This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 30 Juni 2022

Menjadi makhuk yang di cintai Allah Swt


Semua manusia pasti ingin menggapai kesuksesan. Manusia dianugerahi oleh Allah swt. naluri yang menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Beribadah dan melaksanakan tugas sebagai khalifah adalah tujuan penciptaan manusia, sedangkan ibadah tidak dapat terlaksana dengan baik bila kebutuhan manusia tidak tercukupi. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan dunia untuk mencapai sukses itu dapat dijalankan bersamaan dengan menggapai kesuksesan akhirat.

Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sejati diraih jika seluruh capaian itu memberi manfaat bagi orang lain sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak, saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar umur yang Allah berikan kepada manusia tidak sia-sia, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

Sifat dan Perilaku yang Disukai Allah Swt, Dalam menjalani hidup, manusia harus menjadikan Allah Swt sebagai tujuan dengan senantiasa mengharap ridha-Nya dan menjadikan surga sebagai cita-cita. Demikian juga hendaknya memandang kesuksesan. Untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt. dan menjadi orang yang disukai-Nya. Berikut ini uraian tentang macam sifat atau perilaku manusia yang disukai oleh Allah swt. berdasarkan dalil dalam al-Qur’an.

Kata al-muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin yang terambil dari kata ahsana-ihsana. Rasulullah saw. menjelaskan makna ihsan sebagai berikut: “Engkau menyembah Allah Swt, seakan-akan melihat-Nya dan bila itu tidak tercapai maka yakinlah bahwa Dia melihatmu” (HR Muslim). Dengan demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif, seakan-akan Anda melihat Allah Swt atau paling tidak selalu merasa dilihat dan diawasi oleh-Nya.

Al-Muttaqin, Takwa dapat diartikan sebagai perbuatan menghindari ancaman dan siksaan dari Allah swt. dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa selalu menuntun seseorang untuk senantiasa berhati-hati dalam berperilaku. Shihab (2013) menjelaskan bahwa terkait dengan ketakwaan, Allah memberikan dua macam perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu perintah takwini dan perintah taklifi. Perintah takwini, yakni perintah Allah terhadap objek agar menjadi sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Ia biasa digambarkan oleh firman-Nya dengan “Kun fayakun”. Hal ini tercantum dalam beberapa dalil dalam al-Qur’an, antara lain QS. Fushshilat:11 dan QS. Al-Anbiya’:69. Kedua dalil tersebut menunjukkan betapa kuasa Allah Swt atas apa pun yang Ia kehendaki akan terjadi dengan segera.

Kedua, perintah taklifi, yaitu perintah Allah Swt terhadap makhluk yang dibebani tugas keagamaan (manusia dewasa dan jin) untuk melakukan hal-hal tertentu. Hal ini dapat berupa ibadah murni, seperti shalat, puasa, maupun aktivitas lainnya yang bukan berbentuk ibadah murni, seperti bekerja untuk mencari nafkah, menikah, dan lain-lain (Shihab, 2013). 

Dalam konteks berinteraksi dengan sesama manusia, terdapat sebuah pepatah terkenal, yaitu “Sebanyak Anda menerima, sebanyak itu pula hendaknya Anda memberi.” Namun demikian, Allah Swt tidak menuntut hal tersebut. Allah Swt, Sang Maha Pemurah menurunkan firman-Nya dalam QS. At-Taghabun:16 yang artinya

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun:16) 

Kita hendak membicarakan prioritas dalam konteks ketakwaan, dapat diasumsikan dengan ilustrasi berikut ini: prioritas ketakwaan bagi penguasa adalah berlaku adil; bagi pengusaha adalah jujur; bagi guru/dosen adalah ketulusan mengajar dan meneliti; bagi si kaya adalah ketulusan bersedekah dan membantu; bagi si miskin adalah kesungguhan bekerja dan menghindari minta-minta. 

Mereka yang bertakwa itulah yang memperoleh janji-Nya dalam QS. At-thalaq:2-3 yang menjelaskan bahwa Allah Swt akan memberikan rezeki dan jalan keluar atas setiap permasalahan bagi hamba-Nya yang bertakwa dan tawakal kepada-Nya.

Al-Muqsithin, Kata al-Muqsithin adalah bentuk jamak dari kata muqsith, yang diambil dari kata awasatha yang biasa dipersamakan maknanya dengan berlaku adil. Menariknya, tidak ditemukan bunyi pernyataan al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil dengan kata ‘adl/adil, tetapi ditemukan perintah menegakkan al-qisth, yakni dalam beberapa firman-Nya: QS. Al-Maidah:8; QS. An-Nisa’:3; QS. AL-Hujurat:9.

Al-Mutathahhirin, Kata al-mutathahhirin dapat diartikan sebagai kesucian dan keterhindaran dari kotoran/noda. Salah satu pernyataan al-Qur’an bahwa Allah menyukai al-mutathahhirin ditemukan dalam QS. Al-Baqarah:222 yang menjelaskan tentang larangan seorang suami mencampuri istri yang sedang haid. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

At-Tawwabin, At-tawwabin berarti kembali ke posisi semula. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, setan akan terus berusaha merayu manusia. Oleh sebab itu, hendaknya manusia yang berdosa segera bertaubat agar kembali suci. Allah Swt., Sang Maha Pengampun sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat atas kesalahan-kesalahannya dan tidak mempersulit. Dalil yang menjelaskan tentang at-tawwabin tercantum dalam firman Allah Swt., di antaranya QS. Al-Baqarah:37, QS. An-Nisa’:31, QS. An-Nisa’:17.

Ash-Shabirin, As-shabirin berarti sabar. Seorang yang sabar akan menahan dri, dan untuk itu memerlukan kekukuhan jiwa dan mental baja agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya (Shihab, 2013). Mustaqim (2013) juga berpendapat bahwa sabar berusaha keras untuk mencapai tujuan, menahan diri dari rasa malas dan lelah. Banyak firman Allah Swt dalam al-Qur’an yang berisi perintah kepada manusia untuk bersabar. dua kali al-Qur’an berpesan agar menjadikan shalat/permohonan kepada Allah Swt dan sabar sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki (QS. Al-Baqarah:45, 153). Sabar selalu pahit awalnya, tapi manis akhirnya (QS. Ali Imran:186). Dengan kesabaran dan ketakwaan akan turun bantuan Ilahi guna menghadapi segala macam tantangan (QS. Ali Imran:120). Allah Swt memerintahkan sabar dalam menghadapi yang tidak disenangi maupun yang disenangi.

Al-Mutawakkilin, Al-mutawakilin dapat diartikan mewakilkan. Perintah tawakal kepada Allah Swt dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak sebelas kali (Shihab, 2013). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap aktivitas kehidupan kita, seorang Muslim dituntut untuk berusaha sambil berdoa dan setelah itu ia dituntut untuk berserah diri kepada Allah. Ketika manusia telah berusaha keras kemudian menyerahkan semuanya pada Allah, manusia harus yakin bahwa apa pun ketetapan Allah merupakan pilihan terbaik untuknya, sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah:216.

Dalam berusaha dan berserah kepada Allah, tentu manusia tidak boleh hanya duduk diam menunggu jawaban ataupun keajaiban. Manusia perlu terus berdoa mendekatkan diri kepada Allah Swt. agar benar-benar diberikan yang baik menurut kita (sesuai keinginan) dan baik menurut Allah Swt. Menyampaikan hal-hal yang bisa dilakukan untuk meminta kepada Allah Swt, yaitu (a) memperbanyak shadaqah, (b) bangun untuk shalat tahajud, dan (c) memperbanyak silaturahmi. Selain tiga daya pengungkit rezeki tersebut, tentu masih banyak amalan lainnya. Jika dikerjakan secara istiqamah, insya Allah, Allah Swt akan mempermudah segala urusan dan pencapaian cita-cita makhluk-Nya, Amin ya robbal alamin.

Kerja Sama dan Network, Dalam QS. Ash-Shaf:4, Allah berfirman yang artinya,  “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat di atas menunjukkan perlunya kebersamaan, network, dan koordinasi. Ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan dalam segala aktivitas positif, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam melaksanakan aneka aktivitas, itu sebabnya, shalat berjamaahn lebih diutamakan daripada shalat sendirian. Di sisi lain, kebersamaan itu tidak harus menjadikan semua pihak melakukan satu pekerjaan yang sama, melainkan perlu pembagian kerja yang diatur dalam satu network yang baik.

Akhlak Mulia, Bahwa ada empat sifat khusus yang disebut oleh QS. Al-Maidah:54 yang menjadi sebab tercurahnya cinta Allah Swt kepada manusia, yaitu (a) bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, (b) mulia/memiliki harga diri dan bersikap tegas terhadap yang kafir, (c) berjihad di jalan Allah Swt, dan (d) tidak takut kepada celaan pencela.

Iman adalah fondasi dalam beramal shalih sebab Allah Swt hanya akan menerima amal shalih makhluk yang beriman kepada-Nya. Kemampuan beramal shalih inilah yang dapat dikatakan sebagai kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis Nabi Muhammad saw. yang banyak dikenal umat Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” merupakan landasan pokok bagi manusia untuk menyikapi kesuksesan yang telah dimiliki. 

Sejatinya, semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang dilakukan. Semakin tinggi gelar pendidikan yang dan ilmu yang diperoleh, semakin besar amanah untuk menyampaikannya kepada orang lain. Semakin banyak kekayaan yang didapat, semakin banyak zakat mal dan shadaqah yang harus dikeluarkan untuk orang lain.

dan semoga kita menjadi sebaik-baiknya umat dan sebaik baiknya manusia yang dapat bermanfat bagi kehidupan orang lain, Amin ya robal alamin.


Referensi sebagai berikut ini :




Shalat seseorang tidak akan diterima ketika dalam perutnya terdapat yang haram


Mengenai shalat, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Shalat seseorang tidak akan diterima ketika dalam perutnya terdapat yang haram.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam). Laynul hadits menunjukkan bahwa riwayat ini dikritik. dalam Tanbihul Ghafilin bahwa mengkonsumsi makanan haram akan membuat hidup tidak bahagia. Tidak sampai di situ, amal perbuatan orang tersebut akan tertolak dan dalam suatu riwayat bahkan disebutkan tidak akan diterima hingga 40 hari. 

Ayat yaa ayyuha an-naasa kuluu mimmaa fi al-ardhi halalan thayyiba, suatu hari dibacakan di hadapan Rasulullah Saw., kemudian Saad bin Abi Waqqas berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah Swt agar menjadikanku orang yang dikabulkan doanya.” Rasulullah berkata, “Wahai Saad perbaikilah makananmu maka engkau akan menjadi orang yang dikabulkan doanya. Demi Zat yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh seorang hamba yang memakan sesuap makanan haram dalam perutnya maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama empat puluh hari, dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan tidak halal dan hasil riba maka neraka lebih pantas untuknya.” (HR. Thabrani).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang tafsir halalan dalam surat Al-Baqarah ayat 168 pada hadis di atas, bahwa alasan Allah Swt memerintahkan hamba-Nya agar hanya memakan makanan yang halal, sebab yang halal itu baik untuk hati, badan dan akal.

Hadis di atas terdapat dalam kitab Mu’jam al-Ausath karya Imam Thabrani dan beliau menghukuminya sebagai hadis yang lemah, namun permasalahan tersebut juga dibahas dalam hadis lain yang memiliki derajat shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan redaksi yang berbeda, tapi tanpa menyebutkan berapa lama doa dan amal ibadah orang itu tertolak.

Sebagaimana dalam hadis berikut diriwayakan HR Muslim, sebagai berikut ini : Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “wahai manusia sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan sungguh Allah memerintahkan orang-orang mukmin sebagaimana yang telah diperintahkan kepasa para rasul. Lalu Allah berfirman, “wahai para rasul, makanlah hal-hal yang baik, bekerjalah dengan benar sesungguhnya aku maha tahu dengan apa yang kalian kerjakan. Wahai orang beriman makanlah hal baik yang telah kami berikan pada kalian. Kemudian Ia menceritakan ada seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, rambutnya kusut dan berdebu, sambil menengadahkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Wahai Tuhan, Wahai Tuhan,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin ia akan dikabulkan permohonannya.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa seseorang yang memakan makanan haram seperti babi, minuman keras atau didapatkan dari usaha yang haram seperti korupsi, maka tidak akan diterima amal perbuatannya serta doanya susah terkabul. Tidak hanya konsumsi makanan haram, begitu juga bagi setiap orang yang memakai barang haram seperti hasil curian.

Menurut Imam Qurthubi, maka mungkin orang tersebut akan diterima amal ibadahnya sedangkan ia melakukan hal yang dilarang, serta hal-hal haram tersebut melekat dan berada dalam tubuhnya. Hal tersebut menjadikannya tidak berhak untuk mendapatkan anugerah terkabulnya doa dan diterimanya amal ibadah.

Penyebab amal ibadah tidak diterima yang pertama adalah karena seseorang meringan-ringankan salat. Meringan-ringankan di sini sama seperti menyepelekan ibadah. Anda mungkin sudah sering melihat orang-orang banyak yang menunda-nunda salatnya demi mengerjakan urusan dunia.

Jangan sampai hal ini terjadi pada kita karena dapat menyebabkan amal ibadah tidak diterima oleh Allah SWT. Imam al-Sahdiq as mengatakan, ”Demi Allah, Bahwasanya ada seorang laki-laki yang melakukan salat selama lima puluh tahun, tetapi tidak ada satupun salatnya yang diterima. Mana ada yang lebih mengerikan dari hal ini, demi Allah, sesungguhnya kalian tahu, baik dari tetangga atau sahabat kalian bahwa orang itu tidak diterima salatnya karena ia meringan-ringankannya.”

Penyebab amal ibadah tidak diterima yang kedua adalah karena durhaka pada kedua orang tua. Nabi selalu memerintahkan kita untuk menghormati orang tua, terutama ibu. Nabi sampai menyebut ibu sampai tiga kali, kemudian baru ayah.

Jangan sampai kita durhaka kepada kedua orang tua. Selalu jaga setiap perkataan dan perbuatan kita agar tidak menyakiti perasaan mereka. Bersikaplah sopan dan lemah lembut setiap berhadapan dengan orang tua. Karena durhaka kepada orang tua, akan membuat amal ibadah tertolak.

Imam ja’far al-shidiq as mengatakan, "Barang siapa yang memandang kedua orang tuanya dengan pandangan kesal atau benci, maka salatnya tidak diterima."

Do'a dan amal ibadah orang yang mengkonsumsi makanan haram tidak akan Allah terima. Akan tetapi, berapa lama doa dan amal ibadahnya tertolak tidak dapat diketahui sebab riwayat yang menyebut hal itu dhaif, maka bisa saja kurang dari 40 hari atau bahkan lebih.

Hukum shalat dengan barang najis melekat di badan


Kita pernah dihadapkan dengan situasi saat pakaian, sajadah, atau apapun yang melekat pada diri kita ternyata terkena najis, baik saat hendak atau ketika sedang melaksanakan shalat. Bagaimana hukum melaksanakan shalat dengan barang melekat yang terkena najis dan apa yang mesti kita lakukan terhadap situasi tersebut. Di antara sahnya shalat adalah harus melakukannya dalam keadaan suci, yang berkaitan dengan suci badan, pakaian, dan tempat kita shalat. Untuk badan, kita diperintahkan berwudhu jika berhadas kecil dan mandi jika kita berhadas besar (junub, haid, dan nifas). Terkait tempat dan pakaian, kita diperintah menyucikan tempat dan pakaian untuk shalat dari segala najis.

Allah SWT berfirman, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS al-Muddatsir [74]:4). Rasulullah ber sabda, “Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid, hendaklah ia menge riknya kemudian membasuhnya dengan air. Setelah itu, ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, ia berkata, “Saya mendengar seseorang bertanya ke pada Nabi, “Apakah saya boleh shalat dengan pakaian yang saya pakai ketika berhubungan de ngan istri? Rasulullah menjawab, “Boleh, kecuali jika kamu melihat sesuatu (maksudnya najis) maka kamu harus mencucinya.” (HR Ah mad dan Ibnu Majah).

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri. Ketika Rasulullah sedang shalat bersama para sahabat, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya, lalu meletakkannya di sebelah kiri beliau. Ketika melihat hal tersebut, mereka (para sahabat) pun melepaskan sandal mereka. Selesai dari shalat, Rasulullah bertanya, “Ada apa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami melihatmu melepas sandalmu maka kami pun melepaskan sandal-sandal kami.” Rasulullah menjelaskan, “Tadi Jibril mendatangiku dan mengabarkan bahwa pada kedua sandalku ada kotoran/najis maka aku pun melepaskan keduanya.” Beliau juga mengatakan, “Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah membersihkannya. Setelah bersih, ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Mengenai hukum menjauhi dan menyucikan tempat dan pakaian dari najis ini, jumhur ulama dari Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa suci tempat dan pakaian merupakan syarat sahnya shalat. 

Dalam Mazhab Maliki ada dua pendapat, yang pertama bahwa menghilangkan najis itu adalah sunah dan pendapat yang kedua adalah fardhu jika ingat dan kewajibannya terhapus jika lupa. 

Imam Syaukani berpendapat, suci pakaian hukumnya wajib, tapi bukan syarat sah shalat. Maka, jika seseorang shalat dan ada najis di pa kaiannya berarti ia telah meninggalkan yang wajib, tapi shalatnya tidak batal. Hal itu berbeda dengan jika dianggap sebagai syarat sah shalat, di mana jika dia shalat dan ada najis di pakaiannya maka shalatnya batal dan dia harus mengulang lagi. 

Berdasarkan pendapat jumhur ulama tersebut, siapa yang shalat dengan pakaian yang ter kena najis dan ia mengetahuinya maka shalatnya batal dan ia wajib mengulangi lagi. Sedangkan, jika dia shalat dengan pakaian yang bernajis tapi dia lupa atau tidak mengetahui keberadaan najisnya dan baru mengetahui setelah selesai shalatnya maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulangi lagi. 

Jika dia mengetahuinya ketika dalam shalat maka jika memungkinkan untuk me lepaskan pakaian yang terkena najis tersebut tanpa mem buka auratnya maka ia melepaskannya dan melanjutkan shalatnya. Hal itu berdasarkan hadis Nabi di atas yang menjelaskan beliau mencopot sandal yang terkena najis dan terus melanjutkan shalat dan tidak mengulanginya. 

Tapi, jika tidak memungkinkan untuk melepas kannya karena akan membuka auratnya hendaklah ia memutus shalatnya untuk mengganti pakaiannya. Karena, menurut jumhur ulama, suci dari najis merupakan syarat sah shalat.  

Terdapat 7 Dosa sangat besar yang dapat membinasakan, Taubat Tidak menghilangkan hukuman bagi pelakunya


Ketika para sahabatnya bertanya dosa apa saja yang dimaksud, Rasullah menjawab, “'Syirik mempersekutukan Allah Swt., melakukan sihir, membunuh jiwa manusia yang telah diharamkan Allah Swt. kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari perang jihad, menuduh zina pada wanita mu'minat.”

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Tinggalkanlah tujuh dosa yang akan membinasakan. Sahabat bertanya, ‘’Ya Rasulullah, apakah dosa-dosa itu? Jawab Nabi SAW, ‘’Syirik mempersekutukan Allah SWT, melakukan sihir, membunuh jiwa manusia yang telah diharamkan Allah SWT kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari perang jihad, menuduh zina pada wanita mu’minat,’’ (HR Bukhari Muslim).

Dalam hadis di atas, Abu Hurairah menyebut tujuh dosa yang membinasakan. Dikatakan membinasakan karena dari dosa tersebut bukan hanya merusak keimanan diri sendiri, namun juga ada hak-hak orang lian yang dirusak oleh si pembuat dosa.

1) .Syirik kepada Allah Swt, Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu, misalnya dengan berhala maupun makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Orang yang melakukan dosa syirik disebut musrik. Syirik digolongkan menjadi dosa yang sangat besar, dan Allah SWT tidak akan mengampuni dosa ini.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Ia kehendaki. Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48).

Firman Allah SWT dalam QS An-Nisa di atas mengisyaratkan bahwa Allah Swt membuka pintu ampunan selebar-lebarnya bagi pendosa apapun, namun tidak untuk dosa syirik.

Selain karena syirik adalah bentuk kedurhakaan seorang makhluk kepada khaliq, syirik juga termasuk dalam kategori dosa tertinggi dari dosa apapun menurut Qur'an dan sunnah yang ganjarannnya adalah neraka, apabila si musyrik tidak menyadari dan bertaubat.

Abdullah bin Mas’ud r.a mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya akan masuk neraka,” (HR Bukhari Muslim)

2). Sihir tergolong dosa yang sangat besar, karena sihir merupakan salah satu perbuatan setan dan orang yang melakukannya termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir.

Kata Imam Adz-Dzahabi rahimahullahdalam kitabnya Al-Kabair, “Sihir termasuk dosa besar karena seorang tukang sihir pasti kufur terlebih dahulu kepada Allah.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 102.

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir. Padahal Sulaiman tidak kafir hanya setan-setanlah yang kafir…,” (QS Al-Baqarah: 102).

Tingkatan sihir hampir dekat dengan syirik. Jika syirik adalah bentuk kedurhakaan dan pengingkaran seorang hamba pada dzat dan kuasa Allah SWT, maka sihir adalah perbuatan yang tidak hanya dilakukan atas dasar pengingkaran pada Allah, namun juga penyakit hati yang tertanam pada sesama yang menyebabkan ia buta sehingga membinasakan orang lain, bisa dalam bentuk membuat hidupnya sengsara, tertimpa penyakit, atau pun sampai menyebabkan saudara semuslim tersebut meninggal karena penyakit hatinya yang kian bengkak tersebut.

Disebutkan dalam hadis, lantaran perbuatan sihir ini sungguh merugikan diri sendiri dan orang lain, maka amal ibadah pelaku sihir tidak diterima Allah SWT hingga ia sadar, bertaubat dan memohon maaf pada orang yang telah ia rugikan.

3). Membunuh, Allah Swt berfirman dalam surah Ali Imran ayat 21 sbb :

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. Maka gembirakanlah bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih,” (QS Ali Imran: 21).

Membunuh sesama Muslim adalah dosa besar di hadapan Allah dan tercela di hadapan manusia. Masalah pembunuhan secara detail dijelaskan oleh Allah, di antaranya dalam surah An-Nisaa, Allah berfirman,

“Dan tidak layak bagi seorang Mukmin membunuh seorang Mukmin yang lain kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barang siapa membunuh seorang Mukmin dengan tidak sengaja hendaklah ia memerdekakan hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga (si terbunuh) kecuali jika keluarga si terbunuh itu ridha. Jika si terbunuh itu dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak memperolehnya (hamba sahaya) maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” 
(QS An-Nisaa: 92).

Dalam surah lain, agar lestarinya kelangsungan hidup manusia, tidak terjadi pembunuhan di antara sesama Muslim, dan jera-nya orang-orang yang terlanjur membunuh sesama, Allah  mengatur masalah pembunuhan melalui hukum Qishash.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti cara yang baik dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih,” (QS Al-Baqarah: 178).

Membunuh sesama muslim adalah termasuk dosa besar baik dihadapan Allah Swt dan tercela dihadapan manusia. Islam sangat mengatur hak-hak tiap muslim agar dapat hidup secara tentram dan saling menghargai hak-hak tersebut. Tak hanya sesama muslim, kepada kaum kafir yang jika si pembunuh ada perjanjian damai pun Allah mengatur ganjaran yang harus dilakukan si pembunuh tersebut. Oleh sebabnya, dalam Islam, masalah pembunuhan secara detail dijelaskan oleh Allah, di antaranya yakni dalam surah An-Nisaa, 

Allah berfirman, “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan tidak sengaja hendaklah ia memerdekakan hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga (si terbunuh) kecuali jika keluarga si terbunuh itu ridha. Jika si terbunuh itu dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak memperolehnya (hamba sahaya) maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” (QS An-Nisaa: 92).

Dalam surah lain, agar lestarinya kelangsungan hidup manusia, tidak terjadi pembunuhan di antara sesama muslim, dan jera-nya orang-orang yang terlanjur membunuh sesama, Allah  mengatur masalah pembunuhan melalui hukum Qishash.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti cara yang baik dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih,” (QS Al-Baqarah: 178)


4). Riba Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (peminjam), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (dalam melakukan yang haram).” (HR. Muslim, no. 1598).

Ada kaedah umum dalam memahami riba disebutkan oleh para ulama, “Setiap utang piutang yang ditarik manfaat di dalamnya, maka itu adalah riba.

Ibnu Qudamah rahimahullahberkata, “Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6:436).

Dalam surah Al-Baqarah, Allah Swt berfirman, “Hai orang orang yang beriman bertakwalah pada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman,” (QS Al Baqarah: 278).

5). Makan harta anak yatim, “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta di antara mereka. Jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar,” (QS An-Nisaa: 2).

Memakan harta anak yatim haram hukumnya dalam Islam. Adapun mereka yang memakan harta anak yatim, hakikatnya mereka memakan api dalam perut mereka lengkap dengan neraka sebagai tempat kembalinya, seperti halnya firman Allah Ta’alaa,

“Sesungguhnya orang-orang yang makan harta anak yatim dengan zalim, pada hakikatnya mereka hanya makan api di dalam perut mereka dan mereka akan memasuki neraka sa’ir,” 
(QS An-Nisaaa: 10).

Sepatutnyalah kita menyayangi dan menyisihkan rizki untuk mereka, sebab, setiap Muslim yang mencintai anak yatim, kelak akan berada di surga bersama Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya:

“Siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan orang yang bangun pada malam hari dan puasa pada siang hari dan bagaikan orang yang menghunus pedangnya untuk berjihad tiap pagi dan sore. Kelak, mereka akan berada di surga bersamaku layaknya saudara sebagaimana kedua jari ini bersaudara (yaitu telunjuk dan jari tengah),” (HR Ibnu Majah).

6). Lari dari medan perang/pertempuran, Firman Allah Ta’alaa dalam QS Al-Anfaal, “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur),” (QS. Al-Anfaal: 15).

Ibaratnya, seseorang telah menyerahkan dirinya untuk syahid di jalan Allah SWT, tetapi menyerah karena takut mati. Allah Swt sangat tidak suka terhadap Muslim yang berkepribadian mudah menyerah seperti ini.

7). Menuduh wanita Mukmin berzina, Zina merupakan perbuatan bercampurnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan. Ini adalah dosa yang sangat besar. Pelaku zina akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT baik itu selama mereka di dunia maupun ketika mereka berada di akhirat kelak.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang menuduh seorang wanita sholehah telah melakukan perbuatan zina. Allah SWT berfirman “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan terhormat (berbuat zina), kemudian itu tidak mengemukakan empat saksi, maka hendaklah mereka didera delapan puluh kali dera­an, dan janganlah diterima ke­saksian dari mereka selama -lamanya. Itulah orang-orang fasik.” (QS. An- Nuur ayat 4).

“Sesunguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik lagi beriman (berbuat zina), mereka tertimpa laknat dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar,” (QS An-Nuur: 23).

Tuduhan berzina yang dialamatkan kepada wanita baik-baik padahal mereka tidak pernah melakukannya, mengingatkan kita pada kisah Ibunda Isa as, Maryam. Sudah selayaknya penebar fitnah menerima azab yang dahsyat yaitu neraka jahannam. Sebab ia tidak hanya berdusta di hadapan manusia, tapi juga berdusta di hadapan Zat Yang Maha Mengetahui, Allah Swt.

Referensi : 





harta halal dan haram tidak tidak bisa bersatu


Di dalam Al-Quran juga mengingatkan kepada semua muslim bahwa uang haram, seperti halnya riba, tidak ada kebaikan di dalamnya seperti yang tercantum pada surat Al-Baqarah ayat 276 yang artinya: "Allah Swt memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah". Adapun uang haram menurut Gus Baha bisa menjadi halal dan boleh digunakan apabila memenuhi syarat ini. Maka dari itu perlu diketahui terlebih dahulu tentang kriteria atau syarat bagaimana menggunakan uang haram tersebut. Gus Baha mengatakan bahwa sebelumnya beliau menerima nasehat ini dari orangtuanya.

Semua upaya mendapat uang haram sangat dibenci Allah SWT. Mereka yang memakan uang haram akan mendapat murka Allah SWT. Uang haram sangat berbahaya dan memberi dampak buruk bagi diri sendiri dan juga keluarga. Tak hanya di dunia, dampak uang haram juga akan dibawa sampai ke kehidupan di akhirat kelak.

yang termasuk harta haram sebagai berikut ini :

  • Harta yang haram secara zatnya. Contoh: khomr, babi, benda najis. 
  • Harta yang haram karena berkaitan dengan hak orang lain. Contoh: HP curian, mobil curian
  • Harta yang haram karena pekerjaannya. Contoh: harta riba, harta dari hasil dagangan barang haram.
Berulang kali disebutkan di dalam Al-Qur'an "rezeki yang halal", "rezeki yang baik", berarti ada pula rezeki yang haram atau buruk. Rezeki diartikan oleh para ulama sebagai "pemberian dari Allah" atau "jatah kita". Jadi uang haram pun termasuk rezeki.

Harta riba haram untuk dijadikan sedekah kepada fakir miskin maupun yatim piatu karena uang haram. Maka dari itu, penjelasan ulama asal Madinah ini sangat penting untuk dicermati agar tidak salah dalam melangkah

Bagaimana hukumnya sedekah dengan uang hasil perjudian? Dalam Islam, hukum judi jelas haram. Kalau menggunakan uang judi untuk bersedekah, maka dari sisi pemberi itu seperti mencuci kain dengan air kencing, alias bukannya membersihkan tapi malah tambah kotor.

Pemenang Mendapatkan Harta Taruhan, Terlebih kalau harta atau hadiah taruhan nilainya sangat besar, maka segala daya-upaya pasti dikerahkan oleh semua yang bertaruh untuk bisa mendapatkannya. Pada sisi inilah salah satu sebab mengapa judi diharamkan, karena memakan harta pihak lain dengan cara yang diharamkan.

Apa yang terjadi jika kita memakan makanan haram? Akibat buruk mengkonsumsi makanan dan minuman haram antara lain adalah sebagai berikut: Doa yang dipanjatkan kepada Alah SWT tidak akan dikabulkan. Merusak hati juga akal sehat manusia. Merusak keimanan seseorang.
Berikut merupakan tipe-tipe pekerjaan haram menurut Islam. 
  1. Pekerjaan yang Terindikasi Syirik dan Mengandung Sihir. Pekerjaan yang punya potensi terhadap syirik dan sihir ialah jenis pekerjaan seperti perdukunan, peramal nasib, paranormal, dan sejenisnya.
  2. Jual Beli Hal-hal yang Merugikan.
  3. Memakan Harta Riba.
Dalam pengertiannya harta haram menurut Syaikh Dr. Khalid al-Mushlih adalah semua harta yang didapatkan atau dikumpulkan dengan cara yang melanggar syariat.

Barang Siapa yang Meninggalkan Sesuatu yang Haram maka Dia Akan Mendapatkan Sesuatu yang Halal. Di kisahkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Endang Mintarja mengatakan, "Pelakunya (yang mendapat uang haram) tidak berhak atas rahmat Allah dan syafaatnya Rasulullah SAW." Ia pun memaparkan, haram hukumnya untuk memberikan nafkah pada keluarga menggunakan uang haram.

referensi :










Bagaimana cara taubat dari mengambil harta orang lain, menipu, mencuri


Allah  Swt telah mewajibkan semua orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya. Siapa saja yang tidak melakukannya maka dia berhak mendapatkan hukuman dan kehinaan. Dari Abu Humaid As-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Demi Allah, semua orang yang mengambil sesuatu tanpa menggunakan cara yang benar itu pada hari kiamat nanti akan menghadap Allah sambil memikul sesuatu yang dia ambil tersebut. Sungguh, aku akan mengenal salah seorang kalian yang menghadap Allah sambil memikul unta yang bersuara, sapi yang bersuara, atau kambing yang sedang mengembik.’ Nabi kemudian mengangkat tangannya sehingga putihnya ketiak beliau pun tampak, lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan‘" (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar itu bisa mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya dengan cara-cara yang tepat tanpa harus mempermalukan diri sendiri.

Jika orang yang hartanya diambil itu, saat ini, berdomisili di suatu tempat yang kita tidak bisa mencapainya atau kita tidak mengetahui keberadaan orang tersebut maka uang senilai harta tersebut kita sedekahkan atas nama pemilik harta. Jika pada akhirnya kita berjumpa dengan pemilik maka kita sampaikan kepadanya dua opsi pilihan, yaitu rela dengan sedekah atas nama orang tersebut ataukah tetap meminta haknya. Jika dia memilih sedekah maka pahala sedekah tersebut untuk dirinya. Jika dia tidak rela dengan sedekah maka kita wajib memberikan haknya kepadanya sedangkan pahala sedekah itu menjadi hak kita jika kita telah benar-benar bertobat.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, "Jika Anda mencuri harta milik seorang individu atau pihak tertentu maka Anda berkewajiban untuk menemui orang tersebut dan menyampaikan kepadanya, ‘Ada harta Anda dalam tanggungan saya dengan nilai sekian,’ kemudian perdamaian antara keduanya adalah sebagaimana kesepakatan yang terjadi di antara keduanya".

Akan tetapi, cara di atas boleh jadi berat bagi banyak orang. Tidak mungkin bagi seorang mantan pencuri untuk menemui pemilik harta lalu secara langsung dan terus terang mengatakan, ‘"Dahulu, aku mencuri harta milik Anda senilai sekian,’ atau mengatakan, ‘Dahulu, aku mengambil milik Anda dengan nilai sekian." Jika demikian kondisinya maka harta curian tersebut bisa Anda kembalikan dengan cara lain dengan cara tidak langsung.

Misalnya: Anda serahkan harta tersebut kepada seseorang yang menjadi kawan dari pemilik harta lalu Anda sampaikan kepadanya bahwa harta ini adalah milik Fulan. Kemudian, Anda sampaikan kisah harta tersebut, lalu Anda tutup kisah tersebut dengan mengatakan, "Sekarang, saya sudah bertobat. Saya berharap agar Anda menyerahkan harta ini kepada Fulan (tanpa Anda perlu menceritakan kisah harta tersebut)."

Jika pencuri tersebut telah melakukan hal di atas maka sungguh Allah berfirman dalam surah Ath Thalaq ayat 2 sbb ini : "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka akan Allah berikan kepadanya jalan keluar dari permasalahan yang dia hadapi" (QS. Ath-Thalaq:2).

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberika kemudahan untuk urusannya." (QS. Ath-Thalaq:4)

Akan tetapi, jika Anda mencuri harta milik seseorang yang saat ini tidak Anda ketahui keberadaannya maka solusinya lebih mudah daripada kasus di atas. Cukup Anda sedekahkan harta curian tersebut kepada fakir miskin dengan niat pahala sedekah tersebut diperuntukkan pemilik harta. Dengan demikian, Anda telah bebas dari masalah.

Kisah yang dituturkan oleh Penanya mengharuskan kita untuk menjauhi perbuatan semisal itu. Boleh jadi, ada seseorang yang mencuri karena tidak berpikir panjang dan tanpa menimbang dampak buruknya. Setelah itu, dia mendapatkan hidayah. Akhirnya, dia harus bersusah payah agar terbebas dari dosa mengambil harta milik orang lain.’ (Fatawa Islamiyyah)

Terkait dengan kasus seorang tentara yang pernah mencuri, para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, ‘Jika dia mengetahui keberadaan pemilik harta atau mengenal orang yang mengetahui keberadaan pemilik harta maka wajib bagi mantan pencuri tersebut untuk melacak keberadaan pemilik harta lalu menyerahkan uang curian atau harta yang senilai dengan uang curian tersebut atau sejumlah harta yang menjadi kesepakatan di antara keduanya.

Jika dia tidak mengetahui keberadaan pemilik harta dan dia sudah putus asa untuk bisa melacaknya maka harta curian tersebut atau uang senilai harta curian tersebut disedekahkan kepada fakir miskin atas nama pemilik harta.

Jika pada akhirnya, pemilik harta bisa dilacak keberadaannya maka mantan pencuri tadi wajib menceritakan perbuatan yang telah dia lakukan. Jika pemilik harta rela dengan sedekah maka itulah yang diharapkan. Namun, jika ternyata dia tidak setuju dengan sedekah dan tetap meminta uangnya maka mantan pencuri wajib mengganti harta yang telah disedekahkan sedangkan pahala harta yang telah terlanjur disedekahkan itu menjadi milik orang yang bersedekah. Di samping itu, mantan pencuri ini wajib memohon ampunan kepada Allah Swt serta bertobat dan mendoakan kebaikan untuk pemilik harta yang dulu pernah dia curi.

Referensi sbb ini :



Yang akan terjadi bila memakan harta haram bagi penipu, pencuri & pelaku riba akan mendapat azab di dunia


Memakan Harta Haram Bagi Penipu, Pencuri & Pelaku Riba akan mendapat Azab di dunia.Usaha yang baik dan halal merupakan hal yang terpuji dalam agama Islam, karena  Allah Swt  memerintahkan manusia agar berkerja dan berusaha keras, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Mulk ayat ke 15 sbb ini yang artinya: "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya.Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan"  (Al-Mulk 67:15).

Orang yang selama hidupnya bergelimang dengan harta yang haram akan mendapatkan balasan. Namun, ada pun balasan atau azab langsung dari Allah Swt di dunia terhadap orang yang mendapatkan harta dengan cara haram.

Larangan dalam mencari harta seperti pekerjaan, bisnis, dan semacamnya. Apa saja larangannya,  Penipuan haram, korupsi haram, kolusi, riba, mencuri. Kalau harta ingin diberkahi maka hijrah, tinggalkan semua yang dilarang. Harta haram membentuk perilaku yang tidak sama dengan harta halal. Kalau harta yang dikumpulkan belum mampu mendekatkan Anda dengan Allah Swt, berarti ada yang kurang berkah dari pendapatan di harta tersebut. 

Begitu juga dengan makanan haram atau yang didapatkan dengan cara yang haram. Maka ketika ada orang makan makanan haram, masuk ke perut diolah di dalam perut, beredar dengan darah dan sudah menjadi daging masuk ke telinga,  di telinganya ada sumbatan yang menutup telinanya untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang baik, sehingga tidak masuk ke dalam hatinya orang tersebut. 

Rasullalah Muhammad SAW juga bersabda : "Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah Swt mencukupkan kebutuhan hidupnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak" (HR. al-Bukhari) 

Maka ketika mendengar adzan, lanjutnya, secara duniawi tapi kalimat-kalimat baik tidak akan terdengar oleh telinganya. Melihat orang ke masjid pun tidak ada sentuhan di hatinya.Karena mata terhalang, hati tertutup, bukan karena tidak melihat dan mendengar.

Referensi sebagai berikut : 










Jangan Berpikiran Sempit berkelanjutan hal tersebut akan menghancurkanmu


Ketika kita menghadiri suatu acara dan kita ditempatkan di tempat duduk yang sempit, kita merasa tidak nyaman dan berharap acara tersebut segera berakhir supaya bisa meninggalkan tempat tersebut. Bagaimana jika acara tersebut adalah acara wisuda Anda? Walaupun sempit, Anda tetap menikmati acara tersebut karena Anda adalah salah satu tokoh dalam acara tersebut. Kondisi tempatnya sama, tetapi perasaan bisa berbeda. Anda pasti pernah mengalami hal serupa. Selain itu, pernah tidak Anda mengalami hal berikut ini : 
  1. Kita perlu bertemu dengan tetangga Anda ketika bepergian ke luar kota yang sangat jauh. 
  2. Kita Perlu bertemu dengan seseorang yang tidak Anda sukai ketika Anda sedang menceritakan dia bersama teman Kita.
  3. Anda melakukan wisata di akhir pekan setelah merasa stres dengan bos Anda selama seminggu, tetapi di tempat wisata ketemu dengan bos Anda dan Anda diajak jalan bersama dan pulang bersama. 
  4. Semakin kita ingin menghindari seseorang, Anda malah ketemu dia di tempat Anda berada / bersembunyi.
  5. Kita memikirkan nasi ayam, ketika pulang kerja di sore hari Anda menemukan keluarga Anda memberikan Anda nasi ayam.
Pikiran kita sebenarnya adalah pelopor atau pembentuk. Percaya tidak percaya, apapun yang ada di pikiran kita bisa menjadi kenyataan, tergantung seberapa kuat visualisasi pikiran kita. Semakin sering kita melakukan visualisasi, semakin peka pula kemampuan pikiran kita merealisasikan hal tersebut. 

Mimpi saja bisa menjadi kenyataan. Ketika terjadi sesuatu yang sama persis dengan apa yang pernah muncul dalam mimpi kita, kita menamakannya de javu. Sebenarnya ini juga tidak terlepas dari bagaimana pikiran kita bekerja. Sebelum kita tidur, kita memikirkan suatu masalah. Masalah tersebut akan berlanjut divisualisasikan ketika kita tidur. Sehingga cepat atau lambat, apa yang telah divisualisasikan bisa menjadi kenyataan ketika kita berada di dunia nyata.

Kita memiliki banyak kelebihan sebagai seorang manusia. Kita mampu berpikir, kita mampu analisis, dan kita mampu mewujudkan apa yang telah dipikirkan dan dianalisis. Semakin lama proses tersebut dijalani, kemampuan dan pengalaman kita bertambah. Kita semakin tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup, hal apapun pasti bisa kita lakukan dan lalui. Pikiran itu sendiri juga ikut belajar, pikiran yang mengarahkan hidup kita.

Ketika kita belajar, wawasan kita bertambah, kemudian kebijaksanaan kita juga bertambah. Jika pikiran kita diarahkan ke hal-hal yang bersifat sempit, hidup kita akan dikelilingi oleh kegalauan, kecemasan karena banyak dosa yang kita lakukan. Ketika kamu tahu apa yang menjadi penyebab kamu merasa mandek, kamu jadi tahu solusi yang tepat untuk keluar dari perasaan itu karena kamu tidak bisa mandek selamanya. Ada mimpi besar yang harus dikejar, bersabar dalam cobaan dan ujian, insyaAllah ada jalan keluar.

Jika Anda suka mengubah hal kecil menjadi hal besar hingga mengganggu diri sendiri selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan lebih lama, itu tandanya Anda mempunyai pikiran negatif. Tahukah Anda jika pikiran negatif dapat membuat Anda merasa sedih, cemas, hingga stres. Berpikir negatif bahkan bisa menghilangkan perasaan bahagia dan memengaruhi kesehatan fisik Anda.

Penelitian menunjukkan, jika memiliki emosi atau pikiran negatif berkaitan dengan masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung. Ada juga satu studi yang memberitahu bahwa orang yang berpikir negatif atau bersikap sinis memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia. Itulah mengapa sangat penting untuk mulai belajar menangani dan menghilangkan pikiran negatif mulai dari sekarang juga.

Pikiran negatif terkadang berhubungan dengan cara Anda menjalani hidup dari hari ke hari. Berikut beberapa cara menghilangkan pikiran negatif yang bisa dipraktikkan agar hidup semakin penuh warna dan membantu Anda melihat hidup dari sisi terangnya.

  • Ketahui pikiran negatif apa yang suka memenuhi kepala Anda, kemudian mengubahnya menjadi pikiran positif. Misalnya, ubah pikiran “Saya tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan benar” menjadi “Kadang-kadang memang saya suka berbuat salah. Tapi saya janji akan berbuat yang lebih baik lagi nanti.”
  • Ada banyak hal yang bisa Anda syukuri dan masih bisa nikmati dalam hidup ini.
  • Bersedih memang sah-sah saja dan tidak dilarang. Tapi, jangan biarkan rasa sedih dan pikiran negatif bersarang lama-lama di kepala.
  • Curhatlah dengan seseorang yang dekat dengan Anda. Hal tersebut dapat membantu Anda melihat sesuatu dari cara pandang yang berbeda.
  • Melakukan sesuatu yang membuat diri sendiri senang dan bahagia, misalnya jalan-jalan. Atau temukan sesuatu yang membuat Anda tertawa. Anda juga bisa mencari hobi atau passion dalam hidup agar bisa merasa lebih bahagia.
  • Berbagilah dengan orang yang lebih membutuhkan untuk menambah rasa syukur, sekaligus mengembangkan sikap altruisme Anda.
  • Konsumsi makanan sehat, tidur dengan nyenyak, dan rajin berolahraga.
  • Luangkan waktu dengan keluarga dan teman-teman, bergabung dengan komunitas, tim, atau klub yang Anda sukai, atau temukan hobi baru.
  • Mengenal diri sendiri dan mulai memperhatikan kehidupan dan situasi diri sendiri.
  • Mulai berpikir lebih positif, berkata-kata positif, dan berada di dekat orang-orang yang positif dan melakukan hal-hal positif.
  • Coba yoga atau pilates untuk menenangkan fisik dan spiritual.
  • Sebelum memulai suatu pekerjaan, bacalah pesan-pesan positif atau mendengarkan musik favorit Anda.
  • Seperti kata Elsa di film Frozen, “Let it go” Pikiran negatif akan hilang jika Anda membiarkannya pergi atau merelakannya.
Jangan sampai pikiran negatif menguasai kehidupan Anda. Songsong hidup penuh kebahagian dengan cara menghilangkan pikiran negatif. Segera bertobat kepada Allah Swt semoga salah dan khilaf kita di ampuni Allah Swt. 

Bacalah Dzikir Pendek Ini, Jika Hidup Anda Terasa Sempit, Berat dan Melelahkan


Bacalah Dzikir Pendek Ini, Jika Hidup Anda Terasa Sempit, Berat dan Melelahkan, Dalam kehidupan sehari-hari tentunya ada masa dimana manusia merasa berat dan lelah. Terkadang apa yang kita bayangkan tak seindah dengan kenyataan, mimpi yang sudah terangkai Indah seakan lenyap dalam sekejap. Mungkin selama ini kita sudah berupaya mati-matian untuk menggapai tujuan, akan tetapi seolah hidup tak pernah berpihak kepada kita, perjalanan yang panjang dan menyakitkan kadang membawa kita kepada kemurungan bahkan tangisan, kesedihan, berpaling kepada nikmat Allah Swt, berputus asa, berbuat dosa dan lain sebagianya.

Saat kita semuanya mengalami kondisi seperti ini, salah satu cara untuk menenangkan diri adalah dengan berdzikir, meminta kekuatan dan keteguhan hati kepada sang pencipta, Allah SWT yang menggemgam dan menciptakan alam semesta ini. Satu kalimat dzikir yang sangat sederhana namun syarat dengan makna dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Diantara keutamaan mengucapkan dzikir ini setiap waktu adalah sebagai berikut ini anatar :

  • InsyaAllah diberikan kekuatan pada hati dan pikiran untuk selalu optimis dalam menghadapi pahit manisnya hidup.
  • Jalan keluar dari segala kesusahan dan kebimbangan, penawar segala macam penyakit hati dan kesedihan.
  • Menjauhkan dari malapetaka yang merugikan akibat efek dari rasa penat menghadapi kehidupan dan merupakan salah satu dzikir yang disukai Allah SWT.
  • Memudahkan menemukan pekerjaan dan memberikan keberhasilan pada setiap usaha yang kita kerjakan, menentramkan hati dan menenangkan pikiran.
  • Menjadikan kita setingkat lebih dekat kepada Allah SWT dan sebagai salah satu amalan umat muslim yang berakhlak mulia.
kalimat dzikir tersebut adalah : "Laa haula walaa quwwata illaa Billah"  Artinya : "Tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah."

Saat mengucapkan dzikir tersebut, itu artinya kita telah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah SWT, karena merasa sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu apabila Allah sudah berkehendak.

Oleh karena itu, perbanyaklah membaca dzikir hauqallah ini saat kita sedang terhimpit kesulitan, dihantui ketakutan, mengalami kepenatan hidup, hati yang sedang gelisah dan lain sebagainya. semoga Allah memberi jalan keluar dari kesempitan hidup kita, Aamin ya rabbal alamin.

Hidup sempit berantakan rezeki sedikit


Betapa kita sering merasa sempit dalam hidup. Tak ada gairah, energi dan motivasi untuk melakukan banyak hal. Rasanya sumpek, jumud, dan membosankan. Hidup menjadi tidak bersahabat, tak ada bekas perbaikan kualitas diri, kapasitas keimanan tak jua menanjak. Hidup menjadi begitu-begitu saja dan menjadi benar-benar flat. Dunia menjadi seolah enggan menyapa.

Di sisi lain, amal-amal kebaikan menjadi sulit dilakukan. Jangankan yang sunnah, fardu pun sekedar menggugurkan kewajiban. Kondisi ini merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa, “Setiap amalan ada waktu semangat dan setiap masa semangat ada putusnya. Barang siapa yang masa putusnya itu kepada sunnahku maka telah mendapatkan petunjuk dan siapa yang masa putus (lemah) nya pada selainnya maka telah binasa.” (HR ibnu Abi ‘Ashim dan Ibnu Hibban)

Dalam hadits lain: “Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah Swt dalam dirinya, maka Allah Swt akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya: Kebingungan, yang tiada putusnya; Kesibukan, yang tidak ada ujungnya; Kebutuhan, yang tidak terpenuhi; dan Keinginan, yang tidak tercapai.” (HR. Ath-Thabrani)

Seringkali kita berhadapan dengan kesibukan yang tiada henti. Semakin dilakukan pekerjaan kita semakin tidak selesai. Sepertinya Allah Swt terus membuat kita tak pernah punya waktu luang. Maka kita harus hati-hati. Jangan-jangan ada hak Allah Swt yang belum ditunaikan paling tidak di pagi hari. Atau boleh jadi yang terjadi adalah ketidak-tenangan. Selalu bingung menghadapi banyak persoalan. Tak pernah thuma’ninah. Banyak hal yang awalnya hanya sebuah keinginan seolah menjadi kebutuhan, terus menerus diperbudak nafsu untuk memenuhi setiap keinginan. Maka kita harus hati-hati. Jangan-jangan segala kebingungan dan tidak tercapainya keinginan adalah bentuk teguran Allah Swt atas abainya kita terhadap hak-hak Allah Swt.

Adalah sunatullah bahwa kita akan bertemu dengan titik-titik di mana kita malas beramal, enggan beribadah. Hanya saja bagi seorang mukmin, kondisi tersebut harus segera disiasati, tidak dinikmati atau bahkan dijadikan justifikasi dari sabda Rasulullah sebagaimana di atas. Kondisi futur sebenarnya bukan kondisi yang tiba-tiba hadir. Melainkan akumulasi dari maksiat-maksiat kecil yang tidak terasa atau bahkan kita anggap sederhana. Sungguh tidak ada dosa besar kecuali akumulasi dosa kecil. Oleh karenanya, sebelum kita terjerumus ke dalam kefuturan pada level yang semakin tinggi, maka kita harus berupaya segera kembali dan bertaubat pada Allah Swt, berlindung dari segala maksiat, baik kecil maupun besar, sengaja atau tidak.

Kualitas kebaikan hubungan dengan Allah Swt merupakan kunci utama kebahagiaan hidup kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 124: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka akan Aku timpakan kehidupan yang dhonka/rusak”.

Dalam ayat tersebut, secara eksplisit Allah Swt memperingatkan kita mengenai bahaya berpaling dari Allah Swt, Na’udzubillah. Saat kita mendapati kehidupan yang “dhonka”, maka kita harus melihat kembali kualitas amal kita. Mesti ada yang salah pada hubungan kita dengan Allah Swt saat kita mendapati masalah pada banyak hal dalam hidup kita. Mesti ada yang salah dengan shalat kita, saat kita tak asing lagi dengan maksiat. Mesti ada yang salah tentang cara dan intensitas interaksi kita dengan Al-Qur’an, saat kita mendapati lisan menjadi liar, sering tak terkendali. Mesti ada yang salah pada frekwensi dzikir kita, saat kita merasa dilupakan, bahkan oleh orang-orang terdekat kita. Mesti ada niat-niat yang tak lurus, saat kita mendapati lelah semata untuk setiap pekerjaan yang diamanahkan.

Hanya ada satu cara untuk mengembalikan hati pada ketenangan. Terlukisnya hidup oleh kebahagiaan. Kembali ke pelukan Yang Maha Penyayang.

Kita harus memaksa diri yang kian lemah, untuk kembali bersungguh-sungguh. Kita harus paksa bibir kita untuk melafadzkan kalimat-kalimat thoyyibah, panggil terus menerus asma Allah Swt, mencoba menghayati setiap doa yang teruntai, bacaan yang terlontar. Berusaha agar Allah Swt selalu di hati. Bukan yang lain. Bukan harta, tahta, buah hati, atau bahkan suami/istri. Mulakan kembali semuanya dengan bismillah. Menyebut asma-Nya. Berharap rahmat kasih sayang Allah Swt. 

Saat kita mendapat kehidupan yang dhonka/rusak segerakah bertobat kepada Allah Swt minta mapunan atas dosa-dosa yang kita perbuat kepada sesama manusia ataupun kepada Allah Swt. semoga tobat kita diterima Allah Swt, Aamin ya robbal alamin.

Rabu, 29 Juni 2022

Hadits tentang Silaturahmi, Keutamaan dan Larangan Memutus Persaudaraan


Hadits tentang Silaturahmi, Keutamaan dan Larangan Memutus Persaudaraan, Muslim dianjurkan untuk menjalin silaturahmi dengan sesama. Ada banyak keutamaan dalam menjalin hubungan antar sesama seperti yang termuat dalam beberapa hadits tentang silaturahmi.  Keutamaan silaturahmi di antaranya merekatkan tali persaudaraan, menambah saudara, mendatangkan keberkahan dan memperpanjang umur. Muslim juga dilarang untuk memutus hubungan silaturahmi karena ada siksa kelak di akhirat. Anjuran menjalin silaturahmi ini termaktub dalam Alquran. Allah SWT berfirman yang artinya sbb ini :

Artinya: "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah Swt perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk". (QS. Ar Ra'du: 21).

Ibnu Katsir menerangkan mengenai ayat tersebut yakni perintah Allah Swt agar menjalin silaturahmi, berbuat baik kepada kaum kerabat dan sanak famili, juga kepada kaum fakir miskin, orang-orang yang memerlukan bantuan, dan mendermakan kebajikan. Mereka (orang-orang beriman) itu takut kepada Tuhannya. Yaitu dalam mengerjakan amal-amal yang harus mereka lakukan dan dalam menghindari perbuatan-perbuatan yang harus mereka tinggalkan.  Dalam hal tersebut mereka merasa di bawah pengawasan Allah Swt dan mereka merasa takut akan hisab yang buruk di hari akhirat. Karena itulah maka Allah memerintahkan mereka untuk tetap berada dalam jalan yang lurus dan istiqamah dalam semua aktivitas dan semua keadaan yang mereka alami. 

Dalam surat lain, Allah melaknat orang-orang yang suka memutus tali silaturahmi sebagaimana dalam firman-Nya. Artinya: "Kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. (Muhammad: 22) 
Yaitu kalian akan kembali kepada kejahiliahan kalian di masa silam dengan membiarkan darah mengalir dan terputusnya hubungan kekeluargaan, Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Muhammad: 23) 

Larangan membuat kerusakan di muka bumi ini bersifat umum dan larangan memutuskan hubungan kekeluargaan bersifat khusus, bahkan Allah Swt memerintahkan untuk berbuat kebaikan di muka bumi dan menghubungkan tali persaudaraan, yaitu dengan berbuat baik kepada kaum kerabat melalui ucapan dan perbuatan serta bersedekah kepada mereka. 

referensi sbb ini :



Keburukan dan kejelekan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi


Keburukan Akibat Memutuskan Hubungan Tali Silaturahmi, Saat menjalankan ibadah di bulan ramadan, anjuran yang selalu kita dengar sejak kecil, salah satunya ialah menjaga hubungan tali silaturahmi. Hubungan tali silaturahmi yang dimaksud ialah hubungan dengan keluarga, tetangga, dan kerabat. Jangankan sebagai makhluk beragama, sebagai manusia biasa saja, kita sebaiknya tidak memutuskan hubungan tali silaturahmi dengan sesama.Hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Apabila kamu berani memutuskan hubungan tali silaturahmi dengan sesama maka sebenarnya kamu termasuk dalam golongan orang yang angkuh dan sombong. Islam mengajarkan kedamaian dan kebersamaan, menyambung tali silaturahmi pasti lebih baik daripada memutuskannya. Allah SWT berfirman mengenai hubungan silaturahmi:

Allah Swt berfirman yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa ayat 1).

Melalui ayat dari Surat An-Nisa ayat 1, kita mengetahui bahwa memutuskan hubungan tali silaturahmi diharamkan dan tidak disukai oleh Allah SWT. Selain itu, juga telah merangkum 5 keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturhami. Simak ulasan lengkapnya berikut : 

Dilaknat Oleh Allah SWT,  Keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi yang pertama ialah dilaknat oleh Allah SWT. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa hukum memutuskan tali silaturahmi itu haram. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini yang artinya: “Maka apa kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan silaturahmi, Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah Swt dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan mata mereka.” (QS. Muhammad: 22-23).

Melalui ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa Allah SWT melaknat orang-orang yang membuat kerusakan dan memutuskan tali silaturahmi. Hanya seorang manusia yang penuh kesombongan serta kebencian saja yang sanggup memutus tali silaturahmi.

Sekiranya ada suatu kesalahan yang menyakiti hati dari seseorang kepadamu, maka hendaknya kamu bisa memaafkannya dan menahan diri dari perilaku dengki dan dendam. Sesungguhnya Allah SWT saja Maha Pemaaf, bagaimana bisa seorang hambanya yang tidak sempurna penuh dengan amarah hingga memutuskan tali silaturahmi.

Oleh karenanya, agar tidak dilaknat Allah SWT, sambunglah tali silaturahmi dengan sesama terutama di bulan ramadan ini. Ikhlaskan dan maafkanlah kesalahan mereka yang pernah menyakitimu. Memaafkan pasti membuatmu lebih tenang dan bahagia.

Menghambat Terkabulnya Sebuah Doa, Kedua, keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi adalah terhambatnya sebuah doa dikabulkan oleh Allah SWT. Jika kamu memanjatkan doa kepada Allah SWT namun belum juga dikabulkan, maka hendaknya kamu berintropeksi diri, kemungkinan salah satu penyebabnya karena kamu memutus hubungan tali silaturahmi dengan sesamamu.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sbb ini :

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi, melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: Pertama : Allah akan segera mengabulkan do’anya, 2. Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi lantas berkata, ”Allah Swt nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian” (HR. Ahmad).

Maka dari itu, merugilah mereka yang memutuskan tali silaturahmi karena doa-doanya bisa saja menjadi terhambat ketika hendak dikabulkan oleh Allah SWT. Daripada doamu tidak terkabulkan, lebih baik bertakwalah pada Allah SWT dan sambunglah tali silaturahmi.

Hukumannya Disegerakan di Dunia, Ketiga, keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi ialah hukumannya tidak disimpan di akhirat melainkan langsung diturunkan ke dunia. Hukumannya bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya ialah tidak terkabulnya sebuah doa dan sulit mendapatkan rezeki. Adapun hadis yang membenarkan soal ini, Rasulullah SAW, bersabda yang artinya sbb ini: “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allâh siapkan baginya di akhirat daripada baghyu (kezhaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan kerabat” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, dan lainnya).

Jadi, apabila saat ini kamu sering mendapat musibah, coba ingat kembali, hubungan silaturahmi mana yang kamu putuskan. Bisa jadi cobaan berat yang kamu alami ini karena kamu pernah berusaha untuk memutus tali silaturahmi dengan keluarga atau kerabat.

Terputus dari Rahmat Allah SWT, Keempat, siapapun yang memutuskan tali silaturahmi akan mendapatkan keburukan berupa terputus dari kebaikan dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT. Sesungguhnya manusia yang hidup bahagia di dunia adalah mereka yang senantiasa berada dalam naungan dan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sbb ini :

“Sesungguhnya (kata) rahmi diambil dari (nama Allah) yaitu ar-Rahman. Allah berkata, “Barangsiapa menyambungmu (rahmi/kerabat), Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya.” (HR. Bukhari).

Sudah jelas dalam hadis tersebut bahwa Allah SWT akan mencabut rahmat dari hamba-Nya yang memutuskan tali silaturahmi. Hidup tanpa rahmat dari Allah SWT pasti akan menjadi kehidupan yang sulit dan penuh cobaan. Maka dari itu, peliharalah tali silaturahmi dengan sesama sebaik mungkin agar kamu tidak terputus dari rahmat-Nya.

Dijauhkan dari Surga, Terakhir, keburukan yang kamu dapatkan jika memutus hubungan tali silaturahmi ialah dijauhkan dari surga. Tentu akan sangat merugi bagi setiap manusia yang jalannya menuju surga dijauhkan atau disulitkan akibat memutus hubungan tali silaturahmi. Seperti yang dijelaskan hadis berikut ini :“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi memiliki keutamaan dan banyak membawa manfaat untukmu, surga pun akan dekat denganmu. Oleh karenanya jauhilah permusuhan atau perkara lainnya yang menyebabkanmu berkelahi dan akhirnya memilih untuk memutus tali silaturahmi. 


Referensi sbb :






Bahaya dan dosa memutuskan tali silaturrahmi


Memutuskan silaturahim merupakan hal yang sangat tercela dalam Islam. Dampaknya sangat buruk. Dosa dan akibat memutuskan silaturahim sangat merusak amalan kita. Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita telah beribadah dengan penuh keikhlasan, siang dan malam, tetapi bila kita masih memutus tali silaturahim  dan menyakiti hati orang-orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di sisi Allah SWT.

Terdapat lima  macam orang yang salatnya tidak berpahala, yaitu: pertama, istri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, Kedua, budak yang melarikan diri, ketiga,orang yang mendendam saudaranya melebihi tiga  hari, keempat, peminum khamar dan kelima, imam salat yang tidak disenangi makmumnya.

Salah satu sabda Rasulullah SAW, : Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sesungguhnya malaikat tidak turun kepada kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahim, 

Orang yang memutuskan tali silaturahim  diharamkan masuk surga. Mengutip salah satu sabda Rasulullah SAW Terdapat tiga  orang yang tidak akan masuk surga, yaitu: 1. orang yang suka minum khamar, 2. orang yang memutuskan tali silaturahim  dan 3. orang yang membenarkan perbuatan sihir.

marilah kita jalin silaturahim kepada keluarga,  kerabat dan sahabat di kantor, dirumah, dimanapun kita jaga silaturahim yang baik. 

“Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a, beliau berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami”

Menjaga hubungan baik diantara kerabat atau yang biasa dikenal dengan silaturahmi merupakan salah satu hal yang dianjurkan dalam agama Islam. Adapun hukum memutuskan tali silaturahim menurut islam, sama dengan memutus rejeki.

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: "Bertakwalah kepada Allah Swt yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah Swt selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-Nisâ’: 1).

Mengetahui bahwa diri kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang memutuskan silaturahmi yang telah nyata tidak diakui oleh rasulullah sebagai umatnya. Berikut Ciri-ciri Orang yang memutuskan tali persaudaraan :

Gelisah Jika Ada Orang yang Berniat Untuk Menjaga Silaturahmi, Tentu orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan senang dengan kehadiran orang yang telah diputus tali persaudaraannya. Bahkan sebelum datang kehadriannya (Orang yang di putuskan tali persaudaraannya) hatinya akan merasa tidak tenang, ia akan merasa gelisah ketika didengarkan nama orang yang ia putuskan silaturahmi.

Berusaha Menghindari Sesama Muslim dengan Alasan Kebaikan/Agama,  pemahaman yang kurang begitu memadai tentang suatu permasalah bisa menjadi pemicu problem tambahan dalam suatu kasus. Hal ini seringkali terjadi kepada orang yang tengah memutuskan silaturahmi, dengan argument yang tidak begitu akurat dan faktual dengan referensi yang ada, membuatnya lebih jauh terhanyut akan jebakan setan/iblis laknaktullah.

Tidak Peduli dengan Apa yang Terjadi Pada Sesama Muslim, Diantara penyebab orang memutuskan tali persaudaraan adalah adanya sengketa pemahaman/problem yang membuatnya terjatuh akan lembah kehinaan, jika dibiarkan maka hal ini akan semakin berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri namun bisa berdampak kepada orang disekitarnya.

Merasa Paling Benar dengan Apa yang Dilakukan, Orang yang memutuskan tali persaudaraan biasanya dirinya dikuasai nafsu yang bersarang didalam hatinya, maka pada saat itu segala macam penyakit hati akan semakin bertumpuk berdatangan dan bersarang didalamnya termasuk Merasa Paling benar, dan sungguh sangat membahayakan bagi dirinya juga orang (Jika lemah pemahaman) disekitarnya.

Dalam surah lain, Allah melaknat orang-orang yang suka memutus tali silaturahmi sebagaimana dalam firman-Nya: Artinya: “Kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (Muhammad: 22)

Yaitu kalian akan kembali kepada kejahiliahan kalian di masa silam dengan membiarkan darah mengalir dan terputusnya hubungan kekeluargaan. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah Swt dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Muhammad: 23)

Larangan membuat kerusakan di muka bumi ini bersifat umum dan larangan memutuskan hubungan kekeluargaan bersifat khusus, bahkan Allah Swt memerintahkan untuk berbuat kebaikan di muka bumi dan menghubungkan tali persaudaraan, yaitu dengan berbuat baik kepada kaum kerabat melalui ucapan dan perbuatan serta bersedekah kepada mereka. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan seseorang dianggap memutus tali silaturahmi. Salah satu yang menarik adalah pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Beliau berpendapat bahwa memutus tali silaturahmi adalah dengan memutus kebiasaan baik yang terbiasa dilakukan sebelumnya dengan para kerabat tapa adanya uzur halangan yang bisa dimaklumi. Misalkan sebuah keluarga terbiasa bersilaturahmi dengan saling mengunjungi beberapa kerabatnya tatkala hari raya Idul Fitri.

Jika hal tersebut tidak dilakukan lagi pada hari raya Idul Fitri berikutnya dan tahun-tahun selanjutnya, maka perbuatan tersebut tergolong memutus tali silaturahmi yang terlarang. Berikut berbagai perbedaan pandangan para ulama mengenai batasan memutus tali silaturahmi: Sebagian dari maksiat adalah memutus tali silaturahmi. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna yang dikehendaki dari ‘memutus tali silaturahmi ini. Menurut sebagian pendapat, memutus tali silaturahmi sebaiknya dikhususkan pada bentuk perbuatan buruk pada kerabat.

Pendapat lain menyangkal pandangan tersebut, sebaiknya memutus tali silaturahmi bertumpu pada tidak berbuat baik (pada kerabat), sebab dalam beberapa hadits menganjurkan untuk menyambung tali silaturahmi dan melarang memutus tali silaturahmi, dan tidak ada perantara makna diantara keduanya. Keutamaan menyambung tali silaturahmi berarti menyambungkan suatu kebaikan, sedangkan memutus tali silaturahmi adalah kebalikannya, yakni tidak melakukan kebaikan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawajir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan memutus tali silaturahmi adalah memutus kebiasaan kerabat tanpa adanya uzur syar’i, sebab memutus hal tersebut akan mendatangkan pada kegersahan hati dan terasingnya hati. Tidak ada perbedaan apakah kebaikan yang dibiasakan itu berupa (pemberian) harta, saling menitip salam, berkirim surat, berkunjung, atau hal yang lainnya.

Sesungguhnya memutus segala hal di atas tanpa adanya uzur setelah terbiasa melakukannya tergolong dosa besar” (Habib Abdullah bin Husain).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memutus tali silaturahmi merupakan hal yang terlarang. Sedangkan perbuatan memutus tali silaturahmi menurut sebagian ulama diartikan dengan melakukan perbuatan buruk pada kerabat, misalnya seperti mencela atau menyakiti mereka. Pendapat lain mengartikan memutus tali silaturahmi dengan tidak berbuat baik pada kerabat. Dan pendapat terakhir menengah-nengahi bahwa memutus tali silaturahmi adalah tidak melakukan perbuatan baik yang sebelumnya terbiasa dilakukan pada kerabat.

Referensi sebagi berikut ini : 




Ayat Al-Qur'an Tentang Rahmat Allah SWT untuk para pendosa


Ayat Al-Qur'an Tentang Rahmat Allah SWT untuk Pendosa,  Allah SWT tetap mencurahkan rahmat-Nya untuk pendosa. terkumpulnya dosa-dosa perlahan membuat jiwa sakit. Jika tak kunjung menadapat obat, ia lama-kelamaan akan sekarat. Tak ada yang lagi berguna jika kemudian ia berujung kematian. Ini sebuah pengingat besar, jangan-jangan kita sudah menganggap sebuah dosa menjadi biasa. Meninggalkan shalat seolah dianggap sebuah rutinitas, biasa saja. Membantah orang tua seperti pekerjaan harian. Tak ada sesal, mungkin justru terbersit bangga. Berbuat zina kadung dianggap tanda cinta. 

Kita hidup di dunia yang mulai menganggap dosa sebagai sebuah hal yang biasa. Dianggap biasa karena mungkin tidak ada lagi terminologi dosa dalam kehidupan. Semua hal yang dilakukan sudah bebas nilai. Tak boleh terkekang aturan-aturan agama. Apakah hal seperti ini yang ingin kita perjuangkan. Apa jadinya jika manusia hidup tanpa aturan,  Kerusakan akan merajalela. Bukankah ini yang memang menjadi kekhawatiran para malaikat saat makhluk lemah bernama manusia ditunjuk menjadi pemimpin. Fitrah jiwa ingin berada dalam ketentraman. Bagaimana jadinya jika merampas, merampok, memperkosa dibiarkan dengan alasan bebas. Tunggu saja kerusakan besar yang akan segera menyapa.

manusia tidak lepas dari dosa-dosa atau  berbuat salah, zalim karena sesungguhny amanusia itu tempatnya salah dan dosa. Hanya Rasulullah SAW manusia yang terjaga dari kesalahan. Allah SWT menyiapkan ujian dan tentu saja menyiapkan ganjaran. Allah SWT juga menyiapkan mekanisme agar kita bisa mencuci segudang kesalahan yang kita lakukan di masa silam. Mari kita simak bagaimanakah kasih sayangnya Allah Swt terhadap hambanya yang serius ingin memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan." (QS az-Zumar 53-54).

Lihatlah bagaimana Allah SWT justru mengundang orang-orang yang berbuat dosa untuk datang kepada-Nya. Allah SWT membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi orang yang ingin kembali. Hal ini berbeda 180 derajat jika kita berbuat kesalahan kepada manusia. Bertemu dengan orang tersebut saja kita merasa malu. Tapi, apa jadinya jika kita berbuat kesalahan, tapi justru disambut dengan hangat oleh orang tersebut.

Begitulah Allah SWT memperlakukan hamba-Nya.Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Toh, setiap kita yang tampak alim sekali pun pasti tak luput dari setiap dosa-dosa yang terus mengintai. Datanglah kepada Allah Swt dan pasti Allah Swt akan menerima tobat kita. "Dan, barang siapa yang bertobat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima tobatnya." (QS al-Furqaan 25: 71).



Antara Ujian atau adzab


Banyak yang masih kurang memahami dalam membedakan kata ujian dan adzab, yang ditinjau dari sudut pandang musibah atau cobaan secara umum. Kedua kata tersebut sebenarnya memiliki arti yang jauh berbeda, dan menimpa orang yang berbeda pula, meskipun sama-sama terkena musibah atau cobaan. Yang terkadang manusia sering mengeluh ketika ditimpa musibah atau cobaan. Ada yang bilang, “Allah tak adil, yang kaya makin kaya, yang miskin tetap saja miskin selamanya”. Ungkapan ini sering dilontarkan sebagai bentuk kekesalan atas kekurangan yang ada pada diri manusia, terutama segala hal yang berkaitan dengan ekonomi ataupun yang lainnya.

Sebenarnya, manusia akan naik pangkat dan derajat ketaqwaannya di hadapan Allah Swt bila mereka kuat dalam menghadapi segala musibah, ujian dan cobaan dalam kehidupan ini. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Allah Swt akan menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ujian berat,  juga mencatat segala usaha sebagai bentuk ibadah dan mengujinya dengan berbagai macam cobaan. Tujuannya adalah agar manusia tak memiliki hati yang sombong, selalu rendah hati, juga sebagai kunci mendapatkankan anugerahnya dan membuka pintu pengampunan-Nya.

Bila manusia memahami segala cobaan hidup yang ia rasakan merupakan proses pendewasaan diri agar selalu menjadi pribadi yang lebih baik maka ia akan selalu berusaha dan berdo’a serta selalu berpikiran positif kepada-Nya. Ketika seorang hamba bisa memahami antara kedua kata tersebut, sebenarnya manusia itu bisa memahami, mereka itu sedang di uji atau diberikan adzab.

Ujian, Ujian merupakan musibah yang menimpa orang-orang yang beriman dan rajin beribadah. Dengan tujuan untuk menguji ke istiqomahanmu dan menguatkan keyakinannya. Dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa kita jangan mengaku dulu beriman sebelum kita diberikan ujian yang berat, seperti sakit, kurangnya harta, takut akan kelaparan, fitnahan, cacian, makian dan sebagainya. Allah SWT dalam surah Al Anbiya' ayat ke 35 sebagai berikut ini yang artinya : 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”(QS. Al-Anbiya: 35)

Duniaini adalah medan perjuangan seorang mukmin untuk menjadikan manusia sebaik-baik hamba, yang dinilai dari amalnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala, berfirman.

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2).

Syarat agar lulus dalam ujian yang diberikan Allah Swt,  kita harus ikhlas menerimanya dan sabar serta tawakal dalam menjalani semua ujian yang diterimakan. Meskipun sangat berat, tapi kita tidak meninggalkan ibadah, amal sholeh dan justru kita semakin giat lagi beribadahnya. Kita juga tidak boleh kesal ketika menerima ujian dan seharusnya bersyukur karena Allah Swt  masih menganggap kita sebagai hamba-Nya dengan cara diberikan ujian. Tapi jika sebaliknya, ketika kita tidak beribadah dan ingkar ketika mendapatkan ujian, berarti kita gagal.
 
Adzab, Adzab adalah cobaan yang menimpa orang-orang yang selalu melalaikan kewajibannya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tujuannya yaitu sebagai peringatan agar kita mau bertobat dan kembali lagi beribadah kepada-Nya, serta menyesali segala perbuatannya.

Sebagai seorang muslim, tentu kita yakin dengan adzab dan nikmat di kubur. Hukum asalnya adzab dan nikmat kubur ini adalah perkara yang ghaib, meskipun hal ini adalah perkara ghaib, kita sebagai orang yang beriman tetap meyakini dan membenarkan adzab dan nikmat kubur. Allah Subhanahu wa Ta'alaberfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Mu’min : 45-46.

“Dan Fir’aun beserta pengikutnya dikepung oleh adzab yang sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada mereka): “Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”

Jadi ketika kamu sedang rajin-rajinnya maksiat, tidak beribadah, lalu datang musibah, jangan sebut itu ujian, tapi itu adalah adzab sekaligus peringatan buat kamu. Masih untung kalau kamu diberi kesempatan hidup karena masih ada waktu untuk memperbaiki diri, tapi jika sudah tidak diberi kesempatan lagi, bagaimana nasib kita kelak di akhirat nanti.

Namun ada kesamaan antara adzab dan ujian, yaitu dua hal ini sama-sama bentuk kasih sayang Allah Swt kepada kita agar selalu senantiasa beribadah dan beramal sholeh kepada-Nyam jangan pernah melupakanNya dan hobi untuk berbuat kebaikan, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain maupun Allah Swt.

Allah Swt memberikan kamu peringatan dengan memberikan musibah, cobaan dan ujian agar kamu bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Apakah itu bukan bentuk kasih sayang Allah?, kepada kita karena kita sudah diingatkan, dan sebenarnya peringatan yang disampaikan Allah Swt kepada hambanya sudah sangat banyak, namun terkadang manusia enggan untuk memahami dan menyadarinya. Allah Swt mengingatkan kita dalam firman-Nya.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Qs. Ibrahim : 7).