This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 01 Agustus 2022

Kisah Orang Munafik Bersumpah Atas Nama Allah Swt di Balik Turunnya Surat At-Taubah

Kisah Orang Munafik Bersumpah Atas Nama Allah di Balik Turunnya Surat At Taubah. perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun ke 9 Hijriyah adalah masa-masa tersulit bagi umat Islam saat itu. Umat Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam harus berjuang berperang melawan munafik, dan ternyata salah satunya ada di dalam kelompok Rasulullah itu sendiri.

Salah satu sahabat Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam, Umair bin Sa’ad yang juga seorang Anshar dikenal sebagai ahli ibadah. Kala itu Umair usianya masih sangat belia, namun ia merupakan sosok pemberani selalu di garis terdepan ketika salat berjamaah dan perang, sebab berharap jika dirinya gugur akan mati syahid.

Saat itu Umair usianya masih 10 tahun dan juga sudah menjadi anak yatim, serta bertepatan dengan persiapan Perang Tabuk. Nabi Muhammad menyerukan kepada seluruh umat Islam di Madinah untuk berperang.

Selain itu, Rasulullah juga meminta tolong kepada umat supaya menyumbang apa saja yang dimiliki untuk bekal melawan pasukan Romawi. Padahal saat itu keadaan sedang genting, atau musim paceklik. Namun umat Islam pun dengan suka rela dan ikhlas menyumbangkan apa yang dimiliki, demi memperjuangkan Islam.

Di saat umat muslim tengan bergotong-royong mendukung persiapan Perang Tabuk, ada sekelompok kaum munafik ingin memecah-belah pasukan muslim dengan cara menyebarkan berita bohong, serta provokasi. Salah satunya Julas bin Suwaid, ia adalah orangtua asuh Umair sejak ayah sahabat Rasulullah itu wafat.

Ketika semua sedang sibuk mempersiapakan Perang Tabuk, tiba-tiba Julas mengatakan sesuatu hal yang tidak pantas tentang Nabi Muhammad. Julas memang sudah memeluk Islam, namun ia jadi mualaf hanya karena terbawa arus lingkungan karena penduduk Madinah banyak yang memeluk Islam dan hijrah bersama Rasulullah.

Mendengar itu semua Umair kesal, tapi juga bimbang. Apakah perbuatan Julas itu harus dilaporkan kepada Nabi Muhammad atau memilih diam saja, karena bagaimana pun Julas sudah dirinya anggap seperti ayah sendiri.

Akhirnya Umair melaporkannya kepada Nabi Muhammad, dan Julas pun diminta untuk mengklarifikasi ucapannya itu karena telah berbicara tidak baik di belakang Rasulullah. Sayangnya, Julas malah menyangkal semua itu dan ia pun bersumpah atas nama Tuhan bahwa ia memang tidak berbohong.

Kala itu posisi Umair terpojok karena ia dianggap oleh sebagian orang karena telah berdusta. Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin menuturkan, turunlah wahyu Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad melalui Surah At Taubah

“Dia berkata ‘seandainya orang ini benar, sungguh kita lebih buruk dari pada keledai’. Ucapan itu dilaporkan oleh Umair bin Sa'ad kepada Rasulullah, akan tetapi Julas bersumpah bahwa ia tidak berkata demikian, maka Allah menurunkan Firman-nya Surat At-taubah ayat 74,”

هِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.".

Referensi sbb : Kisah Orang Munafik Bersumpah Atas Nama Allah Swt di Balik Turunnya Surat At-Taubah











Kisah Kaum Munafik yang Memperlihatkan Keislamannya di Hadapan Rasulullah SAW

Kisah Kaum Munafik yang Memperlihatkan Keislamannya di Hadapan Rasulullah SAW.  Sebuah kisah diceritakan oleh Ibnu Abbas RA.

Pada suatu ketika, ada dari kalangan kaum munafiqun yang datang kepada Rasulullah SAW.

Tersebutlah namanya sebagai Al-Akhnas bin Syariq At-Tsaqafy.

Ia datang menghadapi Rasulullah SAW untuk mempertontonkan keislamannya sambil mencela sahabat Khubaib dan kawannya.

Terlebih lagi ia juga membicarakan aibnya, padahal justru mereka yang telah bejuang bersama Rasulullah dengan jalan berdakwah ke masyarakat dan bahkah wafat di medan peperangan A'Raji.

Saat itulah, tiba-tiba turun Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 204-205, yang menceritakan hal ihwal kedatangan Al-Akhnas tersebut.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

Artinya;"Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dipersaksiakannnya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahala ia adalah penantang yang paling keras."

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ

Artinya;

"Apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." (Surat Al-Baqarah ayat 204-205)

Sebagaimana tafsir riwayat Ibnu 'Abbas RA, ayat ini khusus membantah mengenai cerita dan celaan dari Al-Akhnas dan justru sebaliknya memuji Al-Khubaib beserta bala tentaranya yang telah nyata menunjukkan perjuangannya bersama Rasulullah SAW, bahkan mereka rela mati sahid karenanya.

Namun, jika menilik dari zhahir ayat ini, sebenarnya Rasulullah SAW bersama sahabar waktu itu hampir saja terbujuk oleh perkataan dan bujuk rayu Al-Akhnas sehingga hampir saja mencela khubaib dan bala tentaranya, tak lain penyebabnya adalah;

1. Al-Akhnas ini pandai dalam memainkan situasi dan kata-kata saat itu.

Ia memang seorang orator di kalangannya sehingga kata-kata yang disampaikan seorlah mampu membuat takjub dan membius Rasulullah SAW.

2. Bahkan di dalam riwayat Tafsir As-Suddy, kedatangan Al-Akhnas ini bukan datang semata berbekal orang, ia datang lengkap dengan menampakkan simbol-simbol Islam. Padahal sejatinya tidak dengan batinnya.

Ibnu Abbas juga menggambarkan sosok al-Akhnas adalah pencari aib, apakah Khubaib tidak memiliki aib ?

Sebagaimana sosok manusia pada umumnya, sudah pasti ada, karena Khubaib bukanlah pribadi yang ma'shum (terjaga).

Namun, betapa manusia yang punya aib, aib khubaib adalah bagian yang diampuni oleh Allah SWT disebabkan ia justru sudah menunjukkan amal perbuatan dalam mencari keridhoan Allah SWT.

Aib diri dikalahkan oleh gerak mencari keridhoan itu, sehingga ia benar-benar mendapatkannya, tetapi tidak dengan Al-Akhnas. Allah SWT menggambarkan ciri khas Al-Akhnas ini sebagai;

1. Orang yang keras sekali wataknya dan suka menebar permusuhan, bahkan ke hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallah yang saat itu beliau merupakan pemegang hak ri'ayah (penjagaan dan kepemimpinan) atas kaum muslimin.

Bagaimana mungkin ia bisa disebut beriman sementara ia selaku penentang paling keras (aladdul khisham) bagi pemegang ri'ayahnya (pemerintahnya)?

2. Mereka suka berbuat kerusakan. Dalam ayat mereka digambarkan sebagai suka berbuat merusak terhadap tanama (al-hartsa) dan binatang ternak (al-nasla).

Lafadh al-Nasla terkadang juga diartikan sebagai generasi keturunan. Maksudnya, mereka berusaha merusak generasi keturunan (generasi bangsa) dengan menciptakan opini-opini yang dapat merusak pemahaman mereka.

Jika dikaitkan dengan keturunan, maka bisa jadi tindakan merusak ini adalah karena mereka menyebarkan tradisi yang menyimpang dari nila-nilai adab, seperti suka menyebarkan kata bunuh, penggal, umpatan-umpatan tidak beretika, dan lain sebagainya.

Sebagai jawaban terhadap tabiat dari al-Akhnas ini, Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Baqarah ayat 206;

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Artinya;

"Saat dikatakan kepadanya (Al-Akhnas), 'Bertakwalah kepada Allah,' bangkitlah kesombongannya (Al-Akhnas) yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya." (Surat Al-Baqarah ayat 206).

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Semoga kita diselamatkan dari kaum bermuka dua sebagaimana Al-Akhnas.

Referensi : Kisah Kaum Munafik yang Memperlihatkan Keislamannya di Hadapan Rasulullah SAW.

















2 Dosa Ini Tak Diampuni di Malam Nisfu Syaban, Apa Saja? Berikut Penjelasannya (Syekh Ali Jaber)

Bulan Syaban adalah bulan yang penuh rahmat dan keberkahan. Banyak amalan yang dianjurkan dibaca pada malam Nisfu Syaban. Malam Nisfu Syaban adalah malam tanggal 15 bulan Syaban atau separuh dari bulan Syaban. Selain itu, yang perlu diketahui, jika malam Nisfu Syaban juga termasuk malam sa'ah ijabah doa. Pada bulan Syaban, Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Akan tetapi, ada dua dosa yang tidak diampuni yaitu perbuatan musyrik (menyekutukan Allah) dan perbuatan munafik yang menyebabkan perpecahan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

يطَّلِعُ اللهُ إلى جَمِيْعِ خَلقِه ليلةِ النِّصفِ مِن شعبانَ فيغفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِه إلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشاحِنٍ

Artinya: “Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan.” (HR Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal). walaupun kualitas hadits di atas dha’if (lemah), namun masih tetap bisa diamalkan karena terkait dengan fadhâilul a’mâl. Kedha’ifannya juga tidak terlalu parah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Taqrîb-nya. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti di malam Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain.

Selain itu, lanjut Sayyid Muhammad, dosa-dosa seperti ini adalah dosa-dosa yang patut dijauhi baik di malam yang penuh ampunan seperti Nisfu Syaban, bulan Ramadhan, asyhurul hurum, serta malam-malam ampunan yang lain. Kedha’ifannya juga tidak terlalu parah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Taqrîb-nya. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti di malam Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain.

Selain itu, lanjut Sayyid Muhammad, dosa-dosa seperti ini adalah dosa-dosa yang patut dijauhi baik di malam yang penuh ampunan seperti Nisfu Syaban, bulan Ramadhan, asyhurul hurum, serta malam-malam ampunan yang lain. “Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling berat?’ Kemudian Rasulullah menjawab, ‘menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (syirik).’ Kemudian Abdullah berkata, ‘Apalagi wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi wahai Rasul?’ ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”

Kedha’ifannya juga tidak terlalu parah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Taqrîb-nya. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti di malam Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain. Selain itu, lanjut Sayyid Muhammad, dosa-dosa seperti ini adalah dosa-dosa yang patut dijauhi baik di malam yang penuh ampunan seperti Nisfu Syaban, bulan Ramadhan, asyhurul hurum, serta malam-malam ampunan yang lain. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Ibnu Mas‘ud yang artinya:

“Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling berat?’ Kemudian Rasulullah menjawab, ‘menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (syirik).’ Kemudian Abdullah berkata, ‘Apalagi wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi wahai Rasul?’ ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”

Pendapat serupa juga diungkapkan Alm Syekh Ali Jaber alam videonya yang berjudul: 'Malam Nisfu Syaban semua dosa di ampuni kecuali 2 orang ini | syekh ali jaber' yang diunggah kanal Youtube Ferry M.A pada 5 Feruari 2022 menjelaskan soal malam Nisfu Syaban. Syekh Ali Jaber membenarkan malam Nisfu Syaban merupakan malam pengampunan atau malam maghfirah. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW, kata dia, di malam Nisfu Syaban, Allah mengampuni semua dosa-dosa hambanya kecuali 2 orang. "Yang pertama ialah yang berbuat syirik dan yang kedua orang pemarah atau pendendam atau orang yang suka menyebar fitnah, mengadu domba menyebar isu. Perbuatannnya tidak sesuai malah dia memfitnah supaya umat terpecah," kata Syekh Ali Jaber. 

Referensi : 2 Dosa Ini Tak Diampuni di Malam Nisfu Syaban, Apa Saja? Berikut Penjelasannya (Syekh Ali Jaber)








Apakah Dosa Menipu Orang Lain Diampuni Allah SWT (Ustadz Abdul Ka'afi)

Perbuatan menipu menjadi salah satu penyakit yang merusak hubungan antar manusia. Perbuatan ini akan mengakibatkan hilangnya rasa saling mempercayai antara satu sama lain.

Tentu, Allah SWT tidak menyukai apabila hamba-Nya melakukan penipuan terhadap sesama manusia. Lalu apakah dosa ketika melakukan penipuan akan diampuni oleh Allah SWT?

Dalam Cahaya Hati Indonesia yang ditayangkan Inews TV, Ustadz Abdul Ka'afi menjelaskan apabila ada seseorang yang melakukan penipuan, maka termasuk dalam dosa yang besar dan tergolong kaum munafik. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa orang yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua.

"Memang menipu itu adalah perbuatan dosa besar karena salah satu munafik. Nabi Muhammad SAW bersabda sesungguhnya manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua," ucap Ustadz Abdul Ka'afi, Rabu (23/3/2022).

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Ka'afi mengatakan bahwa dosa menipu orang lain dapat diampuni oleh Allah. Namun, ada persyaratannya yaitu harus tobat secara sungguh-sungguh.

"Jelas Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita asalkan yang pertama kita Taubat Nasuha seperti tertuang dalam surat At Tahrim ayat 8," ujarnya.

Kemudian, cara berikutnya agar dosa diampuni oleh Allah menurut Ustadz Abdul Ka'afi adalah beramal saleh. Karena dengan melakukan amal saleh dapat menggugurkan dosa.

"Kemudian setelah kita bertobat tidak mengulanginya lagi perbanyaklah amal saleh. Karena dengan amal saleh bisa menggugurkan dosa," kata Ustadz Abdul Ka'afi.

Referensi : Apakah Dosa Menipu Orang Lain Diampuni Allah SWT (Ustadz Abdul Ka'afi)








Solusi Orang yang Sering Mengulang Dosa Setelah Bertaubat Menurut (Syekh Muhammad Jaber)

Solusi Orang yang Sering Mengulang Dosa Setelah Bertaubat Menurut (Syekh Muhammad Jaber). Syekh Muhammad Jaber menyebut tidak mudah untuk seseorang melakukan taubat nasuha. Terkadang seorang mukmin masih sering melanggar janjinya dan kembali melakukan dosa. Namun tak apa, selama tidak tergoda dengan omongan setan.

Syekh Muhammad Jaber menerangkan, Allah SWT mengampuni kesalahan seorang mukmin yang kembali ke perbuatan dosa setelah taubat nasuha. Asalkan, mukmin itu sering beristigfar dan kembali bertaubat.

Masalahnya, sambung Syekh Muhammad Jaber, ada saja hasutan setan yang berkata taubat balik lagi, taubat balik lagi. Kemarin janjinya mau nepatin, sekarang nepatin, nanti melanggar lagi. Itu sifat munafik. Kemudian, manusia membenarkan hasutan setan itu dan mulai meninggalkan taubat.

"Karena ia merasa ga enak sama Allah SWT, taubat balik lagi, taubat balik lagi dan takut dicap munafik. Padahal engga, itu dari setan," tutur Syekh Muhammad Jaber

Sesungguhnya, semakin seorang mukmin bertaubat maka Allah akan terus mengampuninya juga. Dengan syarat, lakukan taubat yang benar dan berjanji untuk tidak kembali melakukan dosa itu.

"Ya Allah ampuni saya, saya berjanji tidak akan kembali ke dosa-dosa tersebut. Begitu doanya, jadi walaupun besok kembali lagi, tapi sudah niat yang baik dari hati untuk bertaubat, tidak ada masalah walaupun kembali lagi," terangnya.

Ada tiga syarat melakukan taubat, pertama melepas dan meninggalkan dosa itu, kedua merasa sedih karena sudah melakukan dosa, dan ketiga berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak kembali lagi ke dosa. Jika ketiga hal tersebut sudah dilakukan, maka sudah termasuk taubat nasuha.

Allah SWT Maha Tahu hati seorang mukmin yang bersungguh-sungguh untuk taubat. Walaupun banyak hawa nafsu yang menarik ia kembali ke dosa.

"Kalau kita berdosa langsung bertaubat kembali, innallaha yuhibbut tawwaabiin, sungguh Allah SWT menyukai orang yang bertaubat," tutupnya.

Referensi : Solusi Orang yang Sering Mengulang Dosa Setelah Bertaubat Menurut (Syekh Muhammad Jaber)










Orang Munafiq Bisa Masuk Surga

Bisakah Orang Munafiq Bisa Masuk Surga? Ustadz, Ana Ginanjar mahasiswa UNY mau bertanya. Apakah mungkin orang munafik itu masuk surga? afwan ustadz, tolong disertai dalilnya. jazakallohu khoiro.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Inti kemunafikan adalah menampakkan kebaikan di depan orang lain, namun menyembunyikan kejahatan dalam dirinya.

Ibnu Katsir mengatakan,

النفاق هو إظهار الخير وإسرار الشر

Kemunafikan adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. (Tafsir Ibn Katsir, 1/176).

Para ulama menyebutkan, bentuk dan tingkatan kemunafikan beraneka ragam, tergantung dari apa yang disembunyikan. Jika yang disembunyikan adalah kekufuran, apapun bentuknya, menyebabkan pelakunya keluar dari islam. Sebaliknya, jika yang disembunyikan bukan perbuatan kekufuran, tidak penyebabkan pelakunya keluar dari islam.

Kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

Syaikhul Islam mengatakan,

والنفاق يطلق على النفاق الأكبر الذي هو إضمار الكفر وعلى النفاق الأصغر الذي هو اختلاف السر والعلانية في الواجبات، هذا مشهور عند العلماء. وبذلك فسروا قول النبي صلى الله عليه وسلم {آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان}

Kemunafikan ada yang bentuknya munafiq besar, yaitu menyembunyikan kekufuran, dan ada munafiq kecil, ketika berbeda antara isi hati dengan amal perbuatan dalam masalah kewajiban. Inilah yang banyak dijelaskan ulama. Dan mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tanda munafiq ada 3: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia khianat.” hadis ini ditafsirkan dengan munafiq kecil. (Majmu’ al-Fatawa, 11/140).

Al-Hafidz Ibn Katsir mengatakan,

و)النفاق) أنواع: اعتقادي، وهو الذي يخلد صاحبه في النار، وعملي وهو من أكبر الذنوب

Dan kemunafikan bermacam-macam: 

  1. kemunafikan keyakinan, itulah kemunafikan yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka, 
  2. kemunafikan amal, dan itu termasuk dosa besar. (Tafsir Ibn Katsir, 1/176).

Keterangan al-Hafidz Ibnu Rajab

Dalam kitab Jami’ al-Ulm wa al-Hikam, al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan,

والذي فسره به أهلُ العلم المعتبرون أنَّ النفاقَ في اللغة هو من جنس الخداع والمكر وإظهار الخير، وإبطان خلافه، وهو في الشرع ينقسم إلى قسمين:

أحدهما: النفاقُ الأكبرُ، وهو أنْ يظهر الإنسانُ الإيمانَ بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، ويُبطن ما يُناقض ذلك كلَّه أو بعضه، وهذا هو النِّفاق الذي كان على عهد النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم -، ونزل القرآن بذمِّ أهله وتكفيرهم، وأخبر أنَّ أهله في الدَّرْكِ الأسفل من النار

والثاني: النفاق الأصغر، وهو نفاق العمل، وهو أنْ يُظهر الإنسانُ علانيةً صالحةً، ويُبطن ما يُخالف ذلك.

وأصولُ هذا النفاق ترجع إلى الخصال المذكورة في هذه الأحاديث

Yang dijelaskan para ulama yang diakui keilmuannya, bahwa kemunafikan secara bahasa bagian dari penipuan, makar, menampakkan kebaikan, dan menyembunyikan kebalikannya. Dan kemunafikan dalam syariat dibagi menjadi dua,

Pertama, munafik besar

Seseorang menampakkan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhir. Dan dia menyembunyikan kebalikan itu semua atau sebagiannya. Itulah kemunafikan yang ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan turun beberapa ayat al-Qur’an yang mencela pelakunya dan mengkafirkan mereka, serta mengabarkan bahwa pelakunya berada di kerak neraka.

Kedua, kemunafikan kecil

Itulah nifak amal, yaitu seseorang menampakkan kebaikan di muka umum, namun bertentangan dengan apa yang ada di hatinya. Dan karakter munafik kecil disebutkan dalam beberapa hadis berikut…

Kemudian al-Hafidz Ibn Rajab menyebutkan beberapa dalil bahwa orang yang melanggar salah satu sifat munafik, tidak dihukumi kafir. Diantaranya,

Hadis dari Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke rumahnya ketika dia masih kecil. Pada saat dia hendak pergi main, tiba-tiba ibunya memanggil,

“Abdullah sini, tak kasih.”

“Benar kamu mau memberinya sesuatu?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Saya mau kasih dia kurma.” jawab wanita itu.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تَفْعَلِي كُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذْبَةٌ

Andai tadi kamu tidak memberinya, maka dicatat untukmu satu dosa berbuat dusta. (Ahmad 15702, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menilai kafir, orang mukmin yang berdusta.

Munafik Besar Kekal di Neraka

Di awal surat al-Baqarah, Allah menyebutkan 3 jenis manusia. Pertama, orang yang beriman, Allah sebutkan dalam 5 ayat, kedua, orang kafir, Allah sebutkan dalam 2 ayat, dan ketiga, orang munafik, Allah singgung dalam 13 ayat. Diantaranya Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 8 – 9)

Diantara sifat mereka,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (gembong munafik), mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” (QS. al-Baqarah: 14).

Allah juga menyebutkan sifat mereka di ayat lain,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ. اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. al-Munafiqun: 1 – 3).

Semua ayat di atas berbicara tentang munafik besar. Allah berikan ancaman, mereka akan dihukum di keraknya neraka. Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. an-Nisa: 145)

Referensi : Orang Munafiq Bisa Masuk Surga.











Orang Munafik Masih Diberikan Kesempatan Untuk Bertaubat

Ayat sebelumnya membahas mengenai hukuman Allah bagi orang munafik. Namun, orang munafik masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh ampunan Allah. Berikut adalah ayat yang membahas mengenai orang munafik yang masih mendapatkan kesempatan untuk Allah ampuni.

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا

illallażīna tābụ wa aṣlaḥụ wa'taṣamụ billāhi wa akhlaṣụ dīnahum lillāhi fa ulā`ika ma'al-mu`minīn, wa saufa yu`tillāhul-mu`minīna ajran 'aẓīmā

Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.(Q.S. An-Nisa' : 146)

QS. An-Nisa' [4] 

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

S. An-Nisa' [4] 

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Kementrian Agama

Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

QS. Al-'Ahzab [33] 

لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Referensi : Orang Munafik Masih Diberikan Kesempatan Untuk Bertaubat














Segera Bertaubat jika Pernah Melakukan 3 Hal Ini, Tanda Munafik dalam Diri Kata (Ustadz Adi Hidayat)

Segera Bertaubat jika Pernah Melakukan 3 Hal Ini, Tanda Munafik dalam Diri Kata (Ustadz Adi Hidayat). Dalam salah satu ceramah beliau, Ustadz Adi Hidayat pernah menyebutkan 3 hal yang dianggap sebagai tanda munafik. Jika kemudian seseorang pernah melakukan hal ini, atau bahkan masih melekat dalam dirinya maka hendaknya ia segera bertaubat. Selain dianggap sebagai tanda munafik dalam diri, 3 hal ini bisa merusak hati seseorang jika dibiarkan dalam jangka waktu lama.

Selain dosa yang semakin bertambah, pertolongan Allah juga jauh dari orang-orang yang berbuat 3 hal ini. "Kalau ada ciri ini melekat pada diri kita segera taubat, karena resikonya bahaya," kata Ustadz Adi Hidayat.

3 hal tersebut di antaranya:

1. Suka berdusta

Seseorang yang tanpa sadar sering berdusta terhadap perkataannya sendiri, maka ini tanda sifat munafik menguasai dirinya. "Kalau dia bicara di mana pun hobinya berdusta," kata Ustadz Adi Hidayat.

2. Sering ingkar janji

Tanda munafik yang kedua adalah ketika seseorang menganggap bahwa tidak menepati janji itu adalah hal biasa. Terlebih ia tidak meminta maaf atas ingkar yang dilakukannya, dan melakukannya berulang kali.

3. Tidak bisa dipercaya

Menurut Ustadz Adi Hidayat sifat ketiga ini adalah yang paling bahaya. Selain dosa, ia juga akan merugikan orang lain. "Itu yang paling bahaya, kalau diamanahi dia banyak berkhianat," kata Ustadz Adi Hidayat. Jika 3 perbuatan ini masih melekat dalam diri maka Ustadz Adi Hidayat menyarankan segera kembali kepada Allah sebelum sifat munafik semakin menguasai diri.

Referensi : Segera Bertaubat jika Pernah Melakukan 3 Hal Ini, Tanda Munafik dalam Diri Kata (Ustadz Adi Hidayat) 







7 Ciri-ciri Orang Munafik yang Tercantum dalam Al-Quran

Munafik adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Lain di mulut, lain di hati. Inilah istilah yang tepat untuk menggambarkan seorang yang munafik. Munafik atau nifak adalah perbuatan di mana seseorang hanya akan menampakkan sisi baiknya saja, dibanding sisi buruk. Sudah jelas, orang yang memiliki sifat munafik ini berbahaya. Mereka pandai memainkan peran layaknya aktor, memasang wajah manis di hadapan semua orang padahal dibalik itu ia amatlah buruk.

Bukan hanya Allah SWT, semua orang juga pasti sangat membenci orang yang "berwajah dua".

Dalam Islam, munafik adalah golongan manusia yang derajatnya lebih rendah dari pada Muslim biasa. Seseorang yang senang sekali mengatakan sesuatu yang berbeda dari seharusnya ini memiliki ciri-ciri yang tercantum dalam Alquran.

1. Ingkar janji

Ciri-ciri yang pertama adalah ingkar janji. Orang munafik, tentu semua perkataannya sulit sekali dipercaya apalagi ditepati. Orang munafik akan cenderung sulit memegang janji sendiri, terlebih pada semua janji yang telah ia lakukan ke banyak orang.

Dalam Islam, menepati janji itu hukumnya wajib. Ini juga telah tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 91 yang artinya:

"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat."

2. Dusta

Dusta atau bohong adalah tindakan yang juga tidak disukai oleh Allah SWT, selain ingkar janji. Itulah kenapa ada manusia juga tidak suka dibohongi.

"Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada banyak motif kenapa orang berbohong, terlepas dari itu, berbohong sudah pasti suatu tindakan sadar yang dilakukan agar lawan bicara percaya dengan apa yang kita katakan.

Meskipun ada beberapa orang yang menyebutkan berbohong demi kebaikan. Tapi, yang namanya bohong tetaplah bohong. Dan itu jelas bukan menunjukkan perilaku jujur dan merupakan tindakan yang dibenci oleh agama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 24 yang artinya:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

3. Khianat

Ilustrasi orang yang berkhianat. Foto: Unsplash.com/Valentin Antonucci

Khianat adalah lawan dari amanah. Jika amanah adalah melaksanakan kewajiban yang sudah disanggupi, maka khianat sebaliknya, yaitu berlaku curang atau membatalkan kewajiban. Ini salah satu ciri-ciri orang munafik.

Semua hal yang kita nikmati di dunia, selain dari kerja keras dan usaha, itu adalah bentuk titipan dari Allah SWT. Bila Allah SWT telah menitipkan sesuatu kepada kita, sudah sepatutnya untuk menjaga titipan itu dalam kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya....”

Tapi, jika orang munafik, mereka akan mengingkari apa yang sudah dititipkan alias tidak menjaganya dengan baik, bahkan akan menghancurkannya.

4. Malas beribadah

Selain berbohong, berdusta, dan berkhianat, orang yang malas beribadah pun termasuk salah satu dari ciri-ciri orang munafik. 

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 142 yang artinya:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."

Orang munafik akan selalu menganggap salat itu menjadi beban yang berat untuk dijalani. Jadi, apa susahnya menyisihkan sedikit waktu untuk melaksanakan salat wajib?

5. Bersumpah palsu

Nah, selanjutnya adalah orang-orang yang selalu dengan mudahnya mengucapkan "Demi Allah" tanpa memikirkan dosa atau akibat yang akan diterima dari sumpah palsu tersebut.

Perihal orang yang suka memberikan sumpah palsu ini telah dijelaskan dalam Alquran surat Al-Munafiqun ayat 2 yang artinya:

"Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."

6. Fujur dalam pertikaian

Fujur atau selalu ingin merasa menang sendiri alias tidak menerima kekalahan adalah sikap dari orang-orang munafik.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syams ayat 7-10 yang artinya:

"Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." 

Allah SWT memberikan jiwa manusia dua sifat, yakni fujur (kefasikan) dan taqwa. Kedua sifat ini saling berlawanan. Di mana sifat fujur diciptakan untuk memaksimalkan sifat taqwa setiap manusia agar menjadi pribadi yang mulia.

Orang yang memilih jalan fujur akan membiarkan akalnya melanglang buana melalui jalan sesat sehingga pemikirannya akan berseberangan dengan fitrah penciptanya. Akibatnya, imannya akan menjadi lemah. Inilah kenapa fujur diciptakan untuk menguatkan ketaqwaan seseorang.

7. Riya

Sifat sombong yang sangat tercela dan dibenci Allah SWT adalah riya. Riya atau sombong adalah perilaku yang sampai saat ini masih ada saja orang yang melakukannya. Mereka cenderung sombong dengan apa yang mereka miliki, sehingga membuat dirinya menjadi orang yang tinggi hati dan jahat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'mun ayat 4-7 yang artinya:

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna, sedikit berzikir." Itulah tujuh ciri-ciri yang harus dijauhi setiap manusia agar terjauh dari sifat munafik.

Referensi : 7 Ciri-ciri Orang Munafik yang Tercantum dalam Al-Quran







Pengertian Munafik dalam Islam, Beserta Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

Pengertian munafik adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, tetapi sebenarnya hati mereka memungkirinya. Sedangkan dalam bahasa Arab, pengertian munafik artinya orang yang berpura-pura.

Sementara itu, mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian munafik ialah upaya berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan lainya. Akan tetapi, sebenarnya dalam hatinya tidak. Mereka selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya serta bermuka dua.

Munafik juga menjadi sifat yang sangat dibenci Allah SWT. Lain mulut, lain di hati adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan orang munafik. Bukan hanya Allah SWT, semua orang juga pasti membenci orang yang berwajah dua. Untuk itu, penting mengetahui ciri-ciri sifat munafik yang ada pada diri orang lain dan cara menghindari sifat munafik tersebut.

Berikut ini ulasan mengenai pengertian munafik dalam Islam beserta ciri-ciri sifatnya dan cara menghindarinya.

Menurut bahasa, pengertian munafik diartikan sebagai berpura-pura. Sedangkan menurut istilah, pengertian munafik artinya berpura-pura dalam suatu hal. Orang munafik juga disebut orang yang perkataannya tidak sesuai dengan tindakan atau kenyataan.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 145 bahwa orang munafik akan ditempatkan pada neraka tingkatan paling bawah. Berikut firman-Nya:

Innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār, wa lan tajida lahum naṣīrā

Artinya: "Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS. An-Nisa: 145)

Menurut tafsir Kementerian Agama, ayat tersebut menjelaskan tentang peringatan terhadap orang munafik, bahwa mereka akan disiksa di neraka pada tingkatan paling bawah karena munafik adalah perbuatan paling jahat. Mereka (orang-orang munafik) disebut telah menipu Rasulullah SAW dan orang-orang mukmin. Maka, kelak mereka tidak akan mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan ataupun meringankan siksaan yang akan mereka terima

Setelah mengetaui pengertian munafik yang telah di jelaskan di atas, penting pula anda mengetahui ciri-ciri orang munafik. Berikut ini rinciannya:

1. Suka Berdusta

Ciri orang munafik yang pertama adalah suka berdusta atau berbohong. Berdusta sendiri merupakan sifat tercela yang dibenci manusia serta agama apapun. Bahkan agama sendiri telah melarang keras jika umatnya melakukan dusta sekecil apapun. Sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bawasannya rasulullah saw bersabda:

“Tanda orang munafik itu ada tiga, apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji ingkar, dan jika dipercaya mengkhianati.” (HR Bukhari, Kitab Iman Bab Tanda-tanda orang munafik, No. 33 dan Muslim, Kitam Iman Bab Penjealsan Sifat-sifat orang munafik no. 59).

2. Ingkar Janji

Ciri orang munafik yang selanjutnya adalah suka ingkar janji. Seseorang yang gemar ingkar janji akan tidak bisa dipegang perkataannya dan juga tidak pernah menepati janjinya yang sudah ia tebarkan ke orang lain. Menepati janji adalah hukumnya wajib, ketika seseorang itu membuat janji maka ia sudah seharusnya menepati apa yang telah ia janjikan. Dalam Alquran larangan untuk mengingkari janji dijelaskan dalam surat An-Nahl ayat 91 yang artinya:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

3. Berkhianat

Ciri orang munafik yang berikutnya adalah gemar berkhianat, yaitu orang yang tidak miliki komitmen dengan apa yang akan dijalankannya dan tidak pernah menepati perkataan yang telah diucapkan tanpa adanya kejelasan. Seseorang yang tidak bisa dipercaya dalam memegang amanah nantinya disebut sebagai orang yang munafik. Orang seperti ini biasanya jika berbicara lebih banyak mengandung kebohongan, apabila berjanji akan sering berdusta, dan apabila diserahi amanah maka akan berkhianat.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis Nabi Saw yang artinya:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah mengkhianati.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Gemar Melakukan Tipu Daya

Ciri orang munafik lainnya adalah gemar melakukan tipu daya. Tipu daya yang sering dilakukan orang munafik adalah dalam sikapnya, yang biasanya tampak baik di permukaan tapi dalam hatinya busuk. Tipu daya ini biasa dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan segala cara.

Sifat ini sudah dijelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 8-10 yang artinya:

“Dan di antara manusia ada yang berkata, “ Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapatkan azab yang pedih, karena mereka berdusta.”

5. Bermuka Dua

Ciri orang munafik yang kelima adalah bermuka dua, yang juga miliki arti tak miliki pendirian tetap. Sifat ini muncul akibat kebingungan mereka terhadap kebenaran yang dibawa Islam. Sifat orang bermuka dua ini ditulis dalam firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 14 yang artinya:

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata: “ Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka berjumpa kembali dengan setan-setan mereka berkata: “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

6. Riya

Riya juga merupakan salah satu ciri orang munafik. Sikap riya sendiri digambarkan oleh Allah dalam Alquran surat An-Nisa’ ayat142 yang artinya:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali."

7. Malas untuk Beribadah

Ciri orang munafik yang berikutnya adalah malas untuk melakukan ibadah. Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 142 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas.”

8. Mempercepat Salat

Ciri orang munafik juga akan bisa diperhatikan dari cara salatnya. Akan terlihat ketika salat tidak khusyuk serta mempercepat gerakan dan bacaan salatnya merupakan ciri orang munafik. Ciri-ciri ini tercatat dalam hadis Nabi Saw. yang artinya:

“Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. (Yaitu) dia menunggu matahari sampai hampir terbenam kemudian dia berdiri (untuk sholat asar), lalu mempercepat (tanpa ada rasa khusyuk sedikitpun) empat rakaat, tanpa mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit sekali.” (HR Muslim).

9. Gemar Berbuat Kerusakan di Bumi

Ciri orang munafik berikutnya adalah mereka yang gemar membuat kerusakan di bumi yang dengan alasan untuk mengadakan perbaikan. Orang dengan tipe ini biasanya akan sangat pandai untuk memutarbalikkan fakta dan menipu orang-orang seakan sedang mengusahakan suatu perbaikan. Ciri-ciri ini tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 11-12 yang artinya:

“ Dan bila dikatakan kepada mereka “ Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “ Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”

10. Bangga Atas Dosanya yang Telah Diperbuat

Ciri orang munafik yang kesepuluh adalah mereka yang bangga akan dosanya yang telah diperbuat. Betapa pun banyak dosa yang dilakukan, maka orang munafik akan selalu mencari jalan keluarnya untuk pembenaran tindakannya.

11. Dengki

Iri dan dengki juga merupakan ciri orang munafik yang sangat merugikan. Seperti yang tertuang dalam Surat Al-Imran ayat 120 yang artinya:

“Jika kamu memerolah kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikitpun. Sungguh Allah Maha meliputi segala apa yang mereka kerjakan.”

12. Memakan Harta Anak Yatim

Ciri orang munafik merupakan orang yang selalu merasa tak puas akan kekayaan harta yang telah dimiliki. Sehingga, mereka tak akan ragu untuk memakan harta anak yatim. 

Referensi : Pengertian Munafik dalam Islam, Beserta Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya.













Hadist Nabi yang Menjelaskan Ciri-ciri Orang Munafik

Hadis Nabi yang Menjelaskan Ciri-ciri Orang Munafik. “Munafik secara bahasa berarti pura-pura. Sedangkan menurut istilah munafik merupakan pura-pura dalam suatu hal. Orang munafik disebut juga orang yang perkataannya tidak sesuai dengan tindakan atau kenyataan.” jelas Maydilan.

Melanjutkan penjelasannya, Maydilan kemudian menyebutkan ciri-ciri orang munafik sebagai berikut.

  1. Apabila berbicara ia berdusta. Orang yang berbohong atau berdusta termasuk orang yang munafik dan tidak disukai Allah swt.
  2. Apabila berjanji ia ingkar. Hati-hati dalam berbuat janji karena harus ditepati. Dalam Islam diajarkan jika berjanji ucapkanlah insyaallah. “Insyaallah memiliki arti jika Allah menghendaki. Ketika kita berjanji ucapkanlah kalimat tersebut. Dengan kalimat tersebut jangan seenaknya memutus janji di tengah jalan. Berhati-hatilah karena dengan ucapan itu kita membawa nama Allah.” lanjut Maydilan.
  3. Apabila dipercaya ia berkhianat. Bila seseorang diberi amanah kemudian ia berkhianat maka orang tersebut termasuk orang yang munafik.

Ciri-ciri orang munafik di atas dikutip dari hadis Nabi Muhammad saw.

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah mengkhianati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Referensi : Hadis Nabi yang Menjelaskan Ciri-ciri Orang Munafik









Ciri Orang Munafik Menurut Agama Islam

Ciri orang munafik menurut agama Islam kiranya perlu dipahami agar supaya kita dapat terhindar dari sifat jelek ini. Munafik merupakan salah satu sifat tercela yang sangat tidak terpuji. Sifat munafik bukanlah sifat yang pantas dimiliki seseorang dengan latar kepercayaan apapun. Karena, sifat munafik sendiri adalah penyakit hati yang akan dapat merugikan diri sendiri serta orang lain.

Munafik memiliki arti suka menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, namun sebetulnya tidak sesuai dengan kondisi pada batinnya serta perbuatannya. Ciri orang munafik biasanya yaitu suka berubah-ubah karakternya. Terutama saat interaksi dengan sesama manusia, baik itu tidak sesuai antara percakapan serta perbuatan mereka.

ita akan bisa mengetahui sosok dari pribadi kita sendiri dan juga orang lain melalui apa yang mereka katakan, yaitu antara kesesuaian yang dikatakan dengan apa yang diyakininya. Agar Anda dapat mengetahui dengan rinci, berikut ini kami telah rangkum 12 ciri orang munafik menurut agama islam, yang dilansir Dream, serta berdasarkan pada Alquran dan Hadist:

Ciri Orang Munafik

1. Suka Berdusta'

Ciri orang munafik yang pertama adalah suka berdusta atau berbohong. Berdusta sendiri merupakan sifat tercela yang dibenci manusia serta agama apapun. Bahkan agama sendiri telah melarang keras jika umatnya melakukan dusta sekecil apapun.

Sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bawasannya rasulullah saw bersabda: “ Tanda orang munafik itu ada tiga, apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji ingkar, dan jika dipercaya mengkhianati.” (HR Bukhari, Kitab Iman Bab Tanda-tanda orang munafik, No. 33 dan Muslim, Kitam Iman Bab Penjealsan Sifat-sifat orang munafik no. 59).

2. Ingkar Janji

Ciri orang munafik yang selanjutnya adalah suka ingkar janji. Seseorang yang gemar ingkar janji akan tidak bisa dipegang perkataannya dan juga tidak pernah menepati janjinya yang sudah ia tebarkan ke orang lain.

Menepati janji adalah hukumnya wajib, ketika seseorang itu membuat janji maka ia sudah seharusnya menepati apa yang telah ia janjikan.

Dalam Alquran larangan untuk mengingkari janji dijelaskan dalam surat An-Nahl ayat 91 yang artinya:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

3. Berkhianat

Ciri orang munafik yang berikutnya adalah gemar berkhianat, yaitu orang yang tidak miliki komitmen dengan apa yang akan dijalankannya dan tidak pernah menepati perkataan yang telah diucapkan tanpa adanya kejelasan. Seseorang yang tidak bisa dipercaya dalam memegang amanah nantinya disebut sebagai orang yang munafik.

Orang seperti ini biasanya jika berbicara lebih banyak mengandung kebohongan, apabila berjanji akan sering berdusta, dan apabila diserahi amanah maka akan berkhianat.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis Nabi Saw. yang artinya:

“ Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah mengkhianati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ciri Orang Munafik dalam Islam

4. Gemar Melakukan Tipu Daya

Ciri orang munafik yang keempat adalah gemar melakukan tipu daya. Tipu daya yang sering dilakukan orang munafik adalah dalam sikapnya, yang biasanya tampak baik di permukaan tapi dalam hatinya busuk. Tipu daya ini biasa dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan segala cara.

Sifat ini sudah dijelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 8-10 yang artinya:

“Dan di antara manusia ada yang berkata, “ Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapatkan azab yang pedih, karena mereka berdusta.”

5. Bermuka Dua

Ciri orang munafik yang kelima adalah bermuka dua, yang juga miliki arti tak miliki pendirian tetap. Sifat ini muncul akibat kebingungan mereka terhadap kebenaran yang dibawa Islam.

Sifat orang bermuka dua ini ditulis dalam firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 14 yang artinya:

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata: “ Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka berjumpa kembali dengan setan-setan mereka berkata: “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

6. Riya

Riya juga merupakan salah satu ciri orang munafik. Sikap riya sendiri digambarkan oleh Allah dalam Alquran surat An-Nisa’ ayat142 yang artinya:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali."

Ciri Orang Munafik yang Perlu Dihindari

7. Malas untuk Beribadah

Ciri orang munafik yang berikutnya adalah malas untuk melakukan ibadah. Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 142 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas.”

8. Mempercepat Sholat

Ciri orang munafik juga akan bisa diperhatikan dari cara sholatnya. Akan terlihat ketika sholat tidak khusyuk serta mempercepat gerakan dan bacaan sholatnya merupakan ciri orang munafik.

Ciri-ciri ini tercatat dalam hadis Nabi Saw. yang artinya:

“Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. (Yaitu) dia menunggu matahari sampai hampir terbenam kemudian dia berdiri (untuk sholat asar), lalu mempercepat (tanpa ada rasa khusyuk sedikitpun) empat rakaat, tanpa mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit sekali.” (HR Muslim).

9. Gemar Berbuat Kerusakan di Bumi

Ciri orang munafik berikutnya adalah mereka yang gemar membuat kerusakan di bumi yang dengan alasan untuk mengadakan perbaikan. Orang dengan tipe ini biasanya akan sangat pandai untuk memutarbalikkan fakta dan menipu orang-orang seakan sedang mengusahakan suatu perbaikan.

Ciri-ciri ini tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 11-12 yang artinya:

“ Dan bila dikatakan kepada mereka “ Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “ Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”

5 dari 5 halaman

Ciri Orang Munafik yang Perlu Diketahui

10. Bangga Atas Dosanya yang Telah Diperbuat

Ciri orang munafik yang kesepuluh adalah mereka yang bangga akan dosanya yang telah diperbuat. Betapa pun banyak dosa yang dilakukan, maka orang munafik akan selalu mencari jalan keluarnya untuk pembenaran tindakannya.

11. Dengki

Iri dan dengki juga merupakan ciri orang munafik yang sangat merugikan. Seperti yang tertuang dalam Surat Al-Imran ayat 120 yang artinya:

“Jika kamu memerolah kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikitpun. Sungguh Allah Maha meliputi segala apa yang mereka kerjakan.”

12. Memakan Harta Anak Yatim

Ciri orang munafik merupakan orang yang selalu merasa tak puas akan kekayaan harta yang telah dimiliki. Sehingga, mereka tak akan ragu untuk memakan harta anak yatim

Referensi : Ciri Orang Munafik Menurut Agama Islam