Halalkah Penghasilan Mantan Musisi dan Pekerja Riba yang Bertaubat. Alhamdulillah, kata-kata “hijrah” sekarang menjadi familiar dan memang mulai banyak kaum muslimin yang hijrah. Yang sebelumnya banyak melanggar aturan agama, sekarang menjadi lebih baik, berusaha mempelajari agama dan mengamalkannya dengan baik.
Yang melakukan hijrah bisa jadi orang yang dahulunya melakukan pekerjaan yang haram sehingga mendapatkan penghasilan yang haram pula, seperti pelacur, pekerja riba, musisi, menjual-beli barang-barang haram, dan lain-lainnya. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana dengan uang hasil pekerjaan haram yang dia dapatkan dahulu setelah dia bertaubat sekarang? Apakah halal atau tidak? Apakah dia harus sumbangkan dan sedekahkan semuanya?
Berikut sedikit pembahasannya:
Terkait dengan harta yang didapatkan dengan cara yang haram, berikut rincian ringkasnya
Apabila didapatkan dengam cara zalim dan mengambil hak orang lain, maka harus dikembalikan kepada yang mempunyai hak. Misalnya, mencuri, merampas, merampok, dan lain-lain.
Apabila didapatkan dengan saling ridha dan suka sama suka, ini ada rincian:
Apabila dia sudah tahu itu hukumnya haram, maka penghasilannya haram dipakai dan dimanfaatkan. Dia wajib menyalurkan dan menyedekahkan harta tersebut untuk kemaslahatan kaum muslimin.
Apabila belum tahu itu hukumnya haram (ingat: “benar-benar tidak tahu”), maka dia boleh memanfaatkan harta tersebut karena mendapatkan uzur serta tidak harus menyedekahkan semuanya.
Poin nomor 2b ini yang menjadi pembahasan kita. Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa penghasilan semacam ini boleh digunakan dan tidak harus disedekahkan semuanya.
Dahulu beberapa sahabat mendapatkan uang dan penghasilan dengan menjual khamar dan melakukan praktek riba jahiliyyah sebagaimana yang dilakukan oleh paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Transaksi ini dilakukam dengan saling rida dan suka sama suka, lalu tatkala turun ayat larangam khamar dan praktek riba jahiliyyah, tidak ada perintah kepada para sahabat untuk tidak memanfaatkan uang yang didapatkan dahulu.
Ketidaktahuan ini adalah uzur sebagaimana kaidah umum,
جهل المكلف بالحكم موجب للعذر
“Ketidaktahuan mukallaf terhadap hukum, mengharuskan adanya uzur.”
Beberapa ulama juga berdalil dengan ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 275).
Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan ayat ini. Beliau rahimahullah berkata,
فهذه الآية الكريمة يستفاد منها حل الكسب الماضي من العمل غير المشروع إذا تاب العبد إلى الله ورجع عن ذلك وإن تصدقتم به أو بشيء منه احتياطا فحسن
“Dari ayat yang mulia ini, bisa diambil faidah mengenai status halal harta sebelumnya yang didapatkan dengan cara yang tidak masyru’ (tidak halal) apabila seorang hamba telah bertaubat dan rujuk dari pekerjaan haram tersebut. Apabila dia menyedekahkannya atau sebagian disedekahkan, maka ini lebih hati-hati dan lebih baik” (Majmu’ Fatwa, 4: 306).
Demikian juga penjelasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
وما قبضه الإنسان بعقد مختلف فيه يعتقد صحته لم يجب عليه رده في أصح القولين، ومن كسب مالاً حرامًا برضاء الدافع ثم تاب: كثمن خمر ومهر البغي وحلوان الكاهن، فالذي يتلخص من كلام أبي العباس أن القابض إذا لم يعلم التحريم ثم علم جاز له أكله، وإن علم التحريم أولاً ثم تاب فإنه يتصدق به. كما نص عليه أحمد في حامل الخمر
“Harta yang didapatkan oleh manusia dari akad yang diyakini keabsahannya, maka tidak wajib baginya mengembalikan -pendapat terkuat dari dua pendapat-. (Hal ini) bagi mereka yang mendapatkan harta haram dengan ridha dari yang membayar/memberikan (saling ridha) kemudian bertaubat, seperti hasil menjual khamr, hasil berzina, atau hasil perdukunan. Disimpulkan dari perkataan Abul Abbas bahwa orang yang mendapatkan harta tersebut, apabila tidak tahu sebelumnya lalu bertaubat, maka boleh memakan hasilnya (memanfaatkan harta tersebut). Apabila dia tahu bahwa itu pekerjaan haram di awal lalu bertaubat, maka dia harus menyedekahkannya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad terkait kurir khamr.” (Al-Mustadrak ‘Ala Majmu’ Fatawa, 4: 77).
Hal ini juga sesuai dengan kemudahan dalam syariat. Karena apabila seseorang tahu cara taubatnya dengan menyedekahkan semua harta, padahal dia mendapat uzur karena tidak tahu, bisa jadi dia akan menunda-nunda taubat karena dia masih butuh harta tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan,
وأُمر برد جميع ما اكتسبه من الأموال ، والخروج عما يحبه من الأبضاع إلى غير ذلك صارت التوبة في حقه عذابا ، وكان الكفر حينئذ أحب إليه من ذلك الإسلام الذي كان عليه
“Perintah mengembalikan semua harta yang dia dapatkan dan keluar dari keadaan tersebut (zona nyaman), maka akan menjadikan taubat adalah azab baginya. Bisa jadi kekafiran ini lebih ia sukai daripada Islam dengan keadaan tersebut.” (Majmu’ Al-Fatawa, 22: 21)
Setelah bertaubat hendaknya tunaikan zakat pembersih harta yang terlupakan dan perbanyak sedekah.
Apabila telah bertaubat dengan keadaan ini, hendaknya taubat diikuti dengan memperbaiki diri dan mengiringi (membalas) perbuatan buruk dengan perbuatan baik.
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja Engkau berada dan iringilah sesuatu perbuatan dosa (kesalahan) dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, Shahih at-Targhib no. 3139)
Perbuatan baik akan menghapus perbuatan yang buruk di masa lalu. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)
Karena ini terkait dengan harta, hendaknya bayarkan zakat-zakat terdahulu yang lalai ditunaikan karena zakat akan menjadi pembersih harta. Allah Ta’ala berfirman,
“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa sedekah dari ahli maksiat sekalipun bisa mencegah bala’, apalagi seorang muslim yang sudah bertaubat. Beliau rahimahullah menjelaskan,
“إن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو من ظالم، بل من كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به؛ لأنهم جرَّبوه”
“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau zalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia, baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya.” (Al-Waabilus Shayyib hal. 49, Darul Kitab Al-‘Iraqi).
Bagaimana Bertaubat Dari Dosa Mengambil Hak Orang Lain Sementara Yang Bersangkutan Sudah Meninggal.
PERTANYAAN :
P ustad sy tanya lagi, dulu waktu kecil sy pernah hutang kpd teman atau jajan tidak bayar, dan sekaramg tidak tahu keberadaannya atau sdh lupa bagaimana sy membayarnya sekarang krn sy takut ini sbg hutang dan besaran rupiahnya juga sdh lupa, dan bagaimana juga seandainya dulu kita pinjam barang tp lupa ngembalikan? Jazakumullah
JAWAB :
Syaikh Shalih Utsamin mengatakan ;
أما إذا كان الذنب بينك وبين الخلق، فإن كان مالاً فلابد أن تؤديه إلى صاحبه، ولا تقبل التوبة إلا بأدائه مثل أن تكون قد سرقت مالاً من شخص وتبت من هذا، فلابد أن توصل المسروق إلى المسروق منه.
أو جحدت حقاً لشخص؛ كأن يكون في ذمتك دين لإنسان وأنكرته، ثم تبت ، فلابد أن تذهب إلى صاحب الدين الذي أنكرته، وتقرَّ عنده وتعترف حتى يأخذ حقه. فإن كان قد مات، فإنك تعطيه ورثته، فإن لم تعرفهم، أو غاب عنك هذا الرجل ولم تعرف له مكاناً، فتصدق به عنه تخلصاً منه، والله- سبحانه وتعالى- يعلمه ويعطيه إياه.
“Adapun apabila dosa itu antara engkau dan sesama manusia yang lain, jika itu berkaitan dengan harta maka WAJIB engkau tunaikan kepada pemiliknya, dan TIDAK DI TERIMA TAUBAT melainkan dengan di tunaikannya hak orang lain yang telah engkau ambil, semisal engkau mencuri harta orang lain dan engkau ingin bertaubat maka wajib engkau mengembalikan harta yang telah engkau curi kepada pemiliknya.
Atau contoh yang lain, emgkau mengingkari hak orang lain, semisal engkau sebenarnya memiliki tanggungan hutang kepada orang lain namun engkau mengingkarinya, kemudian engkau bertaubat, maka engkau harus pergi kepada orang yang telah memberimu pinjaman hutang tadi yang telah engkau ingkari, dan engkau mengakui kesalahan yang telah engkau ingkari, hingga ia kemudian mengambil kembali haknya. JIKA DIA TELAH MENINGGAL DUNIA MAKA ENGKAU BERIKAN KEPADA AHLI WARISNYA, jika engkau tidak mengenal mereka, atau tidak mengetahui keberadaan mereka saat ini maka ENGKAU SEDEKAHKAN DENGAN NIATAN UNTUK ORANG YANG TELAH ENGKAU AMBIL HAKNYA TADI. Sesungguhny Alloh Maha Mengetahui hal tersebut, dan akan memberikan ganjaranya pada orang tersebut.” (Syarhu Riyadhis Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin jilid 1 halaman 89)
Dari uraian Syaikh Utsaimin di atas kita tahu bahwa cara bertaubat dari dosa semacam itu (hutang pada teman atau jajan tidak bayar), maka selama kita masih bisa menemuinya kita temui dan kita berikan haknya yang telah kita ambil, jika ia telah meninggal maka kita berikan kepada ahli warisnya, dan jika ahli warisnya kita tidak mengenalnya dan tidak tahu keberadaanya maka KITA SEDEKAHKAN ATAS NAMA ORANG TERSEBUT. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui.
Bagaimana jika kita dulu pernah meminjam barang tapi lupa mengembalikan,..?
Jika memang saat ini kita ingat maka segera di kembalikan jika mampu, dan jika memang kita sama sekali tidak ingat maka berlaku sabda nabi :
إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان ، وما استكرهوا عليه . حديث حسن رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما
“Sesungguhnya Alloh memaafkan kesalahan yang tanpa di sengaja, lupa, atau juga karena keadaan di paksa” (HR Ibnu Majah dan Baihaqi, hadits hasan)
Harta haram bisa mendatangkan malapetaka bagi kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita tidak sadar dengan harta yang kita dapatkan, apakah diperoleh dengan cara yang halal atau bukan. Harta haram bukan hanya karena bendanya yang haram, melainkan cara mendapatkannya pun bisa menjadi haram.
Jika Anda mengambil harta atau hak milik saudara tanpa izin darinya alias dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, maka harta dan hak itupun haram untuk anda gunakan. Misalnya dari harta haram jenis ini ialah harta hasil riba, atau harta hasil curian, penipuan, dan yang serupa.
Dan untuk melepaskan diri dari dosa harta haram ini, Anda memiliki dua pilihan solusi:
Solusi Pertama: Mengembalikan kepada pemiliknya
Simaklah firman Allah Ta’ala tentang solusi melepaskan diri dari riba yang terlanjur anda sepakati dengan saudara anda:
“Riba jahiliyyah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapuskan ialah riba kami (kabilah kami), yaitu riba Abbas bin Abdul Mutthalib, sesungguhnya ribanya dihapuskan semua.” (Riwayat Imam Muslim)
Dan pada harta saudara anda yang anda ambil tanpa seizinnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah salah seorang darimu mengambil tongkat saudaranya, -pada riwayat lain: barang saudaranya- baik karena bermain-main atau sungguh-sungguh. Dan barang siapa yang terlanjur mengambil tongkat saudaranya, hendaknya ia segera mengembalikan tongkat itu kepadanya.” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani)
Bila barang yang anda ambil terlanjur rusak atau berubah wujud, sedangkan tidak didapatkan gantinya, maka anda dapat menebus harganya.
Solusi Kedua: Meminta maaf kepada pemiliknya
Bila solusi pertama karena suatu hal tidak dapat anda lakukan , maka anda memiliki solusi kedua, yaitu meminta maaf kepada pemiliknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang pernah melakukan kezhaliman terhadap saudaranya, hendaknya segera ia meminta saudaranya agar memaafkannya sekarang juga, karena kelak (di hari kiamat) tidak ada lagi uang dinar atau dirham (harta benda), dan sebelum sebagian dari pahala kebaikannya diambil guna menebus apa yang pernah ia lakukan terhadap saudaranya. Dan bila ia telah tidak lagi memiliki pahala kebaikan, maka akan diambilkan dari dosa-dosa saudaranya lalu dicampakkan kepadanya.” (Riwayat Bukhari)
Berikut adalah doa agar kita selalu dijauhkan dari harta haram:
“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.”
Pertanyaan : Assalamu’alaikum Pak Ustaz, Bismillahirrohmaanirrohiim. Saya banyak melakukan dosa selama saya dua tahun bekerja di kantor saya, terutama beberapa bulan terakhir. Dosa yang saya perbuat adalah tidak jujur kepada orang-orang yang saya sayangi, yang saya kagumi dan saya cintai di sekeliling saya. Dosa yang lain adalah saya mengambil hak orang lain, mengambil milik orang lain, semuanya yang saya ambil adalah untuk kepentingan duniawi semata.
Astaghfirullah, apa yang saya lakukan ini tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Saya tergelincir oleh apa yang saya lakukan akhirnya saya di-PHK.
Astaghfirullah, padahal dari upah yang saya dapatkan dari tempat saya bekerja cukup untuk kami sekeluarga, namun nafsu saya terus mendorong hal haram ini. Sejak Oktober 2014 saya menganggur sampai saya ketemukan website ini. Bismillah saya mohon kepada Allah supaya diampuni dosa saya yang menyebabkan saya menjadi tidak punya pekerjaan dan penghasilan, saya mohon kepada Allah supaya apa yang saya ambil dan bukan hak saya itu dibersihkan dari apa yang ada di rumah saya, apa yang kami makan dan apa yang kami gunakan. Saya mulai bersedekah dari sebagian apa yang kami punya, setiap hari saya keluar rumah untuk ke masjid berusaha untuk melakukan salat berjamaah, membaca Quran dan beristighfar. Mengirimkan lamaran ke banyak tempat namun belum ada yang berhasil.
Mohon bantuan bimbingan dari Pak Ustadz, apa yang harus saya lalukan untuk mendapatkan ridho Allah atas permohonan ampun saya dan ridho atas hajat saya. Wassalamualaikum,
Jawaban :
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Bismillahirrahmanirrahim, Anda patut bersyukur bahwa Anda masih diberi kesadaran atas kesalahan yang Anda lakukan. Itu pertanda Anda masih berada di jalan yang benar, pertanda bahwa Allah masih sayang kepada Anda.
Anda “hanya” tergelincir, dan insya Allah pasti bisa bangkit lagi. Coba bayangkan andai saja Anda tidak sadar dan terus melakukan dosa, berapa banyak sudah dosa yang menumpuk! Orang yang baik itu bukan orang yang tidak bersalah atau tidak berdosa sama sekali (sebab, setiap manusia pasti bersalah dan berdosa), tetapi orang yang segera menyadari kesalahannya lalu bertobat.
Namun demikian, dosa yang Anda lakukan itu tergolong dosa yang berat. Tidak jujur, misalnya. Tidak jujur itu identik dengan berbohong. Sementara, berbohong itu sejatinya tidak boleh ada dalam diri seorang mukmin.
Suatu waktu Nabi saw. pernah ditanya, “Wahai Rasulullah! Apakah (mungkinkah) seorang mukmin itu memiliki sifat penakut?” Rasulullah menjawab, “Mungkin.” Beliau ditanya lagi, “Mungkinkah seorang mukmin itu bakhil?” “Mungkin,” jawab Rasulullah saw. Ketiga kalinya beliau ditanya, “Mungkinkah seorang mukmin itu berbohong?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak.” (Diriwayatkan oleh Al-Mundziri dalam Bab “Anjuran Berbuat Jujur dan Larangan Berbuat Bohong” dalam bukunya Al-Targhîb wa al-Tarhîb). Terlihat di situ bahwa berbohong (tidak jujur) adalah sesuatu yang semestinya tidak ada sama sekali pada diri seorang mukmin.
Juga dosa mengambil hak orang lain, ini termasuk dosa yang tidak ringan. Terkait dengan hak orang lain ini, selain kita harus memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, kita juga harus mengembalikan hak mereka yang telah kita ambil secara tidak benar itu. Ini yang berat. Sebelum mati, urusan antarsesama manusia itu harus sudah selesai. Kalau tidak, pertanggungjawabannya di akhirat akan sangat berat dan sulit.
Kesyukuran yang kedua, dengan menyadari kesalahan lalu bertobat, Anda berpeluang mendapat ampunan Allah jika tobat itu Anda lakukan dengan penuh penyesalan, penuh kesadaran, takut akan siksa Allah, dan penuh harap akan rahmat kasih sayang-Nya.
Dan, orang yang bertobat/menyesali dosanya itu bagaikan orang yang tidak berbuat dosa (al-tâ’ibu min al-dzanbi kaman lâ dzanba lahu). Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja selama matahari masih terbit dari timur, selama belum datang sekaratulmaut. Tangan Allah juga selalu terbuka pada siang hari untuk menerima tobatnya orang-orang yang berdosa pada malam hari, dan selalu terbuka juga pada malam hari untuk menerima tobatnya orang-orang yang berdosa pada siang hari.
Apa yang Anda lakukan dengan banyak beristigfar dan bersedekah, itu insya Allah sudah benar. Tetapi dapat saya tambahkan di sini, jika memungkinkan kembalikanlah hak orang lain yang Anda ambil secara tidak benar itu kepada pemiliknya, atau minta kepada mereka untuk merelakannya agar harta itu menjadi halal buat Anda. Jika tidak mungkin, perbanyaklah sedekah dan niatkan pahala sedekah itu untuk mereka yang telah Anda zalimi.
Saya ikut berdoa semoga Allah swt. terus membimbing kita semua ke jalan yang diridai-Nya, dan memberi kemudahan hidup dalam rangka berbakti dan beribadah kepada-Nya. Amin.
Hati-Hati Bisa Jadi Taubat Tidak Diterima, Karena Sering Mengambil Hak Orang Lain. Menahan hak orang lain hingga tidak mengambil hak atas orang lain itu merupakan sebuah kejahatan. Dalam islam perbuatan tersebut sangat berdosa dan bisa menjadi penyebab susah diterimanya taubat oleh Allah SWT. Semua perbuatan haram atau maksiat dan yang terbesarnya adalah syirik diterima taubatnya, seperti firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan dan mengampuni dosa selainnya bagi orang yang ia kehendaki (ketika mereka mati dan masih membawanya),” (QS. An-Nisa : 48 dan 116).
Kemudian Allah berfirman dalam ayat taubat “Katakan (wahai Muhammad para hamb yang melampaui batas terhadap dirinya, janganlah kalian berputus asa dari rahmat (ampunan) Allah, sungguh! Allah mengampuni semua dosa,” (QS. Az-Zumar:53).
Dalam hadist Qudsi Allah berkata “Wahai para hamba-Ku kalian berbuat kesalahan dimalam dan siang hari dan aku mengampuni seluruh jenis dosa maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti akan Ku ampuni kalian!” (HR. Muslim no. 2577).
Akan tetapi apabil ada perbuatan haram yang berkaitan dengan hak orang lain, maka taubat tidak sempurna kecuali setelah memberikan hak kepada pemiliknya.
Jadi barang siapa berlaku zalim pada seseorang terkait jiwa, harta, atau kehormatan kemudian ia bertaubat kepada Allah, maka ia harus memberikan hak kepada orang tersebut atau meminta kerelaan atau memberi ganti.
Atau dia memohon ampunan kepada Allah SWT apabila hak itu tidak berbentuk harta, ia meminta ampun kepada Allah maka Allah pun akan memberi pahala kepadanya atas taubatnya, apabila ia benar-benar jujur niatnya.
Pernah Mengambil Hak Orang Lain, Apakah Cukup dengan Taubat? (Ustadz Syafiq Riza Basalamah), Mengambil hak orang lain merupakan perbuatan dosa yang sangat dilarang oleh Allah SWT.
Lalu, bagaimana cara menebus kesalahan terhadap orang yang haknya pernah diambil.
Apakah menebus kesalahan tersebut cukup dengan taubat kepada Allah SWT.
Syarat taubat jika berkaitan dengan Allah SWT ada tiga yaitu menyesali perbuatan, meninggalkan, dan bertekad untuk tidak mengulangi," katanya.
"Tapi jika berkaitan dengan makhluk Allah SWT dimana kita pernah menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, ghibah dan mencaci orang lain," sambungnya.
"Maka kita harus minta maaf kepada orang tersebut. Jika hak itu kita ambil, maka balikkan pada orang tersebut," lanjutnya.
"Sebelum nanti suatu hari sudah tidak ada harta lagi. Dan tidak cukup kita hanya bertaubat pada Allah SWT saja," ujarnya.
Kemudian bagaimana jika menghadapi kondisi tidak mengetahui keberadaan orang tersebut.
Hal ini sering terjadi, seperti saat masih, SD, SLTP, SLTA, ataupun pada masih Kuliah, ataupun maish sedang dalam saat bekerja di Instansi tertentu kemudian lalu berpisah. Sehingga tidak mengetahui keberadaan orang tersebut.
Ustadz Syafiq Riza Basalamah melanjutkan, maka caranya adalah jika uang yang diambil, maka berusahalah sedekah uang itu untuk orang tersebut. Hal ini dilakukan jika tidak mengetahui keberadaan orang tersebut.
"Tetapi jika itu kehormatan, pernah menghina, mencacinya dan tidak bertemu lagi dengan orang itu. Maka doakan orang itu, doakan dengan kebaikan-kebaikan orang tersebut," lanjutnya.
"Semoga itu menjadi penutup kesalahan kelak, ketika ia menuntut di hari kiamat nanti," tandasnya
Seperti kita ketahui bersama bahwa dosa itu terbagi menjadi dua yaitu dosa besar dan dosa kecil. Namun perlu diketahui bahwa dosa kecil sebenarnya bisa menjadi besar, jika dilakukan karena sebab-sebab berikut. Kita perlu mengetahui hal ini agar kita tidak menganggap remeh suatu dosa.
Pertama: Dosa kecil tersebut sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus.
Terdapat sebuah hadits yang maknanya shahih (benar), namun didhoifkan (dilemahkan) oleh para ulama pakar hadits,
“Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.”
Kalau dosa besar sudah ditaubati, maka janganlah diikuti dengan dosa lainnya yang semisal, begitu pula janganlah diteruskan dengan dosa-dosa kecil.
Kedua: Dosa bisa dianggap besar di sisi Allah jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut. Oleh karenanya, jika seorang hamba menganggap besar suatu dosa, maka dosa itu akan kecil di sisi Allah. Sedangkan jika seorang hamba menggaggap kecil (remeh) suatu dosa, maka dosa itu akan dianggap besar di sisi Allah. Dari sinilah jika seseorang mengganggap besar suatu dosa, maka ia akan segera lari dari dosa dan betul-betul membencinya.
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”[2]
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”[3]
Bilal bin Sa’ad rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah engkau melihat siapa yang engkau durhakai.”
Ketiga: Memamerkan suatu dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”
Keempat: Dosa tersebut dilakukan oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi yang lain.
“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.”
Sehingga bagi seorang alim yang menjadi panutan lainnya, hendaknya ia:
meninggalkan dosa dan
menyembunyikan dosa jika ia terlanjur melakukannya.
Sebagaimana dosa seorang alim bisa berlipat-lipat jika ada yang mengikuti melakukan dosa tersebut, maka begitu pula dengan kebaikan yang ia lakukan. Jika kebaikan tersebut diikuti orang lain, maka pahalamu akan semakin berlipat untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.”
Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan dan menghindarkan kita dari setiap dosa. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan jin dan manusia dengan satu tujuan utama yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya, untuk mentauhidkan-Nya.
”Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (At-Taghabun : 2)
Kelompok manusia yang mentaati Allah dan mengikuti rasul-Nya.
Hawa nafsu kelompok ini tunduk dan patuh kepada ajaran Rasulullah Muhammad SAW mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada seorang pun kecuali Allah.
Mereka ini diberi kabar gembira dengan surga yang luasnya seluar langit dan bumi yang disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.
Kelompok manusia yang membangkang terhadap Allah.
Mereka berbuat melampaui batas, bersikap takabur dan memperturutkan hawa nafsunya. Mereka ini berada dalam kegelapan hidup dan berkubang dalam lumpur maksiat kepada Allah.
Mereka ini lah yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan selain Allah.
”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 45)
Macam-Macam Dosa
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Sebagai manusia kita diberi kebebasan penuh oleh Allah untuk mengikuti jalan hidup orang-orang mukmin atau mengikuti jalan hidup orang-orang kafir. Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk jalan bagi orang orang mukmin berupa Al-Quran.
Allah kemudian memilih dan menunjuk Rasulullah Muhammad SAW untuk menjelaskan al-Quran dan mempraktekkannya dalam kehidupan agar menjadi contoh yang hidup tentang petunjuk tersebut. Setiap penyimpangan dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah.
Setiap kemaksiatan akan membuahkan dosa bagi pelakunya. Dosa merupakan agen pengantar menuju kekafiran. Namun dosa itu bertingkat-tingkat. Ada dosa kecil dan ada dosa besar. Keduanya bila terus menerus dilakukan dikhawatirkan bisa mengantarkan seseorang terjerumus kepada kekafiran. Na’udzubillah min dzalik.
Perlu dijelaskan sekilas disini tentang maksud dosa besar dan dosa kecil. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Dosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam oleh Allah dengan laknat, murka dan neraka. Dosa ini tidak bisa terhapus kecuali dengan taubat yang tulus dan sungguh-sungguh.
Siapa saja yang meninggal dengan membawa dosa besar tanpa sempat bertaubatmaka urusannya diserahkan kepada Allah. Bila Allah menghendaki Allah akan menyiksanya. Namun bila Allah menghendaki Allah akan mengampuninya.
Sedangkan yang dimaksud dengan dosa kecil adalah dosa lainnya yang tidak ada ancaman seperti dalam dosa besar bagi pelakunya.
Amal shalih bisa menghapus dosa-dosa kecil. Namun demikian tidak diperbolehkan untuk menganggap remeh dosa kecil. Karena dosa kecil yang terus menerus dilakukan akan menjadi besar juga jumlahnya sehingga bisa membinasakan pelakunya.
Adakah Perbedaan Antara Dosa Dan Maksiat
Kita sering mendengar istilah dosa dan maksiat. Apakah dua istilah ini ada perbedaan makna ataukah tidak?
Menurut Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz rahimahullah istilah as-Sayyiah (keburukan), al-Khathiah (kesalahan) al-itsmu wadz dzanbu (dosa) adalah hal-hal yang berdekatan maknanya yaitu al-ma’shiyah (maksiat). Demikian pula sebaliknya. Semuanya sinonim dan memiliki makna yang berdekatan.
Syaikh Bin Baz menegaskan bahwa yang wajib adalah bersikap waspada. Jadi, misalnya, ghibah itu disebut dengan dzanbun (dosa) . Namun disebut juga dengan maksiat, juga disebut dengan Itsmun (dosa) dan disebut pula dengan khathiah (kesalahan).
Kesimpulannya, seorang mukmin wajib untuk menjauhi apa yang dilarang oleh Allah baik disebut dengan dosa, maksiat atau kesalahan. Harus waspada terhadap maksiat, apa saja yang diharamkan oleh Allah.
Akibat Dosa Terhadap Kehidupan Manusia
Dosa dan maksiat pasti menimbulkan madharat atau kerugian. Madharat dosa dan maksiat bagi hati seperti madharat yang ditimbulkan oleh racun bagi tubuh. Madharat tersebut memiliki tingkatan yang beragam.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda,” Manusia tidak akan binasa hingga diri mereka banyak berbuat dosa.” (Hadits riwayat Ahmad (IV/260) dan Abu Dawud (no.4347) dengan sanad yang shahih.)
Dosa dan maksiat menghalangi seseorang dari mendapatkan ilmu yang bermanfaat
Ilmu adalah cahaya yang Allah masukan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.
Aku mengadu pada Waki’ (guru Imam Syafi’i) tentang buruknya hafalanku. Dia mengarahkan aku agar meninggalkan kemaksiatan.
n dia memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Dosa menjadi penghalang dari mendapatkan rezeki
Takwa kepada Allah Ta’ala adalah perkara yang mendatangkan rizki, maka meninggalkan takwa akan menyebabkan kefakiran.
Rasulullah ﷺbersabda:
إِنَّ الرجل ليُحْرَمُ الرِّزقَ بالذنبِ يصيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang itu benar-benar terhalangi dari rizki karena dosa yang dilakukannya.”
[Hadist riwayat Imam Ahmad (22386) Ibnu Hibban (572). Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah.]
Dosa dan maksiat menjadikan berbagai urusan menjadi sulit bagi pelakunya.
Bila ketakwaan kepada Allah itu menjadikan semua urusan dimudahkan oleh Allah, maka orang-orang yang suka berbuat dosa dan maksiat akan dipersulit urusan-urusannya. Hampir setiap perkara yang dia urusi seolah tertutup jalannya.
Kebanyakan orang tidak menyadari ketika dia mendapati pintu-pintu kebaikan dan berbagai maslahat tertutup, itu adalah akibat dari dosa dan maksiat yang dilakukannya.
Pelaku dosa mendapati kegelapan di hatinya secara hakiki.
Dia merasakankegelapan hatinya tersebut sebagaimana dia bisa merasakan kegelapan malam yang pekat saat larut malam.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,” Ketaatan adalah cahaya. Maksiat adalah kegelapan. Jika kegelapan menguat, maka kebingungan juga bertambah sehingga pelakunya terjatuh dalam berbagai bid’ah dan perkara yang membinasakan, sementara dia tidak menyadarinya.
Kegelapan maksiat akan menguat sampai terlihat di mata, lalu terus menguat hingga menyelimuti wajah, dan menjadi tanda hitam, hingga setiap orang mampu melihatnya.”
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan secara ringkas pengaruh dosa tersebut sebagai berikut:
إنَّ للحسنة ضياء في الوجه، ونوراً في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سواداً في الوجه، وظلمة في القلب، ووهناً في البدن، ونقصاً في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق
”Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar di wajah, cahaya hati, kelapangan dalam rizki, kekuatan pada tubuh, serta rasa cinta di hati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian di hati para makhluk.” (Al-Wabil- Ash-Shayyib hal. 43)
Dosa dan maksiat akan membuahkan dosa yang semisalnya.
Dosa dan maksiat akan melahirkan kemaksiatan yang semisalnya hingga seorang pelaku maksiat merasa berat untuk berhenti dari maksiat.
Sebagian ulama salaf berkata,
إن من عقوبة السيئة السيئة بعدها، وإن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها
”Sesungguhnya sebagian dari hukuman dari keburukan adalah keburukan berikutnya dan sesungguhnya termasuk (jaza) balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Al-Jawab AL-Kafi: 36)
Maksiat menyebabkan hati tidak menganggap maksiat sebagai sebuah keburukan.
Hati tidak lagi menganggap kemaksiatan sebagai perkara yang buruk karena maksiat tersebut telah menjadi kebiasaan. Sampai pada tingkatkan para pelaku maksiat justru berbangga diri dengan maksiat yang dia lakukan dan menceritakannya kepada orang yang tidak mengetahui bahwa ia melakukan maksiat.
Akibat logis dari kondisi batin yang sudah sedemikian rusak adalah hilangnya keinginan untuk bertaubat dari maksiat yang dia lakukan. Inilah yang biasa terjadi pada orang-orang yang suka bermaksiat secara terbuka dan menceritakan kemaksiatan yang dia lakukan kepada orang banyak.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata,”Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu berkata,” Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujaahirin (orang-orang yang melakukan mujaharah,pent ). Dan termasuk perbuatan mujaharah (terang-terangan berbuat dosa) adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut.
Dia justru berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupinya, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap apa yang Allah telah tutup darinya.” (Hadits muttafaq ‘alaihi. Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksiat akan membuat pelakunya menjadi orang yang hina.
Di antara dampak maksiat adalah mewariskan kehinaan, karena kemuliaan sejati hanyalah terdapat dalam ketaatan kepada Allah.
”Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (Al-Fathir: 10)
Barangsiapa mencari kemuliaan di dunia dan di akhirat, maka hendaknya dia mencarinya dari Allah, dan itu tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepadaNya, karena seluruh kemuliaan adalah milik Allah. Barangsiapa merasa mulia dengan Yang Maha Pencipta, maka Allah akan memuliakannya. (Tafsir Muyassar)
Sebagian ulama salaf berdoa,
اللهم أعزني بطاعتك، ولا تذلني بمعصيتك
“Ya Allah ! muliakanlah aku dengan ketaatan kepada-Mu dan janganlah Engkau hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu.” (Al-Jawab Al-Kafi: 38)
Maksiat dan dosa bila sudah banyak akan menutup hati pelakunya.
Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu dari Rasulullah Muhammad SAW bersabda,
Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat dosa), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.
Itulah yang dimaksud dengan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’. (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata,”Hadits Shahih.” Dan Ibnu Majah. Al-Albani menyatakan sebagai hadits hasan di dalam Shahih Ibni Majah no. 3422)
Ini hanyalah sebagian kecil dari akibat buruk dosa dan maksiat. Masih banyak yang lainnya sebagaimana diterangkan oleh para ulama.
Obat Dosa dan Maksiat
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,
Dosa mirip dengan penyakit fisik yang mana orang-orang harus berusaha keras agar terlindungi darinya, menjauh dari sebab-sebabnya dan jangan sampai menyerah kepadanya.
Sama seperti penyakit jasmani, yang jika tidak diobati akan melemahkan tubuh dan menghancurkannya. Penyakit berupa dosa, jika dibiarkan tanpa pengobatan, akan merusak ruh, dan keselamatan ruh melebihi keselamatan tubuh karena keselamatan ruh berdampak pada keselamatan di Hari Kiamat.
Jadi dosa adalah penyakit, dan obatnya adalah: taubat dan istighfar. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,
وبالْجُملة فدَواء الذُّنوب الاستغفار…
”Secara garis besar, obat dosa adalah istighfar … ”
Qatadah berkata,
إنَّ هذا القرآن يدلُّكم على دائكم ودوائكم؛ فأمَّا داؤكم فالذُّنوب، وأمَّا دواؤكم فالاستغفار
”Al-Qur’an ini menunjukkan Anda kepada penyakit kalian dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Sedangkan untuk obat kalian adalah istighfar. ”
Sebagian ulama berkata,” Sandaran orang-orang berdosa hanyalah tangisan dan istighfar. Siapa yang dosa-dosanya telah membuatnya gundah maka perbanyaklah istighfar. Ribah Al Qaisiy berkata,
لي نيِّف وأربعون ذنبًا قد استغفرتُ الله لكلِّ ذنب مائة ألف مرة
Aku punya dosa lebih dari 40 dosa. Aku telah beristighfar kepada Allah untuk setiap dosa tersebut sebanyak 100 ribu kali.”i
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.
Jangan Meremehkan Dosa Walaupun Kecil
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
إيَّاكُم ومحقَّراتِ الذُّنوبِ فإنَّهنَّ يجتمِعنَ على الرَّجلِ حتَّى يُهلِكنَهُ
”Hendaklah kalian menjauhi dosa-dosa yang dianggap sepele (kecil). Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu (bisa) berakumulasi (menumpuk) pada diri seseorang sehingga bisa membinasakannya.” (Hadits riwayat Ahmad (5/331) dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir (5872), dengan sanad shahih.)
Para ulama berkata,”Hal itu karena dosa-dosa kecil bila telah berakumulasi (menumpuk dalam jumlah banyak) dan belum dibersihkan dengan taubat dan istighfar niscaya bisa membinasakan pelaku dosa-dosa tersebut. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
Al Imam Abdullah ibnul Mubarok, seorang tokoh ulama tabiut tabi’in pernah berkata dalam bentuk syair:
رأيتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ القُلُوبَ *** وقد يورثُ الذّل إدمانُهَــا
Dan terus menerus melakukan dosa akan mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa itu adalah kehidupan hati
Dan tidak mau melakukan dosa itu lebih baik buat dirimu
Bila demikian halnya, maka jangan sampai kita meremehkan dosa walaupun dosa kecil, karena hal itu bisa membinasakan diri kita sendiri. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
إنكم لتعملون أعمالاً هي أدق في أعينكم من الشعر كنا لنعدها على عهد رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ من الموبقات “(رواه البخاري).
“ Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan (dosa) yang dalam pandangan kalian itu lebih tipis daripada rambut, padahal dahulu kami menghitungnya di masa Rasulullah Muhammad SAW termasuk dalam perkara-perkara yang membinasakan (dosa-dosa besar).” (Hadits riwayat Al-Bukhari)
Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata,
لا تنظر إلى صغر الخطيئة ولكن إلى عظمة من عصيت
“Jangan kamu melihat kepada kecilnya kesalahan (dosa). Namun lihatlah keagungan dari yang engkau maksiati.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita semuanya dan seluruh kaum muslimin hidayah dan taufik-Nya serta berkenan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Saat bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang,….tanpa disadari kata-kata mengalir dari mulut kita seolah keluar tanpa beban. Tak jarang, bersamaan dengan keluarnya kata-kata, mengalir pula dosa, …. mulai dari menggunjingkan tetangga, membanggakan dan memamerkan diri, berbohong, dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Semudah itu manusia melakukan dosa… Bahkan, saking terbiasanya sangat banyak dosa-dosa yang sudah tidak dirasa lagi sebagai perbuatan salah yang berat konsekuensinya.Orang kecenderungan yang tidak sadar akan perbuatan dosa karena kecilnya…Boleh jadi, jika kita lihat fenomena yang ada,…dosa besar sekalipun tidak sedikit dianggap biasa dan tidak lagi dirasa sebagai dosa karena terlalu seringnya dilakukan. Tentu saja sikap seperti itu jauh lebih berbahaya dari sekadar mengabaikan dosa yang dianggap kecil. Dengan demikian, secara prinsip tidak ada bedanya antara dosa kecil dan dosa besar karena keduanya memiliki potensi ancaman datangnya azab Allah Swt .Selain keduanya juga memiliki peluang yang sama untuk diampuni Allah Swt. Bisa dikatakan bahwa… besar dan kecilnya suatu dosa tidak diukur dengan seberapa besar ancaman siksa yang akan diterima… namun diukur dari seberapa besar kesadaran orang terhadap dosa yang dilakukannya…Boleh jadi dosa itu kecil dan remeh, namun jika dilakukan dengan terus menerus dan tidak disertai istighfar,… ia akan menjelma menjadi dosa besar. Pun sebaliknya, boleh jadi dosanya besar, namun karena kesadaran tinggi akan akibat yang ditimbulkan,… mendorongnya untuk bertobat dan tidak mengulanginya lagi, maka dosa tersebut sebetulnya menjadi kecil bahkan terhapus di hadapan Allah Swt. Relativitas kecilnya dosa menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada yang besar.. jika disertai tobat…dan tidak ada yang kecil… jika dilakukan terus menerus.
”Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (At-Taghabun : 2)
Kelompok manusia yang mentaati Allah dan mengikuti rasul-Nya.
Hawa nafsu kelompok ini tunduk dan patuh kepada ajaran Rasulullah Muhammad SAW mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada seorang pun kecuali Allah.
Mereka ini diberi kabar gembira dengan surga yang luasnya seluar langit dan bumi yang disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.
Kelompok manusia yang membangkang terhadap Allah.
Mereka berbuat melampaui batas, bersikap takabur dan memperturutkan hawa nafsunya. Mereka ini berada dalam kegelapan hidup dan berkubang dalam lumpur maksiat kepada Allah.
Mereka ini lah yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan selain Allah.
”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 45)
Macam-Macam Dosa
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Sebagai manusia kita diberi kebebasan penuh oleh Allah untuk mengikuti jalan hidup orang-orang mukmin atau mengikuti jalan hidup orang-orang kafir. Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk jalan bagi orang orang mukmin berupa Al-Quran.
Allah kemudian memilih dan menunjuk Rasulullah Muhammad SAW untuk menjelaskan al-Quran dan mempraktekkannya dalam kehidupan agar menjadi contoh yang hidup tentang petunjuk tersebut. Setiap penyimpangan dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah.
Setiap kemaksiatan akan membuahkan dosa bagi pelakunya. Dosa merupakan agen pengantar menuju kekafiran. Namun dosa itu bertingkat-tingkat. Ada dosa kecil dan ada dosa besar. Keduanya bila terus menerus dilakukan dikhawatirkan bisa mengantarkan seseorang terjerumus kepada kekafiran. Na’udzubillah min dzalik.
Perlu dijelaskan sekilas disini tentang maksud dosa besar dan dosa kecil. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Dosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam oleh Allah dengan laknat, murka dan neraka. Dosa ini tidak bisa terhapus kecuali dengan taubat yang tulus dan sungguh-sungguh.
Siapa saja yang meninggal dengan membawa dosa besar tanpa sempat bertaubatmaka urusannya diserahkan kepada Allah. Bila Allah menghendaki Allah akan menyiksanya. Namun bila Allah menghendaki Allah akan mengampuninya.
Sedangkan yang dimaksud dengan dosa kecil adalah dosa lainnya yang tidak ada ancaman seperti dalam dosa besar bagi pelakunya.
Amal shalih bisa menghapus dosa-dosa kecil. Namun demikian tidak diperbolehkan untuk menganggap remeh dosa kecil. Karena dosa kecil yang terus menerus dilakukan akan menjadi besar juga jumlahnya sehingga bisa membinasakan pelakunya.
Adakah Perbedaan Antara Dosa Dan Maksiat
Kita sering mendengar istilah dosa dan maksiat. Apakah dua istilah ini ada perbedaan makna ataukah tidak?
Menurut Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz rahimahullah istilah as-Sayyiah (keburukan), al-Khathiah (kesalahan) al-itsmu wadz dzanbu (dosa) adalah hal-hal yang berdekatan maknanya yaitu al-ma’shiyah (maksiat). Demikian pula sebaliknya. Semuanya sinonim dan memiliki makna yang berdekatan.
Syaikh Bin Baz menegaskan bahwa yang wajib adalah bersikap waspada. Jadi, misalnya, ghibah itu disebut dengan dzanbun (dosa) . Namun disebut juga dengan maksiat, juga disebut dengan Itsmun (dosa) dan disebut pula dengan khathiah (kesalahan).
Kesimpulannya, seorang mukmin wajib untuk menjauhi apa yang dilarang oleh Allah baik disebut dengan dosa, maksiat atau kesalahan. Harus waspada terhadap maksiat, apa saja yang diharamkan oleh Allah.
Akibat Dosa Terhadap Kehidupan Manusia
Dosa dan maksiat pasti menimbulkan madharat atau kerugian. Madharat dosa dan maksiat bagi hati seperti madharat yang ditimbulkan oleh racun bagi tubuh. Madharat tersebut memiliki tingkatan yang beragam.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda,” Manusia tidak akan binasa hingga diri mereka banyak berbuat dosa.” (Hadits riwayat Ahmad (IV/260) dan Abu Dawud (no.4347) dengan sanad yang shahih.)
Dosa dan maksiat menghalangi seseorang dari mendapatkan ilmu yang bermanfaat
Ilmu adalah cahaya yang Allah masukan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.
Aku mengadu pada Waki’ (guru Imam Syafi’i) tentang buruknya hafalanku. Dia mengarahkan aku agar meninggalkan kemaksiatan.
n dia memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Dosa menjadi penghalang dari mendapatkan rezeki
Takwa kepada Allah Ta’ala adalah perkara yang mendatangkan rizki, maka meninggalkan takwa akan menyebabkan kefakiran.
Rasulullah ﷺbersabda:
إِنَّ الرجل ليُحْرَمُ الرِّزقَ بالذنبِ يصيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang itu benar-benar terhalangi dari rizki karena dosa yang dilakukannya.”
[Hadist riwayat Imam Ahmad (22386) Ibnu Hibban (572). Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah.]
Dosa dan maksiat menjadikan berbagai urusan menjadi sulit bagi pelakunya.
Bila ketakwaan kepada Allah itu menjadikan semua urusan dimudahkan oleh Allah, maka orang-orang yang suka berbuat dosa dan maksiat akan dipersulit urusan-urusannya. Hampir setiap perkara yang dia urusi seolah tertutup jalannya.
Kebanyakan orang tidak menyadari ketika dia mendapati pintu-pintu kebaikan dan berbagai maslahat tertutup, itu adalah akibat dari dosa dan maksiat yang dilakukannya.
Pelaku dosa mendapati kegelapan di hatinya secara hakiki.
Dia merasakankegelapan hatinya tersebut sebagaimana dia bisa merasakan kegelapan malam yang pekat saat larut malam.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,” Ketaatan adalah cahaya. Maksiat adalah kegelapan. Jika kegelapan menguat, maka kebingungan juga bertambah sehingga pelakunya terjatuh dalam berbagai bid’ah dan perkara yang membinasakan, sementara dia tidak menyadarinya.
Kegelapan maksiat akan menguat sampai terlihat di mata, lalu terus menguat hingga menyelimuti wajah, dan menjadi tanda hitam, hingga setiap orang mampu melihatnya.”
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan secara ringkas pengaruh dosa tersebut sebagai berikut:
إنَّ للحسنة ضياء في الوجه، ونوراً في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سواداً في الوجه، وظلمة في القلب، ووهناً في البدن، ونقصاً في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق
”Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar di wajah, cahaya hati, kelapangan dalam rizki, kekuatan pada tubuh, serta rasa cinta di hati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian di hati para makhluk.” (Al-Wabil- Ash-Shayyib hal. 43)
Dosa dan maksiat akan membuahkan dosa yang semisalnya.
Dosa dan maksiat akan melahirkan kemaksiatan yang semisalnya hingga seorang pelaku maksiat merasa berat untuk berhenti dari maksiat.
Sebagian ulama salaf berkata,
إن من عقوبة السيئة السيئة بعدها، وإن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها
”Sesungguhnya sebagian dari hukuman dari keburukan adalah keburukan berikutnya dan sesungguhnya termasuk (jaza) balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Al-Jawab AL-Kafi: 36)
Maksiat menyebabkan hati tidak menganggap maksiat sebagai sebuah keburukan.
Hati tidak lagi menganggap kemaksiatan sebagai perkara yang buruk karena maksiat tersebut telah menjadi kebiasaan. Sampai pada tingkatkan para pelaku maksiat justru berbangga diri dengan maksiat yang dia lakukan dan menceritakannya kepada orang yang tidak mengetahui bahwa ia melakukan maksiat.
Akibat logis dari kondisi batin yang sudah sedemikian rusak adalah hilangnya keinginan untuk bertaubat dari maksiat yang dia lakukan. Inilah yang biasa terjadi pada orang-orang yang suka bermaksiat secara terbuka dan menceritakan kemaksiatan yang dia lakukan kepada orang banyak.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata,”Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu berkata,” Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujaahirin (orang-orang yang melakukan mujaharah,pent ). Dan termasuk perbuatan mujaharah (terang-terangan berbuat dosa) adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut.
Dia justru berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupinya, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap apa yang Allah telah tutup darinya.” (Hadits muttafaq ‘alaihi. Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksiat akan membuat pelakunya menjadi orang yang hina.
Di antara dampak maksiat adalah mewariskan kehinaan, karena kemuliaan sejati hanyalah terdapat dalam ketaatan kepada Allah.
”Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (Al-Fathir: 10)
Barangsiapa mencari kemuliaan di dunia dan di akhirat, maka hendaknya dia mencarinya dari Allah, dan itu tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepadaNya, karena seluruh kemuliaan adalah milik Allah. Barangsiapa merasa mulia dengan Yang Maha Pencipta, maka Allah akan memuliakannya. (Tafsir Muyassar)
Sebagian ulama salaf berdoa,
اللهم أعزني بطاعتك، ولا تذلني بمعصيتك
“Ya Allah ! muliakanlah aku dengan ketaatan kepada-Mu dan janganlah Engkau hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu.” (Al-Jawab Al-Kafi: 38)
Maksiat dan dosa bila sudah banyak akan menutup hati pelakunya.
Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu dari Rasulullah Muhammad SAW bersabda,
Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat dosa), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.
Itulah yang dimaksud dengan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’. (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata,”Hadits Shahih.” Dan Ibnu Majah. Al-Albani menyatakan sebagai hadits hasan di dalam Shahih Ibni Majah no. 3422)
Ini hanyalah sebagian kecil dari akibat buruk dosa dan maksiat. Masih banyak yang lainnya sebagaimana diterangkan oleh para ulama.
Obat Dosa dan Maksiat
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,
Dosa mirip dengan penyakit fisik yang mana orang-orang harus berusaha keras agar terlindungi darinya, menjauh dari sebab-sebabnya dan jangan sampai menyerah kepadanya.
Sama seperti penyakit jasmani, yang jika tidak diobati akan melemahkan tubuh dan menghancurkannya. Penyakit berupa dosa, jika dibiarkan tanpa pengobatan, akan merusak ruh, dan keselamatan ruh melebihi keselamatan tubuh karena keselamatan ruh berdampak pada keselamatan di Hari Kiamat.
Jadi dosa adalah penyakit, dan obatnya adalah: taubat dan istighfar. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,
وبالْجُملة فدَواء الذُّنوب الاستغفار…
”Secara garis besar, obat dosa adalah istighfar … ”
Qatadah berkata,
إنَّ هذا القرآن يدلُّكم على دائكم ودوائكم؛ فأمَّا داؤكم فالذُّنوب، وأمَّا دواؤكم فالاستغفار
”Al-Qur’an ini menunjukkan Anda kepada penyakit kalian dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Sedangkan untuk obat kalian adalah istighfar. ”
Sebagian ulama berkata,” Sandaran orang-orang berdosa hanyalah tangisan dan istighfar. Siapa yang dosa-dosanya telah membuatnya gundah maka perbanyaklah istighfar. Ribah Al Qaisiy berkata,
لي نيِّف وأربعون ذنبًا قد استغفرتُ الله لكلِّ ذنب مائة ألف مرة
Aku punya dosa lebih dari 40 dosa. Aku telah beristighfar kepada Allah untuk setiap dosa tersebut sebanyak 100 ribu kali.”i
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.
Jangan Meremehkan Dosa Walaupun Kecil
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
إيَّاكُم ومحقَّراتِ الذُّنوبِ فإنَّهنَّ يجتمِعنَ على الرَّجلِ حتَّى يُهلِكنَهُ
”Hendaklah kalian menjauhi dosa-dosa yang dianggap sepele (kecil). Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu (bisa) berakumulasi (menumpuk) pada diri seseorang sehingga bisa membinasakannya.” (Hadits riwayat Ahmad (5/331) dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir (5872), dengan sanad shahih.)
Para ulama berkata,”Hal itu karena dosa-dosa kecil bila telah berakumulasi (menumpuk dalam jumlah banyak) dan belum dibersihkan dengan taubat dan istighfar niscaya bisa membinasakan pelaku dosa-dosa tersebut. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
Al Imam Abdullah ibnul Mubarok, seorang tokoh ulama tabiut tabi’in pernah berkata dalam bentuk syair:
رأيتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ القُلُوبَ *** وقد يورثُ الذّل إدمانُهَــا
Dan terus menerus melakukan dosa akan mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa itu adalah kehidupan hati
Dan tidak mau melakukan dosa itu lebih baik buat dirimu
Bila demikian halnya, maka jangan sampai kita meremehkan dosa walaupun dosa kecil, karena hal itu bisa membinasakan diri kita sendiri. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
إنكم لتعملون أعمالاً هي أدق في أعينكم من الشعر كنا لنعدها على عهد رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ من الموبقات “(رواه البخاري).
“ Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan (dosa) yang dalam pandangan kalian itu lebih tipis daripada rambut, padahal dahulu kami menghitungnya di masa Rasulullah Muhammad SAW termasuk dalam perkara-perkara yang membinasakan (dosa-dosa besar).” (Hadits riwayat Al-Bukhari)
Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata,
لا تنظر إلى صغر الخطيئة ولكن إلى عظمة من عصيت
“Jangan kamu melihat kepada kecilnya kesalahan (dosa). Namun lihatlah keagungan dari yang engkau maksiati.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita semuanya dan seluruh kaum muslimin hidayah dan taufik-Nya serta berkenan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Dibiarkan Melakukan Maksiat oleh Allah Swt (Bahaya Istidraj), Adakah yang lebih memilukan daripada dibiarkan dan tidak dipedulikan oleh sosok yang semestinya amat menyayangi kita? Jika ada diantara kita yang mengalami hal tersebut, maka segeralah mengingat Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dalam terminologi Islam, hal tersebut adalah Istidraj. Bahaya istidraj sangat nampak bagi orang-orang yang tidak lalai atau selalu mengingat segala nikmat Allah SWT.
Ibaratnya orangtua yang diam saja melihat anaknya ditodong moncong senjata tajam, atau orangtua yang membiarkan anaknya bermain di tengah-tengah binatang buas, bukankah ini menunjukkan orangtua tersebut sudah tidak menyayangi anaknya?
Nah, sebenarnya demikian juga kondisinya jika Allah membiarkan kita melakukan maksiat dan tidak menegur kita.
Jangan kira Allah tidak mendatangkan musibah karena sayang… sehingga Ia membiarkan kita melakukan apapun yang diinginkan, namun sebaliknya, jangan-jangan kita dibiarkan bermaksiat karena Allah memang sudah tidak lagi peduli pada diri kita!
Ketahuilah, bahwa Allah hanya melakukan pembiaran ini pada orang kafir dan munafik! Itu sebabnya orang-orang tersebut Allah biarkan bersenang-senang untuk sementara waktu:
(Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Mursalat: 46)
“Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus: 11)
“Biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’aam: 91)
“Dan janganlah sekali-kali orang kafir mengira bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka melainkan supaya bertambah tambah dosa mereka.” (QS. Ali Imran:178)
Dari beberapa ayat di atas, jelas terlihat bahwa Allah mengabaikan orang kafir bukan karena menyayangi mereka, namun sebaliknya, karena Allah tak lagi mau menunjukkan Jalan lurusNya pada mereka.
Ciri-ciri Allah membiarkan kita dalam kesesatan?
1. Rezeki dan nikmat Allah makin deras datang, padahal kita meninggalkan ibadah yang wajib maupun sunah
Berhati-hatilah jika kita tak pernah sedekah, tak lagi shalat lima waktu, malas berpuasa, namun nikmat Allah masih saja kita rasakan bertubi-tubi, ini bisa menjadi pertanda Allah tengah melakukan pembiaran terhadap diri kita
“Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendakNya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka (istidroj). Kemudian Rasulullah membaca firman Allah dalam surat Al An’am ayat 44 : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.”(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
2. Nikmat Allah tetap datang meskipun kita melakukan maksiat
Sering mengerjakan kemaksiatan dan dosa namun Allah tak pernah menimpakan ujian malahan tetap menurunkan kenikmatanNya? Ini juga salah satu ciri istidroj yakni bentuk penangguhan siksa dari Allah.
Ali Bin Abi Thalib r.a. berkata : “Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 121)
3. Semakin banyak nikmat malah semakin kikir, bahkan ia mengira kesuksesannya disebabkan karena sifat kikirnya tersebut
Semakin banyak harta malah makin takut bersedekah, enggan berzakat, ini juga ciri nyata dari pembiaran yang Allah lakukan terhadap hambaNya.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (harta) lalu dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 1-3)
4. Jarang mengalami sakit, padahal banyak menyia-nyiakan kesehatannya tidak untuk beribadah justru banyak melakukan keburukan dan kerusakan
Jika Allah menyayangi hambaNya, tiap kali melakukan kesalahan biasanya Allah tegur dengan penyakit dan kesempitan rezeki agar hambaNya tersebut kembali mengingatnya. Namun jika tidak, waspadalah barangkali Allah tengah memberi penangguhan dan melakukan pembiaran karena tak lagi peduli pada kesesatan kita. Na’udzubillah.
Imam Syafi’i mengatakan, “Setiap orang pasti pernah mengalami sakit suatu ketika dalam hidupnya, jika engkau tidak pernah sakit maka tengoklah ke belakang mungkin ada yang salah dengan dirimu.”
Sahabat, semoga kita terjauh dari pembiaran yang Allah lakukan (istidraj), karena sungguh hal tersebut adalah kesedihan yang sebenar-benarnya.