Kata muṣībah dalam al-Quran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif, sekalipun terdapat beberapa ayat yang mengaitkan dengan sesuatu yang negatif. Tetapi dalam bahasa Indonesia kata musibah selalu diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Kata musibah dalam bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia. Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial.
Dalam istilah al-Quran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (23) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri [Q.S. al-Ḥadīd (57): 22-23].
Istilah musibah yang dapat mencakup kebaikan dan keburukan juga disebutkan dalam hadis berikut ini:
Dari Shuhaib, ia berkata. Rasulullah Saw. bersabda: Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Jika ia dianugerahi nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar maka itu juga baik baginya [HR. Muslim].
Pada firman-Nya yang lain, Allah menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri. Allah menegaskan:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi [Q.S. al-Nisā (4): 79].
Berdasarkan penjelasan di atas, maka al-Quran juga secara jelas dan sempurna menguraikan bahwa tidak semua musibah adalah bencana.
Musibah yang disebut bencana dan bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan hal itu merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri juga, bukan dari Allah, meskipun secara kasat mata musibah itu terjadi di alam. Sebagaimana firman Allah
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [Q.S. al-Syūrā (40): 30].
Ketika musibah diartikan dengan penilaian yang negatif (mendatangkan keburukan), maka manusia dianjurkan untuk memaknainya dengan mengembali-kan “esensi” peristiwanya kepada Allah. Dengan demikian, dalam konteks ini, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik tersebut. Allah menyatakan”
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Q.S. al-Baqarah (2): 156].
Dengan memahami arti kata musibah seperti itu, maka musibah yang bernilai negatif merupakan salah satu cobaan dan ujian yang berupa keburukan. Dalam al-Quran cobaan dan ujian tersebut disebut dengan istilah balā’ sebagaimana firman Allah,
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar [Q.S. al-Baqarah (2): 155].
Allah SWT menjanjikan keutamaan besar atas mereka yang bersabar dalam ujian. Dalam suatu hadits, Nabi SAW menegaskan seorang Muslim tidak akan senantiasa dalam kondisi merugi dalam situasi apa pun. Sebab, keimananya akan menjadikannya sebagai seorang hamba yang bersyukur, ketika mendapatkan kemudahan dan juga bersabar ketika mendapatkan kesulitan dalam hidupnya.
Dari Shuhaib, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bersabda: "Perkara orang mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin; bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya, dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Bukhari Muslim).
Isnan Ansory dalam bukunya Fiqih Menghadapi Wabah Penyakit mengatakan, Allah SWT juga menjanjikan keutamaan yang besar atas mereka yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala ujian (bala) dari Allah SWT. Keutamaan itu, sebagai berikut.
Mengangkat derajat dan menghapus dosa
Hal ini sesuai hadits Rasulullah SAW, Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya.” (HR. Tirmizi).
Tanda kebaikan dari Allah
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmizi).
Mati syahid
"Mati karena menderita tho'un adalah syahid bagi setiap Muslim.” (HR. Bukhari Muslim)
"Meninggal karena sakit perut adalah syahid, dan (meninggal) karena tho'un juga syahid.” (HR. Bukhari)
“Tidaklah seseorang yang berada di wilayah yang terjangkit tho'un, kemudian ia tetap tinggal di negerinya dan selalu bersabar, ia mengetahui penyakit tersebut tidak akan mengjangkitinya kecuali apa yang Allah tetapkan kepadanya, maka baginya seperti pahalanya orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari).
Pahala tidak terbatas
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10).
Musibah hadir membawa pesan sebagai ujian dan hukuman agar manusia ingat pada Allah Swt dan kembali pada-Nya. Mungkin manusia sudah terlampau jauh dari-Nya sehingga Allah cemburu ingin manusia mendekati-Nya (QS 42:30). Perhatikanlah hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barang siapa yang ridha, Allah akan meridhainya. Dan barang siapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya.” (HR at-Tirmidzi).
Sikap seorang hamba dalam menghadapi musibah adalah sebuah indikasi apakah musibah itu suatu ujian atau hukuman. Apabila dia ridha, maka Allah Ta’ala akan ridha kepadanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani Rahimahullah berkata, “Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan.
Tanda bala (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya ridha, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut.” (At Tabaqatul Kubra as-Sya’rani, hal.193).
Ujian yang disegerakan di dunia juga menjadi tanda kebaikan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR Tirmidzi).
Kemudian yang lebih utama dan lebih penting dari itu semua, hendaknya seorang hamba senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT dalam setiap kondisi, saat mendapat anugerah ataupun musibah. Allah berfirman, dalam hadis Qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.” (HR Bukhari).
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bermuhasabah saat ditimpa musibah, sehingga semakin menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Mari kita renungkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini, “Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah.” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal.227).
Referensi : Musibah hadir membawa pesan sebagai ujian maupun hukuman agar manusia ingat pada Allah Swt
Musibah Membawa Kebaikan Dengan Kesabaran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah padanya (mengujinya).”
(HR. Al Bukhari, no. 5645).
Faedah Hadist
Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;
1. Musibah itu mendatangkan kebaikan, jika seorang muslim menghadapi musibah itu dengan sabar, dan ini adalah tanda kebaikan baginya berupa mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura/42: 30).
2. Seorang mukmin itu tidak akan lepas dari musibah, kekurangan, penyakit dan gangguan manusia, semua ini akan menjadikannnya insan yang lebih baik bila ia menghadapinya dengan tuntunan syariat yang mulia (kesabaran serta rida terhadap takdir Allah Ta’ala).
3. Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita serta hatinya akan semakin tertaut dan menghamba pada Allah Yang Maha Kuasa.
4. Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia secara garis besar tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa merenung betapa mahalnya nikmat keselamatan dan afiat yang selama ini ia terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Musibah itu dapat memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya. Misalnya saja ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah Ta’ala. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berhasil mendapatkan kecintaan-Nya.
Dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“. . . Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, no. 2320 dan lainnya, dengan sanad hasan).
Referensi : Musibah Membawa Kebaikan Dengan Kesabaran
“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)
Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A’masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha’ dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)
Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka (dengan sedikit peringkasan dari Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:
Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha’ dan qadar dari Allah ta’ala.
Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan iman.
Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan ((I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/140] software Maktabah asy-Syamilah)
Kedudukan Sabar dan Pengertiannya
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan,
“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah)
Walaupun secara sanad atsar ini dinilai lemah, namun secara makna bisa diterima. Hal itu dikarenakan cakupan sabar yang demikian luas dalam agama Islam. Ia mencakup sikap seorang hamba dalam menghadapi berbagai perintah dan larangan serta berbagai keadaan yang dialami manusia di dalam kehidupan, di saat senang maupun susah. Untuk itu, marilah kita cermati pengertian sabar ini agar jelas bagi kita bahwa hidup tanpa kesabaran pada akhirnya akan menyeret manusia dalam jurang kekafiran.
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,
الصبر لغة: الحبْس، قال الله تعالى لنبيه: {وَاصْبرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ} أي: احبسها مع هؤلاء. وأما في الشرع فالصبر هو: حبس النفس على طاعة الله سبحانه وتعالى وترك معصيته. وذكر العلماء: أن الصبر له ثلاثة أنواع: صبرٌ على طاعة الله، وصبرٌ عن محارم الله، وصبرٌ على أقدار الله المؤلِمة
“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah, dan sabar saat menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)
Ketika kesabaran lenyap
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekafiran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayit.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
an-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud hadits ini adalah kedua perbuatan ini tergolong perbuatan orang-orang kafir (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim [2/57] software Maktabah asy-Syamilah). Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menerangkan bahwa hadits ini mencakup dua makna. Yang pertama yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat -tidak sampai mengeluarkan dari agama, pent- sedangkan yang kedua yang dimaksud adalah keduanya digolongkan sebagai perbuatan orang-orang kafir (Kaysf al-Musykil min Hadits Shahihain [1/1025] software Maktabah asy-Syamilah).
Di antara pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah:
Diharamkannya mencaci maka nasab/garis keturunan dan meratapi mayit.
Isyarat yang menunjukkan bahwasanya kedua perbuatan ini akan tetap muncul di dalam umat ini.
Bisa jadi di dalam diri seseorang terdapat sifat atau ciri kekafiran namun dia tidak bisa dicap sebagai orang kafir -semata-mata karena hal itu-
Islam melarang segala sesuatu yang mengarah kepada perpecahan (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi, hal. 272)
Hikmah di balik derita
Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,
“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 155-157)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275)
Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:
Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan diri-Nya.
Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh Allah ta’ala.
Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang diharamkan.
Semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal ‘iyadzu billah.
Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau Allah menyukai hal itu untuknya (diambil dari al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275 dengan sedikit tambahan keterangan dan contoh)
Manusia pada umumnya tidak suka bahkan menghindar agar tidak terkena musibah. Padahal musibah itu tidak selalu buruk bagi yang menerimanya. Ust.H.Syahroni Murdani, Lc saat memberikan kajian ba’da Duhur di Masjid Daaruttaqwa, Wisma Antara, Jakarta menguraikan perlunya menumbuhkan sikap berpikir positif dan selalu berhusnudh-dhon (berprasangka baik), karena kadang subuah musibah itu membawa berkah. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang akan dikehendaki baik oleh Allah, maka akan diberikan musibah (ujian). (HR Bukhari).
Bagian dari musibah adalah sakit. Orang yang sakit selain menjadi pelajaran bagi dirinya juga sebagai penghapus dosa. Dari Abu Said berkata, aku pernah bersama Salman mengunjungi seseorang yang sakit di daerah Kindah. Saat masuk, Salman berkata, “Bergembiralah, karena seorang mukmin itu jika sakit, maka itu akan menjadi penghapus dosa dan pelajaran baginya. Sedangkan orang yang fajir (jahat), jika sakit bagaikan seekor unta yang diikat oleh pemiliknya lalu mereka melepaskannya, lalu tidak tahu mengapa diikat dan mengapa dilepas. (Hadits Riwayat Bukhari).
Harus diakui, manusia tempatnya salah dan dosa. Selama kondisinya sehat, seringkali manusia lupa diri dengan membuat salah, dosa, dan perbuatan maksiat lainnya. Tapi tidak demikian pada saat tubuhnya sakit.
Demikian pula musibah berupa penyakit, bisa menjadi penyebab diangkatnya derajat dan kedudukannya. Dari Ibrahim As Sulami dari ayahnya dari kakeknya berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya jika seorang hamba telah ditetapkan akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT dan dia tidak mencapainya dengan amal solehnya, maka Allah akan memberinya ujian (musibah), berupa penyakit di tubuhnya, musibah pada hartannya, dan juga keluarganya. Kemudian dia besabar atas semua ujian itu sehingga akhirnya dia dapat mencapai kedudukan mulia yang telah Allah tentukan untuknya.” (HR Baihaqi).
Bagi orang sakit, hendaknya dia bersabar, jangan ngedumel dan mencela penyakitnya. Nabi Muhammad memperingatkan, “Tahanlah, janganlah engkau mencaci penyakitmu. Karena penyakit ini akan menghapuskan dosa dosa orang mukmin sebagaimana alat peniup besi menghilangkan karat pada besi.” (HR Bukhari).
Dengan penampilan yang keren, harta berlimpah, dan jabatan yang disandangnya membuat seseorang mempunyai sikap takabur alias sombong. Dalam kondisi SAKIT menurut Syahroni, MEMBUAT SESEORANG MENJADI TIDAK SOMBONG, MEMBUATNYA TAK BANYAK BERBICARA, APALAGI BERBICARA YANG BURUK.
KONDISI SAKIT MEMBUAT SESEORANG MENJADI INGAT AKAN MATI. SEDIKIT TERTAWA DAN BANYAK MENANGIS. KONDISI SAKIT KADANG-KADANG MEMBUAT ORANG JADI BERTAMBAH ILMUNYA, TERUTAMA TERKAIT DENGAN PENYAKIT YANG DIDERITA. JADI TAHU CARA BERURUSAN DENGAN RUMAH SAKIT DAN ILMU ILMU YANG LAIN.
Ketika sakit, seseorang merasa dekat dengan Allah. Banyak beribadah dan mengingat kebesaran Allah. SAKIT ITU ZIKRULLOH, SAAT SAKIT BANYAK BERZIKIR, ISTIGHFAR, BERDOA DAN BERMUNAJAT. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang“. (AL Anbiya 21 : 83 – 84)
Allah menyuruh hamba-Nya banyak berdoa, lebih-lebih pada saat kondisinya sakit. Ubaidillah bin Abu Solih bercerita, Towus menjenguk pada saat aku sedang sakit. Aku katakan padanya, “Doakan aku wahai Abu Abdurrahman”. Maka Towus berkata, “Berdoalah untuk dirimu sendiri karena Allah mengabulkan doa orang yang sedang dalam kondisi kesulitan (sakit) saat dia berdoa”. (Riwayat Ibnu Abi Hatim).
SAAT SEDANG SAKIT, BIASANYA SESEORANG ITU AKAN BANYAK DIDOAKAN OLEH ORANG LAIN
اللهاللهم رب الناس أذهب البأس واشف أنت
الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما
Tatkala mengetahui tetanga atau temannya sakit, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menjenguknya. Saat menjenguk orang sakit, jangan lupa untuk mendoakan agar penyakitnya segera sembuh. Inilah doa yang biasa dipanjatkan Nabi Muhammad saat menjenguk orang sakit. “Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah sakitnya, sembuhkanlah. Engkau Maha Pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun”. (Muttafaq Alaih)
لا بأس طهور إن شاء الله“
Doa lainnya yang singkat tapi padat, “Tidak ada apa-apa, pembersih dosa, Insya Allah”. (HR Bukhari).
Silaturrahim biasanya dilakukan saat hari raya atau momen penting lainnya. Ternyata SAKIT ITU juga bisa dijadikan sebagai ajang SILATURAHIM. SAAT SEDANG SAKIT, BIASANYA BANYAK YANG BERKUNJUNG. KONDISI SAKIT MENGUMPULKAN KELUARGA YANG BERJAUHAN.
Mengjenguk orang sakit bukanlah perbuatan yang sia-sia. Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim itu, jika menjenguk saudaranya pada pagi hari, maka 70 ribu malaikat akan mendoakan dia sampai sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, maka akan ada 70 ribu malaikat yang mendo’akan nya hingga pagi hari dan dia berada di terasnya surga”. (HR Turmudzi)
Menjenguk orang sakit selain menyenangkan hatinya juga saat yang tepat untuk memberikan nasehat agar dia selalu melaksanakan perintah Allah. Dari Anas bin Malik ra bercerita, ada seorang anak kecil Yahudi yang biasa membantu Nabi saw, suatu hari jatuh sakit. Maka, Nabi datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepala anak ini sambil berkata, “Masuklah kamu ke dalam agama Islam”. Maka anak ini memandang ke arah ayahnya yang ada di dekatnya. Maka, ayahnya berkata, “Taatilah Abul Qasim (Rasulullah saw).” Maka anak ini akhirnya masuk Islam. Kemudian Rasulullah keluar dan bersabda, “Alhamdulllah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka”. (HR Bukhari)
Saat seseorang sedang sakit, tidak menghentikan pahala ibadah yang biasa dilakukan saat masih sehat. Nabi saw bersabda, “Jika seorang hamba sedang sakit atau sedang musafir, maka akan tetap dicatatkan baginya pahala dari perbuatan baik yang biasa dia lakukan dalam kondisi sehat dan tidak musafir. (HR Bukhari)
Referensi : Kondisi Sakit Terkadang Membawa Kebaikan Jauh dari Maksit dan Dosa dan Penghapus Dosa
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ»
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Dia ciptakan’, maka ia tidak tertimpa musibah tersebut.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan)
Kandungan hadits secara global:
Hendaknya bagi seseorang yang melihat orang lain yang tertimpa musibah baik dari segi agamanya berupa kebid’ahan maupun yang lainnya atau dari segi dunianya berupa penyakit atau yang lainnya, dia mengucapkan,
Barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, dirinya tidak akan tertimpa musibah yang ia lihat.
Faidah: Sepatutnya doa ini diucapkan secara pelan, sehingga yang mendengar hanyalah dirinya, orang yang tertimpa musibah tersebut tidak mendengarnya, supaya tidak menyakiti hati orang yang tertimpa musibah, kecuali musibah tersebut berupa kemaksiatan, maka tidak mengapa mepperdengarkan doa tersebut, sebagai bentuk peringatan baginya jika hal tersebut sekiranya tidak menimbulkan kemudharatan (bahaya).
Hikmah yang dapat diambil dari hadits:
Disunnahkanya berdoa dengan doa yang termaktub ketika melihat orang yang tertimpa musibah;
Barangsiapa yang melihat orang tertimpa musibah lalu ia berdoa dengan doa tersebut Ia tidak tertimpa musibah yang sama;
Agungnya keutamaan doa tersebut di dalam hadits;
Semangat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam memerhatikan keselamatan umatnya dari berbagai macam penyakit;
Agungnya kecintaan para sahabat kepada baginda Nabi yang dibuktikan dengan nukilan mereka yang menyeluruh mengenai perkataan maupun perbuatan baginda Nabi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan untuknya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5213)
Faedah Hadits:
Penetapan adanya sifat “Iradah” (Kuasa) bagi Allah yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya;
Penjelasan bahwa salah satu cara Allah menghendaki kebaikan kepada salah satu hamba-Nya adalah dengan memberikan cobaan kepadanya agar dia kembali dan ingat kepada Allah, dan Allah akan memberikan pahala dan kemuliaan jika hamba tersebut bersabar;
Cobaan dan ujian yang dialami seorang merupakan tanda kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Maka hendaknya dia menghadapinya dengan kesabaran dan selalu berperasangka baik kepada Allah;
Banyaknya kebaikan dalam cobaan dan ujian yang Allah berikan kepada hamba, di antaranya: sebagai pengingat dari kelalaian, penghapus dosa, penambah derajat di sisi Allah, penambah pahala kesabaran, pengingat akan banyaknya nikmat dan anugerah, pendorong untuk bertaubat dan berdoa kepada Allah dan pendorong untuk bersyukur atas segala nikmat dan sebagainya);
Isyarat bahwa segala ketetapan Allah itu tidak kosong dari hikmah dan semua perbuatan-Nya itu selalu membawa kebaikan bagi hamba sekalipun dalam bentuk sesuatu yang tidak disukai oleh hamba.
Referensi : Cobaan dan Ujian Dari Allah Swt Adalah Sebuah Pertanda Baik
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia akan menyegerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan untuk hamba-Nya maka Dia akan menahan darinya hukuman karena dosanya sehingga kelak di akhirat Dia akan menyempurnakan hukuman untuknya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2319 dengan sanad yang hasan)
Faedah Hadits: Penetapan adanya sifat “Iradah” (Kuasa) bagi Allah yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya;
Salah satu tanda Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya adalah dengan memberikan musibah dan ujian kepadanya sebagai hukuman atas dosa dan maksiat yang dia lakukan;
Dan salah satu tanda Allah menghendaki kejelekan kepada hamba-Nya adalah dengan membiarkan hamba tersebut terus dalam kemaksiatan tanpa teguran dan peringatan dari-Nya berupa musibah dan cobaan;
Dosa dan maksiat merupakan sebab turunnya musibah dan cobaan maka hadapilah dengan sabar, syukur, taubat dan memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada Allah.
“Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa dan tidak diangkat melainkan dengan taubat.”
Musibah dan cobaan yang dialami seorang mukmin merupakan tanda kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Maka hendaknya dia menghadapinya dengan kesabaran dan selalu berperasangka baik kepada Allah;
Salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman dimana Allah ketika sudah memberikan hukuman atas dosa yang dilakukan hamba-Nya tersebut maka Dia tidak akan mengulangi hukuman untuk kedua kalinya di akhirat;
Hukuman Allah yang diberikan kepada hamba-Nya itu ada dua; hukuman yang Allah segerakan di dunia dan hukuman yang Allah simpan untuk diberikan di akhirat;
Hukuman yang Allah berikan kepada hamba-Nya di dunia atas dosa dan kemaksiatan yang dilakukan hamba itu lebih ringan daripada hukuman dan siksaan yang akan Allah berikan kepadanya kelak di akhirat. Maka bersyukurlah atas kasih sayang dan nikmat Allah ini;
Isyarat bahwa segala ketetapan Allah itu tidak kosong dari hikmah dan semua perbuatan-Nya itu selalu membawa kebaikan bagi hamba sekalipun dalam bentuk sesuatu yang tidak disukai oleh hamba.
Referensi : Allah Swt Menghendaki Kebaikan Untukmu
Musibah yang Menimpa Seorang Hamba (Inilah Jawaban Buya Yahya). Masih hangat terdengar berita seputar bencana yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. bahkan ternyata bencana tersebut telah menunjukkan sisi lain dari penduduk Indonesia berupa rasa kepedulian terhadap sesama. Terlihat dari aksi galang dana bagi korban terdampak dan doa-doa yang mengalir deras dari masyarakat untuk seluruh korban erupsi Gunung Semeru, menjadi wujud kasih sayang yang selama ini mungkin tidak pernah terucap. Berbicara tentang kasih sayang, bencana erupsi yang melanda Gunung Semeru memang meninggalkan luka yang teramat pedih. Terutama bagi keluarga yang ditinggalkan oleh para korban. Tentu saja ini adalah duka cita seluruh negeri, duka Ibu pertiwi.
Namun, dibalik itu semua ada hikmah yang bisa diambil atau diketahui agar menjadikan diri lebih baik lagi di masa mendatang serta hikmah yang diambil bisa menjadikan diri semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Buya Yahya menyampaikan bahwa alasan seorang hamba yang beriman tertimpa musibah adalah karena Allah ingin mengampuni dosa hambaNya. Karena beliau juga mengatakan bahwa dosa orang yang beriman itu memiliki tiga cara untuk diampuni.
Pertama, dosa seorang akan diampuni secara cuma-Cuma. Kedua, dosa seorang hamba akan diampuni ketika meminta ampunan atau permohonan kepada Allah. Ketiga, Allah akan merubah menjadi bentuk hukuman. Tujuan Allah memberikan musibah kepada seorang hamba adalah karena Allah ingin menghapus dosa-dosa hambaNya.
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia akan menyegerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan untuk hamba-Nya maka Dia akan menahan darinya hukuman karena dosanya sehingga kelak di akhirat Dia akan menyempurnakan hukuman untuknya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2319 dengan sanad yang hasan)an kepada hambaNya. Pertama hukuman yang allah berikan di dunia. Seorang mukmin yang dihukum oleh Allah di dunia karena allah tidak ingin hambaNya tersebut menerima hukuman di akhirat nanti.
Namun jika orang yang beriman ini belum diampuni oleh allah, kemudian dia juga tidak meminta ampunan Allah, hidupnya di dunia bisa bahagia dan nyaman, ada cara pengampunan yang bisa Allah berikan padanya, yaitu nanti ketika dia sudah meninggal akan disiksa oleh Allah tapi setelah itu dia akan masuk surga. Bahkan Buya Yahya juga mengatakan “Kalau allah sudah mencintai suatu kaum akan diangkat derajatnya dengan bencana dikasih bencana karena allah sayang.”
Referensi : Musibah yang Menimpa Seorang Hamba (Inilah Jawaban Buya Yahya)
Bisa menghapus Dosa, 3 Hal Penyebab Sakit dan Musibah dalam Hidup Seseorang, (Lakukan Ini Kata Buya Yahya). Siapapun, pasti pernah merasakan sakit atau musibah dalam hidup. Jangan risau dan putus asa, bersabarlah jika satu hari mendapatkan ujian sakit atau musibah dalam hidup.
Buya Yahya menjelaskan, penyebab seseorang mendapatkan hal itu salah satunya adalah untuk dihapuskan dosa. Buya Yahya juga mengatakan, Islam telah mengajarkan untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah.
Menurut Buya Yahya, penyebab seseorang mendapatkan ujian sakit atau musibah ada 3 hal.Jangan risau dan jangan berputus asa, hadapi semua itu dengan ikhlas. "Jika seorang beriman diuji oleh Allah dengan ujian atau dicoba, atau mendapatkan musibah, sakit, atau apapun musibah. Anaknya yang sakit, kerabatnya meninggal. Musibah yang Allah timpakan seorang yang beriman itu adalah satu dari tiga," tutur Buya Yahya.
Pertama, Allah ingin menghapus dosa hamba-Nya. "Allah ingin menghapus dosa hamba tersebut. Allah sayang kepada hamba tersebut. Dilihat banyak dosa, jarang istighfar. Allah timpakan musibah karen Allah ingin membersihkannya (dari dosa)," katanya.
Buya Yahya menegaskan, Allah itu sayang kepada hamba-Nya. Allah tidak ingin menyiksa di akhirat nanti sehingga dihabiskan dosanya di dunia oleh-Nya.
Kedua, Allah ingin mengangkat derajat. Allah ingin mengangkat derajat hamba-Nya.
"Ini ibadahnya sholeh, ibadahnya maasyaAllah. Menjaga dari yang haram, cuma Allah merindukan kalau ini pangkatnya lebih tinggi lagi," papar Buya Yahya seraya menjelaskan, seorang yang beriman dikasih Allah sakit karena Allah ingin mengangkat derajatnya. "Derajat yang tinggi," tegasnya.
Kemudian ketiga, kata Buya Yahya, Allah ingin menyiapkan pahala yang berlipat ganda. Buya Yahya menjelaskan keadaan di akhirat bagi orang-orang yang pernah tertimpa musibah.
"Orang-orang yang pernah tertimpa musibah itu di surga kaget lihat pahalanya," ungkapnya.
Menurut Buya Yahya, mereka tidak menyangka bahwa pahala kesabaran karena terkena musibah adalah pahala yang besar.
Namun dalam kehidupan di dunia sekarang, kata Buya Yahya, tidak boleh meminta hal yang demikian.
"Itu di surga. Sekarang kita tidak boleh minta begitu. Minta yang baik, diberikan sehat. Itu kisahnya di akhirat nanti," pungkasnya.
Referensi : Bisa menghapus Dosa, 3 Hal Penyebab Sakit dan Musibah dalam Hidup Seseorang, (Lakukan Ini Kata Buya Yahya)
Faktor utama penyebab musibah yang menimpa manusia adalah dosa dan kemaksiatan mereka. Ini merupakan perkara yang pasti dalam syari’at yang suci ini. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Alllah Swt :
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [asy-Syûra/42:30].
Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat ini, beliau mengatakan, “Musibah-musibah apa saja yang menimpa kamu wahai Adam, itu hanyalah karena keburukan-keburukan yang telah kamu lakukan. ‘Dan Allâh memaafkan sebagian besar’, dari kesalahan-kesalahan, sehingga Dia tidak membalas kesalahan-kesalahan kamu, bahkan Dia memaafkannya”.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]
Saat menjelaskan ayat, yang artinya,“disebabkan karena perbuatan tangan manusia”, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa kekurangan pada tanaman dan buah-buahan disebabkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan. Abul-‘Aliyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa bermaksiat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, maka ia telah berbuat kerusakan di muka bumi. Karena kemakmuran bumi dan langit adalah dengan ketaatan”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat ar-Rûm/30 ayat 41].
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al-A’râf/7:96].
Dalam ayat ini Allâh memberitakan bahwa penyebab siksa itu adalah perbuatan manusia yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
HIKMAH MUSIBAH
Allah Swt adalah al-Hakîm, Maha Bijaksana. Segala perbuatan-Nya pasti mengandung hikmah, baik kita ketahui secara jelas maupun samar-samar. Seperti halnya dalam masalah musibah pada manusia, Allâh Azza wa Jalla memberitakan di antara himah-hikmah perbuatan-Nya itu. Inilah di antaranya :
Pertama : Sebagai siksa terhadap sebagian manusia dan keutamaan bagi sebagian yang lain.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah tha’un (suatu jenis penyakit menular yang mematikan). Beliau memberitahukan kepadaku, bahwa itu merupakan siksaan yang Allâh kirimkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan Allâh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorangpun yang tertimpa penyakit tha’un, lalu ia tinggal di kotanya dengan sabar, mengharapkan pahala Allâh serta ia mengetahui bahwa ia tidak tertimpa sesuatu kecuali apa yang telah Allâh tulis (takdirkan) baginya, kecuali orang itu akan mendapatkan semisal pahala syahid”. [HR al-Bukhâri, no. 3474].
Kedua : Sebagai balasan kesalahan (kemaksiatan) manusia.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidaklah sepotong kayu melukai seseorang, tergelincirnya telapak kaki, dan terkilirnya urat, kecuali dengan sebab dosa. Dan apa yang Allâh maafkan lebih banyak.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan para sahabatnya dari beberapa kemaksiatan yang menyebabkan bencana. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allâh agar kamu tidak mendapatinya:
Tidaklah perbuatan keji (seperti bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit thâ’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat.
Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah.
Tidaklah mereka menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.
Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allâh dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.
Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allâh turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.
Dari Abu Sa’id al-Khudri dan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit (yang tetap), kekhawatiran (terhadap sesuatu yang kemungkinan akan menyakitinya), kesedihan, gangguan, dan duka-cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allâh akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR al-Bukhâri, no. 5642; Muslim, no. 2572].
Keempat : Agar manusia kembali menuju kebenaran, beribadah kepada Alllah Sw .
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allâh)”. [ar-Rûm/30:41-42].
FAIDAH KEYAKINAN INI
Setelah mengetahui bahwa seluruh musibah yang menimpa manusia, penyebabnya adalah perbuatan manusia itu sendiri, maka keyakinan ini akan membuahkan hal-hal yang baik. Yaitu ketika seseorang atau masyarakat tertimpa musibah, maka mereka akan mawas diri dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya, lalu kembali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Penguasa mereka. Dengan demikian, keadaan mereka menjadi lebih baik daripada sebelum datangnya musibah. Bukan menyalahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang telah menimpakan adzab kepada manusia.
Sebagai contoh, kekalahan kaum Muslimin dalam peperangan Uhud pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Penyebabnya adalah kemaksiatan sebagian sahabat terhadap perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah itu para shahabat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kejadian tersebut. Lalu mereka berhati-hati, jangan sampai kejadian serupa terulang.
Demikian juga kekalahan kaum Muslimin pada awal peperangan Hunain, adalah karena ‘ujub (kebanggaan) sebagian umat Islam karena jumlah yang banyak. Namun ternyata jumlah yang banyak semata, tidaklah membawa kemenangan, sampai Allâh memberikan pertolongan-Nya kepada mereka. Al-hamdulillâhi Rabbil-‘Alamîn.
Tuntunan Islam dalam menyikapi Musibah. Musibah yang asal katanya dari bahasa Arab bisa bermakna kejadian yang menyedihkan atau bencana, musibah juga bisa berarti sesuatu yang menimpa. Beberapa istilah yang berkaitan dengan musibah adalah bala (بلاء), fitnah( فتنة ) , azab ( عذاب ) dan ‘iqab (عقاب)
Musibah yang diturunkan Allah swt, sebagaimana yang tercantum dalam Al-qur’an, setidaknya ada empat konteks pemahaman, yaitu (1) sebagai ujian bagi orang Mukmin, (2) sebagai peringatan atau teguran bagi umat manusia pada umumnya, (3) sebagai azab atau siksa bagi manusia yang banyak berbuat dosa dan maksiat, dan (4) sebagai kasih sayang bagi orang Mukmin.
Bagaimana tuntunan Islam dalam menyikapi musibah ? Bagi shahibul musibah (muslim yang terkena musibah) Islam memberikan pedoman sikap antara lain sbb. :
IMAN DAN RIDHO TERHADAP KETENTUAN (QADAR) ALLAH
Allah SWT berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, sesuai sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya besarnya pahala itu seiring dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah jika mencintai satu kaum, maka Allah memberi cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (terhadap cobaan itu), maka dia mendapat ridha Allah. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapat murka Allah.” (HR Tirmidzi, no. 2396, hadis hasan).
SABAR MENGHADAPI MUSIBAH
Sikap inilah yang wajib kita miliki saat kita menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan ketika terjadi musibah, kita mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun). Allah SWT berfirman :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’” (QS al-Baqarah [2] : 155-156)
Dengan demikian, bersabarlah! Jangan sampai kita meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa atau berprasangka buruk seakan Allah tidak akan memberikan kita kebaikan di masa depan.
Ingat, putus asa adalah su`uzh-zhann billah (berburuk sangka kepada Allah)! Su`uzh-zhann kepada manusia saja tidak boleh, apalagi kepada Allah.
MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK MUSIBAH
Selalu berpikir positif meski telah dirundung musibah, karena sebenarnya selalu ada hikmah yang bisa ditemukan di baliknya. Salah satu hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW :
“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
TETAP BERIKHTIAR
yang dimaksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13] : 11)
MEMPERBANYAK BERDOA DAN BERDZIKIR
Disunnahkan memperbanyak doa dan dzikir bagi orang yang tertimpa musibah. Orang yang mau berdoa dan berdzikir lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang tidak mau atau malas berdoa dan berdizikir.
Rasululah SAW mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah :
“Allahumma ajurnii fii mushiibatii wa-akhlif lii khairan minhaa.” (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.) (HR Muslim)
Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Dzikir ibarat air es yang sejuk yang dapat mendinginkan tenggorokan pada saat cuaca panas terik di padang pasir. Allah SWT berfirman :
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du [13] : 28)
Dzikir yang dianjurkan misalnya bacaan istighfar, ”Astaghfirullahal ‘azhiem”. Sabda Nabi SAW:
“Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya, akan membebaskannya dari kesedihan, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (HR. Abu Dawud).
BERTAUBAT
Tiada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, melainkan itu akibat dari dosa yang diperbuatnya.
Maka sudah seharusnya, dia bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Orang yang tak mau bertaubat setelah tertimpa musibah, adalah orang sombong dan sesat. Allah SWT berfirman :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy-Syuura [42] : 30)
TETAP ISTIQOMAH PADA ISLAM
Di sinilah seorang muslim dituntut untuk bersikap istiqamah, yaitu konsisten di atas satu jalan dengan mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan (mulazamah al-thariq bi fi’li al-wajibat wa tarki al-manhiyyat). Allah SWT mewajibkan kita istiqamah :
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Huud [11] : 112)
Referensi : Tuntunan Islam dalam menyikapi Musibah