This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 20 Juli 2022

Janji Allah SWT Kepada Umat Islam (Dalilnya dalam Al - Qur'an)

Janji Allah SWT pada umat Islam terdapat dalam ayat-ayatNya yang mulia. Janji-janji bersifat duniawi dan ukhrawi ini ditujukan bagi hambaNya yang beriman dan beramal sholeh. Harapan dari Allah SWT inilah yang sangat dinanti-nantikan hambaNya. Sebab Allah adalah sebaik-baiknya pembuat janji dan mustahil mengingkari janji-Nya. Apa sajakah janji-janji Allah tersebut

Janji Allah SWT Kepada Umat Islam

1. Janji akan surga

Janji Allah SWT pertama ditujukan bagi orang yang bertakwa. Allah menjanjikan surga seluas langit dan bumi dalam QS. Ali Imran ayat 133,

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."

2. Janji disempurnakan pahala

Berikutnya adalah janji Allah SWT dalam menyempurnakan pahala bagi mereka mengamalkan segala perintah Allah, serta meninggalkan semua larangan-Nya. Allah berfirman,

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang zalim." (QS Ali Imran: 57).

3. Janji tambahan nikmat

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Dengan bersyukur, Dia menjanjikan tambahan nikmat kepada hamba-Nya

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim: 7).

4. Janji diingat Allah SWT

Menurut tafsir Kemenag, yang dimaksud dalam mengingat Allah SWT pada ayat ini dilakukan melalui lisan dengan berdzikir, melalui hati dengan mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maupun melalui fisik dengan menaati Allah SWT.

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

Artinya: "Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS Al Baqarah: 152).

5. Janji diijabah doanya

Janji ini dimaksudkan Allah SWT dengan tujuan untuk mengajak hambaNya datang dan mendekatkan diri kepadaNya. Berdasarkan tafsir Kemenag, QS Ghafir atau Al-Mu'min ayat 60 menjelaskan Allah SWT akan mengabulkan doa hambaNya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ

Artinya: "Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."

6. Janji diberikan kehidupan yang baik

Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik di dunia bagi siapa pun yang mengerjakan kebajikan sekecil apa pun. Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia yang dimaksud dalam ayat ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An Nahl: 97).

Masih banyak lagi janji Allah SWT kepada umat Islam yang mengerjakan perintah-Nya dan amal saleh. Semoga dengan mengetahui janji Allah SWT dapat menambah keimanan dan meningkatkan frekuensi ibadah kita kepada Allah Swt.

Referensi sebagai berikut ini ;









Menolong Orang Zalim Dan Yang Terzalimi (3)

Menolong Orang Zalim Dan Yang Terzalimi, Semua orang tentu sepakat bahwa menolong orang yang tertimpa kesulitan adalah satu pebuatan yang terpuji. Sedangkan membiarkannya sendirian dalam kesulitan di saat kita mampu untuk membantunya adalah perilaku yang tercela. Islam mengajarkan kepada semua umatnya untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Baik itu menghilangkan kesulitan orang lain atau hanya sekedar meringankan beban deritanya. Terlebih lagi jika yang sedang tertimpa kesulitan adalah seorang muslim.

Kesulitan yang dirasakan oleh seorang Muslim adalah kesulitan yang juga harus dirasakan muslim lainnya. Karena perumpamaan bagi orang-orang yang beriman adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, sekujur tubuh pun akan turut merasakan sakit tersebut.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh saling mendengki, saling menipu, saling membenci, dan saling memutus hubungan kekerabatan. Dan tidak akan sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri.

Sesama muslim haruslah saling tolong menolong. Ibarat bangunan, antara satu komponen  dengan komponen lainnya saling menguatkan. Sebab jika ada satu komponen yang lemah akan berpengaruh dengan kekokohan bangunan tersebut. Oleh karenanya Allah menjadikan seorang muslim sebagai penolong muslim yang lain.

Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Qs. At-Taubah: 71)

Imam al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa hati orang-orang beriman melebur dalam rasa saling mencintai, mengasihi, dan bersimpati. Selalu menyeru pada kebaikan untuk beribadah kepada Allah dan mengesakanNya. Serta mencegah dari mengerjakan perbuatan mungkar seperti beribadah kepada selain Allah Swt.

Perintah untuk saling tolong menolong dalam Islam hanya ditujukan untuk perkara kebaikan saja. Sedangkan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan tidaklah diperbolehkan. Dalam ayat yang lain Allah menyandingkan perintah untuk menolong berbuat baik dengan larangan menolong berbuat dosa dan permusuhan.

Allah Swt  berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dalam ayat ini Allah memerintahkan hambaNya untuk saling ta’awun (menolong) dalam mengerjakan al-birr (segala macam kebaikan) dan takwa. Serta melarang untuk saling menolong dalam berbuat al-Itsmu (dosa) dan perkara-perkara yang diharamkanNya. Adapun makna al-Itsmu itu sendiri menurut Ibnu Jarir adalah sengaja meninggalkan apa yang telah Allah perintahkan untuk dikerjakan.

Banyak sekali keutamaan yang Allah janjikan bagi hambaNya yang ikhlas saling menolong antara saudara semuslim. Diantaranya adalah Allah akan membebaskan dirinya dari berbagai kesusahan di Hari Kiamat kelak. Sedangkan semasa hidup, Allah akan mudahkan segala urusan dunianya.

Nabi Saw bersabda,  “Barangsiapa membebaskan dari seorang mukmin satu kesusahannya di dunia maka niscaya Allah akan membebaskan darinya satu kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan seseorang yang sedang dalam kesulitan maka Allah akan memudakan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya sesama muslim. (HR. Muslim)

Saling menolong dalam berbuat kebaikan sesama saudara semuslim akan menumbuhkan ikatan ukhuwah islamiyah yang kuat. Kehidupan sosial masyarakat akan menjadi lebih baik. Lingkungan yang dipenuhi keharmonisan pun juga akan tercipta. Sehingga pada akhirnya membuahkan sebuah negeri yang penuh keberkahan dari penciptanya.

Saling menolong dalam berbuat kezaliman jelas dilarang dalam Islam. Akan tetapi Nabi Saw tidak hanya memerintahkan kita untuk menolong orang yang terzalimi. Melainkan juga memerintahkan kita untuk menolong orang yang zalim. Yaitu dengan cara mencegahnya dari berbuat kezaliman.

Dari Anas bin Malik Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda; “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang terzalimi.” Salah seorang sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami menolongnya ketika ia dalam keadaan terzalimi, lantas bagaimana cara kami menolongnya ketika ia berbuat zalim?” “Menahan dan mencegahnya dari berbuat zalim. Begitulah cara kalian menolongnya.” Jawab Rasul. (HR. Bukhari)

Diantara hikmah yang bisa kita petik dari hadits ini adalah bahwa tidak selamanya menolong dan membantu harus berbentuk materi. Namun bisa juga dengan bentuk lain seperti mendoakan kebaikan baginya, menjaga kehormatannya, merahasiakan aibnya, mengajaknya untuk berbuat kebaikan, dan mencegah serta menahannya dari berbuat zalim.

Mencegah dan menahan seseorang dari berbuat zalim bisa dilakukan dengan beberapa cara yang diajarkan oleh Nabi Saw. Yaitu mencegahnya dengan kekuatan atau kekuasaan yang kita miliki, jika kita tidak mampu melakukannya maka cegahlah dengan memberikan nasihat atau teguran, dan jika masih tidak mampu lagi maka cegahlah dengan kita tidak mengikutinya.

Demikianlah keindahan yang bisa kita lihat dari sempurnanya syiar agama Islam. Disaat ada seorang muslim tertimpa sebuah kesulitan maka kesulitan itu harus dirasakan dan diselesaikan bersama. Ketika ada seorang muslim membutuhkan bantuan uluran tangan maka muslim yang lain datang untuk memberikan uluran tangan dan saling menguatkan. Dan bilamana ada seorang muslim akan berbuat zalim maka muslim yang lain adalah penolong baginya untuk mencegah dari bebuat kezaliman.

Referensi sebagai berikut ini ;











Bagiamana cara menolong orang yang berbuat aniaya/dzalim dalam islam

Mari kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Dengan sebenar-benarnya takwa. Dan juga meninggalkan larangan. Jangan sekali-kali meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan Islam, yakni husnul khatimah. Dikisahkan suatu hari, baginda Nabi bersabda di hadapan para sahabat:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا»

"Tolonglah saudaramu baik yang berbuat zalim atau yang dizalimi!"
Para sahabat bingung. Kalau menolong orang yang dizalimi itu wajar. Nah, kalau menolong orang yang zalim, bagaimana tidak aneh? Lalu salah seorang sahabat bertanya:

فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟

"Ya Rasul, kami akan menolongnya jika dia dizalimi. Namun ketika ia berbuat zalim bagaimana kami menolongnya?
Rasulullah menjawab:

قَالَ: «تَحْجُزُهُ، أَوْ تَمْنَعُهُ، مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ»
"Cegahlah dia, atau laranglah dia dari berbuat zalim. Inilah hakikat dari menolong orang zalim."

Kata zalim sering kita dengar. Zalim itu perbutan yang merugikan diri sendiri, maupun orang lain. Arti dari kata zalim sendiri adalah wadh’u al-sya’i fi ghairi maudhi’ihi (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya).

Perbuatan zalim ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Bisa dari seseorang kepada temannya. Misal, menipu teman sendiri, ghasab, tidak mengembalikan hutang. Bisa dari majikan kepada karyawannya. Misal, memaksa karyawannya dengan pekerjaan yang ia tidak mampu.
Bahkan, perbuatan zalim itu bisa dilakukan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Misal menaikkan tarif disaat keadaan rakyat sedang susah. Impor beras disaat stok beras sedang melimpah. Hal itu jelas berdampak buruk pada petani. Untung saja ormas besar seperti NU berani menyuarakan sikapnya atas kebijakan pemerintah tersebut. Selaras dengan sabda Nabi:

مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ[2]

Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran dengan tangannya (kekuasaan, otoritas), ketika tidak mampu dengan lisannya, ketika tidak bisa maka dengan hati kita. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
Maraknya kezaliman itu bukan banyaknya orang jahat. Tapi karena diamnya orang baik. Kalau saja saat ada kezaliman, lantas pemerhati kebaikan (orang saleh, alim) itu diam saja. Maka maraklah kezaliman tersebut.

Jangan sampai kezaliman marak di negeri kita. Kalau sampai seperti itu negeri kita akaan diberi azab oleh Allah.
وَكَذَ ٰ⁠لِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَاۤ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِیَ ظَـٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥۤ أَلِیمࣱ شَدِیدٌ

Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Surat Hud: 102)

Maka dari itu, kita harus meminimalisir perbuatan-perbuatan zalim. Tentunya dengan cara yang santun. Semoga kita dihindarkan dari perbuatan zalim. Jangan sampai kita pelaku perbuatan zalim. Ketika itu, para sahabat yang menyimaknya lantas bertanya, "Bagaimana cara menolong orang yang zalim, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya." Pencegahan yang dimaksud bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari lisan hingga perbuatan. Sebagai contoh, ketika seorang Muslim menyaksikan seseorang hendak berbuat jahat kepada yang lain, maka langsung katakan kepadanya, "Jangan kamu melakukannya."

Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat suatu sistem yang menangkal kezaliman. Hal itu juga sudah diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW yang lain, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. "Aku (Abu Sa’id Al Khudri) pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemunkaran) dengan hatinya, itulaj selemah-lemahnya iman.'"  Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah Muhammad Saw  jelas kami faham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim? Beliau bersabda: Pegang tangannya (hentikan ia agar tidak berbuat zalim).

Referensi sebagai berikut ini ;







Hadis Menolong Orang Zalim

Hadis Menolong Orang Zalim, Tolong menolong dalam Islam itu wajib. Karena di situlah nilai ukhuwah Islamiyah kita. Kita menginginkan yang baik untuk saudara kita, dan menjauhi yang buruk dari saudara kita. Ada dua keadaan dalam menolong saudara seiman. Menolong saat mereka dizalimi. Dan menolong saat mereka berbuat zalim. Inilah menariknya. Kalau menolong saudara kita yang dizalimi itu wajar. Tapi, bagaimana menolong saudara seiman yang berbuat zalim. Tidakkah itu akan menjadi tolong menolong dalam dosa? Bukan itu maksudnya. Yang dimaksud menolong saudara kita yang zalim adalah dengan menghalangi dirinya dari berbuat zalim. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ 
Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Boleh jadi, mencegah orang berbuat zalim lebih susah dari menolong yang dizalimi. Karena yang berbuat zalim biasanya lebih kuat dan berkuasa. Dan yang berbuat zalim sedang berada dalam hasutan setan yang membakar amarahnya. Namun hikmah dan maslahatnya jauh lebih besar. Karena mencegah saudara seiman berbuat zalim bukan hanya menolong orang itu dari dirinya sendiri yang dalam pengaruh setan. Tapi juga menolong yang akan dizalimi. Dengan mencegah terjadinya kezaliman, ada dua pihak yang ditolong: yang berbuat zalim dan yang menjadi korban kezaliman.

Referensi sebagai berikut ini ;






Orang yang Berbuat Zalim Juga Perlu Ditolong

Orang yang Berbuat Zalim Juga Perlu Ditolong, kita yang beranggapan bahwa menolong hanya boleh dilakukan kepada orang yang sedang terzalimi. Padahal, tahukah kamu bahwa kita pun harus menolong orang yang menzalimi? Ya, ternyata kita boleh bahkan sudah seharusnya kita pun menolong orang yang zalim. Segala aspek kehidupan telah Allah atur dengan begitu indah. Hanya saja kita terlalu malas untuk mempelajarinya. Termasuk perihal menolong orang zalim. Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari)

Ketika kita melihat suatu kemungkaran atau kezaliman, tugas kita bukan hanya menolong orang yang dizalimi atau disakiti. Namun Rasulullah SAW mengajari kita untuk menolong orang yang menzalimi juga. Yaitu dengan mencegah ia dari berbuat jahat atau zalim kepada orang lain. Dengan mencegahnya dari berbuat zalim kepada orang lain berarti kita sudah menolongnya dari berbuat dosa.

Jangan hanya sekadar menghakimi orang yang berbuat zalim. Tapi tolonglah ia dengan mengingatkannya. Seringkali, banyak di antara kita yang justru menzalimi orang yang sedang berbuat zalim pada orang lain. Padahal, 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mengajari kita untuk menolong orang yang zalim. Sungguh sangat indah Islam mengatur segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Referensi sebagai berikut ini ;




Cara Menolong yang Zalim dan Terzalimi (2)

Cara Menolong Orang yang Berbuat Zalim, “Tolonglah saudaramu yang berlaku zalim atau yang terzalimi. Sahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, kami menolong orang yang dizalimi, tetapi bagaimana kami menolong orang yang berbuat zalim?’ Rasulullah menjawab, cegahlah dia dari berbuat zalim maka sesungguhnya engkau telah menolongnya” (HR. Bukhari).

Dalam konteks ini, pihak yang terzalimi adalah korban terorisme yang mengalami begitu banyak penderitaan. Sementara di sisi lain AIDA juga mendukung pertobatan anggota jaringan terorisme dengan cara melibatkan mereka dalam upaya pembangunan perdamaian. “Kedua pihak memiliki kisah pengalaman yang mengandung banyak sekali ibroh dan sangat bermanfaat untuk perdamaian umat manusia,” ujar Laode. Menurut Laode, dalam Al-Qur’an, pendekatan ibroh melalui kisah umat-umat manusia terdahulu lebih banyak termuat dibandingkan dengan ayat-ayat hukum. Dari situ, umat Islam bisa menemukan banyak sekali pembelajaran-pembelajaran dan hikmah-hikmah yang luar biasa.

“Melalui kisah korban dan mantan pelaku terorisme, khalayak luas diharapkan dapat memetik pembelajaran perdamaian, supaya tidak ada lagi orang yang menjadi pelaku kekerasan, sehingga tidak ada lagi yang menjadi korban kekerasan,” kata Laode.

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan Dwi Siti Romdhoni, korban Bom Thamrin 2016. Dwiki, sapaan akrabnya, menuturkan musibah yang menimpanya saat melakukan rapat dengan klien kantornya di salah satu restoran Plaza Sarinah Jakarta, 14 Januari 2016. Peristiwa itu membuat Dwiki mengalami sejumlah cedera sehingga mengharuskannya menjalani serangkaian terapi yang cukup lama. Berkat dukungan keluarga, bantuan psikolog dan psikiater, serta rekan-rekannya sesama penyintas bom membantu Dwiki bangkit dari keterpurukannya. Sementara dari unsur mantan pelaku terorisme, hadir Kurnia Widodo yang memaparkan kisah awal keterlibatannya di jaringan ekstremisme kekerasan, menjalani hukuman penjara, hingga memutuskan tobat dan memilih menjadi aktivis perdamaian.

Referensi sebagai berikut ini ;







Menolong Orang Muslim yang Zalim

Menolong Orang Muslim yang Zalim, hubungan antarsesama manusia berlangsung dalam suasana tenteram. Apalagi, bila nuansanya adalah relasi di antara orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Namun, pada faktanya idealisme tidak selalu terwujud. Keharmonisan terganggu oleh orang-orang yang berlaku zalim terhadap sesama manusia atau orang beriman. Kezaliman akan mengganggu tatanan umum. Bentuknya bisa macam-macam, tetapi polanya selalu sama, yakni ketika orang yang kuat atau berkuasa menindas mereka yang lemah atau nirdaya. Sebuah hadis Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, beliau bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi."

Ketika itu, para sahabat yang menyimaknya lantas bertanya, "Bagaimana cara menolong orang yang zalim, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya."

Pencegahan yang dimaksud bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari lisan hingga perbuatan. Sebagai contoh, ketika seorang Muslim menyaksikan seseorang hendak berbuat jahat kepada yang lain, maka langsung katakan kepadanya, "Jangan kamu melakukannya."

Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat suatu sistem yang menangkal kezaliman. Hal itu juga sudah diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW yang lain, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

"Aku (Abu Sa’id Al Khudri) pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemunkaran) dengan hatinya, itulaj selemah-lemahnya iman.'"

Dari uraian di atas, tampak hubungan dialektis dalam menolong orang-orang agar terlepas dari kezaliman, baik mereka sebagai pelaku atau korban. Ketika lisan dan perbuatan tidak mampu juga melakukannya, maka hati yang "menjerit" sudah dinilai suatu kebaikan karena diniatkan untuk menolong sesama Muslim. Bagaimanapun, seorang Muslim memang tidak dilarang untuk mendoakan supaya hidayah dan petunjuk Allah SWT datang.

Referensi sebagai berikut ini ;






Menolong Orang yang Zalim (1)

Menolong Orang yang Zalim, Kalau menolong orang yang dizalimi adalah suatu yang wajar dan seharusnya dibantu dan ditolong . Bagaimana dengan menolong orang yang menzalimi/yang maksutnya gar orang yang dzalim tersebut selamat dari dosa-dosanya yang diperbuat atasnya dan diampuni oleh Allah Swt dan segera bertoubat kepada Allah Swt dan tidak mengulang atas ke dzalimannnya tersebut.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ 

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari)

Berarti kita hanya menolong orang yang dizalimi atau disakiti, seperti dipukul dan dirampok. Namun orang yang menzalimi juga ditolong yaitu mencegah ia dari berbuat jahat berarti sudah menolongnya dari berbuat dosa. Bisa jadi kita mengatakan pada yang ingin berbuat zalim, “Stop, berhenti.” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata,

“Jika ada saudaramu yang menzalimi lainnya, maka katakanlah pada orang yang ingin berbuat zalim, “Jangan perbuat seperti itu, berhentilah!

Jika ada yang ingin menzalimi dengan mengambil harta orang lain, maka tahanlah atau cegahlah dia. Itu termasuk menolongnya jika memang engkau punya kemampuan untuk mencegahnya. Bentuk menolong orang yang berbuat zalim adalah mencegahnya dari kejahatan dirinya dan dari kejahatan setannya. Itu termasuk pula mencegah setannya berbuat jahat dan mencegahnya dari hawa nafsu yang batil.

Referensi sebgaia berikut ini ;









Meminta Maaf dan Keutamaannya

Memaafkan, meminta maaf juga membutuhkan keberanian yang luar biasa. Oleh karena itu, terdapat keterangan mengenai hadis tentang meminta maaf yang juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, setiap orang pasti melakukan kesalahan dan saling memaafkan akan menjadi kunci dari ketentraman hati. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi sebuah terapi. Menurut studi Nuansa Jurnal Studi Islam dan Kemasyarakatan, hasilnya menunjukkan bahwa sikap memaafkan dan meminta maaf dapat dijadikan sebagai terapi kejiwaan. Seperti diketahui, Alquran dapat menjadi peyembuh atau obat, terutama untuk penyakit di dalam hati atau penyakit mental. Alquran hadir sebagai pembelajaran, penyembuh, petunjuk, dan rahmat.

Psikoterapi memaaf dan meminta maaf merupakan bagian dari psikoterapi tasawuf, sebuah upaya psikoterapi yang menggabungkan pendekatan tasawuf dan psikoterapi. Menurut ahli tafsir terkemuka di Indonesia M Quraish Shihab, tidak ditemukan perintah untuk meminta maaf. Namun hal tersebut ditemukan dalam hadis tentang meminta maaf. Dalam hadis, ditemukan perintah untuk berusaha dihalalkan dosa-dosa kepada saudara, yang berarti seseorang diminta meminta maaf atau dimaafkan.

Terdapat beberapa hadis tentang meminta maaf, di antaranya:

1. Hadis tentang Meminta Maaf dan Kezaliman

رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَتَاهُ أَخُوْهُ مُتَنَصِّلاً فَلْيَقْبَل ذَلِكَ مِنْهُ مُحِقّاً كَانَ أَوْ مُبْطِلاً، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ لَمْ يَرِدْ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Artinya: “Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat).

(Kelak) jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari)

Satu hal positif yang semestinya dilakukan untuk menghapus perbuatan salah adalah meminta maaf. Ini akan berguna untuk meredam amarah yang ada dalam diri orang yang dizalimi. Penyesalan atas kata-kata atau perbuatan di masa lalu, serta janji untuk tidak mengulangi perbuatan salah berfungsi untuk meredam amarah yang bergejolak dalam diri seseorang yang disakiti.

2. Hadis tentang Meminta Maaf Lebih Dulu

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Artinya: "Sedekah itu tidak mengurangi harta dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."

3. Hadis tentang Meminta Maaf dan Kemuliaan

Di dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim)

Dan hadis lain yang masih memiliki keterkaitan dengan hal ini adalah: “Tidak halal bagi seorang mukmin untuk tak bersapaan dgn saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari.” (HR Muslim)

Memaafkan sama sekali bukan merupakan perkara yang kecil. Dibutuhkan sebuah hati yang lapang dan pikiran yang jernih untuk bisa memaafkan seseorang.

Begitupun meminta maaf dan mengakui kesalahan itu adalah perbuatan yang butuh keberanian besar. Maka, sungguh perbuatan maaf memaafkan sangat dimuliakan oleh Islam.

Sebab, tidak diperkenankan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari. Kemudian yang paling baik di antara keduanya adalah yang terlebih dahulu memberi salam.

Artinya telah timbul sebuah kelegaan hati dari salah satu di antara mereka yang memiliki potensi mencairkan suasana dan yang lebih indah adalah saat hal tersebut diakhiri dengan saling maaf memaafkan.

Keutamaan Meminta Maaf

Dalam Alquran Allah SWT berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf: 199)

Memaafkan adalah salah satu di antara akhlak Islam yang paling utama. Tapi, tak sebanyak itu orang berbicara tentang keutamaan meminta maaf. Padahal, meminta maaf juga merupakan akhlak yang amat mulia yang harus dimiliki oleh umat Islam. Beberapa keutamaan meminta maaf yakni:

4. Memperbaiki Silaturahmi

Selaturahmi akan meningkatkan rasa kedamaian dari pihak-pihak yang pernah berseteru atau pernah mengalami kekeliruan karena suatu hal. Berdamai dengan diri sendiri juga menjadi keutamaan setelah seseorang telah berusaha untuk meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahan yang pernah diperbuat. Hadis dari Abu Hurairah RA yang telah disebutkan di atas menunjukkan betapa pentingnya meminta maaf. Bahkan, terdapat ‘ancaman’ kerugian yang luar biasa bagi orang yang terlambat meminta maaf. Misalnya dengan terhapusnya amal-amal baik yang pernah dilakukan atau ditambahkannya amal-amal buruk orang yang pernah dizalimi kepada tumpukan amal buruknya.

5. Kesalahan Karena Memutus Silaturahmi

Meski Rasulullash SAW tetap menganjurkan orang yang dizalimi untuk meminta maaf, tapi orang yang berbuat zalim yang lebih mungkin dihukumi memutus silaturrahim. Padahal Alquran mengancam dengan keras tindakan memutuskan silaturrahim ini. Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Alquran:

وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

(Wallażīna yangquḍụna 'ahdallāhi mim ba'di mīṡāqihī wa yaqṭa'ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍi ulā`ika lahumul-la'natu wa lahum sū`ud-dār)

Artinya: “Orang-orang yang merusakkan janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni, silaturrahim), dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam).” (QS Ar-Ra’d: 25)

Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini dengan sabdanya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim)” (HR. Bukhari)

6. Kesalahan Akan Menjadi Beban

Perbuatan salah yang dilakukan kepada orang lain akan menjadi beban yang terus memberatkan hati jika belum dimaafkan. Perasaan bersalahpun akan terus menghantui. Kaena termasuk penyambung dalam silaturahmi, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa meminta maaf bukan sesuatu yang akan menghinakan, tapi merupakan tindakan yang amat mulia. Sedemikian mulianya sehingga terbukanya pintu surga dan keterbebasan dari neraka sebagai ganjarannya. Terkait dengan ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang senang diberi lebih banyak rezeki dan umur panjang, maka dia harus menjalin hubungan baik (silaturrahim) dengan orangtua dan saudaranya.” (HR Bukhari)

Dalam hadis tentang meminta maaf ini menunjukkan bagaimana Islam memuliakan silaturahmi, sehingga meminta maaf merupakan bagian dari mempertahankan hal tersebut.

Islam memberi pahala bagi orang yang mampu maaf memaafkan dengan hati ikhlas dan ringan. Perbuatan yang dipandang kecil namun sungguh dibutuhkan usaha yang besar.

Referensi sebagai berikut ini ;









Melawan Sifat Materialisme dalam islam

Materialisme atau terlalu berlebihan dalam mencintai harta, akan memberikan sejumlah efek negatif. Ia mengatakan bahwa ada dua dampak buruk materialisme. Pertama, memperburuk kesejahteraan individu. Kedua, memperparah efek trauma dan stres terhadap kejadian buruk.

Yang menarik dari riset tersebut adalah pada temuan atau kesimpulan kedua. Rindfleisch menyatakan bahwa orang-orang yang materialistis, ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan yang parah, seperti ketidaksesuaian antara rencana dengan hasil yang didapat, maka mereka akan cenderung lebih sulit menerima kenyataan dan mudah stres. Kondisi ini mengakibatkan orang tersebut untuk melakukan “maladaptive consumption”, yaitu ketidakrasionalan pola konsumsi. Misalnya, dengan membeli barang yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan olehnya, maupun mengkonsumsi barang dan jasa yang mengancam kehidupannya. Kesabaran terhadap tekanan hidup menjadi berkurang, dan ia akan memiliki kecenderungan untuk menjadi paranoid, terutama terhadap kematian. Rasa takut akan mati sangat menghantuinya.

Dengan kata lain, perilaku materialisme akan menyebabkan ketidaktenangan hidup. Orang akan lebih mudah gelisah dan resah. Sehingga, pada jangka panjang, kondisi ini akan mengancam tingkat produktivitas seseorang, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan tingkat produktivitas suatu bangsa secara keseluruhan. Jika ini terjadi, maka tingkat kemakmuran akan mengalami penurunan.

Dari hasil studi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa ada dua solusi yang harus dikembangkan, untuk mengatasi problem materialisme dan dampak buruk yang ditimbulkannya. Pertama, peningkatan kualitas pengendalian diri, terutama terkait dengan konsumsi pribadi. Kedua, mendorong semangat berbagi, sebagai antitesa dari sifat serakah terhadap harta.

Terkait poin yang pertama, harus disadari bahwa sumber utama penyakit materialisme adalah ketidakmampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk itu, jiwa harus dilatih agar memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik. Salah satunya adalah melalui momentum ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tingkat puasa seseorang itu dibagi menjadi tiga, yaitu puasa awam, puasa khusus, dan puasa yang sangat khusus. Pada puasa awam, seseorang hanya mampu menahan diri dari lapar dan haus semata, serta belum mampu mengendalikan diri dari syahwat yang lain. Sedangkan pada puasa jenis kedua, seseorang sudah mampu mengendalikan hawa nafsu yang lain, selain makan dan minum. Misalnya, mengendalikan nafsu amarah yang berlebihan. Sementara pada tingkatan ketiga, kualitas puasa seseorang sudah mampu menghantarkannya pada kebersihan nurani dan hati, sehingga tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya keinginan untuk bermaksiat dan berbuat keburukan. Jadi memikirkan hal negatif saja tidak, apalagi melakukannya. Berbeda dengan puasa level kedua dimana pada diri seseorang masih mungkin terlintas hal-hal negatif, meski kemudian mampu dicegahnya.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa puasa pada dasarnya adalah instrumen untuk mengendalikan diri, termasuk pengendalian terhadap konsumsi berlebihan. Ini adalah antitesa dari teori konsumsi konvensional yang berorientasi sepenuhnya pada pencapaian tingkat kepuasan maksimum, dimana kondisi ini bisa dicapai melalui konsumsi barang dan jasa secara maksimal dengan faktor pembatasnya adalah anggaran keuangan yang dimiliki.

Selanjutnya, solusi kedua adalah dengan mendorong semangat berbagi, melalui pelaksanaan ibadah zakat, infak dan shadaqah(ZIS). Ibadah ZIS adalah metode yang efektif dalam mengikis keserakahan. Melalui ibadah ini, seseorang diajarkan untuk tidak mencintai harta secara berlebihan, karena hakekat hidup pada dasarnya adalah untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia. Ibadah ZIS juga merupakan instrumen “alami” yang diciptakan ajaran Islam untuk mencegah konsentrasi kekayaan di tangan segelintir kelompok, dan mendorong tumbuhnya solidaritas sosial yang kuat. Jika kesenjangan ekstrim bisa dicegah, dan solidaritas sosial dapat diperkuat, maka ketenteraman dan ketertiban dalam kehidupan sosial masyarakat bisa menjadi kenyataan.

Materialisme merupakan suatu aliran yang menganggap kebutuhan materi di atas kebutuan spiritual, ideologi, sosial, budaya dan agama. Ideologi materialisme yang berkembang pesat khususnya di Barat pada dasarnya bukanlah aliran yang baru, atau hasil dari zaman modern, namun kepercayaan aliran ini, sudah ada sejak zaman filsafat Yunani kuno. Materialisme merupakan salah satu persoalan masyarakat modem saat ini baik pada dunia Barat maupun pada dunia Timur sendiri. 

Beberapa filosof Barat yang materialis menganggap perkembangan aliran tersebut seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin pesat juga perkembangan materialisme. 

Materialisme di Barat tidaklah sama dengan materialisme dalam dunia Timur, baik dari segi sejarahnya maupun konteks doktrin orientasinya, karena aliran tersebut dalam Islam hanya merupakan sentuhan-sentuhan kekuasaan yang sedang berkuasa, sementara di Barat selain aliran ini memiliki sejarah yang jelas, dan juga ada beberapa faktor yang dapat mendukung kemajuan aliran tersebut. 

Faktor-faktor tersebut adalah pertama, kelemahan doktrin-doktrin Gereja dan keangkuhan serta kekerasan yang dilakukannya. Kedua, kelemahan ide-ide filsafat Barat, dan yang ketiga adalah kelemahan konsep-konsep sosial politik di Barat. Beberapa alasan tersebut merupakan faktor yang paling dominan dan fundamental dalam penggiringan masyarakat Barat pada materialisme. 

Murtadha Muthahhari salah satu tokoh intelektual Islam yang keras mengkritik kepada kaum materialis, apalagi aliran tersebut sudah menunjukkan eksistensinya pada dunia Islam, khususnya Iran, karena dalam sejarahnya, Islam dengan dinasti Abbasiahnya pernah memberi peluang besar pada masyarakatnya dengan aliran tesebut, meskipun kebebasan berpikir di antara para intelektualnya tidak boleh menentang kekuasaan yang sedang berkuasa.

Bahkan ada di antara tokoh intelektual Islam seperti Ali Wardi yang menganggap materialisme sejarah bagian dari doktrin Islam. Namun pendapat ini dibantah oleh Muthahhari, karena menurutnya, orang-orang yang mencari hakikat kebenaran materialisme sejarah terterah dalam kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya ia kurang memahami benar tentang ajaran Islam. 

Penelitian ini bersifat kepustakaan murni yang didasarkan pada karya-karya Murtadha Muthahhari sebagai sumber data primer, sementara sumber data sekunder adalah beberapa literatur yang dapat mendukung dalam penelitian ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yakni metode deskriptif-analitik dan sejarah pemikiran yang berupaya memaparkan pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Islam dan materialisme secara jelas, akurat dan sistematis. 

Hasil penelitian ini dapat diperoleh jawabannya, bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kecenderungan materialisme pada dunia Barat, salah satunya adalah otoritas Gereja. Klaim materialisme memiliki relevansi dalam Al-Qur'an pada hakikatnya adalah penafsiran yang keliru, justru Islam menganggap aliran tersebut bukan hanya tidak cocok dengan ajarannya, akan tetapi juga dapat membahayakan baik pada masyarakat Islam sendiri maupun pada doktrin agamanya, dengan muncul kesamaran-kesamaran dalam penafsirannya. 

Pemikiran Murtadha Muthahhari tidak hanya dapat meramaikan pergulatan wacana mengenai Islam dan materialisme, dan mengkonter hegomoni pemikiran orang-orang Barat, namun ia juga dapat memberi beberapa penawaran yang dapat memuaskan intelektual. Maka dengan demikian, pemikiran Murtadha Muthahhari ini adalah sangat relevan dan kontekstual dengan perkembangan zaman sekarang.

Materialisme, merupakan suatu pemahaman hanya bersandar pada materi. Paham ini tidak meyakini apa yang ada di balik alam ghaib dan norma di atas manusia, yaitu Tuhan dan wahyu.

Orang-orang yang mengikuti paham ini tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini, sehingga secara otomatis menafikan adanya Tuhan sebagai pencipta alam, karena menurut paham ini alam beserta isinya berasal dari satu sumber, yaitu materi.

“Pemikiran ini sama halnya dengan atheisme dalam bentuk dan subtansinya yang tidak mengakui adanya Tuhan secara mutlak,” kata Dr. Tgk. H. Amri Fatmi Anzis Lc, MA (Doktor Aqidah Filsafat dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (21/2) malam. Pengajian dimoderatori oleh Kasi Kurikulum pada Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Badaruddin SPd MSi.

Tgk Amri Fatmi yang meraih gelar doktor dengan predikat tertinggi “Summa Cumlaude” pada Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, memaparkan, para penganut paham materialisme ini menolak agama sebagai hukum kehidupan manusia. Mereka lebih mengedepankan akal sebagai sumber segala hukum.

Prinsip ini melahirkan suatu ideologi, hukum hanyalah apa yang bisa diterima oleh akal manusia, tidak perlu agama, dan menjadikan kecondongan dan kesenangan manusia sebagai hak yang harus diakui. Meskipun itu bertentangan dengan dengan agama dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Pemikiran materialisme ini membawa pada kehidupan konsumerisme, hedonisme, dan cinta dunia berlebihan (wahn). Ini sangat berbahaya bagi kehidupan kita sebagai seorang muslim, karena dalam kehidupan materialisme ini, tidak ada akhlak. Semua berburu pada materi tanpa peduli halal atau haram.

Dijelaskannya, salah satu fitnah zaman modern dewasa ini adalah merebaknya ideologi materialisme. Bahwa materi, harta kekayaan atau jabatan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang berarti ia dipandang sebagai orang yang mulia, dan semakin sedikit materi atau harta yang dimilikinya berarti ia dipandang sebagai orang yang hina dan tidak patut dihormati.

Dalam sebuah masyarakat yang berideologi materialisme, seseorang menjadi sangat iri dan berambisi menjadi kaya setiap kali melihat ada orang yang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka. Maka di dalam masyarakat yang telah diwarnai materialisme, setiap anggota masyarakat akan berlomba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan cara bagaimanapun, baik itu dengan cara yang halal, syubhat, maupun haram.

Solusi terhadap paham materialisme yang harus dijauhi oleh setiap umat Islam, yaitu dengan kembali kepada ajaran agama Islam. Kemudian tidak mencintai dan mengejar materi dunia secara berlebihan, sehingga lupa pada kepentingan akhirat.

Andaikan setiap kita berpegang teguh kepada prinsip dan ajaran agama kita, niscaya akan terhindar dari ideologi materialisme. Tidak mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa harta merupakan tolok ukur kemuliaan seseorang. Setiap orang akan senantiasa rajin mensyukuri segenap karunia Allah yang telah diterimanya dengan sifat zuhud dan qanaah. Islam mengajarkan tolok ukur kemuliaan sejati ialah taqwa seseorang kepada Allah Swt.

Munculnya fenomena masyarakat yang begitu mudah mempercayai kemampuan seseorang yang bisa mendatangkan kekayaan secara instan meski irasional dinilai merupakan gejala semakin kuatnya nilai materialisme. Masyarakat yang terjangkit materialisme cenderung memiliki sikap hidup yang menghargai materi secara berlebihan. Materi menjadi tolok ukur utama dalam menilai kesuksesan seseorang. Sayangnya, sikap yang mengukur segala sesuatunya dengan materi ini erat kaitannya dengan merosotnya nilai-nilai sosial yang menjadi ciri khas bangsa, seperti gotong royong, sukarela, dan tanpa pamrih.

Sebagaimana disampaikan Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc ketika memberi sambutan dalam acara Sumpah Profesi Psikolog ke-32 yang digelar oleh Magister Profesi Psikologi UII di Ruang Auditorium FPSB UII, Sabtu (22/10). Acara tersebut diikuti oleh empat orang lulusan Magister Profesi Psikolog.

Kondisi ini tidak dipungkiri semakin nyata adanya di tengah masyarakat kita. Di mana tidak hanya menjangkiti golongan masyarakat di akar rumput, namun juga kaum menengah atas, dan bahkan sebagian kaum intelektual.

Rektor menilai sebagai kalangan intelektual, lebih-lebih yang membawa nilai Islam, para psikolog juga memiliki kewajiban untuk kembali menyehatkan kondisi psikologis masyarakat. Keunikan psikolog UII yang tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu saintifik namun juga mengamalkan akhlak-akhlak Islami dalam berprofesi bisa menjadi celah untuk terlibat dalam hal itu.

Di sisi lain, Ketua HIMPSI Wilayah DIY, Drs. Helly P. Soetjipto, MA mengatakan salah satu tantangan menjadi psikolog adalah selama ini psikolog dianggap sebagai sosok yang dapat memulihkan kesehatan jiwa individu. “Namun apakah psikolog bisa menterapi dirinya sendiri manakala dia memiliki masalah kejiwaan?. Ini belum dapat dipastika.

Menanggapi fenomena di masyarakat yang mudah tergiur hal-hal berbau irasional, Helly P. Soetjipto berpendapat sebenarnya masyarakat cukup mempraktekkan tiga hal untuk menghindarinya. Selalu utamakan berperilaku jujur, ikhlas, dan saling membantu sesama manusia. Insyaallah hal ini dapat menjaga kesehatan mental kita.

Referensi sebagai berikut ini ;






Pendidikan Islam harus dijauhkan dari materialisme

Pendidikan Islam harus dijauhkan dari materialisme. Apalagi, Pendidikan Islam merupakan salah satu pilar utama yang dimiliki Kementerian Agama yang bertanggungjawab mengawal kualitas generasi muda muslim.  Pesan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin, Caringin, Bogor, KH M. Luqmanul Hakim di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, di Jakarta. KH M. Luqmanul Hakim yang hadir mengisi tausiyah pada acara Buka Bersama di rumah dinas Direktur Jenderal Pendidikan Islam itu mengingatkan pentingnya membentuk generasi muda muslim untuk menjadi umat terbaik (khoiro ummah). 

Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita mampu menjauhkan proses pendidikan dari materialism,” terang penulis buku Psikologi Sufi ini. Hadir pada acara ini Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safe’i, para Direktur, pejabat eselon III dan IV, serta pelaksana di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag. Lebih lanjut KH Luqman menyampaikan, untuk menjauhkan gaya hidup materialisme, anak-anak harus diajari tentang makna pendidikan dan kerja keras. “Pendidikan harus dilakukan dengan kerja keras karena pendidikan enak adalah racun. Anak-anak menjadi sangat manja, mudah frustasi, dan berakhir bisa putus dari Allah Swt

Dirinya juga mengingatkan akan bahaya materialisme. Menurutnya materialisme akan menjauhkan manusia pada Tuhan, karena semua hal perbuatan diukur dengan materi. “Padahal ujung dari semua perbuatan tertuju pada Lillah (Allah Swt). Ia pun mengajak jajaran Ditjen Pendis untuk senantiasa berdoa. "Ada dua doa yang harus selalu kita panjatkan kepada Allah, yaitu agar diberikan ketenangan hati, dan agar diberikan tetap iman," tutur KH Luqmanul Hakim. Orang yang diberi ketenangan hati oleh Allah, dia tidak pernah tersinggung, dan selalu menghadapi masalah dengan mudah. Sementara doa tetap iman agar di akhir hayat kita mampu menyebut Allah Swt. 

Referensi sebagai berikut ini ;







Bahayanya Materialisme Ketuhanan

Allah SWT Berfirman:” Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan” (al Baqarah ayat 55).

Dalam sejarah Bani Israil ada sebuah kisah bagaimana mereka meminta kepada Musa as untuk ikut mendengarkan dialog kalam Allah SWT dengan Musa as, akhirnya merekapun diberikan kesempatan mendengarkan dialog Musa dengan Allah swt, akan tetapi mereka masih belum puas, sehingga meminta Musa untuk mereka dapat melihat Allah SWT dengan panca inderanya. Inilah logika materialisme ketuhanan. Mereka ingin melihat Tuhan dengan panca Indera, sebuah kesalahan logika (logical fallacy) yang fatal, bagaimana mungkin inderawi yang bersifat fisik mampu menemui sesuatu yang bersifat non materi (immateri).

Memandang eksistensi sesuatu hanya pada yang nampak oleh inderawi adalah sebuah kesalahan besar, karena indera sangatlah menipu. Hal inilah yang menyebabkan al-Ghazali melakukan uzlah untuk mendapatkan hakikat pengetahuan. Akhir dari perenunganya adalah makrifatullah sebagai ilmu paling tinggi. Karena dia memandang panca indera penuh tipuan, sebuah contoh bagaimana kayu dalam air terlihat bengkok, hal inilah menjadi dasar bagi al-ghazali bahwa inderawi penuh tipuan. Begitu juga fatamorgana, inderawi manusia tertipu olehnya.

Menipu manusia akan eksistensi Tuhan dengan indera adalah kebodohan, akan tetapi banyak sekali di dunia ini yang terjebak dengan hal itu. Akhir dari kebodohan ini adalah lahirnya ateisme atau faham ketidak percayaan pada eksistensi Tuhan. Karena mereka menjadikan panca indera sebagai standar ada dan tidaknya sesuatu.

Secara epistimologis manusia memiliki sumber pengetahuan inderawi, akali dan qalbi. Melihat Tuhan tidak mungkin dengan inderawi dan akali, maka memandang Tuhan seharusnya dengan potensi hati, hati yang dibimbing oleh kitab suci, karena di dalam kitab suci ada cara mengenal Tuhan. Sebagai seorang muslim, Allah swt telah mengenalkan dirinya di dalam al Qur’an, menunjukan kekuasaan Nya dalam alam semesta, sehingga melihat Allah bukan dengan indera tetapi dengan Iman yang lahir dari hati yang bersih.

Konsep memandang Allah SWT ada ketika manusia berada di akhirat, sebagaimana dalam ayat al Qur’an: “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23). Dalam ayat lain : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).

Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).) (HR. Imam Muslim)

Melihat Allah SWT adalah sebuah kemustahilan di dunia ini, akan tetapi sebuah kepastian di akhirat bagi mereka yang mendapatkan tambahan kenikmatan, mereka orang-orang yang beriman dan menetapi perintah Allah SWT. Sangat nampak logika iman dan logika kufur dalam memahami hal ini, karena keimanan akan membangun keyakinan dalam hati mereka, sedangkan kekafiran akan menghancurkan logika sehat mereka.

Oleh sebab itu Allah SWT menghukum mereka orang-orang yang tidak mau beriman sampai melihat wajahnya dengan sambaran halilintar, sedangkan mereka menyaksikan satu sama lainya. Hal ini menunjukan buruknya pola pikir mereka, dan menjengkelkanya prilaku mereka, sehingga Allah SWT menghukum mereka.

Tentu orang-orang yang terjebak dengan faham materialisme dan berujung pada ateisme ini akan mendapatkan hukuman Allah SWT yang sangat keras, karena mereka begitu sombong meniadakan Tuhan yang telah menciptakanya. Kesombongan inilah yang akan menjadikan mereka hancur baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini memang antara rasio dan iman akan terus berhadapan, bagi mereka yang jauh dari nilai keimanan. Akan tetapi bagi mereka yang menjadikan iman sebagai dasar maka mampu mendialogkan antara rasio dan iman, antara sains dan iman, demikianlah islam mengajarkan.

Insan profetis adalah mereka yang senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar segalanya, sebagai dasar melihat sesuatu bahkan memikirkan sesuatu. Mereka adalah orang yang mampu mendialogkan antara indera, akal dan hati, antara iman dan sains, bahkan antara dunia dan akhirat. Dengan inilah peradaban akan terbentuk dengan baik, dan mampu memimpin dunia yang dipenuhi faham materialisme saat ini.


Referensi sebagai berikut ini ;






Senin, 18 Juli 2022

Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Sesuai Al Qur'an

Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang. Buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan).

Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi. Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini.

Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi.  Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya.

Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan.  Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif. Merujuk buku Model Pendidikan Islam bagi Pecandu Narkotika oleh Ahmad Saefulloh dan Mellyarti Syarif, cara mengatasi depresi menurut Islam sesuai dengan apa yang termaktub dalam Alquran, di antaranya sebagai berikut:

Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang. Buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan). Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi.

Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini. Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam

4 Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Sesuai Alquran (1)

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi.  Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian.

Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya. Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan. 

Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif. 4 Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Sesuai Alquran (2)

1. Penguatan keimanan dan ketakwaan

Seorang sufi, Al-Qusyayri, menyebutkan bahwa takwa ditandai oleh tiga sikap, yaitu: (1) tawwakal terhadap apa yang belum dianugerahkan; (2) berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan; (3) dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang. Manusia yang benar-benar bertakwa akan senantiasa bercahaya hatinya dengan cahaya Allah SWT, ini berarti bahwa Allah SWT senantiasa menyertai dalam setiap langkah umatnya. Bila manusia tersebut dalam kehilangan, Allah SWT akan senang menghargai penggantiannya. Sebagaimana yang terdapat di dalam Firman Allah SWT dalam surat At Thalaq ayat 4, berikut bunyinya:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”

2. Penguatan kesabaran

Islam sebagai pembawa kedamaian tidak menghendaki terjadinya depresi di dalam kehidupan manusia. Islam tidak ingin melihat manusia mati dalam kehidupan. Sebaliknya, Islam menghendaki manusia mempunyai jiwa yang tegar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa. Oleh sebab itu, untuk masalah ini Alquran datang dengan konsep kesabaran. Melalui kesabaran, Alquran mengajak manusia untuk menyadari bahwa mati, jodoh dan lainnya ada di tangan Allah SWT. Dengan kesabaran, Alquran mengajak umat Islam untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 155-156, Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang.

Rice PL dalam buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan).

Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi.

Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi. 

Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya. Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan. 

Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif.

1. Penguatan keimanan dan ketakwaan

Seorang sufi, Al-Qusyayri, menyebutkan bahwa takwa ditandai oleh tiga sikap, yaitu: (1) tawwakal terhadap apa yang belum dianugerahkan; (2) berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan; (3) dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang. Manusia yang benar-benar bertakwa akan senantiasa bercahaya hatinya dengan cahaya Allah SWT, ini berarti bahwa Allah SWT senantiasa menyertai dalam setiap langkah umatnya. Bila manusia tersebut dalam kehilangan, Allah SWT akan senang menghargai penggantiannya. Sebagaimana yang terdapat di dalam Firman Allah SWT dalam surat At Thalaq ayat 4, berikut bunyinya:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”

2. Penguatan kesabaran

Islam sebagai pembawa kedamaian tidak menghendaki terjadinya depresi di dalam kehidupan manusia. Islam tidak ingin melihat manusia mati dalam kehidupan. Sebaliknya, Islam menghendaki manusia mempunyai jiwa yang tegar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa.

Oleh sebab itu, untuk masalah ini Alquran datang dengan konsep kesabaran. Melalui kesabaran, Alquran mengajak manusia untuk menyadari bahwa mati, jodoh dan lainnya ada di tangan Allah SWT.

Dengan kesabaran, Alquran mengajak umat Islam untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 155-156, Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

3. Pemantapan Dzikir

Dzikir atau dzikrullah merupakan cara yang paling esensial untuk menyembuhkan lemah iman. Ini juga merupakan upaya untuk membersihkan hati dan mengobatinya tatkala manusia sakit serta merupakan ruh amal yang shalih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Anfal ayat 4, yang berbunyi:

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ  لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

4. Memperbanyak membaca Alquran

Stres juga termasuk penyakit lemah iman. Maka, hal yang selanjutnya dilakukan untuk mengobati depresi adalah banyak membaca ayat Alquran. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus ayat 57 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”


Referensi sebagai berikut ini ;