This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
Kamis, 07 Juli 2022
Harta Haram dan Dampaknya bagi Umat
Dosa Yang Lebih Besar Dari Dosa
Kedua golongan itu lah yang sedang terperosok dalam dosa yang lebih besar dari lumpur dosa yang pertama. Mereka digerogoti penyakit hati berupa ridak takut pada azab Allah Swt dan rasa putus asa dari rahmat Allah Swt.
Rasulullah bersabda: “Di antara dosa besar adalah mensekutukan Allah Swt, merasa aman dari siksa Allah Swtdan berputus asa dari rahmat Allah Swt” (HR. Al Bazzar dan Ibnu Abi Hatim).
Dinyatakan sebagai dosa yang lebih besar dari dosa sebelumnya, karena dua sikap tersebut merupakan penyakit hati, sedangkan dosa yang dilakukan sebelum itu bisa jadi hanya berupa amalan lahiriah saja. Alasan lainnya adalah, karena kedua sikap itu akan membuat pelakunya terus bergelimangan dalam dosa.
Orang yang berputus asa dari rahmat Allah Swt, jika ia disuruh bertaubat, ia akan berkata, “biarlah aku tetap seperti ini, karena sudah bertumpuk banyak dosaku, tidak mungkin lagi akan diampuni oleh Allah Swt”.
Orang yang merasa aman dari siksa Allah Swt dan tidak takut pada azabNya, jika ia berbuat maksiat dan disuruh bertaubat, ia akan berkata, “Allah Swt kan Maha Pengampun, pastilah aku akan diampuni oleh Allah Ta’ala walaupun terus berbuat dosa”
Kedua sikap di atas sikap yang sangat salah, karena yang diperintahkan Allah Swt dan RasulNya bagi orang yang berbuat dosa adalah bertaubat. Bukannya terus menerus dengan santainya berdosa.
Ada sebagian orang yang terlalu pede (percaya diri) dengan tauhid yang diyakininya. Sehingga, bila ia berbuat dosa, seperti tidak amanah, menipu rekan kerja, menzalimi tetangga, lalu ia dinasehati agar bertaubat, maka ia akan menjawab, “Yang penting aku tidak berbuat syirik (menyekutukan Allah Ta’ala) dan tidak mengerjakan bid’ah”. Ia merasa aman dari azab Allah Swt dan tidak takut pada siksa Allah Swt dengan bermodalkan tauhidnya.
Bukankah nanti di hari akhirat akan ada orang-oragn mukmin yang diazab di neraka karena lebih banyak timbangan dosanya dibandingkan pahalanya? Siapa yang akan menjamin bahwa Allah Ta’ala akan pasti mengampuni dirinya dari dosanya dengan modal taudih di hatinya? Apakah ia sudah yakin bahwa imannya sudah paling sempurna?
Sebenarnya, sikapnya ini sudah menunjukkan tidak sempurna imannya. Ibnu Mas’ud berkata, “seorang mukmin sejati, apabila ia berbuat dosa, maka ia merasa seperti berada di bawah gunung, sangat khawatir ia akan tertimpa gunung tersebut”.
Seorang mukmin sejati, harusnya merasa takut pada Allah Swt. Bukan hanya takut pada dosa yang diperbuatnya, tapi juga takut jika amalan ibadahnya tidak diterima Allah Swt.
Ketika Rasulullah pernah ditanya oleh Aisyah tentang makna ayat: “orang-orang yang menginfakkan hartanya sedangkan hati mereka dalam keadaan takut”
Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakan orang yang hatinya dalam keadaan takut yang dimaksud dalam ayat itu adalah mereka pemabuk dan pencuri?” Rasulullah menjawab, “Bukan, mereka adalah orang yang rajin shalat, puasa dan sedekah, akan tetapi mereka takut bila amalan mereka tidak diterima Allah Ta’ala. Merekalah orang yang terus berlomba dalam kebaikan”.
Wahai hamba Allah Swt, Marilah menjadi mukmin sejati, mewujudkan cita-cita takwa. Mari berlomba dalam kebaikan. Bila memang sempat terjerumus dalam dosa, berlombalah untuk bertaubat pada Allah Ta’ala. Sungguh Allah Swt Maha Penerima taubat.
Referensi sebagai berikut ini :
Manusia tidak akan mungkin tidak melakukan dosa
Jika manusia tidak melakukan dosa, maka Allah Swt akan menciptakan manusia yang melakukan dosa, lalu Allah Swt akan mengampuni mereka. Sebagaimana yang tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu ia berkata ketika hendak meninggal: Aku menyembunyikan dari kalian satu ilmu yang aku dengar dari Rasulullah Muhammad SAW beliau bersabda yang artinya :
“Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit pun, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka.” (HR. Muslim).
Syeikh Shalih al Fauzan hafidzahullah menjelaskan makna hadits ini ketika beliau mengatakan: “Makna hadits ini sangat jelas, bahwa Allah Swt senang jika hamba-Nya meminta ampun kepada-Nya dan AllahSwt akan mengampuni mereka supaya nampak keutamaan Allah Swt dan pengaruh dari sifat-Nya yaitu Al Ghofar dan Al Ghofur (Yang Maha Mengampuni) dan ini sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya” (QS. Az-Zumar: 53-54)
Hadits ini menunjukkan dua perkara yang agung: Yang pertama bahwa Allah Swt Maha memaafkan, suka memaafkan, Maha pengampun, dan suka mengampuni. Yang kedua di dalam hadits ini ada kabar gembira bagi orang-orang yang bertaubat kepada Allah Swt dimana Allah Swt akan menerima taubat mereka dan akan mengampuni dosa-dosa mereka maka janganlah mereka berputus asa dari rahmat Allah Swt dan jangan pula terus menerus melakukan maksiat. Akan tetapi yang mereka harus lakukan adalah bertobat dan beristighfar kepada Allah Swt karena Allah Swt membukakan pintu istighfar bagi mereka. Demikian pula pintu membukakan pintu taubat. Inilah makna dari hadits tersebut.
Hadits ini juga telah menghilangkan kesombongan dari manusia karena terkadang manusia sombong terhadap dirinya dan ilmunya, padahal manusia adalah tempat kesalahan tempat ketergelinciran dan tempat kekurangan. Maka kewajiban anda adalah bersegera bertobat dan beristighfar dari segala kekurangannya, kesalahannya, dan tergelincirnya. Jangan dia beranggapan bahwa dia adalah makhluk yang sempurna atau dia merasa tidak butuh dengan istighfar.
Hadits ini memberikan dorongan dan motivasi untuk beristighfar kepada Allah Swt Karena Allah -Swt senang jika hamba-hamba-Nya beristighfar dan bertobat kepada-Nya.
Juga menjelaskan bahwa setiap Bani Adam akan sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertobat kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
Hadits ini tidak bermakna Allah Swt senang jika hamba-Nya melakukan dosa atau senang dengan kemaksiatan, akan tetapi Allah Swt membenci kekufuran dan tidak pula ridha dengan kekufuran serta tidak senang dengan kemaksiatan. Akan tetapi Allah Swt suka jika hamba-Nya yang berbuat dosa dan maksiat dia bersegera bertobat kepada Allah Swt serta beristighfar kepadanya.
Inilah makna dari hadits tersebut. dan tidak ada manusia yang tidak melakukan dosa, pastilah mansia pernah melakukan dosa dan kesalah di sengaja maupun yang tidak disengaja, segera bertaubat kepada Allah Swt agar Allah Swt mengampuni bagi hambanya yang mau kembali bertoubat, Aamin ya robal 'alamin.
Referensi adalah sebagi berikut ini :
Makna : Jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan hilangkan kalian dan Allah Swt akan datangkan kaum lain yang berdosa lalu mereka minta ampun kepada Allah Swt
Makna : Jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa lalu mereka minta ampun kepada Allah Swt. Makna : Jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan hilangkan kalian dan Allah Swt akan datangkan kaum lain yang berdosa lalu mereka minta ampun kepada Allah Swt
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi SAW yang artinya sbb ini :
“Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, jika kalian tidak berbuat dosa Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka.” (HR. Imam Muslim 2.749)
Saudaraku sekalian, hadits ini kalau kita perhatikan seakan-akan mendukung orang-orang yang bebuat dosa. Namun kalau kita melihat penjelasan para ulama, sama sekali tidak menunjukkan kepada hal itu. Makanya hadits ini harus dipahami dengan benar.
Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa lalu mereka minta ampun kepada Allah.” Ini adalah sebatas pengandaian bahwa “Jika kalian tidak berbuat dosa.” Tapi itu tidak mungkin. Kenapa? Karena manusia tempat berbuat dosa. Akan tetapi yang diinginkan oleh Nabi Muhammad SAW dari hadits ini yaitu agar kita senantiasa memohon ampunan kepada Allah, senantiasa kita istighfar kepada Allah, senantiasa kita minta maaf kepada Allah Swt. Karena Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits lain:
“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yang segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Maka saudara-saudaraku sekalian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini ingin memberikan kepada kita bahwa Allah itu Maha Pengampun. Saking pengampunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, sampai-sampai kalau kalian tidak pernah berbuat dosa sama sekali -dan itu tidak mungkin, itu mustahil- Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa. Kenapa? Karena Allah Maha Pengampun kepada hamba-hambaNya, Allah sayang kepada hamba-hambaNya.
Saudaraku sekalian. Sebanyak apapun dosa seorang hamba, jika ia istighfar dan minta ampun kepada Allah Swt pasti Allah Swt akan ampuni dosanya. Sebagaimana Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Allah Swt berfirman dalam hadits Qudsi:
“Wahai anak Adam, kalaulah dosamu memenuhi awang-awang di langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu, niscaya Akan akan ampuni dosamu.” (HR. Tirmidzi).
Subhanallah.. Rabb kita Maha Pengampun. Sebanyak apapun dosa yang kita lakukan, asal dengan syarat satu saja, yaitu kita minta ampun kepada Allah, kita bertaubat kepada Allah, kita mengakui dosa kita dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah pasti ampuni dosa kita. Makanya Allah berfirman:
“Katakan kepada hamba-hambaKu yang malampaui batas itu, jangan kalian merasa putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar 39: 53).
Subhanallah, saudara-saudaraku sekalian, Betapa Allah Swt Maha Pengampun, dimana tidak ada satupun dosa sebesar apapun dosa itu, walaupun itu syirik, jika pelakunya minta ampun Allah pasti ampuni dosanya. Bahkan bukan hanya sebatas diberikan ampunan oleh Allah, tapi juga dibukakan kepada dia pintu-pintu rejeki. MasyaAllah.. Sebagaimana Nabi Nuh berkata kepada kaumnya: “Aku berkata, ‘istighfar kalian, minta ampun kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Allah akan kirimkan kepada kalian hujan yang lebat dan Allah akan berikan kepada kalian harta dan anak-anak dan Allah akan jadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai yang mengalir.'” (QS. Nuh 71 : 10-13)
Subhanallah.. Lihat saudaraku, suatu bangsa yang istighfar kepada Allah Swt, orang yang istighfar kepada Allah, minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan hanya Allah Swt ampuni dosanya, tapi Allah Swt bukakan kepada dia yaitu pintu-pintu rejeki untuk dia. Subhanallah.. Bukankah itu menunjukkan betapa Allah Swt sangat sayang kepada kita? Bukan hanya dikasih rejeki, tapi Allah pun akan menahan adzab dari suatu negeri yang mereka minta ampun kepada Allah. Allah Swt berfirman:
“Allah tidak akan mengadzab mereka selama mereka istighfar kepada Allah Swt.” (QS. Al-Anfal 8 : 33)
Subhanallah, saudaraku sekalian.. Betapa sayangnya Allah kepada kita? Dimana kalau kita minta ampun kepada Allah, bukan hanya kita diampuni dosa kita, tapi juga diluaskan rezeki kita, sudah begitu Allah hindarkan kita dari adzabNya di dunia dan akhirat.
Allah ingin hamba-hambaNya minta ampun kepadaNya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membuka pintu taubat itu sampai matahari terbit dari barat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka tanganNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu siang dan Allah membuka tanganNya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu malam.” (HR. Muslim)
Allah ingin hamba-hambaNya kembali kepadaNya, Allah Swt ingin agar hamba-hambaNya terselamatkan dari adzab karena Allah sayang kepada hambaNya. Tapi hakikatnya yang tidak sayang itu adalah diri kita sendiri. Kita tidak sayang kepada diri kita sendiri ketika kita tidak mau bertaubat kepada Allah Swt, ketika kita tidak mau kembali kepada Allah Swt.
Saudaraku sekalian, sampai kapan kita akan terus berbuat dosa? Apakah belum saatnya kita segera kembali kepada Allah? Sampai kapan kita akan terus bergelimang dalam dosa dan terus berbuat dosa? Lalu kemudian kita ditipu oleh angan-angan sambil berkata, “Nanti saya akan bertaubat setelah saya tua.” Tidak mungkin. Karena jika kita biarkan pohon maksiat itu tumbuh terus di hati kita, ia akan kokoh berakar.
Makanya Ibnu Qudamah mengatakan perumpamaan orang yang mengundur-undur taubat dan istighfar itu seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon. Ketika ia hendak cabut, ternyata pohon itu keras dan kuat. Lalu ia berkata, “Kalau begitu saya akan cabut di tahun yang akan datang.” Ketika tahun yang akan datang dia datang dan dia cabut, ternyata pohon itu semakin kuat sekali.
Demikian pula dosa. Seorang pemuda yang berkata, “Nanti saya akan taubat setelah saya tua, saya ingin menikmati masa muda terlebih dahulu.” Dia biarkan pohon maksiat itu terus tumbuh kokoh di hatinya. Mana mungkin dimasa tuanya ditunjuki oleh Allah untuk taubat? Sementara pohon maksiat itu telah begitu kokoh dan kuat bahkan berakar di hatinya.
Subhanallah, saudara-saudaraku sekalian.. Justru sekarang juga kita taubat kepada Allah Swt, segera kita istighfar kepada Allah, tidak ada kata besok, tidak ada kata nanti. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan mendatangi kita. Entah mungkin siang ini kita akan meninggal dunia, entah mungkin esok kita akan kembali kepada Allah Swt entah mungkin lusa orang-orang akan berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meninggal Si Fulan bin Fulan.” dan Kita tidak tahu.
Maka dari itu, di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memotivasi kita untuk banyak istighfar kepada Allah, untuk minta ampun kepada Allah. Demi Allah, apakah merugi orang yang istighfar kepada Allah? Apa yang dirasakan kerugian oleh orang-orang yang minta ampun kepada Allah? Barangkali dia berkata, “Saya rugi tidak bisa berbuat maksiat.” Yaa Allah, apakah dengan meninggalkan maksiat dia rugi? Justru kerugian itu saat kamu berbuat maksiat. Apa kerugianmu etika kamu kembali kepada Allah? Justru kamu akan diberikan berbagai macam kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa.
Sungguh orang yang tidak mau bertaubat dan istighfar itu hakikatnya tidak mau menggunakan akal pikirannya yang waras. Bahwasanya dosa-dosa yang dia lakukan itu hanyalah menyengsarakan dia di dunia dan akhiratnya.
Referensi sebagi berikut ini :
Taubatan Nasuka atas dosa besar yang diperbuat
Taubatan Nasuka atas dosa besar yang diperbuat, Kehidupan manusia dunia tidak lepas dari berbuat dosa, baik dosa yang dilakukan secara sadar maupun tidak disadari. Namun, dibalik itu semua manusia selalu mengharap ampunan dari Allah SWT dengan melakukan beragam upaya agar dihapuskan dosa-dosa tersebut. Salah satu cara agar dosa dapat diampuni oleh Allah SWT adalah dengan taubatan nasuha. Sebagaimana ditulis dalam QS. An-Nur: 31 yang artinya "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah SWT, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’’
1. Mengakui Kesalahan yang Telah Diperbuat, Agar dapat ampunan atas kesalahan kita, sewajibnya kita menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Tidak hanya mengakui pada orang yang telah kita sakiti tapi juga sadar dalam hati kita sendiri.
Tercantum dalam Doa Sayyidul Istighfar yang artinya, “dan aku mengakui dosa-dosaku maka ampunilah dosa-dosaku, sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.” (HR. Bukhari dan At-Tirmidzi)
2. Bertekad Kuat Untuk Meninggalkan Kesalahan, Berupaya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan meyakini akan terus berada di jalan Allah adalah motivasi positif yang penting ditanamkan dalam diri.
Imam Nawawi berkata, “lalu apabila kemaksiatan antara hamba dan Allah serta tidak terkait dengan hak anak Adam, maka terdapat tiga syarat sah taubat: (salah satunya adalah) bertekad kuat untuk meninggalkan kesalahan.” (Riyadhus Shalihin).
3. Melakukan Sholat Taubat, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada orang yang melakukan suatu perbuatan dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu dia mendirikan sholat 2 rakaat, dan selanjutnya dia beristighfar memohon ampun kepada Allah, maka Allah pasti mengampuninya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
4. Menyesali Kesalahan Secara Tulus, Rasulullah meyakinkan umatnya dalam HR. Ahmad bahwa “Penyesalan (adalah rukun yang paling agung dari) taubat.”
5. Meninggalkan Kesalahan Secara Totalitas, Dalam QS. Ali Imran: 135 Allah SWT berfirman, “Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
6. Tidak Akan Mengulangi Kesalahan, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang beriman tidak akan disengat dua kali dari satu lubang.” (Muttafaqun Alaihi).
7. Menutupi Kesalahan Dengan Kebaikan Dan Ketaatan, Cara terbaik agar kesalahan tertutup sesuai dengan ajaran Islam adalah dengan menutupinya dengan kebaikan dan ketaatan pada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “dan lakukanlah kebaikan setelah berbuat keburukan, maka kebaikan tersebut akan menghapus keburukan.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Oleh karena itu, apabila kita sudah menyadari bahwa melakukan dosa besar maka setidaknya lakukanlah 7 langkah ini agar taubat yang kita lakukan menjadi taubatan nasuha aga taubat kita diterima Allah Swt. Aamin ya robal 'alamin.
Referensi sebagai berikut ini :
Ketika Orang Bertakwa Berdosa
Kerap kali umat Islam mengira bahwa orang yang bertakwa tidak melakukan dosa dan maksiat sama sekali. Demikian pula halnya, tidak sedikit orang yang mengidentikkan orang alim atau saleh sebagai manusia suci dari goresan-goresan dosa atau kesalahan. Padahal kemuliaan yang ada pada orang bertakwa, hakikatnya tumbuh berkat kebaikan dan rahmat Allah SWT. Karena Dialah yang menutupi dan menjaga segala rupa aib dan khilaf hamba-Nya.
Dalam buku Oase Al-Qur’an karangan Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, beliau mengatakan bahwa petikan ayat di paruh surat Ali ‘Imran (QS. 3 : 133-135) telah cukup menjelaskan karakteristik luhur orang bertakwa. Setidaknya, melekat pada diri mereka empat sifat mulia: Pertama, senang berinfak di kala lapang atau susah. Kedua, sanggup menahan amarah dan emosi. Ketiga, suka memaafkan orang lain. Keempat, jika berbuat keji atau menzalimi diri sendiri, mengingat Allah, memohon ampunan kepada-Nya serta tidak mengulanginya.
Sifat terakhir inilah yang jarang kita sadari sepenuhnya. Pada dasarnya, orang yang bertakwa merupakan manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Artinya, mereka tetaplah manusia yang diciptakan Tuhan dengan potensi melakukan kesalahan (HR. Tirmidzi : 2423).
Imam Ibnu Katsir menyempurnakan penafsiran ayat tersebut, dengan riwayat Imam Ahmad, “Seandainya kalian semua tidak ada yang berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa agar Dia mengampuni mereka.” (Al-Musnad: 7983).
Bahkan, para Nabi dan Rasul pun tak luput dari salah dan dosa (kecil). Namun, mereka mendapat kemuliaan yakni terjaga dari dosa dan maksiat (ma’shuum). Artinya, ketika melakukan kesalahan, seketika itu pula ditegur oleh Allah SWT, lalu memperbaikinya.
Karakter orang bertakwa yang keempat pada Surah Ali Imran ayat 135 di atas, merefleksikan keadaan manusia seutuhnya, yaitu disadari atau tidak, besar atau kecil, pasti pernah melakukan dosa. Oleh karenanya, Allah ‘Azza Wa Jalla menyuguhkan tiga tuntunan kepada orang bertakwa ketika ia berdosa.
Pertama, mengingat-Nya (dzikrullah). Syeikh Mutawalli Sya’rowi, dalam Tafsir As-Sya’rowi, menuturkan bahwa sejatinya orang yang berbuat maksiat, dialah yang lupa kepada Rabb-nya. Dosa yang dia lakukan pun sebenarnya terlahir dari kelemahannya sebagai manusia, yang penuh dengan keterbatasan. Hatinya menjerit dari dosa itu. Tapi kelemahannya sebagai manusia membuat dia tidak bisa mengelak. Marilah senantiasa mengingat-Nya, nisacaya Dia akan mengingat kita (QS. 2 : 152).
Kedua, memohon ampunan-Nya (istighfar). “Permohonan ampunan yang disertai dengan penyesalan dan taubat.” Demikan ditegaskan oleh Imam Nashiruddin al-Baidhawi dalam tafsirnya, Anwar Al-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil.
Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, mengutip sebuah Hadis Nabi SAW akan keagungan dan kasih sayang Allah yang luas tak bertepi.
Seorang hamba yang selalu berbuat dosa, tapi konsekuen memohon ampunan, maka Allah SWT berfirman, “Hamba-Ku telah berbuat dosa. Ia tahu bahwa ia punya Rabb yang mengampuni dosadan menyiksa karenanya. Aku jadikan kalian sebagai saksi bahwa aku telah mengampuni hamba-Ku maka silahkan ia berbuat apa yang ia inginkan.” (Al-Musnad: 7888).
Ketiga, tidak mengulangi kembali kesalahannya. Artinya, tidak diam apalagi bangga dalam kubangan dosa tanpa beristighfar dan berusaha meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Bukanlah orang yang terus berbuat dosa orang yang meminta ampunan walaupun ia kembali melakukan dosa dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali.” (HR. Imam Abu Daud: 1293).
Perlu kita renungi kembali, bahwa salah dan dosa tidak hanya menyelimuti orang-orang biasa/awam. Bahkan ustadz, kyai, para habaib dan ulama pun pernah berdosa. Tapi karakter keempat inilah yang inheren dengan kehidupan mereka.
Orang bertakwa bukan orang yang terlepas dari salah dan dosa. Namun, tak sampai membuat mereka lupa kepada Allah SWT dan putus asa. Sebab, rahmat dan ampunan Rabb-nya jauh lebih luas dari hamparan dosa yang ia kerjakan. Semoga kita menjadi bagian dari mereka. Aaminn ya robbal "alamin.
Referensi sebagai berikut ini :
Perbuatan Durhaka Suami Terhadap Istri
Lebih baik mendoakan yang baik meskipun orang berbuat zalim kepada kita
Dalam Tafsir Ibnu Katsir diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah SWT tidak suka dengan doa yang berisi ungkapan buruk kepada siapapun kecuali dia dizalimi. Karena itu, Allah SWT mengizinkan doa tersebut diucapkan tetapi hanya ditujukan kepada orang yang telah menzalimi dirinya.
Tafsir al-Sa'di juga menyebutkan, dibolehkan bagi hamba untuk berdoa terhadap orang yang telah menganiaya dirinya selama hamba tersebut tidak berbohong atau tidak melebih-lebihkan penganiayaan yang dialami dirinya.
Namun, memaafkan orang yang menzaliminya tentu jauh lebih baik. Lebih lanjut, ada beberapa bentuk doa dan hukumnya bagi orang yang dianiaya atau dizalimi kepada orang yang menzalimi.
Pertama, berdoa agar sikap zalim yang dilakukan si penzalim itu dihilangkan, dan ini sangat mulia. Kedua, berdoa untuk kematian anak-anak dari si penzalim, termasuk juga keluarganya dan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya, meskipun mereka tidak ada kaitannya apapun dengan tindakan zalim si pelaku. Doa semacam ini tidak diperbolehkan.
Ketiga, berdoa agar orang berbuat zalim itu mengalami sakit yang luar biasa melebihi hukuman yang setimpal baginya. Ini juga tidak boleh. Keempat, berdoa agar pelaku zalim itu dikutuk untuk terus melakukan perbuatan dosa. Ini juga tidak boleh karena keinginan agar orang lain terjerembab dalam maksiat adalah juga bentuk dari maksiat itu sendiri.
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Dr Hasanuddin AF menyampaikan, meski ada redaksi pembolehan untuk menyampaikan doa yang buruk kepada orang yang berbuat zalim, lebih baik jika orang yang dizalimi itu menyerahkan semua persoalan yang dihadapinya kepada Allah SWT. Artinya, itu momentum bagi orang yang dizalimi untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah.
Hasanuddin menjelaskan, membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan lagi itu sudah biasa. Sedangkan orang yang berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada dirinya itu memiliki nilai yang lebih tinggi. Namun ada satu lagi yang lebih tinggi nilainya, yaitu membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan. "Ini nilainya jauh lebih tinggi dari dua yang pertama tadi. Dan tentu memaafkan orang yang telah menzalimi kita itu jauh lebih baik, ini termasuk membalas kejahatan dengan kebaikan," jelasnya.
Apalagi, Hasanuddin mengatakan, Allah SWT dalam Alquran mengingatkan bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang memaafkan orang lain. Karena itu, sudah semestinya orang yang beriman adalah memaafkan orang yang telah berbuat jahat kepada dirinya.
Allah SWT berfirman, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran 133-134).
Zalim adalah bentuk prilaku buruk, bisa terhadap Allah Swt, diri sendiri, orang lain bahkan kepada alam semesta. Contoh: kita berbuat zalim dengan cara memfitnah, menganiaya, bahkan membunuh orang lain. Adapun ketika orang berbuat zalim kepada kita, tentu tidak serta merta kita merta berbalas dendam kepada mereka. Melainkan, kejahatan juga bisa dibalas dengan kebaikan. Salah satu bentuk balasan kebaikan, kita bisa mendoakam mereka kepada Allah Swt.
Doa Untuk Orang yang Berbuat Zalim Doa yang bisa kita amalkan ketika orang lain berbuat zalim kepada kita, berikut bunyi doanya : Artinya: “Ya Allah, ampunilah orang yang telah berbuat zalim padaku. Ya Allah, ampunilah orang yang telah berbuat zalim padaku. Ya Allah, ampunilah orang yang telah berbuat zalim padaku.” Doa di atas dilafadzkan oleh Imam Hasan Al-Bashri, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Baththal dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari. Sebagaimana dalam hadits di bawah ini: Artinya: “Di suatu malam, Imam Al-Hasan Al-Bashri banyak membaca doa; Allohumma’fu ‘amman dzolamanii. Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau; Wahai Abu Sa’id, malam ini aku mendengar kamu banyak berdoa ampunan untuk orang yang telah menzalimimu hingga aku berharap akulah yang berbuat zalim pada mu itu.
Apa yang telah mendorongmu melakukan hal itu? Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata; Yaitu firman Allah; Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” Hal ini sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Al-Syura’ ayat 40 : artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” Penutup Doa Selain daripada mendoakan mereka yang telah berbuat zalim kepada kita, tentu masih ada usaha dan ikhtiar yang bisa kita lakukan. Seperti memberikan nasihat, misalnya.
Sehingga ia paham dan tau bahwa yang ia lakukan itu salah dan berdampak buruk bagi orang lain. Baca Juga Doa Ketika Mengalami Sakit Mata Perhatikan firman Allah di bawah ini : “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar-Rad: 11).
Referensi sebagai beriku ini ;
Korupsi dalam pandangan islam
Meskipun terjadinya praktek korupsi di berbagai sektor tidak serta merta berdampak langsung kepada kehidupan kita namun jika kita semua tidak peduli dan turut serta pada upaya pemberantasan tindak pidana korupsi maka lambat laun kita semua akan hancur berantakan. Hal ini diibaratkan sebagai sebuah kapal besar yang bernama Indonesia, berlayar menyeberangi samudera nan luas dan mengangkut sarat penumpang dengan berbagai kepentingan. Agar tujuan dapat dicapai dengan selamat maka kapten kapal harus menegakkan aturan main seperti yang telah mereka sepakati. Peristiwa demikian telah di jelaskan dalam salah satu hadist sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Zakariyya' berkata, aku mendengar 'Amir berkata, aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata; "Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami". Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya" (HR. Bukhari).
Korupsi Menurut Fiqh Jinayah, Korupsi dalam syariat Islam diatur dalam fiqh Jinayah. Berikut ini akan dibahas beberapa jenis tindak pidana (korupsi) menurut Fiqh Jinayah (Irfan, 2012). Fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat praktis dan merupakan hasil analisis seorang mujtahid terhadap dalil-dalil yang terinci, baik yang terdapat dalam Al-quran maupun hadist. Secara terminologis, jinayah didefinisikan dengan semua perbuatan yang dilarang dan mengandung kemudaratan terhadap jiwa atau selain jiwa.
Jinayah adalah sebuah tindakan atau perbuatan seseorang yang mengancam keselamatan fisik dan tubuh manusia serta berpotensi menimbulkan kerugian pada harga diri dan harta kekayaan manusia sehingga tindakan atau perbuatan itu dianggap haram untuk dilakukan bahkan pelakunya harus dikenai sanksi hukum, baik diberikan di dunia maupun hukuman Allah kelak di akhirat.
Fiqh Jinayah adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali dan disimpulkan dari nash-nash keagamaan, baik Alquran maupun hadist, tentang kriminalitas, baik berkaitan dengan keamanan jiwa maupun anggota badan atau menyangkut seluruh aspek pancajiwa syariat yang terdiri dari:
- agama;
- jiwa;
- akal;
- kehormatan atau nasab;
- harta kekayaan maupun di luar pancajiwa syariat tersebut
Golongan Manusia yang Zalim pada Diri Sendiri, Surah Al Fatir ayat 32
Menyimpan banyak pelajaran bagi umat Islam di dunia. Salah satu pelajaran terdapat dalam surat Fatir ayat 32 menyebutkan kelompok yang zalim pada diri sendiri. Dalam ayat tersebut, golongan yang zalim pada diri sendiri disebut zalimul linafsih. Berikut bacaan lengkap Al Fatir ayat 32 dalam artinya sebagai berikut ini :
Hadits Tentang Memaafkan Kesalahan Orang Lain dalam Islam
"Beliau tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak meludah di tempat keramaian, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan. Melainkan beliau selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain," (HR Ibnu Hibban).
Selain itu, sikap pemaaf yang harus dimiliki umat muslim secara tegas dijelaskan dalam firmanNya surat Al A'raf ayat 199. Berikut bacaannya, Artinya: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."
Selain dalil-dalil yang telah dijelaskan di atas, merangkum beberapa hadits tentang memaafkan kesalahan orang lain yang disadur dari berbagai buku dan sumber di media sosial dan internet, berikut dengan terjemahannya sebagai berikut ini :
1. HR Muslim Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."
2. HR Bukhari dan Ad Dailami. Artinya: Rasulullah SAW bersabda, "Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada,"
3. HR At Thabrani Artinya: "Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah),"
4. HR Al Anshari "Orang yang paling penyantuh di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya,"
Istilah memaafkan dalam bahasa Arab sendiri adalah Al 'Afwu. Artinya secara bahasa adalah melewatkan, membebaskan, meninggalkan pemberian hukuman, menghapus, dan meninggalkan kekasaran perilaku.
Sementara itu, secara istilah Al 'Afwu juga dapat bermakna menggugurkan (tidak mengambil) hak yang ada pada orang lain. Hal ini menjadi bukti mulianya sikap pemaaf, sebagaimana dilansir dari buku Berdakwah dengan Hati yang ditulis oleh Syaikh Ibrahim bin Shalih bin Shabir Al-Maghdzawi.
Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 134 juga menyebut bahwa sikap memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa. Allah Swt berfirman, Artinya: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"
Melalui informasi ini, semoga kita semua bisa sama-sama mulai melatih diri menjadi orang yang pemaaf sesuai dengan hadits tentang memaafkan kesalahan orang lain dan dalil Al Quran lainnya ya, sahabat hikmah. Aamiin.
Referensi sebagai berikut ini :
Segerakan Minta Maaf Pada Orang yang Dizalimi
Supaya dosa diampuni Allah Swt yang perlu diperhatikan
Beramal Baik Melakukan amalan baik bisa menjadi salah satu cara mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Setelah melakukan taubat pada Allah Swt, hendaknya kita melakukan amalan baik sebagai pengganti kesalahan atau dosa yang pernah kita lakukan.
Musibah di Dunia Allah Swt bisa mendatangkan musibah bagi siapapun di dunia ini. Jika manusia tertimpa musibah, lantas ia ikhlas dan tidak mengeluh, maka Allah Swt akan menggugurkan dosa-dosa kita. Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QS. Al-Baqaroh : 155-157).
Doa Memohon Ampun, Doa merupakan intisari dari ibadah. Doa juga merupakan senjata ampuh bagi orang-orang yang beriman. Sebuah ayat menjelaskan bahwa orang-orang sesudah kaum Muhajirin dan Ansar berdoa pada Allah Swt agar dosa-dosa saudara-saudara mereka telah beriman sebelumnya akan diampuni.
Amalan dari Orang Lain Terdapat tiga perkara yang pahalanya akan terus mengalir meski kita telah tiada, yakni doa dari anak yang saleh atau salehah, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat. Ketiganya dapat memberikan kita pahala dan menggugurkan dosa-dosa kita selama hidup.
Siksa Kubur Ketika seseorang memasuki alam kubur, ia tidak akan mendapatkan azab yang sama. Azab yang diberikan akan disesuaikan dengan besar kecilnya dosa yang pernah dia perbuat. Azab di alam kubur ini dapat menjadi penebus atau pengurang dosa-dosa ringan selama masa hidup.
Taubat Dalam beberapa ayat dan hadis disebutkan, taubat berfungsi untuk sebagai pengecualian ancaman azab yang akan diterima oleh pelakunya. Namun, taubat yang dimaksud disini yakni taubat nasuha, yaitu taubat yang dilakukan dengan hati ikhlas dan tidak akan pernah mengulanginya.
Istighfar Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa apabila kita memiliki dosa maka beristighfar atau memohon ampun pada Allah Swt, maka Dia akan mengampuni hamba-Nya. Sebagaimana dalam hadisnya:
“Tidak ada satupun seorang hamba yang berbuat suatu dosa, kemudian berdiri untuk bersuci, kemudian melakukan sholat dan beristighfar untuk meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Rasulullah SAW membaca surat Ali Imran , ayat : 135, yang artinya: “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” ( Hadits Hasan Riwayat at-Tirmidzi no : 3009, Abu Daud, no ; 1521 )
Syafaat Syafaat ini dapat membebaskan dan meringankan kita dari siksaan di akhirat kelak. Hanya umar Rasulullah SAW yang berhak mendapatkan syafaat. Itupun jika semasa hidupnya ia sangat mencintai Nabi Muhammad SAW juga sering bersholawat padanya.
Demikian beberapa cara yang bisa kita lakukan agar dosa yang kita lakukan dapat diampuni oleh Allah Swt. Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi orang orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, Allah humma Aamin.
Rabu, 06 Juli 2022
Alasan-alasan mengajukan perceraian di pengadilan agama
Perceraian terkadang merupakan sebuah jalan keluar bagi rumah tangga yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Walaupun perceraian dibenci oleh Tuhan, tetapi perceraian tetap diperbolehkan jika ada alasan-alasan yang memperbolehkan. Lantas apakah alasan-alasan tersebut? Simak ulasan berikut ini. Berdasarkan UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, alasan-alasan yang diperbolehkan suami atau istri mengajukan perceraian ke Pengadilan adalah sebagai berikut :
- Salah satu pihak (suami atau istri) melakukan perbuatan zina, atau menjadi penjudi, atau menjadi pemabuk, pemadat, atau hal lainnya yang sukar untuk disembuhkan.
- Salah satu pihak (suami atau istri) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
- Salah satu pihak (suami atau istri) mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
- Salah satu pihak (suami atau istri) melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
- Salah satu pihak (suami atau istri) mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
- Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
- Suami melanggar shigat taklik-talak.
- Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.
Jika salah satu atau lebih dari poin-poin yang disebutkan diatas sesuai dengan kondisi rumah tangga anda, maka secara hukum alasan anda sudah kuat, anda bisa membuat surat gugatan atau permohonan cerai dengan menyertakan alasan alasan tersebut di atas
Untuk alasan pada poin nomor 7 mengenai shigat taklik talak, Shigat taklik talak sendiri dapat anda lihat pada buku nikah anda masing-masing yang mana isinya terdiri dari 4 poin sebagai berikut:
- Meninggalkan istri selama 2 (dua) tahun berturut-turut.
- Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya.
- Menyakiti badan/jasmani istri saya, atau
- Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya 6 (enam) bulan lamanya.
Jika suami melakukan perbuatan yang disebutkan diatas, maka secara hukum anda (istri) bisa menggugat cerai suami dengan poin melanggar shigat taklik talak.
Demikian alasan-alasan perceraian yang dapat diterima dan sesuai dengan aturan hukum bagi anda (suami atau istri) yang ingin mengajukan perceraian ke Pengadilan Agama. Terakhir, perceraian merupakan hal yang diperbolehkan, namun hal tersebut sangat dibenci oleh Allah.
Semoga kita terhindar dari percerain, karena sesungguhnya perceraian adalah dibenci Allah Swt. Semoga saling memberi maaf dan menerima kembali dengan keluarga dan semoga lebih bahagia dengan anak istri tercinta. dan jadikan sebuah pelajaran dalam menggapai surga dan cinta Allah Swt. semoga keluarga kita terhindar dari mara bahaya dan selalu dalam lindungan Allah Swt, Amin ya robbal 'alamin.
Manfaat suka memberi maaf atas kesalahan orang lain dan memerikan kesempatan untuk bertaubat
Manfaat suka memberi maaf atas kesalahan orang lain dan memerikan kesempatan untuk bertaubat agar dapat menebus semoa kesalahanya. Cara terbaik mengikhlaskan ialah dengan memberi maaf. Mungkin yang pergi tidak akan kembali dan yang terjadi tidak akan terulang lagi. Tetapi, selama kita dapat memaafkan, kesempatan untuk memperbaiki yang salah dan melengkapi yang kurang masih bisa dilakukan. Memaafkan adalah tentang toleransi terhadap kesalahan yang dilakukan maupun diterima. Semakin besar toleransi seseorang terhadap kesalahan orang lain, semakin besar pula ia mampu memaafkan.
1. Menenteramkan jiwa Memaafkan merupakan salah satu cara melepaskan beban hidup. Terkadang beban yang kita pikul terasa berat bukan karena kesalahan yang telah diperbuat oleh orang lain, namun sebab kita sendiri. Ketika kita membenci seseorang karena ia pernah melakukan kesalahan, dan kita tidak memaafkannya, kebencian itu akan terus tumbuh dan makin menjadi. Kita semakin kesulitan untuk memaafkan karena kebencian yang bersarang.
2. Memperbaiki keadaan Memaafkan memang tidak dapat mengembalikan keadaan seperti semula, namun memaafkan mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Masa bergerak ke depan dan tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Sesuatu mungkin dapat diulang, tapi percayalah, sesuatu yang terulang rasanya tidak akan sama. Tetapi, dengan memaafkan dan memperbaiki keadaan, akan tercipta rasa baru yang lebih menyenangkan.
3. Menjadi penolong bagi kehidupan orang lain Pertolongan datang dengan berbagai bentuk. Mungkin kita berpikir bahwa memaafkan tidak bisa menolong kita saat kita sedang kesulitan. Namun, Tuhan selalu punya cara unik untuk menolong hamba-Nya, salah satunya dengan sifat pemaaf yang ada pada diri hamba. Tanpa disadari, kita sering tertolong karena sikap memaafkan, dari hal kecil sampai hal besar. Sifat inilah yang harus dipertahankan dan ditingkatkan untuk menuju kehidupan yang lebih baik.
4. Meningkatkan pikiran positif Setiap kejadian dan kesalahan yang dimaafkan akan memunculkan pemikiran positif, sebab individu yang selalu memaafkan tentu selalu menanggapi segala hal dengan positif. Orang yang pemaaf senantiasa memandang peristiwa dan kesalahan dari sudut pandang keuntungan. Memaafkan sesuatu dan memandang dari sudut pandang positif akan membantu seseorang untuk memperbaiki diri sendiri.
5. Mengurangi permusuhan Sikap memaafkan dalam berteman dan bersosial sangat diperlukan. Tujuannya, untuk menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis antar individu dalam konteks sosial. Hubungan yang sehat dan harmonis dapat membantu manusia dalam mencapai tujuan kehidupannya, dan memberi dampak yang baik bagi diri sendiri maupun orang-orang sekitar.
Syarat Taubat Menurut Ulama Imam Nawawi
Syarat Taubat Menurut Ulama Imam Nawawi, Menurut para ulama, taubat wajib dilakukan setiap kali melakukan perbuatan dosa. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, apabila maksiat yang dilakukan seseorang berkaitan dengan Allah, tidak ada sangkut-pautnya dengan hak orang lain, taubat yang dilakukan harus memenuhi tiga syarat.
Pertama, menghentikan perbuatan maksiat tersebut. Kedua, menyesali tindakan maksiat. Ketiga, bertekad tidak akan mengulangi perbuatan itu selamanya.
"Seandainya salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi maka, taubatnya tidak sah," katanya. Selanjutnya, apabila tindakan maksiat ini berkaitan dengan seseorang, taubatnya harus memenuhi empat syarat, yaitu tiga syarat di atas ditambah dengan meminta kebebasan dari pihak terkait. Jika maksiat ini berhubungan dengan harta benda atau sebagainya pelaku maksiat harus mengembalikan aset tersebut.
Apabila hak ini berbentuk menuduh zina dan semisalnya, pelaku menyerahkan diri dan memohon maaf kepada yang bersangkutan. Jika barang hasil kegiatan tersebut habis, dia memohon kehalalan pada pemiliknya.
"Pelaku maksiat harus bertaubat dari seluruh dosa yang dilakukannya," katanya. Imam An-Nawawi mengatakan, jika dia bertaubat dari sebagian dosa, taubatnya sah menurut pendapat yang benar, namun masih menyisakan dosa yang lain. "Ada banyak dalil Alquran As-Sunnah dan ijma yang secara lugas menunjukkan kewajiban taubat," katanya.
Di antaranya, Surah An-Nur ayat 31 yang artinya. "Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah Swt wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung." Dalam Surah Hud ayat 3 Allah berfirman. "Dan hendaklah kalian memohon ampun kepada kalian dan bertaubat kepada-Nya." At-Tahrim ayat 8 Allah memerintahkan. "Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya."
Dari Abu Hurairah, dia mengatakan aku mendengar Rasulullah SAW bersabda. "Demi Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadanya lebih dari 70 kali setiap hari."(HR Al Bukhari).
Dari Al Azhar bin Yasar al-Muzani, dia mengatakan Rasulullah SAW bersabda. "Wahai sekalian manusia bertobat lah kepada Allah dan mohonlah ampun kepadanya. Sungguh aku bertaubat 100 kali dalam sehari." (HR Muslim)
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshari, pelayan Rasulullah dia mengatakan Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh Allah lebih bahagia atas taubat hambanya daripada kebahagiaan orang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir." (Mutaf Alaih).
Referensi sbb ini :
Nasihat Rasulullah Agar Terhindar dari Kerasnya Hati
Hati juga ternyata juga bisa mengeras. Kerasnya hati tersebut bisa berwujud pada munculnya beberap penyakit hati seperti sombong, keras kepala, dan penyakit hati lainnya. Untuk menghindari penyakit qaswatul qolb, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita setidaknya tiga hal. Pertama, pandailah bersyukur. Suatu hari, seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Akhir-akhir ini aku merasakan hatiku keras, Rasulullah SAW kemudian berkata, "Maukah engkau kuberi tahu cara untuk melembutkannya dan keinginanmu terpenuhi? Sayangilah anak-anak yatim, usaplah kepalanya, berikanlah mereka makanan dari makananmu, niscaya (hal demikian) akan melembutkan hati dan melapangkan rezekimu." (HR Thabrani).
Kedua, seringlah berziarah kubur, tentu dengan niat yang benar. Rasulullah SAW berkata: "Aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarah. Sebab sesungguhnya ia akan melembutkan hati, melelehkan air mata, dan mengingatkan akhirat."
Ziarah kubur dengan tujuan mengingat akhirat adalah hal yang dianjurkan. Dengan mengingat kematian, tersadarlah kita bahwa tak ada yang abadi di muka bumi ini. Maka, tak ada lagi yang pantas kita sombongkan.
Ketiga, bersegera melakukan kebaikan. Rasulullah SAW menganjur kan untuk bersegera dalam melakukan setiap kebaikan, hin dari kemalasan. Nabi SAW bersabda: "Sebaik-baik sholat adalah di awal waktunya".
Rasulullah SAW kemu dian mengajarkan kita untuk berdoa: "Ya Allah, aku berlindung padamu dari kelemahan dan rasa malas."
Pepatah berkata, pemalas selalu menanti hari mujur. Padahal, bagi seorang yang rajin, tiap hari adalah hari mujur! Lalu, jika kita tetap merasa banyak keinginan hati yang belum terpenuhi, berbaik sangkalah pada Allah SWT. Barangkali, ada hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan.
Bahkan, kata Ibnul Qayyim, "Apabila musibah yang engkau dapatkan panjang sekali, padahal tak pernah berhenti engkau berdoa, yakinlah bahwa Allah tidak saja hendak menjawab doa-doamu itu. Namun, Allah hendak memberimu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya". Semoga kita terhindar dari hati yang keras dan membatu.
Referensi :



























