didapat dengan jalan yang halal. Dengan langkah tersebut, apa yang didapat bakal memperoleh barokah dari Allah SWT. Namun, beberapa orang yg tidak perduli mengenai perkara halal dan haram atas harta yang dicapainya.
Godaan duniawi membuat manusia tak dapat berpuas diri. Rasa kurang membuat seorang berani bertindak tak terpuji, termasuk juga lakukan beberapa cara yg tidak halal. Sebentar, mereka memanglah tampak bahagia lantaran bergelimang harta.
Namun janganlah senang dulu, lantaran nyatanya kerap memperoleh harta lewat cara haram menyebabkan malapetaka. Dari mulai hilangnya keberkahan harta, sampai siksa api neraka. Lalu apa malapetaka mengerikan yang lain? Berikut informasi selengkapnya.
1. Hilangnya Keberkahan dalam Harta
Petaka pertama yang bakal berlangsung lantaran rutinitas kerap makan dari duit haram yaitu hilangnya keberkahan dalam harta yang dimiliki. Walau sebenarnya mempunyai harta yang barokah adalah satu diantara keistimewan yang didapatkan oleh Allah SWT. Harta yang barokah itu bakal membawa kebaikan didunia ataupun akhirat.
Sementara itu, mengambil harta yang tidak cocok dengan ajaran agama Islam, baik itu dengan cara riba, korupsi maupun tindak kejahatan bikin harta itu akan tidak meraih keberkahannya. Allah SWT bahkan juga bakal mencabut keberkahan untuk harta yang di dalamnya ada riba. Allah Ta’ala berfirman :
“Orang-orang yang makan riba tidak bisa berdiri tetapi seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena penyakit hilang ingatan. Kondisi mereka yang sekian itu yaitu dikarenakan mereka berkata sebenarnya jual beli itu sama juga dengan riba. Walau sebenarnya Allah sudah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba.
Beberapa orang yang sudah tiba kepadanya larangan dari Tuhannya, lantas selalu berhenti. Jadi baginya apa yang sudah diambilnya dulu serta masalahnya pada Allah. Beberapa orang yang kembali (mengonsumsi riba) jadi orang itu yaitu penghuni-penghuni neraka. Mereka abadi didalamnya”. (Al Baqarah 275)
Bukan hanya hartanya saja yang akan tidak memperoleh keberkahan dari Allah. Tetapi orang yang mengerjakannya akan memperoleh hukuman yang begitu pedih. Rasulullah SAW bersabda yang berarti :
“Ia bakal berenang di sungai darah, sedang di pinggir sungai ada seorang (malaikat) yang di hadapannya
ada bebatuan. Setiap saat ada seorang yang berenang dalam sungai darah serta menginginkan akan keluar dari sungai itu, malaikat itu segera melemparkan bebatuan kedalam mulut orang itu hingga ia terdorong untuk kembali pada tengah sungai. Serta demikian itu seterusnya”. (HR Bukhari)
2. Gelapnya Hati serta Rasa Malas
Beribadah
Malapetaka ke-2 yang bakal diperoleh orang yang kerap mempergunakan duit haram yaitu hatinya bakal diselimuti kegelapan serta rasa malas untuk melaksanakan ibadah. Makin banyak harta yang dikonsumsi, jadi bakal makin gelap juga lah hati sanubari manusia itu.
Dalam satu hadist Ibnu Abbas r. a berkata : “Sesungguhnya tiap-tiap kebaikan bakal berikan penerang untuk hati, sinar untuk muka, kemampuan untuk tubuh, penambahan dalam rejeki serta kecintaan sesama makhluk. Serta demikian sebaliknya kejelekan bakal menghitamkan muka, kegelapan untuk hati, kekurangan untuk tubuh, kekurangan dalam rejeki serta kebencian di hati sesama makhluk”.
Coba saksikan beberapa orang yang memperoleh harta dengan jalan haram, kehidupan mereka akan tidak bahagia serta jadi dibenci beberapa orang. Kurang hingga di situ, beberapanya lagi bahkan juga ada yang disiksa dengan penyakit yg tidak kunjung pulih. Diluar itu, ketenangan jiwanya akan terganggu lantaran memperoleh harta dari jalan yg tidak halal.
3. Terhalangnya Do'a Pada Allah
Harta yang haram akan bikin doa yang dipanjatkan pada Allah SWT jadi terhambat. Dalam satu hadist, Rasul menerangkan mengenai seseorang musafir yang selalu berdoa pada Allah. Waktu itu adalah waktu yang mustajab untuk memohon apa pun pada Allah. Tetapi nyatanya doa yang dipanjatkan oleh musafir itu tidak diterima oleh Allah lantaran ia mengonsumsi harta yang haram.
Nabi SAW bersabda “... Serta makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, bajunya dari yang haram, serta di beri makan dengan makanan yang haram. Jadi bagaimana Allah bakal memperkenankan doanya? ” (HR Muslim)
Satu kepedihan yang sangat dalam jika Allah tak mengabulkan bahkan juga menampik doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya.
4. Ditolaknya Sedekah Yang Dikerjakannya
Bersedekah adalah amalan yang disarankan dalam agama Islam. Walau demikian, jika sedekah itu dikerjakan dengan memakai harta yang haram, jadi itu jadi satu kesia-siaan saja.
Nabi SAW juga bersabda s “Allah tak terima harta Ghulul” (HR Muslim).
Harta Ghulul disimpulkan oleh beberapa pakar tafsir sebagai harta yang di ambil dengan jalan yang haram serta berkhianat. Oleh karenanya, sebagai golongan muslimin kita semestinya mengerti kalau Allah SWT cuma terima harta yang disedekahkan dengan jalan yang halal.
5. Siksa di Neraka
Malapetaka yang bakal berlangsung dari kerap makan dari duit haram yang paling akhir yaitu pastinya siksa di neraka nantinya. Info itu didapat dari penjelasan Nabi SAW melalui hadist kisah Tirmidzi yang berbunyi “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram jadi neraka lebih layak untuk menyentuhnya " (HR Tirmidzi serta dihasankan).
Sekianlah info tentang lima malapetaka yang diakibatkan dari biasanya mengonsumsi duit haram. Oleh karenanya, sebagai golongan muslim semestinya kita tak gampang terperdaya dengan kesenangan yang di tawarkan dunia hingga bikin gelap mata. Tetaplah bersukur pada Allah atas rejeki yang sudah dilimpahkan serta tetaplah mencari rejeki itu melalui jalan yang halal.
Referensi Sebagai berikut ini ; 5 Petaka yang Allah Swt turunkan bagia pemakan harta haram
Kasus-kasus perceraian memang masih menjadi topik yang menarik untuk dicermati. Perceraian jelas membawa dampak yang tidak ringan pada masing-masing pasangan, maupun bagi si buah hati. Bahkan perceraian pun bisa membawa efek pada pria. Benarkah pria menjadi lebih rapuh ketika menghadapi perceraian, dibandingkan wanita?
Kabar tentang perceraian yang mengejutkan datang dari pasangan artis Gading Marten (Gading) dan Gisella Anastasia (Gisel). Pasangan yang telah menikah selama 5 tahun ini dikabarkan akan bercerai setelah Gisel melayangkan gugatan cerai kepada Gading. Masyarakat pun dibuat sedih memikirkan nasib putri cantik semata wayang Gading dan Gisel, yakni Gempita Nora Marten atau akrab disapa Gempi.
Berbagai simpati pun berdatangan keluarga kecil ini terutama bagi si kecil Gempi. Tak hanya simpati untuk Gempi, beberapa artis seperti Tompi dan Astrid Tiar turut mengunggah foto ayah Gading, Roy Marten yang tengah memeluk putranya. Foto ini dianggap turut mewakili perasaan Gading yang tengah rapuh.
Menghadapi perceraian, siapa lebih kuat? Bagi sebagian orang, terutama wanita, pria identik dengan stereotip tidak setia, tidak bisa menjalani hubungan monogami dan tidak berperasaan saat meninggalkan istri atau pasangannya. Nyatanya menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Marriage and Family, wanita cenderung lebih “kuat” setelah menghadapai perceraian dibandingkan pria.
Wanita pun lebih banyak yang mengajukan cerai dibandingkan pria, seperti yang tengah dilakukan oleh Gisel pada Gading. Selain itu menurut jurnal tersebut, pria juga cenderung lebih bahagia saat menikah dibandingkan saat melajang.
Setelah bercerai, banyak dampak yang dialami bagi pria maupun wanita. Termasuk dampaknya bagi kesehatan. Namun dari berbagai penelitian disebutkan bahwa dampak kesehatan ini lebih besar dialami oleh pria dibanding wanita. Salah satu efek negatifnya adalah terjadi perubahan gaya hidup seperti merokok atau konsumsi alkohol.
Menurut studi yang dilansir di jurnal Social Science and Medicine pada tahun 2012, saat menikah istri cenderung mengajak dan menyemangati suami untuk hidup lebih sehat, seperti berhenti merokok, berhenti mengonsumsi alkohol atau berolahraga teratur. Namun setelah bercerai, pengaruh positif dari istri tak lagi didapatkan sehingga pria cenderung akan kembali pada kebiasaan hidup yang tidak sehat.
Pria ternyata lebih emosional
Sementara itu pada penelitian lain juga disebutkan bahwa pria cenderung bergantung secara emosional dengan istrinya. Pada penelitian tersebut dilakukan survei mengenai siapa yang akan diajak berdiskusi pertama kali saat sedang sedih, kecewa, marah atau depresi. Hasilnya 71% pria memilih istrinya, sementara hanya 39% wanita memilih suaminya.
Wanita yang sudah menikah cenderung memiliki dukungan emosional lebih baik dibanding pria seperti dari keluarga atau teman terdekatnya. Namun bukan berarti pria tidak memiliki dukungan emosional dari keluarga atau teman terdekat, tetapi karena pria cenderung sulit untuk mengungkapkan perasaannya atau bercerita mengenai masalahnya dengan orang lain.
Selain itu pria yang sudah menikah juga cenderung bergantung pada istri dalam menjadi kurang mandiri dalam melakukan kegiatan tertentu seperti mengepak perlengkapan, disiapkan sarapan atau makan dan masih banyak lagi. Akibatnya saat bercerai, pria menjadi lebih rapuh karena kehilangan sosok istri tempatnya selama ini bergantung.
Oleh karena itu, menurut studi yang dilansir di British Journal of Sociology, tak heran pria cenderung lebih cepat ingin menemukan partner baru atau menikah lagi dibandingkan wanita. Sementara wanita cenderung trauma untuk menikah lagi. Hal tersebut dikarenakan pria cenderung lebih bergantung secara emosional dengan pasangannya, sehingga dorongan untuk menikah lagi juga lebih besar. Bahkan disebutkan juga bahwa pria yang memiliki dukungan sosial yang rendah – baik dari teman atau keluarga – cenderung akan menikah lagi.
Berkaca dari kasus Gading dan Gisel, perceraian memang tak hanya berat untuk pria, namun juga untuk wanita. Keduanya sama-sama akan mengalami dampak kesehatan dan emosional. Namun pada beberapa sisi, efek ini lebih berat dirasakan oleh pria karena pria cenderung lebih sedikit menerima dukungan sosial dari teman atau keluarga.
Referensi Sebagai berikut ini ; Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita
Interaksi dalam status suami-istri dilaksanakan dengan menciptakan suasana damai sebagaimana diidamkan banyak orang dalam membentuk rumah tangga yang sakinah dengan hiasan mawaddah wa rahmah. Tidak boleh ada pihak suami atau istri yang menyengaja untuk merusak rumah tangga.
Sebaliknya, bila akhirnya mereka harus bercerai atau talak, maka suasana permusuhan harus dijauhi. Untuk mewujudkan suasana damai setelah talak, al-Quran menyatakan dalam surat At Thalaq ayat 6:
“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”
Setelah terjadinya talak hubungan antara suami istri harus tetap terjalin baik, pada masa idah maupun setelah masa idah. Para suami dilarang untuk menyuruh istrinya pergi dari rumah ketika masih dalam masa idah.
Meski perceraian itu dibolehkan dalam syariat Islam, akan tetapi perceraian itu sangat dibenci Allah ﷻ dan rasul-Nya. Sebab perceraian bukan saja memutus hubungan pernikahan suami istri melainkan berisiko besar menyebabkan konflik dan renggangnya hubungan antardua keluarga yakni dari pihak suami dan pihak perempuan.
Bahkan perceraian berdampak besar bagi anak-anak. Sebab mereka tidak akan bisa lagi mendapati kehangatan keluarga yang utuh dalam satu atap.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Perkara halal yang sangat dibenci ﷻ ialah talak (cerai).” (Kasyful Ghummah, halaman. 78, jilid 2)
Maka ketika lelaki dan perempuan menikah berkomitmenlah untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi tanpa berujung talaq (pihak suami yang mencerai istri) atau pun khulu' (pihak istri yang meminta gugat cerai pada suami).
Kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga, kerap dikeluhkan pasangan suami-istri. Hingga muncul julukan, perebut laki orang atau pelakor, yang sama halnya dengan perebut bini orang atau penikor. Adanya pihak ketiga disinyalir menjadi biang masalah perselingkuhan.
Sejatinya, baik menurut norma sosial kemasyarakatan hal ini tidak etis. Termasuk bagi pemeluk setiap agama, tentu melarang.
Menurut ajaran Islam pun, Nabi Muhammad SAW melarang keras seseorang untuk mengganggu keharmonisan rumah tanga orang lain. Semua ini hanya tipu daya setan dan nafsu belaka, yang harus dibendung oleh diri sendiri.
Supaya memahami lebih dalam, berikut hukum pelakor menurut Islam yang wajib diketahui.
Larangan Keras bagi Penikor
Agama Islam memandang keharmonisan sebagai hal penting bagi pasangan suami istri dalam membangun rumah tangga. Selain menjaga kepercayaan satu sama lain, tanamkan dalam diri bahwa membangun rumah tangga itu bukan permainan belaka. Terdapat kesakralan yang dijalani, termasuk menyatukan dua keluarga.
Rasulullah SAW pun melarang keras seseorang untuk mengganggu keharmonisan rumah tanga orang lain. Tertuang dalam sabdanya:
"Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya,'" (HR Abu Dawud).
Dalam hadis tersebut, Islam jelas menilai buruk aktivitas tipu daya yang dilakukan seorang lelaki untuk menjauhkan seorang istri dari suaminya. Begitu pun sebaliknya, seorang wanita yang berusaha menjauhkan suami dari istri sahnya.
Agama mengecam keras pelbagai upaya riilnya itu, hanya demi memuaskan keegoisannya. Hingga rela merusak hubungan rumah tangga lain.
Begitu adil Allah SWT meletakkan perjalanan hidup manusia. Sayangnya, terkadang pilihan yang diambil manusia tanpa sadar menjadi nasib buruk. Seperti halnya memilih ke lain hati, karena tergoda. Bukannya memperbaiki dan mempertahan rumah tangga.
"(Bukan bagian dari) pengikut (kami, orang yang menipu) melakukan tipu daya dan merusak kepercayaan (seorang perempuan atas suaminya), misalnya menyebut keburukan seseorang lelaki di hadapan istrinya atau menyebut kelebihan lelaki lain di hadapan istri seseorang (atau seorang budak atas tuannya) dengan cara apa saja yang merusak hubungan keduanya. Semakna dengan ini adalah upaya yang dilakukan untuk merusak hubungan seorang laki-laki terhadap istrinya atau merusak hubungan seorang budak perempuan terhadap tuannya. Al-Mundziri mengatakan, hadits ini juga diriwayatkan An-Nasai," (Lihat Abu Abdirrahman Abadi, Aunul Ma'bud ala Sunan Abi Dawud, [Yordan: Baitul Afkar Ad-Dauliyyah, tanpa catatan tahun], halaman 967).
Syarah hadis di atas begitu jelas, bahwa pelakor tidak dianggap sebagai pengikut Rasulullah SAW dan umat Islam. Upaya merusak keharmonisan rumah tangga, bukan jalan hidup yang disyariatkan oleh Islam. Karena upaya destruktif yang berlawanan dengan tujuan pernikahan dalam agama itu sendiri.
Pelakor Dilarang Merebut Hak Istri Sah
Selain itu, Rasulullah SAW dengan lugas melarang seorang perempuan yang bertindah sebagai pelakor, untuk menuntut laki-laki menceraikan istri sahnya. Apalagi dengan maksud, supaya bisa menguasai apa yang telah menjadi hak istri selama ini. Berikut hadis Nabi Muhammad SAW:
"Dari Abu Hurairah yang sampai kepada Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudaranya untuk membalik (agar tumpah isi) nampannya,'" (HR Tirmidzi).
Imam An-Nawawi memahami bahwa perempuan yang dimaksud ialah pihak ketiga yang ingin merebut suami orang lain. Sementara menurut Ibnu Abdil Bar, ulama lain memaknai perempuan dalam hadits ini sebagai salah seorang istri dari pria yang hendak melakukan poligami.
Alangkah baiknya bisa saling menjaga pandangan, hati dan nafsu dari perselingkuhan. Hal ini wajib bagi sang suami dan istri. Penting pula memikirkan perasaan dan perkembangan mental anak-anak mereka.
Penjelasan Hadis, Pelakor Dilarang Minta Menceraikan Istri Sah
Berdasarkan hadis yang disampaikan oleh Nabi SAW tadi, perbedaan pandangan para ulama diangkat oleh Al-Mubarakfuri dalam Syarah Jami' At-Tirmidzi berikut ini:
"Imam An-Nawawi berkata bahwa makna hadits ini adalah larangan bagi seorang perempuan pihak ketiga (selaku pelakor) untuk meminta seorang lelaki menceraikan istrinya agar lelaki itu menalak istrinya dan menikahi perempuan pihak ketiga ini.
Ibnu Abdil Bar memaknai kata 'saudaranya' sebagai istri madu suaminya. Menurutnya, ini bagian dari fiqih di mana seorang perempuan tidak boleh meminta suaminya untuk menceraikan istri selain dirinya agar hanya ia seorang diri yang menjadi istri suaminya.
Kata Al-Hafiz, makna ini mungkin lahir dari riwayat dengan redaksi, 'Janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudaranya.' Sedangkan riwayat yang memakai redaksi syarat, yaitu dengan ungkapan 'Seorang perempuan tidak sepatutnya mensyaratkan perceraian saudaranya untuk membalik tumpah isi nampannya,' jelas bahwa perempuan di sini adalah perempuan yang menjadi pihak ketiga.
Pengertian ini diperkuat dengan redaksi, 'agar ia (pihak ketiga) dapat menikah', yaitu menikah dengan dengan suami saudaranya itu tanpa mensyaratkan lelaki tersebut menceraikan istri-istri sebelum dirinya," (Lihat M Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami'it Tirmidzi, [Beirut: Darul Fikr, tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 369).
Keterangan tersebut menggambarkan bahwa agama mengharamkan upaya perempuan sebagai pihak ketiga, atau pelakor untuk merebut suami orang lain. Apalagi sampai rela memaksa untuk menceraikan istri sah sebelumnya, dan merebut hak demi menguasai harta.
Batasan terkait perkawinan semacam ini, bertujuan untuk menata kehidupan melalui penataan rumah tangga. Pasangan tak harmonis dengan kehadiran pihak ketiga, biasanya lebih banyak mengandung mudarat dan masalah. Tentu saja larangan ini tetap berlaku bagi perempuan, jangan sampai tergoda oleh pria lain.
Jin Perusak Hubungan Suami Istri
Selain faktor dari diri sendiri, unsur rusaknya hubungan juga bisa muncul dari hasutan jin. Bahkan di kalangan mereka, jin yang dianggap sebagai golongan terbaik adalah para jin yang dapat memisahkan seorang suami dari istrinya. Hal ini disampaikan dalam hadis berikut:
"Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengirim pasukannya. Dan yang paling dekat kepada iblis dari pasukannya adalah setan yang bisa membuat fitnah yang paling besar. Salah satu dari mereka datang dan berkata, 'Aku telah berbuat ini dan ini.' Iblis berkata, 'Kamu berlum berbuat apa-apa.' Kemudian datang setan lain dan berkata, ' Aku tidak meninggalkannya sampai aku bisa memisahkan antara dirinya dengan istrinya.' Maka iblis mendekatkan setan tersebut kepada dirinya dan berkata, 'Sebaik-baik (pasukanku) adalah kamu'." (HR Muslim No. 7284)
Benteng diri dalam Islam bisa dilakukan dengan mempertebak keimanan. Apalagi bisa beribadah bersama, tentu semakin merekatkan keharmonisan, serta ada sela waktu luang untuk saling berbagi keluh-kesah.
Setiap pasangan dalam pernikahan tentunya pernah mengalami selisih paham dalam berumah tangga, itu adalah hal yang biasa terjadi. Namun kadang kala ada juga permasalahan yang timbul dalam rumah tangga antara suami istri tanpa alasan yang jelas, ketika berjauhan diliputi rindu namun ketika dekat sekan ingin beradu tinju.
Ada saja hal yang diperdebatkan suami-istri hingga berujung pada perselisihan walaupun awalnya hanya masalah sepela. Apakah kamu pernah merasakan hal tersebut dengan pasanganmu? Apabila iya, maka waspadalah, sebab itu bisa saja ulah dari salah satu setan yang diperintahkan iblis untuk merusak hubungan rumah tangga.
Ia adalah setan Dasim, bala tentara iblis yang memiliki tugas secara khusus untuk merusak hubungan rumah tangga seseorang. Dasim ini menggoda dan mengarahkan setiap pasangan untuk berdebat, memancing emosi suami maupun istri, berprasangka buruk kepada istri ataupun suami, seakan orang yang paling menjengkelkan dan dibenci adalah suami ataupun istri sendiri.
Ustad Adi Hidayat Lc Ma dalam ceramahnya yang diunggah ke akun Youtube Taman Surga TV, menjelaskan bahwa Dasim ini juga yang berperan dalam hubungan pranikah, saat sebelum adanya ikatan akad. Dia akan memancing mancing baik laki-laki atau perempuan untuk berduaan, berdekatan dan berbuat maksiat.
Namun setelah adanya ikatan pernikahan, keadaan justru sebaliknya, setan Dasim ini akan membisikkan ke hati dan menggoda manusia agar terjadi perselisihan dalam rumah tangga.
Ada saja alasan-alasan kecil yang dapat memancing perdebatan seakan hal tersebut merupakan perkara yang besar, ia akan mebisikan kecurigaan, menyulut emosi, dan tujuan akhirnya adalah membuat pasangan bercerai.
rusaknya rumah tangga atau perceraian sangat disukai oleh Iblis. Prestasi terbesar bala tentara Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim yang berujung dengan perceraian. Perhatikan hadits berikut; Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu’. Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR Muslim)
Selain itu Setan Dasim ini juga mengganggu wanita dan memainkan emosi wanita pada saat sedang masa haid ataupun masa kehamilan. Karena itulah, hendaknya bagi kamu yang telah dalam ikatan pernikahan, waspada akan gangguan setan Dasim ini yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga.
Berikut beberapa tanda rumah tangga yang diganggu oleh setan Dasim dilansir dari mstar:
Pasangan suami-istri tidaklah harmonis, mudah tersulut emosi tanpa ada alasan jelas, suami atau istri sering berfikiran negatif, curiga, was was, ketakutan saat pasangan berada di luar rumah sehingga menyulut perselisihan.
Pasangan suami-istri di rumah malas melakukan ibadah
Ibadah tidak khusyuk juga bisa menjadi petanda gangguan Dasim, seperti susah fokus saat ibadah, lupa rakaat salat, memikirkan hal – hal lain ketika ibadah di rumah dan terjadi berulang kali.
Hal yang dapat kita lakukan untuk menghindari pengaruh Setan Dasim:
Apabila ada salah paham dengan pasangan jangan diperpanjang, selesaikan dengan sabar, komunikasi adalah kunci yang penting dalam penyelesaian masalah, dan memohon maaf.
Setiap kali ingin menyantap makanan, jangan lupa untuk membaca doa. Ajarkan anak-anak dan biasakan diri kita sendiri makan dengan mengucap basmallah serta menggunakan tangan kanan.
Apabila tersulut amarah, hendaklah mengucap dua kalimat syahadat, beristighfar serta menyendiri untuk menenangkan hati dan fikiran. Hendaklah pula berwudhu dan kemudian melakukan salat sunah dua rakaat.
Selalu berdoa kepada Allah untuk terhindar dari gangguan setan Dasim
Rasulullah SAW menagajarkan untuk mengkebut kebut terlebih dahulu kasur sehabis ditinggalkan dengan menggunakan sajadah atau sapu lidi, sambil membaca basmallah, Al-Fatihah, ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. InsyaAllah cara ini dapat mengusir setan Dasim yang juga gemar menghuni kamar kosong di dalam rumah yang di tinggal penghuninya.
Suami dan istri hendaklah memperbanyak beribadah dengan tekun menjalankan salat 5 waktu, salat sunah, saolat malam dan mengaji melantunkan dan mengamalkan ayat ayat suci Alquran di rumah
Setiap pundi-pundi harta seharusnya diperoleh dengan jalan yang halal. Dengan cara ini, apa yang diperoleh akan mendapat berkah dari Allah SWT. Namun, banyak orang yang tidak peduli tentang perkara halal dan haram atas harta yang diraihnya.
Godaan duniawi membuat manusia tidak mampu berpuas diri. Rasa kurang membuat seseorang berani melakukan tindakan tidak terpuji, termasuk melakukan cara-cara yang tidak halal. Sesaat, mereka memang terlihat bahagia karena bergelimang harta.
Namun, jangan senang dulu, karena ternyata sering mendapatkan harta dengan cara haram menimbulkan petaka. Mulai dari hilangnya keberkahan harta, hingga siksa api neraka. Lalu apa petaka mengerikan lainnya? Berikut ini dampak bagi orang yang memakan dari uang haram.
1. Hilangnya Keberkahan Dalam Harta
Petaka pertama yang akan terjadi karena kebiasaan sering makan dari uang haram adalah hilangnya keberkahan dalam harta yang dimiliki.
Padahal sebenarnya memiliki harta yang berkah merupakan salah satu keistimewan yang diberikan oleh Allah SWT. Harta yang berkah tersebut akan membawa kebaikan di dunia maupun akhirat.
Sementara itu, mengambil harta yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, baik itu dengan cara riba, korupsi ataupun tindak kejahatan membuat harta tersebut tidak akan mencapai keberkahannya. Allah SWT bahkan akan mencabut keberkahan bagi harta yang di dalamnya terdapat riba. Allah Ta’ala berfirman:
Artinya: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 275)
Bukan hanya hartanya saja yang tidak akan mendapat keberkahan dari Allah. Namun orang yang melakukannya juga akan mendapatkan hukuman yang sangat pedih. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang dihadapannya terdapat bebatuan. Setiap kali ada seseorang yang berenang dalam sungai darah dan ingin hendak keluar dari sungai tersebut, malaikat tersebut langsung melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut sehingga ia terdorong untuk kembali ke tengah sungai. Dan demikian itu seterusnya”. (HR Bukhari)
2. Gelapnya Hati dan Rasa Malas Beribadah
Petaka kedua yang akan diperoleh orang yang sering mempergunakan uang haram adalah hatinya akan diselimuti kegelapan dan rasa malas untuk beribadah. Semakin banyak harta yang dimakan, maka akan semakin gelap pula lah hati sanubari manusia tersebut.
Dalam sebuah hadis Ibnu Abbas RA berkata: “Sesungguhnya setiap kebaikan akan memberi penerang bagi hati, cahaya bagi wajah, kekuatan bagi badan, tambahan dalam rezeki dan kecintaan sesama makhluk. Dan sebaliknya kejelekan akan menghitamkan wajah, kegelapan bagi hati, kelemahan bagi badan, kekurangan dalam rezeki dan kebencian di hati sesama makhluk”.
Cobalah lihat orang-orang yang mendapatkan harta dengan jalan haram, kehidupan mereka tidak akan bahagia dan malah dibenci banyak orang.
Tidak cukup sampai di situ, sebagiannya lagi bahkan ada yang disiksa dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh. Selain itu, ketenangan jiwanya juga akan terganggu karena mendapatkan harta dari jalan yang tidak halal.
3. Terhalangnya Doa Pada Allah
Harta yang haram juga akan membuat doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT menjadi terhalang. Dalam sebuah hadist, Rasul menjelaskan tentang seorang musafir yang terus berdoa kepada Allah.
Saat itu merupakan saat yang mustajab untuk memohon apapun pada Allah. Namun ternyata doa yang dipanjatkan oleh musafir tersebut ditolak oleh Allah karena ia memakan harta yang haram.
Nabi SAW bersabda “Dan makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR Muslim)
Sebuah kepedihan yang amat dalam apabila Allah tidak mengabulkan bahkan menolak doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya.
4. Ditolaknya Sedekah Yang Dilakukannya
Bersedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam agama Islam. Akan tetapi, apabila sedekah tersebut dilakukan dengan menggunakan harta yang haram, maka itu menjadi sebuah kesia-siaan saja.
Nabi SAW pun bersabda, “Allah tidak menerima harta Ghulul” (HR Muslim).
Harta Ghulul diartikan oleh para ahli tafsir sebagai harta yang diambil dengan jalan yang haram dan berkhianat. Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin kita seharusnya memahami bahwa Allah SWT hanya menerima harta yang disedekahkan dengan jalan yang halal.
5. Siksa di Neraka
Petaka yang akan terjadi dari sering makan dari uang haram yang terakhir adalah tentunya siksa di neraka kelak. Keterangan tersebut didapat dari penjelasan Nabi SAW lewat hadist riwayat Tirmidzi yang berbunyi,
“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas untuk menyentuhnya” (HR. Tirmidzi dan dihasankan).
Itulah lima petaka yang ditimbulkan dari seringnya memakan uang haram. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim seharusnya kita tidak mudah terperdaya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia sehingga membuat gelap mata.
Tetaplah bersyukur kepada Allah atas rezeki yang telah dilimpahkan dan tetaplah mencari rezeki tersebut lewat jalan yang halal.
Referensi : Balasan Bagi Orang yang Makan Uang Haram
Lima Petaka Akibat Sering Makan Uang Haram. Setiap pundi-pundi harta seharusnya diperoleh dengan jalan yang halal. Dengan cara ini, apa yang diperoleh akan mendapat berkah dari Allah SWT. Namun, banyak orang yang tidak peduli tentang perkara halal dan haram atas harta yang diraihnya.
Godaan duniawi membuat manusia tidak mampu berpuas diri. Rasa kurang membuat seseorang berani melakukan tindakan tidak terpuji, termasuk melakukan cara-cara yang tidak halal. Sesaat, mereka memang terlihat bahagia karena bergelimang harta.
Namun jangan senang dulu, karena ternyata sering mendapatkan harta dengan cara haram menimbulkan petaka. Mulai dari hilangnya keberkahan harta, hingga siksa api neraka. Lalu apa petaka mengerikan lainnya? Berikut informasi selengkapnya.
1. Hilangnya Keberkahan dalam Harta
Petaka pertama yang akan terjadi karena kebiasaan sering makan dari uang haram adalah hilangnya keberkahan dalam harta yang dimiliki. Padahal sebenarnya memiliki harta yang berkah merupakan salah satu keistimewan yang diberikan oleh Allah SWT. Harta yang berkah tersebut akan membawa kebaikan di dunia maupun akhirat.
Sementara itu, mengambil harta yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, baik itu dengan cara riba, korupsi ataupun tindak kejahatan membuat harta tersebut tidak akan mencapai keberkahannya. Allah SWT bahkan akan mencabut keberkahan bagi harta yang di dalamnya terdapat riba. Allah Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti. Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya kepada Allah. Orang-orang yang kembali (memakan riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya”. (Al Baqarah 275)
Bukan hanya hartanya saja yang tidak akan mendapat keberkahan dari Allah. Namun orang yang melakukannya juga akan mendapatkan hukuman yang sangat pedih. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang dihadapannya terdapat bebatuan. Setiap kali ada seseorang yang berenang dalam sungai darah dan ingin hendak keluar dari sungai tersebut, malaikat tersebut langsung melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut sehingga ia terdorong untuk kembali ke tengah sungai. Dan demikian itu seterusnya”. (HR Bukhari)
2. Gelapnya Hati dan Rasa Malas Beribadah
Petaka kedua yang akan diperoleh orang yang sering mempergunakan uang haram adalah hatinya akan diselimuti kegelapan dan rasa malas untuk beribadah. Semakin banyak harta yang dimakan, maka akan semakin gelap pula lah hati sanubari manusia tersebut.
Dalam sebuah hadist Ibnu Abbas r.a berkata : “Sesungguhnya setiap kebaikan akan memberi penerang bagi hati, cahaya bagi wajah, kekuatan bagi badan, tambahan dalam rezeki dan kecintaan sesama makhluk. Dan sebaliknya kejelekan akan menghitamkan wajah, kegelapan bagi hati, kelemahan bagi badan, kekurangan dalam rezeki dan kebencian di hati sesama makhluk”.
Cobalah lihat orang-orang yang mendapatkan harta dengan jalan haram, kehidupan mereka tidak akan bahagia dan malah dibenci banyak orang. Tidak cukup sampai di situ, sebagiannya lagi bahkan ada yang disiksa dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh. Selain itu, ketenangan jiwanya juga akan terganggu karena mendapatkan harta dari jalan yang tidak halal.
3. Terhalangnya Doa Pada Allah
Harta yang haram juga akan membuat doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT menjadi terhalang. Dalam sebuah hadist, Rasul menjelaskan tentang seorang musafir yang terus berdoa kepada Allah. Saat itu merupakan saat yang mustajab untuk memohon apapun pada Allah. Namun ternyata doa yang dipanjatkan oleh musafir tersebut ditolak oleh Allah karena ia memakan harta yang haram.
Nabi SAW bersabda “… Dan makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR Muslim)
Sebuah kepedihan yang amat dalam apabila Allah tidak mengabulkan bahkan menolak doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya.
4. Ditolaknya Sedekah Yang Dilakukannya
Bersedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam agama Islam. Akan tetapi, apabila sedekah tersebut dilakukan dengan menggunakan harta yang haram, maka itu menjadi sebuah kesia-siaan saja.
Nabi SAW pun bersabda s “Allah tidak menerima harta Ghulul” (HR Muslim).
Harta Ghulul diartikan oleh para ahli tafsir sebagai harta yang diambil dengan jalan yang haram dan berkhianat. Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin kita seharusnya memahami bahwa Allah SWT hanya menerima harta yang disedekahkan dengan jalan yang halal.
5. Siksa di Neraka
Petaka yang akan terjadi dari sering makan dari uang haram yang terakhir adalah tentunya siksa di neraka kelak. Keterangan tersebut didapat dari penjelasan Nabi SAW lewat hadist riwayat Tirmidzi yang berbunyi “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas untuk menyentuhnya” (HR Tirmidzi dan dihasankan).
Demikianlah informasi mengenai lima petaka yang ditimbulkan dari seringnya memakan uang haram. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim seharusnya kita tidak mudah terperdaya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia sehingga membuat gelap mata. Tetaplah bersyukur kepada Allah atas rezeki yang telah dilimpahkan dan tetaplah mencari rezeki tersebut lewat jalan yang halal.
Sifat sombong merupakan sifat buruk yang bisa membawa seseorang ke dalam kesesatan. Merasa diri sendiri lebih baik daripada orang lain merupakan sifat sombong yang dibenci Allah SWT. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa sombong merupakan sifat penolakan terhadap kebenaran dan sifat meremehkan orang lain. Apakah orang sombong bisa masuk surga? Namun, Buya Yahya mengatakan bahwa bukan berarti seseorang yang sombong semasa hidupnya akan menetap di neraka selama-lamanya.
Bagi umat muslim yang memiliki sifat sombong, menurut Buya Yahya masih dapat menikmati surga kelak. "Akan disiksa dulu (di neraka), kalau sudah habis dosa sombongnya tadi, nanti masuk surga," kata Buya Yahya dalam kanal YouTube miliknya. Walaupun demikian, Buya Yahya mengatakan bahwa seseorang tetap harus waspada dan jangan menganggap remeh perbuatan dosa termasuk sombong.
Buya Yahya mengatakan bahwa perbuatan sombong termasuk ke dalam dosa besar dan orang sombong akan ditempatkan di dasar neraka jahanam. Buya Yahya mengatakan bahwa bukan berarti seseorang yang sombong semasa hidupnya akan menetap di neraka selama-lamanya. Bagi umat muslim yang memiliki sifat sombong, menurut Buya Yahya masih dapat menikmati surga kelak.
"Akan disiksa dulu (di neraka), kalau sudah habis dosa sombongnya tadi, nanti masuk surga," kata Buya Yahya dalam kanal YouTube miliknya. Walaupun demikian, Buya Yahya mengatakan bahwa seseorang tetap harus waspada dan jangan menganggap remeh perbuatan dosa termasuk sombong.
Buya Yahya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki sifat sombong kemungkinan akan sombong juga terhadap Allah SWT. Sombong terhadap Allah SWT berarti keluar dari iman atau bisa dikatakan murtad. Murtad merupakan satu dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
"Jangan ngentengin kesombongan, bahaya sekali," ucap Buya Yahya. Maka dari itu, Buya Yahya menyarankan agar seseorang berusaha membersihkan hatinya dari segala sifat yang dibenci Allah SWT seperti sifat sombong. Allah SWT adalah Maha Pengampun. Maka, apapun perbuatan dosa manusia kecuali murtad akan diampuni oleh Allah SWT. "Maka siapapun yang pernah melakukan kesalahan, segera mohon ampun kepada Allah SWT. Sungguh, Allah SWT Maha Pengampun," tutup Buya Yahya.
Ilustrasi : Orang sombong akan ditempatkan di dasar neraka jahanam (Buya Yahya)
Tidak Sepantasnya Manusia Menyombongkan Diri. Kesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam :
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]
Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.
SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN
Sebab-sebab kesombongan, antara lain:
1.‘Ujub (Membanggakan Diri)
Ketahuilah wahai hamba yang bertawadhu’ –semoga Allah lebih meninggikan derajat bagimu-, bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampai dia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya”. [Silsilah Shahihah, no. 1802]
“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat”. [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]
2.Merendahkan Orang Lain.
Ketahuilah wahai hamba (Allah), bahwa orang yang tidak meremehkan manusia, tidak akan takabbur terhadap mereka. Sedangkan meremehkan seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan sudah cukup untuk menjadikan sebuah dosa.
3. Suka Menonjolkan Diri (Taraffu).
Ketahuilah wahai hamba yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa jiwa manusia itu menyukai ketinggian di atas sesamanya, dan dari sini muncul kesombongan.
Oleh karena itu, barangsiapa memperhatikan Al-Qur’an niscaya akan mendapati bahwa orang-orang yang bersombong pada tiap-tiap kaum adalah para pemukanya, yaitu orang-orang yang memegang kendali berbagai urusan. Allah Ta’ala berfirman tentang suku Tsamud, kaum Nabi Shalih Alaihissalam.
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka (yang dianggap lemah-red) menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. [al-A’râf/7:75-77]
Dan Allah Ta’ala memberitakan tentang kaum Nabi Syu’aib Alaihissalam:
“Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Syu’aib berkata: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” [Al-A’raaf/7: 88]
Namun orang yang berakal akan berlomba pada ketinggian yang tetap lagi kekal, yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan kepadaNya. Dan dia meninggalkan ketinggian sementara yang akan binasa, yang akan diikuti oleh kemurkaan Allah dan kemarahanNya, kerendahan hamba, kesibukannya, jauhnya dari Allah dan terusirnya (dari rahmat) Allah. Inilah ketinggian yang tercela, yaitu sikap melewati batas dan takabbur di muka bumi dengan tanpa kebenaran. Allah Ta’ala berfirman.
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. [Al-Qashash/28: 83]
Adapun ketinggian yang pertama (yakni ketinggian yang tetap lagi kekal di akhirat) dan bersemanagat untuk meraihnya, maka itu terpuji. Allah Ta’ala berfirman:
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.[Al-Muthaffifin/83: 26]
Maka disyari’atkan berlomba-lomba untuk (meraih) derajat-derajat tinggi di akhirat yang kekal, dan berusaha meraih ketinggian pada tingkatan-tingkatannya, serta bersemangat untuk itu dengan berusaha melakukan sebab-sebabnya. Dan hendaklah seseorang tidak merasa puas dengan kerendahan, padahal dia mampu meraih ketinggian.
4. Mengikuti Hawa Nafsu.
Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kesombongan itu muncul dari sebab mengikuti hawa nafsu, karena memang hawa nafsu itu mengajak menuju ketinggian dan kemuliaan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” [Al-Baqarah/2: 87]
BAHAYA KESOMBONGAN
Ketahuilah wahai hamba Allah yang hatinya dihiasi dengan tawadhu’ (rendah hati) bahwa bencana kesombongan itu sangat besar, orang-orang istimewa binasa di dalamnya, dan jarang orang yang bebas darinya, baik para ulama’, ahli ibadah, atau ahli zuhud. Bagaimana bencana kesombongan itu tidak besar, sedangkan kesombongan itu:
1. Dosa Pertama Yang Dengannya Allah Azza Wa Jalla Dimaksiati.
Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis laknatullah dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa jalla. Kesombongan itu menyeret Iblis untuk menjadikan takdir sebagai alasan terus-menerus sombong. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. [Al-Baqarah/2: 34]
2. Kesombongan Merupakan Kawan Syirik Dan Penyebabnya.
Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla menggabungkan antara kekafiran dengan kesombongan di dalam kitabNya yang mulia, Dia Azza wa Jalla berfirman:
“Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”. [Shaad/38: 73-74]
”(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”. [Az-Zumar/39: 59]
Karena barangsiapa takabbur dari patuh kepada al-haq (kebenaran) –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat tangan seorang anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sesungguhnya takabburnya itu adalah kepada Allah, karena Allah adalah Al-Haq, perkataanNya adalah haq, agamaNya adalah haq, al-haq merupakan sifatNya, dan al-haq adalah dariNya dan untukNya. Maka jika seorang hamba menolak al-haq, takabbur dari menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allah dan takabbur terhadapNya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, dan meremehkannya.
3. Orang-Orang Yang Sombong Tempat Kembalinya Adalah Neraka.
Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana di dalam surat Al-Ghafir ayat 76 dan surat Az-Zumar ayat 72. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. [Az-Zumar/39: 72]
Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. [Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499]
Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)”. [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd, no. 151]
4. Kesombongan Merupakan Tirai Penghalang Masuk Surga.
Oleh karena itu Allah mengusir Iblis dari surga, Dia Azza wa Jalla berfirman:
“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya!”. [Al-A’râf/7: 13]
Kesombongan itu menjadi tirai penghalang masuk surga karena menghalangi seorang hamba dari akhlaq orang-orang beriman. Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Tidak ada sifat yang tercela kecuali dia memilikinya.
5. Allah Tidak Mencintai Orang-Orang Yang Sombong.
Barangsiapa yang memiliki sifat-sifatnya seperti ini, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, jauh dari rahmatNya, Allah memurkainya dan tidak mencintainya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. [An-Nahl/16: 22-23]
6. Kesombongan Merupakan Sebab Su-ul Khatimah (Keburukan Akhir Kehidupan).
Oleh karena itu Allah memberitakan bahwa orang yang sombong dan sewenang-wenang adalah orang-orang yang Allah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman. Sehingga akhir kehidupannya buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”. [Al-Mukmin/40: 35]
7. Kesombongan Merupakan Sebab Berpaling Dari Ayat-Ayat Allah.
Yang demikian itu karena orang yang sombong tidak bisa melihat ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan berbicara dengan dalil-dalil yang pasti. Juga karena kesombongan itu menutupi kedua matanya, sehingga dia tidak melihat kecuali dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)” [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani]
Referensi Sebagai Berikut ini ; Tidak Sepantasnya Manusia Menyombongkan Diri
6 Bahaya Sifat Sombong Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Sombong merupakan watak dan sifat manusia yang merasa agung atau mengagungkan dirinya sendiri serta menganggap rendah dan kurang yang lainnya. Meski sifat sombong merupakan fitrah yang sudah muncul sejak manusia lahir, akan tetapi ada baiknya seorang manusia diajarkan tentang adab dan tata krama, seperti bersikap tawadhu (rendah diri), saling menerima dan memaafkan.
Sifat sombong juga biasanya disertai dengan sifat riya (pamer), karena merasa dirinya lebih dari segalanya. Padahal dalam Islam, riya masuk dalam musyrik kecil.
Kenapa bisa musyrik, karena setiap kelebihan yang sejatinya dari Allah, akan tetapi malah diakuisisi secara sepihak oleh manusia itu sendiri. Jika ia mengingat Tuhannya sebagai pemilik segalanya, maka ia tidak akan sombong dan riya.
Ada beberapa sifat sombong yang sangat berbahaya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Pertama, dibenci Allah swt dan Rasulullah saw.
llah swt berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ” (QS Luqman : 18).
Rasulullah saw juga pernah bersabda yang artinya, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim).
Semua makhluk di alam semesta diciptakan oleh Allah sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya. Hal tersebut menurut Allah sangat baik dan indah. Dan bagi manusia selalu ada hikmah-Nya. Kenapa manusia diciptakan berbeda-beda, kenapa harus ada jin, malaikat, hewan, tumbuhan, dan lain-lain, agar sesama makhluk Allah saling mengenal dan mengagungkan Allah swt.
Akan tetapi ketika kita merasa lebih mulia dari yang lainya, padahal sejatinya kemuliaan yang kita miliki bersumber dari Allah, dan Allah menginginkan kemulian tersebut untuk mengagungkan dan memuji-Nya, maka niscaya Allah akan membenci diri kita.
Kedua, diabaikan Allah swt.
Di dalam sebuah hadis, Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya, “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh-Nya, dan baginya adzab yang pedih, (yaitu) orang yang sudah tua berzina, penguasa pendusta dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).
Agama Islam mengajarkan untuk tidak menyombongkan diri dari segala keadaan dan peristiwa, seperti sombong dalam keadaan kaya dan miskin. Lalu pertanyaannya, apakah orang miskin bisa sombong? Jawabannya sangat bisa. Karena sombong selalu mengikuti hawa nafsu manusia.
Kebanyakan orang miskin yang sombong timbul dalam dirinya rasa iri hati, karena tidak mampu mencapai sesuatu. Bukannya selalu bersyukur dan menerima, justru malah selalu suudzan dan selalu mengeluh.
Contohnya, jika ada tetangga sudah membeli TV baru, jika orang yang tidak mampu tersebut hatinya busuk ia akan berburuk sangka, seperti “Beli TV baru paling juga uangnya hasil korupsi, mending kita lebih mulia uangnya hasil kerja keras sendiri dan lebih nyaman”. Meskipun ini hanya contoh, akan tetapi mungkin saja di luar sana ada yang menemukan kasus seperti ini, atau bahkan diri kita sendiri.
Ketiga, menjadi makhluk yang hina.
Allah swt berfirman yang artinya, “Orang-orang yang bersikap sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar, mereka akan Aku palingkan dari kebenaran sehingga mereka tidak dapat memahami bukti-bukti kekuasaan-Ku. Sekalipun orang-orang yang sombong itu menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Ku, mereka tetap tidak mau beriman. Jika mereka melihat jalan sesat justru mereka mau mengikutinya. Begitulah karakter orang-orang yang sombong, mereka telah mendustakan agama Kami, dan mereka telah melalaikan bukti-bukti kekuasan Kami.” (QS Al-A’raf : 146).
Orang yang sombong seringkali tidak akan pernah mau kalah dan mengalah. Andaikata ada yang mengunggulinya, ia akan bersikap sinis dan berlomba-lomba untuk melebihi yang lain lagi, atau bahkan bisa berbohong, mereka-reka cerita dan peristiwa yang tujuannya mengangkat dirinya.
Itu semua disebabkan karena hatinya telah mati. Jika hati sudah mati, sangat sulit akan menerima masukan dan nasehat dari saudaranya. Sebenarnya sangat kasihan dengan orang seperti ini, karena sejatinya ia sedang menggali lobang kehinaan dari dirinya sendiri.
Keempat, hatinya terkunci.
Allah swt akan menutup rapat pintu hati manusia yang bersikap sombong, sehingga ia tidak akan lagi mampu menerima kebenaran, sebagaimana tertulis di dalam dalil berikut:
“…….demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS Al-Mukmin : 35).
Seperti yang ada di atas, orang yang sombong sangat sulit untuk menerima kebenaran jika hatinya telah mati dan dikunci oleh Allah swt. Jalan satu-satunya ia harus benar-benar bertaubat kepada-Nya, serta harus mempelajari hikmah tentang kepemilikan semu dan kepemilikan yang sejati.
Kelima, menjadi pengikut Iblis.
Allah swt berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah : 34).
Peristiwa ini menjadi penanda bahwa makhluk yang mulia bisa menjadi hina disebabkan karena kesombongannya. Sombong tidak hanya memandang manusia yang rendah, manusia yang mulia juga bisa menjadi lebih rendah jika memiliki sifat sombong. Contoh lain kisah wali Allah Syekh Barsiso yang konon memiliki santri yang bisa terbang semua, kemudian menjadi hina berlumuran dosa akibat memiliki sifat sombong dalam hatinya. Atau juga kisah dua malaikat bernama Harut dan Marut yang sombong kepada Allah, kemudian dihukum di atas laut sampai hari kiamat.
Keenam, menjadi penghuni neraka.
Orang yang sombong akan dibenci Allah swt., sehingga menjadi pengikut iblis yang mendekam selamanya di neraka, sebagaimana tertulis di dalam sabda Rasulullah saw. berikut,
”Para penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, kasar lagi sombong.” (HR Bukhari dan Muslim).
Maksud hadits tersebut menjadi penanda bahwa orang yang memiliki sifat sombong bisa menjalar menjadi sifat yang buruk lainnya, seperti menjadi riya, iri dengki, dendam, sum’ah, musyrik dan lain sebagainya.
Referensi Sebagai Berikut ini ; 6 Bahaya Sifat Sombong Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
6 Bahaya Kesombongan menurut Islam, Wajib Dihindari. Memiliki sifat sombong tak hanya merugikan urusan dunia tapi juga akhirat. Dalam Al-Quran dan hadis, larangan untuk bersifat sombong pun sudah disampaikan. Sayangnya, terkadang kita tak sengaja atau bahkan lupa dan meremehkan peringatan tersebut. Hal ini tentu berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Supaya kita bisa menghindari sifat tidak baik ini, baca lima bahaya sifat sombong menurut Islam berikut ;
1. Dibenci Allah SWT dan Rasulullah SAW
Sombong adalah sifat yang dibenci Allah SWT dan Rasulullah SAW. Hal itu disampaikan Allah SWT dalam firmannya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman Ayat 18).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda dalan hadisnya tentang sifat buruk ini. “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H. R. Muslim).
2. Diabaikan Allah pada hari kiamat
6 Bahaya Kesombongan menurut Islam, Wajib Dihindariilustrasi asing (unsplash.com/Paola Chaaya)
Di dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh-Nya, dan baginya adzab yang pedih: (yaitu) Orang yang sudah tua berzina, penguasa pendusta dan orang miskin yang sombong.” (H. R. Muslim)
Hadis yang Rasulullah SAW sampaikan di atas, merupakan peringatan agar kita menghindari sifat sombong.
3. Dipalingkan dari kebenaran
Allah tidak main-main soal membenci manusia yang sombong, karena sombong memang sifat yang tak boleh dimiliki oleh siapapun di muka Bumi ini. Allah bahkan telah berfirman dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 156 berikut:
"Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar." (QS. Al-A'raf:156)
Tak hanya itu, orang sombong juga akan dikunci mata hatinya sehingga ia tak akan bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah sebagaimana orang-orang yang beriman.
"Dan demikianlah Allah mengunci hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. Al-Mu'min:35)
4. Termasuk pengikut iblis
Kita mungkin telah mengetahui salah satu surat dalam Al-Quran yang menceritakan betapa sombongnya iblis karena tidak mau bersujud kepada Nabi Adam saat diperintah oleh Allah. Ya, surat Al- Baqarah ayat 34.
Karena rasa sombong iblis itulah, yang membuat Allah mengeluarkan iblis dari surga. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah:34).
5. Tidak akan masuk surga
6 Bahaya Kesombongan menurut Islam, Wajib Dihindariilustrasi surga (unsplash.com/Kaushik Panchal)
Kekasih Allah yakni Rasulullah SAW pun turut menyampaikan hadis tentang orang yang sombong. Bahkan Rasulullah menyebut orang sombong tidak akan masuk surga.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab,“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
6. Menjadi penghuni neraka
6 Bahaya Kesombongan menurut Islam, Wajib Dihindariilustrasi api neraka (unsplash.com/Ricardo Gomez Angel)
Tentu kita menginginkan surga sebagai tempat kita pulang. Oleh sebab itu, penting sekali untuk menjauhi sifat sombong ini. Bahkan, Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam salah satu hadisnya berikut:
"Para penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, kasar, lagi sombong" (HR. Bukhari dan Muslim)
Tiada yang pantas kita sombongkan di dunia ini, karena semua manusia adalah sama di mata Allah SWT, yang membedakan adalah iman dan amal perbuatannya. Semoga kita selalu ingat untuk menjauhi salah satu sifat yang dibenci Allah
Referensi : 6 Bahaya Kesombongan menurut Islam, Wajib Dihindari