This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 10 Agustus 2022

Orang Mukmin Tidak Pernah Stres

Ilustrasi :Orang Mukmin Tidak Pernah Stres

Orang Mukmin Tidak Pernah Stres. Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah

Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu.” (Qs al-Anfaal: 24)

Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.” (Kitab Al Fawa-id, hal. 121, Cet. Muassasatu Ummil Qura’)

Inilah yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs  ِAn Nahl: 97)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Huud: 3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Ibnul Qayyim mengatakan, “Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.” (HR. Ahmad 3/128, An Nasa’i 7/61 dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagiir, hal. 544)

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati. (Lihat Fatul Qadiir, Asy Syaukaani, 4/129)

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs At Taghaabun: 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (Qs An Nisaa’: 104)

Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)

Hikmah cobaan

Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Ta’ala.

Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

أنا عند ظنّ عبدي بي

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)

Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)

Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:

[Pertama]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422, Mawaaridul Amaan). Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)

[Kedua]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

[Ketiga]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim tentang gambaran kehidupan guru beliau, Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya–. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allah Ta’ala takdirkan bagi dirinya.

Ibnul Qayyim bercerita, “Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 15 Rabi’ul awwal 1430 H

Referensi : Ilustrasi : Orang Mukmin Tidak Pernah Stres











Komitmen dan Apresiasi dalam Membangun Keluarga Bahagia dan Sejahtera

Ilustrasi : Komitmen dan Apresiasi dalam Membangun Keluarga Bahagia dan Sejahtera

Banyak orang telah mampu membicarakan komitmen. Sejatinya, komitmen adalah sebuah kesepakatan atau perjanjian untuk melakukan sesuai di masa depan atau sesuatu yang telah disepakati sebelumnya. Lebih lagi dijelaskan bahwa komitmen merupakan suatu keteguhan untuk berjanji kepada diri sendiri yang akan mengacu dan merangsang seseorang untuk terus berjuang dalam mencapai target yang dicita-citakan serta tidak akan berhenti sebelum target tersebut tercapai.

A. Pentingnya Komitmen dalam Pernikahan

Komitmen dalam pernikahan melebihi komitmen dalam perjanjian apapun. Islam memandangan pernikahan sebagai komitmen yang kokoh, sejajar komitmen Allah dengan para nabiNya. Oleh karena itu, suami istri harus bertanggung jawab untuk menjaga komitmen yang diucapkan pada ijab kabul secara Islam, dan penerimaan Sakramen Perkawinan dalam agama Katholik. Menjaga komitmen berarti berupaya merawat cinta dan kasih sayang yang telah Allah Tuhan Yang Maha Esa, tiupkan ke dalam sanubari, ketentraman akan dirasakan, tetapi sebaliknya, jika mengabaikan komitmen berarti menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan sehingga ketentraman tidak pernah didapatkan.

Bila mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan, ada 7 hal penting dalam pernikahan yang harus segera disudahi agar hal itu tidak sampai menghancurkan pernikahan.

  1. Kekerasan dalam rumah tangga

Seorang istri tidak berhak mendapatkan perlakukan kasar dari suaminya. Suami dan istri adalah rekan yang saling membutuhkan. Oleh karena itu, berbagai macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga baik yang dilakukan secara fisik maupun kata-kata harus segera dihentikan. Kekerasan di dalam rumah tangga sangat tidak manusiawi dan itu sangat mengerikan.

  1. Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah sebuah pengkhianatan, ketika salah satu pasangan mengkhianati rekannya. Tidak ada kebahagiaan sejati yang bisa dirasakan oleh mereka yang mengkhianati pasangannya, kesenangan yang dirasakannya hanya bersifat sementara namun mengandung dosa besar kebahagiaan sejati dalam rumah tangga hanya bisa diperoleh melalui sikap saling setia.

  1. Kurang komunikasi

Sebagai rekan dalam kehidupan pernikahan hendaknya suami istri tidak mengabaikan pentingnya komunikasi. Melalui komunikasi yang baik segala macam permasalahan serta kesalahpahaman akan bisa diatasi dengan baik.

  1. Ketidakjujuran

Ibarat membangun sebuah rumah di atas batu karang, membangun sebuah hubungan yang sehat harus dilandasi kejujuran, tanpanya mustahil kebahagiaan yang sejati dapat terwujud. Dalam sebuah pernikahan, kejujuran adalah batu karang itu. Sikap saling terbuka di antara setiap pasangan tidak akan memberi peluang bagi kecurigaan dan prasangka buruk tumbuh di dalam kehidupan pernikahan.

  1. Sikap egois dan mementingkan diri sendiri

Sebuah hubungan pernikahan, setiap pasangan wajib untuk saling peduli dan memerhatikan satu sama lain. Segala bentuk keegoisan dan sikap mementingkan diri sendiri dapat menghancurkan hubungan tersebut. Dengan demikian, bila suami istri memiliki satu tujuan, tidak hanya suami istri yang berbahagia tetapi juga seluruh anggota keluarga.

  1. Pornografi dan narkoba

Pornografi dan narkoba adalah tidak bermoral dan sangat merendahkan martabat diri sendiri. Berbagai macam cemoohan dan tudingan miring dari masyarakat akan diterima, dampaknya seluruh anggota keluarga akan merasakannya.

  1. Ketidakpedulian

Sebagai nahkoda dalam sebuah batera rumah tangga, suami istri wajib untuk menunjukkan rasa kepedulian mereka terhadap satu sama lain sebagai perwujudan rasa tanggung jawab dan kasih. Namun, bila salah satu pasangan atau bahkan keduanya sudah tidak lagi saling peduli, maka mereka tidak akan pernah tahu ke mana akan menyandarkan bahtera mereka.

B. Pentingkah Komitmen?

  1. Pertanyaan Komitmen

Idealnya, pasangan suami istri menentukan komitmen atau kesepakatan sebelum mereka menikah. Berikut adalah contoh beberapa pertanyaan komitmen yang perlu dibicarakan.

a. Siapa bendaharanya?

Hal terpenting adalah transaparansi antara calon suami dan calon istri. Kedua belah pihak sama-sama tahu penghasilan masing-masing, dan yang paling penting adalah cara memaksimalkans serta mengatur uang tersebut. Terdapat beberapa konsep yang dapat diatur dan dijalankan bersama-sama. Sebelum menyerahkan gaji kepada istri, suami sebaiknya menentukan anggaran per bulan untuk dirinya sendiri. Gaji yang diserahkan kepada istrinya untuk kebutuhan bersama. Kedua belah pihak harus pintar mengatur agar satu sama lain tidak begitu bergantung. Sangat perlu membuat anggaran keuangan bulanan yang jelas, mulai dari biaya listrik, telepon, air, makan, pendidikan, pendidikan anak, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan hal lain yang tidak terduga.

b. Tinggal dimana?

Tak jarang, lantara belum punya tempat tinggal sendiri, pasangan suami istri masih tinggal di rumah orang tua atau mertua. Idelanya dalam satu rumah ada satu keluarga dengan satu kepala keluarga. Jika satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga, sudah tidak sehat. Jika tinggal di rumah sendiri, pasangan suami istri memiliki kemandirian untuk mengatur rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, tata letak rumah, hingga kondisi rumah. Sebaliknya, berikut hal-hal yang mungkin terjadi jika tinggal dengan mertua adalah:

  • Tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan eksperimen sediri, seperti mengatur rumah karena harus tergantung pada pemilik rumah, yaitu mertua.
  • Perlu penyesuaian. Jika belum lama begitu lama mengenal mertua, proses penyesuaian mungkin akan mengalami gesekan antara menantu dengan mertua.
  • Perlu membatasi dan menguasai diri untuk dapat cocok dengan mertua.
  • Dalam segi keuangan, biasanya jika anak masih bekerja sedangkan orangtua tidak, anak lebih banyak mendukung orangtua. Begitu juga sebaliknya, jika orangtua sangat mapan dan anaknya belum, orangtua lebih mensupport anak.

c. Punya Anak atau Tidak

Hal ini perlu dibahas sebelum menikah. Jangan sampai setelah menikah, salah satu dari pasangan ingin segera memiliki anak, pasangan lainnya tidak. Jika ingin memiliki anak, sebaiknya pasangan suami istri melakukan tes kesehatan pranikah.

d. Istri bekerja atau jadi ibu rumah tangga?

Pertannyaan ini berhubungan dengan kondisi ekonomi. Jika sebelum calon istri telah bekerja dan suami tetap menginginkan istri bekerja, istri perlu pintar membagi waktu antara pekerjaan dan rumaht angga. Apalagi jika kelak memiliki anak. Kendati edmikian, mengurus rumah tangga dan anak tidak dibebankan sepenuhnya kepada istri. Idealnya, rumah tangga dan anak dapat dikerjakan berdua.

  1. Menyempurnakan Komitmen

Telah disadari bersama bahwa komitmen adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Komitmen adalah hal yang lebih berat dari sebuah janji dan tepat waktu. Komitmen berbicara tentang seluruh aspek kehidupan manusia yang pada akhirnya berjalan beriringan dengan pencapaian visi misi hidup dalam membangun sebuah keluarga. Tidak dipungkiri bahwa komitmen dalam sebuah pernikahan jauh lebih rumit daripada komitmen sebuah pekerjaan. Berikut adalah tips sederhana untuk menyempurnakan komitmen sebuah pernikahan.

a. Mengenal karakter masing-masing

Pernikahan adalah penyatuan dua karakter manusia yang berbeda. Pengenalan karakter ini tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sebentar. Butuh kesabaran selama proses pengenalan karakter berlangsung. Tentunya, karakter besar dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini serta perilaku lingkungan terdekat.

b. Pemeliharaan kasih sayang

Bila karakteri salah satu topik yang tidak dapat terhindarkan, maka kasih sayang pun adalah hal penting dalam upaya menjaga komitmen. Secara logika, antara karakter dan kasih sayang memiliki keterikatan yang tidak putus. Bila kasing sayang terbangun sempurna, pengenalan karakter bukan hal sulit yang dilakukan. Karena dalam upaya pengenalan karakter, dibutuhkan kasih sayang antara dua insan.

Kasih sayang dapat diwujudkan dalam beberapa cara sederhana. Seperti Rasulullah SAW yang menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan. Suami atau istri harus menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang, dan kerinduan.

c. Penataan ekonomi

Bukan hal yang tabu lagi bila ekonomi menjadi pertimbangan sebelum bersepakat membangun keluarga. Sebagian calon suami maupun calon istri menyepakati beberapa hal, termasuk di dalamnya adalah penataan ekonomi. Dalam Islam telah dijelaskan dan ditegaskan bahwa suami memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah kepada keluarganya. Namun selalu tidak menutup kemungkinan bagi istri untuk membantu suami dalam kegiatan penataan ekonomi rumah tangga. Selama sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan syariah Islam yang ditetapkan.

d. Pembagian beban

Beban yang dimaksud adalah tanggung jawab dalam keluarga. Bukan hanya hal nafkah menafkahi, namun kepada tanggung jawab dan tugas dalam rumah tangga. Meski istri memiliki beban mengurusi rumah tangga dan anak-anak, tetapi bukan berarti suami tidak memiliki tugas tersebut. Saling tolong menolong, saling mengasihi, mengutamakan kepentingan orang lain, dan tentunya saling berbagi peran dalam segala aspek kehidupan dalam rumah tangga. Seperti teladan yang telah ditunjukkan Rasulullah dalam sebuah riwayat shahih, cara beliau bercengkrama dengan anak cucu, menyapu rumah, bahkan menjahit baju yang koyak. Hal itu hanya beberapa contoh peran sang istri yang Rasulullah SAW ambil alih sebagai salah satu pembagian tanggung jawab di dalam rumah tangga.

e. Penyegaran

Tidak dipungkiri bahwa manusia akan mengalami kejenuhan. Jenuh bisa karena rutinitas yang tidak pernah berhenti dan selalu sama setiap harinya. Rehat sejenak menjadi pilihan bagi sebuah keluarga untuk meningkatkan kebugaran diri yang telah direnggut untuk menyelesaikan rutinitas sehari-hari. Lebih dari itu, ketika penyegaran dilaksanakan, banyak hal yang perlu diingatkan kembali. Cara bercanda, melepaskan diri dari rutinitas, dan tentu saja diskusi ringan antara anggota keluarga. Bisa jadi, belanja bersama menjadi rutinitas kecil sebagai cara penyegaran yang sederhana yang bisa dilakukan di sela-sela waktu liburan yang singkat.

Beberapa hal di atas merupakan cara-cara untuk membangun komitmen bersama. Berikut adalah perilaku pencerminan komitmen yang telah dibuat.

  1. Saling mencintai antar sesama anggota keluarga
  2. Saling menghormati antar sesama anggota keluarga
  3. Saling bersikap terbuka dan jujur antar anggota keluarga
  4. Saling menjaga perasaan dan suasana dalam komunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga tercipta saling pengertian satu sama lain dalam upaya menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga
  5. Mengakui keberadaan dan fungsi tiap-tiap anggota keluarga
  6. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira antar sesama anggota keluarga
  7. Menjalankan kewajiban sebagai anggota keluarga dengan tulus dan ikhlas
  8. Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman diantara anggota keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian pada anggota keluarga.

C. Apresiasi Pernikahan

Pernikahan yang langgeng tidak luput dari keharmonisan yang berhasil diciptakan oleh pasangan. Apresiasi adalah suatu proses melihat, mendengar, menghayati, menilai, menjiwai, dan membandingkan atau penilaian terhadap sesuatu. Dalam hal pernikahan, apresiasi atau penghargaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Memberikan nama panggilan kesayangan yang manis dan baik adalah hal kecil yang dapat dilakukan oleh pasangan.

Mulailah dari sekarang, saat ini, dimana saja kita berada menjaga kepercayaan yang sudah diberikan dari pasangan, agar tercipta keluarga harmonis yang menjadi inspirasi keluarga lain yang ada isekitar kita, dan jangan lupa saling memuji.

Referensi : Komitmen dan Apresiasi dalam Membangun Keluarga Bahagia dan Sejahtera





Agama & Manusia

Agama & Manusia. Agama adalah sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang maha kuasa menyertai seluruh ruang lingkup kehidupan manusia, baik kehidupan manusia individu maupun kehidupan masyarakat, baik kehidupan materil maupun kehidupan spiritual, baik kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi.

Sedangkan Manusia adalah makhluk terpercaya dan manusia adalah makhluk yang paling pandai. Sedangkan para ahli filsafat memahami manusia dengan sebutan animal rasional (binatang yang berpikir), animal educandum dan animal educable, (makhluk yang harus di didik dan dapat di didik), animal symbolicum, (makhluk yang bersimbol), homo laguen (makhluk yang pandai menciptakan Bahasa), homo sapiens (makhluk yang mempunyai budi), homo faber (makhluk yang pandai membuat alat-alat) homo ekonomicus (makhluk yang tunduk pada prinsi-prinsip ekonomi), homo relegius (makhluk yang beragama) dan makhluk yang pandai bersiasat.

Ilustrasi : Agama & Manusia

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi dan merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan berpikir dan merefleksikan segala sesutau yang ada, termasuk merefleksikan diri serta keberadaanya di dunia. Inilah yang menentukan dan sebagai tanda dari hakikat sebagai manusia, di mana makhluk lain seperti binatang tidak memilikinya. Maka sangat layak jika dikatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berpikir.

Agama merupakan suatu hal yang harus di ketahui makna yang terkandung di dalamnya, dan agama tersebut berpijak kepada suatu kodrat kejiwaan yang berupa keyakinan, sehingga dengan demikian, kuat atau rapuhnya agama bergantung kepada sejauhmana keyakinan itu ketentraman dalam jiwa.

Unsur utama dalam beragama adalah Iman atau percaya kepada keberadaan Allah dengan sifat-sifat, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci serta nilainilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Allah, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman yang merupakan salah satu ciri sehat mental.

Setiap orang hendaknya menjalankan perintah agama dengan penuh tanggung jawab dan meninggalkan larangan. Dengan melaksanakan kehidupan beragama dan menjalankan ibadah, seseorang yang memiliki kesadaran agama secara matang  dan melaksanakan ibadahnya dengan penuh konsisten, stabil, mantap, dan penuh tanggung jawab dan dilandasi wawasan agama yang luas.

Satu  kenyataan yang tampak jelas yang telah modern telah maju atau yang sedang berkembang ini, ialah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagian orang dalam hidup. Kesulitan-kesulitan dan bahaya–bahaya alamiyah yang dahulu yang menyulitkan dan menghambat perhubungan.sekarang tidak menjadi sosial lagi. Kemajuan industri telah dapat menghasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebutuhan-kebutuhan jasmani tidak sukar lagi untuk memenuhinya.

Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan untuk membawa kebahagian yang lebih banyak terhadap Manusia dalam hidup. Tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagian itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental (psychis) atau beban jiwa semakin berat, kegelisahan dan ketenangan serta tekanan perasaan lebih sering terasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagian.

Kebutuhan-kebutuhan primer menjadi skunder tetapi kebutuhan skunder itulah yang menguasainya. Akibat meningkatnya kebutuhan kebutuhan pada masyarakat moderen itu maka dalam kehidupannya selalu mengejar waktu, mengejar benda, mengejar prestise. Semuanya ini akan membawa hidup seperti mesin, tidak mengenl istirahat dan ketentraman, hidupnya di penuhi oleh ketegangan perasaan (tension), karena keinginananya untuk menghidari perasaan tertekan, jika tidak tercapai semua  yang tampaknya menggembirakan. Akibat lebih lanjut ialah timbulnya kegelisahan-gelisah (anxiety) itu akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia didalam hidup.

Dari sinilah orang semakin merasa semakin jauh dari kegembiraan dan kebahagian, karena ketegangan dan kegelisahan batin yang selalu menghinggapinya dalam kehidupannya sehari-sehari. Oleh karna itu akan timbullah pula perubahan dalam cara-cara pergaulan hidupnya selama ini.

Hubungan Agama dan Manusia

Betapa besarnya pengaruh agama dalam kehidupan Manusia, baik bagi diri sendiri maupun dalam lingkungan keluarga, ataupun di kalangan masyarakat umum. Karena itu dapat pula dikatakan bahwa agama itu mempunyai fungsi yang amat penting dalam kehidupan manusia, tanpa agama manusia tidak mungkin merasakan kebahagian dan ketenangan hidup. Tanpa agama, mustahil dapat dibina suasana aman dan tentram.

Keagamaan adalah perasaan berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, antara lain takjub, kagum, percaya yakin keimanan, tawakal pasrah diri, rendah hati ketergantungan pada Ilahi, merasa sangat kecil kesadaran akan dosa dan lain-lain.

Agama sebagai bentuk keyakinan Manusia terhadap sesuatu yang Maha Kuasa (Adi Kodrati) menyertai seluruh ruang lingkup kehidupan Manusia baik kehidupan Manusia individu maupun kehidupan masyarakat, baik kehidupan materil maupun kehidupan spiritual, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi ,Agama (Islam) merupakan a total way of life. Tidak ada satu ruangan pun dalam kehidupan Manusia yang tidak di jamah oleh ajaran agama (Islam). Menurut Elizabeth K. Nottingham meskipun  perhatian manusia tertuju kepada adanya suatu dunia yang tak dapat dilihat (akhirat) namun agama juga melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan positivism atau materialism, jika sains dan teknologi sudah maju, masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan teknologi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi ketika direnungkan lebih dalam timbul persoalan. Apakah keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan teknologi? Bagaimana ia mampu memenuhi keinginan yang tidak terbatas, seperti dia tidak ingin mati. Apakah teknologi yang sangat canggih itu mampu mengatasi persoalan tersebut? Kalau memang ada teknologi yang mampu mengatasi persoalan tersebut akan dipastikan semua orang akan menganut faham ini. Ternyata pandangan materialism tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena alur pikirannya tidak logis.

Kebanyakan ahli studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan-alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

Agama adalah Sumber ketenangan Jiwa

Agama adalah kebutuhan jiwa (psikis) manusia, yang akan mengatur dan mengendalikan sikap, kelakuan dan cara menghadapi tiap-tiap masalah. Dengan demikian, di dalam agama ada larangan yang harus dijauhi, karena di dalam nya terdapat dampak negatif dari kehidupan manusia. Dan juga ada perintah yang harus ditaati karena di dalamnya ada kebaikan bagi orang yang melakukan. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT secara benar, di dalam hatinya tidak akan diliputi rasa takut dan gelisah. Ia merasa yakin bahwa keimanan dan ketaqwaannya itu akan membawa kelegaan dan ketenangan batinnya.

Pelaksanaan agama (ibadah) dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi orang dari rasa gelisah dan takut. Diantara dari berbagai macam ibadah yang ada yaitu shalat secara psikologis semakin banyak shalat dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT maka akan tenteramlah hati, karena dalam shalat itu sendiri mengandung psiko-religius (kekuatan rohaniah) yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme sehingga memiliki semangat untuk masa depan. Daripada itu tujuan utama dari shalat adalah ingin beraudiensi, mendekatkan diri dengan Allah supaya terciptalah kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.


Agama adalah sumber Kesehatan mental

Berbagai aliran dikalangan ahli ilmu jiwa mengatakan tentang pentingnya agama dalam kesehatan mental. Keimanan kepada Tuhan merupakan kekuatan luar biasa dalam membekali manusia yang religius. Dengan kekuatan rohaniah akan menopang seseorang dalam menanggung beratnya beban kehidupan, menghindarkannya dari keresahan yang menimpa banyak manusia yang hidup pada zaman modern ini yang didominasi oleh kehidupan materi.

William James, seorang ahli psikologi dari Amerika Serikat mengatakan bahwa tidak ragu lagi bahwa terapi yang terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan kepada Tuhan adalah salah satu kekuatan yang tidak boleh tidak harus dipenuhi untuk membimbing seseorang dalam hidup ini. Selanjutnya dia berkata bahwa antara manusia dan Tuhan terdapat ikatan yang tidak terputus. Apabila manusia menundukkan diri di bawah pengarahan-Nya, cita-cita dan keinginan manusia akan tercapai.

Selanjutnya Usman Najati menulis, “Manusia yang benar-benar religius akan terlindung dari keresahan, selalu terjaga keseimbangannya dan selalu siap untuk menghadapi segala malapetaka yang terjadi”. Kemudian Najati mengutip pendapat Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa selama tiga puluh tahun yang lalu, pribadi-pribadi dari berbagai bangsa di dunia telah melakukan konseling dengannya dan diapun telah banyak menyembuhkan para penderita gangguan jiwa. Semua pasien yang pernah diobatinya yang usianya di atas tiga puluh lima tahun memiliki problem yang bersumberkan pada kebutuhan akan agama. Pasien tersebut telah kehilangan sesuatu yang diberikan oleh agama. Pasien tersebut baru sembuh setelah mereka kembali pada wawasan agama.

Zakiah Daradjat menulis, “Keimanan adalah suatu proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama meyakininya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan mentalnya kurang sempurna pula. Selanjutnya Zakiah Daradjat menambahkan bahwa fungsi agama adalah: (1) memberi bimbingan dalam hidup, (2) menolong dalam menghadapi kesukaran, dan (3) menentramkan batin.

Dengan demikian, agama benar-benar dapat membantu orang dalam mengendalikan dirinya dan membimbingnya dalam segala tindakan. Begitu pula kesehatan jiwa dapat dipulihkan dengan cepat apabila keyakinan kepada Allah SWT dan ajaran-Nya dilakukan.

Referensi : Agama & Manusia  












Sabar Dalam Menghadapi Kesulitan Hidup

Ilustrasi : Sabar Dalam Menghadapi Kesulitan Hidup

Sabar Dalam Menghadapi Kesulitan Hidup. Sifat orang Tiongkok yang selalu bekerja keras merupakan sifat yang telah diturunkan secara turun-temurun dari leluhur mereka. Dulu orang Tiongkok mencari penghidupan dari agrikultur atau pertanian, mereka harus bekerja keras bercocok tanam agar bisa makan. Sifat tersebut terus diturunkan hingga sekarang meski terjadi perubahan mata pencaharian utama, menjadi lebih kepada produksi dan industri.

Budaya ini juga terbentuk karena sejarah panjang bangsa Tiongkok yang mengalami masa-masa sulit, seperti peperangan dan kelaparan. Sejarah tersebut membuat mereka terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa kuat dan terus bekerja keras. Mereka pun menerapkan sifat tersebut ke anak cucu dengan mendidiknya sejak dini untuk menjadi orang yang memiliki mental pekerja keras.

Jika di Indonesia ada pepatah yang berbunyi “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, orang Tiongkok memiliki prinsip yang disebut (néng chīkǔ). Prinsip itu memiliki arti kurang lebih “Dapat bertahan dalam kesulitan.” Karena itulah orang Tiongkok terbiasa untuk tidak terlena dalam kesenangan sesaat dan tetap bertahan meski mengalami hambatan dalam hidup.

Sebenarnya, siapapun tidak menginginkan terjadinya ujian dalam kehidupan kita, namun pada kenyataannya tidak ada yang bisa menghindarinya, sehingga sering membuat kita berburuk sangka kepada Allah SWT dan menganggap Allah SWT kejam. Padahal, ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupan masing-masing, sebagaimana firman Allah SWT: “Allah tidak memberikan kesulitan kepada seseorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [Al-Baqarah/2: 286].

Suatu ujian dari Allah SWT, sesungguhnya bukan berarti bahwa Allah SWT bermaksud menganiaya hamba-Nya. Tetapi sebaliknya, ujian merupakan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya karena dengan ujian tersebut ia akan dapat mengetahui manisnya iman, dzikir, dan taqarrub bilah. Di sini tergambarkan, bahwa ujian merupakan rahmat dari Allah SWT kepada hamba yang disayangi-Nya. Allah SWT berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan (Âli ‘Imrân/3 : 186)

Cobaan adalah sarana menggapai pahala bagi orang yang sabar, apabila seorang hamba bersabar, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya pahala atau dihapus-kan sebagian dari dosa dan diangkat derajatnya, hingga ujian itu menjadi satu nikmat baginya, sebagaimana hadist Rasullullah SAW. “Tidak ada seorang Muslim yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu dihapuskan Allah SWT perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya”. (HR. Al-Bukhari). Sakit adalah pembersih dosa apabila kita bersabar. Semakin besar ujian seseorang maka semakin besar pula pahala yang diperolehnya manakala ia berhasil menyikapi ujian tersebut.

Referensi ; Sabar Dalam Menghadapi Kesulitan Hidup







Bunuh Diri Haram

Ilustrasi ceramah : Bunuh Diri Haram

Bunuh Diri Haram. Bagaimana Islam memandang perilaku bunuh diri? Sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa bunuh itu perbuatan dilarang yang hanya dilakukan oleh para pengecut. Anugerah hidup di dunia terlalu besar jika diakhiri dengan membunuh diri sendiri. Betapa banyak orang yang ingin tetap hidup, bahkan ingin hidup selamanya. Makanya sangat naif jika ada orang yang bunuh diri karena tidak mampu menghadapi masalahnya.

Dalam Islam, bunuh diri, menurut ulama termasuk kategori dosa besar, sejajar dengan membunuh orang lain tanpa hak. Perbuatan ini menunjukkan sikap tidak sabar menghadapi ujian, putus asa, dan mendahului takdir Allah. Setiap orang yang lahir di dunia sudah memiliki takaran qadla dan takdirnya. Sungguh Allah sangat menyayangi para hamba-Nya, sehingga Dia melarang perbuatan bunuh diri.

Dalam QS: An-Nisa: 29 disebutkan dengan tegas larangan bunuh diri. "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allâh adalah Maha Penyayang kepadamu."

Beberapa ulama tafsir seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Imam Al-Baghawi, secara umum menyimpulkan bahwa bunuh diri haram hukumnya dan statusnya sama dengan membunuh orang lain. Karena sesama muslim ibarat satu tubuh, yang saling menopang, dan tidak boleh saling menyakiti.

Dalam ayat yang lain juga disebutkan: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan’ (QS: Al-Baqarah:195).

Demikian juga banyak sekali keterangan dari hadits Nabi yang menjelaskan bahaya bunuh diri dan ancaman bagi pelakunya. Diantaranya, ancaman tidak masuk surga. Jika dia kafir, maka tidak akan masuk surga selamanya. Namun jika dia Mukmin, maka dia tidak akan masuk surga dari awal, atau tidak masuk surga dengan derajat tertentu.

Rasulullah saw bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kamu yang mengalami luka, lalu dia berkeluh kesah, kemudian dia mengambil pisau, lalu dia memotong tangannya. Kemudian darah tidak berhenti mengalir sampai dia mati. Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului-Ku terhadap dirinya, Aku haramkan surga baginya’. (HR: Al-Bukhari)

Dengan juga orang yang membunuh dirinya diancam akan disiksa dengan jenis perbuatannya ketika bunuh diri, sebagaimana hadits: 

Nabi bersabda: "Barang siapa bersumpah dengan agama selain Islam dalam keadaan dusta, maka dia sebagaimana yang dia katakan. Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, dia akan disiksa dengan sesuatu itu dalam neraka Jahannam. Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran, maka itu seperti membunuhnya”. (HR: Al-Bukhari). 

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang bunuh diri itu masuk kategori:

  1. Pertama, golongan orang yang kufur nikmat. Anugerah berupa kehidupan adalah momentum terbaik untuk beramal shaleh. Dengan bunuh diri berarti menyia-nyiakan karunia terindah. Hanya karena dikuasai perasaan malu, terasing, tidak mampu, marah pada diri sendiri, dan lain-lain, lalu harus mengakhir hidup.
  2. Kedua, golongan orang yang putus asa. "Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. 12:87). Sebesar apapun beban berat hidup ini, sebesar apapun dosa yang kita lakukan, maka Allah lah sebagai tempat berharap. Jangan pernah berkata: Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dan menanggung beban ini!

"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung." (QS: 9: 129). 

Referensi : Bunuh Diri Haram