengeluh dan menyandarkan kezhaliman kepadanya. Jika suatu saat rezekinya seret, dia akan berkata, ”Ini adalah bentuk kezhaliman. 

Dan, adakah orang lain yang lebih baik dariku ?” Jika dia melihat orang-orang pergi mencari rezeki lalu sukses, dia akan berteriak,”Duhai seandainya aku seperti mereka, niscaya aku akan mengalami kesuksesan yang gemilang!” Sayangnya, tabiat ini paling banyak tergambar dari sebagian kaum perempuan. Padahal amalan akidah tersebut diharamkan Allah Ta'ala, karena mereka tidak ridha dengan qadha (ketentuan Allah). 

Dia beriman terhadap takdir yang baik, sedang terhadap takdir yang buruk, dia mengingkarinya. Dia rela dengan takdir yang manis dan menggerutu terhadap takdir yang pahit. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ 

“Seorang hamba tidak dikatakan beriman sampai beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Dan, hingga dia mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya, maka tidak akan pernah meleset, dan apa yang tidak ditakdirkan menimpanya, maka tidak pernah akan menimpa (Shahih Sunan at-Tirmidzi) Dinukil dari pendapat Abdul Lathif bin HajisnAl-Ghomidi dalan kitabnya "“Mukhalafaat Nisaiyyah”, 100 Mukhalafah Taqa’u fiha al-Katsir Minan Nisa-i bi Adillatiha Asy-Syar’iyyah” diuraikan, sebagian kaum perempuan meremehkan tentang dosa mencela takdir tersebut. Jika dia melihat ada seseorang tiba-tiba mendapatkan berbagai kenikmatan dunia , dia menganggap tidak ada hikmah dalam pemberian Allah tersebut. 

Lantas dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada seseorang yang tidak berhak mendapatkannya. “ Di atas inilah dia berjalan, selalu dalam keadaan mengeluh, terus menerus mencela takdir Allah. "Bahkan bisa jadi, dia akan mengatakan bahwa tidak ada hikmah dan rahmat dalam ketentuan-Nya. Jika ia mau beriman dan menginstropeksi dirinya, memperhatikan pemahamannya, bersabar dan selalu mengharap pahala darinya, maka hal itu tentu lebih baik baginya, baik cepat maupun lambat,"jelas Al-Ghomidi. Dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan bahwa ia berkata : aku pernah mendengar Rasulullah bersabda 

: لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ ، وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ ، وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ، وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ 

“Sekiranya Allah menghendaki untuk mengazab para penduduk langit dan bumi, niscaya Dia akan mengazab mereka, dan itu bukanlah bentuk kezhaliman Allah kepada mereka. Dan, sekiranya Dia memberi rahmat kepada mereka, niscaya rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal mereka sendiri. Jika engkau memiliki emas sebesar bukit Uhud yang engkau infakkan di jalan Allah, niscaya amalamu tidak akan diterima sampai engkau mengimani takdir secara keseluruhan, dan engkau mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu, maka tidak pernah akan meleset dan apa yang tidak ditakdirkan manimpamu, maka tidak akan menimpamu. 

Jika engkau mati tidak dalam keadaan demikian pasti engkau akan masuk Neraka (Shahih Sunan Abi Dawud, dan Shahih Sunan Abni Majah) Ridha dengan Ketetapan Allah Muslimah, kita ini adalah hamba Allah. Seperti budak kepada tuannya, maka apa keinginan tuannya, budak harus menurutinya. Demikianlah kita kepada Allah. Namun Allah adalah tuan yang tidak pernah berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya. Maka kita harus ridha dengan segala ketetapan Allah. Kita harus ridho Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ridha dengan segala ujian atau musibah yang Allah turunkan kepada kita. Kita tidak boleh mencela ketetapan Allah Swt.

Referensi : Waspada dengan Sikap Mencela Takdir




















Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan Kepada Allah Swt

Ilustrasi : Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan Kepada Allah Swt

Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan Kepada Allah Swt. Jika seseorang bertanya: Kita beriman kepada qadar, baik dan buruknya, yang berasal dari Allah, tetapi apakah dibenarkan menisbatkan keburukan kepada Allah Ta’ala? Apakah ada hal yang buruk dalam perbuatan-perbuatan-Nya?

Jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Mahasuci dari keburukan, dan tidak berbuat kecuali kebaikan. Qadar yang dinisbatkan kepada Allah tidak berisikan keburukan dalam satu segi pun. Sebab, ilmu Allah, pencatatan, masyii-ah dan penciptaan-Nya, semuanya itu murni kebaikan dan sempurna dari segala segi. Keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah dari satu segi pun, tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam Asma (nama-nama) dan Sifat-Nya, serta tidak pula dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Seandainya Dia melakukan keburukan, niscaya telah terambil suatu nama dari keburukan tersebut untuk-Nya, dan tidak akan pula semua Asma-Nya itu husna (indah), tetapi niscaya akan tertuju kepadanya hukum dari keburukan. Mahatinggi dan Mahasuci Allah (dari semua itu).

Keburukan hanyalah ada pada makhluk-Nya. Keburukan itu berada dalam apa yang ditentukan (al-maqdhi), bukan ada dalam ketentuan (al-qadha’). Ia menjadi buruk bila dihubungkan pada suatu tempat, dan baik bila dihubungkan pada tempat lainnya. Adakalanya menjadi baik bila dihubungkan pada tempatnya (atau tujuannya) dari satu sisi, sebagaimana ia buruk dari sisi lainnya, bahkan itulah yang umum.

Hal ini seperti qishash, penegakan hudud, dan membunuh orang-orang kafir. Hal itu buruk bagi mereka, bukan dari segala sisi, tetapi dari satu sisi saja, tapi baik bagi selain mereka karena berisi kemaslahatan untuk menjerakan, menghukum, dan menolak keburukan manusia satu sama lainnya. Demikian pula penyakit, meskipun buruk dari satu sisi, tetapi baik dari sisi-sisi lainnya.

Kesimpulannya, bahwa keburukan itu tidak dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena terdapat keterangan dalam Shahiih Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyanjung Rabb-nya dengan mensucikan-Nya dari keburukan, lewat do’a istiftah, yaitu dalam ucapan beliau:

…لَبَيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَاَلَيْتَ… .

“…Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati, kebaikan seluruhnya ada di kedua tangan-Mu, dan keburukan tidaklah dinisbatkan kepada-Mu. Aku berlindung dan bersandar kepada-Mu, Mahasuci Engkau dan Mahatinggi… .”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, mengomentari hadits ini, “Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari penisbatan keburukan kepada-Nya, bahkan segala yang dinisbatkan kepada-Nya ialah kebaikan. Keburukan hanyalah menjadi keburukan karena terputus hubungannya kepada-Nya. Seandainya dihubungkan kepada-Nya, niscaya bukan suatu keburukan. Allah menciptakan kebaikan dan keburukan, lalu keburukan itu ada pada sebagian makhluk-Nya, bukan dalam penciptaan dan perbuatan-Nya.

Penciptaan, perbuatan, qadha’, dan qadar-Nya adalah baik seluruhnya. Karena itu Dia Subhanahu wa Ta’alasuci dari kezhaliman, yang mana hakikat dari kezhaliman itu sendiri ialah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Tidaklah Dia meletakkan sesuatu, kecuali pada tempatnya yang cocok, dan hal itu baik seluruhnya. Keburukan adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, jika diletakkan pada tempatnya, maka ia tidak buruk. Dengan demikian telah diketahui bahwa keburukan tidak dinisbatkan kepada-Nya, dan nama-nama-Nya yang husna membuktikan hal itu.”

Ia juga mengatakan, “Nama-nama-Nya yang husna menghalangi penisbatan kejahatan, keburukan dan kezhaliman kepada-Nya, meskipun Dia Subhanahu wa Ta’alaPencipta segala sesuatu. Dia Pencipta manusia, perbuatan, gerakan, dan ucapan mereka. Jika hamba melakukan keburukan yang terlarang, maka hamba itu sendirilah yang telah melakukan keburukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang membuatnya melakukan demikian. Penciptaan-Nya ini adalah keadilan, hikmah, dan kebenaran. Dia menjadikan orang yang berbuat (untuk kejelekan itu) adalah merupakan suatu kebaikan, sedangkan perbuatan yang dilakukan pelakunya adalah keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan perbuatan ini, telah meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena hal itu berisi hikmah yang mendalam yang Dia berhak dipuji karenanya, semua itu adalah kebaikan, hikmah, dan kemaslahatan, meskipun perbuatan yang terjadi dari hamba adalah dosa, aib, dan keburukan.”

“Walhasil, bahwa keburukan tidaklah dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, karena yang dimaksud dengan keburukan ialah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu kezhaliman, yang lawannya ialah keadilan, dan Allah adalah Mahasuci dari kezhaliman.

Jika yang dimaksudkan dengan keburukan adalah hukuman yang diberikan, disebabkan dosa yang dilakukannya, maka dengan Allah mengadakan sanksi atas dosa, hal itu bukanlah termasuk keburukan bagi-Nya, bahkan itu adalah keadilan dari-Nya.

Jika yang dimaksudkan dengan keburukan itu ialah tidak adanya kebaikan dan faktor-faktor yang menghantarkan kepada kebaikan itu, maka ketidakadaannya itu bukanlah perbuatan, sehingga bisa dinisbatkan kepada Allah. Hamba tidaklah memiliki hak terhadap Allah agar Dia memberikan taufik kepadanya, sebab hal ini adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, menghalangi karunia bukanlah merupakan suatu kezhaliman dan bukan pula keburukan.”

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan seluruh hamba-Nya. Dia hanya memerintahkan mereka kepada apa yang bermanfaat bagi mereka, dan melarang mereka dari apa yang membahayakan mereka. Dia berbuat baik kepada seluruh hamba-Nya dengan memerintahkan kepada mereka, dan berbuat baik kepada mereka dengan menolong mereka dalam ketaatan.

Seandainya, seorang alim yang shalih memerintahkan manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka, kemudian dia membantu sebagian orang untuk melakukan apa yang ia perintahkan kepada mereka, dan tidak membantu yang lainnya, niscaya ia (dianggap) telah berbuat baik kepada mereka seluruhnya secara sempurna, dan tidak berbuat zhalim kepada orang yang ia tidak berbuat baik kepadanya.

Adanya Kehendak Makhluk. Dan seandainya dia menghukum orang yang berbuat dosa dengan hukuman yang dituntut oleh keadilan dan kebijaksanaannya, nis-caya ia pun dipuji atas hal ini dan juga hal itu.

Bandingkanlah hal ini dengan kebijaksanaan Hakim Yang paling bijaksana dan Penyayang Yang paling menyayangi? Sebab, perintah-Nya adalah bimbingan, pengajaran, dan petunjuk kepada kebaikan. Jika Dia membantu mereka atas perbuatan yang diperintahkan, maka Dia telah menyempurnakan nikmat atas perkara yang diperintahkan, dan Dia disyukuri atas hal ini dan juga hal itu. Jika pun Dia tidak menolongnya, bahkan membiarkannya, sehingga ia melakukan dosa, maka dalam hal ini Dia mempunyai hikmah yang lain.”

Kemudian jika seorang hamba telah mengetahui apa yang merugikan dan apa yang bermanfaat baginya, maka ia berkeharusan untuk tunduk kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga Dia menolongnya untuk melakukan apa yang bermanfaat baginya, dan tidak mengatakan, “Aku tidak akan berbuat, sehingga Allah menciptakan perbuatan padaku.” Demikian pula seandainya musuh atau binatang buas menyerangnya, maka ia harus lari dan tidak mengatakan, “Aku akan menunggu, hingga Allah menciptakan lari padaku.”

Referensi : Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan Kepada Allah Swt


















Hikmah di Setiap Takdir, Termasuk Takdir Buruk, Ini Penjelasannnya

Ilustrasi : Hikmah di Setiap Takdir, Termasuk Takdir Buruk, Ini Penjelasannnya

Hikmah di Setiap Takdir, Termasuk Takdir Buruk, Ini Penjelasannnya. Rukun iman yang keenam adalah percaya dengan takdir baik dan buruk. Umat muslim harus mempercayai bahwa Allah telah menakdirkan sesuatu pada manusia dan mempunyai faedah.  Menyifati takdir dengan "baik" adalah jelas. Adapun menyifati takdir dengan "buruk", maka ini yang selalu menjadi pertanyaan, sebab Allah sang pencipta adalah pencipta yang baik-baik. Kenapa ada takdir buruk. 

Buku Induk Aqidah yang disyarah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan dibukukan syaikh Fahd bin Nashir bin lhrahim as-Sulaiman mencoba menjelaskan makna rukun iman keenam tersebut. Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin maksud dari takdir buruk adalah keburukan yang ditakdirkan bukan keburukan takdir (qadar) itu sendiri.

Semua perbuatan Allah adalah kebaikan dan hikmah, akan tetapi keburukan ada pada apa yang dikerjakan dan ditakdirkan. Jadi keburukan di sini berdasarkan kepada apa yang ditakdirkan dan dilakukan. Dicontohkan manusia mendapati keburukan pada sebagian makhluk yang diciptakan Allah, ada ular, kalajengking, binatang buas, penyakit, kemiskinan, paceklik dan lain-lain. Semua itu buruk bagi manusia, karena tidak sesuai dengannya. Ada pula kemaksiatan, dosa, kekufuran, kefasikan, pembunuhan dan sebagainya.

Semua itu buruk akan tetapi dari sisi penisbatannya sebenarnya baik karena Allah tidak menakdirkannya kecuali berdasarkan hikmah yang agung lagi mendalam, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak diketahui oleh yang jahil. Dari sini, maka hendaknya manusia mengetahui, bahwa keburukan yang disandangkan kepada takdir adalah berdasarkan apa yang ditakdirkan dan dilakukan.

Bukan berdasarkan takdir itu sendiri yang merupakan takdir dan perbuatan Allah. Selanjutnya hendaknya mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan itu bisa jadi dari sisi dirinya adalah buruk, akan tetapi dari sisi yang lain adalah baik.

Contoh lain adalah penyakit. Manusia yang sakit maka tanpa ragu menyebut sebagai buruk baginya, akan tetapi sebenarnya ia mengandung kebaikan. Di antara kebaikannya adalah melebur dosa-dosa, bisa jadi ada orang yang memiliki dosa-dosa yang tidak terlebur oleh taubat dan istighfar karena adanya penghalang.

Misalnya karena niatnya yang tidak benar terhadap Allah lalu diserang penyakit sebagai hukuman, maka dosa-dosa tersebut terleburkan. Di antara kebaikannya juga adalah bahwa manusia tidak mengetahui kadar nikmat sehat yang Allah berikan kepadanya, kecuali pada saat dia sakit. Ketika sehat manusia tidak mengetahui harga sehat tersebut, akan tetapi jika sakit datang, baru menyadari harga sehat. Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang yang sehat, ia tidak diketahui kecuali oleh orang-orang yang sakit.

Jelas ini adalah baik di mana karena dapat menyadari harga sebuah nikmat. Di antara kebaikan lainnya adalah bahwa bisa jadi penyakit tersebut mengandung sesuatu yang justru membunuh penyakit di dalam tubuh di mana tidak bisa dibunuh kecuali dengan sakit.  Para dokter menyatakan bahwa penyakit-penyakit tertentu membunuh (bakteri-bakteri bibit-bibit penyakit tertentu) di dalam tubuh dan penderita tidak mengetahuinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyampaikan kesimpulan dari iman takdir baik dan buruk adalah pertama, keburukan yang disandangkan kepada qadar, adalah keburukan dengan melihat kepada apa yang ditakdirkan Allah. Adapun takdir Allah itu sendiri, maka adalah baik secara keseluruhan.  
Kedua, keburukan yang ada pada apa-apa yang ditakdirkan tidaklah bersifat murni (total), akan tetapi adalah keburukan yang bisa menghasilkan perkara-perkara yang merupakan kebaikan, jadi keburukannya adalah suatu nisbi. 

Referensi : Hikmah di Setiap Takdir, Termasuk Takdir Buruk, Ini Penjelasannnya






Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan

Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan

Mengapa Allah menakdirkan keburukan? 
Jawaban:

Pertama, agar kebaikan dapat dikenal. Kedua, supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala. Ketiga, supaya manusia bertaubat kepada-Nya (setelah ia berbuat dosa).


Betapa banyaknya manusia yang terdorong untuk membaca zikir-zikir siang dan malam dikarenakan ia takut dari keburukan makhluk yang akan menimpanya. Karenanya, Anda dapatkan orang seperti ini senantiasa rajin membaca wirid supaya ia selamat dari gangguan-gangguan. Maka keburukan yang ada pada makhluk ini memiliki hikmah bagi terdorongnya seseorang untuk senantiasa berzikir dan membaca wirid dan semisalnya. Ini tentunya merupakan suatu kebaikan.


Kita misalkan lagi dengan contoh yang lain. Seseorang memiliki anak yang sangat ia sayangi. Si anak kebetulan tertimpa sakit sehingga harus diobati dengan cara dibakar dengan besi yang panas. Tentunya hal ini akan menyakitkan anaknya. Namun karena ia berpikir ada kemaslahatan yang besar, maka dengan cara ini ia rela melakukannya. Padahal pengobatan dengan menggunakan besi panas sendiri adalah sesuatu yang buruk, namun berakibat kebaikan. (CATATAN: Dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir rahimahullah membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kai adalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan, red.)


Jika engkau yakin bahwa semua perbuatan Allah Ta’ala adalah kebaikan, maka hatimu akan merasa tenteram terhadap semua yang ditakdirkan Allah Ta’ala. Engkau pun akan pasrah menerima sepenuhnya. Engkau akan menjadi seperti yang difirmakankan Allah Ta’ala,

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Alqamah berkata, “Apabila seseorang ditimpa musibah lalu merasa yakin bahwa hal itu dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan menerima.”

Bila seorang manusia ridha dengan sepenuhnya terhadap ketentuan Allah Ta’ala, maka ia akan terbebas dari perasaan sedih dan sikap gelisah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,


اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, (namun) pada keduanya ada kebaikan (karena keimanan keduanya). Bersemangatlah terhadap segala sesuatu yang mendatangkan manfaat untukmu. Mohonlah pertolongan kepada-Nya dan janganlah lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah engkau katakan, ‘Jikalau aku berbuat ini dan itu, maka tentunya akan beigni dan begitu.’ Dikarenakan kata ‘seandainya’ membuka amalan setan.


Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk terus bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Kemudian, jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan sebelumnya, maka katakanlah hal ini telah ditakdirkan-Nya, dan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.


Maksud hadits di atas adalah: Yang paling utama bukanlah kuatnya otot-otot atau badangnya, namun yang dimaksud adalah mukmin yang kuat dalam keimanannya, sebab betapa banyak orang yang kuat badannya tapi tidak banyak berbuat manfaat, namun sebaliknya.


Dalam kesempatan ini juga sekaligus saya tekankan bahwa apabila Anda menulis hadits ini dengan tulisan yang besar, kemudian anda tempelkan di lapangan olahraga, supaya dipahami bahwa mukmin yang kuat itu adalah yang kuat ototnya, maka hal ini hukumnya tidak boleh.


Ringkasnya, keburukan atau kejelekan itu tidak dinisbatkan kepada Allah, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ


… Dan keburukan bukan berasal dari-Mu.”


Akan tetapi, kejelekan itu hanya disandarkan pada makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ


Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.’” (Qs. al-Falaq: 1–2)


Maka, keburukan hanya disadarkan kepada makhluk. Muncul pertanyaan, “Apakah dalam mentakdirkan makhluk-makhluk yang jahat terdapat hikmah?”

Jawabnya, “Ya, di dalamnya terdapat hikmah yang agung.” Kalaulah bukan karena sebab adanya makhluk yang jahat ini, tentunya kita tidak akan mengenal manfaatnya makhluk yang baik. Serigala misalnya, walaupun badannya kecil, bila dibandingkan dengan unta, tapi ia mampu memakan manusia, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Yusuf melalui lisannya Nabi Ya’qub ‘alaihis salam,


وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ


Dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala.” (Qs. Yusuf: 13)

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama pula, bahwa seekor unta tidak mungkin makan manusia. Bahkan seekor unta yang kuat dan besar badannya pun akan tunduk kepada perintah anak kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَاماً فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ. وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ


Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka. Maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan.” (Qs. Yasin: 71–72)


Amatilah hikmah yang sangat agung pada unta ciptaan Allah Ta’ala, yang memiliki badang besar. Allah telah memerintahkan kita untuk bertadabbur (merenungkan dan mengambil pelajaran) terhadapnya, sebagaimana firman-Nya,


أَفَلاَ يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan.” (Qs. al-Ghasyiyah: 17)


Selain itu, Allah pun menciptakan serigala dan selainnya yang membahayakan manusia, sehingga  kita dapat mengetahui betapa agungnya kekuasaan Allah Ta’ala, dan bahwa segala urusan berada di tangan-Nya.


Referensi : Sebab Allah Swt Menakdirkan Keburukan  









Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar

Ilustrasi : Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar

Tujuan yang dicapai pada penelitan ini mendeskripsikan: 1.) Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial anak; 2.) Dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar anak; 3.) Langkah-langkah pemulihan perkembangan psikososial anak akibat perceraian orang tua; dan 4) langkah-langkah pemulihan prestasi belajar anak akibat perceraian orang tua. Penelitian ini berlokasi di kecamatan Oebobo, kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan yang bercerai dengan orang, keluarga, tetangga, anak, dan guru wali kelas, yang berjumlah 35 orang. Hasil penelitian yang diperoleh: 1.) Perceraian (cerai hidup) membawa dampak yang negatif terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar anak; 2.) Emosi atau perasaan anak sangat mempengaruhi aktivitas belajar di sekolah maupun di rumah, baik perasaan sedih, gembira, aman, marah, cemas, takut dan lain sebagainya; 3.) Adanya komunikasi antara orang tua dan anak setelah bercerai memperkecil pengaruh negatif dari perceraian. Kasih sayang dari keluarga kedua belah pihak dan bantuan guru dalam mengasuh anak korban perceraian di rumah dan sekolah, membuat anak kuat dan tegar menghadapi masalah keluarganya; dan 4.) Langkah pemulihan prestasi belajar yakni bersifat mendidik, misalnya memberikan pujian, hadiah, dan lain sebagainya yang mengandung nilai edukatif.

Referensi : Dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan psikososial dan prestasi belajar









 

Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak

Ilustrasi : Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak

Generasi berkualitas lahir dari keluarga yang berkualitas, kehidupan rumah tangga yang harmonis, serta ditunjang oleh lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang peduli terhadap proses pertumbuhan dan pengembangan anak. Disinilah peran penting keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas dengan kepedulian pada tumbuh kembang anak dalam segala aspek, termasuk perkembangan fisik, intelektual, emosi, moral, kepribadian dan spiritual. Kebutuhan akan kelekatan psikologis, kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental memerlukan perhatian yang sangat besar dari  orang  tuanya,  serta  kebutuhan  rasa  aman  merupakan  kebutuhan  dasar  yang  harus dipenuhi bagi anak agar dapat mencapai tumbuh kembang optimal.

Desain penelitian menggunakan desain fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi  partisipatif,  wawancara  tidak terstruktur  dan  dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak yang orang tuanya bercerai. Sedangkan informan dalam penelitian ini adalah orang tua yang bercerai. Dalam penelitian ini menggunakan informan tambahan untuk mendukung dan melengkapi data yang diperoleh dari subjek dan informan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari data collection, data reduction, data display, dan Conclution Drawing/Verification. Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Gorontalo dengan lokus Kampung KB Desa Motinelo Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo. Hasil hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor yang menjadi sumber timbulnya masalah perceraian, yaitu pengaruh internet/media sosial, pernikahan dini/nikah muda, minuman keras dan kekerasan dalam rumah tangga, perilaku/gaya hidup, dan faktor ekonomi. Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak yaitu fisik, sosial dan psikologis.

Referensi : Dampak perceraian terhadap tumbuh kembang anak









Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Ilustrasi : Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak. Faktanya sebelum kita dan pasangan sah bercerai dan menjelaskan perpisahan, anak sudah merasakan ‘kehancuran’ itu, kok. Kita perlu mengakui, anak memang lebih pintar dari apa yang kita bayangkan.  Mereka pasti bertanya-tanya. Kok Ayah dan Ibu marah terus? Kok mereka menjauh ya? Kenapa Ayah udah nggak pernah mau makan bareng lagi? Ibu cuek banget sama Ayah. Dan berbagai pertanyaan lainnya yang terkait dengan perselisihan dalam rumah tangga. 

Melihat kondisi keluarga yang membingungkan, si Kecil nggak berani untuk bertanya. Takut kena marah karena Ayah dan Ibu sering bertengkar, nggak tahu mulai nanya dari mana. Sampai akhirnya anak memendam rasa bingung dan sedihnya sendirian. 

Iya, sendirian. Belum lagi pada umumnya saat konflik rumah tangga terjadi, orang tua mulai kurang memberikan perhatian. Nggak hadir sepenuhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua.

Melansir VeryWellFamily, anak-anak mengalami kesulitan yang paling berat bahkan dalam waktu beberapa tahun setelah perceraian orang tua. Dampak besar ini, lebih dialami oleh anak-anak yang berusia 7 sampai 14 tahun, sebab mereka sudah mulai mengenal pola hubungan manusia. 

Sedangkan emosional akibat perceraian orang tua belum mempengaruhi anak usia di bawah 7 tahun. Ini dikarenakan usianya yang masih kecil dan belum mengenal tentang hubungan. 

Sering kali kita menganggap, yaudah anak masih kecil belum ngerti urusan orang tua. Ya, mereka nggak ngerti, tapi mereka punya perasaan.

Psikolog Roslina Verauli menjelaskan, bahwa ada berbagai tahap yang akan dilewati si Kecil saat kita bercerai. Maka itu, Parents harus memahaminya supaya anak nggak terlantar dan terkena psikis saat kita dalam proses cerai. 

Bumin rangkum berdasarkan penjelasan Mbak Vera ya, tentang menjelaskan perceraian pada anak, beserta tahapannya. 

Sebelum perceraian 

Tadi Bumin sempat kasih bayangan, seperti apa yang dirasakan si Kecil ketika orang tuanya mulai memasuki tahap perceraian. Menurut Mbak Vera sapaan akrabnya, di saat itu orang tua sedang nggak bisa mengendalikan emosinya. 

Biasanya dua tahun sebelum perceraian akan ada banyak konflik dalam hubungan. Kita paham ketika hubungan ada masalah, rasanya sulit untuk fokus dengan apa yang dikerjakan, termasuk dalam mengurus dan memberi perhatian si Kecil. 

perceraian

Jadi memberikan penjelasan apa yang sedang terjadi itu perlu, tujuannya supaya anak nggak merasa kebingungan dan terjebak dalam keluarganya sendiri. Mereka bisa ngerti, bahwa Ayah dan Ibu sedang berada di situasi yang kurang baik. 

Ajak si Kecil diskusi, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, lalu perbolehkan anak untuk bertanya. Sebagai anak, ia berhak untuk mendapatkan penjelasan mengenai hubungan orang tuanya baik itu menyenangkan atau menyedihkan. 

Usahakan menjelaskan hal ini dengan pasangan, nggak hanya Ayah atau Ibu aja. Kalau memang hubungan sudah memburuk sampai nggak ingin bertemu lagi, setidaknya berjuanglah untuk memberikan penjelasan pada anak secara bersama-sama. 

Transisi pasca perceraian 

Setelah bercerai bukan berarti masalah selesai seperti dihempas angin, ya. Kita dan keluarga harus beradaptasi lagi dengan kondisi baru. Yang tadinya dekat sama keluarga pasangan terus jadi berjarak, yang tadinya di rumah ada sosok Ayah/Ibu sekarang nggak ada. 

Menurut Mbak Vera, umumnya di masa transisi itu, masing-masing pasangan menunjukkan respons yang berbeda. Biasanya Ibu (perempuan) akan menampilkan respons emosional seperti kelihatan banget depresi, stres berkepanjangan, suka marah dan nangis seharian. 

Sedangkan Ayah (laki-laki) lebih menampilkan behaviour. Ayah menjauh dari anak, lebih memilih untuk sibuk bekerja, pokoknya apapun yang menunjukkan perubahan sikap. 

Terus, di fase ini anak-anak gimana? Perceraian pada anak pun nggak kalah menyakitkan, melihat orang tua yang berubah jadi saling menjauh bahkan sampai menghujat.

Nggak menutup kemungkinan si Kecil akan ikut emosional dan stres, sebab pada akhirnya anak akan bingung harus bersama Ayah/Ibu. Apalagi kalau perceraian nggak berjalan mulus, pasangan saling menjelekkan di depan anak. 

Belum lagi kalau adanya perebutan hak asuh. Setelah itu, si Kecil diberikan ultimatum untuk memilih mau ikut Ayah/Ibu. Setelah itu, anak nggak akan pernah mendapatkan perhatian dari salah satu orang tuanya. Misalnya Ayah nggak pernah hadir lagi meski dalam momen penting. 

Berdasarkan pengalaman praktik Mbak Vera, banyak anak yang dijadikan alat untuk balas dendam karena perceraian. Anak yang paling disayang Ayah ‘diambil’ oleh Ibunya dan nggak boleh bertemu lagi. Ada juga yang sampai putus sekolah, akibat Ayah nggak memberikan nafkah karena Ibu nggak kasih izin untuk Ayah dan anak bertemu. 

Belum lagi kalau sampai harus pindah sekolah. Bayangin si Kecil harus berpisah sama teman-teman baik lamanya, orang tua berpisah, lalu dia harus bisa adaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi kalau mengalami kemerosotan ekonomi setelah orang tua bercerai. 

Dampak jangka panjang 

Pada umumnya, anak-anak yang orang tuanya bercerai akan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Tapiii, nggak semua kayak gitu kok. Justru anak-anak dianggap lebih mudah menyesuaikan keadaan usai perceraian asalkan diberikan support yang tepat. 

Meskipun ada yang masih merasa terganggu atas perceraian, kemungkinan dalam waktu satu sampai dua tahun sudah bisa kembali menyesuaikan diri. Alasannya, anak-anak belum memiliki nalar yang cukup panjang terutama si Kecil yang masih di bawah umur. 

perceraian

Berbeda, kalau Ibu / Ayah bercerai pasti udah banyak banget yang dipikirin. Dari mulai status sosial, menghapus kenangan bersama pasangan, kehidupan ke depannya, dan masihh banyak lagi. 

Menurut Mbak Vera, berdasarkan dari beberapa data menunjukkan kalau anak-anak lebih tangguh dalam perceraian. Memang ada juga anak-anak yang emosionalnya kerasa banget, sampai nggak mau sekolah dan nggak ada rasa semangat hidup. 

Perceraian bukan kita dan pasangan aja yang hancur tetapi juga keluarga termasuk anak. Ingat ‘kan, katanya kalau menikah itu artinya kita juga menikah dengan pasangan dan keluarganya. Begitu juga dengan perceraian. 

Anak sebagai “buah” pernikahan akan menjadi hasil dari kebahagiaan atau kehancuran rumah tangga yang kita bangun dengan pasangan. Bercerai bukan satu-satunya solusi, tapi terkadang ini menjadi jalan keluar yang paling baik. 

Banyak ya, orang bilang, bercerai itu tanda nggak sayang dan nggak mikirin anak. Jangan salah, daripada anak ngeliat Ayah dan Ibunya bertengkar, KDRT, saling selingkuh, lebih baik bubar untuk melindungi anak. 

Walaupun sebenarnya perasaan anak sudah terluka, setidaknya nggak tersayat terlalu dalam ya, Parents. Setelah bercerai, semua sudah dijelaskan, dan sudah tahu anak akan ikut dengan siapa, selanjutnya kita perlu memastikan kesehatan mental anak. 

Berikut Bumin sebutin yaa.. Mudah-mudahan ini bisa menjadi perhatian para Parents bila akan mengalami perceraian. 

Masalah perilaku 

Seperti yang tadi sempat dijelaskan Mbak Vera, nggak semua anak korban perceraian memiliki masalah dalam mental dan perilakunya. Tetapi pada umumnya, si Kecil akan mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebaya atau menjadi pribadi yang cenderung negatif. 

Menurunnya prestasi akademik

Mbak Vera sempat jelasin juga nih, kalau pasca perceraian prestasi akademik si Kecil bisa menurun drastis. Apalagi kalau sampai anak harus pindah sekolah karena terpaksa mengikuti salah satu orang tuanya. 

Bayangin, udah orang tua berpisah, dia juga harus berpisah sama teman-teman dekatnya, dan harus memulai lingkungan baru dengan suasana hati yang berantakan. Sebuah penelitian pada 2019, anak-anak dari keluarga bercerai cenderung menurut secara prestasi akademik, 

Perilaku berisiko 

Ini biasanya terjadi pada anak yang mulai remaja, Parents. Remaja dengan orang tua yang bercerai lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penggunaan narkoba bahkan sampai aktivitas seksual dini. 

Setelah kita bahas soal perceraian yang memberikan efek negatif ke si Kecil dari mulai tahapan perceraian sampai ke masalah perilaku. Memang perceraian itu sebaiknya dihindari, tapi bagaimana kalau kita sudah nggak bisa bertahan lagi? 

Mengatakan tidak pada anak

Ada rasa nggak tega anak ngeliat kita bertengkar sama pasangan, si Kecil ikut tersakiti terus padahal nggak tahu apa-apa. Sampai akhirnya bercerai jadi jalan yang terbaik. 

Sebelum memutuskan untuk bercerai, banyak hal yang harus dipikirkan. Namun usahakan untuk mengutamakan kesehatan mental kita, terutama si Kecil. Sehingga proses perceraian bisa berjalan dengan tenang dan nggak memberikan luka yang lebih dalam. 

Apa saja yang harus kita lakukan pada si Kecil saat akan proses cerai? Berikut penjelasan dari psikolog Roslina Verauli. 

Edukasi anak tentang perceraian 

Parents harus bersikap terbuka pada anak, ceritakan alasan apa yang sampai membuat sampai bercerai, namun menggunakan ucapan sederhana yang dimengerti si Kecil, yah. Misalnya nggak dijelaskan dengan baik atau orang tua berbohong, tentu akan mempengaruhi dampak negatif pada psikis anak. 

Meminta maaf ke anak sama seperti memberi simpati terhadap kondisi yang dia alami. Kita minta maaf karena ia nggak punya keluarga yang harmonis dan lengkap. Tapiii, kita bisa berikan komitmen kok, kalau kita akan tetap selalu sayang dan memberikan si Kecil perhatian. 

Orang tua peka pada perubahan emosional & perilaku anak

Pasca perceraian memang kita dirundung dengan perasaan sedih yang dalam. Berikan waktu itu beberapa hari untuk Parents, namun pastikan si Kecil nggak merasakan kesedihan itu juga. Maka ada baiknya anak dititipkan ke Nenek dan Kakek atau kerabat dekat yang kita percaya. 

berbicara pada anak 

Setelah memberikan waktu pada diri sendiri, kita harus move on untuk memastikan anak dalam kondisi dan perilaku yang stabil. Nggak merasa kekurangan setelah orang tuanya bercerai, pastikan kita selalu hadir dalam hari-harinya dan saat anak membutuhkan perhatian. 

Jadi sebelum peka terhadap perubahan emosional dan perilaku anak, selesaikan dulu diri kita dari kesedihan. Kuatkan hati demi kesehatan psikis si Kecil untuk masa depannya. 

Orang tua meminimalisir perubahan kehidupan pada anak 

Dari yang tadinya punya pasangan, terus nggak punya itu rasanya beda banget yah. Kadang ada pikiran untuk cari pelarian baik itu dengan punya pasangan baru, lebih banyak bekerja, bahkan sampai ke mengonsumsi alkohol. 

Parents, pikirkan lagi anak, anak, dan anak. Kita nggak mau ‘kan jadi orang tua yang menghancurkan hidup anak? Perceraian padaSudah cukup dengan ia mempunyai orang tua yang berpisah, jadi jangan ditambah lagi bebannya. 

Setelah bercerai, tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan anak, menemaninya sekolah, jadi teman bermain. Ini akan membuat si Kecil merasa apa yang terjadi nggak mengganggu orang tuanya, ia tetap merasa penuh dan bahagia. 

Bayangin kalau misalnya tiba-tiba Parents udah bawa pasangan baru, kelihatan kusut, nggak ada semangat hidup. Si Kecil akan merasa bahwa kehadirannya ‘ditolak’ oleh orang tuanya, merasa perceraian ini disebabkan dirinya, selain itu ada rasa ingin kabur dari kehidupan yang ada. 

Orang Tua, sekarang udah paham yah, apa aja yang harus kita pikirin saat akan bercerai dan sesudahnya. Bukan hanya harta gono-gini aja, tapi juga kesehatan mental anak, setiap anak itu berhak bahagia apapun kondisi keluarganya.

Ketika transisi akan bercerai, ajak si Kecil untuk ngobrol mengenai hubungan Ayah dan Ibunya yang akan berpisah, pastikan anak akan mendapat kasih sayang yang sama dari sebelum perceraian. Sesudah bercerai, tepati janji yang kedua tadi, dan kurangi perubahan sikap di depan anak. 

Mudah-mudahan si Kecil akan lebih mudah menerima keadaannya yang baru. Menurut penelitian, anak lebih tangguh dalam menghadapi perceraian orang tuanya, tetap dengan adanya dukungan lingkungan, ya. 

Kalau semuanya terasa beraaaat bangeet dan nggak sanggup jalaninnya untuk tetap kasih perhatian buat si Kecil, kita konsultasi ke psikolog aja, yuk. Supaya luka batin yang ada pelan-pelan bisa sembuh dan nggak memberikan dampak ke anak. 

Referensi : Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak











Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi. Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi di antara sepasang suami istri.

Karena perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa dirundingkan dan disepakati bersama. Banyak pertanyaan dari orangtua mengenai pada usia berapakah perpisahan dan perceraian orangtua memiliki dampak buruk yang minim bagi anak? Benarkah justru di usia balita paling baik, karena anak belum banyak terpapar pada kehidupan orangtuanya? Jawabannya secara umum adalah tidak ada usia terbaik. Namun demikian, sesungguhnya dampak perceraian pada anak-anak bervariasi sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan psikologis mereka. Orangtua perlu memahami dampak dan kebutuhan yang berbeda dari anak-anak mereka.

Tinjauan  Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua

Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:

  1. Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
  2. Anak merasa terjepit di tengah-tengah. Karena dalam hal ini anak sulit sekali memilih papa atau mama.
  3. Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
  4. Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.

  1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah di luar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:

  • Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.
  • Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar.

Namun kemarahan juga bisa muncul karena :

  • Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam
  • ketegangan.
  • Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
  • Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.

Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

Referensi : Tinjauan  Dampak Spikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua