This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 11 Agustus 2022

Memperbaiki Diri Sendiri

Ilustrasi Ceramah : Memperbaiki Diri Sendiri

Memperbaiki Diri Sendiri. Suatu hal yang sangat disayangkan ketika kebanyakan kita melupakan aib yang melekat pada diri, serta menutup mata dari kekurangan yang ada. Lebih parah lagi, ada yang bersikap sebaliknya, yaitu berbaik sangka dan menganggap diri telah bersih dan sempurna. Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32)

Ketika sebagian kita mendengar perihal akhlak yang mulia, ia beranggapan seolah-olah akhlak tersebut sudah ada pada dirinya dan dialah pemilik perangai mulia itu. Namun, tatkala disebutkan tentang perangai tercela, buru-buru dia menuduhkannya kepada orang lain. Seolah-olah dia jauh dari perangai tersebut.

Sikap seperti ini tidak pantas dimiliki oleh orang yang menjunjung tinggi moral dan mendambakan kesempurnaan. Sikap seperti ini akan memunculkan sikap bangga diri yang tercela dan merasa puas atas kekurangan yang ada. Ujungnya adalah meninggalkan upaya perbaikan diri.

Tidak dimungkiri bahwa ini adalah sikap yang bodoh dan sangat keliru. Dengan sikap tidak mau menyadari kadar diri sendiri dan kondisinya, seseorang tidak akan melangkah menuju tingkat kemuliaan. (Lihat Su’ul Khuluq, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hlm. 68—69)

Cara Mengenal Aib Diri Sendiri

Kesempurnaan yang mutlak hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) hanya dimiliki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adapun diri kita tidaklah lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam kekurangan, baik dari sisi ilmu maupun amal. Kelemahan dalam dua sisi ini atau salah satunya, menjadi faktor utama terjadinya ketergelinciran ketika menapaki kehidupan.

Namun, hendaklah tidak dipahami bahwa seseorang baru dikatakan baik jika dia tidak mempunyai kesalahan. Sebab, hal ini mustahil. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertobat.” (HR. at-Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 2499, cet. al-Ma’arif)

Dosa dan kesalahan adalah sesuatu yang pasti dilakukan oleh manusia. Akan tetapi, yang tercela ialah ketika seseorang menunda untuk memperbaiki diri atau bahkan tidak mau menyadari kekurangannya.

Jangan sampai hilang dari ingatan bahwa manusia diciptakan untuk memberikan penghambaan semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Inilah hikmah penciptaan manusia. Oleh karena itu, barang siapa belum mewujudkan beragam penghambaan yang harus diberikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berarti pada dirinya ada aib yang harus segera diobati. Sedikit dan banyaknya aib seseorang terkait dengan apa dan seberapa bentuk penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang belum terealisasikan.

Apabila kita ingin mengetahui kekurangan diri kita lebih jauh di hadapan syariat, hendaklah kita menelaah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dengan cara demikian, kita akan mengetahui seberapa banyak perintah Allah dan Rasul-Nya yang masih terabaikan dan seberapa banyak pula larangan-Nya yang masih sering dilanggar.

Memang, terkadang aib diri itu tidak diketahui oleh pemiliknya sehingga malah tidak dihiraukan. Andaikan seseorang mengetahui aibnya, belum tentu juga dia mau mengobatinya karena obatnya yang pahit, yaitu bersiap menyelisihi hawa nafsunya. Seandainya dia mau bersabar dengan pahitnya obat, belum tentu juga dia akan mendapatkan dokter yang ahli. Dokter yang ahli dalam hal ini adalah para ulama.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Ketahuilah bahwa apabila seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Dia akan menjadikannya sebagai orang yang mengetahui kekurangannya. Orang yang terbuka mata hatinya, niscaya tidak akan samar segala kekurangannya. Jika dia mengetahui kekurangan dirinya, dia bisa mengobatinya.

Namun, sayang sekali, kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangannya. Bahkan, salah seorang dari mereka bisa melihat kotoran kecil yang melekat pada mata saudaranya, tetapi tidak bisa melihat batang pohon yang ada di matanya sendiri.

Ada empat cara bagi orang yang ingin mengetahui aib dirinya:

Duduk di hadapan syaikh (guru/orang alim) yang sangat memahami aib-aib jiwa.

Orang alim itu akan memberi tahu aib-aib dirinya beserta terapi pengobatannya. Akan tetapi, orang alim pada zaman sekarang sangatlah jarang. Jika seseorang menemukannya, berarti dia telah mendapatkan seorang dokter yang mahir. Oleh karena itu, hendaklah dia tidak berpisah darinya.

Mencari teman yang jujur, yang terbuka mata hatinya, dan bagus agamanya.

Teman yang seperti ini bisa dijadikan sebagai pengawas bagi dirinya agar mengingatkannya dari perangai dan tingkah laku yang tidak baik.

Dahulu, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu berkata, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati orang yang memberi tahu kami tentang kekurangan-kekurangan kami.”

Para salaf (pendahulu umat ini) amat mencintai orang yang mengingatkan kekurangan atau aibnya. Namun, pada masa kita ini justru sebaliknya. Orang yang menunjukkan aib kita, pada umumnya dijadikan sebagai orang yang paling dibenci. Ini menandakan lemahnya iman.

Sesungguhnya permisalan bagi perangai jelek itu layaknya kalajengking. Seandainya ada seseorang memberi tahu salah seorang dari kita bahwa di bawah pakaiannya ada kalajengking, niscaya dia akan berterima kasih lalu segera berusaha membunuh kalajengking tersebut. Padahal, perangai yang jelek lebih berbahaya daripada kalajengking.

Menggali kekurangan dirinya dari ucapan (yang keluar) dari musuhnya.

Penglihatan orang yang memiliki kebencian akan selalu berusaha mencari aib orang yang dibencinya. Oleh sebab itu, hendaklah seseorang lebih banyak mengambil pelajaran dari musuhnya yang kerap menyebut aibnya daripada temannya sendiri, yang seringnya berbasa-basi dan menyembunyikan kekurangannya.

Berbaur dengan orang-orang yang baik sehingga apa yang mereka pandang bahwa sesuatu itu tercela, dia akan berusaha menjauhinya.

(Dinukil secara ringkas dari kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 203 - 205)

Menuju Kesucian Diri

Seorang muslim tentu yakin bahwa kebahagiaannya di dunia dan di akhirat bergantung pada upayanya untuk membimbing diri serta membersihkannya dari kotoran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

Dia berusaha membersihkan dirinya dari keyakinan yang batil dan ibadah yang menyimpang, serta akhlak dan muamalah yang tercela. Di samping itu, dia juga berusaha menghiasi dirinya dengan iman yang cahayanya memancar ke seluruh anggota tubuhnya. Oleh sebab itu, ia akan lebih sibuk mengoreksi dirinya daripada memperhatikan aib orang lain.

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

“Orang yang berakal tidak akan tersamarkan dari aibnya sendiri. Sebab, orang yang tidak mengenal aibnya sendiri, ia tidak akan mengetahui/mengakui kebaikan orang lain. Sesungguhnya, hukuman terberat yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika ia tidak mengetahui aibnya sendiri sehingga ia tidak akan berhenti dari (kejelekan)nya. Dia tidak akan mengetahui pula kebaikan orang lain terhadapnya.” (Raudhatul Uqala, hlm. 22)

Sungguh, sangat tercela orang yang menutup mata dari aibnya sendiri, tetapi sangat jeli melihat aib orang lain.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Salah seorang dari kalian melihat kotoran (kecil) yang menempel pada mata saudaranya. Namun, ia lupa dengan kayu yang ada di matanya sendiri.” (Shahih al-Adab al-Mufrad, no. 460)

Ini adalah permisalan bagi orang yang bisa melihat kekurangan orang lain yang sedikit dan mencelanya karena aib tersebut, padahal dia sendiri memiliki aib yang jauh lebih besar.

Ketika kita selalu berusaha menuntun diri agar sibuk memperhatikan aib diri kita sendiri, hal itu tidak berarti kita menutup pintu amar makruf nahi mungkar. Yang dituntut dari seseorang adalah melihat kekurangan dirinya kemudian memperbaikinya, sebagaimana pula ia punya tanggung jawab untuk memperbaiki masyarakatnya. Demikianlah seharusnya agar kesucian diri bisa terwujud dan aib bisa tertambal.

  • Kiat Berbenah Diri
  • Beberapa kiat yang semestinya dilakukan untuk berbenah diri:
  • Bertobat

Tobat diwujudkan dengan seseorang menjauhkan diri dari segala dosa dan maksiat, menyesali semua dosa yang telah dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (at-Tahrim: 8)

Muraqabah, yaitu menanamkan di hatinya bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, pada setiap detik kehidupannya.

Apabila upaya itu terus dilakukannya, keyakinannya terhadap pengawasan Allah subhanahu wa ta’ala akan semakin sempurna. Dia juga akan meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui rahasia yang disembunyikan dalam dada dan apa yang dilakukannya secara lahir.

Muhasabah, yaitu seseorang menghitung dan mengoreksi amalannya.

Di kehidupan dunia ini, seorang muslim beramal, siang dan malam, untuk meraih keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan surga-Nya. Ia menjadikan dunia sebagai lahan amal untuk meraih harapan tersebut.

Dia akan memandang hal yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, layaknya seorang pedagang yang memandang modalnya. Ia juga melihat amalan-amalan sunnah seakan-akan seorang pedagang yang melihat keuntungan dari modal dagangannya. Tak lupa pula, ia memandang dosa dan kemaksiatan ibarat kerugian dalam dagangan.

Kemudian pada sore hari dia merenung sesaat untuk memeriksa amalannya. Apabila ia melihat ada kekurangan pada perkara wajib (modal pokok), ia akan mencela dirinya dan berusaha menambal kekurangannya. Jika bisa diganti, ia akan menggantinya. Jika tidak mungkin, ia akan menambalnya dengan memperbanyak amalan sunnah. Apabila ternyata kekurangannya ada pada amalan sunnah, dia akan berusaha menggantinya dan menambalnya.

Seandainya ia melihat kerugian pada dirinya karena telah melakukan hal yang dilarang agama, ia akan meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menyesali perbuatannya, kembali menuju jalur yang benar, dan melakukan kebaikan yang sekiranya bisa memperbaiki apa yang telah rusak.

Mujahadah, yaitu berupaya mengekang hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan.

Hawa nafsu sangat menyukai sikap santai dan bermalas-malasan, serta membisikkan hati agar terjerumus dalam kesenangan maksiat sesaat, padahal setelahnya adalah kebinasaan.

Seorang muslim yang mengetahui hakikat hawa nafsu ini, niscaya dia akan mempersiapkan diri untuk melawannya. Apabila hawa nafsunya mendorongnya untuk bermalas-malasan, ia akan meletihkan dirinya (dengan perkara yang positif). Apabila dirinya menginginkan syahwat (yang diharamkan), ia akan berusaha mengekangnya. Jika dirinya meremehkan amal ketaatan, ia akan menghukum dirinya dengan melakukan amalan yang telah diremehkannya.

Intinya, ia mengejar apa yang tertinggal. Dengan menempuh upaya seperti ini, dirinya akan bersih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69)

Di samping upaya di atas, hendaknya kita juga tidak lupa bermohon kepada Dzat Yang Mahakuasa agar Dia memperbaiki kondisi kita, serta menambal aib dan kekurangan kita.

Referensi : Memperbaiki Diri Sendiri






4 Cara Memperbaiki Diri Sendiri (Menurut Imam Al-Ghazali)

Ilustrasi : Ilustrasi : 4 Cara Memperbaiki Diri Sendiri (Menurut Imam Al-Ghazali)

Hari-hari terakhir Ramadhan ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak muhasabah dan memperbaiki hubungan kita kepada Allah dan sesama manusia. Ada 4 cara untuk mengetahui kekurangan diri sendiri. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111) menuturkan, Allah 'Azza wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Dia menunjukkan kekurangan dirinya. Maka siapa yang mata hatinya terbuka pasti akan terlihat kekurangan pada dirinya. Jika dia mengetahui kekurangan dirinya maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya.

Akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka. Mereka mengetahui kekurangan orang lain, tetapi tidak bisa mengetahui kekurangan dirinya. Maka siapa yang ingin memperbaiki kekurangan dirinya, berikut empat cara yang bisa dilakukan. Yaitu:

Akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka. Mereka mengetahui kekurangan orang lain, tetapi tidak bisa mengetahui kekurangan dirinya. Maka siapa yang ingin memperbaiki kekurangan dirinya, berikut empat cara yang bisa dilakukan. Yaitu: 

1. الأول : أن يجلس بين يدي شيخ بصير بعيوب النفس، مطلع على خفايا الآفات 

Pertama, Duduk di hadapan seorang guru yang mengetahui kekurangan dirinya dan dapat melihat hal-hal jelek yang samar. 

2. الثاني : أن يطلب صديقا صدوقا بصيرا متدينا، فينصبه رقيبا على نفسه ليلاحظ أحواله وأفعاله، فما كرهه من أخلاقه وأفعاله، وعيوب الباطنة والظاهرة… ينبهه عليه 

Kedua, Mencari teman yang jujur, mengerti kekurangan dirinya dan menjalankan perintah agama, maka dia menjadikannya pemantau dirinya untuk memerhatikan keadaan dan perbuatan-perbuatannya. Apa yang dia lihat tidak baik dari akhlak, perbuatan dan kekurangan lahir dan bathin, dia mengingatkannya atas hal itu. 

3. الطريق الثالث : أن يستفيد معرفة عيوب نفسه من ألسنة أعدائه 

Ketiga: Hendaknya dia mengambil faedah (manfaat) untuk mengetahui kekurangan dirinya dari lisan-lisan musuhnya. 

4. الطريق الرابع : أن يخالط الناس، فكل ما رآه مذموما فيما بين الخلق فليطالب نفسه به وينسبها إليه؛ فإن المؤمن مرآة المؤمن، فيرى من عيوب غيره عيوب نفسه، 

Keempat, Berkumpul dengan orang, maka setiap apa yang dilihatnya dari orang lain tercela hendaknya dia menuntut dirinya dengannya dan menjauhinya. Sebab, seorang mukmin cermin untuk mukmin lainnya. Melihat kekurangan orang lain sama dengan melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Nabi 'Isa 'alaihissalam pernah ditanya: "Siapa yang mengajarkan adab kepadamu?" Beliau menjawab: "Tidak ada yang mengajari aku adab, aku melihat kebodohan orang bodoh itu jelek maka aku menjauhinya."

Referensi : 4 Cara Memperbaiki Diri Sendiri (Menurut Imam Al-Ghazali)






Cara muhasabah diri dalam Islam, beserta dalil dan keutamaannya

Ilustrasi : Cara muhasabah diri dalam Islam, beserta dalil dan keutamaannya

Cara muhasabah diri dalam Islam, beserta dalil dan keutamaannya. Muhasabah untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Muhasabah berasal dari kata hasyib yahsabu hisab, yang artinya perhitungan. Sedangkan pengertian muhasabah yakni upaya dalam melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap diri sendiri dalam melihat aspek kebaikan dan keburukan.

Dalam Islam, muhasabah ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan kepada Allah (habluminallah), hubungan kepada sesama manusia (habluminannas), serta hubungan dengan diri sendiri (habluminannafsi).  Bagi seorang muslim, muhasabah adalah hal penting dan sebisa mungkin tak boleh dilewatkan. Sebab hidup di dunia itu sangat singkat. Jauh berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan yang kita jalani saat ini pun akan menentukan bagaimana kehidupan di akhirat kelak. Apakah berakhir baik dan masuk surga, atau berakhir buruk dan masuk neraka.

Karena itulah, setiap muslim sebaiknya senantiasa melakukan amal baik dan menjauhi segala kemaksiatan. Dengan muhasabah, kita akan terbiasa merenung dan mengetahui makna di balik kehidupan.Dengan muhasabah kita tahu sudah banyak dosa yang dilakukan, sehingga ke depannya kita akan memperbaiki hal tersebut. Selain itu, muhasabah juga akan memberimu perspektif baru dalam melihat peristiwa.

Muhasabah diri adalah salah satu amalan yang disebutkan dalam Alquran dan diajarkan oleh Rasulullah. Dalam surah Al Hasyr ayat 18, Allah berfirman;

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18).

Dengan melakukan muhasabah diri, manusia akan membuka hati dan menyadari segala dosanya. Setelah itu, muslim yang taat akan bertaubat dan tak mengulangi kesalahannya.

Sebab taubat adalah bentuk penyesalan seorang muslim. Sebagimana dalam hadits, Rasulullah bersabda "Menyesal adalah taubat." (HR. Ibnu Majah)

Kemudian dalam surah At Taubah ayat 126.

"Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (QS At-Taubah: 126)

Umar bin Khattab pernah mengatakan, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat"

Kemudian dia mengutip surah Al Haqqah ayat 18.

"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS. Al-Haqqah: 18)

Apa yang dikatakan Umar bin Khattab juga sesuai dengan sabda Nabi dalam hadits yang diriwatkan Syadad bin Aus, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT."

Ada banyak cara melakukan muhasabah diri, misalkan saja sebagai berikut:

1. Mengavaluasi soal niat, amalan, dan dosa-dosa.
Langkah pertama untuk bermuhasabah adalah merenungkan apa saja yang telah dilalui dalam hidup. Kemudian mengevalusi, sudahkah memiliki niat menjadi orang yang lebih baik? Sudahkah melakukan amalan yang diperintahkan Allah? Dan sudahkah menyadari berapa banyak dosa yang telah dilakukan?

Setelah mengetahui jawabanya, kemudian niatkan untuk senantiasa lebih taat kepada Allah dan menghindari laranganNya.

2. Mendirikan sholat taubat.

Ketika kamu telah menyesali segala dosa, maka muslim yang taat akan segera bertaubat. Salah satu bentuk amalan yang bisa dilakukan adalah mendirikan sholat taubat.  Tata caranya sama seperti sholat pada umumnya, namun bisa terdiri dari dua rakaat, empat rakaat, atau enam rakaat. Pada bagian sujud terakhir, akuilah segala dosa dan meminta ampun pada Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu."

3. Menerima masukan dan saran dari orang lain.

Kadang kita membutuhkan orang lain untuk menyadarkan dari kesalahan yang telah diperbuat. Dalam suatu riwayat, Imam Bukhari menceritakan kisah Umar bin Khattab yang memberi saran kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran. Saat itu, Abu Bakar sempat menolak dan bimbang dengan usulan tersebut. Namun Umar meyakinkan bahwa hal itu adalah kebaikan. Hingga Abu Bakar pun berkata, "Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar."

Tak hanya para sahabat, bahkan Rasulullah pun bersabda, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa." Lalu dalam hadits lain dijelaskan, "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat." (HR. Abu Dawud)

Beberapa keutamaan dan manfaat yang akan didapatkan ketika melakukan muhasabah diri yaitu:
  1. Menghindarkan manusia dari sikap merasa paling suci. "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS An-Najm: 32)
  2. Menghindarkan manusia dari sikap sombong. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhammad bin Wasi "Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku"
  3. Menyadarkan untuk memanfaatkan waktu dengan baik.  Ibnu Asakir pernah menceritakan tentang Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah. Kalau kita menemuinya pasti waktu Salim Ar-Razi diisi dengan menyalin, belajar atau membaca.
  4. Menenangkan hati dan mendapatkan petunjuk. Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya bahwa seseorang bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah ia lakukan. (Tafsir Al-Baidhawi)
Referensi : Cara muhasabah diri dalam Islam, beserta dalil dan keutamaannya











10 Cara Memperbaiki Diri Dalam Islam

Ilustrasi : 10 Cara Memperbaiki Diri Dalam Islam

10 Cara Memperbaiki Diri Dalam Islam. Dalam kehidupan ini manusia seringkali lupa akan tujuan penciptaan manusia dalam Islam dan seringkali melakukan kesalahan dan dosa. Hal tersebut memanglah wajar apabila mengingat manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh hawa nafsu. Dan sejatinya, manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari dosa. Namun, sebagai hamba Allah yang taat dan sholeh kita harus senantiasa memperbaiki diri setiap saat. Manusia memang makhluk yang tak luput dari dosa, tapi bukan berarti mereka tidak dapat memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik. Memperbaiki diri menjadi lebih baik, berarti memperbaiki segala hal yang ada pada diri kita. Baik memperbaiki dalam segi akhlak, memperbaiki diri dalam perihal hati, memperbaiki diri dalam perihal kepribadian dan lain-lainnya.

Cara Memperbaiki Diri Menurut Islam

Allah telah memberikan peringatan kepada manusia agar mereka senantiasa memperbaiki diri dan berbuat sholeh. Bahkan Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyerukan perintahnya kepada manusia agar mereka memperbaiki diri mereka, dan berjalan pada jalan kebenaran yang diridhai oleh-Nya. Namun, manusia seringkali lupa akan pentingnya memperbaiki diri dalam Islam, dan bahkan terkadang menganggap bahwa diri mereka sudah cukup baik. Padahal memperbaiki diri merupakan hal yang baik bagi setiap mereka yang melakukannya. Dan berikut ini beberapa tips memperbaiki diri menurut Islam :

Instropeksi diri

Instropeksi diri menurut Islam merupakan suatu perbuatan yang baik. Dan dalam memperbaiki diri, perlu adanya dilakukan instropeksi diri untuk mengenali kesalahan dan keburukan yang sering dilakukan. Selain itu, keutamaan instropeksi dalam Islam adalah untuk membuat hati lebih lapang, hati yang lapang akan membuat kita semakin mudah dalam memperbaiki diri.

Dalam (QS. Al-Hasyr ayat 18) : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kerjakan.”

Niat

Untuk memperbaiki diri perlu adanya niat dan tekad yang kuat. Tanpa adanya niatan untuk kearah yang lebih baik, seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki dirinya. Dan niat tersebut yang akan membuat seseorang istiqomah dalam melakukan perubahan dan memperbaiki dirinya.

Merencanakan perubahan

Untuk memperbaiki diri perlu adanya perencanaan dalam perubahan. Rencanakan dahulu perubahan memperbaiki diri dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu lalu bertahap kepada hal-hal yang lebih besar. Memulai perubahan dari hal-hal yang kecil akan membuat kita lebih siap dan lebih matang dalam melakukan perubahan dan memperbaiki diri ke skala yang lebih besar.

Lebih mendekatkan diri kepada Allah

Mendekatkan diri kepada Allah akan sangat membantu kita dalam memperbaiki diri. Orang yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah akan merasa malu dan takut untuk melakukan perbuatan buruk dan dosa. Mendekatkan diri kepada Allah juga merupakan salah satu cara diri menjadi lebih baik menurut Islam. Kita memperbaiki diri semata-mata hanya untuk mendapat ridha dari-Nya, jadi mulailah untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya melalui shalat, dzikir, dan ibadah yang lainnya. Insya’allah Allah akan senantiasa menyertai langkah hamba-hambanya yang taat.

Perbanyak membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya

Sebagai muslim yang baik, tentu kita tahu apa manfaat Al-Qur’an dalam hidup kita. Dan sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita rajin membaca salah satu sumber syariat Islam bagi umat muslim serta mengamalkan kandungan isinya. Al-Qur’an bukan hanya sekedar untuk dibaca, namun juga perlu di amalkan dan diingat. Dan cara agar tetap istiqomah adalah dengan lebih banyak mempelajari Al-Qur’an dan isinya.

Tinggalkan kebiasaan buruk

Memperbaiki diri berarti menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, dan hal tersebut perlu untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang sebelumnya sering dilakukan. Kebiasaan buruk memang tidak dapat dihilangkan dan ditinggalkan sekaligus, namun kita bisa memulainya secara bertahap.

Berteman dengan orang-orang sholeh

Lingkungan dan orang sekitar terkadang juga dapat mempengaruhi perilaku dan akhlak kita, oleh karena itu pandai-pandailah dalam memilih teman, namun tidak lantas menilai orang yang berakhlak kurang baik tidak pantas untuk dijadikan teman. Berteman dengan orang sholeh maksudnya adalah untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri, kita pasti membutuhkan saran dan seseorang untuk mengingatkan kekhilafan kita, dan untuk itu bertemanlah dengan orang yang sholeh yang mampu mendukung kita dalam memperbaiki diri.

Jangan tinggalkan sholat wajib

Dengan rajin menunaikan shalat lima waktu kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan ibadah seperti sholat merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri. Karena ibadah seperti sholat dapat mencegah kita untuk melakukan kemunkaran dan mencegah kita dari perbuatan buruk.

Mau menerima saran

Untuk memperbaiki diri, kita harus mau menerima saran dari orang lain, sekalipun orang tersebut adalah orang yang tidak kita sukai, namun apabila sarannya masuk akal dan demi kebaikan kita maka patut kita terima dengan lapang dada sebagai bahan acuan dalam memperbaiki diri.

Evaluasi dan istiqomah

Dalam memperbaiki diri, perlu adanya evaluasi diri untuk melihat sudah sejauh manakah perubahan yang kita lakukan. dan mengevaluasi hal-hal apa saja dalam diri kita yang masih perlu untuk diperbaiki. Setelah mengevaluasi diri kita harus tetap istiqomah dalam melakukan perubahan atau dalam memperbaiki diri, jangan sampai kita merasa lelah dan bahkan tidak ingin lagi memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dan paling indah dalam segi fisik, namun tetap ada kekurangan dari dalam diri manusia, itulah mengapa manusia perlu memperbaiki dirinya setiap saat. Dan tujuan hidup menurut Islam tidak akan dapat tercapai apabila manusia selalu berada dalam kesesatan dan keburukan, karena tujuan hidup manusia yang utama adalah untuk menyembah Allah SWT. Dan sebagai muslim yang baik, marilah kita memperbaiki diri dengan niat karena Allah dan demi mendapat ridha-Nya.

Referensi : 10 Cara Memperbaiki Diri Dalam Islam








Cara Memperbaiki Diri Agar Menjadi Pribadi yang Lebih Berkualitas

Ilustrasi : Cara Memperbaiki Diri Agar Menjadi Pribadi yang Lebih Berkualitas

Kita semua pasti ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Namun seringkali kita merasa bingung bagaimana caranya memperbaiki diri itu sendiri. Memang hal tersebut bukan perkara yang mudah sebab akan banyak tantangan dan rintangan yang harus kamu lalui ketika ingin menjadi seorang yang lebih baik lagi.

Jangan khawatir kamu bisa memulainya dari diri sendiri terlebih dahulu mengubah kebiasaan buruk dan mulai konsisten dengan hal baik yang ingin kamu lakukan. Awalnya memang berat, tapi kamu harus yakin itulah cara untuk meningkatkan kualitas diri. Begini langkah yang bisa kamu praktikkan.

1. Lebih mencintai diri sendiri

Cara pertama yang bisa kamu lakukan yaitu saat ini mulailah untuk lebih mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri bukan berarti kita bersikap egois dan selalu mementingkan diri sendiri. Namun sebaliknya kita bisa lebih mencintai diri dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kita punya. Sehingga kita bisa menerima apa adanya diri kita. Kalau kamu tidak mencintai dirimu sendiri lantas bagaimana orang lain akan mencintaimu?

2. Selalu berpikir dan bertindak positif

Cara kedua yaitu biasakan diri untuk selalu berpikir dan bertindak positif. Dengan selalu berpikir dan bertindak positif dalam kehidupan sehari-hari tentunya hidup kita akan merasa lebih bahagia dan tenang. Memang jika kita menginginkan perubahan baik dalam hidup tidak semudah ketikan tulisan, tidak semudah juga mengucapkan kata sebab kita butuh niat besar untuk melakukan hal tersebut.

3. Mulailah untuk mengendalikan amarah dan iri hati

Perasaan amarah, iri hati, atau dengki adalah perasaan yang tidak baik. Jangan biarkan perasaan tersebut kamu biarkan bersarang di hatimu lebih lama. Memang, perasaan tersebut kadang muncul saat kita melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, lebih berhasil dari kita. Namun disadari atau tidak ketika perasaan itu muncul akan membuat diri kita terjebak dalam lubang keburukan. Maka dari itu cobalah untuk menerima keadaan orang lain tersebut ambillah pengalaman darinya dan mulailah untuk belajar memperbaiki diri. 

4. Instoprksi dan tentukan apa yang harus diperbaiki

Cara selanjutnya yaitu selalu instropeksi diri, instropeksilah dirimu secara menyeluruh. Ketahuilah apa yang menjadi kekurangan dan kelebihanmu. Jika sudah kamu ketahui apa kekurangan dalam dirimu waktunya untuk memperbaiki diri dengan menutupi kekurangan tersebut dengan kelebihan yang kamu punya. Yakinlah ketika kita berusaha untuk memperbaiki diri, itu sama halnya dengan memperbaiki masa depan kita. 

5. Menjadi pribadi yang lebih pemaaf

untuk kesalahan orang lain, namun menjadi pribadi yang bisa memaafkan kesalahan diri sendiri. Terkadang kita dengan mudahnya memaafkan orang lain yang telah menyakiti kita namun justru sulit memberi maaf pada diri sendiri, akibatnya akan terus diliputi penyesalan dan dihantui oleh kesalahan. Maka dari itu maafkanlah diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. 

Referensi : Cara Memperbaiki Diri Agar Menjadi Pribadi yang Lebih Berkualitas






Balasan Bagi Orang yang Zalim

Ilustrasi : Balasan Bagi Orang yang Zalim
Perbuatan zalim akan mendapat balasan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia dan di hari akhir. "Islam melarang umat manusia berbuat zalim, Al-Qur'an juga telah memberikan peringatan berupa ancaman bagi orang zalim." esungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim. (QS Ali Imran: 192)

Dalam penjelasan Tafsir Ringkas Kementerian Agama, ayat ini menjelaskan, mereka berdoa kepada Allah Sang Pencipta yang menghidupkan dan mematikan.  Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka karena menyekutukan-Mu dan akibat keangkuhannya, maka sungguh Engkau telah menghinakannya dengan menimpakan azab yang pedih. Maka tidak ada seorang penolong pun yang dapat memberikan pertolongan bagi orang yang zalim. Karena orang-orang zalim pantas mendapatkan murka dan siksaan dari Allah Swt. 

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, ayat ini mengandung arti mereka berdoa, Ya Allah, Ya Tuhan kami, kami mohon dengan penuh khusyuk dan rendah hati, agar kami benar-benar dijauhkan dari api neraka, api yang akan membakar hangus orang-orang yang angkuh dan sombong di dunia ini, yang tidak mau menerima yang hak dan benar yang datang dari Engkau pencipta seluruh alam.

Kami tahu orang-orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah Engkau hinakan karena kezaliman dan kekafiran yang telah mereka lakukan di dunia ini. Mereka terus-menerus merasakan siksa neraka itu, karena tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim dan kafir. Tidak ada seorang pun dapat jadi penolong mereka dan dapat mengeluarkan mereka dari kepedihan siksa yang dialaminya.

Zalim merupakan perbuatan yang dilarang agama. Allah SWT menunda siksaan mereka dan ajal mereka, agar mereka kian bertambah zalim dan melampaui batas.  "Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS Ali Imran 178). 

Hal itu mungkin ditangguhkan juga untuk memberi kesempatan kepada orang-orang zalim agar bertaubat dan kembali ke jalan Allah, yang memiliki sifat Al-Halim (Yang Mahalembut). 

Atau karena orang yang terzalimi sebelumnya telah berbuat zalim kepada yang lain pada masa hidupnya, lalu kezaliman yang menimpa dirinya merupakan hukuman atas kezaliman dia sendiri pada masa lalu. Allah SWT sungguh telah mengancam orang-orang zalim dengan mendahulukan hukuman mereka di dunia sebelum kembali ke akhirat, karena hinanya kezaliman, dan banyaknya efek buruk bagi masyarakat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

“Tidak ada sesuatu yang aku patuhi kepada Allah di dalamnya (amalan itu) lebih cepat mendapat ganjaran lebih dari menyambung tali silaturahim, dan tidak ada sesuatu yang lebih cepat hukumannya dari berbuat zalim dan memutus tali silaturahim.” (HR Baihaqy). 

Oleh karena itu, balasan bagi orang zalim di dunia ini mungkin muncul pada kesimpulannya, yaitu akhir hidupnya akan sangat menyakitkan. Rasulullah SAW bersabda :  "Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya."

Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.' (Qs Hud ayat 102). 

Sebagaimana Allah menghinakan pelaku zalim saat di dunia, yang merasakan kepahitan hidup dan kehinaannya, Allah juga akan menyiksanya pada hari kiamat. Di antara hukuman duniawi pelaku kezaliman ialah diharamkannya dia dari keberkahan dan dihilangkannya nikmat.  Allah SWT berfirman dalam surat Al Qalam yang menceritakan tentang para pemilik kebun, dan mereka pelit, mereka bertekad untuk tidak memberikan hak yang seharusnya diberikan kepada orang fakir miskin, Allah berfirman: 

"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari dan mereka tidak mengucapkan, "Insya Allah, " lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.” Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin), padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)." (QS Al Qalam ayat 17-27).   

Dikutip dari Okezone.com, perbuatan zalim adalah sifat yang melampaui batas kemanusiaan, melanggar ketentuan, dan menentang atau menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Perbuatan zalim merupakan perbuatan yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT bahkan Allah melaknat perbuatan tersebut. Tidak hanya Allah yang tidak menyukainya. Malaikat dan sesama manusiapun sangat tidak suka dengan orang yang berbuat zalim.

Allah SWT tidak suka terhadap perbuatan zalim, seperti firmannya: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran: 57).

Ada banyak bentuk perbuatan zalim yang dibenci oleh Allah SWT. "Perbuatan zalim memang mempunyai banyak bentuknya dari perbuatan zalim kepada Allah, perbuatan zalim kepada orang lain, perbuatan zalim pada diri sendiri, dan zalim kepada binatang. Allah akan memberi hukuman kepada mereka yang berbuat zalim di akhirat nanti. Bahkan mereka yang berbuat zalim akan tidur beralaskan api neraka dan diselimuti api neraka," ujar ustaz tersebut.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka) . Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al A’raaf: 41).

Karena kebencian Allah kepada orang-orang zalim, orang yang berbuat zalim tidak akan pernah mendapatkan tempat terbaik di akhirat kelak. seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al An'am ayat 135: “Kalian akan tahu siapa yang akan mendapat tempat terbaik di akhirat dan sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan beruntung.” Perbuatan zalim memiliki banyak dampak salah satunya merugikan orang lain. Bahkan orang yang dizalimi dosa-dosanya akan berpindah ke orang yang berbuat zalim.

Referensi : Balasan Bagi Orang yang Zalim








Rabu, 10 Agustus 2022

Sabarlah Dikala Musibah Sakit

Ilustasi : Sabarlah Dikala Musibah Sakit

Begitu banyak kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita. Kenikmatan yang tiada terhitung dan tak dapat pula diganti dengan emas permata. Salah satunya adalah nikmat sehat yang banyak kita lalaikan. Akan tetapi, bagaimana jika Allah menghendaki kesehatan itu lenyap dari kita sehingga kita menderita sakit? Apakah yang harus kita lakukan agar sakit yang kita alami dapat berubah menjadi ladang pahala dan penghapus dosa?

Orang yang sedang jatuh sakit berkewajiban untuk rela menerima ketetapan Allah, bersabar menghadapi takdir-Nya, dan berprasangka baik kepada-Nya. Semua itu akan lebih baik baginya.Hal itu sebagaimana pernah disinggung Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Sungguh mengagumkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik , dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang Mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan demikian itu lebih baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, dan demikian itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim, al Baihaqi dan Ahmad )

Orang yang sakit harus benar-benar berada dalam keadaan antara rasa takut dan berharap, takut kepada siksa Allah atas dosa-dosanya disertai dengan perasaan mengharapkan rahmat-Nya. Dasarnya adalah hadis Anas radhiyallahu ‘anhu:“Bahwasannya Nabi  shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Kemudian beliau bertanya : “Apa yang engkau rasakan?” Dia menjawab: Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berharap kepada Allah dan sesungguhnya aku takut akan dosa-dosaku.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو وآمنه مما يخاف

“Tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba kedua hal tersebut dalam keadaan semacam ini (sakit), melainkan Allah akan merealisasikan harapannya dan memberikan rasa aman dari apa yang dia takuti.” (HR. Turmudzi dan yang lainnya dengan sanad hasan).

Separah apapun penyakit yang diderita seseorang, dia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan kematian. Pernyataan ini berdasarkan hadis Ummu al-Fadhl (istri Abbas) radiyallahu ‘anha, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk mereka, sementara ‘Abbas, paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tengah mengeluh (karena sakit) sampai mengharapkan kematian. Maka  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا عباس يا عم رسول الله لا تتمن الموت ان كنت محسنا تزداد إحسانا إلى إحسانك خير لك وان كنت مسيأ فان تؤخر تستعتب خير لك فلا تتمن الموت

“Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan kematian. Karena sesungguhnya, jika engkau seorang yang baik lalu diberi usia yang panjang, engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu lebih baik. Adapun jika engkau seorang yang banyak berbuat buruk lalu diberi tenggang usia, kemudian engkau berhenti dari perbuatan buruk tersebut dan bertobat, maka yang demikian itu lebih baik. Karena itu janganlah engkau mengharapkan kematian.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, yang disebutkan oleh as-Syaikhan (Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi (III/377) dan lainnya dari hadis Anas, dengan kalimat senada dengan hadis tersebut secara marfu’, di dalamnya disebutkan :

فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فاعلاً فليقُل : اللَّهُمَّ أَحْيني ما كَانَت الْحياةُ خَيراً لِي وتوفَّني إِذَا كَانَتِ الْوفاَةُ خَيْراً لِي

“Kalau dia terpaksa harus melakukan hal tersebut (mengharapkan kematian), hendaklah dia berdoa: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.’” Hadis shahih, sebagaimana telah di-takhrij dalam kitab Irwaa-ul Ghalil (no. 683).

Jika orang yang sakit itu mempunyai beberapa kewajiban yang harus dibayarkan, hendaklah ia segera menunaikan kepada yang berhak, jika memang dia tidak merasa kesulitan untuk melakukannya. Jika tidak demikian, hendaklah dia berwasiat mengenai kewajibannya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Barangsiapa yang pernah mendzlimi saudaranya, baik terhadap kehormatan maupun hartanya, hendaklah dia meminta untuk dihalalkan sekarang, sebelum tiba hari Kiamat , ketika dinar dan dirham tidak lagi diterima. Jika dia memiliki amal shalih, maka amal itu akan diambil sesuai besar kedzalimannya dan diberikan kepada yang berhak. Jika dia tidak memiliki amal shaleh maka dosa-dosa orang yang didzalimi akan diambil dan dibebankan kepadanya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Siapa yang meninggal dunia sementara dia masih menaggung hutang maka (sadari) di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham, melainkan kebaikan dan keburukan.” (HR. Hakim,  Abu Dawud, At-Thabarani, dan dishahihkan al-Albani)

Keharusan untuk segera merealisasikan wasiat bagi orang yang sakit. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

ما حق امرئ مسلم له شيء يريد أن يوصي فيه يبيت ليلتين إلا ووصيته مكتوبة عنده

“Tidaklah benar bagi seorang Muslim yang masih bertahan hidup dua malam, sementara dia mempunyai sesuatu yang hendak dia wasiatkan, melainkan wasiatnya sudah tertulis dekat kepalanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammemerintakan untuk  berobat dan berupaya mencari kesembuhan serta tidak berputus asa dari kesembuhan atas suatu penyakit.Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda :

لكل داء دواء فإذا أصيب دواء الداء برأ بإذن الله عز و جل

“Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barang sipa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah ‘azza wa  jalla dia akan sembuh.” (HR. Muslim, Ibn Hiban, dan Hakim)

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda :

ما أنزل الله داء إلا أنزل له دواء

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan obat untuknya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani)

Saudariku hayatilah hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut, semoga menjadi penghibur bagi engkau yang sedang sakit.

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radiyallahu’anhuma, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah seorang muslim ditertimpa kepayahan, penyakit, keguncangan, kedukaan, maupun kesulitan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapukan kesalahan-kesalahannya.” ( Mutatafaq’alaih)

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku pernah masuk ketempat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau tengah menderita sakit panas, lalu aku bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar menderita sakit panas yang sangat tinggi.” Beliau menjawab:

“Benar,  sesungguhnya aku menderita sakit panas seperti yang dirasakan oleh dua orang ( dilipatkan dua kali)  diantara kalian.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: Itu berarti engkau mendapatkan dua pahala ? Beliau menjawab : “Benar, seperti itulah kiranya.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang muslim tertimpa oleh suatu yang tidak menyenangkan, sakit atau yang lainnya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Dan dosanya akan berguguran sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka akan ditimpakan cobaan padanya.” ( HR. Al-Bukhari )

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallamI bersabda:

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya pahala tergtantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala jika mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka. Barang siapa yang ridha maka dia akan memperoleh keridhaan-Nya dan barangsiapa yang murka maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.”  (HR. At-Tirmidzi, dia mengatakan; Hadis ini Hasan)

Demikian yang bisa kami haturkan, semoga Allah ta’ala memberi kesembuhan kepada saudari yang sedang sakit, memberikan kesabaran kepada mereka dan menghapuskan  dosa-dosa mereka.

Referensi : Sabarlah Dikala Musibah Sakit















Dalil Tentang Sakit Bisa Jadi Penggugur Dosa

Ilustrasi gambar : Dalil Tentang Sakit Bisa Jadi Penggugur Dosa

Dalil Tentang Sakit Bisa Jadi Penggugur Dosa.  "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya". (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641). "Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya". (HR. Muslim no. 2573).

"Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya". (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, disahihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya". (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jamiis Shoghirno.1870).

Kiranya 5 dalil di atas dapat memperkuat penjelasan bahwa Sakit yang kita hadapi adalah penggugur dosa, namun perlu diingat bahwa tetap ada syarat agar sakit itu benar-benar menjadi penggugur dosa. Syaratnya adalah: ikhlas dan konsisten beribadah.

Mungkin kita pernah saksikan si rumah sakit bahwa ada beberapa orang pasien yang menggunakan kursi roda tetap berupaya menunaikan salat berjemaah di masjid seperti yang lainnya. Seolah SAKIT yang diderita tidak menjadi penghalang baginya. Ia tetap konsisten beribadah dan semoga di hatinya tumbuh rasa keikhlasan.

Sahabat sekalian, iblis laknatuLLah itu sangat tidak menyukai jika kita sebagai manusia dekat dengan Allah Ta'ala dan mendapatkan berbagai kemurahan dari Allah Ta'ala, sehingga berbagai cara ia lakukan agar penggugur dosa yang sedang kita jalani di dunia tidak menimbulkan efek kebaikan bagi kita, melainkan hanya derita sakit yang ada.

Iblis meniupkan sebuah rasa dalam hati kita untuk tidak menerima sakit yang kita derita melalui berbagai macam media, misal seseorang yang berkunjung dan berkata-kata yang melemahkan mental sehingga membuat kita tidak menerima keadaan. Sepertinya selalu ada saja orang uang seperti ini dalam kehidupan. Atau dengan media lainnya, karena iblis akan berupaya dengan berbagai macam cara agar kita tidak ikhlas.

Selanjutnya, iblis menawarkan beberapa rukhsoh SAKIT dalam hati kita, sehingga hati kita membenarkan bahwa meninggalkan ibadah ketika sakit merupakan RUKHSOH (kemudahan) yang diperbolehkan oleh Allah Ta'ala. Padahal Allah Ta'ala telah menetapkan kemudahan bagi seseorang untuk beribadah ketika sakit, melalui berbagai macam cara yang tidak memberatkan. Ingat tetap menjalankan ibadah dengan cara yang tidak memberatkan bukan meninggalkan ibadah.

Sehingga, hasilnya dapat kita lihat bersama, banyak saudara-saudara kita yang terbuai untuk meninggalkan salat yang didukung oleh pengunjung atau yang menemani kita yang sedang sakit dengan mengatakan "Allah Ta'ala MAHA MENGETAHUI bahwa kamu sedang SAKIT, tidak apa asal jangan keterusan". Saya hanya menyatakan seyogyanya si pengunjung dan yang menemani orang sakit itu memotivasi ibadah karena kita tidak pernah tau, mungkin ajalnya telah dekat dipembaringan.

Tidakkah mengerikan ketika kita mengatakan hal demikian yang membuat saudara kita yang sedang sakit lalai dalam ibadah, kita dicap oleh Allah Ta'ala sebagai orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari ketaatan kepada Allah Ta'ala. Naudzubillah.

Maka 2 nasihat yang harus kita sampaikan ketika kita menjenguk seseorang yang sakit, agar kita dapat menjadi jalan kebaikan bagi seseorang yang sedang Allah Ta'ala kehendaki untuk mendapatkan kebaikan berupa pengguguran dosa adalah ikhlaskan hati bahwa semua kehendak Allah Ta'ala dan tetaplah konsisten dalam beribadah, sesungguhnya ada kebaikan di hadapan kita ketika kita mampu melalui derita sakit ini, yaitu: penggugur dosa, di mana kelak penggugur dosa inilah yang akan diharapkan oleh semua jiwa ketika di yaumul hisab. Jangan sia-siakan hanya karena bisikan iblis yang tidak rida atas diri kita.

Referensi : Dalil Tentang Sakit Bisa Jadi Penggugur Dosa





Dalil Pelipur Lara tentang Sakit Penggugur Dosa

Ilustrasi : Dalil Pelipur Lara tentang Sakit Penggugur Dosa

Sahabat yang semoga dirahmati Allah Swt,  insya Allah pada kesempatan ini, saya ingin mengulas bahwa sakit yang diterima oleh seorang Musli/Islam yang Beriman lagi bertakwa adalah Pengugur Dosa. Saya coba berikan beberapa dalil penguat:

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya". (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641).

"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya". (HR. Muslim no. 2573).

"Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya". (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, disahihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya". (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jamiis Shoghirno.1870).

Kiranya 5 dalil di atas dapat memperkuat penjelasan bahwa SAKIT yang kita hadapi adalah penggugur dosa, namun perlu diingat bahwa tetap ada syarat agar sakit itu benar-benar menjadi penggugur dosa. Syaratnya adalah: ikhlas dan konsisten beribadah.

Mungkin kita pernah saksikan si rumah sakit bahwa ada beberapa orang pasien yang menggunakan kursi roda tetap berupaya menunaikan salat berjemaah di masjid seperti yang lainnya. Seolah SAKIT yang diderita tidak menjadi penghalang baginya. Ia tetap konsisten beribadah dan semoga di hatinya tumbuh rasa keikhlasan.

Sahabat sekalian, iblis laknatuLLah itu sangat tidak menyukai jika kita sebagai manusia dekat dengan Allah Ta'ala dan mendapatkan berbagai kemurahan dari Allah Ta'ala, sehingga berbagai cara ia lakukan agar penggugur dosa yang sedang kita jalani di dunia tidak menimbulkan efek kebaikan bagi kita, melainkan hanya derita sakit yang ada.

Iblis meniupkan sebuah rasa dalam hati kita untuk tidak menerima sakit yang kita derita melalui berbagai macam media, misal seseorang yang berkunjung dan berkata-kata yang melemahkan mental sehingga membuat kita tidak menerima keadaan. Sepertinya selalu ada saja orang uang seperti ini dalam kehidupan. Atau dengan media lainnya, karena iblis akan berupaya dengan berbagai macam cara agar kita tidak ikhlas.  Selanjutnya, iblis menawarkan beberapa rukhsoh SAKIT dalam hati kita, sehingga hati kita membenarkan bahwa meninggalkan ibadah ketika sakit merupakan RUKHSOH (kemudahan) yang diperbolehkan oleh Allah Ta'ala. Padahal Allah Ta'ala telah menetapkan kemudahan bagi seseorang untuk beribadah ketika sakit, melalui berbagai macam cara yang tidak memberatkan. Ingat tetap menjalankan ibadah dengan cara yang tidak memberatkan bukan meninggalkan ibadah.

Sehingga, hasilnya dapat kita lihat bersama, banyak saudara-saudara kita yang terbuai untuk meninggalkan salat yang didukung oleh pengunjung atau yang menemani kita yang sedang sakit dengan mengatakan "Allah Ta'ala MAHA MENGETAHUI bahwa kamu sedang SAKIT, tidak apa asal jangan keterusan". Saya hanya menyatakan seyogyanya si pengunjung dan yang menemani orang sakit itu memotivasi ibadah karena kita tidak pernah tau, mungkin ajalnya telah dekat dipembaringan.

Tidak kah mengerikan ketika kita mengatakan hal demikian yang membuat saudara kita yang sedang sakit lalai dalam ibadah, kita dicap oleh Allah Ta'ala sebagai orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari ketaatan kepada Allah Ta'ala. Naudzubillah.

Maka 2 nasihat yang harus kita sampaikan ketika kita menjenguk seseorang yang sakit, agar kita dapat menjadi jalan kebaikan bagi seseorang yang sedang Allah Ta'ala kehendaki untuk mendapatkan kebaikan berupa pengguguran dosa adalah ikhlaskan hati bahwa semua kehendak Allah Ta'ala dan tetaplah konsisten dalam beribadah, sesungguhnya ada kebaikan di hadapan kita ketika kita mampu melalui derita sakit ini, yaitu: penggugur dosa, di mana kelak penggugur dosa inilah yang akan diharapkan oleh semua jiwa ketika di yaumul hisab. Jangan sia-siakan hanya karena bisikan iblis yang tidak rida atas diri kita.

Referensi : Dalil Pelipur Lara tentang Sakit Penggugur Dosa














berupa penyakit, kesusahan, kesedihan, kepayahan, musibah, bencana, ketakutan, dan kegelisahan, semuanya itu menjadi penghapus bagi dosa

Ilustrasi gambar ceramah Ustadz Khalid Basalamah : Sesungguhnya apa yang menimpa seorang muslim berupa penyakit, kesusahan, kesedihan, kepayahan, musibah, bencana, ketakutan, dan kegelisahan, semuanya itu menjadi penghapus bagi dosa-dosanya dan penebus kesalahan-kesalahannya

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Bukhari & Muslim). 

Sebagian kita mungkin masih sering berkeluh kesah saat tertimpa musibah. Padahal, dalam setiap musibah yang kita alami meski hanya tertusuk duri, Insya Allah akan menghapus catatan keburukan diri apabila kita ikhlas menjalani. Sahabat, mari senantiasa menghadirkan niat dan harap kebaikan dalam setiap cobaan hidup yang kita hadapi, baik kecil maupun besar.


Makna hadis ini: Sesungguhnya apa yang menimpa seorang muslim berupa penyakit, kesusahan, kesedihan, kepayahan, musibah, bencana, ketakutan, dan kegelisahan, semuanya itu menjadi penghapus bagi dosa-dosanya dan penebus kesalahan-kesalahannya. Apabila manusia menambah hal itu dengan kesabaran dan harapan pahala maka akan diberikan baginya pahala. Respon seorang muslim terhadap musibah ada dua cara: - Bila manusia ditimpa musibah lalu ia mengingat pahala dan mengharap pahala tersebut dari Allah, maka ia akan mendapat dua faedah; penghapus dosa dan tambahan pahala. 


Bila manusia ditimpa musibah lalu lalai akan hal di atas, dadanya sesak, galau dan sebagainya hingga lupa akan niat mengharap pahala dan ganjaran dari Allah agar menjadi penebus, maka musibah itu hanya menjadi penghapus dosanya. Jadi, bagaimana pun dia tetap beruntung. Bisa jadi dia beruntung dengan penghapusan kesalahan dan dosa tanpa mendapatkan pahala karena dia tidak meniatkan apa pun, tidak bersabar dan tidak menginginkan pahala dari Allah; dan bisa jadi juga dia mendapatkan keduanya, yaitu penghapusan dosa, dan mendapatkan pahala dari Allah Swt sebagaimana disebutkan di atas. Oleh karena itu, seyogyanya bila manusia ditimpa duri maka ingatlah akan harapan pahala dari Allah atas musibah ini agar diberi pahala dan dihapuskan dosa-dosanya. Ini adalah nikmat dari Allah Swt dan kedermawanan serta karunia-Nya; karena Dia menguji seorang mukmin lalu memberinya pahala atau menghapus dosa dan kesalahannya dengan sebab ujian itu. Catatan: Penghapusan dosa ini hanya untuk dosa-dosa kecil, sedang dosa-dosa besar tak terhapuskan kecuali dengan tobat naṣūḥā.


Faedah

  1. Di dalamnya terkandung pelajaran bahwa penyakit dan bentuk ujian-ujian lainnya yang menimpa seorang mukmin akan membersihkannya dari dosa dan kesalahan walaupun ujian tersebut sedikit. 
  2. Di dalamnya terdapat kabar gembira yang besar bagi kaum muslimin karena tidak ada seorang muslim pun kecuali dia akan diuji dengan musibah-musibah ini. 
  3. Adanya pengangkatan derajat dan penambahan kebaikan dengan sebab perkara-perkara ini. 
  4. Pengampunan dosa terbatas hanya pada sebagiannya, yaitu dosa-dosa yang kecil. Adapun dosa-dosa yang besar maka harus dengan melakukan tobat. 
Referensi : Sesungguhnya apa yang menimpa seorang muslim berupa penyakit, kesusahan, kesedihan, kepayahan, musibah, bencana, ketakutan, dan kegelisahan, semuanya itu menjadi penghapus bagi dosa-dosanya dan penebus kesalahan-kesalahannya