This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 10 Agustus 2022

Ini Lima Penyebab Malas Melakukan Ibadah

Ilustrasi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan

Ini Lima Penyebab Malas Melakukan Ibadah. Berikut penyebab malas sholat yang sering diabaikan : 

1. Sering Berbuat Maksiat

Penyebab malas sholat yang pertama adalah karena sering berbuat maksiat dan memiliki banyak dosa. Hal ini seringkali dilakukan karena seseorang sangat menikmati kebahagiaan duniawi, sehingga melupakan Allah SWT. Jika tidak bertaubat, maka orang yang terus menerus melakukan maksiat dan dosa akan mendapatkan murka Allah, seperti firman-Nya dalam QS, Asy-Syura:30: 

قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ – ٣٠

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.QS, Asy-Syura:30)

2. Lupa Akan Pentingnya Ibadah

Karena terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, dapat membuat seorang menjadi lupa akan pentingnya ibadah. Lupa melakukan ibadah adalah faktor utama seseorang menjadi malas beribadah. Ada juga orang yang sengaja lupa untuk melakukan ibadah, karena takut waktu kesibukannya terpotong untuk ibadah. Dalam QS, Al-Ankabut:69 Allah telah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ – ٦٩

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(QS, Al-Ankbut:69)

3. Lupa Akan Kematian

Kematian adalah suatu hal yang pasti, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan akan mengalami kematian. Orang-orang yang lupa akan kematian biasanya akan malas sholat. Padahal saat mengingat kematian, kita diminta untuk lebih mendekatkan diri kapada Allah, agar dihindarkan dari siksa kubur yang mengerikan. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ – ١٨٥

Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.(QS. Ali Imran:185).

4. Lupa Akan Pahala Sholat

Melaksanakan sholat dengan penuh kerendahan hati, hati yang bersih dan tulus, bisa membukakan surga untuk orang yang melakukannya. Namun, malas sholat dapat disebabkan karena seseorang lupa akan pahala sholat. Ada banyak pahala yang bisa kita dapatkan jika rajin sholat. Dalam surat Ar-Ra’d (13): 22 tertulis bahwa:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

5. Berlebihan dalam Hal Mubah

Mubah adalah sesuatu yang diperintahkan, tapi apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Orang yang malas sholat biasanya dipengaruhi karena terlalu berlebihan dalam hal mubah. Contoh perbuatan mubah terdapat dalam firman Allah Surat Al-Maidah:2 yaitu:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Ma'idah Ayat 2)

Referensi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan









Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat)

Ilustrasi : Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat)

Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat). Pernahkah Anda merasa malas untuk beribadah seperti sholat, mengaji, dan sebagainya?  Hati-Hati! Ustadz Adi Hidayat mengungkapkan bahwa hal tersebut bisa menyebabkan dirinya terhalang dari pahala ibadah.  Selain itu, juga bisa menyebabkan dirinya terhambat untuk masuk ke dalam surga karena sholat dan ibadah-ibadah lainnya merupakan salah satu kunci agar seseorang bisa masuk ke dalam surga.

Sebenarnya penyebab seseorang malas mengerjakan sholat? Berikut ini penjelasannya. Ustadz Adi Hidayat menyebut bahwa penyebab seorang muslim sering merasa malas sholat adalah karena masih ada dosa di dalam dirinya. "Awas, hati-hati! Kalau Antum malas ke masjid, malas ibadah, bahkan malas ibadah yang standar, pasti masih ada dosa di dalam dirinya," ujar Ustadz Adi Hidayat.

Menurutnya, dosa itulah yang menyebabkan ganjalan-ganjalan yang menghalangi dirinya untuk melakukan ibadah dan amalan baik.

"Karena kalau masih ada dosa, susah. Masih banyak ganjalan," lanjutnya. Ganjalan-ganjalan tersebut juga bisa menghalangi dirinya untuk masuk surga. Karena bagaimana bisa masuk surga jika melaksanakan sholat saja sudah malas? Padahal, sholat merupakan salah satu hal yang bisa mengantar seorang muslim menuju surga.

"Jangankan masuk surga, dosa itu menghambat untuk ibadah. Jadi kalau orang banyak dosa, untuk ibadah itu malas," lanjut penjelasan Ustadz Adi Hidayat.

Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa jika ada yang mengganjal dan menyebabkan muslim malas sholat, maka penyebabnya, yaitu dosa-dosa tersebut, harus dikeluarkan dari dalam diri seseorang. "Kalau Antum sulit melakukan kebaikan, yang buruk cepat-cepat, itu artinya ada dosa dalam diri. Harus keluarkan," kata Ustadz Adi Hidayat.

Lalu, bagaimana cara untuk mengeluarkannya? Menurut Ustadz Adi Hidayat, caranya adalah dengan cepat-cepat melakukan sholat saat mengingatnya dan cepat-cepat istighfar jika hendak atau berniat melakukan dosa.

"Rumusnya? Percepat, jangan ditunda. Percepat untuk istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jadi ketika ingat dosa, langsung minta ampun!" ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Referensi : Ini Dia Penyebab Orang Malas Sholat (Kata : Ustadz Adi Hidayat)












Untukmu Yang Masih Malas Beribadah

Ilustrasi ; Untukmu Yang Masih Malas Beribadah

Untukmu Yang Masih Malas Beribadah. Kadangkala tubuh ini terasa berat untuk bangun dari nyenyaknya lelap atau asyiknya aktivitas. Berat untuk menyambut seruan muazin, mendatangi masjid, dan melaksanakan salat. Tubuh dan anggota badan adalah anugerah Allah. Itu pun terkadang enggan untuk sedikit menahan lapar dan dahaga di Senin dan Kamis untuk melakukan puasa sunah.

Tangan pun sering terasa berat untuk memberi dan berbagi, meskipun hanya secuil dari limpahan nikmat Allah dari harta benda yang kita punya.

Hati pun terasa berat untuk memantapkan niat mendorong diri menyisihkan sedikit demi sedikit rezeki supaya dapat berqurban di hari ‘Id Adha atau agar bisa menabung untuk umroh dan haji pada suatu saat kelak.

Padahal, semua itu adalah ibadah-ibadah yang mengandung banyak pahala dan keutamaan. Semua itu juga adalah amal-amal saleh yang menjadi jalan di antara wasilah-wasilah menuju surga yang Allah janjikan. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan juga menyampaikan banyak fadilah-fadilah dari amalan-amalan saleh baik wajib maupun sunah, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

“Lima salat yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada para hamba-Nya. Siapa saja yang mendirikannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala bahwa Ia akan memasukkannya ke dalam surga. Sedangkan siapa saja yang tidak mendirikannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah menghendaki, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Iman dan Beratnya Ibadah

Semua kita tentu mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita meyakini segala isi kandungan Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih Rasulullah berdasarkan pemahaman salafus shalih adalah benar. Tak ada keraguan.

Lantas, apakah gerangan yang menjadikan semua perintah Allah itu terasa berat?

Jawabannya adalah iman. Ya, sebagaimana sebuah ungkapan salafus shalih yang kita kenal yaitu,

أن الإيمان يزيد وينقص: يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية

“Bahwasanya iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan.”

Jika ditelisik lebih jauh, pengetahuan tentang hakikat penciptaan jin dan manusia (yaitu untuk menyembah Allah Ta’ala) telah banyak diketahui oleh manusia sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Namun, tetap saja hakikat itu terlupakan atau sengaja dilupakan. Sehingga, alasan “Imanku sedang turun” sering dijadikan tameng setiap kali dirundung kemalasan dalam melaksanakan ibadah.

Sayangnya, kemalasan itu bahkan selalu menghinggapi diri yang kemudian dapat ditunggangi setan untuk selalu beralibi “yanqus” karena enggan melaksanakan ibadah.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita menyadari betapa pentingnya menjaga keimanan kita agar tetap “yazdad“. Penting pula bagi kita untuk menjaga semangat dalam melaksanakan ibadah dalam rangka menggapai rida Allah untuk mendapatkan surganya.

Iman Terjaga, Ibadah Mudah Terlaksana

Ada 3 (tiga) hal yang kiranya dengannya kita dapat menjaga iman agar senantiasa mudah untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunah. Agar dapat menjadikan rangkaian ibadah tersebut sebagai momen yang dinanti-nantikan. Serta, agar memiliki semangat yang tinggi menanti momen itu tiba.

Pertama, mengetahui keutamaan suatu amal

Sebagaimana kita bekerja yang menginginkan upah atau pun bersekolah dengan mengharap ilmu dan pendidikan, begitu pula seharusnya dalam beribadah. Kita mengharapkan rida Allah Ta’ala dan surga-Nya. Kita pun berusaha untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Mengerjakan amalan-amalan saleh karena Allah menyebut orang yang beramal saleh sebagai sebaik-baik makhluk. Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh dengan surga yang nikmatnya tiada tara. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada tuhan-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)

Lebih rinci, kita pun dapat membekali diri dengan ilmu tentang keutaman apa saja yang kita dapatkan dari suatu amalan ibadah yang kita lakukan. Salat wajib, salat duha, salat tahajud, salat rawatib, dan berbagai jenis ibadah salat berikut dengan fadilah (keutamaan) yang akan kita peroleh jika melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Begitu pula dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji, qurban, zikir, dan berbagai ibadah wajib dan sunah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kedua, menjauhi maksiat

Mengutip ungkapan salafus salih yang telah dipaparkan di atas bahwa iman itu juga dapat berkurang karena perbuatan maksiat. Artinya, rasa malas yang menghantui jiwa untuk melaksanakan amalan-amalan saleh itu tidak lain adalah disebabkan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Wal’iyadzu billah.

Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu,

ما نستطيع قيام الليل؟

“Mengapa kami tidak mampu melakukan salat malam?”

Beliau pun menjawab,

 أقعدتكم ذنوبكم

“Dosa-dosa kalian telah menghalangi kalian.”  (Lathaiful Ma’arif, hal. 46)

Begitu pula dalam Kitab Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

حِرْمَانُ الطَّاعَةِ ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلذَّنْبِ عُقُوبَةٌ إِلَّا أَنْ يَصُدَّ عَنْ طَاعَةٍ تَكُونُ بَدَلَهُ ، وَيَقْطَعَ طَرِيقَ طَاعَةٍ أُخْرَى ، فَيَنْقَطِعَ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَرِيقٌ ثَالِثَةٌ ، ثُمَّ رَابِعَةٌ ، وَهَلُمَّ جَرًّا ، فَيَنْقَطِعُ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَاعَاتٌ كَثِيرَةٌ

“Di antara pengaruh buruk maksiat adalah menghilangkan amal ketaatan. Maka, seandainya tidak ada hukuman atas dosa, kecuali menghalangi seseorang untuk melakukan amal ketaatan dan memutus jalan untuk melakukan amal ketaatan yang kedua, kemudian putusnya amalan yang kedua adalah dosa yang memutuskan amalan yang ketiga, kemudian keempat dan seterusnya, maka karena dosa terputuslah banyak amal ketaatan.”

،كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا ، وَهَذَا كَرَجُلٍ أَكَلَ أَكْلَةً أَوْجَبَتْ لَهُ مِرْضَةً طَوِيلَةً مَنَعَتْهُ مِنْ عِدَّةِ أَكَلَاتِ أَطْيَبَ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

“Padalah setiap amal ketaatan tersebut lebih baik daripada dunia dan isinya. Maka, pelaku maksiat itu seperti orang yang makan suatu makanan buruk yang menyebabkan ia terkena penyakit berkepanjangan. Sehingga, ia tidak bisa makan berbagai makanan yang lebih baik daripada makanan yang telah menyebabkan ia sakit tersebut. Wallaahul Musta’an.”  (Al-Jawabul Kafi, hal. 44)

Ketiga, berteman dengan orang-orang saleh

Setelah membekali diri dengan ilmu terutama yang berkaitan dengan keutaman-keutaman amal saleh dan menyadari sumber utama beratnya melakukan ibadah, kiranya belum cukup jika keseharian kita masih intens bergaul dengan mereka yang cenderung mengesampingkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Oleh karenanya, berteman dengan orang-orang saleh menjadi hal yang tidak kalah penting agar jiwa kita selalu bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memperhatikan siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi no. 927)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)

Ketika menyadari bahwa diri kita selalu dirongrong oleh rasa malas yang ditunggangi oleh setan agar merasa malas saat akan melakukan suatu ibadah, maka menjadi penting bagi kita untuk menggali lebih dalam hal-hal yang dapat membentengi diri dari kemalasan tersebut. Mengetahui keutamaan amal, menjauhi maksiat, dan berteman dengan orang saleh adalah tameng bagi kita atas godaan setan dalam rasa malas tersebut.

Kita senantiasa berdoa kepada Allah agar dianugerahi hidayah dan inayah dalam setiap langkah kita menuju rida-Nya. Jangan pernah berhenti memohon kepada-Nya agar iman kita bertambah dengan ketaatan-ketaatan pada-Nya.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Referensi : Untukmu Yang Masih Malas Beribadah 











Lima Penyebab Utama Seseorang Malas Melakukan Ibadah

Ilustrasi : Lima Penyebab Utama Seseorang Malas Melakukan Ibadah

Ada lima penyebab utama seseorang malas melakukan ibadah  Kepada Allah Swt Sbb, 

1. Pertama " Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Penyebab utama seseorang malas dalam beribadah adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal salah satu sebab lesu, malas, dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Orang yang terus menerus hidup dalam kebiasaan seperti inibakan mendapatkan murka dari Allah SWT. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkannya manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan.

Inilah murka Allah yang akan menimpa orang yang bergelimang perbuatan dosa dan maksiaat. Selanjutnya orang tersebut tidak mampu untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, padahal sebenarnya semua itu menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah ta'ala berfirman dalam QS, Asy-Syura:30: 

قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ - ٣٠

Yang artinya : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS, Asy-Syura:30) 

Oleh sebab itu, sudah seharusnya sebagai kaum muslim kita menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil sering dianggap remeh.

2. Kedua " Tidak Pernah Paham Tentang Urgensi Ibadah.

Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedua adalah karena mereka meluakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah.  

Sebagai seorang muslim, dia seharusnya mengetahui serta memahami bahwa beribadah kepada Allah menjadi inti untuk mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah ta'ala.

 Allah Ta’ala berfirman dalam QS, Al-Ankbut:69

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ - ٦٩

yang artinya : "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS, Al-Ankbut:69)

3. Ketiga  " Melupakan Kematian. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ - ١٨٥

Yang artinya : "Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu." (QS. Ali Imran:185). 

Kematian menjadi salah satu obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan mereka yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu Alain wassalam  Bersabda "perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan"

4. Keempat " Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah. Ketidaktahuan inilah yang membuat orang tersebut malas dalam beribadah. Sebaliknya, apabila ia mengetahui pahala besar di balik ibadah yang dilakukan maka ia akan semakin rajin dalam beribadah.

5. Kelima " Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. 

Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan suatu mubah.  Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. 

Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginan untuk istirahat dan tidur. Berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah seperti makanan dan minuman bisa menjadi salah satu penyebab kerasnya hati. 

Dengan hati yang keras tersebut membuat manusia menjadi tidak ingat kepada sang penciptanya. 

Ibnu Al Qoyyim Rohimahullah berkata "banyak mengkonsumsi makanan adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketatan. Maka cermatilah keburukan ini"

Referensi : Lima Penyebab Utama Seseorang Malas Melakukan Ibadah












5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan

Ilustrasi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan

5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan. Setiap umat Islam wajib melaksanakan ibadah sholat. Sholat adalah ibadah yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Allah SWT. Sholat juga bisa membuat perasaan, hati dan pikiran menjadi lebih tenang serta damai sejahtera. Namun kalau Sahabat Fimela malas melakukan sholat, maka akan membawa dosa besar kepadanya. Bahkan orang yang malas sholat bisa mendapatkan siksa kubur setelah meninggal. Sebagaimana firman-Nya dalam arti surat An-Nisa ayat 103, bahwa Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Ada beberapa faktor penyebab seseorang malas sholat dan penyebabnya seringkali diabaikan. Untuk mendapatkan nikmat surga, sebaiknya laksanakan sholat dengan hati yang tulus dan jangan malas maupun terpaksa. Berikut penyebab malas sholat yang sering diabaikan:

1. Sering Berbuat Maksiat

Penyebab malas sholat yang pertama adalah karena sering berbuat maksiat dan memiliki banyak dosa. Hal ini seringkali dilakukan karena seseorang sangat menikmati kebahagiaan duniawi, sehingga melupakan Allah SWT. Jika tidak bertaubat, maka orang yang terus menerus melakukan maksiat dan dosa akan mendapatkan murka Allah, seperti firman-Nya dalam QS, Asy-Syura:30: 

قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ – ٣٠

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.QS, Asy-Syura:30)

2. Lupa Akan Pentingnya Ibadah

Karena terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, dapat membuat seorang menjadi lupa akan pentingnya ibadah. Lupa melakukan ibadah adalah faktor utama seseorang menjadi malas beribadah. Ada juga orang yang sengaja lupa untuk melakukan ibadah, karena takut waktu kesibukannya terpotong untuk ibadah. Dalam QS, Al-Ankabut:69 Allah telah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ – ٦٩

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaannya) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(QS, Al-Ankbut:69)

3. Lupa Akan Kematian

Kematian adalah suatu hal yang pasti, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan akan mengalami kematian. Orang-orang yang lupa akan kematian biasanya akan malas sholat. Padahal saat mengingat kematian, kita diminta untuk lebih mendekatkan diri kapada Allah, agar dihindarkan dari siksa kubur yang mengerikan. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:185: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ – ١٨٥

Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.(QS. Ali Imran:185).

4. Lupa Akan Pahala Sholat

Melaksanakan sholat dengan penuh kerendahan hati, hati yang bersih dan tulus, bisa membukakan surga untuk orang yang melakukannya. Namun, malas sholat dapat disebabkan karena seseorang lupa akan pahala sholat. Ada banyak pahala yang bisa kita dapatkan jika rajin sholat. Dalam surat Ar-Ra’d (13): 22 tertulis bahwa:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

5. Berlebihan dalam Hal Mubah

Mubah adalah sesuatu yang diperintahkan, tapi apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Orang yang malas sholat biasanya dipengaruhi karena terlalu berlebihan dalam hal mubah. Contoh perbuatan mubah terdapat dalam firman Allah Surat Al-Maidah:2 yaitu:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Ma'idah Ayat 2)

Referensi : 5 Penyebab Malas Sholat yang Sering Diabaikan










Kurangnya motivasi beribadah berasal dari kurangnya pemahaman

Ilustrasi : Kurangnya motivasi beribadah berasal dari kurangnya pemahaman

Rasa malas, bahkan hingga depresi atau tertekan saat berniat untuk beribadah bisa dialami oleh siapa pun karena berbagai faktor. Dalam Islam, ibadah wajib sehari-hari seperti sholat lima waktu pun kadang dapat terasa sangat berat dikerjakan seorang Muslimah mengaku merasa sangat sulit untuk beribadah. Ia mengatakan, rasa malas dan tertekan hingga kehilangan fokus untuk melaksanakan ibadah sehari-hari sering kali datang menghampiri, membuatnya ingin menemukan solusi atas masalah ini.  Madiha Sadaf, seorang konselor yang menawarkan jawaban atas hal tersebut mengatakan, Allah SWT dalam Alquran menyebut: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah Aku.” (51:56). 

Banyak anak yang dipaksa melaksanakan sholat lima waktu oleh orang tua mereka. Perasaan negatif, seperti kesal dan kurangnya motivasi beribadah, berasal dari kurangnya pemahaman saat menunaikan sholat. 

“Untuk menyembah Allah SWT, untuk mencapai keridhaan-Nya, dan berada di bawah naungan-Nya pada hari itu. Ketika Anda menyadari bahwa Anda tidak ingin sholat, hubungan dengan Allah SWT, itu adalah realisasi Anda tentang kurangnya kualitas sholat dan realisasi kurangnya koneksi dengan Allah SWT,” ujar Sadaf. 

Sholat merupakan hubungan fisik, spiritual, dan emosional antara Allah dan hamba-Nya. Ini adalah bentuk komunikasi antara Allah SWT dan kita sebagai umat Muslim. 

Ketika sholat, kita berseru kepada Allah SWT, mengakui kemahakuasaan-Nya, serta mengakui kelemahan dan ketidakmampuan, dan meminta petunjuk. Sebagai contoh, saat berbicara tentang lima rukun Islam, sholat, meskipun sangat penting, adalah rukun yang kedua, bukan yang pertama. Pilar pertama adalah “La ila ha ilallah”.

Ketika melaksanakan ibadah tanpa niat dan pemahaman yang jelas, itu akan terasa hampa. Bahkan, hanya mengetahui definisi dari ayat-ayat Alquran yang dibaca saja tidak cukup. Sadaf menuturkan ada perbedaan besar antara mengetahui dan memahami sesuatu. 

Mengetahui hanyalah menyadari keberadaan fisiknya atau makna permukaannya. Namun, memahami itu berarti melampaui makna permukaannya. Memahami berarti menginternalisasinya dan memahami pengetahuan tersebut serta mampu menerapkannya.

Jadi, bagaimana Anda memahami Alquran? Bagaimana Anda memahami sholat? Sebelum memahami dasar-dasar Islam, Anda perlu memahami Sang Pencipta. “Anda perlu memahami Allah SWT dan perlu tahu apa artinya menjadi seorang Muslim dan mengapa Anda seorang Muslim. Apakah Anda seorang Muslim hanya karena orang tua Anda Muslim dan Anda diajari cara beribadah? Atau apakah Anda seorang Muslim karena Allah telah memenuhi hati Anda dengan cahaya kebenaran dan Anda dapat membedakan mana yang benar dan salah?” kata Sadaf menjelaskan. 

Menurut Sadaf, saat tidak mempertanyakan hal ini, maka dengan mudah tujuan yang dimiliki hilang. Untuk mengatasi perasaan hampa saat beribadah, curahkanlah setidaknya 10 hingga 15 menit setiap hari untuk menjawab pertanyaan berikut. 

1. Apa pesan Islam?

2. Siapakah Nabi Muhammad SAW?

3. Mengapa saya seorang Muslim?

4. Bagaimana cara memperkuat hubungan saya dengan Allah?

5. Apa yang telah saya lakukan hari ini untuk meningkatkan diri saya dibanding siapa saya kemarin?

Dari lima pertanyaan ini, gunakanlah sebagai pedoman untuk mengevaluasi tujuan hidup Anda. Ketika mempertanyakan tujuan, tindakan, dan memastikan bahwa niat itu murni dan tidak dipertanyakan, kita akan merasa termotivasi untuk memperbaiki diri sendiri dan depresi tidak dapat menyesatkan pada akhirnya.

Jika ingin fokus, Anda perlu menghindari gangguan. Hal utama yang harus diingat adalah tujuan hidup. Ketika Anda ingin menjadi seorang profesional, seperti dokter, profesor, insinyur, guru, dan lainnya, Anda harus memperhatikan target dan tujuan. 

“Jika kita ingin fokus, kita perlu menghindari gangguan. Ketika itu ada di tempatnya, segala sesuatu yang lain jatuh pada tempatnya dan tidak ada yang namanya gangguan,” kata Sadaf.

Demikian pula, bagi seorang Muslim, satu-satunya tujuan adalah menyenangkan Allah SWT, menaati-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan harus memiliki niat untuk menyenangkan Allah. Misalnya, saat kita belajar untuk ujian, kita harus niat belajar agar kita bisa membuat sesuatu yang berharga dari diri kita sendiri dan menggunakannya untuk melayani umat manusia. 

Selain itu, cobalah beberapa hal yang dapat meningkatkan fokus dan membantu Anda beribadah dengan lebih baik sebagai berikut. 

1. Tulis kegiatan yang dilakukan setiap hari

Ini sangat penting. Jika Anda menuliskan semua yang Anda lakukan setiap hari, itu akan membantu Anda melihat apa yang telah Anda lakukan yang telah menjauhkan Anda dari apa yang ingin Anda capai dalam hidup. Misalnya, jika Anda melihat bahwa Anda menghabiskan 3 jam menonton film atau 1 jam menjelajahi Facebook, Anda akan melihat waktu yang terbuang dapat dihabiskan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Anda secara spiritual, mental, dan emosional.

2. Bangun kemauan

Fokus pada tujuan dan bekerja untuk mencapainya bukanlah hal yang mudah. Ketika Anda mengisi pikiran Anda dengan produktivitas dan mencoba menghapus kebisingan, akan mudah untuk tetap fokus dan pada jalurnya.

3. Rajin sholat

Sadaf menceritakan tentang seorang pria pada era 1800-an yang ingin menikahi seorang perempuan yang sudah memiliki suami. Ia mendatangi suami dari perempuan tersebut untuk memintanya menceraikan istrinya sehingga bisa menikahinya.

Suami perempuan itu, sebagai individu yang sangat taat, menghargai kejujurannya. Namun, ia mengatakan jika laki-laki itu sholat lima waktu selama 40 hari, maka ia siap menceraikan istrinya. 

Setelah 40 hari beribadah secara rutin, pria yang ingin menikahi perempuan bersuami itu merasakan percikan di hatinya. Ia menyadari betapa kesalahan besar yang dia lakukan karena memiliki niat buruk untuk seorang perempuan yang sudah menikah. Ia kemudian datang dan meminta maaf pada suami perempuan itu.

Kisah ini mengatakan ketika kita sholat dengan hati yang benar, itu membersihkan kesadaran dan membuat kita menyadari hal baik dan membedakannya dari yang buruk. Sholat adalah hubungan dengan Allah SWT.

Ketika berdiri untuk sholat, kita harus menyadari sedang berdoa kepada Pemilik atau Dunia, dan itu adalah hubungan khusus yang telah dianugerahkan. Allah SWT telah memilih kita daripada orang lain untuk dibimbing dengan benar dan berada di jalan yang lurus.

4. Olahraga 

Meski kedengarannya tidak perlu, olahraga membantu fokus. Ini melepaskan pemancar tertentu di otak Anda yang meningkatkan fokus, perhatian, dan kemampuan untuk membuat koneksi baru dan memperluas pembelajaran. Ketika berolahraga, Anda akan menyadari pikiran Anda menjadi sulit untuk mengembara dan akan menjadi mudah bagi pikiran agar fokus.

5. Membaca

Membaca membuat otak Anda bekerja dan itu hal yang sangat bagus. Baca hal-hal yang menarik minat Anda dan itu akan membantu Anda memperluas pengetahuan.

Referensi : Kurangnya motivasi beribadah berasal dari kurangnya pemahaman
















Senin, 08 Agustus 2022

Tahu Kebatilan, Segera Tinggalkan Semudah Melakukannya

Ilustrasi : Tahu Kebatilan, Segera Tinggalkan Semudah Melakukannya

Berbicara tentang harta haram, perbuatan haram, dan segala sesuatu yang haram, jangan sampai Anda berlarut-larut tanpa tindakan yang tegas. Begitu tahu itu kebatilan, segera tinggalkan. Semudah mengerjakannnya, buatlah ia lebih mudah untuk meninggalkannya. Harta-harta haram yang dimakan dan dipakai baik sendiri maupun bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai, memberikan efek buruk yang luar biasa. Itu yang membuat kita jauh dan semakin jauh kepada Allah Ta’ala. Itu pula yang membuat bagi kita semakin berat melakukan ketaatan, seperti ibadah dan amal shaleh.

Sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah Ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Efek harta haram akan membuat orang yang memakan atau menggunakannya gampang berkhianat. Kenapa? Karena di dalam tubuhnya ada hormon-hormon yang keropos atau dilemahkan akibat makanan haram tersebut. Akibatnya, dia tidak hanya gampang mengkhianati orang-orang yang dicintainya, tetapi pengkhianatan terbesar pun dilakukan yaitu berkhianat kepada Allah Ta’ala. Ia lebih gampang mengabaikan Allah.

Jika sekeluarga makan harta haram. Ayah, ibu, dan anak. Karena harta yang dimakan sama-sama haram, maka jangan dicari dari mana sumber pengkhianatan itu datang. Ayah berkhianat kepada anaknya, misalnya. Mungkin dia kelihatan cinta kepada anaknya, tapi dia mengkhianati dengan tidak memberinya waktu yang memadai.

Waktunya habis untuk pekerjaan, karir, hobbi, membangun bisnis dan relasi. Akibatnya apa? Anak-anaknya kurang kasih sayang, hingga banyak sekali persoalan yang membuat sang ayah kerepotan. Bahkan, harta dari hasil kerjaan yang dikumpulkan bertahun-tahun, bisa habis dalam sekejap untuk menebus masalah anak-anaknya.

anak mungkin juga berkhianat kepada bapaknya. Bentuk pengkhianatan anak-anak kepada ayahnya macam-macam. Misalnya, terlibat kasus narkoba, penyakit sosial, dan lainnya. Jika anak-anak salah urus, siapa yang repot? Ayah dan tentu juga ibunya, bukan?

Nah yang tak kalah seru, adalah pengkhianatan antara suami dan istri. Suami berkhianat kepada istrinya, sebaliknya istri berkhianat kepada suaminya. Kasusnya, bisa macam-macam sehingga gampang sekali retak, bahkan cerai. Kalau sebuah pasangan sudah cerai, kemana obat akan dicari? Mungkin pengadilan agama yang tahu jawabannya dan paling banyak menangani kasus-kasus perselisihan, perselingkuhan, kekerasan, dan lainnya. Siapa yang repot?

Gara-gara makanan haram, anak bermasalah. Ayah berperkara. Ibu pun tak jarang dirundung polemik. Tak hanya itu, kendaraannya pun ikut bermasalah, tanahnya disengketakan, usahanya dipailitkan, aset-asetnya disita, dan lain sebagainya.

Jadi, semua berawal dari satu masalah, yakni makanan yang haram. Padahal, solusinya gampang, tinggalkan! Jangankan hal-hal yang sudah nyata-nyata haram, sesuatu yang dianggap batil saja, begitu kita tersadar, segera tinggalkan. Meski sebenarnya menang di pengadilan, karena pengadilan bukan pemutus tentang halal haram. Pengadilan pun tak mampu menghalalkan hal yang sudah haram.

Dan ingat! Makanan yang kita makan, gunakan, pakai, dan nikmati, mungkin saja dianggap halal semuanya. Cek dulu, kita masih menggunakan jasa perbankan ribawi tidak? Pinjam duit berbunga, nggak? Kredit mobil, kredit motor, kredit rumah? Nah, kalau itu ada bunganya, maka itu riba. Riba itu haram. Tempat bagi pemakan riba itu adalah neraka, karena ia memakan harta haram. Bagaimana agar kita bisa selamat? Ya, tinggalkan!

Masih enggan juga meninggalkannya? Ingat, semakin lama dan semakin banyak harta haram yang kita makan, akan semakin kronis juga efek yang ditimbulkan. Setelah melemahkan hormon tubuh yang memudahkan kita berkhianat, makanan haram juga perlahan akan menghilangkan hormon cinta.

Cinta kepada anak terkikis, cinta kepada istri terkikis, cinta kepada suami juga terkikis. Jika itu terus menerus terjadi (tetap makan makanan haram), maka akan hilang lagi satu hormonnya, yaitu hormon yang akan mengakibatkan kecemasan secara terus menerus.

Pertama kali berkhianat, lalu hilang rasa cinta, dan ketiga membuat kita selalu cemas. Tidak bahagia, padahal mungkin uang banyak. Tidak puas, padahal mungkin asetnya banyak. Kalau banyak makan riba, yakinlah bahwa itu akan membawa jauh dari Allah.

Apa yang didapati seseorang jika ia kehilangan Allah dan apa yang hilang dari seseorang jika ia sudah menemukan Allah. Di bumi mana pun kita berada, di sana ada Allah. Sehebat apa pun negara yang kita pijak, kalau di situ tidak ada Allah, yakinlah akan hilang segalanya…

Jika seseorang menemukan Allah maka dia akan menemukan segala-galanya. Tetapi jika seseorang kehilangan Allah maka dia pun akan kehilangan segalanya

Referensi : Tahu Kebatilan, Segera Tinggalkan Semudah Melakukannya














Hukum Gadai dalam Islam

Ilustrasi : Hukum Gadai dalam Islam

Gadai dalam fiqih muamalah pula bisa dianggap menggunakan Rahn, yaitu penahanan terhadap suatu barang menggunakan hak sebagai akibatnya bisa dijadikan menjadi pembayaran  dari barang tadi. Barang yg dirancang jaminan tidak boleh dimanfaatkan oleh orang yg memberi hutang, kecuali  orang yang berhutang, di saat jatuh tempo masih belum mampu melunasi hutangnya , maka barang yg didesain jaminan akan dijual pada orang lain sebagai ganti buat membayar hutangnya.  misalnya: ibu pak.budi masuk rumah sakit, tapi ia tidak punya uang buat membayar rumah sakit, akhirnya dia meminjam uang sebesar 5 juta kepada pegadaian menggunakan agunan sepeda motornya yang seharga 10 juta selama 3 bulan. tapi tiap bulan beliau wajib membayar bunganya sebesar 50rb rupiah. pada waktu jatuh tempo pak budi masih belum mampu melunasi hutangnya, akhinya sepedanya di jual oleh pemberi hutang seharga 7 juta.

pada islam gadai seperti pada haramkan, sebab si pemberi hutang selain mengambil bunga jua mengambil keuntungan pada penjualan sepeda itu. Nabi Muhammad SAW bersabda yang merupakan “dari Ibrahim mengatakan, Rasul SAW bersabda: seluruh pinjaman yang menarik manfaat adalah riba”(HR. Ibnu Abi Syaibah).

dari hadist diatas telah kentara bahwa gadai merupakan pinjaman yg pada haramkan , sebab menarik manfaat. akan tetapi para ulama’ tidak sinkron pendapat dalam aturan pengambilan manfaat barang gadai.

Jumhur fuqaha’ beropini bahwa si pemberi hutang tidak boleh merogoh suatu manfaat barang-barang gadaian tadi sekalipun si penerima pinjaman mengizinkannya karena hal ini termasuk kepada hutang yang menarik manfaat.

menurut Imam Ahmad, Ishak, Al-laits serta Al-hasan, Jika barang gadaian berupa tunggangan yg dapat dipergunakan atau binatang ternak yang bisa diambil susunya, maka penerima gadai bisa merogoh manfaat dari kedua benda tersebut desesuaikan dengan biaya pemeliharaan yg dimuntahkan selama tunggangan atau hewan itu ada padanya. Jika beliau dibiaya sang pemiliknya, maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tadi.

Rasulullah SAW bersabda yg artinya ”binatang tunggangan boleh ditunggangi karena pembiayaannya bila digadaikan, hewan boleh di ambil susunya untuk pada minumkarena pembiayaannya, Jika di gadaikan, bagi orang yg memegang serta meminumnya wajib memberikan porto”.

Jadi, pengambilan manfaat di barang-barang gadai tadi pada tekankan pada porto atau tenga buat pemeliharaannya. sehingga bagi yg memegang barang-barang gadai punya kewajiban tambahan . kewajibannya yaitu memelihara binatang yg dijadikan agunan tersebut, diantaranya yaitu, memberi makan, minum, kawasan yg layak dan membersihkannya Jika barang yg digadaikan itu merupakan binatang,  dan harus membelikan bensin Bila barang yang pada jadikan agunan ialah kendaraaan.

dapat disimpulkan bahwa gadai itu artinya haram Jika bertujuan buat merogoh keuntungan, mirip mengambil bunga setiap bulan, akan tetapi Bila barang tersebut adalah binatang atau tunggangan, maka digunakan buat mencari laba hanya buat porto pemeliharaannya saja.

Referensi : Hukum Gadai dalam Islam












Hukum Tidak Sengaja Makan Daging Babi

Ilustrasi : Hukum Tidak Sengaja Makan Daging Babi

Hukum Tidak Sengaja Makan Daging Babi. Kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai hukum jika tidak sengaja makan daging babi. Seperti yang kita ketahui dalam agama Islam daging babi merupakan salah satu makanan yang diharamkan untuk dikonsumsi umat islam. Untuk itu sebagai umat islam kita harus menghindari dari memakan daging babi karena bisa menjadikan dosa. Babi diharamkan dalam islam bukan tanpa alasan, daging babi diharamkan karena banyak mengandung bakteri yang bisa mempengaruhi terhadap kesehatan tubuh kita. Untuk mengetahui lebih dalam mengapa babi diharamkan dalam islam, kamu bisa menyimak artikel kami lainnya pada link berikut.

Babi sudah jelas diharamkan untuk dikonsumsi, namun apa hukumnya jika kita mengkonsumsi daging babi secara tidak sengaja. Hal demikian terjadi apabila kita membeli makanan siap santap. Tanpa mengetahui kandungan didalamnya secara tidak sengaja banyak saudara umat muslim lainnya yang memakan daging babi. Nah untuk menemukan jawabannya mengenai hukum tidak sengaja makan babi, simak artikel dibawah ini.

Apa hukumnya jika tidak sengaja makan daging babi

Berdasarkan Al-quran

Memakan daging babi sebenarnya sudah jelas memiliki hukum haram, namun hukum haram yang berlaku tidak demikian jika memang kita secara sengaja atau bahkan terpaksa memakan daging babi. Hal ini dijelaskan pula dalam QS al-Baqarah ayat 173, yakni:

فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Berdasarkan penjelasan ayat Al-Quran diatas maka kita tidak perlu khawatir jika terlanjur memakan daging babi karena tidak sengaja karena itu tidak akan mengakibatkan dosa. Tidak hanya karena secara tidak sengaja, dalam keadaan yang memaksa jika dapat menggugurkan dosa jika kita memakan daging babi. Keadaan memaksa dalam ini merupakan keadaan darurat dimana tidak ada bahan makanan lain selain daging babi yang bisa dikonsumsi. Kondisi darurat adalah kondisi yang mengancam jiwa. Tidak ada makanan lain selain daging babi yang tersedia, sehingga tanpa memakan daging babi tersebut maka kita dapat meninggal. Jika dalam keadaan tersebut daging babi diperbolehkan untuk dimakan dengan syarat memakan secukupnya dan tidak berlebihan. Sesungguhnya Allah Swt. maha pengampun dan maha penyayang. Allah akan mengampuni seluruh dosa jika dilakukan secara tidak sengaja. Seperti yang dijelaskan pada hadist riwayat HR. Muslim no. 126 dibawah ini.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Maka perbuatan yang hukumnya haram ketika dilakukan karena murni tidak tahu, murni tidak sengaja atau murni lupa tidak terhitung sebagai dosa di sisi Allah. Maka untuk hal tersebut ia tidak dituntut untuk bertaubat, karena tuntutan bertaubat itu terkait dengan dosa.

Berdasarkan hadist Rasulullah SAW

Untuk memperkuat pernyataan berdasarkan Ayat Al-quran QS al-Baqarah ayat 173 diatas, Rasulullah SAW pernah bersabda seperti dibawah ini.

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Dengan hadits ini, semakin memperkuat hukum bagi orang yang tidak sengaja memakan daging babi. Jika memang hal itu dilakukan secara tidak sengaja makan kita akan terhindar dari dosa.

Memakan babi secara tidak sengaja memang tidak akan mengakibatkan dosa bagi kita, namun sebaiknya kita selalu senantiasa waspada dalam memiliki makanan yang hendak dikonsumsi. Kita harus lebih teliti dalam memilih makanan, jangan karena Allah Swt. maha pengampun kita dengan lalainya memakan makanan apapun tanpa diteliti terlebih dahulu. Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan kita terhadap makanan yang mengandung babi, kamu bisa simak artikel dibawah ini.

Dengan selalu berwaspada dan teliti dalam memilih makanan insyaallah kita akan terhindar dari makanan yang mengandung babi atau apapun makanan yang haram dikonsumsi umat islam.

Nah demikianlah pembahasan kita kali ini mengenai hukum tidak sengaja makan daging babi. Jadi, seorang muslim harus mengupayakan diri terlebih dahulu, jika sudah dalam kondisi mengancam jiwa maka Allah memberikan keringanan untuk memakan daging tersebut. Sekian dan terima kasih telah menyimak tuntas artikel dari IHATEC kali ini selamat berjumpa kembali pada artikel berikutnya.

Referensi : Hukum Tidak Sengaja Makan Daging Babi











Tanya Kiai: Hukum Mengambil Uang Orang Tua Tanpa Izin

Ilustrasi : Tanya Kiai: Hukum Mengambil Uang Orang Tua Tanpa Izin

Tanya Kiai: Hukum Mengambil Uang Orang Tua Tanpa Izin. Pertanyaan (Yana, bukan nama sebenarnya): Apakah seorang anak boleh mengambil uang orang tuanya tanpa izin? Bagaimana hukumnya dalam Islam?  Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):  Mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar adalah haram. Jika harta yang diambil berada di tempat penyimpanannya dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka disebut pencurian. Rasulullah ﷺ mengecam pelaku pencurian dengan sabda beliau ﷺ: 

لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ البَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ وَيَسْرِقُ الحَبْلَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ

Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali (HR. Bukhari no. 6783).  Lantas, apakah seorang anak bisa dianggap mencuri harta orang tuanya jika ia mengambilnya tanpa izin? Mengambil uang orang tua tanpa izin.  Jika seorang anak mengambil hak nafkahnya yang seharusnya diberikan oleh sang ayah, maka Imam Syafii membolehkan mengambilnya sesuai kadar haknya.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Sayyidah Aisyah ra. yang menceritakan bahwa Sahabat Hindun binti Utbah ra. pernah mengadu tentang suaminya kepada Rasulullah ﷺ.  Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan itu laki-laki yang pelit, dan dia tidak memberiku sesuatu yang mencukupiku dan anakku, kecuali aku mengambil hartanya sedangkan dia tidak mengetahuinya.”

Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ lalu bersabda:

خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

Ambillah yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik (HR. Bukhari no. 5364).  Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani saat mengomentari hadis ini menjelaskan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ مَنْ لَهُ عِنْدَ غَيْرِهِ حَقٌّ وَهُوَ عَاجِزٌ عَنِ اسْتِيفَائِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ مَالِهِ قَدْرَ حَقِّهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٍ

Hadis ini dijadikan dalil bahwa bagi seseorang yang memiliki hak di sisi orang lain, dan dia tidak berkuasa untuk menagihnya, maka dia boleh mengambil dari hartanya sekadar haknya dengan tanpa izinnya. Ini adalah pendapat Syafii dan mayoritas. Namun, anak yang dimaksud di dalam hadis di atas adalah anak yang wajib dinafkahi oleh ayahnya. Mazhab Syafii berpendapat bahwa anak yang wajib dinafkahi adalah anak kecil (belum baligh) atau sudah baligh tetapi sedang menempuh pendidikan atau tidak mampu bekerja karena lumpuh. 

Sementara Imam Syaukani tidak membedakan antara anak kecil atau pun dewasa, karena lahiriah hadis di atas tidak merincinya, sehingga bersifat umum.  Jika yang mengambil uang adalah anak kecil yang belum baligh, maka ulama sepakat tidak ada dosa meskipun uang yang diambil adalah bukan hak nafkahnya, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang, yaitu dari orang yang tidur sampai ia terjaga, dari anak kecil sampai ia keluar air mani (baligh), dan dari orang gila sampai ia berakal (HR. Abu Dawud no. 4403; Imam Al-Hakim menilai hadis ini shahih). Adapun jika anak yang mengambil uang adalah anak yang tidak wajib dinafkahi karena telah dewasa dan mampu mencari nafkah untuk menutupi kebutuhannya, atau ayahnya telah memberikan nafkahnya dan memenuhi segala kebutuhannya, maka hukumnya haram dan termasuk pencurian.

Namun demikian, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak ada hukuman potong tangan terhadap anak yang mencuri harta ayahnya atau kakeknya. Ensiklopedi Fikih Kuwait menuliskan:

سَرِقَةُ الْفَرْعِ مِنَ الأَصْلِ ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ (الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ) إِلَى أَنَّهُ لاَ قَطْعَ فِي سَرِقَةِ الْوَلَدِ مِنْ مَالِ أَبِيهِ وَإِنْ عَلاَ لِوُجُوبِ نَفَقَةِ الْوَلَدِ فِي مَال وَالِدِهِ؛ وَلِأَنَّهُ يَرِثُ مَالَهُ وَلَهُ حَقُّ دُخُول بَيْتِهِ

Terkait pencurian seorang anak dari orang tua, mayoritas ulama fikih (mazhab Hanafi, Syafii, dan Hanbali) berpendapat bahwa tidak ada potong tangan dalam pencurian seorang anak dari harta ayahnya dan ke atasnya (kakek, buyut, dan seterusnya), karena kewajiban menafkahi anak dari harta ayahnya, dan karena sang anak mewarisi hartanya, dan dia memiliki hak memasuki rumahnya.

Islam mengharamkan pencurian atau mengambil harta milik orang lain tanpa sepengetahuan dan izinnya. Termasuk mengambil harta orang tua tanpa izin mereka.  jika seorang ayah tidak memberikan nafkah yang mencukupi sang anak, maka dia boleh mengambil harta milik sang ayah secukupnya. Adapun jika orang tua telah mencukupi kebutuhannya, maka haram untuk mengambil darinya tanpa seizinnya.  Walaupun begitu, mayoritas ulama dari mazhab Syafii, Hanafi, dan Hanbali tidak menghukumi potong tangan bagi anak yang mengambil harta orang tuanya tanpa izin. Karena anak juga menjadi ahli waris dari orang tuanya.

seorang anak seyogianya meminta izin kepada orang tua dengan baik jika membutuhkan sesuatu darinya. Sebaliknya, orang tua janganlah menahan sesuatu yang menjadi hak anak dan memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, komunikasi antara keduanya sangatlah penting.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ

Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. (Tuhanmu berfirman) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (QS. Al-An’am 6: 151).

Referensi: Tanya Kiai: Hukum Mengambil Uang Orang Tua Tanpa Izin