This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 25 Juli 2022

Manfaat Istighfar Rutin Bagi Seorang Muslim, Punya Keutamaan Luar Biasa

Manfaat istighfar jika diamalkan rutin setiap hari ternyata sangat baik. Istighfar atau Astaghfirullah (أستغفر الله‎ dalam bahasa Arab) merupakan kalimat istimewa dalam ajaran agama Islam.

Membaca istighfar secara harfiah dilakukan dengan mengulang-ulang perkataan dalam bahasa Arab berupa kalimat 'astaghfirullah', yang artinya "Saya memohon ampunan kepada Allah".

Beristighfar dalam filosofi Islam, bermakna sebagai seseorang yang selalu memohon ampunan atas kesalahan dan terus berusaha untuk menaati perintah Tuhan dan tidak melanggarnya.

Manusia merupakan makhluk yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Dengan rutin membaca istighfar untuk memohon ampunan, maka Allah juga senantiasa akan memberikan balasan. 

1. Menghapus Dosa

Membaca istighfar ini biasanya memang dilakukan oleh umat Islam untuk memohon ampun kepada Allah. Dengan rutin membaca Istighfar maka juga akan menghapus dosa-dosa. Seperti firman Allah SWT:

وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَهمۡ وَهمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ

Wamaa kaanallaahu mu'adzdzibahum wahum yastaghfiruun

Artinya: Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (Al Anfal:33)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّهُ لَا يُعـَذِّبُ مُسْتَغـْفِرًا؛ لِأَنَّ الِاسْتِغـْفَارَ يَمْحـُو الـذَّنْبَ الَّـذِي هـُوَ سَبَبُ الْـعَذَابِ، فَيَنْدَفِـعُ الْـعَذَابُ

"Allah Ta'ala mengabarkan, bahwa Allah Ta'ala tidak akan mengazab orang yang beristighfar (memohon ampun dari dosa). Karena istighfar itu akan menghapus dosa yang dosa itu sendiri merupakan penyebab datangnya adzab, sehingga adzab itupun sirna dengan cepat."

2. Mengabulkan Doa

keistimewaan membaca istighfar selanjutnya ialah dikabulkannya doa-doa. Allah SWT berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Wa ilaa Samuuda akhaahum Saalihaa; qoola yaa qawmi' budul laaha maa lakum min ilaahim ghairuhuu Huwa ansha akum minal ardi wasta' marakum fiihaa fastaghfiruuhu summa tuubuuu ilaih; inna Rabbii Qariibum Mujiib

Artinya: “Shaleh berkata : ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmat-Nya, dan maha mengabulkan doa-doa hamba-Nya.” (Hud: 61)

3. Membuka Pintu Rezeki

Manfaat istighfar tidak hanya akan diberi ampunan atas dosa-dosa. Namun, juga bisa membukakan pintu rezeki bagi si pembacanya. Hal itu dijelaskan Allah SWT dalam firmannya di Surat Nuh ayat 10-12.

‎ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Faqultus taghfiruu Rabakam innahuu kaana Ghaffaaraa; Yursilis samaaa'a 'alaikum midraaraa; Wa yumdidkum bi am waalinw wa baniina wa yaj'al lakum Jannaatinw wa yaj'al lakum anhaaraa.

"Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha-Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan lebat, dan membanyakkan harta, anak-anak, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, serta mengadakan untukmu sungai-sungai.'' (QS Nuh : 10-12).

4. Dimudahkan Segala Urusan

Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan bahwa manfaat istighfar dapat memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan. Tidak hanya itu, manfaat istighfar juga dapat melapangkan setiap kesempitan yang dialami seorang muslim.

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

5. Mendapatkan Kebaikan di Dunia

Rutin membaca kalimat istighfar dengan niat tulus dan ikhlas juga bisa mendapatkan ganjaran berupa kebaikan di dunia. Seperti firman Allah SWT:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Waanistagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaihi yumatti'kum matā'an ḥasanan ilā ajalim musamman wa yu`ti kulla żī faḍlin faḍlah, wa in tawallau fa innī akhāfu 'alaikum 'ażāba yauming kabīr.

Artinya: "Dan minta ampunlah kepada Robb kalian, dan bertaubatlah. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang sudah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada hambanya yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat" (Hud: 3)

6. Terhindar dari Musibah

Manfaat istighfar juga dapat menghindari seorang muslim dari musibah. Allah SWT berfirman:

"Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar" [Al-Anfal: 33]

Allah SWT juga pernah menjelaskan melalui firmannya, bahwa yang menyelamatkan nabi Yunus dari dalam perut ikan paus ialah kalimat istighfar salah satunya.

"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan" [Ash-Shaffat: 143-144]

Pada ayat lain, juga menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya,

"Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang zhalim" [Al-Anbiya`: 87]

7. Menurunkan Hujan Pembawa Berkah

Seorang muslim yang senantiasa mengucap Istighfar akan diberikan keberkahan berupa hujan. Sebab, sesuai dengan isi kandungan surah Qaaf ayat 9, menyatakan bahwa hujan merupakan berkah yang diturunkan Allah. Firman Allah SWT:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Wa yaa qawmis taghfiruu Rabbakum summa tuubuuu ilaihi yursilis samaa'a 'alaikum midraaranw wa yazidkum quwwatan ilaa quwwatikum wa laa tatawallaw mujrimiin.

Artinya: "Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Lalu bertaubat lah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang deras untukmu. Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa" (Hud: 52).

ISTIGHFAR atau membaca Astaghfirullah adalah salah satu bentuk memohon ampunan kepada Allah yang dilakukan oleh umat Islam . Hal ini merupakan perbuatan yang dianjurkan dan penting di dalam Islam .

Dalam Islam Astaghfirullah berarti "Aku memohon ampunan kepada Allah". Membaca Istighfar merupakan salah satu cara umat Islam agar terhindar dari perbuatan dosa. Tidak ada batasan kapan dan dimana umat Islam harus membaca Istighfar, Kapanpun kalimat Astaghfirullah bisa dibaca agar terhindar dari segala hal yang berbuntut dosa.

Tahukah Anda ada berbagai keutamaan membaca Istighfar bagi umat Islam.

1. Orang yang beristighfar dicintai oleh Allah SWT

Membaca Istighfar bagi umat muslim juga berarti bertaubat kepada Allah SWT. Dan Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaubat kepadanya. Rasulullah pernah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah SWT. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa.” (HR. Ibnu Majah).

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222).

Membaca istighfar

2. Beristighfar akan menghapus dosa

Semua orang pastinya pernah berbuat salah dan berdosa maka cobalah untuk beristghfar dan bertaubatlah niscaya Allah akan menghapus dosa umatnya yang bertaubat kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Allah telah berkata, “Wahai hamba-hamba Ku, setiap dari kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosa nya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak perduli berapa banyak dosanya.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi).

3. Mendapat balasan surga

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan suatu perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, mereka ingat akan Allah SWT, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah SWT ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran : 135 – 136).

Selain itu masih ada lagi keutamaan membaca istighfar, klik halaman selanjutnya.

4. Memberi kebahagiaan bagi yang sedih dan mendatangkan rezeki

Apapun Allah Akan berikan bagi hambanya yang mengingat Allah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikannya kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

5. Kesejahteraan bagi orang yang beristighfar

Allah SWT berfirman , “Maka aku katakan kepada mereka : “Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan deras, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan untuk mu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

6. Menjadi orang yang beruntung

Aisyah pernah berkata, “Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.” (HR. Bukhari).

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah SWT, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

7. Memberi kelegaan hati

Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, pastilah kesalahan yang dilakukan bisa tersimpan di hati dan menjadi beban pikiran tersendiri. Ketika pada akhirnya orang itu mengucapkan kalimat istighfar, maka secara tidak langsung orang tersebut berusaha untuk menghilangkan beban pikiran yang mengganggu tersebut, dan akhirnya pikiran dan hati akan terasa lebih lega

Referensi sebagai berikut ini ;













Hikmah yang Didapat ketika Sering Mengucap Istighfar

Hikmah yang Didapat ketika Sering Mengucap Istighfar. ISTIGHFAR atau membaca Astaghfirullah adalah salah satu bentuk memohon ampunan kepada Allah yang dilakukan oleh umat Islam . Hal ini merupakan perbuatan yang dianjurkan dan penting di dalam Islam .

Dalam Islam Astaghfirullah berarti "Aku memohon ampunan kepada Allah". Membaca Istighfar merupakan salah satu cara umat Islam agar terhindar dari perbuatan dosa. Tidak ada batasan kapan dan dimana umat Islam harus membaca Istighfar, Kapanpun kalimat Astaghfirullah bisa dibaca agar terhindar dari segala hal yang berbuntut dosa.

Tahukah Anda ada berbagai keutamaan membaca Istighfar bagi umat Islam.

1. Orang yang beristighfar dicintai oleh Allah SWT

Membaca Istighfar bagi umat muslim juga berarti bertaubat kepada Allah SWT. Dan Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaubat kepadanya. Rasulullah pernah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah SWT. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa.” (HR. Ibnu Majah).

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222).

Membaca istighfar

2. Beristighfar akan menghapus dosa

Semua orang pastinya pernah berbuat salah dan berdosa maka cobalah untuk beristghfar dan bertaubatlah niscaya Allah akan menghapus dosa umatnya yang bertaubat kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Allah telah berkata, “Wahai hamba-hamba Ku, setiap dari kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosa nya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak perduli berapa banyak dosanya.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi).

3. Mendapat balasan surga

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan suatu perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, mereka ingat akan Allah SWT, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah SWT ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran : 135 – 136).

Selain itu masih ada lagi keutamaan membaca istighfar, klik halaman selanjutnya.

4. Memberi kebahagiaan bagi yang sedih dan mendatangkan rezeki

Apapun Allah Akan berikan bagi hambanya yang mengingat Allah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikannya kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

5. Kesejahteraan bagi orang yang beristighfar

Allah SWT berfirman , “Maka aku katakan kepada mereka : “Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan deras, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan untuk mu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

6. Menjadi orang yang beruntung

Aisyah pernah berkata, “Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.” (HR. Bukhari).

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah SWT, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

7. Memberi kelegaan hati

Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, pastilah kesalahan yang dilakukan bisa tersimpan di hati dan menjadi beban pikiran tersendiri. Ketika pada akhirnya orang itu mengucapkan kalimat istighfar, maka secara tidak langsung orang tersebut berusaha untuk menghilangkan beban pikiran yang mengganggu tersebut, dan akhirnya pikiran dan hati akan terasa lebih lega

Referensi sebagai berikut ini ;












Bacaan Istighfar untuk Taubat dan Keutamaannya

Bacaan Istighfar untuk Taubat dan Keutamaannya, Manfaat Istighfar bagi Umat Islam Beserta Bacaan dan Artinya

Manfaat istighfar bagi umat Islam sangatlah besar. Pasalnya, mengucapkan istighfar memiliki makna bahwa seorang muslim memohon ampun kepada Allah SWT. Istighfar juga berarti sebagai permintaan maaf dengan setulus hati kepada Allah SWT.

Istighfar atau dikenal juga dengan kalimat Astaghfirullah al-azim ini biasanya dilantunkan saat seorang muslim berzikir. Artinya adalah saya mohon ampun kepada Allah SWT yang Maha Besar.Kalimat ini diucapkan sebagai permohonan ampun.

Manfaat istighfar memang sangatlah besar, hal ini terbukti dengan Rasullullah yang melakukannya berkali-kali. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW beristighfar sebanyak seratus kali dalam sehari. Sementara, di hadis lainnya dikatakan bahwa Rasulullah beristighfar sebanyak 70 kali dalam sehari.

Sebelum mengenali manfaat istighfar bagi seorang muslim, kamu perlu mengenali beberapa jenis bacaan istighfar terlebih dahulu. Berikut bacaan istighfar yang perlu kamu ketahui:

Istigfar Pendek

Astaghfirullah

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Istigfar Nabi Sebelum Wafat

Subhanallahi wabihamdih, astaghfirullaha wa atuubu ilaih

Artinya: “Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Istigfar Penghapus Dosa Besar

Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Istigfar Nabi Adam

Robbana dholamna anfusana, wa illam taghfir lana wa tarhamna, lanakuunanna minal khasirin

Artinya: "Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya kami telah berbuat zhalim terhadap diri-diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang rugi."

Rintihan Syair Abu Nawas

Sebuah lagu memang salah satu kunci mujarab pembuka ingatan masa lalu. Ketika dalam sebuah perjalanan, tidak sengaja dalam radio terdengar lagu nasyid lirih dengan munsyid yang menyanyikan lirik “Wahai Tuhanku… Aku sebenarnya tak layak masuk surgaMU, tapi aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMU”.

Sekejap lirik lagu tersebut membawaku melayang mengembara waktu kepada tahun-tahun dahulu, ya tepatnya di sebuah suasana langgar (mushola) yang cukup besar. Terbuat dari kayu-kayu yang berderit bunyi jika dia terinjak. Langgar tersebut berada sedikit di atas rumah-rumah penduduk desa sekitarnya, dengan begitu terlihat ladang hijau di sekitarnya.

Lalu bersama angin sejuk yang memeluk, ba’da jumatan terdengar suara para santri yang menyanyikan lagu tersebut. Ya, syair Abu Nawas yang mengajak kita untuk merenung sejenak. Mungkin hari jum’at ini adalah salah satu hari jum’at terbaik yang pernah saya alami.

Renunganku membawa kepada apa yang telah ku lakukan sehari-hari. Sudahkah semua dilakukan ikhlas karena mencari ridho Allah SWT?, ataukah sering kali niat-niat lain menggeser tujuan mula, lalu cara-cara yang tidak sepatutnya mulai ditoleransi.

Astaghfirullah jika seperti itu yang terjadi, mestilah aturan Allah dilanggar. Sedikit demi sedikit bagai butiran pasir namun semakin lama semakin menggunung. Persis seperti bait syair Abu Nawas yang menyatakan “Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir. Maka berilah ampunan oh.. Tuhanku Yang Maha Agung. Setiap hari umurku terus berkurang, sedangkan dosaku terus menggunung. Bagaimana aku menanggungnya?”.

Karenanya teringat sebuah hadits Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'id r.a, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Berhati-hatilah terhadap dosa yang dianggap remeh. Sebagaimana suatu kaum yang singgah di sebuah lembah, lalu datanglah seseorang membawa sebatang ranting kayu bakar dan datanglah seorang yang lain membawa sebatang ranting kayu bakar juga, hingga dengan kayu-kayu itu mereka bisa memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh itu jika pelakunya dihisab atas dosanya niscaya akan membinasakan," (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Mas’ud, “Orang mukmin melihat dosanya seperti melihat gunung yang takut akan roboh dan menimpanya, sedangkan orang munafik melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu disingkirkannya, begini, begini (yakni disingkirkan dengan menggerakkan tangannya).

Petir menggelegar menghenyak lamunanku, belum tampak akan hujan walaupun awan gelap di sudut langit sudah Nampak. Kembali aku ke dalam langgar, sambil bersujud aku berdoa “Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan es, air dan salju”. — (HR. Bukhari dan Muslim)

Seakan Allah SWT membalas doaku dengan mengingatkanku akan ayat Quran Surat Al Ahqaaf ayat 13 yang Artinya “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka mereka tidak merasa takut dan tiada (pula) bersedih.”

Juga teringat hadits Rasulullah SAW dari Anas bin Malik ra. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda, Allah ‘Azza WaJalla berfirman, Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berhadap hanya kepadaKU, niscaya AKU mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan AKU tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepadaKU, niscaya AKU mengampunimu dan AKU tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaKU dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu denganKU dalam keadaan tidak mempersekutukanKU dengan sesuatu pun, niscaya AKU datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi”. (HR. Tirmidzi)

Subhanallah walhamdulillah, sambil bergegas akupun bersenandung lirih melantunkan syair Abu Nawas; “Wahai Tuhanku… aku sebenarnya tak layak masuk surgamuMU, tapi aku juga tak sanggup menahan amuk nerakamu, Karena itu mohon terimalah taubatku ampunkan dosaku, Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir, Maka berilah ampunan oh.. Tuhanku Yang MahaAgung. Setiap hari  umurku terus berkurang, Sedangkan dosaku terus menggunung. Bagaimana aku menanggungnya.

Wahai Tuhan, hambaMU yang pendosa ini, Datang bersimpuhkehadapanMU. Mengakui segala dosaku, Mengadu dan memohon kepadaMU, Kalau Engkau ampuni itu karena, Engkau sajalah yang bisa mengampuni. Tapi kalau engkau tolak, kepada siapa lagi kami memohon Ampun selain kepada Engkau.”

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Bacaan Istighfar untuk Taubat dan Keutamaannya, Bacaan istighfar atau astagfirullah adalah bacaan doa meminta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT bagi umat Islam.

Istighfar perlu dihafal karena setiap manusia pasti tidak luput dari dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Ketika seseorang melakukan perbuatan dosa, biasanya hatinya tidak tenang karena dibayangi ketakutan dan perasaan bersalah.

Oleh sebab itu, jika seseorang merasa berdosa, hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon ampunan Allah adalah dengan membaca istighfar.

Lantas, apa pengertian istighfar dan bagaimana hukumnya? Simak pembahasannya berikut!

Pengertian Istighfar dan Hukumnya

Di antara Asmaul Husna atau nama-nama Allah yang paling mulia, ada Al Ghaffar dan Al Ghafur. Maknanya Allah adalah Dzat yang menutupi aib hamba-hamba Nya dan maha mengampuni dosa. 

Oleh sebab itu setiap Muslim hendaknya memohon ampunan kepada-Sang Pencipta, meskipun merasa dosa yang diperbuat teramat banyak. Bahkan Nabi Muhammad SAW beristighfar sebanyak 70 hingga 100 kali dalam sehari. 

Rasulullah SAW bersabda, "Aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling mengetahui tentang Allah. Namun, aku beristighfar kepada Allah sehari semalam lebih dari tujuh puluh kali." 

Dalam riwayat lain disebutkan, "Hatiku bisa berkabut dan aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari."

Terkait hukumnya, hukum awal istighfar adalah dianjurkan. Namun hukumnya bisa menjadi wajib, misalnya istighfar untuk maksiat tertentu. 

Atau bahkan bisa menjadi haram, misalnya istighfar untuk orang kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 113 yang artinya:

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.”

Bacaan Istighfar yang Diajarkan Rasulullah SAW

Sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik, Rasulullah mengajarkan sejumlah bacaan istighfar supaya diamalkan oleh umatnya. 

Berikut adalah beberapa lafal istighfar untuk memohon ampunan Allah mengutip buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa oleh Ustadz Ali Amrin al-Qurawy (2018) dan buku Ya Allah Mudahkan Rezeki dan Jodohku karya Ustadz Ahmad Sobiriyanto (2018):

1. Istighfar Pendek 

Astaghfirullah

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah”

Atau bisa juga mengucapkan:

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

Astaghfirullah hal adzim

Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung"

2. Istighfar Penghapus Dosa 

أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم و أتوب إليه

Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.

“Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”

3. Istighfar Rasulullah di Akhir Masa Hidupnya

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan lafazh istighfar yang banyak dibaca Rasulullah SAW pada akhir masa hidupnya, yaitu:

Subhaanallaahu wa bihamdihi, astaghfirullaaha wa atuubu ilaih.

Artinya: "Maha Suci Allah, dan dengan memuji-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Istighfar Memohon Ampunan

Allahumma maghfiratuka awsa'u min dzunuubi wa rahmatuka arjuu min 'amalii

Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunan- Mu sesungguhnya lebih luas dari dosa-dosaku dan rahmat-Mu lebih kuharapkan dari amalku sendiri.”

5. Istighfar Untuk Taubat

Rabbighfirlii wa tub 'alayya innaka antat tawwaabur rahiim

Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunilah kiranya aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Tuhan Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Pengasih.”

6. Doa istighfar kaffaratul majlis

Subhanaka, allahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaika.

Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji- Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak dübadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu." (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Thabrani, dan Hakım).

7. Doa Istighfar Saat Sholat

Abu Bakar ra berkata kepada Rasulullah SAW, “Ajarkanlah kepadaku doa untuk aku baca di dalam sholatku”. Nabi Muhammad SAW menjawab:

Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiran wa laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min 'indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiimu.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang mengampuni kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya, Engkau adalah Maha Pengampun dan Maha Pemberi rahmat." (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Doa Sayyidul Istighfar

Terdapat istighfar pamungkas yakni sayyid al-istighfar yang sangat dianjurkan Rasulullah. Berikut adalah bacaannya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: 

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma anta Rabbi, La Ilaha illa anta, Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika, mas tatha’tu, audzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bi ni’matika wa abu’u laka bi dzanbi, faghfir li , fainnahu la yaghfirudz dzunuba illa anta. 

Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Pemeliharaku. Tiada sesembahan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Dan aku berada pada kesepakatan dan perjanjian dengan-Mu, semampuku. Aku berlindung kepada Engkau dari keburukan yang aku perbuat. Aku bertaubat kepada-Mu dengan karunia-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu dengan dosaku. Maka, ampunilah aku karena tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Bacaan Istighfar Para Nabi

1. Istighfar Nabi Adam AS

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.

Artinya: "...Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al-A'raaf [7]:23).

2. Istighfar Nabi Nuh AS

Rabbi innii a'uudzubika an as-alaka maa laisa lii bihii 'ilmun wa illaa taghfirlii wa tarhamnii akun minalkhaasiriin.

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Huud [11]: 47).

Bisa pula dengan membaca, Rabbighfirlii wa liwaalidayya wa liman dakhala baitii mu'minan wa lil mu'minaati wa laa tazidizh zhaalimiina illaa tabaara.

Artinya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".

3. Istighfar Nabi Ibrahim AS

Rabbanaa waj'alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatan muslimatan laka wa arinaa manaasikanaa watub 'alainaa innaka antat tawwaabur rahiim.

Artinya: "Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. al-Baqarah [2]: 128).

4. Istighfar Nabi Musa AS

Rabbighfirlii waliakhii wa adkhilnaa fii rahmatika wa anta arhamur raahimiin.

Artinya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. al-A'raaf [7]: 151).

5. Istighfar Nabi Yunus AS

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (QS. al-Anbiyaa' [21]: 87).

6. Doa Istighfar Nabi Muhammad AS

Rabbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'na.  Rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa ishran kamaa hamaltahuu 'alal ladziina min qablinaa.  Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wa'fu 'annaa waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa 'alal qaumil kaafiriina.

Artinya:"Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tak sanggup kami terimanya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

Keutamaan Istighfar

Mengutip buku Nikmatnya Istighfar oleh Mahmud Asy-Syafrowi (2010), istighfar memiliki sejumlah keutamaan yang luar biasa, di antaranya:

1. Dosa akan Diampuni

Seseorang yang kerap membaca istighfar dengan niat hati memperoleh pengampunan dari Allah niscaya dosa-dosanya akan dihapuskan. Riwayat ini disampaikan oleh Imam al-Baihaqi dan Ibn Abi ad-Dunya dari Anas bin Malik RA.  Tidaklah seorang hamba beristighfar 70 kali sehari, kecuali Allah akan ampuni 700 jenis dosa (kecil), sebab tiap harinya seseorang itu sejatinya melakukan lebih dari 700 jenis dosa kecil.”

Terdapat perbedaan pandangan tentang berapa kali Rasulullah membaca istighfar dalam sehari. Riwayat Imam Muslim, Ahmad, dan at-Thabrani mengabarkan bahwa Nabi Muhammad beristighfar 100 kali. 

2. Memberikan Ketenangan Hati

Selain memperoleh pengampunan, Allah juga akan memberikan ketenangan hati dan pikiran pada hamba-Nya yang taubat dengan mengucap istighfar. Dalam Hadist Riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka."

3. Dicintai Allah SWT

Orang yang tidak pernah meninggalkan istighfar juga menjadi golongan yang dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,  "Jika kalian mampu untuk memperbanyak istighfar maka lakukanlah. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih mensukseskan di sisi Allah Ta'ala dan lebih dicintai-Nya daripadanya." (HR. Hakim at-Tirmidzi)

4. Mendapat Nikmat Allah SWT

Dalam beberapa hadits, diterangkan istighfar dapat mendatangkan rezeki. "Barangsiapa merasa diperlambat atau tersendat-sendat rejekinya, hendaknya ia beristighfar kepada Allah." (HR. Baihaqi dan Ar-Rabi'i) Sungguh dahsyat manfaat dari istighfar. Sebagai Muslim yang taat, sudah sepatutnya istighfar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Referensi sebagai berikut ini ;















Kekuatan Istighfar

Kekuatan Istighfar, Iringi Istighfar dengan perbuatan baik. Istighfar berasal dari kata gafr yang berarti tutupan atau ampunan. Seorang yang beristighfar berarti memohon kepada Allah SWT agar dosa-dosanya yang telah lalu diampuni dan ditutupi Allah. Pakar leksikografi Islam dan ilmu kalam, Ali bin Muhammad as-Sayyid as-Sarif Jurjani, mengatakan, maghfirah berarti penutupan atau pengampunan yang dilakukan oleh Yang Mahakuasa terhadap kejahatan yang timbul dari seseorang yang berada di bawah kekuasaan-Nya.

Rasulullah SAW sendiri sangat banyak menganjurkan untuk memohon ampunan Allah SWT di samping Rasul sendiri senantiasa memberikan teladan dengan banyak beristighfar. Ibnu Qayyim Jauziah mengisyaratkan, makna ampunan itu amat luas, bukan hanya sekadar untuk menghapuskan dosa, melainkan juga sebagai pemelihara manusia dari dosa. Hal ini merujuk pada hadis yang menjelaskan Rasulullah beristighfar 70 kali dalam riwayat Bukhari. Sementara, dalam riwayat Muslim 100 kali, meski pribadi Rasulullah maksum dari dosa.

Bertolak dari pandangan di atas, Ibnu Qayyim Jauziah ketika membicarakan masalah tobat, mengisyaratkan maghfirah bukan hanya mempunyai satu bentuk, melainkan memiliki beberapa bentuk dan tingkatan, di antaranya adalah: (1) maghfirah sebagai pengampunan dosa; (2) maghfirah sebagai sarana untuk mendapatkan pahala dan rahmat Allah SWT; (3) maghfirah sebagai sarana untuk mendapatkan ridha Allah SWT; dan (4) maghfirah sebagai bukti ketaatan kepada Allah SWT.

Memohon ampun

Jika kita telanjur melakukan perbuatan dosa besar, ada empat hal yang harus dilakukan dalam pertobatan. Pertama, meninggalkan perbuatan maksiat. Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukan.

Ketiga, berniat tidak akan kembali melakukan maksiat pada masa yang akan datang untuk selama-lamanya. Keempat, jika dosa besar yang dilakukan seseorang terkait dengan hak-hak manusia (huquq Adam), ia harus mengembalikan hak orang lain tersebut.

Jika dalam perbuatan dosanya terdapat hak-hak Allah SWT (huquq Allah), ia harus menunaikan hak-hak tersebut sesuai dengan ketentuan Islam.

Misalnya, seseorang yang melakukan dosa zina, ia harus menjalani hukuman, yakni didera sebanyak seratus kali. Dan jika pelaku zina itu orang yang sudah menikah, ia harus menerima hukuman rajam. Dengan terlaksananya hukuman tersebut, barulah dosanya akan diampuni Allah SWT.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Imran bin Husain disebutkan, “Bahwa seorang perempuan dari suku Juhainah yang sedang hamil karena berzina telah datang kepada Nabi Muhammad SAW sembari berkata, 'Hai Nabi Allah, saya harus menjalani hukuman (karena zina), maka lakukanlah hukuman itu atasku.'

Rasulullah SAW mengimbau walinya sambil berkata, 'Berlaku baiklah kepadanya. Apabila dia telah melahirkan, bawalah dia kepadaku.' Kemudian, Rasulullah SAW memerintahkan agar pakaiannya diperketat, lalu beliau memerintahkan merajamnya, dan beliau melakukan salat jenazah atas (mayat)-nya.

Umar bin Khattab bertanya, 'Mengapa engkau melakukan salat jenazah atasnya Hai Rasulullah, bukankah ia telah berzina?' Rasulullah SAW menjawab, 'Dia telah bertobat dengan suatu tobat, yang seandainya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya mereka akan diliputinya. Dan, apakah engkau mendapatkan yang lebih baik daripada orang yang menyerahkan dirinya untuk Allah?’' (HR Muslim).

Dalam mengomentari hadis ini, Muhammad bin Isma'il Kahlani as-San'ani mengatakan, hadis ini menjadi dalil bahwa tobat tidak menghilangkan kewajiban menerima hukuman. Inilah pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat dalam Mazhab Syafii’i dan ini pula pendapat jumhur ulama.

Berkenaan dengan cara meminta ampun bagi pelaku dosa kecil, orang yang lalai dalam mematuhi perintah Allah SWT atau orang yang tidak peduli terhadap amal-amal utama tidak berbeda dengan cara meminta ampun bagi pelaku dosa besar.

Hanya saja, pelaku dosa kecil tidak sampai mendapatkan hukuman berat seperti pelaku dosa besar. Di samping itu, ia juga harus melakukan perbuatan-perbuatan baik dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang lain sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadis.

Seperti yang dianjurkan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmizi. "Iringilah kejahatan dengan kebaikan, niscaya ia (kebaikan) akan menghapuskannya (kejahatan).”

Permohonan maghfirah yang dilakukan sebagai sarana untuk mencapai ridha Allah SWT atau sebagai bukti ketaatan kepada-Nya ialah dengan cara senantiasa beristighfar sekalipun merasa tidak melakukan dosa.

Sebagai manusia biasa, tentunya kita tidak akan lepas dari yang namanya dosa. Baik itu dosa besar atau kecil yang disadari atau tidak hal itu merupakan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Jika tidak bertaubat, dosa tersebut akan terus menumpuk dan memberatkan kita di akhirat nanti. Allah SWT memberikan begitu banyak jalan untuk mengikis dosa yang ada pada Hamba-Hamba-Nya.

Bukan hanya amalan-amalan berat, dengan amalan ringan pun Allah senantiasa akan mengampuni dosa-dosa Hamba-Nya.

Bahkan dengan sakit yang diderita pun, jika kita dengan tabah menjalaninya maka Allah akan mengampuni dosa kita.

Kendati demikian, melakukan amalan baik merupakan jalan terbaik bagi umat muslim untuk bisa mengurangi dosa yang telah dilakukan.

Bertaubat pada Allah, beristighfar dan melakukan amalan baik lainnya hendaknya kita lakukan sebagai pengganti kesalahan atau dosa yang pernah kita lakukan.

Kenapa kita perlu beristiqfar sesudah salat? Beristighfar ini harus selalu kita lakukan sebagai wujud kesadaran kita. Jangan sampai dalam shalat kita berniat salah. Iblis ada dimana-mana yang bisa menggangu konsentarasi saat salat. Ketika kita selesai salat, kita istiqfar. Kita beristiqfar karena amalan ini mengingatkan kita agar segera mendapat ampunan Allah Swt.

Sehingga kita mendapatkan surga yang dijanjikan hanya kepada kaum muktakim. Ada-ada saja kelakuan kita yang tidak wajar, tidak sesuai yang kita lakukan, sehingga kita harus meminta maaf. Karena tidak semua dosa diampuni tanpa meminta maaf. Ada dosa yang diampuni hanya dengan taubat setelah itu berkomitmen tidak akan melakukannya lagi dan taat dan beriman kepada allah.

Kalau takut berbuat dosa kepada allah maka bersihkanlah diri dengan meminta ampun kepada Allah, namun jika mempunyai dosa kepada sesama maka meminta maaflah kepadanya. Jika ingin meminta maaf kepada sesama, minta maaflah dengan memberitahukannya apa yang telah diperbuat baru meminta maaf.

Pasti sudah sering mendengar kata taubat dan istighfar. Jika kita melihat sepintas, maka kita akan menyimpulkan bahwa taubat dan istighar adalah sama. Yaitu sama-sama memohon ampun pada Allah. Namun benarkah demikian?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz  rahimahullah menjelaskan bahwa taubat berarti,  Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii”  (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat.

Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Swt, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal,” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar.

Kita selalu butuh akan ampunan Allah karena kita adalah hamba yang tidak bisa lepas dari dosa. Dosa ini bisa gugur dengan taubat dan ucapan istighfar. Terlihat kedua amalan ini sama. Namun ada sedikit perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Taubat lebih sempurna dan di dalamnya terdapat istighfar. Namun istighfar yang sempurna adalah jika diiringi dengan taubat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan,

Taubat berarti,

الندم على الماضي والإقلاع منه والعزيمة أن لا يعود فيه

“Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.” Inilah yang disebut taubat.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii” (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan  mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ , أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar. (Sumber Mawqi’ Syaikh Ibnu Baz)

Ya Allah, terimalah taubat kami dan tutupilah setiap dosa kami dengan istighfar. Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ''Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya'' (QS Al-Maidah 5: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.

Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ''Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar.'' Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.

Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ''Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.'' (QS Al-Fath 48: 2).

Sebagai manusia biasa, tentunya kita tidak akan lepas dari yang namanya dosa. Baik itu dosa besar atau kecil yang disadari atau tidak hal itu merupakan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Jika tidak bertaubat, dosa tersebut akan terus menumpuk dan memberatkan kita di akhirat nanti.

Allah SWT memberikan begitu banyak jalan untuk mengikis dosa yang ada pada Hamba-Hamba-Nya. Bukan hanya amalan-amalan berat, dengan amalan ringan pun Allah senantiasa akan mengampuni dosa-dosa Hamba-Nya. Bahkan dengan sakit yang diderita pun, jika kita dengan tabah menjalaninya maka Allah akan mengampuni dosa kita.

Kendati demikian, melakukan amalan baik merupakan jalan terbaik bagi umat muslim untuk bisa mengurangi dosa yang telah dilakukan. Bertaubat pada Allah, beristighfar dan melakukan amalan baik lainnya hendaknya kita lakukan sebagai pengganti kesalahan atau dosa yang pernah kita lakukan. Syekh Ali jaber pun menjelaskan bahwa terdapat suatu bacaan istighfar yang dapat mengampuni dosa.

Bukan hanya dosa kecil, bacaan istighfar ini bahkan dapat mengampuni dosa yang besar pula. “Astaghfirullah wa’atuubu ilaihi,” kata Syekh Ali Jaber. Syekh Ali Jaber pun mengungkapkan bahwa bacaan istighfar ini cukup dibaca 3 kali saja dalam sehari dan dosa besar pun bisa terampuni.

“Kata Rasulullah SAW barang siapa yang membaca ini istighfar 3 kali satu hari, maka diampuni dosanya walaupun dosa itu dosa besar,” ungkap Syekh Ali.Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang tak luput dari dosa yang disengaja atau tidak disengaja sebaiknya kita dapat mengamalkan bacaan istighfar di atas. Bacaan istighfar tersebut tentunya sudah dihafal hampir seluruh orang muslim yang ada, maka tidak ada salahnya jika kita mengamalkannya agar dosa kita pun dapat diampuni oleh Allah SWT.

Referensi sebagai berikut ini ;









Efek Luar Biasanya Dapat Menghapus Dosa Besar (Syekh Ali Jaber)

Efek Luar Biasanya Dapat Menghapus Dosa Besar (Syekh Ali Jaber). Sebagai manusia biasa, tentunya kita tidak akan lepas dari yang namanya dosa. Baik itu dosa besar atau kecil yang disadari atau tidak hal itu merupakan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Jika tidak bertaubat, dosa tersebut akan terus menumpuk dan memberatkan kita di akhirat nanti. Allah SWT memberikan begitu banyak jalan untuk mengikis dosa yang ada pada Hamba-Hamba-Nya.

Bukan hanya amalan-amalan berat, dengan amalan ringan pun Allah senantiasa akan mengampuni dosa-dosa Hamba-Nya. Bahkan dengan sakit yang diderita pun, jika kita dengan tabah menjalaninya maka Allah akan mengampuni dosa kita. Kendati demikian, melakukan amalan baik merupakan jalan terbaik bagi umat muslim untuk bisa mengurangi dosa yang telah dilakukan.

Bertaubat pada Allah, beristighfar dan melakukan amalan baik lainnya hendaknya kita lakukan sebagai pengganti kesalahan atau dosa yang pernah kita lakukan. Kenapa kita perlu beristiqfar sesudah salat? Beristighfar ini harus selalu kita lakukan sebagai wujud kesadaran kita. Jangan sampai dalam shalat kita berniat salah. Iblis ada dimana-mana yang bisa menggangu konsentarasi saat salat. Ketika kita selesai salat, kita istiqfar. Kita beristiqfar karena amalan ini mengingatkan kita agar segera mendapat ampunan Allah Swt.

Sehingga kita mendapatkan surga yang dijanjikan hanya kepada kaum muktakim. Ada-ada saja kelakuan kita yang tidak wajar, tidak sesuai yang kita lakukan, sehingga kita harus meminta maaf. Karena tidak semua dosa diampuni tanpa meminta maaf. Ada dosa yang diampuni hanya dengan taubat setelah itu berkomitmen tidak akan melakukannya lagi dan taat dan beriman kepada allah.

Kalau takut berbuat dosa kepada allah maka bersihkanlah diri dengan meminta ampun kepada Allah, namun jika mempunyai dosa kepada sesama maka meminta maaflah kepadanya. Jika ingin meminta maaf kepada sesama, minta maaflah dengan memberitahukannya apa yang telah diperbuat baru meminta maaf.

Pasti sudah sering mendengar kata taubat dan istighfar. Jika kita melihat sepintas, maka kita akan menyimpulkan bahwa taubat dan istighar adalah sama. Yaitu sama-sama memohon ampun pada Allah. Namun benarkah demikian?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz  rahimahullah menjelaskan bahwa taubat berarti,  Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii”  (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat.

Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Swt, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal,” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar.

Kita selalu butuh akan ampunan Allah karena kita adalah hamba yang tidak bisa lepas dari dosa. Dosa ini bisa gugur dengan taubat dan ucapan istighfar. Terlihat kedua amalan ini sama. Namun ada sedikit perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Taubat lebih sempurna dan di dalamnya terdapat istighfar. Namun istighfar yang sempurna adalah jika diiringi dengan taubat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan,

Taubat berarti,

الندم على الماضي والإقلاع منه والعزيمة أن لا يعود فيه

“Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.” Inilah yang disebut taubat.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii” (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan  mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ , أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar. (Sumber Mawqi’ Syaikh Ibnu Baz)

Ya Allah, terimalah taubat kami dan tutupilah setiap dosa kami dengan istighfar. Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ''Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya'' (QS Al-Maidah 5: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.

Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ''Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar.'' Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.

Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ''Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.'' (QS Al-Fath 48: 2).

Sebagai manusia biasa, tentunya kita tidak akan lepas dari yang namanya dosa. Baik itu dosa besar atau kecil yang disadari atau tidak hal itu merupakan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. ika tidak bertaubat, dosa tersebut akan terus menumpuk dan memberatkan kita di akhirat nanti. Allah SWT memberikan begitu banyak jalan untuk mengikis dosa yang ada pada Hamba-Hamba-Nya.

Bukan hanya amalan-amalan berat, dengan amalan ringan pun Allah senantiasa akan mengampuni dosa-dosa Hamba-Nya. Bahkan dengan sakit yang diderita pun, jika kita dengan tabah menjalaninya maka Allah akan mengampuni dosa kita. Kendati demikian, melakukan amalan baik merupakan jalan terbaik bagi umat muslim untuk bisa mengurangi dosa yang telah dilakukan. Bertaubat pada Allah, beristighfar dan melakukan amalan baik lainnya hendaknya kita lakukan sebagai pengganti kesalahan atau dosa yang pernah kita lakukan.

Syekh Ali jaber pun menjelaskan bahwa terdapat suatu bacaan istighfar yang dapat mengampuni dosa. Bukan hanya dosa kecil, bacaan istighfar ini bahkan dapat mengampuni dosa yang besar pula. “Astaghfirullah wa’atuubu ilaihi,” kata Syekh Ali Jaber. Syekh Ali Jaber pun mengungkapkan bahwa bacaan istighfar ini cukup dibaca 3 kali saja dalam sehari dan dosa besar pun bisa terampuni. “Kata Rasulullah SAW barang siapa yang membaca ini istighfar 3 kali satu hari, maka diampuni dosanya walaupun dosa itu dosa besar,” ungkap Syekh Ali.

Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang tak luput dari dosa yang disengaja atau tidak disengaja sebaiknya kita dapat mengamalkan bacaan istighfar di atas. Bacaan istighfar tersebut tentunya sudah dihafal hampir seluruh orang muslim yang ada, maka tidak ada salahnya jika kita mengamalkannya agar dosa kita pun dapat diampuni oleh Allah SWT.

Referensi sebagai berikut ini ;












Pentingnya Beristigfar Setelah Salat

Kenapa kita perlu beristiqfar sesudah salat? Beristighfar ini harus selalu kita lakukan sebagai wujud kesadaran kita. Jangan sampai dalam shalat kita berniat salah. Iblis ada dimana-mana yang bisa menggangu konsentarasi saat salat. Ketika kita selesai salat, kita istiqfar. Kita beristiqfar karena amalan ini mengingatkan kita agar segera mendapat ampunan Allah Swt.

Sehingga kita mendapatkan surga yang dijanjikan hanya kepada kaum muktakim. Ada-ada saja kelakuan kita yang tidak wajar, tidak sesuai yang kita lakukan, sehingga kita harus meminta maaf. Karena tidak semua dosa diampuni tanpa meminta maaf. Ada dosa yang diampuni hanya dengan taubat setelah itu berkomitmen tidak akan melakukannya lagi dan taat dan beriman kepada allah.

Kalau takut berbuat dosa kepada allah maka bersihkanlah diri dengan meminta ampun kepada Allah, namun jika mempunyai dosa kepada sesama maka meminta maaflah kepadanya. Jika ingin meminta maaf kepada sesama, minta maaflah dengan memberitahukannya apa yang telah diperbuat baru meminta maaf.

Pasti sudah sering mendengar kata taubat dan istighfar. Jika kita melihat sepintas, maka kita akan menyimpulkan bahwa taubat dan istighar adalah sama. Yaitu sama-sama memohon ampun pada Allah. Namun benarkah demikian?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz  rahimahullah menjelaskan bahwa taubat berarti,  Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii”  (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat.

Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Swt, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal,” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar.

Kita selalu butuh akan ampunan Allah karena kita adalah hamba yang tidak bisa lepas dari dosa. Dosa ini bisa gugur dengan taubat dan ucapan istighfar. Terlihat kedua amalan ini sama. Namun ada sedikit perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Taubat lebih sempurna dan di dalamnya terdapat istighfar. Namun istighfar yang sempurna adalah jika diiringi dengan taubat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan,

Taubat berarti,

الندم على الماضي والإقلاع منه والعزيمة أن لا يعود فيه

“Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.” Inilah yang disebut taubat.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii” (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan  mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ , أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar. (Sumber Mawqi’ Syaikh Ibnu Baz)

Ya Allah, terimalah taubat kami dan tutupilah setiap dosa kami dengan istighfar. Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ''Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya'' (QS Al-Maidah 5: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.

Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ''Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar.'' Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.

Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ''Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.'' (QS Al-Fath 48: 2).

Referensi sebagai berikut ini ;

















Berapa Kali Rasulullah Baca Istighfar dalam Sehari & Perbanyak Istighfar

Hadits pendek kali ini tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dalam satu hari membaca istighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih dari 70 kali. Padahal sang kekasih Allah ini sudah diampuni semua salah dan dosanya.

Dari Abu Hurairah RA beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, sesunguhnya aku beristighfar (memohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Dalam hadits lain diriwayatkan dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, Rasulullah bersabda: "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah (memohon) ampun kepada-Nya, Karena sesungguhnya aku bertaubat sebanyak seratus kali dalam satu hari."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim seperti dikutip dari Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi. Dalam kitabnya, Imam An Nawawi mengutip para ulama yang menyebutkan bahwa, taubat itu wajib dilakukan dari setiap dosa. Baik dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maupun ke sesama manusia. 

Kita selalu butuh akan ampunan Allah Swt karena kita adalah hamba yang tidak bisa lepas dari dosa. Dosa ini bisa gugur dengan taubat dan ucapan istighfar. Terlihat kedua amalan ini sama. Namun ada sedikit perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Taubat lebih sempurna dan di dalamnya terdapat istighfar. Namun istighfar yang sempurna adalah jika diiringi dengan taubat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –rahimahullah– menjelaskan,

Taubat berarti,

الندم على الماضي والإقلاع منه والعزيمة أن لا يعود فيه

“Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.” Inilah yang disebut taubat.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii” (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan  mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ , أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar. (Sumber Mawqi’ Syaikh Ibnu Baz). Ya Allah, terimalah taubat kami dan tutupilah setiap dosa kami dengan istighfar.

Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ''Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya'' (QS Al-Maidah 5: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.

Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ''Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar.'' Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.

Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ''Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.'' (QS Al-Fath 48: 2).

Referensi sebagai berikut ini ;