Kata-kata Sabar Hadapi Cobaan, Membuat Bikin Pikiran Jadi Tenang. Setiap orang pasti mengalami beragam permasalahan dalam kehidupan. Kata-kata sabar menghadapi cobaan bisa menjadi penenang saat masalah datang. Kata sabar menjadi ungkapan yang sering terucap saat seseorang terkena cobaan hidup. Mudah memang mengatakan sabar saat mendapat masalah.
Namun, sabar bisa dikatakan susah untuk dipraktikkan. Apalagi buat orang-orang yang gampang atau mudah tersulut emosinya. Ada ungkapan mengatakan jika sabar ada batasnya, namun ada pula yang mengatakan jika sabar tak ada batasnya. Hanya orang-orang berjiwa besar dan lapang yang mampu menerapkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari.
Saat cobaan datang, sebisa mungkin menenangkan hati dan pikiran. Kamu juga bisa membaca kata-kata sabar agar tetap tanang saat ada cobaan. Dengan membaca kata-kata sabar, bisa memberikan energi positif dan mengembalikan mood untuk kembali menjalani aktivitas.
Kumpulan Kata-kata Sabar Menghadapi Cobaan
1. "Terkadang kita harus bersabar dan mengikhlaskan semua yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan."
2. "Kamu hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga di balik semua kesusahan ada kebahagiaan."
3. "Sabar itu adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan, tetapi sabar itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa indahnya."
4. "Sebuah masalah merupakan tamu yang tak diundang didalam kehidupan kita, dan kita harus perlakukan dia sebaik mungkin, maka kita juga akan diperlakukan dengan baik olehnya."
4. "Bersabarlah dengan semua masalah yang kamu hadapi, karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya."
5. "Apabila kita menginginkan sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, maka kita harus mempunyai suatu kesabaran yang besar."
6. "Bagi orang yang selalu sabar dan ikhlas, mereka akan mendapatkan kebahagian yang lebih."
7. "Mengeluh tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan, bersemangatlah dalam menjalani hidupmu dengan ikhlas dan kesabaran."
8. "Orang yang kuat dan sabar adalah orang yang mampu menyembunyikan perasaan sedihnya kepada orang lain dan senantiasa mengukir senyuman dengan ikhlas."
9. "Setiap pekerjaan ada resikonya, setiap kesuksesan pun juga ada resikonya. sabar dan ikhlas dapat mengubah resiko jadi lebih indah."
10. "Yakin itu tidak berdiri sendiri, ia bergandengan dengan syukur, dengan sabar, dengan ikhlas, dengan ridho, dengan baik sangka, dan lainnya."
11. "Bahagia itu datang bersama sabar dan perginya bahagia bersama ikhlas."
12. "Jadikanlah dirimu sebagai pribadi yang teguh dan kuat, dan manfaatkan sebuah peluang yang kecil sebagai jalan untuk kamu menuju pintu kesuksesan."
13. "Jalan menuju kebahagian yang sempurna adalah dengan kesabaran dan keikhlasan."
14. "Berusahalah dengan sebuah harapan yang kamu impikan, dan dampingilah usaha tersebut dengan kesabaran dan keikhlasan."
15. "Bersabarlah ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, dan percayalah Allah sedang menyiapkan sesuatu hal lebih indah dai sebelumnya."
16. "Kalau setiap cerita hidup kita selalu indah,hati tak pernah kenal dekat dengan sabar dan ikhlas."
17. "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apa yang kamu inginkan pasti bisa kamu dapatkan, asal sabar, usaha, dan ikhlas dalam doa."
18. "Orang yang kuat itu adalah orang yang sabar dan ikhlas ketika ditimpa musibah."
19. "Tidak ada kata-kata yang indah selain kata ikhlas dan sabar."
20. "Adakalanya sebuah keputusan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi dari situ kita belajar untuk ikhlas dan sabar."
21. "Sejak kita menginginkan keindahan dan kebahagiaan hidup, jadikanlah sabar sebagai sahabat, dan ikhlas sebagai penguat langkah."
22. "Sebelum lahir kita sudah mengenal sabar dan ikhlas, ketika ibu melewati masa mengandung dan melahirkan, saat ayah berjuang penuhi kebutuhan."
23. "Menjadi sabar dan ikhlas memang tak mudah, tapi itu harus. Belajarlah untuk menerima arti kehilangan dan penantian."
24. "Tuhan bantu aku untuk selalu bersyukur atas semua keadaan, sabar menjalani masalah dan ikhlas akan semua takdirmu."
25. "Sabar dan ikhlas adalah kunci sukses menjalani segala cobaan yang tuhan beri, agar hati dan keyakinan kita tetap kuat bertahan."
26. "Tetaplah tersenyum ketika sedang sedih dan memaafkan ketika dikecewakan, karena Allah menyukai orang mampu bersabar ketika menghadapi cobaan."
27. "Sabar dan ikhlas memang tak mudah, tapi itu harus. Belajarlah untuk menerima arti kehilangan dan penantian."
28. "Harapan itu selalu ada jika kita mau berusaha, seberatnya kita berusaha kita harus mampu melaluinya dengan ikhlas dan sabar."
29. "Jangan pernah menjadikan sebuah masalah menjadi beban hidup, jadikanlah masalah tersebut sebagai acuan untuk kamu bisa maju."
30. "Sebuah tidak akan pernah menjadi sulit apabila kamu bisa melewatinya dengan kesabaran dan keikhlasan."
31. "Di dalam hidup yang perlu kamu lakukan adalah berusaha dan berdoa kepada tuhan, dan hasilnya tergantung dengan apa yang telah kamu lakukan."
32. "Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Semangat buat hari ini! Jalani dengan ikhlas dan penuh rasa sabar."
33. "Orang yang kuat bukan mereka yang sellau menang. Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh." - Kahlil Gibran
34. "Jangan pernah menyerah dan berusaha lari, tapi hadapilah cobaan yang ada di depan kita dengan sabar".
35. "Terkadang kita diuji oleh Tuhan bagaimana kita mampu bersabar ketika diberikan suatu cobaan yang disebut ujian dari Tuhan."
36. "Dengan kesabaran kita memperoleh hasil lebih dari kekuatan kita."
37. "Kesabraan bukan berarti diam tak bergerak saat ditimpa musibah. Tapi sabar adalah aktif bergerak mencari kebaikan saat musibah datang."
38. "Sabarlah, tidak semua hal bisa kamu selesaikan sendiri. Untuk hal-hal di luar jangkauanmu, kamu harus belajar sabar dan merelakannya."
39. "Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan."
40. "Bukan masalah apa yang kau lakukan tapi, kau harus bertanggung jawab apa yang kau ciptakan."
41. "Setiap musibah mengandung permata yang berharga, tapi hanya orang-orang bersabarlah yang berhak mendapatkannya."
42. "Hati yang terlukai hanya akan terobati, oleh ikhlas hati dan berserah pada ilahi."
43. "Kesabaran adalah cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik."
44. "Belajarlah tenang dan sabar. Jalan keluar sebuah masalah dan kemenagana selalu diraih oleh mereka yang tenang dan sabar."
45. "Bersabarlah tak peduli seberapa sulit dan gelap jalan yang akan Anda lalui."
Referensi : Kata-kata Sabar Hadapi Cobaan, Membuat Bikin Pikiran Jadi Tenang
Menghadirkan Rasa Syukur dalam Musibah. seorang nenek berusia sekitar 70 tahun mengalami patah tulang dan terpaksa menginap di rumah sakit. Ia ditemani seorang anaknya dan seorang cucu di ruang ber-setting VIP. Seorang dokter lalu menyapanya dan memberikan bimbingan sebagaimana mestinya hingga pada perkataan, “alhamdulillah ibu masih patah tulang.” Si nenek terkaget-kaget mendengar ucapan sang dokter, “kok alhamdulillah, sih?!” Katanya sembari menghadapkan wajahnya ke anak perempuannya yang hendak menyuapinya.
Sikap nenek tersebut menggugah nurani kita. Betapa banyak ujian mendera kita yang acapkali dianggap malapetaka terbesar. Nenek tadi mungkin lupa atau justru bisa jadi terfokus dengan penyakitnya saja, lantas ia mengesampingkan berbagai nikmat Tuhan yang telah mengalir selama hidupnya. Orang semacam ini adakalanya membutuhkan bantuan orang lain untuk disadarkan bahwa alhamdulillah ia masih memiliki anak yang setia menemani dan menyuapinya. Alhamdulillah hanya kaki kiri yang patah bukan kaki kanan apalagi kedua-duanya atau mungkin seluruh tubuhnya, dan alhamdulillah masih fisiknya yang sakit bukan hatinya.
Ucapan alhamdulillah rupanya dalam sangkaan si nenek, sang dokter mensyukuri penyakitnya. Begitulah, banyak di antara kita salah kaprah memaknai hakikat syukur. Rasa syukur terkadang menghilang di kala seseorang sedang dilanda cobaan atau ditimpa musibah. Padahal bersyukur di saat gundah gulana bisa mengurangi beratnya penderitaan. Akan tetapi, perasaan syukur hanya berlabuh di hati orang yang benar-benar membutuhkan rasa syukur atau menunggu ada sebuah teguran terlebih dahulu, barulah ia bersyukur.
Sekadar permisalan. Seseorang yang memiliki uang tiga juta lebih tiga ratus ribu rupiah, lalu karena suatu hal ia kehilangan tiga ratus ribu dan masih tersisa tiga juta. Perhatian orang yang bersyukur akan tertuju pada jumlah yang tersisa, sehingga ia akan bersyukur, “alhamdulillah, cuma tiga ratus ribu yang hilang, bukan yang tiga juta.” Hatinya terhibur, lisan pun mengujarkan syukur.
Sebaliknya orang yang kufur nikmat hanya terpaku pada uang tiga ratus ribu yang hilang, lalu melupakan tiga juta yang masih tersisa. Hatinya sangat menyesal, lisan pun mengumpat tidak karuan. Musibah terasa amat berat, sedikit pahala pun tidak didapat, bahkan hanya dosa yang tercatat. Karena itulah, ketika seseorang datang kepada tabi’in Yunus ibn ‘Ubaid rahimahullah mengeluhkan kondisinya yang banyak kebutuhan dan sulitnya mencari pendapatan. Seakan tidak ada yang dirasakan di dunia ini selain kesengsaraan.
Kepada orang tadi, Yunus mengatakan, “Bagaimana jika sebelah matamu saya ganti dengan seratus ribu dirham, relakah anda?”
Dia menjawab, “Tentu saja tidak.” Tanya Yunus, “Bagaimana dengan sebelah tanganmu?” Jawabnya: “Tidak Juga.” Yunus melanjutkan pertanyaannya, “Bagaimana dengan sebelah kakimu?” Dia menjawab: “Aku tidak mau.” Yunus lalu menanyakan satu persatu anggota badan orang itu dan dijawab dengan jawaban yang sama. Hingga Yunus berkata, “Saya lihat anda memiliki jutaan dirham, tetapi anda mengeluh dan merasa tidak mempunyai apa-apa.”
AL-KINDI dalam kitabnya Daf ‘Al-Ahzan (Menyingkirkan Kesedihan) mengatakan, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, lalu merenungkan kesedihannya secara filosofis, kemudian dia mengerti penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta tapi mereka tidak sedih, bahkan gembira dan bahagia. Dia tak pelak lagi akan tahu bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami dan bahwa orang yang bersedih hati serta menimpakan kejadian ini pada dirinya pasti dia akan gembira dan kembali pada kondisi alaminya.”
Kata Kindi lagi “... Jika kita bersedih hati di setiap kali kita kehilangan niscaya kita akan selamanya bersedih hati. Oleh karena itu, seseorang yang berakal hendaknya tidak memikirkan hal-hal yang mudharat dan memedihkan serta karena hilangnya harta menyebabkan kesedihan hati, maka dia hendaknya memilikinya sesedikit mungkin. Suatu ketika Socrates ditanya orang, apa yang menyebabkan selalu bersemangat dan jarang sedih. Socrates pun menjawab: “Karena saya tidak mencari hal-hal yang kalau hilang akan membuat saya sedih.” (Tahdzib Al-Akhlaq: Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih).
Kita dalam hidup ini sering menerima dua hal, yaitu anugerah dan musibah. Biasanya kita akan sangat mengharapkan selalu mendapatkan anugerah, lalu dengan mudah kita mensyukuri atas anugerah itu. Kita merasakan hidup ini indah mempesona manakala kita menerima anugerah dan dengan sangat mudah pula kita akan mengucapkan “alhamdulillah” atas keindahan hidup tersebut.
Bagaimana tatkala kita menerima suatu musibah. Apakah kita masih bisa bersyukur? Adalah sesuatu yang berat bila kita bersyukur saat kita menerima musibah. Umumnya kita lebih banyak mengeluh dan merasa tidak siap atas datangnya musibah. Mungkin kita sempat berpikir Tuhan tidak adil ketika kita menerima musibah. Tak jarang pula kita menyalahkan hidup, menyalahkan Tuhan, dan seterusnya.
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa tasyakur terdiri atas tiga komponen: ilmu, hal dan amal. Ilmu, menunjukkan kesadaran kita akan nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita. Kita tahu bahwa rahman Allah jualah yang menyebabkan kita masih hidup sampai saat ini. Kita tahu bahwa rahim Allah jualah yang menyebabkan kita masih sanggup berpuasa, bertakbir dan menyampaikan syukur kita kepada-Nya.
Komponen tasyakur kedua adalah hal. Menggambarkan sikap kita akan nikmat Allah SWT. Kita bahagia karena diberi kesempatan menunaikan ibadah puasa. Kita senang karena Allah senantiasa menolong kita pada saat-saat yang diperlukan. Hati kita penuh dengan rasa terima kasih kepada-Nya, karena Dia telah membawa kita pada keadaan seperti sekarang ini.
Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu (berbahagia) bila mempunyai hati yang bersyukur, lidah yang berzikir dan isteri (suami) mukminin (at) yang membantunya dalam urusan akhirat.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Komponen tasyakur yang ketiga adalah amal. Amal diwujudkan dalam seluruh anggota badan kita. Bersyukur, kata Al-Ghazali, ialah “Menggunakan nikmat-nikmat Allah SWT untuk menaati-Nya serta menjaga agar tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya itu untuk maksiat kepada-Nya.” (Renungan-renungan Sufistik; Jalaluddin Rakhmat).
Walhasil, ungkapan syukur dari seorang hamba adalah sebuah tindakan pengagungan yang mencegah terjadinya sebutan, “mengingkari Dzat yang memberi kebaikan kepadanya.” Ungkapan syukur dapat dilakukan dengan menyebut-nyebut kebaikan yang memberi nikmat dan kebaikan prilaku orang yang bersyukur. Sekaligus menunjukkan buruknya orang yang melakukan pengingkaran terhadap nikmat.
Dengan demikian, hakikatnya kewajiban bersyukur yang sebenarnya bagi seorang hamba adalah melakukan pengagungan kepada Allah SWT, di mana pengagungan itu dapat menghalang-halangi antara dia dengan maksiat sesuai dengan ingatannya kepada nikmat-Nya itu.
Kemudian, kata Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin, mengimbangi pengagungan itu dengan rajin, taat dan bersungguh-sungguh dalam berkhidmat kepada-Nya. Karena rajin, taat dan berkhidmat kepada Allah SWT termasuk di antara hak nikmat. Maka, menjaga diri dari kemaksiatan menjadi sebuah keharusan bagi setiap hamba-Nya.
Penderitaan dunia itu termasuk perkara yang wajib disyukuri oleh seorang hamba Allah SWT. Sebabnya, semuanya akan mendatangkan manfaat yang besar, pahala berlimpah dan akan memperoleh ganti yang lebih baik di kemudian hari sesuai firman-Nya: “.. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3:145).
Kebaikan yang menyertainya kemudian, jika dibandingkan dengan penderitaan-penderitaan itu sangatlah tidak seimbang. Kenikmatan dan kebaikan terjadi pasca musibah jauh lebih besar daripada musibah itu sendiri.
Menurut para ahli hikmah, pada garis besarnya musibah manusia itu ada lima macam. Pertama, sakit di pengasingan, kedua, fakir di hari tua, ketiga, mati pada usia muda, keempat, mengalami kebutaan sesudah dapat melihat, dan kelima adalah melupakan Allah SWT setelah sebelumnya mendapat makrifat.
Tidakkah anda tahu bagaimana Nabi SAW juga memuji dan bersyukur kepada Allah SWT dalam menghadapi penderitaan, sebagaimana beliau memuji dan bersyukur ketika menerima nikmah Allah SWT. Dia pernah bersabda: “Segala puji bagi Allah, atas apa yang menyusahkan dan yang menyenangkan.”
Betapa banyak di antara kita yang sakitnya menjadi lebih parah, mengundang stres dan memancing kekecewaan mendalam gara-gara tidak bisa mensyukuri musibah yang ada. Padahal jika kita ikhlas menjalaninya dengan cara bersyukur, mungkin masalahnya akan terasa lebih mudah dan ringan. Namun jika kita tidak bersyukur saat menerima musibah, masalahnya mungkin akan terus membengkak dan membuat hidup kita semakin terpuruk.
Saatnya kita untuk melatih rasa bersyukur lebih banyak agar kita tidak menjadi orang-orang yang kufur akan nikmat yang begitu banyak kita terima. Barangkali kita baru merasa nikmatnya sesuatu tatkala kita kehilangannaya. Dengan kekuatan syukur, memiliki dan kehilangan bukanlah masalah yang besar.
Bersyukur bagi kita sangatlah penting karena beberapa alasan antara lain dengan bersyukur membuat hati dan pikiran kita terbuka menerima karunia dalam kehidupan, selalu mengingatkan semua karunia saat menerima anugerah, dan dengan bersyukur akan mampu menghadapi masalah secara proporsional. Sebabnya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan di balik masalah terdapat hikmah yang tersembunyi.
Dengan bersyukur juga bisa menjadi alat kontrol diri kita agar tidak bersikap berlebihan saat menerima anugerah atau musibah. Rasa syukur merupakan kekuatan luar biasa yang bisa menghilangkan dan mengatasi masalah dalam setiap keadaan.
Tak heran jika Allah SWT menjadikan orang yang bersyukur sebagai manusia pilihan yang teristimewa. Hal ini bisa kita seksamai dari firman-Nya yang telah memuji Nabi Nuh Alaihissalam: “Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba Allah yang banyak bersyukur.” (QS Al-Isra’ 3).
Kehidupan kita akan bahagia atau menderita, itu tergantung pada cara pandang dan pikiran kita. Melalui cara bersyukur kita akan menemukan apa yang kita cari. Apabila pikiran kita selalu mencari apa yang indah dari setiap musibah lalu mensyukurinya maka keindahan yang akan kita dapati. Itu sebabnya, rasa syukur dibutuhkan untuk menerima dan memandang indah setiap peristiwa dalam perjalanan hidup kita. Syukur-syukur dengan bersyukur kita dapat mengubah musibah menjadi anugerah.
Memang tidak gampang menghadirkan rasa syukur saat mendapatkan musibah. Untuk itu, ada baiknya kita merenungi petuah Syuraih al-Qadhi. Kata beliau, bagi kita yang mendapatkan suatu musibah hendaknya membandingkan dengan musibah orang lain yang lebih berat. Juga membandingkan antara sedikitnya sesuatu yang hilang dari kita (seperti kesehatan, harta, jabatan, keturunan dan lain sebagainya) dengan banyaknya nikmat yang masih Allah SWT sisakan buat kita.
Ketika ditanya rahasia sikapnya yang selalu bersyukur meski tertimpa musibah, al-Qadhi berujar, “Saat musibah menimpaku, aku bersyukur kepada Allah empat kali: aku bersyukur karena musibah yang lebih besar tidak menimpaku, aku bersyukur karena Allah masih memberiku kesabaran menghadapinya, aku bersyukur karena Allah memberiku petunjuk untuk mengucapkan istirja’ (inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun), dengannya aku mengharapkan pahala, dan aku bersyukur karena musibah tidak menimpa agamaku.”
Referensi : Menghadirkan Rasa Syukur dalam Musibah
Islam Sebagai Pilihan Hidup. Banyak orang yang memilih Islam karena merasa lebih rasional dan lebih cocok dengan hati nuraninya, tetapi tidak sedikit pula yang memilih Islam karena terpaksa, tidak ada pilihan lain, “ikut-ikutan” pada pilihan orangtua yang sudah Islam lebih dulu. Walaupun mengikuti tradisi (asal tradisi yang baik) akan berdampak yang baik juga, namun karena Allah SWT sudah memberikan potensi akal dan nurani kepada manusia, maka akan lebih baik jika kedua potensi tersebut disyukuri dengan cara memaksimalkan penggunaanya sesuai keinginan Sang Maha Pemberi dan Pengatur, yakni Allah SWT.
Tulisan ini mencoba memaparkan kenapa Islam harus dijadikan sebagai pilihan hidup. Namun sebelum membahas persoalan kenapa Islam yang harus dipilih, maka terlebih dahulu akan dijelaskan makna Islam.
Secara bahasa, اسلام berasal dari kata سَلَم /سِلْم yang berarti selamat (as-salām), damai dan tentram, (al-shulhu wa al-amān), berserah diri (al-istislām), tunduk (al-khudlū’/al-id’zān), patuh (al-thā’ah). Jadi, Islam berarti keselamatan dan kedamaian karena berserah diri hanya kepada Allah SWT yang tidak ada Tuhan selain Dia. Sedangkan Islam menurut istilah adalah dīn atau agama yang bersumber dari Allah SWT yang di bawah melalui para Rasul-Nya, sejak Nabi pertama: Adam as hingga Nabi terakhir: Muhammad saw untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akihirat. Namun karena agama – agama samawi (langit) sudah dirubah oleh manusia sehingga tidak orisinil lagi maka istilah Islām hanya ditujukan kepada apa yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw yakni sesuatu yang ditrunkan Allah SWT di dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih berupa aturan yang berisi perintah, larangan dan petunjuk untuk kemasalahatan manusia di dunia maupun di akhirat kelak. (Lihat himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Kitab Masalah Lima, hlm 278).
Bagi orang yang beriman dan berbekal(berilmu), tentu ada alasan kenapa Allah SWT sampai menegaskan:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Q.S. Ali Imran/3: 119 )
Di antara alasan kenapa Islam satu-satunya yang dianggap sebagai dīn di sisi Allah SWT sehingga pantas dijadikan sebagai pilihan hidup adalah karena:
Islam adalah ajaran Rabbāniyyah(Ketuhanan)
Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw dirancang oleh Allah SWT untuk mengatur hidup manusia demi terciptanya kemaslahatan hidup di dunia maupun diakhirat. Tetapi mustahil hal ini dapat dicapai tanpa memperbaiki hubungan dengan Allah SWT karena akhirnya seluruh manusia akan kembali dan menuju kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
“Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh – sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (Q.S. Al-Insyiqaq/84: 6).
Untuk menuju kepada Allah SWT, maka manhaj (metode) yang digunakan haruslah menhaj rabbāni yang murni bersumber dari Allah SWT yang dirisalahkan kepada Rasul-Nya yang terakhir: Nabi Muhammad saw. Murni yang dimaksud di sini adalah ajaran Islam selamat dari penyimpangan dan percampuradukan dengan spekulasi-spekulasi pemikiran manusia, yakni murni sumbernya, murni aqidahnya dan murni syari’atnya. Allah SWT telah menjamin kemurnian sumber ajaran-Nya:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.S. Al-Hijr/15: 9).
Hanya Al-Qur’an satu-satunya Kitab Suci dari Allah SWT yang masih terpelihara dari perbuatan akibat ulah “jahil” manusia. Kesucian Al-Qur’an dapat terjaga karena memang ada jaminan penjagaan dari Allah SWT. Siapapun -termasuk Nabi seklipun- tidak memiliki wewenang dan kemampuan membuat Al-Qur’an. Allah SWT mengancam Nabi jika berani memalsukan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: “Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya Dia (Muhammad) Mengadakan sebagian Perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya” (Q.S. Al-Haaqqah/68: 43-46)
Islam adalah ajaran Insaniyyah
Jika kita merenungkan aya-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an, memikirkan tema-temanya dan fokus perhatiannya, maka kita akan berkesimpulan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan sebagai pedoman hidup untuk manusia. Itulah sebabnya penyebutan manusia di dalam Al-Qur’an disebut berulang kali dengan berbagai istilah seperti: al-Insān sebnyak 63 kali, al-Nās sebanyak 240 kali, Bani Adam sebanyak 6 kali, dan basyar sebanyak 25 kali. Dalam ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun saja (Q.S. Al-Alaq: 1-5) kata al-insān di sebut 2 kali.
Selain itu, sosok Nabi yang dikirmkan Allah SWT sebagai teladan dan pemberi kabar untuk umat manusia dari kalangan manusia. Perjalanan hidupnya (biografinya) tercatat dalam sejarah ummat manusia, yang menunjukkan keberdaanya tak terbantahkan oleh sejarah. Dalam banyak kesempatan, Al-Qur’an selalu memperkuat unsur kemanusian Nabi Muhammad saw, seperti:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa“. (Q.S. Al-Kahfi/18: 110).
Karena Nabi Muhammad saw juga manusia biasa, maka Beliau pantas menjadi teladan bagi semua manusia. (Qs. Al-Ahzab/33: 21).
Hal yang lain adalah rangkaian ibdah mahdlah yang hanya berhubungan langsung dengan tuhan, ternyata selalu dikaitkan dengan perhatian terhadap aspek kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan. Hal ini bisa kita lihat pada kewajiban shalat yang dikaikan dengan pencegahan terhadap perbuatan keji dan munkar (Q.S Al-Ankabut/29: 45), atau kecelakaan bagi orang yang shalat tapi hanya sekedar formalitas belaka dan enggan memberikan bantuan (Q.S. Al-Maun/107: 4-7). Demikian pula kewajiban zakat / shadaqah yang di samping bertujuan untuk penyucian jiwa dan harta, juga sekaligus untuk menggembirakan orang lain dengan membebaskan/meringankan penderitaan orang lain dari himpitan kefakiran. Ibadat puasa dan hajipun di samping berdimensi ketuhanan juga sekaligus berdimensi kemanusiaan.
Ini menunjukkan bahwa Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan al-Sunnah benar-benar ditujukan untuk manusia sehingga ajarannya disesuaikan dengna fitrah dan kemampuan manusia. Karena Allah SWT Maha Pencipta dan Maha Mengetahui detail keadaan ciptaan-Nya, sehingga dīn al-Islām sebagai syariat/aturan Allah SWT untuk manusia disesuaikan dengan keadaan hamba-Nya.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. Al-Baqarah/2: 286).
Islam mengakui adanya nafsu sex yang dimiliki manusia tetapi bukan untuk dikekang seperti para romo/pastur dan biksu yang tidak menikah (Q.S. Al-Hadid/57: 27 ºp§ÏR$t6÷duur $ydqããytGö/$# dan mereka mengada-adakan rahbāniyyah), dan bukan pula untuk diumbar secara secara bebas seperti kaum hedonis. Tetapi nafsu haruslah dikuasai agar bisa dikendalikan dan disalurkan di tempat yang dibenarkan Syar’i, dan bukan sebaliknya, nafsulah yang mengendalikan kita.
Sebagai agama fitrah, Islam pun menyadari bahwa sebagian manusia menyenangi perhiasan dan membolehknanya untuk dimanfaatkan selama poporsional dan tidak berlebihan dalam timbangan agama (Q.S. 7: 31-32).
Hak Asai Manusia
Sebelum dunia mengenal HAM, 14 abad yang silam, Islam datang dengan mendeklarasikan bahwa manusia mempunyai hak yang harus dijaga, sebagaimana dia mengemban kewajiban yang harus dilaksanakan (lihat juga inti Piagam madinah). Di antara hak tersebut antara lain.
1. Hak hidup manusia
Islam memandang hidup sebagai karunia dari Allah SWT di mana tidak ada seorang yang boleh merampasnya. Seorang tuan tidak boleh mermpas hak hidup budaknya, pemerintah tidak boleh merampas hak hidup rakyatnya, dan orang tua tidak boleh merampas hak hidup anaknya. Oleh karenanya, Allah SWT melarang membunuh anak wanita karena malu (Q.S. At-Takwir/81: 8-9) dan membunuh anak karena takut miskin (Q.S. Al-Isra’/17: 31).
Dalam hak hidup, Islam tidak membedakan antara orang yang merdeka atau budak, bahkan sampai pada janin yang masih ada dalam kandungan mempunyai hak untuk dihormati, tidak boleh digugurkan, meskipun dia dari hasil perbuatan haram. Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup umat manusia, Islam mensyri’atkan hukum qhishāsh bagi orang yang membunuh dengan secara sengaja, tanpa alasan dan prosedur yang benar. Allah berfirman:
“Dan dalam qishāsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 179).
Di sini Islam lebih memilih mengorbankan seseorang yang memang bersalah (karena membunuh) agar orang banyak bisa lebih aman karena terlindungi hak hidupnya dan agar mereka bisa mengambil pelajaran supaya tidak dengan gampang merampas hak hidup orang lain.
Penghormatan kepada hak hidup setiaap insan lebih dipertegas lagi oleh Allah dalam firman-Nya:
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seakan-akan Dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” (Q.S. Al-Maidah/5: 32).
2. Hak meyakini sebuah agama dan melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang diyakininya.
Meskipun Islam diyakini sebagai satu-satunya dīn yang paling benar dan diridhai oleh Allah SWT, namun dalam menyampaikan Islam, tidak boleh dengan pemaksaan لا اكراه في الدينtidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) Q.S. Al-Baqarah/2: 256(. Oleh karenanya, keyakinan pada suatu agama dan pelaksanaan ritual keagamaanya harus berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Q.S. Al-Kafirun/109: 6). Bahkan jika mayoritas umat Islam berkuasa di suatu wilayah, mereka diwajibkan memberikan perlindungan kepada pelaksanaan ibadah agama lain. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:
“Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah” (Q.S. Al-Hajj/22: 40).
Hal inilah yang kemudian mengilhami munculnya Piagam Madinah yang disusun oleh Nabi saw bersama para sahabatnya yang berisi deklarasi hak asasi manusia. Inti Piagam Madinah tersebut adalah masing-masing merdeka mengerjakan agamanya dan tidak boleh saling mengganggu, serta wajib saling menjaga dan membantu keamanan antara mereka.
3. Hak kemuliaan dan penjagaan kehormatan
Islam mengharamkan menginjak-nginjak kehormatan manusia sebagaimana mengharamkan darah dan harta benda. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian darah, kehormatan dan harta kalian.” (H.R. Bukhari Muslim).
Untuk itu manusia tidak boleh disakiti baik secara fisik maupun nonfisik, misalnya dengan mempermalukan/merendahkan harga dirinya, mengumpat, mencela, memberikan gelar yang jelek, ghibah dan semacamnya. (Q.S. Al-Hujurat/49: 11-12).
4. Hak hidup berkecukupan
Di dalam ajaran Islam, jika ada seorang muslim memilik pendapatan tidak memadai, maka kerabat yang berkecukupan berkewajiban untuk membantunya. Allah SWT berfirman: orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. (Q.S. Al-Anfal/7: 75).
Jika tidak ada kerabat yang berkecukupan, maka harus diambil dari zakat kaum muslimin yang lain, sampai tercukupi kebutuhan hidupnya. Kata Umar ra. : اذا اعطيتكم فاغنوا (jika anda memberi, maka cukupkanlah).
Islam adalah ajaran universal
Islam itu universal (syumūl) yang meliputi semua zaman, kehidupan dan eksistensi manusia. Islam adalah risalah semua zaman. Islam adalah risalah yang dibawa para nabi sejak Nabi Adam as. Sampai nabi terkahir yakni Nabi Muhammad saw. Yang misinya adalah menyerukan kepada tauhidullah dan menjauhi thagut. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghutitu.” (Q.S. Al-Nahl/16: 36).
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (Q.S. Al-Anbiya/21: 25).
Pernyataan para Nabi bahwa mereka semua muslim bisa dilihat antara lain dalam Q.S. Yunus/10: 72, 84, Al-Baqarah/2: 128, 132, Yusuf/12: 101, Al-A’raf: 126, An-Naml/16: 31, Ali Imran/3 :52 dan lain-lain.
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)“. (Q.S. Al-Ambiya/21: 107-108).
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (Q.S. Saba’/34: 28)
Bahkan dalam Q.S. Al-Furqan/25: 1 dan Shad/38: 87 dikatakan bahwa Al-Qur’an sebagai peringatan bagi seluruh alam semesta.
Islam adalah agama dalam seluruh fase dan sektor kehidupan. Islam mengatur fase kehidupan manusia dari sebelum lahir, masa bayi, kanak-kanak, remaja, tua, bahkan setelah ia meninggal dunia. Tidak ada jenjang kehidupan yang berlalu begitu saja, kecuali Islam mempunyai bimbingan, arahan dan ketentuan di dalamnya. Demikian pula Islam merupakan risalah bagi manusia pada seluruh sektor kehidupan dan segala aktvitas kemanusiaanya, baik yang bersifat material ataupun spiritual, individu ataupun sosial, dan gagasan ataupun operasional. Islam menolak pemisahan kehidupan menjadi dua bagian (dikatomi). Konsep dikatomi ini awalnya berasal dari tokoh-tokoh nasrani yang menyandarkan statemenya kepada injil mereka, “ Berikanlah apa yang menjadi hak milik kaisar kepada kaisar, dan berikanlah apa yang menjadi hak milik Allah SWT kepada Allah SWT.” Penolakan Islam didasarkan pada argumentasi bahwa Islam menjadikan seluruh alam semesta beserta isinnya adalah mutlak milik Allah SWT. Allah SWT Berfirman:
“ . . . Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Q.S. Ali Imran/3: 83).
Oleh karenanya, Islam tidak memisahkan persoalan politik, negara, ekonomi dengan sistem dan akhlak Islam.
Oleh karena Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw, diturunkan untuk seluruh manusia dalam semua rentan waktu dan tempat (Q.S. Al-Anbiya’/21: 107), maka Islam secara otomatis mencakup segala aspek/bidang kehidupan, kapanpun dan dimanapun. Tidak ada aspek kehidupan yang dilupakan dalam Islam. Allah SWT berfirman:
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab” (Q.S. Al-An’am/6: 38).
Di sini akan dijelaskan secara singkat tentang universalitas aspek ajaran islam:
a. Syumūliyah(universalitas) Aqidah Islam
Aqidah Islam bersifat universal karena mampu menjelaskan secara tuntas dan utuh terhadap seluruh masalah besar dalam persoalan kehidupan manusia, seperti masalahuluhiyyah (ketuhanan), alam semesta, manusia, nubuwwah (kenabian) dan tempat kembali (akhirat).
Aqidah Islam bersifat universal karena tidak pernah membagi manusia di antara dua tuhan, yakni: Tuhan kebaikan dan cahaya, dengan Tuhan kejahatan dan kegelapan seperti dalam agama Majusi. Atau tidak membagi manusia di antara Allah SWT dan setan yang dalam injil deiknal dengan sitilah “Pemimpin alam” dan “Tuhan kehidupan” dimana setan mempunyai kerajaan dunia sedang Allah SWT mempunyai kerjaan langit. Dalam Islam, setan tidak mempunyai kuasa terhadap manusia kecuali kekuatan menggoda, merayu dan menyeru kepada kejahatan dan kesesatan. Pengakuan syaitan sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (Q.S. al-Nahl/16: 99-100).
Aqidah Islam bersifat universal karena ia tidak hanya disandarkan pada instink atau perasaan semata sebagaimana filsafat-filsafat ketimuran dan aliran-aliran tasawuf, atau pada rasio akal pikiran semata sebagaimana filsafat-filsafat kemanusiaan yang menjadikan akal pikiran sebagai satu-satunya media untuk mengenal Allah SWT atau media untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan, tetapi Aqidah Islam disandarkan pada akal dan hati nurani secara bersamaan.
Aqidah Islam bersifat universal karena merupakan Aqidah yang utuh, tidak mengenal pemilah-pemilah. Seorang baru dikataknmu’min bila ia mengimani Allah dan segala aspek yang datang dari-Nya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan[373] antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan” (Q.S. Al-Nisa/4: 150-151)
b. Syumūliyah (universalitas) Syariat Islam (Ibadah dan Mu’Amalat)
Syari’at Islam mencakup tata aturan bagi individu, keluarga, sosial kemasayarakatan, negara dan hubungan international. Ibadah Islam dalam arti luas mencakup seluruh aspek keberadaan manusia. Seseorang muslim tidak beribadah kepada Allah SWT hanya dengan lisannya saja, atau anggota badannya saja, atau hatinya saja tanpa mengikutsertakan akal dan indranya. Tetapi dia beribadat dengan semuanya. Dengan hatinya dia berharap dan takut, dengan lisanya dia berdzikir dan berdo’a, dengan badannya dia shalat, puasa dan berjihad, dengan akalnya dia berfikir dan merenung, dan dengan indranya dia pergunakan sesuai dengan kehendak Allah SWT.
c. Syumūliyyah (universalitas) Akhlaq Islam
Akhlak Islam menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali, baik itu yang bersifat rohani maupun jasmani, intelektual atau instink, individual atau sosial, dan lain-lain.
Cakupan pembahasan akhlak Islam bisa dilihat sebagai berikut:
Yang berkenan dengan individu dalam semua seginya, seperti: kebutuhan jasmani dan keterbatasanya (Q.S. 7: 31), potensi akal untuk menalar kejadian sekitarnya (Q.S. 10: 101), jiwa yang mempunya potensi suci dan kotor (Q.S. Al-Syams: 9-10).
Aklak Islam yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, seperti: hubungan antara suami istri (Q.S. 4: 19), hubungan dan tanggung jawab antara orang tua (Q.S. 17: 31) dan anak (Q.S. 46: 15), dan hubungan antar kerabat (Q.S. 16 dan 17: 26).
Yang berkaitan dengan kemasayarakatan dan kenegaraan, seperti: adab bertamu (Q.S. 24: 27) dan menerima tamu (HR. Bukhari Muslim), etika melakukan transaksi jual-beli (Q.S. Al-Muthaffifin: 1-3) atau utang piutang (Q.S. 2: 282), politik dan pemerintahan (Q.S. 4: 58).
Yang berkaitan dengan akhlak terhadap makhluk Allah SWT yang lain, seperti akhlak terhadap hewan (Q.S. 6: 38), tumbuhan dan lingkungan lainnya (Q.S 30: 41).
Islam adalah ajaran yang moderat (wasthiyyah)/seimbang (tawazun)
Yang dimaksud dengan moderat atau seimbang di sini adalah keseimbangan anatara dua hal yang saling berhadapan, di mana salah satu dari dua hal yang saling berhadapan, di mana salah satu dari keduanya tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya dengan mengabaikan yang lain. Contoh dua hal yang saling brhadapan adalah antara: ruhiyyah (sipiritualisme) dengan maddiyah (materealisme), fardiyyah (individu) dengan jama’iyyah (kolektif), Waqi’iyyah (kontekstual) dengan mitsaliyyah (idealisme), dan antara tsabat (konsisten) dengan tathawwur (perubahan).
Penciptaan alam semesta beserta isinya adalah fenomena tawazun. Allah berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(Q.S. Al-Qamar/54:49)
“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Q.S. Al-Mulk/67: 3)
Alwatsiyyah dalam ajaran Islam
Dalam hal keyakinan, Islam adalah agama yang bukan dianut oleh kaum khurafat (yang berlebihan dalam keyakinan sehingga mempercayai sesuatu tanpa dalil) dan bukan pula oleh kaum maddiyyin (yang mengingkari segala sesuatu yang tidak dapat terjangkau oleh indra), tetapi Islam mengajak keyakinan apabila keyakinan itu memiliki dalil yang pasti dan kuat. (Q.S. 2: 111). Islam bukan bukan dianut oleh kaum atheis (sama sekali tidak percaya adanya Tuhan) dan bukan pula kaum polytheis (meyakini banyak Tuhan), tetapi Islam mengajak beriman pada Tuhan Yang Satu, Yang Maha Agung, Tidak ada sekutu baginya, Tidak beranak, dan tidak diperanakkan.
Dalam Ibadat dan syariat, Islam bukanlah agama yang hanya mementingkan sisi ibadah ritual dn menjauhi hal-hl yang bersifat kebutuhan manusiawi duniawi. Contoh yang sangat jelas seperi disebutkan dalam Q.S Al-Jumuah/62: 9-10.
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Dalam sistem akhlak, Islam bukanlah agama yang menganggap manusia seperti malaikat, yang kemudian membuat aturan yang mustahi dapat dikerjakan oleh manusia, dan bukan pula menyamakan manusia dengan binatang yang kemudian membuat aturan tanpa aturan (bebas). Tetapi Islam memandang manusia sebagai Makhluk yang berakal memiliki petensi kebinatangan (nafsu syahwat dan instink)dan potensi kemalaikatan (spiritualis ruhani). Allah SWT berfirman:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Al-Syams: 7-10). Inilah beberapa Alasan kenapa Allah SWT menyatakan bahwa yang namanya agama menurut Allah hanyalah Islam.