This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 01 Agustus 2022

Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak yang Sudah Menikah

Peran orang tua sangat menentukan karakteristik seorang anak. Apakah anak tersebut akan menjadi baik atau sebaliknya, akan menjalankan perintah Allah atau malah menjalankan larangan-Nya. Rasullah Saw. bersabda: “Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Terbentuknya karakteristik seorang anak juga tidak lepas dari kewajiban orang tua untuk mendidik dan memenuhi segala kebutuhannya. Adapun garis besar kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan nama yang baik.
  2. Melakukan akikah untuk anaknya.
  3. Menyusui anaknya.
  4. Memberikan kasih sayang.
  5. Mengkitankan anaknya.
  6. Memberikan makanan yang halal dan baik.
  7. Memberikan tempat tinggal yang layak.
  8. Memberi pendidikan agama dan formal.
  9. Menikahkan anaknya.

Kewajiban orang tua tidak serta merta putus ketika anaknya sudah menikah. Masih ada beberapa kewajiban yang seharusnya dijalankan setelah anaknya menikah, meski tidak seberat kewajibannya pada anak yang belum menikah. Adapun kewajiban orang tua terhadap anak yang sudah menikah adalah sebagai berkut:

1. Memastikan Kesehatan Anaknya.

Sebagai orang tua, memastikan kesehatan anaknya sudah tentu menjadi tanggungjawab dan kewajiban yang harus dilaksanakan. Meski telah menikah dan telah memiliki pendamping hidup, orang tua tetap wajib memastikan hal ini.

2. Tetap Menyayangi Anaknya

Sama halnya dengan memastikan kesehatan anaknya, menyayangi anak juga tetap harus dilakukan hingga kapanpun. Karena kasih sayang orang tua sangat berarti bagi seorang anak. Dan seorang anak akan terus memerlukannya.

3. Menyayangi Anak dari Anaknya

Keinginan terbesar bagi seseorang yang telah menikah adalah memiliki anak. Ketika anak tersebut telah lahir di dunia, maka wajib bagi orang tuanya untuk menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hal tersebut juga berlaku bagi orang tua dari pasangan yang telah memiliki anak tersebut. Menyayangi anak dari anaknya menjadi suatu kewajiban karena anak tersebut merupakan keterunannya yang tetap membutuhkan kasih sayang, terutama dari orang tua dan orang tua dari orang tuanya (kakek/nenek).

4. Menyayangi Istri/Suami dari Anaknya

Kasih sayang memang sangat diperlukan bagi siapapun. Akan tetapi, memberikan kasih sayang dapat menjadi wajib hukumnya, seperti kepada anak, orang tua, suami/istri, dan keluarga. Seseorang yang telah menikah otomatis anggota keluarganya akan bertambah. Istri/suami dari anaknya juga akan menjadi anaknya sendiri. Oleh karena itu, orang tua memiliki kewajiban untuk menyayangi istri/suami dari anaknya.

5. Tetap Mejalin Silaturahmi

Sebagai orang tua yang baik, menjalin silaturahmi harus tetap dilakukan meskipun anaknya telah menikah. Pernikahan yang membuat seorang anak dan orang tuanya berpisah secara tempat tinggal, tidaklah menjadi penghalang atau memutuskan silatuhrami kepada anak. Akan tetapi, harusnya silaturahmi tersebut semakin erat. Selain itu, dengan silaturahmi juga dapat mempermudah jalannya rejeki dan diperpanjang umurnya.

Dari Abu Hurairah Ra., Rasullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambungkan silaturahmi.” (HR. Bukhari)

6. Mengingatkan Kepada Kebaikan dan Tetap pada Jalan Allah

Pernikahan biasanya identik dengan kemandirian dan kemampuan seseorang untuk bertanggungjawab terhadap segala hal. Dapat mengetahui mana yang baik dan buruk bagi dirinya dan orang disekitarnya. Akan tetapi, peran orang tua untuk membimbing anaknya juga masih dibutuhkan ketika anaknya telah menikah. Seorang anak yang telah menikah juga tetap perlu diingatkan kepada kebaikan oleh orang tuanya. Karena hal ini tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang sering melakukan kesalahan. Hal ini ditegaskan dalam hasits.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

“Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah).

7. Menghormati Keputusan Baik Anaknya

Setiap keputusan yang dibuat seorang anak hendaknya dihormati dan didukung, asalkan masih dalam koridor kebaikan. Misal, ketika sudah menikah seorang anak akan memilih atau memutuskan untuk pisah tempat tinggal dengan orang tuanya. Maka, orang tua wajib menghormati keputusan itu, dan membiarkan bahkan mendukung untuk keputusan tersebut.

8. Mendukung Anak di Jalan Allah

Setiap dukungan orang tua tentu sangatlah berarti bagi seorang anak. Dukungan yang diberikan akan memberikan semangat yang kuat terhadap langkah yang akan dijalaninya. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik hendaklah mendukung setiap langkah anaknya. Dukungan tersebut wajib diberikan hingga kapanpun dan apabila langkah-langkah sang anak dalam lingkup kebaikan.

9. Memberikan Pelajaran Hidup Berumah Tangga

Bagi pasangan yang baru menikah, pengetahuan tentang hidup berumah tangga tentu banyak yang belum diketahui. Agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik, maka diperlukan pengetahuan-pengetahuan khusus mengenai hal tersebut. Di sini menjadi peran penting bagi orang tua untuk memberikan pengetahuan tentang hidup berumah tangga. Orang tua wajib memberikan pembelajaran atau pengetahuan bagi anaknya yang baru menikah. Karena orang tua telah lebih dahulu menjalani kehidupan berumah tangga, maka ia akan lebih banyak mengetahui bagaimana seharusnya menjalani hidup berumah tangga. Apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dihindari dalam hidup berumah tangga.

10. Memberikan Bantuan Ketika Dibutuhkan

Meskipun seorang anak telah menikah, terkadang ia tetap memerlukan bantuan dari orang tuanya. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain untuk hidup. Ketika dibutuhkan, orang tua wajib membantu anaknya dalam berbagai hal yang mampu orang tua berikan.

11. Sebagai Sarana Tukar Pikiran

Ketika ada satu atau berbagai hal di mana sang anak membutuhkan masukan untuk masalahnya, ia dapat menjadikan orang tua sebagai sarana tukar pikiran setelah istrinya/suaminya. Dalam hal ini, kewajiban orang tua hanya memberikan masukkan kepada permasalahan yang tengah dihadapi sang anak, bukan memberikan keputusan. Adapun keputusan dikembalikan lagi pada sang anak.

12. Melindungi Anaknya

Meski anaknya telah menikah, orang tua tetap memiliki kewajiban untuk melindungi anaknya. Melindungi di sini lebih kepada aib atau sesuatu yang mungkin kurang baik untuk diketahui orang lain bukan kepada perlindungan fisik.

13. Bersikap Adil

Bersikap adil bukanlah membagi sama rata terhadap sesuatu, melainkan membagi sesuatu sesuai pada porsinya. Artinya, perlakuan adil orang tua terhadap anak yang belum menikah dan telah menikah tentu berbeda. Karena kebutuhan perlakuan orang tua terhadap anak yang belum menikah dan telah menikah juga berbeda. Maka, orang tua harus mengerti bagaimana bersikap adil kepada anak-anak mereka.

14. Senantiasa Meridhai Anaknya

Ridha orang tua sangat besar pengaruhnya bagi seorang anak dalam kehidupannya. Karena ridha orang tua juga merupakan ridha Allah. Apabila Allah telah meridhai, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah.

Dari Abdullah bin ’Amru Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

15. Mendoakan Kebaikan untuk Anaknya

Kewajiban terakhir orang tua kepada anaknya yang sudah menikah adalah mendoakan kebaikan untuknya. Sebenarnya dalam kasus ini, orang tua tetap memiliki kewajiban untuk mendoakan kebaikan kepada anaknya hingga ajal menjemput mereka. Karena baik tidaknya kehidupan seorang anak juga tergantung pada doa orang tua.

Referensi : Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak yang Sudah Menikah










Mementingkan Istri Ternyata Termasuk Durhaka Kepada Orangtua

Mementingkan Istri Ternyata Termasuk Durhaka Kepada Orangtua. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan azabnya di dunia yaitu berbuat zalim dan al’uquq (durhaka kepada orang tua). Artinya jangan sekali-kali menyakiti kedua orangtua yang telah melahirkan kita.

Sementara yang terjadi selama ini, anak-anak begitu mudah memperlakukan orantua seenaknya. Padahal konsekuensi tidak menghormati orangtua, siksanya tidak menunggu di akhirat, anak yang durhaka langsung kena azab. Rasulullah bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah SWT tidak akan melihat mereka pada hari kiamat." "Mereka adalah anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya."

Lagi-lagi ditegaskan bahayanya durhaka kepada orangtua, dimana Allah SWT tidak menghendaki anak durhaka berada di surga. Sebelum telanjur, ada baiknya menghindari 10 perbuatan ini agar tidak dicap sebagai anak durhaka.

  1. Menimbulkan gangguan terhadap orangtua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
  2. Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orangtua.
  3. Membentak atau menghardik orang tua.
  4. Bakhil, tidak mengurusi orangtuanya bahkan lebih mementingkan yang lain.
  5. Bermuka masam dan cemberut di hadapan orangtua dan merendahkan orangtua.
  6. Menyuruh orangtua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan.(Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orangtua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah).
  7. Menyebut kejelekan orangtua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orangtua.
  8. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.
  9. Mendahulukan taat kepada istri dari pada orangtua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya.
  10. Malu mengakui orangtuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orangtua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat.

Referensi : Mementingkan Istri Ternyata Termasuk Durhaka Kepada Orangtua










Kisah Ayah Durhaka kepada Anak di Zaman Umar Bin Khatab

Kisah Ayah Durhaka kepada Anak di Zaman Umar Bin Khatab. Tak sedikit orang tua yang menuntut putra-putrinya berbakti kepada orang tua. Tetapi dia sendiri tak paham bahwa ada pula sebutan ayah yang durhaka kepada anaknya. Jika anak durhaka nasib hidupnya sia-sia, begitupun orang tua yang durhaka kepada anaknya. Diriwayatkan pada masa Umar bin Khattab ada seorang ayah yang menyeret putranya untuk dihadapkan kepada Amirul Mukminin. Di depan Umar, orang tua itu mengadukan kelakuan putranya yang tak mau menghormati dan durhaka padanya. "Mohon nasehati dia, wahai Amirul mukminin!" kata orang tua itu.

Umar lalu menasehati anak lelaki itu. "Apa kamu tak takut kepada Tuhan-mu sebab ridha-Nya tergantung ridha orang tuamu." Tak disangka-sangka anak itu berbalik tanya: "Wahai Khalifah! Apa di samping terdapat perintah anak berbakti kepada orang tua, terdapat juga ajaran orang tua bertanggung jawab kepada anaknya?". Umar bin Khattab menjawab: "Ya, benar ada! Seharusnya seorang ayah menyenangkan dan mencukupi nafkah istri sekaligus ibu dari putra-putrinya, memberikan nama yang baik kepada putra-putrinya, serta mengajari putra-putrinya Al-Quran dan ajaran agama lainnya."

Mendengar penjelasan Amirul Mukminin, anak laki-laki itu membalas: "Jika demikian, bagaimana aku berbakti kepada ayahku? Demi Allah, ayahku tak sayang kepada ibuku yang diperlakukan tak ubahnya seorang hamba sahaya. Sekali-kalinya dia mengeluarkan uang untuk ibuku, sebanyak 400 dirham untuk menebus ibuku. Dia juga tak menamaiku dengan nama yang baik: Aku dinamai ayahku dengan nama "Juala" (Jadian). Dia juga tak mengajariku mengaji, satu ayat pun!" Seketika itu Umar bin Khattab berpaling, matanya memandang tajam ke arah orang tua anak itu, sambil berkata: "Kalau begitu bukan anakmu yang durhaka, tetapi kamulah orang tua durhaka!"

Jadi, ayah yang durhaka tanda-tandanya adalah: 

  1. tidak menyayangi secara lahir-batin istri yang menjadi sumber belajar pertama kali anak kandungnya. 
  2. berkata kasar dan tidak memanggil putra-putrinya dengan sebutan yang baik. 
  3. tidak mendidik putra-putrinya dengan pendidikan yang baik dan bermanfaat untuk masa depan mereka.

Ibnu al-Qayyim al-Jauzi dalam kitab "Tuhfat al-Maudud" juga pernah berkata: "Barangsiapa menyia-nyiakan pendidikan yang berguna untuk masa depan anaknya dan putra-putrinya dibiarkan begitu saja, maka sungguh dia menjadi orang tua yang paling merugi. Kebanyakan anak menjadi rusak moralitasnya disebabkan faktor orang tua yang menyia-nyiakan pendidikan anaknya. Akibatnya anak itu tak berkembang akal pikirannya dan tak mendatangkan manfaat di masa depannya untuk kedua orangtuanya."Oleh sebab itu, sebagai orang tua, terutama ayah, sepatutnya mencurahkan pikiran, tenaga, dan finansialnya untuk masa depan serta pendidikan buah hatinya. Berapa banyak yang dicurahkan orang tua untuk putra-putrinya semua adalah bernilai sedekah dan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Referensi : Kisah Ayah Durhaka kepada Anak di Zaman Umar Bin Khatab












Hukum Orang Tua Durhaka kepada Anak

Sudah banyak kajian dan kisah mengenai kedurhakaan anak kepada orang tua, tetapi belum banyak yang membahas hal sebaliknya, yaitu kedurhakaan orang tua kepada anak. 

Kata durhaka dalam bahasa Arab diistilahkan dengan ‘uquq (عُقُوق), sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ

Sungguh Allah mengharamkan kalian mendurhakai ibu (HR. Bukhari no. 2408).

Seorang pakar bahasa Arab, Ibnu Manzhur menerangkan bahwa ‘uquq adalah lawan kata dari berbakti atau berbuat baik. ‘Uquq tidak hanya bermakna durhaka kepada orang tua, tetapi juga bermakna durhaka kepada selainnya.

Kewajiban orang tua kepada anak

Setiap orang tua memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga, termasuk membesarkan anak. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang perempuan di dalam rumah suaminya adalah pemimpin, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya tersebut (HR. Bukhari no. 2409).

Rasulullah ﷺ mengingatkan Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra. akan kewajibannya sebagai orang tua. Beliau ﷺ bersabda:

وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Sungguh anakmu punya hak yang harus kamu penuhi (HR. Muslim no. 1159).

Ulama mazhab Hanafi Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki bersama anaknya datang menemui Sayyidina Umar bin Khattab ra. Ia berkata, “Anakku ini mendurhakaiku.” 

Sayyidina Umar pun menasehati sang anak agar takut kepada Allah dan menjelaskan kewajiban-kewajiban anak kepada orang tuanya. Anak tersebut bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah ada kewajiban ayah kepada anaknya?”

Beliau menjawab, “Ada. Kewajibannya adalah memperbagus ibunya (maksudnya adalah menikahi perempuan yang baik agar dapat mendidik anak dengan baik), memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al-Qur’an.”

Sang anak berkata, “Demi Allah, ia tidak memperbagus ibuku, karena ibuku adalah seorang hamba sahaya yang ia beli seharga 400 dirham. Ia tidak memberikanku nama yang baik karena menamaiku Ja’l (kelelawar jantan), dan tidak mengajarkanku satu ayat pun dari Al-Qur’an.”

Lalu Sayyidina Umar menoleh kepada ayah dari anak tersebut dan berkata. “Kamu bilang bahwa anakmu mendurhakaimu. Sebenarnya kamu telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu.”

Macam-macam bentuk kedurhakaan orang tua

1. Tidak memberi nafkah dan menelantarkan anak

Abu Hurairah ra. meriwayatkan ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata bahwa ia memiliki dinar. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya memberikan bagian (nafkah) untuk diri sendiri.

Laki-laki tadi berkata bahwa ia masih memiliki kelebihan dinar, lantas Rasulullah ﷺ bersabda:

تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ

Berikan untuk anakmu (HR. Abu Dawud no. 1691; hadis shahih menurut Ibnu Hibban).

Ulama mazhab Syafii Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi mewajibkan seorang ayah menafkahi anak berdasarkan hadis tersebut.

Mufti Mesir Syekh Syauqi Ibrahim Allam menegaskan dalam fatwanya bahwa seorang ayah wajib memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Jika ia kabur dan meninggalkan kewajiban tersebut, maka dia berdosa. 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Sebaik-baik sedekah adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Bukhari no. 1426).

2. Mengabaikan pendidikan anak

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Ahli tafsir Imam Thabari meriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk mengajarkan akhlak dan ilmu kepada keluarga (anak dan istri).

Ulama mazhab Syafii Imam Al-Munawi mengatakan bahwa orang tua harus mendidik anak-anaknya tentang akhlak, mengajari Al-Qur’an, dan hukum-hukum syariat yang harus diketahui dan dijalankan sehari-hari.

Di antara bentuk pendidikan syariat paling awal adalah shalat. Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya (QS. Thaha [20]: 132).

Kewajiban memberikan pendidikan shalat secara khusus dimulai sejak anak berusia 7 tahun. Rasulullah ﷺ bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ 

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun (HR. Abu Dawud no. 495; hadis hasan menurut Imam Nawawi).

3. Melakukan kekerasan

Orang tua tidak boleh melakukan kekerasan kepada anak, baik secara verbal seperti caci maki maupun fisik seperti memukul. Dalam hadis memang disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menyuruh untuk memukul anak yang tidak mau shalat pada usia 10 tahun (lihat HR. Abu Dawud no. 495). Namun, maksud dari memukul dalam hadis ini dalam kerangka pendidikan, bukan untuk menyakiti atau menyiksa.

Ulama mazhab Syafii Imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa pukulan ini adalah pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Jika anak telah akil baligh atau dewasa, maka orang tua tidak wajib memukul apabila ia meninggalkan shalat, puasa, dan kewajiban lainnya. 

Mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali, dan Imam Ibnu Suraij dari mazhab Syafii berpendapat bahwa pukulan tersebut tidak boleh melebihi tiga kali. Sedangkan Syekh Ibnu Qasim Al-‘Abbadi dari mazhab Syafii mengatakan bahwa pukulan ini hanya boleh dilakukan sebagai pembelajaran jika anak telah diperintahkan melakukan shalat, tetapi ia enggan melaksanakannya, bukan semata-mata memukul tanpa adanya perintah dan teguran terlebih dahulu. 

Ulama fikih modern Syekh Wahbah Az-Zuhaili menambahkan bahwa pukulan ini harus dilakukan menggunakan tangan, bukan dengan kayu atau perkakas lainnya. Pukulan juga tidak boleh diarahkan ke wajah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَجَنَّبِ الْوَجْهَ، وَلَا يَقُلْ قَبَّحَ اللهُ وَجْهَكَ

Jika salah satu dari kalian memukul, maka hindarilah wajah dan janganlah berkata, “Semoga Allah memperburuk wajahmu!” (HR. Ahmad no. 7420; hadis shahih menurut Az-Zurqani).

Pukulan yang dilakukan di luar ketentuan di atas adalah tindakan yang melampaui batas sehingga dinilai sebagai kekerasan dan aniaya.

4. Berlaku tidak adil

An-Nu’man bin Basyir ra. menceritakan bahwa suatu hari ayahnya memberinya hadiah. Namun, ibunya menolak pemberian itu sebelum suaminya memberitahu hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Maka ayahnya pergi menghadap Rasulullah ﷺ, dan beliau ﷺ bertanya kepadanya apakah semua anak diberikan hadiah yang sama. Jawabannya tidak. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda:

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

Bertakwalah kamu kepada Allah, dan berlaku adillah di antara anak-anakmu (HR. Bukhari no. 2587).

Orang tua tidak boleh bersikap pilih kasih kepada salah satu atau sebagian anak-anak mereka, karena sikap ini akan memicu kebencian, rasa iri, dan merusak keakraban. 

Adapun orang tua boleh lebih mencintai salah satu anak dibanding yang lainnya, tanpa mengurangi perlakuan yang adil di antara mereka. Sebagaimana Nabi Yaqub as. yang lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin daripada anak-anaknya yang lain, tetapi tetap berlaku adil kepada mereka semua. 

Ahli tafsir Imam Fakhrurrazi menerangkan dalam tafsirnya bahwa cinta bukanlah sesuatu dalam kendali manusia, maka perbedaan kadar mencintai tidak bisa dihindari.

Sahabat Kesan yang budiman, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk berbakti kepada orang tua. Abdullah bin Mas’ud ra. pernah bertanya kepada beliau ﷺ tentang amal yang paling Allah sukai. Rasulullah ﷺ menjawab: shalat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan jihad di jalan Allah (HR. Muslim no. 85).

Anak adalah rezeki dari Allah sekaligus amanah yang harus dijaga. Bagaimana anak memperlakukan orang tuanya adalah timbal balik dari apa yang ia terima, seperti dalam riwayat Sayyidina Umar bahwa anak yang durhaka bisa jadi karena orang tua yang lebih dulu durhaka kepada mereka.

Semoga kita bukan hanya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, tetapi juga dapat menjadi orang tua yang berbakti, sehingga anak-anak kita kelak akan terus mendoakan kebaikan untuk kita sepanjang hayat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya (HR. Muslim no. 1631).

Referensi sbb : Hukum Orang Tua Durhaka kepada Anak








Orang tua juga bisa berlaku durhaka terhadap anak-anaknya

Memuliakan orang tua menjadi salah satu sebab seseorang anak menjadi ahli surga. Sebaliknya berbuat durhaka kepada kedua orang tua menjadi sebab seseorang menjadi penghuni neraka. Islam mengajarkan untuk memuliakan dan berlaku baik terhadap orang tua. Kendati demikian, orang tua juga ternyata bisa dianggap durhaka terhadap anaknya, jika dalam konteks mempertahankan keimanan dan agama Islam. 

Alkisah, seorang sahabat nabi yang bernama Saad bin Abi Waqash adalah seorang sahabat yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dia masuk Islam ketika usianya menginjak 16 tahun. Namun, dia pernah dipaksa oleh ibunya untuk murtad dari agama Allah SWT. Kisah Saad bin Abi Waqash ini diceritakan Ustadz Fahmi Salim dalam bukunya yang berjudul “Tadabbur Qur’an di Akhir Zaman” terbitan Pro-U Media. 

Dia mengatakan, ketika beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Saad kemudian menceritakan keimanannya kepada ibunya. Namun, sang ibu yang selama ini sangat menyayangi dan memanjakannya tiba-tiba jatuh sakit. Karena, sang ibu kaget mendengar putranya yang telah masuk Islam, agama yang sangat dibencinya. Keluarganya juga sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Karena itu, ketika Saad masuk Islam, keluarganya merasa tertampar, terutama ibunya yang langsung menghukum putra kesayangannya dengan tidak memberinya nafkah. Namun, hukuman ini tidak mempan untuk mengubah keimanan Saad.

Sang ibu pun tak kekurangan akal. Dia mogok makan sampai mengalami sakit keras. Aksi mogok makan ini dilakukannya untuk membujuk Sa’ad agar murtad dari agama Rasulullah Muhammad SAW

Tapi, cara ini juga tidak berhasil, sanga putra justru mengatakan, “Jangan engkau lakukan itu wahai Ibuku. Sungguh, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Demi Allah SWT, ketahuilah wahai Ibu, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa dan keluar satu per satu, maka aku tidak akan meninggalkan agama ini.” Menurut Ustadz Fahmi Salim, pernyataan Saad tersebut sangat tegas, tetapi disampaikan dengan penuh kelembutan kepada ibunya. 

Sikap teguh ini di kemudian hari meluluhkan sang ibu hingga akhirnya ikut memeluk Islam atas izin Allah SWT. “Sikap keras sang ibu kepada anaknya itu sesungguhkan mencerminkan sikap durhaka orang tua terhadap anaknya,” kata Ustadz Fahmi.  

Referensi : Orang tua juga bisa berlaku durhaka terhadap anak-anaknya










Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk Neraka

Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk Neraka. Ada duta anti-korupsi, malah dia korupsi. Ada duta anti-narkoba, malah pengguna dan pengedar narkoba. Semoga kita yang memperingatkan dari masuk neraka, tidak masuk neraka kelak. Terlihat alim di depan manusia, tapi banyak bermaksiat saat sendiri. Wal ‘iyadzu billah.” Kaum muslimin dan para aktivis dakwah yang semoga dimuliakan oleh Allah. Semoga kita tidak termasuk yang sering memperingatkan manusia akan neraka, akan tetapi kita sendiri yang masuk neraka. Kita banyak menasihati orang lain, tetapi malah kita sendiri yang melanggarnya. Wal ‘iyadzu billah.

Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Al-Quran)?  Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. al-Baqarah: 44).

Adakah yang demikian? Jawabannya, ada. Sebagaimana hadis tentang orang yang selalu melakukan amal ahli surga, tetapi di akhir hayatnya justru ia masuk neraka dengan su-ul khatimah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﻌْﻤَﻞُ ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻳَﺒْﺪُﻭ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ

“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan surga – menurut yang tampak bagi masyarakat – padahal ia termasuk penduduk neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Mengapa bisa demikian? Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan alasannya dikarenakan hal buruk  yang tersembunyi dalam hatinya. Dia selama ini menyembunyikan keburukan dan ia tidak sabar beramal sampai sempurna. Beliau Rahimahullah berkata,

قال ابن القيم رحمه الله في “الفوائد” ص 163: لما كان العمل بآخره وخاتمته ، لم يصبر هذا العامل على عمله حتى يتم له ، بل كان فيه آفة كامنة ونكتة خُذل بها في آخر عمره

“Karena amal itu dilihat dari penutupnya. Dia tidak sabar mengamalkan sampai sempurna, bahkan ada yang tersembunyi berupa penyakit hati dan noda yang nampak pada akhit hayatnya.” (al-Fawaid, hal. 163)

Semoga Allah menjaga kita dari hal seperti ini karena ancamannya sangat keras. Dalam hadis disebutkan bahwa manusia yang pertama kali diadili oleh Allah pada hari kiamat salah satunya adalah orang yang mengajarkan agama dan Al-Quran, tetapi tidak ikhlas. Akhirnya ia termasuk yang pertama kali masuk neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca. Dan kini kamu telah dikatakan seperti itu. Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 3527)

Ada beberapa sebab mengapa hal ini bisa terjadi. Akan kami sebutkan beberapa saja dan semoga Allah menjaga kita dari hal ini. Beberapa sebabnya antara lain sebagai berikut:

  1. Berdakwah tanpa ilmu
  2. Tidak ikhlas dan menginginkan dunia
  3. Ingin ketenaran dan pujian manusia
  4. Banyak bermaksiat tatkala sendiri

Pertama, berdakwah tanpa ilmu

Berdakwah tanpa ilmu sangat berbahaya karena mendahului Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujuraat: 1)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada dosa yang lebih besar dari dosa kesyirikan, yaitu berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala,

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan: (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi; (2) perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan); (3) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan); (4) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al A’raf: 33)

Mengapa dosanya di atas dosa kesyirikan? Karena dosa syirik sumbernya adalah berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini,

فرتب المحرمات أربع مراتب، وبدأ بأسهلها وهو الفواحش، ثم ثنى بما هو أشد تحريما منه وهو الإثم والظلم، ثم ثلث بما هو أعظم تحريما منهما وهو الشرك به سبحانه، ثم ربع بما هو أشد تحريما من ذلك كله وهو القول عليه بلا علم، وهذا يعم القول عليه سبحانه بلا علم في أسمائه وصفاته وأفعاله وفي دينه وشرعه

“Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi, yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua, yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama, dan syari’at-Nya.” (I’lamul Muwaqqi’in, hal. 31, Dar Kutubil ‘Ilmiyah)

Kedua, tidak ikhlas dan menginginkan dunia
Sebagaimana hadis yang kita bawakan sebelumnya, ia menjadi orang pertama yang dicampakkan ke dalam neraka karena tidak ikhlas kepada Allah.
Rasa ikhlas harus senantiasa kita perhatikan. Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah mengatakan,
ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي ؛ لأنها تتقلب علي
“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam, hal. 18, Darul Aqidah).
Ketiga, ingin ketenaran dan pujian manusia
Para aktivis dakwah dan dai bisa jadi terjerumus dalam hal ini.
Asy-Syathibi Rahimahullah berkata,
آخر الأشياء نزولا من قلوب الصالحين : حب السلطة والتصدر
“Hal yang paling terakhir luntur dari hati orang-orang salih adalah cinta kekuasaan dan cinta eksistensi (popularitas).” (Al-I’tisham, karya Asy-Syatibiy).
Keempat, banyak bermaksiat tatkala sendiri
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻜُﻢْ ﻭَﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺪَﺗِﻜُﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺧُﺬُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻭﻥَ ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻬُﻢْ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﺇِﺫَﺍ ﺧَﻠَﻮْﺍ ﺑِﻤَﺤَﺎﺭِﻡِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻧْﺘَﻬَﻜُﻮﻫَﺎ
“Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian. Mereka salat malam sebagaimana kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika bersendirian, mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (HR. Ibnu Majah, sahih)
Semoga Allah menjaga ketakwaan kita di saat sendiri. Tidak lupa kita juga memperbanyak melakukan amal kebaikan saat sendiri, seperti sedekah sembunyi-sembunyi, salat sunnah, salat malam, dan lain-lainnya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup, dan yang suka menyembunyikan amalannya.” (HR. Muslim).
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal salih yang tersembunyi, maka lakukanlah.” (Lihat As-Shahihah, no. 2313)
Seorang ulama, Salamah bin Dinar Rahimahullah berkata,
اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana Engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu.” (Hilyah auliya, no. 12938).

Referensi sbb ini ; Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk Neraka








Ini Dia 3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka

Golongan manusia yang pertama masuk neraka? Apakah orang kafir? Apakah orang munafik? Apakah orang yang berbuat zina? Ternyata bukan salah satu dari mereka. Ada tiga golongan yang pertama masuk neraka.

Imam Muslim berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, “Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestina dan beliau adalah seorang tabiin), ‘Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang engkau telah dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.’ ‘Ya, aku akan ceritakan,’ jawab Abu Hurairah.

Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.’

Selanjutnya Rasulullah Sahallahu alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’

Rasulullah Sahallahu alaihi wa sallam menceritakan orang selanjutnya yang pertama kali masuk neraka, “Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka’,” (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, dan derajadnya Shohih).

Hadits di atas menjelaskan tentang ditolaknya suatu amal karena dilandasi dengan riya’. Syarat pokok diterima suatu amal shalih adalah ikhlas karena Allah semata, dan amal tersebut harus sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah dua landasan amal yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Referensi : Ini Dia 3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka










3 Orang Ini Pertama Kali Dilempar ke Neraka

Mendengar kata neraka, kita akan membayangkan keadaan yang menyeramkan dan menakutkan. Setiap orang pasti tak ingin menjadi penghuni neraka karena kengerian yang ada di dalamnya. Na'udzubillahi min dzalik! Tahukah Anda, ada tiga golongan manusia yang pertama kali diseret ke neraka. Siapakah mereka? Berikut pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang membuat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menangis.

Hadis tersebut disampaikan oleh Rasulullah kepada Abu Hurairah ketika tidak ada orang lain bersama mereka. Ketika menyampaikan hadis ini kepada para sahabat, Abu Hurairah beberapa kali menangis hingga jatuh pingsan. Beliau mengabarkan tiga golongan manusia yang pertama kali masuk neraka adalah ulama (Ahli Qur'an); orang yang mati fisabilillah (Mujahidin); dan orang kaya (Dermawan). 

Apa yang membuat mereka dimasukkan pertama kali ke dalam neraka? Mari kita simak Hadis Sahih berikut yang diriwayatkan Imam Muslim berikut: Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya (mengakuinya). 

Allah bertanya kepadanya, "Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berkata: "Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu)." Kemudian diperintahkan (Malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka." Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an (para ulama dan ahli Qur'an). 

Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, "Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?" Ia menjawab, 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur'an hanyalah karena Engkau'. Allah berkata, "Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'Alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur'an supaya dikatakan seorang Qari' (pembaca Al-Qur'an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (Malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka." Rasulullah menceritakan orang selanjutnya yang pertama kali masuk neraka, "Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. 

Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab, 'Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau'. Allah berkata: "Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)'. Kemudian diperintahkan (Malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka". (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Sahih) 

Penyebab ketiga golongan muslin itu masuk neraka ternyata karena amal yang dilandasi Riya'. Kelihatannya sepele, tetapi Riya menyebabkan orang-orang yang berilmu dan punya harta dimasukkan ke dalam neraka. Pengasuh Al-Fachriyah, Al-Habib Jindan bin Novel Salim Jindan dalam satu tausiyahnya mengatakan, Riya' adalah penyakit hati yang dapat menyebabkan seorang muslim dimurkai Allah. Orang yang Riya ingin menunjukkan amalannya kepada orang lain dengan harapan mendapat pujian. Mereka beramal bukan untuk Allah, tetapi untuk mengharapkan sanjungan manusia. Bahayanya Riya ini dapat merontokkan pahala dan mendatangkan kemurkaan Allah. 

Disebutkan oleh Habib Jindan, orang-orang saleh terdahulu apabila beramal mereka sangat khawatir amalannya diketahui orang lain. Kisah Imam Ali Zainal Abidin Berkaca dari kisah Salafus Saleh terdahulu mereka selalu menyembunyikan puasanya, menyembunyikan sholatnya dan merahasiakan sedekahnya. Bahkan ada yang berpuasa 20 tahun, sholat Tahajud tak pernah tinggal. Mereka menyembunyikan amalannya dan tidak perduli pujian dari manusia. Seperti Imam Ali Zainal Abidin setiap malamnya sholat sunnah 1.000 rakaat. Beliau seorang Tabiin yang sangat saleh. 

Dikenal sebagai ahli ibadah dan juga seorang dermawan. Beliau merupakan anak keturunan Rasulullah dari jalur Sayidina Ali radhiyallahu 'anhu. Diceritakan oleh Habib Jindan, setiap malam beliau mengeluarkan sedekah kepada fakir miskin. Sebanyak 150 rumah orang miskin dinafkahi beliau selama bertahun-tahun dan tak seorang pun mengetahui kebiasaan beliau tersebut. Setelah meninggal dunia dan jasadnya dimandikan barulah amalan beliau diketahui penduduk Madinah. Orang-orang terkejut saat melihat bekas yang terdapat di tubuhnya. 

Di punggung Imam Ali Zainal Abidin, terdapat bekas hitam karena sering memikul karung berisi tepung yang dibagikannya kepada kaum fakir. Kemudian di bawah matanya terdapat goresan bekas kucuran air mata yang setiap malam menangis kepada Allah Ta'ala. Subhanallah, begitulah dahsyatnya para Salafus Saleh yang beramal semata-mata untuk Allah.Semoga Allah berkenan melindungi kita dari pedihnya azab api neraka. Aamin. Golongan yang Pertama Masuk Surga Hadis Nabi di atas menjadi pelajaran berharga bagi kita agar ikhlas dalam beramal. Ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain. Dalam hadis lain, Rasulullah mengabarkan tiga golongan muslim yang pertama masuk surga. 

Di antaranya, para Syuhada yang membela dan menegakkan agama Allah tanpa berharap pujian dari manusia. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: "Diperlihatkan kepadaku tiga (golongan) manusia dari umatku yang mula-mula masuk Surga (mereka adalah) orang yang mati sahid, orang fakir yang tidak meminta-meminta dan seorang budak yang tidak disibukkan oleh pekerjaannya dari taat beribadah kepada Allah." (HR at-Tirmidzi) Dalam riwayat lain disebutkan, dari Iyadh bin Himar berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Penghuni surga itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu penguasa yang adil dan disenangi; orang yang mempunyai sifat penyayang dan lembut hati kepada sanak keluarganya dan sesama muslim, serta orang miskin yang menjaga kehormatannya sedangkan ia mempunyai keluarga." (HR Muslim)

Referensi : 3 Orang Ini Pertama Kali Dilempar ke Neraka











Kenapa Merasa Paling Benar?

Dalam salah satu hadis sahih dari Abu Hurairah dikisahkan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Ada dua orang laki-laki dari bani Isra’il yang saling bersaudara; salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sementara yang lain giat beribadah. Orang yang giat beribadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata, “Berhentilah.” Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati saudaranya berbuat dosa, ia berkata lagi, “Berhentilah.” Orang yang suka berbuat dosa itu berkata, “Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku!” Ahli ibadah itu berkata, “Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.”

Dikisahkan, Allah kemudian mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya berkumpul di sisi Tuhan semesta alam. Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah: “Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?” Allah lalu berkata kepada pelaku dosa: “Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku.” Dan berkata kepada ahli ibadah: “Pergilah kamu ke dalam neraka.” Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya.” (HR Abu Dawud no. 4255).

Kisah tersebut secara verbal terasa ironi. Jangan salah paham. Siapapun yang benar-benar berdosa, jangan terus berdosa, berhentilah berdosa. Sedangkan ahli ibadah jangan berkecil hati, teruslah beribadah dengan ikhlas tanpa riya. Hadis Nabi tersebut pesannya level hakikat dan makrifat.  Sebagai ibrah. Nabi mengajarkan agar umat beriman yang alim dan ahli ibadah sekalipun haruslah rendah hati (tawadhu’) serta tidak boleh sombong dengan merasa paling benar dalam beragama. Menjadi polisi kebenaran. Lebih-lebih merasa telah memegang kunci sorga. Masuk sorga sendirian.

Memegang kebenaran merupakan keharusan (QS Al-Baqarah/2 : 147). Tetapi merasa diri paling benar, paling bersih, dan paling suci mesti dihindari agar tidak terjebak pada sikap berlebihan (ghuluw, ekstrem). Sikap berlebihan dalam hal apapun akan membuat diri menjadi seolah sebagai pengawas dan hakim kebenaran terhadap orang lain, yang belum tentu pihak lain berada di jalan salah atau sepenuhnya salah. Merasa menjadi polisi dunia. Padahal hidup bersama orang lain yang mesti setara dan berdialog, serta tidak dapat memaksakan kehendak dan pandangan sendiri.

Memang “saya ini siapa?”. Kenapa mesti gemar menghakimi orang lain dan keadaan dengan kacamata sendiri dalam aura absolut. Apalagi dengan kebiasaan menghardik, menghukumi, menyesat-nyesatkan, melabeli, dan sederet kata-kata digdaya. Bahkan memandang orang lain yang sama-sama menyuarakan dan membawa misi kebenaran dengan cara berbeda sebagai salah, lembek, dan rendah. Seolah diri berada di atas tahta kebenaran nan agung. Padahal, Nabi yang maksum dan dinobatkan Allah sebagai uswah hasnaah, begitu rendah hati dan bijaksana.

Kata pepatah, ingat di atas langit ada langit. Kenapa begiturupa merasa diri paling benar dan menjadi pengawal kebenaran?  Apa salahnya suara kebenaran itu pun dibawa dengan cara hikmah, mauidhah hasanah, dan dialogis sebagaimana diajarkan Tuhan (QS An-Nahl: 125). Nabi Musa dan Nabi Harun yang pemberani dan gagah perkasa pun diajarkan untuk berlemah-lembut. “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut” (QS Thaha: 43-44). Bahwa  pada akhirnya  Fir’aun tidak mau mendengar dan tidak takut, itu sudah masuk urusan Tuhan, hingga berujung nestapa di Laut Merah.

Apalagi kebenaran yang bersifat pengetahuan, ilmu, dan menyangkut urusan kehidupan dunia atau muamalah-dunyawiyah. Ushul fikih mengajarkan, urusan muamalah itu hukumnya ibahah (boleh) kecuali yang terang dilarang menurut syariat. Hal yang disebut syar’i pun banyak aspek dan mazhabnya, tidaklah tunggal dan serba absolut. Maka, jangan memutlakkan pandangan soal urusan dunia seperti politik, ekonomi, hukum, budaya, dan sebagainya. Cara memahami dan menghadapi urusan dunia pun tidak bisa hitam-putih, perlu banyak pandangan dan langkah. Siapapun yang suka memutlakkan urusan dunia, lebih-lebih dengan kacamata sendiri, sama dengan tidak memahami kenyataan hidup secara luas, mendalam, dan terkoneksi satu sama lain dalam matarantai kehidupan yang kompleks.

Islam Mengajarkan Tidak Merasa Paling Benar

Islam mengajarkan umatnya agar tidak merasa diri paling benar, paling bersih. Pihak lain dianggap salah dan kotor. Allah mengingatkan umat beriman, “Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (QS An-Nisa/4: 49). Sementara Nabi dalam hadis dari Abu Hurairah, baginda berkata, “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata penuh ibrah, “Jika Allah Ta’ala membukakan untukmu pintu shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganlah memandang rendah orang yang tidak berpuasa.”. Dikatakan, “Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang lain yang tidak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah), dan orang yang tidak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”.

Di pagi hari yang jernih ini, sangatlah elok kita berefleksi diri. Ambilah ibrah,  pelajaran sarat makna dari tempat manapun. Hisablah diri sebelum menghisab dan dihisab orang. Bila kita benar sekalipun, tidak perlu gemar menyalahkan orang lain. Jika diri perkasa, apakah tidak congkak menganggap orang lain lunak dan lemah. Seringlah merenung, siapa tahu kita salah menilai keadaan, ketika kita terlalu yakin akan kebenaran sendiri. Agar kita tidak zalim terhadap orang lain dan gagal paham tentang keadaan.

Imam Syafii yang luas ilmu dan luhur akhlaknya berkata bijak, kalamy shawaabu yahtamilu al-khathaa, wa kalamu ghairy hathau yahtamilu al-shawaaba.  Artinya: “Pendapatku boleh jadi benar tetapi berpeluang salah, sedangkan pendapat orang lain bisa jadi salah namun berpeluang benar.”

Referensi : Kenapa Merasa Paling Benar?













Jangan Memakan Harta Secara Batil

Jangan Memakan Harta Secara Batil. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 188).

Harta adalah hal yang sakral

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kesakralan harta karena kehidupan dunia yang baik terwujud dengan adanya harta. Hal ini sebagaimana Allah menerangkan kesakralan agama yang dengannya akan terwujud kehidupan akhirat yang indah. Harta dan agama adalah hak Allah sehingga keduanya tidaklah dikelola kecuali dengan seizin-Nya. Karena itulah Allah mengaitkan harta dan agama pada diri-Nya sendiri sebagai bentuk penghormatan atas kesakralan keduanya.

Terkait harta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok harta Allah (baca: menggunakannya dengan cara yang tidak benar), bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat” (HR. Bukhari no. 3118).

Adapun terkait agama, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (QS. al-An’am: 68).

Allah Ta’ala menyebut pelanggaran terhadap harta dan agama-Nya sebagai khaudh (tindakan mengolok-olok).

Bentuk-bentuk pelanggaran terhadap harta

Pelanggaran terhadap harta bisa terjadi di tangan pemilik yang dianugerahi kepemilikan harta oleh Allah dan bisa terjadi di tangan orang lain. Manusia tidak sepenuhnya diperkenankan mengelola harta meski dia memilikinya, karena diri dan hartanya adalah milik Allah. Maka merusak harta pribadi adalah perbuatan yang diharamkan sebagaimana mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.

Itulah mengapa Allah Ta’ala berfirman “تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ” yang secara harfiah berarti “janganlah kalian memakan harta kalian sendiri di antara kalian”. Pada ayat tersebut, Allah menyamakan antara orang yang memakan harta orang lain secara batil dan orang yang memakan harta pribadi secara batil. Orang pertama merusak harta orang lain, sedangkan orang kedua merusak harta pribadinya. Meskipun demikian, kesakralan harta pada dasarnya sama.

Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dengki, tamak, dan egois adalah faktor yang mendorong jiwa untuk berbuat melampaui batas terhadap hak-hak orang lain. Jiwa yang memandang hak orang lain sebagai hal yang sakral sebagaimana haknya sendiri, tentu akan menghormati harta orang lain sebagaimana dia menghormati harta pribadinya.

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk pelanggaran terhadap harta dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak, baik dengan cara merampas, mencuri, mempraktikkan riba dan gharar, atau hal yang semisal. Hal yang paling buruk dari itu semua adalah merampas harta halal dengan trik yang melegalkan dan menggugurkan hak pemilik yang sah. Hal ini bisa terjadi entah karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik setelah harta itu dirampas darinya atau karena perampasan dan pengguguran hak dari pemilik yang sah dilegalkan dengan cara yang batil.

Ali ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, beliau mengomentari ayat ini dengan perkataan beliau,

فهذا في الرجل يكون عليه مالٌ، وليس عليه فيه بيِّنة، فيجحد المال، فيخاصمهم فيه إلى الحكام وهو يعرف أنّ الحق عليه، وهو يعلم أنه آثم: آكلٌ حراما

“Ayat ini berkaitan dengan orang yang memiliki tanggungan harta (utang), namun tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Akibatnya, dia pun menentang kewajiban itu dan membawa sengketa ini ke hakim, sementara dia tahu kebenaran berseberangan dengan dirinya dan tahu dia berdosa karena memakan hal yang haram” (Tafsir ath-Thabari, 3: 277; Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).

Padahal, seyogyanya orang beriman mengakui kekeliruan ketika bersalah, bukan malah membela diri dan mempertahankan kesalahan. Apalagi sampai membawa sengketa tersebut ke sidang pengadilan untuk sekadar membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya tidak bersalah. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata,

لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ

“Janganlah kamu bersengketa, sedangkan kamu tahu bahwa dirimu berada di pihak yang zalim” (Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).

Putusan hakim yang keliru tidak mampu mengubah kebenaran

Ayat ini juga merupakan dalil bahwa ketetapan penguasa dan keputusan hakim tidaklah mengubah hak yang belum tersingkap, dalam kondisi si perampas mengetahui bahwa dia telah mengambil harta itu secara zalim. Putusan hakim hanya memutuskan perselisihan dan menyelesaikan sengketa yang nampak. Akan tetapi, ulama sepakat putusan terhadap harta tersebut tidak mengubah hak yang tersembunyi. Dalam hal ini, hakim boleh jadi diberi pahala atas putusannya selama tidak terlibat dalam tindak kezaliman tersebut, sedangkan tetap zalim lagi berdosa meski memenangkan putusan.

Firman Allah Ta’ala “وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ”, “dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”, berarti Engkau tahu kebenaran, tetapi Engkau menyembunyikannya dari orang yang berhak dengan berupaya melegalkan perampasan yang Engkau lakukan dengan berbagai ketetapan dan putusan karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik harta. Perbuatan seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ بِذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنْ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ فَلْيَتْرُكْهَا

“Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertengkaran (sengketa) seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya. Lalu aku menganggap dia benar, kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa saja yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu, hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya” (HR. Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 1713).

Referensi : Jangan Memakan Harta Secara Batil









Waspadalah, Ini Dampak Pekerjaan yang Dihasilkan dari Menzalimi Orang Lain

Islam melarang segala bentuk upaya mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang zalim dan haram seperti memfitnah, menjatuhkan orang lain, menipu dan sebagainya. Menurutnya orang yang memperoleh rezeki dengan cara menzalimi orang lain akan berdampak pada perilaku kesehariannya. Hidupnya tidak tenang dan selalu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama. "Setiap asupan yang masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhinya, baik secara fisik, emosional, psikologis, maupun spiritual, dari makanan haram akan timbul pikiran dan perbuatan haram dan menyebabkan masuk neraka," kata Gus Fahrur. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan sahabat Kaab bin Ujrah bahwa badan yang tumbuh dari perkara haram berhak dibakar api neraka. Keterangan ini dapat ditemukan pada hadits riwayat Imam Tirmidzi.

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” Sebaliknya, menurut Gus Fahrur, rezeki yang diperoleh dengan cara yang baik dan halal akan menghadirkan ketenangan dalam jiwa. Orang yang menggunakan rezeki yang halal hidupnya akan terarah dan penuh keberkahan. Selain itu menggunakan rezeki yang halal menurut Gus Fahrur menjadi syarat diterimanya setiap doa oleh Allah SWT. Sementara orang yang terbiasa menggunakan harta haram doanya pun terhalang. "Memakan harta haram berarti mendurhakai Allah SWT dan mengikuti langkah setan," katanya.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” Orang yang memperoleh rezeki dengan cara batil atau dengan menzalimi pihak lainnya seperti menjatuhkan nama baik orang lain dengan menyebar hoaks telah melakukan dosa dan akan mendapat siksaan di neraka.

Referensi : Waspadalah,  Ini Dampak Pekerjaan yang Dihasilkan dari Menzalimi Orang Lain