Jangan anggap remesh rasa malas, Bisa jadi ada yang salah di tubuh kamu. Kita semua setuju bahwa untuk bisa sukses kejar mimpi, kita harus jauh-jauh dari rasa malas. Namun tidak bisa dipungkiri, rasa malas atau yang sering kita sebut dengan istilah mager sering kali kita alami dan sulit kita hindari. Faktor mood dan suasana sering kali menjadi alasan kita untuk memaklumi kemunculan rasa malas, dan akhirnya kita tidak mencoba melawan rasa malas tersebut.
Faktanya, peneliti mengatakan bahwa kurangnya motivasi akibat dari rasa malas ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, bukan sekadar sikap dan kebiasaan ataupun suasana hati dan lingkungan.
Kenapa rasa malas bisa muncul? Menurut informasi yang didapat melalui Live Science, sejumlah peneliti dari Oxford University sudah melakukan penelitian dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI), alat yang menunjukkan gambaran belahan otak manusia. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti motivasi dan rasa malas.
Hasil scan menunjukkan bahwa ketika orang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau ingin berkegiatan, area premotor pada otak akan menyala dan titik lain di otak yang mengendalikan gerakan di tubuh akan menjadi aktif. Area premotor merupakan area otak yang penting, karena menuntun gerakan kita dan mengendalikan otot besar dan proksima dari tubuh.
Pada orang yang malas, area premotor pada otak tidak menyala sehingga tidak memunculkan sinyal ke otot besar dan proksima di tubuh. Koneksi otak yang menghubungkan “keputusan untuk melakukan sesuatu” menjadi sebuah tindakan menjadi tidak efektif pada orang yang malas, sehingga muncul rasa malas bergerak, lelas dan lemas karena otak harus melakukan upaya lebih keras untuk mengubah keputusan yang diambil menjadi tindakan untuk bergerak.
Tingkat dopamin akan memberikan dampak yang berbeda di berbagai area otak. Peneliti menemukan bahwa para pekerja keras memiliki dopamin paling banyak di dua area otak yang memainkan peran penting dalam penghargaan dan motivasi.
Malas adalah penyakit
Dr. Richard Weiler mengatakan bahwa kemalasan harus mulai dikategorikan sebagai penyakit. Malas berkepanjangan berdampak kepada penyakit berbahaya seperti obesitas, diabetes dan hipertensi, sehingga bisa disimpulkan bahwa malas adalah sumber penyakit. Oleh karena itu, harus segera diatasi dan dicari solusinya.
"Olahraga dan aktivitas tubuh adalah solusi untuk menghindari rasa malas, namun masyarakat zaman memiliki minim pengetahuan tentang nutrisi dan olahraga"
Spesialis Kedokteran Olahraga, Dr. Michael Triangto, SpKO, menyebutkan bahwa pola hidup sehat dengan melakukan gaya hidup aktif dan berolahraga adalah kunci dari penyakit kemalasan. Namun, banyak yang masih belum paham mengenai nutrisi dan kesadaran untuk rutin berolahraga.
Rasa malas bisa juga disebabkan karena masalah mal nutrisi. Menurut Dr. Michael Triangto, SpKO, mal nutrisi tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi. “Ingat, mal nutrisi tidak hanya mengacu pada orang yang kekurangan gizi. Tetapi juga berbicara tentang komposisi asupan bahan-bahan nutrisi yang tidak tepat,” ujarnya. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa rasa malas berawal dari kebiasaan hidup yang salah.
1. Melewatkan waktu sarapan
Misalnya kamu melewatkan waktu sarapan, sehingga serangan lapar muncul lebih besar ketika jam makan siang dan kamu terdorong untuk makan menu berkarbohidrat tinggi dalam porsi besar. Alhasil, kandungan gula dalam darah melonjak drastis yang berdampak kepada terhambatnya kerja neuron orexin dalam hipotalamus otak yang bertugas untuk menjaga kamu tetap terjaga dan fokus. Tidak heran, kalau setelah makan siang, kamu akan merasa mengantuk dan malas berkegiatan.
2. Makan sebelum tidur
Mengonsumsi makanan dan minuman manis atau berkarbohidrat tinggi sebelum tidur juga bisa berdampak buruk. Masuknya gula akan membuat tubuh memerintahkan otak untuk mengeluarkan hormon insulin. Oleh insulin, semua gula yang ada dalam darah dimasukkan ke sel otot, hati, dan ke dalam lemak. Alhasil, gula darah menjadi drop, sehingga otak memerintahkan tubuh memproduksi hormon yang bisa membuat tidur kamu tidak nyenyak dan bangun dalam kondisi tidak segar, pegal-pegal dan malas!
3. Pola diet yang salah
Tubuh tidak bersemangat juga bisa disebabkan oleh kesalahan pola diet seperti tidak mengonsumi karbohidrat sama sekali. Harapannya, dengan absennya karbohidrat, tubuh akan membakar lemak sebagai sumber energi. Padahal, tubuh lebih suka menguras persediaan glikogen (protein otot) daripada membakar lemak. Ditambah lagi, untuk setiap satu kilogram glikogen yang hilang terbakar, tubuh juga akan kehilangan 3 kilogram air yang diikat oleh glikogen. Tidak heran kalau para pelaku diet jenis ini selalu terlihat lemas dan tidak energik.
Jadi, jangan sepelekan rasa malas yang sering muncul ya, Dream Warriors. Pahami betul tubuh kamu, apa yang kamu konsumsi dan gaya hidup kamu. Terapkan gaya hidup sehat untuk terhindar dari rasa malas dan proses kejar mimpi kamu bisa lebih lancar.
Selain itu, untuk meningkatkan motivasi kamu, follow gerakan sosial Kejar Mimpi di media sosial untuk mendapatkan motivasi harian, tips dan trik untuk lebih produktif dan update tren lainnya, supaya kamu selalu semangat dan positif dalam mengejar mimpi :)
Referensi : Jangan anggap remesh rasa malas, Bisa jadi ada yang salah di tubuh kamu
Sangatlah Merugi Mereka yang Meninggalkan Sholat. Bulan Ramadhan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang dulu malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, di bulan Ramadhan begitu terlihat bersemangat melaksanakan amalan shalat ini. Itulah di antara tanda dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka ketika itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim no. 1079)
Namun, amalan shalat ini hendaklah tidak ditinggalkan begitu saja. Kalau memang di bulan Ramadhan, kita rutin menjaga shalat lima waktu maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga di luar Ramadhan, begitu pula dengan shalat jama’ah di masjid khusus untuk kaum pria.
Lihatlah salah satu keutamaan orang yang menjaga shalat lima waktu berikut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji pada diriku bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya, Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak memiliki janji padanya’.” (HR. Sunan Ibnu Majah no. 1403. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Shalat jama’ah di masjid juga memiliki keutamaan yang sangat mulia dibanding shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)
Namun yang sangat kami sayangkan, amalan shalat ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin. Bahkan mulai pada hari raya ‘ied (1 Syawal) saja, sebagian orang sudah mulai meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi. Begitu juga seringkali kita lihat sebagian saudara kita karena kebiasaan bangun kesiangan, dia meninggalkan shalat shubuh begitu saja. Padahal shalat shubuh inilah yang paling berat dikerjakan oleh orang munafik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidak ada shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik kecuali shalat Shubuh dan shalat Isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)
Saudaraku, ingatlah ada ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang meninggalkan shalat. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)
Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)
Begitu pula shalat jama’ah di masjid, seharusnya setiap muslim –khususnya kaum pria- menjaga amalan ini. Shalat jama’ah mungkin kelihatan ramai di bulan Ramadhan saja. Namun, ketika bulan Ramadhan berakhir, masjid sudah kelihatan sepi seperti sedia kala. Memang dalam masalah apakah shalat jama’ah itu wajib atau sunnah mu’akkad terjadi perselisihan di antara para ulama. Namun berdasarkan dalil yang kuat, shalat jama’ah hukumnya adalah wajib (fardhu ‘ain). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari Abu Hurairah di mana beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid’. Kemudian pria ini meminta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dia keringanan. Namun, tatkala dia mau berpaling, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil pria tersebut dan berkata, ‘Apakah engkau mendengar adzan ketika shalat?’ Pria buta tersebut menjawab, ‘Iya.’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penuhilah panggilan tersebut’.” (HR. Muslim no. 653)
Lihatlah pria buta ini memiliki udzur (alasan) untuk tidak jama’ah di masjid, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikannya keringanan, dia tetap diwajibkan untuk shalat jama’ah di masjid. Padahal dia adalah pria yang buta, tidak ada penuntun yang menemaninya, rumahnya juga jauh. Di Madinah juga banyak hewan buas dan banyak pepohonan yang menghalangi jalan menuju masjid. Namun, lihatlah walaupun dengan berbagai udzur ini karena pria buta ini mendengar adzan, dia tetap wajib jama’ah di masjid.
Bagaimanakah kondisi kita yang lebih sehat dan berkemampuan? Tentu lebih wajib lagi untuk berjama’ah di masjid. Itulah dalil kuat yang menunjukkan wajibnya shalat jama’ah di masjid. Jika seseorang meninggalkan shalat jama’ah dan shalat sendirian, dia berarti telah berdosa karena meninggalkan shalat jama’ah, namun shalat sendirian yang dia lakukan tetap sah. Sedangkan bagi wanita berdasarkan kesepakatan kaum muslimin tidak wajib bagi mereka jama’ah di masjid bahkan lebih utama bagi wanita untuk mengerjakan shalat lima waktu di rumahnya.
Memperbanyak Puasa Sunnah
Selain kita melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan, hendaklah kita menyempurnakannya pula dengan melakukan amalan puasa sunnah. Di antara keutamaannya adalah disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
“Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi no. 2616. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud bahwa hadits ini shohih)
Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Keutaman lain dari puasa sunah terdapat dalam hadits Qudsi berikut.
“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)
Itulah di antara keutamaan seseorang melakukan amalan sunnah. Dia akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, www.islamspirit.com)
Banyak puasa sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim setelah Ramadhan. Di bulan Syawal, kita dapat menunaikan puasa enam hari Syawal. Juga setiap bulan Hijriyah kita dapat berpuasa tiga hari dan lebih utama jika dilakukan pada ayyamul bid yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. Kita juga dapat melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Arofah (pada tanggal 9 Dzulhijah), puasa Asyura (pada tanggal 10 Muharram), dan banyak berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jika ada yang punya kemampuan boleh juga melakukan puasa Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan puasa sunnah ini.
Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal
Hendaklah di bulan Syawal ini, setiap muslim berusaha untuk menunaikan amalan yang satu ini yaitu berpuasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
Bagaimana cara melakukan puasa ini? An Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”
Apa faedah melakukan puasa enam hari di bulan Syawal?
Ibnu Rojab rahimahullah menyebutkan beberapa faedah di antaranya:
Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh.
Puasa Syawal dan puasa Sya’ban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.
Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah Ta’ala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”
Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu, maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan. (Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, 244, Asy Syamilah)
Sungguh sangat beruntung sekali jika kita dapat melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Ini sungguh keutamaan yang luar biasa, saudaraku. Marilah kita melaksanakan puasa tersebut demi mengharapkan rahmat dan ampunan Allah.
Penjelasan penting yang harus diperhatikan: Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ (tanggungan) puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barangsiapa berpuasa ramadhan”. Jadi apabila puasa ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barangsiapa berpuasa ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100).
Referensi : Sangatlah Merugi Mereka yang Meninggalkan Sholat
2 Hal Penyebab Malas Beribadah. Sudah tahukah apa yang menyebabkan diri malas ibadah? Malas untuk tilawah Quran, malas untuk shalat tahajud, dll. Setidaknya ada dua hal yang sangat berdampak besar bagi dirimu sehingga membuat malas beribadah.
1. Maksiat
Dosa maksiat yang dilakukan oleh diri kita akan membuat tubuh ini berat melaksanakan ibadah, pikiran dan hati pun akan gelisah dan tidak menemukan kenikmatan ketika beribadah, jadi sekalipun melakukan ibadah, inginnya cepat-cepat selesai.
Mari kita cek maksiat yang bisa dilakukan oleh anggota tubuh kita, mata berpotensi melakukan maksiat dengan melihat sesuatu yang diharamkan, misalnya melihat aurat wanita yang terbuka, apakah kita suka melakukan hal tersebut? Menikmati aurat orang lain yang tersingkap. Maka hentikan perbuatan ini jika mau diri rajin beribadah.
Selanjutnya, telinga kita, berpotensi maksiat dengan cara mendengar hal-hal yang tak diperkenankan oleh Allah. Misalnya mendengar ghibah, kata-kata makian, perkataan dusta, mungkin sering banget ya kita melakukan hal ini. Pantas saja sulit meneteskan air mata ketika mendengar lantunan ayat quran.
Lalu mulut kita, sering bermaksiat membicarakan keburukan orang lain, berkata jorok/ vulgar, menyakiti perasaan orang lain, bagaimanakah kita rajin beribadah ketika setiap anggota tubuh kita banyak melakukan maksiat dan lisan kita jarang beristighfar.
Kalau dibiasakan terus-menerus melakukan maksiat, akibatnya kita akan merasa sangat berat melakukan kebaikan, ibadah wajib maupun sunah.
2 Makanan haram
“Dan Kami nampakkan Jahannam pada bari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas. Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar,” (QS. 18: 100-101)
Makanan haram juga bisa menjadi penyumbat organ tubuh kita dalam melakukan ketaatan pada Allah. Ingat bahwa makanan yang kita konsumsi akan didistribusikan sari-sarinya melalui peredaran darah ke seluruh tubuh, ketika makanan haram sampai ke telinga, maka telinga kita ogah mendengar lantunan ayat, ketika sampai ke mata, mata kita sulit menolak memandang hal yang haram dipandang. Mari minimalisir maksiat dan senantiasa mengecek status halal makanan yang kita konsumsi. Semoga Allah mengaruniakan kecintaan akan beribadah kepadaNya.
Kenapa Kita Malas Sholat Ini Alasannya. Sholat adalah kewajiban seorang muslim untuk menunaikannya, dalam rukun Islam, sholat masuk dalam tingkat kedua setelah syahadat, yang artinya sholat adalah hal penting untuk di kerjakan dan merupakan kewajiban bagi kaum Muslim untuk menjalankan sholat.
Tapi kenapa banyak yang merasa sholat itu penting tapi menjalankannya teramat sulit dan penuh cobaan seperti rasa malas, mengantuk, sibuk dan lain-lain. Ternyata ada penyebab utama seseorang malas untuk sholat, berikut informasinya
Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Penyebab utama seseorang malas dalam beribadah adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat.
Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal salah satu sebab lesu, malas, dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Orang yang terus menerus hidup dalam kebiasaan seperti ini akan mendapatkan murka dari Allah SWT. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkannya manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan. "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS, Asy-Syura:30)
Oleh sebab itu, sudah seharusnya sebagai kaum muslim kita menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil yang sering dianggap remeh.
Tidak Pernah Paham Tentang Urgensi Ibadah.
Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedua adalah karena mereka meluakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah.
Sebagai seorang muslim, dia seharusnya mengetahui serta memahami bahwa beribadah kepada Allah menjadi inti untuk mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah ta'ala. "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS, Al-Ankbut:69)
Melupakan Kematian. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah. "Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu." (QS. Ali Imran:185).
Kematian menjadi salah satu obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan mereka yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu Alain wassalam Bersabda "perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan"
Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah. Ketidaktahuan inilah yang membuat orang tersebut malas dalam beribadah. Sebaliknya, apabila ia mengetahui pahala besar di balik ibadah yang dilakukan maka ia akan semakin rajin dalam beribadah.
Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan suatu mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginan untuk istirahat dan tidur. Berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah seperti makanan dan minuman bisa menjadi salah satu penyebab kerasnya hati.
Referensi : Kenapa Kita Malas Sholat Ini Alasannya
Lima Penyebab Malas Melakukan Ibadah Solat. Manusia ditakdirkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Selain akan mendapatkan pahala, melaksanakan ibadah atas dari mengharap keridhaan Allah menjadi salah satu jalan untuk meraih surga-Nya saat di akhirat kelak. Oleh karena itu, banyak kaum muslim yang berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah agar mendapatkan perlindungan dari panasnya api neraka. Namun, tidak dapat dipungkiri masih banyak saja manusia yang engan melakukan ibadah epada Allah SWT karena adanya perasaan malas. Perasaan malas dalam beribadah terssebut bisa ditimbulkan karena diri sendiri ataupun orang lain. Ternyata ada lima penyebab utama seseorang malas melakukan ibadah. Apa saja? Berikut informasi selengkapnya:
Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Penyebab utama seseorang malas dalam beribadah adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal salah satu sebab lesu, malas, dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Orang yang terus menerus hidup dalam kebiasaan seperti inibakan mendapatkan murka dari Allah SWT. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkannya manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan. Inilah murka Allah yang akan menimpa orang yang bergelimang perbuatan dosa dan maksiaat. Selanjutnya orang tersebut tidak mampu untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, padahal sebenarnya semua itu menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS, Asy-Syura:30) Oleh sebab itu, sudah seharusnya sebagai kaum muslim kita menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil sering dianggap remeh.
Tidak Pernah Paham Tentang Urgensi Ibadah. Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedua adalah karena mereka meluakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah. Sebagai seorang muslim, dia seharusnya mengetahui serta memahami bahwa beribadah kepada Allah menjadi inti untuk mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah SWT. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS, Al-Ankbut:69)
Melupakan Kematian. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah. Allah berfirman : "Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu." (QS. Ali Imran:185). Kematian menjadi salah satu obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan mereka yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah SAW. Bersabda "perbanyaklah mengingan penghancur kenikmatan"
Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah. Ketidaktahuan inilah yang membuat orang tersebut malas dalam beribadah. Sebaliknya, apabila ia mengetahui pahala besar di balik ibadah yang dilakukan maka ia akan semakin rajin dalam beribadah.
Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan suatu mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginanuntuk istirahat dan tidur. Berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah seperti makanan dan minuman bisa menjadi salah satu penyebab kerasnya hati. Dengan hati yang keras tersebut membuat manusia menjadi tidak ingat kepada sang penciptanya. Ibnu Al Qoyyim Rohimahullah berkata "banyak mengkonsumsi makana n adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketatan. Maka cermatilah keburukan ini"
Demikianlah informasi mengenai lima penyebab orang malas beribadah. Sebagai kaum muslim sudah sepantasnya kita meninggalkan lima faktor di atas agar Allah SWT senantiasa melindungi dan memberikan keberkahan untuk kehidupan kita dalam beribadah.
Referensi : Lima Penyebab Malas Melakukan Ibadah Solat
Ini Lima Penyebab Malas Melakukan Ibadah. Berikut penyebab malas sholat yang sering diabaikan :
1. Sering Berbuat Maksiat
Penyebab malas sholat yang pertama adalah karena sering berbuat maksiat dan memiliki banyak dosa. Hal ini seringkali dilakukan karena seseorang sangat menikmati kebahagiaan duniawi, sehingga melupakan Allah SWT. Jika tidak bertaubat, maka orang yang terus menerus melakukan maksiat dan dosa akan mendapatkan murka Allah, seperti firman-Nya dalam QS, Asy-Syura:30:
قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ – ٣٠
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.QS, Asy-Syura:30)
2. Lupa Akan Pentingnya Ibadah
Karena terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, dapat membuat seorang menjadi lupa akan pentingnya ibadah. Lupa melakukan ibadah adalah faktor utama seseorang menjadi malas beribadah. Ada juga orang yang sengaja lupa untuk melakukan ibadah, karena takut waktu kesibukannya terpotong untuk ibadah. Dalam QS, Al-Ankabut:69 Allah telah berfirman:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(QS, Al-Ankbut:69)
3. Lupa Akan Kematian
Kematian adalah suatu hal yang pasti, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan akan mengalami kematian. Orang-orang yang lupa akan kematian biasanya akan malas sholat. Padahal saat mengingat kematian, kita diminta untuk lebih mendekatkan diri kapada Allah, agar dihindarkan dari siksa kubur yang mengerikan. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185:
Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.(QS. Ali Imran:185).
4. Lupa Akan Pahala Sholat
Melaksanakan sholat dengan penuh kerendahan hati, hati yang bersih dan tulus, bisa membukakan surga untuk orang yang melakukannya. Namun, malas sholat dapat disebabkan karena seseorang lupa akan pahala sholat. Ada banyak pahala yang bisa kita dapatkan jika rajin sholat. Dalam surat Ar-Ra’d (13): 22 tertulis bahwa:
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
5. Berlebihan dalam Hal Mubah
Mubah adalah sesuatu yang diperintahkan, tapi apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Orang yang malas sholat biasanya dipengaruhi karena terlalu berlebihan dalam hal mubah. Contoh perbuatan mubah terdapat dalam firman Allah Surat Al-Maidah:2 yaitu:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Ma'idah Ayat 2)
Referensi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan
Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat). Pernahkah Anda merasa malas untuk beribadah seperti sholat, mengaji, dan sebagainya? Hati-Hati! Ustadz Adi Hidayat mengungkapkan bahwa hal tersebut bisa menyebabkan dirinya terhalang dari pahala ibadah. Selain itu, juga bisa menyebabkan dirinya terhambat untuk masuk ke dalam surga karena sholat dan ibadah-ibadah lainnya merupakan salah satu kunci agar seseorang bisa masuk ke dalam surga.
Sebenarnya penyebab seseorang malas mengerjakan sholat? Berikut ini penjelasannya. Ustadz Adi Hidayat menyebut bahwa penyebab seorang muslim sering merasa malas sholat adalah karena masih ada dosa di dalam dirinya. "Awas, hati-hati! Kalau Antum malas ke masjid, malas ibadah, bahkan malas ibadah yang standar, pasti masih ada dosa di dalam dirinya," ujar Ustadz Adi Hidayat.
Menurutnya, dosa itulah yang menyebabkan ganjalan-ganjalan yang menghalangi dirinya untuk melakukan ibadah dan amalan baik.
"Karena kalau masih ada dosa, susah. Masih banyak ganjalan," lanjutnya. Ganjalan-ganjalan tersebut juga bisa menghalangi dirinya untuk masuk surga. Karena bagaimana bisa masuk surga jika melaksanakan sholat saja sudah malas? Padahal, sholat merupakan salah satu hal yang bisa mengantar seorang muslim menuju surga.
"Jangankan masuk surga, dosa itu menghambat untuk ibadah. Jadi kalau orang banyak dosa, untuk ibadah itu malas," lanjut penjelasan Ustadz Adi Hidayat.
Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa jika ada yang mengganjal dan menyebabkan muslim malas sholat, maka penyebabnya, yaitu dosa-dosa tersebut, harus dikeluarkan dari dalam diri seseorang. "Kalau Antum sulit melakukan kebaikan, yang buruk cepat-cepat, itu artinya ada dosa dalam diri. Harus keluarkan," kata Ustadz Adi Hidayat.
Lalu, bagaimana cara untuk mengeluarkannya? Menurut Ustadz Adi Hidayat, caranya adalah dengan cepat-cepat melakukan sholat saat mengingatnya dan cepat-cepat istighfar jika hendak atau berniat melakukan dosa.
"Rumusnya? Percepat, jangan ditunda. Percepat untuk istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jadi ketika ingat dosa, langsung minta ampun!" ungkap Ustadz Adi Hidayat.
Referensi : Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat)
Untukmu Yang Masih Malas Beribadah. Kadangkala tubuh ini terasa berat untuk bangun dari nyenyaknya lelap atau asyiknya aktivitas. Berat untuk menyambut seruan muazin, mendatangi masjid, dan melaksanakan salat. Tubuh dan anggota badan adalah anugerah Allah. Itu pun terkadang enggan untuk sedikit menahan lapar dan dahaga di Senin dan Kamis untuk melakukan puasa sunah.
Tangan pun sering terasa berat untuk memberi dan berbagi, meskipun hanya secuil dari limpahan nikmat Allah dari harta benda yang kita punya.
Hati pun terasa berat untuk memantapkan niat mendorong diri menyisihkan sedikit demi sedikit rezeki supaya dapat berqurban di hari ‘Id Adha atau agar bisa menabung untuk umroh dan haji pada suatu saat kelak.
Padahal, semua itu adalah ibadah-ibadah yang mengandung banyak pahala dan keutamaan. Semua itu juga adalah amal-amal saleh yang menjadi jalan di antara wasilah-wasilah menuju surga yang Allah janjikan. Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan juga menyampaikan banyak fadilah-fadilah dari amalan-amalan saleh baik wajib maupun sunah, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lima salat yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada para hamba-Nya. Siapa saja yang mendirikannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala bahwa Ia akan memasukkannya ke dalam surga. Sedangkan siapa saja yang tidak mendirikannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah menghendaki, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Iman dan Beratnya Ibadah
Semua kita tentu mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita meyakini segala isi kandungan Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih Rasulullah berdasarkan pemahaman salafus shalih adalah benar. Tak ada keraguan.
Lantas, apakah gerangan yang menjadikan semua perintah Allah itu terasa berat?
Jawabannya adalah iman. Ya, sebagaimana sebuah ungkapan salafus shalih yang kita kenal yaitu,
أن الإيمان يزيد وينقص: يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية
“Bahwasanya iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan.”
Jika ditelisik lebih jauh, pengetahuan tentang hakikat penciptaan jin dan manusia (yaitu untuk menyembah Allah Ta’ala) telah banyak diketahui oleh manusia sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Namun, tetap saja hakikat itu terlupakan atau sengaja dilupakan. Sehingga, alasan “Imanku sedang turun” sering dijadikan tameng setiap kali dirundung kemalasan dalam melaksanakan ibadah.
Sayangnya, kemalasan itu bahkan selalu menghinggapi diri yang kemudian dapat ditunggangi setan untuk selalu beralibi “yanqus” karena enggan melaksanakan ibadah.
Oleh karenanya, sudah semestinya kita menyadari betapa pentingnya menjaga keimanan kita agar tetap “yazdad“. Penting pula bagi kita untuk menjaga semangat dalam melaksanakan ibadah dalam rangka menggapai rida Allah untuk mendapatkan surganya.
Iman Terjaga, Ibadah Mudah Terlaksana
Ada 3 (tiga) hal yang kiranya dengannya kita dapat menjaga iman agar senantiasa mudah untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunah. Agar dapat menjadikan rangkaian ibadah tersebut sebagai momen yang dinanti-nantikan. Serta, agar memiliki semangat yang tinggi menanti momen itu tiba.
Pertama, mengetahui keutamaan suatu amal
Sebagaimana kita bekerja yang menginginkan upah atau pun bersekolah dengan mengharap ilmu dan pendidikan, begitu pula seharusnya dalam beribadah. Kita mengharapkan rida Allah Ta’ala dan surga-Nya. Kita pun berusaha untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Mengerjakan amalan-amalan saleh karena Allah menyebut orang yang beramal saleh sebagai sebaik-baik makhluk. Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh dengan surga yang nikmatnya tiada tara. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada tuhan-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)
Lebih rinci, kita pun dapat membekali diri dengan ilmu tentang keutaman apa saja yang kita dapatkan dari suatu amalan ibadah yang kita lakukan. Salat wajib, salat duha, salat tahajud, salat rawatib, dan berbagai jenis ibadah salat berikut dengan fadilah (keutamaan) yang akan kita peroleh jika melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Begitu pula dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji, qurban, zikir, dan berbagai ibadah wajib dan sunah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kedua, menjauhi maksiat
Mengutip ungkapan salafus salih yang telah dipaparkan di atas bahwa iman itu juga dapat berkurang karena perbuatan maksiat. Artinya, rasa malas yang menghantui jiwa untuk melaksanakan amalan-amalan saleh itu tidak lain adalah disebabkan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Wal’iyadzu billah.
Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu,
ما نستطيع قيام الليل؟
“Mengapa kami tidak mampu melakukan salat malam?”
Beliau pun menjawab,
أقعدتكم ذنوبكم
“Dosa-dosa kalian telah menghalangi kalian.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 46)
Begitu pula dalam Kitab Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,
“Di antara pengaruh buruk maksiat adalah menghilangkan amal ketaatan. Maka, seandainya tidak ada hukuman atas dosa, kecuali menghalangi seseorang untuk melakukan amal ketaatan dan memutus jalan untuk melakukan amal ketaatan yang kedua, kemudian putusnya amalan yang kedua adalah dosa yang memutuskan amalan yang ketiga, kemudian keempat dan seterusnya, maka karena dosa terputuslah banyak amal ketaatan.”
“Padalah setiap amal ketaatan tersebut lebih baik daripada dunia dan isinya. Maka, pelaku maksiat itu seperti orang yang makan suatu makanan buruk yang menyebabkan ia terkena penyakit berkepanjangan. Sehingga, ia tidak bisa makan berbagai makanan yang lebih baik daripada makanan yang telah menyebabkan ia sakit tersebut. Wallaahul Musta’an.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 44)
Ketiga, berteman dengan orang-orang saleh
Setelah membekali diri dengan ilmu terutama yang berkaitan dengan keutaman-keutaman amal saleh dan menyadari sumber utama beratnya melakukan ibadah, kiranya belum cukup jika keseharian kita masih intens bergaul dengan mereka yang cenderung mengesampingkan ibadah kepada Allah Ta’ala.
Oleh karenanya, berteman dengan orang-orang saleh menjadi hal yang tidak kalah penting agar jiwa kita selalu bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memperhatikan siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi no. 927)
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)
Ketika menyadari bahwa diri kita selalu dirongrong oleh rasa malas yang ditunggangi oleh setan agar merasa malas saat akan melakukan suatu ibadah, maka menjadi penting bagi kita untuk menggali lebih dalam hal-hal yang dapat membentengi diri dari kemalasan tersebut. Mengetahui keutamaan amal, menjauhi maksiat, dan berteman dengan orang saleh adalah tameng bagi kita atas godaan setan dalam rasa malas tersebut.
Kita senantiasa berdoa kepada Allah agar dianugerahi hidayah dan inayah dalam setiap langkah kita menuju rida-Nya. Jangan pernah berhenti memohon kepada-Nya agar iman kita bertambah dengan ketaatan-ketaatan pada-Nya.
Ada lima penyebab utama seseorang malas melakukan ibadah Kepada Allah Swt Sbb,
1. Pertama " Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Penyebab utama seseorang malas dalam beribadah adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal salah satu sebab lesu, malas, dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Orang yang terus menerus hidup dalam kebiasaan seperti inibakan mendapatkan murka dari Allah SWT. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkannya manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan.
Inilah murka Allah yang akan menimpa orang yang bergelimang perbuatan dosa dan maksiaat. Selanjutnya orang tersebut tidak mampu untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, padahal sebenarnya semua itu menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah ta'ala berfirman dalam QS, Asy-Syura:30:
قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ - ٣٠
Yang artinya : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS, Asy-Syura:30)
Oleh sebab itu, sudah seharusnya sebagai kaum muslim kita menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil sering dianggap remeh.
2. Kedua " Tidak Pernah Paham Tentang Urgensi Ibadah.
Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedua adalah karena mereka meluakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah.
Sebagai seorang muslim, dia seharusnya mengetahui serta memahami bahwa beribadah kepada Allah menjadi inti untuk mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah ta'ala.
yang artinya : "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS, Al-Ankbut:69)
3. Ketiga " Melupakan Kematian. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185:
Yang artinya : "Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu." (QS. Ali Imran:185).
Kematian menjadi salah satu obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan mereka yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu Alain wassalam Bersabda "perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan"
4. Keempat " Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah. Ketidaktahuan inilah yang membuat orang tersebut malas dalam beribadah. Sebaliknya, apabila ia mengetahui pahala besar di balik ibadah yang dilakukan maka ia akan semakin rajin dalam beribadah.
5. Kelima " Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.
Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan suatu mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya.
Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginan untuk istirahat dan tidur. Berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah seperti makanan dan minuman bisa menjadi salah satu penyebab kerasnya hati.
Dengan hati yang keras tersebut membuat manusia menjadi tidak ingat kepada sang penciptanya.
Ibnu Al Qoyyim Rohimahullah berkata "banyak mengkonsumsi makanan adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketatan. Maka cermatilah keburukan ini"
Referensi : Lima Penyebab Utama Seseorang Malas Melakukan Ibadah
5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan. Setiap umat Islam wajib melaksanakan ibadah sholat. Sholat adalah ibadah yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Allah SWT. Sholat juga bisa membuat perasaan, hati dan pikiran menjadi lebih tenang serta damai sejahtera. Namun kalau Sahabat Fimela malas melakukan sholat, maka akan membawa dosa besar kepadanya. Bahkan orang yang malas sholat bisa mendapatkan siksa kubur setelah meninggal. Sebagaimana firman-Nya dalam arti surat An-Nisa ayat 103, bahwa Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Ada beberapa faktor penyebab seseorang malas sholat dan penyebabnya seringkali diabaikan. Untuk mendapatkan nikmat surga, sebaiknya laksanakan sholat dengan hati yang tulus dan jangan malas maupun terpaksa. Berikut penyebab malas sholat yang sering diabaikan:
1. Sering Berbuat Maksiat
Penyebab malas sholat yang pertama adalah karena sering berbuat maksiat dan memiliki banyak dosa. Hal ini seringkali dilakukan karena seseorang sangat menikmati kebahagiaan duniawi, sehingga melupakan Allah SWT. Jika tidak bertaubat, maka orang yang terus menerus melakukan maksiat dan dosa akan mendapatkan murka Allah, seperti firman-Nya dalam QS, Asy-Syura:30:
قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ – ٣٠
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.QS, Asy-Syura:30)
2. Lupa Akan Pentingnya Ibadah
Karena terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, dapat membuat seorang menjadi lupa akan pentingnya ibadah. Lupa melakukan ibadah adalah faktor utama seseorang menjadi malas beribadah. Ada juga orang yang sengaja lupa untuk melakukan ibadah, karena takut waktu kesibukannya terpotong untuk ibadah. Dalam QS, Al-Ankabut:69 Allah telah berfirman:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(QS, Al-Ankbut:69)
3. Lupa Akan Kematian
Kematian adalah suatu hal yang pasti, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan akan mengalami kematian. Orang-orang yang lupa akan kematian biasanya akan malas sholat. Padahal saat mengingat kematian, kita diminta untuk lebih mendekatkan diri kapada Allah, agar dihindarkan dari siksa kubur yang mengerikan. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185:
Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.(QS. Ali Imran:185).
4. Lupa Akan Pahala Sholat
Melaksanakan sholat dengan penuh kerendahan hati, hati yang bersih dan tulus, bisa membukakan surga untuk orang yang melakukannya. Namun, malas sholat dapat disebabkan karena seseorang lupa akan pahala sholat. Ada banyak pahala yang bisa kita dapatkan jika rajin sholat. Dalam surat Ar-Ra’d (13): 22 tertulis bahwa:
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
5. Berlebihan dalam Hal Mubah
Mubah adalah sesuatu yang diperintahkan, tapi apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Orang yang malas sholat biasanya dipengaruhi karena terlalu berlebihan dalam hal mubah. Contoh perbuatan mubah terdapat dalam firman Allah Surat Al-Maidah:2 yaitu:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Ma'idah Ayat 2)
Referensi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan