This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 04 Agustus 2022

Makna Hakiki Bekerja dan Rezeki

Ilustrasi : Makna Hakiki Bekerja dan Rezeki

Bekerja, adalah salah satu konsep yang menjadi perhatian dalam Islam. Bekerja merupakan hal mendasar dalam kehidupan. Hidup manusia dapat berjalan baik jika setiap orang mau bekerja, baik untuk kepentingan individu ataupun kepentingan sosial.

Dengan bekerja, seseorang dapat membangun kepercayaan dirinya. Seseorang yang bekerja tentu berbeda dengan orang yang tidak bekerja sama sekali atau pengangguran dalam masalah pencitraan dirinya. Bahkan dengan bekerja, seseorang akan merasa terhormat di hadapan orang lain. Karena dengan hasil tangannya sendiri, mereka mampu bertahan hidup. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan seorang pengemis yang selalu meminta belas kasih orang lain. Bekerja malahan akan menaikkan derajat suatu bangsa di hadapan bangsa lain.

Mengingat begitu pentingnya masalah bekerja dalam kehidupan, maka Islam memberikan perhatian khusus kepada umat manusia untuk bekerja. Bekerja merupakan upaya untuk melanggengkan kehidupan itu sendiri. Bahkan, bekerja dalam pandangan Islam selalu dikaitkan dengan masalah keimanan. Banyak kalam Allah SWT yang menyebutkan bahwa pembahasan tentang bekerja dengan cara terbaik (amal saleh) selalu disandingkan dengan keimanan kepada Allah SWT. Masalah keimanan selalu diletakkan di awal kalimat sebelum amal saleh. Dalam Al-Quran Surat  Al-‘Ashr ayat 1 – 3, yang artinya, : 1. Demi masa ; 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian ; 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 105 yang artinya : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bekerja disejajarkan dengan keimanan, sekaligus sebagai wujud dari keimanan itu sendiri. Hal ini pulalah yang memberikan pemahaman bahwa bekerja hendaknya berada dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat  Al-Insyiqaaq ayat 6 yang artinya : “Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”

Dalam Islam, bekerj abukan sekadar untuk mendapatkan materi, tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu. Bekerja sebagai upaya mewujudkan firman Allah sebagai bagian dari keimanan. Dengan demikian, bekerja merupakan aktivitas yang mulia. Dengan bekerja, seseorang dapat melaksanakan perintah-perintah Allah SWT lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah. Bahkan Rasulullah SAW menempatkan posisi terhormat bagi mereka yang berinfak dari hasil kerjanya sendiri. Sabda Rasulullah SAW : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Malahan mereka yang bekerja atas dasar niat untuk menafkahi keluarganya dikategorikan sebagai mujahid (pejuang) di jalan Allah. Allah SWT pun menempatkan mereka sebagai syahid (dunia) apabila meninggal saat bekerja untuk mencari penghidupan yang terbaik bagi keluarganya. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja dan barangsiapa yang bekerja keras untuk keluarganya, maka ia seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Ahmad)

Dalam Islam, bekerja juga merupakan wujud syukur akan nikmat dan karunia Allah SWT. Selain itu, bekerja juga sangat dianjurkan, karena dapat menjaga wibawa dan kehormatan diri. Dengan bekerja, seseorang tak kan meminta-minta dan mengharapkan pemberian orang lain. Allah SWT dan Rasul-Nya melarang para peminta-minta, yaitu mereka yang tidak bekerja dan hanya berpangku tangan. Ibnu Mas’ud mengatakan : “Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur, tidak ada usahanya untuk kepentingan dunia dan tidak pula untuk kepentingan akhirat.”

Bekerja di dunia merupakan salah satu jembatan menuju akhirat. Karena itu, bekerja bukan semata-mata mencari penghidupan dunia. Cara kerja kita akan menentukan, apakah kita akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat atau tidak? Maka, setiap langkah kerja kita akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak.

Allah berfirman dalam Al-Quran Surat  Al-Qashash ayat 77, yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Begitu banyak kalam Allah SWT dan hadits Rasulullah SAW yang secara khusus memberikan motivasi untuk bekerja. Bekerja dengan cara terbaik demi mendapatkan rezeki halal dan penghidupan terbaik. Di antaranya dalam Al-Quran Surat  Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Juga hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Baihaqi : “Sesungguhnya Allah senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan secara professional.” (HR. Baihaqi)

Banyak orang memaknai rezeki begitu sempit, yaitu sekadar uang atau materi. Pemahaman yang umum melekat adalah rezeki merupakan hasil kerja seseorang dan bukanlah pemberian dari Sang Pemilik Rezeki. Ketika kita mendapatkan kesehatan yang baik, masih bisa menghirup udara dengan bebas, mata masih bisa melihat dengan jernih, telinga masih bisa mendengar dengan jelas, mulut masih bisa berbicara dengan indah, tangan masih bisa digerakkan, dan kaki masih bisa diayunkan untuk melangkah, seakan semua kenikmatan itu bukanlah sebuah rezeki.

Semua itu hanya dianggap sebuah kewajaran biasa. Padahal, di saat salah satu bagian tubuh tidak dapat difungsikan dengan baik, tentu akan banyak mengeluarkan biaya untuk menormalkannya kembali. Untuk itu, tidakkah sesungguhnya kesehatan yang melekat pada diri merupakan rezeki terbesar (setelah keimanan) dari Allah SWT?

Tetapi kebanyakan manusia tidak memahami dan menyadarinya. Untuk itulah, Rasulullah SAW bersabda : “Dua hal yang sering manusia lupakan adalah kesehatan dan kesempatan.”

Rezeki menurut para ulama ialah apa saja yang bisa dimanfaatkan (dipakai, dimakan atau dinikmati) oleh manusia. Rezeki dapat berupa uang, makanan, ilmu pengetahuan, rumah, kendaraan, pekerjaan, anak-anak, istri, kesehatan, ketenangan, serta segala sesuatu yang dirasa nikmat dan membawa manfaat bagi manusia. Rezeki merupakan kelengkapan hidup yang pasti Allah karuniakan kepada mahluk hidup di dunia, khususnya manusia. Sebagaimana ajal, keberadaan rezeki telah dijamin Allah SWT. Tidak ada manusia yang hidup di dunia tanpa dilengkapi rezeki.

Sayangnya, kebanyakan orang memahami rezeki sebagai harta dan materi belaka. Bahkan, lebih sempit lagi, yaitu berupa uang. Dengan demikian, muncul anggapan bahwa jika seseorang tidak memiliki uang berarti dia tidak mendapatkan rezeki. Begitu pula jika seseorang bekerja dan hanya mendapatkan sejumlah kecil uang, dianggap hanya mendapat sedikit rezeki. Sementara itu, pengalaman masa kerja, kebahagiaan, dan lain sebagainya tidak dianggap sebagai sebuah rezeki.

Ada pula pemahaman masyarakat bahwa peluang tempat untuk mengais rezeki hanya dengan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sementara pekerjaan selain PNS bukanlah tempat yang layak untuk mendapatkan rezeki. Ini merupakan pemahaman yang keliru. Padahal, dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan, 99 pintu rezeki manusia diperoleh dari berdagang.

Banyak kalangan memiliki pemahaman berbeda terhadap makna rezeki ini. Pemahaman makna tersebut akan menentukan cara seseorang dalam memperlakukan rezeki yang ada padanya.

Berikut ini tiga model pemahaman tentang makna rezeki :

Sebagian orang memahami bahwa rezeki yang didapat menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak ada campur tangan pihak lain dalam mendapatkan rezeki tersebut, baik orang lain ataupun Allah SWT. Baginya, segala sesuatu yang diperoleh adalah hasil kerja kerasnya semata. Orang yang berpaham demikian jauh dari rasa syukur dan sangat sulit untuk membagi rezekinya dengan orang lain. Bagi mereka, berbagi hanya akan mengurangi rezeki yang dimiliki. Mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu sesungguhnya hanya milik Allah SWT.

Para ulama memahami makna rezeki sebagai atho’ atau pemberian. Makna tersebut merupakan makna dasar dari kata ar-rizqu dalam bahasa Arab. Dengan pengertian atho’, segala rezeki yang diperoleh seseorang di dunia adalah semata-mata pemberian Allah SWT. Rezeki bukanlah hasil kerja dari seseorang. Sementara, kerja hanyalah sebatas haal (jalan) atau perantara untuk mendapatkan rezeki. Sedangkan, sebab utama diperolehnya rezeki adalah pemberian dari Allah SWT. Ada banyak perantara bagi seseorang untuk mendapatkan rezeki. Bisa melalui kerja yang dilakukan, melalui orang lain, atau menemukan sesuatu di jalan, dan lain sebagainya. Coba renungkan jika rezeki adalah hasil dari kerja kita, tentunya mereka yang bekerja keras dan banting tulang saja yang mendapatkan hasil banyak. Pemahaman tentang rezeki sebagai pemberian Allah SWT akan memudahkan seseorang untuk memenuhi segala aturan-Nya dan berbagi dengan orang lain.

Pemahaman lainnya adalah rezeki yang dimiliki seseorang semata-mata amanah dari Allah SWT. Sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Inilah pemahaman sesungguhnya tentang rezeki. Pemahaman ini akan mengantarkan seseorang pada rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rezeki. Lantaran, Sang Pemilik Rezeki dapat mengambil kembali semua rezeki, kapan pun Dia berkehendak. Jika seseorang telah memiliki pemahaman ini, tentunya ia tak kan menolak kehendak-Nya dan tak kan membuatnya stress atau bingung. Mereka pun akan berhati-hati dalam mengelola rezekinya. Jangan sampai menyinggung perasaan Sang Pemilik Utamanya. Apa pun kehendak Sang Pemilik Rezeki, tentu akan dipenuhinya dengan senang hati sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang dipercayakan pada dirinya. Kalaupun tidak ada rezeki padanya, mereka paham bahwa –mungkin– itulah yang terbaik menurut Sang Pemilik. Meskipun belum diberi kepercayaan, mereka akan terus berupaya menampilkan yang terbaik dalam kehidupan ini. Seraya selalu mendekatkan diri pada-Nya dan menarik simpati-Nya, sehingga Sang Pemilik mempercayakan rezeki pada dirinya.

Bekerja dengan hati nurani adalah bekerja dengan berlandaskan pada pusat kesadaran manusia, yaitu kalbu. Hati nurani adalah hati yang telah diwarnai atau dipenuhi cahaya kebenaran. Sedangkan kalbu merupakan dasar kefitrahan diri. Pada dasarnya, kalbu cenderung pada panggilan kesucian, kebenaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam bekerja, hendaknya mendengarkan suara hati nurani sebagai pengambil kebijaksanaan.

Penanaman nilai-nilai spiritual di dunia kerja diyakini mampu mendorong munculnya motivasi dan produktivitas kerja yang tinggi atas dasar ibadah. Dengan demikian, pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas, tanpa pamrih, penuh kesadaran, bertanggung jawab, bersemangat, dan bersungguh-sungguh karena merasa dinilai Allah SWT, suci bersih dari penyimpangan, penyelewengan dan kebohongan, penuh prestasi, terobsesi untuk selalu menampilkan yang terbaik, serta menjadi teladan, contoh terbaik dalam kebaikan bagi lainnya. Berbagai sikap ini harus dibina dan dikembangkan dalam keseharian kerja kita.

Ketika bekerja dengan kesadaran spiritual, seseorang selalu merasa dilihat, dinilai, dan diawasi Allah SWT, sehingga tidak membutuhkan penilaian dari manusia. Ada atau tidak ada pimpinan yang mengontrol, selalu menampilkan sikap yang terbaik dalam setiap langkah pekerjaannya. Kerja spiritual inilah yang diyakini mampu memotivasi sekaligus menjadi modal utama sebuah kesuksesan dalam pencapaian visi perusahaan atau instansi. 

Referensi : Makna Hakiki Bekerja dan Rezeki





















Kisah Nyata Pemuda Tinggalkan Makanan Haram, Allah Swt Bayar Kontan dengan Rumah dan Istri

Kisah Nyata Pemuda Tinggalkan Makanan Haram, Allah Bayar Kontan dengan Rumah dan Istri. Semua upaya mendapat uang haram sangat dibenci Allah SWT. Mereka yang memakan uang haram akan mendapat murka Allah SWT. Uang haram sangat berbahaya dan memberi dampak buruk bagi diri sendiri dan juga keluarga. Tak hanya di dunia, dampak uang haram juga akan dibawa sampai ke kehidupan di akhirat kelak.

Seorang anak muda di Damaskus, Suriah, menginsiprasi. Pasalnya pemuda yang hidup pada zaman tabiin tersebut mengukir kisah menakjubkan dalam hidupnya, karena menjaga diri dari barang yang haram. Kisah menakjubkan itu bermula saat dia meminta izin untuk tinggal bersama seorang ulama di sebuah masjid.

Ulama tersebut memperbolehkan anak muda itu untuk tinggal bersamanya di masjid itu. Namun Ulama tersebut memberi tahu anak muda itu kehidupanya.Sang pemuda bergantung pada ulama, ketika tak ada makanan, pemuda dan ulama tersebut berpuasa.Namun tak lama berselang Allah menguji kedua insan tersebut, kala itu keduanya tidak makan selama tiga hari.Anak muda tersebut belum terbiasa sehingga tidak dapat menahan rasa lapar, sampai-sampai dia membungkukan badannya agar bisa menahan rasa lapar tersebut.

Ustadz Khalid Basalamah mengisahkan, pada saat menahan lapar pemuda tersebut tergoda oleh setan untuk mencuri makanan di rumah yang berada di sebelah masjid.Lalu mencoba untuk mencuri makanan di antara rumah yang ada di sekitar masjid tersebut dengan cara memanjat melewati atas rumah.Di rumah yang pertama, anak muda tersebut melihat wanita yang terbuka auratnya sehingga dia tidak jadi untuk mencuri di rumah tersebut. Pada rumah berikutnya anak muda tersebut mencoba masuk karena mencium wangi makanan yang keluar dari rumah itu, lalu masuklah anak muda tersebut dan melihat ada sebuah panci yang berisikan terong.

Setelah itu dia membuka panci tersebut dan memakan terong yang ada di panci, pada saat hendak menelan gigitan pertama terong tersebut, anak muda tersebut sadar bahwa apa yang dia lakukan itu merupakan hal yang haram, berdosa. Dia tahu bahwa Allah Ta'ala tak akan membiarkan hamba-Nya mati kelaparan bila meninggalkan yang haram.

Setelah merasa sadar, dia langsung bergegas kembali ke masjid, mengeluarkan kembali makanan yang ada di mulutnya tersebut. Sesampainya di masjid, dia dipanggil oleh ulama yang setia bersamanya, menanyakan apakah siap untuk menikah. Namun ketika sang ulama menanyakan apakah si pemuda ingin menikah sampai mengulang pertanyaannya hingga tiga kali, pemuda tersebut tidak menjawab.

Tak lama kemudian, anak muda tersebut mengaku, selama ini dia bergantung pada ulama masjid tersebut, takut bila menikah tak bisa memberi istrinya makan. Lalu ulama menjelaskan bahwa wanita yang bersedia nikah baru ditinggal suaminya meninggal dan sudah melewati masa idah.Mantan suaminya meninggalkan harta yang banyak, singkat cerita menikahlah anak muda tersebut dengan wanita itu.Saat keduanya menuju rumah, anak muda itu kaget bukan kepalang karena rumah tersebut adalah rumah yang sempat didatanginya, hampir mencuri terong yang dimuntahkan. Sang pemuda bahkan menyampaikan kejadian yang sebenarnya kepada sang istri.

Dengan penuh hikmah, sang istri menyatakan bahwa ketika meninggalkan sesuatu yang haram, maka Allah Ta'ala menggantinya secara langsung, mengganti dengan istri berserta rumah dan isinya.Referensi : Kisah Nyata Pemuda Tinggalkan Makanan Haram, Allah Swt Bayar Kontan dengan Rumah dan Istri











Makanan Halal dan Haram

Ilustrasi : Makanan Halal dan Haram

Haram artinya dilarang, jadi makanan yang haram adalah makanan yang dilarang oleh syara’ untuk dimakan. Setiap makanan yang dilarang oleh syara’ pasti ada bahayanya dan meninggalkan yang dilarang syara’ pasti ada faidahnya dan mendapat pahala. Berbagai jenis makanan yang diharamkan oleh Allah SWT ini antara lain termaktub dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 3:  Jenis makanan haram. Berdasarkan ayat ini 5 kriteria makanan yang haram dimakan :

  1. Bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang.
  2. Darah, kecuali hati dan limpa. 
  3. Babi dan Anjing termasuk binatang haram untuk dimakan, karena telah diharamkan oleh Allah, Rasulullah SAW, dan para Ulama.
  4. Daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah.
  5. Hewan yang mati karena tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk, atau diterkam binatang buas.
  6. Semua makanan yang jijik, yaitu yang kotor dan menjijikan. Tikus termasuk binatang yang kotor dan menjijikkan, jadi tidak halal (haram)
  7. Bagian yang dipotong dari binatang yang masih hidup.
  8. Makanan yang didapat dengan cara yang tidak halal seperti makanan hasil curian, rampasan, korupsi, riba dan cara-cara lain yang dilarang agama.
  9. Binatang yang bertaring atau berkuku tajam, yang biasa ia gunakan untuk mencengkeram atau menyerang musuh-musuhnya.
  10. Binatang yang hidup di dua alam. Di antara ulama yang mengharamkan adalah sebagian ulama Syafiiyah dan Hanafiyah. Contoh: katak, buaya, dan kura-kura.

Jenis-Jenis Minuman Haram

  • Semua minuman yang memabukkan atau apabila diminum menimbulkan mudharat dan merusak badan, akal, jiwa, moral dan aqidah seperti arak, khamar, narkotika, dan sejenisnya.
  • Minuman dari benda najis atau benda yang terkena najis.
  • Minuman yang didapatkan dengan cara-cara yang tidak halal atau yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Referensi : Makanan Halal dan Haram

Akibat Memakan Harta Hasil Korupsi Sangat Mengerikan

Akibat Memakan Harta Hasil Korupsi Sangat Mengerikan. Tidak ada perbedaan pendapat para ulama terkait bagaimana hukum harta atau makanan yang diperoleh secara bathil. Jumhur ulama secara bulat memutuskan bahwa hukum terhadap perkara tersebut adalah haram. Barang siapa yang memakan sesuatu dari harta yang haram, maka mereka seperti memakan api neraka.

Korupsi adalah salah satu bentuk mengambil hak orang lain secara haram, artinya diperoleh secara batil. Atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang tidak berhak menerimanya. Jadi sudah jelas bahwa hasil yang diperoleh dari praktik korupsi adalah semuanya haram. Jika ia berbentuk jabatan, maka jabatannya haram, maka gaji yang didapat dari jabatan tersebut juga haram.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia, juga memutuskan dan menetapkan jika perbuatan korupsi sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dan hukumnya haram. Pelakunya harus tobat nasuha dan mengembalikan apa yang diambilnya kepada yang berhak.

Makna dari haram yaitu jika seseorang melakukan perbuatan tertentu maka ia akan mendapatkan dosa, sedangkan jika ia meninggalkan, maka tidak berdosa. Lalu mengapa banyak orang yang tidak takut korupsi? Apakah berarti mereka tidak takut dosa? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan sederhana ini.

Firman Allah Swt, "Dan janganlah sebahagian kamu makan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu ke hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 188).

Dalam ayat diatas secara tegas dikatakan bahwa memakan harta orang lain secara batil, maka akibatnya adalah dosa besar. Dan tempat orang yang melakukan dosa besar itu adalah neraka jahannam. Dan firman Allah Swt tersebut barangkali sudah diketahui banyak orang, bahkan mungkin yang menghafal ayat ini sendiri juga pelaku korupsi.

Maka sangat disayangkan apabila pelaku korupsi di Indonesia yang mengingkari ayat Tuhannya. Berarti mereka tergolong dalam golongan orang-orang yang menentang Allah Swt. Dengan demikian mereka telah melakukan dosa besar bahkan vonis murtad (keluar dari Islam) patut diberikan. Tidak peduli mereka sudah berhaji sembilan kali.

Perbuatan korupsi dalam pandangan agama sangat tidak dibenarkan. Karena hal itu menyangkut dengan rezeki halal yang harus mereka makan. Jika korupsi makanan yang mereka peroleh bukan dari rezeki yang halal.

Akibatnya, secuil makanan yang haram akan mengendap dalam perut seseorang. Ia akan tumbuh bersama daging dan darah. Tubuh manusia manapun yang tumbuh berkembang dan yang haram, maka nerakalah yang paling layak untuknya. Bayangkan jika uang haram tersebut lalu dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri mereka.

Ancaman bagi pemakan harta yang haram sangatlah berat. Bukan hanya azab dihari akhirat nantinya. Namun juga azab atau siksaan tersebut ada yang langsung ditampakkan didunia. Misalnya hidup pelaku korupsi tidak pernah bahagia, padahal hartanya banyak. Karena jabatan yang diperoleh dengan cara suap menyuap, maka jabatannya itu tidak berkah, atau jabatan itu semakin membuat mereka jauh dengan Tuhannya.

Saat ini banyak kita lihat disekeliling kita bagaimana kehidupan seorang pejabat yang kita tahu ia memang korup. Sungguh sangat menyedihkan. Kehidupan dalam rumah tangga sering kacau, ribut, hingga terjadi perceraian. Tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangga.

Anak-anak mereka hidup bebas, liar, dan banyak yang terjerumus narkoba, seks bebas, jauh dari agama. Sehingga masa depan mereka suram dan hancur. Tak pelak akhirnya masuk penjara dengan hukuman yang lama. Kenapa ini bisa terjadi. Karena dalam tubuh mereka berkembang darah dari makanan hasil korupsi yang haram.

Mungkin dari segi harta atau materi, para pelaku korupsi tidak mengalami kekurangan, bahkan berlimpah. Apalagi jika mereka pandai menyembunyikan hasil rampokan harta orang lain tersebut dengan rapi. Sampai aparat penegak hukum pun luput. Atau mereka saat ini sedang berkuasa, lalu aparatur bidang penindakan hukum takut menangkapnya.

Namun percayalah bahwa hal itu tidak akan bertahan lama. Lambat laun yang namanya bau busuk pasti tercium juga. Maknanya bahwa perbuatan korupsi yang dilakukan pasti juga akan terbongkar dengan sendirinya. Inilah bukti bahwa Tuhan tidak akan membiarkan siapapun berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain. Sampai mempermainkan nasib anak yatim dan fakir miskin dengan memakan hak mereka secara batil.

Sebagai bukti, memang korupsi di Indonesia sudah menggurita. Terjadi diberbagai daerah dan dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kepala desa hingga kepala negara. Dari politisi hingga hakim agung. Ada korupsi Bank Century, korupsi E-KTP, korupsi Al-Quran pun nekat dilakukan. Namun bagaimana akhirnya? Pelakunya pasti tertangkap dan kasusnya terbongkar.

Jadi sekali lagi, tidak usah coba-coba korupsi karena berpikir bahwa nanti bisa ditutup-tutupi dan sembunyikan. Percayalah bahwa pasti ketahuan. Lebih baik menerima seluruh hasil yang kita peroleh dengan cara yang halal walaupun masih mengalami kekurangan. Meskipun belum cukup, namun berkah. Hidup lebih tenang, damai, dan bahagia.

Ada sebuah hasil penelitian yang membuktikan bahwa terdapat kasus anak-anak dan generasi bangsa rusak karena orang tuanya menghidupi (makan, minum sandang, papan) dan membiayai pendidikan anak-anaknya dengan uang yang tidak sepenuhnya halal.

Pada masanya mereka menjadi pemimpin yang dilahirkan dari makanan haram hasil korupsi. Maka apa yang terjadi? Berlakulah maksiat dinegeri yang ia pimpin. Inilah kehancuran nyata sebuah bangsa, dimulai dengan kehancuran moral rakyatnya, lalu diikuti dengan bejatnya para pemimpin. Ini disebabkan oleh korupsi.

Sebagai penutup izinkan saya mengutip sebuah hadits Rasulullah saw yang mengingatkan siapa saja tentang suap menyuap (korupsi) "Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap. (HR Ahmad). Dalam nasehat yang lain juga dikatakan "hadiah untuk pejabat (penguasa) adalah kecurangan; penyuap dan yang menerima suap tempatnya adalah neraka." Semoga tulisan ini bermanfaat kiranya bagi yang mau mengambil pelajaran, tentu saja terutama bagi penulis sendiri. Dan jika mungkin bagi pembaca sekalian.

Referensi : Akibat Memakan Harta Hasil Korupsi Sangat Mengerikan













Tanda Ini Menunjukkan Mantan Akan Kembali Kepadamu

Ilustrasi : Tanda Ini Menunjukkan Mantan Akan Kembali Kepadamu

Tidak dapat dihindari bahwa setelah putus cinta dengan seseorang yang Anda cintai, akan tiba saatnya ketika Anda bertanya-tanya apakah hubungan itu benar-benar berakhir atau apakah ada kemungkinan mantan Anda hanya berpura-pura melupakan Anda. Dan jika demikian, apakah ada kemungkinan kalian berdua bisa kembali bersama suatu hari nanti? Bagaimana Anda tahu jika perpisahan tersebut untuk selamanya? Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan hal tersebut. 

1. Dia sudah dalam hubungan (rebound) baru

Berantem itu adalah sebuah persoalan yang biasa dihadapi setiap pasangan. Saat si dia marah, kamu bisa membuatnya tak marah lagi kok. (Ilustrasi: Kelas Cinta). Anda telah mengetahui bahwa mantan pacar Anda sudah menjalin hubungan lain. Bagaimana ini mungkin? Bisakah dia benar-benar move on secepat itu?.  Para ahli menunjukkan bahwa hubungan rebound umum terjadi setelah putus cinta. Inti dari hubungan rebound adalah untuk mengisi kekosongan yang tersisa setelah putus cinta yang menyakitkan. Hubungan rebound adalah "pembalut luka" emosional.

Dengan demikian, mantan Anda bisa menjalin hubungan rebound bahkan ketika dia masih mencintai Anda. Ada sejumlah petunjuk yang akan membantu Anda mengetahui apakah hubungan baru pacar Anda itu asli atau kedok belaka. Apakah dia mulai berkencan dengan sangat cepat setelah putus? Jika Anda berdua baru putus selama beberapa minggu dan dia sudah berkencan lagi, kemungkinan dia sedang pulih dan dia masih menyukai Anda.

2. Aktif di media sosial

Apakah dia menguntit media sosial Anda? Jika mantan pacar Anda menyisir melalui media sosial Anda dengan berkomentar, membagikan hal-hal yang Anda posting dan menyukai posting-an Anda, ini adalah tanda-tanda bahwa dia mungkin masih memiliki perasaan untuk Anda.

Dia tidak akan memantau konten media sosial Anda jika tidak. Seseorang tidak menginvestasikan waktu dan energi mereka untuk hal-hal yang tidak berarti baginya.

Tetapi jika mantan Anda telah berhenti mengikuti dan tidak berteman dengan akun media sosial Anda, itu berarti dia mencoba untuk pindah dan dia tidak menginginkan Anda dalam hidupnya dengan mengikuti aturan tidak ada kontak.

3. Dia belum mengembalikan barang-barang Anda

Banyak hadiah dan barang mungkin dipertukarkan karena hubungan tersebut. Apakah Anda masih memiliki banyak barang milik mantan pacar Anda?

Jika mantan Anda tidak sepenuhnya melupakan Anda, dia akan memilih untuk tidak mengambil barang-barangnya sehingga dia dapat memiliki alasan untuk datang menjemputnya di lain waktu. Selama ada barang miliknya di rumah Anda, ini adalah pertanda kuat bahwa Anda berdua akan selalu memiliki urusan yang belum selesai.

Jika mantan pacar Anda mengembalikan semua barang Anda, dan mengembalikan hadiah Anda setelah putus cinta, dan mengumpulkan barang-barangnya, ini adalah caranya untuk memberi tahu Anda bahwa dia serius untuk move on.

4. Dia tidak berubah

Jika Anda memperhatikan dan menyadari bahwa mantan pacar Anda sedang mencoba hal baru dan memiliki pengalaman baru, Anda harus mengakui bahwa dia sedang melanjutkan hidupnya.

Apakah dia belajar bahasa baru? Bepergian lebih banyak? Melakukan perjalanan hiking? Pergi berkemah? Ini jelas memberitahu Anda bahwa mantan Anda telah move on. Dia menginginkan kehidupan yang mendorongnya keluar dari zona nyaman dan rutinitas hariannya.

Dia juga terlihat berbeda. Apakah dia mendapatkan potongan rambut baru atau mewarnai rambutnya? Apakah dia berpakaian berbeda? Dia sengaja membangun kehidupan baru dan Anda lebih baik percaya bahwa dia terus maju.

5. Dia tidak move on

4 Zodiak Paling Pandai Mengekspresikan Cinta (sumber: Pexels)

Move on tidak selalu harus simbolis. Terkadang, orang tidak dapat benar-benar move on setelah putus cinta, terutama jika mantan pasangan bekerja di tempat yang sama atau mereka memiliki teman bersama.

6. Dia berkencan dengan seseorang yang sifatnya berlawanan dengan Anda

Para ahli menunjukkan bahwa kadang-kadang, mantan mencoba untuk mengkompensasi rasa sakit karena putus cinta dengan menemukan seseorang yang tidak seperti mantan mereka.

7. Dia masih menjalin komunikasi

Apakah kalian masih saling berkirim pesan dan menelepon seperti dulu? Apakah dia menelepon untuk memeriksa Anda dan menanyakan bagaimana hari Anda? Ini adalah salah satu tanda terbesar bahwa dia mungkin merindukan Anda dan tidak melupakan Anda. Tetapi jika dia memutuskan semua kontak, dia tidak ingin tetap berhubungan sama sekali. Ini sudah berakhir. Jika dia menghindari pergi ke tempat-tempat di mana Anda mungkin berada, bahkan tempat-tempat di mana dia biasanya ingin pergi, dia berusaha keras untuk memastikan bahwa Anda berdua tidak memiliki alasan untuk terhubung lagi.


Anak yang Dikasih Makan Uang Haram Bisa Jadi Nakal & Tertekan (Kyai Said)

Uang haram yang digunakan untuk menafkahi anak-anak dapat mengganggu mental dan tumbuh kembangnya. Uang yang haram mampu mengganggu tumbuh kembang anak karena pasti ada saja masalah yang muncul akibat uang tersebut hingga akhirnya membuat anak tertekan.  Ketua umum PBNU mengingatkan agar tidak mencari nafkah dengan cara yang tidak halal. Uang yang dihasilkan dengan cara demikian, tidak akan memberikan berkah bagi seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, Kiai Said mengimbau agar menjauhi diri dari uang haram apalagi untuk digunakan memberi makan anggota keluarga.

“Jika uang haram dimakan anak, belum tentu anaknya menjadi anak soleh, anaknya bisa jadi nakal. Dan itu saya bukan omong kosong,” Maka ingatlah selalu bahwa amanat ini amanat dari Allah, amanat dari negara, amanat dari rakyat. Untuk menghidari ‘uang haram’ Kiai Said memberikan tip sederhana: “Hendaklah berani mengatakan iya terhadap kebenaran, mengatakan tidak terhadap kezaliman atau penyimpangan,” kata Kiai Said singkat. Sebab menurutnya, barang siapa yang berpegang amanat dengan kuat dan berpegang pada perintah Allah maka hidupnya akan penuh berkah. Sebaliknya, barang siapa yang melanggar akan diazab dengan siksaan Allah baik di dunia atau di akhirat. Tapi kalau melanggar hukum, penyimpangan, sebelum di akhirat, di dunia pun tidur tidak nyenyak, hidup tidak tenang.

Referensi : Anak yang Dikasih Makan Uang Haram Bisa Jadi Nakal &  Tertekan 










Hukum Istri Minta Cerai Tapi Suami Menolak, Ini Penjelasan (Ustaz Khalid Basalamah)

Perceraian bukanlah suatu hal yang diharamkan dalam Islam. Meski begitu, dalam sebuah kesempatan Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa perceraian merupakan hal yang paling dibenci oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, pasangan suami istri sebaiknya mempertahankan dan menjalankan rumah tangganya sebaik mungkin. Namun, jika memang masalah tak dapat diselesaikan dengan baik dan harus memilih perceraian, tentu diperbolehkan. Misalnya karena adanya kekerasan dalam rumah tangga atau perselingkuhan. Pihak yang disakiti dan dikhianati biasanya lebih memilih untuk bercerai.

Lantas, bagaimana hukumnya dalam Islam jika istri minta cerai tapi suami menolak? Kenali istilah khul'u Khul'u sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi adalah:

اَلْفُرْقَةُ بِعَوضٍ يَأْخُذُهُ الزَّوْجُ (محي الدين شرف النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، بيروت-المكتب الإسلامي

"Khul'u adalah percerain dengan 'iwadl (pengganti atau tebusan) yang diambil oleh suami". (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Raudlatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, Bairut-Darul Fikr, tt, juz, VII, h. 347)

Maksud dari pernyataan ini adalah perceraian dengan tebusan dari pihak istri yang diberikan kepada sang suami. Dengan kata lain seorang istri minta cerai suaminya dengan memberikan tebusan kepadanya (suami) agar ia bisa lepas dari ikatan perkawinan. Khul'u ada dua katergori, yaitu khul'u yang didasari alasan, dan yang tidak didasari alasan. Sedangkan khul'u yang didasari alasan dibagi menjadi empat. Di antaranya adalah yang dihukumi mubah (diperbolehkan). Selanjutnya yang dihukumi mubah dibagi menjadi dua. Salah satunya adalah karena ketidaksukaan (karahah).

Maksud ketidaksukaan adalah ketidaksukaan istri terhadap suami, yang bisa jadi karena ketidakterpujian akhlak suami, kekasaran prilakunya, ketidaktaatan terhadap agamanya, atau penampilannya yang tidak sedap dipandang. Untuk diketahui, tulisan tersebut menanggapi pertanyaan pembaca, mengenai bolehkah menggugat cerai suami karena tidak suka melihatnya lalai mendirikan salat, dan membenci orang tua istri. "Dan keputusan ibu menggugat cerai adalah sebuah keputusan yang bisa dibenarkan. Namun kendatipun demikian, menghindari perceraian adalah yang terbaik," tulis Mahbub Ma’afi Ramdlan.  Ketika istri minta cerai, pikirkan kembali gugatan itu masak-masak. Cobalah berdiskusi dengan suami dan menasehatinya dengan cara yang santun sehingga tidak menyinggung perasaannya.

Berdoa sebanyak-banyaknya kepada Allah, agar diberi petunjuk, semua masalah bisa dapat diselesaikan dengan baik. "Bagaimana kalau suami tidak mau menceraikan ketika istri minta cerai? Maka itu haknya suami, kalau tidak mau ceraikan, itu haknya dia," ujar ustaz Khalid Basalamah, dalam salah satu kutipan ceramahnya. Namun, jika suami memiliki banyak kesalahan yang sulit diampuni, seperti berzina, malas beribadah, lakukan kekerasan, bicaranya selalu seolah tidak ada kebaikan istri sama sekali, tidak romantis, wajar saja istri minta cerai. Dengan catatan, istri telah mengingatkan suaminya."Kalau mau bersabar, bagus, itu ajang dakwah,"  Ustaz Khalid melanjutkan, lebih penting lagi jika pasangan memahami apa inti permasalahan dari kesalahan berulang itu. Sehingga yang diatasi bukan kesalahannya saja, tapi inti masalah di baliknya. 

Referensi : Hukum Istri Minta Cerai Tapi Suami Menolak, Ini Penjelasan (Ustaz Khalid Basalamah)












Talak Tiga Karena Emosi, Lalu Ingin Rujuk Lagi

Pertanyaan

Bagaimana hukumnya dalam islam jika seorang suami telah memberikan talak 3 kepada istrinya dan kemudian ingin rujuk kembali dengan istrinya dengan alasan khilaf. Dan pada waktu mengucapkan talak 3 kepada istrinya tidak ada saksi yang mendengar dan suami pada saat itu dalam keadaan emosi/marah. mohon jawabannya dan terimakasih atas informasi yang diberikan.

Dalam konteks hukum Islam pada Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan KHI, perceraian karena talak dapat kita lihat pengaturannya dalam Pasal 114 KHI yang berbunyi:

“Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian”

Yang dimaksud tentang talak itu sendiri menurut Pasal 117 KHI adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.

Melihat dari pertanyaan yang Anda sampaikan, kami berasumsi bahwa penjatuhan talak tiga oleh suami kepada istrinya tersebut dilakukan di luar pengadilan agama.

Pasal 129 KHI berbunyi:

“Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.”

Jadi, talak yang diakui secara hukum negara adalah yang dilakukan atau diucapkan oleh suami di muka Pengadilan Agama.

Jika talak diucapkan suami di luar Pengadilan Agama, menurut Nasrullah Nasution, S.H. dalam artikel Akibat Hukum Talak di Luar Pengadilan hanya sah menurut hukum agama saja, tetapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia. Akibat dari talak yang dilakukan di luar pengadilan adalah ikatan perkawinan antara suami-istri tersebut belum putus secara hukum.

Sebelum menjelaskan mengenai talak tiga, terlebih dahulu kami akan menjelaskan sedikit tentang talak satu dan dua. Sayuti Thalibdalam bukunya Hukum Kekeluargaan Indonesia mengatakan Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 229 mengatur hal talak dengan menjelaskan bahwa talak hanya sampai dua kali diperkenankan untuk rujuk kembali atau kawin kembali antara kedua bekas suami isteri itu (hal 100).

Apabila suami menjatuhkan talak satu atau talak dua, ia dan istri yang ditalaknya itu masih bisa rujuk atau kawin kembali dengan cara-cara tertentu. Penjelasan lebih lanjut mengenai talak satu dan dua dapat Anda simak dalam artikel Cerai Karena Gugatan dan Cerai Karena Talak.

Selanjutya kami akan menjelaskan mengenai talak tiga. Berdasarkan Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 230, kalau seorang suami telah menjatuhkan talak yang ketiga kepada isterinya, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya untuk mengawininya sebelum perempuan itu kawin dengan laki-laki lain. Maksudnya ialah kalau sudah talak tiga, perlu muhallil untuk membolehkan kawin kembali antara pasangan suami isteri pertama. Arti muhallil ialah orang yang menghalalkan. Maksudnya ialah si isteri harus kawin dahulu dengan seorang laki-laki lain dan telah melakukan persetubuhan dengan suaminya itu sebagai suatu hal yang merupakan inti perkawinan. Laki-laki lain itulah yang bernama muhallil. Kalau pasangan suami isteri ini bercerai pula, maka barulah pasangan suami isteri semula dapat kawin kembali (ibid hal. 101-102).

Talak tiga ini disebut juga dengan talak ba’in kubraa yang pengaturannya dapat kita temui dalam Pasal 120 KHI:

“Talak ba'in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da al dukhul dan habis masa iddahnya.”

Dalam artikel Masih Bisa Rujuk atau Wajib Kawin Kembali dengan Mantan istri dikatakan bahwa kawin kembali ialah kedua bekas suami istri memenuhi ketentuan sama seperti perkawinan biasa, yaitu ada akad nikah, saksi, dan lain-lainnya untuk menjadikan mereka menjadi suami istri kembali. Sungguh pun demikian dalam masyarakat kita di Indonesia orang selalu menyebut kawin kembali itu dengan sebutan rujuk juga.

Jadi, jika suami dalam pertanyaan Anda ingin “rujuk kembali” dengan istri setelah talak tiga dijatuhkan, maka si istri harus menikah dengan seorang muhallil. Setelah menikah dengan muhallil, lalu si istri yang dijatuhkan talak tiga itu cerai ba'da al dukhul dan harus melewati masa iddahnya. Setelah itu, si istri bisa dinikahkan kembali oleh suami pertama yang menjatuhkan talak tiga kepadanya.

Tidak adanya saksi saat suami menjatuhkan talak tiga ke istrinya ini tidak menjadi masalah. Namun, seperti yang kami jelaskan tadi, talak yang dijatuhkan di luar pengadilan agama itu hanya sah secara hukum agama. Jadi sebenarnya walaupun tidak ada saksi saat suami menjatuhkan talak tiga ke istrinya, maka talak itu sudah sah menurut hukum agama Islam.

Referensi : Talak Tiga Karena Emosi, Lalu Ingin Rujuk Lagi















Suami & Istri, jangan lakukan 7 hal ini saat bertengkar jika tak mau menyesal

Ilustrasi : Suami & Istri, jangan lakukan 7 hal ini saat bertengkar jika tak mau menyesal

Tidak dipungkiri bahwa prahara rumah tangga akan selalu ada dalam cerita hidupmu. Tidak selama rumah tangga menghadirkan kebahagiaan dan kesenangan. Ada kalanya mengalami pertengkaran yang sebenarnya menguji masing-masing pihak untuk lebih kuat dalam membangun rumah tangga itu sendiri. Namun terkadang pertengkaran kamu dengan pasangan bisa terlalu menyulut emosi. Sampai-sampai tidak sadar melakukan hal-hal kasar atau keras. Padahal kalau bisa jangan pernah sampai terlalu keras dalam pertengkaran kamu dengan orang yang kamu cintai.

Mengukur kata-kata sebelum kamu ucapkan adalah seni. Meskipun kita semua tidak bisa menguasai seni, lebih baik berhati-hati saja saat bertengkar. Karena argumen kecil pun bisa berubah menjadi pertempuran besar jika dipicu oleh kata-kata atau tindakan yang buruk. Oleh karena itu, merdeka.com akan membantu kamu untuk menguasai semua itu. Dan juga menunjukkan hal-hal apa saja yang jangan sampai kamu lakukan saat bertengkar dengan pasangan.

Kalau kamu kebetulan sedang bertengkar lewat telepon, lalu kamu menutup telpon tanpa permisi, maka itu akan menjadi petaka. Terlebih lagi jika pasanganmu mencoba menelepon lagi, kamu reject. Telpon lagi, kamu reject lagi. Bahaya. Padahal bisa jadi panggilan telepon itu untuk menawarkan solusi. Ketika dia sudah ingin menyudahi, kamu malah memotongnya. Kalau memang kamu tidak senang dengan atmosfer pertengkaran, kenapa harus menghindar?

Kalau memang kamu tidak ingin berbicara dengan dia dalam kondisi suasana hati yang buruk, kamu bisa mengangkat telepon dari dia dan sampaikan bahwa dia bisa menelepon lagi nanti atau kamu sendiri yang akan menghubungi dia setelah suasana hatimu membaik.

Jangan pernah menantang

Pikirkan, jika ada api kecil lalu kamu menyiramkan bensin tepat di atasnya. Seperti itulah. Jangan pernah menantang seseorang yang sedang marah atau emosi. Karena meskipun itu adalah pasangan kamu yang kamu cintai dan dia mencintai kamu, bukan berarti dia tidak bisa bertindak kasar. Contohnya, saat pasanganmu mulai mengangkat tangan hendak memukul, lalu kamu berteriak, "Mau main tangan? Silakan kalau memang kamu ingin disebut laki-laki-sejati!" Kata-kata seperti itu jelas bukan ide yang bagus. Ketimbang menantang orang yang sedang emosi seperti itu, ada lebih dari 100 cara untuk mendinginkan suasana hati pasangan kamu. Ini berlaku juga untuk suami maupun istri. Intinya, salah satu harus rela menjadi air, bukan bensin.

Merusak benda-benda sekitar

Biasanya, saat emosi sudah diubun-ubun orang akan cenderung melampiaskan amarahnya lewat barang-barang di sekitar. Hal itu secara psikologis memang ada, karena dia secara batin tidak kuasa untuk menyakiti, menampar atau main tangan pada pasangan karena saking cintanya. Makanya, amarah dilampiaskan ke pintu yang dibanting, melempar vas bunga ke dinding, pergi ke dapur dan membuat suara-suara gaduh tak jelas. Karena hal itu justru akan membuat pasanganmu merasa terintimidasi dan terkejut. Yang lebih parah lagi, ketidakmampuan kamu mengendalikan amarah justru dipandang sebagai kelemahan

Melibatkan orang lain

Jangan pernah melibatkan orang lain dalam emosi pertengkaranmu. Misalnya saja suami yang pulang terlambat karena pekerjaan. Kemudian kamu mulai mengadu dan menceritakan betapa kamu kesal karena suamimu pulang terlambat. Kalau suamimu mengetahui itu, jelas akan membuat dia makin kesal. Akhirnya pertengkaran yang semula tentang pulang terlambat, akan merembet ke perkara campur tangan orang tua dan kamu yang tidak bisa menyimpan prahara rumah tangga dengan menceritakan masalah ke orang lain.

Pada dasarnya melibatkan orang lain tidak perlu dalam pertengkaran rumah tangga selama kamu bisa mendiskusikan dan menyelesaikannya sendiri. Lagipula, ketika kamu mengadu ke orang lain, belum tentu mereka bisa membantumu, atau malah bisa memanas-manasi hati sehingga makin emosi. Selain itu, jika kamu mengadu ke orang lain yang lebih dewasa, kebanyakan mereka akan mengembalikan semuanya ke kamu dan pasanganmu untuk menyelesaikan secara pribadi. So, itu tidak ada gunanya.

Berbicara tentang perpisahan

Jangan sampai! Jika kamu mengucapkan kata perpisahan atau perceraian dalam setiap pertengkaran yang kamu alami dengan pasangan, maka dia mungkin akan merasa terhina. Seakan kamu selalu mengajak pisah dan dia tidak menghendaki sehingga terus menerus bertengkar dan terus menerus mendengar kata pisah.

Kalau memang kalian sudah tidak ingin bersama lagi, sebaiknya semua dibicarakan sambil ngopi atau bersantai. Mungkin itu lebih baik daripada mengutarakannya dalam keadaan emosi.

Menggali masalah lain

Kamu bertengkar dan mulai membawa-bawa masalah lain atau masalah yang sudah lalu. maka pertengkaran kalian akan bertambah parah. Sebaiknya jangan coba-coba menggali masalah yang sudah berlalu, selesaikan saja masalah kalian yang sekarang. Itulah pentingnya menyelesaikan masalah di saat itu juga, agar kelak pertengkaran tersebut tidak diungkit lagi di masa yang akan datang. Jika kamu sudah menggali masalah lain, pasangan kamu juga melakukan hal yang sama, maka hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kalian.

Tidak tidur bersama

Wajar ya, mungkin setelah bertangkar hebat kamu maupun pasangan kamu akan membenci satu sama lain untuk beberapa waktu. Tapi di malam hari, jika kamu tidur di ruangan terpisah untuk menghindari kehadiran pasangan, jarak antara kalian bisa meningkat. Untuk itu, usahakan tetap tidur dalam satu ruangan dan satu ranjang. Siapa tahu saat pagi hari, otak lebih fresh sehingga kalian bisa mulai berkompromi dengan diri sendiri dan pasangan kamu

Referensi : Suami & Istri, jangan lakukan 7 hal ini saat bertengkar jika tak mau menyesal



Inilah Orang-Orang yang Bangkrut di Hari Kiamat

Inilah Orang-Orang yang Bangkrut di Hari Kiamat. Bangkrut ternyata bukan orang mengalami yang kerugian dalam bisnis dan perniagaan. Tetapi lebih dari itu, Rasulullah mengingatkan agar umatnya jangan sampai mengalami bangkrut di hari kiamat. Dalam sebuah hadis sahih Muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam (SAW) mengabarkan tentang orang-orang yang bangkrut pada hari kiamat. Betapa meruginya mereka yang mengalami bangkrut tersebut.

Bangkrut di sini ternyata bukan orang mengalami kerugian dalam bisnis dan perniagaan. Tetapi lebih dari itu, Rasulullah mengingatkan agar umatnya jangan sampai mengalami hal itu di hari kiamat. orang yang bangkrut di hari kiamat akan menjadi penghuni neraka yang pedih dan amat berat siksanya. Lalu, apa penyebab seseorang menjadi bangkrut di hari kiamat? Ternyata karena kezalimannya kepada orang lain. Semua amal saleh yang dilakukannya di dunia akan hilang lantaran perbuatan buruknya itu. Na'udzubilahi min dzalik.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Ali bin Hujr keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: 'Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.'

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan salat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim No. 4678).

Gara-gara penyakit hati, kita bisa masuk ke dalam sifat muflis. Muflis itu adalah orang yang banyak berbuat baik, tetapi dia juga banyak berbuat jelek. Sehingga kebaikan yang kita lakukan, akan dibayarkan kepada orang yang kita zalimi. Allah Subhanahu wa ta’ala tentu melarang kita untuk berbuat zalim terhadap sesama. Selain merugikan orang lain, sifat zalim ini akan merugikan diri kita sendiri.

“Jadi, jika kita lihat kezaliman-kezaliman yang terjadi saat ini, di akhirat itu ada perhitungannya. Tidak akan selesai seperti selesainya kematian. Maka penting bagi kita untuk menghisab diri sebelum kita dihisab,” kata Aa Gym dalam video yang berdurasi 52 menit 30 detik itu. Tidak ada yang tahu bagaimana persisnya kehidupan di akhirat, yang ada hanyalah ganti rugi dengan pahala dan dosa. Sehingga itulah makna yang dijelaskan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam agar tidak termasuk orang yang bangkrut dan merugi di hari akhir nanti

Referensi : Inilah Orang-Orang yang Bangkrut di Hari Kiamat
















Riwayat Rasulullah Muhammad SAW Tentang Manusia Bangkrut di Akhirat

Riwayat Rasulullah Muhammad SAW Tentang Manusia Bangkrut di Akhirat. Kebangkrutan tidak hanya dialami manusia ketika masih hidup di dunia, tetapi juga bakal dihadapi manusia saat mereka di akhirat. Riwayat tentang kebangkrutan manusia di akhirat dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Ketika Rasululullah sedang duduk bersantai bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menyampaikan satu pertanyaan singkat pada mereka. Pertanyaan itu disampaikan dalam suasana kekeluargaan, sahabat yang satu dengan yang lain nampak bergaul dengan akrab. Demikian juga dengan Nabi yang amat dicintainya.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ (رواه مسلم) 

“Tahukah kalian, Siapakah orang yang mengalami bangkrut berat diantara kalian?” Para sahabat menjawab pertanyaan Nabi: “Mereka adalah orang yang tidak memiliki suatu harta apapun”. (HR. Muslim, No: 2581). 

Para sahabat menjawab apa adanya terhadap pertanyaan Nabi, bahwa orang yang failit (bangkrut berat) adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa, bahkan mereka yang memiliki uang karena usaha-usahanya terus-menerus rugi. Nabi selanjutnya meluruskan pendapat mereka, bahwa bangkrut yang disebutkan di atas, baru tergolong bangkrut biasa bukan bangkrut berat. Nabi menjelaskan:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ (رواه مسلم) 

“Tahukah kalian, Siapakah orang yang mengalami bangkrut berat diantara kalian?” Para sahabat menjawab pertanyaan Nabi: “Mereka adalah orang yang tidak memiliki suatu harta apapun”. (HR. Muslim, No: 2581). 

Para sahabat menjawab apa adanya terhadap pertanyaan Nabi, bahwa orang yang failit (bangkrut berat) adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa, bahkan mereka yang memiliki uang karena usaha-usahanya terus-menerus rugi. Nabi selanjutnya meluruskan pendapat mereka, bahwa bangkrut yang disebutkan di atas, baru tergolong bangkrut biasa bukan bangkrut berat. Nabi menjelaskan:

فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ  (رواه مسلم) 

“Orang yang menderita bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari kemudian dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak, ia datang dengan membawa pahala shalatnya yang begitu besar, pahala puasa, pahala zakat, sedekah, amal dan sebagainya. Tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu, orang yang dulu pernah dicaci maki, pernah dituduh berbuat jahat, orang yang hartanya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya. Semua mereka yang dianiaya orang tersebut, dibagikan amal-amal kebaikannya, sehingga amal kebaikannya habis. Setelah amal kebaikannya habis, maka diambillah dosa dan kesalahan dari orang-orang yang pernah dianiaya, kemudian dilemparkan kepadanya kemudian dicamppakkannya orang itu  ke dalam neraka". (HR. Muslim, No: 2581). 

Beberapa rombongan orang-orang yang pernah dianiaya menuntut segala perbuatan yang tercela dari penderita bangkrut itu, maka diambillah pahala orang itu untuk menutup kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dulu ketika hidup di dunia.

Demikian banyaknya kesalahan dan dosa yang ia lakukan terhadap orang lain. Sehingga balasan pahalanya habis sama sekali. Setelah balasan pahala itu habis, masih banyak berdatangan orang-orang menuntut kepadanya, akan tetapi karena kebaikan orang itu telah sirna, maka ia tidak dapat lagi menutupi kesalahan-kesalahannya. Nasib penderita bangkrut berat itu amat celaka, orang-orang yang ia aniaya akhirnya menimpakan dosa perbuatan buruknya kepada orang itu. Dengan demikian pahala kebaikannya tidak tersisa sedikitpun, sedang keburukannya terus semakin bertumpuk, selain dosanya sendiri ditimpakan padanya juga, dosa orang lain yang pernah disakitinya dahulu. 

Orang itu akhirnya tercampakkan dalam kehidupan yang amat hina dan adzab yang menyakitkan di akhirat. Hadis Nabi di atas memperingatkan manusia semua agar terus melakukan koreksi diri, karena sering sekali manusia lalai. Seseorang begitu mudah mengoreksi dan mencari kesalahan serta dosa orang lain, tetapi tidak pernah mencari kekurangan pada diri sendiri. Manusia sering membanggakan demikian banyak ibadah dan amal yang kita lakukan, tanpa sadar mereka juga melakukan berbagai macam dosa dan kesalahan. Manusia sering tidak menyadari, bahwa perbuatan yang dilakukannya itu seperti menyakiti orang lain, menganiaya, menipu dan menyulitkan terhadap sesamanya.

Referensi : Riwayat Rasulullah Muhammad SAW Tentang Manusia Bangkrut di Akhirat
















Orang-orang yang Bangkrut di Hari Kiamat

Orang-orang yang Bangkrut di Hari Kiamat. Dalam sebuah hadis sahih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) mengabarkan orang-orang yang bangkrut pada hari kiamat. Betapa meruginya mereka yang mengalami bangkrut tersebut.

Bangkut di sini ternyata bukan orang mengalami kerugian dalam bisnis dan perniagaan. Tetapi lebih dari itu, Rasulullah mengingatkan agar umatnya jangan sampai mengalami hal itu di hari kiamat.

Apabila seseorang mengalami bangkrut di hari kiamat, ia akan menjadi penghuni neraka yang pedih dan amat berat siksanya. Lalu, apa penyebab seseorang menjadi bangkrut di hari kiamat? Ternyata karena kezalimannya kepada orang lain. Semua amal saleh yang dilakukannya di dunia akan hilang lantaran perbuatan buruknya itu. Na'udzubilahi min dzalik.

Berikut sabda Rasulullah SAW:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Ali bin Hujr keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?"

Para sahabat menjawab: 'Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.'

Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan salat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.' (HR. Muslim No. 4678)

Referensi : Orang-orang yang Bangkrut di Hari Kiamat