This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 05 Agustus 2022

Kebaikan Di Balik Musibah Sakit

Dalam hidup ini kita merasakan sehat dan adakalanya kita sakit. Ketika kita sehat, hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah karena dengan nikmat sehat. Dengan kesehatan yang ada pada diri kita, banyak sekali nikmat lainnya yang dapat kita rasakan. Dengan sehat, kita dapat menikmati makan dan minum, ibadah, serta aktivitas hidup lainnya. Sebaliknya, ketika kita sedang sakit, hendaknya kita bersabar atas sakit yang menimpa diri kita.

Selain itu, dengan sakit ini, tentunya kita sadar bahwa nikmat sehat begitu sangat berharga dan sehat merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Sebagai seorang yang beriman, sudah selayaknya kita meyakini bahwa ada hikmah di balik musibah sakit yang kita alami. Pada hakikatnya, semua keadaan seorang muslim mengandung kebaikan di dalamnya, baik ketika sehat ataupun ketika sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Tidak ada segala sesuatu yang datang menimpa diri kita kecuali terjadi atas izin dari-Nya. Hendaknya kita memahami bahwasannya sakit merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita perlu menanamkan pada diri kita, bahwa akan ada kebaikan dan hikmah di balik musibah sakit. Ketika sakit menimpa diri kita, hendaklah kita berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Ujian sakit yang kita alami adalah bentuk kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302)

Pembaca rahimakumullah, berikut ini insya Allah akan kami sampaikan mengenai beberapa kebaikan dan hikmah yang dapat kita petik dari musibah sakit.

1. Mendapatkan rida Allah

Seorang yang beriman harus yakin bahwa segala perkara yang terjadi merupakan takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala. Di antara sikap yang perlu ditanamkan pada diri seorang hamba yang sedang mengalami sakit adalah sikap rida. Dengan sikap rida atas cobaan tersebut, maka Allah akan memberikan keridaan kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar diperoleh melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang rida (menerimanya) maka Allah akan meridainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At Tirmidzi no. 2396)

2. Terhapusnya dosa dan diangkat derajatnya

Di antara kabar gembira bagi orang yang sakit yaitu  Allah Ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Selain itu, musibah yang menimpa kita seperti sakit akan mengangkat derajat kita di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya atau dengannya dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5640 dan Muslim no. 2572)

3. Pahala yang tetap mengalir

Terkadang ketika sakit menimpa diri kita, kita tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah sebagaimana biasanya. Di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah pahala amal saleh yang terus mengalir meskipun kita dalam keadaan sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, maka Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari no. 2996)

4. Kecintaan Allah dan pahala tanpa batas jika bersabar

Sikap mulia orang yang beriman ketika ditimpa musibah adalah sabar. Oleh karena itu, sakit yang kita rasakan sudah semestinya kita hadapi dengan penuh kesabaran. Kita tahu bahwa Allah amat mencintai orang-orang yang sabar. Sebagaimana firman-Nya,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar.“. (QS. Ali Imran:146)

Allah Ta’ala juga menjanjikan pahala yang tak berhingga bagi hamba-Nya yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Demikian beberapa poin hikmah dan kebaikan di balik musibah sakit. Semoga Allah memberikan kita kesehatan, kesabaran, kekuatan untuk senantiasa melakukan ketaatan, menjauhi perbuatan dosa dan sia-sia. 

Referensi : Kebaikan Di Balik Musibah Sakit















Psikosomatis : Pikiranmu yang sakit menjadi fisikmu ikut menjadi sakit

Kamu perlu tetap kuat. Kamu akan selamat. Namun, yang paling penting adalah pikiranmu sendiri. Tenang, selamatkan pikiranmu dari serangan buruknya sendiri. Ada yang sakit, tetapi bukan fisik melainkan pikiranmu sendiri. Terkadang pikiranmu lah yang membuat serangan buruk atas fisikmu. Kamu mungkin pernah merasa sesak yang amat sangat menyakitkan di dada akibat kesedihan yang mendalam, merasa pusing dikarenakan tekanan pekerjaan yang begitu banyak, dan mengalami keram bahkan hingga sakit perut dikarenakan perasaan gugup sebelum presentasi.

Gejala-gejala tersebut merupakan tanda-tanda psikosomatis. Psikosomatis sendiri terdiri dari dua kata, yaitu psyche (jiwa) dan soma (tubuh). Gangguan psikosomatis merupakan penyakit yang melibatkan jiwa yang diwakili pikiran dan juga tubuh sebagai dampaknya. Pikiran kita memengaruhi tubuh hingga membuat penyakit muncul atau makin bertambah parah.

Tentunya, di Hari Kesehatan Internasional ini kesehatan bukan hanya perkara fisik, melainkan psikis juga. Jika kita terlalu fokus pada kesehatan fisik, bagaimana bila kenyataannya psikis lah penyebabnya dari rasa sakit itu? Masalah emosional yang diderita dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang, kondisi fisik inilah yang kemudian terpengaruh dengan memberikan respon rasa sakit.

Ketika emosi negatif, seperti ketakutan, kecemasan, amarah, rasa bersalah, atau kesedihan sedang memenuhi alam pikiran kita, maka tubuh akan meresponnya dengan melepaskan hormon adrenaline (epinephrine) ke dalam aliran darah, sehingga detak jantung menjadi lebih cepat, keringat berlebihan dan akan menimbulkan rasa nyeri di dada maupun di perut. Berkaitan dengan hal itu, terdapat 4 gejala umum psikosomatis yang biasanya muncul;

Pertama, permasalahan perut. Orang dengan gejala psikosomatis sering kali kehilangan nafsu makan, merasa mual, bahkan muntah dan diare. Namun, ketika diperiksa ke dokter, tidak ditemukan masalah serius berkaitan dengan rasa sakitnya.

Kedua, sakit kepala. Sakit kepala sering terjadi pada orang yang mengalami psikosomatis dikarenakan kecemasan yang ia rasakan. Kecemasan ini bisa dikarenakan cognitive blocking (kebuntuan berpikir) atau cognivite overload (terlalu banyak informasi yang diterima).

Ketiga, sesak napas. Sesak napas, sering kali dikarenakan degup jantung yang terlalu cepat. Hal ini biasa diikuti oleh nyeri dada dan berkeringat secara berlebihan atau tetap berkeringat di ruangan dingin. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kepanikan dan kecemasan seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.

Keempat, pelupa. Sering kali ketika terlalu lelah dalam bekerja, kita merasa mengantuk dan kesulitan berkonsentrasi, bahkan melupakan informasi penting.

Berdasarkan gejala-gejala tersebut maka kita perlu memberikan perhatian juga kepada kesehatan psikis. Gangguan psikosomatis dapat diringankan atau bahkan diatasi secara keseluruhan dengan beberapa metode terapi dan pengobatan, seperti psikoterapi dengan terapi kognitif perilaku, melakukan latihan relaksasi atau meditasi, mempelajari teknik pengalihan, melakukan terapi akupuntur, hipnotis ataupun hipnoterapi, fisioterapi, terapi listrik dan obat-obatan.

Untuk terapi-terapi tersebut, psikolog akan menangani individu secara keseluruhan dan memperhatikan kondisi lingkungan sosial dan kerja dari penderita agar dapat mendapatkan metode terapi yang tepat. Sedangkan untuk obat-obatan, apabila memang penderita menderita penyakit tersebut dan semakin parah, maka akan diberikan obat yang sesuai dengan sakit yang diderita. Namun, apabila penderita ternyata hanya merasakan sakit yang sebenarnya tidak ada, maka sering kali placebo effect menjadi pilihan, yaitu sembuhnya penderita dikarenakan mengonsumsi obat yang sama sekali tidak memiliki khasiat apapun atau hanya berisi serbuk laktosa.

Setelah kamu paham tentang gangguan psikosomatis ini, maka kamu wajib memberikan dukungan moral agar penderita memiliki motivasi kembali untuk meneruskan hidup tanpa memikirkan beban permasalahan yang berarti. Apabila kamu sendiri yang mengalami psikosomatis, coba pahami apakah karena stres, kelelahan, atau kecemasan yang menjadi penyebabnya. Sehingga, dengan begitu kamu dapat menanganinya dengan lebih positif atau bahkan bisa berdamai dengan pengalaman buruk yang dialami.

Referensi : Psikosomatis : Pikiranmu yang sakit menjadi fisikmu ikut menjadi sakit 
















Gangguan Psikosomatis, Pikiran dan Emosi menyebabkan Sakit Fisik

Support system terbaik adalah dirimu sendiri, jika kamu berpikir hanya ada kata "kuat", maka yang akan datang adalah kekuatan untuk segera sembuh.  Sudah pernah dengar istilah psikosomatis? Mungkin memang beberapa orang masih belum pernah mendengar tentang psokosomatis. Jadi, apa sih psikosomatis itu Psikosomatis adalah suatu hal yang selalu ditunjukkan oleh hubungan jiwa dan badan, sehingga proses psikologis memegang peran penting. Theory of somatic weakness juga menyatakan bahwa psikosomatis bisa terjadi karena organ secara biologis sudah peka atau lemah. 

Lalu, kenapa ya pikiran bisa menyebabkan sakit fisik? Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu psikosomatis, dan kenapa pikiran bisa menyebabkan sakit fisik. Yuk, kita bahas bersama-sama. 

Apa sih psikosomatis itu.

Psikosomatis itu berasal dari bahasa yunani (psyche yang berarti psikis, dan soma yang berarti badan). Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa psikis dan badan itu berhubungan erat. J.P Chaplin dalam kamus psikologi menyebutkan bahwa psikosomatis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kombinasi dari faktor organis dan psikologis. Psikosomatis adalah bentuk penyakit fisik yang ditimbulakan oleh konflik-konflik psikis atau psikologis, dan kecemasan-kecemasan kronis. Theory of somatic weakness juga menyatakan bahwa psikosomatis dapat terjadi karena organ secara biologis sudah peka atau lemah.

Bahwa psikosomatis adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh tekanan-tekanan emosional dan psikologis, atau gangguan fisik yang terjadi akibat dari kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi.

Saya berikan sedikit contoh: biasanya, seseorang yang merasa takut secara berlebih, detak jantungnya mejadi semakin cepat, dan ada rasa kelelahan ekstream dari reaksi asthenis (kelemahan) pada badan yang lemah. Keduanya adalah benar-benar gejala fisiologis atau jasmaniah yang diidentifikasikan sebagai akibat dari konflik-konflik emosional yang sifatnya psikologis.

Berikut ini 7 jenis psikosomatis yang dikemukakan oleh  Maramis dan McQuade & Aickman:

  1. Psikosomatis yang menyerang kulit, gangguan psikosomatis yang sering menyerang kulit adalah alergi.
  2. Psikosomatis yang menyerang otot dan tulang, gangguan psikosomatis yang sering menyerang otot dan tulang adalah reumatik, nyeri otot dan nyeri sendi.
  3. Psikosomatis pada saluran pernafasan, gangguan psikosomatis yang sering menyerang saluran pernapasan yaitu, sindroma hiperventilasi dan asma.
  4. Psikosomatis yang menyerang jantung dan pembuluh darah, gangguan psikosomatis yang sering menyerang jantung dan pembuluh darah adalah darah tinggi, sakit kepala vaskuler, sakit kepala vasosvastik, dan migrain.
  5. Psikosomatis pada saluran pencernaan, gangguan psikosomatis yang sering menyerang saluran pencernaan adalah sindroma asam lambung dan muntah-muntah.
  6. Psikosomatis pada alat kemih dan kelamin, gangguan psikosomatis yang sering menyerang alat kemih dan kelamin adalah nyeri di panggul, frigiditas, impotensi, ejakulasi dini, dan mengompol.
  7. Psikosomatis pada sistem endokrin, gangguan psikosomatis yang sering menyerang sistem endokrin adalah, hipertiroid dan sindroma menopause.

Memang tidak ada penyebab tunggal, lho. Untuk gangguan psikosomatis ini, tidak seperti kebanyakan kondisi kejiwaan lainnya, gangguannya adalah hasil akhir dari interaksi antara faktor genetik dan berbagai peristiwa dalam sejarah kehidupan dari seseorang. Tetapi, Strecter dalam maramis (2006), menyatakan bahwa psikosomatis memiliki beberapa faktor, diantaranya yaitu:

Faktor sosial dan ekonomi, kepuasan dalam pekerjaan, kesukaran ekonomi, pekerjaan yang tidak tentu, pekerjaan yang terburu-buru, kualitas pelayanan yang tidak memuaskan, hal inilah yang dapat mengakibatkan peningkatan hilangnya jam kerja karena ketidakhadiran, kecelakaan di tempat kerja, kurangnya motivasi dengan komitmen.

Faktor perkawinan atau keluarga, kepuasan dalam pernikahan, seperti perselisihan, perceraian dan kekecewaan dalam hubungan seksual, anak-anak yang nakal dan menyusahkan. Di mana kondisi keluarga juga dapat menimbulkan stres yang bisa membuat tubuh menjadi tertekan, serta dapat menyebabkan atau bahkan memperburuk secara langsung kondisi saat sakit.

Faktor kesehatan, kesehatan juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya gangguan psikosomatis, seperti adanya kerusakan akibat dari berbagai macam hal seperti penggunaan obat, benturan, penyakit-penyakit yang menahun, pernah masuk rumah sakit, pernah dioperasi, adiksi terhadap obat-obatan, dan tembakau.
Faktor psikologis, pengaruh psikologis yang dapat menyebabkan munculnya ataupun memperparah penyakit-penyakit fisik yang disebabkan oleh stres, terutama muncul dari sikap maladaptif. 

Jadi, psikosomatis dan penyakit-penyakit fisik serta kegagalan sistem syaraf akan terus berlangsung, walaupun tanpa ada stimulus atau perangsang khusus yang jelas ada berkaitan antara tubuh dan jiwa, seperti pada perasaan atau emosi-emosi yang mempunyai latar belakang komponen mental dan komponen jasmaniah.

Maka dari itu, teman-teman, solusi untuk mencegah atau menguranginya adalah dengan terus berusaha berpikir positif, penting bagi kita untuk selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu yang kita alami, baik itu permasalahan hidup, ataupun segala keluhan fisik yang kita rasakan.  Apabila kita selalu berpikir positif terhadap apa yang kita alami, maka kita akan merasa lebih tenang dalam menjalani dan menghadapi segala sesuatu.

Referensi : Gangguan Psikosomatis, Pikiran dan Emosi menyebabkan Sakit Fisik






















Mengenal Penyakit Ain: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Sama seperti penyakit-penyakit lainnya, Ain juga memiliki beberapa gejala yang kerapkali mengganggu kehidupan manusia. Gejala yang ditimbulkan oleh Ain menurut Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta’ala adalah, jika bukan karena penyakit jasmani (penyakit medis), maka gejala Ain dapat berupa:

  1. Sakit kepala yang berpindah-pindah.
  2. Wajah terlihat pucat.
  3. Sering berkeringat dingin dan buang air kecil.
  4. Tidak nafsu makan.
  5. Mati rasa.
  6. Meriang.
  7. Detak jantung yang cepat dan tidak beraturan.
  8. Rasa nyeri yang berpindah-pindah dari bagian bawah punggung hingga bahu.
  9. Sering berkeringat di malam hari.
  10. Selalu emosi yang berlebihan.
  11. Ketakutan yang berlebihan dan tidak wajar.
  12. Sering bersendawa.
  13. Dada terasa sesak disertai rasa kecemasan.
  14. Menguap atau terengah-engah.
  15. Selalu menyendiri.
  16. Adanya masalah kesehatan tertentu tanpa ada sebab-sebab medis yang diketahui.

Menurut pandangan Islam, penyakit Ain terjadi diakibatkan oleh adanya hasad atau perasaan iri dan dengki atas nikmat yang diperoleh oleh orang lain. Orang yang memiliki sifat hasad akan memandang orang yang mendapatkan kenikmatan hidup dengan penuh kebencian. Hal inilah yang dapat memicu gejala-gejala seperti yang tersebut di atas.

Bukan hanya sifat hasad saja yang dapat menimbulkan gejala Ain. Namun, khawatir atau panik berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi juga dapat menyebabkan datangnya penyakit Ain. Oleh karena itu, seluruh umat manusia harus mencegah sifat-sifat keburukan tersebut agar terhindar dari penyakit ain.

Hubungan Penyakit Ain dengan Dunia Medis
Walaupun sebutan penyakit Ain identik dengan sifat hasad atau perasaan iri yang dimiliki manusia, ternyata juga memiliki hubungan erat dengan dunia medis. Lalu, apa saja penyakit medis yang masih berkaitan dengan Ain.

1. Anxiety Disorder
Anxiety Disorder merupakan gangguan kecemasan yang berlebihan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ketika penyakit psikis ini terus memburuk. Anxiety Disorder juga masih memiliki hubungan dengan Ain, yaitu terdapat kesamaan gejala pada keduanya. Menyadur dari situs Alodokter Gejala Anxiety Disorder meliputi:
  1. Gugup, gelisah dan tegang.
  2. Detak jantung cepat.
  3. Napas cepat.
  4. Gemetaran.
  5. Sulit atau bahkan tidak bisa tidur.
  6. Banyak berkeringat.
  7. Tubuh terasa lemas.
  8. Sulit konsentrasi.
  9. Adanya perasaan seperti akan ditimpa bahaya.
Sebagian dari gejala Anxiety Disorder tersebut memiliki kesamaan dengan Ain yang juga dapat mengganggu aktivitas manusia. Anxiety Disorder memiliki beberapa jenis, yaitu:
  1. Gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder).
  2. Fobia.
  3. Gangguan kecemasan sosial.
  4. PTSD (post-traumatic stres disorder).
  5. Gangguan panik.
  6. Gangguan obsesif kompulsif (OCD).
2. Gerd (gastroesophageal reflux disease)
Gerd atau juga dikenal dengan asam lambung adalah suatu penyakit kronis di mana asam yang terdapat di lambung, naik ke kerongkongan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman seperti:
  1. Bersendawa.
  2. Heartburn.
  3. Mual dan muntah.
  4. Suara serak.
  5. Sakit tenggorokan.
  6. Gangguan tidur.
  7. Kerusakan gigi karena sering terkena asam lambung.
  8. Bau mulut.
Lalu, apa hubungannya dengan Ain? Jadi, selain menjadi organ pencernaan, lambung juga berkaitan dengan mood atau perasaan seseorang. Apabila mood atau perasaan seseorang itu kacau akibat adanya penyakit Ain, maka juga akan berefek pada naiknya asam lambung (gerd).

3. Psikosomatis

Gangguan Psikosomatis adalah keluhan fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti stres, depresi, takut, atau cemas. Ketika merasa takut atau stres, aktivitas listrik saraf otak ke berbagai bagian tubuh akan meningkat.

Gejala fisik yang ditimbulkan oleh pikiran di antaranya adalah denyut jantung menjadi cepat, mual atau ingin muntah, gemetaran atau tremor, berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, atau sakit perut. Sekilas, definisi dan akibat yang ditimbulkan terlihat sama dengan penyakit Ain, yaitu keluhan fisik diakibatkan oleh pola pikir buruk.

Cara Mencegah Penyakit Ain
Cara mencegah penyakit ain adalah dengan mendoakan keberkahan kepada sesama manusia dan senantiasa meminta perlindungan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “Jika seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya suatu hal yang menakjubkan maka doakanlah keberkahan baginya, karena ‘ain itu benar adanya.” (QS. An Nasa-i No.10872 dishahihkan Al Albani dalam Shahih An-Nasa-i).

Referensi : Mengenal Penyakit Ain: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
















Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit

Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit. Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit. Hipokondria atau hipokondriasis adalah salah satu jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya percaya bahwa dirinya memiliki penyakit serius atau mengancam nyawa. Padahal saat diperiksa secara medis, gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak ada.

Hipokondria adalah masalah kesehatan mental berupa reaksi psikologis yang berlebihan terhadap suatu penyakit. Hipokondria bisa terjadi sesekali atau terus menerus, tergantung pada tingkat keparahannya. Kondisi ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi tanda awal gejala biasanya terlihat pada usia 25–35 tahun.

Beragam Penyebab Hipokondria

Penyebab hipokondria belum diketahui secara jelas. Namun, ada beberapa faktor yang dinilai bisa menyebabkan seseorang mengalami hipokondria, yaitu:

Kurang pemahaman

Sensasi tidak nyaman pada tubuh tentu bisa membuat seseorang berpikir. Kurangnya pemahaman terhadap proses terjadinya suatu penyakit atau cara kerja tubuh yang normal bisa membuat seseorang mencari tahu tentang kemungkinan terburuk. Jika informasi yang ia dapatkan memiliki sedikit saja kemiripan dengan yang ia alami, ia akan langsung menyimpulkan hal terburuk tersebut.

Pengalaman traumatis

Memiliki pengalaman traumatis seperti penyakit yang parah saat kecil dapat membuat seseorang takut dengan sensasi atau beragam keluhan fisik saat dewasa.

Lingkungan keluarga

Seseorang lebih mungkin memiliki hipokondria apabila orang tuanya termasuk orang tua yang sangat khawatir tentang kesehatan.

Selain hal-hal di atas, faktor risiko yang juga memicu seseorang mengalami hipokondria antara lain adalah stres, pernah mengalami pelecehan, dan memiliki kepribadian yang mudah khawatir.

Mengenali Gejala-gejala Hipokondria

Berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul pada seseorang yang mengalami hipokondria:

  1. Memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap kesehatan pribadinya.
  2. Memiliki ketakutan terhadap penyakit serius tertentu, setidaknya selama 6 bulan.
  3. Mengkhawatirkan gejala ringan sebagai penyakit serius.
  4. Berkali-kali memeriksa tubuhnya sendiri untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit.
  5. Sering membuat janji dengan banyak dokter untuk meyakinkan adanya penyakit.
  6. Menghindari banyak orang, tempat, atau kegiatan, karena takut terkena penyakit.
  7. Cara Mengobati Hipokondria

Tujuan dari pengobatan hipokondria adalah agar penderita bisa beraktivitas seperti biasa, terbebas dari beban pikiran terkait penyakit, dan berhenti mencari pembenaran bahwa dirinya sakit dari para dokter atau ahli kesehatan.

Pengobatan ini biasanya mengutamakan metode psikoterapi dan terkadang juga melibatkan obat-obatan dari resep dokter. Jenis psikoterapi yang paling umum digunakan untuk menangani hipokondria yaitu terapi kognitif perilaku.

Terapi perilaku kognitif dapat membantu penderita hipokondria untuk:

  1. Mengidentifikasi sumber rasa takut dan kecemasan yang ia rasakan.
  2. Mengubah caranya dalam merespons sensasi atau gejala yang dirasakan.
  3. Mengurangi perilaku menghindar dari aktivitas atau situasi sosial karena gejala yang dirasakan.
  4. Mengurangi perilaku memeriksa tubuh berulang kali.
  5. Mengatasi masalah kesehatan mental lain yang mungkin ada bersama hipokondria, misalnya kecemasan dan depresi

Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, bahkan saat niatnya baik, yakni untuk menjaga kesehatan. Hipokondria dapat menurunkan kualitas hidup seseorang, terutama bila tingkat keparahannya sudah tinggi dan menyebabkan ia tidak bisa memikirkan apa-apa selain penyakit yang ia yakini ada.

Jika Anda merasa pikiran Anda terus dibayangi oleh penyakit parah yang membuat Anda takut, bisa jadi ini merupakan gejala awal hipokondria. Ketika perasaan ini mulai mengganggu kehidupan atau pekerjaan Anda, jangan ragu untuk mengunjungi psikiater agar mendapat pemeriksaan dan penanganan yang aman.

Referensi sbb : Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit














Tips Aman Main Media Sosial Tanpa Takut Stres

Mengakses media sosial sudah menjadi suatu kebiasaan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan banyak orang. Hampir semua orang saat ini akan otomatis membuka akun medsos di ponsel pintar mereka, entah itu sekadar untuk bertukar kabar dengan teman atau demi mendapatkan informasi situasi terkini di luar sana.

Namun, kemudahan bersosialiasi lewat medsos sering tidak disadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mental Anda. Terlebih cukup banyak pula konten-konten bernuansa negatif yang sayangnya tidak bisa selalu kita hindari. Lantas, adakah tips aman main media sosial agar kita bisa bebas stres?

Tips bijak dan aman main media sosial

Banyak orang tidak sadar bahwa main media sosial bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

1. Pilah-pilih konten yang mau dibaca

Makin hari makin banyak saja berita kejahatan atau isu-isu politik yang bikin gerah.

Seorang psikoterapis khusus pemulihan trauma, memaparkan otak manusia yang terus menerus “dicekoki” hal-hal buruk dan traumatis tanpa henti (dalam hal ini konten-konten sosmed yang negatif) dapat memperlambat kerjanya untuk mengatasi stres.

Pada akhirnya, mengakses konten-konten negatif terlalu sering dapat menyebabkan Anda terus merasa stres sehingga tanpa sadar memunculkan respon kecemasan dan takut tak beralasan yang terlalu berlebihan (paranoid).

Maka, Anda dapat menggunakan fitur mute atau blok yang ada di kebanyakan situs media sosial untuk menyaring konten yang mau Anda baca.

Agar lebih terjamin aman dan tenang selama main media sosial, pastikan hanya mem-follow akun-akun resmi yang terpercaya, yang sebisa mungkin netral, dan yang tidak menebar kebencian atau kejahatan.

2. Follow hanya teman terdekat dan terpercaya

Selain lebih bijak menyaring konten yang hadir di linimasa Anda, pastikan orang-orang yang Anda ikuti (follow) adalah orang yang terdekat dan terpercaya. Tidak apa untuk sangat membatasi “kuota” following Anda hanya beberapa orang tertentu saja. Cara ini bertujuan untuk membatasi atau mencegah penyebaran isu-isu hoax dan konten-konten penuh kebencian sampai kepada Anda.

Di sisi lain, Anda juga tidak bisa sepenuhnya memahami atau mengubah jalan pikiran following. Beberapa orang kadang tidak menyadari ia sudah turut menyebarkan ketakutan, isu, dan bahkan kebencian kepada sesama di media sosial.

Kalau sudah begini, Anda tetap bisa menyaring apa yang mau Anda lihat dan dapatkan. Namun ingat: langsung menegurnya bukanlah langkah tepat karena kemungkinan ia akan berkilah bahwa ia berhak untuk mem-posting apapun yang ia mau di media sosial.

Maka cara amannya adalah Anda bisa mute orang tersebut, jika ia adalah teman dekat Anda, atau sekalian saja unfollow dan blok akun tersebut jika kontennya benar-benar meresahkan Anda. Cara ini dapat membantu melindungi kestabilan emosional dan psikologis Anda dari rasa jengkel melihat postingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Tenang, blokir-memblokir di dunia maya tidak lantas selalu sama artinya dengan memutus pertemanan di dunia nyata. Anda hanya memutus apa yang ia sebarkan karena membuat Anda stres dan takut. Di dunia nyata, Anda juga tetap bebas boleh memilih untuk berinteraksi atau tidak dengan orang tersebut.

3. Berhati-hati menyebarkan berita

Sesudah menyaring konten dan orang yang hadir di linimasa Anda, kini saatnya membenahi diri sendiri. Jika Anda sudah menghindari orang-orang dan akun-akun yang menebar konten negatif, Anda juga perlu menghindari menyebarkan sesuatu yang berisiko menjadi sebuah perdebatan.

Anda mungkin menganggap bahwa konten atau posting-an yang Anda sebarkan itu baik untuk disebarluaskan ke khalayak ramai. Namun, tidak semua orang punya opini dan pendapat yang sama seperti Anda. Tidak semua orang pula memiliki kepentingan dan minat yang sama dengan Anda terhadap isi konten.

Jadi, Anda sendiri juga perlu berhati-hati dalam menebar konten agar tetap aman main sosial media. Sebarluaskanlah info dan konten yang netral dan pasti bermanfaat positif buat orang banyak.

4. Batasi penggunaan media sosial

Berlama-lama scroll lini masa Facebook, Twitter, atau Instagram memang asyik. Namun sayang, hobi ini lama-lama bisa bikin kecanduan.

Agar Anda tidak terus-terusan terpapar konten negatif yang malah membuat stres, batasilah waktu Anda untuk mengaksesnya.

Sampai saat ini memang belum ada penelitian yang memberikan batasan waktu akses sosial media yang aman. Namun, terapkanlah batasan waktu yang Anda rasa wajar untuk diri sendiri. Misalnya, Anda bisa menargetkan main sosmed paling lama 1-2 jam dalam sehari

Kemudian, bagi-bagilah durasi tersebut di waktu tertentu. Misalnya, 15 menit cek medsos saat perjalanan menuju kantor, 15 menit lagi saat makan siang, 20 menit selama perjalanan pulang, dan sisanya menjelang waktu tidur Anda.

Setelah Anda cukup terbiasa, mulailah memangkas durasinya lebih ketat lagi. Dari hanya 1 jam dalam sehari sampai kira-kira hanya main media sosial hanya di waktu kosong saja. 


Referensi : Tips Aman Main Media Sosial Tanpa Takut Stres
















8 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

yang padat sering membuat Anda tidak menyadari jika kondisi kesehatan mental sedang terganggu. Ya, banyak orang yang tidak sadar sedang mengalami kondisi yang tergolong sebagai tanda stres. Lalu, apa saja kondisi yang tidak disadari sebagai tanda dari stres? Simak penjelasannya berikut ini. Berbagai penyebab yang dapat menjadi pertanda stres

Berikut beberapa kondisi yang sering tidak disadari:

1. Merasa terlalu emosional

Saat senggang, Anda mungkin sering memikul banyak beban pikiran dan masalah yang mungkin tak bisa Anda bagi dengan orang lain. Lama-kelamaan, beban pikiran tersebut turun ke perasaan dan membuat Anda menjadi emosional.

Namun, hal tersebut sering Anda anggap sebagai suatu hal yang normal terjadi. Saat itu, Anda hanya menganggap bahwa sedang dalam keadaan rapuh, sehingga merasa emosional adalah hal yang wajar.

Padahal, hal ini bisa jadi salah satu tanda stres yang tak Anda sadari. Jika Anda membiarkannya berlarut-larut, hal tersebut bisa menjadi cikal bakal gangguan mental dan emosional yang berkepanjangan.

2. Lebih sibuk dari biasanya

Biasanya, menjadi lebih sibuk tak melulu karena memang ada kesibukan, tetapi karena sedang ingin mengalihkan pikiran dari masalah yang sedang melanda. Sebagai contoh masalah keluarga, masalah dengan pasangan, dan lain-lain.

Ini artinya, saat mendadak ingin lebih sibuk, padahal tak ada hal penting yang harus dikerjakan, itu adalah salah satu tanda stres dan kesibukan itu adalah upaya Anda untuk menghindarinya.

Hal tersebut mungkin bisa menjadi jalan pintas sesaat untuk mencegah stres Anda alami. Namun, terlalu sibuk justru bisa mendatangkan stres dan gangguan emosional.

Oleh sebab itu, alih-alih mencari banyak kesibukan untuk ‘lari’ dari stres, lebih baik hadapi dan selesaikan permasalahan yang membuat Anda stres.

3. Sensitif atau lebih mudah marah

Tanda stres lain adalah Anda menjadi lebih mudah marah. Anda mungkin tak menyadari, tetapi hal-hal kecil yang mengganggu tetapi biasanya bisa Anda maklumi, kini dapat menyulut amarah dengan begitu mudahnya.

Bahkan, Anda juga lebih sering melampiaskan amarah kepada orang-orang terdekat. Hal ini jelas menggambarkan bahwa Anda sedang stres dan terganggu stabilitas emosinya.

Anda perlu berhati-hati jika sudah menunjukkan gejala stres yang satu ini. Pasalnya, bisa jadi Anda justru menyakiti perasaan orang lain hanya demi melampiaskan amarah yang tak ada kaitannya dengan orang tersebut.

Mengontrol diri dalam keadaan seperti ini memang merupakan tantangan yang cukup sulit. Namun, bukan berarti orang lain ikut menanggung amarah tersebut.

4. Mood swing

Mood swing adalah kondisi saat kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan terasa begitu dekat. Ketiga hal tersebut terjadi secara bergantian dan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Jika hal ini terjadi, mungkin ada yang salah dengan kondisi kesehatan mental Anda. Artinya, mood swing bisa menjadi salah satu tanda stres yang tak Anda sadari.

Solusi yang bisa Anda coba untuk mengatasi kondisi yang terjadi akibat stres adalah membicarakan penyebab stres. Cobalah untuk berbagi dan menumpahkan perasaan Anda pada seseorang yang dapat memberikan sebuah perspektif lain dalam memandang hidup.

Akan lebih baik jika orang tersebut Anda rasa dapat memiliki solusi untuk masalah yang sedang Anda hadapi saat itu. Terkadang, dengan berbicara dengan orang lain, Anda baru sadar apa yang sedang terjadi pada diri sendiri.

5. Hilang arah dan tujuan hidup

Hidup dengan arah dan tujuan yang jelas dapat memberikan dampak yang baik untuk diri Anda. Bahkan, Anda bisa lebih percaya diri untuk menjalani hari.

Akan tetapi, stres terkadang membuat Anda merasa hilang arah dan tujuan. Tanda stres seperti ini tentu patut Anda waspadai sebelum menjadi semakin parah.

Saat Anda merasa arah dan tujuan hidup hilang, sirna pula kebahagiaan menjalani hidup. Contohnya, saat Anda gagal meraih suatu hal yang selama ini memicu semangat menjalani hari, bisa jadi semangat tersebut ikut lenyap seiring dengan kegagalan tersebut.

Ya, kondisi tersebut dapat terjadi karena stres dan jika tak segera Anda atasi, bisa mengakibatkan gangguan emosional berkepanjangan.

6. Selalu ingin memegang kendali

Tanda atau gejala stres lain yang juga kerap terjadi adalah terobsesi untuk mengendalikan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sebenarnya bukan ada pada kendali Anda.

Kecenderungan tersebut sangat lumrah terjadi. Intinya, Anda berusaha sebagaimana mungkin untuk mengubah semua hal menjadi seperti apa yang Anda inginkan.

Untuk mengatasi gejala tersebut, sebaiknya Anda berusaha untuk menerima realitas dan fokus pada hal-hal dalam diri Anda sendiri.

7. Pilih hal-hal yang berisiko

Tak sedikit dari Anda yang mungkin memilih melakukan hal-hal yang berisiko sebagai cara untuk melarikan diri dari stres. Contohnya, minum alkohol secara berlebihan, berjudi, melakukan hubungan seks dengan orang yang tak seharusnya, dan masih banyak lagi.

Menurut Cleveland Clinic, perilaku-perilaku penuh risiko seperti ini bisa jadi tanda stres yang tak Anda sadari. Gejala ini tentu dapat merugikan, apalagi jika Anda tak ada upaya untuk menghentikannya.

Bahkan, bisa jadi kondisi ini lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang tak bisa lagi Anda hentikan. Oleh sebab itu, sebelum kondisinya bertambah parah, segera atasi stres dan hindari hal-hal yang berisiko ini.

8. Isolasi diri

Tanda stres lain yang juga perlu Anda waspadai adalah menghindari orang lain, bahkan orang terdekat, dan memilih untuk mengisolasi diri. Ini artinya, Anda memilih untuk mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan orang lain.

Anda mungkin berpikir cara tersebut dapat membantu mengatasi stres yang melanda. Padahal, hal ini berpotensi membuat Anda semakin stres. Bagaimana bisa?

Pasalnya, pada saat itu, Anda justru hidup dengan pikiran-pikiran negatif yang cenderung muncul saat Anda sedang stres. Oleh sebab itu, jika Anda melihat ada orang lain atau orang terdekat memutuskan untuk menyendiri, segera dampingi dan jangan biarkan ia menyendiri terlalu lama.

Referensi : 8 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

















Gangguan Psikosomatis, Saat Pikiran Memengaruhi Kesehatan Tubuh

Gangguan Psikosomatis, Saat Pikiran Memengaruhi Kesehatan Tubuh. Tanpa Anda sadari, setiap hari Anda bisa dihadapkan dengan berbagai macam hal yang bisa memicu stres. Mulai dari stres akibat kemacetan di jalan, pertengkaran dengan pasangan, atau stres akibat masalah keuangan yang tidak kunjung membaik. Meski umumnya dapat diatasi, stres yang tidak berujung bisa berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya menyebabkan gangguan psikosomatis. Penasaran dengan kondisi ini? Baca selengkapnya pada ulasan berikut.

Apa itu psikosomatis (psikosomatik)?

Psikosomatis berasal dari kata “psyche” yang berarti fisik dan “soma” yang berarti tubuh. Psikosomatis atau psikosomatik adalah istilah yang mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang.

Sayangnya, beberapa orang masih menganggap bahwa gejala yang ditimbulkan dari kondisi ini adalah khayalan alias tidak benar-benar terjadi. Alasannya, karena gejala yang dikeluhkan tidak menunjukkan adanya kelainan fisik setelah pemeriksaan dilakukan.

Hal ini menyebabkan penderitanya tidak segera memeriksakan diri ke dokter dan terlambat mendapatkan pengobatan. Padahal kenyatannya, gejala fisik yang dirasakan memang nyata dan memerlukan pengobatan seperti halnya penyakit lain.

Gangguan psikosomatis bisa berasal atau diperburuk oleh stres dan rasa cemas. Sebagai contoh, penderita depresi dapat merasakan gejala psikosomatik, terutama saat sistem kekebalan tubuhnya telah melemah karena ia tidak bisa mengelola stres dan rasa cemasnya dengan baik.

Keterkaitan psikosomatis dengan pikiran dan emosi telah dijlaskan pada situs Michigan Medicine. Otak menghasilkan berbagai zat kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Sebagai contoh, zat endorfin yang bisa menghilangkan rasa sakit atau zat gamma globulin yang bisa memperkuat sistem imun tubuh yang lemah. Nah, seluruh zat yang diproduksi tersebut sebagian besar bergantung dengan pikiran dan emosi Anda.  Jika saat tubuh Anda merasakan sakit, tapi Anda tetap berpikir positif dan yakin merasa lebih baik, maka otak Anda akan memproduksi endorfin lebih banyak sehingga bisa membantu kesembuhan.

Sebaliknya, jika pikiran dan emosi Anda cenderung negatif, otak tidak memproduksi bahan kimia yang membantu kepulihan tubuh. Tubuh malah akan melepaskan hormon yang mempercepat detak jantung, meningkatkan tekanan darah, dan membuat otot jadi tegang. Kondisi inilah yang pada akhirnya menimbulkan gejala pada tubuh.  Apa saja tanda dan gejala psikosomatis? Seseorang dengan psikosomatik bisa mengalami gejala yang bervasiasi, umumnya adalah:

  1. Muncul sensasi “kupu-kupu beterbangan” di perut.
  2. Jantung berdebar lebih kencang dari biasanya.
  3. Telapak tangan berkeringat.
  4. Otot-otot tubuh menegang yang menyebabkan nyeri otot.

Di samping itu, beberapa gejala yang ditimbulkan juga bisa bergantung dengan jenis kelamin penderitanya. Wanita lebih sering melaporkan gejala berupa tubuh kelelahan meski cukup tidur, mudah tersinggung, perut kembung, dan siklus menstruasi tidak beraturan. Di sisi lain, pria lebih sering mengalami nyeri dada, tekanan darah meningkat, dan gairah seks menurun.  Gejala gangguan psikosomatis juga bisa berbeda-beda jika dilihat dari faktor usia. Anak-anak dan remaja lebih sering mengalami gangguan pencernaan. Sementara pada lanjut usia atau lansia, biasanya mengalami keparahan penyakit yang sebelumnya dimiliki.

Tanda dan gejalanya yang tidak spesifik membuat penderitanya maupun dokter kadang sulit untuk mendeteksi kondisi ini. Beberapa penyakit yang gejalanya rentan bertambah parah akibat psikosomatis adalah psoriasis, eksim, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.

Berbagai penyebab terjadinya psikosomatis

Penyebab utama dari psikosomatis adalah pikiran dan emosi negatif yang menimbulkan stres dan kecemasan. Namun, perlu Anda ketahui bahwa tidak semua stres itu buruk. Ada tipe stres yang disebut eustress, yakni jenis stres positif yang membuat tubuh Anda menjadi lebih berenergi. Anda mungkin akan mengalami stres ini ketika melakukan olahraga yang memacu adrenalin.

Pada dasarnya stres muncul untuk mengaktifkan sinyal tubuh pada mode “fight-or-flight”. Dengan begitu, Anda bisa menghindari suatu ancaman yang membahayakan. Sebagai contoh, Anda akan langsung mengerem sepeda dengan cepat ketika mendapati seekor kucing menyebrang tepat di depan Anda.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa mengelola stres dengan baik. Akibatnya, stres pada tubuh akan semakin menumpuk menimbulkan kecemasan atau ketakutan yang akhirnya bisa menimbulkan gejala gangguan psikosomatis.

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal yang bisa menyebabkan Anda stres dan cemas, seperti didiagnosis mengalami penyakit kronis, mengalami perceraian, ditinggal orang yang Anda sayangi, di-PHK dari tempat kerja, atau pindah lingkungan tempat tinggal.

Cara mengatasi tanda dan gejala psikosomatis

Setelah pemeriksaan dilakukan dan dokter mendiagnosis gejala tersebut adalah gangguan psikosomatis, dokter mungkin akan mengarahkan Anda pada dokter ahli kejiwaan, atau mungkin dokter juga bisa bekerja sama dengan psikolog/psikiater untuk membantu pengobatan Anda.

Anda mungkin akan direkomendasikan untuk belajar mengelola stres agar gejala bisa berkurang. Akan tetapi, proses tersebut memakan waktu lama, sementara gejala fisik yang dirasakan perlu diobati.

Sebagai contoh, jika Anda merasakan sakit leher, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan memberikan pijatan pada area yang bermasalah bersamaan dengan perubahan gaya hidup yang bebas stres. Penggunaan obat untuk depresi mungkin bisa dipertimbangkan, mengingat antidepresan ini juga bisa membantu mengurangi nyeri.

Berikut ini adalah penerapan gaya hidup yang membantu mengurangi stres dan kecemasan pada pasien gangguan psikosomatis:

1. Aktif bergerak

Aktif bergerak seperti rutin menjalani olahraga dapat mengurangi stres dan kecemasan karena merangsang pelepasan hormon endorfin.

Anda bisa memilih berbagai jenis olahraga yang disukai, mulai dari jogging, yoga, bersepeda, hingga jalan santai. Namun, pilih jenis olahraga sesuaikan yang nyaman Anda lakukan agar tidak memperburuk gejala.

2. Terapkan pola makan sehat

Memperbaiki pola makan juga bisa membantu mengurangi stres pada pasien yang mengalami gangguan psikosomatis. Alasannya, selain memberikan nutrisi yang sehat untuk meningkatkan sistem imun, makanan yang sehat juga bisa mencegah keparahan gejala gangguan pencernaan dan menurunkan tekanan darah.

Perbanyak konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan bijian-bijian dan hindari alkohol maupun rokok. Pastikan porsi dan jam makan juga tepat agar tidak menimbulkan masalah nantinya.

3. Cukup tidur

Di samping aktif bergerak, Anda juga perlu menyeimbangkannya dengan cukup istirahat. Pasalnya, kurang tidur bisa membuat suasana hati jadi lebih buruk dan Anda rentan stres. Cobalah untuk tidur lebih awal dan bangun pagi setiap hari.

Supaya lebih nyaman, atur suhu dan pencahayaan kamar. Pastikan juga posisi bantal sesuai dengan kenyamanan dan kebersihan kamar selalu terjaga.

4. Terhubung dengan orang terdekat

Saat stres dan merasa tertekan, Anda pasti lebih ingin menghabiskan waktu sendiri tenggelam dengan berbagai konflik yang dihadapi. Sayangnya, tindakan ini malah membuat stres semakin parah, dan membuat pengobatan psikosomatis yang dijalani jadi kurang efektif.  Lantas, apa yang harus dilakukan? Pilihan terbaik adalah tetap berhubungan dengan orang di sekeliling Anda, baik itu keluarga maupuin sahabat. Selain mereka bisa menjadi tempat Anda untuk mencurahkan segala keluh kesah, Anda juga akan semakin merasa lebih baik karena dukungan yang mereka berikan.

Referensi : Gangguan Psikosomatis, Saat Pikiran Memengaruhi Kesehatan Tubuh
















Islam & Masalah Kesehatan Jiwa

Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi  ke hampir seluruh kawasan dunia (global). Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis dan pada gilirannya sangat egois dan individual. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”, sedemikian rupa sehingga hubungan mereka sudah tidak terlalu akrab lagi. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena  tersebut membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.

Seperti yang diakui oleh Zakiah Darajat (1990: 15-16) bahwa ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar; sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sebagainya, malainkan lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang  dilakukan terhadap para pasien yang terganggu kesehatan mentalnya, ia menyimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat  mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu adalah perasaan, pikiran, kelakuan, kesehatan badan, sedang yang tergolong penyakit jiwa (psychoses) adalah lebih berat lagi.

Manusia yang serasi, selaras dan seimbang adalah merupakan jargon hidup bangsa Indonesia. Sejalan dengan ini adalah usaha untuk memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang “integrated” dan kemampuan memecahkan segala problema hidup dengan percaya diri dan kepribadian yang solid. Sebab kesehatan adalah kondisi normal bagi seseorang dari terhindarnya gangguan jiwa (neorosis) dan penyakit jiwa (psychoses). Manusia demikian adalah manusia yang sehat secara jasmani maupun rohani lahir maupun batin.

Penyakit jiwa (psichoses) adalah kelainan kepribadian yang  ditandai oleh mental dalam (profound-mental) dan gangguan emosional. Penyakit tersebut dapat mengubah individu normal menjadi tidak mampu menyesuaikan dirinya dalam masyarakat (abnormal). Dua istilah yang dapat diidentifikasikan dengan psychoses ini adalah insanity dan dementia. Insanity  adalah istilah resmi yang menunjukkan bahwa individu itu kacau dan terganggu akibat tindakannya. Pada saat lain istilah demenia digunakan untuk kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini diinterpretasikan sebagai sinonim dengan kekacauan mental (mental disorder) yang menyolok. Kebanyakan semua penyakit jiwa ini disertai dementia  (James D, Page. 1978:209).

Pada masyarakat umum, penyakit jiwa ini biasanya diistilahkan dengan gila atau penyakit gila. Sebab mereka sering melakukan tingkah laku yang semaunya sendiri, tidak wajar dan abnormal.

Seseorang yang terserang penyakit jiwa, kepribadiannya terganggu dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya. Seringkali orang yang sakit jiwa tidak merasa  bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain (Zakiah Darajat, 1990:56).

Jenis-jenis Penyakit Jiwa :

Penyakit jiwa biasanya dibedakan menjadi dua katagori umum, yaitu: Pertama, adalah kelainan mental yang dicirikan oleh gangguan fungsional. Warisan keturunan yang tidak menyenangkan (unfavovorable heredity) dilengkapi faktor-faktor konstitusional dan pengalaman hidup yang merugikan adalah merupakan sebab utama dari penyakit tersebut, termasuk dalam kategori ini adalah: schizopharenia, paranoia, manic-depressive dan involution melancolia. Kedua, terdiri dari penyakit mental yang dikelompokkan dengan pertanda atau bukti organik (toxis-organic psychoses) termasuk dalam kelompok ini adalah senile dementia, psychoses with cerebral arteriosclerosis, general presis, alcoholic psychoses (James D, 1978:212)

Seperti juga Zakiah sebutkan (Zakiah Darajat, 1990:56), bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah  berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit jiwa yang disebabkan oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan sebagainya.

Pandangan Islam tentang Penyakit Jiwa

Dalam perspektif Islam, penyakit jiwa sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti sifat tamak, dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.

Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi (1970), membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.

Riya’ : 

Seperti  yang dijelaskan oleh As-Sarqawi (1979:69), bahwa dalam penyakit riya’ terdapat unsur penipuan terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya’ merasuk dalam jiwa seseorang dengan halus dan tidak terasa sehingga hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan penyakit ini kecuali orang arif yang ikhlas dan taat.

Dalam riya’ terhdap unsur-unsur kepura-puraan, penipuan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-nutupi kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits nabi:

“Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.

Islam memberikan terapi riya’ ini dengan cara mengikis nafsu syahwat sedikit demi sedikit dan menanamkan sifat merendahkan diri (tawadu’) dengan melihat kebesaran Allah SWT (As-Syarqawi: 73).

Emosi/Marah :

Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan (Ibid: 73).

Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa emosi marah akan menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, mencakar-cakar tanah, membanting perabot rumah tangga dan seterusnya seperti tindakan orang gila. Marah juga dapat berpengaruh pada hati seseorang, yaitu sifat dengki dan iri hati, menyembunyikan kejahatan, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang lain dan seterusnya. (Ibid: 79).

Atas dasar inilah maka nabi melarang orang yang sedang marah untuk melakukan putusan atau memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya:

“Seseorang jangan membuat keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah”.

Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang seimbang dengan jalan mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang (Ibid:81)

Berkaitan dengan hal di atas, Usman Najati ((1985:125-126) berpendapat bahwa emosi marah yang menguasai seseorang dapat membuat kemandegan berpikir. Di samping itu energi tubuh selama marah berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan disesali di kemudian hari, dengan jalan mengendalikan diri, sebab mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat:

1. Dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar.

2. Dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik yang timbul akibat meningkatnya energi.

3. Dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain, baik fisik maupun umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri untuk selalu berintrospeksi.

4. Dari segi kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit fisik pada umumnya.

Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri terhadap emosi marah ini  dan menganggapnya sebagai orang yang kuat, sebagaimana sabdanya:

“Tidaklah orang dikatakan kuat itu adalah orang yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya”. (Lihat juga Q.S. 3:134).

Lalai dan Lupa : Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya antara lain adalah:

a. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di  dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.

b. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur (As-Syarqawi:83).

c. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi (Usman Najati: 29).

Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat (rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin kemampuan ingatan seseorang, sebab secara  internal terdapat faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk  mengingat sesuatu, seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan seterusnya. (As-Syarqawi:84).

Banyaknya informasi dan kegiatan yang  menumpuk sebelumnya membuat seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif lebih baik jika informasi dan kegiatan  lebih sedikit. Hal ini terbukti pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa pada masa lalu daripada orang dewasa  (Usman Najati:229).

Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam menggoda Adam As. (Ibid:232).

Referensi : Islam & Masalah Kesehatan Jiwa