“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabuut: 69)
Akhlaq yang mulia bisa diperoleh dengan usaha-usaha sebagai berikut:
Pertama: Hendaknya seseorang senantiasa memperhatikan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang berkaitan dengan keutamaan akhlaq yang terpuji.
“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali Imran: 17)
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al Furqan: 63)
وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Al Furqan: 72)
Demikian juga dia melihat apa yang datang dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti,
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. (Muttafaqun ‘alaihi).
“Sesungguhnya, di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat dengan majelisku di hari kiamat nanti adalah orang yang terbaik akhlaknya di antara kalian. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Dengan memperhatikan dalil-dalil seperti ini maka seseorang akan terpacu untuk berakhlaq mulia.
Kedua: Berteman dengan orang-orang shalih yang berakhlaq mulia, yang dikenal dengan ilmu dan amanahnya.
“Permisalan teman yang baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, Adapun penjual minyak wangi maka mungkin saja dia menghadiahimu minyak wangi, atau engkau dapat membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau dapati aroma yang harum darinya. Adapun si pandai besi, mungkin saja dia membakar bajumu, atau setidaknya engkau akan mencium aroma tak sedap dari dirinya.” (HR. Al Bukhari)
Maka hendaknya seseorang yang ingin untuk memiliki akhlaq yang mulia berteman dengan orang yang dikenal berakhlak baik yang dapat menolong memperbaiki akhlaqnya dan menjauh dari teman yang berakhlak jelek dan sering melakukan perbuatan yang hina.
Ketiga: Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang buruk, karena akhlak yang buruk dibenci, dan buruk akhlak itu dijauhi, dan buruk akhlak itu disifati dengan sifat yang jelek.
“Maukah aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap affak (pendusta) lagi atsim (yang banyak dosa), Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy Syu’ara: 221-223)
Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam: 4)
Kelima : Senantiasa berdoa, meminta kepada Allah agar dianugerahi akhlaq yang mulia
Beberapa doa yang warid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam di antaranya adalah sebagai berikut,
اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي
“Ya Allah Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
“Ya Allah berilah petunjuk kepadaku untuk berbuat sebaik-baik amalan, sebaik-baik akhlak, tidak ada yang bisa menunjuki untuk berbuat sebaik-baiknya kecuali Engkau. Dan lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak, dan tidak ada yang melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa’i)
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, amalan-amalan, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit.” (HR. AtTirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Pertanyaan:
Wahai Syaikh saya adalah seorang pemuda yang memiliki akhlak yang jelek, baik dalam pergaulan, atau berbicara, padahal saya selalu berusaha memperbaikinya, dalam keadaan saya walillaahilhamd komitmen menunaikan ibadah shalat wajib tepat pada waktunya, Ibadah shalat Sunnah, dan membaca Al-Quran, apakah perkara ini ada obatnya? mohon bimbingannya, Jazakumullahu khairan.
Jawaban:
Yang nampak, obat dari perkara ini adalah mudah, selama penanya berada di atas sifat yang telah disebutkan.
Mengubah Akhlak Jelek Menjadi Akhlak Baik. Sesungguhnya yang semestinya baginya,apabila dia dalam keadaan marah adalah menahan amarah tersebut dan memendamnya, berdasarkan hadits.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.(HR. al-Bukhari)
Maka hendaklah dia memperbaiki dirinya dengan menenangkan urat- urat syarafnya , apabila marah memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk,
Kemudian apabila dia marah dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk, jika dalam keadaan duduk, maka hendaklah berbaring. Tidak mengharuskan dalam hal ini membaik secara langsung dan keadaannya tiba-tiba berubah baik,
Terkadang yang demikian itu, setelah perbaikan dalam waktu yang lama, akan tetapi jangan sampai tidak ada (upaya)untuk perbaikan.
Kemudian yang wajib atasnya adalah menghadap kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya, agar dijaga dari akhlak yang tercela ini,
Allah subhanahu wata'aala akan menolong hamba-hamba-Nya yang jujur dalam menghadapkan urusan kepadaNya serta merasa butuh kepadaNya.
Sikap adil, jujur, kasih sayang dan menghormati kepada sesama, ikhlas, dermawan, dan semacamnya seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Manakala dalam kehidupan ini sifat tersebut ada pada setiap orang, maka kehidupan ini akan damai, tenteram, dan bahagia. Kehidupan yang diwarnai oleh permusuhan, konflik, saling menjatuhkan, hasut menghasut, fitman memfitnah, dan semacamnya adalah bersumber dari sikap terpuji tersebut belum dimiliki oleh banyak orang.
Siapapun akan berpandangan sama, bahwa nilai-pnilai mulia tersebut memang penting diberikan atau dididikkan dari generasi ke generasi berikutnya. Berbagai sikap mulia tersebut tidak akan dimiliki begitu saja tanpa melewatik proses pendidikan. Kejujuran, keadilan, kedermawanan, dan semacamnya harus ditanamkan dan dididikkan dari waktu ke waktu. Namun pertanyaannya adalah bagaimana menanamkan sikap mulia itu.
Orang yang tidak jujur tentu tidak akan mampu menanamkan kejujuran kepada siapapun. Orang yang sehari-hari bermusuhan, konflik, menjatuhkan orang lain, maka tidak akan dapat menanamkan kedamaian, kasih sayang, toleransi kepada siapapun. Akhlak mulia akan lahir dari orang atau sekelompok orang yang berakhlak mulia, dan demkikian pula sebaliknya.
Selain itu, pendidikan akhlak tidak cukup dilakukan dengan cara menjelaskan tentang pentingnya akhlak mulia. Banyak orang mengetahui tentang pentingnya disiplin, menghargai orang lain, jujur, adil, dan lain-lain tetapi pada kenyataannya orang yang mengetahui dan memahami nilai-nilai mulia tersebut tidak selalu mampu menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
Seringkali terdapat jarak antara pengetahuan seseorang dan perilaku mereka sehari-hari. Seseorang mengetahui tentang kebaikan tetapi belum tentu mampu menjalankannya sendiri. Seseorang mengetahui bahwa berbohong, berkhianat, korupsi, dan semacamnya adalah perbuatan buruk, tetapi pada kenyataannya tidak semua orang yang mengetahuinya mampu meninggalkan perbuatan tercela itu. Itulah sebabnya, problem pendidikan akhlak adalah mendapatkan guru atau tauladan yang dapat dicontoh. Selain itu yang diperlukan adalah pendekatan pendidikan yang seharusnya dilakukan untuk menanamkan akhlak mulia itu.
Masalah mendasar tentang pendidikan akhlak adalah, orang yang mendidik harus terlebih dahulu menjalankannya. Sementara itu, mencari orang yang mampu menjalankan nilai-nilai mulia tersebut bukan perkara mudah. Mendidik orang agar menjadi petani, pedagang, peternak, nelayan, penulis sukses, dan lain-lain, sekalipun tidak mudah, masih bisa dilakukan. Akan tetapi menjadi sulit ketika harus memberi contoh tentang keikhlasan, kejujuran, kesabaran, kedermawanan, kebersamaan, dan sejenisnya itu.
Oleh karena itu, sebenarnya bukan menganggap bahwa pendidikan akhlak tidak perlu, akan tetapi yang menjadi problem adalah mendapatkan guru dan cara-cara menanamkan akhlak mulia itu sendiri. Sebab, tidak mungkin orang yang tidak menyandang akhlak mulia berhasil mengajarkan perilaku terpuji. Pendidikan adalah proses pembiasaan dan ketauladanan, sementara itu mencari contoh dan atau tauladan itulah yang hingga saat ini yang belum ditemukan cara yang tepat dan apalagi nyata-nyata berhasil.
Sifat dan tingkah laku seorang manusia berupa moral, etika, dan akhlak merupakan sesuatu yang dinamis. Sebagian sifat yang baik sebagai akhlak terpuji adalah sifat bawaan sejak lahir dan sebagiannya lagi diperoleh dengan jalan dilatih dan diusahakan dengan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, seseorang yang memiliki akhlak kurang terpuji bisa diubah dan diperbaiki, karena jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Karenanya, ia selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan. Karena akhlak ini bisa diubah, sehingga salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus juga dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang sangat rusak di masa jahiliyah sehingga mereka bisa memiliki akhlak terpuji.
Manusia lahir dengan membawa sifat-sifat tertentu. Ada akhlak bawaan, baik terpuji maupun tercela. Akhlak bisa diubah dari buruk ke baik, atau juga sebaliknya berubah dari baik ke buruk, tergantung bagaimana kita memperbaiki akhlak dan menjaganya, dengan latihan dan kebiasaan.
Supaya perbaikan akhlak ini harus dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan pada sikap dan perilaku konstruktif. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui metode berbalik atau berubah dari sifat bawaan yang sudah ada. Misalnya, ada orang memiliki sifat cepat marah dan emosi tapi sulit memaafkan dengan memelihara dendam, memiliki sifat pelit dan sulit berinfak dan sedekah serta berat menolong orang, memiliki sifat angkuh, egois, iri, dengki dan suka menghasut, tidak senang pada kelebihan orang, mudah berkata bohong, senang ghibah, namimah, dan lainya. "Sifat-sifat seperti ini yang lalu menjadi akhlak buruk sehari-hari, bisa berubah dengan jalan memperbaiki diri, misalnya dari bakhil berganti dengan dermawan, sombong dengan rendah hati, iri dengki dengan qanaah. Proses pembiasaan ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara instan tapi membutuhkan waktu, perjuangan, dan kesabaran yang tinggi dengan terus membiasakan diri mengikuti kajian-kajian keagamaan dan lingkungan yang baik.
Manusia yang memiliki akal dan pikiran, binatang buas saja seperti Harimau dapat berubah sifat-sifatnya yang ganas ketika dilatih dengan baik. "Binatang yang memiliki karakter liar, ganas dan buas namun setelah dilatih berubah menjadi jinak. Lihatlah sirkus dimana Singa, Harimau atau gajah liar dapat berubah menjadi jinak. Dengan apa mereka berubah? Tentu saja dengan latihan. Begitu juga akhlak dapat berubah walaupun hal ini memerlukan perjuangan yang berat karena mengubah kebiasaan itu berat.
Ada istilah tabiat dan kebiasaan, sebagaimana ada sebuah perkataan, 'Seseorang itu tumbuh besar menurut kebiasaan yang dibiasakan orangtuanya'. Dalam hal ini pengaruh lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap perilaku dan tabiat seseorang. Lihatlah orang-orang yang tumbuh di tengah-tengah keluarga yang tidak memperhatikan akhlak. Mereka sangat jauh dari akhlak mulia. Ketika diingatkan untuk memperbaiki akhlak, maka orang yang serta merta dia menjawab, 'Memang sudah seperti inilah karakter/tabiatku sejak ayah dan kakek buyutku, tidak bisa berubah, mau bagaimana lagi?' Dengan kata lain dia merasa sudah tidak berpeluang lagi untuk mengubah karakternya. "Dengan jawaban tersebut dia seolah-olah berkata, akhlak adalah sesuatu yang baku dan memiliki harga mati yang tidak bisa diubah lagi. Selain itu dia menjadikan jawaban tersebut sebagai dalil untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya. Ini tentu tidak baik dipelihara,
waktu Rasulullah diutus, masyarakat Arab Jahiliyah yang dulunya jahat, kebiasaan buruk minum khamar, berzina, membunuh, suka berperang dan perangai jahat lainnya bisa diubah oleh Rasulullah sampai mereka menjadi terbaik akhlaknya saat itu. Perbaikan akhlak juga memerlukan istiqamah, yaitu komitmen yang tinggi untuk selalu berpihak kepada yang baik dan benar. Perbaikan akhlak berbeda dengan perbaikan pada sektor-sektor lain. Perbaikan akhlak tidak dapat diwakilkan karena keputusan untuk berpihak kepada yang baik dan benar itu harus datang dan lahir dari kita sendiri. Istiqamah seperti itu menjadi lebih penting lagi, karena daya tarik kebaikan pada umumnya dikalahkan oleh daya tarik keburukan dan kesenangan duniawi. Pemihakan pada kebaikan sebagai inti dari ajaran akhlak benar-benar membutuhkan komitmen dan tekad yang kuat agar kita sanggup melawan dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan nafsu. Inilah sesungguhnya makna Sabda Rasulullah SAW, "Surga dipagari oleh kesulitan-kesulitan yang berat dan tidak menyenangkan jiwa, sedangkan neraka dipagari oleh kesenangan-kesenangan nafsu syahwat". Ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitu pula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai ke dalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat.
Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah serta menekuninya seperti shalat berjamaah, membaca Alquran dan bersedekah, bersabar di saat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bersedekah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamar, berzina, memandang aurat wanita yang bukan mahramnya, menggunjing, dan lainnya. "Betatapun tingkat kesulitan yang dihadapi, perbaikan akhlak harus tetap kita upayakan. Soalnya, agama itu pada akhirnya adalah akhlak. Dalam perspektif ini, seseorang tak dapat disebut beragama jika ia tidak berakhlak.
Kebajikan pada akhlak baik dan Cara Mencapainya, tujuh kebajikan yang menakjubkan dari karakter atau akhlak baik. Berikut beberapa kebajikan pada akhlak baik tersebut:
1. Kebajikan pada akhlak baik: Karakter yang baik adalah alasan utama orang masuk surga. Nabi Muhammad bersabda, “Apa yang paling mungkin untuk mengirim orang ke surga? Sadar akan Allah dan akhlak yang baik.” (HR Al-Bukhari)
Dia juga mengatakan, “Aku menjaminkan sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa saja yang menghindari perselisihan, meskipun dia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan, bahkan ketika dia bercanda, dan sebuah rumah di tepi surga. surga tertinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.”
2. Kebajikan pada akhlak baik: Mendapatkan derajat yang tinggi
Nabi Muhammad bersabda, “Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal dari pada akhlak yang baik.” (HR Al-Bukhari)
3. Kebajikan pada akhlak baik: Dekatkan diri dengan nabi di hari kiamat
Nabi berkata, “Yang paling aku cintai dan yang duduk paling dekat denganku di hari kiamat adalah kamu yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling membenciku dan yang paling jauh darimu pada hari kiamat adalah orang sombong, pembual, dan orang sombong …”
4. Kebajikan pada akhlak baik: Maqam orang yang berpuasa dan shalat malam
‘Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Dengan akhlaknya yang baik seorang mukmin dapat mencapai derajat yang sama dengan orang yang berpuasa dan shalat malam.” Alangkah indahnya jika orang tersebut berpuasa dan shalat malam, serta menyempurnakan akhlaknya, maka tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya.
5. Kebajikan pada akhlak baik: Dicintai Allah dan Rasul-Nya
Nabi berkata, dalam Tabarani, “Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya.”
6. Kebajikan pada akhlak baik: Jalan para Nabi
Allah SWT berfirman: “Dan memang, Anda memiliki karakter moral yang besar.” (QS Al Qalam: 4)
7. Kebajikan pada akhlak baik: Pertahankan keyakinan yang paling sempurna. Nabi Muhammad bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istri-istri kalian.” Sekarang, apakah mungkin untuk meningkatkan karakter Anda? Ada dua jenis orang; ada yang dikaruniai Allah untuk memiliki akhlak yang mulia secara alamiah dan ada pula yang harus mengembangkannya dengan melatih diri dengan ilmu dan usaha. Contohnya adalah orang yang sifatnya sangat tenang dan orang yang mudah marah. Dibutuhkan perjuangan dan latihan yang terakhir untuk menahan amarah mereka dan mendapatkan pahala dari Allah.
Contohnya adalah sahabat Ashj Abul al-Qayis yang kepadanya Nabi bersabda, “Anda memiliki dua sifat yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya – kesabaran dan kemudahan.”
Dalam riwayat lain, Ashj bertanya kepada Nabi: “Apakah kualitas-kualitas ini yang saya peroleh, atau apakah Allah membentuk saya seperti ini?”
Nabi menjawab, “Allah menciptakan kamu seperti itu.”
Setelah mendengar ini Ashj menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan saya dengan dua karakteristik yang dicintai-Nya dan Rasul-Nya!”
Jadi, bersyukurlah kepada Allah atas kualitas yang Dia berikan kepada Anda!
Nabi berkata, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Artinya memiliki akhlak mulia, luar dan dalam, dapat dijangkau oleh kita semua!
Jadi Bagaimana Cara Mencapai Karakter yang Baik?
Dengan belajar dan berlatih. Menurut Ibnu Qayyim, karakter yang baik didasarkan pada lima kualitas penting:
Pengetahuan;
Kesediaan untuk berubah;
Kesabaran;
alam yang baik;
Penyerahan suara – Islam.
Berikut adalah beberapa tips praktis tentang bagaimana memperjuangkan karakter yang baik: Ikhlas dalam meminta kepada Allah untuk memberikan karakter yang baik; buatlah doa siang dan malam!
Sabar dan terus berusaha; melawan nafs Anda untuk meninggalkan kebohongan, perkataan buruk, lingkungan buruk, dll.
Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang berakhlak baik; berdoa Allah membawa orang-orang benar di jalan Anda.
Menerima nasihat dan mencari pengampunan dari orang lain; jika ibumu berkata, “anakku, jangan katakan itu”, kamu harus mendengarkannya, dan jangan sombong. Kesombongan adalah menolak kebenaran, bahkan jika itu dari anak Anda, atau istri Anda. Anda tidak akan masuk surga jika di dalam hati Anda masih ada sebutir kesombongan. Sekalipun orang kafir yang mengoreksi kesalahan, terimalah nasihatnya.
Membaca buku tentang karakter yang baik; lihat di Sirah, dikatakan:
Saya tidak mempercantik Muhammad dengan kata-kata saya, melainkan dia memperindah kata-kata saya.
Cobalah amalkan doa Nabi. Berikut doanya: “Ya Allah, berilah kami petunjuk kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang membimbingnya kecuali Engkau! Dan jauhkanlah dari kami akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dari kami kecuali Engkau.”
Agar Supaya Memiliki Akhlak Yang Mulia, Ketika umat manusia sudah bobrok akhlaknya, maka Allah akan mengutus para nabi dan rasulnya untuk mengubah manusia menjadi insan yang berakhlak mulia. Dan khususnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, memiliki visi dan misi yaitu memahamkan tauhid kepada Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Al-quran, dan menyempurnakan akhlak.
Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab :21)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Pada dasarnya manusia memiliki akhlak jabaliyah (akhlak sejak lahir) dan akhlak muktasabah (akhlak diperoleh melalui usaha). Karena bisa jadi seseorang sejak lahir memiliki akhlak keturunan dari kedua orang tuanya. Yang diwariskan melalui gen, jika orang tuanya suka menolong orang lain dan suka membantu, maka bisa jadi anaknya memiliki sifat yang sama tanpa perlu usaha.
Sedangkan akhlak yang melalui usaha dan perjuangan yaitu seseorang memiliki sifat pelit dan kikir serta tidak memiliki kepedulian kepedulian kepada orang lain. Lalu dia belajar ilmu agama, hingga akhirnya ia paham tentang keutamaan sifat dermawan, sifat menolong, dan sifat yang lainnya. Kemudian dia berusaha dengan sekuat tenaga agar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.
Allah berfirman : “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah : 2)
Sifat apa sajakah yang dapat memperbaiki diri kita.
Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab. Yang dimana akan menjadi contoh orang sesudahnya. Adapun caranya sebagai berikut :
Aqidah Keimanan Kepada Allah
Dasar pondasi yang pertama dibangun adalah aqidah tauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepadanya, dan hal ini merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepadanya. Serta corak kehidupan Muslim.
Seperti ini dijelaskan dalam Alquran : “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, rabb seluruh alam.” (QS.Al-An’am : 162).
Ketaqwaan
menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada.” (HR. Ahmad & Turmudzi)
Juga bersabda : “Dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati.” (HR.Muslim).
Ketika manusia diperintahkan menjaga dan memelihara Ketakwaan maka akan mengingatkan manusia yang beriman, untuk waspada kepada jeratan iblis. Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia
Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan- kesalahannya). (QS. Al-A’raf : 201)
keikhlasan
menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan merupakan hal yang harus diusahakan dalam memperbaiki akhlak. Sebagaimana Allah berfirman : “Kitab (Al-Qur’an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Maha Bijaksana.” (QS. Az-zumar : 1)
Dan Allah pun telah mewanti-wanti agar kita terhindar dari sifat riya. Yang telah disebutkan dalam Al-quran : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Ilmu
Rasulullah SAW mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.
Memberikan Contoh Yang Baik
Memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia. Menanamkan kebebasan dan Sikap Yang Positif.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, ‘Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.’ Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR. At-Turmudzi).
Mengikutsertakan Orang lain
Dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu. Atau bisa dibilang dengan cara menyampaikan kebaikan tanpa memandang derajatnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR.Al-Bukhari).Dalam Hadis ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki kewajiban menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.
Bervariasi dalam cara menyampaikan
Ketika menyampaikan ayat atau hadits harus ada yang membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun hal lainnya agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat.Menjadi pribadi yang mulia Menjadi muslim yang berakhlak baik bukan sekedar menjadi orang baik saja. Namun juga menghendaki kebaikan tersebut tersebar dan dirasakan oleh orang-orang yang di sekitarnya. Karena itulah, menjadi baik sendiri saja tidak cukup jika kebaikan tersebut tidak dapat dirasakan oleh orang dan lingkungan dimana seorang muslim berada.
Etika Bermedia Sosial dalam Islam. Perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai penjuru. Keberadaan media sosial pun tidak bisa terlepas dari segala sisi kehidupan masa kini. Bagaimana mengelolanya agar ruang-ruang privasi tetap terjaga dari fitnah dan tidak bebas dikonsumsi publik? Sepertinya keberadaan media sosial sebagai pengikat tali silaturahmi perlu lebih ditingkatkan esensinya agar kita senantiasa tidak lepas kendali dalam mengeluarkan opini.
Islam sebagai agama yang menuntun umatnya untuk selalu mengutamakan berbuat baik dalam setiap sisi kehidupan memiliki batasan-batasan bagi umatnya dalam menggunakan media sosial secara bijak. Islam tidak memiliki pandangan antimainstream dengan perkembangan teknologi. Islam mendukung dengan tetap memperhatikan etika yang mengawal moral dan akhlak pada jalur yang benar.
Berikut adalah beberapa etika yang harus diperhatikan dalam menggunakan jejaring sosial:
1) Jadikan Sebagai Sarana untuk Menebar Kebaikan
Informasi yang tersebar di media sosial sedikit banyak mendeskripsikan kejernihan akhlak penulisnya. Mereka yang memiliki pandangan menyebarkan manfaat melalui tulisan dan berwawasan luas tidak akan tergesa-gesa dalam mem-posting berita. Ladang pahala justru akan mengalir apabila setiap hal yang kita beritakan berkhazanah Islam dan menebar faedah. Layaknya seekor lebah yang hanya akan mencari madu, jika insting kebaikan telah terparti, indra kita tidak akan tertarik untuk menciptakan hal-hal atau tulisan yang akan menimbulkan fitnah.
2) Mengingat Hisab atas Segala Perbuatan
Menyadari sepenuhnya akan adanya hisab atau perhitungan atas tiap detail yang kita perbuat dapat menjadi pengontrol utama dalam mengendalikan perbuatan. Akan ada hari akhir di ujung kehidupan dunia yang menjadikan manusia sadar akan keterbatasan usia yang dimilikinya. Timbangan baik dan buruk menjadi titik penentu keberadaan manusia di akhirat: surga atau neraka. Kesadaran akan hisab ini pun semestinya kita pegang saat menggunakan media sosial karena apa pun yang kita lakukan dengan media sosial juga akan menjadi catatan amal yang dipertanggungjwabkan kelak.
3) Lakukan Kroscek Sebelum Berpendapat (Tabayun)
Apabila berita yang ditampilkan hanya untuk mencari popularitas dan “like” dari pembaca tanpa mengindahkan kebenaran dan fitnah yang akan ditimbulkan, hal ini bisa menjadi awal kesalahpahaman. Fenomena "jemari berbicara", yaitu kebiasaan untuk asal share tanpa mencari kebenaran beritanya, kerap kali terjadi. Berita hoaks tersebar karena andil kedua ibu jari kita. Untuk itulah, mencari kebenaran berita menjadi hal wajib sebelum menyebarkannya.
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik (benar). Sesungguhnya, setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia” (Q.S Al-Israa' Ayat 53)
4) “CCTV” di Kedua Bahu
Merasa selalu diawasi oleh malaikat utusan Allah di bahu kanan dan kiri semestinya menjadikan tubuh dan akal berpikir sebelum melakukan tindakan. Pengawasan 24 jam semasa detak jantung masih berdebar bukankah cukup untuk menjadi pengendali di setiap perbuatan? Begitu pula dengan aktivitas di jejaring sosial. Like, komen, atau share kita akan disaksikan dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
5) Ruang Keikhlasan Tanpa Mengumbar Riya
Misi atau niat hanya terjadi satu arah, yaitu kejujuran hati kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita tidak bisa melihat, apalagi memberikan penilaian terhadap niat seseorang. Tetapkan misi untuk memanen kelimpahan pahala-Nya tanpa beharap pujian yang melambungkan popularitas. Hal ini akan menjadi hal yang mendasari kita untuk terus melakukan segala hal yang positif.
Dengan tetap memperhatikan kelima etika dalam menggunakan media sosial ini, diharapkan persaudaraan akan terjadi walaupun hanya di dunia maya. Tali silaturahmi tetap terjalin dan manfaat perkembangan teknologi sebagai sarana mengkaji ilmu pun dapat terwujud. Mari jaga etika sebagai predikat muslim terpuji dalam bermedia sosial.
sahabat orang-orang shalih merupakan suatu kenikmatan dan karunia dari Allah yang sangat besar. Dalam Kitab Qutul Qulub Fii Muamalatil Mahbub, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.”
Sebagai makhluk sosial, tentu tidak lepas dari berinteraksi dengan orang lain. Akhlak dan perilaku yang dimiliki seseorang sangat dipengaruh oleh akhlak dan perilaku lingkungan sekitarnya. Dalam Islam, agama yang kita imani sebagai nafas kehidupan seorang muslim, memberikan panduan untuk selalu bergaul dengan orang-orang shalih agar akhlak dan perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan bersama orang-orang shalih, kita akan senantiasa termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik. Begitu juga ketika dalam keadaan lemah atau ingin berbuat sesuatu yang buruk, maka setidaknya ada pengingat yang selalu mengembalikan diri ke jalan yang benar. Rasulullah bersabda:
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ketika sering melihat kebaikan-kebaikan orang shalih, maka dapat memicu adanya rasa cemburu. Sehingga hal ini menumbuhkan motivasi untuk bisa melakukan amal shalih seperti yang mereka lakukan. Karena salah satu kecemburuan yang diperbolehkan dalam agama ini adalah cemburu pada amalan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara: kepada seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia menginfakannya di sebagian malam dan siangnya, dan kepada seseorang yang Allah berikan Al-Qur’ an dan dia membacanya di sebagian besar malam dan siangnya” (H.R. Muslim).
Terkadang sedikit banyak dapat menilai kebaikan seseorang dengan melihat pergaulan antar sesama temannya, karena kebaikan seseorang memberikan pengaruh baik lingkungan sekitarnya. Begitupun sebaliknya, keburukan seseorang juga bisa memberikan pengaruh buruk terhadap lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu, seorang muslim haruslah senantiasa berusaha untuk bergaul dengan orang baik dan orang shalih, dengan harapan kebaikan itu akan mempengaruhi dirinya. Rasulullah memberikan teladan dengan menjadikan pergaulan sebagai salah satu faktor yang digunakan dalam menilai seseorang. Rasulullah SAW bersabda;
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa memiliki hubungan pertemanan di dunia menjadi sangat penting, karena menjadi salah satu langkah dan ikhtiar yang seharusnya dilakukan dalam rangka mempersiapkan kehidupan di akhirat. Ketika masih di dunia dan salah dalam memilih teman yang justru mengajak pada keburukan dan semakin menjauhkan diri dari Allah, maka hanya akan menjadikan penyesalan di akhirat nanti. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Q.S. al-Furqan [25] : 27-29).
Para mufasir menjelaskan kalimat “menggigit dua tangannya” diartikan sebagai penyesalan yang amat sangat dalam, tetapi sia-sia karena sudah tidak mungkin lagi untuk bisa kembali. Karena saat di dunia sebenarnya sudah diingatkan dan diperintahkan. Namun justru tidak mengikuti anjuran kebenaran tersebut. Salah memilih teman justru semakin menjauhkan diri dari pedoman hidup yang hakiki yaitu Al Qur’ an, dan menjauhkan dari kebaikan dan petunjuk hidup yang lurus dan benar. Artinya manusia akan terpisah semakin jauh dari rombongan Rasulullah SAW yang melewati jalan kebenaran menuju kearah kebaikan yang haq yaitu Allah SWT.
Mengapa kita harus selektif dalam memilih teman di dunia? Karena di dunia ada golongan manusia yang terlihat baik kepada seseorang, tetapi justru semakin menjauhkan dan menyesatkan dari jalan kebenaran yang lurus. Oleh karena itu, seseorang perlu untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu. Sehingga ketika dalam beramal memiliki dasar dan prinsip dalam menjalani kehidupan di dunia. Mempelajari ilmu menjadi penting dan tidak ada batasan waktunya, baik anak-anak maupun orangtua, pria maupun wanita. Hal tersebut berguna untuk membedakan dalam memilih golongan dan teman yang sesuai untuk kehidupan di akhirat.
Hasan Al-Bashri dalam Kitab Ma’alimut Tanzil berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”[2] Rasulullah SAW bersabda terkait dengan syafaat yang diberikan diantara para sahabat dihari kiamat, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.” Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.” Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas.” (H.R. Muslim).
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesempatan untuk dapat berteman, berinteraksi, dan menjalani hidup bersama dengan golongan orang-orang shalih. Harapannya supaya saling mendukung dan memotivasi untuk beramal baik karena Allah semata. Dan juga saling menjaga agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan dilarang oleh Allah. Sehingga nantinya dapat kembali berkumpul di akhirat bersama-sama dengan golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang berada di dalam barisan Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan pewaris dan penghuni surga yang kekal. Aamiin ya robbal’aalamiin.
Ahkhak Mulia tanda Kesempurnaan Iman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR Tirmidzi). Berdasarkan hadist tersebut terlihat bahwa akhlak mulia muncul dari iman yang sempurna. Agar individu memiliki akhlak yang baik, maka ia harus memiliki keimanan yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya karena beliau adalah manusia yang paling sempurna keimanannya.
Kesempurnaan keimanan seorang muslim dapat dilihat dari enam rukun iman, yaitu iman pada Swt, iman pada malaikat Swt, iman pada kitab-kitab Swt, Iman pada rasul-rasul Swt, iman pada hari akhir,dan iman pada takdir. Muslim yang beriman pada Swt memiliki keyakinan kuat pada Swt karena ia mengenal Swt dengan sangat baik, setidaknya ia mengenal 20 sifat wajib Swt beserta maknanya. Misalnya dengan mengenal sifat iradat Swt, maka ia akan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Saat ia dicaci maki oleh orang lain, dia akan memandang cacian tersebut sebagai perbuatan Swt, atas kehendak Allahlah orang tersebut mencaci, sehingga ia tidak akan sakit hati dan kemudian mendendam pada orang tersebut. Pada sisi yang lain ia memandang cacian tersebut sebagai bentuk kasih sayang Swt dimana Swt mungkin ingin menegurnya melalui orang atau bentuk kasih sayang Allah agar ia mendapatkan banyak pahala dengan bersabar dan memaafkan orang yang mencacinya.
Kemudian, keimanan pada Swt mengantarkan seorang muslim untuk iman kepada malaikat Swt. Dengan mengenal para malaikat sebagai makhluk ciptaan Swt yang masing-masing mendapatkan tugas dari Allah Subhanahu Wa Swt , seorang muslim akan termotivasi untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Misalnya, dengan meyakini bahwa ada malaikat yang bertugas untuk senantiasa mengawasi manusia, mencatat amal baik dan amal buruk maka seorang muslim akan berhati-hati dalam berperilaku. Contoh yang lain, seorang muslim tidak akan mendoakan hal buruk kepada orang lain karena ia paham dan yakin bahwa ketika ia mendoakan hal buruk untuk orang lain maka ada malaikat yang akan mendoakan hal yang sama untuk dirinya.
Rukun iman yang selanjutnya adalah iman kepada kitab-kitab Swt. Dengan memahami dan mempelajari Al Qur’an sebagai kitab Allah yang masih dijaga kemurniannya sampai akhir zaman, maka seorang muslim akan memiliki keyakinan yang kuat terhadap isi ajaran dalam Al Qur’an. Keyakinan tersebut menjadikannya bersungguh-sungguh berusaha mengamalkan kandungan Al Qur’an dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya, seorang muslim akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berbakti pada kedua orangtuanya karena dalam Al Qur’an ada perintah untuk berbakti pada kedua orangtua. Berkaitan dengan Al Qur’an, ketika Ibunda Aisyah Radhiyallahu’anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau menjawab: “Akhlak Rasulullah adalah Al Quran” (HR Ahmad).
Dengan mengimani rasul-rasul Swt sebagai rukun iman yang keempat, seorang muslim akan terbimbing untuk berakhlak mulia karena ia akan menjadikan rasul Allah Subhanahu Wa Swt sebagai teladan dalam kehidupannya. Untuk itu seorang muslim perlu mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus untuk umat manusia. Seorang muslim perlu mempelajari dan mengenal kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui banyak hal, misalnya dengan membaca buku shiroh nabawiyah, mendengarkan pengajian yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ataupun dengan banyak bersholawat seperti yang diperintahkan oleh Swt dalam Al Qur’an. Insya Allah akan Swt tumbuhkan perasaan mencintai Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui hal tersebut. Kecintaan seorang muslim pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai idola yang akan diteladani dalam setiap aspek kehidupannya.
Iman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim senantiasa mengorientasikan hidupnya untuk akhirat. Orientasi hidup kepada akhirat ini tentu saja akan membimbingnya untuk selalu berperilaku baik karena ia benar-benar faham bahwa perilaku baik akan mengantarkannya pada kebahagiaan di akhirat sedangkan perilaku yang buruk hanya akan memberikan kesengsaraan pada hari kiamat. Dahsyatnya peristiwa di padang mahsyar akan senantiasa membuatnya mengendalikan diri dari perilaku buruk, demikian juga dengan panasnya api neraka. Sedangkan kenikmatan di surga memotivasi seorang muslim untuk berperilaku baik.
Rukun iman yang terakhir adalah iman kepada takdir. Keyakinan pada takdir juga membimbing seorang muslim untuk memeliharanya dari perilaku buruk. Misalnya, seorang muslim yang yakin bahwa setiap orang sudah ditentukan rezekinya masing-masing, maka mustahil dirinya akan iri pada kelebihan atau rizki yang diterima oleh orang lain. Hal itu terjadi karena ia memahami bila dirinya iri terhadap rizki yang diterima oleh orang lain berarti dirinya tidak menerima takdir yang Allah tetapkan pada orang tersebut. Orang yang yakin pada takdir tentu juga tidak akan sombong dengan kelebihan yang dimilikinya karena dia faham bahwa hal tersebut hanya karena Allah mentakdirkan demikian. Dia juga tidak akan rendah diri dengan apa yang ada pada dirinya karena dia menyakini hal tersebut merupakan takdir dari Allah. Demikian juga dia tidak akan menghina orang lain dengan kekurangan orang tersebut karena bila dia menghina kekurangan orang lain maka sama saja dirinya menghina Allah yang mentakdirkan orang tersebut memiliki kekurangan.
Demikianlah, apabila seorang muslim telah memiliki keimanan yang baik pada ke-6 rukum iman, maka tentu ia akan memiliki akhlak yang mulia. Semoga kita senantiasa diberi rahmat dan taufik oleh Swt untuk terus menerus memperbaharui keimanan kita yang akan mendorong kita untuk terus menerus memperbaiki perilaku kita menuju akhlak mulia. Astaghfirullahal’adzim
Termasuk di antara keindahan ajaran agama Islam adalah agama ini mendorong umatnya untuk memiliki akhlak yang mulia dan akhlak yang luhur. Dan sebaliknya, agama ini melarang umatnya dari akhlak-akhlak rendahan dan akhlak yang buruk. Hal ini ditunjukkan oleh banyak hadits tentang akhlak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits tentang akhlak tersebut di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)
Bahkan dengan akhlak mulia, seseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)
Oleh karena itu, akhlak yang luhur dan mulia termasuk perkara yang ditekankan dalam agama ini. Agama ini menekankan dan mendorong kita untuk berhias dengan akhlak yang sempurna terhadap Allah Swt, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga terhadap hamba-hambaNya. Dengan akhlak yang mulia, akan tampaklah kesempurnaan dan ketinggian agama Islam ini, yaitu agama yang indah dan sempurna, baik dari sisi ‘aqidah, ibadah, adab dan akhlak.
Dengan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Dengan bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, bertambah luhur pula akhlaknya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)
Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka waspadalah, mungkin ada yang salah dalam diri kita dalam belajar agama dan mengamalkannya.
Jika kaum muslimin berhias dengan akhlak mulia serta menunaikan hak-hak saudaranya yang itu menjadi kewajibannya, maka hal itu merupakan pintu gerbang utama masuknya manusia ke dalam agama ini. Hal ini sebagaimana yang telah kita saksikan pada zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, ketika manusia berbondong-bondong masuk Islam disebabkan keindahan akhlak dan keluhuran mereka dalam bermuamalah dan interaksi dengan sesama manusia.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullahu Swt berkata,
“Kaum muslimin pada hari ini, bahkan manusia seluruhnya, sangat membutuhkan penjelasan tentang agama Allah, tentang keindahan dan hakikat agama-Nya. Demi Allah, seandainya manusia dan dunia pada hari ini mengetahui hakikat agama ini, niscaya mereka akan masuk Islam dengan berbondong-bondong sebagaimana mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah Allah menaklukkan kota Mekah untuk Nabi-Nya ‘alaihish shalaatu was salaam.” (Majmuu’ Fataawa, 2/338)
Terahir yang sangat penting diperhatikan bahwa tujuan utama kita berhias dengan akhlak mulia dan menunaikan kewajiban kita terhadap sesama manusia adalah dalam rangka taat kepada Allah Swt dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Bukan semata-mata keinginan untuk mendapatkan perlakuan (balasan) yang semisal dari orang lain. Allah Swt berfirman,
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan [76]: 9)
Oleh karena itu, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan selalu mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau,
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku memiliki kerabat. Aku berusaha menyambung silaturahmi dengan mereka, namun mereka memutusnya. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak berbuat baik kepadaku. Aku bersabar dengan gangguan mereka, namun mereka menyakitiku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Jika benar apa yang Engkau katakan, maka seakan-akan Engkau masukkan bara api ke mulut mereka. Dan pertolongan Allah akan terus-menerus bersamamu untuk mengalahkan mereka, selama Engkau bersikap seperti itu.” (HR. Muslim no. 6440)
Dalam hadits tentang akhlak di atas, lihatlah bagaimana petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk memutus hubungan dengan kerabatnya, meskipun kerabatnya memutus hubungan dengannya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ingatkan dengan pahala dan anugerah yang besar dari Allah Swt.
Sebagai makhluk sosial, tentu tidak lepas dari berinteraksi dengan orang lain. Akhlak dan perilaku yang dimiliki seseorang sangat dipengaruh oleh akhlak dan perilaku lingkungan sekitarnya. Dalam Islam, agama yang kita imani sebagai nafas kehidupan seorang muslim, memberikan panduan untuk selalu bergaul dengan orang-orang shalih agar akhlak dan perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan bersama orang-orang shalih, kita akan senantiasa termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik. Begitu juga ketika dalam keadaan lemah atau ingin berbuat sesuatu yang buruk, maka setidaknya ada pengingat yang selalu mengembalikan diri ke jalan yang benar. Rasulullah bersabda:
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ketika sering melihat kebaikan-kebaikan orang shalih, maka dapat memicu adanya rasa cemburu. Sehingga hal ini menumbuhkan motivasi untuk bisa melakukan amal shalih seperti yang mereka lakukan. Karena salah satu kecemburuan yang diperbolehkan dalam agama ini adalah cemburu pada amalan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda
“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara: kepada seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia menginfakannya di sebagian malam dan siangnya, dan kepada seseorang yang Allah berikan Al-Qur’ an dan dia membacanya di sebagian besar malam dan siangnya” (H.R. Muslim).
Terkadang sedikit banyak dapat menilai kebaikan seseorang dengan melihat pergaulan antar sesama temannya, karena kebaikan seseorang memberikan pengaruh baik lingkungan sekitarnya. Begitupun sebaliknya, keburukan seseorang juga bisa memberikan pengaruh buruk terhadap lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu, seorang muslim haruslah senantiasa berusaha untuk bergaul dengan orang baik dan orang shalih, dengan harapan kebaikan itu akan mempengaruhi dirinya. Rasulullah memberikan teladan dengan menjadikan pergaulan sebagai salah satu faktor yang digunakan dalam menilai seseorang. Rasulullah SAW bersabda;
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa memiliki hubungan pertemanan di dunia menjadi sangat penting, karena menjadi salah satu langkah dan ikhtiar yang seharusnya dilakukan dalam rangka mempersiapkan kehidupan di akhirat. Ketika masih di dunia dan salah dalam memilih teman yang justru mengajak pada keburukan dan semakin menjauhkan diri dari Allah, maka hanya akan menjadikan penyesalan di akhirat nanti. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Q.S. al-Furqan [25] : 27-29).
Para mufasir menjelaskan kalimat “menggigit dua tangannya” diartikan sebagai penyesalan yang amat sangat dalam, tetapi sia-sia karena sudah tidak mungkin lagi untuk bisa kembali. Karena saat di dunia sebenarnya sudah diingatkan dan diperintahkan. Namun justru tidak mengikuti anjuran kebenaran tersebut. Salah memilih teman justru semakin menjauhkan diri dari pedoman hidup yang hakiki yaitu Al Qur’ an, dan menjauhkan dari kebaikan dan petunjuk hidup yang lurus dan benar. Artinya manusia akan terpisah semakin jauh dari rombongan Rasulullah SAW yang melewati jalan kebenaran menuju kearah kebaikan yang haq yaitu Allah SWT.
Mengapa kita harus selektif dalam memilih teman di dunia? Karena di dunia ada golongan manusia yang terlihat baik kepada seseorang, tetapi justru semakin menjauhkan dan menyesatkan dari jalan kebenaran yang lurus. Oleh karena itu, seseorang perlu untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu. Sehingga ketika dalam beramal memiliki dasar dan prinsip dalam menjalani kehidupan di dunia. Mempelajari ilmu menjadi penting dan tidak ada batasan waktunya, baik anak-anak maupun orangtua, pria maupun wanita. Hal tersebut berguna untuk membedakan dalam memilih golongan dan teman yang sesuai untuk kehidupan di akhirat.
Hasan Al-Bashri dalam Kitab Ma’alimut Tanzil berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”[2] Rasulullah SAW bersabda terkait dengan syafaat yang diberikan diantara para sahabat dihari kiamat, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.” Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.” Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas.” (H.R. Muslim).
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesempatan untuk dapat berteman, berinteraksi, dan menjalani hidup bersama dengan golongan orang-orang shalih. Harapannya supaya saling mendukung dan memotivasi untuk beramal baik karena Allah semata. Dan juga saling menjaga agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan dilarang oleh Allah. Sehingga nantinya dapat kembali berkumpul di akhirat bersama-sama dengan golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang berada di dalam barisan Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan pewaris dan penghuni surga yang kekal.
Termasuk di antara keindahan ajaran agama Islam adalah agama ini mendorong umatnya untuk memiliki akhlak yang mulia dan akhlak yang luhur. Dan sebaliknya, agama ini melarang umatnya dari akhlak-akhlak rendahan dan akhlak yang buruk. Hal ini ditunjukkan oleh banyak hadits tentang akhlak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits tentang akhlak tersebut di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)
Bahkan dengan akhlak mulia, seseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)
Oleh karena itu, akhlak yang luhur dan mulia termasuk perkara yang ditekankan dalam agama ini. Agama ini menekankan dan mendorong kita untuk berhias dengan akhlak yang sempurna terhadap Allah Swt, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga terhadap hamba-hambaNya. Dengan akhlak yang mulia, akan tampaklah kesempurnaan dan ketinggian agama Islam ini, yaitu agama yang indah dan sempurna, baik dari sisi ‘aqidah, ibadah, adab dan akhlak.
Dengan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Dengan bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, bertambah luhur pula akhlaknya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)
Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka waspadalah, mungkin ada yang salah dalam diri kita dalam belajar agama dan mengamalkannya.
Jika kaum muslimin berhias dengan akhlak mulia serta menunaikan hak-hak saudaranya yang itu menjadi kewajibannya, maka hal itu merupakan pintu gerbang utama masuknya manusia ke dalam agama ini. Hal ini sebagaimana yang telah kita saksikan pada zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, ketika manusia berbondong-bondong masuk Islam disebabkan keindahan akhlak dan keluhuran mereka dalam bermuamalah dan interaksi dengan sesama manusia.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullahu Swt berkata,
“Kaum muslimin pada hari ini, bahkan manusia seluruhnya, sangat membutuhkan penjelasan tentang agama Allah, tentang keindahan dan hakikat agama-Nya. Demi Allah, seandainya manusia dan dunia pada hari ini mengetahui hakikat agama ini, niscaya mereka akan masuk Islam dengan berbondong-bondong sebagaimana mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah Allah menaklukkan kota Mekah untuk Nabi-Nya ‘alaihish shalaatu was salaam.” (Majmuu’ Fataawa, 2/338)
Terahir yang sangat penting diperhatikan bahwa tujuan utama kita berhias dengan akhlak mulia dan menunaikan kewajiban kita terhadap sesama manusia adalah dalam rangka taat kepada Allah Swt dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Bukan semata-mata keinginan untuk mendapatkan perlakuan (balasan) yang semisal dari orang lain. Allah Swt berfirman,
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan [76]: 9)
Oleh karena itu, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan selalu mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau,
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku memiliki kerabat. Aku berusaha menyambung silaturahmi dengan mereka, namun mereka memutusnya. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak berbuat baik kepadaku. Aku bersabar dengan gangguan mereka, namun mereka menyakitiku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Jika benar apa yang Engkau katakan, maka seakan-akan Engkau masukkan bara api ke mulut mereka. Dan pertolongan Allah akan terus-menerus bersamamu untuk mengalahkan mereka, selama Engkau bersikap seperti itu.” (HR. Muslim no. 6440)
Dalam hadits tentang akhlak di atas, lihatlah bagaimana petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk memutus hubungan dengan kerabatnya, meskipun kerabatnya memutus hubungan dengannya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ingatkan dengan pahala dan anugerah yang besar dari Allah Swt.
Dua (2) Alasan Pentingnya Akhlak Mulia Bagi Setiap Muslim. Dalam menjalani roda kehidupan yang semakin berkembang pesat, baik secara perilaku maupun gaya hidup, menjadi penting bagi setiap Insan untuk memahami berbagai perubahan tingkah laku manusia. Tidak hanya mengetahuai dan memahami, manusia juga dituntut untuk tahu bagaimana pentingnya memiliki akhlak atau karakter yang baik. Dalam agama Islam secara umum ada dua alasan mengapa kita harus berakhlak yang baik. Di antaranya:
Akhlak Mulia Sebagai Amal Luar Biasa
Suatu amalan tidak harus berat untuk memperoleh pahala besar, tetapi bisa saja mudah namun tetap mendapatkan pahala besar. Sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Thabari: dari Anas bin Malik ra. Berkata: “Wahai Abu Dzar maukah kamu saya beri tahu tentang dua hal yang ringan namun timbangannya lebih berat dari hal lainnya?” ia menjawab: “Tentu wahai Rasulullah”. Rasul menjawab: “Hendaklah kamu berakhlak mulia dan berdiam diri. Demi Allah, tidak ada amal yang lebih bernilai dari keduanya.”
Dalam kacamata Al-Qur’an, akhlak mulia sebagai amalan diungkapkan dengan kalimat bahwa jika kita berbuat baik dan berperilaku baik, maka balasan yang didapatkan pun akan baik, firman-Nya,
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S. Ar-Rahman: 60)
Jika kita berbuat baik, terlebih menampakkan akhlak yang baik kepada sesama manusia, maka kita akan mendapatkan kebaikan juga dari Allah swt.
Manfaat berbuat kebaikan dan berperilaku baik akan dirasakan balasannya dan tidak ada satu perbuatan pun yang menjadi sia-sia di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Penghargaan orang yang melakuan kebaikan dan yang berperilaku baik yang khusus di akhirat tersebut dalam berbagai Hadits Nabi antara lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Imam Turmudzi,
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي المِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ (رواه أبو داود والترمذي)
“Tidak ada amalan yang melebihi berat timbangannya di hari kiamat dari akhlak yang baik “. (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)
Hadits diatas menunjukkan perihal akhlak atau perilaku yang baik, jika seseorang mampu memperbaiki perilakunya maka akan mendapatkan keutamaan yang luar biasa. Bahkan timbangan pun merasa berat menimbangnya. Karena akhlak menjadi amal utama bagi manusia di akhirat kelak.
Derajat Orang Berakhlak Mulia
Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan bahwa orang yang berakhlak mulia memiliki kedudukan yang paling tinggi disisi Allah. Ketinggian derajat yang dicapainya menyamai posisi orang yang berpuasa dan shalat di malam hari. Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya orang-orang mu’min dengan akhlaknnya dapat mencapai derajat orang-orang yang berpuasa dan melakukan shalat malam.” (H.R. Abu Dawud)
Hadits diatas memberi penegasan kepada manusia yang berakhlak baik, bahwa mereka diselaraskan dengan derajat orang yang berpuasa di siang hari dan bangun malam untuk ibadah di malam hari. Teks Hadits ini menunjukkan keutamaan kedudukan orang yang berakhlak baik. Tetapi jangan dipahami bahwa orang yang berakhlak baik berarti sudah melaksanakan puasa dan shalat malam hari sehingga tidak perlu melaksanakannya lagi. Ini adalah pandangan yang kurang tepat. Puasa dan shalat malam nya tetap belum terlaksana, hanya saja Nabi ingin menjelaskan kedudukan dan pahala yang didapatkan oleh orang yang berperilaku baik itu sama dengan orang yang berpuasa dan bangun malam setiap hari untuk Tuhannya.
Dalam kacamata Al-Qur’an, kedudukan orang yang berakhlak mulia tidak kalah hebatnya. Walaupun tidak secara gamblang dijelaskan dalam Al-Qur’an tentang kedudukan orang yang berperilaku baik, namun esensinya dapat diambil dari firman-Nya,
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S. an-Nisa: 69-70)
Ayat diatas memberi penjelasan bahwa orang yang senantiasa menaati perintah Allah dan rasul-Nya, mengerjakan segala yang diperintahkan seperti berbuat baik dan berperilaku baik, maka akan mendapatkan kedudukan surga bersama para petinggi Tuhan disana, para Nabi, orang-orang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Maka jangan pernah ragu untuk berperilaku baik dan indah di hadapan siapapun.