This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 20 Juli 2022

Langkah-langkah & Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah Menurut Islam

Langkah Bertaubat dari Dosa Ghibah Menurut Islam. اتدرون ما الغيبه؟ قالوا: الله ورسوله أعلم .قال:الْغِيبَة ذِكْرك أَخَاك بِمَا يَكْرَه قِيلَ : أَفَرَأَيْت إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُول فَقَدْ اِغْتَبْته ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتّه

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”

Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”

Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim 2589)

Ghibah dalam Islam merupakan salah satu dosa yang tak terampuni sehingga perlu banyak cara untuk benar-benar mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Berikut adalah 13 cara bertobat dari dosa ghibah:

1. Meminta maaf pada orang yang dighibahi

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449)

Namun beberapa ulama  memandang bahwa hal ini hanya dilakukan pada kondisi tertentu dimana ghibah telah tersebar, Jika ghibah belum tersebar, maka sebaiknya tidak perlu meminta maaf karena akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah, seperti pemutusan hubungan silaturahmi.

2. Memohon ampunan untuk orang yang dighibahi

Beberapa ulama sepakat bahwa untuk mendapatkan ampunan atas dosa ghibah, maka dilakukan dengan memohonkan ampun atas dosa orang yang dighibah kepada Allah SWT. Sebagaimana perkataan AL-Hasan Al-Basri,

كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته

“Kafarah ghibah adalah memintakan ampun untuk yang dighibahi.” (AL-Majmu’ Al-Fatawa 3/291, Darul Wafa’, Syamilah)

3. Menyebutkan kebaikan yang dighibahi di tempat terjadinya ghibah

Salah satu cara bertobat dari ghibah adalah menyebutkan segala kebaikan yang ada padanya. Jika dulu yang disebutkan adalah keburukannya, maka gantilah dengan menyebutkan banyak keba

ikannya. Sebagaimana Fatwa syaikh bin Baz, beliau berkata:

تذكرين بالخير الذي تعرفين منه بدلاً من السوء الذي ذكرتي

“Engkau sebutkan kebaikan-kebaikan yang engkau ketahui mengenai dirinya sebagai ganti kejelekan yang telah engkau sebutkan.”

4. Taubat nasuha

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ

Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat. (HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391)

5. Perbanyak zikir

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“[al-Ahzâb/33:35]

Rasulullah bersabda,

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لاَ يَذْكُرُ الله فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ

Barangsiapa duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allâh di dalamnya, pastilah dia mendapatkan kerugian dari Allâh, dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berdzikir kepada Allâh, pastilah mendapatkan kerugian dari Allâh. (Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 4856); Shahîh Abi Dâwud (III/920, no. 4065) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu)

6. Perbanyak sedekah

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88)

7. Silaturahmi

Dari Al-Barra  berkata, bersabda Rasulullah saw “ Tidak bertemu dua orang muslim lalu bersalaman, maka pasati diampuni dosa keduanya, sebelum keduanya berpisah.”( HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi ).

Dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Pintu-pintu surga dibukakan tiap Senin dan Kamis, Allah mengampuni dosa-dosa hamba selama tidak musyrik. Kecuali orang yang antara dia dengan saudaranya  ada kebencian, maka diintruksikan : Tangguhkanlah kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai, tangguhkanlah kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai. “ (HR. Muslim).

8. Perbanyak puasa sunnah

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151).

9. Perbanyak shalat sunnah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” [Huud/11: 114]

10. Selalu menjaga wudhu

Dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

11. Perbanyak membaca Al-quran

Rasulullah bersabda, “Al Qur’an adalah kitabullah yang berisi sejarah umat sebelum kamu, berita umat sesudahmu, kitab yang memutuskan urusan-urusan diantara kamu, yang nilainya bersifat pasti dan absolut. Siapa saja orang durhaka yg meninggalkannya pasti Allah akan memusuhinya. Siapa yg mencari petunjuk selain Al Qur’an, pasti akan tersesat. Al Qur’an adalah tali Allah yg sangat kuat, peringatan yg bijaksana dan jalan yang lurus” (HR Tirmidzi)

12. Bersahabat dengan orang shaleh

Cara menghindari ghibah setelah bertaubat adalah dengan memperbaiki pergaulan dalam Islam. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;

لَا تَصْحَب إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

Janganlah bersahabat kecuali kepada seorang mukmin. Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa. [HR. Bukhari].

13. Perbanyak istighfar

Ada sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu anha berkata : Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melakukan shalat dhuha, kemudian dia membaca

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أََنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمِ

ya Allah, Ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tasubat dan Maha pengasih”. Beliau membacanya hingga seratus kali. [HR. Bukhari dan di shahihkan oleh al Albani dalam adabul mufrad no. 482].

Itulah cara melakukan taubat dari dosa ghibah. Sungguh ghibah sangat buruk akibatnya, maka dari itu kita harus berhati-hati dalam berkata. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Referensi sebagai berikut ini ;











Cara Bertaubat yang Benar Sesuai dengan Kaidah dan Ajaran Islam

Cara Bertaubat yang Benar Sesuai dengan Kaidah dan Ajaran Islam. Secara bahasa, kata taubat berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali dari maksiat kepada taat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata taubat diartikan sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan. Secara istilah menurut Imam Nawawi, taubat adalah tindakan yang wajib dilakukan atas setiap dosa.

Taubat berakar dari kata taba. Searti dengan kata taba adalah anaba dan aba. Orang yang taubat karena takut azabAllah disebut ta‟ib (isim fa‟il dari anaba), dan bila karena mengagungkan Allah SWT disebut awwab.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya'ulumuddin, taubat merupakan istilah yang tergabung dari tiga variabel, yaitu ilmu, keadaan dan amal. Ilmu akan menghasilkan keadaan dan keadaan akan menghasilkan amal. Semuannya merupakan sunnatullah yang tidak bisa diubah.

Subtansi taubat adalah kembali kepada Allah dengan melaksanakan apa yang dicintainya dan meninggalkan apa yang dibencinya. Oleh karena itu Allah menggantungkan keberuntungan yang mutlak kepada pelaksanaan perintah dan meninggalkan laranganNya.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai taubat disertai dengan cara bertaubat yang baik dan benar sesuai dengan kaidah dan ajaran yang terdapat dalam agama Islam.

Mengenal Istilah Taubat

Terdapat beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk menyebutkan pengampunan (pembebasan dosa), dan upaya menjalin hubungan serasi antara manusia dengan tuhannya, antara lain taba (taubat), ‟afa (memaafkan), ghafara (mengampuni), kaffara (menutupi) ,dan shafah. Masing–masing istilah digunakan untuk tujuan tertentu dan memberikan maksud yang berbeda.

a. Taubat secara langsung

Dosa bisa dibagi menjadi dua bagian, dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan dosa yang berkaitan dengan hak hamba. Dosa yang berkaitan dengan Allah, maka syarat taubatnya adalah (1) mencabut perbuatan (akar) maksiat yang telah dilakukan. (2) menyesali perbuatan yang telah dilakukan itu. (3) berpegang teguh pada niat (azam) bahwa tidak akan kembali lagi melakukan perbuatan dosa itu.

b. Taubat tidak langsung

Taubat dalam hubungannya dengan manusia termasuk taubat yang tidak langsung, maka syarat taubatnya di samping tiga syarat sebagaimana telah dikemukan di atas, maka ditambah syarat keempat yaitu: tindak penyelesaian terhadap orang yang bersangkutan.

Macam-Macam Taubat

Berikut adalah macam-macam taubat yang harus Anda ketahui;

Taubat yang wajib adalah taubat dari meninggalkan perintah atau meninggalkan larangan. Taubat jenis ini wajib dilaksanakan bagi semua orang mukallaf sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya, dan yang melalui lidah para utusanNya.

2. Dianjurkan (Sunnah)

Taubat yang dianjurkan adalah taubat yang dilakukan karena meninggalkan perkara-perkara yang dianjurkan (sunah) atau mengerjakan perkara-perkara yang tidak disenangi (makruh).

Barang siapa yang melakukan taubat jenis pertama, maka ia termasuk diantara orang-orang yang baik. Dan barang siapa yang melakukan taubat jenis yang kedua maka ia merupakan bagian dari orang-orang yang paling dulu masuk surga lagi didekatkan (kepada Allah).

Dan barang siapa yang tidak mengerjakan taubat jenis pertama, maka ia termasuk orang-orang yang dzalim, adakalanya ia termasuk orang-orang kafir, dan adakalanya ia termasuk orang-orang fasik (pendosa).

Allah SWT Berfirman:  “…dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan alangkah sengsaranya golongan kiri .dan orangorang yang paling dahulu masuk surga adalah orang – orang yang didekatkan kepada Allah berada dalam surge kenikmatan,” (Al- Waqi‟ah:7-11).

Sementara itu, Imam Al Ghazali membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu (Ensiklopedi Islam, 2000: 135):

Taubat yaitu kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan.

Firar yaitu lari dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari yang baik kepada yang lebih baik lagi. Inabat, yaitu bertaubat berulangkali meskipun tidak berdosa. Syarat-Syarat Bertaubat

Taubat adalah tindakan yang wajib dilakukan atas setiap dosa. Jika pelanggaran itu berkaitan antara seorang hamba dengan Allah Ta'ala dan tidak berkaitan dengan hakhak orang lain.

Maka syarat-syarat yang harus dipenuhi agar cara bertaubat menjadi diterima adalah;

  • Hendaknya ia harus menghentikan perbuatan maksiat itu.
  • Harus menyesali karena pernah melakukannya.
  • Bertekad tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya.
  • Menyelesaikan urusan dengan orang yang berhak dengan minta maaf atas kesalahannya atau mengembalikan apa yang harus dikembalikannya.

Cara Bertaubat

Terdapat empat cara bertaubat yang dapat dilakukan, yaitu;

  • Memohon ampunan dengan lidah
  • Berhenti dari dosa itu dengan badan
  • Berjanji dengan diri sendiri tidak akan mengulangi lagi
  • Menjauhkan diri dari teman-teman yang hanya akan membawa terperosok kepada yang buruk saja.

Orang yang berdosa, wajib berusaha memperbaiki diri dan berjuang menghilangkan dosanya dengan cara bertaubat. Orang yang membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa, adalah tanda orang itu buruk akhlaqnya.

Agama Islam mengajarkan bahwa dosa dapat dihilangkan dengan dua jalan yang harus dikerjakan semuanya, yaitu:

  1. Dengan cara bertaubat kepada Allah, yaitu dengan berusaha secara khusus untuk menghilangkan sesuatu dosa.
  2. Dengan cara beribadah kepada Allah seperti shalat, puasa dan amal-amal baik lainnya, sebab salah satu diantara fungsi ibadah dalam Islam ialah menghapuskan dosa.

Tata Cara Bertaubat

Salah satu cara bertaubat kepada Allah SWT yang dilakukan adalah dengan shalat sunnah Taubat. Shalat ini dilaksanakan setelah seseorang melakukan perbuatan dosa atau merasa pernah melakukan perbuatan dosa.Shalat taubat dapat dilakukan kapan saja sesuai dengan keinginan dan kemampuan. Shalat dapat dilakukan 2, 4 sampai 6 rakaat. Setiap dua rakaat, satu kali salam. Tata cara bertaubat:

  1. Berwudhu dengan sempurna.
  2. Berniat melakukan shalat taubat pada saat takbir dengan membaca "Ushalli Sunnatat Taubata Rakataini Lillahi Taala" yang artinya: Saya niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah.
  3. Membaca suart Al-Fatihah disertai surat pendek yang dihafal.
  4. Rukuk (membaca tasbih rukuk tiga kali).
  5. Itidal (membaca doa Itidal).
  6. Sujud (membaca tasbih sujud tiga kali).
  7. Duduk di antara dua sujud (membaca doa robbighfirlii warhamnii)
  8. Sujud kedua. (membaca tasbih sujud tiga kali).
  9. Bangun melanjutkan rakaat kedua seperti urutan di atas sampai yang ke 10.
  10. Tasyahud akhir (membaca tasyahud akhir).
  11. Salam.
  12. Setelah selesai shalat, perbanyak membaca istighfar.
  13. Setelah itu, berdoa memohon pengampunan
Referensi sebagai berikut ini ;









8 Cara Membentuk Akhlak yang Baik

akhlak sama seperti budi pekerti, sopan santun, moralitas, atau etika (Firdaus). Sedangkan menurut istilah, akhlak merupakan sistem nilai yang digunakan untuk mengatur pola perilaku dan sikap manusia di dunia. Ruang lingkup akhlak terdiri dari akhlak terhadap Allah, akhlak sesama manusia, dan akhlak pada lingkungan. Ketiga akhlak ini harus ditanamkan dalam jiwa yang menjadi kepribadian individu sehingga bisa diimplementasikan pada sikap dan perilaku di kehidupan sehari-hari tanpa dibuat-buat.

Dengan demikian, pembelajaran mengenai akhlak ini harus ditanamkan sejak dini dan terus dilanjutkan selama hidup. Berikut adalah cara untuk membentuk akhlak yang baik:

1. Memberi teladan yang selalu dilakukan

Dalam ilmu Psikologi, ada salah satu cara pembentukan perilaku dengan cara modelling. Modelling ini dilakukan dengan memberikan contoh secara terus-menerus agar individu dapat belajar, lalu menerapkannya sendiri. Sama halnya dengan memberi teladan yang lama-kelamaan dapat membentuk akhlak yang baik. Cara ini sangat efektif untuk diterapkan pada anak usia dini yang masih sangat mudah dibentuk perilakunya.

2. Menggunakan nilai dan budaya yang baik

Setiap keluarga pasti memiliki nilai dan budaya yang berbeda. Hal ini dapat mempengaruhi baik buruknya akhlak individu sebab keluarga adalah kelompok pertama yang ditemui ketika lahir ke dunia dan seharusnya dapat menjadi tempat yang aman untuk tumbuh kembang. 

3. Rajin berbuat kebaikan

Berusaha konsisten dalam berbuat kebaikan dapat menumbuhkan akhlak yang baik pula. Tidak harus dengan uang atau barang, berbuat baik juga dapat berbentuk bantuan, saran, rekomendasi, empati, bahkan hanya dengan tersenyum juga bisa bernilai kebaikan.

4. Membiasakan menerapkan akhlak yang baik

Untuk memiliki akhlak yang baik, tidak bisa hanya dengan melakukannya di waktu atau tempat tertentu saja. Akhlak ditunjukkan dalam bentuk keseluruhan sikap dan perilaku individu. Pembiasaan secara berkelanjutan akan semakin meningkatkan akhlak yang baik.

5. Bergaul dengan orang yang berakhlak baik

Lingkungan adalah faktor yang bisa berpengaruh besar bagi akhlak individu. Apabila individu terus berbaur dengan orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, sering melakukan kegiatan yang positif, mengingatkan ketika ada yang salah, dapat membawanya untuk ikut memiliki akhlak yang baik, begitu pula sebaliknya. 

6. Mendengarkan nasihat

Sebagai manusia, wajar jika kita pernah berbuat salah atau dosa. Oleh karena itu, kita butuh orang lain yang dapat memberikan pengingat agar dapat kembali ke jalan yang benar. Ketika ada orang yang memberi nasihat atau kritik yang membangun, kita juga harus bisa menerima dan mengaplikasikannya dengan ikhlas sebab mau memperbaiki diri adalah tanda akhlak individu sudah baik.

7. Menanamkan rasa takut kepada Tuhan

Tuhan telah memerintahkan umat-Nya untuk tidak melakukan larangan yang sudah ditetapkan. Larangan yang ada juga tidak semata-mata dibuat untuk mempersulit dan justru larangan tersebut dapat membantu manusia untuk terhindar dari hal yang negatif. Menghindari perbuatan tercela karena takut terhadap Tuhan menunjukkan individu ingin memiliki akhlak yang baik sebab mau berusaha menaati perintah-Nya.

8. Memberikan penilaian terhadap perilaku

Penilaian di sini dapat bersifat positif maupun negatif tergantung sikap dan perilaku apa yang dilakukan oleh individu. Jika individu memiliki sikap terpuji, berperilaku yang baik, suka menolong, berikanlah apresiasi atau pujian agar akhlak tersebut terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Namun, jika individu melakukan sebaliknya, berikanlah nasihat, peringatan, atau balasan yang dapat membuat jera.

Akhlak adalah komponen penting yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi, manusia harusnya hidup dengan akhlak yang baik sehingga diperlukan niat dan motivasi yang kuat untuk terus belajar agar terhindar dari sikap dan perilaku yang menunjukkan akhlak tercela.


Referensi sebagai berikut ini ;











Cara Meningkatkan Akhlak Terpuji

Akhlak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:7) diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam bahasa Arab, akhlak juga bisa berarti perangai, kebiasaan, tabiat atau bahkan agama. Sementara dalam kamus Alkautsat, akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama. Jika dirumuskan, akhlak memiliki pengertian yaitu  ilmu yang membahas mengenai perbuatan yang dilakukan oleh manusia, baik terhadap sesama manusia serta pada Tuhannya. Selain itu, akhlak juga dapat diartikan sebagai perbuatan baik yang harus dikerjakan dan menghindari perbuatan buruk.

Pentingnya akhlak dalam islam 

Meski berasal dari bahasa Arab namun akhlak tidak banyak ditemukan dalam Alqur’an melainkan banyak dijumpai dalam hadits. Menurut Al-Ghazali hakikat akhlak mencakup 2 syarat yakni perbuatan itu harus konstan yaitu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga dapat menjadi kebiasaan. Kedua, perbuatan itu harus tumbuh dengan mudah tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan, paksaan dari orang lain atau bahkan pengaruh-pengaruh dan bujukan yang indah dan sebagainya.

Akhlak yang terpuji merupakan tindakan atau perbuatan yang bagus. Sementara akhlak yang jelek merupakan segala jenis tindakan yang jelek dan merugikan. Bukan hanya bagi diri sendiri melainkan juga bagi orang lain. Akhlak terpuji merupakan akhlak Islami yang tidak hanya membawa kebaikan namun juga memberi keuntungan bagi orang lain. Lantas bagaimanakah cara meningkatkan akhlak supaya lebih baik dan berguna untuk sesama?

Ada beberapa hal cara meningkatkan akhlak :

1. Berbaik sangka

Berbaik sangka dapat dilakukan dengan cara berprasangka baik pada diri sendiri serta pada orang lain. Mereka yang dalam keadaan putus asa, umumnya cenderung, berburuk sangka pada sang pencipta. Hal ini merupakan tindakan yang harus dihindari. Bersikap optimis dan tidak lantas berputus asa merupakan cara kita dalam berbaik sangka kepada pencipta. Segala sesuatu yang telah Allah tentukan adalah jalan terbaik bagi kita. Tugas kita hanyalah bersabar dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi sehingga target yang ingin kita capai bisa segera didapatkan.

Tanamkan pada diri untuk selalu percaya jika kegagalan yang anda alami hari ini, mengandung hikmah yang dapat kita ambil pelajaran darinya. Allah selalu memiliki maksud tersendiri saat memberikan cobaan bagi para umatnya. Jangan lantas bersedih saat gagal meraih cita-cita dan jangan lantas berburuk sangka jika Allah tidak sayang pada hambanya ketika anda berada dalam keterpurukan. Dalam keadaan apapun, kita sebaiknya senantiasa melontarkan kalimat syukur atas kebesaran Allah yang maha kuasa.

Seperti yang tertulis dalam QS. Al-Jatsiyah/45:12-13 yakni  “Allah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di Bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.

Dari ayat di atas, terkandung pengertian bahwa Allah telah memberi banyak kebaikan pada manusia. Hanya saja mereka kurang bisa menyadari dan bersyukur aats apa yang telah dimiliki.

2. Bertaubat

Setiap manusia tentu pernah yang namanya berbuat salah. Bahkan mereka yang dicap sebagai orang baik pun, tentu tidak luput dari yang namanya dosa. Dosa yang dibiarkan berlarut-larut  dan terus menerus dilakukan merupakan hal yang buruk dan harus dijauhi. Dalam hal ini, segera bertaubat merupakan langkah baik bagi anda untuk memperbaiki kesalahan yang telah anda lakukan. Taubat merupakan kembalinya manusia dari berbuat buruk ke arah yang lebih baik dengan cara menata sifat serta kelakuannya supaya kembali bersih.

Dengan sifat serta kelakuan yang baik melalui jalan bertaubat, maka akhlak kita akan semakin meningkat. Bagi mereka yang bertaubat dengan bersungguh-sungguh, Allah akan memaafkan kesalahan yang telah diperbuatnya. Kejelasan dari kata taubat juga disinggung dalam salah satu ayat Al Qur’an yakni pada QS. Ali- Imran/ 3:135) “ dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak mengharuskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.

Ayat mengenai taubat memang banyak disinggung dalam Al Qur’an bahkan ada satu surat yang membahas makna pertaubatan manusia yakni surat At Taubah.

3. Taati syariat agama

Menaati syariat agama merupakan salah satu cara kita dalam meningkatkan kualitas akhlak kita menuju ke arah yang lebih baik. Menaati syariat dapat dilakukan dengan cara membiasakan diri melakukan hal yang baik dan bermanfaat. Bermanfaat dalam hal ini, tentu bermanfaat bagi diri sendiri serta bagi orang lain. Jauhi hal-hal yang buruk dan bertentangan dengan aturan. Hasil dari mengikuti syariat supaya akhlak semakin terpuji adalah kehidupan yang menjadi lebih tenang, terbentuknya sikap dan perilaku yang positif serta bebas dari yang namanya permusuhan.

4. Berlaku baik dengan sesama

Bagi seorang remaja, akhlak terpuji dapat dilakukan dengan cara menunjukkannya pada kehidupan pergaulan mereka. Seperti perilaku yang berikut ini:

  • Tunjukkan jika anda memiliki solidaritas yang tinggi antar sesama
  • Jaga kerukunan serta kebersamaan antar teman
  • Saling tolong dan tidak pandang bulu terhadap siapa saja yang tengah membutuhkan pertolongan
  • Saling menghargai antar sesama teman
  • Memiliki jiwa kepahlawanan dengan cara menonjolkan sikap keberanian serta mau berkorban untuk kebaikan

5. Adil

Sikap adil merupakan cermin akhlak yang baik. Dalam istilah, adil memiliki pengertian yakni suatu sikap yang tidak memihak atau sama rata. Dalam hal ini, seseorang tidak boleh memihak salah satu pihak saja dan membiarkan pihak lainnya, tidak mengurangi ataupun menambah bagi yang lain dan tidak boleh pilih kasih. (baca : keutamaan adil terhadap diri sendiri)

6. Benahi cara berpakaian sesuai dengan syariat agama

Terutama bagi kaum hawa, Islam memiliki aturan tersendiri dalam adab berpakaian. Berpakaian memiliki pengertian yaitu barang apa saja yang digunakan oleh seseorang mulai dari kerudung, jaket, celana, rok, serta baju yang dikenakannya. Pakaian seseorang dapat menentukan kualitas diri seseorang. Semakin baik pakaian seseorang, maka cerminan sikap baik pula yang tampak. Sebaliknya, semakin buruk cara berpakaian seseorang maka orang tersebut akan dicap sebagai orang yang kurang bersopan santun.

Dalam agama Islam, adab berpakaian lebih ke keperluan menutup aurat. Dalam hal ini cara berpakaian akan dikenakan ketentuan hukum. Dalam islam, adab berpakaian juga memiliki nilai ibadah. Tidak hanya itu, kepentingan menutup aurat juga mampu menghindarkan seseorang dari bahaya asusila, melindungi tubuh dari sengatan matahari serta sebagai identitas.

7. Ingat sejarah hidup Rasullulah

Meningkatkan akhlak bisa dilakukan dengan cara mencontoh apa-apa saja yang dilakukan oleh Rasullulah semasa hidupnya. Mencontoh banyak perilaku Rasullulah dapat meningkatkan kualitas diri anda terutama dalam hal akhlak. Kehidupan Rasullulah merupakan contoh tauladan yang baik sehingga dapat membuat anda senantiasa berperilaku baik dengan tidak merugikan orang lain. Melainkan sebaliknya, anda akan lebih banyak memberi manfaat dan menguntungkan bagi sesama.

Kehidupan Rasullulah dipenuhi dengan akhlak yang mulia dengan tingkat kesabaran luar biasa. Beliau juga merupakan sebaik-baiknya contoh dalam berakhlak.

8. Bergaul dengan mereka yang berakhlak baik

Cara meningkatkan akhlak yang paling mujarab adalah dengan cara bergaul dengan mereka yang berakhlak baik. Hal ini dapat membuat anda yang tadinya masih memiliki sifat kurang terpuji, dapat dengan sendirinya terbawa sifat baik teman-teman anda sehingga anda, mampu membangun karakter diri yang berkualitas. Berteman dengan teman yang berakhlak baik, mampu menjauhkan kita dari teman yang gemar berbuat maksiat, yang dapat meracuni akal dan tindakan kita menuju ke arah keburukan.

9. Terima nasihat

Cara lainnya untuk meningkatkan akhlak diri adalah dengan cara menerima nasihat. Tidak semua nasihat didengarkan, melainkan hanya nasihat yang baik dan bersifat membangun saja. Dalam hal ini tentu anda harus lebih berlapang dada dalam menerima nasihat orang lain. Ada saatnya ketika kita tidak sadar dengan kekurangan maupun sikap buruk kita sendiri. Sehingga membutuhkan orang lain untuk membantu membenahinya. Perlunya sikap berlapang dada, merupakan hal yang baik dengan tujuan memperbaiki sekaligus untuk meningkatkan akhlak kita sehari-hari.

10. Bertamu dengan sopan

Bertamu memiliki pengertian berkunjung ke rumah orang lain, entah rumah teman, sahabat atau bahkan kerabat untuk suatu tujuan atau maksud tertentu. Bertamu memiliki banyak manfaat terlebih untuk menjalin suatu silaturahmi. Dalam bertamu tunjukkan sikap yang baik dan tidak membuat pemilik rumah merasa kurang nyaman atas kedatangan dan perilaku anda. Meski teman dekat sekalipun, namun adab bertamu juga harus terjaga.

Meningkatkan akhlak merupakan hal yang harus dilakukan terutama jika sebelumnya anda melakukan banyak kesalahan ataupun perilaku buruk yang dapat merugikan. Meningkatkan akhlak baik tentu harus dilakukan dengan niat yang tulus dan tinggi. Tanpa adanya niat, maka kemungkinan anda berbuat buruk dapat berulang kembali. Dalam hal ini, anda perlu bertaubat dengan sebaik-baiknya dengan tidak mengulangi hal buruk yang telah anda lakukan. Melakukan akhlak baik juga harus dilakukan sebagai suatu kebiasaan.

Referensi sebagai berikut ini ;








Mengubah Akhlak Jelek Menjadi Akhlak Baik

Akhlaq yang mulia bisa dimiliki apabila seseorang berusaha keras memperbaiki serta membiasakan diri agar memperolehnya. Allah Swt berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabuut: 69)

Akhlaq yang mulia bisa diperoleh dengan usaha-usaha sebagai berikut:

Pertama: Hendaknya seseorang senantiasa memperhatikan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang berkaitan dengan keutamaan akhlaq yang terpuji.

Seperti firman Allah Swt  :

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ

“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali Imran: 17)

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al Furqan: 63)

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Al Furqan: 72)

Demikian juga dia melihat apa yang datang dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. (Muttafaqun ‘alaihi).

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya, di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat dengan majelisku di hari kiamat nanti adalah orang yang terbaik akhlaknya di antara kalian. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Dengan memperhatikan dalil-dalil seperti ini maka seseorang akan terpacu untuk berakhlaq mulia.

Kedua: Berteman dengan orang-orang shalih yang berakhlaq mulia, yang dikenal dengan ilmu dan amanahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا مَثلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ ، كَحَامِلِ المِسْكِ ، وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إمَّا أنْ يُحْذِيَكَ ، وَإمَّا أنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحاً طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الكِيرِ: إمَّا أنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحاً مُنْتِنَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, Adapun penjual minyak wangi maka mungkin saja dia menghadiahimu minyak wangi, atau engkau dapat membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau dapati aroma yang harum darinya. Adapun si pandai besi, mungkin saja dia membakar bajumu, atau setidaknya engkau akan mencium aroma tak sedap dari dirinya.” (HR. Al Bukhari)

Maka hendaknya seseorang yang ingin untuk memiliki akhlaq yang mulia berteman dengan orang yang dikenal berakhlak baik yang dapat menolong memperbaiki akhlaqnya dan menjauh dari teman yang berakhlak jelek dan sering melakukan perbuatan yang hina.

Ketiga: Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang buruk, karena akhlak yang buruk dibenci, dan buruk akhlak itu dijauhi, dan buruk akhlak itu disifati dengan sifat yang jelek.

Allah berfirman,

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (٢٢١)تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٢٢٢)يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (٢٢٣)

“Maukah aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap affak (pendusta) lagi atsim (yang banyak dosa), Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy Syu’ara: 221-223)

Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al Bukhari)

Keempat: Hendaknya dia senantiasa menghadirkan dalam benaknya gambaran akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Allah ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam: 4)

Kelima : Senantiasa berdoa, meminta kepada Allah agar dianugerahi akhlaq yang mulia

Beberapa doa yang warid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam di antaranya adalah sebagai berikut,

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

“Ya Allah Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

اَللَّهُمَّ أَهْدِنِيْ ِلأَحْسَنِ اْلأَعْمَالِ ، وَأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ ، لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ ، وَقِنِي سَيِّئِ اْلأَعْمَالِ ، وَسَيِّئِ اْلأَخْلاَقِ ، لاَ يَقِي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah berilah petunjuk kepadaku untuk berbuat sebaik-baik amalan, sebaik-baik akhlak, tidak ada yang bisa menunjuki untuk berbuat sebaik-baiknya kecuali Engkau. Dan lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak, dan tidak ada yang melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa’i)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأّخْلاَقِ وَاْلأَعْمَالِ وَاْلأَهْوَاءِ وَاْلأَدْوَاءِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, amalan-amalan, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit.” (HR. AtTirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Pertanyaan: 

Wahai Syaikh saya adalah seorang pemuda yang memiliki akhlak yang jelek, baik dalam pergaulan, atau berbicara, padahal saya selalu berusaha memperbaikinya, dalam keadaan saya walillaahilhamd komitmen menunaikan ibadah shalat wajib tepat pada waktunya, Ibadah shalat Sunnah, dan membaca Al-Quran, apakah perkara ini ada obatnya? mohon bimbingannya, Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Yang nampak, obat dari perkara ini adalah mudah, selama penanya berada di atas sifat yang telah disebutkan.

Mengubah Akhlak Jelek Menjadi Akhlak Baik. Sesungguhnya yang semestinya baginya,apabila dia dalam keadaan marah adalah menahan amarah tersebut dan memendamnya, berdasarkan hadits.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.(HR. al-Bukhari)

Maka hendaklah dia memperbaiki dirinya dengan menenangkan urat-  urat syarafnya , apabila marah memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk,

Kemudian apabila dia marah dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk, jika dalam keadaan duduk, maka hendaklah berbaring. Tidak mengharuskan dalam hal ini membaik secara langsung dan keadaannya tiba-tiba berubah baik,

Terkadang yang demikian itu, setelah perbaikan dalam waktu yang lama, akan tetapi jangan sampai tidak ada (upaya)untuk perbaikan.

Kemudian yang wajib atasnya adalah menghadap kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya, agar dijaga dari akhlak yang tercela ini,

Allah subhanahu wata'aala akan menolong hamba-hamba-Nya yang jujur dalam menghadapkan urusan kepadaNya serta merasa butuh kepadaNya.

Referensi sebagai berikut ini ;












Mendidik Agar Berakhlak Mulia

Sikap adil, jujur, kasih sayang dan menghormati kepada sesama, ikhlas, dermawan, dan semacamnya seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Manakala dalam kehidupan ini sifat tersebut ada pada setiap orang, maka kehidupan ini akan damai, tenteram, dan bahagia. Kehidupan yang diwarnai oleh permusuhan, konflik, saling menjatuhkan, hasut menghasut, fitman memfitnah, dan semacamnya adalah bersumber dari sikap terpuji tersebut belum dimiliki oleh banyak orang.

Siapapun akan berpandangan sama, bahwa nilai-pnilai mulia tersebut memang penting diberikan atau dididikkan dari generasi ke generasi berikutnya. Berbagai sikap mulia tersebut tidak akan dimiliki begitu saja tanpa melewatik proses pendidikan. Kejujuran, keadilan, kedermawanan, dan semacamnya harus ditanamkan dan dididikkan dari waktu ke waktu. Namun pertanyaannya adalah bagaimana menanamkan sikap mulia itu.

Orang yang tidak jujur tentu tidak akan mampu menanamkan kejujuran kepada siapapun. Orang yang sehari-hari bermusuhan, konflik, menjatuhkan orang lain, maka tidak akan dapat menanamkan kedamaian, kasih sayang, toleransi kepada siapapun. Akhlak mulia akan lahir dari orang atau sekelompok orang yang berakhlak mulia, dan demkikian pula sebaliknya.

Selain itu, pendidikan akhlak tidak cukup dilakukan dengan cara menjelaskan tentang pentingnya akhlak mulia. Banyak orang mengetahui tentang pentingnya disiplin, menghargai orang lain, jujur, adil, dan lain-lain tetapi pada kenyataannya orang yang mengetahui dan memahami nilai-nilai mulia tersebut tidak selalu mampu menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seringkali terdapat jarak antara pengetahuan seseorang dan perilaku mereka sehari-hari. Seseorang mengetahui tentang kebaikan tetapi belum tentu mampu menjalankannya sendiri. Seseorang mengetahui bahwa berbohong, berkhianat, korupsi, dan semacamnya adalah perbuatan buruk, tetapi pada kenyataannya tidak semua orang yang mengetahuinya mampu meninggalkan perbuatan tercela itu. Itulah sebabnya, problem pendidikan akhlak adalah mendapatkan guru atau tauladan yang dapat dicontoh. Selain itu yang diperlukan adalah pendekatan pendidikan yang seharusnya dilakukan untuk menanamkan akhlak mulia itu.

Masalah  mendasar tentang pendidikan akhlak adalah, orang yang mendidik harus terlebih dahulu menjalankannya. Sementara itu, mencari orang yang mampu menjalankan nilai-nilai mulia tersebut bukan perkara mudah. Mendidik orang agar menjadi petani, pedagang, peternak, nelayan, penulis sukses, dan lain-lain, sekalipun tidak mudah, masih bisa dilakukan. Akan tetapi menjadi sulit ketika harus memberi contoh tentang keikhlasan, kejujuran, kesabaran, kedermawanan, kebersamaan, dan sejenisnya itu.

Oleh karena itu, sebenarnya bukan menganggap bahwa pendidikan akhlak tidak perlu, akan tetapi yang menjadi problem adalah mendapatkan guru dan cara-cara menanamkan akhlak mulia itu sendiri. Sebab, tidak mungkin orang yang tidak menyandang akhlak mulia berhasil mengajarkan perilaku terpuji. Pendidikan adalah proses pembiasaan dan ketauladanan, sementara itu mencari contoh dan atau tauladan itulah yang hingga saat ini yang belum ditemukan cara yang tepat dan apalagi nyata-nyata berhasil.


Referensi sebagai berikut ini ;






Melatih Diri Memperbaiki Ahkhak Yang Baik

Sifat dan tingkah laku seorang manusia berupa moral, etika, dan akhlak merupakan sesuatu yang dinamis. Sebagian sifat yang baik sebagai akhlak terpuji adalah sifat bawaan sejak lahir dan sebagiannya lagi diperoleh dengan jalan dilatih dan diusahakan dengan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, seseorang yang memiliki akhlak kurang terpuji bisa diubah dan diperbaiki, karena jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Karenanya, ia selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan. Karena akhlak ini bisa diubah, sehingga salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus juga dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang sangat rusak di masa jahiliyah sehingga mereka bisa memiliki akhlak terpuji.

Manusia lahir dengan membawa sifat-sifat tertentu‎. Ada akhlak bawaan, baik terpuji maupun tercela. Akhlak bisa diubah dari buruk ke baik, atau juga sebaliknya berubah dari baik ke buruk, tergantung bagaimana kita memperbaiki akhlak dan menjaganya, dengan latihan dan kebiasaan.

Supaya perbaikan akhlak ini harus dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan pada sikap dan perilaku konstruktif. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui metode berbalik atau berubah dari sifat bawaan yang sudah ada. Misalnya, ada orang memiliki sifat cepat marah dan emosi tapi sulit memaafkan dengan memelihara dendam, memiliki sifat pelit dan sulit berinfak dan sedekah serta berat menolong orang, memiliki sifat angkuh, egois, iri, dengki dan suka menghasut, tidak senang pada kelebihan orang, mudah berkata bohong, senang ghibah, namimah, dan lainya. ‎ "Sifat-sifat seperti ini yang lalu menjadi akhlak buruk sehari-hari, bisa berubah dengan jalan memperbaiki diri, misalnya dari bakhil berganti dengan dermawan, sombong dengan rendah hati, ‎iri dengki dengan qanaah. Proses pembiasaan ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara instan tapi membutuhkan waktu, perjuangan, dan kesabaran yang tinggi dengan terus membiasakan diri mengikuti kajian-kajian keagamaan dan lingkungan yang baik.

Manusia yang memiliki akal dan pikiran, binatang buas saja seperti Harimau dapat berubah sifat-sifatnya‎ yang ganas ketika dilatih dengan baik. ‎"Binatang yang memiliki karakter liar, ganas dan buas namun setelah dilatih berubah menjadi jinak.‎ Lihatlah sirkus dimana Singa, Harimau atau gajah liar dapat berubah menjadi jinak. Dengan apa mereka berubah? Tentu saja dengan latihan.‎ Begitu juga akhlak dapat berubah walaupun hal ini memerlukan perjuangan yang berat karena mengubah kebiasaan itu berat.

Ada istilah tabiat dan kebiasaan, sebagaimana ada sebuah perkataan, 'Seseorang itu tumbuh besar menurut kebiasaan yang dibiasakan orangtuanya'.‎ Dalam hal ini pengaruh lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap perilaku dan tabiat seseorang. ‎ Lihatlah orang-orang yang tumbuh di tengah-tengah keluarga yang tidak memperhatikan akhlak. Mereka sangat jauh dari akhlak mulia. ‎ ‎ Ketika diingatkan untuk memperbaiki akhlak, maka orang yang serta merta dia menjawab, 'Memang sudah seperti ‎inilah karakter/tabiatku sejak ayah dan kakek buyutku, tidak bisa berubah, mau bagaimana lagi?' Dengan kata lain dia merasa sudah tidak berpeluang lagi untuk mengubah karakternya.  ‎ "Dengan jawaban tersebut dia seolah-olah berkata, akhlak adalah sesuatu yang baku dan memiliki harga mati yang tidak bisa diubah lagi. ‎Selain itu dia menjadikan jawaban tersebut sebagai dalil untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya. Ini tentu tidak baik dipelihara,

waktu Rasulullah diutus, masyarakat Arab Jahiliyah yang dulunya jahat, kebiasaan buruk minum khamar, berzina, membunuh, suka berperang dan perangai jahat lainnya bisa diubah oleh Rasulullah sampai mereka menjadi terbaik akhlaknya saat itu. Perbaikan akhlak juga memerlukan istiqamah, yaitu komitmen yang tinggi untuk selalu berpihak kepada yang baik dan benar. Perbaikan akhlak berbeda dengan perbaikan pada sektor-sektor lain. Perbaikan akhlak tidak dapat diwakilkan karena keputusan untuk berpihak kepada yang baik dan benar itu harus datang dan lahir dari kita sendiri. ‎ ‎Istiqamah seperti itu menjadi lebih penting lagi, karena daya tarik kebaikan pada umumnya dikalahkan oleh daya tarik keburukan dan kesenangan duniawi. Pemihakan pada kebaikan sebagai inti dari ajaran akhlak benar-benar membutuhkan komitmen dan tekad yang kuat agar kita sanggup melawan dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan nafsu. Inilah sesungguhnya makna Sabda Rasulullah SAW, "Surga dipagari oleh kesulitan-kesulitan yang berat dan tidak menyenangkan jiwa, sedangkan neraka dipagari oleh kesenangan-kesenangan nafsu syahwat". Ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitu pula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat.  Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai ke dalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat.  

Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah serta menekuninya seperti shalat berjamaah, membaca Alquran dan bersedekah, bersabar di saat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bersedekah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya.  Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamar, berzina, memandang aurat wanita yang bukan mahramnya, menggunjing, dan lainnya.‌‎ ‎ "Betatapun tingkat kesulitan yang dihadapi, perbaikan akhlak harus tetap kita upayakan. Soalnya, agama itu pada akhirnya adalah akhlak. Dalam perspektif ini, seseorang tak dapat disebut beragama jika ia tidak berakhlak.


Referensi sebagai berikut ini ;






Kebajikan pada akhlak baik dan Cara Mencapainya

Kebajikan pada akhlak baik dan  Cara Mencapainya, tujuh kebajikan yang menakjubkan dari karakter atau akhlak baik. Berikut beberapa kebajikan pada akhlak baik tersebut: 

1. Kebajikan pada akhlak baik: Karakter yang baik adalah alasan utama orang masuk surga. Nabi Muhammad bersabda, “Apa yang paling mungkin untuk mengirim orang ke surga? Sadar akan Allah dan akhlak yang baik.” (HR Al-Bukhari)

Dia juga mengatakan, “Aku menjaminkan sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa saja yang menghindari perselisihan, meskipun dia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan, bahkan ketika dia bercanda, dan sebuah rumah di tepi surga. surga tertinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.”

2. Kebajikan pada akhlak baik: Mendapatkan derajat yang tinggi

Nabi Muhammad bersabda, “Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal dari pada akhlak yang baik.” (HR Al-Bukhari)

3. Kebajikan pada akhlak baik: Dekatkan diri dengan nabi di hari kiamat

Nabi berkata, “Yang paling aku cintai dan yang duduk paling dekat denganku di hari kiamat adalah kamu yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling membenciku dan yang paling jauh darimu pada hari kiamat adalah orang sombong, pembual, dan orang sombong …”

4. Kebajikan pada akhlak baik: Maqam orang yang berpuasa dan shalat malam

‘Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Dengan akhlaknya yang baik seorang mukmin dapat mencapai derajat yang sama dengan orang yang berpuasa dan shalat malam.” Alangkah indahnya jika orang tersebut berpuasa dan shalat malam, serta menyempurnakan akhlaknya, maka tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya.

5. Kebajikan pada akhlak baik: Dicintai Allah dan Rasul-Nya

Nabi berkata, dalam Tabarani, “Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya.”

6. Kebajikan pada akhlak baik: Jalan para Nabi

Allah SWT berfirman: “Dan memang, Anda memiliki karakter moral yang besar.” (QS Al Qalam: 4)

7. Kebajikan pada akhlak baik: Pertahankan keyakinan yang paling sempurna. Nabi Muhammad bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istri-istri kalian.” Sekarang, apakah mungkin untuk meningkatkan karakter Anda? Ada dua jenis orang; ada yang dikaruniai Allah untuk memiliki akhlak yang mulia secara alamiah dan ada pula yang harus mengembangkannya dengan melatih diri dengan ilmu dan usaha. Contohnya adalah orang yang sifatnya sangat tenang dan orang yang mudah marah. Dibutuhkan perjuangan dan latihan yang terakhir untuk menahan amarah mereka dan mendapatkan pahala dari Allah.

Contohnya adalah sahabat Ashj Abul al-Qayis yang kepadanya Nabi bersabda, “Anda memiliki dua sifat yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya – kesabaran dan kemudahan.”

Dalam riwayat lain, Ashj bertanya kepada Nabi: “Apakah kualitas-kualitas ini yang saya peroleh, atau apakah Allah membentuk saya seperti ini?”

Nabi menjawab, “Allah menciptakan kamu seperti itu.”

Setelah mendengar ini Ashj menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan saya dengan dua karakteristik yang dicintai-Nya dan Rasul-Nya!”

Jadi, bersyukurlah kepada Allah atas kualitas yang Dia berikan kepada Anda!

Nabi berkata, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Artinya memiliki akhlak mulia, luar dan dalam, dapat dijangkau oleh kita semua!

Jadi Bagaimana Cara Mencapai Karakter yang Baik?

Dengan belajar dan berlatih. Menurut Ibnu Qayyim, karakter yang baik didasarkan pada lima kualitas penting:

  1. Pengetahuan;
  2. Kesediaan untuk berubah;
  3. Kesabaran;
  4. alam yang baik;
  5. Penyerahan suara – Islam.

Berikut adalah beberapa tips praktis tentang bagaimana memperjuangkan karakter yang baik: Ikhlas dalam meminta kepada Allah untuk memberikan karakter yang baik; buatlah doa siang dan malam!

  1. Sabar dan terus berusaha; melawan nafs Anda untuk meninggalkan kebohongan, perkataan buruk, lingkungan buruk, dll.
  2. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang berakhlak baik; berdoa Allah membawa orang-orang benar di jalan Anda.
  3. Menerima nasihat dan mencari pengampunan dari orang lain; jika ibumu berkata, “anakku, jangan katakan itu”, kamu harus mendengarkannya, dan jangan sombong. Kesombongan adalah menolak kebenaran, bahkan jika itu dari anak Anda, atau istri Anda. Anda tidak akan masuk surga jika di dalam hati Anda masih ada sebutir kesombongan. Sekalipun orang kafir yang mengoreksi kesalahan, terimalah nasihatnya.
  4. Membaca buku tentang karakter yang baik; lihat di Sirah, dikatakan:
  5. Saya tidak mempercantik Muhammad dengan kata-kata saya, melainkan dia memperindah kata-kata saya.
  6. Cobalah amalkan doa Nabi. Berikut doanya: “Ya Allah, berilah kami petunjuk kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang membimbingnya kecuali Engkau! Dan jauhkanlah dari kami akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dari kami kecuali Engkau.” 
Referensi sebagai berikut ini ;





Agar Supaya Memiliki Akhlak Yang Mulia

Agar Supaya Memiliki Akhlak Yang Mulia, Ketika umat manusia sudah bobrok akhlaknya, maka Allah akan mengutus para nabi dan rasulnya untuk mengubah manusia menjadi insan yang berakhlak mulia. Dan khususnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, memiliki visi dan misi yaitu memahamkan tauhid kepada Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Al-quran, dan menyempurnakan akhlak. 

 Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab :21)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Pada dasarnya manusia memiliki akhlak jabaliyah (akhlak sejak lahir) dan akhlak muktasabah (akhlak diperoleh melalui usaha). Karena bisa jadi seseorang sejak lahir memiliki akhlak keturunan dari kedua orang tuanya. Yang diwariskan melalui gen, jika orang tuanya suka menolong orang lain dan suka membantu, maka bisa jadi anaknya memiliki sifat yang sama tanpa perlu usaha. 

Sedangkan akhlak yang melalui usaha dan perjuangan yaitu seseorang memiliki sifat pelit  dan kikir serta tidak memiliki kepedulian kepedulian kepada orang lain. Lalu dia belajar ilmu agama, hingga akhirnya ia paham tentang keutamaan sifat dermawan, sifat menolong, dan sifat yang lainnya. Kemudian dia berusaha dengan sekuat tenaga agar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.

Allah berfirman : “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah : 2)

Sifat apa sajakah yang dapat memperbaiki diri kita.

Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab. Yang dimana akan menjadi contoh orang sesudahnya. Adapun caranya sebagai berikut : 

Aqidah Keimanan Kepada Allah 

Dasar pondasi yang pertama dibangun adalah aqidah tauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepadanya, dan hal ini merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepadanya. Serta corak kehidupan Muslim. 

Seperti ini dijelaskan dalam Alquran : “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, rabb seluruh alam.” (QS.Al-An’am : 162).

Ketaqwaan

menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada.” (HR. Ahmad & Turmudzi) 

Juga bersabda : “Dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati.” (HR.Muslim). 

Ketika manusia diperintahkan menjaga dan memelihara Ketakwaan maka akan mengingatkan manusia yang beriman, untuk waspada kepada jeratan iblis. Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia

Allah berfirman  : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan- kesalahannya). (QS. Al-A’raf : 201)

keikhlasan

menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan merupakan hal yang harus diusahakan dalam memperbaiki akhlak. Sebagaimana Allah berfirman : “Kitab (Al-Qur’an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Maha Bijaksana.” (QS. Az-zumar : 1)

Dan Allah pun telah mewanti-wanti agar kita terhindar dari sifat riya. Yang telah disebutkan dalam Al-quran : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Ilmu 

Rasulullah SAW mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.

Memberikan Contoh Yang Baik 

Memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia. Menanamkan kebebasan dan Sikap Yang Positif.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, ‘Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.’ Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR. At-Turmudzi).

Mengikutsertakan Orang lain

Dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu. Atau bisa dibilang dengan cara menyampaikan kebaikan tanpa memandang derajatnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR.Al-Bukhari).Dalam Hadis ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki kewajiban menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Bervariasi dalam cara menyampaikan 

Ketika menyampaikan ayat atau hadits harus ada yang membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun hal lainnya agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat.Menjadi pribadi yang mulia Menjadi muslim yang berakhlak baik bukan sekedar menjadi orang baik saja. Namun juga menghendaki kebaikan tersebut tersebar dan dirasakan oleh orang-orang yang di sekitarnya. Karena itulah, menjadi baik sendiri saja tidak cukup jika kebaikan tersebut tidak dapat dirasakan oleh orang dan lingkungan dimana seorang muslim berada. 

Referensi sebagai berikut ini ;









Etika Bermedia Sosial dalam Islam

Etika Bermedia Sosial dalam Islam. Perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai penjuru. Keberadaan media sosial pun tidak bisa terlepas dari segala sisi kehidupan masa kini. Bagaimana mengelolanya agar ruang-ruang privasi tetap terjaga dari fitnah dan tidak bebas dikonsumsi publik? Sepertinya keberadaan media sosial sebagai pengikat tali silaturahmi perlu lebih ditingkatkan esensinya agar kita senantiasa tidak lepas kendali dalam mengeluarkan opini.

Islam sebagai agama yang menuntun umatnya untuk selalu mengutamakan berbuat baik dalam setiap sisi kehidupan memiliki batasan-batasan bagi umatnya dalam menggunakan media sosial secara bijak. Islam tidak memiliki pandangan antimainstream dengan perkembangan teknologi. Islam mendukung dengan tetap memperhatikan etika yang mengawal moral dan akhlak pada jalur yang benar. 

Berikut adalah beberapa etika yang harus diperhatikan dalam menggunakan jejaring sosial:

1) Jadikan Sebagai Sarana untuk Menebar Kebaikan

Informasi yang tersebar di media sosial sedikit banyak mendeskripsikan kejernihan akhlak penulisnya. Mereka yang memiliki pandangan menyebarkan manfaat melalui tulisan dan berwawasan luas tidak akan tergesa-gesa dalam mem-posting berita. Ladang pahala justru akan mengalir apabila setiap hal yang kita beritakan berkhazanah Islam dan menebar faedah. Layaknya seekor lebah yang hanya akan mencari madu, jika insting kebaikan telah terparti, indra kita tidak akan tertarik untuk menciptakan hal-hal atau tulisan yang akan menimbulkan fitnah.

2) Mengingat Hisab atas Segala Perbuatan

Menyadari sepenuhnya akan adanya hisab atau perhitungan atas tiap detail yang kita perbuat dapat menjadi pengontrol utama dalam mengendalikan perbuatan. Akan ada hari akhir di ujung kehidupan dunia yang menjadikan manusia sadar akan keterbatasan usia yang dimilikinya. Timbangan baik dan buruk menjadi titik penentu keberadaan manusia di akhirat: surga atau neraka. Kesadaran akan hisab ini pun semestinya kita pegang saat menggunakan media sosial karena apa pun yang kita lakukan dengan media sosial juga akan menjadi catatan amal yang dipertanggungjwabkan kelak.

3) Lakukan Kroscek Sebelum Berpendapat (Tabayun)

Apabila berita yang ditampilkan hanya untuk mencari popularitas dan “like” dari pembaca tanpa mengindahkan kebenaran dan fitnah yang akan ditimbulkan, hal ini bisa menjadi awal kesalahpahaman. Fenomena "jemari berbicara", yaitu kebiasaan untuk asal share tanpa mencari kebenaran beritanya, kerap kali terjadi. Berita hoaks tersebar karena andil kedua ibu jari kita. Untuk itulah, mencari kebenaran berita menjadi hal wajib sebelum menyebarkannya.

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik (benar). Sesungguhnya, setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia” (Q.S Al-Israa' Ayat 53)

4) “CCTV” di Kedua Bahu

Merasa selalu diawasi oleh malaikat utusan Allah di bahu kanan dan kiri semestinya menjadikan tubuh dan akal berpikir sebelum melakukan tindakan. Pengawasan 24 jam semasa detak jantung masih berdebar bukankah cukup untuk menjadi pengendali di setiap perbuatan? Begitu pula dengan aktivitas di jejaring sosial. Like, komen, atau share kita akan disaksikan dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

5) ‎Ruang Keikhlasan Tanpa Mengumbar Riya

Misi atau niat hanya terjadi satu arah, yaitu kejujuran hati kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita tidak bisa melihat, apalagi memberikan penilaian terhadap niat seseorang. Tetapkan misi untuk memanen kelimpahan pahala-Nya tanpa beharap pujian yang melambungkan popularitas. Hal ini akan menjadi hal yang mendasari kita untuk terus melakukan segala hal yang positif.

Dengan tetap memperhatikan kelima etika dalam menggunakan media sosial ini, diharapkan persaudaraan akan terjadi walaupun hanya di dunia maya. Tali silaturahmi tetap terjalin dan manfaat perkembangan teknologi sebagai sarana mengkaji ilmu pun dapat terwujud. Mari jaga etika sebagai predikat muslim terpuji dalam bermedia sosial.

Referensi sebagai berikut ini ;








Bergaulah Dengan Orang-Orang Shalih

sahabat orang-orang shalih merupakan suatu kenikmatan dan karunia dari Allah yang sangat besar. Dalam Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.”

Sebagai makhluk sosial, tentu tidak lepas dari berinteraksi dengan orang lain. Akhlak dan perilaku yang dimiliki seseorang sangat dipengaruh oleh akhlak dan perilaku lingkungan sekitarnya. Dalam Islam, agama yang kita imani sebagai nafas kehidupan seorang muslim, memberikan panduan untuk selalu bergaul dengan orang-orang shalih agar akhlak dan perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan bersama orang-orang shalih, kita akan senantiasa termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik. Begitu juga ketika dalam keadaan lemah atau ingin berbuat sesuatu yang buruk, maka setidaknya ada pengingat yang selalu mengembalikan diri ke jalan yang benar. Rasulullah bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ketika sering melihat kebaikan-kebaikan orang shalih, maka dapat memicu adanya rasa cemburu. Sehingga hal ini menumbuhkan motivasi untuk bisa melakukan amal shalih seperti yang mereka lakukan. Karena salah satu kecemburuan yang diperbolehkan dalam agama ini adalah cemburu pada amalan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara: kepada seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia menginfakannya di sebagian malam dan siangnya, dan kepada seseorang yang Allah berikan Al-Qur’ an dan dia membacanya di sebagian besar malam dan siangnya” (H.R. Muslim).

Terkadang sedikit banyak dapat menilai kebaikan seseorang dengan melihat pergaulan antar sesama temannya, karena kebaikan seseorang memberikan pengaruh baik lingkungan sekitarnya. Begitupun sebaliknya, keburukan seseorang juga bisa memberikan pengaruh buruk terhadap lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu, seorang muslim haruslah senantiasa berusaha untuk bergaul dengan orang baik dan orang shalih, dengan harapan kebaikan itu akan mempengaruhi dirinya. Rasulullah memberikan teladan dengan menjadikan pergaulan sebagai salah satu faktor yang digunakan dalam menilai seseorang. Rasulullah SAW bersabda;

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa memiliki hubungan pertemanan di dunia menjadi sangat penting, karena menjadi salah satu langkah dan ikhtiar yang seharusnya dilakukan dalam rangka mempersiapkan kehidupan di akhirat. Ketika masih di dunia dan salah dalam memilih teman yang justru mengajak pada keburukan dan semakin menjauhkan diri dari Allah, maka hanya akan menjadikan penyesalan di akhirat nanti. Allah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Q.S. al-Furqan [25] : 27-29).

Para mufasir menjelaskan kalimat “menggigit dua tangannya” diartikan sebagai penyesalan yang amat sangat dalam, tetapi sia-sia karena sudah tidak mungkin lagi untuk bisa kembali. Karena saat di dunia sebenarnya sudah diingatkan dan diperintahkan. Namun justru tidak mengikuti anjuran kebenaran tersebut. Salah memilih teman justru semakin menjauhkan diri dari pedoman hidup yang hakiki yaitu Al Qur’ an, dan menjauhkan dari kebaikan dan petunjuk hidup yang lurus dan benar. Artinya manusia akan terpisah semakin jauh dari rombongan Rasulullah SAW yang melewati jalan kebenaran menuju kearah kebaikan yang haq yaitu Allah SWT.

Mengapa kita harus selektif dalam memilih teman di dunia? Karena di dunia ada golongan manusia yang terlihat baik kepada seseorang, tetapi justru semakin menjauhkan dan menyesatkan dari jalan kebenaran yang lurus. Oleh karena itu, seseorang perlu untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu. Sehingga ketika dalam beramal memiliki dasar dan prinsip dalam menjalani kehidupan di dunia. Mempelajari ilmu menjadi penting dan tidak ada batasan waktunya, baik anak-anak maupun orangtua, pria maupun wanita. Hal tersebut berguna untuk membedakan dalam memilih golongan dan teman yang sesuai untuk kehidupan di akhirat.

Hasan Al-Bashri dalam Kitab Ma’alimut Tanzil berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”[2] Rasulullah SAW bersabda terkait dengan syafaat yang diberikan diantara para sahabat dihari kiamat, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.” Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.” Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas.” (H.R. Muslim).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesempatan untuk dapat berteman, berinteraksi, dan menjalani hidup bersama dengan golongan orang-orang shalih. Harapannya supaya saling mendukung dan memotivasi untuk beramal baik karena Allah semata. Dan juga saling menjaga agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan dilarang oleh Allah. Sehingga nantinya dapat kembali berkumpul di akhirat bersama-sama dengan golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang berada di dalam barisan Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan pewaris dan penghuni surga yang kekal. Aamiin ya robbal’aalamiin. 


Referensi sebagai berikut ini ;