Allah SWT Berfirman:” Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan” (al Baqarah ayat 55).
Dalam sejarah Bani Israil ada sebuah kisah bagaimana mereka meminta kepada Musa as untuk ikut mendengarkan dialog kalam Allah SWT dengan Musa as, akhirnya merekapun diberikan kesempatan mendengarkan dialog Musa dengan Allah swt, akan tetapi mereka masih belum puas, sehingga meminta Musa untuk mereka dapat melihat Allah SWT dengan panca inderanya. Inilah logika materialisme ketuhanan. Mereka ingin melihat Tuhan dengan panca Indera, sebuah kesalahan logika (logical fallacy) yang fatal, bagaimana mungkin inderawi yang bersifat fisik mampu menemui sesuatu yang bersifat non materi (immateri).
Memandang eksistensi sesuatu hanya pada yang nampak oleh inderawi adalah sebuah kesalahan besar, karena indera sangatlah menipu. Hal inilah yang menyebabkan al-Ghazali melakukan uzlah untuk mendapatkan hakikat pengetahuan. Akhir dari perenunganya adalah makrifatullah sebagai ilmu paling tinggi. Karena dia memandang panca indera penuh tipuan, sebuah contoh bagaimana kayu dalam air terlihat bengkok, hal inilah menjadi dasar bagi al-ghazali bahwa inderawi penuh tipuan. Begitu juga fatamorgana, inderawi manusia tertipu olehnya.
Menipu manusia akan eksistensi Tuhan dengan indera adalah kebodohan, akan tetapi banyak sekali di dunia ini yang terjebak dengan hal itu. Akhir dari kebodohan ini adalah lahirnya ateisme atau faham ketidak percayaan pada eksistensi Tuhan. Karena mereka menjadikan panca indera sebagai standar ada dan tidaknya sesuatu.
Secara epistimologis manusia memiliki sumber pengetahuan inderawi, akali dan qalbi. Melihat Tuhan tidak mungkin dengan inderawi dan akali, maka memandang Tuhan seharusnya dengan potensi hati, hati yang dibimbing oleh kitab suci, karena di dalam kitab suci ada cara mengenal Tuhan. Sebagai seorang muslim, Allah swt telah mengenalkan dirinya di dalam al Qur’an, menunjukan kekuasaan Nya dalam alam semesta, sehingga melihat Allah bukan dengan indera tetapi dengan Iman yang lahir dari hati yang bersih.
Konsep memandang Allah SWT ada ketika manusia berada di akhirat, sebagaimana dalam ayat al Qur’an: “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23). Dalam ayat lain : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).
Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).) (HR. Imam Muslim)
Melihat Allah SWT adalah sebuah kemustahilan di dunia ini, akan tetapi sebuah kepastian di akhirat bagi mereka yang mendapatkan tambahan kenikmatan, mereka orang-orang yang beriman dan menetapi perintah Allah SWT. Sangat nampak logika iman dan logika kufur dalam memahami hal ini, karena keimanan akan membangun keyakinan dalam hati mereka, sedangkan kekafiran akan menghancurkan logika sehat mereka.
Oleh sebab itu Allah SWT menghukum mereka orang-orang yang tidak mau beriman sampai melihat wajahnya dengan sambaran halilintar, sedangkan mereka menyaksikan satu sama lainya. Hal ini menunjukan buruknya pola pikir mereka, dan menjengkelkanya prilaku mereka, sehingga Allah SWT menghukum mereka.
Tentu orang-orang yang terjebak dengan faham materialisme dan berujung pada ateisme ini akan mendapatkan hukuman Allah SWT yang sangat keras, karena mereka begitu sombong meniadakan Tuhan yang telah menciptakanya. Kesombongan inilah yang akan menjadikan mereka hancur baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini memang antara rasio dan iman akan terus berhadapan, bagi mereka yang jauh dari nilai keimanan. Akan tetapi bagi mereka yang menjadikan iman sebagai dasar maka mampu mendialogkan antara rasio dan iman, antara sains dan iman, demikianlah islam mengajarkan.
Insan profetis adalah mereka yang senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar segalanya, sebagai dasar melihat sesuatu bahkan memikirkan sesuatu. Mereka adalah orang yang mampu mendialogkan antara indera, akal dan hati, antara iman dan sains, bahkan antara dunia dan akhirat. Dengan inilah peradaban akan terbentuk dengan baik, dan mampu memimpin dunia yang dipenuhi faham materialisme saat ini.
Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang. Buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan).
Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi. Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini.
Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi. Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya.
Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan. Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif. Merujuk buku Model Pendidikan Islam bagi Pecandu Narkotika oleh Ahmad Saefulloh dan Mellyarti Syarif, cara mengatasi depresi menurut Islam sesuai dengan apa yang termaktub dalam Alquran, di antaranya sebagai berikut:
Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang. Buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan). Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi.
Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini. Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam
4 Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Sesuai Alquran (1)
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi. Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian.
Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya. Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan.
Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif. 4 Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Sesuai Alquran (2)
1. Penguatan keimanan dan ketakwaan
Seorang sufi, Al-Qusyayri, menyebutkan bahwa takwa ditandai oleh tiga sikap, yaitu: (1) tawwakal terhadap apa yang belum dianugerahkan; (2) berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan; (3) dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang. Manusia yang benar-benar bertakwa akan senantiasa bercahaya hatinya dengan cahaya Allah SWT, ini berarti bahwa Allah SWT senantiasa menyertai dalam setiap langkah umatnya. Bila manusia tersebut dalam kehilangan, Allah SWT akan senang menghargai penggantiannya. Sebagaimana yang terdapat di dalam Firman Allah SWT dalam surat At Thalaq ayat 4, berikut bunyinya:
Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
2. Penguatan kesabaran
Islam sebagai pembawa kedamaian tidak menghendaki terjadinya depresi di dalam kehidupan manusia. Islam tidak ingin melihat manusia mati dalam kehidupan. Sebaliknya, Islam menghendaki manusia mempunyai jiwa yang tegar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa. Oleh sebab itu, untuk masalah ini Alquran datang dengan konsep kesabaran. Melalui kesabaran, Alquran mengajak manusia untuk menyadari bahwa mati, jodoh dan lainnya ada di tangan Allah SWT. Dengan kesabaran, Alquran mengajak umat Islam untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 155-156, Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
Islam telah mengajarkan banyak cara untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang dialami umatnya, termasuk dalam menghadapi gangguan mental seperti depresi. Cara mengatasi depresi menurut Islam ini pun beragam dan bisa menambah timbangan pahala seseorang.
Rice PL dalam buku Berobatlah dengan Menikah oleh Moh. Zainul Akhyar menerangkan, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan kondisi emosional berkepanjangan pada seluruh proses mental (berpikir, berperilaku, dan berperasaan).
Terdapat beberapa hal penyebab depresi, di antaranya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia pada otak, efek samping obat, beberapa penyakit fisik, dan masih banyak lagi.
Selain dengan berobat dan mengikuti saran psikolog, mengatasi depresi sesuai dengan syariat Islam juga perlu dicoba. Simak uraian artikel di bawah ini. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi.
Akan tetapi, masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dengan rasio 2:1. Sementara di Indonesia, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang 3 persen dari total angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa depresi dapat mengancam siapa pun. Namun, sebagai manusia yang beragama, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya Allah SWT telah memberikan pedoman kepada manusia untuk mengatasinya. Salah satu di antara sekian banyak konsep yang terkandung dalam kitab suci Alquran adalah konsep yang mempunyai relevansi dengan depresi atau keputusasaan.
Terkait hal ini, Alquran memberikan beberapa konsep pengobatan yang bisa membangun manusia dari buaian depresi dan kembali kepada jiwa optimis dan progresif.
1. Penguatan keimanan dan ketakwaan
Seorang sufi, Al-Qusyayri, menyebutkan bahwa takwa ditandai oleh tiga sikap, yaitu: (1) tawwakal terhadap apa yang belum dianugerahkan; (2) berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan; (3) dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang. Manusia yang benar-benar bertakwa akan senantiasa bercahaya hatinya dengan cahaya Allah SWT, ini berarti bahwa Allah SWT senantiasa menyertai dalam setiap langkah umatnya. Bila manusia tersebut dalam kehilangan, Allah SWT akan senang menghargai penggantiannya. Sebagaimana yang terdapat di dalam Firman Allah SWT dalam surat At Thalaq ayat 4, berikut bunyinya:
Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
2. Penguatan kesabaran
Islam sebagai pembawa kedamaian tidak menghendaki terjadinya depresi di dalam kehidupan manusia. Islam tidak ingin melihat manusia mati dalam kehidupan. Sebaliknya, Islam menghendaki manusia mempunyai jiwa yang tegar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa.
Oleh sebab itu, untuk masalah ini Alquran datang dengan konsep kesabaran. Melalui kesabaran, Alquran mengajak manusia untuk menyadari bahwa mati, jodoh dan lainnya ada di tangan Allah SWT.
Dengan kesabaran, Alquran mengajak umat Islam untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 155-156, Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
3. Pemantapan Dzikir
Dzikir atau dzikrullah merupakan cara yang paling esensial untuk menyembuhkan lemah iman. Ini juga merupakan upaya untuk membersihkan hati dan mengobatinya tatkala manusia sakit serta merupakan ruh amal yang shalih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Anfal ayat 4, yang berbunyi:
Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
4. Memperbanyak membaca Alquran
Stres juga termasuk penyakit lemah iman. Maka, hal yang selanjutnya dilakukan untuk mengobati depresi adalah banyak membaca ayat Alquran. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus ayat 57 yang berbunyi:
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”
Perubahan besar perilaku manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa cemas, takut, dan memikirkan hal-hal buruk tentang masa depan, terutama bagi korban positif virus Corona. Tentu saja kondisi tersebut menyebabkan kesehatan mental terganggu. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin seseorang berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga bisa menikmati kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, orang yang mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, dan akhirnya mengarah pada perilaku buruk.
Salah satu gangguan mental yang saat ini banyak dialami adalah depresi. Biasanya, seseorang yang mengalami depresi akan merasa kesepian dan sulit berhubungan dengan orang lain. Dalam Islam, sering kali diperintahkan untuk menyerahkan segala kesulitan hidup yang kita hadapi kepada Allah SWT.
Gejala Depresi
Sebelum mengetahui cara menghilangkan depresi menurut Islam, ketahui terlebih dahulu gejala apa saja yang muncul. Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus mengalami tekanan dan kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain itu, seseorang yang mengalami depresi juga tidak bisa membina hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti mengalami kesedihan yang mendalam dan memiliki pengalaman traumatis.
Kondisi traumatis ini dapat bersifat objektif maupun subjektif, baik itu karena kekerasan fisik, emosional, hingga kejadian yang bisa mengancam nyawa. Gangguan depresi jika tidak segera diatasi maka dapat memicu penderita melakukan tindakan bunuh diri.
Depresi menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, depresi menempati peringkat ke-4 sebagai penyakit yang ada di dunia. Adapun ciri-ciri depresi bisa dilihat dari dua aspek, yakni fisik dan psikologi yang ditandai seperti berikut:
1. Merasa putus asa dan tidak berharga
2. Sering merasa cemas dan khawatir yang berlebihan
3. Kehilangan selera untuk melakukan aktivitas sehari-hari
4. Sering merasakan suasana hati yang buruk dan perasaan sedih yang berkelanjutan
5. Selalu merasa kelelahan dan kehilangan gairah seksual
6. Kehilangan selera makan dan sering merasa pusing yang tidak jelas alasannya
7. Berat badan turun secara drastis atau naik drastis
8. Memiliki keinginan untuk bunuh diri
Penyebab Depresi
Sebelum mengetahui cara menghilangkan depresi menurut Islam, ketahui juga penyebab depresi. Seseorang yang menderita gangguan depresi maka akan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini bisa memicu masalah fisik maupun emosional. Bahkan tak jarang pengidap depresi akan selalu merasa putus asa, tidak berharga dan menyalahkan diri sendiri. Penyebab depresi belum diketahui secara pasti, namun biasanya seseorang yang mengidap depresi disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:
Trauma
Trauma merupakan pengalaman emosional yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari memori kejadian buruk di masa silam. Kondisi kejiwaan ini biasanya disebabkan oleh suatu kejadian buruk dan cara seseorang dalam memaknai peristiwa menyakitkan tersebut. Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan mengalami gangguan depresi.
Riwayat Keluarga
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan depresi maka lebih berisiko mengalami depresi. Depresi bersifat sangat kompleks, artinya banyak gen berbeda yang masing-masing memberi efek kecil, daripada gen tunggal yang berkontribusi terhadap risiko penyakit. Selain itu, memiliki riwayat penyalahgunaan narkoba atau alkohol bisa memengaruhi risiko seseorang mengalami depresi. Tak heran, jika banyak pengidap gangguan depresi karena memiliki riwayat dengan obat-obatan terlarang.
Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual juga dapat meninggalkan trauma yang mendalam bagi korban. Salah satu kelompok paling rentan yang bisa mengalami kondisi ini adalah anak-anak. Kejadian ini bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan stres dan depresi.
Cara Menghilangkan Depresi Menurut Islam
Setiap orang pernah mengalami suatu peristiwa menyakitkan di dalam hidupnya. Tak jarang, pengalaman pahit masa lalu ini sering mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun jangan khawatir, dengan berdamai dengan kenyataan, seseorang bisa bangkit dari segala keterpurukan.
Secara umum, depresi berat harus melibatkan bantuan medis profesional dari psikolog atau psikiater. Hal ini perlu dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, ada beberapa cara menghilangkan depresi menurut Islam yang efektif dilakukan. Dilansir dari Help Guide, berikut beberapa cara menghilangkan depresi menurut Islam :
Senantiasa Bersyukur kepada Allah SWT
Cara menghilangkan depresi menurut Islam yang pertama ialah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Seperti yang diketahui, sebagai manusia tentu tidak akan pernah lepas dari permasalahan hidup. Hampir dapat dipastikan setiap orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Hal inilah yang kemudian harus disadari bahwa kita tidak hidup sendiri dan masih banyak orang di luar sana yang mengalami masalah lebih besar.
Salah satu puncak kebahagiaan ialah ketika seseorang mampu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Selalu percaya bahwa semua masalah yang kita hadapi sekarang adalah upaya mendewasakan diri agar ke depan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, masih banyak hal di dunia ini yang patut kita syukuri seperti memiliki sahabat, keluarga, dan pekerjaan.
Menjalankan Ibadah Salat
Cara menghilangkan depresi menurut Islam selanjutnya, yaitu menjalankan ibadah salat. Ibadah ini memiliki menfaat besar untuk membuat hati menjadi lebih tenang dalam Islam. Selain itu, salat juga memiliki tujuan gara seseorang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berdoa agar Lebih Tenang
Cara menghilangkan depresi menurut Islam dianjurkan untuk terus mengingat Allah SWT. Berdoa dan meminta pada Sang Pencipta. Selain itu, juga dapat dengan membaca doa di bawah ini yang termuat dalam Alquran surat Ar Rad, ayat 28.
"Alladziina aamanuu watathmainnu quluubuhum bi dzikrillaahi alaa bi dzikrillaahi tathmainnul quluubu."
Artinya:
" (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
Dzikir
Dzikir juga menjadi cara menghilangkan depresi menurut Islam. Dzikir merupakan aktivitas umat muslim untuk menyebut nama Allah SWT. Setiap muslim dianjurkan untuk selalu mengingat Allah dengan cara berdzikir. Selain untuk memuja kebesaran Allah SWT, berdzikir juga dapat membuat hati dan pikiran seseorang menjadi lebih tenang. Dzikir merupakan salah satu terapi psikiatrik yang efektif diterapkan pada jiwa manusia. Dengan memperbanyak bacaan dzikir, hati seseorang akan lebih tenang dan terhindar dari depresi.
Depresi Menurut Alquran (2): dan 7 Terapi Qurani Obat Depresi. Sekarang muncul pertanyaan bagaimana terapi Alquran dalam mengatasi problem depresi berupa ‘huzn” (حزنٌ), “ghamm”( غمٌّ), “hamm (همٌّ)”, dlaiq (ضيقٌ) , dan “asaf” (أسف ) itu?
Alquran sebagai mukjizat sepanjang masa telah memberikan terapinya antara lain:
Qulnahbiṭụ min-hā jamī'ā, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa man tabi'a hudāya fa lā khaufun 'alaihim wa lā hum yaḥzanụn
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran (“khauf”) atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (“huzn”)". (QS Al Baqarah: 38).
Dalam menghadapi Covid-19 kita harus tetap beraktivitas, tetapi beraktifitas yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Diantara petunjuk-Nya yaitu kita dilarang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan (QS Al Baqarah: 195). Dalam konteks sekarang ini ayat ini memberi pelajaran kepada kita antara lain untuk menjaga kesehatan, menjaga jarak, dan tidak berkerumun. Kalau hal ini dipatuhi, maka gangguan mental berupa kekhawatiran dan kesedihan akan jauh dari kehidupan kita.
2. Istiqamah teguh pendirian dalam bertauhid kepada Allah SWT
Innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ fa lā khaufun 'alaihim wa lā hum yaḥzanụn
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran (khafun) terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (yahzanun).” (QS Al Ahqaf 13). Pengakuan dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang memelihara kita dan hanya Allah-lah yang menjaga kita, akan memberi ketenangan dalam kehidupan kita, tidak akan takut (khaufun) tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan tidak kwatir (yahzanun) atas apa yang telah terjadi dengan musibah ini, karena Allah SWT tetap memelihara dan menjaga kita.
Wa lā tahinụ wa lā taḥzanụ wa antumul-a'launa in kuntum mu`minīn
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 139)
Sikap mental yang lemah dalam menghadapi musibah covid-19 ini akan berakibat pada sikap mental yang serba kawatir dan sedih. Maka jauhkanlah sikap-sikap seperti itu sehingga kita menjadi manusia unggul di hadapan Allah SWT
4. Senantiasa merasa bersama Allah SWT
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
lā taḥzan innallāha ma'anā. “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At Taubah: 40)
Jika kita dalam keadaan depresi, serba kawatir atau takut, maka usahakanlah mensugesti diri bahawasanya Allah beserta kita dan semua yang ada di dunia ini ada dalam pengawasan dan pengaturan Allah SWT. Sehingga jika sudah terjadi merasa ma’iyyah (kebeersamaan dengan Allah SWT) penyakit atau musibah apapun akan dihadapi dengan tenang dan kepasrahan kepada Allah, sambil berikhtiar yang optimal, karena kepasrahan dan ikhtiar keduanya diperintah Allah SWT.
Wa qālul-ḥamdu lillāhillażī aż-haba 'annal-ḥazan, inna rabbanā lagafụrun syakụr
Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Mahapengampum lagi Mahamensyukuri." (QS Fațir: 34)
Betapa banyak karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita selama ini, nikmat udara yang bisa kita peroleh secara gratis, nikmat bisa bernafas dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Jangan sampai musibah yang sedang dihadapi ini menghapuskan kenikmatan yang selama ini Allah berikan. Maka sikap yang selalu bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan akan menghilangkan kesedihan dan kekhawatiran yang menghantui diri kita.
Am may yujībul-muḍṭarra iżā da'āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj'alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma'allāh, qalīlam mā tażakkarụn
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An Naml: 62)
Dalam hadits sahih disebutkan bahwa doa itu senjata bagi orang yang beriman. Rasulullah telah mengajarkan kita berdoa agar dihilangkan rasa kawatir dan kesedihan:
“Allāhumma innī a’ūżubika minal hammi wal hazan. wa a’ūżu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’ūzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’ūźubika min ghalabatid daini wa qahrir rijāl.”
“(Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung pada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung pada-Mu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung pada-Mu dari cengkaman hutang dan penindasan orang)”
Wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa 'amila ṣāliḥan ṡummahtadā. “Dan Sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (QS Taha: 82)
Musibah covid-19 ini jangan sampai mematikan kreativitas. Berkarya apa saja yang bisa dilakukan selama tidak melanggar protokol kesehatan, sebaiknya tetap dilakukan. Berkarya dan beramal saleh di samping akan menambah penghasilan juga akan mengurangi perasan kawatir, cemas, dan sedih.
Di samping itu, berkarya dan beramal saleh itu hendaklah disertai dengan istighfar (permohonan ampunan), karena boleh jadi musibah yang dihadapi ini adalah akibat dari dosa yang kita kerjakan. Di samping itu dengan beristighfar kita akan dapat jaminan dari Rasulullah SAW. Dalam suatu hadīś yang diriwayatkan Ahmad dari Ibnu Abbās
"Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." Amiin.
Depresi menurut Al Qur'an : jenis dan pengertiannya. Lamanya isolasi mandiri dengan tinggal di rumah berpekan-pekan membuat banyak orang sedih, gelisah, sampai merasa tertekan. Seperti saat sekarang ini, keluar rumah pun dibatasi karena alasan kesehatan, sehingga bisa menimbulkan depresi.
Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang.
Dalam Alquran ada beberapa kosa kata yang punya makna sama atau berdekatan makna dengan depresi, antara lain ‘huzn” (حزنٌ), “ghamm”( غمٌّ), “hamm (همٌّ)”, dlaiq (ضيقٌ) , dan “asaf” (أسف ).
“Huzn” menurut al-Aşfahāni dalam Mufradāt al-Fāzhil Qur'ān adalah keadaan jiwa yang sedih. Ada juga yang berpendapat bahwa “huzn” adalah perasaan sedih karena tidak beruntung, kehilangan sesuatu yang disayangi, dan ketidakberdayaan.
Tentu saja, perasaan ini biasanya bersikap pasif, ketika seseorang menjadi pendiam, kurang aktif, emosional dan tertutup.
“Huzn” terkadang berupa perasaan tidak senang dengan apa yang terjadi, dengan berbagai problem yang dihadapi atau kondisi di luar kehendak manusia yang membuatnya secara psikologis berada di bawah tekanan, sehingga yang bersangkutan tidak merasa nyaman dengannya.
Diksi “huzn” disebutkan dalam Alquran sebanyak 42 kali dengan berbagi derivasinya dalam 25 surat. Misalnya firman Allah SWT:
“Washbir wa mā shabruka illā billāh wa lā tahzan ‘alaihim wa lā taku fī dlaiqin mimmā yamkurūn.”
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati (huzn) terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada (dlaiq) terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS An Nahl: 127)
Ibnu ‘Āsyur dalam al-Tahrīr wal-Tanwīr mengulas, bahwa ayat ini menunjukkan betapa tingginya kesabaran yang harus dimiliki Rasulullah SAW tatkala menghadapi gangguan orang-orang kafir, sehingga kesabarannya dibutuhkan adanya keterlibatan Allah SWT.
Dari ayat ini bisa diambil pelajaran bahwa pada dasarnya manusia dituntut untuk bersabar dalam menghadap berbagai problem yang dihadapi, termasuk menghadapi Covid-19 dengan mengikuti berbagai protokol kesehatan, antara lain melakukan physical distancing (jarak fisik), tidak boleh keluar rumah kecuali ada keperluan yang mendesak.
Jika tahap kesabaran ini tidak dilakukan maka akan masuk pada level “huzn” yaitu berupa perasaan tidak senang dengan apa yang terjadi yang membuatnya berada di bawah tekanan psikologis, sehingga yang bersangkutan tidak merasa nyaman dengannya.
Kalau gangguan mental seperti ini tidak segera dikendalikan maka akan semakin memuncak lalu masuk ke level “dlaiq” perasaan sempit dan sulit, sehingga dalam kondisi seperti ini yang bersangkutan sulit mengekpresikan keadaannya dengan kata-kata.
“Ghamm” adalah kesedihan yang meningkat berupa kecemasan tatkala suatau peristiwa atau musibah terjadi. Misalnya kesedihan dan kegelisahan yang menimpa seorang mahasiswa tatkala ia melihat nilai buruk dalam ujian.
Atau kesedihan dan kegelisahan yang diderita seseorang pada musim covid-19 ini, ia tidak bisa hidup bebas, harus menetap di rumah, jenuh dan tidak bisa beraktifitas sebagaimana bisanya. Diksi “gamm” disebutkan dalam Alquran sebanyak 11 kali dengan berbagai derivasinya. Misalnya firman Allah SWT:
“Fastajabnā lahụ wa najjaināhu minal-gamm, wa każālika nunjil-mu`minīn.”
“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al Anbiya: 88)
Ayat ini mengabarkan tentang nabi Yunus AS ketika ia pergi, tanpa ada perintah dari Allah, dalam keadaan marah terhadap kaumnya yang terus-menerus berada dalam kemaksiatan.
Dia menyangka bahwa Allah SWT tidak akan menghukumnya atas kepergiannya, sehingga ia pun diuji dengan ujian yang sulit dan berat tatkala ditelan oleh ikan besar dan terpenjara didalamnya.
Lalu dalam kegelapan perut ikan, kegelapan laut dan kegelapan malam, ia pun berdoa sembari mengakui dosanya dan bertobat kepada Allah, ia berkata, "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain-Mu, Engkau Mahasuci lagi Agung, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka tatkala ia dalam kesedihan dan duka (ghamm) ini Allah SWT memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.
“Hamm” adalah gangguan mental berupa berpikir negatif secara terus menerus tentang kemungkinan ancaman di masa depan dan bagaimana cara mengatasinya. Gangguan itu bisa dalam bentuk pertanyaan internal (dalam bahasa Jawa pertanyaan gek-gek) seperti "Bagaimana jika ini atau itu terjadi?", “bagaimana jika Covid-19 ini tidak segera berakhir? Apa persediaan makanan bisa mencukupi?” dan sebagainya.
Dengan demikian ada perbedaan yang jelas antara “huzn”, “ghamm”, dan “hamm”. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Fawaid al-Fawaid bahwa “huzn” adalah kesedihan karena peristiwa atau musibah yang sudah terjadi, “ghamm” adalah kesedihan yang yang sedang terjadi, sedangkan “hamm” adalah kesedihan atau kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi.
Adapun “asaf” , menurut al-Rāgib al-Aşfahāni, adalah kesedihan yang dibarengi dengan amarah seperti firman Allah SWT:
“Fa raja'a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā, qāla yā qaumi a lam ya'idkum rabbukum wa'dan ḥasanā, a fa ṭāla 'alaikumul-'ahdu am arattum ay yaḥilla 'alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau'idī”
“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: "Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?." (QS Thaha: 86)
Ternyata ada cara untuk minta maaf kepada orang yang sudah wafat. Buya Yahya menyampaikan hal tersebut dalam salah satu ceramahnya. Jangan khawatir bila punya salah kepada orang yang sudah meninggal, kita masih bisa minta maaf kepadanya. Setiap umat muslim wajib untuk merawat tali silaturahmi dan tidak boleh saling menyakiti. Kita mesti menghindari entah itu menyakiti secara material seperti merugikan orang lain, atau menyakiti lewat gunjingan. Bila ternyata kita membuat kesilapan, wajib pula untuk segera minta maaf atas kesalahan yang kita perbuat. Yang menjadi persoalan adalah bila kita ingin minta maaf kepada orang yang sudah tidak ada lagi di dunia.
Syukurlah Buya Yahya menyampaikan cara untuk minta maaf kepada orang yang sudah meninggal. Sekiranya orang yang kita sakiti atau zalimi sudah meninggal dunia, maka ada cara yang bisa ditempuh. Semisal kalau kita merenggut harta benda almarhum, maka kita bisa tobat dengan mengembalikan hak almarhum. Yang dimaksud tentu bukan mengembalikan harta benda almarhum ke makamnya, tapi berikanlah kepada ahli waris almarhum. “Tidak cukup hanya nyesel saja. Makanya kita lihat. Dosanya apa sih, kesalahannya apa sih? Berbeda-beda (cara maafnya),” terang Buya Yahya. Kalau permasalahannya adalah kita dulu sering menggunjing serta menjelek-jelekannya, maka ada cara yang bisa ditempuh.
“Aduh saya dulu sering ngomongin dia, saya sering gunjing dia, tapi dia sudah meninggal dunia. Gimana cara minta maaf? Saya nyesel, saya tidak mau dihukum Allah,” kata Buya Yahya. Apabila kita melakukan dosa yang dimaksud, jangan khawatir, lakukanlah 2 hal ini. “Yang pertama, sebut kebaikan dia sesering mungkin. Yang kedua adalah mintakan ampun kepada Allah, selesai, itu urusan Allah mengampunimu,” tegas Buya Yahya. “Intinya, selalu ada cara meminta maaf kepada orang yang kita dzolimi, yang kita sakiti,” pungkas Buya Yahya.
Caranya Minta Maaf pada Orang yang Pernah Disakiti. Cara meminta maaf kepada orang yang sudah meninggal
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bagaimana cara meminta maaf orang yang pernah kita zalimi yang kita tidak tahu keberadaannya?
Pertanyaan:
Pernah ghibah kepada seseorang di akun medsos (menggunakan akun palsu) dan sekarang menyesal. Bagaimana cara agar tobat diterima?
Jawaban:
Barang siapa yang berbuat zalim (walaupun nama disamarkan), mungkin Fulan/Fulana yang disakiti tidak tahu, namun perlu kita ingat, Allah Swt Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka tidak cukup hanya dengan Istighfar, apabila berkaitan dengan hak manusia. Segera minta untuk dihalalkan (meminta maaf). Sedangkan apabila keberadaan orang tersebut tidak diketahui di mananya, maka doakan kebaikan untuknya. Mohon kepada Allah Swt agar Fulan/Fulana tidak menuntut kita di Akhirat nanti.
Allah Swt Maha Pengampun, apabila seseorang hamba bertobat. Dan rahmat serta kasih sayang-Nya begitu luas. Sedangkan kezaliman antar manusia adalah perkara berat. Apabila belum dihalalkan di dunia, maka akan dituntut kelak di Akhirat (pada saat Hisab). Dan urusan menjadi panjang, karena jiwa manusia itu agak sulit memaafkan.
Surga merupakan ganjaran bagi hamba-hamba Allah Swt yang bersungguh-sungguh di dunia dengan keimanan dan ketakwaan. Mereka bisa menikmati dan bergembira atas keindahan di dalamnya serta dapat memperoleh segala yang diinginkan. Mereka yang menikmati hal itu adalah yang senantiasa berbuat baik dan taat dalam melaksanakan ibadah. Allah Swtberfirman:
"Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS Al Mu’minun ayat 10-11)
Syekh Muhammad Abu Bakar menjelaskan, seorang Muslim bisa masuk surga tanpa ada hisab atau dimintai pertanggungjawaban.
Menurutnya, ada beberapa perbuatan yang jika dilakukan maka itu bisa menlancarkan seorang Muslim untuk masuk surga tanpa hisab. "Maka pastikan Anda termasuk di antara mereka karena mereka itulah penghuni surga," jelasnya, seperti dilansir Elbalad, Pertama yaitu bersabar yang tanpa batas dan tidak mengeluh atas apa yang dialaminya, sebagaimana yang pernah dicontohkan Nabi Yaqub alaihissalam.
"Dia (Yakub) menjawab, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS Yusuf ayat 86). Kedua, ialah memaafkan orang. Maksud memaafkan di sini bukan karena ketidakmampuan tetapi justru karena dia punya kemampuan untuk memaafkan. Ketiga adalah janda yang menjaga anak-anaknya setelah suaminya meninggal dunia. Keempat, tidak senang memiliki rasa bersalah. Kelima yakni senantiasa berprasangka baik kepada AllahSwt tanpa ada rasa pesimis atau cemas.
Ciri Pezina Tidak Diampuni Allah SWT Meskipun Telah Bertaubat : (Alm. Syekh Ali Jaber). pezina tidak akan diampungi Allah SWT? Berikut ciri pezina tidak diampuni Allah SWT meskipun telah bertaubat menurut Syekh Ali Jaber. Zina merupakan salah satu perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Bahkan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Ali Jaber, terdapat satu orang yang tidak akan pernah diampuni dosanya karena perbuatan zina. “Allah mengampuni dosa setiap hambanya, apapun dosa itu, dosa zina, dosa riba, dosa syirik, semua apapun perilakunya” tutur Syekh Ali Jaber. Tetapi, menurut Syekh Ali Jaber ada 1 orang yang dosa zina tidak diampuni Allah SWT, siapakah golongan orang tersebut? “Ia adalah orang yang terang-terangan menceritakan perzinahannya dan merasa bangga atas maksiat yang Ia lakukan” imbuhnya.
Zina sendiri, merupakan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Seseorang wanita dan laki-laki yang memiliki hubungan keluarga maupun tidak, dan memiliki hubungan yang belum dihalalkan melalui akad atau ijab kabul, berarti hubungan tersebut sebagai zina.Pasalnya, seseorang yang pernah melakukan zina seharusnya menyembunyikan atau merahasiakan perbuatannya itu karena merasa malu kepada Allah SWT. Jadi, jika ia justru merasa bangga melakukannya, maka Allah akan murka. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW berikut ;
"Semua orang diselamatkan oleh Allah, diberikan afiat dari perilaku maksiat dan dosa, jika ada keseriusan dalam bertaubat. Kecuali, orang-orang yang suka membuka aib dosanya. Inilah mereka yang dijamin tidak selamat bahkan tidak diampuni (dosa) oleh Allah." Hukuman ini tak hanya berlaku bagi orang yang membuka aibnya sendiri, namun juga bagi setiap orang yang membuka dan menyebarkan aib orang lain. Dengan begitu, Allah akan membuka aib orang tersebut. Larangan untuk melakukan zina sendiri telah jelas dituangkan Allah SWT melalui QS. Al-Isra’ ayat 32 berikut:
“Wa la taqrabuz-zina innah kana faisyah, wa sa`a sabila” Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Zina merupakan sebuah proses, salah satunya dapat diawali melalui zina mata yang sering kali kita abaikan. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pandangan mata berzina dan zinanya mata adalah memandang sesuatu yang haram” Demikian informasi mengenai ciri pezina tidak diampuni Allah SWT meskipun telah bertaubat menurut Syekh Ali Jaber. Semoga kita dapat senantiasa terhindar dari perilaku tersebut, dan terus mendapat limahan rahmat dari-Nya.
2 Dosa Ini Tak Diampuni di Malam Nisfu Syaban. Bulan Syaban adalah bulan yang penuh rahmat dan keberkahan. Banyak amalan yang dianjurkan dibaca pada malam Nisfu Syaban. Malam Nisfu Syaban adalah malam tanggal 15 bulan Syaban atau separuh dari bulan Syaban. Selain itu, yang perlu diketahui, jika malam Nisfu Syaban juga termasuk malam sa'ah ijabah doa. Pada bulan Syaban, Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Namun ada dua dosa yang tidak diampuni yaitu perbuatan musyrik (menyekutukan Allah) dan perbuatan munafik yang menyebabkan perpecahan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:
Artinya: “Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan.” (HR Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal).
Walaupun kualitas hadits di atas dha’if (lemah), namun masih tetap bisa diamalkan karena terkait dengan fadhâilul a’mâl. Kedha’ifannya juga tidak terlalu parah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Taqrîb-nya. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti di malam Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain. Kedha’ifannya juga tidak terlalu parah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Taqrîb-nya. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti di malam Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain.
Selain itu, lanjut Sayyid Muhammad, dosa-dosa seperti ini adalah dosa-dosa yang patut dijauhi baik di malam yang penuh ampunan seperti Nisfu Syaban, bulan Ramadhan, asyhurul hurum, serta malam-malam ampunan yang lain. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Ibnu Mas‘ud yang artinya:
“Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling berat?’ Kemudian Rasulullah menjawab, ‘menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (syirik).’ Kemudian Abdullah berkata, ‘Apalagi wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi wahai Rasul?’ ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”
Syekh Ali Jaber membenarkan malam Nisfu Syaban merupakan malam pengampunan atau malam maghfirah. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW, kata dia, di malam Nisfu Syaban, Allah mengampuni semua dosa-dosa hambanya kecuali 2 orang. "Yang pertama ialah yang berbuat syirik dan yang kedua orang pemarah atau pendendam atau orang yang suka menyebar fitnah, mengadu domba menyebar isu. Perbuatannnya tidak sesuai malah dia memfitnah supaya umat terpecah," kata Syekh Ali Jaber.
Segerakan Minta Maaf Pada Orang yang Dizalimi, Seorang hamba mempunyai dosa kepada Allah Swt maka orang tersebut harus bertaubat, beristighfar memohon ampun kepada Allah Swt. Dan ampunan Allah sangat luas bagi setiap manusia. Akan tetapi ketika seorang hamba mempunyai kesalahan terhadap orang lain terlebih kepada sesama Muslim maka urusannya bukan sekedar bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, tetapi hamba tersebut harus bersegera meminta maaf dengan sepenuh hati kepada orang yang yang telah dizalimi.
Sebab konsekuensi yang akan ditanggung seorang hamba yang tidak mau meminta maaf kepada orang yang pernah dizaliminya sangat besar. Itu bisa merontokan pahala yang pernah dikerjakannya dan justru menambah dosa bagi dirinya.
Sebagaimana dalam kitab at Targib wat Tarhib terdapat sebuah hadits Nabi Muhammad Saw tentang bersegera meminta maaf atas perbuatan zalim yang pernah dilakukan pada orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa ada padanya perbuatan zalim kepada saudaranya menyangkut kehormatan atau apapun, maka hendaklah ia segera meminta kehalalan atas perbuatan zalim yang dia lakukan hari itu juga sebelum tidak ada dinar dan tidak ada dirham (yaitu pada hari kiamat dimana harta benda tidak ada gunanya). Jika ada baginya amal saleh maka diambil lah pahalanya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika sudah tidak ada amal-amal kebaikan, maka diambil lah dari dosa-dosanya orang-orang yang dizalimi. Lalu dosa itu dibebankan kepadanya. (HR Bukhari dan Tirmidzi).
Barang siapa yang mempunyai kezaliman kepada saudaranya mengenai harta dan kehormatannya minta dihalalkanlah kepadanya dari dosa itu sebelum datang hari dimana nanti tidak ada dinar dan dirham (di hari Kiamat), dimana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya,maka akan diambil dari dosa yang teraniaya itu lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya tersebut (HR. Bukhori Muslim)
Hadis di atas menjelaskan bahwa dosa sesama manusia tidak dapat dibebaskan dengan semata bertaubat dan dan memohon ampun kepada Allah SWT tanpa melibatkan manusia yang bersangkutan yang berkaitan dengan kesalahan yang pernah merugikan,menyakiti hati orang yang terzalimi. Tetapi kekhilafan dan kesalahan berinteraksi sesama manusia dapat terbebaskan apabila sudah dapat pengakuan untuk saling memaafkan di dunia ini.
Allah SWT memberi kesempatan untuk saling memaafkan selagi masih hidup didunia ini, selagi masih berlaku alat tukar berupa uang dan dinar dan dirham. Seandainya seseorang yang merasa dirugikan harga dirinya dengan ujaran kebencian, gunjingan, ghibah dan sebagainya, lalu meminta ganti rugi dengan pembayaran sejumlah uang dan harta benda. Apakah kompensasi itu halal di terimanya, tentu uang sebagai penebus harga dirinya itu halal dia terima.
Tetapi jika kekhilafan dan kesalahan sesama manusia di dunia ini belum terselesaikan, lalu kehidupan di dunia ini berakhir dengan sebab kematian. Maka penyelesaian kesalahan terhadap sesama manusia masih dapat diselesaikan melalui keluarga yang masih hidup dengan meminta maaf atau membayar ganti rugi.
Jika tidak maka penyelesaian akan diselesaikan di hadapan Allah SWT dengan cara mengambil pahala kebaikan orang yang bersalah dan dialihkan kepada orang yang dirugikan ketika hidup di dunia. Jika pahala kebaikannya sudah kandas maka dipikulkan pula kepadanya sebagian kesalahan pihak yang dirugikan kepada pelaku kesalahan tadi sesuai dengan hitungan yang berdasarkan keadilan Allah SWT.
Dosa antar sesama makhluk, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab Minhajul ‘Abidin, tidak kurang dari 5 macam: Pertama, dosa yang berkaitan dengan harta manusia seperti mencuri, korupsi, menipu, hutang dan sebagainya. Kedua, dosa yang berkaitan dengan jiwa, seperti membunuh. Ketiga, yang berkaitan dengan harga diri. Keempat, berkaitan dengan kehormatan keluarga. Kelima, doa yang berkaitan dengan agamanya.
Adapun cara membebaskannya adalah jika berkaitan dengan harta,wajib mengembalikannya. Jika tidak mampu karena jatuh miskin mohon dibebaskan dari tuntutan, jika yang bersangkutan telah meninggal dunia, bersedekahlah atas namanya. Dan jika tidak, perbanyaklah kebaikan dengan harapan kebaikannya akan membayarnya di Akhirat kelak.
Yang berkaitan dengan jiwa, dia wajib menyerahkan dirinya kepada keluarganya untuk dituntut balas (qishas) atau mengganti diat (kompensasi). Sedangkan yang berkaitan dengan harga diri seperti menggunjing, memaki, mencaci dan sebagainya, dia wajib mengakui kesalahannya dan memohon kemaafannya.
Adapun yang berkaitan dengan kehormatan keluarganya, tidak ada jalan untuk memohon kemaafan karena telah menimbulkan kebencian antar keluarga. Bahkan bisa antar suku, satu-satunya jalan adalah merobah sikap sehingga dapat merobah kebencian tadi menjadi rasa simpati.
Berkaitan dengan agamanya, seperti menyatakan dia ahli bid’ah, sesat, fasik dan sebagainya, dapat dilakukan dengan mohon kemaafannya, atau dengan menyesali perbuatannya dan banyak melakukan kebaikan. Bertobat kepada Allah SWT adalah jalan terakhir untuk lepas dari kezaliman yang telah dilakukan. Barang siapa yang tidak bertobat mereka itu adalah orang orang yang zalim.
Momentum halal bi halal yang berlaku di negeri ini adalah kesempatan emas untuk mencairkan hubungan sesama manusia terutama hubungan seakidah dan hubungan kerabat. Kata halal berarti membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan, membolehkan, mencairkan.
Terminologi halal bi halal tidak ditemukan di dalam Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW. Bahkan perkataan para sahabat dan para ulama sekalipun, hanya di negeri Indonesia ini terminologi tersebut populer diucapkan.
Ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang didefenisikan sebagai kegiatan “hal maaf memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula) oleh sekelompok orang–merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003, h.383).
Sejatinya, menghalalkan dan mengharamkan adalah merupakan wewenang Allah SWT, dan tidak ada sedikitpun wewenang manusia bahkan siapa yang melakukannya. Berarti dia telah menandingi atau menyekutukan Allah SWT.
Sebab itu, Allah SWT mengecam orang yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah dan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: Katakanlah (ya Muhammad)! Terangkanlah kepada-Ku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kami jadikan sebagiannya haram dan sebagian lain halal, katakanlah, apakah Allah telah memberi izin (tentang ini) ataukah kamu mengada-ngadakan atas nama Allah? (QS. Yunus: 59).
Demikian pula, Allah SWT telah mengutuk orang Yahudi dan Nasrani karena menjadikan ulama dan fukaha mereka sebagai tuhan disebabkan kehalalan dan keharaman tergantung kepada keputusan mereka (QS. At-Taubah: 31).
Sebab itu tradisi halal bi halal tidak dapat diartikan sebagai pembolehan sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Seperti menggunjing, menggosip, memfitnah, mengambil hak orang lain, mencuri, korupsi, dan sebagainya, yang berkaitan dengan hak manusia, semua itu tidak dapat dihalalkan (dibolehkan) dengan melaksanakan upacara halal bi halal.
Hanya saja, jika perbuatan yang terlarang tersebut jika berkaitan dengan hak-hak manusia, dapat dimaafkan jika yang bersangkutan mau memaafkannya. Namun bukan berarti perbuatan terlarang tersebut menjadi halal.
Dengan arti kata, jika sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. berkaitan dengan hak manusia, Allah SWT. tidak akan mengampuninya sebelum yang bersangkutan belum memaafkannya. Dengan demikian, dalam larangan mencederai hak-hak manusia, di sana terdapat hak-hak Allah SWT.
Dengan kata lain, dosa terhadap manusia di dalamnya terdapat dosa kepada Allah SWT, dosa kepada Allah SWT berkaitan dengan melanggar larangan-Nya. Sedangkan dosa ke manusia berkaitan harga diri, harta dan keluarganya.
Maka sesuatu yang berkaitan dengan hak Allah SWT dapat dilakukan dengan bertaubat, jika berkaitan dengan hudud dan qishas wajib dilaksanakan. Sedangkan yang hak manusia wajib dikembalikan. Adapun yang berkaitan dengan harga diri manusia, dimohon kemaafannya.
Harta haram sudah seharusnya dijauhi. Artinya, kita tidak boleh mencari pekerjaan dari usaha yang haram. Jika terlanjur memilikinya, harus dicuci atau dibersihkan dari harta yang halal. Adapun pembagian harta haram secara mudahnya dibagi menjadi harta haram karena zat -seperti daging babi- dan karena pekerjaan -seperti harta riba dari bunga Bank. Pembagian Harta Haram, Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, Harta haram ada dua macam:
Haram karena sifat atau zatnya,
Haram karena pekerjaan atau usahanya.
Harta haram karena usaha seperti hasil kezholiman, transaksi riba dan maysir (judi).Harta haram karena sifat (zat) seperti bangkai, darah, daging babi, hewan yang disembelih atas nama selain Allah Swt. Harta haram karena usaha lebih keras pengharamannya dan kita diperintahkan untuk wara’ dalam menjauhinya. Oleh karenanya ulama salaf, mereka berusaha menghindarkan diri dari makanan dan pakaian yang mengandung syubhat yang tumbuh dari pekerjaan yang kotor.
Adapun harta jenis berikutnya diharamkan karena sifat yaitu khobits (kotor). Untuk harta jenis ini, Allah telah membolehkan bagi kita makanan ahli kitab padahal ada kemungkinan penyembelihan ahli kitab tidaklah syar’i atau boleh jadi disembelih atas nama selain Allah. Jika ternyata terbukti bahwa hewan yang disembelih dengan nama selain Allah, barulah terlarang hewan tersebut menurut pendapat terkuat di antara pendapat para ulama yang ada. Telah disebutkan dalam hadits yang shahih dari ‘Aisyah,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai suatu kaum yang diberi daging namun tidak diketahui apakah hewan tersebut disebut nama Allah ketika disembelih ataukah tidak. Beliau pun bersabda, “Sebutlah nama Allah (ucapkanlah ‘bismillah’) lalu makanlah.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 56-57)
Pencucian Harta Haram
Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri –semoga Allah memberkahi umur beliau– menerangkan bahwa harta haram bisa dibagi menjadi tiga dan beliau menerangkan bagaimana pencucian harta tersebut sebagai berikut.
Harta yang haram secara zatnya. Contoh: khomr, babi, benda najis. Harta seperti ini tidak diterima sedekahnya dan wajib mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau dimusnahkan.
Harta yang haram karena berkaitan dengan hak orang lain. Contoh: HP curian, mobil curian. Sedekah harta semacam ini tidak diterima dan harta tersebut wajib dikembalikan kepada pemilik sebenarnya.
Harta yang haram karena pekerjaannya. Contoh: harta riba, harta dari hasil dagangan barang haram. Sedekah dari harta jenis ketiga ini juga tidak diterima dan wajib membersihkan harta haram semacam itu. Namun apakah pencucian harta seperti ini disebut sedekah? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Intinya, jika dinamakan sedekah, tetap tidak diterima karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ
“Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR. Muslim no. 224). Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. Sedekah tersebut juga tidak diterima karena alasan dalil lainnya, “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim)
Kaedah dalam Harta Haram Secara Umum
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan:
Harta haram karena zatnya seperti harta rampasan atau curian, maka haram untuk menerima dan membelinya.
Harta haram secara umum seperti khomr (minuman keras), rokok atau semacam itu tidak boleh diterima dan tidak boleh dibeli. (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 151)
Kaedah dalam Harta Haram Karena Usaha (Pekerjaan) Kaedah dalam memanfaatkan harta semacam ini -semisal harta riba- disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin,
أن ما حُرِّم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط، دون مَن أخذه منه بطريق مباح.
“Sesuatu yang diharamkan karena usahanya, maka ia haram bagi orang yang mengusahakannya saja, bukan pada yang lainnya yang mengambil dengan jalan yang mubah (boleh)” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh)
Contoh dari kaedah di atas:
Boleh menerima hadiah dari orang yang bermuamalah dengan riba. (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 2)
Boleh transaksi jual beli dengan orang yang bermuamalan dengan riba. (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 2)
Jika ada yang meninggal dunia dan penghasilannya dari riba, maka hartanya halal pada ahli warisnya. (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 10)
Contoh-contoh di atas dibolehkan karena harta haram dari usaha tersebut diperoleh dengan cara yang halal yaitu melalui hadiah, jual beli dan pembagian waris.
Allahummak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa aghniniy bi fadhlika ‘amman siwaak. [Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dan jauhkan dari bergantung pada selain-Mu]. (HR. Tirmidzi)