This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Sabtu, 16 Juli 2022

Saat Jenuh Beribadah, Saat Kualitas Ibadah Menurun

Saat Jenuh Beribadah, Saat Kualitas Ibadah Menurun. Saat Jenuh Beribadah, Saat Kualitas Ibadah Menurun – Nouman Ali Khan. Banyak dari kita yang terpikir akan satu titik dalam hidup di mana saat itu versi diri kita jauh lebih baik. Ketika ibadah-ibadah kita jauh lebih bermakna. Ketika lidah kita jauh lebih ramah. Ketika beratnya kesalahan-kesalahan kita belum sampai mengubur dalam-dalam diri ini. Diri itu tampak begitu jauh dari jangkauan, hampir terasa seperti mimpi.

Bagaimana Anda dan saya bisa kembali ke titik itu? Kita mungkin ingat apa yang saat itu hati kita rasakan, atau bahkan perasaan itu sudah mulai pudar dan menghilang. Untuk siapa pun yang juga merasakan hal ini, ada jalan untuk kembali. Tidak sulit secara fisik tetapi akan sulit secara emosional. Kita harus bicara dengan hati kita dan ingatkan bahwa terlepas dari seberapa jauh iman kita turun dan bagaimanapun terputusnya keterhubungan itu, Allah tidak menyerah pada kita, buktinya Allah masih membuat jantung kita berdetak dan Allah masih mengisi paru-paru kita dengan udara.

Setiap nafas adalah campur tangan ilahi untuk kelangsungan hidupku. Aku tidak mendapatkannya sendiri. Nafas yang Dia beri adalah kasih sayang-Nya untukku.’ Setelah kita sudah berhasil melakukan percakapan yang sangat dalam itu, inilah saatnya untuk melakukan dua hal yang akan mengembalikan cahaya di dalam diri kita.

Beberapa orang memiliki kemampuan untuk berpuasa Senin dan Kamis, sepanjang tahun, tapi yang lain mungkin tidak bisa. Ada juga yang memiliki kemampuan bangun di tengah malam untuk Sholat Tahajjud setiap malam, tetapi yang lain tidak dapat bangun. Yang lain tidak bisa melakukan kedua hal di atas, tetapi di mana pun mereka berjalan, mereka bersedekah dengan murah hati kepada yang membutuhkan.

Beberapa orang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah tambahan, tetapi mampu menjaga hati yang bersih dan wajah yang tersenyum terhadap orang-orang sepanjang waktu. Yang lain lagi tidak melakukan apa-apa selain hanya membuat anak-anak tertawa ketika bertemu dengan mereka. Intinya apa?

Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang tidak melakukan seperti apa yang kita lakukan lebih rendah daripada kita. Jangan biarkan kesalehan anda menumbuhkan kebanggaan terselubung dalam diri. Penampilan dan pakaian bukanlah kriteria untuk kesalehan. Ada banyak manusia di dunia ini yang lebih dekat dengan Allah meskipun mereka tampak biasa-biasa saja bahkan mengaku tidak kenal dengan Allah. Apakah kamu lupa Ada orang yang masuk surga hanya dengan memuaskan dahaga seekor anjing, yang lain mendapatkannya dengan hanya memaafkan semua orang setiap hari sebelum tidur.

Pertama

Beribadah. Seseorang mungkin beribadah karena kewajiban. Seseorang mungkin beribadah karena ingin meminta sesuatu kepada Allah. Seseorang mungkin beribadah karena kebiasaan yang sudah terbangun. Tetapi ketika Anda dan saya mulai beribadah karena bersyukur kepada-Nya, dan karena kita ingin Allah menjaga hati kita tetap lembut, dan karena kita mencari ketentraman di dalam diri melalui ibadah, maka ibadah-ibadah itu akan memiliki efek yang sangat berbeda.

Sederhananya: “Aku akan beribadah dengan tujuan untuk memulihkan cahaya dalam hatiku. Segala motif lain dalam beribadah akan menjadi prioritas selanjutnya.”

Kedua

Melakukan perbuatan atas dasar cinta dan kebaikan.

“Dengan lidahku, dengan tanganku, dengan ekspresi wajahku, dengan uangku secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.” Lakukan banyak kebaikan, bahkan hal-hal yang kecil, untuk orang lain tanpa berharap akan pengakuan ataupun terima kasih. Lakukan saja karena tindakan itu akan memulihkan cahaya dalam hatimu. Saya tahu ada orang-orang yang secara alami sangat mudah melakukan kebaikan. Adalah karunia Allah jika Anda memilikinya. Orang-orang seperti itu melakukan kebaikan bahkan ketika mereka sendiri tidak menyadarinya.

Lalu kita sisanya termasuk saya harus secara sadar mengembangkan kepekaan kepada orang lain yang ada di dekat kita. Cobalah dua hal ini selama sebulan, seolah-olah hidup Anda, maksud saya cahaya dalam diri Anda, bergantung padanya. Saya akan mencoba dengan diri saya sendiri bersama Anda.

Ada langkah ketiga tetapi kita bisa membicarakannya dalam sebulan ke depan pada 12 Oktober. Ingatkan saya ya? Ok sampai jumpa. Dan bagi mereka yang ‘cahaya’ dalam dirinya redup hanya karena perpisahan dari saya, seperti orang yang tidak beriman, dan dengan itu menjadikan postingan ini menyimpang dari jalan orang-orang beriman,

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya berterima kasih, netizen yang mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Anda telah menyelamatkan kita semua. Oke, saya akan lebih baik dari ini.


Referensi sebagai berikut ini ;








Doa Ketenangan Hati agar Tidak Sedih dan Diberi Kemudahan

Doa Ketenangan Hati agar Tidak Sedih dan Diberi Kemudahan/Bacaan Doa Penenang Hati, Amalkan Saat Batin Galau dan Gundah. Perasaan sedih atau gelisah pasti terjadi pada hati dan pikiran seseorang. Nah, ada doa ketenangan hati dalam Al-Quran yang bisa menjadi penyejuk. Setiap manusia tentu akan diberikan cobaan sesuai dengan kemampuannya. Agar mampu menjalaninya, memanjat doa ketenangan hati bisa menjadi solusi. Bacaan Doa Penenang Hati, Amalkan Saat Batin Galau dan Gundah. 

Hati dikuasai perasaan galau, gundah, dan gelisah? Itu merupakan hal yang wajar terjadi pada manusia. Konsumsi kafein atau kejadian mengejutkan bisa mengaktifkan hormon adrenalin di dalam tubuh. Akibatnya Anda merasa gelisah. Kadar serotonin, progesteron, dopamin, dan oksitosin juga bisa mempengaruhi emosi manusia. Hormon-hormon ini bisa menjadi biang keladi rasa galau di hati.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjauhkan diri dari perasaan galau. Salah satunya adalah memohon pertolongan Allah SWT dengan mengamalkan doa agar hati tenang.

1. Doa Agar Hati Tenang

Cobalah untuk menenangkan diri dengan membaca doa untuk menghindarkan diri dari perasaan cemas. Berikut ini bacaannya.

Allahumma Inni audzubika minal hammi wal huzni wal ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wal dholaid daini wa gholabatir rijali.

Artinya:

"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban utang serta tekanan orang-orang jahat."

2. Doa Agar Hati Tenang (QS. Al Baqarah 250)

Berikutnya ada doa agar hati tenang yang diambil dari QS. Al Baqarah ayat 250. Doa ini dipanjatkan oleh tentara Talut saat hendak melawan tentara Jalut yang terlihat lebih perkasa dan kuat.

Rabbanaa afrig 'alainaa shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa 'alal qaumil kafiriin.

Artinya:

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.

3. Doa Agar Hati Tenang (QS. Thaha 25-28)

Selain doa agar hati tenang di atas, Anda juga bisa mengamalkan bacaan doa Nabi Musa AS saat menghadapi Fir'aun.

Rabbish rahli sadri. Wayassirli amri. Wahlul uqdatam millisani. Yafqahu qauli.

Artinya:

"Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lancarkanlah lidahku supaya mereka faham ucapanku.

4. Doa Agar Hati Tenang (Hadis Imam Thabrani)

Hadis Nabi Muhammad SAW dari Imam Thabrani dari Abu Umamah menyebutkan, "Sesungguhnya Nabi saw. berkata (mengajari) seseorang. Katakanlah, Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.'"

Dengan demikian, Anda bisa membaca doa agar hati tenang sebagai berikut.

Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.

Artinya:

"Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."

Cara Mengatasi Galau dan Gelisah

Setelah membaca doa agar hati tenang, Anda juga bisa melakukan beberapa hal berikut untuk memulihkan suasana hati.

1. Lakukan Olahraga Ringan

Mengaktifkan anggota tubuh saat rasa gelisah menyerang tak hanya mampu mendistraksi pikiran. Bergerak dan mengeluarkan keringat juga mengaktifkan hormon endorfin yang berperan penting dalam ketenangan batin dan pikiran.

2. Praktikkan Teknik Pernapasan untuk Menenangkan Diri

Teknik pernapasan merupakan bagian penting dari yoga dan bentuk meditasi lainnya. Pasalnya menarik napas dengan irama yang tepat juga bisa membantu melepaskan energi negatif dari dalam tubuh sekaligus menenangkan pikiran.

Saat rasa gelisah mulai muncul, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam. Lakukan selama beberapa menit atau hingga pikiran terasa lebih ringan.

3. Minum Air Dingin

Segelas air dingin juga bisa membantu melancarkan peredaran darah dan menyejukkan pikiran secara instan.

4. Praktikkan Teknik Butterfly Hug

Menerapkan teknik butterfly hug juga bisa membantu menenangkan diri dan menurunkan level stres. Ini adalah bentuk psikoterapi non-tradisional yang sering diterapkan untuk pasien post-traumatic stress disorder (PTSD). Walaupun begitu, teknik ini juga bisa diterapkan untuk kehidupan sehari-hari.

5. Hindari Minuman Berkafein Sementara Waktu

Makanan dan minuman yang mengandung kafein seperti kopi atau teh akan menyebabkan jantung berdebar-debar dan keringat dingin. Jadi hindari minuman dengan kandungan ini sebisa mungkin.

6. Dengarkan Musik yang Menenangkan

Musik dengan irama yang lambat cukup efektif untuk menenangkan pikiran. Hal ini sudah dibuktikan oleh sejumlah penelitian. Bahkan bisa mengurangi kecenderungan untuk bersikap agresif jika diperdengarkan secara rutin.

Demikian bacaan doa agar hati tenang dan cara-cara mengatasi galau yang bisa dipraktikkan secara mandiri.

Referensi sebagai berikut ini ;





Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah Swt

 Menangis itu biasa, bahkan menurut para ahli sebagai perilaku positif untuk kesehatan fisik maupun mental, tetapi bila puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang menangis bersama, itu menjadi menarik untuk ditulis dan dibahas. Orang menangis biasanya saat sedih, tetapi tidak sedikit juga yang menangis saat gembira. Ada juga yang menangis saat marah atau frustasi. Bagaimana kita membayangkan orang menangis saat mendapat kebahagiaan yang luar biasa atau bagaimana pula kita membayangkan orang menangis saat marah besar dengan orang lain. Fakta menarik ini menguatkan pentingnya mengkaji fenomena menangis. Forum kajian termasuk dakwah tentang menangis relatif langka. Padahal banyak jejak tangis dalam Al Quran dan Hadist Nabi.

Ketika pasangan ganda putri bulutangkis Indonesia memenangkan pertandingan final melawan China pada olimpiade Tokyo belum lama ini, yang menakjubkan dan menangis bukan hanya pemain dan pelatih di lapangan, tetapi hampir seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan turut menangis atas kemenangan itu. Hari-hari selama pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, fenomena menangis tentu mengungkapkan hari-hari di Indonesia yang rata-rata kematian ratusan bahkan lebih dari seharinya. Tangisan yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena menyaksikan ayah, ibu, suami, atau istri bahkan anak, dikebumikan dengan cara yang tidak biasa. Proses bagaimana memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jenazah melalui cara yang jauh dari tradisi agama maupun budaya yang dianut. Bahkan banyak yang tidak melalui proses tersebut, pada awal-awal pandemi Covid di Indonesia, karena minimnya pengetahuan tentang Covid-19, Jenazah langsung dibawa ke pemakaman, hanya dapat melihat dari jarak jauh, bahkan banyak yang tidak tahu bagaimana anggota keluarga yang dicintainya itu dikuburkan. Inilah yang membuat mereka merasakan pedih yang sangat mendalam. Hatinya sangat penting, karena tidak dapat melakukan apa-apa. Menangis menjadi satu-satunya perilaku logistik yang paling mungkin menyertainya. Sekali lagi, apa untungnya membahas masalah “menangis” yang menurut etika publik sesuatu yang tidak perlu terjadi karena hanya mengumbar emosi dan bukan hal positif. Banyak orangtua yang tidak suka anaknya menangis. Seorang suami juga tidak begitu suka bila istrinya menangis. Dalam suasana sedih karena ditinggal orangtua, anak, istri atau suami, juga sangat tidak disukai menangis.

Menangis bagi bayi merupakan alat komunikasi yang paling utama dan adaptif sebagai mekanisme untuk bertahan hidup (Bartlett & McMahon. Bagi orang dewasa, menangis itu juga merupakan alat komunikasi, untuk menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa dia dalam kondisi rentan, sedang kesulitan dan butuh pertolongan (Cornelius & Lubliner) Menurut Hendriks, dkk. fungsi utama menangis adalah memberi perhatian kepada orang lain untuk membantunya dalam menemukan sumber-sumber penemuan, kemudian juga untuk mendapatkan perhatian, empati, dan dukungan dari orang lain. Manusia memiliki tiga jenis air mata, yakni air mata refleks, air mata yang terus menerus keluar ( continuous tear)), dan air mata emosional. Air mata mencerminkan membersihkan kotoran-kotoran, seperti asap dan debu dari mata. Air mata yang keluar terus-menerus akan melumasi mata dan membantu melindunginya dari infeksi. Air mata emosional yang terlupakan mengandung  hormon stres  dan racun lainnya. Para peneliti yakin bahwa menangis dapat mengeluarkan racun dari sistem tubuh (Florencia, 2020).

Dalam bahasa ilmiah, tangisan didefinisikan sebagai respons sekretomotor (sejenis neuron) yang memiliki karakteristik penting yaitu keluarnya air mata dari aparatus lakrimal, tanpa iritasi pada struktur okular. Hal ini sering disertai dengan perubahan pada otot-otot yang terlibat dalam ekspresi wajah, vokalisasi dan dalam beberapa kasus terisak-isak – menghembuskan napas yang kejang pada kelompok otot pernafasan dan tubuh (Vingerhoets, dkk., 2009). Menangis merupakan fenomena biopsikososial artinya menangis bukan hanya masalah biomedik, mengeluarkan air mata dan beberapa otot bergerak tinggi, tetapi juga masalah internal kejiwaan (psikologi) dan juga ada faktor sosial.

Menangis dalam perspektif psikologi

Perspektif psikologi, menangis itu merupakan sebuah reaksi yang biasanya muncul saat orang merasa sedih. Manusia menangis, hewan juga menangis. Tetapi menangis pada manusia yang memiliki fungsi yang berbeda. Manusia menangis tidak masalah bio-mekanis atau melembabkan mata (sama seperti pada hewan), tetapi juga berbagi emosi. Manusia menangis itu mengeluarkan perasaan takut, marah, bahagia, dan perasaan lainnya. Dengan menangis, tubuh akan memaksa seseorang untuk bernafas lebih dalam agar detak jantung lebih lambat dan sesak di dada dapat berkurang. Hormon dan zat-zat lain yang dapat memicu stres. Menangis dapat membantu kita melepaskan hormon endorfin atau “rasa enak” yang juga bisa mengurangi rasa sakit secara alami. Ketika seseorang menangis tubuh akan mengeluarkan seluruh racun (racun) yang terhenti sehingga setelah menangis kita akan merasa lebih kuat secara fisik dan mental. Pakar lain menyebutkan bahwa menangis itu membuat kita merasa lebih baik, dan mengurangi rasa stres. Kemudian menangis juga meningkatkan mood, dimana mood kita akan lebih baik menangis. Terakhir, menangis juga dapat membunuh bakteri yang ada di mata, karena air mata mengandung lisozim. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan secara biologis memiliki jumlah hormon proclatin lebih tinggi dari laki-laki. Hormon ini punya kencenderungan yang mendorong seseorang untuk menangis. Sementara pada laki-laki hormon testosteron mengurangi kecenderungan seseorang menangis. Itulah sebabnya mengapa perempuan rata-rata lebih sering menangis dibandingkan laki-laki. Menurut Michael Trimble,

Menangis dalam perspektif Islam

Dalam Islam, menangis itu bukan berarti cengeng, lemah, rapuh, rentan dan membutuhkan pertolongan, seperti ilmu psikologi Barat menjelaskan. Islam sangat perhatian terhadap perilaku menangis. “ Dan bahwasanya Dialah Yang menjadikan orang tertawa dan menangis. ” (QS. An-Najm : 43). Jadi siapa yang membuat manusia menangis? Jawabannya Allah, dengan segala prosesnya yang rasional. “ Menangislah kalian semua. Dan apabila kamu tidak dapat menangis maka pura-pura menangislah kamu” (HR.Ibnu Majah dan Hakim). Dalam konteks yang tepat, justru menangis justru lebih disarankan dalam Islam. Dalam berbagai ayat AlQuran maupun hadist disebutkan bahwa Allah sangat senang melihat hambanya menangis. Namun, menangis seperti apa yang sangat disukai dalam Islam? Seorang yang takut kepada Allah, akan mengakhiri hidupnya apakah hidupnya sudah sesuai antara apa yang diberikan Allah kepadanya dengan apa yang dia perbuat untuk Allah, kemudian dia menangis, karena apa yang dia berikan dalam bentuk pengabdian kepada Allah ternyata jauh lebih sedikit, bahkan tidak terlihat sama sekali. Menangis seperti ini akan berdampak pada seseorang untuk selalu memperbaiki dan memperbaiki, karena rahmat Allah tidak pernah bisa disaingi dengan ibadah dan perbaikan apapun juga. Rasulullah pernah bersabda,Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak menangis ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa takut seperti ini akan membangun kecintaan manusia kepada Sang Pencipta. Allah sudah memberikan kepada manusia, segala hal secara gratis, yang sering dilupakan, misalnya udara (oksigen). Beberapa bulan terakhir ketika pandemi Covid-19 menyebar secara ganas di tanah air, banyak keluarga dibuat panik karena kesulitan mencari tabung gas (oksigen) untuk anggota keluarganya yang koma di rumah sakit. Banyak dari mereka yang berpikir dan malu selama ini baik-baik saja dan sehat tanpa menikmati oksigen secara gratis di alam bebas, tidak ada ucapan terima kasih kepada pemilik oksigen itu, Tuhan Allah Swt. Selama ini jarang beribadah, jarang melakukan kebaikkan, sebaliknya sering melakukan hal-hal yang dilarang agama, seperti berbohong, mengambil hak orang lain, berkhianat, dan banyak lagi. Perasaan seperti ini pada akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk berbuat lebih baik lagi, sesuatu yang akan disukai atau dicintai oleh sang pemilik oksigen gratis di alam itu (baca: Allah). Indikator, bahwa kita benar-benar cinta kepada Allah, Tuhan yang selama ini telah banyak untuk kehidupan kita, maka kita akan mudah menangis ketika beribadah dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. “ maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. “ maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. “Dan mereka bersujud sambil menangis dan maka bertambahlah atas perasaan mereka khusyu’ ” (QS. Al-Isra: 109). Sang pecinta, apabila dibacakan ayat-ayat Allah, dia akan mengungkapkan kegembiraannya, sebagai bukti kecintaannya pada Allah (QS Al Anfal:2), dan kemudian akan menangis, karena hal itu tentu saja jauh dari harapan yang diharapkan Allah. Nabi Muhammad SAW., dijamin masuk surga oleh Allah, sering menangis malu dan merasa belum optimal beribadah karena Allah. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”.  (QS.Al-maidah: 83). Dalam AlQuran surat Maryam, ayat 58 juga mengungkapkan hal yang sama, “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemura kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis .”

Takut kepada siksaaan Allah kemudian menangis menjadi fenomena menangis dalam Islam. Salah satu kisah untuk itu dapat dikutip disini. Sahabat Ustman bin Affan, ketika ia berada di dekat kuburan, ia tertunduk dan menangis. Sahabat yang membantu bertanya, “ Mengapa menangis melihat kuburan wahai Amirul mukminin ”. Ustman menjawab, Rasulullah pernah berkata bahwa kuburan ini merupakan tempat persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka datang setelahnya kecuali lebih berat .”(HR. At-Tirmidzi). Menangis karena takut siksaan Allah karena lebih banyak dosa daripada kebaikkan juga diriwayatkan Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘ , bahwa Nabi mengajarkan, “Ada dua buah mata yang tidak akan menuntut api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah. (HR.At-Tirmidzi).

Sekali lagi, menangis itu adalah Sunnatullah. Bayi lahir pada umumnya menangis. Ini bisa beragam, tetapi yang pasti orang tua bayi itu umumnya bergembira dan bahagia. Sebaliknya, ketika anak manusia meninggal, meninggal dunia, umumnya keluarga inti, kerabat, sahabat dan tetangga dekat, menangis. Pertanyaannya apakah anak manusia yang meninggal itu menangis atau bergembira. Jawabannya kembali kepada diri masing-masing. Rasulullah berdoa, “ Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah (HR. Tarmidzi). Semoga menangis tidak menjadi akhir hidup kita. Aamiin.


Referensi sebagai berikut ini ;










Mengatasi gangguan cemas


Gejala yang dapat terjadi pada gangguan cemas adalah keringat dingin, dada berdebar-debar, nyeri kepala, sesak, nyeri perut, tremor, dan sebagainya.  Beberapa bentuk kondisi psikiatri yang termanifestasikan sebagai kecemasan adalah :

  • Gangguan panik : kecemasan yang muncul mendadak tanpa sebab yang jelas. Gejala yang ditimbulkan berupa jantung berdebar-debar, rasa seperti akan mati/pingsan, keringat dingin, nyeri dada, dan rasa ingin berteriak.
  • Gangguan cemas menyeluruh : Pada kondisi ini seseorang akan merasa cemas hampir di setiap hal dan setiap waktu  dalam hidupnya. Bahkan hal yang kecil dan tak masuk akal pun terkadang menjadi sumber kecemasannya. Diagnosis dapat ditegakkan bila kecemasan berlangsung lebih dari 6 bulan.
  • Gangguan fobia spesifik: gejala cemas muncul setelah melihat/terpapar hal tertentu yang membuatnya takut padahal sebagian besar orang tidak takut, misalnya fobia kucing, fobia ketinggian
  • Gangguan stress pasca trauma : kecemasan yang terjadi setelah mengalami pengalaman yang sangat tidak menyenangkan di masa lalu, misalnya melihat keluarga yang dibunuh, terlibat dalam kecelakaan berat, diperkosa
  • Gangguan fobia sosial : ketika seseorang merasa cemas saat berhadapan dengan lingkungan sosial, berbicara di depan umum, atau berperan di depan khalayak umum.  Seseorang dengan gangguan ini cenderung akan mengurung diri dan menghindari sosialisasi.
  1. goog_568817913Gangguan psikosomatis : ketika kecemasan disertai dengan gejala fisik seperti diare, perut perih, nyeri kepala, badan pegal-pegal, dsb
  2. Gangguan obsesif kompulsif (OCD): pada kondisi ini, seseorang memiliki keinginan kuat untuk melakukan atau memikirkan sesuatu secara berulang ulang hanya demi kelegaan dirinya. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan mengalami cemas dan ketidakpuasan, misalnya mengecek pintu sudah dikunci atau belum secara berulang-ulang
  3. Berdasarkan keluhan Anda yaitu kecemasan tiba-tiba yang diaertai rasa seperti hendak mati, kemungkinan besar mengarahkan kondisi Anda pada Gangguan panik. Namun tidak menutup kemungkinan untuk penyebab lainnya seperti yang disebutkan di atas. 
  4. Untuk memastikan diagnosis dan penyebab kecemasan Anda, serta untuk mengetahui apakah kecemasan Anda merupakan hal wajar atau tidak, sebaiknya Anda mengkonsultasikan lebih lanjut dengan dokter kejiwaan untuk dapat diperiksa langsung. Dokter akan menggali lebih lanjut perjalanan penyakit Anda dan akan melakukan pemeriksaan kejiwaan Anda untuk mengetahui kondisi pasti dari keluhan Anda. Dan setelahnya dokter akan memberikan penanganan baik konseling maupun obat untuk Anda sesuai dengan kondisi yang mendasari.
  5. Hal-hal yang dapat anda lakukan untuk mengurangi kecemasan Anda :
  6. Menceritakan hal-hal yang Anda alami atau kecemasan Anda kepada keluarga atau teman dekat yang dapat anda percayai. Saran-saran yang mereka berikan kemungkinan dapat mengurangi kecemasan Anda dan membantu Anda lebih percaya diri dalam menghadapi masa depan
  7. Lakukan hobi yang Anda gemari. Melakukan aktivitas fisik yang disukai dapat meningkatkan hormon endorphine dan mengurangi kecemasan
  8. Lakukan relaksasi dengan teknik pernapasan dalam selama 5 detik saat menarik maupun melepas napas. Lakukan berulang-ulang
  9. Lakukan meditasi atau yoga untuk membantu menenangkan pikiran Anda
  10. Istirahat cukup, tidur 7-8 jam sehari
  11. Batasi konsumsi rokok, kafein, dan minuman beralkohol
  12. Tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Munafik adalah Penyakit Hati yang Dikuasai Setan, Ustadz Adi Hidayat: Bahaya jika Tak Bertaubat

Munafik adalah Penyakit Hati yang Dikuasai Setan, Ustadz Adi Hidayat: Bahaya jika Tak Bertaubat

Cara Mengobati Penyakit Munafik, Setiap manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Salah satu sifat terburuk manusia yaitu munafik. Dalam tausiah yang dibawakan Ustadz Adi Hidayat, munafik menjadi penyakit yang berbahaya jika tidak langsung bertobat. Orang munafik berarti orang yang berpura-pura percaya atau setia pada ajaran Islam namun dalam hatinya mengingkari. Mereka juga selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya.

Ustadz Adi Hidayat mnegatakan bahwa Munafik muncul karena hati manusia sedang bermasalah menutup diri dari jalan Allah SWT karena sedang dikuasi oleh setan. "Munafik itu perilakunya kaya baik, tetapi di dalamnya ada penyakit seperti riya hasad, dengki, dendam. Orang munafik itu sama-sama punya penyakit di hatinya, punya penyakit di kholbunya", kata Ustadz Adi Hidayat

"Dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa orang munafik persoalan utamanya adalah hatinya, hatinya sedang dikuasi oleh setan," kata Ustadz Adi Hidayat

Menurut Ustadz Adi Hidayat penyakit hati ini sangat berbahaya bagi kehidupan. Karena sifat Munafik yang dipelihara akan mengakibatkan seseorang bertindak anarkis menutup mata dari kebaikan. Hal ini pun tidak memiliki obat seperti penyakit fisik lainya ungkapnya.

"Ini kalau diperlihara tersus bahwa akan terbawa kehidupan memunculkan tindakan anarkis, munafik sangat bahaya pusing karena ria, obatnya nggak ada di rumah sakit," kata Ustadz Adi Hidayat

Ustadz Adi Hidayat menungkapkan bahwa akan sangat berbahaya jika seseorang yang memiliki sifat Munafik tidak segera bertaubat. Lalu Ustadz tersebut membawa kisah Abdullah bin Ubay yang menggambarkan seorang munafik pada zaman Nabi Muhammad yang meninggal secara mengenaskan.

"Paling bahaya ini kalau dia nggak taubat, nanti seperti Abdullah bin Ubay dia dapat kedudukan di Madinah terus dia pura-pura beriman supaya dapat simpati terus pakai pakaian beriman supaya dapat perhatian - perhatian dekat dengan nabi tetapi dibelakang merencanakan hal-hal buruk. Anti terhadap Nabi, bahkan ingin mengekseskusi Nabi bikin tempat sampai wafat dalam keadaan yang mengenaskan," kata Ustadz Adi Hidayat

Melalui kisah itu, Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa saat manusia tengah diberikan kekayaan, kedudukan yang tinggi harus senantiasa berhati-hati. Karena hal tersebut menjadi pintu terbuka bagi setan untuk masuk ke dalam hati manusia.

"Itu sifat yang menular terus tanpa batasan waku terus naik dia makanya kita harus selalu hati-hati kalau ada kedudukan harta benda, maka setan sedang boleh masuk," kata Ustadz Adi Hidayat.


Referensi sebagai berikut ini ;




Ciri-Ciri Orang Munafik Menurut Islam

Munafik adalah salah satu jenis sifat yang dilarang dalam agama Islam. Bahkan, terlepas dari narasi keagamaan, sifat munafik bukanlah sifat yang pantas dimiliki oleh manusia dengan latar belakang kepercayaan apapun. Hal ini karena munafik adalah penyakit hati yang dapat merusak diri dan mencemari pribadi dalam hubungan antar sesama manusia.

Munafik adalah orang yang menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, padahal kondisi batinnya atau perbuatan yang sebenarnya tidak demikian. Kepercayaan atau perbuatannya itu dalam Islam disebut nifaq. Dalam menjalani realita kehidupan kaum munafik yang selalu berubah karakternya, terutama dalam interaksi sesama manusia, yaitu dalam percakapan atau perbuatan mereka.

Oleh karena itu, manusia yang lainnya dapat mengetahui sosok pribadi mereka melalui sifat bicaranya, yaitu dengan memperhatikan kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang diyakini dalam hatinya. Biasanya dilakukan karena seseorang memiliki suatu kepentingan yang ingin dicapai. Karakter seperti ini, seringkali muncul dalam kehidupan masyarakat.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian sifat dan ciri-ciri orang munafik menurut ajaran Agama Islam. 

Pengertian Munafik
Kemunafikan dalam bahasa Arab disebut al-nifa'q, sering diartikan dengan "pengakuan dengan lidah dan pengingkaran dengan hati." Al-Ra'gib al-Asfaha'ni' mengartikan nifa'q yaitu "masuk ke dalam syariat dari satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain." Ungkapan yang lebih sederhana dikemukakan oleh al- Tabataba'i', bahwa nifa'q secara lisan menyatakan iman.
Term nifa'q yang mengandung makna "kemunafikan", muncul dalam al- Qur’an sebanyak 37 kali. Sementara itu, pengertian munafik secara terminologi menurut syariat Islam adalah orang yang menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, padahal kondisi batinnya atau perbuatan yang sebenarnya tidak demikian.

Menurut Toshihiko Izutsu, nifa'q atau munafik adalah keyakinan secara lisan sementara dalam hati tidak percaya. Dengan demikian, jelas bahwa ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan dalam berbagai hal yang merupakan keyakinan religius, yang merupakan salah satu gambaran yang karakteristik dari dari fisq (fasik), merupakan unsur yang paling mendasar dalam dalam makna nifa'q.
Awal dari kata munafik juga berarti istilah yang digunakan untuk penduduk Madinah yang masuk Islam tetapi dia juga memelihara sifat kufur dan juga orang yang mengutuk al-Qur’an. Terbentuknya istilah munafik kental pada saat periode Madinah, untuk itulah beberapa ayat tentang munafik berlatar belakang Madaniyyah.

Ciri-Ciri Orang Munafik Sbb : 

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa munafik adalah suatu penyakit rohani (batin) yang sifatnya tak tampak. Oleh karena itu, yang dapat diketahui hanyalah penjelmaan dari batin tersebut dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari. Di dalam al-Qur’an beberapa ayat yang mengemukakan ciri-ciri orang munafik tersebut, baik ciri fisik maupun non fisik, begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad saw. Mengutip dari H. Nasrun Haroen dalam Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Ketuhanan, ciri-ciri orang munafik di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bersikap Ragu Terhadap Islam
Ciri-ciri orang munafik yang pertama adalah Bersikap ragu-ragu terhadap Islam. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam QS. al-Hadi'd/57: 13-14 yang artinya;

"Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami! kami ingin mengambil cahayamu". (Kepada mereka) dikatakan, "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab. Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, "Bukankah kami dahulu bersama kamu?" Mereka menjawab "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah."

2. Tidak Bisa Dipercaya
Ciri-ciri orang munafik yang kedua adalah tidak dapat dipercaya dalam memegang amanah. Yaitu pembicaraannya mengandung kebohongan, apabila berjanji sering berdusta, dan apabila diserahi amanah, dikhianati. Hal ini diungkap dalam hadis Nabi SAW yang artinya;
"Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu al-Rabi' berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Malik bin Abu 'Amir Abu Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda: "Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat"." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Suka Melakukan Tipu Daya
Ciri-ciri orang munafik yang ketiga adalah suka melakukan  tipu daya di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dijelaskan Allah dalam QS. al-Baqarah/2: 8-10 yang artinya;

"Dan di antara manusia ada yang berkata "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapatkan azab yang pedih, karena mereka berdusta."

Tipu daya yang dilakukan orang munafik adalah dalam sikap, dengan menampakkan yang baik ke permukaan sementara dalam hatinya busuk dan rusak. Tipu daya ini mereka lakukan hanya untuk mengejar tujuan-tujuan material dengan menempuh segala cara.

4. Bangga Atas Dosa yang Diperbuat
Ciri-ciri orang munafik yang keempat adalah merasa bangga dengan dosa-dosa yang telah diperbuat. Orang munafik selalu merasa bangga dengan dosa-dosa yang mereka perbuat, sehingga betapa pun kesalahan yang mereka perbuat akan selalu dicarikan jalan keluar yang mengarah kepada pembenaran tindakannya itu.

Untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, mereka tidak segan-segan untuk memfitnah dan melakukan suatu tuduhan yang dapat mengacaukan dan memecah belah masyarakat dan bangsa. Hal ini dinyatakan Allah dalam QS. al-Baqarah/2: 126 dan QS. al-Munafiqu'n/63: 5 yang artinya;

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir dan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”."

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka membuang muka dan engkau lihat mereka berpaling dengan menyombongkan diri."

5. Bermuka Dua
Ciri-ciri orang munafik yang kelima adalah suka bermuka dua dan tidak memiliki pendirian yang tetap. Hal ini muncul akibat keragu-raguan dan kebingungan mereka terhadap kebenaran yang dibawa Islam. Sifat dan sikap orang bermuka dua ini dipaparkan Allah dalam QS. al-Baqarah/2: 14 yang artinya;

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan- setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok”."

6. Iri dan Dengki
Ciri-ciri orang munafik yang keenam adalah memiliki sifat iri dan dengki  seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imran/3: 120 yang artinya;

"Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikitpun. Sungguh, Allah Maha meliputi segala apa yang mereka kerjakan."
Ayat ini memberikan penjelasan tentang jiwa orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Hati mereka yang busuk demikian, tidak dapat mereka tutupi karena pada dasarnya mereka akan selalu menampakkannya. Wajah orang seperti ini akan selalu keruh bahkan bibirnya dapat berubah-ubah bentuknya disebabkan mulut mereka selalu mencemoh.

7. Menurunkan Semangat Juang Kaum Muslim
Ciri-ciri orang munafik yang ketujuh adalah suka mematahkan semangat kaum muslimin. Seperti firman Allah dalam QS. Ali Imran/3: 156 yang artinya;

"Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, "Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh." (Dengan perkataan) yang demikian itu, karena Allah hendak menimbulkan rasa penyesalan di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Dengan cara melontarkan berbagai isu yang membuat semangat juang kaum muslimin menurun. Orang-orang seperti ini, Menurut al-Mara'gi', sebenarnya orang yang tidak mengerti agama dan masih ingkar terhadap Allah SWT. itulah sebabnya kaum munafik dalam ayat ini disebut sebagai orang kafir.

8. Benci Hukum Allah dan Rasul-Nya
Ciri-ciri orang munafik yang kedelapan adalah membenci hukum-hukum yang berasal dari Allah SWT dan rasulNya. Orang munafik berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama. Salat dan puasa mereka anggap suatu pekerjaan sia-sia yang tidak ada manfaatnya. Berzakat dan naik haji dianggap membuang-buang uang.


9. Berorientasi Pada Hal Duniawi
Ciri-ciri orang munafik yang kesembilan adalah enggan berjihad di jalan Allah dan cita-citanya hanya untuk dunia. Dalam keadaan situasi umat Islam yang genting, mereka lebih memilih diam daripada memberikan alternatif perbaikan, bahkan mereka berusaha agar umat Islam terpecah belah dengan mengacaubalaukan persatuan kaum muslimin. Dalam posisi umat Islam lemah, mereka mengambil kesempatan tampil sebagai pahlawan, sekalipun sebenarnya yang mereka kejar hanya kesenangan dunia.

Sifat seperti ini digambarkan Allah dalam QS. Ali Imran/3: 157 yang artinya;
"Dan sungguh, sekiranya kamu gugur di jalan Allah atau mati, sungguh pastilah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang mereka kumpulkan."

10. Egois dan Riya
Ciri-ciri orang munafik yang kesepuluh adalah bersikap egois dan riya’. Sikap egois kaum munafik ini digambarkan Allah dalam QS. al-Taubah/9: 58-59 yang artinya;

"Di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); Jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah. Dan sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah."

Riya’ adalah melakukan pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan kewajiban agama, karena ingin dilihat dan dipuji orang lain. Dalam hal ini, orang munafik hanya melakukan shalat bila disaksikan orang lain. Sifat mereka ini digambarkan dalam QS. al-Nisa'/4: 142 yang artinya;

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali."

11. Suka Menyebar Fitnah dan Kebohongan
Ciri-ciri orang munafik yang terakhir adalah gemar membuat fitnah dan menyebarkan berita- berita bohong dengan tujuan untuk memburuk-burukkan Islam dan umatnya. Fitnah dan penyebaran berita bohong adalah strategi yang dianggap tepat oleh orang-orang munafik untuk mengancurkan umat Islam dari dalam. Sikap seperti ini, merupakan ciri khas orang munafik pada umumnya yang mempunyai watak dasar pengecut. Mereka lebih senang menempuh cara yang lebih aman, yaitu menohok dari belakang, atau lempar sembunyi tangan.

Ciri-ciri orang munafik seperti yang telah diutarakan di atas menggambarkan sebuah bentuk kelemahan jiwa. Maka untuk menutupi kelemahan tersebut, orang-orang munafik senang menggunakan kilah-kilah mental sebagai srategi defensive. Semoga Anda tidak termasuk di dalamnya!



At Tawba 1-129
  1. (Inilah pernyataan) pemutusan perhubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).
  2. Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.
  3. Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar , bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
  4. kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya . Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
  5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu , maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  6. Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
  7. Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
  8. Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).
  9. Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.
  10. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu'min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  11. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.
  12. Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.
  13. Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
  14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
  15. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu'min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  17. Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
  18. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
  19. Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim .
  20. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
  21. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,
  22. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
  23. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
  24. Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
  25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu'minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa'at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.
  26. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
  27. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  28. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis , maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini . Dan jika kamu khawatir menjadi miskin , maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
  30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila'nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
  31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah , dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
  32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.
  33. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
  34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
  35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu".
  36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram . Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
  37. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
  38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni'matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.
  39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  40. Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
  41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
  42. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu" Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
  43. Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
  44. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.
  45. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.
  46. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."
  47. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.
  48. Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur berbagai macam tipu daya untuk (merusakkan) mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.
  49. Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.
  50. Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: "Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)" dan mereka berpaling dengan rasa gembira.
  51. Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."
  52. Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan . Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu".
  53. Katakanlah: "Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik."
  54. Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.
  55. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.
  56. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).
  57. Jika mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lobang-lobang (dalam tanah) niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya.
  58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.
  59. Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
  60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  61. Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu'min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.
  62. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu'min.
  63. Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.
  64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.
  65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"
  66. Tidak usah kamu minta ma'af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.
  67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.
  68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela'nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal,
  69. (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah meni'mati bagian mereka, dan kamu telah meni'mati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu meni'mati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang bathil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.
  70. Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, `Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Mad-yan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
  71. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
  72. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu'min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
  73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
  74. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.
  75. Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
  76. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
  77. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.
  78. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?
  79. (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.
  80. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
  81. Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)", jika mereka mengetahui.
  82. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.
  83. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah: "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang".
  84. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.
  85. Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.
  86. Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk".
  87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).
  88. Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung.
  89. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
  90. 90. Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan `uzur, yaitu orang-orang Arab Badwi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.
  91. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
  92. dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.
  93. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).
  94. Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: "Janganlah kamu mengemukakan `uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
  95. Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
  96. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.
  97. Orang-orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  98. Di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  99. Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do'a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.
  101. Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
  102. 102. Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  104. Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?
  105. Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
  106. 106. Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  107. Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu'min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu'min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu . Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
  108. Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
  109. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
  110. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur . Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
  112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.
  113. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.
  114. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
  115. Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
  116. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.
  117. 117. Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,
  118. dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
  119. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
  120. Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
  121. dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
  122. Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
  123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
  124. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
  125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.
  126. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?
  127. Dan apabila diturunkan satu surat sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): "Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?" Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.
  128. Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.
  129. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".

Referensi Sebagai berikut ini ;















Banyak Maksiat, Banyak Dosa Besar, Bagaimana Bertobatnya?

Banyak Maksiat, Banyak Dosa Besar, Bagaimana Bertobatnya? Pertanyaan : Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Ustad, banyak kali kemaksiatan yang aku lakukan. Kadang aku sendiri udah mau bertobat tapi hati saya ko jadi ragu untuknya. Karena sulit sekali menghilangkan kebiasaanku ini. Bagaimana menghilangkannya? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Ilustrasi : Banyak Maksiat, Banyak Dosa Besar, Bagaimana Bertobatnya?

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Jawaban : Untuk menjawab pertanyaan antum ada beberapa yang hal yang harus dipahami. Pertama, sebagai manusia pasti pernah dan berpotensi berbuat salah dan dosa. Bahkan para Nabi pun pernah berbuat kekeliruan. Karena manusia bukan malaikat dan senantiasa dihimpit hebatnya godaan setan dan kerasnya dorongan nafsu. Rasulullah saw menegaskan, “Setiap anak Adam (manusia) pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat,” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah),

Kedua, Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya yang berdosa lalu ia sadar dan mendatangi-Nya dengan penyesalan dan taubatnya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat,” (HR. Ahmad).

Ketiga, Allah swt maha luas ampunannya, sehingga kita tidak patut berputus asa kepada-Nya. Orang yang telah membunuh 100 jiwa saja Allah ampuni dosa-dosanya. Indah ampunan-Nya, perhatikan hadits qudsi berikut. Allah swt berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula,” (HR Tirmidzi).

Keempat, Subhanallah, sejatinya saat kita disadarkan Allah swt, dan hadir sikap penyesalan itulah karunia dari-Nya, hidayah dari-Nya. Dan penyesalan adalah bagian utama dari hadirnya ampunan Allah swt. Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah taubat,” (HR. Abu Daud). Dan saat taubat hadir, maka, “Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa,” (HR. ath-Thabrani).

Ingat Allah swt mengingatkan kita untuk tidak berputus asa, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’,” (QS Az Zumar: 53)

Kelima, Karena itu, setelah hadir penyesalan, selanjutnya terus iringi dengan istighfar dan bertaubat, mengikuti dosa dan perbuatan baik, serta sibuk memperbaiki diri. Dengan izin Allah swt dan keagungan-Nya semoga antum senantiasa raih cinta, ampunan, hidayah, dan kekuatan untuk lebih baik. Rasulullah saw menggambarkan, “Allah berfirman, ‘Dengan keagungan dan kebesaran-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar’,” (HR. Ahmad).

Keenam, untuk menghilangkan kebiasan dosa, yang pertama adalah keyakinan bersama Allah bahwa kita dapat meninggalkan perbuatan itu, dan diiringi dengan berdoa kepada-Nya. Selanjutnya berusaha bertakwa dimanapun berada, mengikuti kesalahan dengan kebaikan, dan berteman, bergaul dengan orang-orang shaleh.


Referensi sebagai berikut ini :