This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 20 Juli 2022

Peranan Akhak dalam kehidupan seorang muslim

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq”, jamaknya “akhlâq” yang berarti tabiat atau budi pekerti. Prof. Ahmad Amin, dikutif Hamzah Yaqub, mendefinisikan akhlak adalah “suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.” Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu akhlak ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Senada dengan pengertian ini ulama lain menjelaskan bahwa ilmu akhlak adalah “ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pegaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.” Kata akhlak di dalam al-Quran disebutkan pada surat al-Qalam (68): 4, sedangkan di dalam haditsdijelaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari imam Ahmad.

Tolak Ukur dalam Akhak

Al-Quran menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari aqidah dan syariah, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari surat al-Baqarah (2): 177, yang berarti: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat al-Quran tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Allah Swt. adalah merupakan dasar dari kebajikan. Kenyataan ini tidak akan pernah terbukti, kecuali jika iman tersebut telah meresap di dalam jiwa dan ke seluruh pembuluh nadi yang disertai dengan sikap khusyuʾ, tenang, taat, patuh, dan hatinya tidak akan meledak-ledak lantaran mendapatkan kenikmatan, dan tidak putus asa ketika ditimpa musibah. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. hanya mau tunduk dan taat kepada Allah Swt. dan syariat-syariat-Nya.

Selanjutnya iman kepada hari akhir mengingatkan manusia bahwa ternyata terdapat alam lain yang gaib, kelak di akhirat yang akan dihuni. Oleh sebab itu, hendaklah usahanya itu jangan hanya dipusatkan untuk memenuhi kepentingan jasmani atau cita-cita meraih kelezatan duniawi saja atau memuaskan hawa nafsu. Demikian juga iman kepada para Malaikat adalah titik tolak iman kepada wahyu, kenabian, dan hari akhir. Siapapun yang menolak keimanan terhadap Malaikat, berarti mengingkari seluruhnya. Hal ini disebabkan di antara para Malaikat itu ada yang bertugas sebagai penyampai wahyu kepada para Nabi. Sedangkan iman kepada kitab-kitab samawi yang dibawa oleh para Nabi mendorong seseorang untuk mengamalkan kandungan kitab yang berupa perintah maupun larangan. Sebab orang yang yakin bahwa sesuatu itu benar, maka hatinya akan terdorong untuk mengamalkannya. Dan jika ia yakin bahwa sesuatu itu akan membahayakan dirinya, tentu akan menjauhinya dan tidak mengamalkannya. Sedangkan Iman kepada para nabi, akan mendorong untuk mengikuti ajarannya.

Ayat al-Quran tersebut, kemudian menentukan tentang syariah, yakni memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Kemudian ayat ini mengatur tentang akhlak, yatu orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.

Islam mengatur tolok ukur berakhlak adalah berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya, pasti baik dalam esensinya. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kepalsuan sebagai kelakuan baik, karena kepalsuan esensinya pasti buruk. Selain itu Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki sifat yang terpuji, seperti al-Quran surat Thaha (20): 8 menjelaskan: “(Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai sifat-sifat yang terpuji (al-Asmȃˋ al-Husnȃ).” Demikian juga Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad meriwayatkan Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw., beliau menjawab: “Akhlak Nabi Saw. adalah al-Quran.”

Semua sifat Allah Swt. disebutkan dalam al-Quran yang jumlahnya disebutkan di dalam hadits. Sifat-sifat Allah ini merupakan satu kesatuan. Dia Esa di dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Oleh karena itu, tidak wajar jika sifat-sifat itu dinilai saling bertentangan. Maksudnya semua sifat memiliki tempatnya masing-masing. Ada tempat untuk keperkasaan dan keangkuhan Allah, ada tempat untuk kasih sayang dan kelemahlembutan-Nya. Ketika seorang muslim meneladani sifat al-Kibriyâ (Keangkuhan Allah), ia harus ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Allah Swt., kecuali dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang atau terhadap orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasulullah Saw. melihat seseorang yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau bersabda: “itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali dalam kondisi semacam ini.” Seseorang yang berusaha meneladani sifat al-Kibriyâ tidak akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang angkuh. Berkaitan dengan hal ini ada riwayat yang menyebutkan: “Bersikap angkuh terhadap orang-orang yang angkuh adalah sedekah.”

Ketika seorang Muslim berusaha meneladani kekuatan dan kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia terdiri dari jasad dan ruh, sehingga keduanya harus sama-sama kuat. Kekuatan dan kebesaran ini harus diarahkan untuk membantu yang lemah, dan tidak boleh digunakan untuk mendukung kejahatan atau kesewenang-wenangan. Karena ketika al-Quran mengulang-ngulang kebesaran Allah, al-Quran juga menegaskan bahwa: “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang angkuh lagi membanggakan diri (QS Luqman [31]: 18).

macam-macam Akhak

Para ahli membagi akhlak ini menjadi dua macam:

1. Akhlak Mahmudah atau akhlak yang terpuji. Ini termasuk budi pekerti yang baik. Menurut Hasan rahimahullah bahwa budi pekerti yang baik adalah menunjukkan wajah yang berseri-seri, memberikan bantuan sebagai tanda kedermawanan dan menahan diri dari perbuatanyang menyakiti. Selanjutnya Hasan menambahkan budi pekerti yang baik ialah membuat kerelaan seluruh makhluk, baik dalam kesukaan (karena murah rezeki) atau dalam kedukaan (keadaan kekurangan). Jadi budi pekerti ini hakikatnya adalah suatu bentuk dari sesuatu jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari situlah timbulnya berbagai perbuatan dengan cara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat dan tanpa membutuhkan pemikiran atau angan-angan. Contoh akhlak terpuji di dalam al-Quran surat Ali-imran (3): 159, yang artinya: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Contoh akhlak mulia di dalam hadits riwayat Muslim yang diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Hak seorang Muslim atas seorang Muslim ada enam perkara: apabila engkau bertemu dia hendaklah engkau beri salam kepadanya, apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau memenuhinya, apabila ia meminta nasihat, hendaklah engkau menasihatinya, apabila ia bersin kemudian ia berkata “alhamdulillah” hendaklah engkau doakan dia, jika ia sakit hendaklah engkau mengunjunginya, dan apabila ia meninggal dunia hendaklah engkau mengikuti janazahnya.”

2. Akhlak Madzmumah atau akhlak yang tercela. Al-Quran menjelaskan akhlak tercela ini di dalam surat al-Hujurȃt (49): 12, Yang artinya:  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Contoh akhlak tercela ini di dalam hadits Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. telah bersabda: “Ada empat perkara, barangsiapa yang memiliki semuanya itu dalam dirinya, maka ia adalah seorang munafik, sedang barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat-sifat itu di dalam dirinya, maka ia memiliki salah satu sifat kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat tadi. Empat perkara itu adalah jika berbicara dusta, jika berjanji menyalahi, apabila menjanjikan sesuatu cidera, dan jika bermusuhan berlaku curang.” Termasuk juga akhlak yang tercela adalah ghibah, yang didalam hadits Muslim, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ghibah adalah jika engkau menyebutkan perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya. Hal-hal yang menyebabkan ghibah di antaranya: ingin melenyapkan kemarahan, dorongan kemegahan diri, kedengkian, penghinaan, dan lain-lain.

Contoh akhlak tercela di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Ibn Masud r.a. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan meninggalkan yang lain, tetapi hendaklah kamu bercampur dengan sesama manusia, karena sikap yang demikian akan menjadikan dia kecewa.” Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan doa agar dihindarkan dari hal-hal yang jelek, termasuk salah satunya dari akhlak yang tercela. Doa Rasulullah tersebut berbunyi: “Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak, amal, kemauan, dan penyakit yang jelek.”

Sasaran dari Akhak

Akhlak mempunyai makna yang luas, yang dapat mencakup sifat lahiriyah maupun batiniah. Akhlak menurut pandangan Islam mencakup berbagai aspek, dapat mencakup akhlak terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk seperti manusia dan lingkungan.

1. Akhlak terhadap Allah Swt.

Landasan umum berakhlak terhadap Allah Swt. adalah pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu yang semua makhluk tidak dapat mengetahui dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian Allah swt. Oleh karena itu, mereka sebelum memuji-Nya, bertasbih terlebih dahulu dalam arti menyucikan-Nya. Jadi jangan sampai pujian yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan kebesaran-Nya, sebagaimana al-Quran surat ash-Shaffat (37): 159-160, yang artinya: “Mahasuci Allah dari segala sifat yang mereka sifatkan kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang terpilih.” Demikian juga al-Quran surat asy-Syura (42): 5 menetapkan: “Dan para malaikat menyucikan sambil memuji Tuhan mereka.” Begitu juga al-Quran surat ar-Raʻad (13): 13 menjelaskan: “Guntur menyucikan (Tuhan) sambil memuji-Nya.” Selanjutnya al-Quran surat al-Isra (17): 44, menetapkan: “Dan tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih (menyucikan Allah) sambil memuji-Nya.”

Bertitik tolak dari uraian tentang kesempurnaan Allah Swt. tersebut, maka al-Quran memerintahkan manusia untuk berserah diri kepada-Nya, karena segala yang bersumber dari Allah adalah baik, benar, indah, dan sempurna. Berkaitan dengan hal ini, sebagian ayat al-Quran memerintahkan manusia untuk menjadikan Allah sebagai “wakil”, seperti al-Quran surat al-Muzzammil (73): 9, menerangkan: “(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil (pelindung).” Kata “wakil”dapat diterjemahkan sebagai pelindung. Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain (untuk suatu persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut, sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya. Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan semua Maha yang mengandung pujian. Manusia sebaliknya, memiliki keterbatasan pada segala hal. Oleh karena itu, maka perwakilan-Nya pun berbeda dengan perwakilan manusia. Jadi jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakil, sejak semula ia menyadari keterbatasan dirinya dan menyadari Kemahamutlakan Allah Swt. Dan ia akan menerimanya dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu perbuatan Tuhan. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216), dan lihat (QS al-Ahzab [33]: 36).

2. Akhlak terhadap sesama manusia.

Al-Quran menjelaskan perlakuan sesama manusia, baik berupa larangan, seperti membunuh, menyakiti badan atau harta tanpa alasan yang benar, juga termasuk larangan menyakiti hati, walaupun disertai dengan memberi. Lihat (QS al-Baqarah [2]: 263). Selain itu, al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar, termasuk Nabi Muhammad Saw. dinyatakan pula sebagai manusia biasa, namun dinyatakan pula beliau adalah Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah. Atas dasar ini beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi manusia lain, seperti dalam al-Quran (QS al-Hujurat [49]: 2; QS an-Nur [24]: 63). Al-Quran juga menekankan perlunya privasi (kekuasaan atau kebebasan pribadi), (QS an-Nur [24]: 27 dan  58); salam yang diucapkan wajib dijawab dengan salam yang serupa, dan dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS an-Nisa [4]: 86); Setiap ucapan harus ucapan yang baik (QS al-Baqarah [2]: 83 dan QS al-Ahzab [33]: 70) Seseorang tidak boleh mengolok-olokkan orang lain atau kelompok lain dan tidak boleh memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Demikian juga seseorang tidak boleh berprasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan menggunjing orang lain. Al-Quran menjelaskan juga di antara ciri-ciri orang yang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 134-135). Selain itu, al-Quran menetapkan harus mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri (QS al-Hasyr [59]: 9).

3. Akhlak terhadap lingkungan.

Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan ini menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum matang, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Hal ini mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan di sekitarnya. Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini meyakinkan setiap muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.

Berkaitan dengan hal ini, al-Quran surat al-Anʻam (6): 38 menegaskan bahwa binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya merupakan umat-umat juga seperti manusia, sehingga semuanya tidak boleh diperlakuka secara aniaya, baik dalam masa damai maupun ketika terjadi peperangan. Termasuk mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali jika terpaksa, tetapi inipun harus seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan (QS al-Hasyr [59]: 5). Dengan pengakuan semua milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran bahwa apapun yang berada dalam genggaman-Nya, tidak lain kecuali amanat yang harus dipertanggungjawabkan (QS at-Takatsur (102): 8. Manusia dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah Swt. menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.

Pernyataan Allah dalam al-Quran surat al-Ahqaf (46): 3, mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, tetapi juga harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak. Manusia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam. Yang menundukkan alam menurut al-Quran adalah Allah. Mereka tidak sedikitpun mempunyai kemampuan, kecuali berkat kemampuan yang dianugrahkan Tuhan kepadanya (QS az-Zukhruf [43]: 13). Oleh karena itu manusia harus mengusahakan keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus bersahabat. Al-Quran mengharuskan setiap orang mukmin untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. yang diutus membawa rahmat bagi seluruh alam. Selain itu, Rasulullah Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana hadits riwayat at-Timidzi dari Abu Dardaˋ yang menjelaskan bahwa beliau bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur.”


Referensi sebagai berikut ini ;








Memperbaiki Akhlak Paling Efektif Menurut Rasulullah Muhammad SAW

Memperbaiki Akhlak Paling Efektif Menurut Rasulullah Muhammad SAW, akhlak, tak lepas dari perilaku seseorang, baik akhlakul karimah (akhlak baik) maupun akhlakul mazmumah (akhlak buruk). Seorang insan tercipta dengan dua macam akhlak, yakni akhlak yang sudah ada sejak lahir, dan akhlak yang bisa dirubah menjadi lebih baik. Nah, bagi seseorang yang merasa belum menemukan jati dirinya dan berupaya memperbaiki diri, ada beberapa cara efektif untuk memperbaiki akhlak menurut Rasulullah SAW. Berikut penjelasannya.

1. Membenarkan Akidah

Akidah yang benar (yakni akidah ahlus sunnah wal jama’ah) dapat menjadikan akhlak kita menjadi lebih baik. Hal ini telah terbukti bahwa akidah para salafus shalih mampu menghantarkan mereka kepada akhlak yang mulia dan menghindarkan mereka dari akhlak yang tercela. Selain itu, kualitas akidah kita juga sangat mempengaruhi kualitas akhlak kita. Apabila akidah dan keimanan kita baik, maka baik pula akhlak yang kita miliki

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Abu Dawud : 4682)

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan dan akhlak memiliki hubungan yang sangat erat.  Oleh karena itu, tidaklah kita memperbaiki akhlak kecuali dengan membenarkan akidah dan meningkatkan keimanan terlebih dahulu.

2. Mengokohkan Iman

Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepada-Nya. Keimanan juga membuat seseorang lebih konsisten dengan akhlak baiknya.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, ‘Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.’ Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR At-Tirmidzi).

3. Memperbaiki Akhlak dengan Beribadah

Ibadah adalah sebuah cara dan wasilah yang paling utama untuk melatih dan mendidik diri kita untuk menjadi lebih baik. Ibadah tidak hanya menjadi wasilah untuk mendidik aspek ruhiyyah saja. Namun, ibadah juga mendidik aspek jismiyyah, ijtima’iyyah, khuluqiyyah, jamaliyyah, maupun aqliyyah. Semua aspek tersebut akan terlatih apabila kita istiqomah melaksanakan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

4. Membaca Al-Quran

Al Quran adalah petunjuk utama dalam berakhlak mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman : Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, (QS. Al-Israa’ : 9).

Rasulullah sendiri menjadikan Al Quran sebagai tolak ukur bagi dirinya dalam berakhlak. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim wajib membaca dan mempelajari Al Quran. Dengan membaca dan mempelajarinya maka kita akan mengetahui bagaimana cara berakhlak yang benar. Ketahuilah, sesungguhnya Al Quran merupakan obat hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang yang beriman.

Allah SWT berfirman : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)

5. Memperbaiki Akhlak dengan Bersabar

Akhlak yang baik berdiri di atas empat rukun yang mendirikannya tidak boleh berpindah kecuali berada di atasnya (yaitu) : sabar, menjaga diri dari yang buruk, berani, dan adil.

Sabar itu ada tiga jenis, diantaranya : Sabar dengan Allah, adalah kita senantiasa bersabar meminta pertolongan kepada-Nya agar tetap dalam kesabaran.

Sabar untuk Allah, adalah hendaknya kita bersabar dalam rangka meraih cintanya Allah, dan menginginkan wajah-Nya.

Sabar bersama Allah, adalah kita bersabar menetap bersama apa yang Allah kehendaki terhadap diri kita dan bersabar menjalani hukum-hukum agama-Nya.

6. Mempelajari Perjalanan Hidup Nabi

Cara memperbaiki akhlak selanjurnya yaitu dengan mempelajari perjalanan hidup Rasulullah. Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan:

Barang siapa yang menghendaki kebaikan akhirat, hikmah dunia dan perjalanan hidup yang adil serta memiliki seluruh akhlak yang baik serta memperoleh keunggulan yang memikat,…

maka hendaknya ia meneladani Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkan akhlaknya dan meneladani perjalanan kehidupannya dengan segenap kemampuannya.

Oleh karena itu, tidaklah mungkin kita meneladani Rasulullah kecuali dengan mempelajari perjalanan kehidupan beliau.

7. Bersahabat dengan Orang Berakhlak Mulia

Sebenarnya akhlak kita sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang kita jadikan sebagai sahabat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sebagai teman. (HR. Abu Dawud : 4833)

Oleh karena itu, agar kita bisa memperoleh akhlak yang baik, maka bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia adalah suatu keniscayaan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari : 5534)

8. Mengunjungi Orang yang Berakhlak Mulia

Apabila kita banyak berkunjung dan bertemu dengan orang-orang yang berakhlak mulia dan mempelajari akhlak mereka maka kita akan dimudahkan untuk memperbaiki akhlak. Tahukah kamu? Bahwa penyebab mulianya akhlak para sahabat adalah karena mereka senantiasa mengunjungi Nabi dalam rangka mempelajari akhlak dan adab beliau. Cara itu kemudian diwariskan kepada para generasi setelahnya, dimana mereka mempelajari akhlak guru mereka sebagaimana mempelajari ilmu dari mereka.

9. Memperbaiki Akhlak dengan Mengingat Kehidupan di Akhirat

Untuk memperbaiki akhlak dalam islam, kita hendaknya mempunyai sifat zuhud dan selalu mengingat akhirat. Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Ma jah).

10. Melatih Diri Sendiri

Akhlak yang mulia tidak dapat diperoleh dengan hanya berdiam diri. Justru dengan berlatih itulah maka Allah akan memperbaiki akhlak kita.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya barang siapa yang berusaha menjaga diri dari meminta-minta maka Allah akan menjaganya dari meminta-minta, dan barang siapa yang berusaha menyabarkan diri maka Allah berikan dia kesabaran, dan barang siapa yang berusaha merasa cukup maka Allah berikan ia kecukupan. Kalian tidak akan pernah diberikan pemberian yang terbaik dan terluas dari pada sebuah kesabaran.” (HR. Bukhari : 6470).

Jadi, sudah tau kan cara-cara memperbaiki akhlak itu tidak sulit, bukan? Terapkan di kehidupan sehari-harimu ya, sahabat muslimah. Dan jangan lupa untuk tetap memperbaiki diri hari ke hari menjadi pribadi yang lebih baik.

Referensi sebagai berikut ini ;









10 Cara Nabi Muhammad SAW dalam Memperbaiki Akhlak

10 Cara Nabi Muhammad SAW dalam Memperbaiki Akhlak. Tugas utama Rasulullah Muhammad SAW ialah mengubah umat manusia menjadi insan yang ‘abid, saleh, dan mushlih yakni mampu melakukan perbaikan. Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Alquran dan hadis, serta membina keterampilan umat. Lihat Alquran surah al-Jumuah ayat 2. Artinya, "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

Beliau shalallahu 'alaihi wasallam telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik. Hal itu sebagaimana disabdakan beliau, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR al-Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at- Taubah: 100).

Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab. Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepada-Nya. Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam Alquran surah al-An’am ayat 162.

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada." (HR Ahmad dan Turmudzi) Dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan manusia yang beriman, walau ketika digoda iblis (QS al-A’raf 201). Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam surah az-Zumar ayat 1 dan al-Bayyinah ayat 5. Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya. Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat. Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Ma jah).

Kelima, Rasulullah SAW mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya. Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia. Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.

Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, 'Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.' Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu. Rasulullah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari).

Hadis ini menegaskan kewajiban menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya. Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun hal lainnya agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW.

Referensi sebagai berikut ini ; 








Cara Memperbaiki Akhlak Menjadi Lebih Baik

Cara Memperbaiki Akhlak Menjadi Lebih Baik, Perbaikilah akhlakmu, maka engkau berada dalam barisan orang-orang telah dijanjikan dekat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kelak di hari kiamat.” Jawab sang ustadz. Tahukah Anda? Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Tirmidzi : 2018). Sebagaimana konsep akhlak dalam Islam yang telah kita pelajari, ternyata akhlak itu terbagi menjadi dua, yakni akhlak yang sudah ada sejak lahir dan akhlak yang perlu upaya untuk merubahnya menjadi lebih baik.

Bagaimana caranya agar kita bisa memiliki akhlak yang baik? Tentu semua itu ada ilmunya. Maka dari itu, mari kita pelajari bersama bagaimana cara memperbaiki akhlak agar menjadi lebih baik. Berikut ini ada 20 cara memperbaiki akhlak yang kami rangkum :

1. Membenarkan Akidah

Akidah yang benar (yakni akidah ahlus sunnah wal jama'ah) dapat menjadikan akhlak kita menjadi lebih baik. Hal ini telah terbukti bahwa akidah para salafus shalih mampu menghantarkan mereka kepada akhlak yang mulia dan menghindarkan mereka dari akhlak yang tercela.

Selain itu, kualitas akidah kita juga sangat mempengaruhi kualitas akhlak kita. Apabila akidah dan keimanan kita baik, maka baik pula akhlak yang kita miliki.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Abu Dawud : 4682)

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan dan akhlak memiliki hubungan yang sangat erat.  Oleh karena itu, tidaklah kita memperbaiki akhlak kecuali dengan membenarkan akidah dan meningkatkan keimanan terlebih dahulu.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ. فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ: زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ. وَكَذَلِكَ التَّصَوُّفُ

Agama itu semuanya adalah akhlak. Barang siapa yang bertambah akhlaknya, maka bertambah pula agamanya. Seperti itulah tasawwuf.

2. Beribadah

Ibadah adalah sebuah cara dan wasilah yang paling utama untuk melatih dan mendidik diri kita untuk menjadi lebih baik.Ibadah tidak hanya menjadi wasilah untuk mendidik aspek ruhiyyah saja. Namun, ibadah juga mendidik aspek jismiyyah, ijtima’iyyah, khuluqiyyah, jamaliyyah, maupun aqliyyah. Semua aspek tersebut akan terlatih apabila kita istiqomah melaksanakan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

Tentunya semua itu harus tetap kita niatkan untuk mengharapkan wajah-Nya.

3. Membaca Al Quran

Al Quran adalah petunjuk utama dalam berakhlak mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, (QS. Al-Israa’ : 9)

Rasulullah sendiri menjadikan Al Quran sebagai tolak ukur bagi dirinya dalam berakhlak. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim wajib membaca dan mempelajari Al Quran. Dengan membaca dan mempelajarinya maka kita akan mengetahui bagaimana cara berakhlak yang benar. Ketahuilah..! Sesungguhnya Al Quran merupakan obat hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang yang beriman.

Allah  Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)

4. Melatih Diri

Akhlak yang mulia tidak dapat diperoleh dengan hanya berdiam diri. Justru dengan berlatih itulah maka Allah akan memperbaiki akhlak kita.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Sesungguhnya barang siapa yang berusaha menjaga diri dari meminta-minta maka Allah akan menjaganya dari meminta-minta, dan barang siapa yang berusaha menyabarkan diri maka Allah berikan dia kesabaran, dan barang siapa yang berusaha merasa cukup maka Allah berikan ia kecukupan. Kalian tidak akan pernah diberikan pemberian yang terbaik dan terluas dari pada sebuah kesabaran. (HR. Bukhari : 6470)

5. Memotivasi Diri

Apabila kita ingin memperoleh akhlak yang mulia maka hendaknya kita senantiasa memotivasi diri dengan mengkaji keutamaan-keutamaan akhlak mulia yang telah disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan motivasi diri inilah kita menjadi lebih semangat dan senantiasa berusaha memperbaiki akhlak menjadi lebih baik.

6. Merasa Takut Akan Akibat Akhlak Tercela

Buruknya akhlak dapat mengurangi kedudukan kita di sisi Allah. Karena buruknya akhlak juga merupakan perbuatan maksiat. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan :

وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: سُقُوطُ الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ وَالْكَرَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ خَلْقِهِ، فَإِنَّ أَكْرَمَ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ، وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَطْوَعُهُمْ لَهُ، . . .

Diantara akibat dari perbuatan maksiat adalah hilangnya kehormatan, kedudukan, dan kemuliaan di sisi Allah dan juga makhluk-Nya.

Karena sesungguhnya makhluk yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka, dan yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah yang paling taat di antara mereka.

Apabila kita senantiasa berakhlakul karimah maka kedudukan kita akan semakin tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, apabila kita berakhlak buruk maka kedudukan kita akan semakin menurun di sisi Allah. Bahkan sebaik apapun ibadah kita kepada Allah, hanya akan menghantarkan kita ke dalam neraka apabila kita memiliki akhlak yang buruk. 

Perhatikan hadits di bawah ini!!

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: هِيَ فِي النَّارِ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Ada seorang lelaki berkata : “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang dikenal banyak shalatnya, banyak berpuasa, dan banyak bersedekah, akan tetapi ia menyakiti tetangga dengan lisannya”

Rasulullah menjawab : “Ia di neraka.”

Ia bertanya lagi : “Ada juga seorang wanita yang dikenal sedikit puasanya, sedikit sedekahnya, bahkan ia hanya menyedekahkan sepotong keju dari susu yang dibekukan, namun ia tidak menyakiti tetangga dengan lisannya.”

Rasulullah menjawab : “Ia di surga.” (HR. Ahmad : 9675)

7. Amar Makruf Nahi Mungkar dan Saling Menasihati

Kita sebagai manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan tentu akan sangat membutuhkan orang-orang yang mengingatkan kesalahan yang kita perbuat.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk selalu memerintahkan manusia pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan saling menasihati.

Allah Swt berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz-Dzariyat : 55)

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran : 104)

Amar makruf nahi mungkar dan saling menasihati adalah upaya terbaik yang dipraktekkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dalam mendidik akhlak manusia.

8. Bercita-cita Tinggi

Cita-cita yang tinggi dan mulia sangatlah diperlukan untuk menunjang kemuliaan akhlak kita. 

Seorang yang bercita-cita rendah, tidak memiliki tekad yang kuat, mudah putus asa dan selainnya merupakan sifat akhlak yang tercela. Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan :

فَمَنْ عَلَتْ هِمَّتُهُ، وَخَشِعَتْ نَفْسُهُ؛ اتَّصَفَ بِكُلِّ خُلُقٍ جَمِيْلٍ، وَمَنْ دَنَتْ هِمَّتُهُ، وَطَغَتْ نَفْسُهُ؛ اتَّصَفَ بِكُلِّ خُلُقٍ رَذِيْلٍ

Barang siapa yang memiliki cita-cita yang tinggi dan ketundukan jiwa maka ia telah memperoleh semua sifat akhlak yang mulia.

Barang siapa yang rendah cita-citanya dan durhaka jiwanya maka ia telah memperoleh semua sifat akhlak yang tercela.[3]

9. Sabar

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

وَحُسْنُ الْخُلُقِ يَقُومُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ لَا يُتَصَوَّرُ قِيَامُ سَاقِهِ إِلَّا عَلَيْهَا: الصَّبْرُ، وَالْعِفَّةُ، وَالشَّجَاعَةُ، وَالْعَدْلُ

Akhlak yang baik berdiri di atas empat rukun yang mendirikannya tidak boleh berpindah kecuali berada di atasnya (yaitu) : sabar, menjaga diri dari yang buruk, berani, dan adil.

Sabar itu ada tiga jenis, diantaranya :

  • Sabar dengan Allah
  • Sabar untuk Allah
  • Sabar bersama Allah

Pertama : Sabar dengan Allah adalah kita senantiasa bersabar meminta pertolongan kepada-Nya agar tetap dalam kesabaran. Karena sesungguhnya sabarnya seorang hamba adalah berkat pertolongan dari Rabbnya, bukan dari dirinya.

Allah Swt berfirman :

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah (QS. An-Nahl : 127) Kedua : Sabar untuk Allah adalah hendaknya kita bersabar dalam rangka meraih cintanya Allah, dan menginginkan wajah-Nya. Ketiga : Sabar bersama Allah adalah kita bersabar menetap bersama apa yang Allah kehendaki terhadap diri kita dan bersabar menjalani hukum-hukum agama-Nya.

10. Wejangan dan Nasihat

Mendengarkan nasihat sangatlah dibutuhkan untuk menanamkan nilai-nilai akhlak di dalam diri kita. Terlebih lagi apabila kita sedang dalam keadaan futur. Sesungguhnya jiwa kita ini bagaikan tanaman sedangkan nasihat itu bagaikan air. Apabila jiwa ini tidak pernah disiram dengan nasihat maka ia akan layu dan mati.

11. Saling Berwasiat

Berwasiat yang dimaksud adalah saling mewasiatkan perihal akhlakul karimah. Caranya adalah dengan terus menebarkan kebaikan dan menyampaikan fadhilah berakhlak mulia kepada orang lain.

Selain itu, kita juga harus memperingatkan orang lain agar tidak terjerumus ke dalam akhlak yang buruk. Kemudian kita berikan mereka dorongan serta motivasi agar kembali berakhlak mulia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya akhlak mulia adalah bagian dari Al-Haq (kebenaran) Maka saling mewasiatkannya adalah suatu keniscayaan. Barang siapa yang meninggalkannya maka ia termasuk golongan orang-orang yang merugi. 

Allah ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2)

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (3) (QS. Al-Ashr : 1 – 3)

Dikisahkan pula tentang pentingnya saling berwasiat di kalangan para sahabat:

كَانَ الرَّجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ: {وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ} [العصر: 2] ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ

Dahulu apabila ada dua orang dari sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam saling bertemu maka mereka berdua tidak akan berpisah hingga salah seorang diantara mereka membaca surat Al-‘Ashr kepada kawannya, kemudian barulah salah seorang diantara mereka berdua memberi salam kepada kawan yang satunya.(HR. Thabrani : 5124)

12. Menjadikan Orang Lain Ukuran Bagi Dirinya

Manusia yang berakal adalah mereka yang melihat orang lain lalu menjadikan orang lain itu sebagai ukuran bagi dirinya.

Setiap hal yang apabila ia diperlakukan dengan hal itu oleh orang lain lantas ia membencinya maka ia akan menjauhi hal itu dan tidak melakukannya.

Sebaliknya, setiap hal yang apabila ia diperlakukan dengan hal itu lantas ia menyukainya maka ia akan lakukan hal itu untuk orang lain.

13. Panutan dalam Kebaikan

Tidak diragukan lagi, bahwa panutan terbaik bagi seluruh umat muslim adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab : 21) Begitu pula para Nabi sebelumnya dan para pengikutnya yang patut kita jadikan teladan dalam berakhlak. 

Contohnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam serta orang beriman yang mengikutinya, Allah ta’ala berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS. Al-Mumtahanah : 4)

Demikian pula orang-orang setelah mereka, mulai dari para sahabat Nabi, para tabiin, para ulama, serta orang-orang saleh yang mengikuti mereka hingga datangnya hari kiamat.

Ketahuilah! Sesungguhnya tidak ada zaman kecuali pasti ada panutan dalam kebaikan serta menegakkan kebenaran, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Akan senantiasa ada umat dari umatku yang tegak di atas perkara Allah. Tidak akan membahayakan mereka orang yang menghina mereka, tidak pula orang yang menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan itu. (HR. Bukhari : 3641)

Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim hendaknya juga menjadikan orang-orang yang masih hidup di zaman ini; baik itu dari kalangan ulama, dai, orang salih dan selainnya yang senantiasa menegakkan kebenaran sebagai teladan dalam berakhlak.

14. Bersahabat dengan Orang Berakhlak Mulia

Tahukah Anda? Bahwa sejatinya akhlak kita sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang kita jadikan sebagai sahabat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sebagai teman. (HR. Abu Dawud : 4833)

Oleh karena itu, agar kita bisa memperoleh akhlak yang baik, maka bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia adalah suatu keniscayaan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari : 5534)

15. Bertempat di Lingkungan yang Baik

Termasuk penunjang terbesar yang dapat memudahkan kita untuk memperoleh akhlak yang baik adalah dengan bertempat tinggal di lingkungan yang baik.

Lingkungan juga sangat mempengaruhi tabiat kita. Karena apabila kita bertempat di lingkungan yang penuh kemaksiatan maka sesungguhnya hati kita sangatlah lemah.

Seandainyapun kita tidak terpengaruh dengan buruknya lingkungan, setidaknya kita akan mengalami kesulitan dalam melakukan kebaikan dan membenahi akhlak.

Oleh karena itulah Nabi dan para sahabat berhijrah ke Madinah dalam rangka menolong agama mereka agar mereka lebih mudah menjalankan agamanya.

16. Mengunjungi Orang yang Berakhlak Mulia

Apabila kita banyak berkunjung dan bertemu dengan orang-orang yang berakhlak mulia dan mempelajari akhlak mereka maka kita akan dimudahkan untuk memperbaiki akhlak.

Tahukah Anda..? Bahwa penyebab mulianya akhlak para sahabat adalah karena mereka senantiasa mengunjungi Nabi dalam rangka mempelajari akhlak dan adab beliau.

Cara itu kemudian diwariskan kepada para generasi setelahnya, dimana mereka mempelajari akhlak guru mereka sebagaimana mempelajari ilmu dari mereka.

Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan :

كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ

Mereka dahulu mempelajari tingkah laku sebagaimana mempelajari ilmu. Bahkan mereka lebih banyak mempelajari akhlak dan adab dari pada ilmu. Abu Al-Husain bin Al-Munaadi Al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Husain bin Ismail, ia berkata : Aku mendengar bapakku mengatakan :

كُنَّا نَجْتَمِعُ فِي مَجْلِسِ الْإِمَامِ أَحْمَد، زَهَاء خَمْسَة آلَافٍ، أَوْ يَزِيْدُوْنَ، أَقَلُّ مِنْ خَمْسَمِائَةٍ يَكْتُبُوْنَ، وَالْبَاقِي يَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ: حُسْنَ الْأَدَبِ وَحُسْنَ السُّمْتِ

Dahulu kami berkumpul di majelisnya imam Ahmad, kurang lebih 5000 orang lebih. Kurang dari 500 orang menulis, sedangkan sisanya mereka belajar adab dan diam yang baik dari beliau.[8]

17. Mendesak Masyarakat Agar Bermasyarakat Islami

Masyarakat yang islami adalah sarana untuk menanamkan nilai-nilai akhlak islami ke dalam setiap individu yang hidup di lingkungan masyarakat tersebut.

Setiap dari kita tentu tidak akan terlepas dari tatanan masyarakat. Apabila masyarakat yang kita tempati adalah masyarakat yang islami, maka hal ini dapat memudahkan kita mengamalkan nilai-nilai Islam.

Maka dari itu kita sebagai seorang muslim hendaknya juga bermasyarakat serta mendesak mereka agar terbentuk masyarakat yang islami.

Upaya ini dapat kita lakukan melalui berbagai sarana tergantung posisi kita masing-masing dalam tatanan masyarakat.

Apabila posisi kita saat itu adalah seorang kyai atau ustadz maka kita bisa mengisi ceramah di masjid setempat, mengadakan kajian agama Islam, mengimami shalat berjamaah, dan sebagainya.

Apabila posisi kita saat itu adalah seorang pemimpin maka kita bisa membuat kebijakan-kebijakan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Apabila posisi kita saat itu adalah orang kaya maka kita bisa menginfaqkan sebagian harta kita untuk mendirikan yayasan pendidikan islam, masjid, dan semacamnya.

Apabila posisi kita saat itu hanyalah sebagai warga biasa maka kita bisa memberikan dukungan apapun yang menunjang terbentuknya masyarakat islami, seperti mengikuti shalat berjamaah, mengikut pengajian, dan sebagainya.

18. Mempelajari Perjalanan Hidup Nabi

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan :

من أَرَادَ خير الْآخِرَة وَحِكْمَة الدُّنْيَا وَعدل السِّيرَة وَالْاحتواء عَلَى محَاسِن الْأَخْلَاق كلهَا وَاسْتِحْقَاق الْفَضَائِل بأسرها فَلْيَقْتَدِ بِمُحَمد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَلْيَسْتَعْمِلْ أَخْلَاقَهُ وَسيره مَا أَمْكَنَهُ

Barang siapa yang menghendaki kebaikan akhirat, hikmah dunia dan perjalanan hidup yang adil serta memiliki seluruh akhlak yang baik serta memperoleh keunggulan yang memikat, Maka hendaknya ia meneladani Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkan akhlaknya dan meneladani perjalanan kehidupannya dengan segenap kemampuannya. Oleh karena itu, tidaklah mungkin kita meneladani Rasulullah kecuali dengan mempelajari perjalanan kehidupan beliau.

19. Mempelajari Perjalanan Hidup Para Salafus Shalih

Ketahuilah bahwa salafus shalih adalah manusia yang paling mengetahui kebenaran dan merekalah yang menjadi penerang dalam kegelapan.  Mereka telah memperoleh warisan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berupa ilmu dan akhlak yang mulia. Maka dari itu, kita juga harus mempelajari perjalanan hidup mereka dan menelaah ihwal mereka.  Kitab yang paling terkenal untuk mempelajari ihwal mereka adalah kitab “Siiru A’laami An-Nubala” yang ditulis oleh imam Adz-Dzahabi rahimahullah.

20. Mengangkat Pemimpin yang Adil

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memberikan contoh kepada kita bagaimana beliau memimpin pemerintahan di kota Madinah. Beliau senantiasa berbuat adil kepada rakyatnya dan senantiasa berupaya melalui berbagai cara guna membentuk masyarakat yang berakhlak yang mulia. Oleh karena itu, mengangkat pemimpin yang adil begitu penting dalam rangka membentuk masyarakat yang berakhlak mulia.

Referensi sebagai berikut ini ;










Etika dalam mencari Nafkah dalam hukum islam

Sering kita dengar ungkapan “Cari yang haram aja susah, apalagi cari yang Halal”. Ungkapan ini seolah olah telah menjadi legalitas untuk mencari harta dengan cara-cara yang tak halal. Begitulah sebagian kenyataan yang ada. Khususnya dalam urusan mencari rezeki, hanya sedikit yang mau peduli dengan rambu-rambu syari’at.

14 abad yang lalu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan dan mengabarkan kepada umatnya akan perilaku-perilaku yang tidak benar, perilaku-perilaku yang menyimpang, sebagaimana yang termuat di dalam hadits, yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (semoga Allah merhmatinya) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak peduli lagi dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.

Dan sekarang ini, banyak kita dapati atau kita saksikan lewat berbagai media, dimana banyak orang untuk mendapatkan harta,  mereka menggunakan cara-cara yang diharamkan, bahkan mereka memuaskan kebutuhannya dengan benda-benda yang haram, baik haram zatnya, haram sumbernya maupun haram cara mendapatkannya. Padahal, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah menyampaikan ancaman, terhadap orang-orang yang memakan harta yang haram (baik itu haram zatnya, haram sumbernya atau haram cara mendapatkannya). Sebagaimana hadits yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari dan Ad Darimi (semoga Allah merahmati mereka), dimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.”

Dan ketahuilah bahwa Allah Azza Wa jalla marah terhadap orang-orang yahudi, karena sifat mereka yang suka memakan  harta haram , sebagaimana al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 42 : “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram”

Al-Imam Al-Qurtubi Rahimahullah dalam tafsirnya yang kami nukil dari As-Sunnah menyebutkan, bahwa salah satu bentuk memakan harta yang haram adalah menerima SUAP. Jadi jangan pernah coba-coba untuk menyuap atau menerima suap.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam sangat-sangat menekankan, agar kita umatnya mencari harta dari sumber dan cara yang halal. Karna ada dua pertanyaan ketika kiamat yang terarah berkaitan dengan harta, yakni tentang asal harta dan bagaimana membelanjakannya. Diaman di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam At Tirmidzi dan al-Imam Ad-Darimi (semoga Allah merahmati mereka) dari Abu Barzah Al Aslam Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (yaitu) tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan.”

Di dalam hadits yang dibawakan oleh Al Hakim dan yang lainnya, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan kepada kita urgensi mencari rezeki yang halal, dimana beliau bersabda,  ”Tidak ada satupun amalan yang mendekatkan kalian ke surga, melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya. Janganlah kalian menganggap rezeki kalian terhambat. Sesungguhnya, malaikat Jibril telah mewahyukan ke dalam hati sanubariku, bahwa tidak ada seorangpun meninggalkan dunia ini, melainkan telah sempurna rezekinya. Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat, maka janganlah ia mencari rezeki dengan berbuat maksiat, karena karunia Allah tidaklah didapat dengan perbuatan maksiat”.

Sebuah petunjuk yang agung. Yang dapat kita jadikan hujah dan tuntunan kita dalam mencari rezeki. Dimana kita diperintahkan agar memeriksa setiap rezeki yang telah kita peroleh.  Dimana kita harus bersiap diri dengan dua pertanyaan, dari mana harta diperoleh dan kemana dibelanjakan? Oleh karena itu, kita mesti mengambil yang halal dan menyingkirkan yang haram. Jauhkan rizky yang didapat dengan cara haram. Mulai sekarang stop harta haram.  Baik zat, sumber dan cara mendapatkannya. Bahkan, sebaiknya harta yang mengandung syubhat, hendaknya juga kita jauhi.

Di dalam sebuah hadits dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak di ketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barang siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus kedalam perkara syubhat, maka ia akan terjerumus kepada perkara haram.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘Alaih. 

Jadi, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat Ridwanallahu ‘Alaihim Jami’an telah mencontohkan prinsip-prinsip penting tersebut secara jelas. Betapa ketatnya mereka dalam memperhatikan urusan rezeki ini. Mereka selalu memastikan dengan sungguh-sungguh, apakah rezeki yang mereka peroleh itu halal lagi baik ataukah haram. Dan inilah yang harus kita contoh. Sikap inilah yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai suatu gaya hidup yang islami yang sesuai dengan Sunnah nabawiyah yang shohihah. Wallahu ‘Alam.

Di dalam sebuah atsar para sahabat Ridwanallahu ‘Alaihim Jami’an, yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari (Semoga Allah Merahmatinya), dari ‘Aisyah Radiallahu Anha,  ia bercerita, bahwa Abu Bakar (ayahnya) memiliki seorang budak yang ditugaskan membawa bekal untuknya setiap hari. Dan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu selalu makan dari bekal tersebut. Pada suatu hari, budak itu datang membawa makanan. Maka Abu Bakar menyantap makanan tersebut. Kemudian budak itu bertanya,”Tahukah tuan, dari mana makanan itu?” Abu Bakar balik bertanya, ”Mengapa ? Berkata si Budak,”Pada masa jahiliyah dulu, aku pernah berlagak menjadi dukun untuk mengobati seseorang, padahal aku tidak mengerti perdukunan, hanya semata-mata untuk menipunya. Lalu ia bertemu lagi denganku dan memberiku makanan yang engkau makan itu.” Mendengar hal itu, spontan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu memasukkan jarinya ke dalam mulut dan mengorek-ngoreknya sehingga memuntahkan semua isi perutnya.  Subhanallah !!

Ada beberapa prasyarat mencari nafkah yang ditulis oleh al-ustadz Abu Ihsan Al Atsari Al Maidani Hafidzahullah, yang di kutip dari As-Sunnah, dimana hal ini tentunya perlu diperhatikan oleh kita selaku seorang muslim.

Adapun Prasyarat Yang pertama yakni Ilmu. Jadi kita haruslah Berilmu sebelum berkata dan berbuat. Dan prinsip ini adalah prinsip yang disepakati . Demikian juga dalam hal jual beli. Kita hendaklah memahami apa saja yang wajib kita ketahui berkaitan dengan amalan yang akan kita kerjakan. Dala sebuah atsar di dalam As-Sunnah, Ummar ibnu Khaththab Radhiyallahu Anhu pernah melarang para pedagang yang tidak mengetahui hukum-hukum jual beli untuk memasuki pasar.

Selain itu dilarang berlaku curang dalam timbangan dan takaran. Hal ini Allah Azza Wa jalla tegaskan dalam firman-Nya surah Muthaffifiin ayat 1-3

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.   (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

Dan bagi pekerja kantoran atau pegawai pemerintahan, maka harus tahu, apa saja yang dilarang berkaitan dengan pekerjaan. Satu contoh  bahwa didalam islam, seorang pegawai pemerintah dilarang mengambil hadiah pada saat bertugas atau dinas atas nama Jabatan yang diamanahkan. Karena hal ini termasuk GHULUL (komisi) yang diharamkan. Sebagaimana hadits dari Abu Humaid As-Saa’idi Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Hadiah bagi para amil (pegawai) termasuk GHULUL !, hadits ini shohih, dan dishohihkan oleh Al-Alamah Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani (semoga Allah Merahmatinya) di dalam Irwaaul Ghalil.

Prasyarat yang kedua yakni TAKWA, Takwa adalah sebaik-baik bekal. Pedagang , pegawai atau apapun profesinya maka haruslah memiliki bekal takwa. Dan secara umum Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan agar menjauhi sifat fajir yakni sifat yang tidak mengindahkan rambu-rambu syariat. Sehingga  terjatuh kedalam larangan-larangan, seperti bersumpah palsu, menipu, khianat curang dan lain sebagianya. Demikian juga untuk para pegawai, bagi pegawai harus berbekal takwa. Maraknya kasus-kasus korupsi , suap menyuap, kecurangan, pungli, serta menarik biaya yang tidak dibebankan kepada masyarakat untuk kocek pribadi merupakan akibat hilangnya ketakwaan. Sehingga membuat seseorang menjadi gelap mata saat melihat gemerlapnya dunia.

Ketahuilah didalam islam tidak dikenal istilah Robin Hood. Yang mencuri untuk rakyat miskin. Sungguh, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda, ”Barang siapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbebankan pada dirinya.” Hadits ini shohih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Jalur Darraj Abu Samah dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Jadi, Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Maka jadilah pedagang dan pegawai  yang berilmu dan bertakwa. Sebab, ilmu dan takwa merupakan kunci sukses dalam mencari rezeki yang halal lagi baik. Wallahu ‘alam bishowa.

Referensi sebagai berikut ini ;








Doa Penangkal Harta Haram Saat Sedang diberikan Cobaan Miskin

Doa Penangkal Harta Haram Saat Sedang diberikan Cobaan Miskin.  Doa Penangkal Harta Haram Saat Miskin. Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib, dan para penanggung utang – meski utang sebesar gunung, niscaya Allah Swt akan melunasi utang itu. Harta haram memang mengerikan dampaknya. Kendatipun demikian, banyak orang yang nekat melahapnya. Alasan mereka pun macam-macam. Ada yang karena tamak. Ada pula yang karena himpitan ekonomi. Salah satunya ketika seseorang terlilit utang atau putus asa mendapat lapangan kerja yang halal dengan penghasilan yang memadai, penghasilan haram akan menjadi fitnah besar baginya. Lantas apakah penangkal fitnah yang berbahaya ini? Mari kita simak hadis berikut,

Dari Abu Wa-il (Syaqieq bin Salamah), katanya, “Ada seseorang yang menghampiri Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu seraya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku sudah tak mampu lagi mencicil uang untuk menebus kemerdekaanku, maka bantulah aku.’ Ali menjawab, ‘Maukah kau kuajari beberapa kalimat yang pernah Rasulullah ajarkan kepadaku? Dengan membacanya, walaupun engkau menanggung utang sebesar gunung Shier, niscaya Allah akan melunasinya bagimu!’ ‘Mau’, jawab orang itu. ‘Ucapkan:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki halal-Mu agar terhindar dari yang Kau haramkan. Jadikanlah aku kaya karena karunia-Mu, bukan karena karunia selain-Mu.

(HR. Abdullah bin Ahmad dalam Zawa-idul Musnad No. 1319; At-Tirmidzi No. 3563 dan Al-Hakim 1/537. At-Tirmidzi mengatakannya sebagai hadis hasan, dan dihasankan pula oleh Syaikh Al-Albani. Sedangkan Al-Hakim mensahihkannya)

Dalam syariat Islam, seorang hamba sahaya dibolehkan menebus kemerdekaan dirinya dari majikannya, dengan membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan. Uang bisa diperoleh dari hasil kerja si budak, atau dari zakat yang diberikan kepadanya. Dalam riwayat lain, yang dinamakan Shabier adalah sebuah gunung di daerah suku Thay atau sebuah gunung di Yaman.

Hadis tersebut mengajarkan pada kita agar tidak melupakan Allah yang menguasai nasib kita di dunia. Dia-lah yang memberi ujian berupa kesempitan. Dan Dia pula yang dapat dengan mudah melapangkannya kembali. Oleh karenanya, tidak sepantasnya seorang Mukmin hanya bertumpu pada usahanya dan lupa bertawakal kepada Allah. Usaha memang harus dilakukan. Namun ia tidak akan memberi hasil yang sempurna kecuali atas izin Allah dan restu-Nya. Untuk mendapatkan restu tersebut, cara yang paling efektif adalah memperbanyak doa. Baik lewat ucapan lisan maupun amal salih. Ucapan yang paling dicintai Allah adalah yang menegaskan ketauhidan-Nya.

Doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengandung penegasan akan nilai tauhid, yaitu ketika hamba hanya memohon kecukupan dan karunia dari Allah, serta meminta agar tidak merasa kaya berkat karunia selain-Nya.

Ini merupakan ibadah yang agung, yang menunjukkan bahwa si hamba benar-benar menggantungkan harapannya kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Dalam hadis tersebut juga terkandung pelajaran mengenai pentingnya tauhid sebagai penutup suatu permohonan.

Sedangkan dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabal,

“Maukah engkau kuajari sebuah doa yang bila kau ucapkan, maka walaupun engkau memiliki utang sebesar gunung Uhud, Allah akan melunasinya? Katakan hai Mu’adz, ‘

اَللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وُتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَحْمَـانَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، تُعْطِيهِمَا مَنْ تَشَاءُ وَتَمْنَعُ مِنْهُمَا مَنْ تَشَاءُ، اِرْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ

Ya Allah, Pemilik Seluruh Kekuasaan. Engkau beri kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan, dan Engkau Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Wahai Penyayang dan Pengasih di Dunia dan Akhirat, Engkau memberi keduanya (dunia dan akhirat) kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan menahan keduanya dari siapa yang Engkau kehendaki. Rahmatilah aku dengan rahmat-Mu yang menjadikanku tak lagi memerlukan belas kasih selain-Mu.”

(Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jamus Shaghier dengan sanad yang dianggap jayyid oleh Al-Mundziri. Sedangkan Syaikh Al-Albani menghasankannya; lihat Shahih at-Targhieb wat Tarhieb No. 1821).

Kalau dalam hadis sebelumnya terdapat isyarat agar kita mengakhiri doa dengan penegasan akan nilai tauhid, dalam hadis ini sebaliknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memulai permintaan dengan menegaskan masalah tauhid. Karenanya beliau memulainya dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan kemahaesaan Allah dari sisi Rububiyyah. Lalu mengikutinya dengan kalimat yang berhubungan dengan tauhid asma’ was sifat. Yaitu dengan menetapkan bahwa semua kebaikan berada di tangan-Nya, dan bahwasanya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Demikian pula dengan kalimat berikutnya, yang merupakan seruan kepada Allah, dengan menyebut dua di antara nama-nama Allah yang indah, yaitu Rahman dan Rahiem. Kemudian barulah si hamba menyebutkan hajat utamanya, yaitu agar Allah melunasi utangnya dan mengentaskannya dari kemiskinan.

Tentunya, doa ini tidak akan efektif jika hanya diucapkan tanpa diresapi maknanya dan diwujudkan esensinya dalam kehidupan sehari-hari. Percuma saja jika seseorang mengucapkan doa tersebut namun tidak mempedulikan status penghasilannya: halal ataukah haram. Percuma juga jika ia rajin mengucapkan doa tersebut namun masih berlumuran dengan syirik akbar yang membatalkan seluruh amalnya.

Oleh karena itu, agar doa ini efektif dan mustajab, kita harus mengucapkannya sembari berusaha memahami ajaran agama semaksimal mungkin, agar tahu mana yang halal dan mana yang haram.

Manusia dianjurkan untuk berusaha sekuat tenaga dalam mencari rezeki yang halal. Hal ini dikarenakan, dari rezeki yang halal barulah hidup seseorang penuh berkah.

Namun, manusia adalah makhluk yang penuh khilaf. Ada kalanya, tanpa sengaja rezeki haram terselip dalam penghasilan kita.

Tentu Anda tak ingin doa dan usaha yang telah Anda lakukan selama ini ditolak oleh Allah SWT karena terdapat harta yang haram di dalamnya. Untuk meminta perlindungan dari pemasukan yang haram, dianjurkan untuk membaca doa di bawah ini.

"Allaahummakfinii bihalaalika ‘an haraamika wa agninii bifadlika ‘amman siwaaka."

Artinya:

" Ya Allah, cukupilah diriku dengan kehalalan rezeki-Mu dari yang Engkau haramkan, dan cukupilah diriku dengan karunia-Mu dari meminta kepada selain-Mu."

Dari Abu Hurairah, bersab Rasulullah SAW : Wahai sekalian manusi sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu  melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang  telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?”

Menurutnya, sangat disesalkan seorang hamba Allah yang beriman doanya tertolak hanya karena makanan yang diharamkan. Padahal berdoa merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt baik itu kepada nabi atau pun seorang hamba biasa.

"Doa menjadi senjata dan amunisi bagi setiap pribadi muslim dalam kehidupan sehari-harinya," katanya. Karena kata Ustaz Luky dengan berdoa terjalin komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya.Berdoa juga menjadi cara yang ampuh untuk memohon kepada Sang Khaliq segala keinginan dan kebutuhan, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.

Tentunya setiap doa-doa yang dipanjatkan ingin sekali segera diijabah dan dikabulkan oleh Allah. Apalagi Allah swt telah memproklamirkan bahwa siapa pun di antara hambanya yang berdoa meminta kepadanya, niscaya Ia pasti akan mengabulkannya.

Referensi sebagai berikut ini ;













Do'a Diberikan Rezeki yang Halal & Supaya Dijauhkan dari Rezeki Haram

Doa Ini Agar Dijauhkan dari Rezeki Haram. manusia dianjurkan untuk berusaha sekuat tenaga dalam mencari rezeki yang halal. Hal ini dikarenakan, dari rezeki yang halal barulah hidup seseorang penuh berkah. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang penuh khilaf. Ada kalanya, tanpa sengaja rezeki haram terselip dalam penghasilan kita.
Tentu Anda tak ingin doa dan usaha yang telah Anda lakukan selama ini ditolak oleh Allah SWT karena terdapat harta yang haram di dalamnya. Untuk meminta perlindungan dari pemasukan yang haram, dianjurkan untuk membaca doa di bawah ini.
 
"Allaahummakfinii bihalaalika ‘an haraamika wa agninii bifadlika ‘amman siwaaka."
 
Artinya:

" Ya Allah, cukupilah diriku dengan kehalalan rezeki-Mu dari yang Engkau haramkan, dan cukupilah diriku dengan karunia-Mu dari meminta kepada selain-Mu."


Rerefensi sebagai berikut ini ;





Ciri-ciri penghuni surga & Ciri- ciri penghuni neraka

Penghuni surga dan penghuni neraka pastinya berbeda. Sebab, surga dan neraka akan dihuni oleh manusia dengan karakter yang saling bertolak belakang. Lantas, bagaimana ciri-ciri penghuni surga dan penguni neraka. Allah SWT menyiapkan surga dan neraka sebagai imbalan terhadap setiap amalan yang di kerjakan umat manussia di dunia. Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan bagi kaum muslimin yang telah menjalankan amal baiknya selama di dunia.

Allah Swt telah menjadikan surga untuk hambanya yang saleh dan taat dalam menjalani kehidupan di dunia, Dan Allah memuliakan mereka di dalam surga dengan kenikmatan melihat dzat-nya yang maha mulia. Dan banyak lagi kebahagiaan dan kesenangan di surga.

Penghuni Surga punya ciri yang di jabarkan dalam al-quran dan sunnah. Semuannya merujuk pada sifat saleh di dunia dan mereka bahagia tinggal di dalam surga. Neraka adalah tempat yang menjadi ganjaran bagi mereka yang amal buruknya (dosa dan kesalahan) lebihh berat daripada amal naiknya. Untuk mereka yang amal buruknnya lebih berat daripada amal baiknya, terdapat 7 tinngkatan neraka yang akan menjadi di tempat tinggal mereka kelak di akhirat.

Ciri-ciri penghuni surga

1. Orang yang suka memberi makan kepada orang yang membutuhkannya

Rasulullah SAW bersabda,” sembahlah Allah yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.”(HR.Tirmidzi).

2. Menyambung silaturahiim dengan sesama muslim

Rasulullah SAW bersabda,” tidak akan masuk surga orang suka memuutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya, yakni memutuskan tali persauudaraan.”(HR.Bukhari dan Muslim).

3. Mendirikan shalat malam

Allah SWT berfirman, “ Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamuu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan mu mengankat kamuu ke tempat yang terpuju.” (QS.Al-Isra ayat 79).

4. Memudahkan urusan orang lain

Rasuluullah SAW bersabda,” barangsiapa memuudahkan orang yang kesuulitan, Allah memuudahkannya di duunia dan di akhirat.”(HR.Ibnu Majah dan Abu Hurairah).

5. Berjihad fi sabilillah di jalan Allah SWT

Berjihad di jalan allah untuk kebenaran islam untuk memerangi kafir-kafir. Berjihad dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk mendapat ridho dari Allah SWT.


Ciri- ciri penghuni neraka

1. Mengingkari suami

Salah satu penghuni neraka adalah golongan wanita yang suka menjelek-jelekkan suami dan mengingkari setiap kebaikan yang di berikan suaminya. Hal ini sesai dengan yang dii riwayatkan ooleh Rasuul. Di riwayatkan oleh Abdullah bin Abbas RA, dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Saya di perlihatkan Neraka. Saya tidak pernah melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Dan syaa melihat sebagian besar penghni Neraka adalah para Wanita. Mereka bertanya,’ kenapa wahai rasulullahh SAW? Beliau bersabda, di karenakan kekufurannya. Lalu ada yang berkata,’ apakah kufur kepada Allah? Beliauu menjawab, ‘kufur terhadap pasangannya, maksudnya adalah mengingkari kebaikannya. Jika anda berbuat baik kepada salah seorang wanita sepanjang tahun, kemudian dia melihat anda ,’ saya tidak melihat pertunjukkan dari anda.” (HR,,Bukhari)

2. Menyembah selain Allah Swt

Orang yang menyembah selain Allah juga di ancam akan mask ke dalam neraka jahanam. Syirik atau mempersekutukan Allahh dengan zat lain adalah dosa besar dalam Islam. Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 6

ان الذين كفروامن اهل الكتاب والمشر كين في نارجهنم خالدين فيه اولئك هم شرالبرية

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang msyriik (akan masuk) ke nereka Jahanam mereka kekal di dalamnnya. Mereka itu adalah seburuk-buruknya mahkluk.

قل انماان يسرمثلكم يم حئ الي انما الهكم اله واحد فمن كا ن يرجولقاءربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه احدا

Katakanlah sesuungguhhya akku manusia bbiiasa seperti kamu, yang diiwahyukan kepadakkuu:’ bahwa sesuunggya Tuhan kamuu itu adalah Tuhan Yang Esa “. Barngsiiapa mengharap perjuumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekuutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi:110)

3. Tabaruj

Allah Swt berfirman dalam Al-Ahzab ayat 33 berikut artinya:

Dan hendaklah kamuu tetap di rumahmuu dann janganlah kamuu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan diirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasulnya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamuu, hai ahll bait dan membersihkan kamuu sebersih-bersihnya.


Referensi sebagai berikut ini ;













Ciri-ciri Ahli Surga atau Neraka

Ketika hidup, kita tidak pernah tahu siapa yang dijamin masuk surga atau neraka. Selama ini, kita hanya tahu para ahli surga adalah mereka yang sudah jelas dijamin oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tentu, mereka adalah para sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan lain sebagainya. Sementara di generasi kita, tidak diketahui siapa yang merupakan ahli surga. Mengutip Abdullah bin Zaid RA, Abdul Wahab As Sya'rani dalam kitabnya Mukhtasar At Tadzkirah lil Qurtubi menjelaskan, ada ciri-ciri tertentu untuk bisa mengenali seseorang sebagai ahli surga. Ciri-ciri tersebut sebenarnya disebutkan dalam Alquran.

Beberapa ciri itu seperti hidupnya penuh dengan kesedihan dan takut pada azab Allah SWT. Kesedihan di sini bukan karena perkara dunia, namun karena bagaimana dia dekat dengan Allah dan kekhawatiran akan masa depannya di akhirat kelak. Dalam Surat At Thur ayat 26-27, Allah berfirman,

"Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah Swt memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka."

Ciri ahli neraka juga disebutkan dalam Alquran. Dalam Surat Al Insyiqaq ayat 13, Allah menunjukkan ciri orang yang masuk golongan ahli neraka.

" Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya."

Makna ayat di atas adalah mereka yang bersenang-senang dengan urusan duniawi. Sampai-sampai, mereka tidak memikirkan urusan akhirat.

Meski begitu, bukan kemudian kita harus terus menerus memikirkan akhirat dan melupakan urusan dunia sepenuhnya. Kita tetap harus memikirkan dunia, membuat berbagai inovasi, namun tidak larut dengan urusan-urusan di luar akhirat.

Referensi sebagai berikut ini ;