This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 23 Juni 2022

Hukum bagi yang mengambil Dan menguasai hak orang lain

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, Berikut ini pembahasan tentang ghasb atau merampas, mudah-mudahan risalah ini Allah SWT jadikan ikhlas karena-Nya dan bermanfaat. Ghasb disebutkan dalam Alquran. Allah berfirman, dalam surah Al Kahfi: 79 yang artinya sebagai berikut : “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.” 


Ghasb secara bahasa artinya mengambil sesuatu secara zalim. Sedangkan menurut istilah fuqaha adalah mengambil dan atau menguasai hak orang lain secara zalim dan aniaya dengan tanpa hak. 

Ketika khutbah wadaa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu terpelihara  antara sesama kamu sebagaimana terpeliharanya hari ini, bulan ini dan negerimu ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Umamah secara marfu’ disebutkan yang artinya sbb :
“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah SWT mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).“

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sbb :“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah SWT akan mengalungkan tujuh bumi kepadanya.”

Oleh karena itu orang yang melakukan ghasb harus bertobat kepada Allah SWT dan mengembalikan barang ghasb kepada pemiliknya serta meminta maaf kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Jika barang ghasb masih ada, maka dikembalikan seperti sedia kala. Namun jika sudah binasa, maka dengan mengembalikan gantinya.

Menanam tanaman atau pohon atau membuat bangunan di atas sebuah tanah ghashb (rampasan) Barangsiapa yang menanam di tanah rampasan, maka tanaman itu milik yang punya tanah, dan bagi perampas memperoleh nafkah. Hal ini, jika tanaman belum dipetik, adapun jika sudah dipetik, maka pemilik tanah tidak berhak selain upah.

Pohon yang ditanam juga wajib dicabut, demikian juga bangunan yang dibuat juga harus dirobohkan. Dalam hadits Raafi’ bin Khudaij disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang menanam di sebuah tanah milik sebuah kaum tanpa izin mereka, maka ia tidak berhak memperoleh dari tanaman itu sedikit pun, dan untuknya (perampas) nafkah yang dikeluarkannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan Ahmad, ia berkata: “Sesungguhnya saya berpegang kepada hukum tersebut atas dasar istihsan; dengan menyelisihi qiyas.”)

Abu Dawud dan Daruquthni juga meriwayatkan dari hadits Urwah bin Az Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sbb: “Barangsiapa yang menghidupkan tanah, maka tanah itu menjadi mililknya, dan untuk keringat orang yang zhalim tidak memiliki hak.”

Urwah berkata, “Telah memberitakan kepadaku orang yang menceritakan hadits ini kepadaku bahwa ada dua orang yang bertengkar lalu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang satu menanam pohon kurma di tanah milik yang lain. Maka Beliau menetapkan (tanaman tersebut) untuk pemilih tanah karena tanahnya dan memerintahkan kepada pemilik pohon kurma untuk mengeluarkan pohon itu darinya. Ia berkata, “Sungguh, saya melihatnya ketika pohon kurma itu dipotong akarnya dengan kapak, padahal pohon itu adalah pohon kurma yang tinggi.”

Syaikh Shalih Al Fauzan dalam al-Malkhash Fiqhiy berkata, “Jika orang yang melakukan ghasb telah membuat bangunan di tanah rampasannya atau menanam di atasnya tanaman, maka ia harus melepas bangunan itu atau mencabut tanaman itu, jika pemiliknya meminta demikian. Jika tindakannya itu sampai membekas ke tanah yang dirampasnya, maka ia wajib mengganti rugi kekurangannya, di samping ia juga harus menghilangkan sisa-sisa tanaman dan bangunan sehingga ia menyerahkan tanah kepada pemiliknya dalam keadaan baik. Ia pun wajib membayar upah standar dari sejak merampas sampai menyerahkannya, karena ia mencegah pemiliknya untuk memanfaatkan di masa itu dengan tanpa hak. Jika ia merampas sesuatu dan menahannya hingga menjadi murah harganya, maka harus menanggung kekurangannya menurut pendapat sahih.”

Jia barang yang dirampas bercampur dengan barang lainnya yang bisa dibedakan seperti gandum dengan sya’ir, maka perampas wajib membersihkannya dan mengembalikannya. Namun jika bercampur dengan barang yang sulit dibedakan, seperti gandum dengan gandum,  perampas wajib mengembalikan barang itu; ada berapa takar atau timbangan ketika diambilnya sebelum dicampur.

Jika dicampur dengan dengan barang yang di bawahnya atau lebih baik darinya atau tidak sejenis, namun sulit dibedakan, maka campuran itu dijual, lalu diberikan seukuran harganya masing-masing. Dan jika barang rampasan berkurang nilainya jika secara terpisah, maka perampas menanggung kekurangannya. Disebutkan oleh para fuqaha, “Tangan-tangan yang muncul di atas tangan perampas semuanya adalah tangan tanggungan.” Maksudnya Tangan-tangan di mana barang rampasan berpindah kepadanya melalui jalan perampas semuanya menanggung jika binasa.

Dengan demikian, jika orang kedua mengetahui hakikat sebenarnya dan bahwa orang yang memberikan barang kepadanya adalah perampas, maka ia harus menanggungnya karena ia berbuat zhalim dengan kesengajaan (diketahuinya) tanpa izin pemiliknya. Namun jika orang kedua tidak mengetahui keadaan sebenarnya, maka yang menanggung adalah perampas (orang pertama).

Jika barang rampasan adalah yang biasa disewa, maka perampas wajib mengganti upah semisalnya (standar) selama barang itu berada di tangannya. Karena manfaat adalah harta yang jelas nilainya, maka wajib ditanggung seperti menanggung barang. Semua tindakan ghaasib (perampas) adalah batal, karena tidak ada izin pemiliknya.

Jika seseorang merampas sesuatu dan ia tidak mengetahui di mana pemiliknya serta tidak mampu mengembalikannya, maka ia bisa serahkan kepada hakim yang akan menaruhnya di tempat yang benar atau ia sedekahkan memakai nama pemiliknya. Sehingga jika disedekahkan, maka pahalanya untuk pemilik barang dan si perampas sudah lepas tanggungan.

Keterangan : Jika mengambil harta orang lain secara rahasia dari tempat yang terjaga, maka hal itu disebut pencurian. Jika mengambilnya secara kekerasan, maka hal itu adalah muhaarabah dan jika mengambilnya karena menguasai, maka hal itu adalah ikhtilas (jambret) dan jika mengambilnya saat ia diamanahi, maka hal ini disebut khianat.

Terdapat Lima dampak akibat berbuat zalim terhadap orang lain

Terdapat 5 dampak akibat berbuat zalim terhadap orang lain. Dalam Islam, perbuatan zalim adalah meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Kata ini juga biasa digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan. Dalam QS. Ali Imran Ayat 192, Allah SWT telah memberikan peringatan berupa ancaman bagi orang zalim. kata Imran Baehaq : “Orang-orang yang berbuat zalim akan mendapat ancaman yang sangat dahsyat yang mestinya menjadi perhatian kita sebagai orang-orang mukmin, sehingga kita hidupnya senantiasa dalam ridha Allah Swt,” 

Pertama, kezaliman akan mengakibatkan berlakunya azab yang besar bagi pelakunya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Furqan ayat 19 bahwa “barangsiapa yang berbuat zalim, niscaya akan merasakan azab yang sangat besar.”

Kedua, kezaliman akan mendapatkan laknat berupa dijauhkannya dari kenikmatan-kenikmatan dan rahmat Allah Swt baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Ghafir ayat 52 bahwa “(yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.”

Ketiga, kezaliman akan mendapatkan ancaman doa dari orang yang dizaliminya dan doa orang yang terzalimi akan dikabulkan oleh Allah Swt, sekalipun doa keburukan. Rasulullah Saw pernah bersabda: ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, kezaliman akan mengalami kebangkrutan di hari kiamat kelak, bila tidak bertaubat kepada Allah SWT dan memohon maaf kepada orang yang dizalimi ketika di dunia. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham” (HR. Al-Bukhari).

Kelima, kezaliman akan mendatangkan bencana dan malapetaka. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 45 bahwa “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).” Semoga bermanfaat dan Semoga kita dijauhkan dari sifat zalim dan segera bertobat kepada Allah SWT dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Rabu, 22 Juni 2022

Cara memahami Luasnya ampunan Allah SWT

Memahami luasnya ampunan Allah SWT, menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji dan diselami. Berangkat dari beberapa fenomena yang tidak jarang kita dapati dimaayarakat kita, atau sebagian kecil dari masyarakat kita yang mulai dijangkiti penyakit yang dalam istilah Islam namanya : "al-Ya'su , al-Qanath"  Yaitu unsur berputus asa dari rahmat dan mapunan Allah SWT. Ini semua diawali ketika diantara mereka, atau sebagian kecil dari mereka terjatuh dalam kubangan lumpur dosa. 


Sisi lain diantara mereka secara fitrah nalurinya ingin kembali kepada Allah SWT. Namun tidak jarang muncul dalam hati mereka bisikan-bisikan, baik dari syaiton atau orang sekitar dia yang ingin mematahkan semangat dia untuk kembali kepada Allah SWT. Sehingga menjadi sempit pemahaman manusia dalam memahami luasnya Maghfirah dan rahmatnya Allah SWT.

Hal yang harus kita sepakati bersama sebagai hamba Allah Rabbul Izzah, sering kita mendengar istilah, "Al Insaanu mahalul al khatha' wan nisyan" Yaitu Manusia adalah tempat salah dan lupa dan salah. Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam; "Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat." (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah).

Tidak ada setiap orang diantara kita yang berani mengatakan bahwa dirinya adalah seorang hamba yang terbebas dari kesalahan dan dosa. Namun yang menjadi permasalahan adalah;

  1. Bagaimana tatkala diantara kita ingin kembali kepada Allah SWT.
  2. Timbul keraguan, saya ini sepertinya sudah terlampau jauh terjatuh dalam jurang perbuatan dosa, bahkan tidak jarang mengatakan "sudah tidak bisa dihitung berapa kesalahan saya dan dosa saya, apakah pantas saya memohon ampun/maghfiroh dan rahmat kepada Allah sementara saya masih kotor."

Inilah hal-hal yang menjadi kerancuan diantara sebagian kecil kaum muslimin, sehingga kita perlu meluruskan.  Tidak jarang para ulama sudah mengingatkan kita, konsep yang memang sudah dibangun secara permanen salam Islam. Kita itu ada ditengah-tengah, antara sikap melampaui batas dengan sikap terlalu meremehkan. Bila konsep ini sudah difahami dengan baik dan benar, maka akan bisa mengikis sebagian persepsi atau asumsi dari sebagian kecil kaum muslimin,

  1. yang pada akhirnya mereka kelompok sudah pesimistis seolah sudah tidak bisa lagi menjadi orang baik,
  2. yang satunya kelompok yang melampaui batas yang akhirnya meremehkan juga.

Para Ulama mengatakan, "Kalau seorang hamba tidak memiliki unsur Al-Khauf (rasa takut) dan Ar-Rodja (berharap) yang seimbang, justru akan mencelakakan dia, kalau seorang hamba tidak memiliki keseimbangan antara al-Khauf dan Ar-Rodja." Artinya, Rasa takut (Khauf) dan rasa harap (Rodja) itu harus balance, "Bila salah satunya itu lebih dominan bisa mencelakakan seorang hamba."

Gambaran contoh kasus : Ketika si A misalnya,  Perasaan takutnya terlalu berlebihan. Bila perasaan takutnya sudah melampaui batas dan berlebihan, kata para ulama, "Justru menyeret dia dalam jurang keputusasaan (pesimis)." Unsur pengharapannya terlalu berlebihan. Ketika pengharapannya terlalu berlebihan,"Justru akan menyeret dia semakin berani berbuat dosa." Sehingga muncullah sebuah statemen dari sebagian kecil orang-orang muslimin diantara kita mengatakan, "Ah masa iya sih kesalahan seperti ini saya akan di adzab oleh Allah SWT, padahal saya sholat, puasa, zakat, membantu kaum fuqoro dan dhuafa, membangun masjid, membantu anak2 yatim, dsb. "Islam sudah memberikan kepada kita kaidah yang begitu indah, (khairul umur ausathuha) “Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya” Maksudnya : "Tidak melampaui batas dan tidak meremehkan."

Dari sini para Ulama ingin mengajak kepada kita, yang seharusnya ketika setiap orang diantara kita memang tidak kita pungkiri berpotensi berbuat salah dan dosa. Ketika unsur keimanannya tidak dipupuk sejak dini dan tidak dikuatkan dengan ilmu agama yang benar. Justru akan menyengsarakan dan menyiksa pelakunya. Sehingga tidak jarang diantara sebagian kaum muslimin, ketika merasa sudah banyak dosa yang dilakukan, dia memilih jalan pintas dengan mengatakan, "sudah kepalang basah ya sudah lanjutkan."

Allah SWT berfirman, "dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf : 156). Pekerjaan Rumah (PR) yang harus kita kerjakan bersama, bagaimana bisa menempatkan kaidah ataupun norma dan aturan, keseimbangan antara Al-Khauf dan Ar-Rodja. Unsur rasa takut dan unsur rasa harap kepada Allah SWT. Ingatkan kepada setiap orang diantara kita, bahwasanya Allah SWT itu Maha Pengampun, tapi ditambahkan lagi bahwasanya Allah SWT juga Maha menyiksa.

Agar setiap orang diantara kita menyelami dua ayat dalam Alquran. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Hijr ayat 49-50 yang artinya sbb:  "Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,". "Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih."(QS. Al-Hijr : 49-50)

Allah Maha Pengampun, mengampuni semua dosa-dosa hambanya tanpa kecuali. Bahkan ketika seorang hamba terjatuh dalam jurang perbiatan dosa besar sekalipun, syirik misalnya. Dan dia bertobat kepada Allah SWT, Allah akan mengampuni dia, apalagi selain syirik. Sehingga mereka yang tidak rela teman-temannya kembali kepada kebaikan harus kita patahkan.

Allah SWT ingin menenangkan hamba-hamba Nya, sebanyak apapun dosa yang kamu lakukan selama engkau kembali dan beryobat kepada Allah, maka Allah SWT akan menerima taubatnya. Dalam Hadits Qudsi, Allah SWT menegaskan kepada hamba-hambanya, "Sesungguhnya rahmat Ku mengalahkan murka Ku".(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah lebih mengedepankan rahmat Nya kepada hamba-hambanya, terlebih kepada para hamba yang mereka mau kembali kepada Allah SWT. Ketika hamba itu ingin kembali pada Nya maka Allah SWT sangat senang. Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan, "Allah SWT lebih berbahagia dan sangat senang ketika ada diantara hamba-hamba Nya yang mereka kembali dan bertobat kepada Allah SWT."

Bagaimana Allah Rabbul Izzah ingin mengiingatkan hamba-hamba Nya, agar hamba-hamba Nya yang detik ini atau kemarin sempat terjebak dalam jurang perbuatan dosa, agar mereka tidak berputus asa. Karena memang potensi setiap orang diantara kita untuk berputus asa itu besar peluangnya. Terlebih ketika teman-teman disekitar dia tidak memberikan dukungan secara moril, apalagi bila diantara mereka ada yang mengatakan "sok alim sok suci", sehingga merasa malu.

Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Az-Zumar ayat 53 yang artinya sbb : 

"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Jangan sekali-kali terjebak dalam jurang keputus asaan dari Rahmat Allah Rabbul Izzah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Bila apa yang Allah SWT sampaikan ini kepada kita dapat difahami dengan baik oleh orang-orang diantara kita, maka akan bisa menepis segala bentuk keraguan setiap orang diantara kita untuk kembali meraih rahmatnya Allah SWT, karena :

  1. Yang menawarkan Allah
  2. Yang menyampaikan Allah
  3. Yang menjanjikan Allah

Namun ayat ini terkadang tidak jarang disalah tafsirkan oleh sebagian kecil dari saudara-saudara kita. Kata mereka, "Berarti Allah SWT akan mengampuni dosa kita, kalau gitu saya gak mau tobat sekarang deh nanti saja." Ada syubhat diantara mereka sebagian kecil kaum muslimin, orang yang memiliki hati yang lemah dan mudah goyah. Bukan berarti ayat ini kita permainkan. Setiap orang diantara kita haruslah bersegera untuk bertobat kepada Allah SWT. Dan Allah SWT akan sangat gembira dan menyambut bila ada hamba Nya yang mau kembali pada Nya. "Dan Rahmat Ku melampaui segala sesuatu."

Pentingnya bagi kita untuk saling mengingatkan. Caranya untuk mengingatkan, "Bila saat ini diantara kita terjebak dalam kubangan dosa segera bertobat kepada Allah SWT, sebelum ajal menjemput kita." Sering kita katakan bahwasanya kematian itu tidak hanya menimpa orang yang berusia tua renta, tidak hanya harus orang yang sering sakit-sakitan.

Tidak ada Nash dari Alquran maupun Hadits, maupun dari para ulama salaf yang menunjukkan bahwa orang akan mati harus tua dulu. Tapi Nash dalam Alquran mengatakan, Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Ankabut Ayat 57; "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." QS. Al-Ankabut : 57

Maka kita semestinya kita harus waspada agar jangan sampai kita terburu dijemput malaikat maut sebelum kita bertobat. Sehingga setiap kita memiliki konsep bahwa Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba ketika taubat itu betul-betul tulus dari hati yang paling dalam,

  1. Meninggalkan dan menanggalkan dosa
  2. Menyesali apa yang diperbuat.
  3. Tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.

Sadari bahwasanya peluang kita untuk bertaubat itu sangat besar, dan ini bukti cinta Allah SWT kepada hamba-hamba Nya. Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan kepada kita, "Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak berdosa." (Shahih : HR. Ibnu Majah no. 4250, dari Ibnu Mas’ud)

Ini bukti, apalagi Allah sudah menegaskan kepada kita dalam hadits Qudsi, "Rahmat Ku mendahului kemurkaan Ku." Allah SWT sangat sayang dan sangat mencintai hamba-hamba Nya. Kalau Allah SWT mengedepankan kemarahan dan kemurkaan Nya, tidak ada diantara kita yang bertahan lama dimuka bumi ini. Sehingga Allah SWTsenantiasa memberikan peluang besar kepada hamba-hamba Nya. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Thaha ayat 82; "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar."(QS. Thaha : 82)

Inilah janji Allah SWT,

  1. Tatkala kita bertaubat
  2. Kembali beriman kepada Allah SWT
  3. Diiringi dengan amal sholeh 
  4. Istiqomah (ini yang berat).

Ini membuktikan bahwasanya Allah SWT sangat menyayangi hamba Nya. Bersyukurlah kita bahwasanya Allah SWT itu, bahkan lebih banyak memberikan peluang kepada kita dan tidak menyegerakan siksa dan adzab kepada hamba-hamba Nya, ketika hamba ini mau kembali kepada Allah SWT.

Sadari bila hari ini diantara kita semapt berbuat dosa dan sampai detik ini masih diberikan nikmat bernafas, mendengarkan kajian, shilat Isya, ini berarti Allah SWT masih sayang kepada kita dan Allah SWT cinta kepada kita. Bukti Allah SWT cinta kepada hamba yang beriman, Allah SWT berikan peluang seluas-luasnya kepada hamba Nya untuk beramal sholeh. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Furqon ayat 70 yang artinya,  "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah SWT maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. AL-Furqon : 70)

Fenomena yang menimpa sebagian kecil kaum muslimin, ketika memahami ini adalah ayat hiburan bagi mereka orang-orang yang terjebak dalam jurang keputus asaan. Yang mereka mengatakan, "Kalau gitu taubatnya nanti aja deh jangan sekarang." Jangan karena ini ucapan yang berbahaya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya apabila seorang yang beriman berbuat satu kesalahan (dosa), maka akan ditulis titik hitam di hatinya. Tetapi jika ia menahan dirinya dari perbuatan maksiat, meminta ampun kepada Allah SWT dan bertaubat, maka hatinyapun akan bersih kembali, dan jika ia berbuat kesalahan lagi, maka akan ditambah titik hitam tersebut di hatinya, sehingga titik-titik itu memenuhi hatinya. Dan itulah ‘raan’ yang difirmankan Allah SWT “Sekali kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”(QS. Mutofifin : 14) (Hadits hasan shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no.3334, Ahmad dan Abu Daud, Al-Hakim II/517, Ibnu Majah no.4244 dan Ibnu Hibban dalam At-Ta’liiqaatul Hisaan, no.926 dan 2776)

Dalam Hadits tersebut Nabi mengatakan kalau ada tiga indikator atau tiga hal yang dia lakukan,

  1. Jika dia segera bertaubat,
  2. Meninggalkan perbuatan dosa,
  3. Beristighfar kepada Allah SWT.

Maka hatinya akan bersih kembali dari noktah hitam. Inilah indahnya Islam, Islam itu balance,

  1. Ada perintah ada larangan
  2. Ada kabar gembira ada peringatan.

Maka bagi orang-orang yang mereka terjebak dalam jurang yang melampaui batas dalam Unsur Rodja (Harap), tidak punya Rasa Al-Khauf (Rasa Takut) sama sekali, akan menyeret dia untuk berani berbuat dosa. Kalau kita meyakini Allah SWT Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kita juga harus meyakini bahwa Allah Maha Menyiksa, mampu mengadzab siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Inilah indahnya Islam balance, tidak ingin menjadikan setiap penganut Islam ini mereka terjatuh kedalam kelompok yang ekstrem, berlebihan dalam hal rasa takut sehingga putus asa dan pesimis. Demikian pula dalam hal Rodja/harapannya, membuat dia nekat berbuat dosa.

Inilah seorang mukmin harus berjalan dengan dua sayap, sayap Al-Khauf dan sayap Ar-Rodja yang balance. Karena dampak seorang hamba yang menunda-nunda untuk meraih Maghfirah/ampunan Allah, akan membahayakan hidup dia, sehingga al maut menjemputnya sebelum dia bertaubat dimanapun dia berada.

Abdullah bin Umar pernah mengatakan, "Kami pernah dalam satu majelis menghitung taubatnya Nabi, memohon ampun kepada Allah 100 kali."

“ALLOHUMMAGHFIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWABUR ROHIIM. yang artinya, sbb :

"Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) sampai beliau membacanya seratus kali." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih.)

Islam mengajarkan kepada kita, agar kita ini memiliki sifat yang baik.

  1. Berhusnudzon kepada Allah SWT, bahwasanya Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa hambanya, sehingga ini memicu kita untuk senantiasa kembali kepada Allah SWT dengan Taubat kepada Nya.
  2. Konsep baku yang diajarkan oleh para ulama kepada kita, agar kita menyeimbangkan antara unsur Al-Khauf (rasa Takut) dan Rodja (rasa Harap).
  3. Artinya kalau seorang mukmin itu berjalan maka dengan dua sayap yang seimbang, tidak boleh timpang salah satunya.
  4. Bila salah satunya lebih dominan maka berbahaya, bahayanya sbb :

"Ketika seorang hamba memiliki rasa takut yang berlebihan maka akan menyeret dia kedalam jurang keputus asaan dan pesimis. 

  • Begitu juga sebaliknya ketika dia memiliki rasa harap yang berlebihan, merasa percaya diri dia susah sholat, sudah puasa, rajin baca Quran, rajin kemesjid, sekian kali berhaji dan umroh. Ini berbahaya karena meremehkan perbuatan dosa.
  • Dan sebagian kita yang mulai berputus asa dari rahmat Allah, Allah telah menghibur kita memberi kita ultimatum,

Allah Ta'ala berfirman yang artinya : 

"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.Az-Zumar : 53)

Dahulu saya pernah berbuat dzolim, takut dan selalu was-was akan ibadah tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena bisa jadi rumah yang kita tempati tercampur dengan harta haram, bagaimana cara taubatnya agar gelisah ini hilang.?

Jawab : Dahulu pernah berbuat dzolim, artinya kita harus faham dulu bahwa dzolim itu adalah, "Berbuat hal yang melampaui batas, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya." Bisa jadi karena perkataan atau perbuatan kita, atau kita merampas harta orang lain. Sekarang ingin tobat, tapi terjangkiti penyakit keraguan, takutnya rumah yang saya pakai tercampur dengan harta haram. Seperti halnya ketika Allah SWTmengisahkan kepada kita tentang haramnya riba. Allah SWT memberikan kita toleransi yang lalu sudah Allah SWT maafkan ketika kita tidak tahu.

Sekarang perbaharui niat kita, perbaharui amal kita, dan banyak kembali kepada Allah SWT. Kalau toh pada akhirnya Allah SWT beri kita kemampuan dan kita tidak tahu dulu berapa yang pernah saya ambil. Maka Islam tidak memberatkan dan memberikan beban kepada hambanya diluar kemampuannya. Sehingga Allah SWTmenegaskan kepada kita; "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" (QS. At-Taghabun : 16)

Silahkan kita bersedekah dengan nominal yang kita miliki dan tidak dipaksakan, seingat kita.  Jangan sampai penyakit was-was itu pada akhirnya menggoyahkan kita. Ingat iblis itu bisikannya sangat-sangat dahsyat. Iblis itu itu awal bisikan kepada kita adalah mengatakan; "Siapa yang menciptakanmu.?" Nanti puncaknya akan membuat ragu aqidah kita dengan mengatakan, "Siapakah yang meciptkan Tuhanmu.?"

Kata Rasulullah, "kalau ini mulai terbetik dihati dan fikiran kita, maka diam, tinggalkan dan baca istiadzah." Kembali lagi dikatakan, silahkan kita kira-kira berapa dulu yang diambil. Kalau masih ingat, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak ingat maka semampu kita. Maka kita katakan, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan Nabi shalallahu'alaihi wasallam juga mengatakan yang artinya sbb :“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa.”  (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah no. 2045, Al-Baihaqi VII/356)

Jadi kembali kepada konsep semampu kita untuk kita kembalikan kepada orang yang kita ambil haknya, seingat kita. Yang lalu sudah Allah SWT ampuni termasuk dosa Riba. Sekarang buka lembaran baru, kembali kepada Allah SWT.Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya sbb : “iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya.” (Riwayat Tirmidzi, dia berkata, "haditsnya hasan)

Setiap kali berbuat kesalahan dan dosa, hapus dengan amal kebjikan sebagai penghapus amal keburukan tadi. Semoga kita selalu kembali dan minta mpunan kepada Allah SWT, dan semoga kita di ampuni oleh Allah SWT. Semoga Bermanfat.

Masuk Surga Semata Karena Rahmat Allah SWT


Seorang tidak bisa membayar surga Allah SWT dengan amal perbuatannya. Karena amalannya penuh dengan cacat, sementara surga Allah terlalu sempurna untuk menjadi balasannya. Hanya dengan rahmat Allah saja seorang bisa tinggal di surgaNya. Syaikh Ibnu ‘Utsamin menjelaskan, “Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis ini (yakni hadis Jabir di atas, pent)? Jawabannya, kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat bahwa amal sebagai kunci masuk surga dalam arti bahwa amal itu adalah sebab, bukan pengganti”.

Seorang berpangku tangan merasa cukup bergantung dengan rahmat Allah, lalu meninggalkan  amal sholih karena menganggapnya tidak penting. Karena Allah menetapkan segala sesuatu dengan sebab dan akibat. Dalam hal ini, Allah ‘azzawajalla menjadikan sebab mendapatkan rahmatNya; yang menjadi sebab meraih surga, dengan amal shalih.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 218).

Tidak Pantas  ujub dan sombong, saat seorang menyadari  bahwa amalannya tidak mampu menggantikan surga Allah SWT, disitu ia mengerti amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya. Andai dari hari pertama dia dilahirkan ke dunia, sampai akhir hayatnya  beribadah kepada Allah SWT dan tak pernah melakukan dosa sedikitpun, itu tak akan mampu membayar surga Allah SWT yang penuh dengan limpahan kenikmatan. Lalu bagaimana lagi bila diri ini berlumuran dosa, ibadah masih cacat, entah sudah berhasilkah kita memperjuangkan keikhlasan, kemudian  merasa ‘ujub.

Amal Shalih Sebab Meraih Tingkatan Tinggi di Surga, suatu hari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami (Abu Firos) berkisah, “Aku bermalam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian aku mengambilkan air wudhu’ untuk beliau, serta hajat beliau (maksudnya pakaian dan lain-lain). Kemudian Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku,

“Mintalah sesuatu kepadaku.”

“Aku meminta untuk bisa bersamamu di dalam surga.” Pintaku.

Nabi bersabda lagi, “Apakah ada selain itu?”

“Hanya Itu permintaanku.” Jawabku.

Beliau lalu bersabda, Diriwayatkan oleh HR. Muslim “Kalau begitu tolonglah aku untuk memperkenankan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain diterangkan, dari Abu Said al Khudri radhiyallahu’anhu. Beliau mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang menempati derajat yang paling tinggi,  akan melihat orang-orang yang berada di bawah mereka, seperti kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit. Dan sngguh Abu Bakr dan ‘Umar, termasuk dari mereka  dan yang paling baik” (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas menunjukkan bahwa surga memiliki tingkatan-tingkatan, yang dapat diraih dengan amal sholih, setelah masuknya didapat karena rahmat Allah SWT.

Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah bahwa kamar di surga berbeda-beda dalam hal derajat ketinggian dan sifatnya, sesuai  perbedaan penghuninya dalam  amal perbuatan. Maka satu dari mereka lebih tinggi derajatnya dari yang lain” (at Tadzkiroh fi Ahwal al Mauta wa Umur al Akhiroh, hal. 398).

Diantara tafsiran para ulama dalam mengkompromikan ayat dan hadis yang tampak bertentangan di atas, bahwa ayat yang menerangkan amalan sebagai kunci masuk surga, diartikan  sebagai sebab untuk meraih derajat di dalam surga. Adapun hadis tentang masuk surga karena rahmat Allah,  dipahami bahwa rahmat Allah sebagai sebab masuk surgaNya.

Ibnu Hajar rahimahullah menuliskan dalam Fathul Bari, Ibnu Batthol menjelaskan saat menggabungkan hadis ini (yakni hadis Aisyah yang semakna dengan hadis Jabir di atas, pent), dengan firman Allah ta’ala, “Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal sholeh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72)

Ayat ini dimaknai bahwa tingkatan di dalam surga diraih dengan amalan. Karena derajat di surga berbeda-beda,  sesuai perbedaan tingkatan amal. Adapun hadis dimaknai, sebab masuk surga atau sebab mendapatkan keabadian di dalamnya (hanya dengan rahmat Allah)” 

Sedangkan firman Allah Ta’ala, dalam (QS. Al Hadiid: 21) sebagai berikut ini yang artinya,  “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”  Dalam ayat ini dinyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti ada amalan.

Begitu pula dalam ayat, dalam surah An-Nahl: 32 yang artinya,  “Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. Serta dalam Surah Az-Zukhruf ayat 72 artinya sebagi berikut ini : Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”

Seakan-akan ayat dan hadits itu bertentangan. Ayat menyatakan, kita masuk surga karena amalan dan keimanan kita. Sedangkan hadits menyatakan, faktor terbesar masuk surga adalah karena karunia Allah.

Ada beberapa penjelasan para ulama mengenai hal ini : Yang dimaksud seseorang tidak masuk surga dengan amalnya adalah peniadaan masuk surga karena amalan. Amalan itu sendiri tidak bisa memasukkan orang ke dalam surga. Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah SWT, tentu tidak akan bisa memasukinya. Bahkan adanya amalan juga karena sebab rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya.

Amalan hanyalah sebab tingginya derajat seseorang di surga, namun bukan sebab seseorang masuk ke dalam surga. Amalan yang dilakukan hamba sama sekali tidak bisa mengganti surga yang Allah beri. Itulah yang dimaksud, seseorang tidak memasuki surga dengan amalannya. Maksudnya ia tidak bisa ganti surga dengan amalannya. Sedangkan yang memasukkan seseorang ke dalam surga hanyalah rahmat dan karunia Allah. (Disarikan dari Bahjah An-Nazhirin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H, 3: 18-19).

Imam Nawawi rahimahullah memberikan keterangan yang sangat bagus, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145)

Jadi kita masuk surga bukan semata-mata dengan amalan kita. Amalan kita itu bisa ada karena taufik Allah. Taufik Allah itulah karunia dan rahmat-Nya. Jadinya, amalan itu ada karena karunia dan rahmat-Nya.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah SWT, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah SWT mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21). Dalam ayat ini dinyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti ada amalan yang yarus dikerjakan sebagai amal ibadahnya didunia sebagai ganjaran di akheratnya. 

Allah SWT Maha Adil. Tentu tak akan menyamakan antara orang yang giat beramal, istiqomah, tinggi ketakwaan keikhlasan serta imannya, dengan mereka yang biasa-biasa saja kualitas iman dan takwanya. Seperti kata pepatah, Aljaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amal perbuatan.

Tidak ada yang masuk kedalam surga karena amalnya


Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga, manusia bisa masuk surga karena Rahmat Allah SWT. Karena itu kita jangan pernah membangga banggakan amal kita. Janganlah tertipu setan dengan membangga-banggakan amalan kita, sungguh, sesungguhnya bukan hanya amal yang menentukan masuk surga atau nerakakah kita kelak. Dalam sejumlah sabdanya, Rasulullah SAW menegaskan faktor penentu masuk neraka atau surga seorang hamba adalah rahmat Allah SWT. 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim menjelaskan bahwa manusia tidak bisa dimasukkan ke surga oleh amalnya. Manusia dikatakan dimasukkan ke surga jika Allah SWT memberi rahmat dan karunia kepadanya. Aisyah istri Nabi Muhammad SAW berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tujulah (kebenaran), mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga  amalnya." Mereka bertanya, "Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah?" Nabi SAW menjawab, "Tidak juga aku, kecuali bila Rabb-mu melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit." (HR Muslim).

Dalam hadits lainnya yang disampaikan Jabir salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW juga senda dengan yang disampaikan Aisyah. Hanya rahmat Allah SWT yang dapat memasukan manusia ke surga.

Jabir berkata, aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah." (HR Muslim).

Mereka beranggapan bahwa masuk surga adalah kehendak Allah. Lalu untuk apa kita beramal di dunia? Bahkan yang lebih ekstrem, mereka berani menggugurkan perintah syariat jika telah sampai pada maqam hakikat. Bagaimana cara memahami hakikat dengan benar? Sebelum dibahas, kami kutip terlebih dahulu hadits Rasulullah saw berikut ini yang artinya, “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim). 

Memang benar jika dikatakan masuk surga tidak didasarkan pada amal, melainkan fadhl (karunia) dan rahmat Allah. Akan tetapi menjadi tidak benar jika memiliki anggapan bahwa amal baik sama sekali tidak memiliki nilai apapun, atau bahkan masih mempertanyakan untuk apa beramal di dunia. Kenapa demikian? Karena Allah telah memberikan sebuah bocoran dan kriteria para penghuni surga dalam firman-Nya, yaitu mereka yang beriman dan beramal kebajikan, mengikuti perintah juga menjauhi larangan-Nya sebagaimana tertulis dalam Surat An-Nisa’ ayat 122 berikut yang artinya, “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (Surat An-Nisa’ ayat 57).

Seorang hamba berhak mendapatkan rahmat, apabila ia sudah melakukan ketaatan. Dengan kata lain, orang-orang yang tidak melakukan ketaatan tidak berhak mendapatkan rahmat Allah. Imam Ibnu Hajar mengibaratkan seorang budak yang berharap mendapatkan upah dari tuannya tanpa bekerja terlebih dahulu, tentu merupakan hal yang tidak mungkin. Sebab, upah akan diberikan apabila ia telah bekerja untuk tuannya. 

Inti masuk surga adalah murni rahmat dari Allah, akan tetapi nikmat di dalamnya akan berbeda sesuai dengan kadar amal yang dimiliki seseorang, jika kadar amalnya banyak, maka akan mendapatkan nikmat Allah yang juga banyak. Begitu juga sebaliknya, seorang muslim yang nilai ketaatannya sedikit, akan masuk surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang sedikit pula.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hanya rahmat dan karunia dari Allah-lah yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga, akan tetapi keduanya bisa didapatkan oleh umat Islam ketika mereka sudah beramal sesuai dengan anjuran dalam ajaran Islam itu sendiri. Terus beramal sesuai syariat sebagai representasi patuh pada perintah-Nya dan meyakini bahwa bukan amal itu yang menyebabkan seseorang masuk surga. 

Imam Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syarf an-Nawawi dalam kitab haditsnya mengatakan bahwa dalam konteks ini, ulama Ahlussunnah wal Jamaah memiliki pandangan yang berbeda dengan kelompok Muktazilah yang menganggap bahwa wajib bagi Allah memberi pahala bagi yang melakukan ketaatan. Kedua perbedaan ini terletak dalam masalah amal baik seorang Muslim yang harus mendapatkan pahala dan kemudian masuk surga. Menurut mazhab Ahlussunnah, Allah tidak menetapkan pahala, siksa, wajib, dan haram dalam semua tuntutan berupa kewajiban dan keharaman. Semua kewajiban itu dilandasi oleh syariat. 

Oleh karenanya, Allah SWT tetap adil apabila menyiksa mereka yang taat dan orang-orang saleh, begitu juga tetap adil apabila memuliakan orang kafir dan memasukkan mereka ke dalam surga. Akan tetapi, benarkah kelak Allah akan melakukan semua itu? Ternyata jawaban Imam Nawawi tidak demikian, ia mengatakan, namun Allah SWT telah memberi khabar dan khabar-Nya benar bahwa Ia tidak akan melakukan demikian akan tetapi memberi ampunan kepada orang mukmin dan memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya, dan menyiksa orang munafiq dan mengekalkan mereka dalam neraka karena adil.” 

Dari penjelasan Imam Nawawi di atas, kita semakin yakin bahwa memaknai hadits di atas serta meyakini bahwa amal seseorang tidak memiliki nilai apa-apa sangat keliru, dan kontradiksi dengan kebanyakan ayat dan hadits yang lain. Di antaranya, firman Allah swt dalam Surat Al-Ankabut, yaitu yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga.” (Surat Al-‘Ankabut ayat 58). 

Alhasil, beramal saleh dan memperbanyak ketaatan tetap memiliki nilai sangat penting untuk selalu ditingkatkan oleh umat Islam. Pahala dan surga merupakan balasan logis dari adanya ibadah. Tanpanya, akan mustahil seseorang akan dimasukkan dalam surga oleh Allah swt. Dengan kata lain, meski rahmat dan karunia menjadi poin tertinggi untuk meraih surga-Nya Allah SWT, amal ibadah tetap mendukung untuk menjadi salah satu alternatif meraih tempat yang penuh nikmat kelak di hari akhir tersebut.

Meski amal tidak bisa memasukan manusia ke surga, umat Islam tetap diwajibkan melakukan amal baik sesuai perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena upaya dan perjuangan melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya secara ikhlas bisa menjadi penyebab datangnya rahmat dan karunia Allah SWT. Semoga kita bertobat kepada Allah SWT, menjahui larangan Allah SWT, dan melaksanakan perintah Allah SWT semoga kita mendapat rahmat dari Allah SWT tersebut.

referensi dari youtube sbb :



Tak Ada yang Benar-benar Suci di Dunia Ini, Maka Jangan Pernah Kamu Pesimis Akan Ampunan Allah SWT


Tak Ada yang Benar-benar Suci di Dunia Ini, Maka Jangan Pernah Kamu Pesimis Akan Ampunan Allah SWT. Tidak ada yang benar-benar suci di dunia ini, setiap diri pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, maka kamu yang pernah kelam di masa lalu dan sekarang ingin bertaubat, jangan pernah persimis akan ampunan Allah. Biarlah manusia menilai kesungguhan hati kita dengan segenap penilaiannya, mau dipandang sebelah matapun terserah mereka, yang penting Allah SWT ridho kepadamu.

Jangan Takut, Kamu Berhak Mendapatkan Hidup yang Lebih Baik. Semua orang berhak mendapat hidup yang lebih baik, jadi untuk apa resah dan gelisah untuk mempebaiki diri. Terlanjur membuat kesalahan bukan berarti kita tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya. 

Selama nyawa masih tetap bersemayam diraga, kesempatan untuk mendapat hidup lebih baik senantiasa harus kita lakukan. Allah Tidak Melihat Seberapa Besar Dosamu Dimasa Lalu, Tapi Seberapa Ikhlas Taubatmu Hari Ini. Karena Allah SWT tidak pernah melihat seberapa besar dosa dihari kemaren, namun Allah SWT akan selalu melihat seberapa ikhlas taubat kita dalam berserah diri pada-Nya. Maka dari itu, tak usah lagi memikirkan celotehan yang orang lain tengah lontarkan kepada kita.

Semua usaha kita untuk memperbaiki diri akan tetap Allah SWT nilai dan terima, jika memang niat perubahan kita untuk mendapat titik terang menuju hidayahnya.Ingat, Surga Bukan Hanya Milik Orang-orang yang Bersih Dari Dosa, Tetapi Milik Ia yang Mau Bersungguh-sungguh Mengenal Allah SWT.

Surga yang senatiasa Allah janjikan kepada semua hambanya, bukan hanya milik orang-orang yang tak pernah melakukan dosa, tetapi milik ia yang mau bersunggu-sungguh mengenal Allah SWT. Orang-orang yang pernah melakukan dosa sekalipun juga berhak tinggal didalamnya, selagi ia mampu untuk memprbaiki kesalahan-kesalahannya, dan kembali ke jalan Allah SWT. Tidak Usah Hiraukan Apa Kata Orang, Karena Penilaian Manusia Memang Takkan Pernah Berakhir.

Iya tidak usah hiraukan apa yang dikatakan orang lain terhadap kita, karena penilaian manusia memang takkan pernah berakhir. Karena apa?, karena mausia tercipta dengan nafsu, ia mempunyai naluri untuk menilai, memvonis dan menghakimi. Sebab itulah kita diperintah untuk selalu menjaga hati, agar semua sikap dan perilaku kita tetap terjaga dengan baik.

Semangatlah Untuk Mencari Ridho Allah SWT, Ingat Bahwa Allah SWT Selalu Mencintai Kesungguhanmu. Jadi selalu semangatlah untuk selalu mencari ridho Allah SWT, jangan lagi takut akan apa yang ornag lain perbincangkan tentang masa lalu dan dosamu yang kemarin, selagi kamu sungguh-sungguh maka Allah SWT akan menerimamu.

Jangan Pesimis Jika Sudah Terlanjur Berbuat Dosa


Jangan Pesimis Jika Sudah Terlanjur Berbuat Dosa. Alquran Surah Az-Zumar ayat 53-59. Intinya menceritakan saat Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar umat senantiasa berserah diri meski berlumuran dosa. Semua dosa bisa diampuni Allah  SWT. Disebutkan, "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ayat ini oleh ulama dinilai sebagai ayat yang paling memberikan ketenangan dan harapan kepada umat manusia. Pasalnya, tidak ada manusia yang tidak berdosa. Tidak ada pula yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah. Allah sendiri menyatakan, hamba-hamba-Nya yang sudah melampaui batas dalam dosa masih bisa diampuni. Beragam jenis orang berdosa. 

Ada yang berdosa tapi masih tidak terlalu buruk dosanya. Ada yang memiliki dosa kecil dan dosa besar. Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan kepada hamba-hamba Allah SWT dengan memberi kesan atau menunjukkan rahmat dan kasih sayang Allah, betapapun berdosanya seseorang. Yang ditekankan ialah agar kita jangan berputus asa dari rahmat Allah SWT karena Allah SWT mengampuni semua dosa. Tidak ada dosa yang tidak diampuni-Nya jika seseorang mau bertobat. 

Kita harus ketahui, ada dosa yang diampuni setelah manusia bertobat. Tetapi ada juga dosa yang diampuni walau seseorang tidak bertobat. Ada dosa yang Allah SWT ampuni walaupun seseorang tidak melakukan kebaikan. Ada dosa yang walaupun dibawa mati, tetap diampuni Allah SWT. Itu karena Allah SWT suka mengampuni. 

Allah SWT senang memberi ampun, maka Tuhan Maha Pengampun atas aneka kesalahan. Ayat-ayat dalam Surah Az-Zumar ini memberi harapan yang sangat besar. Ini menandakan Tuhan berlaku adil. Pada dasarnya, Tuhan itu pemberi rahmat. Karena itu, Allah SWT patut dicintai atas sifatnya yang pemberi rahmat dan keadilan. 

Dalam surah terbut dikatakan, "Kembalilah, kepada Tuhanmu." Kembali itu berarti kita pernah pada satu posisi meninggalkan Allah. Misalnya kita menjauh dari Allah. Dia meminta kita untuk berserah diri. Seperti firman-Nya, "Serahkan dirimu kepada-Ku." Itulah Islam yang pemberi rahmat. Allah banyak memberikan nikmat kepada kita. Sudah semestinya kita mengabdi kepada Allah dengan sempurna dan kita kembali menyerahkan diri kepada Allah. 

Tetapi, Allah juga mengingatkan tidak ada yang dapat menolong kita dari siksa neraka selain Allah. Karena itu, ikutilah dengan sungguh-sungguh apa yang terbaik yang diturunkan Allah. Allah juga memberi tuntunan, jika ada yang berbuat jahat kepada kita, balasan kejahatan itu akan setimpal. Akan tetapi, Allah juga mengatakan jika kita bisa memaafkan, akan lebih baik. Yang lebih tinggi lagi dari memaafkan ialah memberi. Berilah kebaikan bagi orang yang berbuat salah kepada kita, karena memberi lebih baik dari sekedar memaafkan.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar {39} : 53-54).

Ayat di atas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus dalam maksiat, baik dalam dosa kekafiran dan dosa lainnya untuk bertaubat dan kembali pada Allah. Ayat tersebut memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali pada-Nya. Walaupun dosa tersebut amat banyak, meski bagai buih di lautan (yang tak mungkin terhitung). Sedangkan ayat yang menerangkan bahwa Allah tidaklah mengampuni dosa syirik, itu maksudnya adalah bagi yang tidak mau bertaubat dan dibawa mati. Artinya jika orang yang berbuat syirik bertaubat, maka ia pun diampuni Allah SWT.

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At-Taubah 9 :104). 

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah SWT, niscaya ia mendapati Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ Surah 4 ayat 110).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’ Surah 4 ayat : 145-146).

Kepada orang Nashrani yang menyatakan ideologi trinitas, masih Allah seru untuk bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al Maidah Surah 5 ayat ke 73).

Kemudian setelah itu, Allah Ta’ala berfirman,

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah 5 : 74).

Walau mereka -Nashrani- berkata keji dengan mengatakan bahwa Allah SWT adalah bagian dari yang tiga, namun Allah SWT masih memiliki belas kasih dengan menyeru mereka untuk bertaubat jika mereka mau.

Lihatlah orang yang telah membunuh wali Allah, juga diseru untuk bertaubat jika mereka ingin, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj 85 : 10).

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Lihatlah pada orang-orang yang merasa mewah tersebut, mereka telah membunuh wali-wali Allah dan Allah masih menyeru mereka untuk bertaubat.”

Ayat semisal di atas teramat banyak yang juga menerangkan tentang hal yang sama bahwa setiap dosa bisa diampuni bagi yang mau bertaubat. Lihatlah sampai dosa kekafiran pun bisa Allah ampuni jika kita benar-benar bertaubat, apalagi dosa di bawah itu. Sehingga tidak boleh seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah SWT walau begitu banyak dosanya.

Setelah Allah SWT menyebutkan ayat di atas, lalu Allah mendorong untuk segera bertaubat, jangan ditunda-tunda. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar {39} : 53-54).

Maksud ayat ini adalah kembalilah pada Allah dengan berserah diri pada-Nya sebelum datang siksaan yang membuat mereka tidak mendapat pertolongan, yaitu maksudnya bersegeralah bertaubat dan melakukan amalan shalih sebelum terputusnya nikmat. Demikian uraian Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allâh berfirman:

“Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. At-Tirmidzi no.3540)

Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran. Segeralah taubat dan jangan tunda-tunda, sebab apabila tanda-tanda Kiamat besar telah tampak, yakni matahari sudah terbit dari barat. Kematian sudah di ambang pintu, yakni nyawa sudah berada di tenggorokan, maka taubat tidak lagi diterima.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau datangnya siksa Rabb-mu atau kedatangan beberapa ayat Rabb-mu. Pada hari datangnya beberapa ayat Rabb-mu, maka iman seseorang sudah tidak lagi berguna, yang sebelumnya itu tidak pernah beriman atau selama dalam imannya itu dia tidak pernah melakukan kebajikan. Katakanlah: “Tunggullah, sesungguhnya Kami akan menunggu”. (QS. Al-An’am {6} : 158)

Dalam surat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Taubat itu bukanlah bagi orang-orang yang berbuat kemaksiyatan, sehingga apabila kematian telah datang kepada seseorang di antara mereka lalu ia berkata: “Sungguh sekarang ini aku taubat” dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan kafir. Bagi mereka Kami sediakan siksa yang pedih". (QS. An-Nisa`{4} : 18).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan". (HR. At Tirmidzi no. 3537)




Larangan Berbuat Dzalim


Islam melarang perbuatan zalim antarsesama manusia. Padahal jelas-jelas Islam jelas melarang perbuatan zalim. "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah memperingatkan umatnya agar tak berbuat zalim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadist riwayat Muslim : 

"Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Ia tidak boleh berbuat zhalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak." (HR Muslim).

bahwasanya Rasulullah Muhammad SAW diriwayatkan Muslim sebagai berikut yang artinya : 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah ï·º bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim).

Dari Jabir bin 'Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, yang artinya sebagai berikut ini : "Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." (HR Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Siapa yang pernah berbuat aniaya sejengkal saja (dalam perkara tanah) maka nanti dia akan dibebani (dikalungkan pada lehernya) tanah dari tujuh bumi". (HR Bukhari). Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 

"Allah SWT Ta'ala berfirman: Ada tiga jenis orang yang aku berperang melawan mereka pada hari qiyamat, seseorang yang bersumpah atas namaku lalu mengingkarinya, seseorang yang berjualan orang merdeka lalu memakan (uang dari) harganya dan seseorang yang mempekerjakan pekerja kemudian pekerja itu menyelesaikan pekerjaannya namun tidak dibayar upahnya". (HR. Bukhari).




3 Jenis Ujian dalam Kehidupan Manusia

Hidup di dunia memang tak luput dari ujian kehidupan. Berbagai beban baik moril maupun materil pun dialami oleh setiap manusia di dunia. Namun, justru semakin berat ujian, maka semakin tinggi derajatnya akan diangkat oleh Allah Subhanahuwata’ala. Maka, manusia sebagai makhluk yang selalu diuji hendaknya menghadapinya dengan berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah SWT. 


Ada 3 jeni ujian yang diberikan oleh Allah SWT untuk hamba-Nya di muka bumi. Setiap ujian tersebut merupakan tahapan untuk dinaikkan level derajatnya menuju ke yang lebih tinggi. Hingga siapapun manusia yang bisa melewati level yang ketiga maka dianggap sudah lulus dalam ujian kehidupan.

“Kalau kalian sedang dibimbing oleh Allah SWT menuju kedudukan yang paling tinggi, maka sadarlah teman-teman di saat yang bersamaan, kalian tidak akan sunyi dari rintangan-rintangan,” jelas Ustaz Adi Hidayat. Ketika kalian sedang di kedudukan biasa dan naik luar biasa, maka hambatannya juga akan semakin meningkat ujiannya.

Misalnya orang kecil diuji dengan ujian kecil, orang menengah diuji dengan ujian menengah, begitu pula jika orang yang kedudukannya tinggi maka akan diuji dengan ujian yang lebih tinggi lagi.

“Allah SWT tidak akan menguji dedaunan dengan angin yang menerpa akar, pasti berbeda, karena angin jika kedudukan semakin tinggi, tinggi, maka angin akan semakin kencang akan menerjangnya,” 

1. Ba’sa (Ringan) Misalnya jarang ke masjid sekarang mulai ke masjid. Begitu ke masjid, Allah kasih ujian, sesuai dengan kadar niatnya. Dikasih ujian gerimis. Lalu masih ke masjid nggak. Namun, kamu menjawab tidak masalah. Maka, jika kamu diuji dengan yang ringan akan dinaikkan ke menengah. Kalau kamu belum lulus di sini (ujian ringan), maka akan terus diuji sampai lulus di sini. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 yang Artinya : Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “Jadi kalau kalian masih ujiannya ringan, kalian akan diberikan yang ringan, kalian naik menengah diberikan yang menengah, kalian naik lagi level tinggi, diberikan lagi ujian yang berat,” .

2. Dhorro’ (Menengah) Yakni ujian yang sudah melukai fisik. Misalnya hujannya makin deras. Kalau dalam kehidupan misalnya celaan biasa dalam kehidupan sehari-hari. “Ini artinya Allah SWT sedang menaikkan iman anda dalam level yang lebih tinggi lagi,” jelasnya. Jadi ketika ada celaan menghujam dalam lisan seseorang, sudah mulai menyakiti, itu sebenernya pengakuan dari Allah lewat lisan orang itu, bahwa anda sedang diangkat keimanan pada tingkat yang lebih tinggi,” tambahnya. “Ada orang mengatakan kamu kenapa pakai jilbab seperti itu (panjang), yang biasa aja kali, jawab seperti ini yang iman biasa sudah banyak, saya ingin menampilkan yang luar biasa, supaya dengan iman itu bisa mendoakan orangtua, mudah-mudahan pahalanya bisa untuk orangtua,”. Masuk kepada bahasa yang baik. Jadi jika kalian bisa melawan hal-hal demikian dengan bahasa yang indah itu nyaman kepada jiwa. Kadang-kadang ada kalimat-kalimat yang tidak perlu pakai dalil.

3. Zulzilu (Berat) Jadi ada ujian yang bisa menggoyangkan diri kita. Membuat gempa hati kita. Kalian sudah tidak kuat, kadang-kadang jalan sempoyongan. Padahal tidak ada gempa di luar, cuma hati kita kayak kena goncangan. “Diserang sana, diserang sini, nggak bisa tidur, nggak bisa makan, ini susah itu susah,”. “Sampai-sampai Rasul Sholallahu’alaihiwasallam, bahkan orang yang beriman, bahkan setelahnya bisa mengatakan kapan ini berakhir,”. “Akan tiba masa anda mengalami satu situasi sampai anda mengatakan kapan berakhirnya seperti ini,”. 

“Perhatikan jika anda berada pada level ini, saya ucapkan selamat kepada anda, karena anda akan diangkat pada kedudukan yang tertinggi di antara sekian ujian yang ada,” sambungnya. Artinya Allah SWT akan naikkan anda pada derajat yang tinggi. Karena hukum ujian Laa yukallifullah nafsan illawusaha, Allah SWT tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya. “Jadi kalau anda sudah dipandang oleh Allah siap menerima yang ini, maka anda akan diberikan zulzal (mengguncang hati). Kalau anda nggak mampu, anda hanya akan diberikan Dhorro’ atau ba’sa. Jadi mustahil Allah memberikan ujian berat kalau anda tidak sanggup. Karena cuman anda yang sanggup, anda yang dikasih. “Makanya jangan mengeluh, jangan katakan ya Allah SWT kenapa saya ya Allah SWT ,” tambahnya. “Kalau bukan sayang, Allah itu bersifat adil, nggak mungkin menukar sesuatu diluar kadarnya,” jelasnya.

“Jadi kalau kita temen-temen ikuti hukum Allah, mau berat Alhamdulillah, mau ringan Alhamdulillah, mau sedang Alhamdulillah, begitu diangkat artinya ada pengakuan dari Allah bahwa iman kita akan dinagkat,” tuturnya.

“Cuma bahasa Nabi Ayqub Alaihissalam kepada Nabi Yusuf Alaihissalam mesti ada persiapan dalam mengatasi itu semua, tidak cukup hanya mendiamkan saja, anda harus punya rencana,” tambahnya.

Maka untuk menyelesaikan solusi tercantum di QS. Ali Imran ayat 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah SWT orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Yang ujiannya tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 214, yang artinya,  Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

“Sedangkan Allah SWT belum melihat kesungguhan anda, jadi kalau perseoalan anda ingin cepat-cepat selesai maka serius menyelesaikannya,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Materi tersebut dari Ustaz Adi Hidayat, berikut videonya sebagai berikut ini : 



Cara bertobat dari uang haram


Pertanyaan : Saat ini saya khawatir telah memakan uang haram, baik langsung maupun tidak langsung, padahal saya telah berusaha untuk menghindarinya, namun saya takut tanpa saya sadari telah memakannya.

Saya pernah mendengar dalam suatu Khotbah Jum’at, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang memakan barang haram tidak akan diterima ibadahnya selama 40 tahun, tentu saya sangat takut dan pesimis sehingga berfikir akan sia-sia saja untuk memperbanyak ibadah, sementara ini Alhamdulillah saya tetap rajin beribadah meskipun masih khawatir tidak akan diterima (saya takut nanti akan berfikir percuma ibadah kalau tidak diterima).

Pertanyaan saya, Apakah yang harus saya lakukan agar Allah SWT mengampuni saya dari memakan uang haram yang mengakibatkan ibadah saya tidak diterima selama itu ?

Terdapat hadits yang berbunyi,”Barangsiapa yang memakan sesuap saja dari yang haram maka tidaklah diterima shalatnya sebanyak 40 malam dan tidaklah diterima doanya selama 40 pagi dan setiap daging yang tumbuh dari (sesuatu) yang haram maka api neraka menjadi lebih utama baginya. Sesungguhnya sesuap dari yang haram akan menumbuhkan daging.” (HR. ad Dailami dari Ibnu Masud)

Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut munkar, tidak dikenal kecuali dari riwayat al Fadhl bin Abdullah. Sementara Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits tersebut maudhu’ (palsu)

Adapun tentang bertaubat dari memakan barang yang diharamkan Allah SWT maka sesungguhnya pintu taubat senantiasa terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan atau matahari belum terbit dari barat. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ” Allah SWT Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah SWT senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.”

Cukuplah bagi anda melakukan taubat nashuha terhadap perbuatan memakan barang yang diharamkan tersebut dengan memenuhi syarat-syaratnya :

  1. Menyesali atas apa yang anda lakukan pada masa lalu.
  2. Meninggalkan kemaksiatan tersebut saat diri anda bertaubat.
  3. Bersungguh-sungguh untuk tidak kembali melakukan perbuatan tersebut selamanya pada masa yang akan datang.
  4. Jika dalam perbuatan tersebut terdapar penzhaliman terhadap kepemilikan orang lain maka diwajibkan bagi anda untuk mengembalikannya berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”

Dan mudah-mudahan dengan taubat yang sungguh-sungguh Allah akan menggantikan keburukan tersebut dengan kebaikan, dalam surah Al Qur'an Al Furqan : 70 yang artinya, 

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah SWT  dengan kebajikan. dan adalah Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Taubat Orang yang Tidak Dapat Mengembalikan Hak-hak Harta : Orang yang memegang hak harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada mereka, atau kepada ahli warisnya. Jika ia tidak memiliki harta yang cukup untuk itu, hendaklah ia berusaha untuk mencari gantinya, sepanjang hidupnya, sesuai kemampuannya. Tiap kali ia mendapatkan suatu harta, hendaklah ia segera membayarkan sebagian dari kewajibannya itu. Setiap orang sesuai dengan haknya. Barangsiapa yang menanggung hutang harta, kemudian ia bertaubat dan menyesal dari perbuatannya itu, maka ia harus mengembalikannya kepada para pemiliknya, atau kepada ahli warisnya.

Kemudian, jika ia tidak mengetahui mereka, atau mereka telah wafat, atau karena masalah lain, maka taubat dalam kasus seperti ini berbeda aturannya: Satu kelompok ulama berpendapat: tidak ada taubat baginya, kecuali dengan mengembalikan kezaliman ini kepada para pemiliknya. Jika ia tidak dapat melakukan itu maka taubatnya pun tidak dapat ia raih. Dan nantinya pada hari kiamat, menanti balasan dengan diambilnya kebaikannya untuk menebus keburukannya itu. Tidak ada jalan lain.

Mereka berkata: ini adalah hak manusia yang tidak sampai kepadanya. Dan Allah SWT tidak membiarkan satu hak hamba untuk dilanggar oleh orang lain sedikitpun. Dan Dia menyampaikan hak masing-masing orang kepada orang tersebut. Dia sama sekali tidak membiarkan suatu kezaliman manusia kepada manusia lain terjadi tanpa konsekwensi. Maka Dia akan mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya, meskipuin itu sebuah tamparan, kata-kata atau satu lemparan batu.

Mereka berkata: tindakan yang paling mudah dilakukan untuk menutupi kesalahannya itu adalah dengan memperbanyak kebaikan, sehingga ia dapat membayar kejahatannya pada hari kiamat nanti dengan kebaikannya itu. Dan tindakan yang paling bermanfaat baginya adalah bersabar atas kezaliman dan aniaya yang dilakukan orang lain kepadanya, serta ghibah dan qadzaf (tuduhan zina) yang dilontarkan mereka kepadanya. 

Hendaklah ia tidak meminta haknya dari mereka di dunia, serta tidak menemuinya, sehingga musuhnya itu akan menutupi kekurangan timbangannya nanti di akhirat, jika memang kebaikannya telah habis. Karena jika ia akan diambil kebaikannya untuk membayar kezaliman yang telah ia lakukan kepada orang lain, maka iapun akan dibayarkan dari orang lain atas kezaliman yang dilakukan mereka kepadanya. Sehingga diharapkan itu dapat memenuhi kekurangannya, atau malah akan menambah timbangannya.

Kemudian mereka berselisih pendapat tentang orang yang memegang uang yang didapatkan dari hasil kezaliman. Sekelompok ulama berkata: hendaknya ia tetap menyimpan uang itu, dan tidak boleh menggunakannya sama sekali. Sekelompok ulama yang lain berkata: hendaknya ia berikan uang tersebut kepada imam atau pejabat yang berwenang, karena ia adalah wakil dari rakyatnya, sehingga ia menyimpankannya untuk mereka. Dan hukum harta itu menjadi harta yang ditemukan dijalan (luqathah).

Sementara sekelompok ulama yang lain berkata: pintu taubat masih terbuka bagi orang ini, dan tidak ditutup oleh Allah SWT baginya serta bagi orang yang berdosa. Taubat orang ini adalah dengan mensedekahkan harta itu kepada orang-orang yang berhak, seperti kepada para fakir-miskin, orang-orang yang membutuhkan, lembaga-lembaga sosial, dan untuk kepentingan kaum muslimin.

Di antaranya adalah untuk: pasukan jihad fi sabilillah dan pusat-pusat dakwah. Jika nanti datang hari pembalasan hak-hak, maka para pemilik uang dapat memilih antara memaafkan apa yang diperbuatnya itu, dan pahala sedekah itu untuk mereka. Atau mereka tidak memaafkannya, sehingga mereka mengambil dari kebaikannya menurut jumlah uang mereka, dan pahala sedekah itu untuknya sendiri. Karena Allah SWT tidak membatalkan pahala sadaqahnya itu. 

Dan Allah SWT tidak menyatukan antara pengganti dan yang digantikan. Kemudian dimintakan kepadanya, dan Allah SWT menjadikan pahala sedekah itu bagi mereka, atau juga dengan mengambil dari kebaikannya sesuai dengan kadarnya untuk diberikan kepada orang yang pernah dizhaliminya itu.

Bahaya meremehkan dan menghina orang lain


Bahaya meremehkan dan menghina orang lain, Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah SWT.

bahyanya jika meremehkan dan menghina kepada orang lain, maka orang tersebut akan di perlakukan oleh orang lain dengan hal yang sama kepada orang tersebut. maka kita harus berhati-hati terhadap hal tersebut kepada orang lain. dan segeralah bertobat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa hambanya.

Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”

Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah SWT” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah SWT yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah SWT, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah SWT, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah SWT, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”

Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin (As-Sajdah/32:12)

Allâh Azza wa Jalla , Dzat Yang Maha Penyayang, kasih-sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Di antara petunjuk akan kasih-sayang-Nya, Allâh Azza wa Jalla menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kehidupan manusia, hamba-hamba-Nya. Tidak hanya itu saja, bahkan Allâh Azza wa Jalla mengutus para rasul dengan membawa risâlah (wahyu Allâh Azza wa Jalla ) untuk disampaikan kepada mereka, agar mereka dapat menggapai kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.

Meskipun demikian, tidak sedikit dari mereka yang masih berkubang dalam lembah kekufuran, mengingkari Allah SWT dan Rasul-Nya, tidak mempercayai surga dan neraka, juga tidak mengimani hari Pembalasan. Bahkan jumlah mereka jauh lebih banyak ketimbang kaum Mukminin. Tidak sebatas menolak ajaran Allah SWT dan dakwah para rasul-Nya, mereka bahkan berani memusuhi dan memerangi dakwah para rasul tersebut. Kendatipun telah diperingatkan dengan ancaman siksa Allah SWT yang akan menimpa orang-orang yang tidak beriman, namun mereka tetap pada pendirian mereka yang batil.

Senin, 20 Juni 2022

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Bila seseorang mendapatkan musibah , pasti ada pertanyaan yang menyelinap di dalam hati. Apakah musibah yang menimpa tersebut adalah ujian atau hukuman bagi seseorang tersebut.  Hal ini juga dipertanyakan kepada diri kita sendiri, karena yang tahu adalah diri kita sendiri. kita koreksi diri kita sendiri, kemudian nilai diri kita sendiri, jika ini ujian pasti Allah akan mengangkat derajatnya yang lebih baik, jika ini cobaaan, sabar semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, jika ini hukuman, tobat dan berserah diri kepada Allah SWT, semoga diberikan kekuatan untuk bersabar atas hukuan yang diberikan tersebut, berprasangka baik kepada Allah SWT, karena Allah SWT tidak ingin hambanya menderita di alam barzah, dan akherat, semoga dapat mengurangi dosa-dosa yang di lakukan hambanya tersebut.

Kehidupan manusia memang penuh cobaan. Dan Kami pasti akan menguji kamu untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Bersabarlah dalam menghadapi semua itu. Dan sampaikanlah kabar gembira, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka berkata demikian untuk menunjukkan kepasrahan total kepada Allah SWT, bahwa apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT; pun menunjukkan keimanan mereka akan adanya hari akhir. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk sehingga mengetahui kebenaran.

Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang, baik kekufuran, kemaksiatan atau dosa besar. Maka Allah Ta’ala menguji disebabkan pelaku kemaksiatan melakukannya berlebihan sebagai hukuman yang disegerakan.

Biasanya manusia itu diberi hukuman dengan tingkat kepahitan sesuai dengan dosa yang ia lakukan. Sebesar apa seseorang mengundang dosa ke dalam dirinya maka sebesar itu balasan atau hukuman yang diterima. Allah SWT telah menimpakan musibah pada waktu Uhud dengan keguguran yang besar. Mereka adalah para Sahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam, manusia terbaik setelah para Rasul dan para Nabi disebabkan menyalahi perintah Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Bagaimana seseorang menyangka hal itu pada dirinya layak untuk mengangkat derajatnya pada setiap musibah yang menimpanya. 

Dahulu Nabi Ibrahim AS bin Adham Rahimahullah ketika beliau melihat hembusan angin kencang dan perubahan (cuaca) di langit beliau mengatakan, “Ini disebabkan dosaku. Kalau sekiranya saya keluar diantara kamu semua, maka tidak akan menimpa pada kalian semua.” Kedua, Keinginan Allah Ta’ala untuk meninggikan derajat orang mukmin yang sabar melalui ujian. 

Sehingga dicoba dengan musibah agar ridho dan bersabar, dan akan diberikan pahala orang-orang sabar di akhirat. Ditulis di sisi Allah SWT termasuk orang yang beruntung. Dimana cobaan seringkali mengiringi para Nabi dan orang-orang sholeh tanpa meninggalkan mereka. Allah menjadikan sebagai kemuliaan bagi mereka agar mendapatkan derajat tinggi di surga. 

Nabi Shalallahu ‘ailaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah SWT akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha, maka Allah SWT akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah SWT murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi). 

Menjalani kehidupan secara tentram dan damai itu tidak mudah. Walau segala sesuatu yang kita kerjakan sudah sesuai rencana dan niatan yang baik. Apa benar bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa.? Mengerjakan sesuatu yang benar saja bisa dianggap salah, lalu bagaimana dengan mengerjakan sesuatu yang salah. Bersabarlah saat kita mendapat fitnah atas kebenaran yang kita lakukan. Bisa jadi Allah SWT sedang menguji besarnya keimanan kita dan mengalirkan pahala atas kesabaran dalam menjalani ujian tersebut.

Pada dasarnya sebagai manusia kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti, bahwa apa yang Allah SWT turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut. Hendaknya seorang hamba senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT. Dalam setiap kondisi. Allah Subhanahu wa ta’ala lebih utama dalam kebaikan dan Dia Pemilik Ketakwaan dan Pemilik Ampunan. Semoga Kita mendapatkan ampunan oleh Allah SWT, dan semoga artikel ini dapat bermanfaat, Allah Humma,  Amin.

Tanda-tanda Taubat Seseorang Diterima Allah SWT, Salah Satunya Dapat Menjaga Lisan/Berbuat baik untuk lisannya


Tanda-tanda Taubat Seseorang Diterima Allah SWT, Salah Satunya Dapat Menjaga Lisan/Berbuat baik untuk lisannya. Kenyataan bahwa manusia itu adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Artinya bila manusia salah adalah hal yang biasa. Namun demikian, karena manusia adalah makhluk Tuhan (Allah SWT) yang diberi akal pikiran maka kita dituntut untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga tidak terperosok dalam dalam lubang yang sama. Begitulah kira-kira ukuran standar hidup manusia.

Dalam kehidupan ini, siapa yang tidak pernah salah. Setiap manusia, bahkan sampai nabi pun pernah membuat kesalahan. Sebab apabila manusia tidak berbuat salah sudah dapat dikatergorikan makhluk yang seperti ini bukan lagi manusia tetapi sudah dapat dikategori malaikat.

Pertanyaan kita adalah kenapa manusia tidak luput dari kesalahan. Jawabannya adalah karena manusia memiliki komponen utama yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain yaitu Akal dan hawa nafsu. Jika hafa nafsunya di perdepankan maka kita akan terjerumus dalam kesesatan yang nyata, setan akan selalu membisikan kejelekan-kejelekan kepada orang menurutkan hawa nafsunya tersebut. setan akan mendampingi dia dari depan, belakang, saping kanan, samping kiri dan selalu membuat orang tersebut dalam kesesatan yang nyata.

Melalui akal yang dimilikinya, manusia dituntut berpikir untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik, dan selalu menjaga keharmonisan hidup. Termasuk di dalamnya berbuat sesuatu atau bekerja untuk menjaga dirinya selalu dapat hidup. Ketika kehidupan sudah diperolehnya, tak jarang mereka dirasuki keinginan yang lebih besar lagi. Keinginan yang seperti ini diyakini muncul karena adanya hawa nafsu. Sehingga terkdang, karena terlalu sering mengikuti hawa nafsunya mereka hilang akal sehat.

Ketika manusia tidak mampu lagi mengendalikan hawa nafsunya maka muncullah berbagai masalah. Mereka yang seperti ini selalu memanfaatkan akal pikirannya untuk mencapai hawa nafsunya. Dan, ketika hidup manusia sudah diatur oleh hawa nafsu, maka hal ini paling sulit untuk dihentikan. Hal inilah yang menyebabkan manusia sebagai makhluk Tuhan selalu berbuat kesalahan. Namun, itu akan terminimalisir bila hawa nafsu dikendalikan oleh akal sehat manusia.

Pemikiran-pemikiran yang kita berikan yang secara normal sesuai dengan akal pikiran yang sehat terkadang tidak akan ampuh lagi. Apalagi, akal pikiran yang sudah dikendali oleh hawa nafsunya itu cenderung membawa kenikmatan kepada mereka. Karena itu, mereka tidak peduli apa-apa lagi kecuali mengikuti semua hawa nafsunya yang pada umumnya bertentangan dengan harmonisasi hidup di dunia ini.

Padahal konsepnya, akal manusia tidak boleh dikendalikan oleh hawa nafsu. Idealnya hawa nafsulah yang harus dikendalikan oleh seluruh manusia yang ada di dunia. Sebab tidak mungkin manusia terlepas oleh hawa nafsu. Manusia butuh hawa nafsu untuk memberi motivasi-motivasi dalam hidup. Bila hawa nafsu tidak ada maka kita tidak punya keinginan untuk berbuat lebih kreatif dalam rangka menemukan hal-hal yang lebih untuk kehidupan ini.

Karena itu, dalam rangka pencapaian semua tatanan kehidupan yang lebih baik pasti kita dihadapkan pada kesalahan-kesalahan. Namun karena akal pikiran mengendalikan hawa nafsu, maka kita selalu disadarkan untuk belajar dari setiap kesalahan-kesalahan yang ada. Tentu saja kesadaran itu akan mudah muncul bila dalam diri manusia ada suatu pemahaman bahwa selain ada kita masih ada Tuhan (Allah SWT).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah SWT hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah SWT taubatnya, dan Allah SWT Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”  QS An Nisa' ayat 17.

Allah SWT mengabarkan bahwa taubat yang hanya berhak dialamatkan kepada Allah SWT  adalah haq yang hanya Allah SWT  peruntukkan bagi diri-Nya sebagai kebaikan dan anugerah dari-Nya bagi orang yang melakukan perbuatan dosa. Yaitu kemaksiatan lantaran kejahilan, yaitu kebodohan dirinya akibat perbuatan itu dan konsekuensi kemurkaan serta siksaan Allah SWT  terhadapnya.

Kebodohannya akan hasil dari perbuatannya itu berupa berkurangnya atau hilangnya iman darinya. Maka setiap pelaku kemaksiatan terhadap Allah SWT  adalah jahil dengan kondisi seperti itu walaupun dia mengetahui akan keharamannya. Bahkan mengetahui keharaman sesuatu adalah syarat suatu kemaksiatan yang mendapat hukuman karenanya, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.

Kemungkinan maknanya adalah mereka bertaubat sebelum menyaksikan kematian, karena Allah menerima taubat seorang hamba apabila dia bertaubat sebelum ada kepastian bahwa dia akan mati. Sedangkan setelah hadirnya kematian, maka tidaklah akan diterima suatu taubat pun dari pelaku kemaksiatan dan tidak akan diterima pula keimanan dari orang kafir.  Sebagaimana Allah berfirman tentang Firaun:  "Hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Rabb Yang dipercayai oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”(QS Yunus: 90)   

Allah SWT berfirman di sini, "dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan" yaitu kemaksiatan-kemaksiatan selain kekufuran, "hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, sesungguhnya saya bertaubat sekarang, dan tidak pula (diterima taubatnya) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksa yang pedih." 

Yang demikian itu karena taubat dalam kondisi seperti itu adalah taubat yang terpaksa yang tidak berguna bagi pelakunya. Padahal sesungguhnya yang bermanfaat itu hanyalah taubat pilihan atau kesadaran. 

Kemungkinan juga makna firman-Nya "dengan segera" yaitu segera setelah perbuatan dosa tersebut yang mengharuskan adanya taubat, maka maknanya adalah bahwa barang siapa yang bersegera dalam menarik diri sejak timbulnya dosa dan berserah diri kepada Allah serta menyesali perbuatan itu maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosanya. 

Berbeda dengan orang yang terus menerus dengan dosanya dan berkelanjutan dengan aib-aibnya itu hingga menjadi sebuah sifat yang menempel pada dirinya, maka sesungguhnya akan sulit baginya untuk bertaubat secara total bahkan biasanya ia tidak mendapatkan taufik taubat.

Serta tidak dimudahkan kepada sebab-sebabnya seperti seseorang yang melakukan perbuatan dosa atas ilmu yang jelas dan keyakinan yang dibarengi dengan sikap meremehkan pengawasan Allah terhadapnya. Maka sesungguhnya ia telah menutup pintu rahmat bagi dirinya sendiri. 

Memang benar bahwa Allah SWT terkadang memberikan taufik kepada hamba-Nya yang selalu melakukan dosa dan maksiat dengan kesengajaan dan keyakinan menuju taubat yang berguna, Allah SWT akan menghapus dengan taubat itu apa-apa yang telah lalu berupa dosa-dosa dan kejahatan-kejahatannya. Akan tetapi rahmat dan taufik itu lebih dekat pada orang yang pertama, oleh karena itulah Allah menutup ayat pertama tersebut dengan firman-Nya.

"Dan Allah SWT Mahamengetahui Mahabijaksana" dan di antara ilmu Allah SWT bahwa Dia mengetahui orang yang benar dalam taubat dan orang yang berdusta, dan akan membalas setiap dari kedua orang tersebut sesuai dengan hak keduanya menurut hikmah-Nya. 

Di antara hikmah-Nya adalah Allah akan memberikan taufik kepada orang yang hikmah dan rahmat-Nya menghendaki orang tersebut kepada taubat. Allah akan menghinakan orang yang hikmah dan keadilan-Nya menghendaki tidak memberi taufik kepadanya.