Segera Bertaubat Kepada Allah Swt bila Sudah Berbuat Hal Ini, Dosanya Lebih Besar dari Zina (Alm. Syekh Ali Jaber). Syekh Ali Jaber dalam sebuah tausiah membeberkan ada satu perbuatan yang dosanya lebih besar dari dosa zina. Cepat bertaubat kepada Allah SWT bila sudah terlanjur melakukan perbuatan ini kata Syekh Ali Jaber.
Menurut Syekh Ali Jaber, perbuatan ini bahkan masih juga dilakukan orang. Padahal dosanya melebihi dari dosa zina.Syekh Ali Jaber lalu mengingatkan untuk menjauhi perbuatan yang dosanya lebih besar dari dosa zina. Lantas, perbuatan seperti apa yang dosanya lebih besar dari dosa zinatersebut?
Menurut Syekh Ali Jaber, perbuatan yang dosanya lebih besar dari dosa zina itu adalah riba. “Hati-hati bapak ibu, jangan terbiasa riba,” pesan almarhum Syekh Ali Jaber. Bahkan, Syekh Ali Jaber mengatakan bahwa orang yang melakukan perbuatan riba, dosanya lebih besar dari 36 kali melakukan zina dengan orang tua. “Satu kali riba, dosanya lebih besar dari pada 36 kali zina dengan ibu kita sendiri. Punya usaha, jalankan usaha dengan apa yang ada, Allah berkahi, jangan keburu mau jadi kaya,” ucap Syekh Ali Jaber.
“Jangan keburu mau usaha besar. Semakin bertingkat usaha kita, tapi dengan riba, berarti selama hidup, keluarga sampai anak cucu, makan dari hasil riba itu,” kata Syekh Ali Jaber. Perbuatan riba ini, menurut Syekh Ali Jaber, dapat menghancurkan rezeki lain yang halal. “Sedikit saja, riba masuk ke dalam rumah kita, hancur yang halal itu. Bahaya itu (riba) penyakit. Hati-hati,” tegas Syekh Ali Jaber.
Karena perbuatan riba, adalah perbuatan dosa yang sungguh besar. “Jangan pernah melakukan riba,” kata Syekh Ali Jaber berpesan. Di dalam Al Quran banyak ayat yang menjelaskan soal riba. Seperti dalam Al Quran Surah Al Imron Ayat 130:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." Dalam Al Quran Surah Al Baqarah Ayat 278-280 juga dijelaskan soal riba.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui.
Inilah yang Akan Dirasakan Jika Taubat Kita Diterima Allah Swt , Salah Satunya Tak Henti Merasa Berdosa, Allah SWT menyukai hamba-Nya yang bertaubat. Meski demikan terdapat enam hal yang menandakan taubat seorang hamba diterima atau tidak. Berikut sembilan tanda taubat diterima oleh Allah SWT:
1. Hati Lebih Tentram dan Tenang
Saat hatimu merasa lebih tentram dan tenang maka itu akan menjadi tanda bahwa taubatmu sudah diterima. Hal ini dikarenakan ia lebih banyak beribadah kepada Allah SWT.
2. Lebih Suka Berkumpul dengan Orang-orang Sholeh atau Sholehah
Kita memang dituntut untuk pandai dalam bergaul. Jangan sampai kita terjerus ke dalam jurang kemaksiatan. Pilihlah teman yang baik agar jiwa kita senantiasa ikut terpengaruhi oleh hal positif.
3. Lebih Menyibukkan Diri dengan Kewajiban dan Ibadah Terhadap Allah SWT
Allah akan terus menggerakkan hati seseorang untuk senantiasa beribadah saat hamba-Nya benar-benar bertaubat.
4. Lebih Banyak Bersyukur
Bersyukur adalah kunci utama kebahagiaan serta ketakwaan seseorang. Jika Allah menerima taubat seorang hamba-Nya maka semakin besar pula kesadaran diri akan kebesaran yang Allah.
5. Akhlaknya Lebih Baik
Mereka yang bertaubat akan berupaya untuk memperbaiki diri dan Allah akan senantiasa meringankan hati hamba-Nya yang bertakwa.Sehingga akhlaknya akan semakin baik dari waktu ke waktu.
6. Senang Bersedekah
Sedekah adalah salah satu amalan yang sangat sulit dilakukan oleh Manusia lantara sikap alami manusia yang selalu merasa kurang.
7. Menjaga Aurat
Bentuk taubat yang paling mudah dilihat secara kasat mata adalah dari penampilan.Baik dari hal auratnya dan dari kesesuaian penampilan yang telah diatur dalam syaruat Islam.
8. Menjaga Sikap dan Ucapannya
Sikap dan ucapan seseorang yang bertaubat tentu berbeda dengan seorang yang belum menempuh taubat.Mereka akan senantiasa menjaga sikapnya dan ucapannya agar lebih santun dari sebelumnya.
9. Masih Merasa Penuh Dosa dan Terus Menerus Berupaya Memperbaiki Diri
Menyadari akan kesalahannya dan menyesali adalah salah satu syarat bertaubat.Orang yang bertaubat tak akan pernah merasa cukup akan ibadah yang ia lakukan lantara merasa bahwa dosanya masih terus ada.
Cinta Allah Swt kepada Orang yang mau Bertobat, “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur 24 :31) Allah Swt memerintahkan bertobat kepada kita dengan kalimat Tûbû sebanyak tujuh kali di dalam Alquran (al Baqarah :54, Huud :3, 52, 61, 90, at Tahrim: 8, dan an Nuur :31), sesungguhnya pengulangan perintah kepada kita untuk bertobat menunjukkan bahwasanya kebanyakan manusia berbuat kesalahan. Manusia di istilahkan para ulama sebagai tempatnya salah dan khilaf, istilah tersebut disandarkan pada sebuah hadis riwayat Imam Muslim, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim ).
Akan tetapi Allah adalah Maha Bijaksana dan Maha Adil. Ketika kita melakukan kesalahan, Allah pun memberikan solusi terbaik untuk menebus kesalahan kita, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Setiap anak Adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertobat.” (HR at Tirmidzi).
Dari sini kita seharusnya sadar bahwa Allah itu sangat dekat dengan kita walaupun kita dilumuri dengan berbagai macam dosa. Kita diperintahkan untuk mendekat kepada-Nya dengan mengakui setiap dosa dan kesalahan kita, bukan dengan menjauhi-Nya dengan menambah dosa, sebagaimana ajaran Rasulullah dalam berdoa yang masyhur dengan sayyidul istighfar.
“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta”
Ya Allah Swt, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR Bukhari).
Allah Swt sangat mencinta dan 'memanjakan' orang-orang yang bertobat. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” At Tahrim 66 : 8).
Itulah kecintaan Allah bagi orang yang bertobat, dimana Allah akan menutupi (menghapus) setiap kesalahan kita dan memasukkan kita kedalam surga-Nya.
Janji Allah Swt Setelah Kalian Bertaubat, Firman Allah “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133). Pernyataan dalam firman Allah, yang mengemukakan bahwa Allah akan menerima taubat mereka yang mendatangi-Nya dengan segera, lalu mengungkapkan kesalahan-kesalahan dan mohon ampun dengan berjanji bertaubat tidak mengulangi lagi semua kegiatan yang maksiat.
Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya. Kata Allah Swt dalam FirmanNya: yang artinya: “Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” ( QS Al-Baqarah ayat 160).
Makna dari surah ini semakin diperjelas dalam surah Al-An’am ayat 54. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi demikian: yang artinya: “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu sekalian).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) bahwa barangsiapa di antara kamu berbuat suatu keburukan karena kebodohan, kemudian setelah itu dia bertaubat dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( QS.Al-An’am: 54)
Lalu, ada pula ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai mereka yang bertaubat: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah ayat 222).
Dalam surah Al-Maidah ayat 7 Allah SWT mengatakan bahwa Dia akan menerima taubat seseorang yang zalim. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi demikian: yang artinya: “Tetapi barangsiapa bertaubat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. (QS. Al-Maidah:7)
Betapa Allah akan memberikan rasa kasih sayangnya kepada mereka yang bertaubat atau menyucikan dirinya dari kemungkinan-kemungkinan yang akan menimbulkan dosa. Inilah bentuk kasih-sayang Allah kepada Hamba yang sungguh-sungguh berusaha untuk suci dari debu yang menimbulkan dosa. x (QS. An-Nisa: 17)
Makanya, Allah mempertanyakan kepada hambanya, kenapa lagi kalian tidak bertraubat, sementara begitu sayang dan cintanya Allah kepada mereka yang terus menyatakan permohonan ampun kepada-Nya, Firman Allah yang artinya: “Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.””(QS. Al-Maidah ayat 74.).
Kemudian dengan bertaubat, maka Allah pun memberikan kenikmatan dan kebahagiaan. Janji Allah atas kenikmatan tersebut, sekaligus merupakan pemenuhan kebutuhan yang dalam arti luas. “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.(QS.Hud (11):3)
Seungguh kebahagiaan yang akan diperoleh dengan menyatakan permohonan ampun kepada Allah. Taubat merupakan sebuah pengakuan yang begitu sangat disenangi Allah. Kiranya tiada keraguan untuk bertaubat, karena semua pemenuhan kebutuhan akan menjadi kenyataan. Janji Allah itu adalah Maha Benar.
Dalam Firman Allah, Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS.Hud (11): 52).
Hujan yang akan menyuburkan tanah pertanda sebagai rezeki yang akan hadir dalam setiap kebutuhan kita. Bahkan Allah menjanjikan kekuatan pada hambanya yang memohon ampun atau bertaubat tersebut. Sebuah penghargaan yang tinggi derajatnya dari Allah kepada Hamba yang bertaubat.
Janji Allah dalam Firman ini, ‘’Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS. At Tahrim (66): 8)
Betapa banyaknya, firman Allah sebagai janji, dalam Alquran kepada mereka yang meohon ampun dari dosa-dosa serta bertaubat atas semua dosa yang pernah dilakukan. Maka, janji Allah dengan bertaubat ini eloklah rasanya dijemput dan dilaksanakan dengan segera. SEmoga Allah memberikan ampunan bagi kita. Aamin ya Allah Swt.
Janji Allah SWT pada umat Islam terdapat dalam ayat-ayatNya yang mulia. Janji-janji bersifat duniawi dan ukhrawi ini ditujukan bagi hambaNya yang beriman dan beramal sholeh. Harapan dari Allah SWT inilah yang sangat dinanti-nantikan hambaNya. Sebab Allah adalah sebaik-baiknya pembuat janji dan mustahil mengingkari janji-Nya. Apa sajakah janji-janji Allah tersebut
Janji Allah SWT Kepada Umat Islam
1. Janji akan surga
Janji Allah SWT pertama ditujukan bagi orang yang bertakwa. Allah menjanjikan surga seluas langit dan bumi dalam QS. Ali Imran ayat 133,
Artinya: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."
2. Janji disempurnakan pahala
Berikutnya adalah janji Allah SWT dalam menyempurnakan pahala bagi mereka mengamalkan segala perintah Allah, serta meninggalkan semua larangan-Nya. Allah berfirman,
Artinya: "Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang zalim." (QS Ali Imran: 57).
3. Janji tambahan nikmat
Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Dengan bersyukur, Dia menjanjikan tambahan nikmat kepada hamba-Nya
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim: 7).
4. Janji diingat Allah SWT
Menurut tafsir Kemenag, yang dimaksud dalam mengingat Allah SWT pada ayat ini dilakukan melalui lisan dengan berdzikir, melalui hati dengan mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maupun melalui fisik dengan menaati Allah SWT.
Artinya: "Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS Al Baqarah: 152).
5. Janji diijabah doanya
Janji ini dimaksudkan Allah SWT dengan tujuan untuk mengajak hambaNya datang dan mendekatkan diri kepadaNya. Berdasarkan tafsir Kemenag, QS Ghafir atau Al-Mu'min ayat 60 menjelaskan Allah SWT akan mengabulkan doa hambaNya.
Artinya: "Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
6. Janji diberikan kehidupan yang baik
Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik di dunia bagi siapa pun yang mengerjakan kebajikan sekecil apa pun. Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia yang dimaksud dalam ayat ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan.
Artinya: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An Nahl: 97).
Masih banyak lagi janji Allah SWT kepada umat Islam yang mengerjakan perintah-Nya dan amal saleh. Semoga dengan mengetahui janji Allah SWT dapat menambah keimanan dan meningkatkan frekuensi ibadah kita kepada Allah Swt.
Menolong Orang Zalim Dan Yang Terzalimi, Semua orang tentu sepakat bahwa menolong orang yang tertimpa kesulitan adalah satu pebuatan yang terpuji. Sedangkan membiarkannya sendirian dalam kesulitan di saat kita mampu untuk membantunya adalah perilaku yang tercela. Islam mengajarkan kepada semua umatnya untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Baik itu menghilangkan kesulitan orang lain atau hanya sekedar meringankan beban deritanya. Terlebih lagi jika yang sedang tertimpa kesulitan adalah seorang muslim.
Kesulitan yang dirasakan oleh seorang Muslim adalah kesulitan yang juga harus dirasakan muslim lainnya. Karena perumpamaan bagi orang-orang yang beriman adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, sekujur tubuh pun akan turut merasakan sakit tersebut.
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh saling mendengki, saling menipu, saling membenci, dan saling memutus hubungan kekerabatan. Dan tidak akan sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri.
Sesama muslim haruslah saling tolong menolong. Ibarat bangunan, antara satu komponen dengan komponen lainnya saling menguatkan. Sebab jika ada satu komponen yang lemah akan berpengaruh dengan kekokohan bangunan tersebut. Oleh karenanya Allah menjadikan seorang muslim sebagai penolong muslim yang lain.
Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Qs. At-Taubah: 71)
Imam al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa hati orang-orang beriman melebur dalam rasa saling mencintai, mengasihi, dan bersimpati. Selalu menyeru pada kebaikan untuk beribadah kepada Allah dan mengesakanNya. Serta mencegah dari mengerjakan perbuatan mungkar seperti beribadah kepada selain Allah Swt.
Perintah untuk saling tolong menolong dalam Islam hanya ditujukan untuk perkara kebaikan saja. Sedangkan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan tidaklah diperbolehkan. Dalam ayat yang lain Allah menyandingkan perintah untuk menolong berbuat baik dengan larangan menolong berbuat dosa dan permusuhan.
Allah Swt berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dalam ayat ini Allah memerintahkan hambaNya untuk saling ta’awun (menolong) dalam mengerjakan al-birr (segala macam kebaikan) dan takwa. Serta melarang untuk saling menolong dalam berbuat al-Itsmu (dosa) dan perkara-perkara yang diharamkanNya. Adapun makna al-Itsmu itu sendiri menurut Ibnu Jarir adalah sengaja meninggalkan apa yang telah Allah perintahkan untuk dikerjakan.
Banyak sekali keutamaan yang Allah janjikan bagi hambaNya yang ikhlas saling menolong antara saudara semuslim. Diantaranya adalah Allah akan membebaskan dirinya dari berbagai kesusahan di Hari Kiamat kelak. Sedangkan semasa hidup, Allah akan mudahkan segala urusan dunianya.
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa membebaskan dari seorang mukmin satu kesusahannya di dunia maka niscaya Allah akan membebaskan darinya satu kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan seseorang yang sedang dalam kesulitan maka Allah akan memudakan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya sesama muslim. (HR. Muslim)
Saling menolong dalam berbuat kebaikan sesama saudara semuslim akan menumbuhkan ikatan ukhuwah islamiyah yang kuat. Kehidupan sosial masyarakat akan menjadi lebih baik. Lingkungan yang dipenuhi keharmonisan pun juga akan tercipta. Sehingga pada akhirnya membuahkan sebuah negeri yang penuh keberkahan dari penciptanya.
Saling menolong dalam berbuat kezaliman jelas dilarang dalam Islam. Akan tetapi Nabi Saw tidak hanya memerintahkan kita untuk menolong orang yang terzalimi. Melainkan juga memerintahkan kita untuk menolong orang yang zalim. Yaitu dengan cara mencegahnya dari berbuat kezaliman.
Dari Anas bin Malik Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda; “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang terzalimi.” Salah seorang sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami menolongnya ketika ia dalam keadaan terzalimi, lantas bagaimana cara kami menolongnya ketika ia berbuat zalim?” “Menahan dan mencegahnya dari berbuat zalim. Begitulah cara kalian menolongnya.” Jawab Rasul. (HR. Bukhari)
Diantara hikmah yang bisa kita petik dari hadits ini adalah bahwa tidak selamanya menolong dan membantu harus berbentuk materi. Namun bisa juga dengan bentuk lain seperti mendoakan kebaikan baginya, menjaga kehormatannya, merahasiakan aibnya, mengajaknya untuk berbuat kebaikan, dan mencegah serta menahannya dari berbuat zalim.
Mencegah dan menahan seseorang dari berbuat zalim bisa dilakukan dengan beberapa cara yang diajarkan oleh Nabi Saw. Yaitu mencegahnya dengan kekuatan atau kekuasaan yang kita miliki, jika kita tidak mampu melakukannya maka cegahlah dengan memberikan nasihat atau teguran, dan jika masih tidak mampu lagi maka cegahlah dengan kita tidak mengikutinya.
Demikianlah keindahan yang bisa kita lihat dari sempurnanya syiar agama Islam. Disaat ada seorang muslim tertimpa sebuah kesulitan maka kesulitan itu harus dirasakan dan diselesaikan bersama. Ketika ada seorang muslim membutuhkan bantuan uluran tangan maka muslim yang lain datang untuk memberikan uluran tangan dan saling menguatkan. Dan bilamana ada seorang muslim akan berbuat zalim maka muslim yang lain adalah penolong baginya untuk mencegah dari bebuat kezaliman.
Mari kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Dengan sebenar-benarnya takwa. Dan juga meninggalkan larangan. Jangan sekali-kali meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan Islam, yakni husnul khatimah. Dikisahkan suatu hari, baginda Nabi bersabda di hadapan para sahabat:
"Tolonglah saudaramu baik yang berbuat zalim atau yang dizalimi!"
Para sahabat bingung. Kalau menolong orang yang dizalimi itu wajar. Nah, kalau menolong orang yang zalim, bagaimana tidak aneh? Lalu salah seorang sahabat bertanya:
"Cegahlah dia, atau laranglah dia dari berbuat zalim. Inilah hakikat dari menolong orang zalim."
Kata zalim sering kita dengar. Zalim itu perbutan yang merugikan diri sendiri, maupun orang lain. Arti dari kata zalim sendiri adalah wadh’u al-sya’i fi ghairi maudhi’ihi (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya).
Perbuatan zalim ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Bisa dari seseorang kepada temannya. Misal, menipu teman sendiri, ghasab, tidak mengembalikan hutang. Bisa dari majikan kepada karyawannya. Misal, memaksa karyawannya dengan pekerjaan yang ia tidak mampu.
Bahkan, perbuatan zalim itu bisa dilakukan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Misal menaikkan tarif disaat keadaan rakyat sedang susah. Impor beras disaat stok beras sedang melimpah. Hal itu jelas berdampak buruk pada petani. Untung saja ormas besar seperti NU berani menyuarakan sikapnya atas kebijakan pemerintah tersebut. Selaras dengan sabda Nabi:
Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran dengan tangannya (kekuasaan, otoritas), ketika tidak mampu dengan lisannya, ketika tidak bisa maka dengan hati kita. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
Maraknya kezaliman itu bukan banyaknya orang jahat. Tapi karena diamnya orang baik. Kalau saja saat ada kezaliman, lantas pemerhati kebaikan (orang saleh, alim) itu diam saja. Maka maraklah kezaliman tersebut.
Jangan sampai kezaliman marak di negeri kita. Kalau sampai seperti itu negeri kita akaan diberi azab oleh Allah.
Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Surat Hud: 102)
Maka dari itu, kita harus meminimalisir perbuatan-perbuatan zalim. Tentunya dengan cara yang santun. Semoga kita dihindarkan dari perbuatan zalim. Jangan sampai kita pelaku perbuatan zalim. Ketika itu, para sahabat yang menyimaknya lantas bertanya, "Bagaimana cara menolong orang yang zalim, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya." Pencegahan yang dimaksud bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari lisan hingga perbuatan. Sebagai contoh, ketika seorang Muslim menyaksikan seseorang hendak berbuat jahat kepada yang lain, maka langsung katakan kepadanya, "Jangan kamu melakukannya."
Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat suatu sistem yang menangkal kezaliman. Hal itu juga sudah diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW yang lain, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. "Aku (Abu Sa’id Al Khudri) pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemunkaran) dengan hatinya, itulaj selemah-lemahnya iman.'" Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah Muhammad Saw jelas kami faham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim? Beliau bersabda: Pegang tangannya (hentikan ia agar tidak berbuat zalim).
Hadis Menolong Orang Zalim, Tolong menolong dalam Islam itu wajib. Karena di situlah nilai ukhuwah Islamiyah kita. Kita menginginkan yang baik untuk saudara kita, dan menjauhi yang buruk dari saudara kita. Ada dua keadaan dalam menolong saudara seiman. Menolong saat mereka dizalimi. Dan menolong saat mereka berbuat zalim. Inilah menariknya. Kalau menolong saudara kita yang dizalimi itu wajar. Tapi, bagaimana menolong saudara seiman yang berbuat zalim. Tidakkah itu akan menjadi tolong menolong dalam dosa? Bukan itu maksudnya. Yang dimaksud menolong saudara kita yang zalim adalah dengan menghalangi dirinya dari berbuat zalim. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”
Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Boleh jadi, mencegah orang berbuat zalim lebih susah dari menolong yang dizalimi. Karena yang berbuat zalim biasanya lebih kuat dan berkuasa. Dan yang berbuat zalim sedang berada dalam hasutan setan yang membakar amarahnya. Namun hikmah dan maslahatnya jauh lebih besar. Karena mencegah saudara seiman berbuat zalim bukan hanya menolong orang itu dari dirinya sendiri yang dalam pengaruh setan. Tapi juga menolong yang akan dizalimi. Dengan mencegah terjadinya kezaliman, ada dua pihak yang ditolong: yang berbuat zalim dan yang menjadi korban kezaliman.
Orang yang Berbuat Zalim Juga Perlu Ditolong, kita yang beranggapan bahwa menolong hanya boleh dilakukan kepada orang yang sedang terzalimi. Padahal, tahukah kamu bahwa kita pun harus menolong orang yang menzalimi? Ya, ternyata kita boleh bahkan sudah seharusnya kita pun menolong orang yang zalim. Segala aspek kehidupan telah Allah atur dengan begitu indah. Hanya saja kita terlalu malas untuk mempelajarinya. Termasuk perihal menolong orang zalim. Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari)
Ketika kita melihat suatu kemungkaran atau kezaliman, tugas kita bukan hanya menolong orang yang dizalimi atau disakiti. Namun Rasulullah SAW mengajari kita untuk menolong orang yang menzalimi juga. Yaitu dengan mencegah ia dari berbuat jahat atau zalim kepada orang lain. Dengan mencegahnya dari berbuat zalim kepada orang lain berarti kita sudah menolongnya dari berbuat dosa.
Jangan hanya sekadar menghakimi orang yang berbuat zalim. Tapi tolonglah ia dengan mengingatkannya. Seringkali, banyak di antara kita yang justru menzalimi orang yang sedang berbuat zalim pada orang lain. Padahal, 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mengajari kita untuk menolong orang yang zalim. Sungguh sangat indah Islam mengatur segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.
Cara Menolong Orang yang Berbuat Zalim, “Tolonglah saudaramu yang berlaku zalim atau yang terzalimi. Sahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, kami menolong orang yang dizalimi, tetapi bagaimana kami menolong orang yang berbuat zalim?’ Rasulullah menjawab, cegahlah dia dari berbuat zalim maka sesungguhnya engkau telah menolongnya” (HR. Bukhari).
Dalam konteks ini, pihak yang terzalimi adalah korban terorisme yang mengalami begitu banyak penderitaan. Sementara di sisi lain AIDA juga mendukung pertobatan anggota jaringan terorisme dengan cara melibatkan mereka dalam upaya pembangunan perdamaian. “Kedua pihak memiliki kisah pengalaman yang mengandung banyak sekali ibroh dan sangat bermanfaat untuk perdamaian umat manusia,” ujar Laode. Menurut Laode, dalam Al-Qur’an, pendekatan ibroh melalui kisah umat-umat manusia terdahulu lebih banyak termuat dibandingkan dengan ayat-ayat hukum. Dari situ, umat Islam bisa menemukan banyak sekali pembelajaran-pembelajaran dan hikmah-hikmah yang luar biasa.
“Melalui kisah korban dan mantan pelaku terorisme, khalayak luas diharapkan dapat memetik pembelajaran perdamaian, supaya tidak ada lagi orang yang menjadi pelaku kekerasan, sehingga tidak ada lagi yang menjadi korban kekerasan,” kata Laode.
Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan Dwi Siti Romdhoni, korban Bom Thamrin 2016. Dwiki, sapaan akrabnya, menuturkan musibah yang menimpanya saat melakukan rapat dengan klien kantornya di salah satu restoran Plaza Sarinah Jakarta, 14 Januari 2016. Peristiwa itu membuat Dwiki mengalami sejumlah cedera sehingga mengharuskannya menjalani serangkaian terapi yang cukup lama. Berkat dukungan keluarga, bantuan psikolog dan psikiater, serta rekan-rekannya sesama penyintas bom membantu Dwiki bangkit dari keterpurukannya. Sementara dari unsur mantan pelaku terorisme, hadir Kurnia Widodo yang memaparkan kisah awal keterlibatannya di jaringan ekstremisme kekerasan, menjalani hukuman penjara, hingga memutuskan tobat dan memilih menjadi aktivis perdamaian.
Menolong Orang Muslim yang Zalim, hubungan antarsesama manusia berlangsung dalam suasana tenteram. Apalagi, bila nuansanya adalah relasi di antara orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Namun, pada faktanya idealisme tidak selalu terwujud. Keharmonisan terganggu oleh orang-orang yang berlaku zalim terhadap sesama manusia atau orang beriman. Kezaliman akan mengganggu tatanan umum. Bentuknya bisa macam-macam, tetapi polanya selalu sama, yakni ketika orang yang kuat atau berkuasa menindas mereka yang lemah atau nirdaya. Sebuah hadis Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, beliau bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi."
Ketika itu, para sahabat yang menyimaknya lantas bertanya, "Bagaimana cara menolong orang yang zalim, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya."
Pencegahan yang dimaksud bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari lisan hingga perbuatan. Sebagai contoh, ketika seorang Muslim menyaksikan seseorang hendak berbuat jahat kepada yang lain, maka langsung katakan kepadanya, "Jangan kamu melakukannya."
Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat suatu sistem yang menangkal kezaliman. Hal itu juga sudah diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW yang lain, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.
"Aku (Abu Sa’id Al Khudri) pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemunkaran) dengan hatinya, itulaj selemah-lemahnya iman.'"
Dari uraian di atas, tampak hubungan dialektis dalam menolong orang-orang agar terlepas dari kezaliman, baik mereka sebagai pelaku atau korban. Ketika lisan dan perbuatan tidak mampu juga melakukannya, maka hati yang "menjerit" sudah dinilai suatu kebaikan karena diniatkan untuk menolong sesama Muslim. Bagaimanapun, seorang Muslim memang tidak dilarang untuk mendoakan supaya hidayah dan petunjuk Allah SWT datang.
Menolong Orang yang Zalim, Kalau menolong orang yang dizalimi adalah suatu yang wajar dan seharusnya dibantu dan ditolong . Bagaimana dengan menolong orang yang menzalimi/yang maksutnya gar orang yang dzalim tersebut selamat dari dosa-dosanya yang diperbuat atasnya dan diampuni oleh Allah Swt dan segera bertoubat kepada Allah Swt dan tidak mengulang atas ke dzalimannnya tersebut.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”
Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?
Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari)
Berarti kita hanya menolong orang yang dizalimi atau disakiti, seperti dipukul dan dirampok. Namun orang yang menzalimi juga ditolong yaitu mencegah ia dari berbuat jahat berarti sudah menolongnya dari berbuat dosa. Bisa jadi kita mengatakan pada yang ingin berbuat zalim, “Stop, berhenti.” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata,
“Jika ada saudaramu yang menzalimi lainnya, maka katakanlah pada orang yang ingin berbuat zalim, “Jangan perbuat seperti itu, berhentilah!”
Jika ada yang ingin menzalimi dengan mengambil harta orang lain, maka tahanlah atau cegahlah dia. Itu termasuk menolongnya jika memang engkau punya kemampuan untuk mencegahnya. Bentuk menolong orang yang berbuat zalim adalah mencegahnya dari kejahatan dirinya dan dari kejahatan setannya. Itu termasuk pula mencegah setannya berbuat jahat dan mencegahnya dari hawa nafsu yang batil.
Memaafkan, meminta maaf juga membutuhkan keberanian yang luar biasa. Oleh karena itu, terdapat keterangan mengenai hadis tentang meminta maaf yang juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, setiap orang pasti melakukan kesalahan dan saling memaafkan akan menjadi kunci dari ketentraman hati. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi sebuah terapi. Menurut studi Nuansa Jurnal Studi Islam dan Kemasyarakatan, hasilnya menunjukkan bahwa sikap memaafkan dan meminta maaf dapat dijadikan sebagai terapi kejiwaan. Seperti diketahui, Alquran dapat menjadi peyembuh atau obat, terutama untuk penyakit di dalam hati atau penyakit mental. Alquran hadir sebagai pembelajaran, penyembuh, petunjuk, dan rahmat.
Psikoterapi memaaf dan meminta maaf merupakan bagian dari psikoterapi tasawuf, sebuah upaya psikoterapi yang menggabungkan pendekatan tasawuf dan psikoterapi. Menurut ahli tafsir terkemuka di Indonesia M Quraish Shihab, tidak ditemukan perintah untuk meminta maaf. Namun hal tersebut ditemukan dalam hadis tentang meminta maaf. Dalam hadis, ditemukan perintah untuk berusaha dihalalkan dosa-dosa kepada saudara, yang berarti seseorang diminta meminta maaf atau dimaafkan.
Terdapat beberapa hadis tentang meminta maaf, di antaranya:
Artinya: “Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat).
(Kelak) jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari)
Satu hal positif yang semestinya dilakukan untuk menghapus perbuatan salah adalah meminta maaf. Ini akan berguna untuk meredam amarah yang ada dalam diri orang yang dizalimi. Penyesalan atas kata-kata atau perbuatan di masa lalu, serta janji untuk tidak mengulangi perbuatan salah berfungsi untuk meredam amarah yang bergejolak dalam diri seseorang yang disakiti.
Artinya: "Sedekah itu tidak mengurangi harta dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."
3. Hadis tentang Meminta Maaf dan Kemuliaan
Di dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim)
Dan hadis lain yang masih memiliki keterkaitan dengan hal ini adalah: “Tidak halal bagi seorang mukmin untuk tak bersapaan dgn saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari.” (HR Muslim)
Memaafkan sama sekali bukan merupakan perkara yang kecil. Dibutuhkan sebuah hati yang lapang dan pikiran yang jernih untuk bisa memaafkan seseorang.
Begitupun meminta maaf dan mengakui kesalahan itu adalah perbuatan yang butuh keberanian besar. Maka, sungguh perbuatan maaf memaafkan sangat dimuliakan oleh Islam.
Sebab, tidak diperkenankan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari. Kemudian yang paling baik di antara keduanya adalah yang terlebih dahulu memberi salam.
Artinya telah timbul sebuah kelegaan hati dari salah satu di antara mereka yang memiliki potensi mencairkan suasana dan yang lebih indah adalah saat hal tersebut diakhiri dengan saling maaf memaafkan.
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf: 199)
Memaafkan adalah salah satu di antara akhlak Islam yang paling utama. Tapi, tak sebanyak itu orang berbicara tentang keutamaan meminta maaf. Padahal, meminta maaf juga merupakan akhlak yang amat mulia yang harus dimiliki oleh umat Islam. Beberapa keutamaan meminta maaf yakni:
4. Memperbaiki Silaturahmi
Selaturahmi akan meningkatkan rasa kedamaian dari pihak-pihak yang pernah berseteru atau pernah mengalami kekeliruan karena suatu hal. Berdamai dengan diri sendiri juga menjadi keutamaan setelah seseorang telah berusaha untuk meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahan yang pernah diperbuat. Hadis dari Abu Hurairah RA yang telah disebutkan di atas menunjukkan betapa pentingnya meminta maaf. Bahkan, terdapat ‘ancaman’ kerugian yang luar biasa bagi orang yang terlambat meminta maaf. Misalnya dengan terhapusnya amal-amal baik yang pernah dilakukan atau ditambahkannya amal-amal buruk orang yang pernah dizalimi kepada tumpukan amal buruknya.
5. Kesalahan Karena Memutus Silaturahmi
Meski Rasulullash SAW tetap menganjurkan orang yang dizalimi untuk meminta maaf, tapi orang yang berbuat zalim yang lebih mungkin dihukumi memutus silaturrahim. Padahal Alquran mengancam dengan keras tindakan memutuskan silaturrahim ini. Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Alquran:
(Wallażīna yangquḍụna 'ahdallāhi mim ba'di mīṡāqihī wa yaqṭa'ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍi ulā`ika lahumul-la'natu wa lahum sū`ud-dār)
Artinya: “Orang-orang yang merusakkan janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni, silaturrahim), dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam).” (QS Ar-Ra’d: 25)
Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini dengan sabdanya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim)” (HR. Bukhari)
6. Kesalahan Akan Menjadi Beban
Perbuatan salah yang dilakukan kepada orang lain akan menjadi beban yang terus memberatkan hati jika belum dimaafkan. Perasaan bersalahpun akan terus menghantui. Kaena termasuk penyambung dalam silaturahmi, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa meminta maaf bukan sesuatu yang akan menghinakan, tapi merupakan tindakan yang amat mulia. Sedemikian mulianya sehingga terbukanya pintu surga dan keterbebasan dari neraka sebagai ganjarannya. Terkait dengan ini, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang senang diberi lebih banyak rezeki dan umur panjang, maka dia harus menjalin hubungan baik (silaturrahim) dengan orangtua dan saudaranya.” (HR Bukhari)
Dalam hadis tentang meminta maaf ini menunjukkan bagaimana Islam memuliakan silaturahmi, sehingga meminta maaf merupakan bagian dari mempertahankan hal tersebut.
Islam memberi pahala bagi orang yang mampu maaf memaafkan dengan hati ikhlas dan ringan. Perbuatan yang dipandang kecil namun sungguh dibutuhkan usaha yang besar.
Materialisme atau terlalu berlebihan dalam mencintai harta, akan memberikan sejumlah efek negatif. Ia mengatakan bahwa ada dua dampak buruk materialisme. Pertama, memperburuk kesejahteraan individu. Kedua, memperparah efek trauma dan stres terhadap kejadian buruk.
Yang menarik dari riset tersebut adalah pada temuan atau kesimpulan kedua. Rindfleisch menyatakan bahwa orang-orang yang materialistis, ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan yang parah, seperti ketidaksesuaian antara rencana dengan hasil yang didapat, maka mereka akan cenderung lebih sulit menerima kenyataan dan mudah stres. Kondisi ini mengakibatkan orang tersebut untuk melakukan “maladaptive consumption”, yaitu ketidakrasionalan pola konsumsi. Misalnya, dengan membeli barang yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan olehnya, maupun mengkonsumsi barang dan jasa yang mengancam kehidupannya. Kesabaran terhadap tekanan hidup menjadi berkurang, dan ia akan memiliki kecenderungan untuk menjadi paranoid, terutama terhadap kematian. Rasa takut akan mati sangat menghantuinya.
Dengan kata lain, perilaku materialisme akan menyebabkan ketidaktenangan hidup. Orang akan lebih mudah gelisah dan resah. Sehingga, pada jangka panjang, kondisi ini akan mengancam tingkat produktivitas seseorang, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan tingkat produktivitas suatu bangsa secara keseluruhan. Jika ini terjadi, maka tingkat kemakmuran akan mengalami penurunan.
Dari hasil studi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa ada dua solusi yang harus dikembangkan, untuk mengatasi problem materialisme dan dampak buruk yang ditimbulkannya. Pertama, peningkatan kualitas pengendalian diri, terutama terkait dengan konsumsi pribadi. Kedua, mendorong semangat berbagi, sebagai antitesa dari sifat serakah terhadap harta.
Terkait poin yang pertama, harus disadari bahwa sumber utama penyakit materialisme adalah ketidakmampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk itu, jiwa harus dilatih agar memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik. Salah satunya adalah melalui momentum ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.
Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tingkat puasa seseorang itu dibagi menjadi tiga, yaitu puasa awam, puasa khusus, dan puasa yang sangat khusus. Pada puasa awam, seseorang hanya mampu menahan diri dari lapar dan haus semata, serta belum mampu mengendalikan diri dari syahwat yang lain. Sedangkan pada puasa jenis kedua, seseorang sudah mampu mengendalikan hawa nafsu yang lain, selain makan dan minum. Misalnya, mengendalikan nafsu amarah yang berlebihan. Sementara pada tingkatan ketiga, kualitas puasa seseorang sudah mampu menghantarkannya pada kebersihan nurani dan hati, sehingga tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya keinginan untuk bermaksiat dan berbuat keburukan. Jadi memikirkan hal negatif saja tidak, apalagi melakukannya. Berbeda dengan puasa level kedua dimana pada diri seseorang masih mungkin terlintas hal-hal negatif, meski kemudian mampu dicegahnya.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa puasa pada dasarnya adalah instrumen untuk mengendalikan diri, termasuk pengendalian terhadap konsumsi berlebihan. Ini adalah antitesa dari teori konsumsi konvensional yang berorientasi sepenuhnya pada pencapaian tingkat kepuasan maksimum, dimana kondisi ini bisa dicapai melalui konsumsi barang dan jasa secara maksimal dengan faktor pembatasnya adalah anggaran keuangan yang dimiliki.
Selanjutnya, solusi kedua adalah dengan mendorong semangat berbagi, melalui pelaksanaan ibadah zakat, infak dan shadaqah(ZIS). Ibadah ZIS adalah metode yang efektif dalam mengikis keserakahan. Melalui ibadah ini, seseorang diajarkan untuk tidak mencintai harta secara berlebihan, karena hakekat hidup pada dasarnya adalah untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia. Ibadah ZIS juga merupakan instrumen “alami” yang diciptakan ajaran Islam untuk mencegah konsentrasi kekayaan di tangan segelintir kelompok, dan mendorong tumbuhnya solidaritas sosial yang kuat. Jika kesenjangan ekstrim bisa dicegah, dan solidaritas sosial dapat diperkuat, maka ketenteraman dan ketertiban dalam kehidupan sosial masyarakat bisa menjadi kenyataan.
Materialisme merupakan suatu aliran yang menganggap kebutuhan materi di atas kebutuan spiritual, ideologi, sosial, budaya dan agama. Ideologi materialisme yang berkembang pesat khususnya di Barat pada dasarnya bukanlah aliran yang baru, atau hasil dari zaman modern, namun kepercayaan aliran ini, sudah ada sejak zaman filsafat Yunani kuno. Materialisme merupakan salah satu persoalan masyarakat modem saat ini baik pada dunia Barat maupun pada dunia Timur sendiri.
Beberapa filosof Barat yang materialis menganggap perkembangan aliran tersebut seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin pesat juga perkembangan materialisme.
Materialisme di Barat tidaklah sama dengan materialisme dalam dunia Timur, baik dari segi sejarahnya maupun konteks doktrin orientasinya, karena aliran tersebut dalam Islam hanya merupakan sentuhan-sentuhan kekuasaan yang sedang berkuasa, sementara di Barat selain aliran ini memiliki sejarah yang jelas, dan juga ada beberapa faktor yang dapat mendukung kemajuan aliran tersebut.
Faktor-faktor tersebut adalah pertama, kelemahan doktrin-doktrin Gereja dan keangkuhan serta kekerasan yang dilakukannya. Kedua, kelemahan ide-ide filsafat Barat, dan yang ketiga adalah kelemahan konsep-konsep sosial politik di Barat. Beberapa alasan tersebut merupakan faktor yang paling dominan dan fundamental dalam penggiringan masyarakat Barat pada materialisme.
Murtadha Muthahhari salah satu tokoh intelektual Islam yang keras mengkritik kepada kaum materialis, apalagi aliran tersebut sudah menunjukkan eksistensinya pada dunia Islam, khususnya Iran, karena dalam sejarahnya, Islam dengan dinasti Abbasiahnya pernah memberi peluang besar pada masyarakatnya dengan aliran tesebut, meskipun kebebasan berpikir di antara para intelektualnya tidak boleh menentang kekuasaan yang sedang berkuasa.
Bahkan ada di antara tokoh intelektual Islam seperti Ali Wardi yang menganggap materialisme sejarah bagian dari doktrin Islam. Namun pendapat ini dibantah oleh Muthahhari, karena menurutnya, orang-orang yang mencari hakikat kebenaran materialisme sejarah terterah dalam kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya ia kurang memahami benar tentang ajaran Islam.
Penelitian ini bersifat kepustakaan murni yang didasarkan pada karya-karya Murtadha Muthahhari sebagai sumber data primer, sementara sumber data sekunder adalah beberapa literatur yang dapat mendukung dalam penelitian ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yakni metode deskriptif-analitik dan sejarah pemikiran yang berupaya memaparkan pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Islam dan materialisme secara jelas, akurat dan sistematis.
Hasil penelitian ini dapat diperoleh jawabannya, bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kecenderungan materialisme pada dunia Barat, salah satunya adalah otoritas Gereja. Klaim materialisme memiliki relevansi dalam Al-Qur'an pada hakikatnya adalah penafsiran yang keliru, justru Islam menganggap aliran tersebut bukan hanya tidak cocok dengan ajarannya, akan tetapi juga dapat membahayakan baik pada masyarakat Islam sendiri maupun pada doktrin agamanya, dengan muncul kesamaran-kesamaran dalam penafsirannya.
Pemikiran Murtadha Muthahhari tidak hanya dapat meramaikan pergulatan wacana mengenai Islam dan materialisme, dan mengkonter hegomoni pemikiran orang-orang Barat, namun ia juga dapat memberi beberapa penawaran yang dapat memuaskan intelektual. Maka dengan demikian, pemikiran Murtadha Muthahhari ini adalah sangat relevan dan kontekstual dengan perkembangan zaman sekarang.
Materialisme, merupakan suatu pemahaman hanya bersandar pada materi. Paham ini tidak meyakini apa yang ada di balik alam ghaib dan norma di atas manusia, yaitu Tuhan dan wahyu.
Orang-orang yang mengikuti paham ini tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini, sehingga secara otomatis menafikan adanya Tuhan sebagai pencipta alam, karena menurut paham ini alam beserta isinya berasal dari satu sumber, yaitu materi.
“Pemikiran ini sama halnya dengan atheisme dalam bentuk dan subtansinya yang tidak mengakui adanya Tuhan secara mutlak,” kata Dr. Tgk. H. Amri Fatmi Anzis Lc, MA (Doktor Aqidah Filsafat dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (21/2) malam. Pengajian dimoderatori oleh Kasi Kurikulum pada Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Badaruddin SPd MSi.
Tgk Amri Fatmi yang meraih gelar doktor dengan predikat tertinggi “Summa Cumlaude” pada Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, memaparkan, para penganut paham materialisme ini menolak agama sebagai hukum kehidupan manusia. Mereka lebih mengedepankan akal sebagai sumber segala hukum.
Prinsip ini melahirkan suatu ideologi, hukum hanyalah apa yang bisa diterima oleh akal manusia, tidak perlu agama, dan menjadikan kecondongan dan kesenangan manusia sebagai hak yang harus diakui. Meskipun itu bertentangan dengan dengan agama dan jauh dari nilai-nilai Islam.
Pemikiran materialisme ini membawa pada kehidupan konsumerisme, hedonisme, dan cinta dunia berlebihan (wahn). Ini sangat berbahaya bagi kehidupan kita sebagai seorang muslim, karena dalam kehidupan materialisme ini, tidak ada akhlak. Semua berburu pada materi tanpa peduli halal atau haram.
Dijelaskannya, salah satu fitnah zaman modern dewasa ini adalah merebaknya ideologi materialisme. Bahwa materi, harta kekayaan atau jabatan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang berarti ia dipandang sebagai orang yang mulia, dan semakin sedikit materi atau harta yang dimilikinya berarti ia dipandang sebagai orang yang hina dan tidak patut dihormati.
Dalam sebuah masyarakat yang berideologi materialisme, seseorang menjadi sangat iri dan berambisi menjadi kaya setiap kali melihat ada orang yang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka. Maka di dalam masyarakat yang telah diwarnai materialisme, setiap anggota masyarakat akan berlomba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan cara bagaimanapun, baik itu dengan cara yang halal, syubhat, maupun haram.
Solusi terhadap paham materialisme yang harus dijauhi oleh setiap umat Islam, yaitu dengan kembali kepada ajaran agama Islam. Kemudian tidak mencintai dan mengejar materi dunia secara berlebihan, sehingga lupa pada kepentingan akhirat.
Andaikan setiap kita berpegang teguh kepada prinsip dan ajaran agama kita, niscaya akan terhindar dari ideologi materialisme. Tidak mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa harta merupakan tolok ukur kemuliaan seseorang. Setiap orang akan senantiasa rajin mensyukuri segenap karunia Allah yang telah diterimanya dengan sifat zuhud dan qanaah. Islam mengajarkan tolok ukur kemuliaan sejati ialah taqwa seseorang kepada Allah Swt.
Munculnya fenomena masyarakat yang begitu mudah mempercayai kemampuan seseorang yang bisa mendatangkan kekayaan secara instan meski irasional dinilai merupakan gejala semakin kuatnya nilai materialisme. Masyarakat yang terjangkit materialisme cenderung memiliki sikap hidup yang menghargai materi secara berlebihan. Materi menjadi tolok ukur utama dalam menilai kesuksesan seseorang. Sayangnya, sikap yang mengukur segala sesuatunya dengan materi ini erat kaitannya dengan merosotnya nilai-nilai sosial yang menjadi ciri khas bangsa, seperti gotong royong, sukarela, dan tanpa pamrih.
Sebagaimana disampaikan Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc ketika memberi sambutan dalam acara Sumpah Profesi Psikolog ke-32 yang digelar oleh Magister Profesi Psikologi UII di Ruang Auditorium FPSB UII, Sabtu (22/10). Acara tersebut diikuti oleh empat orang lulusan Magister Profesi Psikolog.
Kondisi ini tidak dipungkiri semakin nyata adanya di tengah masyarakat kita. Di mana tidak hanya menjangkiti golongan masyarakat di akar rumput, namun juga kaum menengah atas, dan bahkan sebagian kaum intelektual.
Rektor menilai sebagai kalangan intelektual, lebih-lebih yang membawa nilai Islam, para psikolog juga memiliki kewajiban untuk kembali menyehatkan kondisi psikologis masyarakat. Keunikan psikolog UII yang tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu saintifik namun juga mengamalkan akhlak-akhlak Islami dalam berprofesi bisa menjadi celah untuk terlibat dalam hal itu.
Di sisi lain, Ketua HIMPSI Wilayah DIY, Drs. Helly P. Soetjipto, MA mengatakan salah satu tantangan menjadi psikolog adalah selama ini psikolog dianggap sebagai sosok yang dapat memulihkan kesehatan jiwa individu. “Namun apakah psikolog bisa menterapi dirinya sendiri manakala dia memiliki masalah kejiwaan?. Ini belum dapat dipastika.
Menanggapi fenomena di masyarakat yang mudah tergiur hal-hal berbau irasional, Helly P. Soetjipto berpendapat sebenarnya masyarakat cukup mempraktekkan tiga hal untuk menghindarinya. Selalu utamakan berperilaku jujur, ikhlas, dan saling membantu sesama manusia. Insyaallah hal ini dapat menjaga kesehatan mental kita.
Pendidikan Islam harus dijauhkan dari materialisme. Apalagi, Pendidikan Islam merupakan salah satu pilar utama yang dimiliki Kementerian Agama yang bertanggungjawab mengawal kualitas generasi muda muslim. Pesan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin, Caringin, Bogor, KH M. Luqmanul Hakim di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, di Jakarta. KH M. Luqmanul Hakim yang hadir mengisi tausiyah pada acara Buka Bersama di rumah dinas Direktur Jenderal Pendidikan Islam itu mengingatkan pentingnya membentuk generasi muda muslim untuk menjadi umat terbaik (khoiro ummah).
Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita mampu menjauhkan proses pendidikan dari materialism,” terang penulis buku Psikologi Sufi ini. Hadir pada acara ini Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safe’i, para Direktur, pejabat eselon III dan IV, serta pelaksana di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag. Lebih lanjut KH Luqman menyampaikan, untuk menjauhkan gaya hidup materialisme, anak-anak harus diajari tentang makna pendidikan dan kerja keras. “Pendidikan harus dilakukan dengan kerja keras karena pendidikan enak adalah racun. Anak-anak menjadi sangat manja, mudah frustasi, dan berakhir bisa putus dari Allah Swt
Dirinya juga mengingatkan akan bahaya materialisme. Menurutnya materialisme akan menjauhkan manusia pada Tuhan, karena semua hal perbuatan diukur dengan materi. “Padahal ujung dari semua perbuatan tertuju pada Lillah (Allah Swt). Ia pun mengajak jajaran Ditjen Pendis untuk senantiasa berdoa. "Ada dua doa yang harus selalu kita panjatkan kepada Allah, yaitu agar diberikan ketenangan hati, dan agar diberikan tetap iman," tutur KH Luqmanul Hakim. Orang yang diberi ketenangan hati oleh Allah, dia tidak pernah tersinggung, dan selalu menghadapi masalah dengan mudah. Sementara doa tetap iman agar di akhir hayat kita mampu menyebut Allah Swt.