This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 05 Agustus 2022

Zakat Dalam Islam, Kedudukan dan Tujuan Syar’inya

Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Zakat diwajibkan atas setiap orang Islam yang telah memenuhi syarat. Selain melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala, tujuan pensyariatan zakat ialah untuk membantu umat Islam yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Oleh karena itu, syariat Islam memberikan perhatian besar dan memberikan kedudukan tinggi pada ibadah zakat ini. Kedudukan zakat dalam Islam sudah banyak diketahui oleh kaum Muslimin secara garis besarnya, namun untuk menegaskan pentingnya masalah zakat ini perlu dirinci kembali permasalahan ini dalam bentuk yang lebih jelas dan gamblang.

KEDUDUKAN ZAKAT DALAM ISLAM

Kedudukan dan arti penting zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

1. Zakat adalah rukun Islam yang ketiga dan salah satu pilar bangunannya yang agung berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهاَدَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنْ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقاَمِ الصَّلاَةِ وَإِيْتاَءِ الزَّكَاةِ وَصَومِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ لِمَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلأ

Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu [Muttafaqun ‘alaihi]

2. Allâh Azza wa Jalla menyandingkan perintah menunaikan zakat dengan perintah melaksanakan shalat di dua puluh delapan tempat dalam al-Qur`ân.[1] Ini menunjukkan betapa urgen dan tinggi kedudukannya dalam Islam. Kemudian penyebutan kata shalat dalam banyak ayat di al-Qur`ân terkadang disandingkan dengan iman dan terkadang dengan zakat. Terkadang ketiga-tiganya disandingkan dengan amal shalih adalah urutan yang logis. Iman yang merupakan perbuatan hati adalah dasar, sedangkan amal shalih yang merupakan amal perbuatan anggota tubuh menjadi bukti kebenaran iman. Amal perbuatan pertama yang dituntut dari seorang mukmin adalah shalat yang merupakan ibadah badaniyah (ibadah dengan gerakan badan) kemudian zakat yang merupakan ibadah harta. Oleh karena itu, setelah ajakan kepada iman didahulukan ajakan shalat dan zakat sebelum rukun-rukun Islam lainnya. Ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamsaat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’âdz Radhiyallahu anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:

إِنَّكَ تَأتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ فاَدْعُهُمْ إِلىَ شَهاَدَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ فإَِنْ هُمْ أَطاَعُوكَ لِذلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلواتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَليَلْةٍ فإَِنْ هُمْ أَطاَعُوكَ لِذلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِياَئِهِمْ فَتُرَدُّ عَلىَ فُقَرَائِهِمْ

Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab, ajaklah mereka kepada syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allâh dan bahwa aku adalah utusan Allâh, bila mereka mematuhi ajakanmu, maka katakanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, bila mereka mematuhi ajakanmu maka katakan kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka [2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamhanya menyebutkan shalat dan zakat (dalam hadits di atas) karena besarnya perhatian terhadap keduanya dan keduanya didahulukan sbelumnya selainnya dalam berdakwah kepada Islam. Juga dalam rangka mengikuti prinsip at-tadarruj (bertahap fase demi fase) dalam menjelaskan kewajiban-kewajiban Islam.[3]

Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari al-Qur’an maupun al-hadits yang menunjukkan kedudukan zakat yang tinggi dalam Islam.

TUJUAN-TUJUAN SYAR’I DIBALIK KEWAJIBAN ZAKAT[4]
Islam telah menetapkan zakat sebagai kewajiban dan menjadikannya sebagai salah satu rukunnya serta memposisikannya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Karena dalam pelaksanaan dan penerapannya mengandung tujuan-tujuan syar’i (maqâshid syari’at) yang agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah :

1. Membuktikan Penghambaan Diri Kepada Allâh Azza wa Jalla Dengan Menjalankan Perintah-Nya.
Banyak dalil yang memerintahkan agar kaum Muslimin melaksanakan kewajiban agung ini, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla firmankan dalam banyak ayat, diantaranya :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” [al-Baqarah/2:43]

Allâh Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa menunaikan zakat merupakan sifat kaum Mukminin yang taat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allâh ialah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allâh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [at-Taubah/9:18]

Seorang mukmin menghambakan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menjalankan perintah-Nya melalui pelaksanaan kewajiban zakat sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan syari’at.

Zakat bukan pajak. Zakat adalah ketaatan dan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla yang dilakukan oleh seorang Mukmin demi meraih pahala dan balasan di sisi Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [al-Baqarah/2:277].

Juga firman-Nya.

لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ ۚ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang Mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allâh dan hari Kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” [an-Nisa`/4:162]

2. Mensyukuri Nikmat Allâh Dengan Menunaikan Zakat Harta Yang Telah Allâh Azza wa Jalla Limpahkan Sebagai Karunia Kepada Manusia.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrâhim/14:7]

Mensyukuri nikmat adalah kewajiban seorang muslim, dengannya nikmat akan langgeng dan bertambah. Imam as-Subki rahimahullah mengatakan, “Diantara makna yang terkandung dalam zakat adalah mensyukuri nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ini berlaku umum pada seluruh taklief (beban) agama, baik yang berkaitan dengan harta maupun badan, karena Allâh Azza wa Jalla telah memberikan nikmat kepada manusia pada badan dan harta. Mereka wajib mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, mensyukuri nikmat badan dan nikmat harta. Hanya saja, meski sudah kita tahu itu merupakan wujud syukur atas nikmat badan atau nikmat harta, namun terkadang kita masih bimbang. Zakat masuk kategori ini.” [5]

Membayar zakat adalah pengakuan terhadap kemurahan Allâh, mensyukuri-Nya dan menggunakan nikmat tersebut dalam keridhaan dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla .

3.Menyucikan Orang Yang Menunaikan Zakat Dari Dosa-Dosa.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allâh Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [at-Taubah/9:103].

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kewajiban membayar zakat dalam ayat di atas berkaitan dengan hikmah pembersihan dari dosa-dosa.”[6]

Ada juga hadits yang menegaskan makna di atas, sebagaimana dalam hadits Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئ ُالمَاءُ النَّارَ

Sedekah itu bisa memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”[HR. Ahmad 5/231 dan at-tirmidzi no. 2616 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi]

Ayat di atas mengumpulkan banyak tujuan dan hikmah syar’i yang terkandung dalam kewajiban zakat. Tujuan-tujuan dan hikmah-hikmah itu terangkum dalam dua kata yang muhkam yaitu, “Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

4. Membersihkan Orang Yang Menunaikannya Dari Sifat Bakhil.
Al-Kâsâni rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya zakat membersihkan jiwa orang yang menunaikannya dari kotoran dosa dan menghiasi akhlaknya dengan sifat dermawan dan pemurah. Juga membuang kekikiran dan kebakhilan, karena tabiat jiwa sangat menyukai harta benda. Zakat dapat membiasakan orang menjadi pemurah, melatih menunaikan amanat dan menyampaikan hak-hak kepada pemiliknya. Semua itu terkandung dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.[7]

Kikir adalah penyakit yang dibenci dan tercela. Sifat ini menjadikan manusia berupaya untuk selalu mewujudkan ambisinya, egois, cinta hidup di dunia dan suka menumpuk harta. Sifat ini akan menumbuhkan sikap monopoli terhadap semua. Tentang hakikat ini, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

Dan manusia itu sangat kikir. [al-Isrâ`/17:100]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ

Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. [an-Nisâ`/4:128]

Sifat kikir ini merupakan faktor terbesar yang menyebabkan manusia sangat tergantung kepada dunia dan berpaling dari akhirat. Sifat ini menjadi sebab kesengsaraan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِوَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الخَمِيْصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ اْنَتقَشَ

Sengsara hamba dinar, sengsara hamba dirham, sengsara hamba khamishah ! Bila dia diberi maka dia rela, bila tidak maka dia murka, sengsara dan tersungkurlah dia, bila dia tertusuk duri maka dia tidak akan mencabutnya. [8]

Cinta dunia dan harta adalah salah satu sumber dosa dan kesalahan. Bila seseorang terselamatkan darinya dan terlindungi dari sifat kikir maka dia akan sukses, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [al-Hasyr/59:9]

Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang yang kikir lagi bakhil,

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allâh berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. [Ali Imrân/3:180]

al-Fakhrurrazi rahimahullah berkata, “Kecintaan mendalam terhadap harta bisa melalaikan jiwa dari kecintaan kepada Allâh dan persiapan menghadapi kehidupan akhirat. Hikmah Allâh Azza wa Jalla menuntut agr pemilik harta mengeluarkan sebagian harta yang dipegangnya; Agar apa yang dikeluarkan itu menjadi alat penghancur ketamakan terhadap harta, pencegah agar jiwa tidak berpaling kepada harta secara total dan sebagai pengingat agar jiwa sadar bahwa kebahagiaan manusia tidak bisa tercapai dengan sibuk menumpuk harta. Akan tetapi kebahagian itu akan terwujud dengan menginfakkan harta untuk mencari ridha Allâh Azza wa Jalla . Kewajiban zakat adalah terapi tepat dan suatu keharusan untuk melenyapkan kecintaan kepada dunia dari hati. Allâh Azza wa Jalla mewajibkan zakat untuk hikmah mulia ini. Inilah yang dimaksud oleh firman-Nya, yang artinya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” Yakni membersihkan dan mensucikan mereka dari sikap berlebih-lebihan dalam menuntut dunia.” [9]

5. Membersihkan Harta Yang Dizakati.
Karena harta yang masih ada keterkaitan dengan hak orang lain berarti masih kotor dan keruh. Jika hak-hak orang itu sudah ditunaikan berarti harta itu telah dibersihkan. Permasalahan ini diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamsaat beliau n menjelaskan alasan kenapa zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Yaitu karena zakat adalah kotoran harta manusia.

6. Membersihkan Hati Orang Miskin Dari Hasad Dan Iri Hati Terhadap Orang Kaya.
Bila orang fakir melihat orang disekitarnya hidup senang dengan harta yang melimpah sementara dia sendiri harus memikul derita kemiskinan, bisa jadi kondisi ini menjadi sebab timbulnya rasa hasad, dengki, permusuhan dan kebencian dalam hati orang miskin kepada orang kaya. Rasa-rasa ini tentu melemahkan hubungan antar sesama Muslim, bahkan berpotensi memutus tali persaudaraan.

Hasad, dengki dan kebencian adalah penyakit berbahaya yang mengancam masyarakat dan mengguncang pondasinya. Islam berupaya untuk mengatasinya dengan menjelaskan bahayanya dan dengan pensyariatan kewajiban zakat. Ini adalah metode praktis yang efektif untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut dan untuk menyebarkan rasa cinta dan belas kasih di antara anggota masyarakat. [10]

Orang yang menunaikannya akan dilipatgandakan kebaikannya dan ditinggikan derajatnya. Ini termasuk tujuan syar’i yang penting. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allâh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allâh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allâh Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” [al-Baqarah/2:261]

7. Menghibur Dan Membantu Orang Miskin.
Al-Kâsâni rahimahullah berkata, “Pembayaran zakat termasuk bantuan kepada orang lemah dan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Zakat membuat orang lemah menjadi mampu dan kuat untuk melaksanakan tauhid dan ibadah yang Allâh wajibkan, sementara sarana menuju pelaksanaan kewajiban adalah wajib.” [11]

8. Pertumbuhan Harta Yang Dizakati.
Telah diketahui bersama bahwa di antara makna zakat dalam bahasa Arab adalah pertumbuhan. Kemudian syariat telah menetapkan makna ini dan menetapkannya pada kewajiban zakat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allâh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (al-Baqarah/2:276). Yakni menumbuhkan dan memperbanyak. [12]

Juga firman-Nya, yang artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allâh akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (Saba`/34:39). Yakni Allâh menggantinya di dunia dengan yang semisalnya dan di akhirat dengan pahala dan balasan. [13]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ إِلاَّ وَمَلكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اَللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً وَيَقُولُ الآخَرُ اللهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً

Tidak ada satu hari di mana manusia mendapatkan waktu pagi kecuali ada dua malaikat turun, salah satu dari keduanya berkata, ‘Ya Allâh berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allâh berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga bersabda :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidak mengurangi harta. [HR Muslim]

9. Mewujudkan Solidaritas Dan Kesetiakawanan Sosial.
Zakat adalah bagian utama dari rangkaian solidaritas sosial yang berpijak kepada penyediaan kebutuhan dasar kehidupan. Kebutuhan dasar kehidupan itu berupa makanan, sandang, tempat tinggal (papan), terbayarnya hutang-hutang, memulangkan orang-orang yang tidak bisa pulang ke negara mereka, membebaskan hamba sahaya dan bentuk-bentuk solidaritas lainnya yang ditetapkan dalam Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

مَثَلُ المُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ الوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ باِلسَهْرِ وَالحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling menyayangi, mengasihi dan melindungi adalah seperti jasad yang satu, bila ada satu anggota jasad yang sakit maka anggota lainnya akan ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam. [HR Muslim]

10. Menumbuhkan Perekonomian Islam.
Zakat mempunyai pengaruh positif yang sangat signifikan dalam mendorong gerak roda perekonomian Islam dan mengembangkannya. Karena pertumbuhan harta individu pembayar zakat memberikan kekuatan dan kemajuan bagi ekonomi masyarakat. Sebagaimana juga zakat dapat menghalangi penumpukan harta di tangan orang-orang kaya saja. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh amat keras hukumanNya.” [al-Hasyr/59:7]

Keberadaan uang di tangan kebanyakan anggota masyarakat mendorong pemiliknya untuk membeli keperluan hidup, sehingga daya beli terhadap barang meningkat. Keadaan ini dapat meningkatkan produksi yang menyerap tenaga kerja dan membunuh pengangguran. [14]

11. Dakwah Kepada Allâh Azza wa Jalla .
Di antara tujuan mendasar zakat adalah berdakwah kepada Allâh dan menyebarkan agama serta menutup hajat fakir-miskin. Semua ini mendorong mereka untuk lebih lapang dada dalam menerima agama dan menaati Allâh Azza wa Jalla .

Demikian banyaknya faedah dan hikmah pensyariatan zakat lainnya yang belum disampaikan, namun semua yang telah disampaikan diatas sudah cukup menunjukkan betapa penting dan bergunanya zakat dalam kehidupan individu dan masyarakat Islam.

Referensi sbb ini : Zakat Dalam Islam, Kedudukan dan Tujuan Syar’inya















5 Alasan untuk Selalu Mengkonsumsi Makanan Halal

5 Alasan untuk Selalu Mengkonsumsi Makanan Halal. Mengonsumsi makanan halal tak hanya baik bagi kesehatan, melainkan dapat mendatangkan rezeki. Berikut ini 5 manfaat makanan halal dan penjelasannya.

Seperti yang kita ketahui sendiri, makanan dan minuman adalah sebuah kebutuhan bagi manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita tentu saja akan berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Contohnya saja jika kamu memakan makanan bergizi yang banyak mengandung vitamin dan mineral, tentunya akan menghasilkan output berupa sehatnya organ-organ tubuh, sedangkan ketika kita memakan makanan yang tak sehat, pastinya akan membuat kesehatan menurun. Bicara mengenai makanan, Al Qur’an merupakan kitab suci yang banyak memuat tentang pedoman hidup. Termasuk di dalamnya pedoman tentang makanan halal dan haram yang wajib maupun yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi umat Islam.

Makanan dan minuman halal tak hanya berarti sekadar makanan yang dibeli dengan rezeki yang halal. Upaya pemerolehan sebuah makanan yang berhukum halal haruslah didapatkan karena perbuatan yang baik pula. Tidak boleh didapatkan atas hasil merampas, mencuri, korupsi atau menganiaya saudara kita yang lain untuk mendapatkan sebuah makanan. Selain itu, seperti yang terkandung dalam Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat 173. Makanan yang halal juga berarti makanan yang tidak mengandung darah, daging babi, bangkai dan tidak disembelih atas nama Allah S.W.T Umat muslim juga diwajibkan untuk membaca doa sebelum makan dan mengucap bismilah sebelum meminum minuman agar dalam setiap suapan makanan yang masuk ke tubuh kita mendapat ridho dan berkah dari Allah S.W.T.  

Hikmah Makan Makanan Halal

Makanan halal

Setiap larangan dan perintah dari Allah pastilah mengandung hikmah yang baik bagi umat manusia. Maka dari itu, simak ulasan hikmah luar biasa dibalik mengkonsumsi makanan dan minuman halal berikut ini.

1. Menghindarkan Diri dari Penyakit

Menurut beberapa penelitian yang telah diterbitkan, makanan haram seperti darah ternyata mengandung bakteri jahat yang malah akan membuat fungsi tubuh menurun. Bahkan, ditemukan juga beberapa fakta lainnya seperti tidak adanya kandungan gizi apapun di dalam darah. Selain itu, darah juga merupakan media yang tepat untuk perkembangan bakteri bila kamu tetap memaksa untuk mengkonsumsinya organ lambungmu bisa saja akan memuntahkannya. Di kasus lainnya, mengkonsumsi olahan dengan campuran darah di dalamnya juga dapat meningkatkan resiko keguguran. Begitu pula halnya ketika kamu memakan daging hewan bangkai. Dengan bakteri serta kuman yang mengelilinginya tentu saja akan sangat beresiko bagi tubuh kamu dan bahkan bisa membuat keracunan. Untuk itulah, Islam menganjurkan umatnya agar mengkonsumsi makanan halal yang segar dan terhindar dari najis, kuman, bakteri serta virus yang dapat membahayakan tubuh.

2. Meningkatkan Iman dan Mendapatkan Perlindungan

Sebagaimana yang kita ketahui, Allah S.W.T sangatlah menyayangi hamba-hambanya yang senantiasa bertakwa menjauhi semua larangan-Nya. Maka dari itu, bila selama hidup kamu di dunia selalu senantiasa berupaya memakanan makanan dan minuman halal. Allah S.W.T pasti akan memberikan ganjaran dan menempatkanmu di tempat yang terpuji. Dengan mengkonsumsi makanan halal dan minuman halal juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan serta sebagai bentuk ungkapan rasa cintamu kepada Allah S.W.T yang maha pencipta.

3. Menjaga akhlak

Makanan dan minuman yang kita konsumsi akan masuk ke dalam tubuh serta menjadi sumber tenaga. Kamu tentunya tidak ingin bukan jika setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhmu nantinya malah mencemari diri dengan hal-hal negatif yang terkandung di dalamnya

4. Menjaga Kekhusyukan Salat

Salah satu syarat shalat adalah berakal dalam artian kamu tidak boleh melakukan sholat ketika sedang mabuk karena alkohol maupun minuman keras lainnya. Di sebuah hadist shahih juga menyebutkan bahwa:

“Orang yang meminum khamar (Alkohol) tidak diterima sholatnya selama 40 hari. Siapa yang bertaubat, maka Allah memberi taubat untuknya. Namun bila kembali, hak Allah untuk memberinya minum dari sungai Khabal.” Menjadi sebuah petunjuk bagi kita agar senantiasa menghindari meminum minuman keras agar sholat kita diterima.

5. Mendatangkan Rezeki yang Baik

Saat kamu memakan makanan halal yang diperoleh dari rezeki yang baik. Tentu saja hal ini akan membiasakan kamu untuk mencari rezeki dengan cara yang baik pula di esok harinya.

Selain itu, Allah S. W.T menjamin bagi hamba-hambanya yang senantiasa sabar dan beriman dengan dicukupkan rezekinya selama di dunia. 

Itulah sejumlah manfaat mengkonsumsi makanan dan minuman halal. Kita diwajibkan untuk selalu mengamalkan perintah dan larangan Alquran selama hidup di dunia guna menggapai ridho Allah. Nah, bagi kamu yang masih kebingungan mencari aneka produk makanan dan minuman halal yang sudah memiliki sertifikasi halal

Referensi : 5 Alasan untuk Selalu Mengkonsumsi Makanan Halal























Bekerja dan Beribadah Ikhlas Karena Allah Swt

Bekerja dan Beribadah Ikhlas Karena Allah Swt. Salah satu derajat yang harus dicapai seorang muslim adalah menjadi seorang mukmin. Untuk melihat ciri seorang mukmin, Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Ali-Imron ayat 113-114, yang artinya : “Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka juga bersujud (shalat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.”

Dari firmah Allah itu, ada empat perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang mempunyai ciri seorang mukmin, yaitu : Pertama, orang mukmin jika bekerja akan cepat, tidak pernah dinanti-nanti. Kedua, ketika bekerja paling semangat. Ketiga, paling depan ketika berbuat baik. Keempat, tidak pernah mempunyai niat untuk berbuat jahat. Semua perbuatan itu harus dijalankan dengan ikhlas, seperti dicontohkan Rasulullah yang selalu menghabiskan waktu malam untuk sujud dan ruku meminta ridho-Nya. Rasulullah mencontohkan untuk tidak pernah lelah dalam melakukan sesuatu, karena ikhlas dalam menjalankannya.

Sebagai karyawan-karyawati, kita harus meniru sikap Rasulullah yang tak kenal lelah beribadah dan bekerja atas nama Allah, bukan yang lainnya. Padahal Rasulullah adalah manusia yang akhlaqnya paling mulia, pasti terbebas dari semua dosa, dan dijamin masuk surga. Bekerja dengan hati ikhlas dan bulat tekad karena Allah akan memudahkan perjalanan karier kita ke depan.

Ada tiga tingkatan orang ikhlas. Pertama, orang beribadah karena Allah, namun masih dikaitkan dengan urusan dunia. Contohnya, semangat bekerja jika ada pimpinan, karena ingin mendapat pujian.

Kedua, ibadah karena Allah, namun masih dikaitkan ingin masuk surga dan menghindari neraka. Ketiga, beribadah karena Allah tidak ada iming-iming lain kecuali hanya karena Allah. Sebab, apapun yang Allah kehendaki, tentu Allah sudah ridho. Ikhlas jenis terakhir inilah ikhlas yang sangat dimuliakan.

Orang ikhlas hatinya senantiasa terbuka, karena mendapat cahaya iman dan takwa dari Allah SWT. Sebaliknya, celakalah bagi orang yang suka melanggar, karena memiliki hati yang sangat keras untuk ingat kepada Allah. Mereka itulah yang berada dalam kesesatan yang nyata.

Agar tidak sesat dan selalu dicintai Allah SWT, Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 19-20 memberi petunjuk : “ Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang.”

Ada tiga hal yang harus diperhatikan manusia dalam berperilaku agar dicintai Allah. Pertama, tidak sombong dan angkuh. Allah akan mencintai hambaNya yang senantiasa rendah hati dan tidak sombong. Kemuliaan di depan Allah bukan karena warna kulit, jabatan, atau ilmu, tetapi karena takwa. Perilaku sombong dan angkuh merupakan induk dosa. Berawal dari sombong dan angkuh akan menyebabkan perilaku-perilaku lain yang tidak diridhoi Allah.

Tanda kedua orang yang dicintai Allah adalah ketika manusia beribadah, baik beribadah kepada Allah maupun kepada masyarakat. Kalau kita bekerja, niatkan karena Allah, bukan karena uang dan yang lainnya. Bila di dunia tidak didapat, kelak di akhirat Allah akan memberi kesempatan dan kebahagiaan yang luas, karena kita bekerja karena Allah.

Tanda terakhir orang yang dicintai Allah adalah dia selalu mengingat Allah. tidak ada hentinya. Dalam Al-Quran ada pesan : “Saat kalian selesai menunaikan shalat, jangan berhenti untuk ingat kepada Allah.”

Referensi : Bekerja dan Beribadah Ikhlas Karena Allah Swt





























Ujian dan Cobaan Bukti Cinta Allah Terhadap HambaNya

Ujian dan Cobaan Bukti Cinta Allah Swt Terhadap HambaNya. dunia yang kita tinggali sekarang ini sejatinya sebuah panggung ujian untuk setiap makhluk yang mencari kehidupan di atasnya. Tak ada seorang pun yang hidupnya tak diuji. Setiap detik yang kita jalani ini merupakan ujian dari Allah. Mungkin kita belum menyadarinya bahwa sebenarnya ujian itu tak pernah benar-benar berhenti mengikuti langkah kaki kita. Ujian setiap orang berbeda. Tak ada yang sama persis. Jenis ujian yang Allah berikan tergantung dari sifat, kondisi, dan situasi hambaNya. Tujuan Allah memberikan ujian yang berbeda kepada setiap hambaNya adalah agar semua hambaNya yang Dia uji dapat lolos dari ujian tersebut dan menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Allah tahu bahwa kemampuan seseorang itu berbeda-beda, maka Allah berikan pula ujian yang berbeda. Maka dari itu, ingatlah, Allah tidak pernah memberikan ujian melebihi kapasitas dan kemampuan hambaNya. Allah tak pernah memberi ujian melebihi apa yang bisa dilakukan oleh hambaNya. Untuk itu, tidak ada alasan lagi bagi kita berputus asa dari rahmat Allah.

Selain untuk menakar kadar keimanan seorang hamba, tujuan dari diujinya seseorang oleh Allah adalah agar hamba itu kembali ke naungan Allah. Allah rindu dengan isak tangis seorang hamba sambil menengadahkan tangannya memohon meminta agar Allah mudahkan semua urusannya. Allah rindu pada hambaNya yang telah mulai menjauh dari rahmatNya. Allah rindu mengabulkan doa-doanya. Allah tak rela bila hambaNya melupakanNya. Untuk mendapatkan hambaNya kembali, Allah beri hambaNya itu sebuah ujian yang membuatnya kembali ingat akan hadirnya Allah dalam hidupnya.

Pembaca, kita bisa saja sesumbar bahwa ada iman kepada Allah dalam hati kita. Namun, keimanan kita yang sesungguhnya akan terungkap dengan adanya sebuah ujian. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 2 yang artinya,

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

Nah, bagaimana tingkat keimanan seseorang akan benar-benar terlihat dari bagaimana ia menghadapi dan menyikapi ujian itu. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah, ia akan menyikapi ujian tersebut dengan ikhlas dan berusaha semaksimal mungkin kepada Allah bahwa ia benar-benar beriman. Ia akan terus melibatkan Allah dalam segala hal. Bersabar, ikhlas, dan pantang putus asa adalah caranya dalam menghadapi segala ujian yang menerpanya.

Berbeda dengan orang yang hanya mengaku beriman. Cara ia menyikapi dan menghadapi ujian jauh dari kata beriman.  Begitu ujian yang hanya sekadar bertamu di kehidupannya itu datang, ia langsung larut dalam kesedihan seolah dunianya runtuh dan hancur. Ia mulai menyalahkan keadaan dan sekitarnya sebagai penyebab musibah itu datang padanya. Ia jatuh ke dalam pelukan putus asa karena lupa bahwa Allah selalu ada untuknya. Akhirnya, mencari jalan keluar yang sama sekali tidak Allah ridhoi.

Apakah Allah menguji hambaNya hanya dalam bentuk kesulitan yang mengakibatkan kesedihan dalaknhati belaka? Tentu tidak. Allah berfirman dalam surah Al-Anbiya ayat 35 yang artinya,

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Allah akan menguji manusia dengan keburukan dan kebaikan. Itu artinya Allah tidak hanya memberikan musibah sebagai ujian manusia, tetapi Allah juga akan menguji manusia dalam bentuk kebahagiaan, kesenangan, harta yang melimpah, dan hal lain yang membuat manusia merasa gembira. Ujian dalam bentuk kesenangan ini bisa jadi lebih sulit untuk dilewati oleh seorang hamba.

Seringkali manusia akan lupa bahwa di balik kesuksesan dan keberuntungannya ada Allah yang memungkinkan semuanya terjadi. Tak jarang mereka menganggap bahwa semua prestasi yang mereka dapatkan semata karena kerja keras dan kemampuannya sendiri. Maka, mereka dengan mudahnya bersikap sombong dan merasa bangga dengan apa yang telah ia miliki. Bahkan, sikap tercela mereka tak berhenti sampai di situ. Mereka kerapkali menghina dan merendahkan orang lain yang secemerlang mereka. Nauzubillah min dzalik. Inilah ujian bagi orang-orang yang Allah beri kesenangan; bagaimana caranya agar tetap mengingat Allah dalam setiap kegembiraan yang ia rasakan; bagaimana caranya agar tetap menyadari bahwa Allah-lah yang memberikan semua hak baik dalam hidupnya; bagaimana ia tetap bersikap rendah hati karena segala kerja kerasnya tak akan bernilai apa-apa tanpa campur tangan Allah.

Allah tak suka bila hambaNya itu bersikap sombong dan menghina orang lain. Allah tak ingin membiarkan perbuatan tercela itu berlangsung lebih lama karena akan berpotensi mengakibatkan banyak mudhorot. Untuk itu Allah menegur hamba tersebut agar ia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang Allah ridhoi. Allah timpakan musibah atasnya sebagai teguran. Allah tunggu taubat dan permohonan ampun dari hambaNya itu. Jika hamba tersebut benar-benar menyadari kesalahannya dan bertaubat, maka Allah akan mengampuninya.

Inilah bukti cinta Allah terhadap seorang hamba. Allah tak pernah menginginkan hambaNya tergelincir dalam lembah kenistaan. Di sisi lain, Allah juga ingin mengetahui kadar keimanan dan ketaqwaan seorang hamba. Untuk itu Allah berikan musibah dan anugerah kepada hambaNya sebagai bentuk ujian. Allah juga telah menurunkan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu. Allah juga telah menghadirkan Rasulullah sebagai suri tauladan yang bisa kita contoh dan juga hadits-hadits beliau untuk kita jadikan rujukan setelah Al-Qur’an. Allah juga telah menempatkan para alim ulama di tengah-tengah kita sebagai pembimbing. Jadi, apakah itu tidak cukup membuktikan bahwa Allah sangat mencintai kita? Allah tidak meninggalkan kita hanya karena Ia memberi sebuah ujian. Allah memberi ujian lengkap dengan segala solusinya. Allah tak pernah meninggalkan hambaNya seorang diri. Kitalah yang kerapkali lupa dan lari dari naunganNya.

Tanda bukti betapa Allah sangat mencintai dan menyayangi hambaNya juga terdapat dalam sebuah hadits yang artinya, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut Rasulullah menjelaskan bahwa tatkala seorang muslim merasa sedih, apapun penyebabnya, maka sejatinya Allah sedang menghapus dosa-dosanya. Sedangkan, seperti yang telah kita ketahui, yang berkuasa dan berhak memberikan kesedihan kepada seorang manusia hanyalah Allah semata serta kesedihan adalah salah satu bentuk ujian dari Allah. Maka dengan kata lain, sebenarnya, Allah menghapus segala dosa seorang hamba dengan sebuah ujian. Masihkah kita meragukan cinta dari Allah?

Sikap dalam Menghadapi Ujian

Musibah kerapkali membuat hati tersayat. Terlampau sedih membuat kita lupa bahwa semua yang terjadi atas hidup kita atas kekuasaan Allah. Untuk menghindari hal tersebut, kita harus ingat untuk mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi  raaji’un.  Kalimat istirja ini tak hanya diucapkan pada saat mendengar berita ada seseorang yang meninggal saja, tetapi untuk semua musibah dalam bentuk apapun yang menimpa diri sendiri atau orang lain.

Kalimat innalillahi wa Inna ilaihi  bermakna semua adalah milik Allah dan  akan kembali kepada Allah. Kalimat ini adalah obat mustajab bagi mereka yang sedang Allah uji. Di tengah perasaan yang kalut dan kacau balau, kalimat ini mampu menyadarkan dan menenangkan kita, jika Allah sudah menakdirkan musibah ini kepada kita, itulah yang terbaik untuk kita. Semua ini terjadi atas kehendak Allah dan pada akhirnya semua yang ada di dunia ini akan kembali kepada Allah.

Referensi sbb : Ujian dan Cobaan Bukti Cinta Allah Terhadap HambaNya























Mentaatti Hukum Allah Swt untuk Kemaslahatan

Taat pada hukum Allah merupakan suatu kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar oleh setiap insan ciptaan-Nya. Jika mengingkari, bahkan menolak hukum Allah, maka kesengsaraan dan kemurkaan Allah yang akan didapatkan dalam kehidupan, serta azab yang maha berat di hari pembalasan. Demikian antara lain disampaikan Ustaz Dr. H. Syukri M. Yusuf MA, Kabid Bina hukum Syariat Islam dan HAM Dinas Syariat Islam Aceh saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh. “Syariat Islam merupakan aturan hukum yang ditetapkan Allah untuk kemaslahatan umat manusia dalam kehidupan ini. Jika kita mau patuh dan taat, banyak hikmah yang kita dapatkan di dunia ini dan akhirat kelak,” ujar Ustaz Syukri M. Yusuf.

Taat pada hukum Allah dengan menjalankan segala amal ibadah yang diperintahkan (amar makruf) baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, juga meninggalkan segala yang dilarang (nahi munkar) sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, Hadits Nabi dan juga ijma’ ulama.

Dalam Alquran Surat Ali Imran ayat juga ditegaskan, “Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguh-nya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir”.

Ketaatan kepada Allah menempati posisi ketaatan tertinggi. Sebagai seorang muslim, tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mengalahkan ketaatan kita kepada Allah SWT. Saat Allah menginginkan sesuatu dari kita, harus menaati-Nya.

“Inilah makna keimanan dan keislaman kita kepada Allah. Menunaikan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya merupakan cara menunjukkan ketaatan kepada Allah. Misalnya, menunaikan shalat, berpuasan membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji,” sebutnya.

Begitu juga dengan larangan-larangan Allah, juga terdapat banyak hikmahnya, dan bertujuan untuk menjaga kehidupan, jiwa, harta, akal, kehormatan, martabat, sesuai maqashid syariah . “Hikmah taat untuk meninggalkan segala yang dilarang, akan mewujudkan keridhaan Allah. Hikmah itu datang belakangan, setelah kita patuhi. Tidak bisa didapatkan hikmah di awal, tapi kemudian, bisa di dunia atau di akhirat,” terangnya.

Ketua Majelis Syuro Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Aceh ini menyebutkan, apa yang diturunkan Allah sebagai ketetapan hukum itu, kita tidak tahu apa hikmah di baliknya.

“Seperti kenapa Allah larang mencuri. Kenapa tidak dibolehkan saja curi punya orang dan orang curi punya kita, begitu juga dengan pembunuhan dan perzinaan, perjudian dan minum khamar, kenapa Allah larang dan tidak dibebaskan saja itu semua. Tentunya, jika kita patuhi untuk meninggalkannya, banyak sekali hikmah yang didapatkan baik dalam bentuk pahala maupun ketenteraman hidup,” jelasnya.

Ustaz Syukri Yusuf menjelaskan, hikmahnya dari ketaatan tersebut juga bisa dirasakan dengan mendapatkan kehidupan yang tenang, rumah tangga terjaga keharmonisan, bisnis/karir lancar karena ridha Allah , aman damai, anak tak pernah sakit, serta tidak gelisah dan mengeluh terhadap segala ketentuan Allah.

Referensi : Mentaatti Hukum Allah Swt untuk Kemaslahatan






















Cara Allah Swt Mengabulkan Doa Hambanya

Bagi setiap umat beragama, doa merupakan salah satu kebiasaan yang selalu dilakukan. Memanjatkan doa kepada Tuhan, tentu menjadi cara untuk menunjukkan keimanan dan kepercayaannya pada Sang Pencipta. Bukan hanya itu, berdoa juga biasanya dilakukan untuk memohon kebaikan dan berbagai kemudahan dalam kehidupan kepada Tuhan.

Termasuk bagi umat Muslim, kewajiban berdoa biasanya dilakukan setiap 5 waktu dalam sehari. Dengan menunaikan sholat 5 waktu mulai dari subuh, waktu siang hari, sore, petang, hingga malam hari, umat Muslim bersimpuh menyembah dan memanjatkan doa hanya kepada Allah SWT. Dengan berdoa, setiap umat Muslim dapat memohon perlindungan dan rezeki pada Allah SWT.

Bukan hanya itu, umat Muslim juga bisa memanjatkan doa apa saja sesuai dengan hajat atau keinginannya. Mulai dari kemudahan dalam mencari rezeki, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, keinginan untuk pergi haji, hingga doa untuk memohon jodoh yang baik. Dalam hal ini, Allah tidak membatasi permintaan atau permohonan hambanya, selama doa yang dipanjatkan tidak mengarah pada hal buruk.

Namun sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya kapan doa akan dikabulkan oleh Allah. Terutama ketika hajat atau keinginan yang telah dipanjatkan kepada Allah belum kunjung didapatkan.

Dalam hal ini, terdapat beberapa cara Allah mengabulkan doa hambanya yang perlu Anda ketahui. Ini menjadi hal penting yang perlu dipahami agar dapat memudahkan Anda untuk terus berikhtiar dan terus memohon pada Allah dengan bersungguh-sungguh.

Sebelum mengetahui beberapa cara Allah mengabulkan doa hambanya, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian dari doa yang terkabul. Sebagian umat Muslim tentu meyakini bahwa doa yang terkabul adalah suatu hal yang diberikan Allah sesuai dengan hajat atau permohonan doa hambanya. Namun sebenarnya, doa yang terkabul mempunyai arti yang lebih luas.

Dalam hal ini, doa yang terkabul atau diijabah oleh Allah bisa jadi suatu hal yang diberikan sesuai dengan permintaan doanya. Namun boleh jadi pula doa yang terkabul tidak sesuai dengan apa yang diminta kepada Allah.

Allah memang berkuasa mengabulkan doa setiap hambanya dalam bentuk apapun, termasuk dalam bentuk yang tidak sesuai dengan permohonan hambanya. Seperti ketika permohonan yang dimaksud tidak mengandung maslahat secara kontan sehingga Allah menggantinya dengan hal yang lebih memiliki maslahat.

Selain itu, doa yang terkabul bisa jadi adalah suatu hal yang diberikan dalam waktu dekat atau bisa juga dalam waktu yang tidak dekat. Dalam hal ini, Allah juga memiliki kuasa penuh kapan ingin mengabulkan doa hambanya. Apakah dikabulkan dalam waktu segera atau terkabul dengan waktu yang lebih lambat karena ingin memberikan hikmah tertentu.

Dalam hal doa, Allah memang menyukai hambanya yang terus berikhtiar dan terus memohon doa dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, sudah selayaknya umat manusia tidak menyerah untuk terus mendekatkan diri pada Allah dan selalu berbaik sangka dengan setiap keputusan yang diberikan Allah.

Doa Dikabulkan Sesuai Permintaan

Setelah memahami pengertian doa yang terkabul, berikutnya perlu diketahui bagaimana cara Allah mengabulkan doa hambanya. Tidak jauh berbeda dengan konsep secara umum, cara Allah mengabulkan doa hambanya yang pertama yaitu dengan mengabulkan sesuai permintaan. Ini berarti saat seorang hamba memohon atau memanjatkan doa kepada Allah, maka Allah segera mengabulkan doanya sesuai permintaan.

Contohnya, seperti ketika seorang hamba yang sedang sakit memohon doa agar diberikan kesembuhan, maka Allah segera mengabulkan doa tersebut dengan memberikan kesembuhan kepadanya. Begitu pula ketika orang memohon kepada Allah untuk dapat membayar utang, maka dengan segera Allah membuka jalan rezeki baginya untuk melunasi utang tersebut.

Doa Dikabulkan Namun Tidak dalam Waktu Segera. 

Cara Allah mengabulkan doa hambanya yang kedua, yaitu doa bisa dikabulkan namun tidak dalam waktu segera. Artinya, ketika seorang hamba memohon kepada Allah tentang suatu hal, bisa jadi Allah mengabulkan sesuai keinginan namun tidak dalam waktu segera.

Bukan tanpa alasan, penundaan pengabulan doa ini tentu terdapat suatu hikmah yang ingin Allah tunjukkan pada orang tersebut. Perlu dipahami bahwa Allah adalah dzat yang paling tahu tentang hikmat dan manfaat dari terkabulnya doa, baik pada masa sekarang maupun yang akan datang.

Doa Dikabulkan dalam Bentuk Lain

Cara Allah mengabulkan doa hambanya yang terakhir adalah doa dikabulkan namun dalam bentuk lain. Artinya, Allah mungkin saja mengabulkan doa hambanya namun tidak sesuai dengan permintaan yang diinginkan, melainkan dalam bentuk lain.

Hal ini karena apa yang diminta oleh seorang hamba tersebut sesungguhnya tidak memiliki manfaat baginya. Sehingga Allah memberikan hal lain kepadanya yang lebih memiliki maslahat kebaikan.

Seperti ketika seorang hamba memohon kepada Allah untuk diterima di salah satu perguruan tinggi dengan jurusan yang diinginkan. Namun ternyata Allah justru memberikan jalan bagi hambanya diterima di perguruan tinggi lain dengan pilihan minat jurusan yang tidak begitu menjadi prioritasnya.

Atau contoh lain, ketika seorang hamba ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan terkendala biaya, sehingga memohon kepada Allah agar dia bisa mendapatkan beasiswa pendidikan. Namun ternyata, Allah tidak mengabulkan sesuai permintaannya. Allah justru membukakan jalan baginya mendapatkan pekerjaan, sehingga ia bisa menghasilkan uang dan bisa membiayai pendidikannya secara mandiri.

Golongan Orang yang Doanya Diijabah

Setelah mengetahui beberapa cara Allah Swt mengabulkan doa hambanya, berikutnya terdapat beberapa golongan orang yang doanya dipercaya diijabah oleh Allah. Beberapa golongan orang ini dipercaya mempunyai keuntungan atau keutamaan dari Allah untuk mendapatkan pengabulan doa dari-Nya. Berikut beberapa golongan orang yang doanya diijabah oleh Allah:

  1. Orang yang terzalimi
  2. Doa orang tua kepada anaknya
  3. Doa orang yang sedang berpuasa
  4. Doa musafir atau orang-orang yang sedang menempuh perjalanan jauh
  5. Doa orang yang sedang mengalami kesulitan
  6. Seorang muslim yang mendoakan saudaranya dengan niat yang tulus
  7. Doa dari anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tua
  8. Doa orang yang tidur dalam keadaan suci atau berdzikir mengingat Allah Swt
  9. Orang yang berdoa dengan doa Dzun Nun (Nabi Yunus)
  10. Doa orang yang sedang berperang atau berjuang di jalan Allah Swt
  11. Doa orang yang sedang menunaikan haji dan umrah
  12. Doa seorang pemimpin yang adil
  13. Doa orang yang banyak mengingat Allah Swt
  14. Doa orang yang dicintai dan diridhoi Allah Swt

Referensi : Cara Allah Swt Mengabulkan Doa Hambanya