Beliau bersabda: “Tanda berpalingnya Allah Swt dari hambanya adalah ia disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, dan sesungguhnya orang yang telah kehilangan waktu dari umurnya untuk selain ibadah, tentu sangat layak baginya kerugian yang panjang.
Surat Al Ashr ayar 1 sampai dengan ayat 3, di bawah teks/paragraf/kalimat ini menjelaskan bahwa manusia yang memanfaatkan waktunya sebaik-baiknya untuk beriman dan beramal shaleh akan memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik akan memperoleh kerugian, salah satunya adalah mendapat tanda Allah Swt berpaling dari Hamba-NYA (Allah Swt).
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr : 1-3).
Kerugian yang dimaksud adalah kerugian di dunia dan akhirat. Kerugian di dunia seperti mendapatkan kesengsaraan, kebingungan, dan tidak mendapat petunjuk. Sedangkan, kerugian di akhirat adalah mendapatkan neraka jahanam. Dalam Tafsir Al Qur’an Al Karim Hidayatul Hasan dijelaskan bahwa Allah SWT meratakan kerugian kepada semua manusia kecuali bagi mereka yang memiliki empat sifat yaitu beriman, beramal shaleh, dan saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. Begitulah mengapa pentingnya menjaga waktu di dunia sebaik-baiknya.
Atas dasar itulah, seorang muslim hendaknya menggunakan waktu sebaik mungkin dengan cara menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti :
Menjalankan segala perbuatan baik yang tampak maupun tersembunyi, yang terkait dengan hak Allah Swt maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunah,
Saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran,
Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Hal-hal kebaikan yang dilakukan akan menunjukkan sempurnanya Islam seorang muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya sebagai berikut ini :
“Jika keislaman di antara kalian sempurna, satu kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Adapun setiap keburukan yang dilakukan, hanya ditulis satu keburukan semisalnya.” (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya sebagi berikut :“Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, Syaeikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih).
Sedangkan, seorang muslim yang terlalu sibuk dengan hal-hal tidak bermanfaat, menandakan bahwa orang tersebut belum sempurna imannya. Bahkan, Hasan al-Basri mengatakan bahwa mereka yang sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan tanda Allah SWT berpaling dari Hamba-NYA .
Hasan al-Basri berkata, “Salah satu tanda bahwa Allah Swt berpaling dari seorang hamba adalah ia disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.”
Adapun hal-hal yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat di antaranya adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menyakiti orang lain, seperti terlalu sibuk dengan urusan duniawi, bergurau, berkomentar yang tidak penting, debat kusir, atau ghibah. Ghibah dalam Islam termasuk pada perbuatan yang tidak baik dan ada pula hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam yang harus di ketahui. Untuk menjadi muslim yang baik, sudah seharusnya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang dapat menyakiti orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika seorang muslim tidak dapat menjaga perkataan dan perbuatannya maka ganjarannya adalah neraka. Maka dari itu penting sekali untuk menyimak tips menjaga lisan dalam Islam ini karena ada keutamaan menjaga lisan dalam Islam bagi seorang muslim.
Tirmidzi meriwayatkan dari Muadz bin Jabal radhiyallahu‘anhu, ia berkata,“Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum atas setiap kata yang terucap?” Rasul pun menjawab, Tidak sedikit manusia yang tergelincir ke dalam neraka karena lisannya.” (HR. Tirmidzi)
Dari uraian singkat di atas dapat dikatakan bahwa sebagai muslim, hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat seperti beribadah, melaksanakan bermacam-macam amal shaleh, saling menasehati mengenai kebenaran dan kesabaran, serta meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Seseorang yang sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan tanda Allah Swt berpaling dari Hamba-NYA. Sementara, ujian dan musibah yang dialami seorang hamba bukan karena Allah berpaling, tapi justru semua teguran itu adalah tanda Allah Swt sayang pada hamba-Nya agar ia kembali mengingat Allah Swt.
Demikianlah ulasan singkat tentang tanda Allah Swt berpaling dari hambanya. Semoga bermanfaat dan bisa menggerakkan hati untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. referensi sebagi berikut ini dan semoga bermanfat, Amin .
Ayat Kursi merupakan ayat ke-255 dari surat Al-Baqarah yang menjadi surat kedua di dalam Al-Quran. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab, Ayat Kursi merupakan ayat paling utama di dalam Al-Quran. Pada bacaan Ayat Kursi berisi tentang ke-Esa-an Allah Swt serta kekuasaan Allah Swt yang mutlak.Di setiap kalimat pada bacaan Ayat Kursi mengandung banyak sekali arti dan makna tentang keutamaan dan manfaatnya. Dengan membaca ayat ini, maka akan memengaruhi jiwa dan keimanan hidup kita.
Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW bertanya kepada Ubiy bin Ka’ab tentang ayat yang paling utama dalam Al-Quran, “Ayat apa yang paling utama di dalam Al-Quran?” Kemudian Ubay bin Kai menjawab, “Ayat paling utama dalam kitabullah adalah Ayat Kursi.”
Dan Rasulullah SAW menepuk dada Ubay dengan pelan sambil berkata, “Wahai Abu Mundzir semoga engkau selalu bahagia dengan ilmu yang engkau miliki.” (HR Muslim).
Ayat Kursi sebagai ayat yang paling agung di dalam Al-Quran karena di dalamnya terdapat nama Allah Swt yang paling agung, yaitu pada kalimat Al Hayyu dan Al Qayyum. Berikut ini bacaan Ayat Kursi yang disebut sebagai ayat paling agung dalam Al-Quran. latinya adalah sebagai berikut ini :
“Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.”
Artinya:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Manfaat membaca Ayat Kursi beserta amalannya untuk diri sendiri, Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita berdzikir dan berdoa hanya kepada Allah Swt. Dan salah satu cara berdzikir yang tepat adalah dengan membaca Ayat Kursi yang memiliki banyak manfaat apabila senantiasa kita baca.
Mendapat perlindungan Allah Swt, Manfaat pertama apabila kita membaca Ayat Kursi sehabis sholat adalah kita akan dijaga Allah Swt dari berbagai godaan setan, kejahatan manusia, binatang buas yang bersifat negatif bagi diri kita (membahayakan), perlindungan untuk keluarga dan harta benda.
Membukakan pintu hikmah dan rezeki, Dalam kitab “Asraaul Mufidah”, barang siapa yang membaca Ayat Kursi sebanyak 18 kali setiap harinya, maka Allah akan membukakan dadanya untuk pintu hikmah, dimudahkan rezekinya, dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt di akhirat dan di dunia.
Dan orang yang membacanya sebanyak 18 kali juga akan diberikan pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya dan dirinya juga akan dijaga dengan izin Allah Swt dari segala bencana yang akan menimpanya hari itu.
Dimudahkan ilmu pengetahuannya, Syeikh abu Abbas menerangkan bahwa bagi orang yang membaca Ayat Kursi sebanyak 50 kali dan meniupkannya ke air hujan lalu meminumnya, maka Allah Swt akan memudahkan akal fikiran dan ilmu pengetahuannya.
Dihilangkan kefakirannya, Seperti dalam sabda Rasulullah, “barang siapa yang pulang ke rumahnya dan membaca Ayat Kursi, Allah akan menghilangkan segala kefakiran di depan matanya.”
Dijauhkan dari godaan setan, Rasulullah SAW bersabda “Umatku yang membaca Ayat Kursi sebanyak 12 kali pada pagi Jumat, kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat dua rakaat, Allah Swt memeliharanya dari kejahatan setan dan kejahatan pembesar.”
Mendapat perlindungan saat melakukan perjalanan, Bagi orang yang membaca Ayat Kursi saat perjalanan ataupun saat ingin memulai perjalanan, maka Allah akan memudahkan perjalanannya dan akan dilindungi selama perjalanannya.
Dimudahkan segala urusannya, Syeikh Al-Bunni menerangkan bahwa barang siapa yang membaca Ayat Kursi sebanyak huruf pada ayat tersebut yaitu 170 huruf, maka Allah akan memberikan pertolongan padanya, mempermudah segala hajat yang ia punya, melapangkan fikirannya sehingga lebih mudah berfikir, diluaskan rezekinya, dihilangkan duka darinya, dan diberikan apa yang ia minta.
Dilindungi oleh 2 malaikat, Barang siapa yang membaca Ayat Kursi sebelum tidur maka Allah Swt akan memerintahkan 2 malaikat untuk menjaganya selama ia tidur sampai pagi.
Beberapa keutamaan dan manfaat dari Ayat Kursi yang dapat kita baca dan kita amalkan setiap hari, agar senantiasa diberi perlindungan dan kemudahan oleh Allah Swt. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya, Amin ya robbal alamin.
Iman bisa bertambah dan berkurang, memang seperti itulah hakikatnya. Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akherat. Bahkan kebaikan dunia dan akherat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seseorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah Swt. Dengan iman seseorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka.
Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhoan Allah Swt Yang Maha kuasa sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah Swt di akherat nanti. Dengan demikian permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Hasil usaha jiwa dan qolbu (hati) yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian di dunia dan akherat adalah ilmu dan iman. Oleh karena itu Allah Ta’ala menggabung keduanya dalam firmanNya, dalam surah Ar-Ruum ayat 56 sebagai berikut ini yang artinya sbb :
“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.” (QS ar-Ruum: 56)
Dan firman Allah Swt dalam surah Al Mujaadilah ayat 11 sebagai berikut ini : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah: 11).
Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun kebanyakan manusia keliru dalam (memahami) hakekat ilmu dan iman ini, sehingga setiap kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinyalah satu-satunya yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, padahal tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi dakwah beliau kepada umat. Sedangkan yang berada di atas iman dan ilmu (yang benar) adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya setelah beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj dan petunjuk mereka”.
Demikian bila kita melihat kepada pemahaman kaum muslimin saja tentang iman didapatkan banyak kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai contoh banyak dikalangan kaum muslimin ketika berbuat dosa masih mengatakan, “Yang penting kan hatinya”. Ini semua tentunya membutuhkan pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar tersebut.
Makna Iman, Dalam bahasa Arab, ada yang mengartikan kata iman dengan “tashdiq” (membenarkan); thuma’ninah (ketentraman); dan iqrar (pengakuan). Makna ketiga inilah yang paling tepat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Telah diketahui bahwa iman adalah iqrar (pengakuan), tidak semata-mata tashdiq (membenarkan). Dan iqrar (pengakuan) itu mencakup perkataan hati, yaitu tashdiq (membenarkan), dan perbuatan hati, yaitu inqiyad (ketundukan hati)”.
Keyakinan hati, yaitu membenarkan terhadap berita. Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah. Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Swt.
Adapun secara syar’i (agama), iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan). Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan di antara prinsip Ahlus sunnah wal jamâ’ah, ad-din (agama/amalan) dan al-iman adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”.
Dalil Bagian-Bagian Iman Dari perkataan Syaikhul Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus sunnah wal jamâ’ah mencakup lima perkara, yaitu, (1) perkataan hati, (2) perkataan lisan, (3) perbuatan hati, (4) perbuatan lisan dan (5) perbuatan anggota badan.
Banyak dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas dalam kategori iman, di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Perkataan hati, yaitu pembenaran dan keyakinan hati. Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah Swt. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurât: 15)
Kedua: Perkataan lisan, yaitu mengucapkan syahadat La ilaha illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah dengan lisan dan mengakui kandungan syahadatain tersebut. Di antara dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diperintah (oleh Allah Swt) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah melakukan itu, maka mereka telah mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah Swt”.
Pada hadits lain disebutkan dengan lafazh, “Aku diperintah (oleh Allah Swt) untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan “Lâ ilâha illallâh”.
Ketiga: Perbuatan hati, yaitu gerakan dan kehendak hati, seperti ikhlas, tawakal, mencintai Allah Swt , mencintai apa yang dicintai oleh Allah Swt , raja’ (berharap rahmat/ampunan Allah Swt), takut kepada siksa Allah Swt , ketundukan hati kepada Allah Swt, dan lain-lain yang mengikutinya. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS al-Anfal: 2). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan hati termasuk iman.
Keempat: Perbuatan lisan/lidah, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lidah. Seperti membaca al-Qur’ân, dzikir kepada Allah Swt, doa, istighfâr, dan lainnya. Allah Swt berfirman,
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur’ân). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya.” (QS al-Kahfi: 27). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan lisan termasuk iman.
Kelima: Perbuatan anggota badan, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan anggota badan. Seperti: berdiri shalat, rukû’, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang mengganggu dari jalan, dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman, dalam surah Al Hajj ayat 77 sbb :
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS al-Hajj: 77)
Rukun-Rukun Iman, Sesungguhnya iman memiliki bagian-bagian yang harus ada, yang disebut dengan rukun-rukun (tiang; tonggak) iman. Ahlus sunnah wal jamâ’ah meyakini bahwa rukun iman ada enam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pada permulaan kitab beliau, ‘Aqidah al-Wasithiyah’, “Ini adalah aqîdah Firqah an-Najiyah al-Manshurah (golongan yang selamat, yang ditolong) sampai hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu: beriman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk”.
Dalil rukun iman yang enam ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada malaikat Jibril ‘alaihis salam, ketika menjelaskan tentang iman,
Iman adalah engkau beriman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.” Rukun iman ini wajib diyakini oleh setiap Mukmin. Barangsiapa mengingkari salah satunya, maka dia kafir.
Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs berkata, “Enam perkara ini adalah rukun-rukun iman. Iman seseorang tidak sempurna kecuali jika dia beriman kepada semuanya dengan bentuk yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab dan Sunnah. Barangsiapa mengingkari sesuatu darinya, atau beriman kepadanya dengan bentuk yang tidak benar, maka dia telah kafir.”
Iman Bisa Bertambah dan Berkurang, Sudah dimaklumi banyak terdapat nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan pertambahan iman dan pengurangannya. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat sebagiannya lebih sempurna imannya dari yang lainnya. Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khoiraat (terdepan dalam kebaikan), al-Muqtashid (pertengahan) dan zholim linafsihi (menzholimi diri sendiri). Ada juga al-Muhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Semua ini menunjukkan mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Bukti dari Al Qur’an dan As Sunnah Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang, Pertama: Firman Allah Swt, dalam Ali Imram ayat 173 sbb ini yang artinya :
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung“.” (QS Ali Imran: 173).
Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar adanya pertambahan dan pengurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan kepada imam Sufyaan bin ‘Uyainah Rahimahullah, “Apakah iman itu bertambah atau berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Tidakkah kalian mendengar firman Allah Swt, arti surah Ali Imran 173 sbb : “Maka perkataan itu menambah keimanan mereka”. (QS Alimron: 173)
dan firman Allah Swt dalam surah Al Kahfi ayat 13 sbb ini : “Dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”.(QS al-Kahfi: 13)
dan beberapa ayat lainnya”. Ada yang bertanya, “Bagaimana iman bisa dikatakan berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sesuatu bisa bertambah, pasti ia juga bisa berkurang”.
Kedua: Firman Allah Swt dalam surah Maryam ayat ke 76 yang artinya sbb ini :
“Dan Allah Swt akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS Maryam: 76).
Syeikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan, “Terdapat dalil yang menunjukkan pertambahan iman dan pengurangannya, sebagaimana pendapat para as-Salaf ash-Shaalih. Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah Swt, sbb ini :
“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS al-Mudatstsir: 31) dan firman Allah Swt,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS al-Anfaal:8/2)
Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan qolbu (hati) dan lisan, amalan qolbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum mukminin sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini.
Ketiga: Sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin”.
Ishaaq bin Ibraahim an-Naisaaburi berkata, “Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau rahimahullah menjawab, “Dalil mengenai berkurangnya iman terdapat pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin.”
Keempat: Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.”
Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu Imam At-Tirmidzi memuat bab dalam sunannya: “Bab Kesempurnaan, bertambah dan berkurangnya iman”.
Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menyatakan, Ini jelas sekali menunjukkan iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan aturan syariat dan cabang-cabang iman serta amalan hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah dimaklumi bersama bahwa manusia sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini. Siapa yang berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, sungguh ia telah menyelisihi realita yang nyata di samping menyelisihi nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui.
Pendapat Ulama Salaf Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang, Sedangkan pendapat dan atsar as-Salaf ash-Shaalih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, diantaranya sebagai berikut ini :
Pertama: Dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya :
Satu ketika Kholifah ar-Rsyid Umar bin al-Khathaab rahimahullah pernah berkata kepada para sahabatnya, yang artinya sbb ini : “Marilah kita menambah iman kita.”[
Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari rahimahullah berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.”
Kedua: Dari kalangan Tabi’in, di antaranya: Abu al-Hajjaaj Mujaahid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan, sebagai berikut ini : “Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”
Abu Syibl ‘Alqamah bin Qais an-Nakhaa’i (Wafat setelah tahun 60 H) berkata kepada para sahabatnya, “Mari kita berangkat untuk menambah iman.” Ketiga: Kalangan tabi’ut Tabi’in, di antaranya: Abdurrahman bin ‘Amru al-‘Auzaa’i (wafat tahun 157 H) menyatakan, yang artinya sbb :
“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.”
Beliau juga ditanya tentang iman, “Apakah bisa bertambah?” Beliau menjawab, “Iya, hingga menjadi seperti gunung.” Beliau ditanya lagi, “Apakah bisa berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Iya, hingga tidak tersisa sedikitpun darinya”.
Itulah keadaan Iman kita kepada Allah Swt iman dapat berkurang dan dapat bertambah, bisa bertambah besar seperti gunung namun bisa hilang seperti tak berbekas, ya Allah Swt Ampuni segala dosa-dosa yang telah kami perbuat, masukkan kami kedalam golongan orang-orang yang solih solih dan berbuat baik kepada sesama, manusia tidak bisa luput dari dosa-dosa mak segeralah bertobat kepada Allah Swt dan minta ampun kepada Allah Swt, jika kita zalim terhadap sesama manusia, minta maaflah kepada manusia yang terzalimi tersebut, semoga Allah Swt selalu merahmati dan mengampuni hamba-hambany yang selalu bertobat dan berbuat kebaikan, amin ya robbal alamin.
Hadits Arbain ke 42 menjelaskan tentang luasnya ampunan Allah Swt bagi hamba-Nya. Meski bergelimang dosa bagaikan seisi bumi dan langit, Allah Swt akan tetap memberikan ampunan. Dengan catatan, tidak menyekutukan Allah Swt atau berbuat syirik. Sebab, dosa sebesar apa pun selain syirik akan tetap diampuni. Berikut ini teks lengkap hadits Arbain ke-42 dan artinya sebagai berikut ini :
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Swt berfirman: ”Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada– Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).
Kandungan Hadits Arbain ke 42. Ada tiga kandungan hadits Arbain ke 42 yang bisa diambil hikmahnya yakni:
Doa dan Pengharapan
Perbanyak Istighfar
Larangan Menyekutukan Allah Swt
Mengenai doa dan pengharapan, Allah SWT berfirman dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 186, artinya sebagai berikut ini :
Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (QS. Al Baqarah ayat 186)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah Swtitu sangat dekat. Karena itu, hendaklah manusia berdoa dan hanya meminta kepada-Nya karena Allah Swt akan mengabulkannya.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan, "Ketika kami (para sahabat) bersama Rasulullah Saw. dalam suatu peperangan, tidak sekali-kali kami menaiki suatu tanjakan dan berada di tempat yang tinggi serta tidak pula kami menuruni suatu lembah melainkan kami mengeraskan suara kami seraya mengucapkan takbir." Abu Musa melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi Saw. mendekat ke arah kami dan bersabda: "Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukan berseru kepada orang yang tuli, bukan pula kepada orang yang gaib; sesungguhnya kalian hanya berseru kepada Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru lebih dekat kepada seseorang di antara kalian daripada leher unta kendaraannya. Hai Abdullah ibnu Qais, maukah kamu kuajarkan suatu kalimat (doa) yang termasuk perbendaharaan surga? (Yaitu) la haula wala quwwata ilia billah (tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Swt)'."
Perbanyak Istighfar, Allah Swt berfirman dalam Surah nuh ayat 10 sbb ini : Artinya: maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 10)
Yakni kembalilah kamu ke jalan-Nya dan tinggalkanlah apa yang kamu biasa lakukan itu dan bertobatlah kamu kepadanya dari dekat. Karena sesungguhnya barang siapa yang bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia menerima taubatnya, sekalipun dosa-dosanya besar.
Doa Sayyidul Istighfar, Sayyidul istigfar yang artinya sebagai berikut ini : (latinya )
Latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'alaa 'ahdika wawa'dika mastatho'tu a'uudzubika min syarri maa shona'tu abuu ulaka bini'matika 'alayya wa abuu u budzanbii fagjfirlii fainnahuu laa yaghfiru dzunuuba illaa anta.
Artinya :
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau".
Larangan Menyekutukan Allah Swt, yang artinya sebagai berikut ini : Sesungguhnya Allah Swt tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa ayat 48).
Dari Anas ibnu Malik, dari Nabi SAW yang telah bersabda: Perbuatan aniaya (dosa) itu ada tiga macam, yaitu perbuatan aniaya yang tidak diampuni oleh Allah, perbuatan aniaya yang diampuni oleh Allah, dan perbuatan aniaya yang tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah barang sedikit pun darinya. Adapun perbuatan aniaya yang tidak diampuni oleh Allah ialah perbuatan syirik (mempersekutukan Allah). Demikian pembahasan Hadits Arbain ke 42 tentang luasnya ampunan Allah bagi hamba-Nya.
Setiap insan memiliki sifat dan karakter yang berbeda beda. Tidak ada satu pun manusia yang memiliki karakter dan sifat yang sama persis dengan orang lain. Ada orang yang punya karakter ceria ada pula sebaliknya. Ada manusia yang memiliki karakter tertutup ada pula yang suka terbuka. Semua karakter yang Allah Swt limpahkan kepada manusia memiliki hikmah tersendiri, dan yang paling baik adalah orang yang bisa mengontrol karakter dan sifatnya masing-masing. Sebagai orang yang memiliki karakter tertutup, tidak akan suka hal-hal yang menyangkut dirinya diketahui orang lain.
Karakter ini di satu sisi baik, dan pada sisi yang lain bisa saja tidak baik, karena dia akan lebih suka menyendiri dan menyalahi dari kodrat sebagai makhluk sosial. Sedangkan orang yang memiliki karakter terbuka, dia lebih suka bercerita tentang hal yang pernah dialami serta senang berbaur dengan orang sekitarnya.
Dalam satu sisi karakter ini baik, namun pada sisi yang lain bisa saja tidak baik dan mencelakai dirinya jika tidak bisa mengontrol sifat tersebut. Saat manusia berbuat maksiat atau dosa, dia dilarang bercerita kepada orang lain, karena itu adalah aib.
Menceritakan perbuatan tercela kepada orang lain sama halnya membeberkan aibnya sendiri kepada orang lain. Hal ini tentu dilarang oleh syariat Islam. Akan tetapi yang terbaik yang harus ia lakukan adalah bertobat dari perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Dalam kitab al-Muwattha’ Imam Malik,menukil hadis Rasulullah Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik sendiri yang artinya:
“Barangsiapa tertimpa perbuatan maksiat (terjerumus ke dalam perbuatan maksiat) dengan melakukan perbuat semacam ini (perbuatan zina), hendaknya ia merahasiakannya dengan kerahasiaan yang Allah Swt berikan.”
Maksud hadis tersebut, hendaknya seseorang merahasiakan aib dirinya selama Allah Swt tidak membuka aib tersebut, kemudian segeralah bertobat. Jangan Pernah Menceritakan Perbuatan Dosa Kepada Siapapun, Tapi Bertobatlah.
Setiap insan memiliki sifat dan karakter yang berbeda beda. Tidak ada satu pun manusia yang memiliki karakter dan sifat yang sama persis dengan orang lain. Ada orang yang punya karakter ceria ada pula sebaliknya. Ada manusia yang memiliki karakter tertutup ada pula yang suka terbuka.
Semua karakter yang Tuhan limpahkan kepada manusia memiliki hikmah tersendiri, dan yang paling baik adalah orang yang bisa mengontrol karakter dan sifatnya masing-masing. Sebagai orang yang memiliki karakter tertutup, tidak akan suka hal-hal yang menyangkut dirinya diketahui orang lain.
Karakter ini di satu sisi baik, dan pada sisi yang lain bisa saja tidak baik, karena dia akan lebih suka menyendiri dan menyalahi dari kodrat sebagai makhluk sosial. Sedangkan orang yang memiliki karakter terbuka, dia lebih suka bercerita tentang hal yang pernah dialami serta senang berbaur dengan orang sekitarnya. Dalam satu sisi karakter ini baik, namun pada sisi yang lain bisa saja tidak baik dan mencelakai dirinya jika tidak bisa mengontrol sifat tersebut.
Saat manusia berbuat maksiat atau dosa, dia dilarang bercerita kepada orang lain, karena itu adalah aib. Menceritakan perbuatan tercela kepada orang lain sama halnya membeberkan aibnya sendiri kepada orang lain. Hal ini tentu dilarang oleh syariat Islam. Akan tetapi yang terbaik yang harus ia lakukan adalah bertobat dari perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Dalam kitab al-Muwattha’ Imam Malik, hadis Rasulullah Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik sendiri yang artinya: “Barangsiapa tertimpa perbuatan maksiat (terjerumus ke dalam perbuatan maksiat) dengan melakukan perbuat semacam ini (perbuatan zina), hendaknya ia merahasiakannya dengan kerahasiaan yang Allah Swt berikan.”
Maksud hadis tersebut, hendaknya seseorang merahasiakan aib dirinya selama Allah Swt tidak membuka aib tersebut, kemudian segeralah bertobat, semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita, Aamin ya robbal alamin.
Mengenal tentang Taubat Nasuha, Sebelum mengenal Cara Taubat Nasuha pelaku zina, ada baiknya untuk mengenal terlebih dahulu apa itu taubat nasuha. Taubat nasuha merupakan sholat sunnah yang dilakukan untuk memohon pengampunan dari Allah SWT atas segala dosa maupun kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat selama hidup. Sholat taubat nasuha juga disebut dengan sholat istighfar atau sholat minta ampun. Dasar hukum yang menganjurkan orang untuk menjalankan sholat taubat nasuha ini ada pada Al-Qur’an dalam surat At-Tahrim ayat 8, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah Swt dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
Allah Swt sangat menyukai umat Muslim yang benar-benar bertaubat dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Seperti yang difirmankan dalam Al-Baqarah 2:22, yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
Melalui ayat-ayat ini bisa disimpulkan bahwa, sebaik-baiknya manusia di hadapan Allah Swt bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah, tapi bila mana orang tersebut berbuat kesalahan langsung bertaubat kepada-Nya.
Melihat pentingnya bertaubat, maka seorang Muslim wajib tahu cara taubat nasuha pelaku zina yang benar, lengkap dengan niat, bacaan, doa, waktu, dan keutamaannya.
Waktu yang Dianjurkan untuk Taubat Nasuha, Taubat merupakan perbuatan yang tidak dapat diundur atau ditunda-tunda. Oleh karena itu, jika seorang Muslim telah melakukan dosa dan maksiat, segeralah untuk bertaubat. Salah satunya adalah dengan melakukan cara taubat nasuha pelaku zina.
Sholat taubat dapat dilakukan kapan saja, baik itu siang maupun malam. Namun, ada waktu pelaksanaan sholat taubat nasuha yang haram untuk dikerjakan seperti:
Mulai dari terbit fajar kedua hingga terbit matahari.
Saat terbit matahari hingga matahari naik sepenggalah.
Saat matahari persis di tengah-tengah hingga terlihat condong.
Mulai dari sholat Ashar hingga matahari tenggelam.
Ketika menjelang matahari tenggelam hingga benar-benar sempurna tenggelamnya
Sementara itu, sebagian ulama menyatakan bahwa waktu pelaksanaan sholat taubat nasuha yang utama adalah pada sepertiga malam atau selama sholat tahajud dilaksanakan.
Keutamaan Taubat Nasuha Pelaku Zina, Disukai oleh Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 222, yang artinya :
“Sungguh, Allah Swt sangat menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah ayat 222).
Diampuni oleh Allah Swt, Rasulullah bersabda: “Tiada seorang pun yang berdosa kemudian ia berwudhu lalu mengerjakan sholat (Sholat taubat) serta memohon ampun kepada Allah Swt melainkan ia akan diampuni oleh-Nya.”
Dimasukkan ke Surga oleh Allah Swt, Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surah At Tahrim ayat 8, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim ayat 8).
Didoakan Malaikat, Allah Swt berfirman dalam Al Quran surah Al Mu’min ayat 7, yang artinya: “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mu’min ayat 7).
Niat Taubat Nasuha Pelaku Zina, Niat sholat taubat adalah dengan menghadirkan keinginan untuk taubat dari berbagai kesalahan terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan berwudhu dan melaksanakan sholat 2 rakaat. Untuk menegaskan kembali, bisa di lafazkan dengan lafaz yang telah diajarkan oleh para ulama, dengan membaca niat seperti berikut:
Ushalli Sunnatat Taubata Rak’ataini Lillahi Ta’ala. Artinya: "Saya niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Swt."
Cara taubat nasuha pelaku zina sama seperti sholat sunnah pada umumnya. Sholat taubat nasuha dilkaukan sebanyak dua rakaat dengan sekali salam. Boleh dilakukan dua rakaat, empat rakaat, atau enam rakaat.
Kamu bisa memperpanjang sujud terakhir untuk secara khusus bermunajat dan mengakui segala dosa serta memohon ampunan dengan segala kerendahan diri di hadapan Allah SWT. “Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.”(HR. Muslim).
Cara taubat nasuha pelaku zina sebaiknya dikerjakan secara sendirian. Sholat taubat nasuha merupakan sholat nafilah yang tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist, hendaknya sebelum melaksanakan sholat taubat didahului dengan bersuci dengan baik. Disunnahkan untuk mandi besar sebelum melakukan shalat taubat.
Berikut cara taubat nasuha pelaku zina yang perlu diperhatikan secara runtut sebagai berikut ini, ada 14 tata/urutan solat toubat adalah sebagai berikut ini :
Membaca niat sholat taubat nasuha.
Takbiratul ihram.
Membaca doa iftitah (sunnah).
Membaca suart Al-Fatihah.
Membaca surat dari Al-Qur’an.
Rukuk (membaca tasbih rukuk tiga kali).
I’tidal (membaca doa I’tidal).
Sujud (membaca tasbih sujud tiga kali).
Duduk di antara dua sujud (membaca dia ‘robbighfirlii warhamnii…’)
Sujud kedua. (membaca tasbih sujud tiga kali).
Bangun melanjutkan rakaat kedua seperti urutan di atas sampai yang ke 10.
Syarat-syarat taubat nasuha agar diterima Allah Swt patut diketahui tiap Muslim. Tiap manusia memang tidak bisa lepas dari perbuatan dosa kecil maupun besar. Karena itu, umat Islam yang melakukan perbuatan dosa maupun kesalahan diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan taubat sebagaimana tertuang dalam Surat An Nur ayat 31. Allah SWT berfirman yang artinya sbb ini :
Latin: Wa tuubuu ilallahi jamii'an ayyuhal mu'minuuna la'allakum tuflihuun. BACA JUGA: Surat Az Zumar Ayat 53: Latin, Arti, Makna tentang Perintah Bertaubat dan Larangan Berputus Asa "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Swt, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung," (QS. An Nur:31). Taubat merupakan bentuk penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulangi kembali atas segala perbuatan buruk yang selama dilarang oleh Allah SWT. Proses taubat pun harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh atau taubat nasuha.
Bila seseorang bertaubat atas dosa yang pernah dilakukannya dengan taubat yang sesungguhnya serta diiringi dengan minta ampun kepada Allah Swt, penyesalan dan meninggalkan semua dosa-dosa itu, lalu mulai kehidupan yang baru yang jauh dari dosa dan suci dari noda, maka sesungguhnya Allah Swt akan mengampuni dan memasukkan hambanya yang bertaubat itu ke dalam kelompok orang-orang yang shalih. Untuk diterimanya taubat oleh Allah Swt, maka setidaknya ada beberapa syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama.
1. Ikhlas Yang dimaksud dengan ikhlas dalam bertaubat itu artinya, bahka motivasi yang melatar-belakangi pelaku dosa itu bertaubat harus murni dari lubuk hati yang paling dalam. Dan tidak dikotori oleh motiv-motiv yang lain seperti untuk mendapatkan belas-kasihan, atau sekedar mendapatkan hati calon mertua, atau sekedar untuk pencitraan diri menjelang kampanye pilkada atau pemilu dan lain sebagianya, harus karena Allah Swt.
2. Menyesal Orang yang bertaubat itu harus menyesali di dalam hati yang paling dalam atas apa yang telah dilakukannya. Bila rasa sesal itu masih belum ada, maka itu pertanda bahwa sebenarnya taubatnya itu merupakan bentuk taubat yang sebenar-benarnya. Orang yang taubatnya benar, ciri-cirinya antara lain menyesal sejadi-jadinya, sehingga walaupun punya kesempatan untuk melakukannya lagi, sama sekali tidak akan dilakukannya.
3. Tidak Ada Ulangan Bertaubat itu hakikatnya tidak mengulangi. Artinya, seseorang yang dikatakan telah bertaubat adalah orang yang jelas-jelas tidak pernah lagi mengulangi perbuatan dosa tersebut. Kalau dahulu tiap hari berzina tapi sekarang tidak setiap hari, hanya kadang-kadang saja kalau ada kesempatan, maka orang itu tidak dikatakan telah bertaubat.
4. Berhenti Total Orang yang taubatnya benar adalah orang yang berhenti total dari melakukan dosa yang pernah dikerjakannya. Bila masih melakukannya, meski dengan kadar yang sudah banyak berkurang, tetap saja masih belum dikatakan sudah bertaubat.
5. Bayar Ganti Rugi Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
6. Sebelum Ajal Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan yang artinya adalah : Sesungguhnya Allah Swt akan menerima taubat seorang hambaNya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi).
7. Sebelum Matahari Terbit Dari Barat Orang yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah Swt akan memberinya taubat. (HR. Muslim)
8. Istighfar Beristighfar adalah berdzikir yang kontennya memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hak-Nya.
9. Shalat Taubat Disunnahkan bagi orang yang bertaubat untuk mengerjakan Shalat Taubat, yaitu shalat sunnah dua rakaat seperti biasa, sebagaimaan yang disebutkan dalam hadits di awal. Demikian pembahasan mengenai syarat taubat nasuha agar diterima Allah SWT yang perlu diamalkan Muslim.
Sebagai manusia tempatnya salah dan dosa, segera bertobat kepada Allah Swt yang maha pengampun dan maha bijaksana. Semoga toubat kita diterima Allah Swt, Amin
Hingga kini masih banyak kaum muslimin di luar sana yang masih belum paham dan masih salah menafsirkan soal ujian, adzab dan istidraj melalui sudut pandang musibah. Padahal, ketiga hal tersebut memiliki arti yang jauh berbeda. Hal yang menimpa orang lain pun dapat berbeda meskipun sama-sama terkena musibah. Lalu apa sih perbedaan dari ujian, adzab dan istidraj.
Hal yang perlu diketahui adalah tidak semua musibah adalah ujian. Tidak semua ujian juga sebagai adzab. Bahkan istidraj adalah awal kebahagiaan dari kesengsaraan yang nyata. Lantas, bagaimana perbedaan ketiganya yang sesungguhnya? Antara Adzab, Ujian dan Istidraj, apakah ada yang kini tengah kita rasakan dalam menjalani kehidupan.
Perbedaan Ujian, Adzab dan Istidraj
1. Ujian, Hal pertama yang akan kita bahas adalah ujian. Karena ujian merupakan suatu bentuk musibah yang diterima oleh mereka yang beriman dan juga rajin beribadah. Ujian adalah bentuk musibah yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya yang beriman. Bertujuan untuk menguji sejauh mana keistiqomahan serta sekuat apa keyakinanmu akan keesaan Allah SWT.
Dalam Al Qur’an Allah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 2 yang berbunyi, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” Umroh.com merangkum, ujian ini biasanya diberikan seperti kebangkrutan, kurangnya harta, takut kelaparan, fitnah, cacian serta permasalahan dengan manusia melalui perkara dunia.
Selanjutnya, agar lulus dari ujian yang Allah Swt berikan, kita harus senantiasa ikhlas dan sabar dalam menerima dan menjalankannya. Meski mungkin sangat berat untuk dilalui, asalkan tidak meninggalkan ibadah dan malah semakin giat dalam beribadah, maka kemudahan akan datang setelahnya.
Jangan terbesit sekalipun untuk berpikir bahwa Allah tidak mencintai kita. Tidak sama sekali. Justru Allah ingin membuat kita lebih kuat lagi dalam beriman, menjalani kehidupan dan bertawakkal akan segala keputusan Allah SWT.
2. Adzab,
Seperti kita ketahui, adzab adalah sebuah musibah yang Allah SWT turunkan bagi para hamba-Nya yang selalu melalaikan kewajiban dalam ketaatan atapun beribadah kepada Allah SWT. Adapun tujuan dari Allah SWT menurunkan adzab adalah sebagai sebuah bentuk peringatan untuk kembali pada-Nya dan juga peringatan kepada orang-orang disekitarnya agar senantiasa beribadah dan taat kepada perintah Allah SWT.
Karena itulah, apabila kamu sedang sering bermaksiat, malas beribadah, lalu datang sebuah musibah, janganlah sebut hal tersebut sebagai ujian. Musibah yang Allah SWT turunkan kepadamu saat itu adalah adzan yang juga menjadi sebuah peringatan.
Mereka yang beruntung adalah disaat Allah SWT menurunkan adzab, mereka kembali dan tidak melakukan tindakan tercela lagi. Namun, bagaimana kalau adzab tersebut menjadikanmu meninggal dalam keadaan suul khotimah (kematian yang buruk)? Merugilah kita di akhirat.
Karena itulah, terkadang Allah Swt memberikan musibah sebagai sebuah ‘sentilan’ agar kita kembali kepada-Nya. Hal tersebut merupakan bukti sayangnya Allah terhadap kita agar senantiasa ingat dan beribadah kepada Nya. Musibah yang turun bukanlah tanda Allah SWT membenci kita, melainkan tanda kasih sayang-Nya.
3. Istidraj Istidraj adalah salah satu bentuk kesenangan yang Allah berikan kepada hamba yang lalai terhadap-Nya. Terlihat sebagai sebuah bentuk kebahagiaan namun sejatinya istidraj adalah bentuk jebakan. Bagi mereka yang tak pernah sholat, zakat atau menunaikan kewajiban lainnya namun segala urusannya lancar serta rejekinya terus bertambah, beban hidup tak terlihat, yang ada hanya berfoya-foya dan hidup dalam kesenangan duniawi, tanda itulah yang dimaksudkan sebagai istidraj.
Istidraj bahkan lebih mengerikan karena adzab yang pedih kelak menanti di hari pembalasan. Istidraj adalah suatu bentuk yang Allah berikan kepada mereka yang gila dalam mencintai dunia. Ia mengunci hatinya akan akhirat dan Allah membiarkan mereka dalam kesesatan yang nyata agar celaka karena lalai dalam beribadah akibat terlalu sibuk dalam urusan dunia.
Lantas, mengapa Allah Swt membiarkan hal itu terjadi? Hal ini lantaran Allah Swt sudah memberikan peringatan namun mereka tetap gelap mata akan kebenaran. Akibat dari dosanya yang besar, maka Allah Swt pun mengunci hati mereka dari hidayah. Mereka dibiarkan menikmati kesenangan dunia hingga akhir hayatnya sehingga seluruh dosanya ditangguhkan di hari akhirat. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita tak termasuk ke dalam istidraj.
Kisah ini tentang seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memberi minum anjing yang kehausan. Allah Swt mengampuni dosa-dosa mereka karena kasih sayang mereka berdua kepada anjing tersebut.
Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, 'Anjing ini kehausan seperti diriku.' Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?" Beliau menjawab, "Pada setiap hati yang basah terdapat pahala."
Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor dalam bukunya berjudul "Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah" menjelaskan tentang hadis ini. Laki-laki itu sedang berjalan di luar desanya, jauh dari rumah-rumah. Lalu dia tertimpa kehausan yang sangat. Dia melewati sebuah sumur tanpa timba. Maka dia turun ke dalam sumur. Dia minum sampai hausnya hilang, lalu naik. Di situ dia melihat seekor anjing yang sangat kehausan. Saking hausnya, anjing ini menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah di sekitar sumur untuk meringankan hausnya.
Allah Swt telah memberikan manusia ciri-ciri tersendiri yang tidak dipunyai oleh banyak binatang. Di antaranya adalah bahwa manusia mampu mengambil air dari sumur dengan timba jika tersedia, atau turun ke sumur seperti yang dilakukan oleh laki-laki ini. Adapun anjing ini, ia tidak bisa melakukan hal itu. Ia akan mati bila tidak ada yang memberinya air.
Laki-laki tersebut melihat anjing yang kehausan ini. Dia ingat keadaan dirinya sebelum dia minum. Hausnya anjing ini sama dengan hausnya dirinya sebelum dia minum. Akan tetapi, mungkinkah dia memberi minum anjing ini sementara timba untuk mengambil air tidak ada. Dirinya telah turun ke sumur untuk minum.
Anjing ini tidak bisa minum jika airnya disuguhkan di depannya. Tidak ada jalan lain untuk mengambil air kecuali melepas sepatu dan turun ke sumur lalu membawanya kepada anjing ini. Akan tetapi, bagaimanapun, dia tetap tidak akan bisa memegang sepatu itu dengan kedua tangannya karena dia sendiri memerlukan keduanya untuk bisa turun dan naik sumur.
Seseorang tidak mau membawa sepatu dengan mulutnya. Karena sepatu adalah pakaian kaki dan dengannya seseorang menginjak tanah. Bisa jadi ia kotor, bisa pula baunya tidak sedap. Pada umumnya, seseorang tidak mendekatkan sepatu atau sandalnya ke mulut atau hidungnya, lebih-lebih membawanya dengan mulutnya.
Akan tetapi, belas kasih yang kuat di dalam hatinya mendorongnya melakukan apa yang dia lakukan. Dengan cara ini dia memberi air kepada anjing itu. Maka Allah Swt berterima kasih kepadanya, mengampuni dosanya, dan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.
Wanita Pezina, Kisah kedua, Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabi bersabda, "Seorang wanita pezina melihat seekor anjing yang berputar-putar di atas sumur pada hari yang panas. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu menimba air dari sumur dengan sepatunya, maka dia diampuni."
Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, "Seorang wanita pezina diampuni. Dia melewati seekor anjing di bibir sumur yang sedang menjulurkan lidahnya. Nabi bersabda, 'Ia hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengikat dengan kerudungnya dan menimba air dengannya untuk anjing itu. Dia diampuni karenanya."
Syaikh Umar menjelaskan wanita yang memberi minum anjing, lalu dosanya diampuni, dia adalah salah seorang wanita tuna susila atau wanita tuna susila Bani Israil yang melakukan perzinahan dan menjadikannya sebagai profesi dan sumber penghasilan.
Membandingkan dua kisah ini, Syaikh Umar menjelaskan wanita itu lebih besar dosanya daripada laki-laki itu, karena dia adalah seorang wanita tuna susila. Sementara laki-laki itu tidak dinyatakan demikian. Dari segi ini dosa wanita itu lebih besar dan berat. Wanita itu, sebelum memberi minum anjing, dia tidak merasakan haus seperti yang dirasakan oleh laki-laki itu. Perbedaan antara keduanya ini menjadi pendorong secara pribadi pada diri wanita itu untuk memberi minum. Karena, laki-laki itu pada saat dia melihat anjing kehausan, dia sedang merasakan apa yang dirasakan oleh anjing.
Lain halnya dengan wanita tersebut. Jadi, pendorong pada diri wanita itu adalah kepedihan dan belas kasih karena melihat anjing yang kehausan. Dia belum mengalami sendiri keadaan seperti keadaan laki-laki dan anjing itu. Akan tetapi, tingkat kesulitan laki-laki ini lebih tinggi daripada kesulitan si wanita.
Wanita itu datang ke sumur yang airnya dekat. Manakala dia tidak menemukan timba untuk mengambil air, dia melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kerudungnya. Itulah timba yang digunakannya untuk mengambil air dari sumur. Dengan cara inilah dia memberi minum anjing.
Adapun laki-laki itu, sepertinya air sumur saat itu dalam. Dia tidak mempunyai pakaian yang cukup untuk mengikat sepatunya, dan dia mengambil air dengan cara seperti dalam hadis. Laki-laki tersebut mengeluarkan usaha yang berlipat, di samping itu dia mengeluarkan air dengan cara yang banyak orang menolak melakukannya.
Walaupun terdapat perbedaan antara keadaan laki-laki dengan wanita itu, hanya saja Allah Swt tetap mengampuni keduanya. Keduanya telah melakukan perbuatan yang sama. Keduanya berbelas kasih kepada anjing yang kehausan dan memberinya minum. Karenanya, Allah Swt mengampuni dan merahmati keduanya.
Syaikh Umar menyebut tentang pelajaran dan faedah hadis ini.
Besarnya pahala orang yang berbuat baik kepada hewan. Kedua orang yang disebutkan di dalam hadis diampuni dosanya lantaran memberi minum anjing yang kehausan. Jika ampunan ini diperoleh lantaran memberi minum seekor anjing, lalu bagaimana dengan orang yang memberi minum manusia yang haus, memberi makan manusia yang lapar, dan memberi pakaian manusia yang telanjang.
Besarnya karunia Allah Swt dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.
Pada kalangan Bani Israil di kurun waktu tertentu telah membudaya tradisi dosa-dosa besar. Di antaranya adalah zina. Wanita yang disinggung dalam hadis adalah seorang wanita tuna susila.
Seorang muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar seseorang tanpa taubat karena dia melakukan kebaikan yang dengannya Allah Swt mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena taubatnya, akan tetapi karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadis. Tidak mengkafirkan seorang muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat kita.
Boleh menggali sumur di jalan umum. Laki-laki yang memberi minum anjing itu mendapatkan air disebuah sumur di tepi jalan yang dilewatinya. Barangsiapa menggali sumur di tepi jalan supaya orang-orang bisa minum, maka dia memperoleh pahala. Jika dia menggali untuk menyiram tanamannya, maka perbuatannya itu disyariatkan. Akan tetapi, dia harus meletakkan rambu-rambu yang memperingatkan agar tidak ada yang terjerumus ke dalamnya.
Susah, sengsara, menyerah, putus asa dan merasa buntu. Itu adalah beberapa hal yang dapat membuat kita merasa susah dan sengsara dalam kenyataan hidup yang tidak membahagiakan. Apakah pembaca pernah merasakan hal yang sama sebelumnya? Kira-kira, kenapa hidup kita susah? Jangan khawatir, kita semua mungkin pernah berada pada titik kehidupan di mana kita telah mencapai dinding atau perempatan, dan tidak tahu bagaimana untuk maju, dan tidak mungkin untuk dapat mundur kembali, susah dan sengsara.
Pada titik ini, kita sama sekali tidak tahu apa langkah selanjutnya. Mengubah jalur karier secara total? Atau tetap bertahan? Tidak yakin apakah harus melanjutkan pekerjaan penuh waktu atau menjadi orang tua yang tinggal di rumah untuk mencurahkan waktu sepenuhnya untuk anak-anak? Dan segelintir pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menghantui diri kita.
Namun, pernahkah kita berpikir tentang makna hidup susah dan sengsara? Hidup susah dan sengsara memiliki arti yang luas. Bagi sebagian orang, kehidupan yang susah dan sengsara terjadi ketika kita tidak bisa memenuhi kebutuhan primer seperti, sandang, pangan dan papan. Sedangkan, sebagian orang menganggap bahwa hidup susah dan sengsara terjadi ketika kita tidak memiliki paket internet, merasa kepanasan, tidak bisa makan enak, dan lain sebagainya.
Sejauh Mana Kita Merasa Susah dan Sengsara? Saat merasa susah dan sengsara, setiap orang memiliki tingkatannya masing-masing. Beberapa orang merasa susah dan sengsara hanya dalam satu hari, sementara yang lain bisa merasa susah dan sengsara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Bahkan seiring berjalannya waktu, perasaan terjebak ini dapat semakin meningkat ketika tidak ada yang bisa dilakukan atau tidak ada yang berubah sama sekali.
Dan pada akhirnya, beberapa orang akhirnya menetap, atau hanya pasrah pada nasib mereka. Tanpa sadar, tanpa menyadarinya, mereka akhirnya mendorong impian dan tujuan mereka semakin jauh. Bagi yang lain, perasaan susah dan sengsara menjadi begitu tak tertahankan sehingga mereka harus melakukan perubahan. Mereka harus keluar dari situasi tersebut, dan karenanya mereka membuat keputusan yang mengubah hidup itu dengan harapan akhirnya merasa bebas dan tidak susah lagi.
Jadi bagaimana mungkin kita akhirnya terjebak kesusahan dan kesengsaraan dalam kehidupan? Jika rekan-rekan mengalami hal ini, coba luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri “apakah yang kita pikirkan sekarang ini adalah penyebab dari perasaan susah dan sengsara yang sedang terjadi?”
Kenapa Kita Merasa Susah dan Sengsara?Ada banyak alasan mengapa kita akhirnya merasa susah dan sengsara dalam kehidupan. Terkadang, itu karena kita terlalu takut mengambil risiko atau membuat kesalahan. Pada akhirnya, kita sering memilih jalan yang “aman” yang tentunya bebas dari risiko. Faktanya, memilih jalan yang aman bukan berarti terbebas dari kemandekan. Inilah mengapa dikatakan oleh banyak orang bahwa kehidupan ini selalu akan dipenuhi tantangan. Saat kita berusaha menghindari rintangan dari satu jalan, maka rintangan di jalan lain akan menemukan kita. Dalam kata lain, menghindari suatu rintangan bukanlah opsi yang tepat untuk dapat terus maju.
Berikut adalah beberapa faktor penyebab merasa susah dan sengsara:
1. Tidak Ada Tujuan yang Jelas, Saat kita tidak tahu apa yang benar-benar kita inginkan di dalam hidup. Hal ini terjadi karena kita tidak memiliki tujuan atau impian nyata untuk diusahakan.
Dalam hidup, akan selalu ada saat dimana kita merasa ada sesuatu yang hilang, dan merasa buntu. Jika orang-orang yang memiliki mimpi-mimpi besar dan tujuan hidup saja dapat berhadapan dengan kemandekan (jalan ditempat), apalagi mereka yang tidak memilikinya sama sekali? Jadi, coba cari tahu apa tujuan hidup rekan-rekan pembaca.
2. Tidak Mendapatkan Dukungan dari Orang Lain, Selain itu, kita juga bisa merasa mandek dan susah karena kita tidak mendapatkan dukungan atau bantuan yang cukup dari orang-orang di sekitar kita. Pada kasus yang sering terjadi, kita hanya mengandalkan diri sendiri untuk menyelesaikan masalah. Sebagai makhluk sosial, kita membutuhkan perspektif baru, saran dan dukungan dari orang lain. Misalnya, apakah mereka bersedia menjadi mentor, penasihat dan pelatih untuk kita?
Pengaruh adalah sumber inspirasi dan motivasi yang baik. Jika kita mengelilingi diri dengan rekan-rekan atau mentor yang telah berhasil dalam mencapai tujuan dan impian dalam kehidupan mereka, maka kemungkinan besar kita juga akan mendapatkan dampak positif.
3. Mengejar Tujuan yang Salah, Bisa jadi kita merasa susah dan sengsara karena telah memberi diri kita tujuan yang salah. Apalagi di dunia yang dipenuhi dengan kecanggihan teknologi seperti saat ini, banyaknya media sosial membuat kita tergoda untuk membandingkan hidup yang kita miliki dengan kehidupan orang lain.
Sebagai contoh, Teman SMA kita baru saja pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnis selama satu minggu, sahabat kita baru saja bertunangan, sedangkan kita masih lajang sampai sekarang, dan beberapa perbandingan lainnya yang terkadang tidak masuk akal. Membandingkan adalah salah satu hal terburuk yang bisa dilakukan siapapun, karena seringkali mengarah pada perasaan tidak bahagia dan ketidakpuasan yang ekstrem.
Akhirnya, kita mulai mempertanyakan hidup kita sendiri, “kenapa ya dia kok mudah mendapatkan promosi?” “kenapa ya hubungan percintaan dia kok begitu lancar?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya terkait mengapa kehidupan kita berbeda dengan orang lain.
Nah, inilah bagaimana “perasaan susah, sengsara, terjebak, buntu atau mandek” muncul menghantui setiap orang yang melakukannya. Kita merasa tidak dapat meraih apa yang orang lain dapatkan.
Walaupun dengan membandingkan diri kita dengan orang lain terkadang menjadi motivasi yang baik untuk mendorong kita bekerja lebih keras, namun itu juga bisa menjadi pendemotivasi besar ketika tujuan yang kita miliki dibandingkan dengan pencapaian orang lain.
Bagaimana Berhenti dari Kebuntuan? Langkah pertama untuk keluar dari perasaan susah, sengsara, mandek atau buntu adalah mengetahui faktor apa saja yang membuat kita merasa susah dan sengsara? Apakah selama ini kita mengejar tujuan yang salah? apakah keluarga tidak mendukung tujuan hidup yang dimiliki, sehingga kita harus mencari pendukung lainnya? Coba identifikasikan hal tersebut.
Setelah mengetahui alasan kemandekan kita, langkah kedua adalah jangan lupa untuk menerima posisi kita sekarang. Maksudnya bagaimana? Sadari bahwa pencapaian yang kita miliki, akan berbeda dengan pencapaian orang lain. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Apa yang kita miliki mungkin saja sebuah impian bagi orang lain, begitu juga sebaliknya.
Langkah ketiga, jika kita merasa mandek karena tujuan yang salah, maka yang dapat dilakukan adalah menetapkan beberapa tujuan yang realistis dan dapat dicapai. Baik itu dalam kehidupan karier atau kehidupan pribadi kita, pastikan tujuan yang dipikirkan benar-benar bermakna bagi kehidupan kita. Secara tidak langsung, ini juga membantu kita memaksimalkan potensi diri dan meminimalkan perasaan terjebak, serta frustasi.
Langkah keempat, jika pembaca masih merasa susah dan sengsara, dan takut dalam mengambil langkah atau risiko, maka kami sarankan rekan pembaca untuk terus maju dan memberanikan diri untuk mengambil risiko. Ingat, seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa tidak ada jalan yang “aman”, setiap jalan memiliki rintangannya masing-masing.
Langkah kelima, jangan malu atau takut untuk meminta dukungan dari orang-orang di sekitar kita. Banyak orang yang merasa susah dan sengsara karena mereka tidak bercerita atau meminta bantuan kepada orang lain, sehingga orang lain pun tidak tahu bahwa orang tersebut memerlukan bantuan dari kita.
Nah, itu dia beberapa faktor mengapa kita merasa susah dan sengsara, serta langkah-langkah apa saja yang harus kita ambil untuk keluar dari kebuntuan yang sering datang ke dalam kehidupan kita. Saya harap setelah membaca artikel ini, tidak ada lagi pembaca yang menyerah dan pasrah begitu saja karena merasa susah dan sengsara dengan kehidupannya. Harus selalu diingat ya, mulai sekarang kita harus berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain, fokus mencapai tujuan hidup, berani mengambil risiko dan tidak mudah menyerah dengan kesusahan dan kesengsaraan hidup
Ujian, masalah, ataupun cobaan merupakan sesuatu yang sudah pasti akan terjadi dalam kehidupan manusia. Segala cobaan yang datang ke dalam hidup manusia ini tentunya memiliki alasan dan tujuannya sendiri. Salah satu alasan terbesar yang membuat manusia diberi cobaan yang berat adalah karena Allah Swt ingin mengukur atau menguji sudah sebesar dan sejauh mana tingkat keimanan seorang hamba-Nya. Saat ia ditimpa cobaan yang berat, apakah ia akan menjadi lebih dekat dan lebih tawakal pada Allah Swt, atau justru sebaliknya. Pada hakikatnya, ujian dan cobaan merupakan cerminan kasih sayang dan keadilan dari Allah Swt untuk para hamba-Nya yang beriman.
Allah Swt tidak rela menimpakan azab yang pedih di akhirat kelak, sehingga Ia menggantinya dengan menimpakan berbagai cobaan di dunia yang juga berfungsi sebagai penggugur segala dosa-dosa. Jadi semakin Allah Swt cinta kepada hambanya, maka cobaan yang diberikan padanya juga semakin berat, karena ujian tersebut akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah Swt.
Perluas Kesabaran dan Hadapilah Cobaanya Bersabar merupakan sebuah kunci yang bisa memberikanmu kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan masalah yang datang ke dalam hidupmu. Melatih kesabaran memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi kalau kamu bisa menjalaninya dengan tabah, maka kamu bisa lebih tangguh dalam menghadapi segala cobaan. Untuk bisa menghadapi cobaan, kamu memang tidak boleh terburu-buru dan harus ada persiapan yang matang, agar semuanya dapat terselesaikan dengan baik dan bijak di kemudian hari.
Jangan Terlalu Overthinking Saat menghadapi sebuah masalah atau cobaan yang berat, berbagai pemikiran buruk pasti akan selalu muncul dalam otakmu. Hal ini sebenarnya wajar terjadi karena kamu terlalu khawatir akan terjadi dampak buruk yang nantinya bisa membuat hidupmu semakin rumit. cobalah untuk tidak terlalu memikirkan hal semacam ini. Fokuslah pada penyelesaian masalahnya dari pada hanya overthinking dan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Dengan begitu, kamu akan lebih serius dalam menghadapi masalah tanpa diganggung oleh persepsi-persepsi negatif yang ada di dalam kepala.
Jalani Kehidupan dengan Apa Adanya Manusia harus berusaha untuk menjalani hidup dengan apa adanya, baru kemudian ia bisa menghadapi segala tantangan yang ada dalam kehidupannya. Menjalani hidup dengan apa adanya juga bisa membantumu untuk hidup lebih nyaman, sehingga kamu bisa berpikir lebih jernih dalam menghadapi segala ujian dan cobaan yang datang menghampiri.
Cobalah untuk Bersyukur Banyak manusia yang lebih mudah untuk menghitung masalah dibandingkan dengan berkah yang ia dapatkan. Padahal, kamu bisa mencoba untuk mengubah perspektif dengan bersyukur dan berusaha menerima segala sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu. Dengan cara ini, kamu bisa menguatkan diri sendiri sehingga kamu bisa lebih sehat baik dari segi fisik maupun mental. Tidak Masalah Jika Sesekali Ingin Mengeluh
Saat pikiranmu sudah terasa berat, kamu juga perlu menyadari dan memahami perasaanmu sendiri. Sebagai manusia, kamu tetap diperbolehkan untuk mengeluh jika kamu merasa sudah tidak kuat lagi menghadapi semua cobaan. Cara ini bisa membuatmu menjadi lega, dan nantinya bisa kembali bangkit dengan perasaan dan pemikiran yang lebih cemerlang dibandingkan sebelumnya. Itulah beberapa cara terbaik yang bisa dilakukan manusia saat harus menghadapi ujian maupun cobaan dari Allah Swt.Untuk membuatmu menjadi manusia yang semakin bersyukur dan memahami bagaimana besarnya rasa cinta Allah Swt kepada para hambaNya,
Selama hidup di dunia, kita tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya ujian, cobaan, ataupun masalah yang membuat kita sedih dan takut saat mengalaminya. Kesulitan ekonomi, sakit parah, putus hubungan, berpisah dengan orang yang kita cintai, dan berbagai cobaan lainnya, seringkali membuat kita mengeluh, putus asa, dan bertanya-tanya mengapa Allah SWT memberikan begitu banyak cobaan dalam hidup kita. Padahal, ujian dan cobaan hidup ini ada untuk dihadapi, bukan untuk ditakuti maupun diratapi. Sebagai manusia, kita harus tetap tegar dan ikhlas dalam menjalaninya. Untuk membuatmu tetap berada di jalan keikhlasan, berikut adalah penjelasan mengenai alasan kenapa Allah SWT memberikan cobaan yang berat kepada hambanya.
Pada surat Al-Baqarah ayat 155-156, Allah Swt berfirman yang artinya sebagai berikut ini : “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
Ayat ini menyadarkan kita bahwa apa yang kita dan segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Jika itu memang titipan, maka tidak perlu ada rasa bersedih saat titipan itu diambil. Semua masalah yang kita hadapi adalah sebuah ujian untuk melihat apakah kita sabar menghadapinya atau tidak. Jika kita sabar, maka kita termasuk orang-orang yang beruntung.
Hidup manusia tidak akan pernah lepas dari masalah dan ujian. Karena dari sanalah kualitas seorang manusia bisa terlihat. Perbedaannya, ia bisa mengatasi masalah dengan baik, justru semakin terbenam bersama masalah tersebut. Besar kecilnya masalah tak lepas dari kondisi pikiran Anda. Terkadang tanpa disadari sebuah masalah kecil bisa menjadi besar karena pikiran Anda mengkondisikan seperti itu. Karena itu, ketika masalah sedang menghampiri pastikan pikiran Anda tidak terbawa arus yang ada dalam masalah tersebut. Ingat juga, tak ada masalah yang tanpa solusi. Anda hanya butuh pikiran yang jernih untuk mengetahui cara menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi dan membelit hidup Kita.
Berserah Diri, Anda tidak akan pernah bisa menghadapi dan mengatasi masalah dalam kondisi pikiran dan hati yang gundah gulana. Untuk itu, kondisikan pikiran dan hati Anda untuk lebih tenang. Ketenangan bisa membuka pikiran Anda untuk menghadapi masalah secara lebih positif. Salah satu cara mendapatkan ketenangan batin adalah dengan berserah diri kepada Allah Swt. Jangan pernah berusaha memikul masalah sendirian. Karena kekuatan manusia pasti ada batasnya.
Berserah diri bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Berserah diri adalah sebuah upaya untuk bisa menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Kepada siapa lagi kita akan meminta pertolongan selain kepada Allah Swt yang Maha Besar.
Temukan Akar Permasalahan, Kita juga tidak bisa menemukan cara paling tepat dalam mengatasi masalah hidup jika belum menemukan akar permasalahannya. Ketahui dan pahami dengan jelas apa masalah yang melingkupi hidup kita. Dengan demikian kitaakan punya arah yang jelas dan tepat dalam menemukan solusinya. Dengan mengetahui akar permasalan secara jelas, kita bisa mengetahui dengan benar bahwa upaya yang dilakukan sudah berjalan di trek yang benar. Jangan sampai kita berjibaku mencari solusi, ternyata tidak ada sangkut paut dengan masalah yang tengah dihadapi.
Coba telisik lebih dalam dan sedikit menoleh ke belakang, bagaimana awal mula masalah tersebut bisa muncul. Bisa jadi masalah muncul dari hal-hal yang tak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Hal-hal yang selama ini Anda pikir baik-baik saja, ternyata justru menjadi pemicu masalah.
Tidak Membesar-besarkan Masalah, Sesuatu hal yang harus kita camkan saat mencari cara mengatasi masalah adalah tidak membesarkan masalah yang ada. Jangan ada “bumbu penyedap” dalam masalah yang dijalani. Karena hal itu justru akan membuat masalah menjadi tidak sedap alias lebih buruk. Mereka yang sering membesar-besarkan masalah adalah yang sering menderita oleh pikiran sendiri. Maka itu, pastikan pikiran Anda tetap terkontrol dan tidak membuat hidup Anda menjadi lebih buruk. Namun, bukan berarti Anda harus mengecilkan masalah.
Berikan porsi yang sesuai pada masalah tersebut. Jangan dilebihkan, jangan pula dikurangi. Sehingga Anda bisa menemukan cara yang paling tepat dan bijak untuk mengatasi masalah tersebut. Pendeknya, jangan mempersulit diri dengan membesarkan masalah dari kondisi sebenarnya.
Lihat dari Sudut Pandang yang Lain, Boleh jadi ketika masalah menghampiri, Kita hanya terpaku dengan pandangan dan cara berpikir kita sendiri. Ada baiknya, Anda coba keluar dari sudut yang kita gunakan dan cari sudut pandang lain. Cara ini akan membuka pikiran kita bahwa masalah tersebut tidaklah seberat yang kita pikir. Misalnya, saat kita bertengkar dengan pasangan, pasti ada banyak ego yang muncul. Saat itu, masing-masing pihak bersikukuh dengan sudut pandang mereka. Itulah yang membuat pertengkaran kerap sulit mencapai perdamaian. Karena itu, ketika hati dan pikiran sudah lebih tenang, cobalah melihat dari sudut pandang orang lain. Kita pasti akan menemukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu inilah yang harus Anda pahami sehingga bisa sama-sama menemukan solusi yang paling pas.
Berpikir Positif, Kita tidak akan bisa menemukan cara mengatasi masalah ketika pikiran Kita masih dipenuhi hal-hal negatif. Saat prasangka buruk memenuhi pikiran dan hati, maka Kita hanya akan menemukan jalan yang gelap. Bukan jalan terang yang bisa membimbing Kita mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi. Berpikir positif menjadi salah satu jalan yang harus Kita lalui jika ingin bisa mengatasi masalah. Dengan kondisi ini, pikiran Kita akan jauh lebih terbuka. Termasuk mau menerima masukan dari pihak lain terhadap masalah yang Kita hadapi.
Dengan berpikir positif Kita pun terbantu dalam mengurangi beban akibat masalah tersebut. Saat beban sudah terasa lebih ringan, pikiran Kita pun otomatis lebih jernih dan mampu melihat jalan yang harus ditempuh dalam mendapatkan solusi.
Berdoa dengan Keyakinan Penuh, Berdoa juga merupakan salah satu cara yang kerap dilakukan untuk mengatasi masalah hidup. Dengan berdoa kepada Allah Swt, maka Kita secara langsung menyerahkan masalah yang Kita hadapi kepada Yang Maha Kuasa yaitu Allah Swt.
Berdoalah dengan keyakinan penuh, meskipun Kita tidak pernah tahu kapan doa Kita akan dikabulkan. Karena hanya Allah Swt yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap baik ternyata buruk di mata Allah Swt. Karena itu, mintalah untuk selalu diberi petunjuk bahwa jalan yang ditempuh memang yang terbaik untuk Kita dan lingkungan di sekitar Kita.
Evaluasi Diri/Koreksi Diri, Apa pun masalah yang menimpa Kita, sebaiknya tetap selalu mawas diri. Lihat lebih dalam, apakah masalah yang terjadi lebih banyak muncul karena kesalahan Kita sendiri atau bukan. Mengevaluasi diri atas kesalahan yang pernah dilakukan menjadi upaya yang tidak boleh Kita lewatkan saat menemui masalah.
Melakukan introspeksi diri juga akan menjauhkan Kita dari kemungkinan menyalahkan orang lain atas masalah yang melkita. Tindakan ini jauh lebih sportif dan mulia dibanding melempar kesalahan kepada orang lain.
Bertaubat kepada Allah Swt dari segala kesalahan, maka kita akan dibantu untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.
Kisah Tobat Pembunuh 100 Orang yang masuk surga, Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam pernah berkisah. Dahulu kala, ada seorang penjahat dari bani israil yang sudah membunuh 99 orang. Suatu hari, sang pembunuh kelas kakap itu ingin bertobat. Didatangilah seorang ulama. "Saya telah membunuh 99 manusia, kalau saya bertobat sudikah kiranya Allah menerima tobat saya," tanya pria tersebut.
"Dosamu sangat besar. Betapa banyak jiwa yang kau hilangkan hak hidupnya. Tidak. Allah Swt tidak akan menerima tobatmu," kata Ulama tersebut. Sang penjahat terkejut dengan ucapan ulama tersebut. Ia langsung menghunuskan pedangnya. Ia bunuh ulama tersebut. Genaplah 100 korban pembunuhan pria tersebut.
Keesokan harinya ia kembali bertanya kepada seorang ulama. "Saya ingin bertobat, saya telah menghilangkan 100 nyawa, menurut Anda mungkinkan Allah menerima tobat saya," kata dia.
"Selagi nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu tobat masih terbuka. Tetapi ada syarat yang kamu harus penuhi. Kamu haris pindah ke desa sebelah. Desamu pusat kriminalitas. Kalau tetap di sana, kamu akan kesulitan menjaga diri. Sedangkan desa sebelah adalah pusat kesalehan. Kalau tinggal di sana banyak perbuatan baik yang akan menarikmu ikut," kata ulama tersebut.
keterangan, orang terdahulu sembunuh, merampok, zalim, jika bertobat Alah SWT mengampuni orang tersebut, apalagi kita tidak pernah membunuh, tobatlah wahai hamba Allah seberapun dosamu Insyallah Allah Swt menerima tobat kita, Amin.