This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 03 Agustus 2022

Sesungguhnya Allah Swt Mengharamkan Kezaliman

Sesungguhnya Allah Swt Mengharamkan Kezaliman. Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya".

Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.

Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.

"Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah Swt dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

Referensi : Sesungguhnya Allah Swt Mengharamkan Kezaliman 















Larangan untuk berbuat zalim

Hadis: "Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram atas kamu sekalian, maka janganlah kamu sekalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kamu sekalian itu sesat, kecuali yang Ku-beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian."

عن أبي ذر الغفاري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما يرويه عن ربه: «يا عبادي، إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا فلا تَظَالموا، يا عبادي، كلكم ضالٌّ إلا من هديتُه فاستهدوني أَهْدَكِم، يا عبادي، كلكم جائِعٌ إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم، يا عبادي، كلكم عارٍ إلا من كسوتُه فاسْتَكْسُوني أَكْسُكُم، يا عبادي، إنكم تُخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوبَ جميعًا فاستغفروني أغفرْ لكم، ياعبادي، إنكم لن تَبلغوا ضَرِّي فتَضُرُّونِي ولن تَبْلُغوا نَفْعِي فتَنْفَعُوني، يا عبادي، لو أن أولَكم وآخِرَكم وإنسَكم وجِنَّكم كانوا على أتْقَى قلبِ رجلٍ واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئًا، يا عبادي، لو أن أوَّلَكم وآخِرَكم وإنسَكم وجِنَّكم كانوا على أفْجَرِ قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك من ملكي شيئًا، يا عبادي، لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صَعِيدٍ واحد فسألوني فأعطيت كلَّ واحدٍ مسألتَه ما نقص ذلك مما عندي إلا كما يَنْقُصُ المِخْيَطُ إذا أُدخل البحر، يا عبادي، إنما هي أعمالكم أُحْصِيها لكم ثم أُوَفِّيكُم إياها فمن وجد خيرًا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه».  

Abu Żarr Al-Gifāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya: "Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram atas kamu sekalian; maka janganlah kamu sekalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu sesat, kecuali yang Aku beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu lapar, kecuali yang Aku beri makan; maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian itu telanjang, kecuali yang Aku beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian itu selalu melakukan kesalahan di waktu siang dan malam, sedangkan Aku mengampuni semua dosa; maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kamu sekalian tidak akan bisa menimpakan mudarat kepada-Ku sehingga dapat membahayakan-Ku, dan kamu sekalian tidak akan bisa memberi manfaat kepada-Ku sehingga bermanfaat bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Jika kamu sekalian yang awal hingga yang akhir, baik dari bangsa manusia maupun dari bangsa jin, bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kamu sekalian, maka hal itu tidak akan menambah sedikit pun pada kekuasaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Jika kamu sekalian yang awal hingga yang akhir, baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin, berkumpul di satu tempat yang luas dan memohon kepada-Ku, kemudian Aku mengabulkan permohonan mereka, maka hal itu tidak akan mengurangi kekayaan yang Aku miliki, melainkan seperti jarum yang dicelupkan ke laut dan diangkat lagi. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mencatat amal perbuatanmu dan Aku membalasnya, maka siapa yang mendapat kebaikan, maka hendaklah memuji Allah, dan siapa yang mendapat selain itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali dirinya sendiri." (Hadis sahih - Diriwayatkan oleh Muslim).

Hadis qudsi ini yang mencakup berbagai faedah besar dalam pokok-pokok agama, cabang-cabangnya, dan adab-adabnya, menunjukkan kepada kita bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah mengharamkan kezaliman kepada diri-Nya sebagai keutamaan dan kebajikan dari-Nya untuk para hamba-Nya. Dia menjadikan kezaliman haram di antara para makhluk-Nya, karena itu seseorang tidak boleh menzalimi orang lain. Dan sesungguhnya manusia itu seluruhnya tersesat dari jalan kebenaran, kecuali dengan adanya hidayah dan taufik dari Allah; siapa yang memohon pada Allah, niscaya Dia memberinya taufik dan hidayah itu. Sesungguhnya makhluk itu fakir kepada Allah dan membutuhkan-Nya; siapa yang memohon kepada Allah, niscaya Allah memenuhi kebutuhannya dan mencukupinya. Sesungguhnya mereka itu berbuat dosa di malam dan siang hari, sedangkan Allah -Ta'ālā- menutupi dan memberikan ampunan ketika seorang hamba memohon ampunan. Sesungguhnya mereka itu tidak akan mampu -meskipun telah berusaha dengan ucapan dan perbuatan- untuk membahayakan Allah atau memberikan manfaat untuk-Nya dengan sesuatu. Sesungguhnya mereka itu meskipun semuanya berada dalam kondisi hati orang yang paling bertakwa atau dalam kondisi hati orang yang paling durhaka, maka ketakwaan mereka tidak akan menambah kekuasaan Allah dan kedurhakaan mereka tidak akan mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan Allah, karena mereka itu lemah, fakir kepada Allah, dan membutuhkan-Nya di setiap keadaan, masa, dan tempat. Seandainya mereka itu berada di satu tempat untuk memohon kepada Allah lalu Dia memberi apa yang diminta oleh setiap orang, tentunya hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun apa yang ada di sisi Allah. Sebab, perbendaharaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- itu penuh (melimpah), tidak akan berkurang dengan adanya nafkah sepanjang malam dan siang. Sesungguhnya Allah menjaga dan menghitung semua amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk, lalu Dia akan membalas amalan mereka pada hari Kiamat. Siapa yang mendapatkan balasan amalnya berupa kebaikan, hendaknya ia memuji Allah atas taufik-Nya untuk menaati-Nya, dan siapa yang mendapatkan balasan amalnya bukan kebaikan, hendaknya ia tidak mencela kecuali nafsunya yang menyeret dirinya pada keburukan dan menggiringnya pada kerugian.

Faedah

  1. Sebagian Sunnah merupakan firman Allah, yaitu yang diriwayatkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Rabb beliau, dan dinamakan dengan hadis qudsi atau hadis ilahi. 
  2. Menetapkan adanya ucapan bagi Allah -'Azza wa Jalla-, dan ini banyak terdapat dalam Al-Qur`ān. Sekaligus ini adalah dalil bagi pendapat Ahli Sunnah yang menyatakan bahwa kalam Allah berupa suara, karena istilah ucapan tidak digunakan kecuali pada yang didengar. 
  3. goog_1506979996Allah kuasa berbuat zalim, tetapi Allah mengharamkannya bagi Diri-Nya karena kesempurnaan sifat adil-Nya. 
  4. Pengharaman kezaliman. 
  5. Syariat-syariat Allah Swt dibangun di atas keadilan. 
  6. Sebagian di antara sifat Allah adalah sifat yang dinafikan seperti menafikan kezaliman. Akan tetapi, tidak ada penafian dalam sifat-sifat Allah -'Azza wa Jalla- kecuali untuk menetapkan kebalikannya. Sehingga menafikan kezaliman artinya menetapkan keadilan sempurna yang tidak mengandung cacat. 
  7. Allah -'Azza wa Jalla- boleh mengharamkan bagi diri-Nya apa yang Dia kehendaki karena hukum kembali kepada-Nya. Sebagaimana Allah boleh mewajibkan atas diri-Nya apa yang Dia kehendaki. 
  8. Boleh menggunakan istilah nafs (jiwa) dengan makna zat (diri); sebagaimana dalam firman-Nya, "'alā nafsī." Maksudnya adalah Zat-Nya. 
  9. Wajib kembali kepada Allah dalam semua hal yang dialami oleh manusia karena semua makhluk butuh kepada-Nya. 
  10. Kesempurnaan sifat adil Allah, juga kekuasaan-Nya, ketidakbutuhan-Nya, dan kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Sebab itu, wajib bagi para hamba untuk menghadap kepada Allah dalam menunaikan hajat mereka. 
  11. Hidayah tidak diminta kecuali dari Allah; sebagaimana firman-Nya, "Maka mintalah hidayah kepada-Ku, pasti kalian Aku beri hidayah." 
  12. Hukum asal pada manusia adalah ketersesatan; yaitu tidak mengetahui kebenaran dan tidak mengamalkannya. 
  13. Ilmu dan hidayah yang didapatkan pada hamba adalah dengan petunjuk dan pengajaran dari Allah. 
  14. Kebaikan seluruhnya berasal dari karunia Allah -Ta'ālā- untuk hamba-hamba-Nya tanpa penuntutan. Sedangkan keburukan seluruhnya berasal dari manusia karena memperturutkan hawa nafsu. 
  15. Hamba tidak menciptakan sendiri perbuatannya, tetapi dia dan perbuatannya adalah ciptaan Allah -Ta'ālā-. 
  16. Dosa dan kesalahan sekalipun banyak maka Allah -Ta'ālā- akan tetap bisa mengampuninya, tetapi manusia wajib untuk tetap memohon ampunan. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Maka memohon ampunlah kepada-Ku, pasti kalian Aku berikan ampunan." 
  17. Siapa yang berbuat baik maka itu adalah dengan adanya taufik dari Allah, dan pahalanya adalah karunia dari Allah; maka hanya milik-Nya segala pujian.

Referensi : Larangan untuk berbuat zalim









Senin, 01 Agustus 2022

Berbakti Kepada Orang Tua Setelah Menikah

Kewajiban sejati seorang anak kepada orang tua adalah berbakti dan berbuat baik kepada mereka, bahkan hukumnya fardhu ain bagi setiap anak. Dan di dalam nash-nash al-Qur’an dan As-Sunnah biasa disebut Ihsaan atau Birr. Dan uniknya, ada beberapa nash di dalam Al-Qur’an dan sunnah yang mensejajarkan antara kewajiban kepada Allah dan kewajiban kepada orang tua.

Allah berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “dan Allah telah memerintahkan kepada kamu; jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua”. (QS Al-Isra’ 23).

Allah juga berfirman:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: Bersyukurlah kepada-KU, dan kepada kedua orang tuamu. (QS Luqman 14).

Di dalam hadits Rasulullah ditanya:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ” الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: Apa amalan yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah menjawab: Shalat pada waktunya, kemudian amalan apa lagi? Rasulullah menjawab: Berbakti kepada orang tua, kemudian amalan apa lagi? Rasulullah menjawab: berjihad fi sabilillah. (Muttafaqun alahi).

“Fenomena” ini tentunya merupakan indikasi kuat terkait agungnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika durhaka kepada orang tua adalah bagian dari dosa besar, maka dapat dipahami dari hal ini (mafhum mukhalafah), bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah yang agung, bahkan sebagian ulama memandang bahwa ia dapat menggugurkan dosa-dosa besar, sebagaimana pendapat imam Ahmad, dan pendapat imam Makhuul sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdil Barr. [Ghidzaul AlBaab Syarh Mandhumatul Adab karya: As-Safaariini, hal: 299].

Kalimat “berbakti kepada orang tua” makanya global, mencakup segala bentuk perbuatan baik, baik secara lisan seperti berkata lembut kepada mereka, maupun secara sikap dan perbuatan, seperti mematuhi mereka dalam kebaikan dan membantu kebutuhan-kebutuhan mereka.[lihat Tafsir As-Sa’di, hal: 456 dengan sedikit tambahan].

Dengan pemaparan diatas, maka mendoakan orang tua merupakan salah satu bentuk birrul walidain yang agung, yaitu birrul walidain dengan lisan. Namun tentunya anda memahami bahwa mendoakan orang tua adalah ibadah yang sifatnya tersembunyi, sehingga ada potensi orang tua tidak mengetahui tentang hal ini, karena mereka tidak merasakan “perhatian” yang kongkrit dari anda, apalagi jika mereka masih hidup, maka mereka tentu sangat mengharapkan “kehadiran” yang lebih dari anda, berupa: komunikasi, ziarah, bantuan materi ataupun non materi dsb.

Oleh karena itu, jika anda dan suami memiliki waktu dan kesempatan, maka diupayakan untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan ziarah kepada orang tua, dan jika hal itu sulit untuk direalisasikan, maka anda dapat mempertahankan intensitas ziarah yang lama, namun ditingkatkan kualitas “kehadiran” anda disamping mereka, dan jika hal itu dijadikan sebagai bentuk “me-time” anda (yaitu “me-time” anda dengan orang tua) maka akan sangat luar biasa.

Memanfaatkan kebersamaan anda bersama orang tua, maka anda dapat menunjukkan isyarat-isyarat perhatian anda kepada mereka, bahwa anda menyayangi mereka dan berusaha untuk tidak melupakan mereka dalam lantunan doa anda, diharapkan dengan ini anda mendapat keridhoan orang tua, dan mereka dapat memahami bahwa banyak bentuk dan cara berbakti kepada orang tua.

Mungkin memberikan bantuan finansial kepada orang tua adalah salah satu ukuran “birrul walidain” konkrit menurut ukuran kebanyakan orang tua pada zaman ini, karena sangat terasa manfaatnya, olehnya sebagian orang tua mengukur kesuksesan anak dan ketaatannya kepada orang tua dengan ukuran ini, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan isyarat terkait hal ini, ketika seorang sahabat mengadukan ayahnya yang mengambil hartanya, beliau bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

Artinya:”Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu”. (HR Ahmad dan dinyatakan hasan lighairihi oleh Syua’ib Al-Arnauth dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits diatas bukan justifikasi bagi orang tua untuk mengangkangi seluruh harta anaknya, namun maksudnya, diperbolehkan bagi orangtua untuk mengambil sesuatu dari harta anaknya sesuai dengan kebutuhan primernya yang tidak memberatkan anaknya.[An-Nihayah fi Gharibil Atsar 1/834 dengan sedikit penyesuaian].

Dan para ulama kita mengisyaratkan makna ini di dalam buku-buku mereka, As-Safaariini mengutip dari Abu Laith As-Samarqandi bahwa beliau mengatakan:”Diantara hak seorang bapak kepada anaknya adalah memberinya makan jika butuh kepada makanan, dan membelikan baju jika sang anak memiliki kemampuan”.[Ghidzaul AlBaab Syarh Mandhumatul Adab karya: As-Saffarini, hal:300].

Oleh karena itu, jika kita memiliki kelebihan harta dan orang tua membutuhkan uluran tangan untuk kehidupan mereka, maka sangat dianjurkan untuk memberikan kelebihan harta kita kepada mereka.

Namun jika penghasilan kita hanya cukup untuk menafkahi keluarga, maka kita dapat mencari cara yang lain untuk berbakti kepada orang tua, sebab pintu-pintu untuk berbakti kepada mereka terbuka lebar, dan caranya-pun sangat banyak sebagaimana yang telah kami isyaratkan diatas.

Hal yang perlu digaris bawahi bagi anda, bahwa jawaban kami ini berlaku jika ada ijin dari suami, anda boleh untuk menziarahi orang tua dan memberi kelebihan harta kepada mereka jika suami mengizinkan, kecuali jika anda memiliki penghasilan sendiri, maka tidak perlu izin kepada suami untuk memberikan nafkah kepada orang tua. Dan tidak dibenarkan bagi suami untuk melarang istrinya untuk berziarah kepada orang tuanya, kecuali jika ada mudharat yang nyata dari ziarah tersebut, bahkan bisa saja seorang suami berbagi pahala dengan istrinya dalam masalah birrul walidain ini.

Referensi : Berbakti Kepada Orang Tua Setelah Menikah








Inilah 7 Dosa Orangtua Terhadap Anak, Jarang Disadari

Sejak kecil, kita diajarkan untuk tidak bersikap buruk kepada orangtua. Jangan sampai kita menjadi anak durhaka yang kerap menyakiti hati orangtua karena rida Allah berasal dari rida orangtua. Akan tetapi, menjadi orangtua juga bukan berarti serba benar. Sering kali anak dianggap memiliki banyak kesalahan dan dosa pada orangtuanya, padahal ini juga bisa terjadi sebaliknya.  Setiap orangtua tentu punya kewajiban yang harus dipenuhi kepada anaknya. Jika tidak, maka orangtua sudah bersalah karena telah tidak memenuhi tanggung jawabnya. Supaya nggak salah langkah, ketahui dulu, yuk, beberapa dosa orangtua terhadap anak.

1. Menelantarkan anak

Memiliki anak bukan sekadar mengandung, melahirkan, dan menyusui saja. Banyak keperluan anak yang harus dipenuhi orangtuanya, terutama saat mereka masih kecil dan belum bisa menolong diri sendiri. Salah satu dosa orangtua terhadap anak ialah menelantarkan anak. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam bersabda, "Seseorang dikatakan telah cukup berbuat dosa apabila menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Daud dan Nasa'i)

Apa saja perbuatan yang dikatakan sebagai penelantaran anak? Misalnya tidak memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti memberi makan, pakaian, tempat tinggal, serta mengabaikan pendidikan anak.

2. Tidak mendidik anak dengan baik

Setiap orangtua wajib mendidik anak-anaknya dengan baik. Bukan hanya pendidikan formal saja, tapi juga pendidikan agama dan pengajaran akhlak-akhlak yang baik sesuai tuntunan agama Islam. Orangtua yang tidak peduli dengan pendidikan anak, bahkan mengabaikan nilai-nilai agama artinya ia sudah melakukan kesalahan fatal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orangtua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim)

3. Pilih kasih pada anak

Setiap orangtua harus bisa bersikap adil dalam mengasihi anak-anaknya. Mereka tidak boleh membedakan perhatian dan kasih sayang antara satu sama lain. Penting sekali orangtua bersikap adil pada anak-anaknya. Jika tidak, hal ini akan menimbulkan permusuhan pada anak-anak hingga berdampak pada sikap tidak menghormati orangtua.

Bahkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam sampai berwasiat dan mengulangnya hingga tiga kali saat berkata soal wajibnya orangtua bersikap adil kepada anak-anaknya.

“Adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu!” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

4. Membandingkan anak dengan orang lain

Ini adalah dosa yang sering dilakukan orangtua terhadap anak, yaitu membandingkan anak dengan orang lain dengan harapan agar anaknya menjadi lebih baik. Namun bukannya membaik, hal ini justru dapat merusak harga diri, mengurangi motivasi, dan meningkatkan kecemasan pada anak.

Kebiasaan membanding-bandingkan itu juga akan menimbulkan perasaan rendah diri pada anak karena ia merasa tidak pernah bisa memuaskan orangtua. Padahal sejatinya, setiap anak lahir dengan keunikannya masing-masing. Maka dari itu, membandingkan anak dengan orang lain atau saudara kandungnya bukanlah hal yang tepat.

5. Berkata kasar pada anak

Bagi orangtua, jangan pernah mengucapkan kata kasar apalagi sampai menghina dan merendahkan anak. Hal tersebut sudah termasuk dosa orangtua yang sangat merusak mental anak. Tak jarang dijumpai orangtua yang kerap menghina anak di depan teman-temannya. Hal ini bukan saja membuat anak menjadi berkecil hati, tapi juga mengeraskan hatinya yang akhirnya bisa menimbulkan sikap durhaka anak di masa mendatang.

6. Terlalu mengekang kebebasan anak

Banyak yang salah beranggapan bahwa orangtua harus mengatur segalanya untuk anak. Alhasil, mereka pun menjadi orangtua yang otoriter dan terlalu mengekang anak. Contohnya, mengekang kebebasan anak untuk bermain atau berteman dengan orang yang dia sukai. Wajar jika orangtua tak ingin anaknya terjerumus ke pergaulan yang salah. Namun, bukan berarti dengan mengurungnya di rumah dan tidak boleh bermain dengan teman-temannya.

Berdasarkan sebuah penelitian oleh dokter Mai Stafford dari University College London, terlihat orangtua yang mengekang anak dapat memengaruhi kesehatan mental anaknya. Dalam penelitian tersebut, diketahui orangtua yang mengutamakan kehangatan dan respons positif menghasilkan anak yang lebih bahagia dan sehat mentalnya. Sementara orangtua yang mengekang dan otoriter menghasilkan anak yang tidak bahagia dan tidak puas pada hidupnya.

7. Menuntut anak menjadi dewasa sebelum waktunya

Dosa orangtua terhadap anak yang sering tak disadari ialah memberikan tanggung jawab yang terlalu besar untuk anak seusianya. Hal seperti ini bisa memengaruhi perkembangan emosionalnya. Menurut seorang psikoterapis berlisensi di Miami, Whitney Goodman, LMFT, anak yang dewasa sebelum waktunya cenderung memiliki luka emosional yang dalam dan tersimpan hingga dewasa.

Jika ingin anak bersikap dewasa, maka bimbing dia dengan perlahan. Ajari anak untuk memikul tanggung jawab dari hal terkecil, seperti membereskan mainan setelah digunakan. Anak akan lebih bertanggung jawab sejak dini jika orangtua terbiasa mengajarkannya.

Referensi : Inilah 7 Dosa Orangtua Terhadap Anak, Jarang Disadari










Perbuatan Ini Termasuk Durhaka Halus Menurut (Buya Yahya)

Perbuatan Ini Termasuk Durhaka Halus Menurut (Buya Yahya). Mungkin tanpa kita sadari diri ini pernah melakukan durhaka halus kepada orang tua, padahal dalam agama islam selalu diajarkan untuk berbakti kepada orang tua.

Buya Yahya menjelaskan, seorang anak mungkin secara tidak sadar pernah melakukan durhaka halus kepada orang tuanya, dan hal itu tidak terasa oleh hati karena telah hilang rasa bakti kepadanya.

“Ada durhaka kepada orang tua itu halus tidak dirasa bahkan tidak disadari kalau dia tidak mencoba untuk merenung, tapi kan Allah tau, sebab sebetulnya semua kembali kepada kesadaran hatinya yang telah hilang untuk berbakti kepada orang tua,” kata Buya Yahya.

Mengapa durhaka halus kepada orang tua begitu tidak terasa? itu terjadi karena kita sering bersikap seenaknya kepada mereka.

Dengan demikian, Buya Yahya menyarankan kita semua untuk merenung dan selalu sadar bahwa harus berperilaku baik kepada orang tua, kemudian jangan pernah menyakiti perasaannya.

“Sehingga merenung itu penting sekali, agar kita senantiasa dalam wilayah sadar, kita melakukan kesalahan kepada orang tua tanpa kita sadari, disebabkan orang tuanya baik dengan kita, sehingga kita kalau seenaknya sendiri,” tambahnya.

Orang tua harus menjadi nomor satu di hati anak-anaknya, dan jangan pernah menganggap sepele ridho dari orang tua.

Meskipun sang anak sudah menikah, ridho orang tua akan menjadi kunci kebahagiaan rumah tangganya.

“Yang sudah menikah wahai para suami wahai para istri, jika rumus hidupmu dalam rumah tangga salah maka akan melakukan satu pelanggaran yang terbesar, kau akan hancurkan kunci kebahagiaan,” ungkapnya.

Tidak lupa Buya Yahya mengingatkan kita semua untuk berbakti kepada orang meskipun sudah menikah. Baik itu istri maupun suami harus saling mengingatkan satu sama lain

“Apa itu rumus kebahagiaan dalam rumah tangga? Sederhana, ajarkan istrimu agar semakin hari semakin baik kepada orang tuanya, hey para istri ajari agar suamimu semakin hari semakin baik kepada orang tuanya,” sambungnya.

Referensi : Perbuatan Ini Termasuk Durhaka Halus Menurut (Buya Yahya)













Orang Tua Durhaka Kepada Anak

Orang Tua Durhaka Kepada Anak.Setiap kita adalah anak dari orang tua, tetapi tidak semua dari kita bisa menjadi orang tua. Anak dituntut dalam ajaran agama maupun dalam norma masyarakat untuk berbakti kepada orang tua. Dalam masyarakat dikenal istilah durhaka yang ditujukan kepada seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Lalu adakah konsep orang tua durhaka kepada anak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, cariustadz.id menghadirkan Ust. Ahmad Ubaidi Hasbillah dalam program Ruang Tengah. Ubaidi menjelaskan bahwa istilah orang tua durhaka sebenarnya kurang tepat untuk digunakan, baik dari sisi Bahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia kata durhaka adalah sebuah sikap menolak atau tidak patuh terhadap atasan. Contohnya adalah karyawan kepada direktur, anak buah kepada bosnya, dan seterusnya. Tetapi orang tua kepada anak, bukan dalam kapasitas bawahan kepada atas.

“Secara fitrah, posisi orang tua berada di atas anak. Kalau anak tidak patuh kepada orang tua, bisa disebut anak durhaka. Tetapi untuk orang tua, saya kira yang lebih tepat adalah zalim, orang tua zalim kepada anak,” terang Ubaidi.

Ubaidi melanjutkan bahwa dalam Bahasa Arab dikenal istilah ‘uquuqul waalidaiin artinya durhaka kepada orang tua. Bentuk durhaka dalam ayat al-Quran disebutkan wa laa taqul lahumaa uffin, janganlah kalian berkata uff kepada kedua orang tua, yaitu mengatakan ‘ah’ sebagai bentuk keengganan mematuhi orang tua. Memaknai uffin ini, tidak harus berupa kata-kata, tetapi ekspresi penolakan secara umum, sudah bisa dikatakan durhaka.

Dalam konteks hubungan orang tua dan anak ini, kata Ubaidi, adalah sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Anak durhaka kepada orang tua adalah dosa besar, begitu pun orang tua zalim kepada anak merupakan dosa besar.

Kemudian bagaimana cara menghindari “syndrom” orang tua toxic? Agar kita tidak termasuk orang tua zalim.

Dalam menjawab pertanyaan ini, cariustadz.id juga menghadirkan Rena Masri, psikolog klinis dewasa pendiri Cinta Setara. Menurut Rena, Keluarga merupakan lingkungan utama dan pertama yang dikenal oleh anak. Oleh karenanya pola pengasuhan, pola pendidikan yang diterapkan pada anak menjadi sangat penting karena akan mempengaruhi bagaimana perkembangan karakter dan kepribadian anak di kemudian hari

“Orang tua yang tidak pernah menghargai anak,  selalu menyalahkan anak, maka dampaknya akan mempengaruhi self confidence anak dan ini bisa jadi terus berlanjut hingga anak dewasa,” jelas Rena.

Menurut Rena yang penting adalah attachment antara orang tua dengan anak tercipta dengan baik, sehingga anak merasa aman, merasa nyaman dengan orang tua. Ketika anak sudah merasa nyaman, pada akhirnya otomatis anak akan lebih terbuka. Rasa aman dan nyaman menjadi kunci agar kita bisa mempunyai komunikasi yang enak dan saling terbuka.

Referensi : Orang Tua Durhaka Kepada Anak











8 Dosa Orang Tua pada Anak (Syekh Ali Jaber)

Di masa hidupnya, Syekh Ali Jaber telah memberikan banyak nasehat dari sudut pandang Islam mengenai berbagai hal. Salah satunya, bagaimana sikap tepat para orangtua dalam mendidik buah hatinya di masa tumbuh kembang agar tak durhaka di masa depan. Seringkali banyak orang tua yang memberi label durhaka pada anak lantaran sikap yang menyakiti hati. Padahal, banyak yang tanpa sadar telah memicu anak melakukan hal buruk akibat ucapan orang tua itu sendiri.

Berikut 8 kata dari orang tua yang merusak hati anak berdasarkan paparan Syekh Ali Jaber

Caci maki Orang tua suka mencaci maki anak. Ini sebuah bahaya, tegas Syekh Ali Jaber, apalagi kalau orangtua lagi emosi.  "Kalau lagi emosi jauh daripada anak. Jangan jadikan anak korban," saran Syekh Ali Jaber.

Banyak orangtua yang sering menghina anak di depan kawan-kawannya. Hal ini bukan saja membuat anak menjadi berkecil hati, namun mengeras hatinya yang akhirnya menimbulkan kedurhakaan di masa mendatang. "Bisa anak kita saat itu nggak nangis tapi mati rasa. Akhirnya jadi hati kecil, susah kita bina, itu namanya orang tua durhaka pada anak sebelum anak durhaka. Bisa kita nasehati dengan baik dan bukan di depan orang lain," ungkapnya.

Membandingkan Tak sedikit orangtua yang membandingkan anaknya dengan orang lain yang terlihat kemampuannya lebih hebat. Bahkan, beberapa orangtua juga membandingkan antar saudara yang bisa menimbulkan benih-benih kebencian. "Selalu membandingkan dengan orang lain. 'Ini lihat anak itu luar biasa'. Itu bahaya. Itu akibatkan kecil hati lalu benci pada orang itu," tutur Syekh. Cinta dengan syarat Menurut Syekh Ali Jaber, beberapa orangtua kerap meminta anak untuk bersikap baik dengan dalih agar dicintai oleh ayah atau ibunya. Padahal, itu perkataan yang salah lantaran mencintai anak adalah kewajiban orangtua.

"Seolah-olah kita tunjukan kalau ibu cinta kalau anak diam dan solat. Itu cinta dengan syarat. Kalau mau cinta ya cinta, nggak usah pakai syarat. Cinta yang wajar dan wajib bagi kita ke anak. Kalo kita tidam tunjukan cinta, dia lama-lama cari orang lain yang memberi perhatian," tuturnya. Informasi yang salah

Informasi yang salah

Banyak orang tua memberikan informasi yang salah seperti melarang anak laki-laki untuk nangis. Bahayanya memang bukan saat itu, namun tangisan yang dipendam bisa membuat jiwanya rusak di kemudian hari.

"Eh laki-laki enggak boleh nangis. Siapa bilang? Bapak-bapak nangis enggak? Nangis kan? Salah kita berkata begitu. Biarin dia nangis, kalau dia nangis, ayo nangis lagi sayang. Itu akibatkan apa? Sakit jiwa. Karena dia tahan jadi beban lama-lama sakit jiwa," jelasnya. Ancaman Untuk membuat anak bisa bersikap sesuai kemauan, beberapa orang tua kerap memberikan ancaman. Padahal, di usia yang masih kanak-kanak itu, ancaman bisa berdampak mengecilkan potensinya. "Ini lebih bahaya, kita selalu memberi ancaman. Ayo makan habisin, kalau enggak datang hantu. Mau tidur enggak, kalau nggak tidur datang hantu. Itu niat kita supaya cepat tidur tapi akibatkan hal tidak bagus di perasaannya. Padahal anak dari usia 2-6 tahun dia mampu kuasai 7 bahasa, kalau diberi sisi psikis yang baik. Kenapa kita sia-siakan kesempatan ini yang luar biasa?" tegas Syekh Ali.

Melarang Larangan dengan maksud yang baik, sangat dianjurkan agar membuat anak mampu memahami hal-hal yang sesuai norma dan agama. Hanya saja, orang tua harus memberikan larangan disertai penjelasan agar nantinya anak lebih paham.

"Selalu larang anak berlaku sesuatu tanpa sebab. Artinya tanpa jelaskan kenapa. Dia minta sesuatu, tidak ada, tidak boleh," ungkap Syekh.

Hancurkan perasaan Senada dengan caci maki, namun menghancurkan perasaan dan kepercayaan dirinya ini disertai doa yang buruk. Padahal, doa buruk itu bisa saja akan menimpa anak dan orang tua akan menyesal seumur hidup. "Kita berdoa pada anak doa yang buruk saking kesal perasaan kita. Dia keluar dari rumah lalu kita doakan mudah-mudahan kamu celaka. Rasul melarang orang tua mendoakan hal buruk. Biarpun orangtua sakit hati, begitu mendoakan celaka, terjadi kecelakaan itu? pasti dia menyesal dan sedih. Kalau tidak bisa mendoakan baik, lebih baik diam," tegas Syekh Ali.

Referensi : 8 Dosa Orang Tua pada Anak (Syekh Ali Jaber)

















5 Hal yang Harus Orangtua Pahami jika Anaknya Sudah Menikah

5 Hal yang Harus Orangtua Pahami jika Anaknya Sudah Menikah. Cepat atau lambat, semua orangtua pasti merasakan fase di mana anaknya menikah. Hal iniadalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, dan untuk itu orangtua pun harus menerima dan memahami bahwa akan ada perubahan yang terjadi setelah anak menikah.

Bahwa orangtua tidak mempunyai hak penuh lagi terhadap hidup anak jika ia sudah berumah tangga. Untuk lebih jelasnya tentang apa-apa saja yang harus dipahami orangtua setelah anak menikah bisa simak pembahasan di bawah ini, ya.

1. Pengelolaan uangnya sudah tidak seperti saat belum menikah 

Saat anak menikah maka sebagai orangtua kamu harus memahami bahwa pengelolaan finansial atau keuangannya sudah tidak seperti saat belum menikah dulu. Jumlah pengeluarannya akan berubah, dan kamu tidak bisa menuntut ia untuk memberi uang pada orangtuanya dengan penuh seperti dulu.

Hal lainnya yang semestinya orangtua pahami ketika anak menikah ialah gak perlu ikut campur permasalahan rumah tangganya. Dalam hubungan pernikahan pasti ada masalah dan konflik,namun biarkanlah ia menyelesaikan masalahnya sendiri supaya ia belajar menjadi orang dewasa.

3. Membiarkannya belajar mandiri 

Kemudian orangtua juga harus membiarkan anaknya belajar mandiri. Memilih untuk menikah berarti sudah berani menanggung beban sendiri, jadi jangan membiarkannya untuk terus bergantung. Bukannya jahat atau tega, namun ini juga tugas orangtua untuk mendidik anaknya agar bertanggung jawab atas kehidupan pernikahannya.

4. Gak boleh mengatur dan hanya bisa memberi nasihat 

Orangtua juga gak diperbolehkan lagi untuk mengatur hidup anak ketika ia sudah menikah, dan hanya boleh sebatas memberinya nasihat atau saran-saran saja. Sebenarnya ini lebih kepada tindakan yang tidak pantas jika masih tetap mengatur anak. Karena kalau sudah menikah anak sudah bukan tanggung jawab orangtua lagi,kan.

5. Menghargai caranya mengelola keluarga sendiri 

Hal terakhir yang patut orangtua pahami ialah untuk menghargai cara anak mengelola rumah tangga dan keluarganya sendiri. Contohnya seperti bagaimana ia menjadi kepala keluarga, menata tempat tinggal, caranya mendidik anak-anak dan afeksi sayangnya terhadap pasangan. Orangtua tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam hal ini.

Ketika anak memutuskan menikah tentu ada hal-hal tertentu yang berubah, dan orangtua sebaiknya memahami lima hal di atas setelah anaknya menikah.

Referensi sbb ini : 5 Hal yang Harus Orangtua Pahami jika Anaknya Sudah Menikah 















Bakti Anak Perempuan yang sudah Menikah

Bakti Anak Perempuan yang sudah Menikah.  Sebagai anak perempuan yang sudah menikah, mungkin ada beberapa yang bertanya-tanya bagaimanakah cara agar kita tetap bisa berbakti kepada orang tua kita, namun tentunya kita ingin melakukan hal tersebut tanpa harus menjadi istri yang durhaka pada suami. Berikut ini ada beberapa cara agar kita sebagai anak perempuan tetap bisa berbakti kepada orang tua meski sudah menikah:

1. Tetap menjalin silaturahmi dengan orang tua

Silaturahmi yang harus didahulukan adalah silaturahmi terhadap orang tua. Walaupun sudah menikah, tidak berarti bahwa hubungan orang tua dan anak harus diputus begitu saja. Allah tidak menyukai orang yang memutus tali silaturahmi, apalagi anak terhadap orang tuanya. Jika demikian, anak perempuan yang memutus tali silaturahmi akan menjadi anak durhaka terhadap orang tuanya.

2. Merawat orang tua

Baiknya, yang mendapatkan tanggung jawab dan kewajiban untuk merawat orang tua adalah anak laki-laki. Sesuai dengan ajaran Islam bahwa kewajiban laki-laki setelah menikah adalah kepada orang tuanya lebih dulu, baru kemudian kepada istri dan anaknya.

Namun kondisi ini seringkali sulit dicapai karena satu dan lain hal. Seringkali hanya ada anak perempuan dalam sebuah keluarga, atau hanya anak perempuannya yang bisa merawat orang tuanya. Dalam kondisi seperti ini, kewajiban tersebut akan jatuh kepada anak perempuan dengan seizin suaminya.

3. Menafkahi orang tua

Kewajiban anak terhadap orang tua setelah menikah antara lain untuk membantu menafkahi orang tua. Jika perempuan tidak memiliki penghasilan sendiri, tentu ia dapat memberi nafkah kepada orang tuanya jika direstui suaminya. Bagi perempuan yang memiliki penghasilan sendiri, uangnya adalah miliknya sendiri sehingga ia bebas menggunakannya untuk membantu nafkah orang tua. Namun alangkah baiknya jika meminta izin suami terlebih dulu untuk melakukan hal tersebut, sebab bagaimanapun suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.

4. Berbuat baik kepada orang tua

Menikah bukanlah alasan untuk memperlakukan orang tua dengan buruk. Berbuat baik tidak hanya menjadi kewajiban orang tua terhadap anak saja, melainkan juga merupakan kewajiban yang harus dipenuhi anak terhadap orang tua. Berbuat baik terhadap orang tua dan keutamaan berbakti kepada orang tua disebutkan dalam hadits berikut:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapakmu. Jika salah seorang atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. “ (QS. Al Israa: 23)

5. Merendahkan diri di hadapan orang tua

Salah satu kewajiban wanita yang sudah menikah terhadap orang tua adalah merendahkan diri di hadapan orang tuanya. Merendahkan diri adalah cara menghormati orang tua. Misalnya dengan menundukkan pandangan saat diberi nasihat, tidak membantah dan tidak merasa diri lebih tahu dari orang tua, memanggil orang tua dengan hormat, berjalan tidak mendahului orang tua. Mengalah walaupun belum tentu memiliki kesalahan juga salah satu bentuk merendahkan diri di hadapan orang tua, sebagaimana disebutkan untuk merendahkan diri dalam ayat berikut ini:

“Rendahkanlah dirimu terhadap kedua orang tuamu dengan kasih sayang dan katakanlah: ‘ Ya Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mengasihiku sewaktu aku kecil’.” (QS. Al Israa: 24)

6. Berkata baik kepada orang tua

Misalnya berbicara kepada orang tua perkataan yang baik, yang dapat menyejukkan hatinya. Usahakan untuk tidak membentak dan berkata kasar, apalagi membantah perkataan orang tua yang ditujukan untuk menasihati anak. Bila ada ucapan yang keliru dari orang tua, perbaikilah dengan lemah lembut dan bahasa yang baik.

7. Membahagiakan orang tua

Kewajiban anak perempuan kepada orang tua yang sudah menikah antara lain adalah untuk mencari cara membahagiakan orang tua dengan benar. Jauhkan segala hal yang bisa menyusahkan hati orang tua dan dekatkanlah berita gembira serta kabar baik kepada mereka. Bila terpaksa menyampaikan kabar buruk, sampaikanlah dengan perlahan dan teratur, serta dengan cara bersikap tenang.

8. Memenuhi kebutuhan orang tua

Kita tidak akan bisa tahu cara menjadi orang tua yang baik apabila tidak bisa memenuhi kewajiban kepada orang tua sendiri. Bila memungkinkan, memenuhi berbagai kebutuhan orang tua dapat dilakukan oleh anak perempuan yang telah menikah sekalipun. Contohnya ketika orang tua perlu ke dokter, perlu membeli obat, perlu diantar ke suatu tempat, bahkan juga bila hanya sekedar memerlukan teman mengobrol.

9. Meminta izin dan restu orang tua

Bagi wanita yang sudah menikah, mungkin izin orang tua bukanlah hal yang utama lagi karena lebih utama untuk meminta izin kepada suami. Namun restu dan doa orang tua adalah segalanya, bila tidak mempertimbangkan perasaan orang tua maka anak dapat menjadi durhaka.

Selain itu, meminta restu orang tua dapat membuat mereka senang bahwa sang anak masih membutuhkan saran dan pendapat mereka, dan tidak mengabaikan orang tua begitu saja dalam membuat keputusan besar.

Keutamaan berbakti kepada orang tua dapat diperoleh semua anak, baik itu anak lakI-laki atau perempuan. Kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah tetap bisa dijalankan dengan izin dan restu suami, karena itulah diperlukan kebijaksanaan bagi para suami untuk berlapang dada dan mengerti pentingnya bagi para istri untuk mencari surga dengan juga berbakti kepada orang tuanya selama hal itu memungkinkan tidak merugikan keluarganya sendiri.

Referensi : Bakti Anak Perempuan yang sudah Menikah














10 Kewajiban Orang Tua kepada Anak yang Sudah Menikah

10 Kewajiban Orang Tua kepada Anak yang Sudah Menikah. kewajiban, orang tua kepada anak yang sudah menikah ada banyak, para orang tua pastinya akan senang saat anaknya sudah menemukan sosok pasangan yang tepat dalam membangun bahtera rumah tangga, namun tentunya bukan berarti kita lepas tangan begitu saja.

Ada beberapa kewajiban orang tua terhadap anak yang sudah menikah yang perlu kita tahu. Apa sajakah itu? Berikut penjelasannya. Berikut 10 kewajiban orangtua kepada anak yang sudah menikah:

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Tetap Menyayangi Anaknya

Sama halnya dengan memastikan kesehatan anaknya, menyayangi anak juga tetap harus dilakukan hingga kapanpun. Karena kasih sayang orang tua sangat berarti bagi seorang anak. Dan seorang anak akan terus memerlukannya. (baca: Keutamaan Berbakti Kepada Orang tua)

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Menyayangi Anak dari Anaknya

Keinginan terbesar bagi seseorang yang telah menikah adalah memiliki anak. Ketika anak tersebut telah lahir di dunia, maka wajib bagi orang tuanya untuk menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Hal tersebut juga berlaku bagi orang tua dari pasangan yang telah memiliki anak tersebut. Menyayangi anak dari anaknya menjadi suatu kewajiban karena anak tersebut merupakan keterunannya yang tetap membutuhkan kasih sayang, terutama dari orang tua dan orang tua dari orang tuanya (kakek/nenek).

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Menyayangi Istri/Suami dari Anaknya

Kasih sayang memang sangat diperlukan bagi siapapun. Akan tetapi, memberikan kasih sayang dapat menjadi wajib hukumnya, seperti kepada anak, orang tua, suami/istri, dan keluarga.

Seseorang yang telah menikah otomatis anggota keluarganya akan bertambah. Istri/suami dari anaknya juga akan menjadi anaknya sendiri. Oleh karena itu, orang tua memiliki kewajiban untuk menyayangi istri/suami dari anaknya.

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Tetap Mejalin Silaturahmi

Sebagai orang tua yang baik, menjalin silaturahmi harus tetap dilakukan meskipun anaknya telah menikah. Pernikahan yang membuat seorang anak dan orang tuanya berpisah secara tempat tinggal, tidaklah menjadi penghalang atau memutuskan silatuhrami kepada anak.

Akan tetapi, harusnya silaturahmi tersebut semakin erat. Selain itu, dengan silaturahmi juga dapat mempermudah jalannya rejeki dan diperpanjang umurnya.

Dari Abu Hurairah Ra., Rasullah ﷺ. bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambungkan silaturahmi.” (HR. Bukhari)

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Mengingatkan Kepada Kebaikan dan Tetap pada Jalan Allah

Pernikahan biasanya identik dengan kemandirian dan kemampuan seseorang untuk bertanggungjawab terhadap segala hal. Dapat mengetahui mana yang baik dan buruk bagi dirinya dan orang disekitarnya. Akan tetapi, peran orang tua untuk membimbing anaknya juga masih dibutuhkan ketika anaknya telah menikah.

Seorang anak yang telah menikah juga tetap perlu diingatkan kepada kebaikan oleh orang tuanya. Karena hal ini tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang sering melakukan kesalahan. Hal ini ditegaskan dalam hasits.

Nabi Muhammad ﷺ. bersabda:

“Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah).

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Menghormati Keputusan Baik Anaknya

Setiap keputusan yang dibuat seorang anak hendaknya dihormati dan didukung, asalkan masih dalam koridor kebaikan. Misal, ketika sudah menikah seorang anak akan memilih atau memutuskan untuk pisah tempat tinggal dengan orang tuanya.

Maka, orang tua wajib menghormati keputusan itu, dan membiarkan bahkan mendukung untuk keputusan tersebut.

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Memberikan Bantuan Ketika Dibutuhkan

Meskipun seorang anak telah menikah, terkadang ia tetap memerlukan bantuan dari orang tuanya. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain untuk hidup.

Ketika dibutuhkan, orang tua wajib membantu anaknya dalam berbagai hal yang mampu orang tua berikan.

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Sebagai Sarana Tukar Pikiran

Ketika ada satu atau berbagai hal di mana sang anak membutuhkan masukan untuk masalahnya, ia dapat menjadikan orang tua sebagai sarana tukar pikiran setelah istrinya/suaminya.

Dalam hal ini, kewajiban orang tua hanya memberikan masukkan kepada permasalahan yang tengah dihadapi sang anak, bukan memberikan keputusan. Adapun keputusan dikembalikan lagi pada sang anak.

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Bersikap Adil

Bersikap adil bukanlah membagi sama rata terhadap sesuatu, melainkan membagi sesuatu sesuai pada porsinya. Artinya, perlakuan adil orang tua terhadap anak yang belum menikah dan telah menikah tentu berbeda.

Karena kebutuhan perlakuan orang tua terhadap anak yang belum menikah dan telah menikah juga berbeda. Maka, orang tua harus mengerti bagaimana bersikap adil kepada anak-anak mereka.

Kewajiban orang tua kepada anak yang sudah menikah: Mendoakan Kebaikan untuk Anaknya

Kewajiban terakhir orang tua kepada anaknya yang sudah menikah adalah mendoakan kebaikan untuknya. Sebenarnya dalam kasus ini, orang tua tetap memiliki kewajiban untuk mendoakan kebaikan kepada anaknya hingga ajal menjemput mereka. Karena baik tidaknya kehidupan seorang anak juga tergantung pada doa orang tua

Referensi : 10 Kewajiban Orang Tua kepada Anak yang Sudah Menikah
















Orang Tua Boleh Lakukan Ini Jika Anak Sudah Menikah (Ustadz Khalid Basalamah)

Orang Tua Boleh Lakukan Ini Jika Anak Sudah Menikah (Ustadz Khalid Basalamah). Semua orang tua tentunya menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Namun, kelak nantinya anak juga akan menikah.Ketika anak sudah menikah, maka ada batasan-batasan tertentu bagi orang tua. Ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang tua ketika anak sudah memulai hidup rumah tangga. Ustadz Khalid Basalamah menerangkan, jika anak sudah menikah, maka jangan ikut campur dengan rumah tangga anak.

Dalam Islam juga tidak boleh ada campur tangan orang tua ketika anak sudah menikah. “Apalagi, 80 persen perceraian terjadi karena adanya campur tangan orang tua,” ujar Ustadz Khalid Basalamah. Biarkan anak hidup menjalani suka dukanya kehidupan rumah tangga. Kalau kehidupan rumah tangganya bahagia, maka biarkan bahagia. Kemudian, sebagai orang tua kepada anak yang sudah menikah juga tidak boleh memaksakan kehendak.

“Apalagi, kalau orang tua berkunjung ke rumah anak yang sudah menikah, maka kita tidak boleh menanggapi apapun,” kata Ustadz Khalid Basalamah. Misalnya, ketika disuguhkan dengan gelas yang retak, maka orang tua tidak boleh protes. Intinya, orang tua tidak boleh mengomentari atau marah-marah terhadap keadaan rumah anak yang sudah menikah tersebut. “Bahkan, ketika menantunya laki-laki lalu tinggal di rumah mertuanya. Maka, laki-laki tersebut mempunyai hak untuk membawa istrinya keluar dari rumah tersebut,” tutur Ustadz Khalid Basalamah. Jadi, ketika menantu laki-laki tersebut memutuskan untuk keluar dari rumah mertuanya. Maka, mertuanya tidak boleh memaksa untuk terus tetap tinggal di rumah mertuanya.

Tentunya, memutuskan untuk keluar rumah dari mertuanya tersebut juga bukan tindakan yang buruk. Terutama, jika anaknya ingin hidup mandiri setelah menikah. Namun, ternyata ada satu hal yang boleh dilakukan oleh orang tua kepada anaknya yang sudah menikah. Khususnya, ketika sang anak meminta usulan atau pendapat orang tuanya terhadap kisah rumah tangganya. “Jadi, kalau ada masalah, terus anak konsultasi ke orang tua, maka pecahkan masalah tersebut bersama-sama,” kata Ustadz Khalid Basalamah. Namun, jika anak tersebut tidak meminta pendapat atau usulan apapun, maka orang tua tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga sang anak.

Referensi : Orang Tua Boleh Lakukan Ini Jika Anak Sudah Menikah (Ustadz Khalid Basalamah)

















Pentingnya Memenuhi Kewajiban Terhadap Anak

Pentingnya Memenuhi Kewajiban Terhadap Anak. Berikut beberapa alasan mengapa penting menjalankan kewajiban orang tua terhadap anak yang sudah menikah, antara lain :

1. Mendapat Pahala yang Tetap Mengalir Meski Telah Meninggal Dunia

Begitu banyak kewajiban orang tua terhadap anak yang harus dipenuhi. Hal tersebut semata untuk menjadikan seorang anak yang berbakti kepada orang tua dan Allah SWT. Karena salah satu amal yang pahalanya akan tetap mengalir meski telah mininggal dunia adalah doa seorang anak yang soleh dan solehah. Rasullah Saw. bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim)

2. Diangkat Derajatnya di sisi Allah SWT

Orang tua yang berhasil memenuhi kewajiban terhadap anaknya tentu akan menciptakan seorang anak yang dapat dibanggakan. Maksud dari dibanggakan disini adalah anak yang patuh kepada kedua orang tua, anak yang pintar dan cerdas, dan sukses di dunia dan akhirat. Dengan begitu, derajat orang tua dapat terangkat oleh anaknya.

Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw. juga menerangkan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab,” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori).

3. Ditambah Umurnya

Dari Abu Darda, Rasulullah Saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak akan menangguhkan umur seseorang apabila ia telah sampai ajalnya. Penambahan umur itu hanyalah apabila menganugerahkan keturunan yang shalih kepada seorang hamba. Orang tuanya didoakan maka sampailah doanya ke alam kuburnya.” (HR.Hakim).

4. Meringankan Beban Orang Tua

Lebih dari itu, hidup orang tua juga akan menjadi lebih tenang dan bahagia serta segala kebutuhan orang tua kelak akan terpenuhi dengan baik oleh anaknya. Anak yang berbakti kepada orang tua tidak akan segan mengurus segala kebutuhan orang tuanya kelak. Apakah keadaan orang tua sedang sakit ataupun sehat wal afiat.

5. Anak Soleh Akan Menjaga Nama Baik Keluarga

Anak yang soleh tentu akan menjaga nama baik kelurga dan orang tuanya. Adapun masalah yang akan mengahampiri keluarga dan orang tuanya kelak, ia akan mencari jalan keluar dari masalah tersebut dan menjaga serta merahasiakan aib keluarganya dari orang lain.

6. Menasihati dan Membimbing Keluarga dan Orang Tua

Anak yang soleh dan solehah akan selalu menjaga dan menasihati keluarga dan orang tuanya agar tetap berada di jalan Allah.

Allah SWT. berfirman:

”Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”. (QS. At Tahrim: 6)

Orang tua merupakan sosok yang sangat berarti bagi seorang anak. Tanpa orang tua, seorang anak tidak akan mampu menjalani hidup di dunia ini. Seperti yang telah kita ketahui, orang tua memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi untuk anaknya. Akan tetapi, sebaiknya seorang anak juga tidak terlalu menuntut orang tua untuk menjalani kewajibannya. Perhatikan juga kemampuan orang tua dalam menjalani kewajibannya dan berlakulah sebaik mungkin kepada orang tua agar mendapat hidup yang berkah dan diridhai oleh Allah SWT. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi : Pentingnya Memenuhi Kewajiban Terhadap Anak