This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 11 Agustus 2022

Haram dan Tidak Akan Diterima Sedekah Dengan Harta Haram

Ilustrasi : Haram dan Tidak Akan Diterima Sedekah Dengan Harta Haram

Haram dan Tidak Akan Diterima Sedekah Dengan Harta Haram. Seorang bersedekah dengan harta hasil perbuatan haram, seperti riba, korupsi, curian, judi, menipu, dan dengan cara haram lainya, pada esensinya tidak bisa disebut dengan sedekah, karena itu perbuatan yang batil, Allah tidak menerima suatu amalan dari yang haram. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015).

Hadis lainya, “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya, lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu.” (HR. Muslim no. 1014).

Dari hadis ini menjelaskan, Allah akan memberi ganjaran pahala kepada anak Adam yang menginfakkan harta thayyib (yang baik) di jalan Allah, walaupun ia bersedekah dengan nilai yang kecil, sebutir kurma, seteguk air minum, yang terpenting itu dari hasil jerih payahnya sendiri, maka Allah SWT akan melipat gandakan pahala kepadanya.

Banyak dari kalangan umat muslim menganggap bahwa bersedekah dapat mensucikan harta haram. Sejatinya tidak, hal ini merupakan salah kaprah, sebab harta yang diperoleh dari jalan yang haram tetaplah haram, sebagaimana kaidah fikih “Segala sesuatu yang diawali dengan perbuatan haram, maka itu juga haram” walaupun disedekahkan tidak dapat mengubah esensi zat dari harta tersebut. Justru hal ini bukan malah membaik, tapi membuat harta itu semakin kotor dihadapan Allah, dan Allah tidak mungkin menerima pemberiannya sebagai sedekah, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim no. 224).

Bersedekah dengan harta haram ulama mengibaratkan seseorang menaruh satu tetes kapur kedalam sebotol air minum, menurut hukum akal kapur sedikit itu tidak akan tercemar. Akan tetapi, kalau dilihat secara makna gaibahnya kapur itu ibaratnya najis walaupun satu tetes, pasti air tersebut tercemari oleh najis. Kedua, sedekah dengan harta haram ibaratnya seorang mencuci pakaiannya dengan air kecing, bukannya bersih, justru semakin kotor. Maka segala sesuatu yang haram jikalau tercampur dengan yang halal, maka yang haram pasti menang.

Pendapat Para Ulama

Beberapa ulama berbeda pendapat terkait hal ini. Ada yang mengatakan harta haram tidak boleh disedekahkan dan ada juga yang mengatakan harta hasil perbutan yang diharamkan tidak boleh disimpan, dan harus diberikan kepada yang mebutuhkan.

Dalam harta haram, para ulama membaginya menjadi dua: pertama, harta haram yang didapatkan dengan cara menzalimi, seperti menipu, korupsi, mencuri, merampok, dst; Kedua, harta yang didapatkan dari saling ridha, salah satu contohnya ialah riba, jual beli barang haram, judi, dst.

Ulama mazhab Syafi’iyah berpendapat bahwa jika harta tersebut dihasilkan dengan cara mencuri, menipu, dan korupsi maka harus dikembalikan kepada pemilik asalnya, tidak boleh digunakan secara pribadi. Jika pemilik asalnya tidak ditemukan atau sudah meninggal maka harus dikembalikan kepada ahli warisnya.

Namun para ulama berbeda pendapat seandainya ahli warisnya tidak ada dan pemilik asalnya sudah meninggal, maka pelaku dianjurkan untuk bertaubat dan berbuat baik sebanyak-banyaknya agar nanti kelak diakhirat diadili oleh Allah pahalanya lebih berat daripada dosa-dosanya.

Pendapat kedua, yaitu pendapat jumhur ulama. Bagi anak adam yang membawa harta hasil curian, menipu, dan korupsi, pelaku boleh menyedekahkan harta atau uang tersebut kepada orang lain, dengan syarat sedekah diniatkan atas nama pemilik harta tersebut dan Allah SWT Maha Tahu ke arah mana pahala itu akan disalurkan. Seandainya pemilik sahnya diketahui, hendaknya pelaku memberi dua pilihan kepadanya antara rela uangnya telah disedekahkan atau ia harus menggantinya.

Adapun terkait harta yang didapatkan dari kemauan sendiri atau saling ridha, seperti riba dan judi ulama juga memiliki perbedaan pandangan. Pertama, Ibnu taimiyah berpendapat bahwa harta tersebut tidak boleh disedekahkan, karena harta kotor lebih baik disimpan. Kedua, pendapat lain menyebutkan bahwa, harta riba sebaiknya disedekahkan atas nama pemilik, yang diistilahkan para ulama dengan shohibulhaqqi al-majhul, pemilik harta yang tidak diketahui.

Ketiga, harta haram tidak boleh disimpan dan sebaiknya diberikan kepada fakir miskin, kaum duafa, untuk pembangunan fasilitas umum, kegiatan sosial keagamaan, dan orang-orang yang membutuhkannya, tapi tidak diniatkan sedekah karena harta kotor tidak boleh disedekahkan.

Imam Nawawi Rahimahullah berkata, “Bila harta haram diberikan kepada orang miskin, maka harta itu tidak menjadi haram lagi di tangannya. Status harta itu ditangannya halal lagi baik.” 

Referensi : Haram dan Tidak Akan Diterima Sedekah Dengan Harta Haram













Gaya Hidup Halal Sebagai Usaha Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt

Ilustrasi : Gaya Hidup Halal Sebagai Usaha Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt

“Rasulullah saw. bersabda: Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak peduli lagi dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (H.R. Bukhari)

Para pembaca yang dirahmati Allah, benar adanya sabda Rasulullah saw. yang beliau katakan beratus tahun yang lalu tersebut. Modernisasi yang merupakan tanda kemajuan ilmu pengetahuan manusia seringkali tidak sejalan dengan kondisi iman dan takwa. Tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nikmat dunia yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Tindakan korupsi, perampokan, pembegalan, pengedaran narkoba, pencurian, penipuan merupakan beberapa contoh cara yang tidak halal untuk mendapatkan harta dan marak sekali diberitakan di media dan seringkali meresahkan dan merugikan masyarakat.

Berbicara mengenai halal-haram, sesungguhnya halal-haram tidak hanya mencakup makanan dan minuman yang kita konsumsi, akan tetapi lebih dari itu, halal-haram merupakan persoalan kehidupan manusia secara keseluruhan. Sebagaimana firman Allah swt. yang tertulis di dalam Q.S. Al Baqarah [2] : 172 yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu beribadah.”

Kata “makanlah” di sini tidak saja berarti harfiah yaitu kegiatan makan dan minum, melainkan termasuk bagaimana cara memperoleh makanan tersebut. Yusuf Qardhawi (1993) menjelaskan mengenai pokok-pokok ajaran Islam tentang halal dan haram, dan salah satu pokok ajaran itu ialah “apa saja yang membawa kepada haram adalah haram”. Sehingga walaupun makanan itu halal, akan tetapi apabila cara pemerolehannya semisal dengan mencuri, maka ia haram untuk dimakan karena makanan tersebut merupakan hasil curian.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memperoleh harta dengan cara dosa, lalu ia menggunakannya untuk menjalin silaturrahmi, bersedekah, atau kepentingan di jalan Allah, niscaya Dia akan menghimpun semua hartanya itu lalu melemparkannya ke dalam neraka” (H.R. Abu Dawud) (Ghazali, 2007).

Memahami Apa Itu Halal, Haram, dan Thayyib

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat yang masih samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ali (2016) menjelaskan bahwa kata “halal” dan “haram” merupakan istilah Al Qur’an dan digunakan dalam berbagai hal, sebagiannya berkaitan dengan makanan dan minuman. Halal secara bahasa berarti sesuatu yang dibolehkan menurut syariat untuk dilakukan, digunakan, atau diusahakan, dengan disertai perhatian cara memperolehnya, bukan dari hasil muamalah yang dilarang. Sementara thayyib bisa diartikan sebagai sesuatu yang layak bagi jasad atau tubuh, baik dari segi gizi dan kesehatan serta tidak membahayakan badan dan akal.

Kemudian haram, secara terminologi diartikan sebagai sesuatu yang dilarang Allah dengan larangan yang tegas. Keharaman ada 2 macam yaitu karena disebabkan zatnya atau karena yang ditampakkannya.

Mengapa Harus Halal?

Rasulullah saw. bersabda, “Mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Al-Thabarani dari Ibnu Mas’ud). Kewajiban ini di era sekarang pada akhirnya telah dicemari oleh beberapa syubhat dan transaksi-transaksi yang tidak sesuai syariat. Sehingga sebagian dari kita yang tidak mau benar-benar berfikir dan berusaha selalu beranggapan bahwa mencari sesuatu yang murni halal adalah suatu hal yang sulit, dan akhirnya mereka menghalalkan segala cara dalam memperoleh keinginan duniawi.

Padahal jika kita mengetahui, halal-haramnya makanan yang masuk ke tubuh kita akan berpengaruh terhadap kedekatan kita dengan Allah swt. Kedekatan ini yang nantinya akan berpengaruh terhadap doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Diriwayatkan di dalam hadits Al-Thabarani bahwa salah satu sahabat yang bernama Sa’ad pernah memohon Rasulullah saw. agar mendoakan dirinya menjadi orang yang diijabah doanya. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Baguskanlah makananmu, niscaya Allah menerima doamu.” (Ghazali, 2007). Demikianlah kuatnya pengaruh makanan dan rezeki yang halal terhadap hubungan kita dengan Allah swt.

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari pun diceritakan bahwa dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman,” Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan.” Dan Allah berfirman, “Wahai orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik.” Kemudian Rasulullah saw. menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, “Ya Tuhan. Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (Sarwat, 2014).

Dari dua hadits yang dikemukakan sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa halal-haramnya rezeki yang kita peroleh dan kita konsumsi akan mempengaruhi kualitas hubungan kita dengan Allah swt. Dari sini pula kita bisa melakukan introspeksi. Apakah permasalahan halal hanya berada pada tataran kewajiban yang harus kita penuhi, atau kebutuhan yang tanpanya kita tidak bisa meraih hakikat hidup sebagai ibadah dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.?

Jika kita pahami lebih lanjut, ada beberapa alasan yang mendasari mengapa gaya hidup halal merupakan sarana untuk memelihara diri dan jiwa kita, serta untuk mendekatkan diri kepada pencipta kita, Allah swt. Yang mana jika diuraikan menjadi sebagai berikut (Sarwat,2014):

Wujud keimanan kepada Allah

Bagi mereka yang memahami ajaran Islam dengan baik, apapun yang masuk ke dalam  perutnya harus seizin sang pencipta, Allah swt.

Agar doa tidak terhalang

Banyak orang pergi haji atau umrah ke tanah suci, dengan mengeluarkan harta yang tidak sedikit, agar bisa berdoa di tempat yang mustajabah. Akan tetapi, kesucian tempat berdoa tidak akan berpengaruh banyak jika tidak diiringi dengan kesucian makanan yang masuk ke dalam perut.

Mencegah api neraka

Alasan lain bagi kita untuk menghindari makanan haram adalah untuk menjauhkan diri kita dari api neraka, karena daging yang tumbuh dari asupan makanan haram akan menjadi sasaran api neraka di akhirat nanti. Wal ‘iyaadzu billah.

Mencegah timbulnya penyakit

Salah satu hikmah dari menghindari makanan yang haram adalah terhindarnya diri kita dari penyakit. Apalagi jika makanan yang kita makan adalah makanan yang thayyib, yang jelas nilai gizinya dan sesuai dengan kebutuhan tubuh kita.

Tidak mengikuti langkah setan

Pelajaran mengenai halal-haram sebetulnya sudah dikisahkan melalui kisah Adam as., Hawa, dan larangan memakan buah khuldi. Setan menggoda Adam as. dan Hawa untuk memakannya sehingga Allah swt. menghukum mereka. Maka demikian pula akibatnya jika seseorang mengikuti langkah setan dan memakan apa yang dilarang dan diharamkan Allah. Na’uudzu billaahi mindzalik.

Para pembaca yang dirahmati Allah swt., demikianlah ulasan mengenai halal haram yang bisa penulis sampaikan. Dari sini kita memahami bahwa halal-haram bukan saja mengenai makanan dan minuman, akan tetapi menyeluruh ke segala aspek kehidupan. Dan kita juga bisa memahami bahwa pengaruh kehalalan sangat besar terhadap kualitas hubungan dan kedekatan kita dengan Allah swt. Kedekatan itu selanjutnya akan berpengaruh terhadap terkabul atau tidaknya doa-doa yang kita panjatkan sebagai hajat hidup kita di dunia. Selain itu pula, Allah akan memelihara jiwa mereka yang melaksanakan gaya hidup halal baik di dunia (dengan kesehatan), maupun di akhirat (dengan terhindarnya tubuh kita dari api neraka). 

Referensi :  Gaya Hidup Halal Sebagai Usaha Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt







Beberapa Hal Yang Perlu Dipersiapkan Menyambut Bulan Suci Ramadhan


Bulan suci ramadhan merupakan bulan yang mulia, dimana didalamnya terdapat peristiwa yang luar biasa yakni salah satunya adalah malam lailatul qadar. Secara bahasa, lailatul qadar berarti malam ketetapan. Menurut Dr Ahmad Thayyib (Grand Syekh Al Azhar) bahwa lailatul qadar dapat dimaknai dengan berbagai penafsiran, diantaranya sebagai malam yang dipenuhi dengan ampunan Allah SWT, pada malam ini amalan-amalan umat muslim diterima disisi-Nya, mereka dibebaskan dari api neraka, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan, pada malam lailatul qadar para malaikat diperintahkan turun ke bumi untuk mengucapkan salam kepada orang-orang mukmin yang mau berpuasa dan memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk mereka.

Masjid Ulil Albab. 

Demikianlah betapa mulianya lailatul qadar yang hanya disiapkan oleh Allah SWT khusus pada bulan Ramadhan, dalam beberapa hadist malam ini terletak pada 10 hari terakhir pada bulan ramadhan, dan tidak ada yang tahu di malam yang mana ia akan datang. Diantara berbagai banyak informasi mengenai malam lailatul qadar hal yang terpenting adalah kita tidak boleh menyia-nyiakannya dengan bermalas-malasan, tetapi sebaliknya kita tingkatkan semua ibadah kita demi meraih malam yang lebih baik dari pada seribu bulan itu.

Tidak ada yang tahu dengan pasti terkait ciri-ciri datangnya malam lailatul qadar. Hal tersebut merupakan kehendak Allah SWT. Namun, dalam beberapa hadist disebutkan sebagian tanda-tanda yang terjadi ketika malam lailatul qadar itu datang, diantaranya:

Terkhusus malam Lailatul Qadar sendiri, Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul qadar (di malam-malam  ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,” (H.R. Bukhari).

Ubay bin Ka’ab RA, Rasulullah SAW bersabda: Keesokan hari malam Qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan,” (HR. Muslim)

Dalam meraih malam lailatul qadar, ada beberapa arahan dari para ulama terkait amalan-amalan yang harus ditingkatkan, beberapa perbuatan yang dianjurkan yaitu kita hendaknya berusaha untuk beribadah, menambah amal-amal kebaikan baik itu shalat, istighfar (meminta ampunan), membaca Al-Qur’an, maupun meminta rahmat dari Allah swt., karena Allah SWT akan menerima semua amal di malam ini yang tidak akan diterima di malam-malam lainnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu lailatul qadar, do’a apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”

Yang artinya: “Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku” (HR. Ibnu Majah)

Referensi : Beberapa Hal Yang Perlu Dipersiapkan Menyambut Bulan Suci Ramadhan










Jangan Kalah oleh Kezaliman yang Suka Mengambil Hak Orang Lain

Jangan Kalah oleh Kezaliman yang Suka Mengambil Hak Orang Lain

Jangan Kalah oleh Kezaliman yang Suka Mengambil Hak Orang Lain. Mengapa ada perbuatan zalim? Kini perbuatan zalim terus terjadi di mana-mana dan dicipta oleh siapa saja dan untuk kepentingan-kepentingan apa?. 

Ancaman Allah SWT

Meski perbuatan zalim sudah ada ancaman hukumannya baik di dunia maupun di akhirat, tetap saja perbuatan itu digemari. Padahal pelakunya orang berpendidikan, orang yang tahu hukum manusia dan hukum Allah SWT, dan orang yang beragama. Allah SWT sungguh telah mengancam orang-orang zalim dengan mendahulukan hukuman mereka di dunia sebelum kembali ke akhirat, karena hinanya kezaliman, dan banyaknya efek buruk bagi masyarakat. 

Sebab, zalim merupakan perbuatan yang dilarang agama. Maka, Allah SWT menunda siksaan mereka dan ajal mereka, agar mereka segera bertaubat atau mereka kian bertambah zalim dan melampaui batas?

Dalam QS Ali Imran 178, Allah SWT berfirman: 

Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Itulah firmanNya, bahwa Allah SWT menangguhkan orang-orang zalim tetap berada di dunia untuk memberi kesempatan kepada orang-orang zalim agar bertaubat dan kembali ke jalan Allah.

Kisah nyata

Terkait Zalim ini, ada kisah nyata yang mirip sesuai janji Allah SWT untuk seseorang. Mungkin ini kisah hanya sekadar mirip. Tetapi, bila dilihat kasusnya, mungkin benar sebagai hukuman orang zalim di dunia. Selama hidupnya, saat seharusnya amanah, tetapi malah bersikap sebaliknya, hukuman atau balasan dari Allah itu justru sudah ditunjukkan saat masih hidup di dunia dengan sakit menahun yang hanya tergeletak di tempat tidur.   Banyak kisah-kisah nyata lainnya tentang orang-orang yang tak amanah ini. Ada yang selama hidupnya terus nampak tak terjadi apa-apa. Tetapi ada, yang masih hidup di dunia saja sudah dihukum. Seperti contoh yang saya sebut.

Inilah balasan langsung dari Allah atas sikap sebelumnya yang bisa disebut bengis, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, kejam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sikap itu adalah zalim.  Yah, sikap zalim bisa dilakukan oleh perseorangan, kelompok, hingga golongan. Bila yang melakukan adalah perseorangan, contohnya adalah yang sakit menahun itu.  Kini, di depan mata, orang-orang juga telah dan terus menjadi saksi, ada yang kukuh bersikap menzalimi, yaitu menindas, menganiaya, dan berbuat sewenang-wenang. Padahal, orang-orang yang sayang kepada mereka, sudah mengingatkan agar menghentikan sikap zalim dan menzalimi melalui berbagai cara. Namun, nampaknya mereka sudah buta mata, buta telinga dan buta hati. Tak ada pengingatan yang digubris. Luar biasa, seolah dunia ini milik mereka. 

Mereka tetap asik-masyuk dengan tingkah polah kezaliman, yaitu bengis, kejam, tidak adil, dan merampas hak orang lain.  Orang waras jangan mengalah.  Melihat fenomena kezaliman ini, banyak orang yang bilang, sing waras ngalah, orang yang waras mengalah sebab kita sedang melawan orang gila, orang zalim.

kalau yang waras ngalah, maka kezaliman akan terus bergulir, dong? Kasihan orang-orang yang ada urusan dengan orang gila yang zalim. Sampai kapan orang-orang ini akan dizalimi?.  Bila yang waras ngalah, maka balasan kepada orang gila yang zalim, juga akan seperti seseorang yang zalim, balasannya masih di dunia nyata, belum di duniaNya.

Untuk itu, bagi orang yang waras, janganlah pernah mengalah kepada orang yang zalim dan menzalimi kita. Meski kita telah disakiti oleh mereka, mari terus kita balas perbuatan mereka dengan perbuatan baik.  Sadarkan mereka dengan berbagai cara dan upaya, karena perbuatan zalim itu sangat hina dan mendampak buruk kepada siapa saja yang dizalimi. Jadi, kezaliman harus dilawan

Dengan terus kita bantu untuk mengingatkan, mungkin, mata, telinga, dan hati yang selama ini terkunci, akan terbuka dan membikin mereka sadar bahwa mereka telah berbuat zalim. Namun, sebagai manusia biasa, kemampuan kita hanya sebatas mengingatkan dan tidak mengalah, tidak kalah oleh kezaliman. Bila ternyata pengingatan dan sikap tidak mengalah kita tetap tidak digubris oleh orang yang zalim, ada Allah SWT yang akan mengadilinya.

Referensi : Jangan Kalah oleh Kezaliman yang Suka Mengambil Hak Orang Lain


















Taubat Nashuha Dalam Al-Quran dan Hadits

Ilustrasi : Taubat Nashuha Dalam Al-Quran dan Hadits

Taubat Nashuha Dalam Al-Quran dan Hadits. Manusia, menurut keterangan al-Hadits, memilki sifat dasar yang tak sulit dihindari, yakni sifat salah dhan lupa. Oleh karena itu, mereka sering melakukan perbuatan maksiat baik maksiat terhadap Allah Swt. maupun terhadap sesame manusia. Maksiat adalah bentuk pelanggaran terhadap hak Allah maupun hak manusia.

Allah sebagai Khaliq berhak untuk dibadahi , ditaati perintah dan larangannya, dan dicintai melebihi cinta manusia terhadap lainnya. Namun, kenyataannya banyak manusia yang mengabaikan hak-hak Allah tersebut. Allah berhak untuk diesakan, namun banyak manusia yang  menyakekutukan. namun pelaksanaannya asal-asalan. Allah melarang hamba-Nya mencuri, namun banyak hamba Allah yang korupsi. Allah melarang berzina, namun banyak hamba-hamba-Nya yang menjadikan zina sebagai profesi. Allah melarang membunuh, namun masih banyak manusia yang tega membunuh suami, istri, anak, dan keluarganya sendiri.

Manusia sebagai hamba Allah mempunyai hak-hak untuk dihormati—jiwanya,hartanya, keturun, dan kehormatannya, namun hak-hak tersebut sering dilanggar oleh sesamanya, ada yang dibunuh tanpa sebab yang dibenarkan syari’at Allah, ada yang hartanya dirampok, ditipu, dan dicuri, ada yang kesucianya direnggut, dan ada yang kehormatannya dinodai.

Pelanggaran terhadap hak Allah maupun hak sesama manusia itu mengakibatkan dosa, baik dosa besar  maupun kecil. Mukmin yang muttain  jika melakukan perbuatan dosa akan cepat menyadari kesalahan dan dosanya dan segera bertaubat .

Makna Taubat Nashuha

Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir ( X X VIII, 1991, : 315) menyatakan bahwa  taubatan nashuha itu mengandung arti menyesali  benar-benar apa yang telah terjadi dan berniat kuat untuk mengulangi perbuatan yang sama pada waktu yang akan datang. Ketika Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib ditanya tentang taubat, beliau menjawab; taubat itu harus memenihi enam sarat; menyesali dosa yang telah dilakukan, konsisten dalam menjalankan kewajiban, menghindari kezaliman, menghindari permusuhan, berniat kuat untuk tidak mengulang dosa yang sama, dan mendidik diri untuk melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Selanjutnya Wahbah menerangkan bhwa  taubat yang tulus dan ihlas itu berungsi menghapuskan dosa-dosa kecil yang telah lalu. Taubat nashuha itu dilakukan dengan menyesali dengan hati yang dalam tentang dosa yang telah dilakukan,memohon ampun kepada Allah dengan lisan, menanggalkan perbuatan dosa itu, dan berniat kuat tidak akan mengulangi dosa yang sama.

Menurut al-Ghazali, taubat itu harus memenuhi tiga hal; ilmu,hal/keadaan, dan perbuatan. Yang dimaksud ilmu adalah pengetahuan tentang bahaya dosa yang bias merugikan bahkan mencelakakan manusia dalam kehidupan dunia maupun akhirat, serta menjadi penghalang antara pelaku dengan yang dicintainya, khususnya Allah Swt. Sedang yang dimaksud keadaan itu menyatakan kondisi hati yang -yang dimaksud perbuatan berhenti dari dosa yang sama, lalu membimbing diri untuk selalu melakukan ketaatan dan menghindari kemaksiatan.

Sedangkan an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus- Shalihin, menyatakan bahwa bertaubat dari dosa baik dosa terhadap Allah maupun terhadap sesame manusia harus memenuhi tiga sarat ;  meninggalkan maksiat, menyesali perbuatannya, dan berniat kuat untuk mengulangi dosa yang sama untuk selamanya. Jika salah satu sarat tidak terpenuhi , maka taubatnya tidah sah/buatan benar.

Jika perbuatan dosa berhubungan dengan sesame ( dosa terhadap sesame) maka taubat yang harus dilakukan harus memenuhi empat sarat ; berhenti dari dosa itu, menyesalinya, berniat kuat untuk tidak mengulangi, dan meminta maaf serta mengembalikan hak-haknya. Jika dosa terhadap sesame manusia itu berupa harta , maka kemblikan harta itu. Jika berkaitan dengan tuduhan buruk, maka harus meminta maaf kepadanya. Jika dosa itu berupa ghibah, maka harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Nash Al-Quran dan al-Hadits yang memerintahkan bertaubat

Surat an- Nur (24) ayat 31 ;

31…. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Surat at-Tahrim (66) ayat 8 ;

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menerangkan bahwa dirinya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda;” Demi Allah, Aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari semalam lebih dari 70 kali.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari sumber  al-Agharri ibnu Yasar al-Muzani yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda :” Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohon ampunlah kepada-Nya ! Sesungguhnya aku dalam sehari semalam bertaubat sebanyak seratus kali “.

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari yang menceritakan bahwa Nabi bersabda :” Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari dan memebentangan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari.

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasul bersabda :” Orang yang bertaubat sebelum matahari terbit, Allah pasti akan menerima taubatnya”.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, Rasul bersabda :” Sesungguhnya Allah akan menerima taubat hamba selama nafas belum di tenggorokan “.

Hadits yang terakhir menegaskan bahwa tetap terbuka menerima taubat hamba-Nya selagi belum menghadapi sakarat maut. Taubat yang dilakukan ketika menghadapi skarat maut tidak akan diterima Allah.  Dalam surat Yunus (10) ayat 90, Allah berirman ;

dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bercerita bahwa pada zaman dahulu ada orang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia sadar dan ingin bertaubat. Dia bertanya kepada orang –orang agar menunjukkan rumah orang yang paling terkenal keilmuannya untuk mengadukan halnya. Orang-orang menunjukkan agar ia menghadap seorang pendeta. Setelah bertemu pendeta itu, ia mengadukan halnya :” Aku ini telah membunuh 99 orang, apakah ta:” Tidak”. Maka, dibunuh pula si pendeta tersebut, sehingga genap 100 orang yang ia bunuh. Kemudian dia bertanya lagi kepada orang lain agar menunjukkan orang yang paling alim untuk meminta fatwa tentang halnya itu.  Dia diberi tahu agar menghadap orang alim dan salih. Setelah bertemu, dia bertanya:” Aku telah membunuh 100 orang, apakah taubatku akan diterima Allah jika aku bertaubat ?”. Orang salih itu menjawab :” Ya , pergilah engkau ke suatu kampong dimana penduduknya ahli ibadah kepada Allah, beribadahlah engkau kepada Allah bersama mereka di kampung itu , jangan sekali-kali engkau kembali ke kampong halamanmu karena kampungmu itu tempat yang buruk!”. Lalu pergialah ia menuju perkampungan itu, namun ditengah perjalanan ajalnya tiba malaikat Izrail telah menjemputnya. Menurut penuturan Nabi, Malaikat Rahmah dan Malaikat Adzab berdebat. 

Malaikat Rahmat berkata:” Dia itu bepergian menuju suatu kampong dengan kondisi sudah bertaubat kepada Allah. Sedangkan Malaikat Adzab berkata :” Walaupun telah bertaubat, dia belum beramal baik sama sekali “. Di tengah perdebatan mereka berdua itu, datanglah malaikat lain yang menyerupai bentuk manusia berusaha menengahi perdebaantan mereka, dia berkata :”  Ukurlah jarak tempuh dari tempat ia berangkat sampai ke tempat ia meninggal ini, lalu ukur pula jarak tempuh dari tempat kematiannya sampai ke kampong yang ia tuju. Bandingkan jarak antara keduanya. Mana jarak yang terdekat itulah yang menentukan nasibnya. Jika jarak dari tempat ia berangkat sampai tempat kematiannya lebih pendek/dekat, maka malaikat adzab yang menang, tapi kalau jarak dari tempat kematiannya meneuju kampong itu lebih pendek/dekat, yang menang malaikat rahmah “. Setelah dua jarak itu diukur, ternyata jarak antara tempat kematiannya dengan kampong yang dituju lebih dekat dibnding dengan jarak antara tempat keberangkan sampai tempat kematiannya, maka malaikat rahmahlah yang memenangkan perdebatan tersebut. Dengan kata lain, orang itu taubatnya diterima, dan mendapat kasih saying Allah melalaui malaikat rahmah.

Referensi : Taubat Nashuha Dalam Al-Quran dan Hadits








Apakah Balasan untuk Orang-Orang Zalim Tunai di Dunia

Ilusrasi : Apakah Balasan untuk Orang-Orang Zalim Tunai di Dunia

Allah SWT memberikan balasan untuk orang zalim di dunia dan akhirat. Zalim merupakan perbuatan yang dilarang agama. Allah SWT menunda siksaan mereka dan ajal mereka, agar mereka kian bertambah zalim dan melampaui batas.  إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ "Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS Ali Imran 178). Hal itu mungkin ditangguhkan juga untuk memberi kesempatan kepada orang-orang zalim agar bertaubat dan kembali ke jalan Allah, yang memiliki sifat Al-Halim (Yang Mahalembut).  

Atau karena orang yang terzalimi sebelumnya telah berbuat zalim kepada yang lain pada masa hidupnya, lalu kezaliman yang menimpa dirinya merupakan hukuman atas kezaliman dia sendiri pada masa lalu. 

Allah SWT sungguh telah mengancam orang-orang zalim dengan mendahulukan hukuman mereka di dunia sebelum kembali ke akhirat, karena hinanya kezaliman, dan banyaknya efek buruk bagi masyarakat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

لَيْسَ شَيْءٌ أُطِيعُ اللهَ فِيهِ أَعْجَلَ ثَوَابًا مِنْ صِلَةِ الرَّحِمِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ أَعْجَلَ عِقَابًا مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada sesuatu yang aku patuhi kepada Allah di dalamnya (amalan itu) lebih cepat mendapat ganjaran lebih dari menyambung tali silaturahim, dan tidak ada sesuatu yang lebih cepat hukumannya dari berbuat zalim dan memutus tali silaturahim.” (HR Baihaqy). 

Oleh karena itu, balasan bagi orang zalim di dunia ini mungkin muncul pada kesimpulannya, yaitu akhir hidupnya akan sangat menyakitkan.  Rasulullah SAW bersabda: 

إن اللهَ ليُملي للظالمِ، حتّى إذا أخذه لم يفلتْهُ، قال: ثمّ قرأ: وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

"Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya." Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.' (Qs Hud ayat 102). 

Sebagaimana Allah menghinakan pelaku zalim saat di dunia, yang merasakan kepahitan hidup dan kehinaannya, Allah juga akan menyiksanya pada hari kiamat. Di antara hukuman duniawi pelaku kezaliman ialah diharamkannya dia dari keberkahan dan dihilangkannya nikmat.  

Allah SWT berfirman dalam surat Al Qalam yang menceritakan tentang para pemilik kebun, dan mereka pelit, mereka bertekad untuk tidak memberikan hak yang seharusnya diberikan kepada orang fakir miskin, Allah berfirman: 

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ*وَلَا يَسْتَثْنُونَ*فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ*فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ*فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ*أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِن كُنتُمْ صَارِمِينَ*فَانطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ*أَن لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُم مِّسْكِينٌ*وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ*فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ*بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari dan mereka tidak mengucapkan, "Insya Allah, " lalu kebun itu diliputi malapelaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.” Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin), padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)." (QS Al Qalam ayat 17-27). 

Referensi : Apakah Balasan untuk Orang-Orang Zalim Tunai di Dunia






Makna dari Mudik Sejati

Ilustrasi : Makna dari Mudik Sejati

Ritual mudik yang selalu terjadi tiap tahun meskipun melelahkan namun sangat membahagiakan. Apalagi kita dapat memahami maknanya, bukan sekadar rutinitas tahunan. Agar dapat meraih mudik yang bermakna mari kita renungi bersama fenomena mudik ini.

Menurut Arvan Pradiansyah ada 3 jenis mudik yaitu fisik, emosional dan spiritual. Mudik fisik berarti secara fisik kita kembali ke kampung, berada di tempat kelahiran dan dibesarkan. Biasanya akan muncul rasa senang, bernostalgia sehingga teringat kembali kejadian masa lalu saat bersama saudara-saudari, karib kerabat, teman sepermainan, tetangga dan warga kampung. 

Nostalgia tersebut akan menumbuhkan rasa bahagia apalagi bertemu dengan orang tua, kakak adik dan karib kerabat, juga teman masa kecil. Berkumpul dan bercerita kejadian masa lalu yang lucu sehingga membuat tertawa dan gembira.

Inilah mudik emosional, muncul rasa puas dan bahagia. Seolah-olah waktu berhenti dan semua kejadian masa lalu baik suka dan duka menjadi indah. Ibarat lukisan, aneka warna hitam, putih merah dan biru semua berpadu membentuk gambar kehidupan yang mempesona. Pulang dari kampung balik lagi ke tempat bekerja terasa ada nuansa baru dalam hidup.

Ternyata, hidup di dunia ini hakikatnya juga perjalanan mudik ke tempat asal sejati yaitu Allah. Sebelumnya kita tidak ada, lalu Allah menciptakan ruh kita, kemudian mendiami rahim ibu sampai akhirnya lahir ke dunia. Siapa yang menciptakan ruh kita yang menjadikan kita ada? Dialah Allah. Kita berasal dari Allah. 

Seiring dengan waktu, kita pun semua akan mati, meninggal dunia. Fisik kita dikebumikan, dan ruh kita melanjutkan perjalanan ke alam barzakh sampai akhirnya ke alam akhirat. Ruh kita akan kembali kepada Allah. Jadi kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Inilah mudik spiritual.

Agar mudik fisik berjalan aman dan lancar, kita harus hati hati dalam perjalanan, perhatikan rambu-rambu lalu lintas dan siapkan bekal yang cukup. Demikian pula dengan mudik spiritual. Agar mudik ke Allah juga selamat maka perlu hati-hati dalam menjalani hidup. Perhatikan dan ikuti rambu rambu kehidupan dan agama. Siapkan bekal berupa amal saleh dengan ibadah personal dan sosial.

Mudik fisik dan emosional bahagia tertingginya yaitu saat bertemu dengan kedua orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita. Maka mudik spiritual bahagia tertingginya yaitu saat bertemu dengan Allah yang Menciptakan kita. Dialah asal sejati kita.

Apakah semua yang mudik pasti tiba ke kampung dan bertemu dengan kedua orangtuanya? Ternyata tidak karena banyak pemudik yang mengalami kecelakaan di perjalanan sampai meninggal dunia. Demikian pula perjalanan mudik ke Allah. Tidak semua dapat bertemu dengan Allah. 

Ada syarat yang Allah sampaikan jika ingin bertemu dengan Dia kelak yaitu :

Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),(Q.S. Thahaa : 75)

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Q.S. Al Kahfi : 110)

Ternyata Allah akan menerima kita dan mengijinkan kita bertemu dengan-Nya bukan karena harta, pangkat dan jabatan kita. Tapi semua karena iman, amal shaleh dan keikhlasan dalam beramal. 

Harta, pangkat, jabatan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan dengan ikhlas semata-mata karena Allah bukan karena ingin pujian,dan penghargaan. Jika pun dapat pujian dan penghargaan anggap semua itu sebagai bonus. Yang penting adalah semua amal dan kerja yang dilakukan diniatkan semua untuk ibadah.

Referensi : Makna dari Mudik Sejati








Jangan Merasa Bangga Diri dengan Amal Kita

Ilustrasi : Jangan Merasa Bangga Diri dengan Amal Kita

Ada 4 pria berbicara mengenai amal ibadah mereka dan kesuksesan yang didapatnya : 


  • Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, sebentar lagi anak saya lulus smu rencananya akan sekolah ke luar negeri.
  • Pria 2 : Bukan main, hebat sekali, sejak naik haji ibadah semakin rajin, alhamdulillah anak juga sukses rumahnya harganya milyaran, belum lagi kendaraannya. Sebagai orang tua sangat bangga, berkat doa dan didikan saya.
  • Pria 3 : MasyaAllah, sungguh nikmat tak terkira sejak rajin puasa dan bersedekah, rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah di luar negeri sekarang jadi staff khusus Mentri.  Ketiga pria tersebut kemudian melirik pria 4 sejak tadi hanya terdiam. salah satu bertanya pada pria 4. “bagaimana dirimu? Mengapa diam saja?”.
  • Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan bahkan saya tidak tahu ibadah saya lakukan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Saya mengetahui ibadah saya diterima dan sukses setelah saya meninggal nanti. Jadi saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah berikan kepada saya.


Sifat Hamba Beriman


Sikap orang shalih penghuni surga yang diabadikan Al-Qur'an, bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, lebih dari itu, ia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah. Banyak cacat dan kekurangan dalam ibadah yang mereka tegakkan sehingga istighfar senantiasa terucap dari lisan mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,


وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ


"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun: 60)


Aisyah Radliyallaahu 'Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab Man Qatala li al-Riya wa al-Sum’ah Istahaqqa al-Naar, no. 1905)


Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan beberapa sifat penghuni surga dari orang-orang muttaqin dengan banyak istighfarnya (memohon ampunan) kepada-Nya.


إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ


"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Al-Dzaariyat: 15-18)


Ibnu Katsir menyebutkan penafsiran sebagian ulama terhadap ayat terakhir, "Mereka shalat malam dan mengakhirkan (melanjutkannya,-red) istighfar sampaia waktu sahur (menjelang shubuh)." Jadi mereka itu adalah orang-orang yang mengisi hidupnya dengan kebaikan. Mereka banyak amal dengan harta dan fisik mereka. Tapi dipenghujung malam, selepas mengerjakan shalat malam yang panjang, mereka memohon ampun atas dosa dan kesalahan.


Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya."


Jangan Bersandar Pada Amal


Sebab dari ketertipuan ini adalah sikap bersandar kepada amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta’ala. Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun dan Mahapenyayang.


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:


لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا


"Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga." Mereka bertanya, "tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)." (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)


Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya.


Tidak layak hamba bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.


Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.


Referensi : Jangan Merasa Bangga Diri dengan Amal Kita











Bangga dengan Amal Baik Sendiri, Hati-hati Ujub

Ilustrasi : Bangga dengan Amal Baik Sendiri, Hati-hati Ujub

Bangga dengan Amal Baik Sendiri, Hati-hati Ujub. Tidak ada seorang pun yang suka kesombongan. Sayangnya beberapa orang kadang merasa bahwa dirinya jauh dari rasa sombong, mereka tidak sadar padahal hal itu juga termasuk kesombongan. Berbangga dan sombong dengan kebaikan termasuk ujub.

Dalam istilah akhlak-sufistik, sejumlah ahli hikmah menyebut ujub sebagai tindakan membesar-besarkan suatu perbuatan baik, perasaan puas dan senang dengannya, tersipu dan terkesima dengan perbuatan baik dirinya, dan merasa dirinya terbebas dari seluruh kekurangan dalam perbuatan baik itu.

Namun sebaliknya, seseorang yang merasakan kenikmatan dan kesenangan ketika melakukan perbuatan baik yang disertai dengan rasa rendah hati dan syukur kepada Allah atas taufik-Nya dalam keberhasilannya berbuat kebaikan, serta memohon kepada-Nya untuk menambah taufik baginya di waktu mendatang, bukan termasuk ujub, melainkan sifat yang terpuji.

Syekh Bahauddin Al Alami, misalnya, berkata, “Tak ada keraguan bahwa ketika seseorang melakukan perbuatan baik, seperti berpuasa dan shalat malam, dia akan merasakan semacam kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan dan kesenangan itu bukan ujub – jika dia timbul dari persasaan bahwa Allah SWT telah melimpahkan pemberian dan nikmat kepadanya berupa (dorongan untuk) melakukan perbuatan baik, sementara dia merasa khawatir akan kekurangan dalam perbuatannya, cemas akan hilangnya nikmat itu dan memohon kepada Allah untuk terus memberinya tambahan nikmat.”

Dalam pandangan lain, contoh yang telah disebut di atas – shalat dan puasa – diperjelas lagi bahwa yang bersentuhan dengan sifat ujub ialah perbuatan baik atau buruk, baik dari aspek lahiriah maupun batin. Sebab, selain memengaruhi perbuatan lahiriah, ujub juga memengaruhi perbuatan batiniah (mental dan spritual) seseorang. Seperti halnya orang baik yang dapat berujub dengan amal baiknya, orang buruk juga dapat mengagumi perbuatan buruknya.

Karena itu, dalam ilmu akhlak, ujub memiliki beberapa derajat. Derajat pertama, ujub dengan keimanan terhadap ajaran-ajaran yang benar; lawannya ujub dengan kekufuran, kemusyrikan. Derajat kedua, ujub dengan sifat-sifat baik yang lawannya ujub dengan sifat-sifat buruk. Derajat ketiga, ujub dengan perbuatan-perbuatan baik yang lawannya kagum atas perbutan-perbuatannya yang jahat.

Seorang Ahli hikmah Sayyid Al Ridha berkata, di antara tingkatan ujub ialah ketika sifat buruk seorang tampak baik baginya. Dia menganggapnya sebagai amal baik dan memuji dirinya, membayangkan bahwa dia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tingkatan ujub lainnya tampak pada manusia yang beriman kepada Allah dan dia berpikir telah menguntungkan Allah, sehingga dia mengungkit-ungkit kebaikan di hadapan Allah padahal Allah-lah yang berbuat baik kepadanya (dengan memberinya keimanan itu).”

Menyinggung penyakit hati ini, Rasulullah juga telah mengingatkan umatnya dengan bersabda, “Ada tiga hal yang membinasakan seseorang; kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath Thabarani).

Referensi : Bangga dengan Amal Baik Sendiri, Hati-hati Ujub













Nasihat Ulama : Jangan Pernah Bangga dengan Amalan Kita

Ilustrasi : Masihat Ulama  : Jangan Pernah Bangga dengan Amalan Kita

Masihat Ulama  : Jangan Pernah Bangga dengan Amalan Kita. Salamah bin Dinar Al-Makhzumi rohimahulloh berkata, “Sembunyikanlah amal baikmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu, dan janganlah merasa bangga dengan amal (baik) mu, karena engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang bahagia (selamat) ataukah sebaliknya.”

Amalan yang dilakukan seseorang bisa musnah karena banyak hal. Seorang Muslim yang telah memperoleh kebaikan namun tidak mampu meningkatkan atau justru kebaikan tersebut berkurang terus, maka seperti seseorang yang menguraikan kembali benang yang sudah dipintal dengan kuat.

Hal ini disampaikan pakar tafsir Alquran yang juga pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta, Prof Muhammad Quraish Shihab, merefleksikan mereka yang tak mampu mempertahankan kebaikannya yang dilakukan selama Ramadhan, misalnya.  

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا 

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS An Nahl 92)   

Akan tetapi dalam peningkatan amal kebaikan, ibadah, ada yang perlu disadari setiap Muslim yaitu agar jangan mempunyai pandangan atau mengandalkan amal-amal yang dikerjakan sebagai yang akan menyelamatkan diri di akhirat dan memasukan ke surga. 

Sebab menurut Prof Quraish bisa jadi amal yang dikerjakan tidak memenuhi syarat yang dikehendaki Allah SWT atau karena terdapat sifat riya. 

Selain itu dia mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya. Tetapi hanya karena rahmat Allah SWT, maka seorang hamba dapat masuk ke dalam surga-Nya.  

Itu sebabnya orang-orang saleh terdahulu mengajarkan doa memohon ampun kepada Allah dan meyakini bahwa ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosa yang dikerjakannya. Serta menyadari bahwa rahmat Allah lebih diandalkan dibanding amal-amal yang dikerjakannya. 

"Usai Ramadhan misalnya, jangan kita mengandalkan amal kita. Tetapi kita disuruh optimis, kita ingin tingkatkan diri kita, dari takwa pertama ke takwa kedua. Kita menambah lagi iman, itu harus diusahakan," jelasnya. 

Lebih lanjut Prof Quraish mengatakan mencapai keimanan ketakwaan yang lebih tinggi harus terus diusahakan. Para sufi  mengajarkan bahwa menuju Allah adalah perjalanan mendaki. 

Karenanya seseorang jangan membawa beban dalam perjalanan. Dosa adalah beban yang harus ditinggalkan seorang hamba untuk menuju Allah. Semakin tinggi, maka banyak ketakutan dan rayuan untuk berhenti dan turun. 

Sehingga menurutnya persoalan utama untuk meningkatkan kebaikan-kebaikan adalah tekad yang kuat dari seorang hamba. Karenanya seorang hamba dapat memulainya dengan mengenali dirinya terlebih dulu untuk selanjutnya dapat mengetahui kelemahan diri dan tantangan yang dihadapi untuk meningkatkan ketakwaan. Ini sebagaimana firman Allah dalam surat As Syams ayat 8-10.  

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." 

Referensi : Masihat Ulama  : Jangan Pernah Bangga dengan Amalan Kita