This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 05 Agustus 2022

Islam & Masalah Kesehatan Jiwa

Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi  ke hampir seluruh kawasan dunia (global). Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis dan pada gilirannya sangat egois dan individual. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”, sedemikian rupa sehingga hubungan mereka sudah tidak terlalu akrab lagi. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena  tersebut membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.

Seperti yang diakui oleh Zakiah Darajat (1990: 15-16) bahwa ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar; sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sebagainya, malainkan lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang  dilakukan terhadap para pasien yang terganggu kesehatan mentalnya, ia menyimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat  mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu adalah perasaan, pikiran, kelakuan, kesehatan badan, sedang yang tergolong penyakit jiwa (psychoses) adalah lebih berat lagi.

Manusia yang serasi, selaras dan seimbang adalah merupakan jargon hidup bangsa Indonesia. Sejalan dengan ini adalah usaha untuk memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang “integrated” dan kemampuan memecahkan segala problema hidup dengan percaya diri dan kepribadian yang solid. Sebab kesehatan adalah kondisi normal bagi seseorang dari terhindarnya gangguan jiwa (neorosis) dan penyakit jiwa (psychoses). Manusia demikian adalah manusia yang sehat secara jasmani maupun rohani lahir maupun batin.

Penyakit jiwa (psichoses) adalah kelainan kepribadian yang  ditandai oleh mental dalam (profound-mental) dan gangguan emosional. Penyakit tersebut dapat mengubah individu normal menjadi tidak mampu menyesuaikan dirinya dalam masyarakat (abnormal). Dua istilah yang dapat diidentifikasikan dengan psychoses ini adalah insanity dan dementia. Insanity  adalah istilah resmi yang menunjukkan bahwa individu itu kacau dan terganggu akibat tindakannya. Pada saat lain istilah demenia digunakan untuk kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini diinterpretasikan sebagai sinonim dengan kekacauan mental (mental disorder) yang menyolok. Kebanyakan semua penyakit jiwa ini disertai dementia  (James D, Page. 1978:209).

Pada masyarakat umum, penyakit jiwa ini biasanya diistilahkan dengan gila atau penyakit gila. Sebab mereka sering melakukan tingkah laku yang semaunya sendiri, tidak wajar dan abnormal.

Seseorang yang terserang penyakit jiwa, kepribadiannya terganggu dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya. Seringkali orang yang sakit jiwa tidak merasa  bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain (Zakiah Darajat, 1990:56).

Jenis-jenis Penyakit Jiwa :

Penyakit jiwa biasanya dibedakan menjadi dua katagori umum, yaitu: Pertama, adalah kelainan mental yang dicirikan oleh gangguan fungsional. Warisan keturunan yang tidak menyenangkan (unfavovorable heredity) dilengkapi faktor-faktor konstitusional dan pengalaman hidup yang merugikan adalah merupakan sebab utama dari penyakit tersebut, termasuk dalam kategori ini adalah: schizopharenia, paranoia, manic-depressive dan involution melancolia. Kedua, terdiri dari penyakit mental yang dikelompokkan dengan pertanda atau bukti organik (toxis-organic psychoses) termasuk dalam kelompok ini adalah senile dementia, psychoses with cerebral arteriosclerosis, general presis, alcoholic psychoses (James D, 1978:212)

Seperti juga Zakiah sebutkan (Zakiah Darajat, 1990:56), bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah  berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit jiwa yang disebabkan oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan sebagainya.

Pandangan Islam tentang Penyakit Jiwa

Dalam perspektif Islam, penyakit jiwa sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti sifat tamak, dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.

Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi (1970), membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.

Riya’ : 

Seperti  yang dijelaskan oleh As-Sarqawi (1979:69), bahwa dalam penyakit riya’ terdapat unsur penipuan terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya’ merasuk dalam jiwa seseorang dengan halus dan tidak terasa sehingga hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan penyakit ini kecuali orang arif yang ikhlas dan taat.

Dalam riya’ terhdap unsur-unsur kepura-puraan, penipuan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-nutupi kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits nabi:

“Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.

Islam memberikan terapi riya’ ini dengan cara mengikis nafsu syahwat sedikit demi sedikit dan menanamkan sifat merendahkan diri (tawadu’) dengan melihat kebesaran Allah SWT (As-Syarqawi: 73).

Emosi/Marah :

Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan (Ibid: 73).

Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa emosi marah akan menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, mencakar-cakar tanah, membanting perabot rumah tangga dan seterusnya seperti tindakan orang gila. Marah juga dapat berpengaruh pada hati seseorang, yaitu sifat dengki dan iri hati, menyembunyikan kejahatan, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang lain dan seterusnya. (Ibid: 79).

Atas dasar inilah maka nabi melarang orang yang sedang marah untuk melakukan putusan atau memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya:

“Seseorang jangan membuat keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah”.

Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang seimbang dengan jalan mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang (Ibid:81)

Berkaitan dengan hal di atas, Usman Najati ((1985:125-126) berpendapat bahwa emosi marah yang menguasai seseorang dapat membuat kemandegan berpikir. Di samping itu energi tubuh selama marah berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan disesali di kemudian hari, dengan jalan mengendalikan diri, sebab mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat:

1. Dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar.

2. Dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik yang timbul akibat meningkatnya energi.

3. Dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain, baik fisik maupun umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri untuk selalu berintrospeksi.

4. Dari segi kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit fisik pada umumnya.

Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri terhadap emosi marah ini  dan menganggapnya sebagai orang yang kuat, sebagaimana sabdanya:

“Tidaklah orang dikatakan kuat itu adalah orang yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya”. (Lihat juga Q.S. 3:134).

Lalai dan Lupa : Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya antara lain adalah:

a. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di  dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.

b. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur (As-Syarqawi:83).

c. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi (Usman Najati: 29).

Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat (rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin kemampuan ingatan seseorang, sebab secara  internal terdapat faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk  mengingat sesuatu, seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan seterusnya. (As-Syarqawi:84).

Banyaknya informasi dan kegiatan yang  menumpuk sebelumnya membuat seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif lebih baik jika informasi dan kegiatan  lebih sedikit. Hal ini terbukti pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa pada masa lalu daripada orang dewasa  (Usman Najati:229).

Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam menggoda Adam As. (Ibid:232).

Referensi : Islam & Masalah Kesehatan Jiwa










Atasi Gangguan Psikosomatis, Sakit Fisik yang Dipicu Stress

Atasi Gangguan Psikosomatis, Sakit Fisik yang Dipicu Stress. Gangguan psikosomatis adalah sebuah kondisi dimana gejala sakit fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran dan emosi kita, bukannya dari suatu penyebab fisik seperti luka atau infeksi.

Namun, banyak orang masih tidak mengetahui ini. Bahkan, masih banyak yang menyangkal kalau stres secara pikiran dapat menyebabkan penyakit fisik yang serius. Akhirnya, gangguan psikosomatis menjadi tidak diatasi dan menjadi makin parah.

Lantas bagaimana sih cara kita mendeteksi apakah kita mengalami gangguan psikosomatis?

Gejala psikosomatis

Mungkin kamu masih belum terbiasa dengan konsep bahwa stres bisa mempunyai efek samping secara fisik. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan mendeteksi sinyal-sinyal dari tubuh kamu bahwa kamu terlalu stres sehingga akan sakit.

Dengan begitu, kamu pun lebih bisa mencegah penyakit yang timbul akibat stress. Berikut beberapa tanda yang kamu mungkin rasakan secara fisik ketika stres:

  1. Deg-degan
  2. Sesak napas
  3. Gemetar
  4. Tidak bisa bergerak atau kehilangan tenaga
  5. Otot yang tegang
  6. Berkeringat
  7. Kurang nafsu makan
  8. Sakit kepala
  9. Sakit gigi
  10. Kesulitan tidur
  11. Nyeri ulu hati

Bila kamu perempuan, maka kamu juga mungkin mengalami gejala lain, seperti kelelahan walaupun tidur sudah cukup, atau perubahan siklus menstruasi. Sedangkan untuk pria lebih cenderung mengalami gejala, seperti nyeri dada atau perubahan pada keinginan seksual.  Berdasarkan umurnya, anak kecil juga menunjukkan gejala masalah pencernaan, seperti sering sakit perut. Sementara, remaja dan orang lanjut usia juga menjadi golongan usia yang rentan untuk terkena depresi atau stres yang tidak teratasi, menyebabkan berbagai penyakit.

Dalam melihat kembali gejala fisik tersebut, kamu perlu memperhatikan 3 hal :  Apa saja keluhan fisik yang kamu punya? Terutama yang berulang.  Kapan keluhan fisik tersebut muncul? Apakah hanya saat kamu sedang di bawah tekanan atau bagaimana? Bagaimana perasaanmu atas keluhan fisik tersebut? Bila disertai rasa cemas atau khawatir, maka ada kemungkinan kamu mengalami gangguan psikosomatis.

Referensi sebagai berikut ini ; Atasi Gangguan Psikosomatis, Sakit Fisik yang Dipicu Stress














Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam

Ilustrasi : Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam

Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam. Hidup adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang untuk menuju suatu titik tujuan yaitu meraih kebahagiaan bahkan dunia sampai di akhirat, sebagaimana yang dipanjatkan dalam doa setiap umat muslim setiap selesai sholat wajib. Namun, sayangnya perjalanan hidup tak selalu sesuai dengan keinginan. Sering kali dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang kerap membuat kita stres hingga putus asa.

Perasaan putus asa yang berlangsung lama dapat membuat kita ada dalam situasi depresi yang sangat buruk untuk kesehatan mental dan juga fisik kita. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kerap tak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami depresi. Banyak orang awam memandang depresi hanya sebagai persoalan batin yang biasa-biasa saja dan tak perlu dikhawatirkan.

Padahal kondisi tersebut seharusnya segera mendapat penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan kondisi yang lebih parah. Dalam Islam kita sering kali diperintahkan untuk menyerahkan segala kesulitan hidup yang kita hadapi kepada Allah sembari terus mengupayakan segala bentuk penyelesaiannya. 

Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam

Depresi merupakan keadaan yang dapat dialami semua orang tanpa terkecuali. Kondisi paling dominan dalam seseorang yang mengalami depresi adalah emosi yang berlebihan seperti susah, sedih, murung, merasa tidak bahagia, tidak lagi memiliki semangat hidup. Keadaan depresi merupakan salah satu bentuk gangguan mental yang mengancam psikologis seseorang.

Dalam Islam, sebagai seorang mukmin yang taat diberi kekuasaan untuk berusaha melakukan pengobatan atas ujian ringan atau berat yang sedang dialami agar memperoleh kelulusan, kesembuhan dan bebas dari kesulitan atau penderitaan. Sebagaimana jaminan Allah yang tertera dalam surat Al-Asyra ayat 6-7 yang artinya "karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Pendekatan spiritual sendiri telah banyak diadopsi oleh para psikiater Amerika Serikat yang dikenal dengan pendekatan bio, psiko, sosial dan spiritual dalam upaya melakukan terapi terhadap pasien atau klien. Adapun cara mengatasi depresi menurut agama Islam adalah sebagai berikut:

Meneguhkan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang berkuasa memberi penyakit, cobaan/ujian dan Allah pula lah yang akan menyembuhkannya, menghapus cobaan tersebut.

  1. Memohon pertolongan dari Allah Swt melalui salat dan berlaku sabar.
  2. Selalu berdoa demi pemulihan kesehatan mentalnya.
  3. Do'a agar Hati Lebih Tenang

Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat mengalami tekanan. Baik karena pekerjaan, berselisih dengan orang lain, atau masalah-masalah lainnya yang cukup mengganggu pikiran. Pada batas tertentu, depresi karena tekanan tersebut dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesabaran. Ini dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang.

Saat berada dalam kondisi seperti ini, dianjurkan untuk terus mengingat Allah SWT. Selain itu, juga dapat dengan membaca doa di bawah ini yang termuat dalam Alquran surat Ar Rad, ayat 28.

"Alladziina aamanuu watathmainnu quluubuhum bi dzikrillaahi alaa bi dzikrillaahi tathmainnul quluubu."

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Referensi sbb : Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam



















Cara Sembuh dari Anxiety Menurut Islam

Al-Quran yang menjadi pembimbing dan panduan bagi umat Islam, ternyata memiliki obat dan penawar untukmu agar sembuh dari anxiety atau kecemasan.  Salah satu surat dalam Al-Quran yang dapat kamu baca adalah Surat Ad-Dhuha. Penting bagimu untuk membaca surat-surat dari Al-Quran, karena banyak sekali kandungan dan arti dari setiap ayatnya, dan tentunya kamu akan mendapat pahala yang banyak. Coba untuk menyimak setiap ayat dari Surat Ad-Dhuha ini, semoga bisa membantumu untuk sembuh dari anxiety. 

Ayat 1 : Wad duhaa  وَالضُّحَىٰ

Demi waktu dhuha (ketika matahari naik setinggi galah)

Ini adalah perkara pertama yang perlu kamu beritahu pada seseorang yang mengalami tekanan emosi atau depresi adalah:

“Bangun! Lihatlah matahari. Hidup ini tak selamanya hancur dan kelam”

Di luar sana ada matahari yang memancarkan cahayanya yang sangat indah.

Ayat 2 : Wal laili iza sajaa  وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

Dan demi malam apabila telah sunyi

Seorang yang mengalami depresi atau tekanan emosi adalah mereka yang terjaga hingga malam. Mereka tidur di siang hari dan berjaga di malam hari.

Ayat 3 : Ma wad da’aka rabbuka wa ma qalaa’  مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu Allah tidak membenci Muhammad, apa lagi melupakannya.

Sama halnya seperti denganmu, wahai jiwa-jiwa yang tertekan dan cemas, Allah tidak sesekali membencimu. Dan Allah tidak sesekali melupakanmu.

Ayat 4 : Wa lal aakhiratukhairul laka minal-oola’  وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Sesungguhnya kesudahan itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan

Apa yang bakal mendatangimu nantinya adalah jauh lebih baik dengan apa yang sedang kamu alami sekarang. Tetaplah bersabar.

Ayat 5 : Wa la sawfa yu’teeka rabbuka fatarda’  وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas

Katakan ini pada mereka yang depresi dan dilanda kecemasan;

“Sedikit masa lagi wahai kaum Muslimin, Allah akan memberikan syurgaNya, dan insyaAllah dan memberi bahagia buat kita.”

“Sabarlah untuk sedikit masa lagi, Allah akan memberi kemenangan untuk semua kesukaran ini dan membuatkan kita merasa bahagia gembira.”

“Inilah janji Allah dan akan tertunailah sabarlah untuk sedikit masa lagi.”

“Sabarlah sahabatku, kita semua akan masuk ke syurga Allah, insya-Allah”

Bukankah ini kata-kata yang cukup indah yang perlu kita tuturkan pada seseorang yang tertekan jiwanya, serta yang merasa sakit dalam hatinya.

Dan Allah memberi sebab untuk kita percayakan semua janjinya itu.

Ayat 6 : Alam ya jidka yateema Fa aawaa’  أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Tanyakah dirimu, tidakkah pernah kamu berasa sakit-sakit? Tidakkah kamu pernah menjadi anak kecil, yang mana Allah melindungi dan menjagamu ketika usia itu?

Ayat 7 : Wa wa jadaka daal lan fahada  وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kebingungan, lalu dia memberikan petunjuk

Bukankah kita juga senantiasa dalam kebingungan sebelum menemui jalan keluar?

Terkadang kita meninggalkan kewajiban sholat, dan masalah terkadang datang menghampiri. Dan Allah melihat dirimu dalam kebingungan lalu Allah membantumu.

Tidakkah kamu menyadari bahwa meskipun kamu jarang menunaikan ibadah dan kamu sering dilanda kebingungan dan kecemasan, namun Allah tetap membantumu?

Ayat 8 : Wa wa jadaka ‘aa-ilan fa aghnaa’  وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan

Berapa ramai dari kalangan kita dalam peliharaan Tuhannya. Allah memelihara keluarga kita ketika saat sukar.

Dan dalam ayat seterusnya, Allah berikan kamu dengan lebih banyak lagi sebab. Kepada Rasulullah dan juga kita.

Mengingatkan kita berulang-ulang kali. Kenapa kita harus meyakini setiap peringatanNya ini. Janjinya itu benar.

Jadi, kepada kamu yang mengalami tekanan, inilah cara terbaik untuk menasihati mereka. Beritahulah kisah-kisah terdahulu yang telah berlaku.

Dan berikan sebab untuk mereka meyakini janji Allah itu benar, sama seperti yang pernah Allah beri pada masa terdahulu.

Kemudian Allah memberikan kamu penawar untuk merawat tekanan emosi itu. Apakah obat yang Allah turunkan ini? Obatnya hanya adalah mendidik hati agar mengingat kesukaran orang lain yang jauh lebih susah daripada kita.

Ayat 9 : Fa am mal yateema falaa taqhar’  فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenangnya

Ayat 10 : Wa am mas saa-ila fala tanhar’ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya

Yang pertama adalah anak yatim, yang kedua adalah pengemis. Ingatlah bahwa anak-anak yatim ini mereka tidak memiliki siapa-siapa dan tidak ada yang menjaga.

Sedangkan kamu mempunyai orang tua untuk menjagamu. Kamu ada keluarga untuk menjagamu. Malah kamu punya satu tempat yang kamu panggil rumah.

Anak yatim tak punya siapa-siapa. Pengemis pula tak punya makanan, sebaliknya dia minta makanan daripada kamu. Mereka tidur dalam kelaparan setiap hari.

Lihat dirimu, Dear! Allah masih memberikan kamu makanan. Berapa banyak dari orang-orang lain yang kurang mampu.

Berapa banyak yang pernah tidur dalam kelaparan? Subhanallah.

Jadi, Allah sebenarnya sudah memberitahu kita penawar untuk merawat hati yang sakit itu adalah untuk melihat kembali kesusahan orang lain.

Seandainya semua itu telah dilakukan tetapi perasaan kamu masih terasa jauh daripada Allah, bacalah firman Allah ini.

Ayat 11 : Wa amma bi ni’mati rabbika fahad dith  وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur) Allah kurniakan kita dengan kenikmatan yang tidak terhingga.

Ucapkanlah:

“Alhamdulillah untuk mata ini, Alhamdulillah untuk tangan ini, Alhamdulillah untuk mulut ini, Alhamdulillah untuk hati ini.”

Perhatikan ini, jika Allah tak sayang kenapa Allah masih menghidupkan kita? Jika Allah tak sayang kita kenapa Allah berikan kita rezeki setiap menit dalam kehidupan kita. Jika Allah tak cinta dan sayang kita, kenapa kita masih ada di sini hari ini? Cobalah untuk berpikir sedalam-dalamnya. Selain membaca, memahami, dan meresapi setiap arti dari ayat Al-Quran, kamu bisa mengatasi dan agar sembuh dari anxiety atau kecemasanmu dengan mencoba untuk konseling dengan psikolog.

Referensi : Cara Sembuh dari Anxiety Menurut Islam













Alasan Utama Allah Swt Memberikan Sakit Berupa Penyakit Kepada Tubuh Manusia

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Swt yang memiliki kedudukan paling tinggi di dunia. Manusia diciptakan memiliki hawa nafsu, sehingga dalam keadaan sehat manusai biasanya sering melupakan keberadaan Allah yang kemudain melakukan hal kemakasiatan. Hingga pada akhirnya Allah memberikan rasa sakit berupa penyakit pada tubuh manusia tersebut.

Rasa sakit tersebut bahkan membuat manusia tidak nyaman dan membuat aktivitasnya terhambat. Namun Allah memberikan rasa sakit atau penyakit pada tubuh manusia juga memiliki tujuan tertentu. 

1. Sakit Akan Menyelamatkan Manusia dari Api Neraka. 

Seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah dalam hadis, “Janganlah kamu mencaci penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran pada besi.” (HR. Muslim). Sehingga manusia tidak boleh mengeluh hingga berburuk sangka kepada Allah atas rasa sakit dari penyakit yang dideritanya.

Bahkan Rasulullah juga menyampaikan dalam hadis, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukin dari api neraka.” (HR. Al Bazzar).

2. Sakit dapat Mengugurkan Dosa

Hal ini sudah disampaikan dalam firman Allah, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Suura ayat 30).

Sehingga penyakit yang manusia derita bisa menjadi pengugur atas dosa yang telah diperbuat oleh manusia.

3. Sakit Membuat Kita Kembali Kepada Allah dan Senantiasa Mengingat Allah

Manusia yang sehat akan dapat terjerumus ke hal kemaksiatan yang mementingkan nafsunya, sehingga membuatnya lupa dengan Allah Swt.  Maka dari itu Allah memberikan penyakit kepadanya agar mereka ingat dengan Allah bahwa mereka hanyalah hamba yang lemah dan tidak berdaya di depan Allah Swt. Rasulullah juga telah menyampaikan, ”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka akan ditimpakan cobaan padanya.” (HR. Bukhari).

4. Sakit Menjadikan Sumber Kebaikan bagi Seorang Muslim Jika Dia Bersabar

Rasulullah bersabda, “Sesungguh menajubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika dia mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Referensi sbb ; Alasan Utama Allah Swt Memberikan Sakit Berupa Penyakit Kepada Tubuh Manusia












Psikosomatik: Saat Sakit Fisik Diakibatkan Stres

Mungkin pernah mengeluhkan penyakit umum seperti maag atau diare yang berkepanjangan. Namun ketika dikonsultasikan ke dokter, penyebabnya tidak ditemukan. Meski terdengar janggal, hal ini bisa dialami siapa saja. Dan lagi, penyakit psikosomatik yang sulit diketahui ini bisa jadi gejala gangguan pikiran yang kita sendiri belum menyadarinya.  Pada artikel kali ini, kita akan mengenali lebih jauh isu kesehatan khusus ini bersama dokter dari tim Jovee, Fala Adinda. Sehingga, nantinya kamu bisa lebih mengetahui bahwa penyakit fisik tidak hanya berasal dari faktor kesehatan tubuh tapi juga kesehatan mental.

Apa Itu Psikosomatik?

Psikosomatik diambil dari dua kata “psykho” yaitu pikiran dan “soma” yang berarti tubuh. Secara umum, psikosomatik merupakan penyakit fisik yang timbul karena gangguan pikiran, entah itu stres atau depresi. Seperti yang diungkapkan dr. Fala, “Penyakit-penyakit itu dia munculnya, akar penyebabnya itu bukan viral, bukan bakteri gitu, tapi memang pikiran kita sendiri.” Bahkan, psikosomatik tidak hanya memicu penyakit, tapi juga membuat penyakit yang sudah ada makin parah.

Contoh kasus penyakit psikosomatik adalah orang yang mengidap maag yang hebat, sampai ia mual dan muntah. Ia lalu memutuskan pergi ke dokter. Setelah diperiksa, dokter tidak menemukan ada yang salah darinya. Bahkan, ia sendiri menjalani pola makan yang normal dan jarang mengonsumsi makanan pedas.

Meski dokter sudah meresepkan obat untuk mengatasi masalah kesehatannya, orang yang sebenarnya menderita psikosomatik ini tetap akan kembali ke dokter dengan keluhan yang sama lagi. Jika kamu mendapati hal serupa dan sedang mengalami stres atau gangguan pikiran lain di saat yang sama, ada kemungkinan kamu sedang terjangkit masalah psikosomatik yang muncul dalam bentuk hampir semua penyakit.

Perbedaan Psikosomatik dengan Gejala Stres dan Waham Somatik

Perbedaan dengan Gejala Stres

Meski memang bisa diakibatkan stres, depresi, serangan panik, dan lain sebagainya, psikosomatik tidaklah sama dengan gejala stres. Namun, gejala stres, seperti mulas, mual, dan keringat dingin, bisa jadi tanda atau pemicu psikosomatik itu sendiri. Stres dan psikosomatik memiliki keterkaitan besar karena dari gangguan pikiran itulah gejala psikosomatik yang berupa penyakit fisik bisa terjadi, terlebih bila stres atau gelisah tersebut dialami secara terus-menerus.

Perbedaan pasien psikosomatik dan pasien dengan “mental illness” terletak dari tanda akan keluhan yang dimilikinya. Jika pasien mental illness hanya mengeluhkan penyakit berdasarkan halusinasinya, berbeda dengan pasien psikosomatik yang memang mengeluhkan penyakit atau gangguan fisik yang benar adanya dan sedang dia alami.

Pasien mental illness mungkin akan mengatakan kalau di dalam perutnya terasa seperti ada batu yang mengganjalnya tapi sebenarnya tidak. Sedangkan, pasien psikosomatik bisa benar-benar mengalami diare setiap 2 hari dan dokter tidak dapat menemukan penyebabnya.

Perbedaan dengan Waham Somatik

Pernyataan soal halusinasi tentang penyakit yang diidap mirip pula dengan waham somatik, dan kondisi ini tidaklah sama dengan psikosomatik. Waham somatik terjadi karena seseorang membayangkan seakan dirinya sedang terjangkit penyakit. Tapi, ketika diperiksa lagi tidak ditemukan penyakit yang dikeluhkannya.

Penyakit yang dikeluhkan pasien waham somatik hanya berasal dari pikirannya dan sebenarnya tubuhnya tidak merasakan apa yang dia pikirkan. “Misalnya, orang dengan waham datang, dia bilang, ‘Dok, saya gak suka sama kulit saya, kulit saya ini putih banget, dan itu tuh gatel di seluruh badan. Saya tuh ngerasa kayak kebakar badan saya.’ Tapi, kalau orang dengan psikosomatik, dia datang benar-benar dengan (kulit) bersisik, gatal. Gitu, itu bedanya,” jelas dr. Fala.

Faktor yang Menyebabkan Penyakit Psikosomatik

Ada banyak pemahaman mengenai bagaimana psikosomatik bisa terjadi. Namun, banyak dari pemahaman tersebut masih berupa teori. Hal ini pula yang coba dijelaskan dr. Fala, “Gangguan kejiwaan, mental illness, atau neurologis seperti itu tuh unik. Karena satu, kita tidak bisa menjelaskan secara pasti mengapa stres itu bisa bermanifestasi menjadi penyakit yang keluar seperti layaknya penyakit bakterial atau virus.”

Beberapa teori di antaranya menyebutkan bahwa stres menjadi penyebab munculnya zat-zat kimia tertentu yang menyimpan faktor inflamasi atau peradangan. Ada pula yang mengatakan kalau stres memiliki kaitan dengan peningkatan infus atau rangsangan saraf. Walau begitu, penyebab dari gejala psikosomatik masih belum bisa dipastikan.

Cara Diagnosis Psikosomatik

Psikosomatik memang sulit diketahui secara langsung kemunculannya dan dokter umum pun bisa melewatkan hal ini saat pemeriksaan. Sebab, psikosomatik sendiri sudah masuk ke bidang penyakit yang hanya bisa didiagnosa seorang psikiater atau psikolog. Dokter umum cuma dapat mengatasi masalah penyakit yang muncul di permukaan dengan meresepkan obat sesuai dengan keluhan yang diberikan pasien.

Meski begitu, bukan berarti pengidap psikosomatik tidak bisa mengenali akar masalah penyakit fisik yang diakibatkan gangguan pikirannya tersebut. Pengidap psikosomatik bisa mengenali sumber permasalahannya begitu ia sering mengalami penyakit yang sama namun begitu dikonsultasikan ke dokter hingga dites sekalipun penyebabnya tidak diketahui.

Ia bisa mulai mengaitkan penyakit yang dideritanya dengan stres, depresi, atau serangan panik yang mungkin muncul bersamaan dengan penyakit tersebut, terlebih jika ia sudah menjaga gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Karena hal inilah, salah satu cara ampuh untuk mengenal psikosomatik bagi penderitanya adalah dengan sadar diri atau introspeksi. “Artinya kita menyadari kekurangan kita. Kita menyadari bahwa kita under pressure. Kita menyadari bahwa kita tuh sedang stres berlebihan.” Dengan menyadari hal tersebut, kita juga akan terbuka dengan kemungkinan psikosomatik yang menyerang dan bisa melakukan perawatan maupun pencegahan.

Perawatan dan Pencegahan Psikosomatik

Setelah penderita psikosomatik tahu bahwa penyakit yang dideritanya ada keterkaitan dengan psikosomatik, ia bisa mengambil langkah untuk mengurangi masalah yang terjadi karena gangguan pikiran tersebut.

Ada satu cara sederhana yang dikemukakan dr. Fala di mana penderita psikosomatik dapat mengatasi akar penyakitnya. “Namanya adalah coping mechanism alias bagaimana cara mekanisme tubuh kita untuk meredam itu semua…Caranya beragam. Biasanya itu disesuaikan dengan pasiennya sendiri. Dia happy-nya gimana.”

Tindakan untuk meredam stres tersebut sepenuhnya berasal dari penderita psikosomatik itu sendiri dan kesadaran dirinya akan penyebab penyakit yang berupa stres beserta pemicunya (stressor). Ada orang yang mengetahui bagaimana menghadapi stres dengan melakukan pengendalian diri melalui meditasi atau aktivitas yang membuatnya senang sehingga dapat menurunkan tingkat stresnya.

Walau begitu, mengatasi penyebab psikosomatik bukan perkara mudah. Sebab, jika stressor tidak dapat ditangani, psikosomatik bisa jadi permasalahan yang dapat bertahan lama bahkan hingga bertahun-tahun. Dalam hal ini, ada orang yang menerima permasalahan stres dan penyakit yang muncul karenanya. Ia pun mengatasi akibat stres tersebut dengan obat-obatan.

Dalam kasus lainnya, ada orang yang belum bisa mengatasi masalah stresnya itu meski dia sudah paham stressornya. Maka dari itu, ia bisa datang meminta bantuan psikiater atau psikolog. Pemberian obat untuk menekan stres tersebut mungkin diperlukan. Kita bisa meminta dokter umum untuk memberi rujukan ke klinik khusus psikolog atau psikiater.

Keberadaan penyakit psikosomatik perlu dipahami, khususnya bagi orang yang sering mengalami penyakit fisik karena stres yang dideritanya. Penanggulangan stres pun menjadi hal penting yang perlu kita cari tahu jalan keluarnya, baik itu dengan cara kita sendiri atau meminta bantuan psikiater atau psikolog.

Referensi sbb : Psikosomatik: Saat Sakit Fisik Diakibatkan Stres















Mengenal Psikosomatis, Penyakit Fisik yang Disebabkan Pikiran

Gangguan fisik yang menimpa tubuh kita ternyata juga bisa disebabkan dan diperparah oleh kondisi mental atau emosional kita. Kondisi tersebut dikenal dengan nama psikosomatis. Gangguan psikosomatis atau psikologis-fisiologis ini bisa menyebabkan penyakit atau memperburuk penyakit yang sudah ada sebelumnya dalam diri seseorang. 

Penyakit psikosomatik berasal dari stres emosional dan bermanifestasi dalam tubuh sebagai rasa sakit fisik dan gejala lainnya. Banyak orang mengira kondisi psikosomatik adalah khayalan atau hanya ada dalam pikiran penderitanya. Padahal, gejala fisik dari psikosomatik itu nyata dan memerlukan perawatan seperti penyakit lainnya.

Gangguan fisik yang menimpa tubuh kita ternyata juga bisa disebabkan dan diperparah oleh kondisi mental atau emosional kita. Kondisi tersebut dikenal dengan nama psikosomatis. Gangguan psikosomatis atau psikologis-fisiologis ini bisa menyebabkan penyakit atau memperburuk penyakit yang sudah ada sebelumnya dalam diri seseorang. 

Penyakit psikosomatik berasal dari stres emosional dan bermanifestasi dalam tubuh sebagai rasa sakit fisik dan gejala lainnya. Banyak orang mengira kondisi psikosomatik adalah khayalan atau hanya ada dalam pikiran penderitanya. Padahal, gejala fisik dari psikosomatik itu nyata dan memerlukan perawatan seperti penyakit lainnya.

Hubungan mental dan penyakit fisik Selalu ada aspek mental pada setiap penyakit fisik. Bagaimana kita bereaksi terhadap penyakit dan bagaimana kita mengatasi penyakit sangat bervariasi dari orang ke orang. Misalnya ketika seseorang mengalami penyakit mental, mereka mungkin jadi tidak nafsu makan, malas beraktivitas, atau enggan mengurus diri sendiri. 

Akibatnya, beragam masalah atau penyakit fisik pun jadi mudah bermunculan. Beberapa penyakit fisik juga bisa ditimbulkan dan diperparah oleh stres dan kecemasan, seperti maag, penyakit jantung dan hipertensi. 

Depresi juga dapat berkontribusi pada penyakit psikosomatik, terutama ketika sistem kekebalan tubuh telah melemah oleh stres berat. Gejala fisik tersebut muncul karena meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Pelepasan hormon adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas. 

Beberapa riset juga membuktikan bahwa otak dapat memengaruhi sel tertentu dari sistem kekebalan tubuh, yang terlibat dalam berbagai penyakit fisik. Pengobatan Melansir laman Medical Net, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi gejala psikosomatis. Berikut cara tersebut: 

  1. Psikoterapi Dalam teknik pengobatan ini, dokter dan pasien memiliki interaksi tentang status mental dan gaya hidup yang dialami pasien. Interaksi ini membantu terapis untuk menganalisis penyakit mental tertentu yang diderita pasien, untuk menyediakan terapi yang tepat. Baca juga: Gangguan Lambung Kronis? Mungkin Psikosomatik. 
  2. Psikoanalisis Terapi ini digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan kecemasan. Ini adalah proses panjang yang melibatkan dua hingga lima sesi per minggu selama beberapa tahun. Dalam sesi terapi ini, dokter atau terapis akan membuat catatan tentang kenangan masa kecil pasien dan mimpi yang memiliki andil dalam kondisi mental pasien. 
  3. Terapi perilaku kognitif Terapi ini berfokus pada pemeriksaan pikiran dan keyakinan pasien yang memengaruhi kondisi mentalnya. Cara ini membantu untuk mengatasi perasaan pasien yang menyebabkan perubahan dalam perilakunya utnuk mengatasi situasi negatif seperti depresi, kemarahan, fobia, sakit kronis, dan sebagainya. 
  4. Terapi Electroconvulsive (ECT) Terapi ini biasanya diterapkan pada pasien dengan depresi berat dan kondisi mental lainnya. Sesi terapi melibatkan transisi arus listrik yang stabil melalui otak,untuk memicu aktivitasnya untuk meredakan gejala penyakit mental. ECT diberikan untuk jangka waktu satu bulan dengan interval tertentu. Terapi ini diklaim lebih aman dan lebih efektif dibandingkan pengobatan menggunakan obat-obatan. 
  5. Hipnoterapi Terapi ini menggunakan hipnosis atau rangsangan bawah sadar seseorang agar mudah diarahkan untuk memahami keadaan pikiran pasien. Hipnoterapi digunakan untuk mengobati gangguan terkait stres seperti insomnia dan kondisi lainnya, eksim, dan sebagainya. 
  6. Terapi abreaksi Terapi ini digunakan untuk menghilangkan emosi yang terkait dengan peristiwa traumatis. Durasi yang dibutuhkan untuk terapi ini lebih lama jika dibandingkan dengan terapi lain, dan tidak digunakan secara luas. 
  7. Terapi akupuntur Prinsip dasar terapi ini adalah menstimulasi titik-titik dalam tubuh dengan menggunakan jarum, untuk memperbaiki penyimpangan dalam aliran energi melalui saluran yang dikenal sebagai meridian. Terapi ini terutama digunakan untuk mengobati kecemasan dan depresi. Sesi terapi dapat bervariasi berdasarkan bantuan pasien dari faktor stres.
Nyatanya ada dua jenis stres di dalam hidup. Ada stres yang baik dan ada yang jahat. Stres yang baik adalah stres yang kamu masih bisa hadapi, dan membuatmu merasa senang. Contohnya stres saat menonton film horror atau adrenalin yang kamu rasakan setelah menyelesaikan suatu proyek. Stres baik ini memicu kita untuk semangat dan menjadi lebih baik, disebut juga dengan eustress.

Namun, ada juga stres yang buruk, yaitu distress. Jenis stres satu ini terjadi ketika kamu terlalu banyak menyimpan tekanan hidup di dalam dirimu, tanpa “mengeluarkan uneg-uneg” kamu sehingga menumpuk. Akhirnya stres yang satu ini menjadi racun dalam tubuhmu dan bahkan bisa membuat kamu lebih rentan terkena penyakit. 

Terlalu lama mengalami stres tanpa adanya waktu untuk beristirahat, curhat, atau sekedar bersantai dapat mempengaruhi otak dan melepaskan hormon adrenalin secara terus-menerus yang menyebabkan gejala fisik yang sudah disebutkan. Di bawah tekanan, otak juga dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga juga menyebabkan kita rentan terkena risiko penyakit fisik.

Tips cara mengatasi psikosomatis
Tidak perlu khawatir karena gangguan psikosomatis bisa disembuhkan. Namun, memang penyembuhannya membutuhkan waktu. Hal ini dikarenakan kamu harus belajar cara mengelola stres yang kamu alami, tapi di saat yang sama harus mengobati penyakit yang kamu derita.

Ibarat bila ada bendungan bocor dan terjadi banjir, maka kamu harus memperbaiki bendungan. Namun, di saat yang bersamaan, kamu juga harus mengatasi efek sampingnya (banjir yang terjadi).
Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk membantu mengatasi gangguan psikosomatis:
  1. Konseling untuk membantu mengelola stres
  2. Melakukan meditasi atau teknik relaksasi
  3. Mencoba menulis jurnal (journaling)
  4. Psikoterapi, seperti terapi CBT (Cognitive Behavior Therapy)
  5. Hipnoterapi
  6. Berkonsultasi pada ahli psikosomatis
  7. Mengkonsumsi obat berdasar resep dokter, seperti anti depresan
Dengan mencoba hal-hal berikut secara terus-menerus, maka kamu pun akan bisa mengatasi gangguan psikosomatis kamu dan membiasakan diri untuk mengelola stres dengan baik. Bagaimana cara mencegah gangguan psikosomatis? Kamu bisa melakukan ini dengan mencegah “pemicu” yang membuat stres berkembang menjadi penyakit fisik. Biasakan untuk mengelola stres dan perasaan kamu lebih baik. Mengalami tekanan itu biasa, yang perlu kamu atur adalah memberi dirimu istirahat agar kamu tidak merasa kewalahan.

Mulailah kebiasaan baik yang membuat kamu merasa lebih baik akan dirimu sendiri, seperti makan dan minum yang cukup, istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, serta menceritakan masalahmu kepada orang di sekitarmu ketika kamu merasa terlalu negatif.



Referensi ; Mengenal Psikosomatis, Penyakit Fisik yang Disebabkan Pikiran









Kenali 8 Jenis Keluhan Psikosomatik dan Cara Penanganannya

Banyak kasus pasien berkunjung ke dokter dengan berbagai keluhan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, dokter tidak menemukan adanya indikasi penyakit secara medis. Kondisi ini kemudian disebut dengan psikosomatik. Psikosomatik berasal dari kata Psiko yang berarti mental atau Kejiwaan dan Somatik yang berarti fisik atau tubuh. Dengan demikian psikosomatik adalah sekumpulan gejala yang dirasakan oleh seseorang pada tubuhnya akibat pengaruh faktor pikiran atau mental.

“Diagnosa ‘normal’ itu kadang melegakan hati pasien sesaat, tapi tak jarang justru membuat mereka kebingungan,” kata dokter I Wayan Mustika, S. Ked, Dr kepada, pasien masih merasakan gejala sakit pada tubuh yang makin menyiksa pikiran dan mentalnya. Inilah kemudian yang menjadi biang pencetus masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dokter Wayan Mustika menjelaskan betapa rumitnya dampak dari pikiran terhadap emosi, serta efeknya secara langsung atau tidak langsung terhadap fisik dalam bentuk gejala penyakit.  Memahami soal psikosomatik sangatlah perlu bagi siapa pun di kehidupan ini untuk berhati-hati mengelola stres dalam kehidupan sosial dan pribadinya. Sebab, stres emosi dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit dalam berbagai derajat, mulai yang ringan sampai berat.

Fokus penanganan pasien psikosomatik adalah penanganan pada pikiran, karena penyebabnya bersumber dari pikiran. “Kita adalah motivator terbaik untuk pikiran kita sendiri,”

1. Keluhan pada sistem pencernaan

Penderita psikosomatik paling banyak datang dengan keluhan penyakit lambung (mag). Paling ringan adalah karena efek dari asam lambung yang meningkat. Gejalanya antara lain rasa penuh di ulu hati, mual sampai muntah, kembung, sendawa.

Apabila kondisi ini berlanjut bisa menyebabkan radang sampai borok pada lambung dengan gejala yang lebih terasa, misalnya nyeri atau eneg di ulu hati sebelum atau sesudah makan. Rasa nyeri ini kadang bisa tembus ke punggung. Dampak lain dari gejala maag ini menyebabkan sakit kepala dan pusing.

2. Keluhan pada sistem jantung dan pembuluh darah

Pasien yang mengalami gejala pada sistem ini seringkali mengeluh jantung yang berdebar-debar disertai keringat dingin. Gejala ini bisa muncul pada saat kaget atau pikiran mulai mengalami suatu kecemasan, bahkan bisa juga muncul tanpa dipicu sebab tertentu.

Sering juga terasa muncul denyutan jantung yang tidak biasa atau tidak harmonis. Ketika diperiksa dengan alat periksa jantung seringkali tidak menunjukkan adanya kelainan yang khas.

Pada pembuluh darah sering terjadi ketegangan sehingga terjadi peningkatan ringan sampai sedang pada tekanan darah. Meningkatnya tekanan darah (hipertensi) ini bisa turun dengan cepat tanpa obat ketika pasien mulai bisa menenangkan dirinya.

Gejala yang muncul akibat perubahan peredaran darah karena gangguan kecemasan pikiran ini di antaranya berdebar, wajah panas memerah, keringat dingin, tensi darah meningkat, pusing atau terasa tidak seimbang, sampai muncul gejala mual dan muntah.

5. Keluhan pada sistem hormon

Berbagai kelainan pada hormon tiroid seperti hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), hipotiroid (kekurangan) atau tirotoksikosis (keracunan hormon tiroid) akan memberikan berbagai gejala. Rasa cemas, mudah marah, mudah curiga, rasa seperti leher tercekik atau terikat, rasa takut tanpa sebab yang jelas, sulit tidur, mimpi buruk dan gugup.

Keluhan-keluhan ini sering diikuti gejala hiperaktivitas saraf otonom seperti keringat banyak, mulut kering, pupil lebar, kulit pucat, nadi cepat dan sebagainya.Gejala kencing manis (DM) dan anoreksia nervosa (tidak mau makan) dapat merupakan penyakit hormonal akibat faktor pikiran yang cukup sulit diatasi jika tidak dilakukan dengan tepat.

6. Keluhan pada sistem otak dan saraf

Keluhan sakit kepala sebelah atau migren, pusing (rasa berputar), kaku pada leher, kesemutan, nyeri kronis akibat stres emosional adalah berbagai dampak emosi pada sistem saraf. Selain itu tangan mudah gemetar (tremor), gangguan konsentrasi, rasa kelemahan otot dan sebagainya dapat merupakan gejala psikosomatik pada sistem saraf. Murung, selalu merasa dingin pada tubuh kadang dapat dijumpai pada pasien.

7. Keluhan pada sistem otot dan tulang

Nyeri pada persendian, reumatik, kaku leher, kaku otot pinggang dan punggung, nyeri pada tulang dapat berkaitan dengan faktor psikis.

8. Keluhan pada sistem imunitas (kekebalan)

Penurunan kekebalan tubuh terhadap berbagai infeksi mudah terjadi pada pasien-pasien psikosomatik. Ini karena sel-sel kekebalan tubuh mengalami berbagai perubahan. Munculnya pertumbuhan sel-sel ganas atau kanker merupakan efek berat dari penyakit psikosomatik pada sistem imunitas.

Penanganan Psikosomatik

Penanganan atau Terapi Psikosomatik

Secara umum ada 3 aspek yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan pasien psikosomatik; 

  1. Aspek Bio-Organik;
  2. Aspek Psiko- Edukatif; dan
  3. Aspek Sosio-Kultural.

Berikut penjelasannya.

1. Aspek Bio-Organik

  • Pemeriksaan fisik secara lengkap dan teliti dapat membuktikan ada tidaknya penyakit fisik yang bermakna medis. Ini dapat mengurangi atau menghilangkan kesan bahwa pasien mengalami penyakit yang berat atau tak terobati.
  • Mengobati kelainan fisik atau cacat bawaan dapat menghilangkan perasaan rendah diri dan stres emosional pasien.
  • Penggunaan obat-obatan sesuai keluhan fisik yang dirasakan, serta untuk keluhan emosional seperti cemas, gelisah, gangguan tidur, depresi dan lainnya yang dialami penderita.
  • Mengajarkan kebiasan hidup yang sehat seperti kerja, istirahat, makan, hobi dan sebagainya.

2. Aspek Psiko-Edukatif

  • Menciptakan hubungan dokter-pasien yang yang nyaman sehingga timbul suasana kepercayaan dari pasien kepada dokter atau penyembuhnya.
  • Ventilasi. Memberi kesempatan mengutarakan atau mengeluarkan emosi- emosi yang lama terpendam di pikiran bawah sadar, dapat dengan cepat mengurangi gejala penyakit.
  • Re-edukasi. Dengan menggunakan intelegensi dan rasio pasien, dapat diberikan keyakinan, pengertian dan pemahaman baru yang lebih bermanfaat mengenai sebab-sebab penyakitnya atau cara-cara menghadapi stresor dalam kehidupan ini.

-> Agama. Membantu pasien melihat persoalan-persoalan, konflik-konflik batinnya dari sudut agama atau spiritualitas agar semakin mampu berpikir positif di masa depan.

3. Aspek Sosio-Kultural

  • Memperbaiki kondisi sosial ekonomi dapat membantu mengatasi berbagai stres yang muncul oleh faktor ekonomi. Membantu mencari jalan keluar dari permasalahan ekonomi, memberi saran-saran, motivasi dan menjelaskan kemungkinan-kemungkinan dari pilihan hidup dapat memberi nilai positif bagi pasien di masa depan.
  • Meningkatkan kemampuan pasien menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  • Memperbaiki cara pandang lingkungan sosial atau keluarga terhadap pasien sehingga dapat ikut membantu kesembuhan pasien.

Referensi : Kenali 8 Jenis Keluhan Psikosomatik dan Cara Penanganannya













Taubat Nasuha dan Tanda-tanda Allah Swt Menerima Taubat

Taubat Nasuha dan Tanda-tanda Allah Swt Menerima Taubat. Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, baik dosa kepada sang Khaliq (Allah Maha Pencipta) maupun dosa kepada makhluk-Nya. Setiap anggota tubuh manusia pernah melakukan kesalahan dan dosa. Mata sering melihat yang haram, lidah sering bicara yang tidak benar, berdusta, melaknat, sumpah palsu, menuduh, membicarakan aib sesama muslim (ghibah), mencela, mengejek, menghina, mengadu-domba, memfitnah, dan lain-lain. 

Dosa dan kesalahan akan berakibat keburukan dan kehinaan bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.Karena itu, setiap muslim dan muslimah tidak boleh lepas dari istighfar (minta ampun kepada Allah) dan selalu bertaubat kepada-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali. Bahkan dalam suatu hadis disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ampun kepada Allah seratus kali dalam satu majelisnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ، رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ الرَّحِيْمُ.

“Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,”Kami pernah menghitung di satu majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seratus kali beliau mengucapkan, ‘Ya Rabb-ku, ampunilah aku dan aku bertaubat kepadaMu, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang’.”(Sunah Nasa'i) Bertaubat juga salah satu perintah Allah Ta'ala untuk hamba-Nya. Taubat ini adalah jalan yang ditunjukkan oleh Allah Ta’ala sebagai sarana agar para hamba-Nya memperbaiki diri atas dosa, maksiat, dan kesalahan yang telah mereka perbuat. 

Allah Ta’ala berfirman,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا 

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim : 8). 

Oleh karena itu, taubat merupakan ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak keutamaan. Allah perintahkan hamba-Nya untuk taubat nasuha. Apa Maksud Taubat Nasuha? Bila dilihat secara bahasa, نصح (na-sha-kha) artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain). Sesuatu disebut (الناصح) (an-naashikh), jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni atau sejenisnya. Di antara turunan kata نصح adalah النصيحة(an-nashiihah). (Lihat Lisaanul ‘Arab, 2/615-617). 

Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelaku taubat tersebut memurnikan, ikhlas (hanya semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar (jujur). Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, 

أَيْ تَوْبَةً صَادِقَةً جَازِمَةً تَمْحُو مَا قَبْلَهَا مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَتَلُمُّ شَعَثَ التَّائِبِ وَتَجْمَعُهُ وَتَكُفُّهُ عَمَّا كَانَ يَتَعَاطَاهُ مِنَ الدَّنَاءَاتِ. 

“Yaitu taubat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim). 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, 

فَالنُّصْحُ فِي التَّوْبَةِ وَالْعِبَادَةِ وَالْمَشُورَةِ تَخْلِيصُهَا مِنْ كُلِّ غِشٍّ وَنَقْصٍ وَفَسَادٍ، وَإِيقَاعُهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ 

“An-nush-khu dalam taubat, ibadah, dan nasihat artinya memurnikan perkara-perkara tersebut dari semua kotoran, kekurangan, dan kerusakan. Seseorang melaksanakannya dalam bentuk yang paling sempurna.” (Madaarijus Saalikiin). Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, 

وقيل: هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان: أحدهما- لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه 

“Dikatakan, (taubat nasuha) diambil dari kata ‘an-nashahah’, yaitu ‘jahitan’. Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha. Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya. Sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). 

Maknanya, bahwa pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan taubatnya dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai macam amal ketaatan. Hal ini sebagaimana jahitan yang menyempurnakan (memperbaiki) pakaian, menguatkan, dan merapikannya. Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan sisi yang lain istilah taubat nasuha sesuai dengan makna bahasa di atas. Beliau rahimahullah berkata, 

والثاني- لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم، كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض. 

“Sisi yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah, dan merekatkannya. Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi lainnya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). 

Tanda-Tanda Taubat Nasuha Di antara tanda-tanda taubat nasuha,Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya "A'mal al-qulub au al-Maqamat wa al-Ahwal" menjelaskan, ketika seorang mukmin berbuat kejelekan maka siksanya dapat tertolak karena 10 hal berikut ini, yakni : 

  1. Ia hendaknya bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan barang siapa yang telah bertaubat, maka ia seperti orang yang tidak ada dosanya lagi. 
  2. Ia meminta ampun dan Allah akan mengampuninya 
  3. Ia berbuat kebaikan karena perbuatan yang baik akan dapat menghapus kejelekan. 
  4. Ia telah didoakan oleh teman-temannya dan mereka memohonkan ampun untuknya baik setelah ia meninggal maupun sebelumnya. 
  5. Dengan pahala amal yang mereka miliki, mereka mengarahkannya menuju hal-hal yang bermanfaat 
  6. Ia telah diberi syafaat oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam 
  7. Allah telah menurunkan kepadanya cobaan-cobaan yang dapat melebur kejelekannya. 
  8. Allah di alam barzah telah menurunkannya kepadanya cobaan berupa petir, sehingga kejelekannya terhapus. 
  9. Pada hari kiamat nanti, ia akan diberi siksaan yang bisa melebur kejelekan-kejelekan yang ia miliki 
  10. Ia akan dikasihi oleh Allah Ta'ala, Zat Yang Paling Mengasihi di antara orang-orang yang dikasihi.

Barangsiapa yang tidak mendapatkan 10 hal di atas, maka jangan engkau mencela. Sebagaimana Allah Ta'ala telah menceritakannya melalui hadis Nabi Shalllallahu alaihi wa sallam," "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah amal-amalmu yang telah Aku hitung untuk kalian, lalau Aku memberikannya kepada kalian. Oleh karena itu, barangsiapa yang menemukan kebaikan, maka hendaknya ia memuji Allah dan barangsiapa yang tidak menemukan kebaikan, maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri," (HR Muslim dan hadis Abu Dzar al-Ghifari) 

Jika tanda-tanda taubat nasuha sudah diketahui, maka inilah tanda bahwa taubat kita diterima oleh Allah Ta'ala. Berikut ciri-cirinya: 

1. Hati lebih tenang dan tentram 

2. Lebih senang berkumpul dengan orang-orang saleh/saleha Kemudian tanda taubat seseorang diterima oleh Allah adalah mulai banyaknya teman-teman yang saleh dan saleha di sekitarnya, artinya ia sudah tidak lagi nyaman untuk berteman dengan teman-temannya yang dahulu saat ia melakukan banyak dosa dan maksiat. Allah Ta'ala berfirman:

 ٱلتَّٰٓئِبُونَ ٱلۡعَٰبِدُونَ ٱلۡحَٰمِدُونَ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ٱلۡأٓمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١١٢ 

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku´, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS at-Taubah : 112) 

3. Lebih menyibukkan diri dengan kewajiban dan ibadah terhadap Allah SWT 4. Lebih Banyak Bersyukur Bersyukur adalah kunci utama dari kebahagiaan serta ketakwaan seseorang. Oleh karena itu semakin Allah menerima taubat yang dilakukan manusia maka akan semakin besar kesadaran diri akan kebesaran Allah dan akan semakin besar pula rasa syukur atas nikmat – nikmat yang senantiasa Allah berikan kepadanya. Allah Ta'ala berfirman: 

۞أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَهُمۡ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُواْ ثُمَّ أَحۡيَٰهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ٢٤٣ 

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Al-Baqarah : 243) 

5. Akhlaknya semakin baik Seseorang yang bertaubat pastinya berupaya untuk memperbaiki akhlaknya dan Allah akan senantiasa meringankan hati hamba-Nya yang bertakwa sehingga akhlaknya terus-menerus menjadi lebih baik di setiap waktunya. Allah berfirman : إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ٤٦ "Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. Sad : 46) 

6. Senang bersedekah 

7. Menjaga penampilan / aurat Allah Ta'ala akan senantiasa membimbing hati hamba-Nya yang benar – benar ikhlas dalam bertaubat sehingga semakin istiqamah dalam menjaga penampilan dan auratnya maka semakin besar pula kemungkinan bahwa taubatnya telah diterima oleh Allah SWT Karena untuk istiqamah menjaga penampilan sebagai seorang muslim yang taat tidaklah mudah. Allah berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab : 59) 

8. Menjaga sikap dan ucapannya 

9. Masih merasa penuh dosa dan terus berupaya memperbaiki diri Yang paling utama dari syarat bertaubat adalah menyadari dan menyesali dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Kemudian setelah ia memperbaiki diri dan terus bertaubat ia tidak akan pernah merasa cukup akan ibadah yang telah ia lakukan seakan dosanya masih terus ada, entah itu adalah dosa yang telah lalu ataupun dosa yang baru dilakukan.

Referensi : Taubat Nasuha dan Tanda-tanda Allah Swt Menerima Taubat