This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 11 Agustus 2022

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraian

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Percerai

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraian. Semua orang yang menikah tentunya berharap bahtera pernikahannya berjalan lancar. Namun, terkadang ada beberapa situasi, contohnya kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT) atau perselingkuhan di antara hal-hal lainnya, yang kemudian berujung pada perceraian.

Imbas dari perceraian tidak hanya dialami oleh pasangan, anak pun juga bisa merasakannya. Biarpun dari luar anak tampak terlihat netral atau biasa saja saat tahu orangtuanya bercerai, tetapi ini bukan berarti anak tersebut tidak mengalami kesulitan dalam lingkup sosial, emosional, atau akademik.

Lalu, dampak atau kesulitan tersembunyi apa sajakah yang dapat dialami oleh anak setelah perceraian orangtua? Simak pembahasannya berikut ini.

1. Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berdampak pada kemampuan akademik

perubahan dalam rutinitas keluarga seperti tinggal dengan satu orangtua, menempati rumah baru, atau pindah sekolah menjadikan perceraian orangtua sebagai proses yang sulit. Akan tetapi, tidak semua anak mengalami hal ini. Faktor seperti usia anak dan kondisi keluarga sebelum perceraian juga berpengaruh.

Perceraian orangtua yang terjadi secara tiba-tiba cenderung membawa dampak negatif pada kemampuan akademik anak-anak di sekolah.

Sebuah studi di Etiopia yang diterbitkan dalam Education Journal tahun 2021 mendapati bahwa nilai akademik anak yang awalnya baik mengalami penurunan setelah orangtuanya bercerai. 

Health Fitness04 Mar 22 | 07:50

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraian

Anak jadi rentan mengalami gangguan kecemasan dan depresi

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi perceraian di dalam keluarga (pixabay.com/geralt)

Semua orang yang menikah tentunya berharap bahtera pernikahannya berjalan lancar. Namun, terkadang ada beberapa situasi, contohnya kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT) atau perselingkuhan di antara hal-hal lainnya, yang kemudian berujung pada perceraian.

Imbas dari perceraian tidak hanya dialami oleh pasangan, anak pun juga bisa merasakannya. Biarpun dari luar anak tampak terlihat netral atau biasa saja saat tahu orangtuanya bercerai, tetapi ini bukan berarti anak tersebut tidak mengalami kesulitan dalam lingkup sosial, emosional, atau akademik.

Lalu, dampak atau kesulitan tersembunyi apa sajakah yang dapat dialami oleh anak setelah perceraian orangtua? Simak pembahasannya berikut ini.

1. Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berdampak pada kemampuan akademik

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi anak sedang mengerjakan tes sekolah (unsplash.com/Annie Spratt)

Dilansir Verywell Family, perubahan dalam rutinitas keluarga seperti tinggal dengan satu orangtua, menempati rumah baru, atau pindah sekolah menjadikan perceraian orangtua sebagai proses yang sulit. Akan tetapi, tidak semua anak mengalami hal ini. Faktor seperti usia anak dan kondisi keluarga sebelum perceraian juga berpengaruh.

Perceraian orangtua yang terjadi secara tiba-tiba cenderung membawa dampak negatif pada kemampuan akademik anak-anak di sekolah.

Lebih lanjut, sebuah studi di Etiopia yang diterbitkan dalam Education Journal tahun 2021 mendapati bahwa nilai akademik anak yang awalnya baik mengalami penurunan setelah orangtuanya bercerai. 

2. Rentan terhadap gangguan kecemasan dan depresi

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi anak yang merasa cemas dan takut (unsplash.com/Caleb Woods)

Anak usia sekolah seperti mereka yang berada di jenjang sekolah dasar akan mengalami inner konflik seperti perasaan bersalah, marah, atau cemas ketika mengetahui orangtuanya bercerai. Hal ini dirasakan sekali oleh anak terutama bila mereka memiliki hubungan yang dekat dengan satu atau kedua orangtua.

Akan tetapi, tidak semua anak mengutarakan perasaan mereka kepada orangtua setelah mengetahui berita perceraian tersebut. Inner konflik yang tidak terselesaikan dapat mengakibatkan anak tersebut mengalami gangguan mental.

Depresi dapat muncul karena rasa tertekan dan bersalah yang dialami oleh anak setelah orangtuanya bercerai.

Perasaan bersalah dan marah tidak hanya dirasakan oleh anak-anak yang usianya masih kecil, tetapi remaja pun dapat mengalaminya.

Kemudian, anak juga bisa merasa khawatir akan masa depannya. Laporan studi yang terbit dalam jurnal Contemporary Perspective on Child Psychology and Education tahun 2017 menyebutkan bahwa masalah kesehatan mental seperti kecemasan, gangguan panik, dan agorafobia bisa muncul pada anak usia remaja setelah orangtuanya cerai.

3. Anak berisiko terlibat masalah dalam perilaku sehari-hari

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi anak remaja yang terlibat perkelahian (unsplash.com/Jerry Zhang)

Selain mengalami gangguan mental seperti depresi, anak usia remaja juga rentan terhadap berbagai masalah perilaku. Masalah perilaku seperti agresif, aktivitas seksual, dan mengonsumsi obat terlarang (narkoba) dapat muncul pada anak setelah orangtuanya berpisah. 

Hasil studi yang dilakukan di Istanbul, Turki, dengan jumlah responden 162 anak remaja mendapati bahwa anak laki-laki cenderung menjadi agresif setelah perceraian orangtua, sedangkan anak perempuan lebih mengarah kepada kegiatan seksual dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

4. Hubungan dengan salah satu orangtua menjadi jauh

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi anak yang hanya dibesarkan oleh ibunya (unsplash.com/Benjamin Manley)

Dampak lain dari perceraian adalah hubungan anak dengan salah satu orangtua bisa renggang. Beberapa kondisi yang memicu hal ini antara lain penetapan hak asuh dan tempat tinggal yang berbeda.

Dilansir Master of Social Work Clinical Research Papers St. Catherine University tahun 2014, hak asuh yang jatuh kepada pihak ibu dan membatasi bahkan melarang anak untuk bertemu dengan ayah dapat mengakibatkan hubungan anak dengan ayah menjadi jauh.

Berkaitan dengan poin sebelumnya, merujuk pada laporan dalam jurnal European Sociological Review tahun 2012, perceraian orangtua juga dapat mengakibatkan tiga kondisi, yaitu:

Hubungan anak dengan ayah atau ibu dalam konteks memberikan dukungan, frekuensi interaksi, dan kualitas hubungan menjadi berkurang.

Perceraian juga menyebabkan ketidaksetaraan dalam kedekatan anak dengan orangtua.  Contohnya, anak menjadi lebih dekat dengan ibu setelah perceraian atau sebaliknya.

Tidak ada perbedaan jenis kelamin dengan siapa anak suka konflik atau ribut dengan ayah atau ibu setelah perceraian. Maksudnya, anak dapat bersitegang terhadap ayah atau ibunya setelah orangtuanya bercerai, tidak pada satu pihak saja. 

5. Anak berisiko tinggi mengalami perceraian saat dewasa nanti

5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraianilustrasi pasangan yang sedang berargumentasi (Pexels.com/Alex Green)

Konsekuensi tersembunyi lain pada anak seusai orangtuanya bercerai juga dapat dialami saat anak sudah dewasa. Anak tersebut berisiko mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan asmara.

Berdasarkan studi yang dilaporkan di Journal of  Family Psychology tahun 2008, didapati bahwa perempuan dewasa yang orangtuanya bercerai saat ia masih kecil memiliki komitmen yang rendah terhadap hubungan asmara atau pernikahan, serta cenderung pesimistis terhadap kehidupan pernikahannya.

Itulah lima konsekuensi tersembunyi yang dapat dialami oleh anak setelah perceraian orangtuanya. Namun, tidak semua anak akan mengalami kondisi-kondisi tersebut. Faktor seperti kondisi rumah tangga sebelum perceraian, persiapan dan perencanaan hak asuh, serta faktor ekonomi keluarga berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam menerima perceraian orangtua.

Orangtua yang sedang dalam fase perceraian sebaiknya minta bantuan kepada psikolog dan sekolah untuk membantu proses transisi agar berjalan lancar. Terakhir, orangtua diharapkan berusaha semaksimal mungkin untuk membangun dan menjaga komunikasi yang baik dengan anak dan mantan pasangan agar mental anak tidak terluka. 

Referensi : 5 Konsekuensi Tersembunyi yang Dialami Anak akibat Perceraian









7 Dampak Perceraian Orang Tua Bagi Anak-Anak

7 Dampak Perceraian Orang Tua Bagi Anak-Anak

7 Dampak Perceraian Orang Tua Bagi Anak-Anak. Perceraian tidak hanya berdampak bagi kedua orang tua, namun juga melibatkan anak khususnya yang memasuki usia remaja, perceraian merupakan beban tersendiri bagi anak sehingga berdampak pada psikis serta berimbas pada minat dan motivasi belajar anak merupakan salah satu reaksi anak terhadap perceraian orangtuanya, sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku sebelum, selama dan sesudah perceraian.

Metode dalam penulisan ini menggunakan pengamatan dan metode deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif, sebagai prosedur yang mendekatkan pada metode deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari masyarakat sekitar.

Untuk mengatasi perlakuan salah tersebut, maka dalam praktik pekerjaan sosial, seorang pekerja sosial harus berupaya mewujudkan ketercapaian akan kesejahteraan bagi anak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perceraian memang hal yang sulit bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, kondisi ini bisa jadi lebih sulit bagi anak-anak yang terdampak. Sebab, bagaimana pun perkembangan kognitifnya belum sematang orang dewasa.

Ini adalah masa krisis bagi mereka karena mereka kehilangan sumber perasaan aman yang seharusnya mereka dapatkan dari kedua orang tuanya. Mereka harus berjuang untuk bertransisi menghadapi masalah ini.

Tak hanya berdampak secara psikologis, perceraian orang tua juga dapat memengaruhi kehidupan akademik anak. Apa saja dampak perceraian orang tua yang mungkin dalami oleh anak-anak dalam jangka pendek dan jangka panjang?

1. Memicu Stres

Menurut American of Child & Adolescent Psychiarty, banyak anak yang beranggapan bahwa mereka adalah alasan di balik perceraian orang tuanya. Inilah yang secara alamiah dipikirkan oleh anak-anak, terutama yang masih balita ketika melihat orang tua berkonflik. Oleh karenanya, mereka merasa memikul tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan kedua orang tuanya. Semua hal tersebut adalah pemicu stres bagi anak.

2. Emosi Tidak Stabil, Mimpi Buruk

Stres yang dialami oleh anak-anak dalam jangka pendek bisa jadi membuat emosi anak-anak jadi tidak stabil, mereka mungkin mudah marah, mudah tersinggung, atau bahkan beberapa malah menarik diri dan menjadi pendiam. Beberapa anak mungkin juga mengalami mimpi buruk.

3. Berisiko Antisosial dan Mengembangkan Perilaku Buruk

Patrick F. Fagan, PhD., Direktur Marriage and Religion Research Institute (MARRI) mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai berisiko lebih besar mengembangkan sikap antisosial, menunjukkan ciri karakterisitik agresif dan ketidaktaatan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Adolesence Health menunjukkan bahwa mereka yang orang tuanya bercerai pada saat mereka berusia 5 tahun atau lebih muda akan menjadi aktif secara seksual sebelum berusia 16 tahun.

4. Nilai Akademiknya Menurun

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sociological Science menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai memperoleh nilai yang lebih rendah daripada teman-temannya di sekolah.

5. Memiliki Masalah Kesehatan Mental

Saat orang tuanya bercerai, anak-anak pasti patah hati. Perasaan tersebut bisa menggiring anak-anak ke dalam depresi. Studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di keluarga campuran (orang tua kandung dan tiri) atau orang tua tunggal memiliki kemungkinan 2 kali lebih tinggi untuk memiliki gangguan mental atau membutuhkan bantuan psikologis.

6. Memiliki Trust Issue

Saat mereka tumbuh dengan melihat pernikahan yang gagal, anak-anak jadi mengembangkan keraguan mengenai cinta serta keharmonisan dalam suatu hubungan. Apalagi mereka juga mengalami rasa tidak aman saat orang tua berpisah. Padahal, anak-anak percaya bahwa orang tuanya bisa menjamin hal tersebut.

Mereka berisiko mengembangkan trust issue atau sulit percaya dan menyelesaikan konflik dalam suatu hubungan. Di masa dewasa, anak-anak ini akan kesulitan menjalani hubungan romantis lantaran banyak ketakutan akan hal negatif.

7. Berisiko Menghadapi Perceraian Juga

Penelitian di AS menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, anak perempuan dari orang tua yang bercerai memiliki tingkat perceraian 60% lebih tinggi, sementara untuk anak laki-laki persentasenya 35%.

Referensi : 7 Dampak Perceraian Orang Tua Bagi Anak-Anak














Kenali Dampak Psikologis dari Rebutan Hak Asuh Anak

Kenali Dampak Psikologis dari Rebutan Hak Asuh Anak

Dampak Psikologis Perceraian Saat Anak Sudah Menginjak Dewasa. Perceraian bukanlah hal yang diharapkan oleh semua pasangan dan biasanya menjadi langkah terakhir yang diambil pasangan setelah melakukan berbagai upaya dan tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Setelah bercerai, orang tua juga perlu memperhatikan dampak psikologis yang mungkin terjadi dari perebutan hak asuh anak.

Salah satu yang menjadi pertimbangan utama dalam suatu perceraian adalah mendapatkan hak asuh anak. Orang tua yang mempermasalahkan hak asuh anak kerap bermusuhan. Orang tua yang bercerai sayangnya tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tersebut berdampak ada aspek psikologis anak.

Tidak semua orang tua ingin memperebutkan hak asuh anak. Di Indonesia biasanya hak asuh anak diberikan kepada ibu. Akan tetapi dalam keadaan tertentu misalnya ayah tidak dapat memercayakan perawatan anak kepada ibu, ayah akan berusaha memperebutkan hak asuh anak.

Menurut data di luar negeri, 60% pasangan yang bercerai memutuskan untuk merawat anak bersama, sementara 40% lainnya memutuskan untuk merawat anak sendiri. Akar permasalahan utamanya adalah keegoisan masing-masing pihak. Kedua pihak merasa lebih superior dan mampu merawat anak dengan baik.

Padahal, anak membutuhkan sosok ayah maupun ibu dalam kehidupannya. Itulah sebabnya hak asuh bersama merupakan pilihan terbaik pada kasus perceraian.

Dalam memperebutkan hak asuh anak, salah satu orang tua harus memenangkan hati anak dan memenangkan pengadilan. Untuk itu, semua jalan ditempuh oleh orang tua. Tak jarang jika orang tua ingin merebut hati anak dengan menjelekkan dan membeberkan kejelekan pasangannya.

Begitu pula dalam pengadilan, orang tua mengumpulkan berbagai hal yang dapat menguatkan posisinya untuk mendapatkan hak asuh anak. Keadaan ini sebenarnya membuat kondisi perceraian semakin menegangkan. Bagi anak, hal ini merupakan suatu yang sangat tidak menyenangkan.

Bayangkan, menghadapi perceraian orang tua saja sudah menjadi tekanan batin bagi anak, apalagi ditambah dengan ‘perang’ perebutan hak asuh anak.

Dampak psikologis yang didapat oleh anak dari perebutan hak asuh bisa bermacam-macam. Berikut ini adalah ulasannya.

  1. Kebingungan. Kebingungan dapat dialami oleh anak yang diperebutkan oleh orang tua yang bercerai. Setiap anak memiliki momen indah bersama ayah dan ibunya. Saat dihadapkan dalam pilihan, anak pasti akan bingung ingin memilih yang mana. Karena pada dasarnya anak ingin memiliki keduanya, yaitu ayah dan ibunya.
  2. Ketakutan.  Perseteruan yang terjadi antara ayah dan ibu sebenarnya membuat anak merasa ketakutan. Sebab anak jadi merasa kehilangan sosok pelindung ketika kedua orang tuanya sedang sibuk berperang memperebutkan hak asuh.
  3. Kurang rasa percaya diri.  Anak korban perceraian biasanya memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah karena bisa saja isu perceraian orang tuanya menjadi buah bibir di sekolah atau lingkungan pergaulan teman-temannya.
  4. Kurangnya rasa percaya terhadap orang tua. Kurangnya rasa percaya terhadap orang tua disebabkan oleh kebiasaan orang tua yang berusaha menarik hati saat memperebutkan hak asuh dengan cara membeberkan kekurangan masing-masing pasangan. Berharap mendapatkan kepercayaan dari anak, cara ini justru dapat menurunkan rasa kepercayaan anak kepada orang tuanya.
  5. Depresi.  Saat kondisi mental anak belum siap menerima perceraian dan ditambah lagi dengan perang perebutan hak asuh, terkadang anak dapat menjadi depresi. Hal yang dikhawatirkan adalah pelarian negatif dari depresi yang terjadi pada anak.
Referensi : Kenali Dampak Psikologis dari Rebutan Hak Asuh Anak









Dampak Psikologis Perceraian bagi Siswa

Dampak Psikologis Perceraian bagi Siswa

Dampak Psikologis Perceraian bagi Siswa. Sebuah keluarga, pada kenyataannya, tidak terlepas dari adanya permasalahan rumit yang disebabkan oleh perilaku-perilaku yang didominasi oleh nafsu. Jika persoalan tersebut tidak dapat dicarikan solusinya, akan menyebabkan terjadinya perceraian, dan hal ini akan berdampak pada psikologis anak.

Demikian disampaikan Sumarso, saat mempertahankan disertasinya pada sidang Promosi Doktor Psikologi Islam, program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (19/1). Disertasi yang berjudul “Pola Kehidupan Keluarga Cerai dan Dampak Psikologis terhadap Siswa” ini dipertahankan dihadapan delapan tim penguji yang diketuai oleh Dr. Gunawan Budiyanto, M.P., dan sekretaris Dr. Imamuddin Yuliadi, dengan anggota Prof. Dr. Muhaimin, M.A., Dr. H. Muhammad Anis, M.A., Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A., Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, M.A., Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., dan Khoiruddin Bashori, M.Si.

Dalam disertasinya, Promovendus yang juga sebagai Guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 1 Asembagus, Situbondo, Jawa Timur ini menemukan, bahwa keluarga yang bercerai memang menunjukkan sering terjadinya perseteruan dan pertengkaran. Kehidupan keluarga cerai juga menunjukkan pola asuh yang cenderung bersifat otoriter.

“Adapun dampak perceraian adalah tidak terpenuhinya kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan serta kebersihan bagi anak-anaknya. Selain itu, anak-anak juga kehilangan rasa aman dan kasih sayang, sehingga mempengaruhi psikologi mereka, dan pada akhirnya berdampak pada prestasi belajarnya,” ujar Sumarso.

Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan olehnya di SMA Negeri 1 Asembagus, Situbondo, jawa Timur. Sebanyak 20 siswa yang berasal dari keluarga cerai, hanya terdapat tiga siswa yang lulus masuk di Perguruan Tinggi Negeri, seperti Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Untuk menghindari perceraian, Sumarso yang telah menjadi lulusan ke-5 dari angkatan pertama Program Doktor UMY ini, merekomendasikan beberapa hal, antara lain setiap keluarga harus dapat menciptakan rasa saling mencintai, menghargai, menghormati, dan mempercayai. Orang tua juga harus menjalin kedekatan dengan putra-putrinya, dengan menerapkan pola asuh yang tepat dan sesuai dengan perkembangannya.

“Semuanya juga harus berupaya untuk saling menghindari sikap-sikap tidak simpatik, tidak bertanggungjawab, perseteruan, sering marah, dan melakukan selingkuh,” papar Sumarso yang telah dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan.

Di sisi lain, Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, M.A., selaku tim penguji, menyarankan pada Sumarso agar hasil disertasinya dapat direkomendasikan sebagai terapi bagi pasangan atau selebritis yang sering melakukan nikah-cerai.

Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., juga menambahkan bahwa permasalahan yang dialami oleh anak-anak korban perceraian dapat dilakukan dengan bimbingan dan konseling, seperti merefleksikan kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya dan dituliskan pada sebuah kertas. “Hal itu akan membuat mereka sadar, bahwa sebenarnya banyak sekali nikmat yang mereka peroleh, sekalipun mereka adalah anak-anak dari korban perceraian,” imbuhnya. (sakinah).

Referensi : Dampak Psikologis Perceraian bagi Siswa












Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak Usia Dewasa

Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak Usia Dewasa

Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak Usia Dewasa. Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak Usia Dewasa. Awal minggu ini kita dikejutkan dengan perceraian Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan istrinya, Veronica Tan. Diawali surat gugatan perceraian di media sosial, kabar tersebut kemudian dibenarkan oleh pengacara Ahok. 

Kabar tersebut sontak membuat para warganet gempar. Banyak yang menyayangkan terjadinya perceraian antara keduanya. Apalagi, seperti yang kerap dijumpai di layar kaca, Ahok dan istri nampak harmonis. Tetapi, perceraian adalah keputusan pribadi, yang tak dapat dicampur adukkan dengan tangan-tangan publik. Banyak alasan yang menyebabkan perpecahan rumah tangga hingga perceraian pun tak dapat dihindarkan. Ketidakcocokan, masalah ekonomi, cek-cok yang tak kunjung mereda, hingga perselingkuhan. Meski demikian, kita sama-sama percaya jika perceraian memberikan dampak psikologis pada kedua belah pihak, dan anak-anak. 

Tak hanya anak-anak di bawah umur atau remaja saja yang rentan terkena pukulan psikologis, begitu juga dengan anak Anda yang berusia matang atau dewasa. Di bawah ini ada serangkaian efek psikologis yang dirasakan anak berusia matang ketika menghadapi perceraian kedua orang tuanya, seperti dinukil dari The Good Men Project, Rabu (10/1/2018). 

Mereka Merasa Hidup Lebih Sulit Orang dewasa yang menghadapi perceraian kedua orang tuanya cenderung memikirkan jika kehidupan mereka akan terpengaruh oleh perceraian orang tua. Mereka lebih sadar bahwa akan ada banyak perubahan dalam hidup mereka. Seperti merayakan liburan, ulang tahun, atau acara spesial lainnya. Sentimental tentang masa kecil juga turut terbawa dalam emosi mereka ketika orang tuanya bercerai. 

Belum lagi soal pembagian waktu dan tanggung jawab mereka pada kedua orang tua yang telah hidup terpisah. Mereka Merasa Harus Menjadi Penengah Jika orang tua terlibat dalam konflik dan saling menyalahkan usai perceraian, anak-anak di usia mapan cenderung merasa harus berpihak. Terkadang, anak-anak terbelah dan mengambil sisi berbeda yang kemudian menimbulkan keretakan hubungan baru antara kakak dan adik, misalnya. 

Ketegangan juga tak cuma dirasakan oleh kedua belah pihak yang bercerai, tetapi juga semua aspek kehidupan dan hubungan satu keluarga, termasuk anak-anak. Kehilangan Arah Jika anak di bawah umur atau di usia remaja cenderung mendapatkan perlindungan atau dukungan mental dari keluarga, orang dewasa dianggap telah mapan dan mampu mengatasi masalah ini dengan mudah. 

Padahal, perasaan tak nyaman usai perceraian kedua orang tua juga dirasakan oleh mereka, orang dewasa. Mereka, sama tidak bahagianya dengan anak-anak yang menyaksikan kedua orang tuanya bercerai. Bahkan, anak di usia dewasa seperti merasa perlu untuk membantu orang tua mereka melalui prosesnya. 

Ragu Akan Hubungan Efek perceraian orang tua tak hanya dirasakan anak ketika masih kecil atau remaja. Pada usia dewasa, mereka cenderung ragu untuk memulai hubungan serius dengan seseorang. Yang perlu disadari adalah, tak ada anak-anak yang ingin orang tua mereka bercerai, bahkan jika mereka mengerti mengapa orang tuanya harus bercerai. 

Anak di bawah umur maupun dewasa, sama-sama menganggap keluarga sebagai unit yang utuh. Meskipun kini mereka telah membangun keluarga atau hidup mandiri, mereka cenderung mengidentifikasi diri sebagai anak-anak dari orang tua yang bercerai.

Referensi : Dampak Perceraian terhadap Psikologis Anak Usia Dewasa













Cara membantu Anak Dampak Perceraian ke Dua orang Tuanya

Cara membantu Anak Dampak Perceraian ke Dua orang Tuanya

Cara membantu Anak Dampak Perceraian ke Dua orang Tuanya. Perceraian tak jarang dianggap sebagai jalan keluar dari beragam permasalahan rumah tangga. Padahal, perceraian tidak melulu jadi solusi yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang ada. Justru, perceraian bisa berdampak negatif terhadap orang sekitar, terlebih kepada anak.

Perceraian orang tua dapat menyisakan luka dalam benak anak. Bahkan, luka yang dialami anak mungkin saja akan terus dibawanya hingga dewasa. Dampak yang terjadi pada setiap anak bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat orang tua bercerai, kondisi perceraian, serta kepribadian anak tersebut.

Ini Dampak Perceraian terhadap Anak dan Cara Membantunya - Alodokter

Dampak Perceraian terhadap Anak

Walau dianggap bisa menyelesaikan masalah rumah tangga, Bunda dan Ayah tetap perlu mempertimbangkan dengan baik-baik beberapa dampak perceraian yang mungkin bisa memengaruhi perkembangan dan mental Si Kecil.

Sebagian anak yang kedua orang tuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau lebih muda bisa saja merasa asing dengan orang tuanya setelah ia beranjak dewasa.

Ia pun bisa menjadi tidak akrab dan kehilangan ikatan khusus yang umumnya dimiliki oleh orang tua dan anak. Beberapa anak bahkan merasa tidak nyaman saat bersama kedua orang tuanya.

Tak hanya itu, anak yang orang tuanya bercerai umumnya akan merasakan emosi yang campur aduk, antara kaget, sedih, cemas, marah, atau bingung. Sebagian anak juga lebih berisiko mengalami depresi, gangguan perilaku, dan masalah dalam bersosialisasi.

Tak jarang anak akan merasa rendah diri, menarik diri dari lingkungannya, sering menyendiri, dan iri pada anak lain yang memiliki keluarga utuh.

Bantu Anak Melalui Masa Sulit Perceraian Orang Tua

Jika Bunda dan Ayah mau tak mau memilih bercerai, ada beberapa cara yang perlu dilakukan untuk menjaga perasaan Si Kecil, yaitu:

1. Bicarakan pada anak

Sampaikan alasan Bunda dan Ayah bercerai dengan tenang, meski tidak semua alasan perlu diberi tahukan kepada Si Kecil. Berilah pemahaman pada Si Kecil bahwa ia akan tetap mendapatkan kasih sayang dari kalian berdua.

Jika anak masih terlalu kecil untuk memahami ini, berilah pemahaman yang sederhana, misalnya Bunda dan Ayah harus tinggal di rumah yang berbeda agar tidak bertengkar terus-menerus.

2. Pahami dan dengarkan perasaan anak

Ketika orang tua memutuskan untuk bercerai, anak dapat merasa bingung, sebagian bahkan merasa bersalah, atau merasa orang tua seharusnya lebih memahami dirinya.

Bunda dan Ayah harus mencoba untuk mengesampingkan dulu masalah yang dihadapi. Cobalah untuk mendengarkan Si Kecil, kemudian berikan respons dan penjelasan sederhana terhadap apa yang ia rasakan.

3. Hindari konflik dengan pasangan di depan anak

Peceraian Bunda dan Ayah saja sudah menyisakan luka di hati Si kecil, jangan sampai tekanan yang ia alami semakin berat dengan melihat kalian berdebat atau bertengkar di depannya. Sebisa mungkin hindari hal ini karena akan meningkatkan stres pada anak.

4. Jangan ganggu rutinitas anak

Perceraian umumnya berarti Bunda dan Ayah akan tinggal terpisah. Alangkah baiknya walaupun sudah tidak tinggal bersama, usahakan agar Si Kecil tetap berada di lingkungan yang membuatnya nyaman.

Jika ia terlihat nyaman di lingkungan dan sekolahnya, jangan memaksa untuk pindah sekolah. Bila Si Kecil sudah mengerti, tanyakan pendapatnya apakah ia ingin tinggal di tempat Ayah atau Bunda.

5. Perbaiki hubungan dengan anak

Agar rasa sakit dan luka yang anak rasakan bisa segera membaik, Bunda dan Ayah perlu memperbaiki hubungan dan komunikasikan perasaan kalian berdua dengannya. Ungkapkan permohonan maaf kepada anak atas apa yang terjadi.

Selain itu, sebisa mungkin Bunda dan Ayah tetap terlibat dalam kehidupan Si Kecil, sehingga ia tidak merasa kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya.

Selain menerapkan cara-cara di atas, untuk membantu Si Kecil melalui masa sulitnya, sebisa mungkin hindari keluh kesah dan perkataan-perkatan negatif terkait perceraian di depannya, jangan menjadikan anak sebagai perantara atau pengantar pesan, apalagi membuat anak menjadi sasaran pelampiasan.

Bila Bunda dan Ayah mengalami kesulitan dalam melalui perceraian atau Si Kecil menunjukkan tanda stres akibat mengetahui perceraian kalian, sebaiknya konsultasikan ke psikolog guna mendapatkan solusi yang tepat.

Referensi : Cara membantu Anak Dampak Perceraian ke Dua orang Tuanya











Dampak perceraian terhadap kepribadian Anda

Dampak perceraian terhadap kepribadian Anda

Dampak perceraian terhadap kepribadian Anda. Dalam hubungan jangka panjang, identitas Anda menjadi semakin terkait dengan pasangan Anda. Seperti dikatakan Elizabeth Barrett Browning kepada suaminya, Robert Browning: "Aku mencintaimu bukan hanya karena siapa dirimu, tapi siapa diriku ketika aku bersamamu.

Aku mencintaimu bukan hanya karena apa yang telah kamu lakukan terhadap dirimu sendiri, tapi apa yang kamu lakukan terhadapku. Aku mencintaimu atas bagian diriku yang engkau tunjukkan kepadaku." Bahkan ada riset yang membuktikan bahwa kita dapat salah mengira sifat pasangan kita sebagai sifat kita sendiri.

Jadi ketika hubungan itu berakhir, apakah berarti kepribadian dasar kita juga berubah? Dan terkait dengan itu, apakah tipe kepribadian memengaruhi respon kita terhadap perpisahan itu apakah kita cenderung tetap melajang, misalnya, atau segera menjalin kembali hubungan serius dengan orang lain?

Sampai tingkat tertentu, jawaban atas pertanyaan ini dapat tergantung pada gender Anda. Studi di AS yang dipublikasikan tahun 2000 menemukan bahwa perceraian memberi dampak berbeda bagi pria dan wanita.

Paul Costa Junior dan koleganya menguji kepribadian lebih dari 2000 orang di usia 40-an dan kembali menemui mereka enam sampai sembilan tahun setelahnya, bertanya tentang peristiwa besar yang telah terjadi dalam hidup mereka dan menguji apakah kepribadian mereka telah berubah.

Referensi : Dampak perceraian terhadap kepribadian Anda




















Cara Mengurangi Dampak Psikologis Anak Pascaperceraian Orang Tua

Cara Mengurangi Dampak Psikologis Anak Pascaperceraian Orang Tua

Cara Mengurangi Dampak Psikologis Anak Pascaperceraian Orang Tua. Perpisahan memang tak pernah mudah untuk dihadapi. Baik itu berpisah karena perceraian atau pun kematian. Terlebih lagi terjadi perpisahan ketika sudah memiliki anak. Hal ini pasti akan sulit untuk anak menghadapi perpisahan atau perceraian orang tuanya. Perpisahan orang tua bisa memicu munculnya stres hingga rasa bersalah pada anak. Mungkin terjadi jika anak-anak berasumsi bahwa perceraian adalah akibat dari kesalahan mereka.

Perceraian mengharuskan anak-anak kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu orang tuanya, entah itu dengan ibunya atau dengan anaknya. Anak terkadang juga harus memilih dengan siapa dia akan tinggal setelah perpisajan. Kontak yang menurun dapat mempengaruhi ikatan orang tua dan anak. Peneliti menyebutkan bahwa banyak anak merasa kurang dekat dengan ayah mereka pascaperceraian. Perceraian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental bagi anak-anak dan remaja. Terlepas dari usia, jenis kelamin, atau budaya, anak-anak mengalami peningkatan masalah psikologis setelah orang tuanya bercerai. Orang tua memainkan peran utama dalam cara anak menyesuaikan diri dengan perceraian.

  1. Bantu Anak Merasa Aman Kecemasan anak timbul akibat rasa takut ditinggalkan dan kekhawatiran tentang masa depan. Bantu mereka untuk selalu merasa dicintai, aman, dan terjamin akan kehidupannya bisa mengurangi risiko masalah kesehatan mental.
  2. Jaga Hubungan yang Sehat Kehangatan orang tua, komunikasi yang baik, dan tingkat konflik yang rendah bisa membantu anak menyesuaikan diri dengan perceraian orang tuanya. Hubungan orang tua yang sehat membantu anak dalam mengembangkan harga diri yang lebih tinggi dan kinerja akademis yang lebih baik
  3. Hindari Menempatkan Anak di Tengah Tidak lah pantas menempatkan anak di tengah dan memaksanya untuk memilih ingin ikut siapa, siapa orang tua yang lebih disukai, atau menghasutnya. Anak-anak yang terjebak di tengah sebagai pemilih cenderung mengalami kecemasan dan depresi.
  4. Ajarkan Keterampilan Mengatasi Anak-anak akan beradaptasi lebih baik dengan perceraian bila dia terbiasa dengan strategi penanganan yang aktif, memecahkan masalah, dan restrukturisasi kognitif. Ajari anak-anak bagaimana cara mengelola pikiran, perasaan, dan perilakunya dengan cara yang sehat. Beradaptasi pada tahun pertama perceraian itu tidak mudah, tetapi membiasakan diri dengan langkah-langkah positif dapat membantu anak keluar dari masalah mentalnya.
  5. Berdayakan Anak Anak-anak yang meragukan kemampuan dirinya sendiri untuk menghadapi perubahan dan melihat diri sebagai korban yang tidak berdaya cenderung mengalami kesehatan mental. Bicara dengan anak dan ajari mereka meskipun menghadapi perceraian itu sulit, dia memiliki kekuatan mental untuk mengatasinya. 

Referensi : Cara Mengurangi Dampak Psikologis Anak Pascaperceraian Orang Tua












Beberapa Hal Dampak Buruk Perceraian pada Psikologis Anak

Beberapa Hal Dampak Buruk Perceraian pada Psikologis Anak

Proses perceraian bisa menjadi masa-masa sulit bagi keluarga. Selain menyadari cara-cara baru untuk beradaptasi, orangtua juga perlu belajar cara-cara baru untuk menjadi orangtua bagi anak mereka saat menghadapi dampak perceraian.  Ketika menghadapi masa sulit ini, dampak perceraian pada setiap anak bisa berbeda-beda.

Beberapa anak bereaksi dengan cara alami dan pengertian, namun beberapa anak mungkin bergumul pada masa adaptasi bahkan bisa berdampak buruk pada psikologis anak.  Selain pertumbuhan fisik yang sehat, Mama tentu menginginkan pertumbuhan mentak anak bisa berjalan dengan baik.

1. Anak menunjukkan berbagai jenis emosi yang berbeda dalam keluarga

Perceraian dapat menyebabkan anak memiliki menunjukkan beberapa jenis emosi yang berbeda atau mood swing dalam sebuah keluarga. Perasaan kehilangan, kemarahan, kebingungan, kecemasan, dan banyak lainnya, semua mungkin berasal dari perubahan ini.  Perceraian juga dapat membuat anak merasa kewalahan dan sensitif secara emosional.  Anak membutuhkan jalan keluar untuk emosi mereka, seperti membutuhkan seseorang untuk diajak bicara dan seseorang yang akan mendengarkan.

2. Anak akan bertanya-tanya dan mulai mencari alasan perceraian sehingga merasa bersalah

Anak mungkin sering bertanya-tanya mengapa perceraian terjadi dalam keluarga mereka. Mereka akan mencari alasan, bertanya-tanya apakah orang tua mereka tidak lagi saling mencintai, atau apakah mereka telah melakukan kesalahan.  Perasaan bersalah ini adalah efek yang sangat umum dari perceraian pada anak, tetapi juga perasaan yang dapat menyebabkan banyak masalah lainnya. Rasa bersalah meningkatkan tekanan, dapat menyebabkan depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.  Meluangkan waktu untuk obrolan atau konseling bagi anak dapat membantu mengurangi perasaan bersalah, serta dapat membuatnya memahami peran mereka dalam keluarga.

3. Mengalami trauma dan kurang percaya dalam menjalani hubungan saat dewasa nanti

Saat anak menyaksikan orangtua mereka bertengkar hingga bercerai, tak jarang anak-anak yang mengalami trauma dan kurang percaya dalam menjalani hubungannya saat dewasa nanti.  Biasanya anak yang melihat orangtuanya bertengkar akan takut pada suara-suara kencang, takut akan suara teriak, atau suara yang membentak.  Karena pada masa kecilnya ia sudah melihat bahwa tidak ada hubungan yang benar-benar sempurna dan bahagia, dan yang paling buruknya adalah bukti bahwa orangtuanya sendiri harus mengalami perpisahan hingga bercerai.

4. Memiliki keraguan untuk menikah saat dewasa dan cenderung bercerai

Anak yang orangtuanya mengalami perceraian juga akan berdampak pada psikologisnya yang akan ragu untuk menikah saat dewasa.  Meskipun berharap untuk memiliki hubungan yang stabil sendiri saat tumbuh dewasa, penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami perceraian cenderung bercerai ketika berada dalam hubungannya sendiri.  Beberapa penelitian menunjukkan kecenderungan perceraian ini mungkin dua hingga tiga kali lebih tinggi dari anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak bercerai.

5. Anak dapat menjadi mudah marah hingga menyebabkan stress atau depresi

Dalam beberapa kasus, saat anak merasa kewalahan dan tidak tahu bagaimana merespons pengaruh yang mereka rasakan selama perceraian, mereka mungkin menjadi mudah marah. Kemarahan mereka mungkin diarahkan pada berbagai penyebab yang dirasakan.  Anak yang memproses perceraian dapat menunjukkan kemarahan pada orangtua mereka, diri mereka sendiri, teman-teman mereka, dan orang lain. Sementara bagi banyak anak, kemarahan ini menghilang setelah beberapa minggu.

Jika terus berlanjut, penting untuk menyadari bahwa ini mungkin merupakan efek yang tersisa dari perceraian pada anak-anak. Bahkan proses perceraian dan pengaruhnya bisa menyebabkan anak menjadi stress atau depresi.  Itulah beberapa kemungkinan dampak buruk perceraian pada anak. Semakin banyak keluarga memahami betapa perceraian bisa membuat anak stres, maka ini bisa jadi pertimbangan untuk para orangtua.

Referensi : Beberapa Hal Dampak Buruk Perceraian pada Psikologis Anak














Bagaimana Dampak Perceraian secara Psikologis

Pernikahan menjadi hubungan yang sangat sakral untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua pasangan bisa mempertahankan hubungan pernikahan hingga akhirnya menggugat cerai. Dampak perceraian bisa sangat berbahaya bagi psikologis dan mental seseorang. Karena bukan masalah yang sepele, Anda harus bijaksana dalam memandang sebuah perceraian. Pasalnya, dampak perceraian akan terbawa sampai kapan pun dan bisa menimbulkan trauma pada seseorang. Dampak perceraian secara psikologis Perceraian mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup seseorang. Dampak perceraian yang dirasakan oleh pria dan wanita sebenarnya sama aja. Keduanya dapat merasa marah, cemas, depresi, dan cemburu. Rasa marah Rasa marah bisa saja muncul setelah proses perceraian ketika masalah-masalah yang sebelumnya diabaikan muncul dan dibahas kembali. Rasa cemas Rasa cemas karena perubahan-perubahan yang dialami seusai perceraian adalah hal yang wajar terjadi. Setelah mengambil keputusan yang besar, seperti perceraian, wanita maupun pria akan merasa takut dengan ketidakpastian setelah perceraian. Bahkan pergantian rutinitas bisa menjadi salah satu pemicu dari rasa cemas setelah proses perceraian. Depresi Depresi dapat timbul karena rasa bersalah ataupun hilangnya ambisi setelah perceraian. Dampak perceraian yang satu ini mampu menghilangkan kesenangan atau ketertarikan kedua belah pihak terhadap hal-hal yang senang dilakukan. Rasa cemburu Meskipun sudah tidak tinggal seatap dan tidak lagi terikat sebagai suami istri, tetapi mengetahui mantan suami atau istri sedang berpacaran atau dekat dengan orang lain tentunya mampu memicu perasaan cemburu terhadap kehidupan pihak lainnya. Cara pria dan wanita menyikapi dampak perceraian Seperti yang telah disebutkan, baik pria maupun wanita sebenarnya merasakan dampak perceraian secara psikologis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian di tahun-tahun pertama lebih parah pada pria ketimbang pada wanita. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun pertama perceraian, pria lebih merasakan dampak perceraian terhadap kepuasaan hidup dan keluarga, sementara wanita lebih merasakan dampak perceraian terhadap ekonomi rumah tangga. Meskipun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dampak perceraian yang menonjol.  Dampak perceraian pada pria Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya.  Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu.  Pria yang lebih senang mengungkapkan perasaannya melalui tindakan akan lebih condong untuk mengungkapkan perasaannya terhadap perceraian yang dialami dalam bentuk menghindari tempat tinggal mereka, bekerja jauh lebih keras di kantor, dan sebagainya. Penelitian lain mendapati bahwa pria lebih berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada wanita selama proses perceraian berlangsung. Dampak perceraian pada wanita Sebuah riset menelusuri dampak perceraian secara psikologis pada wanita dan menemukan bahwa wanita yang bercerai memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding wanita yang menikah. Hal ini berpotensi menimbulkan depresi. Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan. Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah. Perasaan bersalah tersebut bisa terlahir dari pemikiran bahwa sang wanita belum berusaha maksimal dalam mempertahankan pernikahannya. Namun, dibalik dampak perceraian yang negatif secara psikologis pada wanita, terdapat juga dampak perceraian yang positif untuk para wanita.  Beberapa wanita yang bercerai menganggap perceraian sebagai periode untuk mengembangkan diri dan menjadi mandiri, serta mampu mengambil keputusan sendiri. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan atau dukungan sosial dan emosional dari orang-orang sekitar. Menjadi lebih terbuka dengan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat membantu Anda untuk tidak merasa kesepian. Anda juga bisa berkonsultasi dengan psikolog, konselor, ataupun psikiater jika Anda merasa perceraian yang dilalui mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila Anda atau kerabat mengalami depresi atau memiliki keinginan untuk bunuh diri selama proses perceraian, segeralah kunjungi psikolog, konselor, atau psikiater. Tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk mencegah niat cerai, Anda juga perlu tahu dampak perceraian untuk psikologis pasangan dan anak nantinya. Mintalah pertolongan jika memang tetap harus menjalani proses perceraian.  Referensi : Bagaimana Dampak Perceraian secara Psikologis

Pernikahan menjadi hubungan yang sangat sakral untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua pasangan bisa mempertahankan hubungan pernikahan hingga akhirnya menggugat cerai. Dampak perceraian bisa sangat berbahaya bagi psikologis dan mental seseorang. Karena bukan masalah yang sepele, Anda harus bijaksana dalam memandang sebuah perceraian. Pasalnya, dampak perceraian akan terbawa sampai kapan pun dan bisa menimbulkan trauma pada seseorang. 

Dampak perceraian secara psikologis

Perceraian mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup seseorang. Dampak perceraian yang dirasakan oleh pria dan wanita sebenarnya sama aja. Keduanya dapat merasa marah, cemas, depresi, dan cemburu.

Rasa marah

Rasa marah bisa saja muncul setelah proses perceraian ketika masalah-masalah yang sebelumnya diabaikan muncul dan dibahas kembali.

Rasa cemas

Rasa cemas karena perubahan-perubahan yang dialami seusai perceraian adalah hal yang wajar terjadi. Setelah mengambil keputusan yang besar, seperti perceraian, wanita maupun pria akan merasa takut dengan ketidakpastian setelah perceraian. Bahkan pergantian rutinitas bisa menjadi salah satu pemicu dari rasa cemas setelah proses perceraian.

Depresi

Depresi dapat timbul karena rasa bersalah ataupun hilangnya ambisi setelah perceraian. Dampak perceraian yang satu ini mampu menghilangkan kesenangan atau ketertarikan kedua belah pihak terhadap hal-hal yang senang dilakukan.

Rasa cemburu

Meskipun sudah tidak tinggal seatap dan tidak lagi terikat sebagai suami istri, tetapi mengetahui mantan suami atau istri sedang berpacaran atau dekat dengan orang lain tentunya mampu memicu perasaan cemburu terhadap kehidupan pihak lainnya.

Cara pria dan wanita menyikapi dampak perceraian

Seperti yang telah disebutkan, baik pria maupun wanita sebenarnya merasakan dampak perceraian secara psikologis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian di tahun-tahun pertama lebih parah pada pria ketimbang pada wanita.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun pertama perceraian, pria lebih merasakan dampak perceraian terhadap kepuasaan hidup dan keluarga, sementara wanita lebih merasakan dampak perceraian terhadap ekonomi rumah tangga.

Meskipun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dampak perceraian yang menonjol. 

Dampak perceraian pada pria

Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya. 

Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu. 

Pria yang lebih senang mengungkapkan perasaannya melalui tindakan akan lebih condong untuk mengungkapkan perasaannya terhadap perceraian yang dialami dalam bentuk menghindari tempat tinggal mereka, bekerja jauh lebih keras di kantor, dan sebagainya.

Penelitian lain mendapati bahwa pria lebih berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada wanita selama proses perceraian berlangsung.

Dampak perceraian pada wanita

Sebuah riset menelusuri dampak perceraian secara psikologis pada wanita dan menemukan bahwa wanita yang bercerai memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding wanita yang menikah. Hal ini berpotensi menimbulkan depresi.

Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan.

Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah. Perasaan bersalah tersebut bisa terlahir dari pemikiran bahwa sang wanita belum berusaha maksimal dalam mempertahankan pernikahannya.

Namun, dibalik dampak perceraian yang negatif secara psikologis pada wanita, terdapat juga dampak perceraian yang positif untuk para wanita. 

Beberapa wanita yang bercerai menganggap perceraian sebagai periode untuk mengembangkan diri dan menjadi mandiri, serta mampu mengambil keputusan sendiri.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan atau dukungan sosial dan emosional dari orang-orang sekitar. Menjadi lebih terbuka dengan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat membantu Anda untuk tidak merasa kesepian.

Anda juga bisa berkonsultasi dengan psikolog, konselor, ataupun psikiater jika Anda merasa perceraian yang dilalui mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila Anda atau kerabat mengalami depresi atau memiliki keinginan untuk bunuh diri selama proses perceraian, segeralah kunjungi psikolog, konselor, atau psikiater.

Tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk mencegah niat cerai, Anda juga perlu tahu dampak perceraian untuk psikologis pasangan dan anak nantinya. Mintalah pertolongan jika memang tetap harus menjalani proses perceraian.


Referensi : Bagaimana Dampak Perceraian secara Psikologis