Istigfar biasanya mempunyai kaitan dengan tobat atau pertobatan. Hal ini bisa disimak dari firman Allah, ''Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya'' (QS Al-Maidah 5: 74). Lalu apakah dengan demikian istigfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan, bila ia melanggarnya maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak. Syarat-syarat itu antara lain: menyesali dosa-dosanya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa mendatang, memperbanyak melakukan kebaikan, amal ibadah ataupun ketaatan, menjauhi perbuatan buruk dan beberapa yang lain lagi.
Salah satu dari sekian tuntutan bagi orang yang bertobat ialah mengucapkan istigfar. Artinya, istigfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istigfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Rasulullah SAW bersabda, ''Yang terbaik diantara kamu ialah orang yang sering tergoda, tetapi sering bertobat (sering kembali kepada Allah) dengan perasaan menyesal atas dosa yang diperbuatnya dengan jalan memperbanyak istigfar.'' Di sini jelas hubungannya tobat dengan istigfar merupakan cara untuk menuju pertobatan.
Dengan membiasakan istigfar, maka bukan hanya dosa-dosa masa lalu dan masa kini, tetapi dosa-dosa masa mendatang pun telah mendapat jaminan diampuni Allah bahkan beristigfar dapat mendatangkan kesempurnaan nikmat (karunia) Allah. Firman-Nya, ''Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.'' (QS Al-Fath 48: 2).
Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah itsighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan. Hakikat Istighfar dan Taubat
Hakikat dari Istighfar Dan Taubat
Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan.
أَسْتَغْفِرُ اللّّهَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya“.
Tetapi kalimat-kalimat diatas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan : “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”
Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan : “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah ” Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah.
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun” [Nuh/71 : 10]
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta”
DALIL SYAR’I BAHWA ISTIGHFAR DAN TAUBAT TERMASUK KUNCI RIZKI
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ta’ala. Dibawah ini beberapa nash dimaksud :
1. Apa Yang Disebutkan Allah Subhana Wa Ta’ala Tentang Nuh Alaihis Salam Yang Berkata Kepada Kaumnya.
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. [Nuh/71 : 10-12]
Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar.
Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya :
إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
“Sesungghuhnya Dia adalah Maha Pengampun“.
Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata (مِدْرَارًا) adalah (hujan) yang turun dengan deras.
Allah akan membanyakan harta dan anak-anak, Dalam menafsirkan ayat (وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ ) Atha’ berkata : Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian”
Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.
Imam Al-Qurthubi berkata : “Dalam ayat ini, juga yang disebutkan dalam (Hud/11 : 3) وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhamnu dan bertaubat kepada-Nya) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan”
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :” Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa menta’atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)”
Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta’ala.
Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi : “Bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.
“Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat“.[Nuh/71 : 10-11]
Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”.
Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai“. [Nuh /71: 10-12]
Allahu Akbar ! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar ! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai ber-istighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Mahahidup dan terus menerus mengurus mahluk-Nya.
2. Ayat Lain Adalah Firman Allah Yang Menceritakan Tentang Seruan Hud Alaihis Shalatu Was Sallam Kepada Kaumnya Agar Ber-istighfar.
“Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa“. [Hud /11: 52]
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : “Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman.
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu“
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan do’a. Amin, whai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat“. [Hud/11 : 3]
Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang ber-istighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya.
يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا
“Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu“.
Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma adalah. ‘Ia akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian’.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan :”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian”
Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata :”Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan”
4. Dalil Lain Bahwa Istighfar Dan Taubat Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki
Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka“
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada!, sekali lagi hendaknya waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.
Perbedaan Istighfar Dan Taubat, Adakah perbedaan antara istighfar dan taubat? Apakah saat seroang beristighfar serta merta bisa dikatakan bertaubat?
Dua istilah yang tampak sama ini, ternyata pada hakikatnya terdapat perbedaan. Berikut perbedaannya :
Pertama : Taubat ada batas waktunya, sementara istighfar tidak ada batas waktunya.
Oleh karenanya sampai orang yang sudah meninggal masih bisa dimohonkan ampunan. Adapun taubat tak diterima ketika nyawa seorang sampai pada kerongkongan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma).
Oleh karenanya seorang yang telah meninggal dunia tidak ditaubatkan, namun mungkin baginya untuk dimohonkan ampunan atau didoakan istighfar. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).
Kedua : Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, adapaun istighfar bisa dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya.
Oleh karenanya seorang anak bisa mendoakan isighfar untuk ayahnya, atau seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain, namun tidak bisa dikatakan seorang anak men-taubatkan bapaknya atau seorang rekan men-taubatkan kawannya.
Ketiga : Taubat memiliki syarat harus berhenti dari dosa yang ditaubati. Adapun istighfar tidak disyaratkan demikian.
Oleh karenanya ada suatu masalah penting yang dikaji oleh para ulama berkaitan hal ini, yakni apakah istighfar bermanfaat tanpa taubat?
Maksudanya apabila seorang beristighfar sementara ia masih terus melakukan maksiat, apakah istighfar itu bermanfat? Misalnya seorang merokok dan ia mengakui bahwa rokok itu haram, kemudian beristighfar, namun tidak berhenti dari merokok, apajah istighfarnya tersebut dapat menghapus dosa merokok yang ia lakkan? Mengingat salahsatu syarat taubat adalah berlepas diri dari dosa yang ditaubati.
Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini :
Pendapat pertama: istighfar tidak bermanfaat tanpa taubat. Karena istighfar adalah jalan menuju taubat. Sehingga apabila maksud tidak tercapai maka istighfar yang dilakukan menjadi sia-sia. Maka menurut ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada kasus di atas tidak bermanfaat.
Pendapat kedua: istighfar bermanfaat meski pelaku belum bertaubat. Karena dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dibedakan antara istighfar dan taubat. Seperti hadis berikut,
“Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).
Dalam riwayat Muslim disebutkan, “… 100 kali“.
Pada hadis di atas istighfar dan taubat disebutkan secara terpisah. Menunjukkan bahwa istighfar dapat bermanfaat dengan sendirinya, meski tidak diiringi taubat.
Maka, menurut para ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada kasus di atas bermanfaat. Boleh jadi Allah mengijabahi permohonan ampunnya meskipun ia belum bertaubat.
Namun ada kesimpulan yang sangat baik dari guru kami; Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili -hafidzohullah- ketika mengkompromikan dua pendapat di atas. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan :
Pertama : Istighfar / permohonan ampun untuk pelaku dosa yang dilakukan oleh orang lain.
Seperti istighfarnya Malaikat untuk orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya tidak batal, para Malaikat mendoakannya,
اللهم اغفرله اللهم ارحمه
“Ya Allah ampunilah dan rahmatilah dia..” (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-).
Atau istighfar anak untuk orang tuanya,
رب اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
“Ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil“.
Nabi juga pernah memerintahkan para sahabat beliau ketika raja Najasi meninggal dunia, untuk mendoakan ampunan untuknya,
استغفروا لأخيكم
“Doakanlah istighfar untuk saudara kalian..” (HR. Bukhori dan Muslim).
Beliau juga bersabda sesuai menguburkan salah seorang sahabat beliau,
استغفروا لأخيكم واسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل
“Doakan istighfar untuk saudara kalian. Dan mohonkan untuknya ketetapan hati, karena dia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Hakim).
Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan istighfar untuk mayit bukan taubat untuk mayit. Mengingat perbuatan ini diperintahkan oleh syariat, menunjukkan bahwa istighfar untuk mayit dapat bermanfaat. Karena Allah tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali perbuatan yang bermanfaat. Ini adalah kaidah yang sangat penting dalam agama kita.
Kedua : Istighfar pelaku dosa untuk darinya sendiri.
Yang tepat, istighfar seperti ini dapat bermanfat untuk pelakunya mesti ia belum bertaubat, namun, dengan syarat, istighfar tersebut muncul karena rasa takutnya kepada Allah ‘azza wa jalla yang sebenarnya dan jujur. Maka orang seperti ini berada pada dua situasi : antara takut kepada Allah dan kalah oleh hawa nafsu. Saat rasa takut muncul ia beristighfar dan saat ia dikalahkan oleh syahwatnya ia terjerumus dalam dosa, dan ia memyadari bahwa yang dilakukan adalah dosa. Istighfar untuk orang seperti ini kita katakana bermanfaat untuknya.
Adapun istighfar yang hanya di lisan, bukan karena takut kepada Allah, maka ini istighfar yang dusta. Seorang mengatakan astaghfirullah, akantetapi dalam hatinya tidak ada rasa bersalah, takut kepada Allah dan kesadaran bahwa yang dilakukan adalah dosa. Maka istighfar seperti ini tidak bermanfaat sama sekali.
Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– ketika menjawab permohonan Abul Qosim al Maghribi –rahimahullah-, untuk menuliskan wasiat untuknya yang kemudian tulisan tersebut dikenal dengan Al Wasiyyah As Sughro, menyatakan,
فإن الله قد يغفر له إجابة عن دعائه، وإن لم يتب، فإذا اجتمعت الاستغفار و التوبة فهو الكمال
“Allah bisa jadi mengampuninya sebagai pengabulan atas doanya, meski ia belum bertaubat. Namun bila berkumpul antara istighfar dan taubat maka itulah yang sempurna” (Al Wasiyyah As Sughro, hal. 31. Tahqiq Sobri bin Salamah Sāhin).
Bila seorang dapat mengumpulkan istighfar dan taubat, maka itulah yang sempurna dan diharapkan. Sebagaimana Allah mengumpulkan kedua hal ini dalam firmanNya,
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (beristighfar), siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?! Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (bertaubat), sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imron : 135).
Seperti yang dilakukan Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam, “Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).
Cara Menghapus Dosa Zina, Lakukan Amalan Berikut. Cara menghapus dosa zina bisa melakukan amalan berikut. Cara menghapus dosa zina bisa dengan bertaubat agar tidak melakukannya lagi. Zina merupakan suatu perbuatan yang dilarang dalam Islam, ia masuk sebagai salah satu dari sekian banyak dosa besar, dan pelakunya diancam dengan hukuman yang berat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Zina dalam bahasa Ibrani yaitu zanah adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan. Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan hubungan seksual, tetapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia termasuk dikategorikan zina.
Allah Maha Pengasih dan Penyayang, selalu ada cara dalam agama Islam untuk kembali ke jalan yang benar. Termasuk cara menghapus dosa zina. Allah membuka kesempatan bagi pelakunya untuk bertobat.
Lantas, bagaimana cara menghapus dosa zina? Berikut merdeka.com merangkumnya di bawah ini:
Hukuman Bagi Pezina
Pelaku zina muhsan (laki-laki atau perempuan yang sudah menikah ) dikenakan atas mereka hukuman rajam. Hukuman rajam tersebut dilempar dengan batu yang sederhana besarnya hingga mati.
Pelaku zina yang bukan muhsan (laki-laki dan perempuan yang belum menikah), dikenakan atas mereka hukuman dera, yaitu 100 kali cambuk dan ta’zir selama setahun.
Adapun dasar hukum dalam Alquran dan hadis telah banyak disebutkan yaitu firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 2 yang berbunyi:
Artinya: “Pezina perempuan dan laki-laki hendaklah dicambuk seratus kali dan janganlah merasa belas kasihan kepada keduanya sehingga mencegah kamu dalam menjalankan hukum Allah, hal ini jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah dalam menjatuhkan sanksi (mencambuk) mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
Adapun dasar penetapan perbuatan zina sebagai berikut:
1. Adanya kesaksian empat orang, laki-laki, baligh, berakal, dan adil. Keempat saksi memberikan kesaksian yang sama baik tempat, pelaku, waktu dan cara melakukannya. Apabila syarat-syarat itu tidak terpenuhi, maka belum bisa dikatakan berbuat zina.
2. Pengakuan pelaku yang sudah baligh dan berakal.
3. Qorinah atau tanda-tanda atau indikasi.
4. Qorinah yang dapat dianggap sebagai barang bukti perzinaan yang sah adalah jelasnya kehamilan wanita yang tidak bersuami (bukan perkosaan).
Cara Menghapus Dosa Zina
Zina merupakan suatu perbuatan yang dilarang dalam Islam, ia masuk sebagai salah satu dari sekian banyak dosa besar, dan pelakunya diancam dengan hukuman yang berat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Larangan tersebut tertulis dalam Al Quran, surat Al Isra ayat 32.
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al Isra: 32)
Namun, Allah Maha Pengampun, selalu ada cara dalam agama Islam untuk kembali ke jalan yang benar. Dari Ibnu Mas’ud r.a, ia berkata:
“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata: Sesungguhnya saya telah menikmati perempuan dari daerah Madinah yang paling jauh dan saya telah bersenang-senang dengannya tanpa menyetubuhinya. Saya telah hadir di hadapan engkau untuk mengikuti keputusanmu. Maka segerakanlah hukuman atas saya menurut keinginan engkau.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menutupi kesalahanmu jika engkau menutupi kesalahanmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menanggapinya sedikitpun, sehingga orang itu pergi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seseorang mengikutinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan membacakan (ayat) kepadanya.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca:
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam, sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Seseorang dari kaum berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah ini khusus baginya atau untuk semua orang? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
“Untuk semua orang…” (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Zina merupakan kerusakan besar, keburukan nyata, dan pengaruhnya begitu besar yang mengakibatkan berbagai kerusakan, baik terhadap orang yang melakukan maupun terhadap masyarakat secara umum mengutip dari buku Pandangan Islam Tentang Zina Dan Perkawinan (1997).
Meski tidak begitu jelas bagaimana cara menghapus dosa zina, namun ada hal yang bisa dilakukan untuk memohon ampunan bagi pelaku zina yakni dengan cara bertaubat. Berikut langkahnya:
1. Menyesali dengan sungguh-sungguh terhadap kesalahan yang dilakukan
Cara menghapus dosa zina dengan bertaubat. Inilah inti taubat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Penyesalan adalah hakikat tobat." (HR. Ahmad 3568, Ibn Majah 4252 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Untuk bisa menyesal, Anda tidak harus menunggu tertangkap basah atau ketahuan orang yang Anda segani atau dipermalukan di depan orang lain. Penyesalan bisa dilakukan ketika dia merasa telah bertindak sangat bodoh, dengan kemaksiatan yang dilakukan.
Bayangan kenikmatan maksiat bisa jadi tetap terngiang. Tapi harus dia lawan dengan kesedihan.
2. Meninggalkan dosa zina dan semua pemicunya
Cara menghapus dosa zina meninggalkan dosa zina dan semua pemicunya. Seperti menghindar jauh dari pasangan zinanya, kecuali setelah menikah.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa zina
Cara menghapus dosa zina dengan bertekad untuk tidak mengulangi dosa zina. Tanamkan bahwa dosa ini berbahaya. Karena bisa menghalangi Anda untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, cepat atau lambat.
4. Dekatkan diri dengan banyak beribadah kepada Allah
ara menghapus dosa zina dengan mendekatkan diri dan beribadah. Perbanyak ibadah dan terus dekatkan diri kepada Allah. Semoga ini bisa membantu untuk menggugurkan dosa. Karena ketaatan bisa menghapus dosa maksiat.
Amalan Penghapus Dosa Zina
Adapun beberapa amalan sebagai cara menghapus dosa zina yang bisa diusahakan, yaitu:
Shalat Taubat
Setiap manusia pasti tak luput dari kesalahan dan dosa, baik yang disengaja atau pun tak disengaja. Dosa kecil yang diperbuat manusia antara lain seperti ghibah, riya dan putus asa. Ada pula dosa besar yang diperbuat seperti halnya berbohong, zina dan memakan harta riba.
Cara menghapus dosa zina dengan melaksanakan shalat taubat. Dalam melaksanakan taubat manusia tidak harus mengundur atau menunda-nundanya. Sholat taubat nasuha bisa dilakukan pada waktu sepertiga malam atau selama sholat tahajud.
Merbanyak zikir dan istigfhar
Memperbanyak dzikir dan istigfar pada Allah adalah salah satu amalan untuk menghapuskan dosa-dosa kita, termasuk dosa zina. Kalimat istigfar merupakan kalimat permohonan ampun dari Allah SWT dan dosa-dosa seseorang dapat dihilangkan dengan terus menyebut nama Allah SWT.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT surat Al imran ayat 135 berikut ini:
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Berpuasa
Cara menghapus dosa zina dengan berpuasa. Berpuasa adalah salah satu cara melatih hawa nafsu dan kesabaran. Puasa juga dapat menghapuskan dosa apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh terutama jika melakukan puasa sunnah seperti puasa arafah (baca keutamaan puasa arafah) dan asy syura.
Memperbanyak membaca Alqur’an
Alqur’an dapat menjernihkan hati dan membacanya tidak hanya mendatangkan ketenangan akan tetapi juga menghapuskan dosa seseorang. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini: “Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya”(HR. Muslim)Demikian amalan-amalan yang dapat dilakukan sebagai cara menghapuskan dosa zina.
Apa yang tidak ia mohonkan ampunannya, hukumnya sama dengan orang yang tidak bertobat. Ramadhan sebentar lagi berlalu. Pada masa sepuluh hari terakhir ini, kaum Muslimin dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan mela kukan iktikaf. Waktu yang begitu istimewa ini ratusan ribu malaikat turun dari langit. Mereka ikut mendoakan orang-orang yang sedang bertobat.
Orang yang bertobat dari dosa boleh jadi lebih utama ketimbang mereka yang tidak pernah terjerumus pada dosa, tetapi tak mau bertobat. Padahal, manusia seyogianya diperintahkan memohon ampunan bahkan saat meraih kemenangan.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha penerima tobat." (QS an-Nashr: 1-3).
Sungguh berat dosa itu mengganjal. Terkadang, bebannya menghalangi kita untuk mendekat dan memohon ampunan. Rasa putus asa menggelayut, padahal Allah memiliki sifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
"Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah meng ampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan, kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada- Nya." (QS az-Zumar: 53-54).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, ayat 53 surah az-Zumar itu dimaksudkan sebagai bentuk larangan berputus asa dari rahmat Allah SWT meski seseorang telah melakukan banyak dosa. Dia pun tak diperkenankan untuk membuat orang lain berputus asa dari rahmat-Nya. Tidak heran, sebagain ulama Salaf berkata, "Orang yang memiliki pemahaman yang benar adalah yang tidak membuat putus asa orang lain dari rahmat Allah dan ti dak menyuruh mereka bermaksiat kepada Allah Ta'ala.
Putus asa pada QS az-Zumar ayat 53 itu disebut dengan istilah al-Qunuth. Maknanya adalah berkeyakinan bahwa Allah tidak akan mengampuninya jika ia bertobat atau dengan mengatakan dia tidak kuasa untuk bertobat. Setan telah menguasainya. Dengan demikian, ia berputus asa dan tidak mau bertobat meski ia tahu bahwa jika dia bertobat Allah pasti mengampuninya. Lantas, apakah meninggalkan perintah Allah tidak akan dipertanggungjawabkan tanpa siksaan? Siksaan itu ada dua macam.
Pertama, dengan rasa sakit. Ini bisa gugur lantaran banyaknya kebaikan. Kedua, dengan berkurangnya derajat dan tidak diberikan haknya. Ini dapat terjadi jika yang pertama tidak terjadi. Allah menggugurkan kejelekan-kejelekan orang yang berbuat jahat.
Para ulama mengungkapkan, jika istighfar (memohon ampun kepada Allah) dengan tetap melakukan dosa adalah tobatnya para pendusta. Jika seseorang telah mengaku bertobat atau telah beristigfar, tapi tetap saja melakukan sesuatu yang di larang (dosa), istigfar itu tidaklah bermanfaat sama sekali. Tobat yang disertai dengan tetap melakukan dosa adalah dua hal yang saling berlawanan. Tidak berarti tobat tanpa diikuti berhenti dari berbuat dosa.
Bertobat dari sebagian dosa tanpa bertobat dari sebagian lainnya sama seperti melaksanakan sebagaian kebaikan yang diperintahkan tanpa melakukan lainnya. Sesungguhnya orang yang memiliki dosa lalu bertobat dari sebagiannya tanpa pada sebagian lainnya, maka tobatnya itu hanya dapat menghapus dosa yang ia mohonkan. Sementara itu, apa yang tidak ia mohonkan ampunannya maka hukumnya sama dengan orang yang tidak bertobat.
Pertanyaan berikutnya, apakah diampuni dosa yang dilakukannya pada saat ia berstatus kafir dan tidak bertobat darinya setelah masuk Islam? Ada dua pendapat para ulama. Pertama, diampuni semua dosa nya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, "Islam menghapus dosa sebelumnya." Kemudian, hadis lainnya yakni, "Menutupi (menghapus) apa yang sebelumnya."
Hadis ini diucapkan Nabi SAW ketika Amru bin Ash masuk Islam. Dia memohon agar diampuni dosanya yang telah lalu. Nabi SAW pun bersabda kepadanya, "Wahai Amr, tidaklah engkau ketahui bahwa Islam menghapuskan dosa sebelumnya."
Pendapat kedua, yakni tidak serta-merta keislamannya akan menghapuskan dosa nya pada saat ia kafir kecuali bertobat darinya. Jika ia masuk Islam, sedang ia tetap melakukan dosa besar selain kekafiran, dalam hal itu hukumnya sama dengan pelaku dosa besar lainnya.
"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu." (QS al- Anfaal: 38).
Ayat ini menunjukkan tentang orang yang telah berhenti dari kekafiran dan bertobat darinya akan diampunkan semua dosa yang telah dilakukannya. Tobat dapat menghancurkan dosa yang sebelumnya sebagaimana berhijrah dari dosa akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.
Dalam ash-Shahihain, Hakim bin Hizam berkata, "Apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami lakukan pada masa jahiliyah?" Maka, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa di antara kalian yang berbuat baik dalam Islam, maka dia tidak akan disiksa dengan apa yang diperbuatnya pada masa Jahiliah. Dan, barang siapa yang berbuat buruk dalam Islam, maka dia disiksa dengan yang pertama dan yang terakhir."
Hadis ini menunjukkan, siksaan hanya dapat dihilangkan bagi orang-orang yang benar-benar baik keislamannya. Ketika dia tidak memperbaiki diri setelah masuk dalam Islam, dia tetap diberi balasan (disiksa) baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya.
Merasa berlumuran dosa, saatnya baca doa taubat agar diampuni Allah. Dosa adalah perbuatan yang harus dihindari manusia. Manusia makhluk penuh doa sepanjang hidup.
Taubat memiliki makna kembali kepada Allah SWT dengan mengakui segala kesalahan dan perbuatan serta tidak akan mengulanginya kembali. Setiap umat muslim diberikan kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan sebelum dirinya meninggal dunia.
Sehingga Anda musti membaca doa taubat beserta bacaan latin dan artinya yang dapat menjadi pedoman bagi umat muslim untuk melakukan taubat. Setiap manusia yang hidup di dunia tidak pernah luput dari salah dan dosa. Dalam Islam, seorang muslim diwajibkan untuk mengakui kesalahan dan meminta ampunan kepada Allah SWT dengan taubat.
Lalu bagaimana doa taubat yang dianjurkan Nabi Muhammad? Terkait dengan taubat, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran Surat A-Taubat ayat 104 yang berbunyi sebagai berikut:
"Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang?" (QS. At-Taubat: 104)
Dari penggalan ayat tersebut, Allah SWT selalu menerima taubat hamba-Nya baik dari taubat dosa kecil hingga dosa besar di masa lampau. Berikut ini adalah kumpulan bacaan doa taubat beserta latin dan artinya yang dapat kamu amalkan.
Dari penggalan ayat tersebut, Allah SWT selalu menerima taubat hamba-Nya baik dari taubat dosa kecil hingga dosa besar di masa lampau. Berikut ini adalah kumpulan bacaan doa taubat beserta latin dan artinya yang dapat kamu amalkan.
1. Doa taubat Rasulullah SAW saat mengajarkannya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq
Inilah bacaan doa taubat Rasulullah SAW:
“Allahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiran wa laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min 'indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiim.”
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
2. Doa taubat berdasarkan hadist Rasulullah SAW
Berikut bacaan latin doa taubat berdasarkan hadist Rasulullah SAW:
Artinya: “Aku minta ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
3. Doa taubat pendek
"Robbighfir lii wa tub 'alayya, innaka antat-tawwaabur-rohiim.”
Artinya: “Ya Rabbku, ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubat dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Al-Bukhari)
4. Doa taubat Rasulullah SAW sebelum wafat
Berikut ini bacaan latin doa taubat Rasulullah SAW sebelum wafat:
“Subhaanaka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atuubu ilaik.”
Artinya: “Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertaubat kepada-Mu.”
Demikian adalah doa taubat beserta bacaan latin dan artinya yang bisa menjadi pedoman umat muslim untuk bertaubat. Semoga kita selalu dapat memperbaiki setiap kesalahan dalam ucapan maupun perbuatan sehingga Allah SWT menerima taubat kita.
ASTAGHFIRULLAH Anda Berlumuran Dosa, Baca Doa Taubat Ini Agar Diampuni Allah Swt. Merasa berlumuran dosa, saatnya baca doa taubat agar diampuni Allah. Dosa adalah perbuatan yang harus dihindari manusia. Manusia makhluk penuh doa sepanjang hidup. Taubat memiliki makna kembali kepada Allah SWT dengan mengakui segala kesalahan dan perbuatan serta tidak akan mengulanginya kembali. Setiap umat muslim diberikan kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan sebelum dirinya meninggal dunia.
Sehingga Anda musti membaca doa taubat beserta bacaan latin dan artinya yang dapat menjadi pedoman bagi umat muslim untuk melakukan taubat. Setiap manusia yang hidup di dunia tidak pernah luput dari salah dan dosa. Dalam Islam, seorang muslim diwajibkan untuk mengakui kesalahan dan meminta ampunan kepada Allah SWT dengan taubat. Lalu bagaimana doa taubat yang dianjurkan Nabi Muhammad? Terkait dengan taubat, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran Surat A-Taubat ayat 104 yang berbunyi sebagai berikut:
"Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang?" (QS. At-Taubat: 104)
Dari penggalan ayat tersebut, Allah SWT selalu menerima taubat hamba-Nya baik dari taubat dosa kecil hingga dosa besar di masa lampau. Berikut ini adalah kumpulan bacaan doa taubat beserta latin dan artinya yang dapat kamu amalkan.
Dari penggalan ayat tersebut, Allah SWT selalu menerima taubat hamba-Nya baik dari taubat dosa kecil hingga dosa besar di masa lampau. Berikut ini adalah kumpulan bacaan doa taubat beserta latin dan artinya yang dapat kamu amalkan.
1. Doa taubat Rasulullah SAW saat mengajarkannya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq
Inilah bacaan doa taubat Rasulullah SAW:
“Allahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiran wa laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min 'indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiim.”
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
2. Doa taubat berdasarkan hadist Rasulullah SAW
Berikut bacaan latin doa taubat berdasarkan hadist Rasulullah SAW:
Artinya: “Aku minta ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
3. Doa taubat pendek
"Robbighfir lii wa tub 'alayya, innaka antat-tawwaabur-rohiim.”
Artinya: “Ya Rabbku, ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubat dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Al-Bukhari)
4. Doa taubat Rasulullah SAW sebelum wafat
Berikut ini bacaan latin doa taubat Rasulullah SAW sebelum wafat:
“Subhaanaka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atuubu ilaik.”
Artinya: “Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertaubat kepada-Mu.”
Demikian adalah doa taubat beserta bacaan latin dan artinya yang bisa menjadi pedoman umat muslim untuk bertaubat. Semoga kita selalu dapat memperbaiki setiap kesalahan dalam ucapan maupun perbuatan sehingga Allah SWT menerima taubat kita.
Berjuta Dosa Besar diampuni Allah Swt Termasuk Dosa Zina, Asalkan Taubat Nasuha (Ustadz Adi Hidayat). Manusia sering melakukan berjuta dosa besar selama hidupnya akan diampuni oleh Allah SWT termasuk dosa zina, asalkan segera taubat nasuha, kata Ustadz Adi Hidayat. Terkadang kita tidak sadar bahwa selama menjalani hidup di dunia sering melakukan dosa besar. Dosa besar yang dimaksud yaitu, terkadang kita sering berbuat zina, menyekutukan Allah SWT, meminum minuman keras dan sebagainya.
Dosa berbuat zina termasuk dosa yang sangat besar, namun manusia selalu menggagap bahwa dosa zina tidak akan pernah diampuni Allah SWT. Tidak demikian, karena Allah SWT adalah pencipta yang maha luas ampunannya, sehingga mau berjuta manusua itu melakukan dosa besar termasuk dosa zina Allah SWT akan mengampuninya. Lalu bagaimana caranya agar berjuta perbuatan dosa besar termasuk dosa zina yang selama ini banyak dilakukan oleh manusia, apakah akan diampuni Allah SWT.?
Jawabannya adalah bisa diampuni, asalkan segera taubat nasuha, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan selama nyawa belum sampai kerongkongan maka pintu taubat akan selalu terbuka. Kecuali jika nyawa sudah berada di kerongkongan maka hal itu tidak akan diampuni Allah SWT. Lalu apa yang dimaksud dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Artinya meninggalkan semua perbuatan dosa besar termasuk dosa zina, dan mulai mengerjakan amal kebaikan.
Perlu diketahui bahwa Allah SWT akan selalu mengampuni dosa hambanya, termasuk dosa besar seperti dosa zina, asalkan berjanji akan bertaubat nasuha. Tidak demikian, karena rahmat Allah SWT sangat luas ampunannya, bahkan dibandingkan dengan murkanya lebih besar rahmat ampunannya. Berjuta Dosa Besar diampuni Allah Swt Termasuk Dosa Zina, Asalkan Taubat Nasuha (Ustadz Adi Hidayat). Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa selama nyawa masih berada pada tempatnya, maka Allah SWT akan selalu mengampuni hambanya.
Artinya selama manusia ingin bertaubat nasuha, maka pintu taubat tersebut akan selalu terbuka, kata Ustadz Adi Hidayat. Dalam surah Az Zumar ayat 53, dijelaskan, katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. sungguh dialah yang maha pengampun maha penyayang. Ayat diatas untuk menjawab soal permasalahan dosa besar yang diperbuat oleh manusia, dan manusia ingin bertaubat dengan sungguh-sungguh, ujar Ustadz Adi Hidayat. Kemudian Allah SWT berfirman pada Nabi Muhammad SAW, katakanlah pada hamba-hambaku yang selalu berbuat zina dan ia ingin bertaubat, maka segeralah bertaubat, karena ampunan Allah SWT sangat luas.
Lalu bagaimana caranya agar berjuta perbuatan dosa besar termasuk dosa zina yang selama ini banyak dilakukan oleh manusia, apakah akan diampuni Allah SWT.? Jawabannya adalah bisa diampuni, asalkan segera taubat nasuha, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan selama nyawa belum sampai kerongkongan maka pintu taubat akan selalu terbuka.Kecuali jika nyawa sudah berada di kerongkongan maka hal itu tidak akan diampuni Allah SWT, ujar Ustadz Adi Hidayat. Intinya adalah semua dosa besar termasuk dosa zina yang dilakukan manusia pasti Allah SWT akan selalu mengampuninya asalkan segera bertaubat nasuha dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi perbuatan yang sama.
Cara Taubat DOSA ZINA Agar Diampuni Allah SWT (Ustadz Adi Hidayat). Dosa zina adalah perbuatan haram yang dilakukan oleh pria dan wanita. Bahkan bagi umat Islam, mendekatinya saja dilarang.
Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kepada umatnya akan beratnya hukuman pelaku yang berbuat dosa zina. Dan dosa zina menurut islam, adalah tergolong dosa besar setelah syirik.
Jelas tak bisa terbantahkan, dosa zina adalah perbuatan yang termasuk ke dalam golongan dosa besar. Lalu apakah Alloh SWT masih menerima taubat jika kita sudah melakukan dosa zina?
Menurut Ustadz Adi Hidayat, selama masih hidup setiap umat muslim masih punya kesempatan untuk bertaubat termasuk yang berbuat dosa zina. Dan Allah SWT itu maha pengampun.
“Kalau Anda masih punya kesempatan bernyawa dan belum sampai nyawa itu ke kerongkongan, maka taubat itu sangat terbuka bagi Anda. Kecuali kalau nyawa sudah sampai ke kerongkongan”, kata Ustadz Adi Hidayat.
Ustadz Adi Hidayat menegaskan, ada ayat yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan seseorang yang pernah berbuat dosa besar dan mau taubat termasuk dosa zina.
Ayatnya ayat ke 53, Quran Surat Az Zumar. Ayat itu diturunkan untuk menjawab seseorang yang pernah melakukan dosa zina dan dia mau taubat:
Artinya: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
“Ketika dikerjakan seperti itu, dia mau tobat, kata Allah ayo taubat jangan putus asa dari rahmat Allah SWT”, kata Ustadz Adi Hidayat.
Kenapa (dalam ayat itu) ada kalimat jangan putus asa, jelas Ustadz Adi Hidayat, karena orang kalau berbuat dosa besar setannya lebih mudah menjerumuskan orang tersebut.
Setan akan membuat kalimat-kalimat dalam diri orang yang telah berbuat zina seakan-akan mencegah dia untuk bertobat.
Setan akan mengatakan: ‘Sudahlah dosa kamu sudah begitu besar gak ada kesempatan untuk bertaubat lagi, sudah. Kamu sudah terlanjur basah berenang sekalian. Tinggalkan perbuatan yang ini kamu medannya di sini, kamu dunianya di sini”.
“Kata Allah itu semua tidak benar. Saya itu adalah Tuhan rahmat bukan Tuhan ‘ghadab”. Rahmat saya melebihi ghadab yang ada dalam diri saya. Maka rahmat itu manfaatkan, taubat ayo taubat”, ujar Ustadz Adi Hidayat.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, pintu taubat itu terbuka bagi pelaku dosa zina. Tidak hanya untuk pelaku laki-lakinya saja, tapi berlaku juga bagi pelaku perempuannya.
Perang Khaibar, Kisah Rasulullah Taklukan Pasukan Yahudi. Perang Khaibar merupakan kisah saat kaum Muslim bertempur dengan kaum Yahudi di Khaibar. Pada penghujung bulan Muharram tahun 7 H Perang khaibar terjadi. Dengan kondisi pasukan Yahudi yang sangat banyak dan kuat, peperangan ini menjadi perang yang paling sengit bagi kaum Muslim. Pemicu terjadinya perang Khaibar ini adalah ulah licik orang-orang Yahudi yang sering mengadu domba kaum Muslim. Kaum Yahudi di Khaibar pun seolah bersikap seperti menentang kaum Muslim, dengan 10.000 orang yang menjadi pasukan da
Dengan sikap kaum Yahudi Khaibar yang seperti itu, Rasulullah SAW pun akhirnya memutuskan untuk menyiapkan dan memberangkatkan pasukan ke Khaibar untuk menghadapi kondisi tersebut. Hanya ada sebanyak 1.600 orang dan 200 orang yang mengendarai kuda yang menjadi pasukan dari kaum Muslim.
Pasukan kaum Muslim yang akan segera tiba di Khaibar pun diberhentikan sejenak oleh Rasulullah SAW. Di tempat mereka berhenti tersebut Rasulullah SAW memohon doa kepada Allah SWT untuk menghadapi kaum Yahudi. “Wahai, Tuhan langit dan segala yang ada di bawahnya, Tuhan tujuh lapis bumi dan segala yang ada di atasnya, Tuhan setan-setan dan segala yang menyesatkan, serta Tuhan angin dan segala yang diterbangkannya, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini serta kebaikan penduduk dan segala yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepada-Mu dan kejahatannya, kejahatan penduduk, dan kejahatan yang ada di dalamnya.” Kaum Yahudi pun sudah mempersiapkan pasukan mereka untuk menghadapi serbuan dari kaum Muslim.
Seperti yang sebelumnya juga sudah disebutkan, kaum Yahudi memiliki benteng Khaibar yang sangat kuat dengan sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Bahkan belum tentu bisa ditaklukan dengan pasukan Romawi yang dikenal lebih kuat.
Namun kaum Muslim tetap berperang dengan hati yang teguh dan hati yang sangat tinggi dalam Perang Khaibar dengan kaum Yahudi ini. Jantung pertahanan musuh pun pada saat itu langsung diserbu oleh pasukan Rasulullah SAW. Saat Perang Khaibar, Sallam bin Misykam menjadi yang memimpin dari pasukan kaum Yahudi. Mereka menempatkan perempuan, anak-anak dan harta benda di dalam benteng Watih dan Sulaim.
Sementara itu benteng Na’im menjadi tempat untuk mengumpulkan persediaan makanan. Sebenarnya saat Perang Khaibar ini, pimpinan pasukan kaum Yahudi yakni Sallam bin Misykam berhasil terbunuh oleh pasukan kaum Muslim. Namun kematian sang pemimpin pasukan tersebut tidak membuat pertahanan Khaibar jadi mudah untuk ditembus pasukan Muslim.
Bahkan Abu Bakar dan Umar pun sampai ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk membantu menembus pertahanan Khaibar, tapi tetap saja belum berhasil. Hingga akhirnya pertahanan dari pasukan kaum Yahudi berhasil ditembus setelah pasukan kaum Muslim diserahkan dan dikomandoi oleh Ali bin Abu Thalib. Nama Ali bin Abu Thalib pun semakin disorot dalam Perang Khaibar ini karena keberhasilannya untuk menembus pertahanan pasukan kaum Yahudi.
Pada saat itu, dalam pimpinan Ali bin Abu Thalib pintu gerbang benteng Yahudi berhasil direnggut dan dijadikan sebagai perisai. Bahkan komandan yang menggantikan Sallam yang tewas yakni Harith bin Abu Zainab juga berhasil dibunuh. Benteng Yahudi perlahan mulai dapat dikuasai oleh pasukan Muslim. Akan tetapi, saat di dua benteng terakhir benteng Yahudi cukup sulit untuk ditaklukan karena karena tentara-tentara Yahudi sangat gigih untuk bertahan sehingga korban pun mulai banyak berjatuhan baik dari pasukan Yahudi sendiri maupun pasukan Islam.
Hingga akhirnya pasukan Yahudi menyerah dengan sendirinya dan menyatakan bahwa mereka bersedia untuk keluar dari Khaibar dengan keluarga mereka masing-masing. Kemudian pasukan Yahudi menyerahkan benteng mereka kepada pasukan Islam. Kaum Muslim memperoleh senjata-senjata yang diletakkan di dalam benteng dan menemukan ribuan kitab Taurat yang kemudian dikembalikan oleh Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi.
Bahkan meski terlibat dalam perang, kaum Yahudi tetap dilindungi oleh kaum Muslim selama perjalanan keluar dari Khaibar atas perintah rasulullah SAW. KecualiKinana bin Rabi, kaum Yahudi yang kedapatan berbohong saat Rasulullah SAW meminta keterangan darinya.
Rasulullah SAW sengaja memberikan perlindungan tersebut kepada kaum Yahudi untuk menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak melakukan perlakuan yang beda kepada pihak yang kalah. Sebab biasanya pasukan yang kalah dalam berperang akan dihancurkan oleh pasukan Kristen dari Kekaisaran Romawi. Namun berbeda dengan kaum Islam yang memberikan kemerdekaan untuk kaum Yahudi Khaibar mengatur dirinya sendiri selama mengikuti garis kepemimpinan Rasulullah SAW.
Perang Khaibar dikisahkan menelan sebanyak korban 93 orang dari kaum Yahudi dan 15 orang dari kaum Muslim. Rasulullah SAW sempat tinggal di Khaibar beberapa lama. Namun, di Khaibar ini Rasulullah SAW nyaris saja dibunuh karena diracun oleh Zainab binti Harith, istri dari pemimpin pasukan Yahudi yakni Sallam dalam Perang Khaibar. Pada saat itu, sepotong domba dikirimkan oleh Zainab kepada pasukan Rasulullah SAW.
Domba tersebut pun sempat digigit sedikit oleh Rasulullah SAW, namun dengan segera dimuntahkan karena merasa ada yang janggal dari domba tersebut. Akan tetapi sahabat Rasul yakni Bisyri bin Bara terlanjur menelannya dan ia pun meninggal karena daging domba tersebut. Rombongan pasukan Rasulullah akhirnya kembali ke Madinah setelah berhasil menaklukan Khaibar. Mereka semua kembali melalui Wadil Qura, sebuah wilayah yang dikuasai oleh kaum Yahudi yang lain.
Di tempat tersebut juga sempat terjadi peperangan namun Rasulullah SAW kembali berhasil menaklukannya. Di sisi lain, kaum Yahudi di Taima menawarkan damai tanpa adanya peperangan. Dengan kaum Yahudi yang berhasil ditaklukan tersebut, Islam di Madinah menjadi kekuatan yang utama di Jazirah Arab. Masyarakat yang tenang semakin terwujud dan Nabi Muhammad SAW dapat lebih fokus untuk berdakwah.
Khaibar sendiri merupakan sebuah kawasan lokasinya terletak di sebelah utara Madinah. Dengan tanah yang subur dan sumber airnya yang melimpah, Khaibar menjadi suatu kawasan yang sangat istimewa. Bahkan Khaibar menjadi kawasan yang menghasilkan kurma, biji-bijian hingga buah-buahan karena suburnya tanah di Khaibar. Maka dari itu sebutan lain dari Khaibar yakni adalah negeri Hijaz yang subur atau juga negeri Hijaz yang kuat. Pada masa Rasulullah SAW, ada sebuah pasar yang disebut Pasar An Nathah DI khaibar yang dilindungi oleh Kabilah Ghathafan. Pasar An Nathah tersebut dilindunginya karena dianggap sebagai wilayah kekuasaan dari Kabilah Ghathafan. Dalam wilayah tersebut juga ada sebuah perkampungan yang berisi orang-orang Yahudi.
Bahkan di Jazirah Arab Saudi kampung tersebut bisa dibilang sebagai wilayah perkampungan Yahudi yang terbesar. Khaibar ditinggali oleh orang-orang kaya dari kaum Yahudi yang bekerja sebagai seorang pedagang dan petani.
Mereka kaum Yahudi kaya yang tinggal di Khaibar diketahui memiliki kebun mereka sendiri yang ditanami anggur, kurma, sayur-mayur dan biji-bijian. Bahkan mereka para kaum Yahudi yang ada di Khaibar juga menghasilkan senjata sendiri karena memiliki pabrik metal untuk membuat peralatan dan senjata serta ada juga pabrik sutra. Terdapat tiga titik yang menjadi pusat dari kawasan Khaibar diantaranya adalah Natat, Shiqq dan Katiba.