Do'a, adalah sarana umat muslim untuk berkomunikasi dengan Rabb-nya. Doa juga merupakan jalan untuk setiap hambanya mengadu dan meminta permohonan, dengan berharap Allah kabulkan doa-doanya. Namun ada juga beberapa penyebab doa sulit dikabulkan oleh Allah SWT.Allah SWT menciptakan manusia untuk senantiasa selalu beribadah kepada-Nya, Termasuk berdoa.
Seperti dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
Berdoa merupakan suatu ibadah untuk manusia agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Rabb-nya. Karena sesungguhnya tiada tempat meminta yang lebih baik selain kepada Allah SWT.
Allah SWT memiliki 99 sifat mulia, termasuk sifat Maha pemurah dan Maha pengasih. Kepada hambanya yang senantiasa berdoa dan memohon jalan keluar dari permasalahan hidupnya.
Melalui doa-doanya seorang hamba, Allah SWT akan memberikan bantuan atau pertolongan ketika sedang melalui musibah atau sedang kesusahan.
Berdoalah kepada Allah SWT, agar hidup kita senantiasa dimudahkan oleh Allah SWT. Namun ada kalanya juga kita merasa bahwa doa-doa tak kunjung Allah SWT kabulkan.
Pada dasarnya tidak ada doa seorang hamba yang tidak dikabulkan. Allah SWT pasti akan mengabulkan setiap doa hambanya kapanpun dan dimanapun Allah kehendakinya.
Namun, berikut ada empat penyebab doa sulit dikabulkan oleh Allah SWT, yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim.
1. Penyebab Doa Sulit Dikabulkan: Banyak Dosa dan Maksiat yang Dilakukan
Salah satu Penyebab doa sulit dikabulkan, diantaranya, manusia banyak berbuat dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Sehingga menjadi faktor penghalang dari terkabulnya doa yang ia panjatkan.
Pada dasarnya manusia merupakan seorang hamba yang tidak luput dari kesalahan dan khilaf. Namun Allah senantiasa membukakan pintu maaf-Nya kepada setiap hamba yang mau bertaubat.
Oleh karena itu, sebelum merasa doanya tak kunjung dikabulkan. Sebaiknya seorang hamba bermuhasabah diri terlebih dahulu, dosa apakah yang sudah diperbuat sehingga bisa menghalangi doa-doanya terkabul.
2. Penyebab Doa Sulit Dikabulkan: Makan dan perngakat yang Haram
Penyebab doa sulit dikabulkan selanjutnya, seorang hamba selalu memakan dari hasil yang haram. Seperti dalam sabda Nabi ﷺ:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah SWT itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkannya kepada para Rasul. Firmannya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.’ “kemudian Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang laiki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuh. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tanganya kelangit seraya berdoa: ‘Wahai tuhanku, wahai tuhanku.’ Padahal, makanannya dari bahan yang haram, minumanya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaiamanakah Allah akan mengabulkan doanya?.” (HR. Muslim)
3. Penyebab Doa Sulit Dikabulkan: Kosongnya Hati dan Tidak Serius
Penyebab doa sulit terkabul
Penyebab doa sulit dikabulkan lainya adalah, ketika seorang hamba berdoa namun ia tidak serius dan hatinya pun kosong.
Dari Abu Huraira, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berdoalah kepada Allah SWT dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. At-Tirmidzi)
Ketika berdoa dengan hati yang kosong, itu sama halnya tidak serius dalam meminta atau memohon kepada Allah SWT.
Seperti sama halnya ketika seseorang sedang berbicara dengan orang lain namun tidak melihat matanya. Maka terjadilah seperti apa yang kita ucapkan terasa bohong dan tidak ada artinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki, dan rahmatilah aku jika Engkau berkehendak.’ Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam meminta, Karena Allah sama sekali tidak memaksa.” (HR. Bukhari)
4. Penyebab Doa Sulit Dikabulkan: Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Penyebab doa sulit dikabulkan selanjutnya ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar atau meninggalkan kebaikan.
Ketika seorang hamba sudah melalaikan perbuatan baik sesuai dengan syariat Islam, dan selalu melakukan perbuatan dosa. Maka niscaya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa-doanya.
Dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma;ruf nahi mungkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi)
Referensi : 4 Hal Penyebab Doa Sulit Dikabulkan oleh Allah SWT
Dalam kehidupan di dunia ini ada yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Manusia yang percaya akan Tuhan tentunya sangat bergantung pada hal ini. Sebuah amalan ajaib yang bisa merubah segalanya, yang dengannya yang sulit menjadi mudah, bahkan yang mustahil dapat tercapai. Amalan ajaib tersebut dinamakan doa. Pahami amalan berikut ini agar doa dikabulkan.
Bagi seorang muslim doa adalah tanda berserah diri pada Allah subhanawata’ala. Hanya dari doa yang dilangitkan dan ikhtiar yang dimaksimalkan , maka semua yang diinginkan dapat tercapai atas izin Allah. Muslim yang tidak berdoa dapat dikatakan sebagai seorang yang sombong, ia seolah-olah dapat menyelesaikan segala sesuatunya sendiri. Padahal sekeras apapun usaha seseorang dalam memperjuangkan sesuatu, tanpa doa yang mengundang izin Allah maka tidak akan tercapai.
“Pada suatu hari, salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Rasulullah menjawab, “Perbanyaklah berdoa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR Ath-Thabrani)
5 Amalan agar doa dikabulkan
Setiap yang berdoa selalu Allah kabulkan, namun cara Allah mengabulkan doa tidak harus sama persis seperti yang diucapkan, terkadang Allah mengabulkannya dengan menundanya, atau menggantinya dengan yang lebih baik, karena Allah yang Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya.
“ Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Gafir : 60)
Berikut adalah 4 amalan agar doa segera dikabulkan.
1. Sholat Taubat
Amalan yang paling utama yang bisa dilakukan yaitu sholat taubat. Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, maka mengakui kesalahan dan meminta ampun kepada Allah serta berjanji tidak akan mengulanginya menjadi penting agar kita selalu merenungi segala perbuatan kita yang salah.
Terkait sholat taubat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat (HR. Ibnu Majah).”
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d ayat 28).
Amalan pertama yang bisa menjadi iktiar kita dalam mempercepat terkabulnya doa adalah dengan memperbanyak dzikir. Dzikir yang bisa diamalkan diantaranya yaitu Dizkir Ya Mujib. Anda dapat mengamalkan pada waktu-waktu mustajab berdoa seperti setelah sholat subuh.
3. Melakukan sholat hajat
Sholat hajat menjadi salah satu amalan paling utama yang bisa dilakukan agar doa kita dikabulkan Allah SWT. Sholat sunnah ini memang ditujukan untuk setiap muslim yang memiliki keinginan ataupun ketika ingin mencari solusi dari sebuah masalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan bahwa sholat hajat untuk dilakukan ketika ingin agar doa kita lekas terkabul.
4. Rutinkan sholat tahajud
Sholat sunnah di sepertiga malam ini menjadi waktu yang mustajab untuk setiap muslim dalam ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain bisa mendekatkan kita kepada sang pencipta ataupun segera selesainya ujian hidup yang sedang dihadapi, bisa juga menjadi amalan untuk segera terkabulnya doa ataupun keinginan kita.
5. Perbanyak sedekah
Allah dalam firmanNya dalam Al-quran surah Al Hadid ayat 18:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid ayat 18).
Berdasarkan ayat diatas, setiap harta yang kita keluarkan untuk sedekah, makan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Agar doa kita bisa segera terkabul, amalan sedekah menjadi yang paling mustajab yang bisa kita lakukan agar dapat mempercepat doa kita terkabul.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bersedekah diantaranya dengan menyalurkan sedekah terbaik anda melalui platform sedekah online dari ACT. Berbagai metode pembayaran semakin memudahkan kita dalam bersedekah dari manapun kita berada.
Tata cara berdoa yang dianjurkan agar cepat terkabul
Pertama, meluruskan niat karena Allah SWT dan menjadikan doa sebagai satu-satunya cara berserah diri hanya Allah-lah yang mampu sedangkan manusia tidak mampu.
Kedua, menghadap kiblat dan menengadahkan tangan. Diterangkan dalam hadits berikut ini:
Dari Salman radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Ketiga, mengucapkannya dengan suara lirih dan tidak dikeraskan. Dalam surat maryam ayat -3 Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Zakaria, yang berdoa dengan penuh khusyu dan suara lirih.
“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra: 110)
Keempat, memulai doa dengan memuji Allah SWT seperti tahmid dan tasbih dan shalawat kepada Rasulullah SAW.
Kelima, perbanyaklah doa, karena bagaikan kayuhan sepeda, semakin sering dilantunkan maka atas izin Allah akan semakin dekat untuk dikabulkan.
Waktu- waktu mustajabnya doa
“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni’.” (HR. Muslim)
Terdapat beberapa waktu mustajab dimana doa akan Allah kabulkan salah satunya seperti hadits diatas.
Sepertiga malam. Bagi muslim yang mengetahui mulianya ibadah malam tersebut tentunya tidak ragu lagi bahwa setiap doa yang diucapkan akan Allah kabulkan.
Setelah shalat. Jika sudah melaksanakan shalat maka hendaknya seseorang tidak beranjak dari tempat shalatnya, karena di waktu itulah para malaikat akan membantu meng-aminkan doa-doa.
Diantara adzan dan iqomah. Jika adzan telah selesai , maka perbanyaklah berdoa. Dan memohonlah agar doa diterima oleh Allah SWT.
Pada saat sujud dalam shalat. Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Jarak yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud kepada-Nya. Maka, perbanyaklah doa pada saat itu” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i)
Setelah shalat ashar di hari jum’at. Dari Anas bin Malik RA dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, “Carilah oleh kalian waktu-waktu yang mustajab pada Jumat setelah Ashar sampai tenggelamnya matahari.”
Ketika berbuka puasa. Waktu berbuka puasa adalah waktu yang penuh berkah, karena di waktu ini manusia sedang merasakan kebahagiaan setelah menahan lapar dan haus seharian. Sehingga doa yang dipanjatkan dapa waktu ini ata izin Allah tidak tertolak.
Jika seseorang merasa doanya belum dikabulkan maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan selain dari adab dan waktunya. Bisa jadi karena berdoa dengan tergesa-gesa atau tidak yakin akan doa yang dipanjatkan. Kebanyakan sebab doa belum terkabul karena masih sering bermaksiat, atau memakan makanan minuman haram. Oleh karena itu yakinlah akan doa-doa yang ingin kita sampaikan , dan jauhilah semua yang Allah larang, insya Allah dengan begitu tidak ada penghalang agar doa dikabulkan.
Referensi : Pahami Amalan Ini Agar Doa Dikabulkan Oleh Allah Swt
Kisah Nabi Musa dan Seorang Lelaki yang Tertolak Doanya. Dikisahkan dalam al-Jauhar al-Mauhub, bahwa suatu hari Nabi Musa as. kedatangan seorang lelaki Bani Israil yang berkeluh kesah atas nasib yang dideritanya. Dia berterus terang bahwa masa lalu hidupnya kelam. Hari-harinya hanya diisi dengan perbuatan tercela dan durjana. Tapi semenjak mendengar ajaran nabi Musa dirinya mengaku bertaubat. Hanya saja setelah bertaubat, justru hidupnya bertambah sengsara.
"Dulu banyak teman-temanku yang membantuku. Aku butuh uang untuk judi, minuman keras, maka mereka memberiku. Tapi sekarang aku butuh segelas air susu untuk orang tuaku, mereka tak mau memberiku, wahai Musa!" keluh kesah lelaki itu.
"Engkau ajarkan kepada pengikutmu agar berdoa dan tak bergantung kepada manusia. Ajaran itu telah aku lakukan dengan cara berdoa setiap waktu. Tujuannya agar Allah mencukupi kebutuhan keluargaku. Tapi lagi-lagi doaku tak kunjung dikabulkan Tuhan, sehingga semakin tragis nasibku." kata lelaki itu dengan penuh iba kepada nabi Musa.
Nabi Musa mencoba menghibur lelaki dari Bani Israil itu. Beliau bertanya: "Apa permintaan yang kamu panjatkan kepada Tuhan, wahai saudaraku!. Lelaki itu menjawab: "Agar aku tak bergantung lagi kepada teman-temanku, kini, aku telah memiliki sepasang kambing hasil menabung dari jerih payahku. Setahun lebih sepasang kambing itu kurawat, tapi mereka tak kunjung juga kawin."
"Jadi, maksudnya kamu berdoa kepada Allah agar sepasang kambingmu itu mau kawin!?" tanya Nabi Musa. Lelaki itu menjawab: "Betul, wahai Musa! Bagaimana caranya supaya Tuhan mengabulkan doaku agar sepasang kambingku mau kawin dan beranak pinak."
Dengan sedikit menahan rasa geli dalam hati, Nabi Musa menanyakan bagaimana cara lelaki itu berdoa kepada Allah. Laki-laki itu menjawab: "Ya Allah, kawinkanlah kambing peliharaanku!" Mendengar cara berdoa seorang hamba yang belum lama bertaubat, nabi Musa lalu mengajarkan kepadanya cara doa yang baik sebab doa yang baik hasilnya juga baik.
Nabi Musa menyarankan agar sebelum mengutarakan hajatnya kepada Allah, lelaki itu terlebih dulu memuji Allah dan bersalam kepada nabi-Nya. Begitu pula sewaktu dirinya hendak menutup doa.
Dahulu, setelah lelaki Bani Israil itu mempraktekkan cara berdoa yang diajarkan nabi Musa, pasangan kambing miliknya beranak pinak banyak dan menghasilkan air susu yang melimpah ruah. Sejak itu berubahlah kehidupannya menjadi hamba Allah yang taat dan kaya raya.
Alquran mengajarkan bahwa doa yang baik adalah doa yang diawali dan diakhiri dengan cara memuji kepada Allah dan menyebut rasul kekasih-Nya. Allah berfirman: "Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan salam kepada hamba-hamba-Nya yang dipilh-Nya." (QS. an-Naml: 59).
Referensi : Kisah Nabi Musa dan Seorang Lelaki yang Tertolak Doanya
Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rizki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula dikabulkan, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanyakan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah, Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits,
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal:
Allah akan segera mengabulkan do’anya,
Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan
Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.”
Boleh jadi tidak terkabulnya doa seorang hamba karena maksiat yang ia perbuat, karena hatinya yang lalai saat memanjatkan doa, atau karena memakan yang haram. Atau boleh jadi pula doa seseorang tak kunjung terkabul karena Allah Ta’ala memilih yang terbaik untuknya dengan Allah mengganti apa yang ia minta dengan yang lebih bermanfaat di surga dan akhirat kelak. Atau bahkan Allah menggantinya dengan sesuatu di akhirat dan di surga yang kekal.
Bisa jadi pula Allah mengganti permintaan hamba tadi dengan maslahat lainnya dengan Allah menghindarkan darinya berbagai keburukan. Bisa jadi Allah menghindarkan darinya kejelekan tanpa ia sadari. Itulah karena doa yang ia panjatkan pada Allah. Inilah yang terbaik sesuai dengan hikmah Allah. Allah bisa jadi mengabulkan doanya dengan memberikannya anak, rumah atau istri. Boleh jadi pula Allah palingkan dari kejelekan dengan sebab doa dan mengganti dengan yang lebih manfaat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.
Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ Jadi maksiat dan makan makanan yang haram, itu juga adalah sebab penghalang terkabulnya do’a. Begitu pula hati yang lalai dalam berdoa, itu pula salah satu penghalang. Atau barangkali Allah beri kita yang terbaik dan mengganti dengan yang lebih baik dari doa yang kita minta.
Referensi : Penyebab DoaTak Kunjung Dikabulkan Allah Swt
Penyebab Dikabulkan dan Ditolaknya Do'a. sebuah hadis Qudsi diterangkan;
عن أنس بن مالك رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل قال: أربع خصال: واحدة منهن لي، وواحدة لك، وواحدة بيني وبينك، وواحدة فيما بينك وبين عبادي. فأما التي لي لا تشرك بي شيئًا. وأما التي لك علي فما عملت من خير جزيتك به. وأما التي بيني وبينك فمنك الدعاء وعلي الإجابة. وأما التي بينك وبين عبادي فارض لهم ما ترضى لنفسك.
Artinya: “Dari Anas bin Malik ra. Nabi saw menyampaikan firman Allah: “Ada empat kualitas, satu di antaranya adalah untuk-Ku, satu untukmu, satu antara aku dan kamu dan satu lagi antara kamu dan hamba-Ku. Adapun yang menjadi hak-Ku adalah engkau tidak mensekutukan-Ku dengan suatu apapun. Adapun yang hakmu dari-Ku adalah apa yang engkau lakukan dari kebaikan, engkau akan mendapat ganjarannya. Adapun yang di antara aku dan kamu adalah doa. Sedangkan yang di antara kamu dan hamba-hamba-Ku adalah maka ridhokanlah untuk mereka apa yang engkau relakan untuk dirimu.”
Dalil dari Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; dari Abu Hurairoh ra, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah akan marah kepadanya. (HR. Ahmad)
Pentingnya untuk berdoa karena ia sebut juga sebagai ibadah.
روى الإمام أحمد بسنده، عن النعمان بن بشير رضي الله عنه ، قال: قال رسول الله : إن الدعاء هو العبادة، وقرأ هذه الآية :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ .
Dari Nu’man din Basyir ra. Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya doa adalah ibadah”. Lalu nabi membaca firman Allah: “Dan Berkatalah Tuhan kalian: ”Berdoalah kepadaku, Aku akan kabulkan doa kalian. (QS. Ghofir :60)
Sebab-sebab tidak dikabulkannya doa di antaranya karena tergesa-gesa untuk minta dikabulkan, berbuat dosa, memutuskan silaturrahim, serta memakan dan mengenakan yang haram. Dalilnya hadist shahih riwayat Imam Muslim; Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Doa seorang tidak selalu dikabulkan jika melakukan dosa, atau memutuskan silaturrahim, atau tidak tergesa-gesa. Sahabat lalu bertanya: “Apakah tergesa-gesa itu ya Rosulullah?” Rosulullah bersabda: “ Seorang berkata, Aku telah berdoa namun belum juga dikabulkan, lalu ia berputus asa, kemudian tidak lagi berdoa.” (HR. Muslim)
Dalam Hadist yang lain disebutkan: “Seorang menengadakan tangannya ke langit sambil berdoa, ya Tuhanku, ya Tuhanku, sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram bagaimana mungkin dikabulkan?” Sebab dikabulkan doa di antaranya menghadirkan hati, tidak berputus asa jika belum dikabulkan dan berdoa pada waktu yang mustajab. Di antara waktu yang mustajab adalah: Di sepertiga malam saat Allah SWT turun ke langit dunia, ketika di antara azan dan Iqomah, setelah sholat wajib dan ketika khatib Naik mimbar sampai selesai sholat jumat.
Di antara adab berdoa:
Pertama; Menghadirkan hati sambil menghadap kiblat dan keadaan suci, berdoa dengan penuh kekhusyu’an sambil mengangkat kedua tangan, mengawali doa dengan membaca tahmid dan shalawat, mengakui segala dosa dengan membaca istighfar dan bertaubat, bertawasul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah serta yakin bahwa doa akan dikabulkan oleh Allah. Dalam Kitab Mustadrok Imam Hakim meriwayatkan:
عن أبي هريرة رضي الله عنه ، عن النبي قال: «ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يقبل الدعاء من قلب غافل لاه»
Dari Abu Hurairoh ra, Nabi saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai.
في السنن وصحيح أبي حاتم عن أنس رضي الله عنه ، أنه كان مع رسول الله جالسًا ورجل يصلي، ثم دعا فقال: اللهم أني أسألك بأن لك الحمد لا إله إلا أنت، أنت المنان، بديع السموات والأرض، يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم. فقال النبي : لقد دعا الله باسمه العظيم الذي إذا دعي به أجاب وإذا سئل به أعطى.
Dalam kitab sunan dan shohih Abi Hatim, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ia bersama Rosulullah sedang duduk, sedangkan seorang sedang sholat kemudian berdoa: “Ya Allah aku memohon kepadamu dengan Segala pujian yang engkau miliki, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau maha pemberi, pencipta langit dan bumi, Ya Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Wahai yang maha menghidupkan dan Maha berdiri sendiri”. Maka Nabi bersabda: “Ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang agung yang apabila ia berdoa dengan nama-nama itu akan dikabulkan, apabila dipinta akan diberi.”
Kedua; Merintih dalam berdoa sesuatu yang disukai oleh Allah:
Imam Al-Auza’i meriwayatkan hadist dari Aisyah:
ذكر الأوزاعي، عن الزهري، عن عروة، عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله : إن الله يحب الملحين في الدعاء.
Dari Aisyah ra, Rosulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang merintih dalam berdoa”.
Doa senjata orang beriman dan menolak datangnya bencana
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه ، قال: قال رسول الله : «الدعاء سلاح المؤمن، وعماد الدين، ونور السموات والأرض.
Dari Ali bin Abi Tholib ra, Rosulullah bersabda: “Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.
Imam Ibnu Abi Dunya menyebutkan dalam kitabnya: “Orang-orang yang dikabulkan doa” bahwa seorang sahabat dari anshor bernama Abu Ma’qol seorang pedang, tatkala ia didatangi seorang pencuri yang meminta semua hartanya, lalu ia meminta izin terlebih dahulu untuk shalat. Kemudian ia berwudhu, lalu shalat empat rakaat, ketika di sujud terakhir ia membaca doa:
يا ودود، يا ذا العرش المجيد، يا فعالاً لما تريد، أسألك بعزك الذي لا يرام، وبملكك الذي لا يضام، وبنورك الذي ملأ أركان عرشك أن تكفيني شر هذا اللص، يا مغيث أغثني! يا مغيث أغثني.
Ketika selesai salam, ia melihat seorang berkuda telah berdiri di sampingnya, kemudian menghunus pedang lalu membunuh pencuri tersebut. Ia kemudian bertanya, siapakah Anda? Penunggang kuda itu menjawab: Saya adalah malaikat dari langit ke emapat, saya mendengarmu berdoa lalu aku datang ke mari untuk menolongmu.
Imam Hasan Al-Basri mengatakan: Barang siapa berwudhu lalu sholat empat rakaat kemudian membaca doa ini baik dalam kondisi terdesak atau tidak kecuali dikabulkan doanya.
وعن ثوبان رضي الله عنه ، عن النبي قال: لا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد في العمر إلا البر، وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه.
Dari Tsauban ra, Nabi Saw bersabda: “Tidak ada yang dapat menolak qadar kecuali doa, tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan, Sesungguhnya seseorang terhalang dari rezeki karena dosanya. Wallahu a’lam bishowab.
Referensi : Penyebab Dikabulkan dan Ditolaknya Do'a
Penghalang-Penghalang Do’a. Banyak orang yang berdoa melakukan perbuatan yang menyebabkan doa mereka ditolak dan tidak dikabulkan, karena kebodohan mereka tentang syarat-syarat doa, padahal apabila tidak terpenuhi salah satu syarat tersebut, maka doa tersebut tidak dikabulkan.
Adapun syarat-syarat yang terpenting antara lain.
1. Ikhlas
Sebagaimana firman Allah.
فَادْعُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya“. [Ghafir/40 : 14]. Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdoa hendaknya dengan ikhlas serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan madzhab mereka.[Tafsir Ibnu Katsir 4/73]
Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata bahwasanya Ar-Rabii’ datang kepada ‘Alqamah pada hari Jum’at dan jika saya tidak ada dia memberikan kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata : Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’.? Dia menjawab : “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan ? Karena Allah tidak menerima doa kecuali yang ikhlas”. Saya berkata : Bukankah itu telah dikatakannya ? Dia berkata : Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’ dan main-main tetapi Allah menerima orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. [Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 2/65 No. 606. Dishahihkan sanadnya oleh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad No. 473. Nakhilah maksudnya adalah iikhlas, Masma’ adalah orang yang beramal untuk dipuji atau tenar].
Termasuk syarat terkabulnya doa adalah tidak beribadah dan tidak berdoa kecuali kepada Allah. Jika seseorang menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah baik kepada para Nabi atau para wali seperti mengajukan permohonan kepada mereka, maka doanya tidak terkabulkan dan nanti di akhirat termasuk orang-orang yang merugi serta kekal di dalam Neraka Jahim bila dia meninggal sebelum bertaubat.
2 & 3. Tidak Berdoa Untuk Sesuatu Dosa Atau Memutuskan Silaturrahmi
Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Apabila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan diakabulkan oleh Allah salah satu dari tiga ; Akan dikabulkan doanya atau ditunda untuk simpanan di akhirat atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya“.[Musnad Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud “tidak berdoa untuk suatu yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan suatu contoh : “Ya Allah takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah berilah aku rizki untuk bisa minum khamer” atau “Ya Allah pertemukanlah aku dengan seorang wanita untuk berzina”. Atau berdoa untuk memutuskan silaturrahmi suatu contoh : “Ya Allah jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudaraku” atau doa semisalnya. Doa tersebut pengkhususan terhadap yang umum. Imam Al-Jazri berkata bahwa memutuskan silaturahmi bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi dan tidak berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.
4. Hendaknya Makanan Dan Pakaian Dari Yang Halal Dan Bagus
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan :
“Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” [Shahih Muslim, kitab Zakat bab Qabulus Sadaqah 3/85-86].
Imam An-Nawawi berkata bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang lainnya.
Pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang haram baik dari harta riba, perjudian atau harta suap yang yang lainnya. [Syarh Shahih Muslim 7/100].
Ahli Syair berkata.
“Kita berdoa dan menyangka doa terangkat padahal dosa menghadangnya lalu doa tersebut kembali. Bagaimana doa kita bisa sampai sementara dosa kita menghadang di jalannya”. [Al-Azhiyah dalam Ahkamil Ad’iyah hal. 141].
5. Tidak Tergesa-gesa Dalam Menunggu Terkabulnya Doa
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
“Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu, selagi tidak tergesa-gesa, yaitu mengatakan : Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan“. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/153. Shahih Muslim, kitab Do’a wa Dzikir
8/87]
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : Yang dimaksud dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan”, Ibnu Baththaal berkata bahwa seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Alllah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Dia dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya. [Fathul Bari 11/145].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa Imam Al-Madzhari berkata : Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa tersebut dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya, sehingga segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi, atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa sebab Allah sangat senang terhadap orang yang rajin berdoa karena doa memperlihatkan sikap rendah diri, menyerah dan merasa membutuhkan Allah. Orang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan segera dikabulkan doanya. Maka seharusnya setiap kaum Muslimin tidak boleh meninggalkan berdoa. [Mir’atul Mafatih 7/349].
Syubhat.
Allah berfirman.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu“. [Ghafir/40 : 60].
Banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan, kalau seandainya ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya pasti tidak mungkin doa tersebut ditolak.
Hafizh Ibnu Hajar menjawab bahwa setiap orang yang berdoa pasti terkabulkan tetapi dengan bentuk pengkabulan yang berbeda-beda, terkadang apa yang diminta terkabulkan, atau terkadang diganti dengan sesuatu pemberian lain, sebagaimana hadits dari ‘Ubadah bin Shamit bahwasanya NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ” Tidak ada seorang muslim di dunia berdoa memohon suatu permohonan melainkan Allah pasti mengabulkannya atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”. [Fathul Bari 11/98].
6 & 7. Hendaknya Berdoa Dengan Hati Yang Khusyu’ Dan Yakin Bahwa Doanya Pasti Akan Dikabulkan
Dari Abdullah bin Amr bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Hati itu laksana wadah dan sebahagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya, maka apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai“. [Musnad Ahmad 2/177, Mundziri dalam kitab Targhib 2/478, Al-Haitsami dalam Majma Zawaid 10/148]
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi : ” dan kalian yakin akan dikabulkan”, adalah pengharusan artinya berdoalah sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi penyebab terkabulnya doa. Imam Al-Madzhari berkata bahwa hendaknya orang yang bedoa merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya sebab sebuah doa tertolak mungkin disebabkan yang diminta tidak mampu mengabulkan atau tidak ada sifat dermawan atau tidak mendengar terhadap doa tersebut, sementara kesemuanya sangat tidak layak menjadi sifat Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Maha Tahu dan Maha Kuasa yang tidak menghalangi doa hamba-Nya. Jika seorang hamba tahu bahwa Allah tidak mungkin menghalangi doa hamba-Nya, maka seharusnya kita berdoa kepada Allah dan merasa yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah.
Seandainya ada orang yang mengatakan bahwa kita dianjurkan agar kita selalu yakin bahwa doa kita akan terkabulkan dan keyakinan itu akan muncul jika doa pasti dikabulkan, sementara kita melihat sebagian orang terkabul doanya dan sebagian yang lainnya tidak terkabulkan, bagaimana kita bisa yakin ?
Jawab.
Orang yang berdoa pasti terkabulkan dan pemintaannya pasti diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak mungkin dikabulkan akan tetapi dia akan dihindarkan oleh Allah dari musibah semisalnya dengan permohonan yang dia minta sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits. Atau diberi ganti yang berupa pahala dan derajat di akhirat. Karena doa adalah ibadah dan barangsiapa yang beribadah dengan baik, maka tidak mungkin akan dihalangi dari pahala.
Yang dimaksud dengan sabda Nabi : “dari hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya. [Mir’atul Mafatih 7/360-361].
Banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk berdoa, padahal boleh jadi seseorang itu tergolong yang mustajab doanya tetapi kesempatan baik itu banyak disia-siakan. Maka seharusnya setiap muslim memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa sebanyak mungkin baik memohon sesuatu yang berhubungan dengan dunia atau akhirat.
Diantara Orang-Orang Yang Doanya Mustajab.
1. Doa Seorang Muslim Terhadap Saudaranya Dari Tempat Yang Jauh
Dari Abu Darda’ bahwa dia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata : “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan“. [Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib].
Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh, jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Oleh sebab itu sebagian ulama salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri dia menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena disamping terkabul dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya. [Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi 17/49]
Dari Shafwan bin Abdullah bahwa dia berkata : Saya tiba di negeri Syam lalu saya menemui Abu Darda’ di rumahnya, tetapi saya hanya bertemu dengan Ummu Darda’ dan dia berkata : Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini ? Saya menjawab : Ya. Dia berkata : Doakanlah kebaikan untuk kami karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan : Amiin da bagimu seperti yang kau doakan”. Shafwan berkata : “Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda’, beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Doa bab Fadlud Doa Lil Muslimin fi Dahril Ghaib 8/86-87]
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan, sebab doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya dan sum’ah serta berharap imbalan sehingga lebih diterima oleh Allah. [Mir’atul Mafatih 7/349-350]
Catatan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Imam Karmani menukil dari Al-Qafary bahwa ucapan doa seorang : “Ya Allah ampunilah dosa semua kaum muslimin” adalah doa terhadap sesuatu yang mustahil sebab pelaku dosa besar mungkin masuk Neraka dan masuk Neraka bertolak belakang dengan permohonan pengampunan, bisa saja pelaku dosa besar di doakan, sebab yang mustahil adalah mendoakan pelaku dosa besar yang kekal di Neraka, selagi masih bisa keluar karena syafaat atau dimaafkan, maka itu termasuk pengampunan secara keseluruhan.
Ucapan orang di atas bertentangan dengan doa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan“. [Muhammad/47 : 19]
Yang jelas permohonan dengan lafazh umum tidak mengharuskan permohonan untuk setiap orang secara kolektif. Mungkin yang dimaksud oleh Al-Qafary bahwa mendoakan kaum muslimin secara kolektif dilarang bila seorang yang berdoa menginginkan keseluruhan tanpa pengecualian dan bukan pelarangan terhadap syariat doanya. [Fathul Bari 11/202]
.2. Orang yang Memperbanyak Berdoa Pada Saat Lapang Dan Bahagia
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang“. [Sunan At-Tirmidzi, kitab Da’awaat bab Da’watil Muslim Mustajabah 12/274. Hakim dalam Mustadrak. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi 1/544. Dan di hasankan oleh Al-Albani No. 2693].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits di atas adalah hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu“. [Az-Zumar/39 : 8].
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya“. [Yunus/10 : 12]. [Mir’atul Mafatih 7/360]
Wahai orang yang ingin dikabulkan doanya, perbanyaklah berdoa pada waktu lapang agar doa Anda dikabulkan pada saat lapang dan sempit.
3. Orang Yang Teraniaya
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)“. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]
Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda.
“Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri“. [Musnad Ahmad 2/367. Dihasankan sanadnya oleh Mundziri dalam Targhib 3/87 dan Haitsami dalam Majma’ Zawaid 10/151, dan Imam ‘Ajluni No. 1302]
4.5. Doa Orang Tua Terhadap Anaknya Dan Doa Seorang Musafir.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
“Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan ; doa orang yang teraniyaya; doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya“. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Do’a bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, kitab Al-Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, kitab Doa 2/348 No. 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 596]
6. Doa Orang Yang Sedang Puasa
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tiga doa yang tidak ditolak ; doa orang tua terhadap anaknya ; doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir”. [Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab Siyam Lil Istisqa’ 3/345. Dishahihkan oelh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 1797].
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu menginga(Nya)“. [An-Naml/27 : 62]
Imam As-Syaukani berkata bahwa ayat diatas menjelaskan betapa manusia sangat membutuhkan Allah dalam segala hal terlebih orang yang dalam keadaan terpaksa yang tidak mempunyai daya dan upaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang terpaksa adalah orang-orang yang berdosa dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud terpaksa adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, kesempitan atau sakit, sehingga harus mengadu kepada Allah. Dan huruf lam dalam kalimat Al-Mudhthar untuk menjelaskan jenis bukan istighraq (keseluruhan). Maka boleh jadi ada sebagian orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa tidak dikabulkan dikarenakan adanya penghalang yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Jika tidak ada penghalang, maka Allah telah menjamin bahwa doa orang dalam keadaan terpaksa pasti dikabulkan. Yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya. Allah telah mengabulkan doa orang-orang yang ikhlas berdoa meskipun dari orang kafir, sebagaimana firman Allah.
“Sehingga tatkala kamu di dalam bahtera, dan meluncurkan bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata’. (Mereka berkata) : ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur“. [Yunus/10 : 22]
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alla)“. [Al-Ankabut/29: 65].
Dari ayat di atas Allah mengabulkan doa mereka, padahal Allah tahu bahwa mereka pasti akan kembali kepada kesyirikan. [Fathul Qadir 4/146-147]
Imam Ibnu Katsir berkata bahwa Imam Hafizh Ibnu ‘Asakir mengisahkan seorang yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Daud Ad-Dainuri yang terkenal dengan kezuhudannya. Orang tersebut berkata : “Saya menyewakan kuda tunggangan dari Damaskus ke negeri Zabidany, pada satu ketika ada seorang menyewa kuda saya dan meminta untuk melewati jalan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya”, Dia berkata : “Ambillah jalan ini karena lebih dekat”. Saya bertanya : “Bolehkah saya memilih jalan ini”, Dia berkata : “Bahkan jalan ini lebih dekat”. Akhirnya kami berdua menempuh jalan itu sehingga kami sampai pada suatu tempat yang angker dan jurangnya yang sangat curam yang di dalamnya terdapat banyak mayat. Orang tersebut berkata : “Peganglah kepala kudamu, saya akan turun”. Setelah dia turun dan menyingsingkan baju lalu menghunuskan golok bermaksud ingin membunuh saya, lalu saya melarikan diri darinya, akan tetapi dia mampu mengejarku. Saya katakan kepadanya : “Ambillah kudaku dan semua yang ada padanya”. Dia berkata : “Kuda itu sudah milikku, tetapi aku ingin membunuhmu”. Saya mencoba menasehati agar dia takut kepada Allah dan siksaan-Nya tetapi ternyata dia seorang yang tidak mudah menerima nasehat, akhirnya saya menyerahkan diri kepadanya.
Saya berkata kepadanya : “Apakah anda mengizinkan saya untuk shalat?” Dia berkata : “Cepat shalatlah!” Lalu saya beranjak untuk shalat akan tetapi badan saya gemetar sehingga saya tidak mampu membaca ayat Al-Qur’an sedikitpun dan hanya berdiri kebingungan. Dia berkata : “cepat selesaikan shalatmu!”, maka setelah itu seakan-akan Allah membukakan mulut saya dengan suatu ayat yang berbunyi.
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan“. [An-Naml : 62]
Tidak terduga muncul dari mulut bukit seorang satria datang ke arah kami dengan menggemgam tombak di tangannya, lalu melempar tombak tersebut ke arah orang tadi dan tombak pun mengenai jantungnya lalu seketika itu orang tersebut langsung mati terkapar. Setelah itu, maka saya memegang erat-erat satria tersebut dan saya bertanya : “Demi Allah siapakah engkau sebenarnya?” Dia mejawab : “Saya adalah utusan Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan orang-orang yang dalam keadaan terpaksa tatkala dia berdoa dan menghilangkan segala malapetaka”. Kemudian saya mengambil kuda dan semua harta lalu pulang dalam keadaan selamat. [Tafsir Ibnu Katsir 3/370-371]
Proses Ta’aruf merupakan proses di mana perkenalan pria dan wanita yang bertujuan untuk menuju ke jenjang pernikahan sesuai dengan ketentuan yang ada di agama Islam. Bukan hanya untuk menyatukan kedua belah pihak saja namun ta’aruf memiliki tahapan yang sudah ditetapkan. Sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13, yang berbunyi :
“Wahai manusia! sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. “
Makna dari mengenal satu sama lain yaitu mengetahui latar belakang, kepribadian, budaya, pendidikan, keluarga, dan agama. Jika terdapat kecocokan maka selanjutnya akan dilanjutkan dengan khitbah (peminangan) atau pertunangan.
Hal ini sesuai dengan ajaran Islam, pasalnya Allah SWT melarang umatnya untuk mendekati segala bentuk perzinaan. Oleh karena itu, ta’aruf menjadi jalan yang terbaik untuk kamu yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Ketahui juga jenis pernikahan yang dilarang.
Inilah Proses Ta’aruf Menurut Ajaran Islam Yang Bisa Kamu Lakukan
Di kalangan anak muda saat ini, proses ta’aruf menurut Islam mungkin dipandang sebagai salah satu hal yang kuno. Namun, untuk umat muslim, sangat dilarang untuk mendekati zina seperti pacaran. Berikut ini proses ta’aruf sesuai ajaran Islam yang bisa kamu ikuti :
1. Mengunjungi Kedua Orang Tua atau Keluarga Calon Pasangan
Proses awal yang perlu kamu lakukan sebagai pria yaitu dengan mengunjungi kedua orang tua atau keluarga calon pasangan. Sehingga pada proses ini, bukan berarti menemui calon pasangan hanya berdua.
Dalam Islam, sebagai pria diajarkan untuk mendatangi kedua orang tua wanita secara langsung dan mengutarakan maksud tujuan kedatangannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyukai sikap baik untuk saudaranya, sebagaimana dia ingin disikapi baik yang sama. “
2. Memberikan CV Ta’aruf
Ketika mendatangi orang tua atau keluarga calon pasangan, kamu bisa memberikan CV atau data biodata dan bertukar dengan calon pasangan. Tujuannya agar masing-masing calon mengetahui latar belakang pendidikan, umur, dan tujuan dalam pernikahan.
Sehingga masing-masing calon bisa lebih mengenal latar belakang calon pasangan. Bertukar CV atau biodata sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman dulu, hanya pada zaman sekarang lebih mudahnya dengan bertukar CV ta’aruf.
3. Pendekatan Kepada Calon Pasangan yang Ditemani Mahrom
Jika CV ta’aruf masing-masing pasangan telah diterima dengan baik, maka diperbolehkan untuk bertemu. Dengan catatan pertemuan yang dilakukan tidak boleh dilakukan hanya berdua saja. Harus ditemani dengan mahrom masing-masing calon pasangan. Pertemuan ini bertujuan untuk menimbulkan perasaan cinta satu sama lain.
4. Tetap Menjaga Pandangan
Ketika sedang menemui calon pasangan meskipun sedang berta’aruf, kamu tetap harus menjaga pandangan. Sebab hubungan di antara kamu dengan calon pasangan belum terikat pernikahan sehingga bukan mahrom.
Tetap menjaga aurat bagi perempuan dan harus ditemani dengan mahrom. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S An-Nur ayat 30, yang berbunyi:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
5. Mempersiapkan Waktu Khitbah atau Akad Nikah
Dalam Islam, waktu ta’aruf dengan khitbah atau akad nikah tidak boleh dilaksanakan terlalu lama. Pada umumnya hanya berjarak sekitar satu hingga tiga minggu saja. Banyak pula yang menyalahartikan tentang ta’aruf itu sendiri. Pahami juga syarat-syarat dalam akad nikah agar berjalan lancar.
Ta’aruf tidak sama dengan pacaran, pada proses ta’aruf pihak laki-laki ataupun perempuan memang sebelumnya sudah menyiapkan diri untuk menikah.
Sangat dilarang untuk melakukan ta’aruf namun ternyata belum siap untuk melaksanakan pernikahan. Sebab, pasangan kamu akan merasa digantungi dengan ketidakpastian.
6. Mantapkan Niat dan Sholat Istikharah
Setelah semua proses ta’aruf berjalan dengan baik dan masing-masing pasangan merasa cocok. Maka proses selanjutnya adalah melaksanakan akad nikah.
Namun, sebelumnya kamu perlu memantapkan pilihan dan hati untuk melaksanakan akad. Karena semua orang pasti menginginkan akad yang dilaksanakan hanya sekali dalam seumur hidup.
Dan setelah menikah kamu akan menghabiskan sisa waktu hidup bersama pasangan yang kamu nikahi. Oleh karena itu, butuh kesiapan yang kemantapan dari diri dan hati kamu.
Salah satu cara untuk memantapkan hati dan pilihan adalah dengan melaksanakan sholat istikharah agar diberikan pilihan terbaik oleh Allah SWT.
Itulah proses ta’aruf dalam Islam yang perlu kamu ketahui, sebagai umat Islam tidak diperbolehkan untuk melakukan pacaran atau perzinaan. Ta’aruf merupakan cara terbaik untuk meminta dipertemukan dengan pasangan yang tepat.
Referensi : 6 Tahapan Proses Ta’aruf dalam Islam yang Benar