Sama seperti penyakit-penyakit lainnya, Ain juga memiliki beberapa gejala yang kerapkali mengganggu kehidupan manusia. Gejala yang ditimbulkan oleh Ain menurut Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta’ala adalah, jika bukan karena penyakit jasmani (penyakit medis), maka gejala Ain dapat berupa:
Sakit kepala yang berpindah-pindah.
Wajah terlihat pucat.
Sering berkeringat dingin dan buang air kecil.
Tidak nafsu makan.
Mati rasa.
Meriang.
Detak jantung yang cepat dan tidak beraturan.
Rasa nyeri yang berpindah-pindah dari bagian bawah punggung hingga bahu.
Sering berkeringat di malam hari.
Selalu emosi yang berlebihan.
Ketakutan yang berlebihan dan tidak wajar.
Sering bersendawa.
Dada terasa sesak disertai rasa kecemasan.
Menguap atau terengah-engah.
Selalu menyendiri.
Adanya masalah kesehatan tertentu tanpa ada sebab-sebab medis yang diketahui.
Menurut pandangan Islam, penyakit Ain terjadi diakibatkan oleh adanya hasad atau perasaan iri dan dengki atas nikmat yang diperoleh oleh orang lain. Orang yang memiliki sifat hasad akan memandang orang yang mendapatkan kenikmatan hidup dengan penuh kebencian. Hal inilah yang dapat memicu gejala-gejala seperti yang tersebut di atas.
Bukan hanya sifat hasad saja yang dapat menimbulkan gejala Ain. Namun, khawatir atau panik berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi juga dapat menyebabkan datangnya penyakit Ain. Oleh karena itu, seluruh umat manusia harus mencegah sifat-sifat keburukan tersebut agar terhindar dari penyakit ain.
Hubungan Penyakit Ain dengan Dunia Medis
Walaupun sebutan penyakit Ain identik dengan sifat hasad atau perasaan iri yang dimiliki manusia, ternyata juga memiliki hubungan erat dengan dunia medis. Lalu, apa saja penyakit medis yang masih berkaitan dengan Ain.
1. Anxiety Disorder
Anxiety Disorder merupakan gangguan kecemasan yang berlebihan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ketika penyakit psikis ini terus memburuk. Anxiety Disorder juga masih memiliki hubungan dengan Ain, yaitu terdapat kesamaan gejala pada keduanya. Menyadur dari situs Alodokter Gejala Anxiety Disorder meliputi:
Gugup, gelisah dan tegang.
Detak jantung cepat.
Napas cepat.
Gemetaran.
Sulit atau bahkan tidak bisa tidur.
Banyak berkeringat.
Tubuh terasa lemas.
Sulit konsentrasi.
Adanya perasaan seperti akan ditimpa bahaya.
Sebagian dari gejala Anxiety Disorder tersebut memiliki kesamaan dengan Ain yang juga dapat mengganggu aktivitas manusia. Anxiety Disorder memiliki beberapa jenis, yaitu:
Gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder).
Fobia.
Gangguan kecemasan sosial.
PTSD (post-traumatic stres disorder).
Gangguan panik.
Gangguan obsesif kompulsif (OCD).
2. Gerd (gastroesophageal reflux disease)
Gerd atau juga dikenal dengan asam lambung adalah suatu penyakit kronis di mana asam yang terdapat di lambung, naik ke kerongkongan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman seperti:
Bersendawa.
Heartburn.
Mual dan muntah.
Suara serak.
Sakit tenggorokan.
Gangguan tidur.
Kerusakan gigi karena sering terkena asam lambung.
Bau mulut.
Lalu, apa hubungannya dengan Ain? Jadi, selain menjadi organ pencernaan, lambung juga berkaitan dengan mood atau perasaan seseorang. Apabila mood atau perasaan seseorang itu kacau akibat adanya penyakit Ain, maka juga akan berefek pada naiknya asam lambung (gerd).
3. Psikosomatis
Gangguan Psikosomatis adalah keluhan fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti stres, depresi, takut, atau cemas. Ketika merasa takut atau stres, aktivitas listrik saraf otak ke berbagai bagian tubuh akan meningkat.
Gejala fisik yang ditimbulkan oleh pikiran di antaranya adalah denyut jantung menjadi cepat, mual atau ingin muntah, gemetaran atau tremor, berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, atau sakit perut. Sekilas, definisi dan akibat yang ditimbulkan terlihat sama dengan penyakit Ain, yaitu keluhan fisik diakibatkan oleh pola pikir buruk.
Cara Mencegah Penyakit Ain
Cara mencegah penyakit ain adalah dengan mendoakan keberkahan kepada sesama manusia dan senantiasa meminta perlindungan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “Jika seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya suatu hal yang menakjubkan maka doakanlah keberkahan baginya, karena ‘ain itu benar adanya.” (QS. An Nasa-i No.10872 dishahihkan Al Albani dalam Shahih An-Nasa-i).
Referensi : Mengenal Penyakit Ain: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit. Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit. Hipokondria atau hipokondriasis adalah salah satu jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya percaya bahwa dirinya memiliki penyakit serius atau mengancam nyawa. Padahal saat diperiksa secara medis, gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak ada.
Hipokondria adalah masalah kesehatan mental berupa reaksi psikologis yang berlebihan terhadap suatu penyakit. Hipokondria bisa terjadi sesekali atau terus menerus, tergantung pada tingkat keparahannya. Kondisi ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi tanda awal gejala biasanya terlihat pada usia 25–35 tahun.
Beragam Penyebab Hipokondria
Penyebab hipokondria belum diketahui secara jelas. Namun, ada beberapa faktor yang dinilai bisa menyebabkan seseorang mengalami hipokondria, yaitu:
Kurang pemahaman
Sensasi tidak nyaman pada tubuh tentu bisa membuat seseorang berpikir. Kurangnya pemahaman terhadap proses terjadinya suatu penyakit atau cara kerja tubuh yang normal bisa membuat seseorang mencari tahu tentang kemungkinan terburuk. Jika informasi yang ia dapatkan memiliki sedikit saja kemiripan dengan yang ia alami, ia akan langsung menyimpulkan hal terburuk tersebut.
Pengalaman traumatis
Memiliki pengalaman traumatis seperti penyakit yang parah saat kecil dapat membuat seseorang takut dengan sensasi atau beragam keluhan fisik saat dewasa.
Lingkungan keluarga
Seseorang lebih mungkin memiliki hipokondria apabila orang tuanya termasuk orang tua yang sangat khawatir tentang kesehatan.
Selain hal-hal di atas, faktor risiko yang juga memicu seseorang mengalami hipokondria antara lain adalah stres, pernah mengalami pelecehan, dan memiliki kepribadian yang mudah khawatir.
Mengenali Gejala-gejala Hipokondria
Berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul pada seseorang yang mengalami hipokondria:
Memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap kesehatan pribadinya.
Memiliki ketakutan terhadap penyakit serius tertentu, setidaknya selama 6 bulan.
Mengkhawatirkan gejala ringan sebagai penyakit serius.
Berkali-kali memeriksa tubuhnya sendiri untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit.
Sering membuat janji dengan banyak dokter untuk meyakinkan adanya penyakit.
Menghindari banyak orang, tempat, atau kegiatan, karena takut terkena penyakit.
Cara Mengobati Hipokondria
Tujuan dari pengobatan hipokondria adalah agar penderita bisa beraktivitas seperti biasa, terbebas dari beban pikiran terkait penyakit, dan berhenti mencari pembenaran bahwa dirinya sakit dari para dokter atau ahli kesehatan.
Pengobatan ini biasanya mengutamakan metode psikoterapi dan terkadang juga melibatkan obat-obatan dari resep dokter. Jenis psikoterapi yang paling umum digunakan untuk menangani hipokondria yaitu terapi kognitif perilaku.
Terapi perilaku kognitif dapat membantu penderita hipokondria untuk:
Mengidentifikasi sumber rasa takut dan kecemasan yang ia rasakan.
Mengubah caranya dalam merespons sensasi atau gejala yang dirasakan.
Mengurangi perilaku menghindar dari aktivitas atau situasi sosial karena gejala yang dirasakan.
Mengurangi perilaku memeriksa tubuh berulang kali.
Mengatasi masalah kesehatan mental lain yang mungkin ada bersama hipokondria, misalnya kecemasan dan depresi
Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, bahkan saat niatnya baik, yakni untuk menjaga kesehatan. Hipokondria dapat menurunkan kualitas hidup seseorang, terutama bila tingkat keparahannya sudah tinggi dan menyebabkan ia tidak bisa memikirkan apa-apa selain penyakit yang ia yakini ada.
Jika Anda merasa pikiran Anda terus dibayangi oleh penyakit parah yang membuat Anda takut, bisa jadi ini merupakan gejala awal hipokondria. Ketika perasaan ini mulai mengganggu kehidupan atau pekerjaan Anda, jangan ragu untuk mengunjungi psikiater agar mendapat pemeriksaan dan penanganan yang aman.
Referensi sbb : Memahami Hipokondria, Kecemasan Berlebihan Terhadap Penyakit
Mengakses media sosial sudah menjadi suatu kebiasaan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan banyak orang. Hampir semua orang saat ini akan otomatis membuka akun medsos di ponsel pintar mereka, entah itu sekadar untuk bertukar kabar dengan teman atau demi mendapatkan informasi situasi terkini di luar sana.
Namun, kemudahan bersosialiasi lewat medsos sering tidak disadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mental Anda. Terlebih cukup banyak pula konten-konten bernuansa negatif yang sayangnya tidak bisa selalu kita hindari. Lantas, adakah tips aman main media sosial agar kita bisa bebas stres?
Tips bijak dan aman main media sosial
Banyak orang tidak sadar bahwa main media sosial bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?
1. Pilah-pilih konten yang mau dibaca
Makin hari makin banyak saja berita kejahatan atau isu-isu politik yang bikin gerah.
Seorang psikoterapis khusus pemulihan trauma, memaparkan otak manusia yang terus menerus “dicekoki” hal-hal buruk dan traumatis tanpa henti (dalam hal ini konten-konten sosmed yang negatif) dapat memperlambat kerjanya untuk mengatasi stres.
Pada akhirnya, mengakses konten-konten negatif terlalu sering dapat menyebabkan Anda terus merasa stres sehingga tanpa sadar memunculkan respon kecemasan dan takut tak beralasan yang terlalu berlebihan (paranoid).
Maka, Anda dapat menggunakan fitur mute atau blok yang ada di kebanyakan situs media sosial untuk menyaring konten yang mau Anda baca.
Agar lebih terjamin aman dan tenang selama main media sosial, pastikan hanya mem-follow akun-akun resmi yang terpercaya, yang sebisa mungkin netral, dan yang tidak menebar kebencian atau kejahatan.
2. Follow hanya teman terdekat dan terpercaya
Selain lebih bijak menyaring konten yang hadir di linimasa Anda, pastikan orang-orang yang Anda ikuti (follow) adalah orang yang terdekat dan terpercaya. Tidak apa untuk sangat membatasi “kuota” following Anda hanya beberapa orang tertentu saja. Cara ini bertujuan untuk membatasi atau mencegah penyebaran isu-isu hoax dan konten-konten penuh kebencian sampai kepada Anda.
Di sisi lain, Anda juga tidak bisa sepenuhnya memahami atau mengubah jalan pikiran following. Beberapa orang kadang tidak menyadari ia sudah turut menyebarkan ketakutan, isu, dan bahkan kebencian kepada sesama di media sosial.
Kalau sudah begini, Anda tetap bisa menyaring apa yang mau Anda lihat dan dapatkan. Namun ingat: langsung menegurnya bukanlah langkah tepat karena kemungkinan ia akan berkilah bahwa ia berhak untuk mem-posting apapun yang ia mau di media sosial.
Maka cara amannya adalah Anda bisa mute orang tersebut, jika ia adalah teman dekat Anda, atau sekalian saja unfollow dan blok akun tersebut jika kontennya benar-benar meresahkan Anda. Cara ini dapat membantu melindungi kestabilan emosional dan psikologis Anda dari rasa jengkel melihat postingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Tenang, blokir-memblokir di dunia maya tidak lantas selalu sama artinya dengan memutus pertemanan di dunia nyata. Anda hanya memutus apa yang ia sebarkan karena membuat Anda stres dan takut. Di dunia nyata, Anda juga tetap bebas boleh memilih untuk berinteraksi atau tidak dengan orang tersebut.
3. Berhati-hati menyebarkan berita
Sesudah menyaring konten dan orang yang hadir di linimasa Anda, kini saatnya membenahi diri sendiri. Jika Anda sudah menghindari orang-orang dan akun-akun yang menebar konten negatif, Anda juga perlu menghindari menyebarkan sesuatu yang berisiko menjadi sebuah perdebatan.
Anda mungkin menganggap bahwa konten atau posting-an yang Anda sebarkan itu baik untuk disebarluaskan ke khalayak ramai. Namun, tidak semua orang punya opini dan pendapat yang sama seperti Anda. Tidak semua orang pula memiliki kepentingan dan minat yang sama dengan Anda terhadap isi konten.
Jadi, Anda sendiri juga perlu berhati-hati dalam menebar konten agar tetap aman main sosial media. Sebarluaskanlah info dan konten yang netral dan pasti bermanfaat positif buat orang banyak.
4. Batasi penggunaan media sosial
Berlama-lama scroll lini masa Facebook, Twitter, atau Instagram memang asyik. Namun sayang, hobi ini lama-lama bisa bikin kecanduan.
Agar Anda tidak terus-terusan terpapar konten negatif yang malah membuat stres, batasilah waktu Anda untuk mengaksesnya.
Sampai saat ini memang belum ada penelitian yang memberikan batasan waktu akses sosial media yang aman. Namun, terapkanlah batasan waktu yang Anda rasa wajar untuk diri sendiri. Misalnya, Anda bisa menargetkan main sosmed paling lama 1-2 jam dalam sehari
Kemudian, bagi-bagilah durasi tersebut di waktu tertentu. Misalnya, 15 menit cek medsos saat perjalanan menuju kantor, 15 menit lagi saat makan siang, 20 menit selama perjalanan pulang, dan sisanya menjelang waktu tidur Anda.
Setelah Anda cukup terbiasa, mulailah memangkas durasinya lebih ketat lagi. Dari hanya 1 jam dalam sehari sampai kira-kira hanya main media sosial hanya di waktu kosong saja.
Referensi : Tips Aman Main Media Sosial Tanpa Takut Stres
yang padat sering membuat Anda tidak menyadari jika kondisi kesehatan mental sedang terganggu. Ya, banyak orang yang tidak sadar sedang mengalami kondisi yang tergolong sebagai tanda stres. Lalu, apa saja kondisi yang tidak disadari sebagai tanda dari stres? Simak penjelasannya berikut ini. Berbagai penyebab yang dapat menjadi pertanda stres
Berikut beberapa kondisi yang sering tidak disadari:
1. Merasa terlalu emosional
Saat senggang, Anda mungkin sering memikul banyak beban pikiran dan masalah yang mungkin tak bisa Anda bagi dengan orang lain. Lama-kelamaan, beban pikiran tersebut turun ke perasaan dan membuat Anda menjadi emosional.
Namun, hal tersebut sering Anda anggap sebagai suatu hal yang normal terjadi. Saat itu, Anda hanya menganggap bahwa sedang dalam keadaan rapuh, sehingga merasa emosional adalah hal yang wajar.
Padahal, hal ini bisa jadi salah satu tanda stres yang tak Anda sadari. Jika Anda membiarkannya berlarut-larut, hal tersebut bisa menjadi cikal bakal gangguan mental dan emosional yang berkepanjangan.
2. Lebih sibuk dari biasanya
Biasanya, menjadi lebih sibuk tak melulu karena memang ada kesibukan, tetapi karena sedang ingin mengalihkan pikiran dari masalah yang sedang melanda. Sebagai contoh masalah keluarga, masalah dengan pasangan, dan lain-lain.
Ini artinya, saat mendadak ingin lebih sibuk, padahal tak ada hal penting yang harus dikerjakan, itu adalah salah satu tanda stres dan kesibukan itu adalah upaya Anda untuk menghindarinya.
Hal tersebut mungkin bisa menjadi jalan pintas sesaat untuk mencegah stres Anda alami. Namun, terlalu sibuk justru bisa mendatangkan stres dan gangguan emosional.
Oleh sebab itu, alih-alih mencari banyak kesibukan untuk ‘lari’ dari stres, lebih baik hadapi dan selesaikan permasalahan yang membuat Anda stres.
3. Sensitif atau lebih mudah marah
Tanda stres lain adalah Anda menjadi lebih mudah marah. Anda mungkin tak menyadari, tetapi hal-hal kecil yang mengganggu tetapi biasanya bisa Anda maklumi, kini dapat menyulut amarah dengan begitu mudahnya.
Bahkan, Anda juga lebih sering melampiaskan amarah kepada orang-orang terdekat. Hal ini jelas menggambarkan bahwa Anda sedang stres dan terganggu stabilitas emosinya.
Anda perlu berhati-hati jika sudah menunjukkan gejala stres yang satu ini. Pasalnya, bisa jadi Anda justru menyakiti perasaan orang lain hanya demi melampiaskan amarah yang tak ada kaitannya dengan orang tersebut.
Mengontrol diri dalam keadaan seperti ini memang merupakan tantangan yang cukup sulit. Namun, bukan berarti orang lain ikut menanggung amarah tersebut.
4. Mood swing
Mood swing adalah kondisi saat kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan terasa begitu dekat. Ketiga hal tersebut terjadi secara bergantian dan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
Jika hal ini terjadi, mungkin ada yang salah dengan kondisi kesehatan mental Anda. Artinya, mood swing bisa menjadi salah satu tanda stres yang tak Anda sadari.
Solusi yang bisa Anda coba untuk mengatasi kondisi yang terjadi akibat stres adalah membicarakan penyebab stres. Cobalah untuk berbagi dan menumpahkan perasaan Anda pada seseorang yang dapat memberikan sebuah perspektif lain dalam memandang hidup.
Akan lebih baik jika orang tersebut Anda rasa dapat memiliki solusi untuk masalah yang sedang Anda hadapi saat itu. Terkadang, dengan berbicara dengan orang lain, Anda baru sadar apa yang sedang terjadi pada diri sendiri.
5. Hilang arah dan tujuan hidup
Hidup dengan arah dan tujuan yang jelas dapat memberikan dampak yang baik untuk diri Anda. Bahkan, Anda bisa lebih percaya diri untuk menjalani hari.
Akan tetapi, stres terkadang membuat Anda merasa hilang arah dan tujuan. Tanda stres seperti ini tentu patut Anda waspadai sebelum menjadi semakin parah.
Saat Anda merasa arah dan tujuan hidup hilang, sirna pula kebahagiaan menjalani hidup. Contohnya, saat Anda gagal meraih suatu hal yang selama ini memicu semangat menjalani hari, bisa jadi semangat tersebut ikut lenyap seiring dengan kegagalan tersebut.
Ya, kondisi tersebut dapat terjadi karena stres dan jika tak segera Anda atasi, bisa mengakibatkan gangguan emosional berkepanjangan.
6. Selalu ingin memegang kendali
Tanda atau gejala stres lain yang juga kerap terjadi adalah terobsesi untuk mengendalikan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sebenarnya bukan ada pada kendali Anda.
Kecenderungan tersebut sangat lumrah terjadi. Intinya, Anda berusaha sebagaimana mungkin untuk mengubah semua hal menjadi seperti apa yang Anda inginkan.
Untuk mengatasi gejala tersebut, sebaiknya Anda berusaha untuk menerima realitas dan fokus pada hal-hal dalam diri Anda sendiri.
7. Pilih hal-hal yang berisiko
Tak sedikit dari Anda yang mungkin memilih melakukan hal-hal yang berisiko sebagai cara untuk melarikan diri dari stres. Contohnya, minum alkohol secara berlebihan, berjudi, melakukan hubungan seks dengan orang yang tak seharusnya, dan masih banyak lagi.
Menurut Cleveland Clinic, perilaku-perilaku penuh risiko seperti ini bisa jadi tanda stres yang tak Anda sadari. Gejala ini tentu dapat merugikan, apalagi jika Anda tak ada upaya untuk menghentikannya.
Bahkan, bisa jadi kondisi ini lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang tak bisa lagi Anda hentikan. Oleh sebab itu, sebelum kondisinya bertambah parah, segera atasi stres dan hindari hal-hal yang berisiko ini.
8. Isolasi diri
Tanda stres lain yang juga perlu Anda waspadai adalah menghindari orang lain, bahkan orang terdekat, dan memilih untuk mengisolasi diri. Ini artinya, Anda memilih untuk mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan orang lain.
Anda mungkin berpikir cara tersebut dapat membantu mengatasi stres yang melanda. Padahal, hal ini berpotensi membuat Anda semakin stres. Bagaimana bisa?
Pasalnya, pada saat itu, Anda justru hidup dengan pikiran-pikiran negatif yang cenderung muncul saat Anda sedang stres. Oleh sebab itu, jika Anda melihat ada orang lain atau orang terdekat memutuskan untuk menyendiri, segera dampingi dan jangan biarkan ia menyendiri terlalu lama.
Referensi : 8 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari
Gangguan Psikosomatis, Saat Pikiran Memengaruhi Kesehatan Tubuh. Tanpa Anda sadari, setiap hari Anda bisa dihadapkan dengan berbagai macam hal yang bisa memicu stres. Mulai dari stres akibat kemacetan di jalan, pertengkaran dengan pasangan, atau stres akibat masalah keuangan yang tidak kunjung membaik. Meski umumnya dapat diatasi, stres yang tidak berujung bisa berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya menyebabkan gangguan psikosomatis. Penasaran dengan kondisi ini? Baca selengkapnya pada ulasan berikut.
Apa itu psikosomatis (psikosomatik)?
Psikosomatis berasal dari kata “psyche” yang berarti fisik dan “soma” yang berarti tubuh. Psikosomatis atau psikosomatik adalah istilah yang mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang.
Sayangnya, beberapa orang masih menganggap bahwa gejala yang ditimbulkan dari kondisi ini adalah khayalan alias tidak benar-benar terjadi. Alasannya, karena gejala yang dikeluhkan tidak menunjukkan adanya kelainan fisik setelah pemeriksaan dilakukan.
Hal ini menyebabkan penderitanya tidak segera memeriksakan diri ke dokter dan terlambat mendapatkan pengobatan. Padahal kenyatannya, gejala fisik yang dirasakan memang nyata dan memerlukan pengobatan seperti halnya penyakit lain.
Gangguan psikosomatis bisa berasal atau diperburuk oleh stres dan rasa cemas. Sebagai contoh, penderita depresi dapat merasakan gejala psikosomatik, terutama saat sistem kekebalan tubuhnya telah melemah karena ia tidak bisa mengelola stres dan rasa cemasnya dengan baik.
Keterkaitan psikosomatis dengan pikiran dan emosi telah dijlaskan pada situs Michigan Medicine. Otak menghasilkan berbagai zat kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Sebagai contoh, zat endorfin yang bisa menghilangkan rasa sakit atau zat gamma globulin yang bisa memperkuat sistem imun tubuh yang lemah. Nah, seluruh zat yang diproduksi tersebut sebagian besar bergantung dengan pikiran dan emosi Anda. Jika saat tubuh Anda merasakan sakit, tapi Anda tetap berpikir positif dan yakin merasa lebih baik, maka otak Anda akan memproduksi endorfin lebih banyak sehingga bisa membantu kesembuhan.
Sebaliknya, jika pikiran dan emosi Anda cenderung negatif, otak tidak memproduksi bahan kimia yang membantu kepulihan tubuh. Tubuh malah akan melepaskan hormon yang mempercepat detak jantung, meningkatkan tekanan darah, dan membuat otot jadi tegang. Kondisi inilah yang pada akhirnya menimbulkan gejala pada tubuh. Apa saja tanda dan gejala psikosomatis? Seseorang dengan psikosomatik bisa mengalami gejala yang bervasiasi, umumnya adalah:
Muncul sensasi “kupu-kupu beterbangan” di perut.
Jantung berdebar lebih kencang dari biasanya.
Telapak tangan berkeringat.
Otot-otot tubuh menegang yang menyebabkan nyeri otot.
Di samping itu, beberapa gejala yang ditimbulkan juga bisa bergantung dengan jenis kelamin penderitanya. Wanita lebih sering melaporkan gejala berupa tubuh kelelahan meski cukup tidur, mudah tersinggung, perut kembung, dan siklus menstruasi tidak beraturan. Di sisi lain, pria lebih sering mengalami nyeri dada, tekanan darah meningkat, dan gairah seks menurun. Gejala gangguan psikosomatis juga bisa berbeda-beda jika dilihat dari faktor usia. Anak-anak dan remaja lebih sering mengalami gangguan pencernaan. Sementara pada lanjut usia atau lansia, biasanya mengalami keparahan penyakit yang sebelumnya dimiliki.
Tanda dan gejalanya yang tidak spesifik membuat penderitanya maupun dokter kadang sulit untuk mendeteksi kondisi ini. Beberapa penyakit yang gejalanya rentan bertambah parah akibat psikosomatis adalah psoriasis, eksim, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.
Berbagai penyebab terjadinya psikosomatis
Penyebab utama dari psikosomatis adalah pikiran dan emosi negatif yang menimbulkan stres dan kecemasan. Namun, perlu Anda ketahui bahwa tidak semua stres itu buruk. Ada tipe stres yang disebut eustress, yakni jenis stres positif yang membuat tubuh Anda menjadi lebih berenergi. Anda mungkin akan mengalami stres ini ketika melakukan olahraga yang memacu adrenalin.
Pada dasarnya stres muncul untuk mengaktifkan sinyal tubuh pada mode “fight-or-flight”. Dengan begitu, Anda bisa menghindari suatu ancaman yang membahayakan. Sebagai contoh, Anda akan langsung mengerem sepeda dengan cepat ketika mendapati seekor kucing menyebrang tepat di depan Anda.
Akan tetapi, tidak semua orang bisa mengelola stres dengan baik. Akibatnya, stres pada tubuh akan semakin menumpuk menimbulkan kecemasan atau ketakutan yang akhirnya bisa menimbulkan gejala gangguan psikosomatis.
Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal yang bisa menyebabkan Anda stres dan cemas, seperti didiagnosis mengalami penyakit kronis, mengalami perceraian, ditinggal orang yang Anda sayangi, di-PHK dari tempat kerja, atau pindah lingkungan tempat tinggal.
Cara mengatasi tanda dan gejala psikosomatis
Setelah pemeriksaan dilakukan dan dokter mendiagnosis gejala tersebut adalah gangguan psikosomatis, dokter mungkin akan mengarahkan Anda pada dokter ahli kejiwaan, atau mungkin dokter juga bisa bekerja sama dengan psikolog/psikiater untuk membantu pengobatan Anda.
Anda mungkin akan direkomendasikan untuk belajar mengelola stres agar gejala bisa berkurang. Akan tetapi, proses tersebut memakan waktu lama, sementara gejala fisik yang dirasakan perlu diobati.
Sebagai contoh, jika Anda merasakan sakit leher, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan memberikan pijatan pada area yang bermasalah bersamaan dengan perubahan gaya hidup yang bebas stres. Penggunaan obat untuk depresi mungkin bisa dipertimbangkan, mengingat antidepresan ini juga bisa membantu mengurangi nyeri.
Berikut ini adalah penerapan gaya hidup yang membantu mengurangi stres dan kecemasan pada pasien gangguan psikosomatis:
1. Aktif bergerak
Aktif bergerak seperti rutin menjalani olahraga dapat mengurangi stres dan kecemasan karena merangsang pelepasan hormon endorfin.
Anda bisa memilih berbagai jenis olahraga yang disukai, mulai dari jogging, yoga, bersepeda, hingga jalan santai. Namun, pilih jenis olahraga sesuaikan yang nyaman Anda lakukan agar tidak memperburuk gejala.
2. Terapkan pola makan sehat
Memperbaiki pola makan juga bisa membantu mengurangi stres pada pasien yang mengalami gangguan psikosomatis. Alasannya, selain memberikan nutrisi yang sehat untuk meningkatkan sistem imun, makanan yang sehat juga bisa mencegah keparahan gejala gangguan pencernaan dan menurunkan tekanan darah.
Perbanyak konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan bijian-bijian dan hindari alkohol maupun rokok. Pastikan porsi dan jam makan juga tepat agar tidak menimbulkan masalah nantinya.
3. Cukup tidur
Di samping aktif bergerak, Anda juga perlu menyeimbangkannya dengan cukup istirahat. Pasalnya, kurang tidur bisa membuat suasana hati jadi lebih buruk dan Anda rentan stres. Cobalah untuk tidur lebih awal dan bangun pagi setiap hari.
Supaya lebih nyaman, atur suhu dan pencahayaan kamar. Pastikan juga posisi bantal sesuai dengan kenyamanan dan kebersihan kamar selalu terjaga.
4. Terhubung dengan orang terdekat
Saat stres dan merasa tertekan, Anda pasti lebih ingin menghabiskan waktu sendiri tenggelam dengan berbagai konflik yang dihadapi. Sayangnya, tindakan ini malah membuat stres semakin parah, dan membuat pengobatan psikosomatis yang dijalani jadi kurang efektif. Lantas, apa yang harus dilakukan? Pilihan terbaik adalah tetap berhubungan dengan orang di sekeliling Anda, baik itu keluarga maupuin sahabat. Selain mereka bisa menjadi tempat Anda untuk mencurahkan segala keluh kesah, Anda juga akan semakin merasa lebih baik karena dukungan yang mereka berikan.
Referensi : Gangguan Psikosomatis, Saat Pikiran Memengaruhi Kesehatan Tubuh
Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi ke hampir seluruh kawasan dunia (global). Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis dan pada gilirannya sangat egois dan individual. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”, sedemikian rupa sehingga hubungan mereka sudah tidak terlalu akrab lagi. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena tersebut membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.
Seperti yang diakui oleh Zakiah Darajat (1990: 15-16) bahwa ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar; sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sebagainya, malainkan lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para pasien yang terganggu kesehatan mentalnya, ia menyimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu adalah perasaan, pikiran, kelakuan, kesehatan badan, sedang yang tergolong penyakit jiwa (psychoses) adalah lebih berat lagi.
Manusia yang serasi, selaras dan seimbang adalah merupakan jargon hidup bangsa Indonesia. Sejalan dengan ini adalah usaha untuk memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang “integrated” dan kemampuan memecahkan segala problema hidup dengan percaya diri dan kepribadian yang solid. Sebab kesehatan adalah kondisi normal bagi seseorang dari terhindarnya gangguan jiwa (neorosis) dan penyakit jiwa (psychoses). Manusia demikian adalah manusia yang sehat secara jasmani maupun rohani lahir maupun batin.
Penyakit jiwa (psichoses) adalah kelainan kepribadian yang ditandai oleh mental dalam (profound-mental) dan gangguan emosional. Penyakit tersebut dapat mengubah individu normal menjadi tidak mampu menyesuaikan dirinya dalam masyarakat (abnormal). Dua istilah yang dapat diidentifikasikan dengan psychoses ini adalah insanity dan dementia. Insanity adalah istilah resmi yang menunjukkan bahwa individu itu kacau dan terganggu akibat tindakannya. Pada saat lain istilah demenia digunakan untuk kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini diinterpretasikan sebagai sinonim dengan kekacauan mental (mental disorder) yang menyolok. Kebanyakan semua penyakit jiwa ini disertai dementia (James D, Page. 1978:209).
Pada masyarakat umum, penyakit jiwa ini biasanya diistilahkan dengan gila atau penyakit gila. Sebab mereka sering melakukan tingkah laku yang semaunya sendiri, tidak wajar dan abnormal.
Seseorang yang terserang penyakit jiwa, kepribadiannya terganggu dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya. Seringkali orang yang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain (Zakiah Darajat, 1990:56).
Jenis-jenis Penyakit Jiwa :
Penyakit jiwa biasanya dibedakan menjadi dua katagori umum, yaitu: Pertama, adalah kelainan mental yang dicirikan oleh gangguan fungsional. Warisan keturunan yang tidak menyenangkan (unfavovorable heredity) dilengkapi faktor-faktor konstitusional dan pengalaman hidup yang merugikan adalah merupakan sebab utama dari penyakit tersebut, termasuk dalam kategori ini adalah: schizopharenia, paranoia, manic-depressive dan involution melancolia. Kedua, terdiri dari penyakit mental yang dikelompokkan dengan pertanda atau bukti organik (toxis-organic psychoses) termasuk dalam kelompok ini adalah senile dementia, psychoses with cerebral arteriosclerosis, general presis, alcoholic psychoses (James D, 1978:212)
Seperti juga Zakiah sebutkan (Zakiah Darajat, 1990:56), bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit jiwa yang disebabkan oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan sebagainya.
Pandangan Islam tentang Penyakit Jiwa
Dalam perspektif Islam, penyakit jiwa sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti sifat tamak, dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.
Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi (1970), membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.
Riya’ :
Seperti yang dijelaskan oleh As-Sarqawi (1979:69), bahwa dalam penyakit riya’ terdapat unsur penipuan terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya’ merasuk dalam jiwa seseorang dengan halus dan tidak terasa sehingga hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan penyakit ini kecuali orang arif yang ikhlas dan taat.
Dalam riya’ terhdap unsur-unsur kepura-puraan, penipuan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-nutupi kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits nabi:
“Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.
Islam memberikan terapi riya’ ini dengan cara mengikis nafsu syahwat sedikit demi sedikit dan menanamkan sifat merendahkan diri (tawadu’) dengan melihat kebesaran Allah SWT (As-Syarqawi: 73).
Emosi/Marah :
Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan (Ibid: 73).
Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa emosi marah akan menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, mencakar-cakar tanah, membanting perabot rumah tangga dan seterusnya seperti tindakan orang gila. Marah juga dapat berpengaruh pada hati seseorang, yaitu sifat dengki dan iri hati, menyembunyikan kejahatan, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang lain dan seterusnya. (Ibid: 79).
Atas dasar inilah maka nabi melarang orang yang sedang marah untuk melakukan putusan atau memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya:
“Seseorang jangan membuat keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah”.
Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang seimbang dengan jalan mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang (Ibid:81)
Berkaitan dengan hal di atas, Usman Najati ((1985:125-126) berpendapat bahwa emosi marah yang menguasai seseorang dapat membuat kemandegan berpikir. Di samping itu energi tubuh selama marah berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan disesali di kemudian hari, dengan jalan mengendalikan diri, sebab mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat:
1. Dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar.
2. Dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik yang timbul akibat meningkatnya energi.
3. Dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain, baik fisik maupun umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri untuk selalu berintrospeksi.
4. Dari segi kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit fisik pada umumnya.
Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri terhadap emosi marah ini dan menganggapnya sebagai orang yang kuat, sebagaimana sabdanya:
“Tidaklah orang dikatakan kuat itu adalah orang yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya”. (Lihat juga Q.S. 3:134).
Lalai dan Lupa : Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya antara lain adalah:
a. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.
b. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur (As-Syarqawi:83).
c. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi (Usman Najati: 29).
Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat (rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin kemampuan ingatan seseorang, sebab secara internal terdapat faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk mengingat sesuatu, seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan seterusnya. (As-Syarqawi:84).
Banyaknya informasi dan kegiatan yang menumpuk sebelumnya membuat seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif lebih baik jika informasi dan kegiatan lebih sedikit. Hal ini terbukti pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa pada masa lalu daripada orang dewasa (Usman Najati:229).
Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam menggoda Adam As. (Ibid:232).
Atasi Gangguan Psikosomatis, Sakit Fisik yang Dipicu Stress. Gangguan psikosomatis adalah sebuah kondisi dimana gejala sakit fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran dan emosi kita, bukannya dari suatu penyebab fisik seperti luka atau infeksi.
Namun, banyak orang masih tidak mengetahui ini. Bahkan, masih banyak yang menyangkal kalau stres secara pikiran dapat menyebabkan penyakit fisik yang serius. Akhirnya, gangguan psikosomatis menjadi tidak diatasi dan menjadi makin parah.
Lantas bagaimana sih cara kita mendeteksi apakah kita mengalami gangguan psikosomatis?
Gejala psikosomatis
Mungkin kamu masih belum terbiasa dengan konsep bahwa stres bisa mempunyai efek samping secara fisik. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan mendeteksi sinyal-sinyal dari tubuh kamu bahwa kamu terlalu stres sehingga akan sakit.
Dengan begitu, kamu pun lebih bisa mencegah penyakit yang timbul akibat stress. Berikut beberapa tanda yang kamu mungkin rasakan secara fisik ketika stres:
Deg-degan
Sesak napas
Gemetar
Tidak bisa bergerak atau kehilangan tenaga
Otot yang tegang
Berkeringat
Kurang nafsu makan
Sakit kepala
Sakit gigi
Kesulitan tidur
Nyeri ulu hati
Bila kamu perempuan, maka kamu juga mungkin mengalami gejala lain, seperti kelelahan walaupun tidur sudah cukup, atau perubahan siklus menstruasi. Sedangkan untuk pria lebih cenderung mengalami gejala, seperti nyeri dada atau perubahan pada keinginan seksual. Berdasarkan umurnya, anak kecil juga menunjukkan gejala masalah pencernaan, seperti sering sakit perut. Sementara, remaja dan orang lanjut usia juga menjadi golongan usia yang rentan untuk terkena depresi atau stres yang tidak teratasi, menyebabkan berbagai penyakit.
Dalam melihat kembali gejala fisik tersebut, kamu perlu memperhatikan 3 hal : Apa saja keluhan fisik yang kamu punya? Terutama yang berulang. Kapan keluhan fisik tersebut muncul? Apakah hanya saat kamu sedang di bawah tekanan atau bagaimana? Bagaimana perasaanmu atas keluhan fisik tersebut? Bila disertai rasa cemas atau khawatir, maka ada kemungkinan kamu mengalami gangguan psikosomatis.
Referensi sebagai berikut ini ; Atasi Gangguan Psikosomatis, Sakit Fisik yang Dipicu Stress
Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam. Hidup adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang untuk menuju suatu titik tujuan yaitu meraih kebahagiaan bahkan dunia sampai di akhirat, sebagaimana yang dipanjatkan dalam doa setiap umat muslim setiap selesai sholat wajib. Namun, sayangnya perjalanan hidup tak selalu sesuai dengan keinginan. Sering kali dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang kerap membuat kita stres hingga putus asa.
Perasaan putus asa yang berlangsung lama dapat membuat kita ada dalam situasi depresi yang sangat buruk untuk kesehatan mental dan juga fisik kita. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kerap tak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami depresi. Banyak orang awam memandang depresi hanya sebagai persoalan batin yang biasa-biasa saja dan tak perlu dikhawatirkan.
Padahal kondisi tersebut seharusnya segera mendapat penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan kondisi yang lebih parah. Dalam Islam kita sering kali diperintahkan untuk menyerahkan segala kesulitan hidup yang kita hadapi kepada Allah sembari terus mengupayakan segala bentuk penyelesaiannya.
Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam
Depresi merupakan keadaan yang dapat dialami semua orang tanpa terkecuali. Kondisi paling dominan dalam seseorang yang mengalami depresi adalah emosi yang berlebihan seperti susah, sedih, murung, merasa tidak bahagia, tidak lagi memiliki semangat hidup. Keadaan depresi merupakan salah satu bentuk gangguan mental yang mengancam psikologis seseorang.
Dalam Islam, sebagai seorang mukmin yang taat diberi kekuasaan untuk berusaha melakukan pengobatan atas ujian ringan atau berat yang sedang dialami agar memperoleh kelulusan, kesembuhan dan bebas dari kesulitan atau penderitaan. Sebagaimana jaminan Allah yang tertera dalam surat Al-Asyra ayat 6-7 yang artinya "karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Pendekatan spiritual sendiri telah banyak diadopsi oleh para psikiater Amerika Serikat yang dikenal dengan pendekatan bio, psiko, sosial dan spiritual dalam upaya melakukan terapi terhadap pasien atau klien. Adapun cara mengatasi depresi menurut agama Islam adalah sebagai berikut:
Meneguhkan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang berkuasa memberi penyakit, cobaan/ujian dan Allah pula lah yang akan menyembuhkannya, menghapus cobaan tersebut.
Memohon pertolongan dari Allah Swt melalui salat dan berlaku sabar.
Selalu berdoa demi pemulihan kesehatan mentalnya.
Do'a agar Hati Lebih Tenang
Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat mengalami tekanan. Baik karena pekerjaan, berselisih dengan orang lain, atau masalah-masalah lainnya yang cukup mengganggu pikiran. Pada batas tertentu, depresi karena tekanan tersebut dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesabaran. Ini dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang.
Saat berada dalam kondisi seperti ini, dianjurkan untuk terus mengingat Allah SWT. Selain itu, juga dapat dengan membaca doa di bawah ini yang termuat dalam Alquran surat Ar Rad, ayat 28.
"Alladziina aamanuu watathmainnu quluubuhum bi dzikrillaahi alaa bi dzikrillaahi tathmainnul quluubu."
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
Referensi sbb : Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam
Al-Quran yang menjadi pembimbing dan panduan bagi umat Islam, ternyata memiliki obat dan penawar untukmu agar sembuh dari anxiety atau kecemasan. Salah satu surat dalam Al-Quran yang dapat kamu baca adalah Surat Ad-Dhuha. Penting bagimu untuk membaca surat-surat dari Al-Quran, karena banyak sekali kandungan dan arti dari setiap ayatnya, dan tentunya kamu akan mendapat pahala yang banyak. Coba untuk menyimak setiap ayat dari Surat Ad-Dhuha ini, semoga bisa membantumu untuk sembuh dari anxiety.
Ayat 1 : Wad duhaa وَالضُّحَىٰ
Demi waktu dhuha (ketika matahari naik setinggi galah)
Ini adalah perkara pertama yang perlu kamu beritahu pada seseorang yang mengalami tekanan emosi atau depresi adalah:
“Bangun! Lihatlah matahari. Hidup ini tak selamanya hancur dan kelam”
Di luar sana ada matahari yang memancarkan cahayanya yang sangat indah.
Ayat 2 : Wal laili iza sajaa وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
Dan demi malam apabila telah sunyi
Seorang yang mengalami depresi atau tekanan emosi adalah mereka yang terjaga hingga malam. Mereka tidur di siang hari dan berjaga di malam hari.
Ayat 3 : Ma wad da’aka rabbuka wa ma qalaa’ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu Allah tidak membenci Muhammad, apa lagi melupakannya.
Sama halnya seperti denganmu, wahai jiwa-jiwa yang tertekan dan cemas, Allah tidak sesekali membencimu. Dan Allah tidak sesekali melupakanmu.
Sesungguhnya kesudahan itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan
Apa yang bakal mendatangimu nantinya adalah jauh lebih baik dengan apa yang sedang kamu alami sekarang. Tetaplah bersabar.
Ayat 5 : Wa la sawfa yu’teeka rabbuka fatarda’ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas
Katakan ini pada mereka yang depresi dan dilanda kecemasan;
“Sedikit masa lagi wahai kaum Muslimin, Allah akan memberikan syurgaNya, dan insyaAllah dan memberi bahagia buat kita.”
“Sabarlah untuk sedikit masa lagi, Allah akan memberi kemenangan untuk semua kesukaran ini dan membuatkan kita merasa bahagia gembira.”
“Inilah janji Allah dan akan tertunailah sabarlah untuk sedikit masa lagi.”
“Sabarlah sahabatku, kita semua akan masuk ke syurga Allah, insya-Allah”
Bukankah ini kata-kata yang cukup indah yang perlu kita tuturkan pada seseorang yang tertekan jiwanya, serta yang merasa sakit dalam hatinya.
Dan Allah memberi sebab untuk kita percayakan semua janjinya itu.
Ayat 6 : Alam ya jidka yateema Fa aawaa’ أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Tanyakah dirimu, tidakkah pernah kamu berasa sakit-sakit? Tidakkah kamu pernah menjadi anak kecil, yang mana Allah melindungi dan menjagamu ketika usia itu?
Ayat 7 : Wa wa jadaka daal lan fahada وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kebingungan, lalu dia memberikan petunjuk
Bukankah kita juga senantiasa dalam kebingungan sebelum menemui jalan keluar?
Terkadang kita meninggalkan kewajiban sholat, dan masalah terkadang datang menghampiri. Dan Allah melihat dirimu dalam kebingungan lalu Allah membantumu.
Tidakkah kamu menyadari bahwa meskipun kamu jarang menunaikan ibadah dan kamu sering dilanda kebingungan dan kecemasan, namun Allah tetap membantumu?
Ayat 8 : Wa wa jadaka ‘aa-ilan fa aghnaa’ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan
Berapa ramai dari kalangan kita dalam peliharaan Tuhannya. Allah memelihara keluarga kita ketika saat sukar.
Dan dalam ayat seterusnya, Allah berikan kamu dengan lebih banyak lagi sebab. Kepada Rasulullah dan juga kita.
Mengingatkan kita berulang-ulang kali. Kenapa kita harus meyakini setiap peringatanNya ini. Janjinya itu benar.
Jadi, kepada kamu yang mengalami tekanan, inilah cara terbaik untuk menasihati mereka. Beritahulah kisah-kisah terdahulu yang telah berlaku.
Dan berikan sebab untuk mereka meyakini janji Allah itu benar, sama seperti yang pernah Allah beri pada masa terdahulu.
Kemudian Allah memberikan kamu penawar untuk merawat tekanan emosi itu. Apakah obat yang Allah turunkan ini? Obatnya hanya adalah mendidik hati agar mengingat kesukaran orang lain yang jauh lebih susah daripada kita.
Ayat 9 : Fa am mal yateema falaa taqhar’ فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenangnya
Ayat 10 : Wa am mas saa-ila fala tanhar’ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya
Yang pertama adalah anak yatim, yang kedua adalah pengemis. Ingatlah bahwa anak-anak yatim ini mereka tidak memiliki siapa-siapa dan tidak ada yang menjaga.
Sedangkan kamu mempunyai orang tua untuk menjagamu. Kamu ada keluarga untuk menjagamu. Malah kamu punya satu tempat yang kamu panggil rumah.
Anak yatim tak punya siapa-siapa. Pengemis pula tak punya makanan, sebaliknya dia minta makanan daripada kamu. Mereka tidur dalam kelaparan setiap hari.
Lihat dirimu, Dear! Allah masih memberikan kamu makanan. Berapa banyak dari orang-orang lain yang kurang mampu.
Berapa banyak yang pernah tidur dalam kelaparan? Subhanallah.
Jadi, Allah sebenarnya sudah memberitahu kita penawar untuk merawat hati yang sakit itu adalah untuk melihat kembali kesusahan orang lain.
Seandainya semua itu telah dilakukan tetapi perasaan kamu masih terasa jauh daripada Allah, bacalah firman Allah ini.
Ayat 11 : Wa amma bi ni’mati rabbika fahad dith وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur) Allah kurniakan kita dengan kenikmatan yang tidak terhingga.
Ucapkanlah:
“Alhamdulillah untuk mata ini, Alhamdulillah untuk tangan ini, Alhamdulillah untuk mulut ini, Alhamdulillah untuk hati ini.”
Perhatikan ini, jika Allah tak sayang kenapa Allah masih menghidupkan kita? Jika Allah tak sayang kita kenapa Allah berikan kita rezeki setiap menit dalam kehidupan kita. Jika Allah tak cinta dan sayang kita, kenapa kita masih ada di sini hari ini? Cobalah untuk berpikir sedalam-dalamnya. Selain membaca, memahami, dan meresapi setiap arti dari ayat Al-Quran, kamu bisa mengatasi dan agar sembuh dari anxiety atau kecemasanmu dengan mencoba untuk konseling dengan psikolog.
Referensi : Cara Sembuh dari Anxiety Menurut Islam
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Swt yang memiliki kedudukan paling tinggi di dunia. Manusia diciptakan memiliki hawa nafsu, sehingga dalam keadaan sehat manusai biasanya sering melupakan keberadaan Allah yang kemudain melakukan hal kemakasiatan. Hingga pada akhirnya Allah memberikan rasa sakit berupa penyakit pada tubuh manusia tersebut.
Rasa sakit tersebut bahkan membuat manusia tidak nyaman dan membuat aktivitasnya terhambat. Namun Allah memberikan rasa sakit atau penyakit pada tubuh manusia juga memiliki tujuan tertentu.
1. Sakit Akan Menyelamatkan Manusia dari Api Neraka.
Seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah dalam hadis, “Janganlah kamu mencaci penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran pada besi.” (HR. Muslim). Sehingga manusia tidak boleh mengeluh hingga berburuk sangka kepada Allah atas rasa sakit dari penyakit yang dideritanya.
Bahkan Rasulullah juga menyampaikan dalam hadis, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukin dari api neraka.” (HR. Al Bazzar).
2. Sakit dapat Mengugurkan Dosa
Hal ini sudah disampaikan dalam firman Allah, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Suura ayat 30).
Sehingga penyakit yang manusia derita bisa menjadi pengugur atas dosa yang telah diperbuat oleh manusia.
3. Sakit Membuat Kita Kembali Kepada Allah dan Senantiasa Mengingat Allah
Manusia yang sehat akan dapat terjerumus ke hal kemaksiatan yang mementingkan nafsunya, sehingga membuatnya lupa dengan Allah Swt. Maka dari itu Allah memberikan penyakit kepadanya agar mereka ingat dengan Allah bahwa mereka hanyalah hamba yang lemah dan tidak berdaya di depan Allah Swt. Rasulullah juga telah menyampaikan, ”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka akan ditimpakan cobaan padanya.” (HR. Bukhari).
4. Sakit Menjadikan Sumber Kebaikan bagi Seorang Muslim Jika Dia Bersabar
Rasulullah bersabda, “Sesungguh menajubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika dia mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Referensi sbb ; Alasan Utama Allah Swt Memberikan Sakit Berupa Penyakit Kepada Tubuh Manusia