This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 10 Agustus 2022

10 Ayat Tentang Musibah Sebagai Pengingat Bagi Umat Manusia

Ilustrasi : 10 Ayat Tentang Musibah Sebagai Pengingat Bagi Umat Manusia

Manusia memandang hal-hal yang dibenci dan tidak sesuai dengan keinginannya adalah sebuah musibah. Namun, ketika dipandang sebagai suatu hal yang menyenangkan, baru manusia menyebutnya sebagai nikmat. Namun, musibah pasti akan melintasi perjalanan hidup manusia untuk menguji kesabaran, serta agar manusia kembali mengingat Allah SWT. Perlu diingat, musibah yang menimpa manusia adalah atas kehendak Allah SWT.  

Musibah berasal dari kata bahasa Arab "ashaba" yang artinya mengenai, menimpa, atau membinasakan. Musibah menurut Alquran adalah bentuk ujian dan teguran dari Allah SWT, berupa hal baik maupun buruk, seperti kelaparan, kematian, kekurangan harta, dan lain sebagainya. 

Banyak ayat tentang musibah yang tertulis di dalam Alquran. Ayat ini menjelaskan bahwa musibah adalah ketetapan Allah SWT, campur tangan manusia di dalam musibah, hingga cara menghadapi musibah.

Lantas, apa saja ayat-ayat itu? Simak ayat-ayat berikut untuk lebih memahaminya.  Ayat tentang Musibah

Berikut ayat tentang musibah yang tercantum di dalam Alquran. Surat As Syura ayat 30

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ 

Artinya: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."

Surat An Nisa ayat 79

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ 

Artinya: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri."

Surat At Taghabun ayat 11 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Surat Al Baqoroh ayat 157

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Surat Al A'raf ayat 96

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Surat At Taubah ayat 50

اِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۚ وَاِنْ تُصِبْكَ مُصِيْبَةٌ يَّقُوْلُوْا قَدْ اَخَذْنَآ اَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَّهُمْ فَرِحُوْنَ

Artinya: "Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang),” dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira."

Surat Al Qashash ayat 47

وَلَوْلَآ اَنْ تُصِيْبَهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَيَقُوْلُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: "Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, agar kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan termasuk orang mukmin.”

Surat Ali Imran ayat 165

اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: "Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Surat Al Maidah ayat 49

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ

Artinya: "dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik."

Surat Al Hadid ayat 22-23

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23( 

Artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22)  

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."(23)

Referensi : 10 Ayat Tentang Musibah Sebagai Pengingat Bagi Umat Manusia








Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa

Ilustrasi : Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa

Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa. Ketika musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam, artinya alam itu murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olaharga dan seterusnya. Ketika kita terzholimi oleh atasan atau majikan karena belum telat gaji bulanan, kadang yang jadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang dijuluki pelit atau bakhil. Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah mendatangkan musibah, menurunkan penyakit atau ada yang menzholimi kita. Coba kita renungkan ayat yang akan dibahas berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat.” Karena memang Allah akan menyiksa seorang hamba karena dosa yang ia perbuat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun” (QS. Fathir: 45).

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).

Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه

Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).

Bisa jadi pula musibah itu datang menghampiri kita karena dosa orang tua. Abul Bilad berkata pada ‘Ala’ bin Badr mengenai ayat,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”, dan sejak kecil aku sudah buta, bagaimana pendapatmu? ‘Ala’ berkata,

فبذنوب والديك

“Itu boleh jadi karena sebab orang tuamu”.

Seseorang bisa jadi mudah lupa terhadap ayat Qur’an yang telah ia hafal karena sebab dosa yang ia perbuat. Adh Dhohak berkata,

ما نعلم أحدا حفظ القرآن ثم نسيه إلا بذنب

Kami tidaklah mengetahui seseorang yang menghafal Qur’an kemudia ia lupa melaikan karena dosa”. Lantas Adh Dhohak membacakan surat Asy Syura yang kita bahas saat ini. Lalu ia berkata,

وأي مصيبة أعظم من نسيان القرآن.

“Musibah mana lagi yang lebih besar dari melupakan Al Qur’an?”

Jadi boleh jadi bukan karena kesibukan kita, jadi biang kesalahan hafalan Qur’an itu hilang. Boleh jadi karena tidak menjaga pandangan, terus menerus dalam maksiat serta meremehkan dosa, itulah sebab Allah memalingkan Al Qur’an dari kita.

Demikian faedah yang kami peroleh dari tafsir Ibnu Katsir. Moga Allah melepaskan berbagai musibah yang menimpa kita. Ayat ini adalah sebagai renungan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain ketika kita terzholimi. Boleh jadi musibah itu  datang karena dosa syirik, tidak ikhlas dalam amalan, amalan bid’ah, dosa besar atau meremehkan maksiat yang kita perbuat hari demi hari.

Referensi :  Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa







Menyulap Musibah Menjadi Anugerah

Ilustrasi : Menyulap Musibah Menjadi Anugerah

Sebagai makhluk yang Allah beri kesempurnaan fisik dan akal, manusia tidak pernah lepas dari ujian. Setiap manusia yang hidup pasti pernah merasakan ujian. Baik ujian yang baik atau buruk. Musibah merupakan bentuk dari ujian yang Allah hadirkan di tengah kehidupan di dunia. Bukan tanpa sebab Dia memberikannya, karena selalu ada hikmah yang terselip setelahnya. Dan, kebanyakan dari kita selalu menyadarinya setelah musibah itu berlalu.

Sakit, kehilangan harta dan kehilangan orang-orang tercinta adalah beberapa musibah yang sering kita alami. Saat sakit menghampiri, sesungguhnya Allah sedang menggugurkan dosa-dosa kita. Jika bersabar menerimanya, Allah pun akan mendatangkan keberkahan-Nya.

Tidak ada salahnya jika berdoa memohon kesembuhan, tapi bukankah lebih elok jika doa yang kita panjatkan adalah mohon diberi kesabaran yang lebih banyak dalam menghadapai penyakit. Karena Allah berfirman: Innallaha Ma’ashabirin, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Bagaimana jika musibah itu berupa kehilangan harta benda? Kebanyakan orang berpikir, harta benda yang mereka dapatkan adalah karena kerja kerasnya di dunia. Tatkala harta yang mereka kumpulkan hilang atau habis, mereka akan frustasi. Menyiksa diri sendiri dan menyesali takdir.

Allah-lah yang memberikan harta untuk kita. Allah pulalah yang berhak mengambilnya kembali jika Dia sudah berkehendak. Apapun yang kita usahakan untuk menjaga harta benda kita di dunia agar tidak hilang dan habis, jika Allah menginginkan semuanya lenyap maka tidak ada satupun yang berkuasa menghalanginya.

Semua yang ada di dunia merupakan titipan. Ibarat sebuah benda yang dititipkan kepada kita, jika sang pemilik memintanya kembali, apakah kita berhak menahannya? Tentu tidak. Yang harus kita lakukan adalah mengembalikannya, bukan? Begitupun dengan harta yang kita miliki. Semuanya adalah titipan yang harus dijaga sebaik-baiknya.

Menyulap Musibah Menjadi Anugerah. Musibah demi musibah yang mewarnai kehidupan manusia boleh jadi adalah bukti dari kasihsayang Allah. Banyak cara Allah membuktikan cinta-Nya kepada kita, salah satunya dengan memberikan musibah. Musibah yang datang silih berganti janganlah kita anggap sebagai takdir buruk. Sebagai orang beriman, maknailah musibah itu dengan bijak.

Jika musibah menimpa diri kita, ingatlah bahwa saat itu Allah sedang menunjukan cinta-Nya. Allah ingin kita bersabar. Karena dengan kita bersabar, Allah akan memberikan keberkahan. Allah ingin menggugurkan dosa-dosa kita yang menggunung tinggi. Dosa-dosa yang ditumpuk tanpa kita sadari. Allah ingin kita berdoa pada-Nya. Memohon dan meminta. Allah ingin kita bersujud, menderaikan airmata yang kita punya hanya untuk-Nya.

Allah menghadirkan musibah bukan karena Dia benci. Tapi karena cinta-Nya terlalu besar untuk kita. Musibah yang Allah datangkan tidak seberapa bila dibandingkan dengan musibah yang Allah hadirkan untuk Rasulullah dan para sahabat. Ya, jangan bandingkan diri kita yang kerdil dengan Rasulullah dan umat terdahulu. Karena, kita tidak ada apa-apanya.

Jadikan musibah yang menerpa kehidupan sebagai muhasabah diri. Melihat lebih dalam dosa-dosa yang ditabung tanpa kita sadari. Yakinkan dalam hati, bahwa musibah adalah cara Allah menyayangi kita. Berdoa dan bersabarlah. Insya Allah akan lapang hati kita dalam menghadapainya.

Referensi : Menyulap Musibah Menjadi Anugerah







Musibah itu Datang karena Ulah Manusia Sendiri

Ilustrasi :Musibah itu Datang karena Ulah Manusia Sendiri

Musibah itu Datang karena Ulah Manusia. Memang perlu kita renungkan setiap musibah yang terjadi terhadap diri kita. Allah tidak akan menghadirkan musibah, kalau bukan karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh kita sendiri.  Firman Allah :“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Musibah yang terjadi sekarang pun, bukan tiba-tiba, namun sudah terjadi sejak zaman dahulu. Kita ingat azab yang dialami sejumlah kaum sebelum Nabi Muhammad SAW, antara lain, kaum Adh, kaum Samuth, kaum Luth, dan kaum Nuh. Mereka Allah hancurkan sehancur-hancurnya. Semua itu karena perbuatan dosa atau maksiat yang mereka pertontonkan.

“Dan firman Allah (yang artinya) dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian maksudnya wahai manusia! musibah apapun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan.

“Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” maksudnya adalah memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun (Faathir: 45) (Tafsir Ibnu Katsiir: 4/404).

Musibah yang ditimpakan kepada manusia bisa jadi musibah dunia; dan musibah akhirat. Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. ”Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”

Adapun musibah akhirat adalah sebagaimana orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.”

Bila perbuatan dosa dikerjakan oleh orang tertentu baik itu perorangan maupun sekelompok orang, maka musibah tidak hanya ditanggung oleh orang yang mengerjakannya, namun orang yang berada di sekelilingnya bisa jadi ikut menanggungnya.

Oleh karena itu, berilah nasehat kepada mereka terutama yang mengerjakan perbuatan dosa semacam maksiat, karena dengan menasehati saudara kita maka kita semua bisa terhindar dari musibah.

Dalam  Alquran Surah al-Anfal ayat 25, “Takutlah kalian dengan musibah yang tidak hanya menimpa orang yang maksiat, orang yang berbuat zalim, tapi juga kalian yang shaleh.” Maka, masa bodoh dengan kemaksiatan bukanlah sikap seorang Mukmin. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah amal cerdas orang yang beriman.

Musibah katanya sebuah peringatan agar manusia kembali ke jalan-Nya. Dengan musibah Allah hadirkan mahkamah kesadaran kita bahwa ini adalah sebuah jalan untuk kembali (baca QS al-Baqarah, 2: 155-157).

Ini mungkin sebuah upaya yang dianjurkan dalam agama Islam. Yakni agar terhindar dari musibah, janganlah kalian mendekati maksiat. Dan  “beristighfarlah kepada Allah!”  karena dengan  “beristighfarlah kepada Allah!” maka dosa-dosa kalian akan terampuni. Rasulullah saja 100 kali beristigfar kepada Allah setiap harinya.

Jujurlah, dalam hidup yang sebenarnya sebentar ini terlampau banyak dosa dan maksiat kita. Tiap-tiap detik kedurhakaan kita sampai kepada-Nya. Sementara ibadah dan amal shaleh kita seba gai bekal pulang menghadap-Nya juga teramat sedikit. Anehnya, yang meluncur deras kepada kita karunia dan rezeki-Nya. Sudah wa hai saudaraku dan cukup. Ingat, kalau nasihat ulama, Alquran dan Sunah sudah tidak didengar, alam yang milik Allah ini akan bicara. Wahai peduduk Indonesia yang diberi iman oleh Allah, dengan musibah yang beruntun menghantam negeri ini, tidakkah kita menya dari bahwa alam benar-benar sedang menasihati kita.

Camkanlah bagaimana musibah beruntun menimpa kita. Yaitu, karena dosa yang sangat besar. Dalam surah Yassin ayat 19 dijelaskan dengan terang benderang bahwa kemalangan demi kemalangan, musibah yang susul-menyusul, semua itu terjadi karena dosa keterlaluan kita kepada Allah.

Pun karena kedurhakaan dan kezaliman. Surah al-Qasas ayat 59 menerangkan, Allah tidak akan menghancurkan suatu daerah, kecuali para penduduknya yang berbuat zalim. Anak durhaka kepada orang tua, istri berani kepada suaminya, banyak perampokan, pembunuhan, dan perzinaan. Kezaliman dan kedurhakaan yang tak bertepi ini pengundang cepat bala bencana.

Mungkin juga karena perusakan alam yang sistemis dan masif. Surah Ar- Rum ayat 41 mengingatkan, telah tampak kerusakan di da-ratan dan lautan karena ulah tangan-tangan jahil manusia, agar mereka merasakan akibat perbuatanny dan mereka kembali kepada-Nya.

Bisa pula pemimpin maksiat dan zalim kepada rakyatnya. Baca dengan iman, wahai penduduk Indonesia yang mulia, “Bila kami ingin menghancurkan suatu negeri, para tokohnya diingatkan untuk taat kepada Allah, tapi mereka maksiat, tapi mereka berbuat zalim, tapi mereka berkhianat kepada-Ku dan makhluk-Ku, maka haklah untuk mereka datang bala bencana.”

Ingat azab yang dialami sejumlah kaum sebelum Nabi Muhammad SAW, antara lain, kaum Adh, kaum Samuth, kaum Luth, dan kaum Nuh. Mereka Allah hancurkan sehancur-hancurnya. Lalu siapa tokoh itu? Para pemimpin kita yang disumpah Alquran di kepalanya.

Demi Allah tidak korupsi, lalu korupsi. Siapa lagi? Hartawan atau orang-orang kaya yang dengan hartanya berfoya-foya, sombong, maksiat dengan kekayaannya di tengah banyak orang yang menderita. Siapa lagi? Ulama yang menjual ayat-ayat Allah dengan murah.

Referensi : Musibah itu Datang karena Ulah Manusia Sendiri









Ketentuan Allah Swt Tentang Musibah

Ilustrasi : Ketentuan Allah Swt Tentang Musibah

Setiap insan muslim wajib memahami bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki banyak hikmah dalam pengaturan makhluk-Nya. Hikmah Allah Ta'ala tersamarkan dari pemahaman kebanyakan manusia, baik dari kalangan para ulama, lebih-lebih orang awam. Allah Ta'ala memiliki hikmah sesuai dengan keluasan ilmu-Nya yang mutlak. Bahkan, dalam setiap musibah yang menimpa seorang hamba, pada hakikatnya Allah mengirim sinyal-sinyal agar muslimin mengambil hikmah di dalamnya. 

Hikmah dari akibat musibah dan bencana bagi manusia sering kali dirahasiakan oleh-Nya. Oleh karena itu, manusia terkadang bisa menangkap satu hikmah, tetapi tersamarkan baginya sekian banyak hikmah yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ 

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga menjadi penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari)

Kebanyakan manusia lalai mengharapkan pahala ketika mereka tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri, terkena sakit ringan (flu, batuk ), atau ketika mereka lelah karena bekerja seharian misalnya, baik seorang Ayah yang bekerja di luar rumah ataupun Ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga kesehariannya dan juga hal-hal lainnya sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas. Padahal dalam semua hal tersebut, mereka memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan selain kepastian dihapuskannya kesalahan-kesalahan mereka. Sudah selayaknya bagi seorang Muslim agar selalu menghadirkan niat & mengharapkan pahala di Setiap musibah yang ia alami, baik kecil maupun besar.

Namun, musibah disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri. Muslimin patut menyimak sebuah kabar dari Allah Ta’ala :

 وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ 

“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30). Dalam kitab tafsirnya (Tafisr As-Sa'di), Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, bahwa Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, baik musibah yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua musibah itu terjadi) karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak.

Karena Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun, dan menunda siksa itu bukan karena Dia teledor dan lemah.”. Sementara, di dalam Tafsir Al-Baghawi, Syaikh Al-Baghawi rahimahullah menukilkan perkataan seorang tabi’in pakar tafsir Ikrimah rahimahullah :

 ما من نكبة أصابت عبدا فما فوقها إلا بذنب لم يكن الله ليغفر له إلا بها، أو درجة لم يكن الله ليبلغها إلا بها . 

“Tidak ada satupun musibah yang menimpa seorang hamba, demikian pula musibah yang lebih besar (dan luas) darinya, kecuali karena sebab dosa yang Allah mengampuninya hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya) atau Allah hendak mengangkat derajatnya (kepada suatu derajat kemuliaan) hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya).

Terkadang musibah menimpa orang-orang yang saleh dan paling mulia di antara manusia. Akan tetapi, di balik musibah tersebut terdapat pengaruh dan hikmah yang berbeda bagi yang tertimpa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, 

 وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ 

“Sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (QS al-Baqarah: 155—156)

Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Atha yang berkata, “(Orang yang dimaksud dalam ayat ini) adalah para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ayat ini mengandung peringatan dan pengajaran bagi kaum muslimin bahwa kesempurnaan nikmat dan kemuliaan derajat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadi penghalang antara mereka dan musibah dunia yang akan menimpa. Adakalanya seseorang terkena musibah, sedangkan orang lain yang lebih besar dosanya selamat. Adakalanya seseorang terkena musibah juga, tetapi lebih ringan. Semua ini berdasarkan hikmah Allah subhanahu wa ta’ala yang bertingkat-tingkat dan tidak sama.

Balasan minimal bagi seorang Muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya. Namun, apabila ia mampu bersabar dan mengharapkan pahala dari musibah tersebut, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan tambahan kebaikan.

Referensi : Ketentuan Allah Swt Tentang Musibah











Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa

Ilustrasi : Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa

Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa. Rasanya tidak pernah berhenti dari satu bencana ke bencana berikutnya. Ada apa ini?  Sayyidina Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,   “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”

Firman Alloh Ta’ala yang lainnya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”  (QS. Asy Syuraa: 30)

Ibnu Rajab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.”

Saatnya Merubah Diri

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.

Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, gemar melakukan zina/free sex, LGBT, minuman keras, narkoba, korupsi, perselingkuhan, berjudi dll.

Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama mengatakan bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik.

Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.

Alloh Ta’ala berfirman, “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”   (QS. Al Anfaal: 53)

“Sesungguhnya Alloh tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11)

Referensi : Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa







Ini Dia 5 Dosa Penyebab Turunnya Musibah atau Bencana di Suatu Wilayah

Ilustrasi : Ini Dia 5 Dosa Penyebab Turunnya Musibah atau Bencana di Suatu Wilayah

Ini Dia 5 Dosa Penyebab Turunnya Musibah atau Bencana di Suatu Wilayah. Bencana alam adalah salah satu teguran dari Allah." Di antara musibah yang terjadi, Allah menjadikan sebagai penggugur dosa bagi hamba-Nya dan ada juga jadi peringatan untuk diambil pelajaran "  Musibah berasal dari kata bahasa Arab "ashaba" yang artinya mengenai, menimpa, atau membinasakan.

Musibah menurut Al-Qur'an adalah bentuk ujian dan teguran dari Allah SWT, berupa hal baik maupun buruk, seperti kelaparan, kematian, kekurangan harta, dan lain sebagainya.

Musibah dan bencana adalah salah satu sunnatullah. Tak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah SWT. Di antara musibah yang terjadi, Allah menjadikan sebagai penggugur dosa bagi hamba-Nya dan ada juga yang jadi peringatan untuk diambil pelajaran.

Bencana dalam Al-Qur'an mempunyai makna yang beragam. Sebagaimana yang disebutkan dalam (QS. Asy-Syu'ra: 30), bahwa makna bencana sebagai musibah; (QS. Al-Mulk: 2) menyatakan bahwa bencana sebagai bala' atau ujian. Makna lain adalah fitnah (membakar), dalam Al-Qur'an, kata ini diulang sebanyak 60 kali.

Muhammad Husin Tabataba'i (wafat 1889) dalam tafsirnya Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an mengatakan, musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak mungkin. 

Musibah itu antara lain sakit, rugi dalam berusaha, kehilangan barang, meninggal, bencana alam, wabah penyakit, dan lain sebagainya.

Kata musibah dengan pengertian seperti di atas dalam Al-Qur'an terdapat pada 10 tempat yakni surah Al-Baqarah ayat 156, Ali-Imran ayat 165, An-Nisaa ayat 62 dan 72, Al'Maidah ayat 49, At Taubah ayat 50, Al-Qashash ayat 47, Asy-Syura ayat 30, Al-Hadid ayat 22, dan At-Taghabun ayat 11.

Arti kata tersebut, sejalan pula dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani yang artinya, ''Apa yang menimpa manusia, berupa yang tidak menimpanya, itu namanya musibah.''

Musibah merupakan kejadian yang datang atas ketentuan Allah SWT dan tidak bisa ditolak. Manusia wajib untuk menghindar dari musibah yang sudah menimpa dirinya. Jika sakit, dia diwajibkan berobat dan jika tertimba banjir, dia wajib menghindar dari bahaya banjir. 

Upaya untuk menghindar dari musibah itu, bukan pada tingkat pencegahan seperti mencegah datangnya penyakit, tapi pada penanggulangan tingkatnya.

Musibah tidak membedakan sasaran yang dikenainya. Ia dapat menimpa manusia yang saleh, seperti seorang nabi, atau manusia biasa yang berbuat maksiat. 

Jika datang kepada manusia saleh, maka musibah harus dilihat sebagai penguji sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 155 dan 156 yang artinya,

''Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan sedikit rasa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami semua adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali).

Tetapi, jika menimpa orang yang biasa melakukan maksiat, maka musibah harus diartikan sebagai siksaan. Allah SWT berfirman dalam surah Muhammad ayat 10 yang artinya,

''Maka apakah mereka tidak melakukan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima akibat seperti itu.''

Walaupun musibah secara lahiriyah tidak menyenangkan, namun bagi orang saleh, hakikatnya musibah diartikan sebagai sarana untuk meningkatkan derajat kebahagiaannya di sisi Allah SWT. Sedangkan bagi orang kafir, musibah memang menyedihkan untuk membalas kekafiran mereka.

menurut Ustaz Rikza Maulan, Dai lulusan Al-Azhar Mesir mengatakan, sebagai manusia, kita perlu introspeksi diri atas setiap musibah dan bencana yang menimpa kita. Sebab bisa jadi hal tersebut adalah karena perilaku kita yang mendatangkan murka dari Allah SWT.

Berikut beberapa perilaku yang disebutkan Al-Qur'an yang mengakibatkan bencana dan musibah:

1. Karena mengingkari atau mendustakan ayat-ayat Allah.

Padahal jika mereka beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96).

2. Karena adanya proses menyekutukan Allah dengan sesuatu (syirik), seperti mempropagandakan bahwa Allah memiliki anak.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwahkan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." (QS. Maryam: 88-92).

3. Karena suatu kaum tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang zalim di antara mereka.

Berikut firman Allah SWT:

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan (azab/bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS. Al-Anfal: 25).

4. Karena perbuatan zina dan riba yang dilakukan terang-terangan oleh suatu kaum

Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abdullah bin Mas'ud, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: "Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka." (HR. Ahmad).

5. Karena tingkah manusia yang merusak alam

Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).

Mengenai hikmah musibah ini, Nabi Muhammad memberi kabar gembira bagi kaum Muslim. Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra dan Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah sesuatu menimpa seorang Muslim, baik berupa rasa letih, rasa sakit, gelisah, sedih, gangguan, gundah gulana, bahkan duri yang menusuknya (adalah ujian baginya), melainkan dengan hal itu Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR. Muslim).

dalam sebuah riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim dengan sanad sahih, Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat yang sangat penting dan berharga kepada kita tentang masalah azab ini. Di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar, beliau SAW menyebut lima hal yang dapat mengundang turunnya azab dan kemurkaan Allah SWT, sebagai berikut:

Pertama, dosa zina yang dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum.

Perbuatan maksiat ini akan menyebabkan turunnya tha'un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada generasi sebelumnya.

Kedua, perilaku curang, seperti mengurangi takaran dan timbangan. Termasuk kezaliman penguasa, seperti pembunuhan, kerusakan, khianat, korupsi, dan lain-lain. Maka, ragam kejahatan ini akan menyebabkan kebangkrutan, paceklik, banyaknya tekanan dan kesulitan hidup.

Ketiga, enggan membayar zakat dan suka menahannya. Akibatnya, hujan dari langit pun akan ditahan. Sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Keempat, melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya. Karena perbuatan ini, Allah akan menjadikan pihak musuh dari kalangan orang kafir dan munafik berkuasa ke atas mereka. Lalu, pihak musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

Kelima, menyelisihi syariat Islam. Artinya, selama para pemimpin yang diberikan amanah kekuasaan itu tidak menjadikan agama sebagai dasar hukum, dalam menjalankan kepemimpinannya, Allah SWT akan menjadikan permusuhan di antara mereka.

Jika, kita melihat di sekeliling kita banyak ulah atau perbuatan manusia yang mungkin tidak disadari yang menyebabkan turunnya suatu bencana atau musibah dikarenakan perbuatan atau ulah tangan manusia itu sendiri. Sehingga Allah SWT murka dan terjadilah bencana di suatu wilayah atau negara. 

Referensi ; Ini Dia 5 Dosa Penyebab Turunnya Musibah atau Bencana di Suatu Wilayah











Antara Musibah-Musibah dan Dosa

Ilustrasi : Antara Musibah-Musibah dan Dosa

Musibah adalah sesuatu yang tidak disenangi. Padamnya listrik ketika dibutuhkan adalah musibah, paketan habis disaat deadline pun juga musibah. Musibah berasal dari kata bahasa Arab ashaba yang artinya mengenai, menimpa, atau membinasakan. Musibah juga berarti kemalangan (al-baliyyah) atau setiap kejadian yang tidak diinginkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia musibah berarti kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, malapetaka atau bencana. 

Musibah merupakan kejadian yang datang atas ketentuan Allah SWT dan tidak bisa ditolak. Merujuk pada ayat al Qur’an ada beberapa macam musibah,

Ujian bagi keimanan dan kesabaran seseorang. Ini merupakan keniscayaan dalam hidup (QS. al-Ankabut: 2-3),

  1. Sebagai cara yang diberikan oleh Allah untuk pengampunan dosa (QS. Ali Imran 140-141).
  2. Sebagai pembalasan atas kesalahan (QS. al-Ankabut 40)
  3. Sebagai obat atas penyakit yang diderita (QS. al-Mukminun 75-76)  

Selanjutnya Alquran juga mengisyaratkan bahwa musibah terjadi akibat memperturutkan nafsu atau kebodohan manusia (QS. asy-Syura 30 dan Thaha 81). Karena itu Allah memerintahkan manusia untuk selalu belajar, dan Nabi SAW mengingatkan lewat sabdanya: ”Jadilah seorang cendekiawan, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu yang baik, atau pencipta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima (orang bodoh), karena jika demikian engkau akan celaka.”

Jika digarisbawahi maka musibah diberikan untuk kebaikan bagi manusia.Pemilik perahu yang dibocorkan oleh Nabi Musa adalah orang-orang miskin, hal tersebut tidak menyenangkan para pemiliknya, itu musibah bagi mereka. Namun, pada hakikatnya tidak demikian, perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dibocorkan agar nampak tidak sempurna olehraja (penguasa) yang akan mengambil perahu-perahu yang baik secara paksa (QS al-Kahfi: 79). Mudah-mudahan musibah yang dihadapi bangsa kita ini adalah jenis musibah ini.

Disadari maupun tidak, manusia tentu saja mahluk yang tak pernah luput dari musibah, sekecil apapun bentuknya. Musibah merupakan sesuatu hal yang tak pernah kita harapkan bahkan kita benci keberadaannya. Namun demikian, membaca musibah memang tak harus selalu dikaitkan dengan entitas takdir Tuhan yang buruk, tetapi semata-mata erat kaitannya dengan kesalahan dan dosa dari manusia itu sendiri. 

Secara teologis, Tuhan akan memilih siapa-siapa yang dikehendaki-Nya ditimpakan musibah, besar ataupun kecil ukurannya disesuaikan dengan kapasitas kekuatan manusia itu sendiri. Tak ada satu orangpun yang dibebani musibah, kecuali dirinya dapat memikul penderitaan akibat musibah tersebut.

Perlu diingat, bahwa setiap musibah apapun yang terjadi, tentu ada pelajaran penting yang dapat diambil oleh setiap orang. Jika seseorang itu sabar menghadapinya, maka dipastikan kebahagiaan yang akan diperoleh, namun sebaliknya, ketidaksabaran justru akan menambah rumit dan berat suatu musibah yang seseorang dapatkan. 

Di samping itu, bukan tidak mungkin bahwa Tuhan sesungguhnya secara perlahan sedang mengingatkan kita, betapa kotornya jiwa kita ini dan Tuhan berkehendak mencucinya dengan beragam bentuk musibah yang ditimpakan. Musibah tentu saja tak harus menimpa diri sendiri, tetapi mungkin keluarga kita, kawan, kolega, atau pribadi-pribadi yang dekat dengan kita. 

Mungkin itulah gambaran musibah yang belakangan ini kerap mendatangi kita, hadir diantara orang-orang dekat kita, sebagai bentuk peringatan melalui kode keras Tuhan.

Hampir setiap orang tahu, bahwa fenomena politik yang belakangan semakin kuat dirasakan, menyimpan dan memelihara dosa-dosa politik yang justru secara sadar terus diperbuat siapapun. Kelompok elit, penguasa, kaum terpelajar, dan masyarakat biasa bahkan yang awam dalam hal politik sekalipun, sulit melepaskan diri mereka dari dosa-dosa politik. 

Dunia politik semakin sesak oleh dosa-dosa yang telah diperbuat, tak hanya dalam soal korupsi yang jelas-jelas dosa besar, saling mengumbar aib pribadi justru semakin "ngetren" dalam konteks kepolitikan. Saya kira, hal ini juga merupakan suatu musibah politik yang dalam banyak hal justru tak disukai publik, kecuali oleh mereka yang memang berkepentingan secara politik.

Dalam dunia politik, kita sudah terbiasa melihat bagaimana serentetan aib seseorang dipublikasikan dan kitapun ternyata menjadi penikmat sejati atasnya. Anehnya, ketika ada ungkapan yang semestinya menjadi doa, justru dianggap "pelecehan". Kurang pantas rasanya, ketika ada seseorang mendoakan orang lain, tetapi dibalas dengan ungkapan nyinyir bahkan dilecehkan. 

Jadi, ketika ada orang yang mendoakan pihak lain dengan kalimat-kalimat atau perumpamaan-perumpamaan yang indah, lalu tiba-tiba ada seseorang yang mau muntah atas ungkapan doa tersebut, bukankah itu pelecehan atas kebaikan doa? Lebih parah lagi, banyak penikmat dosa politik yang terus menerus bersuka cita, menambah besar saja musibah politik yang saat ini sedang kita hadapi.

Saya tak sedang berapologi, apakah dosa politik yang dilakukan sebagian besar orang terkait dengan musibah yang belakangan semakin menambah berat saja beban hidup kita. Namun yang pasti, musibah hanya dapat dibaca melalui kacamata teologis, dimana Tuhan memang "memilih" siapa saja yang pantas ditimpakan musibah. 

Membaca musibah tak harus dianggap sebagai hal yang menyakitkan, penderitaan panjang, ketidakadilan, namun perlu diyakini sebagai bagian pelajaran hidup yang lebih banyak memberikan dampak kesadaran kepada setiap orang. Bahkan, ketika musibah pesawat jatuh-pun harus dilihat sebagai pembangun entitas kesadaran, dimana kita semakin terbiasa melakukan dosa-dosa dan Tuhan berkehendak menghapusnya.

Itulah sebabnya, ajaran agama sangat menekankan dimensi kesabaran kepada siapapun, terutama kepada mereka yang memang sedang dalam keadaan tertimpa musibah. Sabar merupakan gerbang utama menuju kebahagiaan, karena hanya melalui musibah yang diiringi kesabaran maka kebahagiaan sejati jelas terwujud. 

Perhatikan, betapa kita seringkali menyaksikan atau mendengar cerita seseorang yang jatuh-bangun meniti hidup dengan beragam musibah atau sesuatu hal yang tidak diharapkan, tetapi kebahagiaan itu hadir setelah dirinya sukses dalam kesabaran menghadapi segala resikonya. 

Bagaimana dengan musibah politik dimana dosa-dosa politik yang diperbuat terasa menghimpit, bahkan seolah-olah kita sulit keluar dari jeratan dunia politik yang penuh dosa dan kesalahan? Sepertinya tak ada istilah sabar didalamnya, karena yang ada justru kondisi saling mengumpat dan menghujat, wajar jika kemudian musibah mampir bertubi-tubi.

Hampir tak pernah ditemukan kalimat-kalimat baik yang terangkum dalam doa disaat menghadapi musibah politik, kecuali ungkapan doa yang sedemikian viral di media sosial yang ditujukan kepada beragam musibah yang terjadi. 

Padahal, kalimat-kalimat baik yang terungkap dalam doa dapat menyatukan setiap perbedaan yang ada, bahkan melepaskan diri dari beragam kepentingan dan tentu saja lupa akan dosa-dosa politik yang kerapkali diperbuat. 

Padahal, dalam dimensi teologis, hanya doa yang dapat menahan segala macam musibah dan bencana, karena Tuhan tentu saja hanya dapat dipanggil dan "dipaksa" melalui serangkaian doa yang kita panjatkan. Berdoalah, karena tak ada kalimat yang paling indah kecuali doa, disaat kita berada dalam situasi kecamuk politik yang benar-benar membabi-buta.

Lalu, bagaimana kita dapat secara tulus mengungkapkan doa kepada Tuhan, karena hampir setiap ungkapan yang baik justru dikatkan dengan dosa-dosa politik yang bahkan kita sendiri tak pernah memahaminya? Bukankah yang terjadi di dunia politik seperti itu? Kita seakan dituntut untuk tidak berdoa dan membiarkan kebiasaan dosa-dosa politik terus berjalan, diungkap, dipublikasikan, sebagai bagian dari kesenangan saling membuka aib dan rahasia setiap orang. 

Dalam dunia politik, borok setiap orang justru sengaja diungkap demi tujuan kebahagiaan memperoleh kekuasaan. Jika kita masih senang dengan segenap dosa-dosa politik, maka Tuhan tentu saja terus mengingatkan kita, dengan cara mencuci jiwa-jiwa kita yang kotor yang secara perlahan dibersihkan Tuhan melalui serangkaian musibah yang diturunkan. 

Musibah tak akan berhenti, sebelum jiwa kita bersih dan suci, karena itulah cara Tuhan yang kadang menjadi misteri dan justru kita senang membiarkannya.

ajaran agama sangat menekankan dimensi kesabaran kepada siapapun, terutama kepada mereka yang memang sedang dalam keadaan tertimpa musibah. Sabar merupakan gerbang utama menuju kebahagiaan, karena hanya melalui musibah yang diiringi kesabaran maka kebahagiaan sejati jelas terwujud. 

Perhatikan, betapa kita seringkali menyaksikan atau mendengar cerita seseorang yang jatuh-bangun meniti hidup dengan beragam musibah atau sesuatu hal yang tidak diharapkan, tetapi kebahagiaan itu hadir setelah dirinya sukses dalam kesabaran menghadapi segala resikonya. 

Bagaimana dengan musibah politik dimana dosa-dosa politik yang diperbuat terasa menghimpit, bahkan seolah-olah kita sulit keluar dari jeratan dunia politik yang penuh dosa dan kesalahan? Sepertinya tak ada istilah sabar didalamnya, karena yang ada justru kondisi saling mengumpat dan menghujat, wajar jika kemudian musibah mampir bertubi-tubi.

Hampir tak pernah ditemukan kalimat-kalimat baik yang terangkum dalam doa disaat menghadapi musibah politik, kecuali ungkapan doa yang sedemikian viral di media sosial yang ditujukan kepada beragam musibah yang terjadi. 

Padahal, kalimat-kalimat baik yang terungkap dalam doa dapat menyatukan setiap perbedaan yang ada, bahkan melepaskan diri dari beragam kepentingan dan tentu saja lupa akan dosa-dosa politik yang kerapkali diperbuat. 

Padahal, dalam dimensi teologis, hanya doa yang dapat menahan segala macam musibah dan bencana, karena Tuhan tentu saja hanya dapat dipanggil dan "dipaksa" melalui serangkaian doa yang kita panjatkan. Berdoalah, karena tak ada kalimat yang paling indah kecuali doa, disaat kita berada dalam situasi kecamuk politik yang benar-benar membabi-buta.

Lalu, bagaimana kita dapat secara tulus mengungkapkan doa kepada Tuhan, karena hampir setiap ungkapan yang baik justru dikatkan dengan dosa-dosa politik yang bahkan kita sendiri tak pernah memahaminya? Bukankah yang terjadi di dunia politik seperti itu? Kita seakan dituntut untuk tidak berdoa dan membiarkan kebiasaan dosa-dosa politik terus berjalan, diungkap, dipublikasikan, sebagai bagian dari kesenangan saling membuka aib dan rahasia setiap orang. 

Dalam dunia politik, borok setiap orang justru sengaja diungkap demi tujuan kebahagiaan memperoleh kekuasaan. Jika kita masih senang dengan segenap dosa-dosa politik, maka Tuhan tentu saja terus mengingatkan kita, dengan cara mencuci jiwa-jiwa kita yang kotor yang secara perlahan dibersihkan Tuhan melalui serangkaian musibah yang diturunkan.  Musibah tak akan berhenti, sebelum jiwa kita bersih dan suci, karena itulah cara Tuhan yang kadang menjadi misteri dan justru kita senang membiarkannya.

Namun, tidak dapat kita elak jika bangsa kita saat ini sedang sakit. Kemaksiatan sudah mewabah, sebagian besar manusia bahkan tidak merasa terwabah. Bagaimana cara mengobati jika yang sakit pun tidak merasa dirinya sakit.

Pergaulan lawan jenis di luar tatanan agama sudah terjadi di mana-mana. HP sudah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap usia, tidak sedikit dari mereka yang salah mengkonsumsinya. Korupsi sudah mulai menjadi tujuan bersama. Anak lupa kalau orang tua adalah harta yang berharga.Orang tua lupa bahwa anak bukanlah miliknya. Muncul para pemuda berseragam hitam yang nomaden di tepi jalan. Minuman keras dan narkoba menjadi penawar kegelisahan.

Apakah hal yang tidak menyenangkan tersebut adalah musibah?. Apakah hal yang demikian justru menjadi undangan datangnya musibah?.

Marilah kita jawab pertanyaan ini dengan sabar menghadapinya! Sabar menjadi cara menghadapi musibah dalam Islam. Sabar adalah menahan diri terhadap apa-apa yang dibenci. Meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa tidak akan memberikan kebaikan. Putus asa adalah berprasangka buruk terhadap Allah swt yang jelas merupakan hal tidak baik.

Selanjutnya, ikhtiar merupakan hal baik dalam menghadapi musibah.Ikhtiar menjadi sebuah upaya lahiriah yang diperintahkan oleh Islam ketika datang musibah. Berdiam diri menunggu bantuan orang lain adalah hal yang tidak baik. (QS ar-Ra’du: 11). Berdoa dan berdzikir adalah hal ketiga yang wajib kita lakukan. Berdoa adalah memohon kebaikan kepada Allah dan berdzikir merupakan media yang mengantarkan kita untuk selalu ingat kepada Allah yang memberikan musibah dan menghilangkannya. Dengan berdzikir hati akan lebih tenang. ” (QS ar-Ra’du: 28).

Selain itu, berusaha mengetahui hikmah di balik musibah serta beriman dan lapang dada pada ketentuan Allahakan memberikan rasa ringan dalam menghadapi musibah. Semoga musibah yang melanda bangsa kita adalah musibah yg diberikan untuk menjadikan bangsa ini lebih baik.Amin.

Referensi : Antara Musibah-Musibah dan Dosa