This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 05 Agustus 2022

15 Hikmah di Balik Sakit Menurut Allah Swt

Kesehatan merupakan nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada umat manusia. Bukan hanya dilimpahkan kepada umat Muslim, mereka yang non-muslim pun juga dapat merasakan nikmatnya sehat sehingga kita dapat menjalani aktivitas kesehariannya dengan lancar dan bisa selesai tepat waktu.  Namun ada kalanya kita juga bisa dilanda sakit dari hanya hitungan hari sampai bulanan. Akibatnya kita merasa sedih karena kita tidak lagi bisa menjalani aktivitas keseharian dengan baik. Lalu, jika sehat adalah nikmat maka apakah sakit adalah musibah?

Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “ Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir).

Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia dan hikmah yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia.

1. Menghindarkan dari Api Neraka

Rasa sakit yang diterima oleh orang-orang beriman akan Allah SWT tukar dengan menghindarkan orang itu dari siksa api neraka.  Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya.

Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

2. Mengukur Keimanan Kita

Sakit merupakan barometer pengukur keimanan seorang hamba, tingkat keimanan seseorang akan tampak saat datangnya ujian. Jika ia bersabar maka ia merupakan seorang mukmin yang baik.

Rasulullah SAW bersabda. “ Betapa mengaggumkanya keadaan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal tersebut tidak dimiliki kecuali orang yang beriman, saat ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya, sedangkan ia tertimpa kesulitan ia bersabar dan hal itupun baik baginya.” (HR. Muslim)

3. Semakin Dekat dengan Allah

Sakit akan mendorong seorang hamba untuk semakin dekat dan takut kepada Allah, saat seorang tertimpa sakit, ia akan semakin sadar terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah.  Sebagaimana yang diketahui, kadang kita hanya ingat Allah di kala kesusahan dan diberi cobaan. Sementara saat diberikan kebahagiaan, kita mendadak lupa dengan Rabb semesta alam.  

Sehingga datangnya rasa sakit akan meningkatkan rasa tawakkal seorang hamba kepada Allah yang Maha Kuasa. “ Dan apabila kami memberi nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushilat:51)

4. Menjadi Penghapus Dosa

Sakit dapat menjadi pengugur dosa bagi setiap mukmin yang mengalami kepayahan dalam menghadapi penyakitnya itu.

“ Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR Muslim)

5. Sakit Menyulitkan Setan Untuk Menggoda

Saat kita sakit tentunya diajak maksiat tak mampu atau tak mau. Bahkan dosa-dosa yang pernah dilakukannya perlahan disesalinya. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis, satu sikap keinsyafan yg disukai Nabi dan para makhluk langit.

6. Sakit Mengingatkan Pada Kematian

Tanpa berziarah ke makam orang wali atau melayat tetangganya yang meninggal, orang yang sakit akan lebih mengingat mati, dan bersiap amal untuk menyambutnya. Inilah yang akan mendongkrak derajat ketakwaan kepada Allah SWT.

7. Sakit Mengingatkan Kita Bersyukur

Saat kita diberi sakit, seringkali kita lalai untuk bersyukur, padahal kalau kita berpikir lebih banyak waktu sehat dari pada waktu sakit yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Maka, bersyukurlah saat kita selalu diberi nikmat sehat oleh Allah karena nikmat yang paling berharga di dunia ini selain iman dan islam adalah nikmat sehat, sebab dengan keadaan tubuh yang sehat kita bisa menikmati nikmat-nikmat Allah yang lainnya.

8. Sakit Menyambung Silaturrahmi

Ketika sakit maka keluarga yang jarang bertemu akhirnya datang menjenguk, menghibur, penuh senyum, rindu mesra. Maka itulah sakit adalah perekat tali silaturrahmi.

9. Sakit Dapat Memperbanyak Istighfar

Jika datang sakit maka dosa-dosa akan mudah diingat sehingga dapat membimbing lisan kita untuk memohon ampunan Allah SWT. Bahkan sakit akan menguatkan tauhid, bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih besar kecuali Allah SWT karena hanya Dia-lah yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

10. Sakit dapat Memperbaiki Akhlak

Orang yang menderita sakit akan lebih khusuk dan lebih sering menyebut Asma Allah daripada ketika ia sehat. Sakit menjadikan kita beribadah lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

11. Orang Sakit Doanya Mustajab

Di antara doa yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan dari seseorang ketika dalam kondisi lemah, kepepet, terdesak, yang sangat membutuhkan pertolongan dari Allah. Karena itu, doa mereka lebih mustajab dibandingkan doa mereka yang sehat dan dalam keadaan longgor.

Allah berfirman, Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.. (QS. An-Naml: 62)

Dan kita semua tahu, orang sakit termasuk diantara mereka. Bahkan Imam As-Suyuthi pernah keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

12. Mengingatkan agar Tidak Terlalu Fokus Pada Duniawi

Sakit sebenarnya adalah cara Allah memberitahukan kepada kita bahwa nikmat sehat sangatlah berharga, lebih berharga dari harta apapun di dunia ini.

Buktinya ketika masih sehat terkadang kita mati-matian mencari harta dunia, sampai tak mengenal lelah, dan ketika sakit sudah menghampiri bisa jadi apa-apa yang telah kita timbun ludes secara perlahan untuk mengembalikan nikmat sehat itu kembali dirasakan.

Maka, bersyukurlah ketika masih sehat, jangan terlalu gencar mencari harta dunia yang hanya sesaat, apalagi sampai lupa kepada yang memberi nikmat sehat dan nikmat harta, karena disitulah sakit kita sebenarnya, yaitu sakitnya sebuah hati karena tidak bisa berbijaksana bersyukur kepada Allah.

13. Allah Menguji Kesabaran Kita

Ketika kita sakit sebenarnya Allah hanya ingin menguji seberapa besar sabar yang kita miliki saat sedang sakit, maka jangan sampai kita lupa untuk bersabar menerima semuanya dan mengeluh dengan bahasa yang tak pantas.

Tetaplah bersyukur dengan bijak, ajarkan hati dan mulut untuk terus berucap nama baik Allah, seperti halnya kalimat istighfar, hamdalah, ataupun kalimat tasbih.

Karena insyaallah dengan hal itu dosa-dosa kita akan dihapus oleh Allah. Sebab, sakit pula adalah cara Allah untuk menghapus dosa-dosa yang ada dalam diri.

14. Memperlihatkan Kebesaran Allah

Dan ketika nanti kita diberikan kesehatan kembali oleh Allah, tak lain karena Allah ingin pula melihat seberapa besar rasa syukur kita pada-Nya dan menunjukkan betapa besar Kuasa-Nya.

Maka, tetaplah bersyukur dalam keadaan apapun, entah sakit ataupun sehat karena nikmat Allah itu selalu ada dalam setiap peristiwa, dan setiap peristiwa pasti mengandung hikmah yang luar biasa.

15. Allah Sedang Mengistirahatkan Kita

Allah memberi kita waktu agar kita tenang hanya mengingat-Nya, maka ketika sedang sakit bersabarlah, karena itu semua adalah cara Allah untuk mengetuk hati kita agar belajar untuk bersabar dan bersyukur.

Maka dari itu, perlu kita sadari dari sekarang agar kita tidak menjadi pribadi yang mudah mengeluh saat sedang sakit ataupun saat sedang sehat, bahwa sesungguhnya sakit maupun sehat itu adalah nikmat yang harus sama-sama kita syukuri.

Karena jika nikmat sakit adalah cara Allah menguji sabar kita, maka nikmat sehat adalah cara Allah menguji besarnya syukur kita.

Referensi : 15 Hikmah di Balik Sakit Menurut Allah Swt















Mengapa Allah Swt Memberikan Kita Sakit

Setiap, manusia pasti pernah mengalami rasa sakit pada jasmaninya. Baik itu penyakit yang ringan maupun yang sampai mengancam jiwa. Saat kita mengalami hal semacam itu, terutama pada saat sakit kita parah, terkadang pertanyaan muncul begitu saja dalam benak kita, “Mengapa Allah memberikan sakit ini?” Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk takdir. Na’udzu billah…

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya, ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita itu menjawab, “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi,” (HR. Muslim).

Sakit adalah Ujian

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Quran, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,” (QS. Al-Anbiyaa`: 35).

Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menguji manusia, untuk melihat siapa di antara hambaNya yang memang benar-benar berada dalam keimanan dan kesabaran. Karena sesungguhnya iman bukanlah sekedar ikrar yang diucapkan melalui lisan, tapi juga harus menghujam di dalam hati dan teraplikasikan dalam kehidupan oleh seluruh anggota badan.

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Dia akan menguji setiap orang yang mengaku beriman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,” (QS. Al-Ankabuut: 2-3).

Semua ujian yang diberikan-Nya semata-mata hanya agar hamba-Nya menjadi lebih baik di hadapanNya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya,” (HR. Bukhari).
Jadi, sudah selayaknya bagi setiap mukmin untuk kemudian bertambah imannya saat ujian itu datang, termasuk di dalamnya adalah ujian sakit yang merupakan bagian dari ujian yang menimpa jiwa. Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang munafik yang tidak mau bertaubat atau mengambil pelajaran saat mereka diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah: 126).
Sudah selayaknya pula kita merenungi segala amalan yang telah kita lakukan, karena bisa jadi ada beberapa amalan yang memang dianggap sebagai sebuah kemaksiatan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu cintanya Allah kepada kita sehingga Dia mengingatkan kita melalui sakit ini, agar kita dapat segera bertaubat sebelum ajal menjemput kita.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaanNya, maka ia akan menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kermurkaan Allah,” (HR. Tirmidzi).

Sakit adalah Adzab
Bagi seorang mukmin sakit dapat menjadi tadzkirah atau ujian yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun bagi sebagian orang, sakit bisa menjadi adzab yang akan membinasakan dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya),” (QS. Al-An’aam: 65).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang kecil di dunia sebelum adzab yang lebih besar di akhirat, mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar,” (QS. As-Sajdah: 21).
Maka dari itu, pertaubatan adalah langkah nyata menuju kesembuhan. Sesungguhnya, segala macam bencana yang menimpa kita, pada hakikatnya adalah karena perbuatan kita sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS. Asy-Syura: 30).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Aku mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah walau hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan mencatat baginya kebaikan dan dihapus baginya kesalahan dan dosanya,” (HR.Muslim)

Referensi : Mengapa Allah Swt Memberikan Kita Sakit



















Jangan Berfikir Bahwa Sakit Adalah Musibah, Ini Hikmah Terbesarnya

Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, baik sakit secara zahir maupun sakit secara batin. Itu bukti bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, dan membutuhkan pertolongan orang lain.

Banyak orang mengeluh pada sakit yang dideritanya, baik itu ringan ataupun berat. Rasa sakit terkadang membuat sebagian orang menyerah dengan penyakitnya. Mereka mengeluh dan meminta belas kasihan dari orang lain seakan penyakitnya sudah paling berat dia rasakan. 

Perbuatan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim)  

meski sakit adalah sebuah kepastian, masih ada saja manusia yang mengeluh ketika Allah datangkan rasa sakit. Ia meronta-ronta dan seakan tidak terima dengan keputusan yang Allah takdirkan. Sampai pada titik ekstrem, ia menyatakan bahwa Allah tidak adil dengan memberikan rasa sakit padanya.

Tentu saja, hal itu tidak dibolehkan dalam agama. Setiap apa yang Allah takdirkan bagi manusia pastilah memiliki hikmah. Tidak ada sesuatu pun yang Allah berikan bagi manusia, baik itu suatu yang membahagiakan ataupun membuat khawatir manusia, kecuali semua bernilai hikmah.

Ketika manusia sedang sakit, Allah menetapkan hikmah di dalamnya. Hikmah yang seharusnya dipahami dan diresapi oleh setiap Muslim agar tidak mudah menyalahkan agama, apalagi sampai menyalahkan ketentuan yang Allah tetapkan. Berikut beberapa hikmah di balik cobaan sakit yang Allah berikan pada hamba-Nya.

Satu hikmah yang bisa kita petik dari ujian sakit adalah menjauhkan kita dari siksa api neraka. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, “Sakit demam yang dirasakan oleh manusia maka akan menjauhkannya dari api neraka.” (Al-Bazzar).

Hikmah lain yang bisa kita ambil dari adanya rasa sakit adalah dihapusnya dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya demikian, “tidaklah seseorang yang sedang sakit, terus menerus, kepayahan, sedih, bahkan menyusahkannya, kecuali dosa-dosanya akan dihapus Allah.”

Sakit juga bisa menjadi sumber kebaikan jika seseorang bisa sabar. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menegaskan, “Sungguh semua urusan bernilai kebaikan, tidak terkecuali bagi Mukmin. Jika mendapatkan kebaikan ia bersykur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar.” (HR. Muslim).

Sakit tidak selamanya berarti musibah. Sakit bisa menjadi sebuah nikmat yang bisa kita ambil hikmahnya. 

sejumlah hikmah yang bisa diambil dari sakit, sebagaimana tertuang dalam The Power of Husnudzon yaitu sebagai berikut:  

Pertama, sakit bisa menghindari kita dari siksa api neraka. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. al-Bazzar)  

Kedua, sakit bisa menjadi penghapus dosa bagi kita. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam Hadis Riwayat Muslim, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” 

Ketiga, sakit bisa menjadi sumber kebaikan bagi seseorang jika dia bersabar. Hal tersebut sejalan dengan sebuah hadist di mana Rasulullah SAW bersabda: 

“Sungguh semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)  

Keempat, sakit bisa membuat kita kembali mengingat Allah. Sebagaimana yang diketahui, kadang kita hanya ingat Allah di kala kesusahan dan diberi cobaan. Sementara saat diberikan kebahagiaan, kita mendadak lupa dengan Rabb semesta alam.  

Allah SWT telah berfirman: “Dan sesungguhnya kami telah mengutus (para Rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (Qur'an Surah Al-An’am: 42)  

Kelima, sakit bisa membuat kita lebih optimis untuk bertahan hidup. Salah satu moral yang harus dimiliki oleh seorang mukmin ialah tidak boleh menyerah dengan sakitnya. Dia harus berusaha untuk sembuh dari penyakitnya, dia pun harus optimis dengan dirinya sampai Allah mengatakannya untuk berhenti.  

Sakit kadang juga bisa membuat kita semakin ingat akan adanya Allah. Kadang, seseorang ketika selalu diberikan rasa kebahagiaan sering lupa akan keberadaan Allah. Dengan ujian sakit, akan bisa membuat seseorang selalu ingat akan kebesaran Allah Swt.

Referensi : Jangan Berfikir Bahwa Sakit Adalah Musibah, Ini Hikmah Terbesarnya



















Rahasia di Balik Sakit

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).

Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir).

Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan.

Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya.  Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya.

Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah.  Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak.

Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini.

Referensi : Rahasia di Balik Sakit













Kenapa Allah Swt Memberi Kita Sakit (Hikmahnya Menurut Islam)

Kenapa Allah Swt Memberi Kita Sakit (Hikmahnya Menurut Islam). Penyakit merupakan bentuk ujian yang diberikan Allah Swt kepada hamba-Nya. Barangsiapa tabah melaluinya, kelak akan ditempatkan pada derajat yang tinggi. Dalam surat Al-Furqan ayat 75, Allah Swt berfirman: 

"Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,"

Meski begitu, terkadang orang belum bisa memahami hakikat dari penyakit itu sendiri. Sebab, biasanya sakit datang bersama dengan kesusahpayahan. 

Untuk mengobatinya, seseorang pun harus mengeluarkan banyak uang. Mereka bahkan rela berutang demi bisa sembuh dari penyakit itu. Lalu, kenapa Allah memberi kita sakit?

Kenapa Allah Memberi Kita Sakit? Ini Hikmahnya Menurut Islam

"Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,"

Meski begitu, terkadang orang belum bisa memahami hakikat dari penyakit itu sendiri. Sebab, biasanya sakit datang bersama dengan kesusahpayahan. 

Untuk mengobatinya, seseorang pun harus mengeluarkan banyak uang. Mereka bahkan rela berutang demi bisa sembuh dari penyakit itu. Lalu, kenapa Allah memberi kita sakit?

Hikmah Sakit Bagi Umat Muslim

Ada banyak alasan kenapa Allah memberikan kita sakit. Dirangkum dari buku Sembuh Total dengan Wirid Asmaul Husna karya Rizem Aizid, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Sakit sebagai ujian

Orang yang sakit akan diuji keimanan dan kesabarannya. Jika lulus ujian, ia akan ditempatkan pada derajat tinggi di sisi Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-156:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."

2. Sakit sebagai azab

Selain sebagai ujian, sakit juga bisa menjadi azab bagi seseorang. Tentunya ini diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak beriman dan banyak melakukan maksiat atau dosa. 

Allah Swt banyak membinasakan orang-orang yang tidak beriman (kafir). Azab ini diawali dengan sakit parah akibat mendurhakai Allah Swt dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam sebuah firman-Nya, Allah Swt menerangkan:

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadiid [57]: 22-23).

3. Sakit sebagai muhasabah

Umat Muslim yang sakit memiliki banyak waktu untuk merenungi diri. Ia akan menghitung berapa banyak bekal yang perlu dipersiapkan untuk menuju kehidupan akhirat nanti. Di samping itu, ia akan tetap berikhtiar dan berjuang demi kesembuhannya.

4. Sakit sebagai penggugur dosa

Mereka yang sakit akan lebih sering menyebut Asma Allah dibanding ketika masih sehat. Dosa-dosa akan mudah teringat ketika datang sakit. Sehingga, lisan terbimbing untuk mohon ampun dan mengucapkan kalimat thoyyibah.

Referensi : Kenapa Allah Swt Memberi Kita Sakit (Hikmahnya Menurut Islam)





















Sakit menurut Rasulullah SAW memberikan sisi manfaat bagi penderitanya

Ingatlah 5 Hikmah Sakit Menurut Sabda Rasulullah SAW. Sakit menurut Rasulullah SAW memberikan sisi manfaat bagi penderitanya. Banyak orang mengeluh pada sakit yang dideritanya, baik itu ringan ataupun berat. Rasa sakit terkadang membuat sebagian orang menyerah dengan penyakitnya. Mereka mengeluh dan meminta belas kasihan dari orang lain seakan penyakitnya sudah paling berat dia rasakan. Perbuatan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR Muslim)   Sakit tidak selamanya berarti musibah. Sakit bisa menjadi sebuah nikmat yang bisa kita ambil hikmahnya.  

Sejumlah hikmah yang bisa diambil dari sakit, sebagaimana tertuang dalam The Power of Husnudzon yaitu sebagai berikut:  

Pertama, sakit bisa menghindari kita dari siksa api neraka. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dan api neraka.” (HR al-Bazzar)  

Kedua, sakit bisa menjadi penghapus dosa bagi kita. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” 

Ketiga, sakit bisa menjadi sumber kebaikan bagi seseorang jika dia bersabar. Hal tersebut sejalan dengan sebuah hadist di mana Rasulullah Saw bersabda: 

“Sungguh semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapapt kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim)  

Keempat, sakit bisa membuat kita kembali mengingat Allah. Sebagaimana yang diketahui, kadang kita hanya ingat Allah di kala kesusahan dan diberi cobaan. Sementara saat diberikan kebahagiaan, kita mendadak lupa dengan Rabb semesta alam.  

Allah SWT telah berfirman: “Dan sesungguhnya kami telah mengutus (para Rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS al-An’am: 42)  

Kelima, sakit bisa membuat kita lebih optimis untuk bertahan hidup. Salah satu moral yang harus dimiliki oleh seorang mukmin ialah tidak boleh menyerah dengan sakitnya. Dia harus berusaha untuk sembuh dari penyakitnya, dia pun harus optimis dengan dirinya sampai Allah mengatakannya untuk berhenti.  

Referensi : Sakit menurut Rasulullah SAW memberikan sisi manfaat bagi penderitanya





















Bukti Cinta Allah SWT Kepada Hambanya

 Musibah itu datangnya dari Allah SWT. Terkadang hal itu menjadi bukti kecintaanNya kepada seorang hambaNya. Seperti obat, walaupun pahit ia akan meminumnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang ridha (terhadapnya) maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Karenanya, orang yang paling banyak menerima musibah adalah para nabi dan rasul. Dengan itu, Allah mengangkat derajat mereka, meneguhkan kebenaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teladan bagi semua makhluk. Di antara musibah yang Allah SWT timpakan kepada hambaNya adalah sakit.

Seorang mukmin melihatnya sebagai sebab yang menghapuskan dosa-dosanya. Penyakit-penyakit yang menimpanya sebagai penebus atas kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.

Allah SWT berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

Sakit adalah sebab untuk memperoleh pahala besar dan derajat tinggi di sisi Allah. Syaratnya, apabila orang tersebut bersabar dan ridha dengan apa yang menimpanya, serta meminta pahala kepada Allah atas apa yang menimpanya tersebut. Sakit juga bisa mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan menjadi sebab turunnya ampunan dan rahmat.

Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, "Wahai anak Adam, Aku sakit engkau tidak menjengukku." Ia berkata, Wahai Rabb, bagaimana aku menjengukMu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam. Allah menjawab, "Tidakkah kamu tahu hambaKu si fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya. Tidakkah kamu tahu jika kamu menjenguknya kamu dapati aku ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang sehat saat melihat pahala yang diberikan kepada ahlul bala' (banyak dapat musibah) nanti di hari kiamat berkeinginan kalau saja kulit-kulit mereka dipotong dengan gunting saat di dunia.” (HR. al-Tirmidzi). Tujuannya agar mendapatkan pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang tertimpa banyak musibah di dunia.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya, apabila Allah suka kepada suatu kaum maka Allah berikan cobaan kepada mereka; siapa yang ridha maka bainya keridhaan (Allah) dan siapa yang marak baginya kemurkaan (Allah).” (Al-Tirmidzi)

Sakit juga bisa melenyapkan sifat sombong dan banga diri dari hati pencari ridha Allah. Ibnul Qayyim berkata, “Kalau tidak ada cobaan dan musibah dunia niscaya seorang hamba akan tertimpa penyakit sombong, ujub, congkak, dan kerasnya hati yang semua itu adalah sebab kehancurannya di dunia dan akhirat.”

Saat Harun al-Rasyid sakit dan tidur di atas kasur kematiannya maka ia melihat kepada kebesaran dan hartanya, lalu berkata, “Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku!”

Kemudian ia berkata, aku ingin melihat kuburku yang aku akan ditimbun di dalamnya. Lalu ia dibawa kekuburannya. Harun melihat ke kuburan dan menangis. Lalu ia memandang ke langit seraya berkata, Wahai Dzat yang tak akan hilang kekuasaanNya, rahmati orang yang kekuasaannya telah hilang

Referensi : Bukti Cinta Allah SWT Kepada Hambanya



















Kebaikan Di Balik Musibah Sakit

Dalam hidup ini kita merasakan sehat dan adakalanya kita sakit. Ketika kita sehat, hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah karena dengan nikmat sehat. Dengan kesehatan yang ada pada diri kita, banyak sekali nikmat lainnya yang dapat kita rasakan. Dengan sehat, kita dapat menikmati makan dan minum, ibadah, serta aktivitas hidup lainnya. Sebaliknya, ketika kita sedang sakit, hendaknya kita bersabar atas sakit yang menimpa diri kita.

Selain itu, dengan sakit ini, tentunya kita sadar bahwa nikmat sehat begitu sangat berharga dan sehat merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Sebagai seorang yang beriman, sudah selayaknya kita meyakini bahwa ada hikmah di balik musibah sakit yang kita alami. Pada hakikatnya, semua keadaan seorang muslim mengandung kebaikan di dalamnya, baik ketika sehat ataupun ketika sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Tidak ada segala sesuatu yang datang menimpa diri kita kecuali terjadi atas izin dari-Nya. Hendaknya kita memahami bahwasannya sakit merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita perlu menanamkan pada diri kita, bahwa akan ada kebaikan dan hikmah di balik musibah sakit. Ketika sakit menimpa diri kita, hendaklah kita berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Ujian sakit yang kita alami adalah bentuk kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302)

Pembaca rahimakumullah, berikut ini insya Allah akan kami sampaikan mengenai beberapa kebaikan dan hikmah yang dapat kita petik dari musibah sakit.

1. Mendapatkan rida Allah

Seorang yang beriman harus yakin bahwa segala perkara yang terjadi merupakan takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala. Di antara sikap yang perlu ditanamkan pada diri seorang hamba yang sedang mengalami sakit adalah sikap rida. Dengan sikap rida atas cobaan tersebut, maka Allah akan memberikan keridaan kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar diperoleh melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang rida (menerimanya) maka Allah akan meridainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At Tirmidzi no. 2396)

2. Terhapusnya dosa dan diangkat derajatnya

Di antara kabar gembira bagi orang yang sakit yaitu  Allah Ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Selain itu, musibah yang menimpa kita seperti sakit akan mengangkat derajat kita di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya atau dengannya dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5640 dan Muslim no. 2572)

3. Pahala yang tetap mengalir

Terkadang ketika sakit menimpa diri kita, kita tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah sebagaimana biasanya. Di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah pahala amal saleh yang terus mengalir meskipun kita dalam keadaan sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, maka Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari no. 2996)

4. Kecintaan Allah dan pahala tanpa batas jika bersabar

Sikap mulia orang yang beriman ketika ditimpa musibah adalah sabar. Oleh karena itu, sakit yang kita rasakan sudah semestinya kita hadapi dengan penuh kesabaran. Kita tahu bahwa Allah amat mencintai orang-orang yang sabar. Sebagaimana firman-Nya,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar.“. (QS. Ali Imran:146)

Allah Ta’ala juga menjanjikan pahala yang tak berhingga bagi hamba-Nya yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Demikian beberapa poin hikmah dan kebaikan di balik musibah sakit. Semoga Allah memberikan kita kesehatan, kesabaran, kekuatan untuk senantiasa melakukan ketaatan, menjauhi perbuatan dosa dan sia-sia. 

Referensi : Kebaikan Di Balik Musibah Sakit















Psikosomatis : Pikiranmu yang sakit menjadi fisikmu ikut menjadi sakit

Kamu perlu tetap kuat. Kamu akan selamat. Namun, yang paling penting adalah pikiranmu sendiri. Tenang, selamatkan pikiranmu dari serangan buruknya sendiri. Ada yang sakit, tetapi bukan fisik melainkan pikiranmu sendiri. Terkadang pikiranmu lah yang membuat serangan buruk atas fisikmu. Kamu mungkin pernah merasa sesak yang amat sangat menyakitkan di dada akibat kesedihan yang mendalam, merasa pusing dikarenakan tekanan pekerjaan yang begitu banyak, dan mengalami keram bahkan hingga sakit perut dikarenakan perasaan gugup sebelum presentasi.

Gejala-gejala tersebut merupakan tanda-tanda psikosomatis. Psikosomatis sendiri terdiri dari dua kata, yaitu psyche (jiwa) dan soma (tubuh). Gangguan psikosomatis merupakan penyakit yang melibatkan jiwa yang diwakili pikiran dan juga tubuh sebagai dampaknya. Pikiran kita memengaruhi tubuh hingga membuat penyakit muncul atau makin bertambah parah.

Tentunya, di Hari Kesehatan Internasional ini kesehatan bukan hanya perkara fisik, melainkan psikis juga. Jika kita terlalu fokus pada kesehatan fisik, bagaimana bila kenyataannya psikis lah penyebabnya dari rasa sakit itu? Masalah emosional yang diderita dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang, kondisi fisik inilah yang kemudian terpengaruh dengan memberikan respon rasa sakit.

Ketika emosi negatif, seperti ketakutan, kecemasan, amarah, rasa bersalah, atau kesedihan sedang memenuhi alam pikiran kita, maka tubuh akan meresponnya dengan melepaskan hormon adrenaline (epinephrine) ke dalam aliran darah, sehingga detak jantung menjadi lebih cepat, keringat berlebihan dan akan menimbulkan rasa nyeri di dada maupun di perut. Berkaitan dengan hal itu, terdapat 4 gejala umum psikosomatis yang biasanya muncul;

Pertama, permasalahan perut. Orang dengan gejala psikosomatis sering kali kehilangan nafsu makan, merasa mual, bahkan muntah dan diare. Namun, ketika diperiksa ke dokter, tidak ditemukan masalah serius berkaitan dengan rasa sakitnya.

Kedua, sakit kepala. Sakit kepala sering terjadi pada orang yang mengalami psikosomatis dikarenakan kecemasan yang ia rasakan. Kecemasan ini bisa dikarenakan cognitive blocking (kebuntuan berpikir) atau cognivite overload (terlalu banyak informasi yang diterima).

Ketiga, sesak napas. Sesak napas, sering kali dikarenakan degup jantung yang terlalu cepat. Hal ini biasa diikuti oleh nyeri dada dan berkeringat secara berlebihan atau tetap berkeringat di ruangan dingin. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kepanikan dan kecemasan seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.

Keempat, pelupa. Sering kali ketika terlalu lelah dalam bekerja, kita merasa mengantuk dan kesulitan berkonsentrasi, bahkan melupakan informasi penting.

Berdasarkan gejala-gejala tersebut maka kita perlu memberikan perhatian juga kepada kesehatan psikis. Gangguan psikosomatis dapat diringankan atau bahkan diatasi secara keseluruhan dengan beberapa metode terapi dan pengobatan, seperti psikoterapi dengan terapi kognitif perilaku, melakukan latihan relaksasi atau meditasi, mempelajari teknik pengalihan, melakukan terapi akupuntur, hipnotis ataupun hipnoterapi, fisioterapi, terapi listrik dan obat-obatan.

Untuk terapi-terapi tersebut, psikolog akan menangani individu secara keseluruhan dan memperhatikan kondisi lingkungan sosial dan kerja dari penderita agar dapat mendapatkan metode terapi yang tepat. Sedangkan untuk obat-obatan, apabila memang penderita menderita penyakit tersebut dan semakin parah, maka akan diberikan obat yang sesuai dengan sakit yang diderita. Namun, apabila penderita ternyata hanya merasakan sakit yang sebenarnya tidak ada, maka sering kali placebo effect menjadi pilihan, yaitu sembuhnya penderita dikarenakan mengonsumsi obat yang sama sekali tidak memiliki khasiat apapun atau hanya berisi serbuk laktosa.

Setelah kamu paham tentang gangguan psikosomatis ini, maka kamu wajib memberikan dukungan moral agar penderita memiliki motivasi kembali untuk meneruskan hidup tanpa memikirkan beban permasalahan yang berarti. Apabila kamu sendiri yang mengalami psikosomatis, coba pahami apakah karena stres, kelelahan, atau kecemasan yang menjadi penyebabnya. Sehingga, dengan begitu kamu dapat menanganinya dengan lebih positif atau bahkan bisa berdamai dengan pengalaman buruk yang dialami.

Referensi : Psikosomatis : Pikiranmu yang sakit menjadi fisikmu ikut menjadi sakit 
















Gangguan Psikosomatis, Pikiran dan Emosi menyebabkan Sakit Fisik

Support system terbaik adalah dirimu sendiri, jika kamu berpikir hanya ada kata "kuat", maka yang akan datang adalah kekuatan untuk segera sembuh.  Sudah pernah dengar istilah psikosomatis? Mungkin memang beberapa orang masih belum pernah mendengar tentang psokosomatis. Jadi, apa sih psikosomatis itu Psikosomatis adalah suatu hal yang selalu ditunjukkan oleh hubungan jiwa dan badan, sehingga proses psikologis memegang peran penting. Theory of somatic weakness juga menyatakan bahwa psikosomatis bisa terjadi karena organ secara biologis sudah peka atau lemah. 

Lalu, kenapa ya pikiran bisa menyebabkan sakit fisik? Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu psikosomatis, dan kenapa pikiran bisa menyebabkan sakit fisik. Yuk, kita bahas bersama-sama. 

Apa sih psikosomatis itu.

Psikosomatis itu berasal dari bahasa yunani (psyche yang berarti psikis, dan soma yang berarti badan). Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa psikis dan badan itu berhubungan erat. J.P Chaplin dalam kamus psikologi menyebutkan bahwa psikosomatis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kombinasi dari faktor organis dan psikologis. Psikosomatis adalah bentuk penyakit fisik yang ditimbulakan oleh konflik-konflik psikis atau psikologis, dan kecemasan-kecemasan kronis. Theory of somatic weakness juga menyatakan bahwa psikosomatis dapat terjadi karena organ secara biologis sudah peka atau lemah.

Bahwa psikosomatis adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh tekanan-tekanan emosional dan psikologis, atau gangguan fisik yang terjadi akibat dari kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi.

Saya berikan sedikit contoh: biasanya, seseorang yang merasa takut secara berlebih, detak jantungnya mejadi semakin cepat, dan ada rasa kelelahan ekstream dari reaksi asthenis (kelemahan) pada badan yang lemah. Keduanya adalah benar-benar gejala fisiologis atau jasmaniah yang diidentifikasikan sebagai akibat dari konflik-konflik emosional yang sifatnya psikologis.

Berikut ini 7 jenis psikosomatis yang dikemukakan oleh  Maramis dan McQuade & Aickman:

  1. Psikosomatis yang menyerang kulit, gangguan psikosomatis yang sering menyerang kulit adalah alergi.
  2. Psikosomatis yang menyerang otot dan tulang, gangguan psikosomatis yang sering menyerang otot dan tulang adalah reumatik, nyeri otot dan nyeri sendi.
  3. Psikosomatis pada saluran pernafasan, gangguan psikosomatis yang sering menyerang saluran pernapasan yaitu, sindroma hiperventilasi dan asma.
  4. Psikosomatis yang menyerang jantung dan pembuluh darah, gangguan psikosomatis yang sering menyerang jantung dan pembuluh darah adalah darah tinggi, sakit kepala vaskuler, sakit kepala vasosvastik, dan migrain.
  5. Psikosomatis pada saluran pencernaan, gangguan psikosomatis yang sering menyerang saluran pencernaan adalah sindroma asam lambung dan muntah-muntah.
  6. Psikosomatis pada alat kemih dan kelamin, gangguan psikosomatis yang sering menyerang alat kemih dan kelamin adalah nyeri di panggul, frigiditas, impotensi, ejakulasi dini, dan mengompol.
  7. Psikosomatis pada sistem endokrin, gangguan psikosomatis yang sering menyerang sistem endokrin adalah, hipertiroid dan sindroma menopause.

Memang tidak ada penyebab tunggal, lho. Untuk gangguan psikosomatis ini, tidak seperti kebanyakan kondisi kejiwaan lainnya, gangguannya adalah hasil akhir dari interaksi antara faktor genetik dan berbagai peristiwa dalam sejarah kehidupan dari seseorang. Tetapi, Strecter dalam maramis (2006), menyatakan bahwa psikosomatis memiliki beberapa faktor, diantaranya yaitu:

Faktor sosial dan ekonomi, kepuasan dalam pekerjaan, kesukaran ekonomi, pekerjaan yang tidak tentu, pekerjaan yang terburu-buru, kualitas pelayanan yang tidak memuaskan, hal inilah yang dapat mengakibatkan peningkatan hilangnya jam kerja karena ketidakhadiran, kecelakaan di tempat kerja, kurangnya motivasi dengan komitmen.

Faktor perkawinan atau keluarga, kepuasan dalam pernikahan, seperti perselisihan, perceraian dan kekecewaan dalam hubungan seksual, anak-anak yang nakal dan menyusahkan. Di mana kondisi keluarga juga dapat menimbulkan stres yang bisa membuat tubuh menjadi tertekan, serta dapat menyebabkan atau bahkan memperburuk secara langsung kondisi saat sakit.

Faktor kesehatan, kesehatan juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya gangguan psikosomatis, seperti adanya kerusakan akibat dari berbagai macam hal seperti penggunaan obat, benturan, penyakit-penyakit yang menahun, pernah masuk rumah sakit, pernah dioperasi, adiksi terhadap obat-obatan, dan tembakau.
Faktor psikologis, pengaruh psikologis yang dapat menyebabkan munculnya ataupun memperparah penyakit-penyakit fisik yang disebabkan oleh stres, terutama muncul dari sikap maladaptif. 

Jadi, psikosomatis dan penyakit-penyakit fisik serta kegagalan sistem syaraf akan terus berlangsung, walaupun tanpa ada stimulus atau perangsang khusus yang jelas ada berkaitan antara tubuh dan jiwa, seperti pada perasaan atau emosi-emosi yang mempunyai latar belakang komponen mental dan komponen jasmaniah.

Maka dari itu, teman-teman, solusi untuk mencegah atau menguranginya adalah dengan terus berusaha berpikir positif, penting bagi kita untuk selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu yang kita alami, baik itu permasalahan hidup, ataupun segala keluhan fisik yang kita rasakan.  Apabila kita selalu berpikir positif terhadap apa yang kita alami, maka kita akan merasa lebih tenang dalam menjalani dan menghadapi segala sesuatu.

Referensi : Gangguan Psikosomatis, Pikiran dan Emosi menyebabkan Sakit Fisik