This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 06 Juli 2022

Setiap muslim wajib memperhatikan kehalalan makanannya

Cara mensucikan diri dari makanan haram, Setiap muslim wajib memperhatikan kehalalan makanannya.Mengonsumsi makanan haram sebabkan ibadah tertolak dan doa tak terkabul. Oleh sebab itu Allah perintahkan para rasulnya untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsi sebelum perintahkan beramal shalih. Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya (QS. Al-Mukminun: 51). Kemudian Allah Swt perintahkan orang-orang beriman sebagaimana yang diperintahkan kepada para mursalin (QS. Al-Baqarah: 172).

Karena itu, setiap muslim wajib memperhatikan kehalalan makanannya; dari sisi dzatnya maupun sabab mendapatkannya.  Jika sudah terlanjut pernah mengonsumsi makanan yang didapat dari sumber haram apa yang harus dilakukan oleh seorang manusia tersebut, berikut 

Jika sudah terlanjur mengonsumsi makanan haram, solusinya, banyak istighfar dan bertaubat. Yaitu dengan menyesali dari apa yang sudah dilakukan dari mengambil harta haram karena Allah Swt. Tinggalkan perbuatan itu sekarang juga. Tekadkan dalam hati untuk tidak ulangi perbuatan itu. Perbanyak amal shalih serupa; berupa infak dan sedekah serta membantu orang lain. Perbanyak puasa juga salah satu cara sucikan diri dari dosa tersebut. Ini seperti firman Allah Subahanahu Swt, sebagai berikut ini artinya :

“Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 71)

Jika harta yang diambil milik orang lain, salah satu tuntutan taubatnya dengan mengembalikan hak orang tersebut atau meminta kehalalannya. 

Allah Swt berfirman dalam surah QS. Al-Baqarah Ayat 172 sebagai berikut ini : "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah Ayat 172).

Tafsir sbb : 

Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang sehat, aman dan tidak berlebihan, dari yang Kami berikan kepada kamu melalui usaha yang kamu lakukan dengan cara yang halal. Dan bersyukurlah kepada Allah dengan mengakui bahwa semua rezeki berasal dari Allah dan kamu harus memanfaatkannya sesuai ketentuan Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Di dalam ayat ini ditegaskan agar seorang mukmin makan makanan yang baik yang diberikan Allah, dan rezeki yang diberikan-Nya itu haruslah disyukuri. Dalam ayat 168 perintah makan makanan yang baik-baik ditujukan kepada manusia umumnya. Karenanya, perintah itu diiringi dengan larangan mengikuti ajaran setan. Sedangkan dalam ayat ini perintah ditujukan kepada orang mukmin saja agar mereka makan rezeki Allah yang baik-baik. Sebab itu, perintah ini diiringi dengan perintah mensyukurinya.

Keterangan mengenai QS. Al-Baqarah : Surat Al Baqarah yang 286 ayat itu turun di Madinah yang sebahagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpancang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai Fusthaatul-Quran (puncak Al Quran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga surat alif-laam-miim karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.


Referensinya sebagai berikut ini : 




Dosa besar yang dekat dengan keseharian manusia

Miswari Budi Prahesti

Berbagai dan beragam dosa besar yang wajib dihindari seorang Muslim. Di antara dosa besar itu, ada tiga yang disebutkan dalam hadis berikut. Maukah kalian aku kasih berita tentang dosa apa yang paling besar. Para sahabat berkata, "Tentu saja ya Rasulullah." Kemudian Rasulullah melanjutkan pembicaraannya, "Mempersekutukan Allah, kemudian durhaka kepada orang tua, dan janji palsu." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad dari Abu Bakrah).

Dosa-dosa itu adalah mempersekutukan Allah Swt, durhaka kepada orang tua, dan janji palsu (kata-kata dusta). Secara eksplisit hadis ini lebih menekankan dosa yang ketiga, yaitu janji palsu. Mengapa demikian. Diriwayatkan, ketika Rasulullah SAW mengatakan dosa pertama dan kedua, beliau mengatakannya dalam posisi berdiri sambil bersandar, kemudian beliau duduk dan mengatakan janji palsu berulang-ulang.

Pertama, mempersekutukan Allah Swt. Sudah sangat jelas bagi kita bahwa mempersekutukan Allah Swt adalah rajanya dosa. Orang yang melakukannya tidak akan mendapatkan ampunan Allah Swt hingga ia benar-benar kembali pada Allah Swt. Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surah Lukman ayat 13, “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Ayat ini diperkuat dengan sebuah hadis dari Ibnu Mas'ud, di mana Rasulullah mengatakan bahwa dosa paling besar di sisi Allah Swt adalah menjadikan sesuatu sebagai tandingan-Nya, padahal engkau tahu bahwa Allah-lah yang menciptakanmu.

Kedua, durhaka kepada orang tua. Ditempatkannya durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah mempersekutukan Allah terasa sangat pantas karena dalam Alquran, berbakti kepada Allah selalu digandengkan dengan berbakti kepada orang tua. Allah bersabda, "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." (QS Lukman: 14). 

Bahkan, dalam satu keterangan disebutkan tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah dengan tidak mempersekutukannya dan untuk berbakti kepada orang tua. Jika mencermati ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, kita akan menemui perintah untuk memberikan perlakukan terbaik bagi mereka. Sampai-sampai kita dilarang untuk mengatakan uf, ah, atau sejenisnya. Bahkan, kita pun diharuskan tetap berbuat baik kepada mereka walaupun mereka mempersekutukan Allah Swt (QS Lukman: 15).

Ketiga, janji palsu. Rasulullah mengulang-ulang kata ini sampai tiga kali. Menurut para ahli hadis, pengulangan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa mengingkari janji termasuk dosa yang sangat berbahaya. 

Dalam Alquran pun masalah ingkar janji diulang-ulang sampai beberapa kali. Salah satunya terdapat dalam surah al-Hajj ayat 30. “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” 

Dalam surah al-Furqan, ketika Allah menceritakan orang-orang yang mendapatkan berkah, salah satu kriterianya adalah orang-orang yang tidak pernah bersaksi dengan saksi-saksi palsu. Dari sini saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mengingkari janji termasuk dosa besar dan menunaikannya merupakan perbuatan mulia.

Lebih jauh lagi, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa janji palsu termasuk salah satu kriteria sifat munafik, selain berbicara dusta, mengabaikan amanat (khianat), dan lari dari pertempuran. Larangan untuk mengingkari janji disebutkan pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Rasulullah bersabda, "Janganlah mencela saudaramu. Jangan pula mempermainkannya. Dan janganlah menjanjikan sesuatu kepadanya lalu kamu mengkhianatinya." (HR Tirmidzi).

Sahabat, selalu menepati janji adalah harga diri seorang Muslim, di mana pun dan kapan pun ia akan selalu menepatinya. Seperti halnya Rasulullah yang rela menunggu selama tiga hari karena janji bertemu, begitu pula kita seharusnya.


Referensi sebagai berikut ini :






Penyebab hati kita di landa sedih dan gelisah dan hambar

Miswari Budi Prahesti

Penyebab hati kita di landa sedih dan gelisah, Tanda kegelisahan hati adalah hidup yang terasa hambar. Segala sesuatu dijalani dengan hampa. Makan tidak enak, tidur pun tida Tanda kegelisahan hati adalah hidup yang terasa hambar. Segala sesuatu dijalani dengan hampa. Makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Oleh karena itu, saatnya kita kenali, mengapa hati selalu gelisah. 

Pertama, karena banyaknya dosa. Disadari atau tidak, ketika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan diliputi oleh rasa bersalah. Dengan demikian, hati pun menjadi gelisah.k nyenyak. Oleh karena itu, saatnya kita kenali, mengapa hati selalu gelisah.

Hidupnya dalam keterasingan. Ibnu Qayyim berkata, ''Jika kamu menemukan keterasingan karena perbuatan dosa, maka segera tinggalkan dan jauhi dosa dan maksiat. Hati tidak akan tenang dengan perbuatan dosa.''

Kedua, kurang bersyukur. Padahal, Allah Swt menciptakan segala sesuatu, termasuk semua yang ada di langit dan yang ada di bumi, dengan penuh kasih sayang dan hanya untuk manusia. 

"Dan tidak ada binatang melata pun yang hidup di muka bumi ini melainkan Allah Swt yang memberinya rezeki '' (QS Hud 11 :  6).

Ketiga, banyak menuntut. Bisa dipastikan hati akan selalu gelisah jika seseorang berpikir harus memiliki segala sesuatu, sementara ia tidak mempunyai kemampuan dan daya tunjang yang memadai untuk meraihnya.

Keempat, cinta dunia. Rasulullah SAW mengkhawatirkan umatnya yang mencintai dunia secara berlebihan.  "Yang paling aku takutkan dari umat sepeninggalanku adalah jika kesenangan dunia dan hiasannya dibuka untuk kalian.'' (Muttafaq 'Alaih).

Kelima, terlalu berharap pada manusia. Seseorang yang bergantung pada selain Allah Swt, hanya akan kecewa.

Keenam, berbuat zalim. Menzalimi orang, itu artinya meninggalkan perasaan tidak enak. Karena itu, segeralah meminta maaf. Karena, meminta maaf dekat dengan ketakwaan yang pada akhirnya menimbulkan ketenangan:  “Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.” (QS Al-Baqarah 2: 237).

Ketujuh, lemah iman. Seseorang yang lemah iman akan mudah mengeluh dan menyalahkan keadaan. Bahkan, orang yang lemah iman tidak yakin dengan kemahakuasaan Allah Swt. Padahal, hidup dan mati, rezeki dan jodoh manusia, semua sudah diatur dan ada dalam kekuasaan Allah Swt.

Kedelapan, tidak sungguh-sungguh menaati syariat Allah Swt, malas beribadah, dan enggan bertaubat kepada-Nya. Itu tampak pada banyaknya tindakan maksiat yang dikerjakan setiap harinya. 


Referensi sebagaia berikut ini : 


Taubat mengadirkan rasa takut kepada Allah Swt

Miswari Budi Prahesti

Taubat mengadirkan rasa takut kepada Alah Swt, Taubat yang baik adalah yang berbuah pada penyesalan dan perbaikan diri sehingga seharusnya ilmu dan amalnya bertambah dan itu akan berdampak pada tumbuhnya rasa takut kepada Allah Swtdan rasa takut itu akan mengekang syahwat dan mengeruhkan kepada kenikmatan dunia (imam hanafi). Orang yang sudah memasuki dunia taubat sejatinya akan selalu diliputi rasa takut kepada Allah Swt, Diantara rasa takut tersebut adalah :

  • Takut rasa sakit atas maksiat yang dilakukan.
  • Takut karena ada balasan yang setimpal.
  • Merasakan penyesalan yang berkepanjangan. Maka tidak ada kata selesai dalam taubatnya karena takut suul khatimah dan azab di akhirat.

Sesungguhnya Allah Swt mencintai orang-orang yang kembali (Taubat) sebagaimana dalam firman Allah Swt dalam Qur’an surat Al-baqarah ayat 222, yang artinya sbb :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah 2: 222)

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sbb : “Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Allah Swt selalu mengajak kita untuk bertaubat, walau sangat banyak dosa yang telah kita lakukan Dengan kemaha pemurahannya Allah Swt, Allah Swt akan senantiasa mengampuni hamba-hambanya yang senantiasa bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.  Allah Swt selalu mengajak kita kepada tobat, walau sangat banyak dosa yang telah kita lakukan, walau sangat besar kesalahan yang telah kita perbuat, walau sangat sering keburukan yang telah kita jalankan, walau telah sangat lama kemaksiatan menjadi kebiasaan kita. Allah Swt berfirman dalam surah Az Zumar 39 ayat ke 52 sbb ini yang artinya :

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar 39 : 52)

Dan dalam firman yang lain surah thaha 20 : ayat ke 82 artinya sebagai berikut ini :  “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha 20 : 82)

Keutamaan taubat Adapun keutamaan orang-orang yang bertaubat adalah sebagai berikut : Membuat cinta kepada Allah kuat, dengan hal itu membangiktkan motivasi ibadah, mengendalikan syahwat atas segala kenikmatan dunia. 

Merasa dilihat dan diawasi Allah Swt meyakini taubat akan mengundang rahmat Allah Swt Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Setiap insan selalu membutuhkannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Maka orang yang benar-benar berbahagia ialah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya.

Marilah kita perbanyak tobat agar Allah Swt, mengampuni dosa kita, sehingga tenanglah hati kita. Karena sesungguhnya Allah Swt sangat suka kepada hamba-Nya yang gemar bertobat. Semoga tobat kita diterima Allah Swt dan selalau dalam lindunganya, Aamin ya robbal 'alamin.


Referensi sbb ini : 









Ini Janji Allah SWT Setelah Kalian Bertaubat

Miswari Budi Prahesti

Janji Allah Setelah Kalian Bertaubat, Firman Allah  Swt “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133).

Pernyataan dalam firman Allah Swt, yang mengemukakan bahwa Allah Swt akan menerima taubat  mereka yang mendatangi-Nya dengan segera, lalu mengungkapkan kesalahan-kesalahan dan mohon ampun dengan berjanji bertaubat tidak mengulangi lagi semua kegiatan yang maksiat.

Allah Swt Maha Pengampun atas dosa=dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya. Kata Allah Swt dalam FirmanNya: yang artinya: “Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” ( QS Al-Baqarah ayat 160).

Makna dari surah ini semakin diperjelas dalam surah  Al-An’am ayat 54. Sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi demikian:  yang artinya: “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu sekalian).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) bahwa barangsiapa di antara kamu berbuat suatu keburukan karena kebodohan, kemudian setelah itu dia bertaubat dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( QS.Al-An’am: 54)

Lalu, ada pula ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai mereka yang bertaubat:  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah ayat  222).

Dalam surah Al-Maidah ayat 7 Allah SWT mengatakan bahwa Dia akan menerima taubat seseorang yang zalim. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi demikian: yang artinya: “Tetapi barangsiapa bertaubat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. (QS. Al-Maidah:7).

Betapa Allah Swt akan memberikan rasa kasih sayangnya kepada mereka yang bertaubat atau menyucikan dirinya dari kemungkinan-kemungkinan yang akan menimbulkan dosa. Inilah bentuk kasih-sayang Allah Swt kepada Hamba yang sungguh-sungguh berusaha untuk suci dari debu yang menimbulkan dosa-dosa.  (QS. An-Nisa: 17)

Makanya, Allah Swt mempertanyakan kepada hambanya, kenapa lagi kalian tidak bertraubat, sementara begitu sayang dan cintanya Allah Swt kepada mereka yang terus menyatakan permohonan ampun kepada-Nya, Firman Allah yang artinya: “Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah ayat 74.)

Kemudian dengan bertaubat, maka Allah pun memberikan kenikmatan dan kebahagiaan. Janji Allah Swt atas kenikmatan tersebut, sekaligus merupakan pemenuhan kebutuhan yang dalam arti luas.  “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS.Hud (11):3)

Seungguh kebahagiaan yang akan diperoleh dengan menyatakan permohonan ampun kepada Allah Swt. Taubat merupakan sebuah pengakuan yang begitu sangat disenangi Allah Swt. Kiranya tiada keraguan untuk bertaubat, karena semua pemenuhan kebutuhan akan menjadi kenyataan. Janji Allah Swt itu adalah Maha Benar.

Dalam Firman Allah Swt, Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS.Hud (11): 52).

Hujan yang akan menyuburkan tanah pertanda sebagai rezeki yang akan hadir dalam setiap kebutuhan kita. Bahkan Allah Swt menjanjikan kekuatan pada hambanya yang memohon ampun atau bertaubat tersebut. Sebuah penghargaan yang tinggi derajatnya dari Allah kepada Hamba yang bertaubat.

Janji Allah dalam Firman ini, ‘’Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah Swt dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS. At Tahrim (66): 8).

Betapa banyaknya, firman Allah Swt sebagai janji, dalam Al Qur'an kepada mereka yang meohon ampun dari dosa-dosa serta bertaubat atas semua dosa yang pernah dilakukan. Maka, janji Allah Swt dengan bertaubat ini eloklah rasanya dijemput dan dilaksanakan dengan segera. Semoga Allah Swt memberikan ampunan bagi kita. Aamin ya rabbal 'alamin.


Referensi sebagai berikut ini : 







Tanda Muslim Sampai pada Derajat Takut Allah SWT

Miswari Budi Prahesti


Tanda Muslim Sampai pada derajat takut Allah SWT, Keimanan manusia tertinggi adalah seberapa jauh rasa khauf dan keikhlasan dalam ibadah. Imam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, "Apa saja yang menghalangimu dari berbuat dosa, maka itulah khauf yang kita cari. Islam tidak pernah menuntut lebih dari itu. Begitulah para sahabat, mereka menjadi manusia istimewa dengan ketakutan mereka kepada Allah Swt yang Mahahidup dan Mahakuasa". Ulama lain mendefinisikan khauf dengan: "Ketika engkau duduk sendirian, maka engkau membayangkan seakan Allah Swt menampakkan Dzat-Nya kepada manusia dari atas 'Arasy-Nya."

Khauf tumbuh seiring dengan tumbuhnya cinta seseorang kepada Allah SWT. Ketika seseorang mencintai Allah, ia akan takut melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya. Ia pun takut dijauhi-Nya sebagaimana seorang kekasih yang takut ditinggal orang yang disayanginya.

Khauf akan memunculkan sikap berpikir ke depan, bukan hanya dunia tetapi juga akhirat. Ia akan berhati-hati dalam bertindak karena setiap tindakannya mengandung konsekuensi, disukai atau dimurkai Allah. Khauf juga akan motivasi untuk terus beramal dan terus meningkatkan amalnya. Dengannya ia akan terus mendekati Allah Swt.

Allah SWT menjanjikan surga kepada orang yang takut kepada-Nya. Difirmankan, "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan (diri) dari (keinginan) hawa nafsunya. Maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya." (QS An-Nazi'at 79: 40-41).

Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliaulah manusia yang paling takut kepada Allah. Sabdanya, "Sesungguhnya orang yang paling tahu dan takut kepada Allah Swt di antara kalian adalah aku." (HR Bukhari, Ahmad, Abu Daud dan Imam Malik). 

Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW menampakkan rasa takut yang luar biasa kepada Allah Swt. Ibnu Mas'ud menceritakan, "Rasulullah berkata kepadaku, 'Bacakanlah Alquran untukku'. Aku menjawab, 'Ya Rasul bagaimana aku akan membacakannya untukmu, sedangkan engkaulah yang diberi Alquran?' Beliau bersabda, 'Bacalah, karena sesungguhnya aku senang mendengarkannya dari orang lain'. Kemudian aku membaca ayat yang ada dalam surat An-Nisaa sampai pada ayat, Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka itu (QS An-Nisaa [4]: 41). Beliau berkata, 'Cukup!' Aku melihat kedua matanya berlinang air mata" (HR Muttafaq 'alaih)

Menurut Dr 'Aidh Abdullah Al-Qarny ada empat tanda khauf. Pertama, adanya kesesuaian antara lahir dan batin. Artinya, perbuatan dan hati seseorang tidak saling bertentangan. Amal lahirnya tidak lebih baik daripada batinnya. Kedua, jujur kepada Allah SWT dalam ucapan, perbuatan dan sikapnya. Allah Maha Mengetahui atas segala yang diperbuat oleh manusia, terlihat maupun tidak, sehingga tidak ada peluang untuk berdusta.

Kejujuran ini tidak sebatas pada hati saja. Para ulama berkata, "Ada tiga tingkatan kejujuran, yaitu kejujuran dalam bersikap, kejujuran dalam perbuatan dan kejujuran dalam ucapan". Ketiga, menyesali kejelekan dan bergembira atas amal baik yang telah diperbuat. Tanda ini terungkap dalam QS Ali Imran 3 ayat 135-136, Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah Swt, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah Swt, Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Keempat, hari ini lebih baik dari kemarin. Khauf akan memacu seseorang untuk senantiasa berburu amal. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana ia terus menambah dan memperbaiki amalnya. Ia berusaha agar amal hari ini lebih baik dan lebih banyak daripada sebelumnya.


Referensi sebagai berikut ini : 







Jangan Pernah Merasa Aman dari Pantauan Allah (Surah al-Mulk Ayat 16-18)


Abu Utsman berkata, “ciri orang yang benar-benar mempunyai rasa takut kepada Allah swt adalah menahan diri dari dosa yang tampak dan tersembunyi. Karena itu, sejatinya seorang manusia terlebih mukmin harus selalu waspada, tidak boleh merasa aman, tidak terlena dengan kebahagiaan, dan tertipu oleh amal kebaikannya yang banyak.” Maka manusia, melalui firman-Nya Allah swt mengingatkan kita dalam Q.S. al-Mulk 67: 16-18 bahwa jangan pernah merasa aman atas kebaikan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat.

Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. Dan sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku! (Q.S. al-Mulk [67]: 16-18)

Tafsir Surah Al Mulk Ayat 16-18 sbb : 

Dalam ayat ini, Allah Swt memperingatkan orang-orang kafir mengenai azab yang akan menimpa mereka, apabila tetap dalam kekafiran. Peringatan ini Allah berikan karena mereka seakan-akan merasa aman, nyaman dan terhindar dari azab Allah, bahkan merasa jumawa, mengklaim telah mendapat rahmat Allah, yaitu kesenangan duniawi yang mengelilingi mereka. Sedangkan pada ayat selanjutnya (ayat 17), Kemenag RI menafsirkannya dengan kisah kaum terdahulu yang diazab oleh Allah swt, seperti azab yang menimpa kaum Nabi Luth sebab mendustakan ajarannya. Dari kisah itu pula, orang-orang kafir memperhatikan betapa menderita umat terdahulu yang mendustakan Allah Swt dan nabi-Nya.  Pada saat yang bersamaan, manusia juga akan menyaksikan betapa dahsyat azab-Nya, namun pengetahuan manusia saat itu tidak ada gunanya. Mereka semua baru menyesali perbuatannya tatkala azab itu datang menimpa.

Sedangkan Jalaluddin al-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menafsiri redaksi man fis sama’ pada ayat 16 dengan sulthanihi wa qudratihi (raja dan kekuasaannya). Adapun faidza hiya tamur, ditafsirkan dengan tataharraka bikum wa tartafi’a fauqakum (bumi bergerak atau terjadi gempa dan menindih kalian). Pada ayat selanjutnya, ayat 17 tepatnya pada redaksi yursila ‘alaikum hashiban dengan riihan tarmiikum bil hashba’ (angin dahsyat yang menghujani kalian dengan batu). Sedangkan fasata’lamuna kaifa nadzir menunjukkan bahwa azab Allah itu benar adanya, tidak sekadar ancaman atau gertakan belaka.

Quraish Shihab menafsirkan ayat di atas bahwa redaksi man fis sama’ bisa diartikan malaikat, dan Allah Swt. Sebab mengapa Allah Swt disebut langit di atas? Analoginya, lazimnya orang yang berada di atas menguasai yang di bawahnya. Begitu pula Allah, Ia Maha Tinggi, Ia menguasai segala sesuatu yang berada di bawah-Nya (kekuasaan-Nya). Maka kita membutuhkan rasa aman dari-Nya. Sebab ada hukum-hukum alam (sunnatullah) yang ditetapkan oleh Allah swt yang atas izin-Nya sewaktu-waktu bisa meluluhlantakkan kehidupan kita. Karenanya janganlah kemudian kita merasa aman yang menimbulkan kelengahan dan keterlenaan, bagi Allah swt mudah saja menimpakan gempa bumi, memberi azab dan sebagainya. Itulah yang dikandung dalam ayat 16 dan 17. Sedangkan pada ayat ke-18, Quraish Shihab menandaskan bahwa orang-orang sebelum kamu yakni kaum musyrik Mekah, hendaknya kalian ambil hikmahnya bagaimana Allah swt menjatuhkan sanksi kepada mereka, agar kalian tidak jatuh dalam lubang yang sama.

Jangan Pernah Merasa Aman dari Allah Swt, Orang yang dikehendaki oleh Allah Swt mendapat petunjuk dan kebaikan-Nya, di dalam hatinya diletakkan kepekaan, kehati-hatian dan selalu mawas diri. Sehingga ia tak pernah merasa aman dari azab Allah Swt. Ia tak merasa aman dari kesalahan dan kekhilafan. Ia tak pernah merasa aman dari kekurangan dan kelemahan. Karena itu, ia selalu berintrospeksi diri apakah setiap perkataan dan perbuatannya sudah benar ataukah sebaliknya. Selalu waspada dari godaan setan serta mengharap pertolongan Allah Swt.

Hatim al-Asham mengingatkan kepada kita bahwa janganlah kalian tertipu oleh kedudukan yang mulia, sebab sungguh tidak ada tempat terbaik kecuali surga dan ridha-Nya. Jangan pula tertipu dengan banyaknya ibadah, sebab iblis pun lebih banyak amal ibadah namun kini ia menjadi makhluk terlaknat. Dan jangan pula tertipu dengan banyaknya ilmu, karena sesungguhnya banyak orang yang berilmu yang melupakan ilmunya.

Hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini adalah jangan pernah merasa aman dengan rahmat Allah Swt, sehingga menyebabkan kita enggan dan meninggalkan amal saleh. Tapi ingat, jangan pula pernah merasa ujub (berbangga diri) dengan kuantitas amalan. Sebab, tidak ada keimanan dan ketaatan yang menyebabkan seseorang masuk surga melainkan karena rahmat Allah Swt,  Wallahu A’lam.


Referensi sebagai berikut ini : 




Jangan merasa aman dari azab Allah Swt

Sifat seorang mukmin adalah selalu merasa takut akan siksa Allah Swt. Sedangkan sifat ahli maksiat adalah selalu merasa aman dari murka Allah Swt sehingga begitu entengnya ia bermaksiat. Bahkan ia pun enggan bertaubat karena merasa Allah Swt itu Maha Pengampun. Padahal ini sifat yang keliru. Seharusnya yang dikedepankan dalam hal maksiat adalah sifat takut, bukan sifat harap.

“Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” , maksudnya 'maka sesungguhnya, orang yang merasa aman dari makar Allah Swt adalah orang yang tidak membenarkan adanya balasan atas amalan yang telah dikerjakan. Dia juga tidak beriman dengan penuh kesungguhan kepada para rasul. 

Yang dimaksud dengan makar Allah Swtdi sini adalah bencana atau azab. Yaitu apakah mereka merasa aman dari azab Allah Swt di saat mereka lalai, Tiada yang merasa aman kecuali orang-orang yang merugi. Al Hasan Al Bashri mengatakan,yang artinya sbb ini : 

“Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).”

Merasa aman sehingga begitu senangnya ketika bermaksiat adalah termasuk dosa besar. Dalam hadits yang disebutkan oleh ‘Abdur Razaq dalam Mushonnafnya, “Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR. Abdurrozaq). Dalam hadits ini ditunjukkan dua sifat yang termasuk dosa besar yaitu merasa aman dari siksa Allah Swt dan putus asa dari rahmat Allah Swt. Dan inilah akibat buruk bagi yang punya sifat demikian.

Sikap Pertengahan Sikap yang lebih baik adalah sikap pertengahan, yaitu tidak begitu mendominankan rasa harap (roja’), begitu pula tidak mengunggulkan rasa takut (khouf). Seharusnya pertengahan di antara keduanya. Jadi jika ia memiliki rasa takut, janganlah membuatnya sampai berputus asa. Jika ia memiliki rasa harap, janganlah sampai ia menganggap remeh murka Allah Swt. (Lihat Mulakkhos fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 276)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas (yang kita kaji saat ini) menunjukkan bahwa seorang hamba hendaknya tidak merasa aman dengan iman yang ia miliki. Bahkan seharusnya ia selalu merasa takut akan kecacatan imannya nanti. Sehingga itu membuatnya selalu berdo’a pada Allah Swt,

“Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbiy ‘alaa diinik” (Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu), yaitu supaya ia dikokohkan dan tidak terjerumus dalam kerusakan. Karena siapa pun hamba bagaimana pun keadaanya, maka ia tidak bisa yakin bisa selamat. Demikian disebutkan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman ketika menjelaskan ayat yang sedang kita kaji.


Referensi sbb ini : 








Cara Menghapus Dosa Bohong, Fitnah dan Ghibah


Cara Menghapus Dosa Bohong, Fitnah dan Ghibah, Berbohong, memfitnah dan menggunjing orang lain atau ghibah merupakan dosa yang sudah ada sejak lama. Namun sepertinya dosa ini semakin marak terlihat dengan kemunculan beragam media sosial. Banyak orang seakan sangat mudah berbicara atau membuat unggahan berisi dusta, fitnah hingga ghibah. Termasuk juga, tidak sedikit warganet yang sangat mudah menyebarkan informasi atau berita yang belum diketahui pasti kebenarannya. Padahal informasi itu dapat merugikan orang lain. 

Allah Swt berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 6 Artinya sbb ini: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang orang fasik membawa berita maka periksa berita tersebut dengan teliti agar tidak menyebabkan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang nantinya akan menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan tersebut” (QS. Al Hujurat:6)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda Artinya: Rasûlullâh SAW bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong). (HR. Bukhari). 

Atas dosa berbohong hingga fitnah, ulama memberikan panduan terkait menebus kesalahan ini. Mantan Mufti Mesir, Dr Ali Jum'ah menyebut dosa ini bisa diampuni jika orang yang bersalah meminta maaf kepada orang yang dizalimi. 

"Berbohong, memfitnah, ghibah dan perkataan buruk bisa diampuni dengan meminta maaf kepada orang yang telah Anda lakukan ini. Ditambah juga dengan berdoa kepada Allah Swt" jelasnya dilansir dari Elbalad (Rabu (19/1).

Syekh Ali Jum'ah juga memberikan satu doa untuk meminta ampunan atas dosa ini. Doanya adalah sebagai berikut: Latin: Allahummaghfirlahu, allahumma 'aafihi, allahummarzuqhu, allahumma saamihnii. Artinya: “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah sembuhkanlah dia, Ya Allah berilah rezeki baginya, Ya Allah ampunilah saya,"

Tips menghilangkan kebiasaan gibah dan fitnah: Perbanyak berdzikir atau mengingat Allah Swt. Jaga sholat lima waktu. Rasakan kehadiran Allah Swtatas apa yang Anda katakan dan lakukan.

Pastikan untuk mengubah kejahatan dengan tangan Anda atau dengan lidah Anda, jika Anda melihat seorang yang melakukan dosa ini, nasihati dia dan bawa dia kembali ke jalan yang benar.

Memelihara kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan Umat Muslim dan menjaga hati dan kehormatan Muslim lain. Rasulullah SAW bersabda yang Artinya: Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).


Referensi sebagai berikut ini : 



Cara Setan Menyesatkan Manusia Dan Cara mengatasinya


Cara Setan Menyesatkan Manusia Dan Cara mengatasinya, Setan merupakan musuh terbesar umat manusia. Setan masuk ke dalam hati setiap orang, apakah dia seorang mukmin atau pun kafir. Setan terus melakukan upaya untuk membawa hasutan, keburukan, dan kejahatan ke dalam dada manusia.

Nabi Adam, bapak manusia, harus keluar dari surga karena tergoda oleh bujuk rayuannya (QS al-Baqarah: 36). Dikatakan, setan akan memukul dan meyerang manusia dari segala arah, sehingga manusia tak berdaya dan menjadi kufur kepada Allah Swt. ''Kemudian saya (setan/iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat.'' (QS al-A'raaf: 17).

Allah SWT berfirman: “Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka. Dia (Allah) berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus (menuju) kepada-Ku”. Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hambaKu, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat.” (QS Al Hijr: 39-42).  Ada banayak cara yang dilakukan setan dalam mengoda,merayu dan menyesatkan anak adam, dan berikut beberapa di antaranya: 

1. Tazyin, atau kamuflase menghiasi perkara seolah baik. 

Setan tidak mengarahkan seseorang kepada dosa dan kejahatan, melainkan menghiasinya secara bertahap, misalnya ketika seseorang mendengar azan pada malam musim dingin dan berkata kepadanya, “Tetap santai di tempat tidur, kamu lelah dan capek”. 

2. Talbis, atau menipu. 

Setan mencoba menipu pikiran manusia dengan meyakinkan dia bahwa larangan sebenarnya diperbolehkan. Sebagai contoh, seseorang ingin mendapatkan pinjaman berbasis bunga dari bank untuk membeli rumah atau apartemen. Maka setan mengatakan kepadanya bahwa ini pinjaman diperbolehkan, karena tidak berbuat jahat kepada orang lain. 

3. Taswif, setan turut berupaya menghasut orang lain agar menunda untuk bertobat. Setan membuat manusia terus menunda untuk bertobat, dengan mengatakan masa muda merupakan tahap yang terindah, dan taubat bisa dilakukan di lain waktu. 

4. Tahwin, meremehkan hal kecil seperti dosa kecil. 

Setan juga mengajak manusia untuk meremehkan dosa-dosa kecil. Setan menyatakan bahwa orang lain jauh lebih banyak melakukan dosa besar. 

5. Setan berupaya membuat manusia tidak berada dalam jalan yang lurus. Hal ini karena mereka harus lebih taat, sedangkan orang lain akan memusuhi dan mengejeknya. 

6. At-Taiys, upaya lainnya yakni membuat manusia putus asa dalam bertaubat. Dia menyatakan bahwa dosa yang dimiliki seorang hamba besar, sehingga sulit untuk diampuni. 

7. Setan turut dapat hadir pada manusia yang dalam keadaan marah. Dia datang melawan pikiran orang yang waras. 

8. Dia menjadikan manusia tinggi angan-angan, mendorong manusia takut akan kemiskinan, kemudian dia menghasut manusia untuk dapat kaya dengan jalan yang haram. 

9. Setan juga membuat indah keburukan manusia, dan tidak toleran terhadap yang lain. Dia terus membuat orang lebih fanatik, dan memotivasi manusia agar merendahkan orang lain. 

Maka menurut Imam Al-Gozali untuk menjaga dan menyelamatkan diri dari langkah tipu daya setan, orang mukmin harus menutup semua jalan masuk atau aksesnya, sehingga setan tak dapat mendekat dan menguasai kita.

Imam Ghazali njuga menejaskan, tak mungkin seseorang bisa menutup akses itu bila tidak mengetahui jalan masuk atau pintu-pintunya. Ini berarti, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengenali pintu-pintunya, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh tidak bisa mendekat karena kehilangan akses.

Di antara pintu-pintu yang harus dikenali itu, menurut Imam Ghazali, adalah pintu amarah dan syahwat, pintu dengki dan iri hati, pintu makan minum secara berlebihan, pintu cinta dunia, pintu tergesa-gesa, dan pintu buruk sangka kepada sesama umat Islam.

Dalam pendapat lain, Imam Ghazali juga menggambarkan setan seperti anjing kelaparan yang selalu mendekat. Kalau hati kita kotor, dalam arti banyak ''santapan setan'' di dalamnya, maka ia akan terus menyerang. Ia tidak akan lari hanya dengan gertakan atau dengan membaca ta'awwuz atau hawqalah. Tapi, kalau hati kita bersih, maka dengan hanya menyebut asma Allah Swt, ia sudah lari terbirit-birit.

Jadi, tipu daya setan sesungguhnya tidak berpengaruh bagi orang takwa yang jiwa dan hatinya bersih. Firman Allah, ''Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuatannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.'' (Qs an-Nahl: 99). 

Maka dari uraian diatas sebagai peringatan dan pedoman agar umat Islam tidak mudah mengikuti dan bagaimana cara menjaga dan mebentengi diri dari langkah-langkah setan. ''Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.'' (QS al-Baqarah: 168).

Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga dan melindungi kita dari segala tipu daya dan godaan setan yang terkutuk,  Aamiin Ya Robbal ‘Alamain. dan semoga kita diberi kemudahan untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia, dan semoga toubat kita diterima Allah Swt, Amin Ya robabal 'Alamin.


Referensi sebagai berikut ini : 







Sebab-sebab Setan Menguasai Manusia


Sebab-sebab Setan Menguasai Manusia, telah berjanji bahwa dirinya akan selalu mengganggu dan menggoda manusia. Mereka melakukan itu agar kita, selaku anak cucu dari Nabi Adam AS berbuat ingkar kepada Allah SWT. Sehingga, kita akan mengikuti jejak setan yang telah jelas bertentangan dengan apa yang Allah Swt perintahkan. Dengan begitu, setan akan mempunyai teman untuk menemaninya di dalam neraka. Setelah setan dapat menggoda manusia maka ia juga akan bisa menguasai manusia itu. Ada sebab-sebab tertentu yang menjadikan setan dapat menguasai manusia. Sedikitnya ada 4 sebab, yaitu:

  1. Rusaknya manusia itu sendiri. Seorang muslim yang lalai mengingat Allah Swt, atau yang melakukan hal yang dilarang Allah Swt berarti menyodorkan diri untuk dikuasai setan dan jin jahat.
  2. Manusia melakukan “kejahatan” pada jin, yang biasanya, dilakukan tanpa sengaja. Misalnya menjatuhkan barang yang berat di tempat yang ada jin, tanpa menyebut nama Allah Swt. Atau menumpahkan air panas, tanpa menyebut nama Allah Swt yang bisa membunuh anak-anak jin. Begitu ada kesempatan, manusia yang tidak berdzikir pada Allah Swt akan dikuasai jin/setan.
  3. Disukainya wanita oleh jin laki-laki. Hal ini biasanya terjadi pada wanita pesolek atau wanita yang keluar rumah untuk memperlihatkan kecantikannya. Contoh lain adalah wanita yang memakai cat kuku, yang bisa menghalangi air wudhu. Bila suaminya menggaulinya, dan dia kemudian mandi wajib, maka mandinya tersebut tidak berguna karena tidak menghilangkan hadas besarnya. Bila dia keluar rumah, sebenarnya dia masih dalam keadaan junub. Setan dan jin menyukai wanita seperti ini. Wanita yang suci dan mengenakan kerudung, wajahnya akan ditutup dengan cadar oleh Allah Swt sehingga jin/setan tidak bisa melihat wajahnya meski pandangan mereka sangat tajam.
  4. Manusia berada dalam kondisi terlalu senang atau terlalu sedih. Hal ini merupakan pintu masuk yang mudah bagi jin/setan/Iblis. 
Referensi sebagi berikut ini : 






Sebab dosa kecil menjadi besar


Sebab dosa kecil menjadi besar, makhluk Allah Swt kita tidak luput dari dosa, maksiat, dan aneka kesalahan. Di antara makhluk-Nya yang tidak pernah luput tersebut akan disebut baik jika mereka bersegera bertaubat. Sabda Nabi SAW, "Setiap anak Adam pernah berbuat dosa dan sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yang bergera bertaubat." (HR Muslim).

Di antara kebiasaan kita adalah menganggap enteng dosa kecil, seperti berbohong, gibah (gosip), dan mengadu domba. Dalam pandangan Rasulullah SAW, menganggap enteng dosa kecil adalah sebuah respons perilaku yang tidak baik. Bahkan, akan menjadi dosa besar yang kita anggap dosa kecil tersebut.

Pertama, jika dilakukan terus-menerus. "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah Swt, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah Swt? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui." (QS Ali Imran 3:135). Ibnu Qoyyim mengatakan, dosa besar yang hanya dilakukan sekali lebih bisa diharapkan pengampunannya daripada dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Kedua, jika seorang hamba meremehkannya. Setiap kali seorang hamba menganggap besar sebuah dosa niscaya akan kecil di sisi Allah Swt, dan setiap kali ia menganggap remeh sebuah dosa niscaya akan menjadi besar di sisi-Nya. Abdullah bin Mas'ud ra berkata, "Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan gunung yang akan runtuh menimpa dirinya, sedangkan seorang pendosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang menclok di hidungnya, cukup diusir dengan tangannya." (HR Bukhari Muslim). Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata, "Jangan kamu memandang kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat dosa itu."

Ketiga, jika dilakukan dengan bangga atau minta dipuji.  Seperti seseorang yang mengatakan, "Lihat, bagaimana hebatnya saya mempermalukan orang itu di depan umum?" Atau, seperti ucapan seorang pedagang, "Lihat, bagaimana saya bisa menipu pembeli itu?"

Keempat, jika seseorang melakukan dosa tanpa diketahui orang lain lalu ia menceritakannya dengan bangga kepada orang lain.  Rasulullah SAW bersabda, "Setiap umatku selamat kecuali orang-orang yang terang-terangan berlaku dosa. Dan di antara perbuatan terang-terangan melakukan dosa ialah jika seseorang berdosa di malam hari sementara Allah Swt telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia merobek tirai penutup itu sambil berkata, "Hai Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu." (Bukhari-Muslim).

Kelima, jika yang melakukannya seorang alim yang menjadi panutan. Karena apa yang ia lakukan dicontoh oleh orang lain. Ketika ia melakukan dosa, maka ia juga mendapatkan dosa orang yang mencontohnya. Rasulullah bersabda,  "dan barang siapa memberi contoh keburukan dalam Islam maka baginya dosa perbuatan itu dan juga dosa orang yang mencontohnya setelah itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa itu dari pelakunya." (Muslim).

Dari kelima kriteria ini, sungguh jika pun itu terjadi tetap akan dipandang baik jika mereka, bersegera bertaubat; menyudahi semua perbuatan zalimnya dan bersumpah  untuk tidak mengulangi lagi.Insyallah dengan karunia Allah Swt dosa-dosa  besar akan di ampuni Allah Swt.


Referensi :






Perbarui hidup kita setelah masa lalu kita penuh dengan dosa


Seringkali, ketika kita ingin memulai halaman baru dalam hidup kita, kita mengikat keinginan seperti itu dengan keadaan yang menguntungkan di masa depan yang tidak diketahui, perubahan haluan dalam karier kita, atau tanggal atau acara khusus. Penundaan ini disertai oleh keyakinan bahwa kekuasaan akan datang kepada kita pada waktu itu untuk menyegarkan kita setelah periode kemalasan dan membangkitkan kembali harapan demi keputusasaan. Ketika hidup dihadapkan dengan tujuan dan wawasan, ada sedikit bahaya menyerah pada keadaan sekitar seseorang, tidak peduli seberapa pahitnya mereka.

Daripada hanyut oleh arus mereka, orang akan mendapat manfaat dari mereka, mempertahankan diri sendiri yang sebenarnya di hadapan mereka; seperti halnya biji-biji bunga yang terkubur di bawah tumpukan tanah membelah jalan mereka menuju cahaya di mana mereka melepaskan aroma menyegarkan mereka.

Mereka mengubah tanah dan air berlumpur menjadi warna-warna ceria dan aroma yang menyenangkan; kita dapat melakukan hal yang sama jika kita mengendalikan waktu kita dan menjaga kebebasan bertindak kita saat menghadapi kondisi yang merugikan. Kami dapat memenuhi banyak hal tanpa menunggu bantuan eksternal.

Jangan Tunda Rencana Pembaruan Hidup Anda, Dengan memanfaatkan kekuatan internal yang tersembunyi, fakultas yang terkubur, dan peluang yang terbatas atau sepele, manusia dapat membangun dirinya kembali.

Tidak ada waktu untuk berlama-lama. Bantuan diberikan kepada mereka yang berjalan menuju kebenaran; tetapi kekuatan berlari atau memanjat tidak akan menghujani mereka yang lumpuh karena tidak bertindak. Itu tidak mungkin.

Jangan bergantung pada pembangunan hidup Anda pada beberapa kesempatan yang mungkin atau tidak muncul dari hal yang tidak diketahui. Ini tidak akan membawakanmu sesuatu yang baik.

Hari-hari ini Anda miliki di tangan Anda, jiwa di dalam diri Anda, dan keadaan tersenyum atau cemberut di sekitar Anda adalah fondasi dari mana masa depan Anda muncul. Nabi Muhammad SAW berkata: Allah Swt membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima pertobatan dari mereka yang berdosa di siang hari; dan Dia mengulurkan Tangan-Nya di siang hari untuk menerima pertobatan dari mereka yang berdosa pada malam hari. (Muslim)

Setiap penundaan dari rencana pembaruan hidup yang melaluinya Anda mendapatkan diri Anda di jalur yang benar hanya memperpanjang periode gelap yang ingin Anda selamatkan, dan membuat Anda dikalahkan dan tidak berdaya di depan godaan dan kecerobohan. Ia bahkan dapat menyeret Anda ke lereng yang lebih curam, dan di sinilah letak musibah. “Siang dan malam adalah dua tunggangan. Naiklah mereka dengan baik ke akhirat. Waspadalah terhadap penundaan (pertobatan), karena kematian datang tiba-tiba".

Siapa pun yang melakukan kebaikan seberat atom akan melihatnya, dan siapa pun yang melakukan kejahatan seberat atom akan melihatnya. (Quran 99: 7-8)

Adalah penting untuk mengatur ulang hidup Anda dari waktu ke waktu, untuk melihat secara kritis ke berbagai sudut untuk menggali cacat dan kegagalan, dan membuat skema jangka pendek dan jangka panjang untuk menghilangkannya.

Setiap beberapa hari, Anda melihat kekacauan laci meja Anda dan merapikan sisa-sisa yang berantakan, buku-buku berantakan, dan kertas-kertas yang tidak berguna. Anda meletakkan semuanya di tempat yang seharusnya dan membuang benda-benda tak berarti ke tempat sampah.

Kamar-kamar di rumah Anda menjadi berantakan pada akhir hari, dan tangan-tangan yang sibuk naik dan turun, di sana-sini, untuk membersihkan perabotan kotor, membuang semua sampah ke tempat sampah, dan mengembalikan semuanya sesuai pesanan dan keindahan.

Apakah hidup kita tidak pantas mendapatkan upaya seperti itu, Apakah tidak layak untuk memeriksa urusannya dari waktu ke waktu untuk melihat apakah ada masalah yang perlu diselesaikan; atau dosa apa pun yang membebani mereka yang perlu disucikan. Layak untuk mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya setelah setiap tahap ditempa melalui perjalanan hidup ini dan untuk dikembalikan ke keseimbangan dan stabilitas setiap kali diguncang oleh krisis atau konflik.

Manusia perlu mempelajari secara mendalam dan mengeksplorasi diri mereka sendiri untuk melindungi kehidupan pribadi dan publik mereka dari penyakit dan perpecahan. Struktur moral dan mental mereka jarang tetap utuh dan konkret dengan tabrakan yang tajam melawan keinginan dan godaan.

Jika dibiarkan dengan kekuatan destruktif, moralitas dan kepekaan akan pasti hancur; seperti manik-manik yang tumpah dari kalung yang talinya putus. Orang yang hatinya Kami telah lalai dari mengingat Kami, orang yang mengikuti hawa nafsunya sendiri dan yang perselingkuhannya telah hancur. (18: 28)

Oleh karena itu, kerja terus menerus diperlukan untuk mengatur dan memonitor diri sendiri secara akurat. Sebelum setiap pagi yang baru, Tuhan mendesak orang untuk memperbarui hidup mereka dengan fajar, setelah mengistirahatkan tubuh mereka setelah seharian bekerja dan setelah bangkit dari tempat tidur mereka untuk menghadapi hari yang baru.

Pada saat yang menentukan itu mereka dapat memikirkan sandungan, kejatuhan, dan dosa-dosa mereka; pada saat yang damai itu setiap dari kita dapat memperbarui hidupnya dan membangun kembali dirinya dengan sinar cahaya, harapan, dan permulaan baru, dipandu oleh “Suara Kebenaran” yang memanggil di mana-mana untuk mengembalikan pengembaraan dan menghidupkan kembali yang lelah.

Allah SWT turun setiap malam ke surga terdekat (ke dunia kita), ketika hanya sepertiga terakhir malam itu yang tersisa, dan berkata, ‘Apakah ada pencari kebaikan yang dapat saya berikan kepadanya? Apakah ada pemohon agar saya dapat menjawabnya? Apakah ada orang yang meminta maaf agar saya memaafkannya? (Al-Bukhari). Budak yang terdekat dengan Tuhannya adalah pada tengah malam. (At-Tirmidzi).

Jika Anda dapat berada di antara mereka yang mengingat Tuhan selama waktu khusus kedekatan dengan-Nya, jadilah di antara mereka. Ini adalah waktu ketika malam pergi dan pagi tiba; dan dari puing-puing masa lalu dekat atau jauh Anda dapat bangkit untuk membangun masa depan Anda.

Jangan berkecil hati dengan dosa-dosa Anda yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan jika mereka sama seperti buih lautan, Tuhan tidak akan keberatan mengampuni mereka semua untuk Anda selama Anda berbalik kepada-Nya dengan bertobat dan bergegas langkah Anda untuk Belas Kasihan dan Pengampunan-Nya. Bersyukur di masa lalu seharusnya tidak menjadi penghalang bagi pertobatan yang tulus.

Katakan: “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan berbuat dosa), jangan putus asa dengan Rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembali dalam pertobatan kepada Tuhanmu dan tunduk kepada-Nya. (39: 53-4).

Allah Swt berfirman: “Wahai putra Adam, selama kamu memanggil Aku dan menaruh harapanmu di dalam Aku; Aku akan memaafkan apa pun yang telah kau lakukan, dan aku tidak akan keberatan. Wahai putra Adam, bahkan jika dosamu mencapai awan-awan di langit; maka kamu harus mencari Pengampunan-Ku, aku akan memaafkanmu, dan aku tidak akan keberatan. Wahai putra Adam, jika Anda datang kepada saya dengan dunia yang penuh dengan dosa, dan Anda akan bertemu dengan-Ku tidak menghubungkan sesuatu dengan Aku, Aku akan datang kepadamu dengan bumi yang penuh dengan pengampunan. ”(At-Tirmidzi ).

Tuhan yang serupa menghidupkan kembali harapan pada kehendak yang mati dan membangkitkan orang yang tumpul dan agak malu dengan tekad untuk melanjutkan berjalan menuju Allah Swt dan memperbarui kehidupan setelah masa lalu yang buruk dan pasif.

Referensi sebagai berikut ini : 






Titik terendah dalam kehidupan


Kamu pernah hidup nyaman atau pernah mengalami sesuatu yang sangat dahsyat dalam kehidupan sehingga membuatmu di titik terendah dalam hidup. Membuatmu menjadi bingung, bimbang, kalut, dan orang-orang menuduhmu yang tidak-tidak, berikan tips agar hidup tenang dalam kesulitan. "Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu," Meskipun kamu dalam keadaan nyaman seperti dulu, atau bimbang seperti sekarang, Tuhanmu tidak akan pernah meninggalkanmu ataupun menuduhmu gila.

Orang yang dekat dengan Allah Swt, maka Allah Swt akan menjaganya baik dalam keadaan tenang dan nyaman, ataupun dalam kesulitan yang luar biasa. "dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan."

Nanti Allah akan tunjukkan kepadamu, jika kamu telah tabah dan sabar menerima cacian mereka, menerima tuduhan mereka, tidak apa-apa inikan muqoddimah (permulaan/pembuka), masa kamu masih panjang, kamu masih panjang dalam berdakwah, kehidupan kamu masih panjang membawa tugas dan misi. Kalau kamu belum bersabar di masa sekarang, bagaimana dengan yang di masa yang akan datang, Tapi Allah Swt pastikan kepadamu, masalah hebat apapun yang akan kamu hadapi, yang akan lebih sulit dari pada ini, yakinkan pada jiwamu, Allah Swt tidak akan pernah meninggalkanmu.

Ini prinsip dalam kehidupan, jika kamu menggantungkan hidup kepada Allah Swt, kamu bersandar dengan baik kepada Allah Swt, maka ayat ini akan mengatakan Allah Swt tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam setiap kehidupanmu.

Nanti sekarang perjuangan, Walal-aakhiratu khairul laka minal-uula, nanti saat kamu tiba di akhirat, Saya (Allah Swt) akan tunjukkan kepadamu, ada yang lebih hebat, yang tidak pernah engkau rasakan sebelumnya seperti saat di bumi, tidak akan ada lagi kesulitan yang kamu hadapi, tidak akan ada lagi cacian yang kamu kemudian hadapi, tidak ada lagi kemudian tuduhan yang kamu kemudian rasakan, aku akan berikan apapun sampai kamu puas. "Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas."

Nanti kamu mau apapun Allah Swt akan berikan yang paling indah, kalau kamu tidak percaya, "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)," cobalah ingat, kalau sekarang sedang susah, coba ingat dulu.

Bukankah saat kamu Rasulullah SAW yatim, Allah Swt yang merawat, sampai kamu tidak merasakan kegelisahan itu, pada saat Rasulullah SAW lahir, Bapak Rasulullah sudah tidak ada, namun Allah Swt cukupkan dengan kakek, kakek meninggal, Allah Swt hadirkan ibu dan paman ada di sekitarmu (Rasulullah SAW).

Kemudian Khadijah Radiyallah 'anha hadir di sekitarmu (Rasulullah SAW). Bukankah Allah Swt rawat (Rasulullah SAW) pada saat itu. "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,"

Kamu sedang bingung, sedang susah, bukankah sering Allah berikan petunjuk kepadamu, "dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan." 

Kamu merasakan kesulitan lahir dalam keadaan yatim, tidak ada pendukung, maka Allah Swt jadikan kaya, bukankah saat kamu menikah dengan khadijah Allah Swt tambahkan lagi pendukung untuk misi dakwahmu. Hal di atas merupakan pesan dalam Al-Qur'an, jadi kalau kamu sedang merasa susah, kalau ingin menenangkan diri, ingatlah yang baik-baik yang dulu. Kalau kamu sedang jatuh dalam bisnis, ingatlah saat kamu meningkat dalam bisnismu.

Allah Swt tidak pernah meninggalkanmu. Mungkin ini ujian untuk membuat kamu lebih hebat lagi di masa depan. Kalau kamu tidak tahan dengan bantingan yang sekarang, bagaimana kamu bisa mengatasi 'pelintiran' yang akan datang. Karena dalam kehidupan bukan cuma dibanting, kamu akan mengalami penyingkiran, penyungkuran, lipatan, guntingan, bantingan, dan macam-macam.

Jadi kalau satu gaya belum bisa kamu atasi, bagaimana kamu bisa berharap mendapatkan turunan yang lainnya. Selalu ingat, bahwa jika hidup kamu ingin tampil gaya, kamu harus selalu merasakan tekanan dalam kehidupan, karena F selalu berbanding lurus dengan P, hukum pascalnya, gaya berbanding lurus dengan tekanan, kalau orang-orang yang ingin tampil gaya dalam kehidupan, maka dia mesti siap menghadapi tantangan-tantangan hidup yang diatasi.

Turun ayat sampai ujungnya, jadi kalau kamu sudah begini lagi, jangan pernah kamu membentak orang lain, jangan pernah merendahkan orang lain, karena Allah Swt pun menjaga setiap hamba, sepanjang ia mendekat kepadamu.


Referensi : 




Senin, 04 Juli 2022

Prinsip tentang cerai ketika marah karena setan/Iblis

Miswari Budi Prahesti

Karena perceraian adalah bagian dari program besar iblis. Raja setan ini sangat bangga dan senang ketika ada cecunguknya yang mampu memisahkan antara suami-istri. Disebutkan dalam hadis dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda,

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu. (setan)’” (HR. Muslim, no.2813).

Imam al-Munawi mengatakan, “Sesungguhnya hadis ini merupakan peringatan keras, tentang buruknya perceraian. Karena perceraian merupakan cita-cita terbesar makhluk terlaknat, yaitu Iblis. Dengan perceraian akan ada dampak buruk yang sangat banyak, seperti terputusnya keturunan, peluang besar bagi manusia untuk terjerumus ke dalam zina, yang merupakan dosa yang sangat besar kerusakannya dan menjadi skandal terbanyak.” (Faidhul Qadir, 2:408).

Memang pada dasarnya, talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi, perbuatan ini disenangi iblis karena perceraian memberikan dampak buruk yang besar bagi kehidupan manusia. Betapa banyak anak yang terlantar, tidak merasakan pendidikan yang layak, gara-gara broken home. Bisa jadi, anak-anak korban perceraian itu akan disiapkan iblis untuk menjadi bala tentaranya.
Lebih dari itu, salah satu dampak negatif sihir yang disebutkan oleh Allah dalam Alquran adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman,

“Mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) ilmu sihir yang bisa digunakan untuk memisahkan seseorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah:102)

Sekali lagi, jangan sampai kita mengabulkan keinginan dan harapan iblis. Pikirkan ulang, dan ingat masa depan anak-anak dan nilai keluarga Anda di mata masyarakat.

Kedua, Marah Ada Tiga Bentuk
Pembaca yang budiman, untuk menilai keabsahan perceraian ketika marah, terlebih dahulu perlu kita pahami tentang macam-macam marah, sebagaimana yang dijelaskan para ulama. Ibnul Qayim menulis buku khusus tentang cerai ketika marah, judulnya: Ighatsatul Lahafan fi Hukmi Thalaq al-Ghadban. Beliau menjelaskan bahwa marah ada tiga macam:
Seseorang masih bisa merasakan kesadaran akalnya, dan marahnya tidak sampai menutupi pikirannya. Dia sadar dengan apa yang dia ucapkan dan sadar dengan keinginannya. Marah dalam kondisi ini tidaklah mempengaruhi keabsahan ucapan seseorang. Artinya, apapun yang dia ucapkan tetap dinilai dan teranggap. Baik dalam urusan keluarga, jual beli, atau janji, dst.

Marah yang memuncak, sehingga menutupi pikiran seseorang dan kesadarannya. Dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan atau yang dia inginkan. Layaknya orang yang gila, hilang akal, kemudian ngamuk-ngamuk. Marah pada level ini, ulama sepakat bahwa semua ucapannya tidak teranggap dan tidak diterima. Baik dalam urusan muamalah, nikah, sumpah, janji, dst.. Karena ucapan seseorang ternilai sah menurut syariat, jika orang yang mengucapkannya sadar dengan apa yang dia ucapkan.

Marah yang tingkatannya pertangahan dari dua level di atas. Akal dan pikirannya tertutupi, namun tidak sampai total. Layaknya orang stres yang teriak-teriak, lupa daratan. Tidak sebagaimana level sebelumnya. Untuk marah dalam kondisi ini, statusnya diperselisihkan ulama. Ada yang mengatakan ucapannya diterima dan ada yang menilai tidak sah. Kemudian Ibnul Qayim menegaskan, “Dalil-dalil syariat menunjukkan (marah dalam kondisi ini)tidak sah talaknya, akadnya, ucapannya membebaskan budak, dan semua pernyataan yang membutuhkan kesadaran dan pilihan. Dan ini termasuk salah satu bentuk ighlaq (tertutupnya akal), sebagaimana keterangan para ulama.
(Ighatsatul Lahafan fi Hukmi Thalaq al-Ghadban, Hal. 39)

Ketiga, Kalimat ‘cerai’ Ada Dua
Sebelum melanjutkan pembahasan lebih jauh, kita perlu memahami bahwa kalimat cerai dan turunanya ada dua: lafadz sharih (tegas) dan lafadz kinayah (tidak tegas). Sayid Sabiq dalam Fiqh Sunah menjelaskan:

Lafadz talak bisa dalam bentuk kalimat sharih (tegas) dan bisa dalam bentuk kinayah (tidak tegas).

a. Lafadz talak sharih adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan pelaku. Atau dengan kata lain, lafadz talak yang sharih adalah lafadz talak yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian. Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kamu saya pisah selamanya, kita bubar…, aku lepaskan kamu, dan semua kalimat turunannya yang tidak memiliki makna lain selain cerai dan pisah selamanya.

Imam as-Syafi’i mengatakan, “Lafadz talak yang sharih intinya ada tiga: talak (arab: الطلاق), pisah (arab: الفراق), dan lepas (arab: السراح). Dan tiga lafadz ini yg disebutkan dalam Alquran.” (Fiqh Sunah, 2:253).

b. Lafadz talak kinayah (tidak tegas) adalah lafadz yang mengandung kemungkinan makna talak dan selain talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., jangan pulang sekalian..,

Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya. Sayid Sabiq mengatakan, “Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Mengingat makna kalimat itu sangat terang dan jelas.” (Fiqh Sunah, 2:254)
Hal yang sama juga ditegaskan dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (Ensiklopedi Fiqh),

“Para ulama sepakat bahwa talak dengan lafadz sharih (tegas) statusnya sah, tanpa melihat niat (pelaku)” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 29:26)

Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi dengan melihat niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status perceraiannya sah. Bahkan sebagian ulama hanafiyah dan hambali menilai bahwa cerai dengan lafadz tidak tegas bisa dihukumi sah dengan melihat salah satu dari dua hal; niat pelaku atau qarinah (indikator). Sehingga terkadang talak dengan kalimat kinayah dihukumi sah dengan melihat indikatornya, tanpa harus melilhat niat pelaku.

Misalnya, seorang melontarkan kalimat talak kinayah dalam kondisi sangat marah kepada istrinya. Keadaan ‘benci istri’ kemudian mengucapkan kalimat tersebut, menunjukkan bahwa dia ingin berpisah dengan istrinya. Sehingga dia dinilai telah menceraikan istrinya, tanpa harus dikembalikan ke niat pelaku.

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat, semata qarinah (indikator) tidak bisa jadi landasan. Sehingga harus dikembalikan kepada niat pelaku. Ini merupakan pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, sebagaimana keterangan beliau di Asy-Syarhu al-Mumthi’ 11:9.

Kemudian terkait masalah ini, ada satu ucapan yang sama sekali tidak mengandung makna talak sedikit pun. Baik secara tegas maupun kiasan. Untuk kalimat semacam ini sama sekali tidak dinilai sebagai talak, apapun niatnya. Misalnya mengumpat istrinya, atau menjelekkannya, dst. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Jika kalimat yang dilontarkan sama sekali tidak mengandung kemungkinan makna talak, maka status talak tidak jatuh (baca: tidak sah), meskipun pelaku berniat untuk menceraikannya ketika dia mengucapkan kalimat tersebut. Misalnya, seseorang mengatakan, ‘Kamu pendek.., kamu ketinggian..’, dan orang ini menyatakan, ‘Saya berniat untuk menceraikannya.’ Yang demikian hukumnya tidak jatuh talaknya. Karena kalimat semacam ini sama sekali tidak mengandung makna talak. (Asy-Syarhu al-Mumthi’, 13:66)

Keempat, Cerai Ketika Marah Terdapat sebuah hadis, dari A’isyah radhiallahu’anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada talak dan tidak dianggap kalimat membebaskan budak, ketika ighlaq.” (HR. Ahmad, no.26403, Ibnu Majah, no.2046, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)
Makna kata: ighlaq : terdesak. Karena orang yang terdesak kondisinya mughlaq (tertutup), sehingga gerakannya sangat terbatas. (An-Nihayah fi gharib al-atsar, 3:716)

Ada juga sekelompok ulama yang memaknai ighlaq dengan marah. Dalam arti marah yang sanngat hebat, sehingga kemarahannya menghalangi kedasarannya, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Berdasarkan hadis ini, ulama menjelaskan bahwa bahwa talak dalam kondisi marah besar, sampai menutupi akal, hukumnya tidak sah. Nah.., dari keterangan macam-macam marah, Imam Ibnul Qayim menjelaskan bahwa talak hukumnya jika marahnya baru pada level pertama, yaitu marah yang masih bisa merasakan kesadaran akalnya, dan marahnya tidak sampai menutupi pikirannya. Dia sadar dengan apa yang dia ucapkan dan sadar dengan keinginannya.

Sementara talak yang dijatuhkan pada saat marah di level kedua dan ketiga, talaknya tidak jatuh. Untuk marah yang sudah memuncak, sebagaian ulama menegaskan bahwa semua kaum muslimin sepakat talak yang dijatuhkan tidak sah. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Marah yang sampai pada batas, dimana dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan, bahkan sampai pingsan, dalam kondisi ini talak tidak sah dengan kesepakatan ulama. Karena orang ini tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.” (Asy-Syarhul Mumti’, 13:28)

Karena itu, jangan Anda beralasan, ‘Saya talak istri saya ketika marah, jadi gak sah’. Alasan semacam ini bisa jadi tidak diterima. Karena selama Anda masih sadar ketika mengucapkan kata-kata cerai pada istri, maka talak statusnya sah, meskipun Anda lontarkan hal itu dalam keadaan marah.

Kelima, Cerai Tetap Sah Walaupun Anda Tidak Berniat Cerai, Bagian ini sebenarnya mengulang dari keterangan di atas. Namun mengingat banyak orang bersih kukuh untuk menolak talak yang disampaikan dengan kalimat tegas ketika marah maka perlu untuk kami sendirikan dengan rinci. Hampir semua lelaki yang menyesali talaknya ketika marah, mereka beralasan, saya sama sekali tidak berniat mentalak istri saya, saya sama sekali tidak bermaksud demikian, saya cuma ngancam, saya cuma main-main, dan seabreg alasan lainnya. Apapun itu, jika Anda dengan tegas menyampaikan kalimat talak, maka status cerai Anda sah, meskipun Anda sama sekali tidak berniat talak.

Dalilnya, hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga hal, seriusnya dinilai serius, main-mainnya dinilai serius: Nikah, talak, dan rujuk.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Artinya, untuk tiga akad tersebut: nikah, talak, dan rujuk, walaupun dilakukan dengan main-main, statusnya tetap sah, jika syaratnya terpenuhi.
Karena itu, hati-hati dengan kalimat talak yang sharih (tegas), yang tidak mengandung kemungkinan selain makna talak. Perhatikan kutipan penjelasan di atas:
Sayid Sabiq mengatakan, “Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Mengingat makna kalimat itu sangat terang dan jelas.” (Fiqh Sunah, 2:254) artinya jika hatinya tidak diniatkan untuk mentalak hal terbut tidak terjadi talak.

Meskipun Anda main-main, tidak serius, cuma ngancam, atau intinya tidak bermaksud setitik pun, ingat semua alasan ini tidak bisa diterima. Alasan semacam ini bisa diterima, jika kalimat talak yang disampaikan tidak tegas (kinayah).

Keenam, cerai adalah akad lazim yang tidak bisa dibatalkan, Bagian ini akan menjelaskan bahwa talak adalah akad yang mengikat (lazim) dan tidak bisa dicabut. Sebelumnya perlu kita pahami pembagian akad ditinjau dari konsekwensinya, ada dua:

Akad lazim, adalah akad yang mengikat semua pihak yang terlibat, sehingga masing-masing pihak tidak punya hak untuk membatalkan akad. Artinya, begitu kalimat itu diucapkan maka statusnya sah, dan tidak boleh dicabut, Contoh: akad jual-beli, sewa-menyewa, nikah, talak dan semacamnya.

Akad jaiz atau akad ghairu lazim, adalah akad yang tidak mengikat. Artinya salah satu pihak boleh membatalkan akad tanpa persetujuan rekannya. Contoh: akad pinjam-meminjam, wadi`ah, mewakilkan, dll. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30:230)

Ketujuh, hindari kalimat-kalimat bermakna cerai ketika marah Kami sangat yakin, ketika Anda marah, Anda ingin mengungkapkan semua isi hati Anda. Apalagi ketika ditunggangi perasaan benci kepada istri. Bayangan ‘sayang-sayang’ di waktu Anda berkenalan dengan calon istri Anda seolah pudar tanpa tersisa sedikit pun. Islam tidak melarang Anda meluapkan perasaan Anda dan ledakan hati Anda. Tapi Islam mengatur dan mengarahkan kepada sikap yang benar. Namun sungguh sangat disayangkan, betapa banyak orang yang kurang menyadari. Tidak ada yang bisa kami nasihatkan, selain hindari semaksimal mungkin kalimat yang secara tegas menunjukkan makna talak. Dengan bahasa yang lebih tegas, hindari kalimat talak sharih sebisa mungkin. Ini jika Anda masih ingin bersama keluarga Anda.

Jadilah Keluarga yang Tidak Gegabah
Dari A’isyah radhiallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah kelembutan menyertai sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan semakin memperburuk-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).