This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 27 Juli 2022

Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan

 عَنْ أُمِّ العَلاَءِ قَالَتْ : عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

“Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak“. 

Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah Swt.

Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. [Asy-Syura/42 : 32-33]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa“. [Al-Baqarah/2 : 177]

Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar“. [Ali Imran/3 : 146]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan“. [An-Nahl/16 : 96]

نَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. [Az-Zumar/ : 10]

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” [Ar-Ra’d/13 : 23-24]

Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”.  Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan.

“Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”.

“Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimi’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab. ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?” Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. 

Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. 

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

“Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. 

Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engka ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga” [9]

Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan.

Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. [Al-Aqdud-Farid, 2/282]

Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu taqdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai taqdir-Nya”. [Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125]

Perbaharuilah imanmu dengan lafazh La ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi taqdir Allah. Sesungguhnya tidak ada taufik kecuali dari sisi Allah Swt.

Referensi sebagai Berikut ini ;











Tidak Perlu Khawatir dengan Rezeki (sandang, Papan, Uang Dll)

Tidak Perlu Khawatir dengan Rezeki/Uang. Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sbb ini ;

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Masihkah kita khawatir dengan rezeki?

Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Referensi sebagai Berikut ini ;










Setiap manusia pernah melakukan dosa entah itu kecil ataupun besar (Ustazd Adi Hidayat)

Dalam hidup, setiap manusia pernah melakukan dosa entah itu kecil ataupun besar. Oleh karenanya, dalam Islam, bertaubat dari dosa merupakan salah satu perbuatan yang sangat dicintai Allah Swt. Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa tanda-tanda seseorang sudah diampuni Allah SWT adalah tidak akan mengulangi perbuatan yang sama. Selain itu, Allah SWT akan menjaga dan melindungi orang tersebut agar tidak berbuat maksiat yang serupa dan maksiat lainnya.

"Kata para ulama ciri orang yang diampuni dosanya oleh Allah, dia akan dijaga tidak akan pernah berbuat maksiat yang serupa atau maksiat yang lainnya dalam hidup ini," tuturnya" Jadi kalau teman-teman pernah bertaubat dari dosa ciri ampunannya itu tidak akan terulang lagi dan akan berganti dengan amal shaleh," katanya melanjutkan. Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa perbuatan salah tidak akan pernah beringingan dan perbuatan shaleh.

Dan apabila perbuatan salah sudah hilang maka di saat itulah perbuatan shaleh akan muncul untuk menggantikannya. "Shaleh lawannya salah. Jadi kalau yang salah sudah hilang yang shaleh akan muncul," ujaranya. Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan tentang keutamaan bertaubat dengan memperbanyak istighfar. Menurutnya, dengan memperbanyak istighfar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuat dan memberikan rasa cinta-Nya.

Apabila Allah sudah cinta terhadap satu hamba, maka hamba tersebut tidak akan pernah mengalami kesusahan. Bahkan saat susah pun, hamba itu akan tetap merasakan ketenangan dan kenyamanan serta terhindar dari hati yang gelisah. "Kalau Anda sudah mendekat menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Anda tidak akan susah dalam kehidupan dunia, dan salah satu cara mendekatkan diri pada Allah adalah dengan Istighfar," ungkapnya.

Ustadz Adi Hidayat menambahkan jika Allah SWT sudah mencintai hamba-Nya maka bukan hanya terlepas dari kesusahan hidup. Segala harapan dan permintaan yang belum diucapkan saja akan langsung diberikan Allah SWT ketika dunia. Selain itu, Allah SWT pun telah menyiapkan kenikmatan yang kekal kelak di akhirat yaitu surga. "Kalau Anda sudah dicintai Allah jangankan kemudahan hidup doa Anda seketika sebelum meminta sudah Allah kabulkan," pungkasnya.  Sosok Ustadz Adi Hidayat mengungkap tentang tanda-tanda seseorang sudah mendapatkan ampunan Allah.

Dalam hidup, setiap manusia pernah melakukan dosa entah itu kecil ataupun besar. Oleh karenanya, dalam Islam, bertaubat dari dosa merupakan salah satu perbuatan yang sangat dicintai Allah. Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa tanda-tanda seseorang sudah diampuni Allah SWT adalah tidak akan mengulangi perbuatan yang sama. Selain itu, Allah SWT akan menjaga dan melindungi orang tersebut agar tidak berbuat maksiat yang serupa dan maksiat lainnya.

"Kata para ulama ciri orang yang diampuni dosanya oleh Allah, dia akan dijaga tidak akan pernah berbuat maksiat yang serupa atau maksiat yang lainnya dalam hidup ini," tuturnya. "Jadi kalau teman-teman pernah bertaubat dari dosa ciri ampunannya itu tidak akan terulang lagi dan akan berganti dengan amal shaleh," katanya melanjutkan. Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa perbuatan salah tidak akan pernah beringingan dan perbuatan shaleh. Dan apabila perbuatan salah sudah hilang maka di saat itulah perbuatan shaleh akan muncul untuk menggantikannya.

"Shaleh lawannya salah. Jadi kalau yang salah sudah hilang yang shaleh akan muncul," ujaranya. Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan tentang keutamaan bertaubat dengan memperbanyak istighfar. Menurutnya, dengan memperbanyak istighfar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuat dan memberikan rasa cinta-Nya. Apabila Allah sudah cinta terhadap satu hamba, maka hamba tersebut tidak akan pernah mengalami kesusahan.

Bahkan saat susah pun, hamba itu akan tetap merasakan ketenangan dan kenyamanan serta terhindar dari hati yang gelisah. "Kalau Anda sudah mendekat menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Anda tidak akan susah dalam kehidupan dunia, dan salah satu cara mendekatkan diri pada Allah adalah dengan Istighfar," ungkapnya. Ustadz Adi Hidayat menambahkan jika Allah SWT sudah mencintai hamba-Nya maka bukan hanya terlepas dari kesusahan hidup.

Segala harapan dan permintaan yang belum diucapkan saja akan langsung diberikan Allah SWT ketika dunia. Selain itu, Allah SWT pun telah menyiapkan kenikmatan yang kekal kelak di akhirat yaitu surga. "Kalau Anda sudah dicintai Allah jangankan kemudahan hidup doa Anda seketika sebelum meminta sudah Allah kabulkan," pungkasnya.

Referensi sebagai Berikut ini ;













Tanda-tanda Dosa Sudah Diampuni Allah Swt ketika Selesai Bertaubat, Akan Dijaga Allah Swt (Ustadz Adi Hidayat)

Tanda-tanda Dosa Sudah Diampuni Allah Swt ketika Selesai Bertaubat, Akan Dijaga Allah Swt (Ustadz Adi Hidayat). Sosok Ustadz Adi Hidayat mengungkap tentang tanda-tanda seseorang sudah mendapatkan ampunan Allah. Dalam hidup, setiap manusia pernah melakukan dosa entah itu kecil ataupun besar. Oleh karenanya, dalam Islam, bertaubat dari dosa merupakan salah satu perbuatan yang sangat dicintai Allah.Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa tanda-tanda seseorang sudah diampuni Allah SWT adalah tidak akan mengulangi perbuatan yang sama.

Selain itu, Allah SWT akan menjaga dan melindungi orang tersebut agar tidak berbuat maksiat yang serupa dan maksiat lainnya. "Kata para ulama ciri orang yang diampuni dosanya oleh Allah, dia akan dijaga tidak akan pernah berbuat maksiat yang serupa atau maksiat yang lainnya dalam hidup ini," tuturnya "Jadi kalau teman-teman pernah bertaubat dari dosa ciri ampunannya itu tidak akan terulang lagi dan akan berganti dengan amal shaleh," katanya melanjutkan.

Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa perbuatan salah tidak akan pernah beringingan dan perbuatan shaleh. Dan apabila perbuatan salah sudah hilang maka di saat itulah perbuatan shaleh akan muncul untuk menggantikannya. "Shaleh lawannya salah. Jadi kalau yang salah sudah hilang yang shaleh akan muncul," ujaranya. Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan tentang keutamaan bertaubat dengan memperbanyak istighfar.

Menurutnya, dengan memperbanyak istighfar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuat dan memberikan rasa cinta-Nya. Apabila Allah sudah cinta terhadap satu hamba, maka hamba tersebut tidak akan pernah mengalami kesusahan. Bahkan saat susah pun, hamba itu akan tetap merasakan ketenangan dan kenyamanan serta terhindar dari hati yang gelisah. "Kalau Anda sudah mendekat menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Anda tidak akan susah dalam kehidupan dunia, dan salah satu cara mendekatkan diri pada Allah adalah dengan Istighfar," ungkapnya.

Ustadz Adi Hidayat menambahkan jika Allah SWT sudah mencintai hamba-Nya maka bukan hanya terlepas dari kesusahan hidup. Segala harapan dan permintaan yang belum diucapkan saja akan langsung diberikan Allah SWT ketika dunia. Selain itu, Allah SWT pun telah menyiapkan kenikmatan yang kekal kelak di akhirat yaitu surga. "Kalau Anda sudah dicintai Allah jangankan kemudahan hidup doa Anda seketika sebelum meminta sudah Allah kabulkan," pungkasnya.  Kandungan Surat Az-Zumar Ayat 53, Salah Satunya Pengingat Dosa dan Taubat. Salah satu ayat dalam Alquran yang popular adalah surat Az-Zumar ayat 53. Ini karena ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT yang begitu luas, bahkan bagi orang yang berdosa.

Surat Az-Zumar (الزمر) sendiri termasuk dalam surat makkiyah. Nama Az-Zumar berasal dari bahasa Arab yang berarti rombongan-rombongan, diambil dari kata yang terdapat pada ayat 71 dan 73 surat ini. Selain Az-Zumar, surat ini juga dinamakan dengan surat Al-Ghuraf, yang diambil dari kata pada ayat ke-20. Kandungan utama surat ini adalah penjelasan tauhid dan bukti bahwa Allah SWT Maha Pemurah. Berikut ini adalah bacaan, tulisan latin, dan arti dari Surat Az-Zumar Ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(Qul yaa ‘ibaadiyal ladzii asrofuu ‘alaa anfusihim laa taqnathuu min rohmatillaah. Innallooha yaghfirudz dzunuuba jamii’aa. Innahuu huwal ghofuurur rohiim)

Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53)

Dirangkum dari berbagai sumber, tafsir dari Surat Az-Zumar ayat 53 ini secara umum mengandung hal-hal yang berkaitan dengan keimanan dan juga meningkatkan rasa optimis akan adanya ampunan dari Allah SWT.

Beberapa di antaranya yakni:

1. Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah SWT

Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini merupakan seruan kepada orang-orang yang pendurhaka serta orang kafir, agar bertaubat dan kembali kepada Allah SWT.

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Meskipun durhaka dan melampaui batas, Allah SWT teta* menyeru dengan panggilan yang sangat lembut: ‘ibaadii (hamba-hambaKu).

Meskipun telah melakukan hal yang melampaui batas, durhaka, banyak berbuat dosa, namun saat dipanggil dengan kata “’ibaadii’, Allah SWT menyeru untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan, ayat ini menyeru kepada harapan, optimisme, cita-cita, dan kepercayaan akan ampunan Allah.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu Mas’ud menyebut ayat ini adalah ayat Alquran yang paling menggembirakan.

2. Allah SWT Akan Mengampuni Dosa

Pengampunan dosa menjadi poin penting lainnya dari tafsir Surat Az Zumar ayat 53 ini. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa artinya Allah SWT mengampuni semua dosa tanpa peduli betapapun banyaknya.

Asal bertaubat, maka Allah SWT akan mengampuninya. Sebagaimana tercantum dalam surat yang lain:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

(A lam ya'lamū annallāha huwa yaqbalut-taubata 'an 'ibādihī …)

Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya,” (QS At-Taubah: 104).

Dosa tersebut juga termasuk dosa syirik yang benar-benar dosa besar, akan diampuni asalkan benar-benar bertaubat. Sebab, syirik yang tidak akan diampuni Allah SWT adalah syirik yang dibawa mati.

3. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang

Buya Hamka menjelaskan, ayat menunjukkan luasnya rahmat Allah SWT. Sehingga, bagaimana pun besarnya dosa dan maksiat, akan terlihat seperti sebutir pasir yang akan hilang oleh ampunan-Nya.

4. Janji Allah SWT kepada Nabi Adam AS

Dalam sebuah hadis Qudsi, telah disebutkan bahwa ayat ini merupakan janji Allah SWT kepada Nabi Adam as setelah diturunkan ke dunia.

Nabi Adam berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau telah membuat Iblis mampu menguasaiku dan keturunanku, dan aku tidak sanggup membendungnya kecuali atas izin-Mu.”

Allah SWT berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya setiap keturunanmu yang lahir akan ditemani oleh malaikat penjaga.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Pintu taubat akan senantiasa terbuka bagi keturunanmu, pintu itu tidak akan tertutup hingga hari kiamat.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Setiap kebaikan yang dilakukan keturunanmu akan dibalas sebanyak sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan atau kejahatan hanya dibalas setimpal.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”

5. Mengutamakan Kasih Sayang

Dari Surat Az-Zumar Ayat 53 ini juga terdapat psikologi dakwah Islam dalam perspektif Alquran, yakni mendahulukan cinta dan kasih serta kelembutan di atas segalanya.

Pada aspek tertentu, seseorang memang harus berlaku keras dan tegas. Namun di sisi lain, ketegasan tersebut jangan sampai membuat lupa bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan cinta, kedamaian, dan kesejahteraan.

Menurut studi yang dipublikasikan Digital Library UIN Sunan Ampel Surabaya, putus asa merupakan godaan dari setan untuk mempengaruhi keimanan, supaya tidak merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan dalam berkeyakinan.

Dan ayat ini benar-benar menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu, berikut ini adalah beberapa isi kandungan Surat Az-Zumar ayat 53:

  • Allah SWT melarang berputus asa betapapun banyaknya dosa yang telah diperbuat
  • Memberikan harapan dan membangun sikap optimis terhadap ampunan Allah SWT
  • Ampunan Allah sangat luas, sehingga akan mengampuni semua dosa asalkan benar-benar bertaubat
  • Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang
  • Janji Allah SWT kepada Nabi Adam AS
  • Mengutamakan kelembutan serta kasih sayang

Inilah pejelasan mengenai Surat Az Zumar ayat 53. Semoga dapat bermanfaat, menjauhkan diri dari rasa putus asa, dan menanamkan rasa optimis akan ampunan dari Allah SWT.

Referensi sebagai Berikut ini ;












Ketika Dosa Sudah Melampaui Batas


Kandungan Surat Az-Zumar Ayat 53, Salah Satunya Pengingat Dosa dan Taubat. Salah satu ayat dalam Alquran yang popular adalah surat Az-Zumar ayat 53. Ini karena ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT yang begitu luas, bahkan bagi orang yang berdosa. Surat Az-Zumar (الزمر) sendiri termasuk dalam surat makkiyah. Nama Az-Zumar berasal dari bahasa Arab yang berarti rombongan-rombongan, diambil dari kata yang terdapat pada ayat 71 dan 73 surat ini.

Selain Az-Zumar, surat ini juga dinamakan dengan surat Al-Ghuraf, yang diambil dari kata pada ayat ke-20. Kandungan utama surat ini adalah penjelasan tauhid dan bukti bahwa Allah SWT Maha Pemurah. Berikut ini adalah bacaan, tulisan latin, dan arti dari Surat Az-Zumar Ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(Qul yaa ‘ibaadiyal ladzii asrofuu ‘alaa anfusihim laa taqnathuu min rohmatillaah. Innallooha yaghfirudz dzunuuba jamii’aa. Innahuu huwal ghofuurur rohiim)

Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53)

Dirangkum dari berbagai sumber, tafsir dari Surat Az-Zumar ayat 53 ini secara umum mengandung hal-hal yang berkaitan dengan keimanan dan juga meningkatkan rasa optimis akan adanya ampunan dari Allah SWT.

Beberapa di antaranya yakni:

1. Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah SWT

Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini merupakan seruan kepada orang-orang yang pendurhaka serta orang kafir, agar bertaubat dan kembali kepada Allah SWT.

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Meskipun durhaka dan melampaui batas, Allah SWT teta* menyeru dengan panggilan yang sangat lembut: ‘ibaadii (hamba-hambaKu).

Meskipun telah melakukan hal yang melampaui batas, durhaka, banyak berbuat dosa, namun saat dipanggil dengan kata “’ibaadii’, Allah SWT menyeru untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan, ayat ini menyeru kepada harapan, optimisme, cita-cita, dan kepercayaan akan ampunan Allah.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu Mas’ud menyebut ayat ini adalah ayat Alquran yang paling menggembirakan.

2. Allah SWT Akan Mengampuni Dosa

Pengampunan dosa menjadi poin penting lainnya dari tafsir Surat Az Zumar ayat 53 ini. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa artinya Allah SWT mengampuni semua dosa tanpa peduli betapapun banyaknya.

Asal bertaubat, maka Allah SWT akan mengampuninya. Sebagaimana tercantum dalam surat yang lain:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

(A lam ya'lamū annallāha huwa yaqbalut-taubata 'an 'ibādihī …)

Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya,” (QS At-Taubah: 104).

Dosa tersebut juga termasuk dosa syirik yang benar-benar dosa besar, akan diampuni asalkan benar-benar bertaubat. Sebab, syirik yang tidak akan diampuni Allah SWT adalah syirik yang dibawa mati.

3. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang

Buya Hamka menjelaskan, ayat menunjukkan luasnya rahmat Allah SWT. Sehingga, bagaimana pun besarnya dosa dan maksiat, akan terlihat seperti sebutir pasir yang akan hilang oleh ampunan-Nya.

4. Janji Allah SWT kepada Nabi Adam AS

Dalam sebuah hadis Qudsi, telah disebutkan bahwa ayat ini merupakan janji Allah SWT kepada Nabi Adam as setelah diturunkan ke dunia.

Nabi Adam berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau telah membuat Iblis mampu menguasaiku dan keturunanku, dan aku tidak sanggup membendungnya kecuali atas izin-Mu.”

Allah SWT berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya setiap keturunanmu yang lahir akan ditemani oleh malaikat penjaga.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Pintu taubat akan senantiasa terbuka bagi keturunanmu, pintu itu tidak akan tertutup hingga hari kiamat.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Setiap kebaikan yang dilakukan keturunanmu akan dibalas sebanyak sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan atau kejahatan hanya dibalas setimpal.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”

5. Mengutamakan Kasih Sayang

Dari Surat Az-Zumar Ayat 53 ini juga terdapat psikologi dakwah Islam dalam perspektif Alquran, yakni mendahulukan cinta dan kasih serta kelembutan di atas segalanya.

Pada aspek tertentu, seseorang memang harus berlaku keras dan tegas. Namun di sisi lain, ketegasan tersebut jangan sampai membuat lupa bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan cinta, kedamaian, dan kesejahteraan.

Menurut studi yang dipublikasikan Digital Library UIN Sunan Ampel Surabaya, putus asa merupakan godaan dari setan untuk mempengaruhi keimanan, supaya tidak merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan dalam berkeyakinan.

Dan ayat ini benar-benar menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu, berikut ini adalah beberapa isi kandungan Surat Az-Zumar ayat 53:

Allah SWT melarang berputus asa betapapun banyaknya dosa yang telah diperbuat

Memberikan harapan dan membangun sikap optimis terhadap ampunan Allah SWT

Ampunan Allah sangat luas, sehingga akan mengampuni semua dosa asalkan benar-benar bertaubat

Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang

Janji Allah SWT kepada Nabi Adam AS

Mengutamakan kelembutan serta kasih sayang

Inilah pejelasan mengenai Surat Az Zumar ayat 53. Semoga dapat bermanfaat, menjauhkan diri dari rasa putus asa, dan menanamkan rasa optimis akan ampunan dari Allah SWT.


Kandungan Surat Az Zumar Ayat 53, Perintah untuk Bertaubat dan Optimistis

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Namun, Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk terus optimis dan tidak berputus asa.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Az Zumar ayat 53 sebagai berikut:

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Arab-latin: Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

ayat ini menjelaskan tentang sifat Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun bagi hamba-hambaNya yang berbuat dosa. Dia memiliki rahmat dan kasih sayang yang sangat luas kepada hambaNya yang beriman.

Segala dosa yang diperbuat seperti meninggalkan apa yang menjadi perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya akan diampuni oleh Allah SWT apabila benar-benar bertaubat dari kesalahan yang telah dilakukan.

Terkadang manusia berputus asa terlebih dahulu sebelum mencoba untuk mengharapkan ridho dan ampunan-Nya. Banyak orang yang mengira Allah SWT tidak akan mengampuni dosa yang begitu banyaknya.

Bahkan hati seolah sudah tertutup karena kedurhakaan dan perbuatan kelamnya. Tapi Allah SWT, akan mengampuni dan menerima taubat hamba-Nya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari 'Amr bin 'Anbasah bahwa telah datang menemui Nabi SAW seorang yang telah tua bangka dan berkata kepada beliau, "Hai Rasulullah, saya banyak mengerjakan kesalahan dan maksiat. Apakah mungkin kesalahan itu diampuni?"

Nabi SAW menjawab, "Apakah engkau telah mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?" Orang tua itu menjawab, "Benar, bahkan aku mengakui bahwa engkau utusan Allah, "Rasulullah SAW menegaskan, Allah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah engkau lakukan itu." (HR. Ahmad)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai seruan kepada orang-orang yang durhaka termasuk orang kafir untuk bertaubat kepada Allah SWT. Manusia juga diseru untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Itu tadi isi kandungan yang terdapat dalam surat Az Zumar ayat 53. Tetap optimis apalagi jika ingin bertaubat di bulan Ramadhan dan jangan berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Referensi sebagai Berikut ini ;

Kandungan Surat Az Zumar Ayat 53, Perintah untuk Bertaubat dan Optimistis

Kandungan Surat Az Zumar Ayat 53, Perintah untuk Bertaubat dan Optimistis. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Namun, Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk terus optimis dan tidak berputus asa. Allah SWT berfirman dalam Q.S Az Zumar ayat 53 sebagai berikut:

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Arab-latin: Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

ayat ini menjelaskan tentang sifat Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun bagi hamba-hambaNya yang berbuat dosa. Dia memiliki rahmat dan kasih sayang yang sangat luas kepada hambaNya yang beriman.

Segala dosa yang diperbuat seperti meninggalkan apa yang menjadi perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya akan diampuni oleh Allah SWT apabila benar-benar bertaubat dari kesalahan yang telah dilakukan.

Terkadang manusia berputus asa terlebih dahulu sebelum mencoba untuk mengharapkan ridho dan ampunan-Nya. Banyak orang yang mengira Allah SWT tidak akan mengampuni dosa yang begitu banyaknya.

Bahkan hati seolah sudah tertutup karena kedurhakaan dan perbuatan kelamnya. Tapi Allah SWT, akan mengampuni dan menerima taubat hamba-Nya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari 'Amr bin 'Anbasah bahwa telah datang menemui Nabi SAW seorang yang telah tua bangka dan berkata kepada beliau, "Hai Rasulullah, saya banyak mengerjakan kesalahan dan maksiat. Apakah mungkin kesalahan itu diampuni?"

Nabi SAW menjawab, "Apakah engkau telah mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?" Orang tua itu menjawab, "Benar, bahkan aku mengakui bahwa engkau utusan Allah, "Rasulullah SAW menegaskan, Allah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah engkau lakukan itu." (HR. Ahmad)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai seruan kepada orang-orang yang durhaka termasuk orang kafir untuk bertaubat kepada Allah SWT. Manusia juga diseru untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Itu tadi isi kandungan yang terdapat dalam surat Az Zumar ayat 53. Tetap optimis apalagi jika ingin bertaubat di bulan Ramadhan dan jangan berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Referensi sebagai Berikut ini ;











Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Az-Zumar : 53)

Ayat di atas ialah sebuah panggilan mesra bagi hamba Allah yang banyak berbuat dosa dan sangat keterlaluan dalam bermaksiat pada-Nya. Termasuk buat para pembunuh, pezina, pengguna narkoba, pencuri dan perbuatan keji dan jahat lain agar tidak berputus asa atas terhadap rahmat-Nya akibat sudah terlalu banyak dosa dan noda yang dikerjakan. Ayat ini menegaskan bahwa rahmat dan kasih sayang-Nya sangat luas dan kemurahan-Nya sangat besar.

Ibnu Umar berkata, "Kami pernah menganggap bahwa tobat seseorang yang menyeleweng dari Islam, bahkan meninggalkannya dengan penuh kesadaran, tidak akan diterima. Ketika Rasulullah tiba di Madinah turunlah ayat ini (Az-zumar : 53), yang menegaskan bahwa Allah akan Mengampuni dosa-dosa Hamba-hamba-Nya walaupun telah melampaui batas.

Ibnu Taimiyah berkata mengenai ayat ini, "Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah."

Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan, "Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah 'azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat."

Allah akan mengampuni semua dosa dan memaafkan segala kesalahan orang yang bertaubat dan menyesali kesalahannya itu. Bahkan Allah gembira menyambut 'kepulangannya'. Nabi bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT sangat gembira dengan taubat hambaNya melebihi kegembiraan salah seorang di antara kamu yang kehilangan untanya di padang pasir kemudian menemukannya kembali". (HR Muslim). Bahkan Allah akan ganti segala keburukan-keterpurukan dahulu dengan kebaikan perbaikan. Rintih tangis pentaubat lebih Allah cinta daripada tasbih si taat.

Seandainya taubat bukan hal yang paling disukai Allah, niscaya Dia tidak akan menguji manusia, makhluk yang paling mulia (Nabi Adam 'alaihissalam) dengan kesalahan. Bukankah episode awal kemanusiaan diwarnai dengan kesalahan Nabi Adam memakan buah terlarang? Kemudian Adam pun berdoa memohon ampun dan melanjutkan kepemimpinan di bumi. Bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri pernah bersabda: "Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika kamu tidak pernah berbuat dosa, maka Allah akan mematikan kamu dan menggantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka meminta ampun kepada-Nya, kemudian Allah akan mengampuni mereka."

Dalam hadist Qudsy, Allah berfirman: "Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kamu membuat kesalahan pada waktu malam dan siang dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.". Dalam hadist Qudsi lain, Allah berfirman: "Wahai anak adam, walaupun dosa kamu mencapai setinggi langit, kemudian kamu beristighfar memohon ampun kepada-Ku, maka niscaya Aku ampuni kamu dan Aku tidak peduli."

Oleh karena itu, kita tidak layak berputus asa seperti Iblis yang putus asa, sehingga terjuluki "Ar-Rojim". Namun teruslah berbaik sangka dan bertaubat seperti Nabi Adam as.

Bukankah Rasulullah Saw juga bersabda, "Setiap anak Adam pasti sering melakukan dosa dan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang rajin bertaubat"

Ampunan Allah senantiasa melimpah ruah sebanyak apapun dosa sang hamba. Allah Maha Menerima Taubat, Karunia, bahkan Menutup Aib. Seyogyanya kita bergembira dengan ayat ini, maka hendaklah berbaik sangka pada Allah, tidak berputus asa terhadap rahmat Allah betapapun besar dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Hendaklah kita bertaubat dan kembali serta memohon ampunan pada Pencipta.

Pantaslah orang bertaubat mendapat nikmat, layaklah orang yang kembali mendapat damai dan karunia agung ini. Betapa gembira orang yang mendengar seruan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Betapa bahagia menerima kemurahan Sang Maha Pengampun. Inilah ayat al-Quran paling diharapkan oleh kebanyakan ummat manusia.

Ingat-ingatlah kembali kisah pemuda pembunuh 99 orang plus satu ahli ibadah. Ketika ia bertemu dengan ulama yang menyemangatinya untuk bertaubat dan hijrah, kemudian ia bergegas untuk berpindah. Namun, ia bertemu jadwal ajalnya padahal ia masih berada di tengah perjalanan. Belum sampai ke tempat yang dituju. Malaikat rahmat dan azab saling bertengkar memperebutkan. Lantas apa akhir kisah itu? Dia mendapat maghfirah, rahmah dan jannah. Setelah diukur jarak antara masa lalu dan tempat yang dituju ternyata kebaikannya menang SATU LANGKAH. Begitulah kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Oleh sebab itu, tatkala kita yang terjerembab dalam kemaksiatan, janganlah tertanam dalam diri, "Ah, sepertinya Aku dah bernasib sebagai pendosa, sepertinya sulit diampuni, kuteruskanlah...dsb" itulah ciri keputusasaan. Ibnu Athaillah berkata "Manakala anda terjerumus dalam dosa, janganlah kenyataan itu membuatmu putus asa dalam meraih Istiqomahmu dengan Tuhanmu. Siapa tahu  itulah akhir dosa yang ditakdirkan oleh Allah padamu."

Begitupula tatkala kita melihat saudara kita terjerembab nista, jangan pula kita langsung memvonis, "Ia ahli neraka" "Tidak terampuni lagi tuh", "Berani-beraninya kita durhaka pada Allah". Ibnu Mas'ud ra mengajarkan kepada kita, "Jika kalian melihat salah seorang saudara kalian melakukan dosa, maka janganlah kalian membantu syetan untuk mengalahkan dirinya, dengan berkata, 'Ya Allah, hinakanlah dia, ya Allah, kutuklah dia'. Tapi mohonkanlah ampunan baginya.

Sesungguhnya kami para shahabat Rasululah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membicarakan sesuatu pada diri seseorang, sehingga kami mengetahui bagaimana keadaannya saat meninggal dunia. Jika dia meninggal dalam keadaan baik, maka kami tahu bahwa memang dia mendapat kebaikan. Jika dia meninggal dalam keadaan buruk, maka kami pun merasa khawatir terhadap keadaannya nanti."

Rasulullah Saw senantiasa mengharapkan taubat bagi pendosa, seperti kisah beliau dengan Wahsyi, pembunuh Hamzah, paman Nabi di Perang Uhud. Nabi dan Wahsyi, mereka terus berbalas surat hingga akhirnya beliau mencantumkan ayat ini. Dan Wahsyi pun masuk Islam dan menjadi salah seorang pejuang Islam pembunuh Musailamah si Nabi palsu di masa Abu Bakar.

Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Allah SWT Maha Mengampun. Dia akan mengampuni seluruh dosa hamba-Nya yang memohon ampunan pada-Nya. Oleh karena itu, jangan berputus asa dengan rahmat Allah yang Luas. 

Referensi sebagai Berikut ini ;









Dosa-dosa yang Balasannya akan Disegerakan Allah Swt di Dunia

Dosa-dosa yang Balasannya akan Disegerakan Allah Swt di Dunia. Setiap pribadi manusia akan ditangguhkan dosa yang diperbuatnya hingga hari kiamat. Namun terdapat tiga dosa besar yang balasannya akan disegeraka Allah SWT di dunia. 

عَن أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قال  : كلُّ ذنوبٍ يؤخِرُ اللهُ منها ما شاءَ إلى يومِ القيامةِ إلَّا البَغيَ، وعقوقَ الوالدَينِ، أو قطيعةَ الرَّحمِ، يُعجِلُ لصاحبِها في الدُّنيا قبلَ المَوتِ 

Hal ini sesuai dalam hadist dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda,” Setiap  dosa akan di akhirkan (ditunda) balasannya oleh Allah SWT hingga hari kiamat, kecuali al-baghy (zalim), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahim, Allah akan menyegerakan di dunia sebelum kematian menjemput.” (HR Al Hakim, Al Mustadrak No 7345).

Pertama, dosa orang yang berbuat zalim balasannya akan disegerakan. zalim adalah perbuatan melampaui batas dalam melakukan keburukan. 

Perbuatan zalim dapat mengotori hati, seperti sombong, dengki, ghibah, fitnah, dusta, dan lain sebagainya. Karena itu zalim termasuk dari dosa besar. 

Manusia yang zalim akan mendapatkan balasan di dunia dan siksa pedih di akhirat. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran:  

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Asy-Syura: 42)

Referensi sebagai Berikut ini ;









Jangan Pernah Berputus Asa (Surat Az-Zumar Ayat 53)

Pada fase tertentu dalam kehidupan, mungkin sebagian orang akan menghadapi berbagai macam masalah ataupun melakukan banyak kesalahan. Kadangkala masalah dan kesalahan tersebut membuat seseorang merasa ingin menyerah dan berputus asa, karena baginya sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan sudah terlambat untuk menyesal.

Merasa berputus asa dan menyesal bagi mereka yang sedang dirundung masalah atau melakukan kesalahan (dosa) adalah sesuatu yang lumrah dan manusiawi. Bahkan menyesal atas perbuatan dosa yang telah dilakukan merupakan tanda melekatnya keimanan di dalam hati seseorang. Jika seseorang melakukan dosa tanpa rasa penyesalan, maka patut dipertanyakan di mana keimanannya.

Meskipun demikian, penyesalan dan rasa berputus asa ada yang berlebihan tidaklah baik. Karena ini – bisa jadi – merupakan bisikan setan yang memerintahkan manusia untuk tenggelam dalam penyesalan dan keputusasaan, sehingga membuat mereka lupa untuk mengharap kepada Allah swt, bahwa rahmat dan karunia-Nya amat luas, jauh lebih luas dari murka dan siksanya.

Dengan demikian, siapapun, kapanpun dan dimanapun, manakala ia mendapatkan masalah hendaknya ia tidak berputus asa dan tenggelam dalam rasa frustrasi. Ia harus yakin bahwa akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Di sisi lain, manakala seseorang melakukan kesalahan seperti berbuat dosa, hendaknya ia menyesali perbuatannya tersebut tanpa berlebih-lebihan apalagi sampai berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah swt.

Tafsir QS. Az-Zumar Ayat 53: Jangan Berputus Asa

Berkenaan dengan hamba yang berlumur dosa dan melampaui batas, Allah Swt berfirman kepada mereka agar jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Mereka hanya perlu menyesali perbuatan dosa, berjanji tidak mengulanginya dan meminta ampunan kepada-Nya. Hal ini termaktub dalam QS. Az-Zumar ayat 53 yang berbunyi:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Menurut Math‘am bin ‘Addiy, ayat ini turun kepada kamu kafir Quraish, terutama pemuka-pemuka mereka yang masuk Islam pasca penaklukan Mekah (fath makkah). Mereka adalah Suhail bin ‘Amr, Hakim bin Hazm, Safwan bin Umayyah, Abu Sufyan dan lain-lain (Tafsir Al-Qur’an/Tafsir al-Sam‘ani [4]: 475).

Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami bisa masuk Islam? Sesungguhnya nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Barang Siapa yang melakukan perbuatan syirik, berzina atau membunuh, maka dia akan binasa atau celaka.” Dan kami sungguh telah melakukan itu semua, bagaimana keadaan kami?” Kemudian turunlah QS. Az-Zumar Ayat 53.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan bahwa ayat ini merupakan janji Allah Swt kepada nabi Adam as pasca penurunannya ke dunia. Nabi Adam berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau telah membuat Iblis mampu menguasaiku dan keturunanku, dan aku tidak sanggup membendungnya kecuali atas izin-Mu.”

Allah swt berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya setiap keturunanmu yang lahir akan ditemani oleh malaikat penjaga.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Pintu taubat akan senantiasa terbuka bagi keturunanmu, pintu itu tidak akan tertutup hingga hari kiamat.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Setiap kebaikan yang dilakukan keturunanmu akan dibalas sebanyak sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan atau kejahatan hanya dibalas setimpal.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”

Secara umum ayat di atas mengatakan bahwa sebaiknya manusia – yakni hamba-hamba Allah swt yang telah melakukan dosa – tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Jika mereka menyesali semua dosa tersebut dan mau bertaubat secara sungguh-sungguh, maka Allah swt akan mengampuninya. Karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

Kata la taqnuthu pada ayat ini bermakna la tay‘asu, yakni janganlah berputus asa dari rahmat Allah Swt, karena rahmat-Nya jauh lebih luas dan besar daripada murka-Nya. Tidak berputus asa di sini bermakna bahwa seseorang menyesali semua perbuatan dosanya, bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Menurut Math‘am bin ‘Addiy, ayat ini turun kepada kamu kafir Quraish, terutama pemuka-pemuka mereka yang masuk Islam pasca penaklukan Mekah (fath makkah). Mereka adalah Suhail bin ‘Amr, Hakim bin Hazm, Safwan bin Umayyah, Abu Sufyan dan lain-lain (Tafsir Al-Qur’an/Tafsir al-Sam‘ani [4]: 475).

Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami bisa masuk Islam? Sesungguhnya nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Barang Siapa yang melakukan perbuatan syirik, berzina atau membunuh, maka dia akan binasa atau celaka.” Dan kami sungguh telah melakukan itu semua, bagaimana keadaan kami?” Kemudian turunlah QS. Az-Zumar Ayat 53.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan bahwa ayat ini merupakan janji Allah Swt kepada nabi Adam as pasca penurunannya ke dunia. Nabi Adam berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau telah membuat Iblis mampu menguasaiku dan keturunanku, dan aku tidak sanggup membendungnya kecuali atas izin-Mu.”

Allah swt berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya setiap keturunanmu yang lahir akan ditemani oleh malaikat penjaga.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Pintu taubat akan senantiasa terbuka bagi keturunanmu, pintu itu tidak akan tertutup hingga hari kiamat.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Setiap kebaikan yang dilakukan keturunanmu akan dibalas sebanyak sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan atau kejahatan hanya dibalas setimpal.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”

Secara umum ayat di atas mengatakan bahwa sebaiknya manusia – yakni hamba-hamba Allah swt yang telah melakukan dosa – tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Jika mereka menyesali semua dosa tersebut dan mau bertaubat secara sungguh-sungguh, maka Allah swt akan mengampuninya. Karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

Kata la taqnuthu pada ayat ini bermakna la tay‘asu, yakni janganlah berputus asa dari rahmat Allah Swt, karena rahmat-Nya jauh lebih luas dan besar daripada murka-Nya. Tidak berputus asa di sini bermakna bahwa seseorang menyesali semua perbuatan dosanya, bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Berdasarkan ayat di atas, semua dosa manusia dapat diampuni seandainya Allah Swt berkehendak. Namun dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika QS. Az-Zumar Ayat 53 turun, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan dosa orang yang syirik?” kemudian nabi Saw diam sejenak dan laki-laki itu bertanya lagi, “bagaimana dengan dosa orang yang syirik?” Beliau menjawab, “Kecuali orang yang menyekutukan Allah Swt.”

Jika seseorang menelaah frasa ayat di atas secara cermat, maka ia dapat menemukan bahwa ada isyarat dari Allah Swt agar manusia tidak mencela pendosa. Karena Allah Swt pada konteks ayat ini memanggil mereka dengan panggilan hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sebuah panggilan mesra dan penuh kasih dari-Nya, tanpa penindasan apalagi penghujatan.

Melalui panggilan tersebut, Allah seakan-akan berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, Aku tahu bahwa kalian telah melakukan berbagai perbuatan dosa, baik disengaja ataupun tidak. Dosa-dosa kalian itu sangat banyak, sehingga kalian merasa kalian tidak pantas untuk menerima ampunan dari-Hu. Namun ketahuilah, hal itu tidaklah benar, ampunan dan karunia-Ku jauh lebih besar dari dosa kalian semua.”

“Oleh karena itu, jangan kalian berputus asa dari ramat-Ku dan teruslah memohon ampun kepada-Ku atas kesalahan-kesalahan kalian. Sesungguhnya Aku akan memaafkan segala dosa-dosa manusia sebanyak dan sebesar apapun sesuai keinginan-Ku. Dan ketahuilah bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua makhluk di alam semesta.”

Dari QS. Az-Zumar Ayat 53 ini, kita juga belajar tentang psikologi dakwah Islam dalam perspektif Al-Qur’an, yakni mendahulukan cinta dan kasih serta kelembutan di atas segalanya. Pada aspek tertentu, kita memang harus ketat dan tegas. Namun di sisi lain, ketegasan tersebut jangan sampai membuat kita lupa bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan cinta, kedamaian, dan kesejahteraan. 

Referensi sebagai Berikut ini ;













Jangan Melampaui Batas

Manusia sangat bangga dengan materi sehingga tidak segan berbuat zalim. Sekali kali tidak boleh demikian! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup dengan harta, jabatan, pengikut, dan semisalnya. Apa yang dimiliki membuatnya mudah mengingkari nikmat Allah dan lupa bahwa semua adalah anugerah-Nya. 

Wahai manusia, sungguh hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali-mu. Pada hari kiamat Allah akan menghitung apa saja yang engkau perbuat di dunia. Dia akan mem­balas orang yang melampaui batas sesuai dengan azab yang setimpal.

Allah Swt menyesali manusia karena banyak mereka yang cenderung lupa diri sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas, yaitu kafir kepada Allah dan sewenang-wenang terhadap manusia. Kecenderungan itu terjadi ketika mereka merasa sudah berkecukupan. Dengan demikian, ia merasa tidak perlu beriman, dan karena itu ia berani melanggar hukum-hukum Allah Swt. 

Begitu juga karena sudah merasa berkecukupan, ia merasa tidak butuh orang lain dan merasa berkuasa, dan karena itu ia akan bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain itu.

Allah Swt menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa mereka yang durhaka itu akan kembali kepada-Nya. Mereka pasti mati dan akan berhadapan dengan-Nya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Bila mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, berarti mereka nanti akan tahu, bahwa mereka akan diazab dan menyesal. Dalam ayat lain, Allah berfirman mengenai bagaimana keadaan yang akan dialami para pendurhaka itu:

"Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim/14: 42-43)

Referensi sebagai Berikut ini ;






Lima Akibat Berbuat Zalim Menurut Al-Quran dan Hadis

Lima Akibat Berbuat Zalim Menurut Al-Quran dan Hadis. perbuatan zalim adalah meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Kata ini juga biasa digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan. Dalam QS. Ali Imran Ayat 192, Allah Swt telah memberikan peringatan berupa ancaman bagi orang zalim. “Orang-orang yang berbuat zalim akan mendapat ancaman yang sangat dahsyat yang mestinya menjadi perhatian kita sebagai orang-orang mukmin, sehingga kita hidupnya senantiasa dalam ridha Allah Swt,”  Anggota Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah ini menyampaikan bahwa beberapa poin akibat melakukan perbuatan zalim. Pertama, kezaliman akan mengakibatkan berlakunya azab yang besar bagi pelakunya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Furqan ayat 19 bahwa “barangsiapa yang berbuat zalim, niscaya akan merasakan azab yang sangat besar.”

Kedua, kezaliman akan mendapatkan laknat berupa dijauhkannya dari kenikmatan-kenikmatan dan rahmat Allah Swt baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Ghafir ayat 52 bahwa “(yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.”

Ketiga, kezaliman akan mendapatkan ancaman doa dari orang yang dizaliminya dan doa orang yang terzalimi akan dikabulkan oleh Allah Swt, sekalipun doa keburukan. Rasulullah Saw pernah bersabda: ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, kezaliman akan mengalami kebangkrutan di hari kiamat kelak, bila tidak bertaubat kepada Allah Swt dan memohon maaf kepada orang yang dizalimi ketika di dunia. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham” (HR. Al-Bukhari).

Kelima, kezaliman akan mendatangkan bencana dan malapetaka. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 45 bahwa “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).”

“Bagaimana sikap kita ini? Hendaklah kita sendiri untuk menjauhi perbuatan zalim yang ancamannya begitu dahsyat. Terutama zalim kepada Allah dalam bentuk kekufuran dan membuat kerusakan di dunia ini,” tutur Imran tersebut dalam ceramahnya.

Referensi Sebagai berikut ini ;