This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 03 Agustus 2022

Surat An Nisa ayat 29: Larangan Memakan Harta yang Batil dan Bunuh Diri

Surat An Nisa ayat 29: Larangan Memakan Harta yang Batil dan Bunuh Diri. Allah melarang umat-Nya untuk memakan harta dari jalan yang batil serta bunuh diri melalui surat An Nisa ayat 29. Kedua hal tersebut dilarang karena merupakan perbuatan yang sia-sia dan merusak.

Kata batil oleh Al-Syaukani dalam kitabnya yang berjudul Fath Al-Qadir diterjemahkan sebagai ma laisa bihaqqin (segala apa yang tidak benar). Batil ada banyak bentuknya, namun dalam konteks surat An Nisa ayat 29 adalah sesuatu yang dilakukan dalam jual beli namun dilarang oleh syariat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ ayat 29).

Imam Nasafi dalam karyanya yang berjudul Tafsir An-Nasafi menyebutkan, segala sesuatu yang tidak diperbolehkan syariat dalam ayat di atas adalah pencurian, khianat, perampasan atau segala bentuk akad yang mengandung riba. Pengecualian untuk perdagangan yang dilakukan atas dasar suka sama suka atau saling rela.

Surat An Nisa ayat 29

Menurut Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, para ulama sepakat bahwa larangan memakan harta orang lain dalam Surat An Nisa ayat 29 mengandung pengertian yang luas dan dalam, antara lain:

Agama Islam mengakui adanya hak milik pribadi yang berhak mendapat perlindungan dan tidak boleh diganggu gugat.

Hak milik pribadi, jika memenuhi nisabnya, wajib dikeluarkan zakatnya dan kewajiban lainnya untuk kepentingan agama, negara, dan sebagainya.

Sekalipun mempunyai harta yang banyak dan banyak pula orang yang memerlukannya dari golongan-golongan yang berhak menerima zakatnya, harta orang tersebut tetap tidak boleh diambil begitu saja tanpa seizin pemiliknya atau tanpa menurut prosedur yang sah.

Dalam ayat tersebut, Allah juga menegaskan soal larangan bunuh diri. Masih menurut Tafsir An-Nasafi, bunuh diri dalam ayat tersebut ditujukkan kepada siapapun dari jenismu sendiri, apalagi orang-orang Mukmin. Selain itu, tidak diperbolehkan juga membunuh saudara sendiri seperti yang dilakukan orang-orang bodoh.

Dikatakan bodoh karena membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri. Hal ini sesuai hukum kisas, di mana setiap orang yang membunuh akan dibalas dengan dibunuh juga.

Alasan lain Allah melarang bunuh diri karena perbuatan itu termasuk wujud putus asa. Orang yang putus asa adalah orang yang tidak percaya kepada rahmat dan pertolongan-Nya.

Muhammad Fethullah Gulem juga menjelaskan dalam buku Cahaya Al-Qur’an Bagi Seluruh Makhluk, makna lain dari kata membunuh (al-qatl) adalah memakan harta dengan cara yang zalim. Itu sama artinya dengan ia menzalimi diri sendiri atau mencelakai dirinya.

Referensi : Surat An Nisa ayat 29: Larangan Memakan Harta yang Batil dan Bunuh Diri



















Amalan-amalan Penghapus Dosa

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Al-Insanu mahalul khotho wan nisyan. Karenanya, tidak ada manusia yang luput dari dosa. Allah SWT dengan Risalah Islam-Nya sangat memahami hal itu sehingga menunjukkan jalan tentang amalan penghapus dosa.

Setidaknya ada lima amalan penghapus dosa alias mengundang ampunan dari Allah SWT atas dosa yang kita lakukan.

Amalan Penghapus Dosa: Taubat Nasuha.

Tobat yang sungguh-sungguh dan tidak mengulangi. “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan…” (QS. asy-Syura: 25).

Amalan Penghapus Dosa: Istighfar.

Memohon ampunan kepada Allah SWT. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).

Amalan Penghapus Dosa: Amal Kebaikan.

“Dan ikutilah perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Amalan Penghapus Dosa: Doa Sesama Mukmin.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu juga.” (HR. Muslim).

Amalan Penghapus Dosa: Sabar atas Musibah.

“Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Demikianlah sedikitnya ada Amalan Penghapus Dosa. Semoga kita bisa mengamalkannya sehingg ampunan Allah selalu menyertai kita dan kita pun hidup selamat-bahagia di dunia dan di akhirat.

Referensi sbb ini : Amalan amalan Penghapus Dosa


















Makna Tak Berputus Asa dari Rahmat Allah Swt

Surah Az-Zumar ayat 53 membahas tentang rahmat Allah SWT yang sangat besar dan tak terhingga. Betapapun besar maksiat yang dilakukan seseorang, ampunan Allah SWT jauh lebih luas daripada dosa tersebut. Surah Az-Zumar ayat 53 merupakan larangan bagi umat Islam agar tidak lekas berputus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT. 

Sikap putus asa sendiri merupakan salah satu akhlak tercela yang harus dihindari umat Islam. Orang yang berputus asa digambarkan sebagai sosok yang lemah imannya, bahkan termasuk karakteristik orang kafir. Hal itu tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah Yusuf ayat 87: "Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir,” (QS. Yusuf [12]: 87). 

Secara definitif, putus asa adalah hilangnya asa dan harapan, sebagaimana dinyatakan Fakhruddin HS dalam Ensiklopedia Al-Quran (1992). Hal itu disebabkan tenaga, pengharapan, dan kemampuan seseorang menjadi lemah, serta tidak ada lagi kemauan untuk melakukan hal-hal yang digelutinya selama ini. Sikap putus asa memiliki sejumlah dampak negatif bagi orang bersangkutan. 

Sebab, putus asa hanya akan merugikan diri sendiri karena membuang waktu, energi, menguras emosi, dan menghambat potensi yang dimiliki. Karena itulah, Islam mengimbau umatnya untuk tidak berputus asa terhadap rahmat Allah SWT. Kendati seseorang sudah gagal, banyak bermaksiat, serta bergelimang dosa, pintu taubat dan kesempatan akan terus terbuka lebar di sisi Allah SWT.

Baca selengkapnya di artikel "Surat Az-Zumar Ayat 53 & Makna Tak Berputus Asa dari Rahmat Allah", https://tirto.id/gmyt

Isi & Kandungan Surat Az-Zumar Ayat 53 

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 

Bacaan latinnya: "Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm" Artinya: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'," (QS. Az-Zumar [39]: 53). 

Surat Az-Zumar ayat 53 merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang terjerumus dalam kemaksiatan, termasuk kekafiran atau dosa besar lainnya. Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa pintu taubat terbuka lebar bagi golongan tersebut. Selain itu, kodrat manusia sendiri adalah sosok yang rentan berbuat salah, dosa, dan maksiat. Allah SWT memberi harapan, cita-cita, dan kepercayaan bahwa kesempatan taubat amat luas. 

Jikapun dosa itu seperti buih di lautan, ampunan Allah lebih besar daripada borok dan kesalahan hamba-Nya. Sayyid Quthb dalam kitab Tafsir fi Zhilalil Quran (2000) menuliskan bahwa surah Az-Zumar ayat 53 merupakan bentuk keadilan Allah SWT. Dia tidak akan menyiksa seorang hamba karena kemaksiatan sebelum menyediakan sarana untuk memperbaiki kekeliruan tersebut. 

Allah SWT melarang hambanya berputus asa dari rahmat dan ampunan dari Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang sekaligus Maha Penerima Taubat. Asbabun nuzul atau sebab turun surah Az-Zumar ayat 53 berkaitan dengan perkataan Umar bin Khattab bahwa "Kami pernah mengatakan bahwa bagi orang yang melakukan fitnah [menghalangi manusia dari jalan Allah] tidak bisa bertaubat dan Allah tidak akan menerima taubatnya meskipun sedikit." Lantas, ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah, turunlah ayat “Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS. Az-Zumar [39]: 53). 

Sementara itu, pada riwayat lain yang disampaikan Abdullah bin Abbas bahwa orang-orang yang pernah berbuat syirik, melakukan pembunuhan, maksiat, perzinahan, dan dosa besar lainnya, lalu mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Sesungguhnya yang engkau sampaikan dan engkau serukan benar-benar bagus. Kalau sekiranya engkau memberitahukan kami kafarat (penebus) terhadap amal buruk yang kami kerjakan" Sebagai jawaban atas iktikad baik tersebut, Allah menurunkan surah Az-Zumar ayat 53 bahwa rahmat dan ampunan Allah SWT demikian besar dan menerima taubat dari orang-orang yang bergelimang dosa (H.R. Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i). 

Berdasarkan hal tersebut, makna tak berputus asa dari rahmat Allah SWT adalah selalu bersikap optimis bahwa ampunan dan kasih sayang Allah SWT sangatlah besar. Apabila seorang hamba berbuat dosa, ia harus bertaubat, menyesali, dan tidak akan mengulangi maksiat tersebut. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama [ruh] belum sampai di tenggorokan," (H.R. Tirmidzi).

Referensi : Makna Tak Berputus Asa dari Rahmat Allah Swt
























Waktu Mustajab untuk Memohon Ampun kepada Allah SWT

Waktu Mustajab untuk Memohon Ampun kepada Allah SWT. Berbuat kesalahan sudah menjadi sifat setiap manusia. Maka, sudah sewajarnya bagi mereka untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat. Bukan hanya ke sesama manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Memohon ampun berarti menahan diri dari perilaku dosa. Jika Adam terbuat dari tanah liat, dan dia ditanamkan dengan nafsu serta keinginan sebagai bagian dari sifatnya. Lalu, ada setan yang diciptakan Allah SWT untuk menjauhkan manusia dari perbuatan baik.

Berkaca dari contoh tersebut, sebenarnya setiap kesalahan yang diperbuat manusia, jika mereka memohon maaf kepada Allah SWT, sebesar apa pun kesalahan tersebut, inshaallah akan dimaafkan, sebab Allah SWT Maha Pengampun dan Penyayang.

Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya ketika dimintai pertolongan, begitu pula dalam memaafkan. Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa apa pun yang Dia inginkan dan mengampuni semua kesalahan ketika kita benar-benar bertaubat dan berhenti melakukan kesalahan tersebut.

Abu Hurairah ra, seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia, tepatnya pada sepertiga malam terakhir. Dia (Allah SWT) berfirman, "Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan. Siapa saja yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Kuberi. Siapa saja yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya akan Kuampuni."

Salah satu tindakan pengabdian terbesar yang telah ditentukan Allah bagi kita adalah meminta pengampunan kepada-Nya. Sebab, Allah SWT akan senang jika umat-Nya bergantung pada-Nya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Muhammad ayat 19 yang artinya:

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu."

Terdapat tiga waktu terbaik untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

1. Setelah beribadah

Memohon ampun kepada Allah SWT sebenarnya bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Namun, salah satu waktu terbaik untuk memohon ampun kepada-Nya adalah setelah beribadah.

Dengan melakukan itu, kita dapat mengompensasi kekurangan dalam ibadah kita. Juga mencegah kita untuk menjadi sombong dan puas diri dengan ibadah yang dilakukan.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nasr ayat 1-3 yang artinya:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat."

2. Setelah melakukan dosa

Sebagai manusia, kita pasti memahami mana perbuatan baik dan buruk, dosa maupun tidak. Untuk itu, ketika menyadari telah melakukan dosa, sebaiknya segeralah untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 135 yang artinya:

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

3. Setelah lengah

Ketika membuat kesalahan, kebanyakan dari mereka tidak memperdulikan apa yang telah dilakukan, mereka akan semakin tersesat karena sudah lalai dan membiarkan diri jauh dari Allah SWT.

Jadi, ada baiknya untuk tidak lalai dari memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi, lakukanlah dengan sepenuh hati. Bukan cuma memohon ampun dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi, tetapi tetap mengulangi kesalahan yang sama. Orang yang sungguh-sungguh memohon ampun dengan sepenuh hati, itu tandanya ia mampu menahan diri dari perilaku berdosa. "Kadang-kadang saya melihat tabir di hati saya, dan meminta ampun kepada Allah seratus kali sehari." (HR Muslim).  Jadi, itulah tiga waktu paling mustajab untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Referensi sbb ini ; Waktu Mustajab untuk Memohon Ampun kepada Allah SWT















Mengharapkan Ampunan Allah Swt

Dalam Alquran dalam surat Al-Baqarah ayat 201 Allah SWT berfirman,”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa. Ya Tuhan berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Secara ekplesit dalam ayat ini, terdapat tiga hal yang menjadi tujuan hidup manusia yaitu kesenangan dan kebaikan di dunia, kebaikan dan kebahagian di akhirat, dan terlepasnya dari siksa neraka. Untuk mencapai ketiga tujuan hidup tersebut diperlukan usaha-usaha maksimal dari manusia itu sendiri, usaha-usaha itu secara qurani dapat dijelaskan sebagai berikut: 

Pertama, usaha mencapai kebahagiaan dan kesenangan di dunia, tercermin dalam bentuk aktivitas seseorang dalam memenuhi keperluan hidupnya, baik primer (dharurivah), sekunder (hajiyat) dan tertier (kamahiyat). Dalam melakukan aktivitas tersebut, Alquran telah memberikan pedoman yaitu tidak dengan jalan bhatil. Dalam surat Al-Baqarah Allah SWT menegaskan “Wahai orang yang beriman, janganlah kamu memakan atau melakukan interaksi di antara kamu secara batil, “kata batil diartikan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan dan nilai agama.

Dalam ajaran Islam, nilai-nilai Islam dalam berusaha, tercermin pada empat prinsip pokok yaitu: tauhid, keseimbangan, kehendak bebas dan tanggung jawab. Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa Keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahanya berakhir pada Allah SWT. Keseimbangan mengantarkan manusia meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi, kehendak bebas adalah prinsip yang mengantar keyakinan manusia bahwa Allah SWT memiliki kebebasan mutlak, menganugrahkan kebebasan tersebut kepada hambanya, di bawah tuntunan Alquran dan sunah.

Sedangkan tanggung jawab merupakan manipestasi yang lahir dari ketiga prinsip di atas, dan dalam kontes ini, Islam memperkenalkan konsep fardhu ain (tanggung jawab individual) dan fardhu kipayah (tanggung jawab kolektif), yang pertama adalah kewajiban individu yang tidak dapat dibebankan kepada orang lain, sedangkan yang kedua, adalah kewajiban yang apabila dikerjakan oleh orang lain sehingga terpenuhilah kebutuhan yang dituntut, maka terbebaslah semua anggota masyarakat dari pertanggungjawaban (dosa). Atau dikerjakan oleh sebagian orang namun belum memenuhi apa yang seharusnya, maka berdosalah setiap anggota masyarakat. Kedua, upaya mendapatkan kebahagian di akhirat, upaya ini harus dimulai dengan: pertama, membersihkan diri dari dosa-dosa kepada Allah (Tazkiyat AI-Nafsu). 

Kegiatan pembersihan diri tersebut, dalam Islam disebut dengan taubat. Taubat berarti mengintropeksi diri tentang pelanggaran ajaran Allah yang dilakukan dan menyatakan menyesal atas pelanggaran itu, serta bertekat untuk tidak mengulanginya lagi pada masa yang akan datang. 

Dalam Islam taubat seperti ini disebut taubat al-nushuha (taubat yang sebenar-benarnya). Kedua, memperbanyak amal ibadah, baik ibadah kepada Allah seperti salat, puasa zakat, haji, zikir, membaca Alquran dan lain-lain, maupun ibadah sosial kemasyarakatan, seperti, memperhatikan lingkungan, memelihara alam yang diamanahkan Allah, menjaga hubungan baik sesama, memperhatikan kehidupan orang yang susah dan lain-lain sebagainya.   Ketiga, memperbanyak doa, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185. “Apabila hambaku, bertanya kepada mu (Muhammad) tentang Aku, maka katakan kepada mereka bahwa Aku sangat dekat dengannya. Aku akan mengabulkan doa hamba-Ku, apabila mereka itu, mau berdoa, mau mengabulkan/melaksanakan (segala sesuatu yang aku bebankan kepada mereka), dan mereka tetap yakin dan beriman kepada-Ku”.

Disamping doa tersebut, ada dua hal lagi yang mesti dilakukan yaitu bersabar dan bertawakkal. Ketiga, upaya melepas diri dari siksa neraka. Dalam pandangan Islam, usaha ini banyak dilakukan terutama di bulan Ramadan karena Ramadan merupakan bulan yang paling istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. 

Keistimewaannya itu dapat dilihat dari namanya syukru Ramadhan (bulan pembakar dosa-dosa/menghapus dosa), syukru Ar-Rahmah (bulan yang penuh rahmat), syahru Al-Mubarakah (bulan yang penuh berkah), syahru Al-Maghfirah (bulan yang penuh keampunan), syahru iqqun min Al-Nar (bulan yang dapat membebaskan manusia dari siksa neraka), syahru Al-Hidayah (bulan yang penuh dengan hidayah), syahru  Alquran (bulan yang didalamnya diturunkan Alquran), syahru lailatul qadar (bulan yang didalamnya terdapat malam lailatul qadar, dan sejumlah nama lainnya. Untuk meraih semua fadhilat Ramadan tersebut, maka Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak bertaubat dan memperbanyak ibadah, memperbanyak berdoa, serta tetap sabar dan tawakal kepada Allah. Apabila anjuran ini laksanakan dengan ikhlas, dengan niat semata-mata untuk mendapatkan keridhan Allah, maka tentu ibadah puasa yang dilaksanakan ini, betul-betul membawa keampunan bagi segala dosa-dosa kita yang lalu.

Ini sesuai dengan jaminan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. “Barang siapa melaksanakan puasa pada bulan Ramadan dengan berdasarkan dengan keimanan yang mantap, dan dengan mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang lalu”. Semoga rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hambanya ini dapat kita rebut dan kita raih secara maksimal. Amin ya rabbal alamin.

Referensi : Mengharapkan Ampunan Allah Swt























Memahami Luasnya ampunan Allah Swt

Memahami Luasnya ampunan Allah Swt. 1. Doa dengan diiringi harapan agar dikabulkan. Kita diperintahkan untuk berdoa, bahkan dijanjikan akan dikabulkan. Allah SWT berfirman “Ghafir:60”. Allah SWT tidak mempesilahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan penuh kekhusyuan melainkan Dia menjanjikan akan mengabulkannya.

2. Syarat dikabulkannya doa

a. Konsentrasi dan penuh harap.

Salah satu penyebab terpenting dari dikabulkannya sebuah doa adalah dengan kehadiran hati dan harapan akan dikabulkannya doa tersebut. Tanda sebuah pengharapan adalah ketaatan yang sungguh-sungguh.

b. Penuh keyakinan.

Dalam artian dalam berdoa, seseorang harus yakin dan tidak boleh menampakkan suatu keraguan, baik dalam hati maupun ucapannya. Sehingga Rasulullah melarang seseorang berdoa dengan mengucapkan “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkenan. Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan”. Akan teteapi dalam berdoa, harus denan perasaan yakin. Karena Allah SWT akan berbuat apa saja tanpa ada yang memaksa”. (H.R. Muslim)

c. Bersunggguh-sungguh.

Allah SWT senang terhadap hamba-Nya yang menampakkan kesungguhan ibadah dan mengungkapkan segala kebutuhannya kepada-Nya. Dengan harapan Allah SWT akan memenuhi permintaanya. Selama seorang hamba berdo’a dengan sungguh-sungguh dan benar-benar mengharap untuk dikabulkan, berati ia telah mendekati untuk dikabulkan. Perlu diingat, bahwa orang yang mengetuk “pintu”, besar kemungkinan akan dibukakan “pintu”.

d. Tidak terburu-buru.

Rasulullah saw melarang seorang mukmin meninggalkan doa karena doanya belum juga dikabulkan. Bahkan Rasulullah saw mengangapnya sebagai faktor tidak dikabulkannya doa. Karena itu, seorang dituntut untuk senantiasa berdoa dan agar tidak putus harapannya kepada Allah swt.

e. Rezeki yang halal.

Diantara faktor terpenting dikabulkannya doa adalah rezeki yang halal. Sebaliknya, diantara faktor tidak dikabulkannya doa adalah ketidak pedulian seseorang dengan rezekinya, apakah halal atau haram.

2. Memohon ampunan

Hal terpenting yang dimohon seseorang dalam doanya adalah memohon ampunan dari segala dosa, dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan kedalam surga. Rasulullah saw bersabda, “Kami selalu memohon untuk dimasukkan ke dalam surga, dan dijauhkan dari neraka”.

3. Kadang-kadang permohonan seorang hamba dialihkan kepada yang lebih baik

Allah Dzat Yang Maha Pengasih. Ketika hamba-Nya meminta, Dia mengabulkan permintaanya atau menggantinya dengan lebih baik dari apa yang diminta, seperti: dijauhkannya keburukan darinya, menjadi simpanan diakhirat, atau dihapuskan dosa-dosanya.

4. Adab-adab berdoa.

Diantara adab-adab berdoa adalah:

a. Memilih waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan.

b. Didahului dengan berwudhu dan shalat.

c. Memohon ampunan.

d. Menghadap kiblat.

e. Mengangkat kedua tangan.

f. Membuka doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat Nabi.

g. Mengucapkan shalawat Nabi di tengah dan di akhir doa.

h. Menutup doa dengan ucapan amin.

i. Berdoa dengan bentuk yang umum (tidak hanya untuk dirinya sendiri).

j. Berbaik sangka kepada Allah dan berharap untuk dikabulkan

k. Mengakui semua dosa.

l. Merendahkan suara.

5. Meminta ampunan, betapapun besar dosa yang dilakukan.

Seberapa besar dan sebanyak apupun dosa seorang hamba, ampunan Allah swt tetap lebih luas dan lebih besar dari dosa tersebut.

6. Istighfar di dalam al-Qur’an.

- Berbentuk perintah.

- Berbentuk pujian terhadap orang-orang yang senantiasa beristighfar.

- Disebutkan bahwa Allah swt akan mengampuni orang yang minta ampun.

Sesemua ini adalah bukti bahwa istighfar adalah sesuatu yang penting. Ia adalah kunci keselamatan seorang hamba. Karena manusia tidak luput dari dosa, disengaja atau tidak.

7. Taubat dan istighfar.

Istighfar dan taubat sering disebut beriringan. “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya” (Al-Maidah:74), seperti ayat yang telah disebutkan maka istighfar lebih dimaksudkan pada permohonan ampun, sedangkan taubat lebih pada meninggalkan sebuah dosa dan tidak akan mengulanginya.

8. Meminta ampun, namun tetap melakukan dosa.

Ampunan hanya akan diberikan terhadap orang yang memohon ampunan dan menghentikan perbuatan maksiat yang dilakukan. Sedangkan apabila istighfar yang akan dikabulkan adalah yang diiringi dengan tidak mengulangi lagi dosa yang telah di[erbuat disebut dengan taubatan nashuha. Sedangkan apabila apabila orang-orang yang beristighfar dengan lisannya, namun hatinya masih berbuat dosa, maka sikap seperti ini hanyalah sebatas doa. Jika Allah swt berkehendak maka akan diampunkan, jika tidak maka jangan harap. Namun dari pada itu masih ada harapan untuk diampuni dari dosa yang telah dilakukan. Apalagi jika doa tersebut dilantunkan dengan penyesalan, atau pada waktu-waktu tertentu yang dapat dijabahi sebuah doa.

9. Taubatnya orang dusta.

Siapapun yang mengucapkan “saya mohon ampun dan bertaubat kepada Allah”. Namun, hatinya masih tetap melakukan kemaksiatan, maka ia telah berbohong dan mendapatkan dosa. Karena pada hakikatnya ia tidak bertaubat, tapi mengaku telah bertaubat. Semestinya ia mengucapkan,”Ya Allah, aku meminta ampun kepada-Mu maka aampunilah aku”> orang-orang seperti ini ibarat mereka yang ingin menuai padi namun tidak pernah menanamnya, ingin punya anak akan tetapi belum menikah.

10. Taubat dan janji.

Jumhur ulama membolehkan seseorang yang bertaubat untuk mengucapkan, “Saya bertaubat kepada Allah dan saya berjanji kepada Allah unutk tidak mengulanginya”. Karena dalam melaksanakan taubat seseorang diwajibkan untuk bertekad dan tidak mengulangi kemaksiatan yang telah dilakukan.

11. Memperbanyak istighfar.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah selalu memohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Serta diriwayatkan bahwa Luqman Hakim berkata kepada anaknya untuk membiasakan lisannya untuk mengucapkaan “Ya Allah ampunilah aku” karena pada waktu-waktu tertentu Allah tidak menolak permintaan hambanya.

12. Sayyidul Istighfar.

Istighfar yang paling mulia, paling besar pahalanya, dan paling besar peluangnya untuk dikabulkan adalah istighfar yang dimulai dengan memuji Allah, kemudian mengakui segala dosa yang dilakukan. Setelah itu meminta ampun kepada Allah swt.

13. Istighfar dari dosa yang tidak diketahui.

Barangsiapa yang banyak melakukan dosa dan kesalahan, hingga tidak bisa dihitung, hendaklah ia memohon ampun kepada Allah swt dari segala dosanya.

14. Buah dari istighfar.

Seseorang yang memohon ampun kepada Allah swt akan merasakan bahwa ia bernaung dibawah naungan Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sehingga hatinya akan merasa tenang, dadanya akan lapang, tekadnya akan semakin terpacu. Ia akan merasa betapa besar kasih dan sayang serta keridhaan Allah senantiasa menyertainya. Menjadikannya senantiasa optimis dalam mengarungi lautan kehidupan. Sedikitpun tak ada rasa pesimis.

Menurut sabda Rasululullah, bahwa barang siapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan memberikannya kebebasan disetiap kesusahan, dan jalan keluar dari setiap kesempitan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak bisa kita duga.

Dalam diri seorang hamba ada penyakit, dan disetiap penyakit ada obatnya, obat dari segala penyakit yang ada didalam tubuh adalah istighfar. Kemudian juga buah dari banyaknya istighfar seorang hamba adalah tertanamnya jiwa pemaaf dan perilaku yang baik. Rasulullah juga berkata bahwa beliau selalu beristighfar 100 kali dalam sehari.

15. Istighfar melalui orang yang diyakini tidak banyak berbuat dosa.

Seorang hamba akan bersedih dengan dosa-dosanya, bisa jadi seorang haba akan lebih mempercayai orang yang ia yakini tidak banyak memiliki dosa untuk memohonkan ampun baginya.

16. Berprasangka baik kepada Allah dan meyakini bahwa hanya Dia yang dapat mengampuni.

Seorang mukmin yang memohon ampunan kepada Allah swt harus berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Allah benar-benar akan mengampuni dosanya. Karena faktor paling utama diampuninya dosa aalah meyakini sepenuhnya bahwa yang bisa mengampuni dosa hanyalah Allah semata. Berprasangka baik itu mutlak diperlukan, terlebih ketika kita merasa bahwa ajal kita memang dekat sekali. Agar harapan untuk mendapatkan ampunan benar-benar mendominasi.

17. Antara rasa takut dan harapan.

Seseorang mukmin harus memiliki keduanya secara seimbang. Karena harapan yang terlalu tinggi tanpa disertai rasa takut akan menimbulkan tipu muslihat. Sedangkan ketakutan yang berlebihan tanpa harapan, akan menimbulkan keputusasaan. Baik tipu muslihat maupun keputusasaan merupakan hal yang tercela.

Menurut mazhab Maliki, jika dalam keadaan sehar maka ketakutan harusnya lebih ditekankan, dan apabila dalam keadaan sakit maka harapan harus lebih ditekankan.

18. Tauhid adalah kunci mendapatkan ampunan.

Tauhid merupakan factor paling utama untuk mendapatkan ampunan. Berangsiapa yang tidak memilikinya, maka ia tidak akan mendapatkan ampunan. Allah swt berfirman pada surat An-Nisa’: 48 bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa seorang hamba yang menyekutukan-Nya. Maka siapapun yang memiliki tauhid dan bertemu Allah dengan dosa yang memnuhi bumi, Allah akan menemuinya dengan membawa ampunan sepenuh bumi. Namun demikian, Allah akan mengampuni dan jika tidak maka Allah akan menyiksanya karena dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

19. Balasan bagi orang yang bertauhid adalah surge.

Orang yang bertauhid tidak akan kekal di dalam neraka. Ia akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga. Ia juga tidak masuk neraka dengan dicampakkan begitu saja sebagaimana orang kafir. Yang dipertegas dengan hadist Nabi Muhammad saw “Akan keluar dari neraka, orang yang mengatakan, “Tiada Tuhan selain Allah” dan didalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum.” (H.R. Bukhori)

20. Selamat dari neraka.

Apabila tauhid dan keikhlasan seorang hamba sudah sempurna. Kemudian ia menunaikan semua syarat yang harus dipenuhi, dengan hati, lisan dan anggota badannya atau dengan hati dan lisannya ketika meninggal, maka ia pasti akan mendapat ampunan dari segala dosa yang telah ia lakukan dan tidak akan masuk neraka.

21. Tauhid yang murni.

Barangsiapa yang hatinya talah terisi dengan tauhid, maka semua yang tidak bersangkutan dengan keTuhanan maka akan tersingkir. Rasa takut, rasa cinta, rasa hormat, rasa tunduk atau harapan dan sikap tawakal kepada selain Allah, hilang dengan sendirinya. Pada saat itulah semua dosanya akan lenyap, meskipun dosa itu sebanyak buih dilautan, dan berubah menjadi kebaikan. Dalam sabda Rasulullah “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain”. (H.R Bukhari dan yang lain).

Referensi : Memahami Luasnya ampunan Allah Swt































Penyelewengan Dan Problematika Pemuda

Penyebab penyelewengan dan problematika pemuda itu sangat banyak dan bervariasi jenisnya. Karena manusia pada fase remaja mengalami perkembangan pesat pada fisik dan mental. Fase ini merupakan fase pertumbuhan sehingga  sering berubah dengan cepat. Oleh karena itu, pada fase ini sangatlah penting mempersiapkan segala sesuatu yang bisa menjaga dan memantap  jiwa, serta perangkat yang bisa  menuntun mereka menuju jalan yang lurus.

Berikut ini beberapa penyebab terjadinya penyelewengan:

Pertama: Waktu Luang Atau Menganggur

Waktu luang atau menganggur merupakan penyakit berbahaya yang bisa mematikan pikiran, akal dan kemampuan fisik. Karena setiap jiwa itu perlu dan butuh melakukan gerakan dan melakukan aktifitas. Tatkala itu semua tidak ada, maka pikiran akan membeku, kemampuan jiwa untuk beraktifitas semakin lemah, pikiran-pikiran kotor dan buruk akan menguasai hati. Waktu luang tanpa ada kegiatan yang positif pasti akan menimbulkan rasa jenuh yang sangat membosankan. Bisa jadi rasa ini akan menimbulkan keinginan dan niatan buruk dengan tujuan untuk menghilangkan rasa jenuh yang mendera. Na’ûdzu billâh.

Solusi dari permasalahan ini adalah seorang pemuda hendaknya berusaha mencari dan melakukan kegiatan positif yang sesuai dengan dirinya, baik kegiatan yang bersifat religi seperti menghadiri majelis-majelis ilmu, membaca kitab atau buku agama kemudian menulis resumenya, berziarah ke kerabat dan lain sebagainya, ataupun kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti ikut kerja bakti, berolah raga dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini akan bisa menghindarkan dia dari kekosongan dan kevakuman, serta menjadikannya salah satu anggota masyarakat yang baik dan mampu berbuat untuk diri dan masyarakatnya serta bisa menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Kedua: Hubungan Tidak Harmonis

Hubungan yang tidak harmonis antara generasi muda dengan generasi tua, atau antara pemuda dengan orang tua dalam keluarga atau diluar keluarga. Terkadang kita melihat sebagian orang tua  yang mengetahui anak muda atau anak remajanya melakukan penyelewengan akan tetapi mereka diam kebingungan, tidak mampu meluruskan mereka dan tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih menyedihkan lagi, sebagian dari  orang tua merasa putus asa dan menjatuhkan vonis kepada anak remajanya “tidak mungkin baik. Sikap dan vonis ini jelas akan melahirkan kebencian kepada generasi muda, sikap menjauh dari para pemuda dan akhirnya tidak peduli terhadap keadaan generasi muda, terserah mereka mau baik atau tidak.  Lebih parah lagi, sebagian orang tua menyematkan gelar tidak baik tersebut kepada semua generasi muda disekitarnya dan mereka memperlakukan semua anak muda dengan sikap seperti itu. Akibatnya, masyarakat akan tercerai berai, masing-masing dari generasi tua dan muda saling memandang dengan pandangan yang tidak bersahabat atau dengan pandangan saling menghinakan. Kondisi seperti ini sangat mengancam dan berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat.

Solusi dari permasalahan ini adalah hendaknya masing-masing, generasi pemuda dan kaum tua berusaha menghilangkan sikap saling menjauhi dan hubungan yang tidak harmonis diantara mereka. Mereka seharusnya menyadari bahwa masyarakat yang terdiri dari kawula muda dan generasi tua itu ibarat satu tubuh, bila salah satu bagiannya rusak dan tidak segera dilakukan perbaikan, maka akan menyebabkan semuanya rusak.

Para orang tua juga hendaknya memahami tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka terhadap generasi muda. Harusnya mereka menghilangkan dan menjauhkan sikap putus asa dalam usaha memperbaiki generasi muda, karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk Dia Maha Kuasa dalam memperbaiki generasi muda. Betapa banyak orang yang tersesat tapi kemudian Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepadanya. Memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla dalam usaha memperbaiki mereka merupakan usaha penting yang tidak boleh terlupakan sama sekali.

Untuk generasi muda, seyogyanya mereka menghormati dan menghargai pendapat orang tua serta mau mendengar dan menerima nasehat mereka. Karena bagaimanapun keadaan mereka, generasi tua telah banyak merasakan asam garam kehidupan yang belum banyak dirasakan oleh generasi muda.

Apabila sikap bijak orang tua atau generasi tua bersatu padu dengan kekuatan atau sikap energik generasi muda, maka insya Allâh, hampir bisa dipastikan akan mendatangkan kebahagiaan dan banyak manfaat bagi masyarakat.

Ketiga : Salah Memilih Teman

Menjalin relasi dan berteman dengan orang-orang yang menyimpang  merupakan salah satu penyebab penyimpangan generasi muda. Faktor ini banyak memberikan pengaruh pada prilaku dan mental generasi muda. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

seseorang itu (sangat) tergantung pada agama temannya, maka hendaknya setiap orang melihat siapa orang yang dia ajak berteman. [HR. At-Tirmidzi, no. 2378]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: permisalan teman yang buruk seperti pandai besi, bisa jadi dia membakar bajumu, atau kamu akan dapatkan darinya bau yang tidak sedap”

Solusi dari permasalahan ini adalah memilih teman yang baik.

Seorang pemuda hendaknya memilih orang baik sebagai temannya. Tujuannya adalah agar dia mendapatkan keshalihan dan kebaikan orang tersebut. Seorang pemuda sebelum memutuskan untuk berteman dengan seseorang, hendaknya dia mencari informasi terlebih dahulu tentang keadaan baik dan buruknya orang yang akan dijadikan sebagai teman tersebut. Jika mereka berakhlak mulia, agamanya benar dan memiliki nama baik di tengah masyarakat, maka orang seperti inilah yang sebenarnya dia cari untuk dijadikan teman. Namun apabila sebaliknya, maka dia wajib menjauhi mereka  dan tidak berteman dengan mereka.

Seorang pemuda, hendaknya tidak terpesona dan tidak terpedaya dengan manisnya ucapan dan indahnya penampilan. Karena itu, sejatinya hanya tipuan dan penyesatan yang sering dilakukan oleh para pelaku keburukan demi menarik perhatian dan hati orang-orang awam untuk memperbanyak jumlah mereka dan dalam rangka menutupi keburukan mereka.

Keempat : Mengkonsumsi Bacaan-bacaan Yang merusak

Salah satu penyebab kerusakan generasi muda adalah membaca bacaan-bacaan merusak yang menyebabkan seseorang ragu terhadap agama dan akidahnya lalu yang menyeretnya menjauh dari akhlak mulia. Akibatnya, jika seorang pemuda tidak memiliki benteng pertahanan yang kokoh berupa ilmu agama yang mendalam yang bisa memandunya untuk membedakan antara hak dan bathil, antara yang bermanfaat dan yang berbahaya, maka dia akan terjatuh dalam kekufuran dan kehinaan serta terjebak dalam kubangan dosa. Nas’alullâh as-salâmah,

Membaca bacaan-bacaan seperti ini bisa merusak generasi muda dan merubahnya seratus delapan puluh derajat. Buku-buku yang merusak tersebut, ibarat pepohonan beracun yang menemukan lahan subur pada akal dan pikiran anak muda yang tidak terlindungi benteng yang kokoh. Pohon-pohon itu akan menancap kokoh sementara akar dan rantingnya akan semakin menguat. Akibatnya, standar pemikiran dan kehidupan pemuda tersebut terbalik.

Solusi dari permasalahan ini adalah menghindari bacaan-bacaan yang merusak

Seorang anak muda dengan bimbiangan orang tua seharunya berpaling dan menjauh dari bacaan-bacaan merusak seperti ini dan beralih kepada buku-buku yang bisa menanamkan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya di dalam hati. Seorang pemuda yang ingin memperbaiki diri harus merubah kebiasaannya membaca bacaan-bacaan yang merusak menjadi gemar membaca bacaan yang bisa membantunya merealisasikan iman dan amal shalih. Dan untuk bisa melakukan ini dia harus bersabar, karena jiwa akan memberontak dan berusaha menyeratnya untuk kembali kepada kebiasaan lama yang buruk. Jiwa akan membuatnya bosan dan jemu mengkonsumsi bacaan-bacaan baru yang bermanfaat. Dia seperti orang yang bergelut dengan jiwanya agar taat kepada Allâh, akan tetapi jiwanya menolak dan lebih cendrung kepada perbuatan sia-sia dan dosa.

Bacaan yang paling bermanfaat adalah kitabullâh (al-Qur’an) dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  serta bacaan-bacaan yang ditulis oleh para Ulama rabbâniyin seperti buku-buku tafsir yang shahih yang sejalan dengan nash dan akal sehat juga bacaan-bacaan yang ditulis oleh para Ulama yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kelima : Prasangka Buruk Terhadap Islam

Sebagian pemuda menyangka bahwa Islam membatasi kebebasan dan mengekang potensi yang mereka miliki. Salah sangka ini menyebabkan mereka lari menjauh dari Islam dan menumbuhkan keyakinan bahwa Islam agama terbelakang yang membawa penganutnya tertinggal serta menghalangi mereka kemajuan dan modernisasi.

Solusi dari permasalahan ini adalah memperlihatkan Islam yang sebenarnya

Generasi berkewajiban memberikan gambaran yang benar tentang Islam bagi para pemuda yang tidak mengetahui hakikat Islam. Karena mereka berpandangan seperti itu disebabkan prasangka buruk terhadap Islam atau karena pengetahuan mereka yang minim tentang Islam atau mungkin juga karena akumulasi dari keduanya.

Agama Islam bukan pengekang kebebasan, akan tetapi Islam mengatur kebebasan dan mengarahkannya agar tidak terjadi benturan antara kebebasan satu individu dengan kebebasan individu lainnya. Kalau masing-masing diberi kebebasan tanpa batas, benturan pasti akan terjadi. Jika demikian, kekacauan dan kerusakan akan menjadi hal lumrah di tengah masyarakat. Na’udzu billah.

Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla menyebut hukum-hukum agama atau syari’at itu dengan sebutan hudûd (batasan-batasan). Misalnya yang terkait hukum haram, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا 

Itu adalah batasan-batasan Allâh maka janganlah kamu mendekatinya [Al-Baqarah/2:187]

Sedangkan untuk yang terkait dengan yang wajib, Allâh menyebutkan:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعتدوها

Dan itu adalah batasan-batasan Allâh maka janganlah kamu lampaui [Al-Baqarah/2:229]

Pengekangan dan pengaturan, dua hal yang jelas berbeda.  Pengekangan yang diyakini oleh sebagian orang atau sebagian pemuda tidak sama dengan arahan dan pengaturan yang dilakukan Allâh Azza wa Jalla melalui syariat-syari’at-Nya. Pengaturan adalah suatu yang lumrah dan itu berlaku pada semua sisi kehidupan di alam semesta ini. Manusia dengan tabi’at kemanusiannya tunduk kepada aturan yang bersifat alamiah ini.

Misalnya, ketika waktu lapar dan dahaga, maka dia pasti akan tunduk pada aturannya untuk makan dan minum. Dia akan mengatur segala hal yang berkaitan dengan makan dan minumnya, baik yang berhubungan dengan porsi,pola dan jenis makanan agar kesehatan dan kebugaran tubuhnya terjaga.

Contoh lainnya adalah orang yang tinggal ditengah masyarakat, maka dia harus juga tunduk kepada aturan masyarakat. Dia tunduk  dan mentaati adat istiadat setempat yang berkaitan dengan bentuk tempat tinggal, pola pakaian, aturan disaat akan melakukan perjalanan atau disaat akan kembali dari suatu perjalanan, atau mungkin aturan selama dalam perjalanan. Jika dia berani dan nekad melanggaran aturan-aturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, maka dia harus menerima ketika dirinya dicap nyeleneh oleh masyarakat dan mungkin akan dijauhi oleh masyarakat.

Kalau begitu, semua yang ada dan berlaku dalam kehidupan ini tunduk pada aturan-aturan dan batasan-batasn tertentu, agar semuanya berjalan lancar dan supaya menggapai maksud yang diinginkan. Jika tunduk kepada aturan bermasyarakat merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan agar tercipta ketenangan dalam masyarakat dan terhindar dari kekacauan, maka begitu pula tunduk pada aturan-aturan agama. Tunduk kepada aturan atau batasan-batasan agama juga harus dilakukan agar ummat menjadi baik dan berjaya.

Agama Islam juga bukan belenggu dan pengekang bagi potensi diri. Justru sebaliknya, Islam mengembangkan potensi diri, baik yang bersifat intelektual, emosional maupun fisik atau motorik.

Islam mengajak manusia untuk berpikir dan meneliti. Dengannya manusia bisa mengambil pelajaran dan akal pikiran mereka akan semakin berkembang. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ ۖ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allâh (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) [As-Saba’/34:46]

Juga firman-Nya:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi [Yûnus/10:101]

Agama Islam tidak hanya sebatas mengajak berpikir dan meneliti, namun Islam juga mencela orang yang tidak mau berpikir, tidak mau meneliti dan tidak mau berusaha memahami. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allâh, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah al-Qur’an itu? [Al-A’râf/7:185]

Allâh juga berfirman:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allâh tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. [Ar-Rûm/30:8]

Juga firman-Nya:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? [Yâsîn/36:68]

Perintah berpikir dan meniliti atau menela’ah dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan potensi akal dan pikiran. Lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang mengekang potensi?!

(Terkait potensi fisik) Islam membolehkan bagi pemeluknya untuk mengkonsumsi semua jenis kenikmatan dan kesenangan yang tidak mengandung unsur yang bisa membahayakan bagi badan, akal juga agama.

Allâh membolehkan semua jenis  makanan dan minuman yang halal. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-benar kalian hanya beribadah kepada-Nya. [Al-Baqarah/2:172]

Dan firman-Nya:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid! Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al-A’râf/7:31].

Agama islam juga membolehkan semua jenis pakaian yang selaras dengan hikmah dan fitrah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. [Al-A’râf/7:26]

Juga firman-Nya:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allâh yang telah dikeluarkan-Nya untuk para hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” [Al-A’râf/7:32]

Islam juga membolehkan manusia bersenang-senang dengan wanita melalui ikatan pernikahan yang syar’i. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [An-Nisâ’/4:3]

Bahkan Islam membolehkan dan menghalalkan semua penghasilan yang bersumber dari usaha halal yang dilandasi rasa ridha. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا 

Dan Allâh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba [Al-Baqarah/2:275]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

ialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan [Al-Mulk/67:15]

Juga berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh (Al-Jumu’ah/62:10)

Referensi :