Mencegah Maksiat, Mendekatkan Diri kepada Allah Swt. Kekuatan hati dalam diri seseorang yang mencegah dan melarangnya untuk berbuat segala bentuk kesalahan dan kemaksiatan disebut 'ismah. Para nabi dan rasul mempunyai keberpihakan kepada kebenaran yang sangat kuat sehingga mereka jarang berbuat maksiat.
Akan tetapi, sebagai manusia, mereka tidak terbebas dari kekhilafan. Nabi Adam, misalnya, tergoda bujuk rayu iblis untuk mencicipi buah khuldi atau Nabi Yunus yang tercela karena lari meninggalkan kaumnya seperti diinformasikan oleh Allah SWT dalam surah Assaffaat ayat 142: ''Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.''
Mencegah kemaksiatan bisa diasah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha sungguh-sungguh untuk selalu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Manusia dikaruniai oleh Allah akal budi dan hati nurani. Kecenderungan setiap orang atau fitrah seseorang adalah berpihak kepada hati nurani karena hati nurani akan memberikan tanda yang selalu berkiblat pada kebenaran.
Ini adalah fitrah yang dimiliki oleh setiap insan ciptaan Allah. Jadi, sejatinya setiap manusia mempunyai kecenderungan kepada kebenaran yang diwakili oleh hati nurani.
Persoalannya sekarang adalah seberapa kuat komitmen seseorang untuk jujur dan berpihak kepada hati nuraninya, sehingga apa yang dilakukannya selalu yang diridhai oleh Allah SWT? Di sinilah perlunya tuntunan agama dalam kehidupan seseorang.
Salah dan khilaf adalah ciri manusia ciptaan Allah. Hanya Allah yang Mahasempurna. Oleh sebab itu, ampunan dan kasih sayang Allah melebihi salah dan khilaf yang diperbuat manusia.
Kecenderungan untuk selalu berjalan di atas rel yang telah Allah tentukan harus secara terus-menerus dipelihara, dikokohkan, dan diimplementasikan dalam segala jenis aktivitas walau tanpa disadari kesalahan-kesalahan kecil sering terjadi.
Sesaat saja manusia tidak ingat akan Allah, itu sudah kekhilafan, apalagi sampai melakukan perbuatan yang bertentangan dengan fitrah dan hati nuraninya.
''Yaitu, orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas Ampunan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang keadaanmu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.'' (QS An-Najm [53]: 32).
Pertama, muhasabah atau introspeksi diri dengan mohon petunjuk dan ampunan kepada Sang Pencipta. Adakalanya musibah dan kesulitan yang terjadi akibat perbuatan manusia itu sendiri, karena kita memang tempatnya salah dan lupa, kesalahan bukanlah suatu aib yang harus di tutupi, akan tetapi jika itu berhubungan dengan hablum min naas maka kita harus minta maaf secara langsung, dan apabila berbuat dosa kepada Allah maka bermunajat mohon ampunan serta tidak mengulangi lagi perbuatan dosa, Insyaallah pengampunan dan kasih sayang Allah SWT Maha Luas. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna“” (QS. an-Nisaa’[4] : 62).
Kedua, menyadari bahwa kami milik Allah SWT6 dengan demikian apa saja yang kita lakukan dengan niat semata-mata karena lillahi ta’ala. Hakikat kehidupan dunia adalah ditandai dengan adanya cobaan dan ujian yang beraneka ragam. Sebagian ada yang berhasil dan ada pula yang gagal melewatinya. Proses perjuangan untuk menaklukkkan cobaan dan ujian inilah yang kemudian disebut dengan hidup. Allah SWT berfirman:
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun””(QS. al-Baqarah [2]: 156)
Ketiga, menyadari bahwa musibah dan kesulitan milik semua orang, semua orang pasti akan mengalami dan menemui musibah dan kesulitan sebagai ujian dalam kehidupannya dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda, tidak perlu iri dengan kemudahan dan kesenangan yang didapat oleh orang lain. Kadangkala sebagian orang harus menjadi korban demi sebagian orang yang lain. Harus ada yang sakit agar manusia mengetahui nikmatnya sehat, harus ada yang menakutkan agar diketahui nilai keberanian, harus ada petaka agar dirasakan makna kesabaran.7 Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah [2]:155).
Musibah dan kesulitan bisa diartikan sebagai alat untuk menguji tingkat keimanan dan kesabaran manusia. Terlalu naif jika dalam kehidupan ini memimpikan suasana dan keadaan yang serba enak dan mudah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh untuk hidup bahagia dan senang, kita hanya diingatkan bahwa kebahagiaan yang sejati dan abadi adalah kebahagiaan di alam akhirat kelak. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la [87]: 16-17).
Keempat, menyadari bahwa musibah dan kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kemampuan dan kesanggupan untuk memikulnya. Allah tidak akan membebani di luar batas kemapuan seorang hamba untuk memikulnya. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. al-Baqarah [2]:286)
Ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambanya, dibalik musibah dan kesulitan mengandung hikmah dan kebaikan, selain itu tidak akan melampaui batas kemampuan manusia.
Kelima, menyadari dan yakin bahwa dalam setiap musibah dan kesulitan ada kemudahan, Islam mengajarkan, bahwa letak kemudahan itu ada di balik kesulitan, karena sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. al-Insyirah [94]: 5 – 6).
Dari setiap musibah dan kesulitan ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang siapa diri kita. Karena ia adalah representasi yang mampu memberikan gambaran utuh tentang kepribadian dan karakter kita. Musibah dan kesulitan akan menjadi bayangan yang akan terus melekat kepada manusia. Keniscayaan bagi manusia mukallaf, maka tidak seorang pun yang luput darinya,8 bisa datang kapan dan dimana saja. Tahapan-tahapan ujian diciptakan oleh Allah SWT untuk mengetahui siapa-siapa dari hambaNya yang sabar dan syukur dan juga menjelaskan siapa saja dari hambaNya yang kufur. Ketika semua usaha telah dikerahkan dan tidak mampu teratasi, maka secara alami manusia akan bersimpuh dan menyebut Tuhannya agar diturunkan pertolongan. Itulah hikmah di balik musibah dan kesulitan. Maka janganlah kita membenci musibah dan kesulitan, karena terkadang melalui kehadirannya kita menjadi dekat dan bersyukur kepada Sang Kholiq.
Inilah realita kehidupan, musibah dan kesulitan jika dipahami dengan bijaksana akan menumbuhkan kesadaran alamiah bahwa itu merupakan bagian dari lembaran hidup yang harus dijalani. Jika demikian, maka tidak akan ada lagi perasaan takut, sedih berlebihan, putus asa untuk menghadapinya.
Pertama, muhasabah atau introspeksi diri dengan mohon petunjuk dan ampunan kepada Sang Pencipta. Adakalanya musibah dan kesulitan yang terjadi akibat perbuatan manusia itu sendiri, karena kita memang tempatnya salah dan lupa, kesalahan bukanlah suatu aib yang harus di tutupi, akan tetapi jika itu berhubungan dengan hablum min naas maka kita harus minta maaf secara langsung, dan apabila berbuat dosa kepada Allah maka bermunajat mohon ampunan serta tidak mengulangi lagi perbuatan dosa, Insyaallah pengampunan dan kasih sayang Allah SWT Maha Luas. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna“” (QS. an-Nisaa’4 : 62).
Kedua, menyadari bahwa kami milik Allah SWT6 dengan demikian apa saja yang kita lakukan dengan niat semata-mata karena lillahi ta’ala. Hakikat kehidupan dunia adalah ditandai dengan adanya cobaan dan ujian yang beraneka ragam. Sebagian ada yang berhasil dan ada pula yang gagal melewatinya. Proses perjuangan untuk menaklukkkan cobaan dan ujian inilah yang kemudian disebut dengan hidup. Allah SWT berfirman:
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun””(QS. al-Baqarah 2: 156)
Ketiga, menyadari bahwa musibah dan kesulitan milik semua orang, semua orang pasti akan mengalami dan menemui musibah dan kesulitan sebagai ujian dalam kehidupannya dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda, tidak perlu iri dengan kemudahan dan kesenangan yang didapat oleh orang lain. Kadangkala sebagian orang harus menjadi korban demi sebagian orang yang lain. Harus ada yang sakit agar manusia mengetahui nikmatnya sehat, harus ada yang menakutkan agar diketahui nilai keberanian, harus ada petaka agar dirasakan makna kesabaran.7 Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah [2]:155).
Musibah dan kesulitan bisa diartikan sebagai alat untuk menguji tingkat keimanan dan kesabaran manusia. Terlalu naif jika dalam kehidupan ini memimpikan suasana dan keadaan yang serba enak dan mudah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh untuk hidup bahagia dan senang, kita hanya diingatkan bahwa kebahagiaan yang sejati dan abadi adalah kebahagiaan di alam akhirat kelak. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la [87]: 16-17).
Keempat, menyadari bahwa musibah dan kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kemampuan dan kesanggupan untuk memikulnya. Allah tidak akan membebani di luar batas kemapuan seorang hamba untuk memikulnya. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. al-Baqarah [2]:286)
Ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambanya, dibalik musibah dan kesulitan mengandung hikmah dan kebaikan, selain itu tidak akan melampaui batas kemampuan manusia.
Kelima, menyadari dan yakin bahwa dalam setiap musibah dan kesulitan ada kemudahan, Islam mengajarkan, bahwa letak kemudahan itu ada di balik kesulitan, karena sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. al-Insyirah [94]: 5 – 6).
Dari setiap musibah dan kesulitan ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang siapa diri kita. Karena ia adalah representasi yang mampu memberikan gambaran utuh tentang kepribadian dan karakter kita. Musibah dan kesulitan akan menjadi bayangan yang akan terus melekat kepada manusia. Keniscayaan bagi manusia mukallaf, maka tidak seorang pun yang luput darinya,8 bisa datang kapan dan dimana saja. Tahapan-tahapan ujian diciptakan oleh Allah SWT untuk mengetahui siapa-siapa dari hambaNya yang sabar dan syukur dan juga menjelaskan siapa saja dari hambaNya yang kufur. Ketika semua usaha telah dikerahkan dan tidak mampu teratasi, maka secara alami manusia akan bersimpuh dan menyebut Tuhannya agar diturunkan pertolongan. Itulah hikmah di balik musibah dan kesulitan. Maka janganlah kita membenci musibah dan kesulitan, karena terkadang melalui kehadirannya kita menjadi dekat dan bersyukur kepada Sang Kholiq.
Inilah realita kehidupan, musibah dan kesulitan jika dipahami dengan bijaksana akan menumbuhkan kesadaran alamiah bahwa itu merupakan bagian dari lembaran hidup yang harus dijalani. Jika demikian, maka tidak akan ada lagi perasaan takut, sedih berlebihan, putus asa untuk menghadapinya.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Ibnu Rajab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)
Saatnya Merubah Diri
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian pada hari ke-7, 40, dst. Juga masih gemar dengan shalawatan yang berbau syirik semacam shalawat nariyah. Juga begitu banyak kaum muslimin gemar melakukan dosa besar. Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.
Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)
Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30). Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Perkataan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu– di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah- mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)
Saatnya Merubah Diri
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian pada hari ke-7, 40, dst. Juga masih gemar dengan shalawatan yang berbau syirik semacam shalawat nariyah. Juga begitu banyak kaum muslimin gemar melakukan dosa besar. Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.
Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)
Syekh Ali Jaber mengungkap ada satu dosa yang bisa jadi penyebab kesulitan manusia. Karena dosa tersebut, kata Syekh Ali Jaber, Allah tidak mau menolong manusia, termasuk bagi yang memiliki utang. Menurut Syekh Ali Jaber, Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hamba di luar batas kemampuannya. Artinya, selalu ada jaminan bagi setiap penyelesaian masalah bagi hamba yang mau bersabar. Salah satu cobaan dari Allah kepada hambaNya yakni dalam bidang ekonomi. Karena hal tersebutlah seseorang bisa menjadi kesulitan keuangan hingga akhirnya berutang.
Syekh Ali Jaber kemudian menyebut selain berusaha ada banyak doa yang bisa dibaca untuk melunasi utang. Akan tetapi, ternyata semua doa itu akan sia-sia apabila seseorang melakukan satu dosa yang dimaksud. Menurut Syekh Ali Jaber, dosa yang dimaksud yakni meninggalkan salat. Karena dengan meninggalkan salat semakin bertumpuknya dosa sehingga menjadi penyebab sulitnya membayar utang.
"Tapi tidak pernah berpikir yang membuat utang semakin banyak kenapa, bisa jadi (semakin) banyak karena pertama sholatnya nggak beres," ujarnya."Dosa itu (tidak sholat) salah satu penyakit yang sangat cepat menghancurkan iman dan berkah rezeki," tegasnya.Terakhir Syekh Ali Jaber menyampaikan apabila ingin dikabulkan hajatnya maka sempurnakan terlebih dahulu ibadahnya
Hakukan hal Ini, Bila Kita Merasa Hidup Ini Sulit dan Penuh Dosa Besar Memenihi Bumi & Langit. Di antara bukti Allah Swt Maha Adil adalah setiap cobaan atau ujian yang diberikan pada manusia tak pernah di luar batas kemampuannya (laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa). Begitupun setiap syariat yang disedurkan pasti berdasar atas kesanggupan manusia, tak ada alasan karena syariat datang bukan untuk menjadi beban, melainkan pelindung dan memberi kemudahan.
Meskipun sudah pasti dengan syariat itu tak akan dipersulit, tapi manusia tetap dituntut merendahkan dirinya untuk memohon kepada-Nya. Sebagaimana Allah tegaskan pada akhir surat al-Baqarah ayat 286: Wahai Tuhan Kami, jangan Engkau pikulkan pada kami apa yang tak sanggup kami lakukan. Ayat ini menurut pemaparan Syahrullah Iskandar dengan merujuk pada Tafsir Min Wahyi al-Qur’an adalah doa bentuk harapan bagi orang beriman kepada Allah, agar tak mendapati beban yang berat dalam menjalani ajaran dan syariat agama, sehingga ia bisa dijalani dengan mudah.
Dalam tuntunan syariat ada perintah ada larangan, pada sisi yang lain tak menghendaki hamba-Nya dipersulit dengan syariat-Nya. Tapi jika diperhadapkan antara yang sulit dan berat baginya, maka jalan yang mesti diambil adalah yang memudahkan. Karena itu, Nabi SAW jika dihadapkan pada pilihan yang agak sulit dan berat untuk dijalankan oleh sahabatnya, maka Nabi lebih memilih dan menganjurkan yang mendatangkan kemudahan.
Mengapa hal itu dilakukan oleh Nabi SAW? Tak lain Nabi SAW ingin mempertegas Islam adalah agama yang memudahkan tak ingin memberatkan (yuriidu bikumullahul yusra wa laa yuriidu bikumul ‘usr). Misalnya, shalat perintah utamanya dilakukan dengan berdiri, tapi pada kondisi yang memberatkan untuk berdiri dibolehkan untuk duduk, atau dalam perjalanan Allah memberi kelonggaran bisa dikerjakan dengan mendahulukan (jama’ taqdim) atau mengakhirkan shalatnya (jama’ ta’khir).
Ibadah haji pun bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun fisik. Ada orang yang mampu secara materi, tapi kebugaran tubuh tak mendukung maka kewajiban haji-pun baginya gugur, apalagi hanya mampu secara fisik tapi tak didukung dengan kemampuan materi. Karena itu, tak ada perintah dan kewajiban syariat agama yang keluar dari koridor kemampuan manusia. Kesulitan akan mengantar manusia pada kemudahan. Karena syariat agama Islam berjalan sesuai dengan naluri kemanusiaan.
Setelah meminta kepada Allah agar diberi kemudahan untuk menjalankan tuntunan agama, bentuk permohonan selanjutnya adalah wa’fu ‘anna (maafkanlah kami). Do’a ini dipanjatkan agar dosa dosa dihapuskan (yamhuu al-sayyiaat) dan berharap siksaan Allah digugurkan. Jadi, meminta agar dihapuskan dosanya berarti tak ada lagi jejak kesalahan dan dosa yang ada dalam diri, maka pada hakikatnya meminta karena minta agar dihapus dan digugurkan siksaan-Nya. Doa semacam ini, kerap dipanjatkan oleh Nabi SAW, allahumma innaka afuwwun tuhibbu al ‘afwa fa’fu anni (Ya Allah Engkaulah Yang Maha memaafkan dan suka memaafkan, maka hapuslah kesalahanku).
Setelah itu, seraya meminta waghfirlana (ampunilah kami). Do’a ini mencakup permohonan agar ditutupi aibnya dan diberikan ampunan-Nya. Sebab dosa dan kesalahan bagian dari aib manusia, sudang barang tentu semua manusia memiliki aib dengan harapan aibnya ditutupi oleh Allah dan dimaafkan. Bukankah sekian banyak dosa yang dilakukan, kebobrokan, kecurangan selama ini tak diketahui orang lain? Karena itu, permohonan fa’fuu (ampunilah) lebih luas makna dan cakupannya ketimbang waghfirlana. Sebab menghapus itu menghilangkan jejak sedangkan menutupi berarti masih ada tapi tak diperlihatkan (wal mahwu ablaghu min al satri)
Lalu ayat ini ditutup dengan dua permohonan yaitu warhamna (sayangilah kami), selipan harapan agar selalu dalam balutan kasih-sayang-Nya. Mengapa memohon kasih sayang Allah? kalau bukan sifat rahman (Pengasih-Nya) maka hidup tak bisa dinikmati dengan bahagia dan menyenangkan. Dengan sifat rahiim (Maha Penyayangnya) pula yang menjadi penolong dihari kemudian bukan sebab utama karena pengabdian atau ibadah. Lalu ayat doa ini ditutup dengan fanshurna ‘alal qaumil kafirin bentuk doa agar terhindar dari gangguan orang orang yang dzolim. Sebab tak ada pertolong kecuali dari Allah.
Kemaksiatan membawa pelakunya tak hanya terancam api neraka, namun juga tersiksa di dunia. Kadang kala, seorang tak merasakan dampak tersebut dan terus saja melakukan maksiat. Kadang kala pula, seorang menganggap kesulitan hidup sebagai ujian yang wajar ditimpa manusia padahal sebetulnya balasan atas kemaksiatan yang ia lakukan. Bahkan, kesedihan, kegalauan, kebodohan, kemiskinan, kehampaan, kelemahan, kegelisahan dan hal-hal negatif lainnya bisa jadi datang karena kemaksiatan yang terus saja dikerjakan. Berikut tujuh kesulitan hidup yang akan menerpa seorang pelaku maksiat.
1. Dijauhkan dari Ilmu
Seorang pelaku maksiat akan dihalangi mendapatkan ilmu dan mendatangkan kebodohan. Allah menjadikan ilmu sebagai cahaya yang benderang. Sementara perbuatan maksiat akan memadamkannya. Karena itulah ilmu dan maksiat tak bisa berpadu. Sebagaimana perkataan Imam Malik kepada Imam Asy Syafi’i, “Sungguh aku melihat bahwasanya Allah Ta’ala telah memberikan cahaya di hatimu. Janganlah kamu memadamkannya dengan kemaksiatan.”
2. Dihalangi dari Rezeki
Salah satu sebab dibukanya rezeki seseorang adalah ketakwaan kepada Allah. Hal ini berlaku sebaliknya. Seorang yang bermaksiat akan menyebabkan sulitnya mendapatkan rezeki dan mendatangkan kefakiran. Imam Ahmad berkata dalam Al Musnad, “Sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang ia kerjakan.” Seseorang akan kembali dibuka rezekinya jika meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat darinya.
3. Dipersulit Urusannya
Ketika menghadapi suatu urusan, seorang yang gemar bermaksiat kepada Allah akan dipersulit jalan keluarnya. Ia akan menghadapi banyak masalah hidup dan tak pernah menemukan jalan keluar dari masalah tersebut. Manusia sering kali menghadapi kesulitan demi kesulitan, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa kesulitan itu datang akibat kemaksiatan yang dikerjakannya. Akibat ini diketahui dari janji Allah yang menjamin kemudahan urusan setiap hamba-Nya yang bertakwa.
4. Hati yang Terus Gelisah
Kegundahan dan kegelisahan akan selalu dirasakan seseorang selama ia diliputi kemaksiatan. Meski betapa besar kenikmatan dari maksiat yang didapatkan, ia tak akan merasakan kehidupan yang damai dan tenang. Rasa gelisah akibat maksiat pun berbeda dari kegelisahan biasa. Inilah perasaan yang paling menyulitkan dalam hidup. Tentu tak ada seorang pun di dunia ini yang tak menginginkan kedamaian dalam hidup. Seorang bijak pernah mengatakan bahwa “Jika dosa-dosa itu telah membuatmu gelisah, tinggalkan dosa itu, niscaya kau akan merasakan ketenangan.”
5. Kesulitan Bermuamalah
Kegelisahan yang terus menumpuk akibat maksiat yang terus saja dilakukan, akan berdampak negatif pula pada saat bersosialisasi atau bermuamalah. Kebaikan orang sekitar tak akan lagi dirasakan, baik kerabat, teman, pasangan, bahkan kendaraan. Sebagaimana banyak dari kalangan ulama terdahulu merasakan, “Sungguh saat aku bermaksiat kepada Allah, aku merasakan dampak buruknya pada tingkah laku istriku dan hewan tungganganku.” Kegelisahan akan meliputi segala aspek hidup, sampai-sampai seorang akan membenci dirinya sendiri karenanya.
6. Suramnya Wajah dan Gelapnya Hati
Ketakwaan diibaratkan dengan cahaya. Adapun maksiat merupakan kegelapan. Makin menumpuk kemaksiatan yang dilakukan seseorang, makin menumpuk pula kegelapan dalam hatinya. Semakin meluas kegelapan tersebut, wajah akan nampak suram di mata manusia yang memandang. Shahabat Rasulullah yang mulia, Ibnu ‘Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan akan memunculkan sinar pada wajah, cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, kejelekan akan menyebabkan kesuraman wajah, kegelapan hati, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati manusia.”
7. Fisik yang Lemah
Sebagai mana perkataan Ibnu ‘Abbas, bahwasanya lemahnya fisik menjadi salah satu dampak dari kejelekan atau kemaksiatan. Kegelisahan hati akibat kemaksiatan akan terus membuat hati lemah. Sementara kekuatan fisik bersumber dari kekuatan hati. Hal ini terbukti dalam sejarah bahwa pasukan muslimin yang sedikit selalu mampu mengalahkan kaum kafir yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak. Hal itu disebabkan, hati mereka dipenuhi ketakwaan dan menghindari perbuatan maksiat kepada-Nya. Alhasil, fisik mereka sangat tangguh dan mampu menghadapi lawan yang terkuat sekalipun.
Tujuh hal tersebut tentu sangat menyulitkan hidup. Padahal setiap manusia berharap dapat hidup dengan nyaman, tenang dan dihindarkan dari masalah yang berat. Apalah artinya seorang ingin tampil cantik hingga gemar bertabaruj ala jahiliyyah, namun ternyata wajahnya suram di mata manusia. Apalah artinya memakan riba dan mendapat banyak harta, namun keberkahan tak pernah meliputinya hingga harta yang banyak itu terus saja terasa kurang.
Apalah artinya jika tidur nyenyak hingga terlambat shalat subuh, namun urusan di hari itu menjadi amat sangat sulit. Apalah artinya menikmati hura-hura pesta atau konser yang gemerlap, namun hati menjadi gundah gulana setelahnya. Apalah artinya memiliki banyak teman saat hang out, namun ternyata mereka semua tak mendekatkan diri pada Allah. Masih banyak contoh kemaksiatan lain yang tanpa sadar telah menjerumuskan pelakunya pada kesulitan hidup di dunia, dan terlebih lagi, di akhirat kelak.
Akibat-akibat tersebut pun hanya akan dirasakan muslimin yang masih memiliki ketakwaan dan kecintaan kepada Allah. Akibat-akibat tersebut di atas, tak berlaku bagi seorang yang telah mati hatinya. Sejatinya, segala kesulitan akibat maksiat merupakan sebuah teguran sekaligus kesempatan yang diberikan Allah agar para hamba tersadar akan kekeliruannya, lalu kembali mendekat kepada-Nya, bersimpuh di hadapan-Nya dan menangisi dosa-dosanya. Karena itu, bertaubatlah, sebelum hati benar-benar mati akibat dosa maksiat yang terlampau banyak, lalu kesempatan itu pun hilang seketika.
Bukan Hanya Berdampak di Akhirat, Ini 7 Kesulitan Hidup Akibat Maksiat. Kemaksiatan membawa pelakunya tak hanya terancam api neraka, namun juga tersiksa di dunia. Kadang kala, seorang tak merasakan dampak tersebut dan terus saja melakukan maksiat. Kadang kala pula, seorang menganggap kesulitan hidup sebagai ujian yang wajar ditimpa manusia padahal sebetulnya balasan atas kemaksiatan yang ia lakukan. Bahkan, kesedihan, kegalauan, kebodohan, kemiskinan, kehampaan, kelemahan, kegelisahan dan hal-hal negatif lainnya bisa jadi datang karena kemaksiatan yang terus saja dikerjakan. Berikut tujuh kesulitan hidup yang akan menerpa seorang pelaku maksiat.
1. Dijauhkan dari Ilmu
Seorang pelaku maksiat akan dihalangi mendapatkan ilmu dan mendatangkan kebodohan. Allah menjadikan ilmu sebagai cahaya yang benderang. Sementara perbuatan maksiat akan memadamkannya. Karena itulah ilmu dan maksiat tak bisa berpadu. Sebagaimana perkataan Imam Malik kepada Imam Asy Syafi’i, “Sungguh aku melihat bahwasanya Allah Ta’ala telah memberikan cahaya di hatimu. Janganlah kamu memadamkannya dengan kemaksiatan.”
2. Dihalangi dari Rezeki
Salah satu sebab dibukanya rezeki seseorang adalah ketakwaan kepada Allah. Hal ini berlaku sebaliknya. Seorang yang bermaksiat akan menyebabkan sulitnya mendapatkan rezeki dan mendatangkan kefakiran. Imam Ahmad berkata dalam Al Musnad, “Sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang ia kerjakan.” Seseorang akan kembali dibuka rezekinya jika meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat darinya.
3. Dipersulit Urusannya
Ketika menghadapi suatu urusan, seorang yang gemar bermaksiat kepada Allah akan dipersulit jalan keluarnya. Ia akan menghadapi banyak masalah hidup dan tak pernah menemukan jalan keluar dari masalah tersebut. Manusia sering kali menghadapi kesulitan demi kesulitan, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa kesulitan itu datang akibat kemaksiatan yang dikerjakannya. Akibat ini diketahui dari janji Allah yang menjamin kemudahan urusan setiap hamba-Nya yang bertakwa.
4. Hati yang Terus Gelisah
Kegundahan dan kegelisahan akan selalu dirasakan seseorang selama ia diliputi kemaksiatan. Meski betapa besar kenikmatan dari maksiat yang didapatkan, ia tak akan merasakan kehidupan yang damai dan tenang. Rasa gelisah akibat maksiat pun berbeda dari kegelisahan biasa. Inilah perasaan yang paling menyulitkan dalam hidup. Tentu tak ada seorang pun di dunia ini yang tak menginginkan kedamaian dalam hidup. Seorang bijak pernah mengatakan bahwa “Jika dosa-dosa itu telah membuatmu gelisah, tinggalkan dosa itu, niscaya kau akan merasakan ketenangan.”
5. Kesulitan Bermuamalah
Kegelisahan yang terus menumpuk akibat maksiat yang terus saja dilakukan, akan berdampak negatif pula pada saat bersosialisasi atau bermuamalah. Kebaikan orang sekitar tak akan lagi dirasakan, baik kerabat, teman, pasangan, bahkan kendaraan. Sebagaimana banyak dari kalangan ulama terdahulu merasakan, “Sungguh saat aku bermaksiat kepada Allah, aku merasakan dampak buruknya pada tingkah laku istriku dan hewan tungganganku.” Kegelisahan akan meliputi segala aspek hidup, sampai-sampai seorang akan membenci dirinya sendiri karenanya.
6. Suramnya Wajah dan Gelapnya Hati
Ketakwaan diibaratkan dengan cahaya. Adapun maksiat merupakan kegelapan. Makin menumpuk kemaksiatan yang dilakukan seseorang, makin menumpuk pula kegelapan dalam hatinya. Semakin meluas kegelapan tersebut, wajah akan nampak suram di mata manusia yang memandang. Shahabat Rasulullah yang mulia, Ibnu ‘Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan akan memunculkan sinar pada wajah, cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, kejelekan akan menyebabkan kesuraman wajah, kegelapan hati, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati manusia.”
7. Fisik yang Lemah
Sebagai mana perkataan Ibnu ‘Abbas, bahwasanya lemahnya fisik menjadi salah satu dampak dari kejelekan atau kemaksiatan. Kegelisahan hati akibat kemaksiatan akan terus membuat hati lemah. Sementara kekuatan fisik bersumber dari kekuatan hati. Hal ini terbukti dalam sejarah bahwa pasukan muslimin yang sedikit selalu mampu mengalahkan kaum kafir yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak. Hal itu disebabkan, hati mereka dipenuhi ketakwaan dan menghindari perbuatan maksiat kepada-Nya. Alhasil, fisik mereka sangat tangguh dan mampu menghadapi lawan yang terkuat sekalipun.
Tujuh hal tersebut tentu sangat menyulitkan hidup. Padahal setiap manusia berharap dapat hidup dengan nyaman, tenang dan dihindarkan dari masalah yang berat. Apalah artinya seorang ingin tampil cantik hingga gemar bertabaruj ala jahiliyyah, namun ternyata wajahnya suram di mata manusia. Apalah artinya memakan riba dan mendapat banyak harta, namun keberkahan tak pernah meliputinya hingga harta yang banyak itu terus saja terasa kurang.
Apalah artinya jika tidur nyenyak hingga terlambat shalat subuh, namun urusan di hari itu menjadi amat sangat sulit. Apalah artinya menikmati hura-hura pesta atau konser yang gemerlap, namun hati menjadi gundah gulana setelahnya. Apalah artinya memiliki banyak teman saat hang out, namun ternyata mereka semua tak mendekatkan diri pada Allah. Masih banyak contoh kemaksiatan lain yang tanpa sadar telah menjerumuskan pelakunya pada kesulitan hidup di dunia, dan terlebih lagi, di akhirat kelak.
Akibat-akibat tersebut pun hanya akan dirasakan muslimin yang masih memiliki ketakwaan dan kecintaan kepada Allah. Akibat-akibat tersebut di atas, tak berlaku bagi seorang yang telah mati hatinya. Sejatinya, segala kesulitan akibat maksiat merupakan sebuah teguran sekaligus kesempatan yang diberikan Allah agar para hamba tersadar akan kekeliruannya, lalu kembali mendekat kepada-Nya, bersimpuh di hadapan-Nya dan menangisi dosa-dosanya. Karena itu, bertaubatlah, sebelum hati benar-benar mati akibat dosa maksiat yang terlampau banyak, lalu kesempatan itu pun hilang seketika.
Mengalami masa-masa sulit seperti yang kita alami sebagai umat Islam saat ini, cukup melegakan membaca janji Allah SWT dalam Alquran sebagaimana dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“
Namun pemikiran yang muncul di benak semua orang adalah, mengapa kita harus melalui kesulitan sejak awal? Mengapa Allah SWT tidak menjadikan hidup kita menyenangkan?
Mengapa kita harus melihat orang-orang di Suriah terbunuh dan terluka? Mengapa Muslim menderita akibat Islamofobia yang merenggut hak atau semangat mereka untuk sedikitnya?
Kali ini akan dijelaskan sebagaimana dilansir di About Islam. Membaca firman-firman Allah SWT dalam Alquran, seseorang dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dan memahami kebijaksanaan agung di balik situasi tersebut.
Berikut tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang mengapa ada masa sulit kehidupan.
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”
Mungkin penjelasan pertama dan terpenting tentang mengapa orang-orang yang benar harus melalui masa-masa sulit dijelaskan oleh ayat yang fasih di atas. Allah menyatakan bahwa Dia dapat mengalahkan musuh-musuh-Nya tanpa bantuan orang-orang beriman. Dia, tentu, mampu melakukan apa saja.
Namun, sunnah (hukum) Allah adalah melakukan itu melalui kita sehingga kita akan diuji. Hidup ini tidak lain adalah ujian. (QS Al-Mulk: 2).
Bagian dari ujian ini adalah agar Allah menunjukkan siapa yang akan membela kebenaran dan mendukungnya. Jika bukan karena masa-masa sulit seperti ini, orang akan selalu mengklaim bahwa mereka berdiri pada kebenaran. Klaim ini harus diverifikasi dengan ujian dan kesengsaraan. (QS Al-`Ankabut: 2)
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Pernyataan dalam ayat tersebut dibuat sekelompok orang beriman dan utusan mereka ketika mereka tersentuh oleh kesulitan dan mereka terguncang di jalan menuju Allah. Allah berfirman kepada Rasul-Nya, kepada orang-orang beriman, dan kepada seluruh umat manusia bahwa jalan menuju Allah penuh dengan masa-masa sulit ini:
Ketika ayat tersebut menegaskan kembali bahwa menghadapi kesulitan yang tidak dapat dihindari, hal ini membawa perhatian pembaca pada tiga keyakinan penting yaitu kemenangan adalah milik Allah, sangat dekat, dan sebut Dia untuk mewujudkannya.
Kesulitan membantu menghubungkan orang-orang yang beriman kepada Allah secara komprehensif. Hati mereka akan melekat pada-Nya dan harapan mereka hanya akan ada di dalam Dia. Masa-masa sulit memelihara tauhid di hati orang-orang beriman dengan cara yang tidak mungkin dilakukan pada saat-saat mudah.
Berikut Penjelasan Mengapa Ada Kesulitan Dalam Hidup Manusia Didunia.
“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” Setelah pertempuran Uhud ketika kekalahan parsial menimpa tentara Muslim, ayat-ayat turun pada orang-orang beriman untuk menghibur mereka, memperbaiki kesalahan mereka, menganalisis peristiwa tersebut, dan menjelaskan apa yang terjadi.
Sungguh masa yang sulit ketika Allah mendeskripsikannya dengan kata mosibah (malapetaka). Saat menjelaskan alasan Allah membiarkan bencana seperti itu terjadi pada Nabi tercinta dan para sahabatnya. Allah SWT berfirman, "Dan untuk membantu membersihkan orang-orang beriman..."
Orang-orang percaya membutuhkannya dan itu memang membersihkan mereka. Itu membersihkan setiap individu dari semua kotoran. Ini membersihkan mereka dari cinta dunia ini, yang alasan utama kekalahan mereka. Ini juga membersihkan mereka dari dosa-dosa yang mereka miliki sebelum kesulitan.
“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”
Selain di level individu, bentuk ujian lainnya ada di level kelompok. Orang munafik ada di hampir setiap masyarakat. Mereka mengaku berpihak pada kebenaran dan mereka bekerja sangat keras untuk menipu orang. Ketika pertempuran Badar terjadi dan Allah memberikan kemenangan besar kepada Rasul-Nya, sekelompok orang munafik muncul. Kehadiran kelompok semacam itu di masyarakat mana pun dapat merusaknya. Mereka mencari keuntungan duniawi dan tidak tertarik untuk mendukung kebenaran. Seringkali, mereka benar-benar berpihak pada kebenaran dan melawannya dari dalam.
Saat-saat setelah pertempuran Badar mengingatkan kita dengan saat-saat setelah revolusi Arab terjadi dan memperoleh sebagian keberhasilan. Semua orang berpihak pada revolusi termasuk mereka yang menentangnya secara agresif.
Namun, ketika revolusi mulai menghadapi kesulitan dan menjadi jelas bahwa tidak ada keuntungan duniawi yang akan dicapai, banyak orang kembali menentangnya. Kemunafikan tidak selalu dalam iman. Itu juga sifatnya. Masa-masa sulit mengungkap semua jenis orang munafik dan melindungi masyarakat dari bahaya mereka.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Itu adalah tujuan akhir untuk menyembah Allah. Namun ibadah dalam Islam bukan hanya seperangkat ritual yang dilakukan seseorang. Ibadah dalam Islam bersifat komprehensif yang mencakup semua jenis tindakan, baik emosional maupun fisik. Ada aspek-aspek yang sangat berharga dari ibadah ini yang nyaris tidak terlihat di luar masa-masa sulit.
Sabar, konsep yang sangat komprehensif yang mencakup kesabaran, ketekunan, dan ketabahan, sangat menunjukkan dirinya pada saat-saat sulit. Tawakal, ketergantungan sepenuhnya kepada Allah, paling banyak dilakukan pada saat-saat sulit. Kerendahan hati di hadapan Allah paling terlihat ketika kita dihadapkan pada kesengsaraan.
Pertobatan adalah salah satu upaya pertama selama masa-masa sulit. Ini dibutuhkan Nabi Yunus untuk lepas dari kegelapan perut ikan paus untuk berseru kepada Allah. (QS Al-Anbiya: 87)
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
Pengorbanan yang terjadi pada saat kesusahan berpihak pada kebenaran dan dukungannya sangat diapresiasi Allah SWT. Faktanya, Dia mengizinkan itu terjadi sehingga Dia meninggikan derajat orang-orang percaya itu dan menunjukkan seberapa besar mereka mendukung kebenaran.
Allah SWT memilih beberapa dari mereka dan memberikan mereka pengorbanan dengan hal yang paling berharga dalam hidup mereka, bahwa itulah hidup mereka. Dia kemudian memberi mereka gelar yang tinggi di surga dan memberi mereka apa yang tidak Dia berikan kepada orang lain.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“
Akhirnya, mereka yang gagal melihat hikmah di balik kesulitan juga akan gagal melihat kemudahan. Semoga Allah SWT menunjukkan kebenaran kepada kita dan membantu kita untuk mengikutinya. Semoga Dia memberi kita Sabr ketika masa-masa sulit, dan memberi kita kemudahan dalam kehidupan ini dan di akhirat.
Mengalami masa-masa sulit seperti yang kita alami sebagai umat Islam saat ini, cukup melegakan membaca janji Allah SWT dalam Alquran sebagaimana dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“ Namun pemikiran yang muncul di benak semua orang adalah, mengapa kita harus melalui kesulitan sejak awal? Mengapa Allah SWT tidak menjadikan hidup kita menyenangkan. Mengapa kita harus melihat orang-orang di Suriah terbunuh dan terluka? Mengapa Muslim menderita akibat Islamofobia yang merenggut hak atau semangat mereka untuk sedikitnya?
Kali ini akan dijelaskan sebagaimana dilansir di About Islam. Membaca firman-firman Allah SWT dalam Alquran, seseorang dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dan memahami kebijaksanaan agung di balik situasi tersebut.
Berikut tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang mengapa ada masa sulit kehidupan.
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”
Mungkin penjelasan pertama dan terpenting tentang mengapa orang-orang yang benar harus melalui masa-masa sulit dijelaskan oleh ayat yang fasih di atas. Allah menyatakan bahwa Dia dapat mengalahkan musuh-musuh-Nya tanpa bantuan orang-orang beriman. Dia, tentu, mampu melakukan apa saja.
Namun, sunnah (hukum) Allah adalah melakukan itu melalui kita sehingga kita akan diuji. Hidup ini tidak lain adalah ujian. (QS Al-Mulk: 2).
Bagian dari ujian ini adalah agar Allah menunjukkan siapa yang akan membela kebenaran dan mendukungnya. Jika bukan karena masa-masa sulit seperti ini, orang akan selalu mengklaim bahwa mereka berdiri pada kebenaran. Klaim ini harus diverifikasi dengan ujian dan kesengsaraan. (QS Al-`Ankabut: 2)
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Pernyataan dalam ayat tersebut dibuat sekelompok orang beriman dan utusan mereka ketika mereka tersentuh oleh kesulitan dan mereka terguncang di jalan menuju Allah. Allah berfirman kepada Rasul-Nya, kepada orang-orang beriman, dan kepada seluruh umat manusia bahwa jalan menuju Allah penuh dengan masa-masa sulit ini:
Ketika ayat tersebut menegaskan kembali bahwa menghadapi kesulitan yang tidak dapat dihindari, hal ini membawa perhatian pembaca pada tiga keyakinan penting yaitu kemenangan adalah milik Allah, sangat dekat, dan sebut Dia untuk mewujudkannya.
Kesulitan membantu menghubungkan orang-orang yang beriman kepada Allah secara komprehensif. Hati mereka akan melekat pada-Nya dan harapan mereka hanya akan ada di dalam Dia. Masa-masa sulit memelihara tauhid di hati orang-orang beriman dengan cara yang tidak mungkin dilakukan pada saat-saat mudah.
Berikut Penjelasan Mengapa Ada Kesulitan Dalam Hidup Manusia Didunia.
“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” Setelah pertempuran Uhud ketika kekalahan parsial menimpa tentara Muslim, ayat-ayat turun pada orang-orang beriman untuk menghibur mereka, memperbaiki kesalahan mereka, menganalisis peristiwa tersebut, dan menjelaskan apa yang terjadi.
Sungguh masa yang sulit ketika Allah mendeskripsikannya dengan kata mosibah (malapetaka). Saat menjelaskan alasan Allah membiarkan bencana seperti itu terjadi pada Nabi tercinta dan para sahabatnya. Allah SWT berfirman, "Dan untuk membantu membersihkan orang-orang beriman..."
Orang-orang percaya membutuhkannya dan itu memang membersihkan mereka. Itu membersihkan setiap individu dari semua kotoran. Ini membersihkan mereka dari cinta dunia ini, yang alasan utama kekalahan mereka. Ini juga membersihkan mereka dari dosa-dosa yang mereka miliki sebelum kesulitan.
“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”
Selain di level individu, bentuk ujian lainnya ada di level kelompok. Orang munafik ada di hampir setiap masyarakat. Mereka mengaku berpihak pada kebenaran dan mereka bekerja sangat keras untuk menipu orang. Ketika pertempuran Badar terjadi dan Allah memberikan kemenangan besar kepada Rasul-Nya, sekelompok orang munafik muncul. Kehadiran kelompok semacam itu di masyarakat mana pun dapat merusaknya. Mereka mencari keuntungan duniawi dan tidak tertarik untuk mendukung kebenaran. Seringkali, mereka benar-benar berpihak pada kebenaran dan melawannya dari dalam.
Saat-saat setelah pertempuran Badar mengingatkan kita dengan saat-saat setelah revolusi Arab terjadi dan memperoleh sebagian keberhasilan. Semua orang berpihak pada revolusi termasuk mereka yang menentangnya secara agresif.
Namun, ketika revolusi mulai menghadapi kesulitan dan menjadi jelas bahwa tidak ada keuntungan duniawi yang akan dicapai, banyak orang kembali menentangnya. Kemunafikan tidak selalu dalam iman. Itu juga sifatnya. Masa-masa sulit mengungkap semua jenis orang munafik dan melindungi masyarakat dari bahaya mereka.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Itu adalah tujuan akhir untuk menyembah Allah. Namun ibadah dalam Islam bukan hanya seperangkat ritual yang dilakukan seseorang. Ibadah dalam Islam bersifat komprehensif yang mencakup semua jenis tindakan, baik emosional maupun fisik. Ada aspek-aspek yang sangat berharga dari ibadah ini yang nyaris tidak terlihat di luar masa-masa sulit.
Sabar, konsep yang sangat komprehensif yang mencakup kesabaran, ketekunan, dan ketabahan, sangat menunjukkan dirinya pada saat-saat sulit. Tawakal, ketergantungan sepenuhnya kepada Allah, paling banyak dilakukan pada saat-saat sulit. Kerendahan hati di hadapan Allah paling terlihat ketika kita dihadapkan pada kesengsaraan.
Pertobatan adalah salah satu upaya pertama selama masa-masa sulit. Ini dibutuhkan Nabi Yunus untuk lepas dari kegelapan perut ikan paus untuk berseru kepada Allah. (QS Al-Anbiya: 87)
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
Pengorbanan yang terjadi pada saat kesusahan berpihak pada kebenaran dan dukungannya sangat diapresiasi Allah SWT. Faktanya, Dia mengizinkan itu terjadi sehingga Dia meninggikan derajat orang-orang percaya itu dan menunjukkan seberapa besar mereka mendukung kebenaran.
Allah SWT memilih beberapa dari mereka dan memberikan mereka pengorbanan dengan hal yang paling berharga dalam hidup mereka, bahwa itulah hidup mereka. Dia kemudian memberi mereka gelar yang tinggi di surga dan memberi mereka apa yang tidak Dia berikan kepada orang lain.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“
Akhirnya, mereka yang gagal melihat hikmah di balik kesulitan juga akan gagal melihat kemudahan. Semoga Allah SWT menunjukkan kebenaran kepada kita dan membantu kita untuk mengikutinya. Semoga Dia memberi kita Sabr ketika masa-masa sulit, dan memberi kita kemudahan dalam kehidupan ini dan di akhirat.
Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar menghadapi gangguan dari orang lain .
Menyadari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan perbuatan para hamba. Perbuatan hamba, baik gerak, diam, maupun keinginannya, semua adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki pasti terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Tidak ada hal sekecil apa pun yang bergerak, di alam yang tinggi dan yang rendah, kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala dan kehendak-Nya. Para hamba adalah alat.
Karena itu, pandanglah kepada Dzat yang menguasakan mereka atas diri Anda, jangan Anda lihat perbuatan mereka terhadap Anda. Dengan demikian, Anda akan bisa terlepas dari kecemasan dan kesedihan.
Menyadari dosa-dosanya
Hamba mengakui dosa-dosanya dan mengakui pula bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menguasakan mereka atas dirinya akibat dosa yang diperbuatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura:30)
Apabila hamba mempersaksikan bahwa dia ditimpa oleh segala hal yang tidak disukai akibat dosa-dosanya, ia akan menyibukkan diri dengan bertobat dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang menyebabkan Allah subhanahu wa ta’ala menguasakan mereka atas dirinya tersebut. Dia tidak lagi (memiliki waktu) untuk mencela, mengecam, dan mencaci maki mereka.
Apabila Anda melihat seorang hamba mencaci maki orang yang menyakitinya, tidak mau berintrospeksi dan mencela dirinya sendiri, serta tidak memohon ampunan, ketahuilah bahwa musibah yang menimpanya adalah musibah yang sejati.
Apabila si hamba bertobat dan memohon ampunan seraya berkata bahwa hal ini disebabkan dosa-dosanya, gangguan manusia tersebut berubah menjadi kenikmatan baginya.
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengucapkan sebuah kalimat yang indah, “Seorang hamba hendaknya tidak berharap selain kepada Rabbnya, dan tidak khawatir kecuali terhadap dosanya.”
Diriwayatkan pula dari beliau radhiallahu ‘anhu dan yang selainnya, “Tidaklah terjadi sebuah bencana kecuali karena dosa, dan tidak akan dihilangkan bencana itu kecuali dengan tobat.”
karat-terkelupas
Menyadari pahala yang baik yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang yang memaafkan dan bersabar.
Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (asy-Syura: 40)
Dalam hal menghadapi gangguan orang lain, manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Zalim; dia mengambil lebih banyak daripada haknya.
Pertengahan; dia mengambil sebatas haknya.
Berbuat baik; dia memaafkan dan tidak mengambil haknya.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tiga golongan ini dalam ayat di atas. Awal ayat (Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa) untuk golongan yang pertengahan; pertengahan ayat (barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas [tanggungan] Allah) untuk golongan yang berbuat baik; dan akhir ayat (Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim) untuk golongan yang zalim.
Selain itu, dia menyadari pula seruan sang penyeru pada hari kiamat,
لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ
“Berdirilah orang yang telah Allah pastikan pahalanya.” Tidak ada yang berdiri (menyambut seruan itu) selain orang yang memaafkan dan melakukan perbaikan.
Jika bersamaan dengan itu dia mempersaksikan bahwa pahalanya akan hilang apabila dia menyiksa dan membalas (gangguan tersebut), akan mudah baginya bersabar dan memaafkan.
Menyadari bahwa jika hamba memaafkan dan berbuat baik, hal itu akan mewariskan keselamatan kalbunya terhadap saudaranya.
Selain itu, hal ini akan membersihkan kalbu dari niat buruk, rasa dendam, ingin menuntut balas, dan berbuat jahat, sekaligus mendapatkan manisnya pemaafan.
Pemaafan tersebut berlipat ganda lebih lezat dan lebih bermanfaat di dunia dan di akhirat daripada manfaat yang didapat jika dia membalas gangguan orang. Dia pun akan masuk dalam (golongan yang disebutkan oleh) firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)
Dia akan dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Keadaannya seperti seseorang yang dirampas darinya uang satu dirham lantas diganti dengan ribuan dinar. Ketika itulah dia akan sangat gembira dengan anugerah Allah subhanahu wa ta’ala terhadap dirinya.
Mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang membalas (gangguan orang lain) karena kepentingan pribadinya kecuali akan mewariskan kehinaan dalam jiwanya.
Apabila dia memaafkan, Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakannya. Inilah yang dikabarkan oleh ash-Shadiqul Mashduq (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam sabdanya,
مَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
“Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menambah kepada hamba dengan pemaafan selain kemuliaan.”2
Kemuliaan yang didapatkan seorang hamba dengan sebab pemaafan lebih dia sukai dan lebih bermanfaat baginya daripada kemuliaan yang didapatkan dengan sebab membalas. Kemuliaan yang seperti ini hanyalah secara lahir, namun mewariskan kerendahan dalam batin. Adapun pemaafan memang terasa rendah dalam batin, tetapi mewariskan kemuliaan lahir dan batin.
Faedah terbesar: menyadari bahwa balasan itu sesuai dengan amalan, dan bahwa dirinya sendirilah yang zalim dan berdosa.
Dia juga mempersaksikan bahwa siapa yang memaafkan orang lain, Allah subhanahu wa ta’ala akan memaafkannya; siapa yang mengampuni (kesalahan) orang lain, Allah subhanahu wa ta’ala pun akan mengampuninya.
Apabila hamba mempersaksikan bahwa perbuatan memaafkan dan berbuat baik kepada mereka yang berbuat jelek kepadanya akan menyebabkan dirinya dibalasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana amalannya. Allah subhanahu wa ta’ala akan memaafkan, tidak mengungkit, dan berbuat baik kepada dirinya meskipun dirinya berdosa; menjadi mudah baginya memaafkan orang dan bersabar atas gangguannya.
Cukuplah faedah ini bagi orang yang berakal.
Mengetahui bahwa apabila dirinya sibuk menuntut balas, waktunya akan sia-sia, kalbunya akan tercerai berai, dan akan luput darinya sekian banyak kebaikan yang tidak bisa dia raih.
Bisa jadi, (musibah) ini lebih berat daripada musibah yang dia dapatkan akibat gangguan orang. Apabila dia memaafkan dan tidak menolehnya lagi, kalbu dan badannya lapang untuk menggapai berbagai maslahat yang lebih penting baginya daripada membalas.
Perbuatannya membalas, mengambil haknya, dan membela, dilakukan untuk kepentingan pribadinya.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekali pun membalas karena kepentingan pribadi beliau. Demikianlah keadaan makhluk-Nya yang terbaik dan termulia, tidak pernah membalas demi kepentingan pribadinya. Padahal menyakiti beliau berarti menyakiti Allah subhanahu wa ta’ala dan terkait dengan hak-hak agama. Di samping itu, pribadi beliau adalah jiwa yang paling mulia, paling suci, paling berbakti, paling jauh dari segala akhlak tercela, dan paling berhak memiliki segenap akhlak mulia. Meski demikian, beliau tidak pernah membalas demi kepentingan pribadi.
Lantas, bagaimana bisa salah seorang dari kita membalas demi kepentingan pribadinya, padahal dirinya paling tahu tentang jiwanya dan berbagai kejahatan serta aibnya sendiri, Orang yang arif menganggap pribadinya tidak bernilai hingga pantas membalas. Dia pun menilai pribadinya tidaklah berharga hingga pantas untuk dibela.