This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 04 Agustus 2022

Kelalaian Yang Membinasakan

Kelalaian Yang Membinasakan. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia Muhammad saw

Wa ba”d: Allah berfirman: Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka, sedang mereka ada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya) (Al-Anbiya”: 1)

Orang yang memperhatikan keadaan manusia pada zaman sekarang ini akan dapat melihat betapa tepatnya ayat ini dengan kenyataan yang ada. Mereka berpaling dari minhaj Allah serta lalai dari urusan akhirat dan tujuan mereka diciptakan. Mereka merasa seolah-olah tidak diciptakan untuk beribadah, melainkan untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsunya. Mereka berfikir tentang dunia, mereka mencintai karena dunia, dan meraka bekerja demi dunia. Mereka saling bersaing, bermusuhan bahkan saling membunuh hanya karena dunia.

Itu semua telah menyebabkan mereka meremehkan dan mengabaikan perintah-perintah Rabbnya. Bahkan sebagian mereka ada yang sudah berencana untuk meninggalkan shalat atau menunda hingga akhir waktu karena ada urusan pekerjaan atau menyaksikan pertandingan, atau karena janji dan lain sebagainya.!!

Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki porsi di hati mereka. Pekerjaan, perdagangan, olahraga, perjalanan, film-film, sinetron, lagu dan musik, makan, minum, tidur, dan semuanya memiliki tempat tersendiri dalam hatinya kecuali Al-Qur”an dan perintah-perintah agama.

Engkau lihat bahwa salah seorang dari mereka begitu cerdas dan pandai dalam perkara dunia, akan tetapi si cerdas yang miskin ini tidak dapat mengambil manfaat dari kepandaian dan kecerdasannya itu pada perkara yang bermanfaat baginya di akhirat kelak. Kepandaiannya tidak menuntunnya menuju jalan hidayah dan istiqamah di atas agama Allah yang padahal di sanalah dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh inilah bentuk terhalangnya seseorang dari merasakan kebahagian hakiki.

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar-Rum: 7)

Kita katakan kepada mereka yang senantiasa tenggelam dalam kezhaliman, dosa, dan kemaksiatan bahwa mereka ini boleh jadi tidak mempercayai adanya neraka, atau meyakini bahwa neraka diciptakan untuk selain mereka. Mereka telah lupa akan hari perhitungan dan hari pembalasan dan mereka pura-pura buta akan apa yang terpampang di hadapan mata berupa kedahsyatan, kesulitan dan kengeriannya.

Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan) (Al-Hijr: 72)

Mereka sibuk mengurusi kenyamanan dan kebahagian fisik mereka di dunia yang fana dan mereka mengabaikan kebahagiaan dan kenyamanan di akhirat yang kekal selamanya. Betapa semangatnya mereka mengejar harta. Betapa seriusnya mereka dalam bekerja. Dan betapa telatennya mereka memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi, mempelajari urusan agama, memahami, mengamalkan, dan berpedoman padanya adalah perkara yang paling akhir yang dipikirkannya. Itupun kalau mereka masih punya sisa waktu dari kesibukannya mengejar dunia.

Waktu mereka habis tanpa faidah. Bahkan mayoritasnya dihabiskan pada hal yang diharamkan dan melanggar yang diwajibkan. Mereka melakukannya dengan dalih mencari kesenangan dan kebahagiaan. Padahal apa yang mereka lakukan ini sama sekali tidak akan mengantarkan melainkan kepada kesengsaraan. Sadar atau tidakkah mereka itu dengan firman Allah swt:

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 124)

Sampai-sampai keadaan umumnya mereka seperti yang dikatakan oleh seorang penyair:

Siangmu kau habiskan dalam kelalaian wahai orang yang tertipu

Dan malammu kau habiskan untuk tidur di dalam selimutmu

Engkau sibuk dengan hal-hal yang tidak akan akan engkau sukai akibatnya

Dan di dunia, engkau hidup tak ubahnya seperti binatang

Kesadaran mereka akan dosa telah mati dan kesadaran mereka akan segala kekurangan pun telah tiada. Sampai-sampai mereka mengira sedang berada di atas kebaikan, bahkan tidak terlintas sedikitpun di benaknya betapa minimnya dia menunaikan kewajiban. Hanya semata-mata menjaga pokok agama dan shalat, mereka merasa telah berada dalam kabaikan yang besar. Mereka mengira telah menghimpun Islam dan surga menanti kehadirannya di ujung sana. Mereka telah melupakan ratusan bahkan ribuan dosa dan maksiat yang dilakukan siang dan petang. Ghibah, dusta, melihat yang haram, makan yang haram, mencukur janggut, isbal, dan kamaksiatan lainnya yang mereka anggap remeh telah mereka lupakan. Mereka menyangka itu semua tidaklah berbahaya dan tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam kerugian dan kebinasaan di dunia dan di akhirat.

Tidakkah mereka sadar akan sabda Nabi saw:

Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil. Sesungguhnya dosa kecil itu apabila telah terkumpul maka akan membinasakan pelakunya

Ditambah dengan dosa-dosa besar bahkan termasuk yang paling besar seperti riba, zina, liwath, suap, dan semisalnya. Tidakkah mereka sadar?!

Sungguh mengherankan! Tidakkah mereka bosan dengan hidup seperti itu? Tidakkah mereka bertanya kepada diri sendiri, apa yang ada di akhir hidup nanti? Apakah yang ada setelah kelezatan dan tenggelam dalam syahwat ini? Apakah mereka lalai dengan apa yang ada di balik itu semua…. Apakah mereka lalai akan kematian, perhitungan, qubur, shirat, neraka dan adzab? Tidakkah terbayang oleh mereka kengerian dan kedahsyatan itu semua? Telah lenyap kelezatan dan tersisalah akibat yang menyakitkan. Tenggelam dalam syahwat mewariskan penyesalan dan kerugian yang mendalam. Kesenangan yang sedikit namun membuahkan adzab yang pedih serta ratapan di dasar Jahannam. Adakah orang berakal yang mau mengambil pelajaran?! Adakah dia yang mau mentadabburi dan beramal untuk tujuan apa dia diciptakan dan mempersiapkan diri dengan apa yang akan disongsong di depan?!!

Gemerlapnya dunia dan mudahnya mencari kesenangan dunia telah membuat buta mata mereka yang miskin dan terbuai dalam kelalaian ini. Sungguh mereka akan sangat menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan apabila terus menerus dalam kelaian, tenggelam dalam permainan dan senda gauraunya ini. Mereka tidak akan sanggup untuk bangun dari kelalaian itu dan tidak akan bertaubat kepada rabbnya Yang Mahatinggi.

Allah berfirman tentang mereka itu:

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr: 3)

Yakni biarkan mereka hidup seperti binatang yang tidak memikirkan apa-apa kecuali makan, minum, pakaian, dan mencari pasangan. Belum tibakah saatnya bagi setiap muslim untuk mengetahui hakikat hidup dan untuk tujuan apa dia diciptakan?

Saudaraku yang membaca tulisan ini! Diamlah sejenak bersama tulisan ini. Introspeksi dirilah, Tanya pada dirimu dan lihat bagaimana engkau dalam kehidupan ini. Apakah dirimu seperti mereka yang lalai dan tenggelam dalam permaianan dan senda gurau itu atau tidak? Apakah engkau telah berada di atas jalan yang benar yang akan mengantarkanmu kepada keridlaan Allah dan surga-Nya yang penuh kenikmatan? Atau apakah engkau mencari jalan yang sesuai dengan ambisi dan syahwatmu meskipun di dalamnya mengandung kesengsaraan dan kebinasaan? Lihatlah dua jalan ini wahai saudaraku. Sungguh ini bukanlah perkara yang remeh. Demi Allah ini adalah perkara yang besar dan perlu keseriusan. Saya yakin bahwa tidak ada yang lebih berharga di sisimu dari dirimu sendiri, maka bersungguh-sungguhlah untuk menyelamatkannya dari neraka dan murka Allah yang keras siksa-Nya.

Lihatlah saudaraku bagaimana engkau menyikapi perintah Allah dan Rasul-Nya saw? Apakah engkau mengamalkan dan merealisasikannya dalam kehidupan atau engkau mengabaikannya dan hanya mengambil sebagian yang sesuai dengan ambisi dan nafsumu semata?

Agama ini tidak bisa dipecah-pecah. Iltizam(berpegang) pada sebagian urusannya dan meninggalkan yang lainnya dianggap sebagai penghinaan, meremehkan, dan mempermainkan perintah Allah swt. Sangatlah tidak layak bagi seorang muslim untuk berbuat demikian. Sungguh Allah telah melarang hal itu dan mengancam pelakunya dengan adzab yang pedih.

Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan di dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat. (Al-Baqarah: 85)

Muslim yang sejati waktunya habis untuk beribadah. Agama baginya bukanlah hanya sekedar simbol ibadah. Ditunaikan kemudian hidup dalam kehidupan yang tanpa agama dan tanpa ibadah. Yakni kehidupan dengan makanan yang haram, minum yang haram, mendengar yang haram, melihat yang haram, bicara yang haram, dan berbuat yang haram!! Sungguh mereka yang berbuat demikian berarti tidak faham hakikat Islam yang di emban dan dia dambakan.

Saudaraku! Wahai yang tenggelam dalam kemaksiatan, sampai kapankah kelalaian ini akan berlangsung? Sampai kapankah engkau berpaling dari Allah? Tidakkah tiba saatnya engkau bangun dan bangkit dari kelalaian ini? Belum tibakah saatnya hati yang keras ini menjadi lunak dan khusyu” kepada rabb semesta alam?

Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). (Al-Hadid: 16)

Segeralah bertaubat dan semangatlah! Tidakkah engkau ingin menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang bertaubat? Tidakkah engkau menginginkan apa yang mereka inginkan? Apakah engkau merasa lebih kaya dan tidak butuh kepada apa yang mereka dambakan berupa pahala di sisi Allah? Apakah mereka takut kepada Allah sementara engkau merasa kuat sehingga tidak takut kepada-Nya?

Tidakkah engkau menginginkan surga saudaraku? Bayangkanlah engkau bisa melihat wajah Rabbmu Yang Mulia di surga. Bayangkanlah engkau bisa berjabat tangan dengan makhluk yang paling mulia Muhammad saw, engkau menciumnya, dan duduk bersamanya serta bersama para nabi dan shahabat lainnya di surga.

Allah berfirman:

Dan barangsiapa yang menta”ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. (An-Nisa: 69)

Bayangkanlah dirimu ada dalam puncak kebahagianan di surga “Adn yang mengalir di bahwanya sungai air, sungai susu, dan sungai madu, serta bidadari berparas ayu nan cantik jelita bagaikan mutiara. Di dalamnya engkau bisa mendapatkan apa yang engkau inginkan. Bayangkanlah semuanya ini, surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kemudian bayangkanlah juga olehmu neraka, panasnya, luasnya, dalamnya, kedahsyatan dan kengeriannya. Adzab yang diderita oleh penghuninya berlangsung terus tanpa henti.

Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan):

“Rasakanlah adzab yang membakar ini.” (Al-hajj: 22)

Bayangkanlah semua itu mudah-mudahan akan membantumu untuk segera bertaubat kembali kepada Allah. Demi Allah, engkau selamaya tidak akan pernah menyesal karena taubat. Bahkan engkau akan mendapatkan kebahagiaan dengan izin Allah di dunia dan di akhirat dengan kebahagian yang sebenarnya. Berusahalah mulai hari ini untuk menempuh jalan tersebut dan janganlah menyerah. Bukankah engkau senanitasa membaca dalam shalatmu:

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Al-Fatihah: 6)?

Maka selama engkau menghendaki jalan yang lurus, mengapa engkau tidak menempuh dan menelusurinya!!

Saudaraku hati-hatilah kalian jangan sampai tertipu oleh dunia dan condong kepadanya. Hati-hatilah engkau untuk menjadikan dunia sebagai cita-cita dan tujuan hidupmu. Sungguh setiap kali engkau melewati detik demi detik dari hidupmu ini dan engkau merasakan kenikmatannya, berarti engkau pergi meninggalkannya. Maka sangatlah disesalkan apabila kematian datang menjemputmu sementara engkau belum sempat bertaubat.

Sangatlah disayangkan ketika engkau diseru untuk betaubat engkau tidak menyahutnya. Jadilah engkau orang yang cerdas yang bisa berfikir dan beramal untuk apa yang akan dihadapi. Di depanmu telah menanti kematian dan sakaratnya, qubur dan kegelapannya, padang mahsyar berikut kedahsyatannnya. Engkau akan berdiri dihadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang telah engkau kerjakan, baik kecil ataupun besar. Maka persiapkanlah jawaban untuk itu

Maka demi Tuhanmu, Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu. (Al-Hijr: 92-93)

Demi Allah, tidaklah pantas sama sekali bagi seorang yang berakal untuk bermain-main dalam kesia-sian di dunia ini serta bermaksiat kepada Allah swt. Sungguh tidaklah pantas bagi yang berakal melakukan semua itu sementara di hadapannya telah menanti kengerian dan kedahsyatan siksa Allah. Sungguh merupakan kesempatan besar yang Allah karuniakan kepadamu dengan hidupnya engkau sampai detik ini. Allah masih memberikan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Maka pujilah Allah karenanya. Janganlah engkau sia-siakan kesempatan yang ada. Segeralah bertaubat selama engkau masih hidup dan selama kematian belum datang menjemput. Ingatlah mereka yang telah keluar dari dunia karena engkaupun akan keluar dari dunia ini juga. Akan tetapi engkau sekarang masih berada di negeri amalan dan masih punya kesempatan bertaubat dan beramal. Adapun mereka, mayoritas mereka sangat berharap untuk bisa bertaubat dan kembali kepada Allah akan tetapi keadaan mereka mengatakan:

Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. (Al-An”am: 31).  Maka hati-hatilah jangan sampai berbuat kesalahan sehingga engkau akan menyesal pada hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan. Selamatkanlah dirimu dari neraka selama kesempatan itu masih ada di tanganmu dan sebelum engkau berkata: Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. (Al-Mu”minun: 100)

Referensi : Kelalaian Yang Membinasakan









Qur'an Surah Muhammad Ayat 19

Ilustrasi gambar : Qur'an Surah Muhammad Ayat 19

فَاعۡلَمۡ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ‌ ؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوٰٮكُمۡ

Fa'lam annahuu laaa ilaaha illal laahu wastaghfir lizambika wa lilmu'miniina walmu'minaat; wallaahu ya'lamu mutaqallabakum wa maswaakum

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.

Tafsir

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha kamu mencari bermacam-macam keperluan hidupmu di dunia dan mengetahui tempat tinggalmu untuk beristirahat setelah engkau bekerja sepanjang hari.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, apabila ia telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman, serta azab yang akan diperoleh oleh orang-orang kafir di akhirat, untuk berpegang teguh kepada agama Allah yang dapat mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Beliau juga diperintahkan untuk memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya dan dosa-dosa orang beriman, selalu berdoa dan berzikir kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali memberi kesempatan kepada setan untuk melaksanakan maksud buruknya kepada beliau.

Sebuah hadis sahih mengatakan, Rasulullah saw selalu berdoa:

Wahai Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebih-lebihan, dan dosaku yang lebih Engkau ketahui daripadaku. Wahai Allah, ampunilah dosa perkataanku yang tidak serius dan perkataanku yang sungguh-sungguh, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua yang ada padaku." (Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari)

Rasulullah sering berdoa pada akhir salatnya, sebelum mengucapkan salam:

Ya Allah, ampunilah dosaku yang terdahulu dan yang terkemudian, yang tersembunyi dan yang tampak, serta perbuatanku yang berlebihan dan dosaku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkau Tuhanku, tak ada tuhan selain Engkau." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas)

Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu maka sesungguhnya aku pun mohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (Riwayat Muslim)

Abu Bakar as-shiddiq berkata, "Hendaklah kamu membaca, "La ilaha illallah dan istigfar." Bacalah keduanya berulang kali, maka sesungguhnya Iblis berkata, "Aku membinasakan manusia dengan perbuatan dosanya, dan mereka membinasakanku dengan membaca La ilaha illallah dan istigfar, maka ketika aku mengetahui yang demikian, mereka aku hancurkan dengan hawa nafsunya, mereka mengira mendapat petunjuk." (Riwayat Abu Ya'la).

Dalam satu atsar diterangkan perkataan Iblis, "Demi keperkasaan dan keagungan-Mu, wahai Tuhan, aku senantiasa memperdaya mereka selama nyawa mereka dikandung badan." Lalu Allah berfirman, "Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni dosa mereka, selama mereka tetap memohon ampunan kepada-Ku."

Selanjutnya Allah mendorong manusia melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan agar selalu berusaha untuk mencari rezeki dan kebahagiaan hidupnya. Allah berfirman, "Dia mengetahui segala usaha, perilaku, dan tindak-tanduk mereka di siang hari, begitu pula tempat mereka berada di malam hari. Oleh karena itu, bertakwa dan meminta ampunlah kepada-Nya." Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (Hud/11: 6)

Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (al-An'am/6: 60)

Keterangan mengenai QS. Muhammad

Surat Muhammad terdiri atas 38 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hadiid. Nama Muhammad sebagai nama surat ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Pada ayat 1, 2, dan 3 surat ini, Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya. Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa oleh Muhammad s.a.w merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya. Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad s.a.w adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterima, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.Dinamai juga dengan Al Qital (peperangan), karena sebahagian besar surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

Referensi : 


5 Tanda Mantan sudah Tidak Ingin Kembali Bersama

5 Tanda Mantan sudah Tidak Ingin Kembali Bersama. Manusia tidak dapat diprediksi dan terkadang putus cinta. Sementara beberapa mengubah putus cinta menjadi pengalaman positif.

Terkadang juga kita ingin tahu apakah mantan kita masih menginginkan bersama ataukah tidak.

Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana caranya.

1. Mantan Memblokir Semua Akses Komunikasi

Jika mantan pasangan telah memblokir nomor kalian dan akun media sosial atau telah mengubah nomornya, itu adalah pertanda bahwa ia tidak menginginkan kalian.

Tetapi, jika dia belum memblokir akses kalian coba menghubungi jika tidak ada respon berarti mantan kalian sudah tidak ingin bersama.

2. Panggilan dan Pesan Tidak Dapat Dijawab

Kebetulan setelah hubungan selesai, dapat mencoba menghubungkan kembali dengan mantan kalian dan karena itu, kalian biasanya menelpon atau mengirim pesan kepadanya.

Tetapi jika panggilan dan pesan diabaikan dan mantan tidak mencoba menghubungi kembali maka kalian lebih baik mundur.

3. Mantan Merasa Kesal Ketika Berbicara Langsung dengan Kalian

Mungkiin saja ketika kalian bertemudengan mantan atau berbicara dan ia merasa jengkel. Maka mantan kalian mungkin tidak mau berbicara lagi.

Kalian pernuh memahami bahwa mantan kalian tidak tertarik pada kalian. Oleh karena itu jika mantan bersikap kasar kepada kalian atau paling tidak berpaling maka menyerahlah.

4. Mantan Tidak Mempercayai Kalian

Dikatakan bahwa begitu kepercayaan rusak, sulit untuk membangunnya kembali. Mungkin sangat sulit bagi mantan untuk mempercayai kalian jika sudah melakukan kesalahan yang besar dan menyakiti hatinya.

Karena sesuatu yang terjadi di masa lalu telah mencabut fondasi kepercayaan dalam hubungan kalian, mantan kalian tidak ingin mempercayai kalian lagi.

5. Mantan Tidak Lagi Ingin Bertemu dengan Kalian

Jika mantan masih peduli dengan kalian, dia akan berusha untuk bertemu dengan kalian.Tetapi jika tidak sama sekali tidak meminta pertemuan maka mantan kalian sudah tidak ingin menjalin hubungan kembali.

Mantan mungkin membuat alasan yang berbeda untuk menghindari bertemu. Dia mungkin tidak ingin bertemu dan berbicara tentang mengapa dan apa yang salah dalam hubungan kalian. Atau ia terlalu lelah dengan hubungan yang selama ini terjalin.

Referensi : 5 Tanda Mantan sudah Tidak Ingin Kembali Bersama




Jangan Sembarangan Bertaubat, Ini Syarat Taubat Yang Harus Anda Tahu

Setiap orang tentu saja pernah melakukan kesalahan. Baik kesalahan kecil ataupun besar. Baik karena keegoisannya sebagai manusia, atau karena ketidaktahuannya akan sesuatu. Kesalahan – kesalahan ini bisa jadi menyebabkan perhitungan dosa di hari perhitungan menjadi berat dan menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam neraka.

Padahal, tentu saja kita berharap bisa masuk syurga dan kekal di dalamnya. Karena itulah Allah memberikan sarana taubat sebagai bentuk meminta ampun dan membersihkan diri dari dosa – dosa yang telah dilakukan.

Namun, taubat yang serius tentu saja tidak bisa dilakukan dengan sekedarnya. Anda harus memahami dengan baik apa saja syarat diterima taubat sehingga bisa bertaubat secara utuh kepada Allah SWT. Ada beberapa syarat taubat yang bisa Anda lakukan sebagai bukti keseriusan Anda dalam mengharap ampunan Allah, yaitu :

Perasaan menyesal karena melakukan dosa yang didasari keimanan kepada Allah SWT.

Berhenti dan tidak melakukan dosa kembali di masa yang akan datang.

Melakukan taubat sebelum nyawa sampai di tenggorokan atau sebelum mengalami sakaratul maut.

Melakukan taubat sebelum matahari terbit di barat atau sebelum hari kiamat tiba.

Syarat – syarat tersebut adalah syarat taubat yang harus Anda penuhi jika dosa Anda berkaitan dengan Allah, ibadah, dan diri Anda sendiri. Namun, jika dosa di masa lalu berkaitan dengan orang lain, maka ada syarat tambahan yang harus Anda lakukan :

1. Melunasi hak orang tersebut

Jika hak tersebut adalah hak dalam bentuk harta benda, maka Anda harus mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya sebagai bagian dari taubatnya.

2. Meminta kerelaan orang tersebut

Sedangkan jika kesalahan yang dilakukan adalah menuduh orang lain berbuat zina, misalnya, menyerahkan diri atau meminta maaf dan kerelaan orang yang dituduh juga menjadi bagian dari taubat itu sendiri. Begitu pula jika kesalahan atau dosa yang dilakukan adalah ghibah atau membicarakan orang lain, maka Anda harus meminta maaf kepada orang tersebut.

3. Melakukan banyak amal kegiatan

Dan untuk mengimbangi dosa dari kesalahan di masa lalu, Anda juga harus memperbanyak amal kegiatan. Apalagi jika orang yang berkaitan dengan kesalahan Anda tersebut cukup sulit untuk dihubungi atau ditemui kembali.

Itulah beberapa syarat taubat yang harus dilakukan saat Anda ingin melakukan taubat nasuha atau sebenar – benarnya taubat. Pada dasarnya, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Namun, yang terpenting adalah apakah orang tersebut mau melakukan taubat dan memperbaiki kesalahannya atau tidak.

Saat seseorang melakukan taubat, Allah pasti akan menerimanya selama orang tersebut melakukannya dengan tulus dan penuh kesungguhan. Bukan hanya maaf dari Allah, orang yang bertaubat juga akan mendapatkan cinta dari Allah. Dan barang siapa yang mendapatkan cinta dari Allah, maka hal – hal baik juga akan datang

Referensi ; Jangan Sembarangan Bertaubat, Ini Syarat Taubat Yang Harus Anda Tahu












Empat Syarat Tobat

Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus-Shalihin jilid 1 mengungkapkan, para ulama menyebutkan tobat dari segala dosa adalah satu keharusan. Jika kemaksiatan yang dilakukan tidak berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, menghentikan kemaksiatan itu. Kedua, menyesalinya.

Dan ketiga, bertekad untuk tidak melakukan kemaksiatan itu lagi. Jika ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, menurut Imam Nawawi, tobat yang ia lakukan tidak sah.  Namun, jika kemaksiatan yang dilakukan berkaitan dengan hak sesama manusia, menurut Imam Nawawi, ada empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, menghentikan kemaksiatan itu. Kedua, menyesalinya. Ketiga, bertekad untuk tidak melakukan kemaksiatan itu lagi. Dan syarat keempat, membebaskan diri dari hak tersebut.

Artinya, kata Imam Nawawi, jika hak itu berupa harta benda, ia harus mengembalikan kepada pemiliknya. Jika berupa qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina), ia harus menyerahkan dirinya untuk dijatuhi hukuman atau meminta maaf kepada orang bersangkutan. Jika berupa ghibah (menggunjing orang lain), ia harus meminta maaf kepada orang tersebut. Menurut Imam Nawawi, setiap orang harus bertobat dari segala dosa yang pernah diperbuat. Jika, ia hanya bertobat dari sebagian dosanya, tobat tersebut diterima. Namun ia masih mempunyai tanggungan dosa yang lain.

Imam Nawawi kemudian mengutip Alquran surat An-Nur ayat 31 yang artinya, ''...dan bertobatlak kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.'' Imam Nawawi juga mengutip Alquran surat Hud ayat 90 yang artinya, ''Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepadaNya'' Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari, ''Abu Hurairah ra berkata, ''Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ''Demi Allah, sesungguhnya aku membaca istighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.''

Referensi : Empat Syarat Tobat










Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (1)

Ilustrasi : Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (1)

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (1). Makna was-was sbb : Berdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)

Banyaknya pengidap penyakit was-was

Allah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.

Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).

Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:

“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”

“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”

“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”

“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”

“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”

“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”

“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”

“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”

Resep mengobati was-was

Resep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:

“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”

Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.

Resep pertama

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,

جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به

“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وقد وجدتموه ؟

“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”

Mereka menjawab, “Iya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذاك صريح الإيمان

“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”

Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.

Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.

Kesimpulan dari hadis pertama

Lintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.

Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.

Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).

Referensi : Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was






Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (2)

Ilustrasi : Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (2)

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was. Hadis Kedua sbb : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته

“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhentilah dari pikiran tersebut” (HR. Muslim).

Penjelasan

Apabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,

“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab  oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:

“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.

Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.

Allah Ta’ala berfirman.

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).

Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,

Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.

Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:

*) Jika ada waswas,

“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”

“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”

*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”

*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”

Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.

*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”

Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,

Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.

Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.

Kesimpulan dari hadis kedua

Pertama, pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah was-was dari setan yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.

Kedua, resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “berhenti” yang telah dijelaskan di atas.

Referensi : Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (2)




Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was. Hadis Ketiga dan Keempat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ

“Manusia senantiasa saling bertanya (satu sama lain dalam masalah yang tidak bermanfaat), sampai dibisikkan (oleh setan) ucapan berikut ini, ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (dari bisikan hati) tersebut, maka ucapkanlah, ‘Aamantu billaah‘ (Saya beriman kepada Allah)” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ

“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?’ Lalu dia berkata, ‘Allah’ Kemudian beliau menyebutkan lafaz semisalnya dan menambahkan, ‘wa Rusulihi‘ (dan para Rasul-Nya)” (HR. Muslim).

Terdapat dua hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dari dua hadis tersebut, yaitu:

Pertama, was-was yang menyerang penderita was-was itu pada hakikatnya berasal dari setan, sebagaimana dalam hadis keempat.

Kedua, solusi ketika mendapatkan was-was setan dalam hati berupa lintasan pikiran-pikiran kekufuran adalah dengan berhenti seketika itu juga, tanpa memikirkan dalil untuk membantahnya. Karena hanya sekedar was-was setan yang tidak menetap dalam hati, lalu mengatakan, “Aamantu billaah wa Rusulihi” (Saya beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya).

Ulama menjelaskan tentang solusi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas bahwa perintah untuk berhenti dan berpaling dari was-was setan tersebut adalah tanpa memikirkan dalil dalam menyatakan kebatilannya dan tanpa membahasnya. Hal ini karena was-was tersebut sekedar lintasan batin yang tidak menetap dalam hati dan berasal dari bisikan setan yang jelas-jelas kebatilannya.

Kesimpulan hadis kedua, ketiga, dan keempat

Dari hadis kedua, ketiga, dan keempat disimpulkan bahwa solusi was-was setan berupa bisikan kekufuran adalah sebagai berikut.

Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan,  “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.

Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.

Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).

Hadis Kelima

Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata,

“Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan pada dirinya sesuatu (bisikan setan), yang mana dia dibakar sampai menjadi arang itu lebih baik baginya daripada dia harus mengucapkan bisikan tersebut.”

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan setelah dia gagal menggoda orang saleh dengan ucapan dan perbuatan kekufuran dan dosa. Setan hanya mampu membisikkan was-was ke dalam hati seorang muslim dan ingin membuatnya sedih dan tersibukkan dari beribadah kepada Allah Ta’ala.

Hal ini menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan yang tidak membahayakan agama orang yang terkena, selama dia tidak mengucapkan atau melakukan isi was-wasnya dalam hati tersebut. Was-was itu tidak merusak ibadahnya (ibadahnya sah) dan tidak merusak imannya (imannya juga tetap sah). Bahkan seandainya terucapkan pun – tanpa ada keinginan dan tanpa kehendaknya, namun karena terpaksa karena dikuasai oleh waswas -, maka hal itu tidak membahayakannya karena keadaan akalnya memang tertutup.

Kesimpulan

Dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ

“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”

Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.

Referensi : Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was





Berperang Melawan Was-Was Setan

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menuturkan, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ Hingga dia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan (was-was tersebut)”.

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini muttafaqun ‘alaihi (Al-Bukhari dalam Shahih-nya di kitab “Bad’ul-Khalqi”, bab “Shifatu Iblisa wa Junudihi”, hadits no. 3276 [6/387 – Fathul-Bari]; dan Muslim dalam Shahih-nya di kitab “Al Iman”, bab “Bayan al Waswasati fil-Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha”, hadits no. 134 [2/132 – Syarhu Shahih Muslim]).

BIOGRAFI PERIWAYAT HADITS

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau bernama Abdur-Rahman bin Shakhr Ad-Dausi, inilah pendapat yang masyhur. Pada masa Jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, dan ada pula yang berpendapat lain. Panggilan kunyahnya Abu Hurairah, dan inilah yang masyhur. Kunyah lainnya yaitu Abu Hir, karena beliau Radhiyallahu anhu memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari. Dalam Shahih Al-Bukhari, disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya “Wahai Abu Hir”.

Ahli hadits telah bersepakat, Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan di dalam Musnad Baqiy bin Makhlad, terdapat 5.300-an hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al-Fadhl bin al-Abbas, Ubaiy bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al-Ghifari, dan Ka’ab al-Ahbar Radhiyallahu anhum..

Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau Radhiyallahu anhu, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yang paling utama di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam asy-Syafi’i berkata,”Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”

Beliau Radhiyallahu anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar. Datang ke Madinah sebagai muhajir dan tinggal di Shuffah.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan ibu Abu Hurairah untuk masuk Islam.

Amr bin Ali al-Fallas mengatakan, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.

Humaid al-Himyari berkata,”Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.”

Menurut pendapat yang lebih kuat, beliau Radhiyallahu anhu wafat pada tahun 57 H.

Makna hadist

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, setan dapat mendatangi seseorang untuk menghembuskan was-was (gangguan) dan syubhat (keraguan) ke dalam hatinya ; di antaranya dengan membisikkan kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan keragu-raguan secara halus, hingga menggiringnya kepada kalimat kufur.

Contohnya, seperti disebutkan dalam hadits diatas. Yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang semula merupakan pertanyaan biasa, lalu setan berusaha menggiring pada pertanyaan yang membuat keraguan, yaitu “siapa yang menciptakan Rabb-mu?”

Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati dan benak pikiran seseorang, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah dan mengakhiri (was-was setan tersebut) dari benak pikirannya. Walahu a’lam.

Setan Musuh Yang Nyata Bagi Bani Adam

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengusir Iblis dari surga karena keengganannya menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersujud kepada Adam alaihis sallam, ia meminta tangguh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seraya menyatakan tekadnya untuk menggoda dan menjerumuskan Adam alaihis sallam dan anak cucunya ke dalam lembah kehinaan, menyimpangkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus.

Untuk pertama kalinya Iblis berhasil membujuk Adam Alaihis sallam dan isterinya melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala , sehingga keduanya dihukum oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan diturunkan ke bumi, meskipun kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat Adam Alaihis sallam dan isterinya, dan mengampuni keduanya.

Tidak berhenti sampai di situ, Iblis kemudian mengajak bala tentaranya dari kalangan setan untuk terus memerangi anak cucu Adam, menggelincirkannya dari jalan Allah yang lurus, dan menjatuhkannya ke dalam kesesatan yang menghinakan. Maka Iblis dan bala tentaranya menjadi musuh yang paling nyata dan paling sengit bagi manusia. Oleh karena itu berhati-hatilah dari tipu daya dan langkah-langkah setan yang menyesatkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan hal itu dalam firman-Nya:

وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syithan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah/2:168. Al An’âm/6:142).

Setan Menghembuskan Was-was Dan Syubhat

Sejak awal permusuhan, setan telah mempersiapkan jurus-jurus dan langkah-langkah muslihat untuk menggelincirkan dan melumpuhkan manusia agar tidak taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya dengan meluncurkan was-was dan syubhat (keraguan) dalam diri manusia.

Perhatikan perkataan setan (Iblis). Dengan muslihatnya, ia berlagak sebagai penasihat, dan bahkan dengan mengangkat sumpah kepada Adam Alaihis sallam dan isterinya –sebelum diturunkan ke bumi- setelah sebelumnya Allah memperingatkan keduanya untuk tidak mendekati pohon terlarang.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مِنْ سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَنْ تَكُوناَ مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُوناَ مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ …

Maka setan membisikkan pikiran jahat (was-was) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya,”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,’ maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya. … [Al-A’râf/7:20-22]

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan hal serupa.

فَوَسْوَسَ لَهُ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لاَ يَبْلَى

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat (was-was) kepadanya, dengan berkata,”Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [Thâhâ/20:120].

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang ketergelinciran Adam Alaihis sallam dan isterinya oleh was-was dan tipu daya setan, yang membuat Adam Alaihis sallam lupa dengan peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Ketergelinciran ini untuk menjadi pelajaran bagi anak cucunya.

Bentuk-bentuk Was was Setan

Banyak cara yang dilancarkan setan dalam menghembuskan was-was (pikiran jahatnya) kepada bani Adam. Di antaranya dapat dicontohkan sebagai berikut.

1. Setan menghiasi kemaksiatan.

Setan menghiasi kemaksiatan dengan hiasan-hiasan indah, sehingga kemaksiatan tersebut tidak nampak lagi sebagai kemaksiatan di mata manusia. Seperti perkataannya kepada Adam Alaihis sallam dan isterinya dalam dua ayat di atas, ternyata merupakan tipuan berhias nasihat. Begitu pula ketika menghiasi perbuatan kaum musyrikin pada perang Badar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَراً وَرِئَـاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ، وَاللهُ بِمَا يَعْمَلوُنَ مُحِيطٌ. وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌّ لَّكُمْ، فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنْكْم إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَونَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَاللهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan,”Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu,” maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata,”Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. [Al-Anfâl/8:47-48].

Begitulah hiasan setan yang berisikan janji-janji palsu dan angan-angan kosong.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِم وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. [An-Nisâ’/4: 120]

2. Setan menakut-nakuti manusia.

Tatkala ada sebagian manusia tidak mempan dengan hiasan-hiasan setan, maka setan menggunakan cara lain, yaitu menakut-nakuti mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُم مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [Ali Imran/3:175].[6]

MENANGKAL WAS-WAS SETAN

Keberadaan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia merupakan salah satu ujian terberat buat manusia; karena setan dapat melihat keberadaan manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا، إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِن حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُم، إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. [Al-A’râf/7:27].

Namun begitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmatNya memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kiat-kiat untuk menangkal dan mengusir setiap serangan yang dilancarkan setan. Di antaranya sebagai berikut :

1. Ikhlas

Hamba-hamba yang ikhlas akan dijaga dan diselamatkan dari gangguan setan, sebagaimana menurut pengakuan setan sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dalam firman-Nya:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٣٩﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata, “Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” [Al-Hijr/15:39-40].

Dalam ayat yang lain:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” [Shâd/38:82-83].

Dan dengan jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku (yang mukhlis) tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. [Al-Hijr/15:42].[7]

2. Iman

Dalam sebagian riwayat hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang kita bahas di atas, ada disebutkan dengan lafazh berikut.

((إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ)).

Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya (kepadanya),”Siapa yang menciptakan langit?” Ia menjawab,”Alah Azza wa Jalla ,” lalu setan bertanya lagi,”Siapa yang menciptakan bumi?” Ia menjawab,”Allah,” hingga setan bertanya,”Siapa yang menciptakan Allah? Maka apabila salah seorang dari kalian merasakan suatu (was-was) seperti ini, hendaklah dia mengucapkan,”Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya“.[8]

Dan dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan lafazh:

((… فَلْيَقْرَأْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ)).

… maka bacalah “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya,” karena hal itu akan menghilangkannya (was-was tersebut).[9]

3. Berlindung Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di atas:

((… فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ))

… jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan/memutuskan (was-was tersebut).

Dan hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-A’râf/7:200].

Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh:

((فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ، فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنْ الشَّيْطَانِ)).

Jika mereka mengucapkan hal itu (kalimat-kalimat was-was), maka ucapkanlah “Allah itu Maha Esa, Allah itu tempat bergantung, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,” kemudian meludahlah ke kiri (3x) dan berlindunglah kepada Allah.[10]

4. Dzikrullah

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahannya. [Al-A’râf/7:201].

Referensi : Berperang Melawan Was-Was Setan









Dunia Itu Manis dan Indah

Dunia Itu Manis dan Indah. اَلدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّهِ وَأَنْفَقَهُ فِيْ حَقِّهِ، أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ، وَمَنِ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ، وَأَنْفَقَهُ فِيْ غَيْرِ حَقِّهِ، أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ اْلهَوَانِ، وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيْ مَالِ اللهِ وَرَسُوْلِهُ لَهُ النَّارُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. – رواه البيهقى عن ابن عمر

Dunia itu manis lagi hijau; barangsiapa yang memperoleh harta dari usaha halal­nya, lalu ia membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, niscaya Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Dan barangsiapa memperoleh harta dari usaha yang haram, lalu ia membelajakannya bukan pada hak-haknya, niscaya Allah akan menjerumus­kannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Dan banyak orang yang menangani harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa ne­raka (HR. Baihaqi melalu ibnu Umar r.a.).

Merupakan kekeliruan yang sangat besar bila ada umat Islam beranggapan bahwa harta benda (materi) bukanlah hal penting sehingga kita tidak perlu bersungguh-sungguh mendapatkannya.

Padahal, banyak ayat dalam Al-Qur’an dan hadits yang menekankan pentingnya bekerja keras untuk mendapatkan karunia Allah, dalam konteks ini harta benda, bagi setiap muslim. Salah satu ayat yang menegaskan pentingnya mencari dan memperoleh karunia tersebut adalah:

– فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ -١٠

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS.Al-Jumu’ah : 10).

Berdasarkan ayat ini, perintah mencari karunia Allah termasuk harta benda, ternyataberiringan setelah menjalankan perintah shalat. Hal ini semakin mempertegas betapa pentingnya mencari karunia Allah tersebut bagi kehidupan kita sebagai muslim. Bahkan seorang mukmin yang dibunuh/terbunuh karena mempertahankan harta bendanya, kematiannya tergolong syahid. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. katanya; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda; “Barangsiapa yang dibunuh karena mempertahankan hartanya maka matinya adalah syahid (HR. Bukhari).

Mencari Harta Halal itu Wajib

Allah berfirman:

….يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا ڪَسَبۡتُمۡ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik….” (QS. Al-Baqarah : 267)

Perintah untuk menafkahkan harta di jalan Allah hanya dapat dilakukan apabila kita memiliki harta. Tanpa harta, bagaimana mungkin kita mampu menjalankan perintah-Nya itu. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin maksimal potensi bagi kita untuk bisa membelanjakan harta tersebut di jalan Islam seperti yang diperintahkan-Nya. Rasulullah Saw juga bersabda;

“Dunia itu manis lagi hijau; barang siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya, lalu ia membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, niscaya Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan niscaya Dia akan memasukannya ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa memperoleh harta dari usaha yang haram, lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan. Dan banyak orang yang menangani harta Allah dan Rasul-Nya kelak di Hari Kiamat mendapat siksa neraka.” (Riwayat Baihaqi melalui Ibnu Umar. r.a).

Selain menekankan agar memperoleh harta dan membelanjakannya di jalan Allah, hadits ini menegaskan pula keharusan mendapatkan harta melalui ikhtiar yang baik dan halal. Jadi, memperoleh harta yang halal itulah yang wajib dilakukan kemudian membelanjakan di jalan-Nya. Sedangkan mencari dan mendapatkan harta melalui cara-cara yang haram seperti korupsi, kolusi, serta sisi-sisi lain yang mengeksploitasi nafsu destruktif, bukan hanya dilarang Allah melainkan juga diancam dengan azab yang pedih di neraka kelak. Bahkan kejayaannya hidup di dunia yang ditempuh melalui penumpukan harta secara dzalim, sesungguhnya berlangsung sesaat. Kehidupan mereka tidak tenang karena ada pihak-pihak yang dirugikan lalu menunjukkan sikap permusuhan terhadapnya. Mereka yang didzalimi mendoakan keburukan bagi para pelaku kejahatan itu. Bahkan, dengan kehendak Allah, akhirnya mereka harus menerima hukuman di dunia, sedangkan di akhirat pun pasti Allah juga akan membalasnya dengan hukuman yang lebih berat.

Belanjakan Harta Sesuai Perintah Allah dan Rasul-Nya

Dalam kehidupan sehari-hari, beragam kebutuhan kita dan seluruh anggota keluarga memangtidak terlepas dari kebutuhan materi (harta). Mulai dari kebutuhan tempat tinggal yang terjaga kelayakannya untuk dihuni, kebutuhan pakaian dan makanan yang memenuhi standar gizi, terpenuhinya pelayanan kesehatan/pengobatan ketika sakit, pendidikan yang baik sebagai bekal kehidupananak-anak di masa depan, hingga kebutuhan tersier seperti kendaraan dan yang lain. Asalkan hartanya diperoleh secara halal lalu digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan keluarga yang lebih baik demi meraih keridhaan Allah, maka semuanya bernilai ibadah. Mengenai hal ini, mari kita cermati sebuah hadits berikut:

“Harta yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki untuk keperluan rumah tangganya, istrinya, anak-anaknya, dan pembantunya, maka hal tersebut merupakan sedekah baginya.” (Riwayat Thabrani melalui Abi Umamah)

Keutamaan Memiliki Harta dan Membelanjakannya di Jalan Allah

Memiliki harta yang cukup, langsung atau tidak langsung, akan membuat ibadah menjadi lebih optimalbahkan memungkinkan untuk dilakukan. Makan makanan halal dan baik yang diperoleh dengan membelinya secara halal (menggunakan uang atau harta), misalnya, dapat menyehatkan/menguatkan tubuh sehingga ritual ibadah seperti shalat dan puasa, baik sunnah maupun wajib, bisa lebih khusyuk. Begitu pula ibadah shalat dan puasa akan lebih berkualitas dan berkuantitas, jikabadansudah kembali sehat dari sakit setelah memperoleh pelayanan kesehatan/pengobatan. Guna mendapat pelayanan/pengobatan terbaik dari dokter/rumah sakit tentunya juga ada biaya (harta) yang dikeluarkan.

Untuk memenuhi rukun Islam lainnya seperti zakat, keberadaan harta kembali menjadi syarat utama. Bahkan untuk menunaikan rukun Islam kelima yaitu ibadah haji, kita pun harus memiliki harta (ongkos) yang jumlahnya tidak sedikit.

Dengan memiliki harta berlebih, kita bisa menunjukkan kepedulian yang lebih besar terhadap sesama dan kepentingan umat Islam daripada sebatasmemenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga sendiri, atau sekadar berdoa/mendoakan saudara seiman yang mengalami kelaparan atau musibah. Selain berzakat, dengan harta, kita pun bisa berinfaq, sedekah, atau mewakafkan sesuatu yang bermanfaat sehingga kita mampu membuktikan kepedulian secara lebih ril terhadap kebutuhan anak-anak yatim, anak-anak telantar, fakir miskin, maupun terhadap kegiatan keislaman dan keumatan seperti pembangunan masjid, sekolah gratis untuk anak-anak muslim yang miskin, rumah sakit gratis bagi kalangan tak mampu, pembinaan dan pemberian keterampilan bagi remaja dan kaum muda muslim yang menganggur, sekaligus menyediakan pekerjaan yang baik untuk mereka. Semua itu hanya bisa diwujudkan melalu kemampuan pemanfaatan sumberdaya materi, yaitu harta yang kita miliki.

Apabila setiap pembelanjaan harta di jalan kebaikan tersebut didasari niat mengharap keridhaan Allah, maka sesungguhnya orang-orang yang melakukannya berada di jalan termulia dari kehidupan ini, yaitu berjihad di jalan Allah. Mereka juga disebut-sebut oleh Rasulullah Saw sebagai manusia yang paling utama.

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang manusia yang paling utama, beliau menjawab, “Orang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta bendanya….” (HR. Bukhari melalui Abu Said)

Dengan berorientasi pada tujuan-tujuan mulia yang dilandasi niat karena Allah, maka semakin banyak harta yang dimiliki akan semakin baiklah diri setiap muslim. Rasulullah Saw bersabda; “Sebaik–baik manusiadi antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Thabrani)

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٲلَهُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ۬ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ۬‌ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ‌ۗ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ -٢٦١

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ialah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Keutamaan lain dari membelanjakan harta di jalan Allah seperti zakat, misalnya, sebenarnya untuk memelihara harta kita dari potensi adanya harta haram karena dari banyaknya harta yang diperoleh itu terdapat hak-hak orang miskin dan kepentingan umat. Kemudian, dengan membelanjakan harta di jalan Allah seperti bersedekah, ternyata merupakan obat/penawar dari sakit (sarana penyembuhan) sekaligus pencegah dari bencana/bala. Rasulullah Saw bersabda;

“Peliharalah harta kalian dengan (membayar) zakat; obatilah orang-orang sakit dengan banyak sedekah, dan bersiap-siaplah kalian dengan cara berdoa untuk menghadapi cobaan.” (Riwayat Al-Khatib melalui Ibnu Mas’ud r.a)

Membelanjakan harta sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya memang tidak harus menunggu setelah kita memiliki harta yang banyak. Tetapi dengan banyak harta, kita akan lebih banyak dan sering menjalankan perintah-perintah tersebut, tanpa harus merasa khawatir bahwa harta kita akan habis atau menunggu setelah usia semakin senja dan tubuh mulai sakit-sakitan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. katanya; Seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya apakah sedekah yang paling utama itu. Rasulullah Saw bersabda, “Engkau bersedekah ketika engkau masih sehat dan harta tersebut masih disayangi. Engkau bimbang menjadi fakir dan bercita-cita untuk menjadi kaya. Jangan engkau tangguhkan (bersedekah) hingga ruh sampai di kalkum (menjelang kematian). Dalam keadaan tersebut barulah engkau berkata, ‘Berikanlah kepada si fulan ini dan si fulan itu, karena memang itu adalah hak mereka.’” (HR. Bukhari).

Di samping terkandung berbagai keutamaan mengenai pentingnya memiliki harta dan membelanjakannya di jalan Allah, memiliki cukup harta dan mengeluarkannya sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya juga merupakan upaya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Rasulullah Saw bersabda; “Lindungilah kehormatan kalian dengan harta benda kalian.” (Riwayat Al-Khatib)

Kalaulah Islam menekankan umatnyaagarberusaha memperoleh cukup harta melalui cara-cara yang baik lalu memanfaatkannya di jalan Islam, karena memang fungsi harta dalam Islam sangat penting sebagaimana diuraikan di atas. Bahkan, seperti telah dikemukakan pula, untuk menjalankan rukun Islam secara sempurna harus disertai dengan cukupnya harta benda yang kita miliki.

Cobaan Kemiskinan Tidak Lebih Baik dari Cobaan Kekayaan

Ingat, meskipun kekayaan dan kemiskinan sesungguhnya merupakan cobaan, tetapi cobaan hidup dalam kemiskinantidak lebih baik daripada cobaan dalam kekayaan. Sebab Rasulullah Saw sendiri bersabda;

“Kemiskinan hampir-hampir mendekatkan orang kepada pengingkaran terhadap Islam (kekufuran).”Beliau berdoa,“Aku berlindung kepada-Mu dan kefakiran dan kekufuran”. (HR. Abu Daud).

Cobaan kemiskinan, tidak hanya berpotensi mendekatkan seseorang menjadi kafir, bahkan terbukti banyak umat Islam yang kemudian benar-benar menjadi kafir (murtad). Selain itu, kemiskinan juga menimbulkan dampak sosial yang merugikan banyak orang seperti pencurian, perampokan, penipuan, bahkan hingga pembunuhan.

Mari kita berdoa, sebagaimana doa yang diajarkan Rasululaah Saw;“Aku berlindung kepada-Mu (ya Allah) dan kefakiran dan kekufuran”. (HR. Abu Daud).

Referensi ; Dunia Itu Manis dan Indah











Penjelasan mengenai Ayat tentang Riba dalam Al Qur'an

Penjelasan mengenai Ayat tentang Riba dalam Al Qur'an. Riba dalam Islam hukumnya haram. Ada beberapa ayat dalam Alquran yang menerangkan tentang riba. 1. QS Ar-Rum: 39:

Allah berfirman:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا

آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Artinya: "Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)". (QS Al-Rum: 39).

2. QS An-Nisa Ayat 160-161:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًاوَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: "Maka disebabkan kedhaliman orang Yahudi, maka kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka. Dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Dan Kami telah menjadikan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (QS an-Nisa: 160-161)

3.QS Ali Imron Ayat 130:

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." (Qs. Ali Imron [3]: 130).

4. Al Baqarah Ayat 278-280:

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَاإِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَفَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَوَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui." (QS Al-Baqarah: 278-280).

Referensi ; Penjelasan mengenai Ayat tentang Riba dalam Al Qur'an